0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan63 halaman

Pengertian dan Tujuan Hasil Belajar

XXX

Diunggah oleh

Amry Hartanto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan63 halaman

Pengertian dan Tujuan Hasil Belajar

XXX

Diunggah oleh

Amry Hartanto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori

1. Hakikat Hasil Belajar

a. Pengertian Belajar

Kegiatan belajar dalam suatu proses pendidikan merupakan

kegiatan yang pokok, ada beberapa pendapat mengenai pengertian

belajar. Belajar adalah perubahan prilaku sebagai hasil dari

pengalaman. Lebih lanjut dikatakan belajar adalah untuk

mendapatkan pengetahuan, pemahaman, atau penguasaan melalui

pengalaman atau studi (Audie, 2019: 586). Belajar (learning)

merupakan perubahan yang relatif permanen di dalam behavioral

potentially (potensi behavioral) yang terjadi akibat dari reinforced

practice (praktik yang diperkuat) (Olson & Ramirez, 2020: 10).

Akhiruddin dkk., (2020: 7) menyatakan bahwa kata kunci

dari belajar adalah perubahan perilaku. Belajar adalah sebuah proses

yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh sebuah perubahan

tingkah laku yang menetap, baik yang dapat diamati maupun yang

tidak dapat diamati secara langsung, yang terjadi sebagai suatu hasil

latihan atau pengalaman dalam interaksinya dengan lingkungan.

Haryati (2017: 2) menyatakan bahwa belajar (learning) adalah

proses perubahan yang relatif tetap dalam perilaku individu sebagai


hasil dari pengalaman. Dalam pengertian ini memusatkan perhatian

pada tiga hal yaitu: (1) bahwa belajar harus memungkinkan

terjadinya perubahan perilaku individu; (2) bahwa perubahan itu

harus merupakan buah dari pengalaman; (3) bahwa perubahan itu

terjadi pada perilaku individu yang mungkin.

Pendapat Setiawan (2017: 3) bahwa belajar adalah suatu

proses aktivitas mental yang dilakukan seseorang untuk memperoleh

suatu perubahan tingkah laku yang bersifat positif dan menetap

relatif lama melalui latihan atau pengalaman yang menyangkut aspek

kepribadian baik scara fisik ataupun psikis. Belajar menghasilkan

perubahan dalam diri setiap individu, dan perubahan tersebut

mempunyai nilai positif bagi dirinya. Tetapi tidak semua perubahan

bisa dikatakan sebagai belajar, sebagai contoh seseorang anak yang

terjatuh dari pohon dan tangannya patah. Kondisi tersebut tidak bisa

dikatakan sebagai proses belajar meskipun ada perubahan, karena

perubahan tersebut bukan sebagai perilaku aktif dan menuju kepada

perbuahan yang lebih baik.

Belajar adalah aktivitas kehidupan yang normal dan itu, sejak

manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial, belajar adalah

kegiatan sosial sebagai sosial partisipasi. Dari perspektif ini,

disimpulkan bahwa sekarang sudah dilembagakan pengajaran dan

pelatihan, berdasarkan gagasan proses individu dan terpisah dari sisa

kegiatan sosial kita terancam menjadi sama sekali tidak relevan. Jika
sebuah pandangan konstruktivis tentang pengetahuan kemudian

dipertimbangkan dalam kombinasi dengan pentingnya bahasa,

budaya dan komunikasi interpersonal dalam pengembangan proses

psikologis yang lebih tinggi dan konsep kolaborasi dan kecerdasan

kolektif, menjadi agak jelas bahwa arus praktik dominan pendidikan

jarak jauh online tidak konsisten dengan pandangan ini karena

mereka dibangun di sekitar gagasan pengiriman konten yang objektif

dan studi individu dan perolehan pengetahuan (Parnawi, 2019: 18).

Djamaludin & Wardana (2019: 3) mengemukakan definisi

belajar dapat juga diartikan sebagai segala aktivitas psikis yang

dilakukan oleh setiap individu sehingga tingkah lakunya berbeda

antara sebelum dan sesudah belajar. Perubahan tingkah laku atau

tanggapan, karena adanya pengalaman baru, memiliki kepandaian/

ilmu setelah belajar, dan aktivitas berlatih. Arti belajar adalah suatu

proses perubahan kepribadian seseorang dimana perubahaan tersebut

dalam bentuk peningkatan kualitas perilaku, seperti peningkatan

pengetahuan, keterampilan, daya pikir, pemahaman, sikap, dan

berbagai kemampuan lainnya.

