STRATEGI PEMASARAN DIGITAL PRODUK CICIL EMAS (CILEM)
DALAM MENINGKATKAN JUMLAH NASABAH PT. BANK BSI
CABANG GONDANGLEGI MALANG
Mata Kuliah
Metodologi Penelitian Ekonomi Syariah
Dosen Pengampu :
Ika Rinawati M.E
Disusun Oleh :
Ahmad Hamdan Mahbubi : 21602021009
PROGRAM STUDI EKONOMI SYARI’AH
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSIAS ISLAM RADEN RAHMAT MALANG
2024 – 2025
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1. Konsep Tentang Pemasaran
Kita sering mendengar kata Pemasaran merupakan suatu proses perencaan
dan menjalankan, harga,promosi dan distribusi sejumlah ide, barang dan jasa
untuk menciptakan pertukaran yang mampu memuaskan individu dan
organisasi.(Rahma 2018)
Definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli tentang pemasaran antara
lain:
a. Menurut William J. Stanton, pemasaran meliputi seluruh sistem yang
berhubungan dengan kegiatan untuk merencanakan dan menentukan
harga, sehingga mempromosikan dan mendistribusikan barang atau jasa
yang dapat memuaskan kebutuhan pembeli, baik yang aktual maupun
potensial.(Hamid 2017)
b. Menurut Philip Kotler mendefinisikan pemasaran adalah kegiatan manusia
yang diarahkan untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia
melalui proses pertukaran.(Suparyanto dan Rosad 2020)
c. Menurut American Marketing Association (AMA) pada tahun 1985
menyatakan pemasaran adalah proses perencanaan dan pelaksanaan
konsepsi, penentuan harga, promosi dan pendistribusian barang, jasa dan
ide dan dapat memuaskan pelanggan dan tujuan perusahaan.(Fathoni
2018)
Seperti diketahui bahwa pemasaran merupakan kegiatan yang amat
penting dalam operasional suatu bisnis. Tidak peduli apakah bisnis itu
bergerak dalam sektor industri kecil, tingkat menengah, apalagi industri
besar. Atau bisnis bergerak dalam bidang perdagangan besar, perdagangan
eceran, pertokoan, atau mungkin pula bisnis bergerak dalam bidang penjualan
jasa, transportasi, penginapan, biro perjalanan, kegiatan rekreasi dan
sebagainya, pemasaran menempati posisi utama.
Menurut Kasmir menjelaskan bahwa pengertian pemasaran seperti yang
dikemukakan oleh ahli pemasaran dunia Philips Kotler adalah: “suatu proses
sosial dan manajerial dengan mana individu dan kelompok memperoleh apa
yang mereka butuhkan dan inginkan dengan cara menciptakan serta
mempertukarkan produk dan nilai dengan pihak lain”.
Konsep pemasaran standar kepada empat pilar yaitu pasar sasaran,
kebutuhan pelanggan, pemasaran terpadu, dan profilabilias, konsep
pemasaran menganut pandangan dari luar ke dalam, ia memulai dengan pasar
yang didefinisikan dengan baik, memusatkan perhatian pada kebutuhan
pelanggan, memudahkan semua kegiatan yang akan memproleh pelanggan
dan menghasilkan laba melalui pemuasan pelanggan.
Menurut Hermawan Kartajaya dan Muhammad Syakir Sula Pemasaran
Syariah adalah sebuah disiplin bisnis strategis yang mengarahkan proses
penciptaan, penawaran dan perubahan value dari suatu inisiator kepada
stakeholdersnya, yang dalam keseluruhan prosesnya sesuai dengan akad dan
prinsip-prinsip muamalah (business) dalam Islam.(Prihatta 2018)
Hal ini berarti bahwa dalam pemasaran syariah, seluruh proses baik proses
penciptaan, penawaran, maupun perubahan nilai (value), tidak boleh ada hal-
hal yang bertentangan dengan akad dan prinsip-prinsip muamalah Islam.
Sepanjang hal tersebut dapat dijamin, dan penyimpangan prinsip-prinsip
muamalah Islami tidak terjadi dalam suatu transaksi atau dalam proses suatu
bisnis, maka bentuk transaksi apapun dalam pemasaran dapat dibolehkan.
2.2. Konsep Inti Pemasaran
Menurut Kotler dan AB Susanto. Inti Pemasaran adalah suatu proses sosial
dan manajerial dimana individu dan kelompok mendapatkan kebutuhan dan
keinginan mereka dengan menciptakan, menawarkan, dan bertukar sesuatu
yang bernilai satu sama lain.(Anam 2013) Konsep pemasaran yaitu
menentukan kebutuhan dan keinginan pasar dan mengirimkan produk atau
jasa yang diinginkan secara lebih efektif dan efisien dari pada apa yang
dilakukan pesaingnya.(Zaini Miftach 2018) Pengertian tersebut menjelaskan
bahwa konsep pemasaran memandang dari luar ke dalam dimana perusahaan
membuat produk dilihat dari apa yang dibutuhkan dan diinginkan konsumen
serta dilihat dari pesaing sehingga produk sesuai apa yang diharapkan
konsumen dan tentunya lebih baik dari pesaing.
2.3. Proses Perencanaan Strategi Pemasaran
Menurut para ahli proses perencanaan strategi pemasaran adalah
menentukan misi perusahaan, tujuan dan sasaran, analisis situasi atau analisis
SWOT, membuat strategi pemasaran, bauran pemasaran, serta Evaluasi dan
pengawasan”.(Saragih 2016)
1. Menentukan misi perusahaan
Misi perusahaan jangka panjang yang berdasar pada analisis
manfaat yang dapat dilihat pada konsumen saat ini yang potensial dan
analisis keberadaan dari antisipasi keadaan lingkungan secara hati-hati.