Suardi (2018: 21) menyatakan bahwa belajar dimulai dengan

adanya semangat, dorongan, dan upaya yang timbul dalam diri

seseorang, sehingga orang itu melakukan kegiatan belajar, belajar

yang dimaksud adalah perilaku mengembangkan atau meningkatkan

diri melalui proses penyesuaian tingkah laku. Dari pernyataan


tersebut belajar merupakan hal yang sangat dekat dengan proses

perkembangan sesorang. Suatu hal yang menjadi alat kontrol dalam

mempercepat perkembangan tersebut yaitu sebuah motivasi ataupun

stimulus. Motivasi ataupun stimulus yang dimaksud yaitu dapat

berasal dari dalam ataupun luar individu. Dalam proses

perkembangannya juga terdapat penyesuaian tingkah laku yang

menjadi ciri utama perkembangan. Penyesuaian tingkah laku dapat

terwujud karena kegiatan belajar, bukan sebuah akibat langsung dari

pertumbuhan seseorang.

Djamaludin & Wardana (2019: 8-10) menjelaskan bahwa

secara umum ada tiga tujuan belajar, yaitu:

1) Memperoleh pengetahuan
Hasil dari kegiatan belajar dapat ditandai dengan
meningkatnya kemampuan berpikir seseorang. Jadi,
selain memiliki pengetahuan baru, proses belajar juga
akan membuat kemampuan berpikir seseorang menjadi
lebih baik. Dalam hal ini, pengetahuan akan
meningkatkan kemampuan berpikir seseorang, dan
begitu juga sebaliknya kemampuan berpikir akan
berkembang melalui ilmu pengetahuan yang dipelajari.
Dengan kata lain, pengetahuan dan kemampuan berpikir
merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan.
2) Menanamkan Konsep dan Keterampilan
Keterampilan yang dimiliki setiap individu adalah
melalui proses belajar. Penanaman konsep membutuhkan
keterampilan, baik itu keterampilan jasmani maupun
rohani. Dalam hal ini, keterampilan jasmani adalah
kemampuan individu dalam penampilan dan gerakan
yang dapat diamati. Keterampilan ini berhubungan
dengan hal teknis atau pengulangan. Sedangkan
keterampilan rohani cenderung lebih kompleks, karena
bersifat abstrak. Keterampilan ini berhubungan dengan
penghayatan, cara berpikir, dan kreativitas dalam
menyelesaikan masalah atau membuat suatu konsep.
3) Membentuk Sikap
Kegiatan belajar juga dapat membentuk sikap seseorang.
Dalam hal ini, pembentukan sikap mental peserta didik
akan sangat berhubungan dengan penanaman nilai-nilai,
sehingga menumbuhkan kesadaran di dalam dirinya.
Dalam proses menumbuhkan sikap mental, perilaku, dan
pribadi anak didik, seorang guru harus melakukan
pendekatan yang bijak dan hati-hati. Guru harus bisa
menjadi contoh bagi anak didik dan memiliki kecakapan
dalam memberikan motivasi dan mengarahkan berpikir.

Berdasarkan beberapa pendapat mengenai pengertian belajar,

dapat disimpulkan bahwa pengertian belajar adalah suatu proses

yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang,

perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam

berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap,

tingkah laku, kecakapan dan kebiasaan.

b. Hasil Belajar

Interaksi antara pendidik dengan peserta didik yang

dilakukan secara sadar, terencana baik didalam maupun di luar

ruangan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik ditentukan

oleh hasil belajar. Evaluasi hasil belajar merupakan proses untuk

menentukan nilai belajar peserta didik melalui kegiatan penilaian

dan/atau pengukuran hasil belajar. Tujuan utamanya adalah untuk

mengetahui tingkat keberhasilan yang dicapai oleh peserta didik

setelah mengikuti suatu kegiatan pembelajaran, dimana tingkat

keberhasilan tersebut kemudian ditandai dengan skala nilai berupa

huruf atau kata atau simbol (Akhiruddin, dkk., 2020: 185).


Hasil belajar merupakan dasar untuk mengukur dan

melaporkan prestasi akademik peserta didik, serta merupakan kunci

dalam mengembangkan desain pembelajaran selanjutnya yang lebih

efektif yang memiliki keselarasan antara apa yang akan dipelajari

peserta didik dan bagaimana mereka akan dinilai (Murdaningrum,

2021: 124). Sebagai sebuah produk akhir dari proses pembelajaran,

hasil belajar dinilai dapat menunjukkan apa yang telah peserta didik

ketahui dan kembangkan. Hasil belajar adalah hasil dari

penyelesaian proses pembelajaran, dimana lewat pembelajaran

peserta didik dapat mengetahui, mengerti, dan dapat menerapkan apa

yang dipelajarinya. Hasil belajar juga merupakan laporan mengenai

apa yang didapat pembelajar setelah selesai dari proses

pembelajaran. Terdapat beberapa indikator yang digunakan dalam

mengukur hasil belajar peserta didik. Pendapat yang paling

terkemuka adalah yang disampaikan oleh Bloom yang membagi

klasifikasi hasil belajar dalam tiga ranah, yaitu kognitif, afektif, dan

psikomotorik (Komalasari & Zulkifli, 2021: 441).

Sardiman (2018: 47) mendefinisikan “hasil belajar atau

achievement merupakan realisasi atau pemekaran dari

kemampuankemampuan atau kecakapan-kecakapan potensial

(kapasitas) yang dimiliki seseorang”. Penguasaan hasil belajar oleh

seseorang dapat dilihat dari perilakunya, baik perilaku dalam bentuk

penguasaan pengetahuan, keterampilan berpikir maupun


keterampilan motorik. Lebih lanjut Sardiman (2018: 49) menyatakan

pembelajaran dikatakan berhasil dengan baik didasarkan pada

pengakuan bahwa belajar secara esensial merupakan proses yang

bermakna, bukan sesuatu yang berlangsung secara mekanik belaka,

tidak sekedar rutinisme.

Lebih lanjut, Akhiruddin, dkk., (2020: 186) menjelaskan

bahwa evaluasi hasil belajar memiliki sasasaran berupa ranah-ranah

yang terkandung dalam tujuan. Ranah tujuan pendidikan berdasarkan

hasil beajar peserta didik secara umum diklasifikasikan menjadi tiga

yakni: ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik. Hasil

belajar akan tampak pada beberapa aspek antara lain:pengetahuan,

pengertian, kebiasaan, keterampilan, apresiasi, emosional, hubungan

sosial, jasmani, etis atau budi pekerti, dan sikap. Seseorang yang

telah melakukan perbuatan belajar maka akan terlihat terjadinya

perubahan dalam salah satu atau bebarapa aspek tingkah laku

sebagai akibat dari hasil belajar.

Akhiruddin, dkk., (2020: 186) menjelaskan tujuan ranah

kognitif berhubungan dengan ingatan atau pengenalan terhadap

pengetahuan dan informasi serta pengembangan keterampilan

intelektual. Taksonomi tujuan ranah kognitif oleh Bloom

mengemukakan adanya 6 kelas yaitu:

1) Pengetahuan, merupakan tingkat terendah tujuan ranah kognitif

berupa pengenalan dan pengingatan kembali terhadap


pengetahuan tentang fakta, istilah, dan prinsip-prinsip dalam

bentuk seperti mempelajari. Dalam pengenalasn peserta didik

diminta untuk memilih salah satu dari dua atau lebih pilihan

jawaban;

2) Pemahaman, berupa kemampuan memahami/mengerti tentang

isi pelajaran yang dipelajari tanpa perlu menghubungkannya

dengan isi pelajaran lainnya. Dalam pemahaman peserta didik

diminta untuk memmbuktikan bahwa ia memahami hubungan

yang sederhana diantara fakta-fakta atau konsep;

3) Penggunaan/Penerapan, merupakan kemampuan menggunakan

generalisasi atau abstraksi lainnya yang sesuai dalam situasi

konkret dan atau situasi baru. Peserta didik dituntut memiliki

kemampuan untuk menyeleksi atau memilih

generalisasi/abstraksi tertentu secara tepat untuk diterapkan

dalam suatu situasi baru dan menerapkannya secara benar;

4) Analisis, merupakan kemampuan menjabarkan isi pelajaran ke

bagian-bagian yang menjadi unsur pokok. Peserta didik diminta

untuk menganalisis hubungan atau situasi yang kompleks atau

konsep-konsep dasar;

5) Sintesis, merupakan kemampuan menggabungkan unsur-unsur

pokok ke dalam struktur yang baru. Dalam sintesis peserta didik

diminta untuk melakukan generalisasi;


6) Evaluasi, merupakan kemampuan untuk menerapkan

pengetahuan dan kemampuan yang telah dimiliki untuk menilai

suatu kasus.