Visi jangka panjang perusahaan yang terkandung di dalam peryataan misi
perusahaan menetapkan batsan-batasan bagi seluruh keputusan, tujuan
dan strategi yang diambil.
2. Tujuan dan sasaran
Sebelum rincian rencana pemasaran dibuat, tujuan dan sasaran
rencana tersebut harus ditetapkan. Suatu sasaran pemasaran merupakan
sebuah pernyataan dari apa yang harus diperoleh melalui kegiatan
pemasaran. Penentuan sasaran harus realistis, dapat diukur dan berjangka
waktu tertentu, konsisten dan mengindikasikan prioritas organisasi.
3. Analisis situasi atau analisis SWOT
Sebelum melakukan aktivitas pemasaran, para pemasar harus
memahami lingkungan yang ada saat ini maupun lingkungan potensial di
mana suatu produk dan jasa akan dipasarkan. Analisis situasi terkadang
bisa disebut sebagai analisis SWOT; dalam hal ini perusahaan
mengidentifikasi kekuatan (strengths) dan kelemahan (weaknesses) dari
internal, mengkaji peluang (opportunities) dan ancaman (threats) dari
luar. Ketika mengkaji kekuatan dan kelemahan internal perusahaan,
manajer pemasaran harus memusatkan perhatian pada sumber daya
organisasi. Pada saat menganalisis peluang dan ancaman eksternal,
manajer pemasaran harus menganalisis aspek-aspek lingkungan
pemasaran.(Ramadhan and Sofiyah 2018)
4. Membuat strategi pemasaran
Strategi pemasaran meliputi kegiatan menyeleksi dan penjelasan
satu atau beberapa target pasar dan mengembangkan serta memelihara
suatu bauran pemasaran yang akan menghasilkan kepuasan bersama
dengan pasar yang dituju.(Firmansyah and Abdilah 2014) Strategi pasar
yang dituju mengidentifikasi segmen-segmen pasar yang akan dilayani.
5. Bauran pemasaran
Bauran pemasaran merupakan paduan strategi produk, distribusi,
promosi dan penentuan harga yang bersifat unik yang dirancang untuk
menghasilkan pertukaran yang saling memuaskan dengan pasar yang
dituju.(Laoli and Hulu 2018) Seorang manajer harus mengontrol tiap
komponen bauran pemasaran, tetapi strategi untuk keempat komponen
tersebut harus dipadukan untuk mencapai hasil yang optimal.
6. Evaluasi dan pengawasan
Setelah rancana pemasaran diimplementasikan, rencana tersebut
dapat di evaluasi. Evaluasi memerlukan pengukuran derajat pengukuran
tujuan pemasaran yang telah ditetapkan selama priode waktu tertentu.
Empat alasan umum yang menyebabkan kegagalan dalam mencapai
sasaran pemasaran yaitu sasaran pemasaran yang tidak realistis, strategi
pemasaran yang tidak tepat dalam perencanaan,pelaksanaan yang kurang
baik dan perubahan lingkungan setelah sasaran tersebut ditetapkan dan
strategi dilaksanakan
2.4. Manajemen Pemasaran
Manajemen pemasaran adalah analisis, perencanaan, implementasi dan
pengendalian program yang didesain untuk menciptakan, membangun, dan
mempertahankan pertukaran yang menguntungkan dengan pembeli sasaran,
untuk mencapai sasaran perusahaan.(Andriono and Muylanti 2023)
Pengertian tersebut menjelaskan bahwa perusahaan perlu mengatur
pemasaran yang menguntungkan bagi perusahaan dan konsumen serta tingkat
permintaan agar memberikan keuntungan yang optimal. Permintaan yang
terlalu rendah atau terlalu tinggi tidak memberikan keuntungan optimal bagi
perusahaan. Perusahaan tidak hanya menstimulasi tingkat permintan yang
sama dengan tingkat penawaran. Terkadang perusahaan juga perlu
mengurangi, selain menaikkan permintaan.
2.5. Bauran Pemasaran
Keberhasilan suatu perusahaan berdasarkan keahliannya dalam
mengendalikan strategi pemasaran yang dimiliki.(Karim 2019) Konsep
pemasaran mempunyai seperangkat alat pemasaran yang sifatnya dapat
dikendalikan yaitu yang dikenal dengan Marketing Mix (bauran pemasaran).
Menurut Kotler bauran pemasaran adalah perangkat alat pemasaran faktor
yang dapat dikendalikan (produk, price, promotion, place) yang dipadukan
oleh perusahaan untuk menghasilkan respon yang diinginkan dalam pasar
sasaran. Bauran pemasaran terdiri atas segala sesuatu yang dapat dilakukan
perusahaan untuk mempengaruhi permintaan terhadap produknya.(Sabilla,
Fasa, and Suharto 2022)
a. Product
Produk adalah kombinasi barang atau jasa yang ditawarkan oleh
perusahaan kepada pasar sasaran. Perusahaan harus mampu menawarkan
produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar sasarannya.
b. Price
Harga adalah sejumlah uang yang harus dibayar pelanggan untuk
memperoleh produk. Penentuan harga sangat dipengaruhi oleh berbagai
faktor di dalam maupun di luar perusahaan. Harga harus sesuai dengan
keadaan produk, perusahaan, dan konsumen.
c. Place
Place adalah aktivitas perusahaan agar produk mudah didapatkan
konsumen sasarannya. Place lebih diartikan sebagai saluran distribusi.