Akhiruddin, dkk., (2020: 187) menjelaskan tujuan ranah

afektif berhubungan dengan hierarki perhatian, sikap, penghargaan,

nilai, perasaan, dan emosi. Taksonomi tujuan ranah afektif sebagai

berikut.

1) Menerima, berupa perhatian terhadap simuasi secara pasif yang

meningkat secara lebih aktif. Peserta didik diminta

menunjukkan kesadaran, kesediaan untuk menerima dan

perhatian terkontrol/terpilih;

2) Merespons, merupakan kesempatan untuk menanggapi stimulan

dan merasa terukat serta secara aktif memperhatikan. Peserta

didik diminta untuk menunjukkan persetujuan, kesediaan dan

kepuasan dalam merespons;

3) Menilai, merupakan kemampuan menilai gejala atau kegiatan,

sehingga dengan sengaja merespon lebih lanjut untuk mencari

jalan bagaimana dapat mengambil bagian atas apa yang terjadi.

Peserta didik dituntut menunjukkan penerimaan terhadap nilai,

kesuakaran terhadap nilai, dan ketertarikan terhadap nilai;

4) Mengorganisasi, merupakan kemampuan untuk membentuk

suatu sistem nilai bagi dirinya berdasarkan nilai-nilai yang


dipercaya. Peserta didik diminta untuk mengorganisasi nilai-

nilai ke suatu organisasi ynag ebih besar.

5) Karakterisasi, merupakan kemampuan untuk

mengkonseptualisasikan masing-masing nilai pada waktu

merespons, dengan jalan mengidentifikasi karakteristik nilai

atau membuat pertimbangan-pertimbangan. Peserta didik

diminta untuk menunjukkan kemampuannya dalam

menjelaskan, memberi batasan dan mempertimbangkan nilai-

nilai yang direspons.

Akhiruddin, dkk., (2020: 188) menjelaskan tujuan ranah

psikomotorik berhubungan dengan keterampilan motorik, manipulasi

benda atau kegiatan yang memerlukan koordinasi saraf dan

koordinasi badan. Taksonomi ranah tujuan psikomotorik sebagai

berikut.

1) Gerakan tubuh yang mencolok, merupakan kemampuan gerakan

tubuh yang menekankan kepada kekuatan, kecepatan dan

ketepatan tubuh yang mencolok. Peserta didik harus mampu

menunjukkan gerakan yang menggunakan kekuatan tubuh,

kecepatan tubuh, ketepatan posisi tubuh atau gerakan yang

memerlukan kekuatan, kecepatan dan ketepatan gerak tubuh;

2) Ketepatan gerakan yang dikoordinasikan, merupakan

keterampilan yang berhubungan dengan urutan atau pola dari

gerakan yang dikoordinasikan biasanya berhubungan dengan


gerakan mata, telinga dan badan. Peserta didik harus mampu

menunjukkan gerakan-gerakan berdasarkan gerakan yang

dicontohkan dan/atau gerakan yang diperintahkan secara lisan;

3) Perangkat komunikais nonverbal, merupakan kemampuan

mengadakan komunikasi tanpa kata. Peserta didik diminta untuk

menunjukkan kemampuan berkomunikasi menggunakan

bantuan gerakan tubuh dengan atau tanpa menggunakan alat

bantu. Komunikasi dilakukan dengan benar-benar tidak

menggunakan bantuan kemampuan verbal;

4) Kemampuan berbicara, merupakan kemampuan yang

berhubungan dengan komunikasi secara lisan. Peserta didik

harus mempu menunjukkan kemahirannya memilih dan

menggunakan kata atau kalimat, sehingga informasi, ide atau

yang dikominikasikannya dapat diterima secara mudah oleh

pendengarnya.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil

belajar adalah perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik,

setelah belajar orang akan memiliki keterampilan, sikap, dan nilai.