Produk yang baik dengan harga wajar dan promosi yang tepat menjadi
tidak ada artinya apabila konsumen mengalami kesulitan mendapatkan
produk.
d. Promotion
Promosi adalah bagian dari bauran pemasaran yang besar
peranannya.(Bauran, Terhadap, and Sondakh 2004) Promosi merupakan
kegiatan–kegiatan yang secara aktif dilakukan perusahaan untuk
mendorong konsumen membeli produk yang ditawarkan. Alat promosi
utama adalah sebagai berikut:
1) Periklanan, segala biaya yang harus dikeluarkan sponsor untuk
melakukan presentasi dan promosi non pribadi dalam bentuk
gagasan, barang atau jasa.
2) Penjualan personal, presentasi pribadi oleh para wiraniaga
perusahaan dalam rangka mensukseskan penjualan dan membangun
hubungan dengan pelanggan.
3) Promosi penjualan, insentif jangka pendek untuk mendorong
pembelian atau penjualan suatu produk atau jasa.
4) Hubungan masyarakat, membangun hubungan baik dengan publik
terkait untuk memperoleh dukungan, membangun citra perusahaan
yang baik, dan menangani atau menyingkirkan gosip, cerita, dan
peristiwa yang dapat merugikan.
5) Pemasaran langsung, komunikasi langsung dengan sejumlah
konsumen sasaran untuk memperoleh tanggapan langsung untuk
berkomunikasi langsung dengan konsumen tertentu atau usaha untuk
mendapatkan tanggapan langsung. Perusahaan harus menentukan
anggaran total yang nantinya membagi untuk alat-alat promosi
utama. Total anggaran harus sesuai dengan metode yang dilakukan
oleh perusahaan. Metode yang telah ditentukan dalam menentukan
total anggaran disesuaikan dengan keadaan.
2.6. Cicilan Emas Dalam Perspektif Islam
Emas adalah logam mulia yang nilainya selalu stabil dari zaman dulu
hingga sekarang. Hal itu juga yang menyebabkan banyak orang lebih memilih
untuk menyimpan hartanya dalam bentuk emas daripada menyimpannya
dalam bentuk uang tunai, karena nilai suatu mata uang bisa turun sewaktu-
waktu tidak seperti emas.(Istan 2023)
Emas juga sangat ideal untuk dijadikan media investasi jangka panjang.
Oleh karena itu, Banyak Lembaga Keuangan yang sudah berinovasi dalam
produk investasi emas dengan menyediakan layanan kredit/cicil emas.
(Firmansyah, Milka, and Prayanto 2020) Lembaga Keuangan seperti
Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia menyediakan produk cicilan emas di
mana masyarakat bisa membeli emas batangan secara kredit atau cicilan yang
sangat memudahkan masyarakat untuk berinvestasi melalui kepemilikan
emas. Tetapi, bagaimana hukum kredit atau cicil emas tersebut dalam Islam?
Ternyata Ulama madzhab yaitu Ulama Hanafiah, Malikiyah, Syafi’iyah,
dan Hanabilah sudah sepakat bahwa jual beli emas secara kredit adalah
haram.(Kisanda and Handayani 2021) Hal itu dikarenakan jual beli emas
secara kredit tidak memenuhi syarat-syarat jual beli emas sebagai barang
ribawi di mana harus ada pembayaran secara tunai atau kontan. Namun,
pendapat Ulama madzhab itu bertentangan dengan apa yang disampaikan
oleh Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia.
Melalui fatwa No: 77/DSN-MUI/V/2010 Dewan Syariah Nasional Majelis
Ulama Indonesia (DSN-MUI) mengemukakan bahwa hukum transaksi jual
beli emas secara tidak tunai, baik melalui jual beli biasa atau jual beli
murabahah, adalah boleh (mubah, jaiz) selama emas tidak menjadi alat
tukar/mata uang yang resmi.(Nurdiana 2019)
Adanya pengharaman jual beli emas secara tidak tunai oleh para Ulama
madzhab dikarenakan pada masa itu emas bukan hanya sekedar komoditas,
melainkan juga berfungsi sebagai alat tukar/mata uang yang resmi. Hal itu
tentu berbeda dengan masa sekarang di mana emas tidak lagi dijadikan
sebagai alat tukar/mata uang yang resmi. Maka, hukum yang mengharamkan
kredit emas tidak berlaku lagi.
DSN-MUI juga banyak merujuk pada pendapat para Ulama Kontemporer
seperti Syaikh 'Ali Jumu'ah, Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaily, Dr. Khalid
Mushlih, Syaikh 'Abd al-Hamid Syauqiy al-Jibaliy, dan Ulama kontemporer
lain di mana semuanya berpendapat bahwa jual beli emas secara tidak tunai
diperbolehkan karena melihat dari perkembangan zaman yang membuat emas
itu tidak lagi menjadi alat tukar, tetapi sebagai barang yang dapat dipakai
dalam kehidupan sehari-hari seperti menjadi perhiasan berbentuk gelang,
kalung, dan lain-lain.
Beriringan dengan diperbolehkannya kredit/cicil emas ini, DSN-MUI
memberikan batasan dan ketentuan, yaitu: 1) Harga jual (tsaman) tidak boleh
bertambah selama jangka waktu perjanjian meskipun ada perpanjangan waktu
setelah jatuh tempo, 2) Emas yang dibeli dengan pembayaran tidak tunai
boleh dijadikan jaminan (rahn), dan 3) Emas yang dijadikan jaminan
sebagaimana yang dimaksud di atas tidak boleh diperjualbelikan atau
dijadikan objek akad lain yang menyebabkan perpindahan kepemilikan.
2.7. Lembaga Keuangan Syariah
Lembaga Keuangan Syariah (LKS) saat ini telah ada dan berkembang
dengan cukup pesat. Telah banyak varian dari LKS diseluruh Indonesia dan
termasuk pula adalah Bank Syariah. LKS merupakan lembaga keuangan yang
beroperasional dan berjalan dengan prinsip syariah Islam. Prinsip syariah
Islam ini berbeda dari perbankan atau lembaga keuangan konvensional.
(Budiono 2017)
LKS sebagai lembaga keuangan dengan prinsip syariah awalnya hadir
sebagai pilihan sekaligus solusi untuk muslim yang ingin terhindar dari
praktek bank atau lembaga keuangan konvensional yang menggunakan
system ribawi namun akhirnya juga dapat menjadi pilihan bagi selain umat
muslim. Penyelenggaraan LKS berarti wajib bertanggung jawab secara
syariah untuk menjaga tidak hanya agar praktek dalam LKS itu bebas riba
saja tapi juga harus bebas dari unsur unsur maysir/ judi dan
Ghoror/spekulasi/judi.
Islam memerintahkan untuk menjauhi hal hal tersebut karena hal tersebut
dianggap sebagai berbuat zhalim atau kerusakan Penyelenggara LKS dituntut
memiliki tidak hanya visi bisnis an sich yang bertujuan mengeruk laba yang
setinggi tingginya dengan mengesampingkan syariah namun juga harus
memiliki visi syariah. Proses agar LKS tentap berada dalam prinsip prinsip
syariah ketika beroperasional menjadi tanggung jawab bersama antara lain
pengelola LKS dan institusi negara yang ditunjuk untuk melakukan proses
dan prosedur agar LKS tetap dalam koridor yang seharusnya dan tidak
melakukan hilah/trik hanya sekedar kamuflase berkedok syariah dalam
parktek dan operasionalnya.
2.8. Pembiayaan Murabahah
Pembiayaan murabahah menurut para ahli merupakan fasilitas pembiayaan
untuk keperluan konsumtif yang diberikan kepada nasabah, pembiayaan ini
dapat digunakan untuk keperluan konsumtif nasabah.(Yaqin 2019)
Pembiayaan murabahah adalah dalam prinsip akad jual beli. Saat ini,
produk perbankan syariah murabahah adalah yang paling pesat
perkembangannya.(Nurba Ash Khairunnisa, Deni Kamaludin Yusup, Neneng
Hartati 2020) Murabahah murupakan bagian akad jual beli. Secara
transaksional, dalam fiqh disebut dengan bay’ al-murabahah, sedangkan
imam syafi’i menanamkan transaksi sejenis bay’ almurabahah dengan al-amir
bissyira.
Rukun jual beli yang perlu diperhatikan dalam jual beli, Antara lain:
1. Penjual dan pembeli. Syaratnya: Berakal, kehendak sendiri, keadaan
tidak mubadzir.
2. Uang dan benda yang dibeli.
3. Lafadz (kalimat ijab, qabul)
Syarat-syarat murabahah yaitu mengetahui harga pertama, mengetahui
besarnya keuntungan, sistem murabahah dalam harga riba hendaknya tidak
menisbatkan riba tersebut terhadap harga pertama, modal kehendaklah berupa
komoditas yang memiliki kesamaan dan sejenis, seperti benda-benda yang
ditakar, diimbang, dan hitung.
Menurut Undang-Undang No. 21 tahun 2008 tentang perbankan syariah
yang dimaksud dengan pembiayaan adalah penyediaan dana atau tagihan
yang dipersamakan dengan itu berupa transaksi bagi hasil dalam bentuk
mudharabah dan musyarakah, transaksi sewa menyewa dalam bentuk ijarah
atau sewa beli dalam bentuk ijarah muntahiya bittamlik, transaksi jual beli
dalam bentuk piutang murabahah, salam dan istishna, transaksi pinjam
meminjam dalam bentuk piutang qardh, dan transaksi sewa menyewa jasa
dalam bentuk ijarah untuk transaksi multi jasa.(Hidayat and Surahman 2017)
Murabahah didefinisikan oleh para Fuqoha sebagai penjualan barang
seharga biaya/ harga pokok (cost) barang tersebut ditambah mark-up atau
margin keuntungan yang disepakati.(Melina 2020) Murabahah dapat
dilakukan berdasarkan pesanan atau tanpa pesanan.(Yusuf 2013) Bank hanya
melakukan transaksi murabahah dengan pesanan. Dalam murabahah
berdasarkan pesanan, bank melakukan pembelian barang setelah ada
pemesanan dari nasabah.(Kognisi et al. 2021) Sementara dalam perspektif
Undang-undang No. 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, murabahah
merupakan produk finansial yang berbasis bai’ atau jual beli.(Yusuf 2013)
Pengertian Murabahah ini diatur dalam Undang-undang No. 21 Tahun 2008
tentang Perbankan Syariah pasal 19 ayat (1) huruf d, dijelaskan bahwa
murabahah adalah akad pembiayaan suatu barang dengan menegaskan harga
belinya kepada pembeli dan pembeli membayarnya dengan lebih sebagai
keuntungan yang disepakati”.
Menurut fatwa DSN-MUI, Pembiayaan Murabahah adalah fasilitas bank
syariah bagi yang memerlukannya, yaitu menjual suatu barang dengan
menegaskan harga belinya kepada pembeli dan pembeli membayarnya
dengan harga yang lebih sebagai laba. Harga jual bank adalah harga beli
pemasok ditambah keuntungan yang disepakati bersama.(Risky Sobari, Tuti
Anggraini, and Nurul Inayah 2024)
2.9. Landasan Hukum Murabahah
1. Al-Qur’an
ٰٓيَاُّيَها اَّلِذ ْيَن ٰا َم ُنْو ا اَل َتْأُك ُلْٓو ا َاْم َو اَلُك ْم َبْيَنُك ْم ِباْلَباِط ِل ِآاَّل َاْن َتُك ْو َن ِتَج اَر ًة َع ْن َتَر اٍض ِّم ْنُك ْۗم َو اَل
َتْقُتُلْٓو ا َاْنُفَس ُك ْۗم ِاَّن َهّٰللا َك اَن ِبُك ْم َر ِح ْيًم ا
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan
harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan
perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu dan
janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha
Penyayang kepadamu” (Q.S. An-Nisaa’: 29).(Munandar and Hasan
Ridwan 2023)
َاَّلِذ ْيَن َيْأُك ُلْو َن الِّر ٰب وا اَل َيُقْو ُم ْو َن ِااَّل َك َم ا َيُقْو ُم اَّلِذ ْي َيَتَخَّبُطُه الَّشْيٰط ُن ِم َن اْلَم ِّۗس ٰذ ِلَك ِبَاَّنُهْم َقاُلْٓو ا ِاَّنَم ا
اْلَبْيُع ِم ْثُل الِّر ٰب وۘا َو َاَح َّل ُهّٰللا اْلَبْيَع َو َح َّر َم الِّر ٰب وۗا َفَم ْن َج ۤا َء ٗه َم ْو ِع َظٌة ِّم ْن َّرِّبٖه َفاْنَتٰه ى َفَلٗه َم ا َس َلَۗف
ٰۤل
٢٧٥ َو َاْم ُر ٓٗه ِاَلى ِۗهّٰللا َو َم ْن َعاَد َفُاو ِٕىَك َاْص ٰح ُب الَّناِۚر ُهْم ِفْيَها ٰخ ِلُد ْو َن
“Orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri
melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran
(tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah
disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu
sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan
mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya
larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba),
maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang
larangan) dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali
(mengambil riba), maka orang itu adalah penghunipenghuni neraka,
mereka kekal di dalamnya” (Q.S. Al-Baqarah: 275).
2. Hadits
Dari Suhaib ar Rumi r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda ‘Tiga
hal yang didalamnya terdapat keberkahan: jual beli secara tangguh,
muqaradah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan tepung
untuk keperluan rumah, bukan untuk dijual’” (H.R. Ibn Majah dari
Suhaib).
“Sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan suka sama suka”
(H.R. Al-Baihaqi dan Ibnu Majah).
3. Fatwa DSN-MUI
Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 04 DSN-MUI/IV/2000
tanggal 1 April 2000 tentang murabahah, diantaranya yang mana berisi:
(Arifin 2023)
1) Ketentuan Umum:
a. Bank dan nasabah harus melakukan akad murabahah yang bebas
riba.
b. Barang yang diperjualbelikan tidak diharamkan oleh syariat
Islam.
c. Bank membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang
yang telah disepakati kualifikasinya.
d. Bank membeli barang yang diperlukan oleh nasabah atas nama
bank sendiri dan pembelian ini harus sah dan bebas riba.
e. Bank harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan
pembelian, misalnya jika pembelian dilakukan secara hutang.
2) Ketentuan murabahah kepada nasabah:
a. Nasabah menyampaikan pengajuan dan membuat perjanjian
pembelian suatu barang atau aset kepada bank.
b. Jika bank menerima pengajuan tersebut, maka ia harus membeli
terlebih dahulu aset yang dipesannya secara sah kepada
pedagang.
c. Bank kemudian menawarkan aset tersebut kepada nasabah dan
nasabah harus menerima (membelinya) sesuai dengan perjanjian
yang telah disepakatinya karena secara hukum perjanjian
tersebut mengikat. Kemudian, kedua belah pihak harus membuat
kontrak jual beli.
d. Dalam jual beli ini bank dibolehkan meminta nasabah untuk
membayar uang muka saat menandatangani kesepakatan awal
pemesanan.
e. Jika nasabah kemudian menolak membeli barang tersebut, maka
biaya yang telah dikeluarkan harus dibayar dari uang muka yang
telah disetorkan.
3) Jaminan dalam murabahah:
a. Jaminan dalam murabahah dibolehkan agar nasabah serius
dengan pesanannya.
b. Bank dapat meminta nasabah untuk menyediakan jaminan yang
dapat dipegang.
4) Hutang dalam murabahah:
a. Secara prinsip penyelesaian hutang nasabah dalam transaksi
murabahah tidak ada kaitannya dengan transaksi lain yang
dilakukan oleh nasabah dengan pihak ketiga atas barang
tersebut. Jika nasabah menjual kembali barang tersebut dengan
keuntungan atau kerugian, maka ia tetap berkewajiban untuk
menyelesaikan hutangnya kepada bank.
b. Jika nasabah menjual barang tersebut sebelum masa angsuran
berakhir, maka ia tidak wajib segera melunasi seluruh
angsurannya.
c. Jika penjualan barang tersebut menyebabkan kerugian, maka
nasabah tetap harus menyelesaikan hutangnya sesuai
kesepakatan awal. Ia tidak boleh memperlambat pembayaran
angsuran atau meminta kerugian itu diperhitungkan.
5) Penundaan pembayaran dalam murabahah:
a. Nasabah yang memiliki kemampuan tidak dibenarkan menunda
penyelesaian hutangnya.
b. Jika nasabah sengaja menunda pembayaran atau salah satu pihak
tidak menunaikan kewajibannya, maka dapat diselesaikan
melalui Badan Arbitrasi Syariah setelah musyawarah yang
dilakukan tidak mencapai kesepakatan.
6) Bangkrut dalam murabahah:
Jika nasabah telah dinyatakan pailit dan gagal menyelesaikan
hutangnya, maka bank harus menunda tagihan hutang sampai ia
menjadi sanggup kembali atau berdasarkan kesepakatan.
2.10. Praktik Pembiayaan Murabahah Pada Bank Syariah
Praktik pembiayaan murabahah yang diaplikasikan pada bank syariah,
diawali dengan proses pengajuan pembiayaan oleh nasabah.(Zulfikri, Sobari,
and Gustiawati 2019) Apabila telah disetujui maka berlanjut pada proses
pencairan. Pada praktik penyaluran pembiayaan murabahah, bank bertindak
sebagai pihak penyedia dana, baik sebagian atau seluruh dana yang
dibutuhkan untuk membeli barang yang sesuai dengan kualifikasi nasabah.
(Nurjanah and Hilyatin 2017) Selanjutnya, pembayaran oleh pihak nasabah
dapat dilakukan secara tangguh sesuai dengan kesepakatan kedua pihak.
Pengajuan pembiayaan dalam bentuk barang oleh nasabah. Dalam tahap
ini pihak bank dan nasabah akan melakukan negosiasi mengenai tiga aspek.
(Zulfikri et al. 2019) Aspek pertama mengenai teknis dan spesifikasi barang
atau objek yang dibutuhkan oleh nasabah. Aspek kedua mengenai nominal
harga barang yang dibutuhkan serta estimasi kemampuan nasabah untuk
membayar secara tangguh. Kemudian aspek ketiga terkait jangka waktu
pembiayaan. Penentuan jangka waktu pembiayaan disesuaikan pada
kemampuan nasabah dalam membayar angsuran dari harga barang yang akan
dibeli.(Agustin 2022) Penentuan jangka waktu pembiayaan juga berpengaruh
terhadap mark up price atau profit margin yang akan diambil oleh pihak
bank.
Pada saat negosiasi dilakukan, maka akan terjalin kesepakatan antara
kedua pihak, di mana pihak bank akan membeli barang yang dibutuhkan oleh
nasabah sesuai dengan kualifikasi dalam negosiasi kepada supplier.(Nurjanah
and Hilyatin 2017) Kemudian, pihak bank dan supplier bersama-sama
mengirim barang tersebut kepada nasabah.
Setelah barang terkirim, maka nasabah harus segera melengkapi
persyaratan yang tertuang dalam perjanjian formal, dalam tahapan ini maka
asas formalisme telah terjadi. Nasabah diwajibkan untuk mengembalikan
harga pokok barang yang dibeli ditambah dengan keuntungan yang telah
disepakati pada saat negosiasi berlangsung.(Zulfikri et al. 2019) Jangka waktu
pembiayaan berlangsung sebagaimana tertera dalam perjanjian dan akan
berakhir sesuai dengan kesepakatan pada negosiasi. Ketika akad berakhir,
maka kepemilikan barang akan menjadi milik nasabah sebagaimana pada
transaksi jual beli.
2.11. Kerangka Berpikir
Untuk mengetahui masalah yang akan dibahas, perlu adanya kerangka
berpikir yang merupakan landasan dalam meneliti masalah yang bertujuan
untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu penelitian.
Maka untuk itu dapat dilihat dalam gambar dibawah ini :
PT. Bank BSI KCP
Gondanglegi Malang
Produk Cicilan Emas BSI
Strategi Pemasaran
Segmenting Positioning Targeting Marketing mix
Hasil Penelitian
Strategi Pemasaran
Kerangka pemikiran ini menunjukkan strategi pemasaran produk Cicil
Emas di PT. Bank BSI Cabang Gondanglegi Malang yang meliputi
penjelasan secara singkat pengertian produk cicil emas dan pemasarannya
yaitu pembiayaan kepemilikan emas dengan menggunakan akad murabahah,
yang artinya akad menyediakan kebutuhan nasabah dan menjual kepada
nasabah dengan harga perolehan ditambah keuntungan (margin) yang
disepakati,(Nasution, Hardana, and Damisa 2022) selain itu juga membahas
tentang strategi yang terdiri dari
Segmentasi, yaitu sebuah proses pembagian pasar kedalam kelompok –
kelompok berdasarkan kesamaan kebutuhan atau karakteristik yang serupa
dalam prilaku pembelian konsumen.(Sihotang 2017)
Targeting, yaitu Penetapan target pasar memilih satu atau lebih segmen
pasar untuk dimasuki, atau cara perusahaan mengoptimalkan suatu pasar.
Positioning, Istilah positioning produk (merek) pada dasarnya mengacu
pada penempatan suatu produk dalam struktur pasar dilihat terhadap
pesaingnya. Pengertian ini kemudian berkembang menjadi kegiatan
pemasaran dalam mempengaruhi pikiran konsumen sehingga suatu produk
menempati posisi tertentu sesuai dengan yang diharapkan.(Zakharia and
Sujianto 2022)
Marketing mix syariah, yaitu mendapatkan sebuah tujuan pemasaran
dengan mencukupi keperluan dan kemauan konsumen lewat pertukaran
barang dan jasa. Strategi Marketing Mix dirumuskan dengan terpadu untuk
mengdapatkan respon yang diharapkan pasar, marketing mix juga mencakup
product, price, place, promotion, people, process, phicyal avidance.(Zakharia
and Sujianto 2022) Dan adanya penjelasan secara singkat mengenai lembaga
keuangan syariah.
DAFTAR PUSTAKA
Agustin, Tiara. 2022. “Prosedur Pembiayaan Produk Cicil Emas Di Bank
Sumselbabel Syariah Cabang Muhammadiyah Palembang.” Jurnal Ilmiah
Mahasiswa Perbankan Syariah (JIMPA) 2(1):207–20. doi:
10.36908/jimpa.v2i1.67.
Anam, Khoirul. 2013. “Strategi Pemasaran Dan Implementasinya Dalam
Lembaga Pendidikan.” Ta’allum: Jurnal Pendidikan Islam 1(2). doi:
10.21274/taalum.2013.1.2.159-170.
Andriono, Antok, and Dety Muylanti. 2023. “Strategi Manajemen Pemasaran
Komprehensif Untuk Penjualan: Tinjauan Teoritis.” Jurnal Manajemen Riset
Inovasi 1(2):257–65.
Arifin, Asriadi. 2023. “Fatwa DSN-MUI No. 04/DSN-MUI/IV/2000 Tentang
Murabahah: Refleksi Kritis Terhadap Implementasi BSI Dimensi Ekonomi
Islam.” BALANCA : Jurnal Ekonomi Dan Bisnis Islam 5(1):1–11. doi:
10.35905/balanca.v6i1.5079.
Bauran, Analisis, Pemasaran Terhadap, and Lourina Sondakh. 2004.
“METODOLOGI PENELITIAN Lokasi Dan Waktu Penelitian Metode
Pengumpulan Data.”
Budiono, Arief. 2017. “Penerapan Prinsip Syariah Pada Lembaga Keuangan
Syariah.” Law and Justice 2(1):54–65. doi: 10.23917/laj.v2i1.4337.
Fathoni, Muhammad Anwar. 2018. “Konsep Pemasaran Dalam Perspektif Hukum
Islam.” Jurisdictie 9(1):128. doi: 10.18860/j.v9i1.5135.
Firmansyah, Erick, Rebecca Milka, and Prayanto. 2020. “Perancangan Video
Infografis Pentingnya Investasi Bagi Generasi Milenial.” Jurnal DKV
Adiwarna 1(16).
Firmansyah, Fani, and Kotijah Fadilah Abdilah. 2014. “Analisis Swot Dalam
Penentuan Strategi Pemasaran Produk Pembiayaan Pada Pt. Panin Bank
Syariah, Tbk. Kantor Cabang Malang.” Jurnal Ekonomi MODERNISASI
10(2):77. doi: 10.21067/jem.v10i2.798.
Hamid, Satim. 2017. “Analisis Program Pemasaran Produk Umkm Dodol Garut.”
Jurnal Manajemen & Bisnis Kreatif 2(1):82–112. doi:
10.36805/manajemen.v2i1.164.
Hidayat, Yayat Rahmat, and Maman Surahman. 2017. “Analisis Pencapaian
Tujuan Bank Syariah Sesuai Uu No 21 Tahun 2008.” Amwaluna: Jurnal
Ekonomi Dan Keuangan Syariah 1(1):34–50. doi:
10.29313/amwaluna.v1i1.1996.
Istan, Muhammad. 2023. “Implementasi Investasi Emas: Kajian Teoritis Dan
Praktis Menurut Ekonomi Islam.” Al-Intaj : Jurnal Ekonomi Dan Perbankan
Syariah 9(1):1. doi: 10.29300/aij.v9i1.8307.
Karim, Zulkifli. 2019. “Strategi Pemasaran Bank Syariah.” Jurnal (11):3–7.
Kisanda, KIsanda Midisen, and Santi Handayani. 2021. “Jual Beli Emas Secara
Tidak Tunai Ditinjau Secara Hukum Fikih.” Jurnal Ekonomi Syariah Pelita
Bangsa 6(01):10–19. doi: 10.37366/jespb.v6i01.172.
Kognisi, Pengaruh Kebutuhan, Preferensi Risiko, D. A. N. Jenis, Fanny Bidori,
Lita Indahsari dan Ida Puspitowati, I. Gede Bayu Wijaya, Umi Alifah,
Informasi Artikel, Seminar Nasional Paedagoria, Imran Anwar, Mohd Tariq
Jamal, Imran Saleem, Prabha Thoudam, Aamir Hassan, Imran Anwar, Imran
Saleem, K. M. Baharu. Islam, Syed Abid Hussain, Barry J. Witcher,
Muhammad Yodha Prananda, Septrinaidy Wendy, Q. Aini, F. Oktafani,
Leffy Ayu Wulandari, Della Charina, Ama Suyanto, Fahmi Muharam, Nisa
Fitri Andhini, and alma. 2021. “PEMBIAYAAN MURABAHAH PADA
PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA Surayya.” Industry and Higher
Education 3(1):1689–99.
Laoli, Victorinus, and Fatolosa Hulu. 2018. “Analisis Penetapan Harga Terhadap
Keputusan Pembelian Konsumen.” Jesya (Jurnal Ekonomi & Ekonomi
Syariah) 1(2):19–24. doi: 10.36778/jesya.v1i2.19.
Melina, Ficha. 2020. “Pembiayaan Murabahah Di Baitul Maal Wat Tamwil
(Bmt).” Jurnal Tabarru’: Islamic Banking and Finance 3(2):269–80. doi:
10.25299/jtb.2020.vol3(2).5878.
Munandar, Aris, and Ahmad Hasan Ridwan. 2023. “Tafsir Surat An-Nisa Ayat 29
Sebagai Landasan Hukum Akad Ba’i Assalam Dalam Praktek Jual Beli
Online.” Rayah Al-Islam 7(1):271–87. doi: 10.37274/rais.v7i1.659.
Nasution, Jafar, Ali Hardana, and Arti Damisa. 2022. “Implementasi Akad
Murabahah Untuk Pembiayaaan Modal Usaha Di Bank Syariah Indonesia
Sipirok.” Jurnal Pengabdian Masyarakat: Pemberdayaan, Inovasi Dan
Perubahan 2(4). doi: 10.59818/jpm.v2i4.237.
Nurba Ash Khairunnisa, Deni Kamaludin Yusup, Neneng Hartati, Vina Sri
Yuniarti. 2020. “Pengaruh Jumlah Pendapatan Margin Pembiayaan
Murabahah Dan Istishna Terhadap Laba Perusahaan.” Jurnal Ekonomi Dan
Bisnis Islam 1(2):1–9.
Nurdiana, Dewi. 2019. “Analisis Jual-Beli Emas Secara Tidak Tunai (Studi
Komparatif Fatwa Dsn-Mui No. 77/ Dsn-Mui/V/2010 Dan Pemikiran
Erwandi Tarmizi).” Jurnal Al-Hakim: Jurnal Ilmiah Mahasiswa, Studi
Syariah, Hukum Dan Filantropi 1(2):163–78. doi:
10.22515/alhakim.v1i2.2310.
Nurjanah, Nurjanah, and Dewi Laela Hilyatin. 2017. “Strategi Penyelamatan
Pembiayaan Bermasalah Pada Pembiayaan Murabahah Di Bank Syariah
Mandiri Cabang Purwokerto.” El-Jizya : Jurnal Ekonomi Islam 4(1):59–96.
doi: 10.24090/ej.v4i1.2016.pp59-96.
Prihatta, Hajar Swara. 2018. “Pemasaran Dalam Perspektif Ekonomi Islam.”
Maliyah : Jurnal Hukum Bisnis Islam 8(1):96–124. doi:
10.15642/maliyah.2018.8.1.65-93.
Rahma, Ade. 2018. “Event Sebagai Salah Satu Bentuk Strategi Komunikasi
Pemasaran Produk Fashion Nasional (Event Tahunan Jakcloth).” Nyimak
(Journal of Communication) 1(2):149–69. doi: 10.31000/nyimak.v1i2.480.
Ramadhan, Ahmad, and Fivi Rahmatus Sofiyah. 2018. “Analisis SWOT Sebagai
Landasan Dalam Menentukan Strategi Pemasaran ( Studi McDonald ’ s Ring
Road ) This Research Aims to Identify and Analyze the Ma Rketing Strategy
of McDoanald ’ s Ring Road by Using the SWOT Analysis Consisting of
Strength , Weakness.” Sistem Informasi 1(2):1–5.
Risky Sobari, Tuti Anggraini, and Nurul Inayah. 2024. “Analisis Pelaksanaan
Akad Murabahah Dalam Pembiayaan Pembelian Rumah (PPR) Syariah,
Studi Kasus Bank Syariah Indonesia KCP Medan Marelan.” El-Mal: Jurnal
Kajian Ekonomi & Bisnis Islam 5(4):2414–23. doi:
10.47467/elmal.v5i4.1943.
Sabilla, Shifa, Muhammad Iqbal Fasa, and Suharto. 2022. “Analisis Implementasi
Strategi Bauran Pemasaran Perbankan Syariah Dalam Perspektif Ekonomi
Islam.” Jurnal Ekonomi Bisnis, Manajemen Dan Akuntansi 1(3):253–68.
Saragih, Rintan br. 2016. “Perancangan Marketing Plan Sebagai Salah Satu
Strategi Untuk Meningkatkan Penjualan Pada Pa Tani Organik.” Jurnal
Ilmiah Methonomi 2(2):79–91.
Sihotang, Jon Predianto. 2017. “Analisis Strategi Segmenting, Targeting Dan
Positioning Pada Perushaan Asuransi Pt.(Persero) Jiwasraya, Pekanbaru.”
Journal of Chemical Information and Modeling 53(9):1689–99.
Suparyanto dan Rosad. 2020. “Analisis Korelasi Pengaruh Strategi Komunikasi
Pemasaran Terhadap Loyalitas Pelanggan Lopecoffee Coffee Shop Di
Samarinda.” 5(3):248–53.
Yaqin, Ahmad Ainul. 2019. “Strategi Pemasaran Produk Pembiayaan Cicilan
Emas Di Bank X Syariah KCP Dramaga.” Amwaluna : Jurnal Ekonomi Dan
Keuangan Syariah 3(2):229–37.
Yusuf, Muhammad. 2013. “Analisis Penerapan Pembiayaan Murabahah
Berdasarkan Pesanan Dan Tanpa Pesanan Serta Kesesuaian Dengan PSAK
102.” Binus Business Review 4(1):15. doi: 10.21512/bbr.v4i1.1032.
Zaini Miftach. 2018. “済無 No Title No Title No Title.” 53–54.
Zakharia, Muhammad Shayid, and Agus Eko Sujianto. 2022. “Pengaruh
Marketing Mix Syariah (7P) Terhadap Minat Beli Konsumen Di Rumah
Makan Ayam Lodho Pak Yusuf Plosokandang.” El-Mal: Jurnal Kajian
Ekonomi & Bisnis Islam 3(5):835–52. doi: 10.47467/elmal.v3i5.1122.
Zulfikri, Ari, Ahmad Sobari, and Syarifah Gustiawati. 2019. “Strategi
Penyelamatan Pembiayaan Bermasalah Pada Pembiayaan Murabahah Bank
BNI Syariah Cabang Bogor.” Al Maal: Journal of Islamic Economics and
Banking 1(1):65. doi: 10.31000/almaal.v1i1.1776.