Penilaian dalam pembelajaran yang dimaksudkan untuk mencapai

tujuan pembelajaran dalam aspek afektif, kognitif, dan psikomotorik

memiliki indikator pengukuran capaian pembelajaran yang berbeda-

beda. Penilaian yang dilakukan akan menjadi acuan untuk mengukur

capaian kompetensi, laporan kemajuan hasil belajar, dan


memperbaiki proses pembelajaran. Hal ini akan menjadi tolok ukur

kesuksesan strategi pembelajaran yang diterapkan dinilai sesuai dan

mencapai tujuan pembelajaran.

2. Hakikat Pembelajaran PJOK

a. Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran merupakan aktivitas yang paling utama dalam

kegiatan belajar mengajar. Djamaludin & Wardana (2019, p. 14)

menjelaskan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta

didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan

belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik

agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan,

penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan

kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran

adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar

dengan baik.

Pendapat Setiawan (2017, p. 20) bahwa pembelajaran

merupakan perpaduan dari dua aktivitas belajar dan mengajar.

Aktivitas belajar secara metodologis cenderung lebih dominan pada

peserta didik, sementara mengajar secara instruksional dilakukan

oleh guru, jadi istilah pembelajaran adalah ringkasan dari kata

belajar dan mengajar. Dengan kata lain, pembelajaran adalah

penyederhanaan dari kata belajar dan mengajar, proses belajar

mengajar atau kegiatan belajar mengajar. Secara psikologis


pengertian pembelajaran ialah suatu proses yang dilakukan oleh

individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku secara

menyeluruh, sebagai hasil dari interaksi individu itu dengan

lingkungannya.

Senada dengan pendapat di atas, Fathurrahman (2017, p.16)

menjelaskan pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik

dengan pendiidk dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar

dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan

kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan

pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses

untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.

Akhiruddin, dkk., (2020, p. 12) menjelaskan bahwa

pembelajaran adalah suatu usaha yang sengaja melibatkan dan

menggunakan pengetahuan profesional yang dimiliki guru untuk

mencapai tujuan kurikulum. Pembelajaran ini adalah suatu sistem

yang bertujuan untuk membantu proses belajar peserta didik, yang

berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian

rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar

peserta didik yang bersifat internal. Pembelajaran dari sudut pandang

teori interaksional didefinisikan sebagai proses interaksi peserta

didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan

belajar. Berdasarkan konsep ini, pembelajaran dipandang memiliki


kualitas baik jika interaksi yang terjadi bersifat multi arah, yakni

guru-peserta didik, peserta didik-guru, peserta didik-peserta didik,

peserta didik-sumber belajar, dan peserta didik-lingkungan belajar

(Nurdyansyah & Fahyuni, 2016, p. 2).

Pembelajaran merupakan kegiatan belajar mengajar sehingga

proses pembelajaran sangat saling membutuhkan, guru

membutuhkan peserta didik dan peserta didik sangat membutuhkan

peran guru, namun seharusnya bantuan guru harus semakin

dikurangi karena tujuanya adalah meningkatkan ke aktifan peserta

didik bukan guru yang menjadi semakin aktif, dengan hal ini

seharusnya pembelajaran yang tadinya satu arah (guru-peserta didik)

menjadi dua arah (guru-peserta didik dan peserta didik-guru)

(Festiawan & Arovah, 2020, p. 188).

Permendikbud No 22 tahun 2016 menyatakan proses

pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara

interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta

didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup

bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat,

minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Untuk

itu setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan pembelajaran,

pelaksanaan proses pembelajaran serta penilaian proses

pembelajaran untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas

ketercapaian kompetensi lulusan.


Permendikbud No 22 tahun 2016 menyatakan sesuai dengan

Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi maka prinsip

pembelajaran yang digunakan:

1) dari peserta didik diberi tahu menuju peserta didik mencari


tahu;
2) dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi
belajar berbasis aneka sumber belajar;
3) dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan
penggunaan pendekatan ilmiah;
4) dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran
berbasis kompetensi;
5) dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu;
6) dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal
menuju pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya
multi dimensi;
7) dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan
aplikatif;
8) peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisikal
(hardskills) dan keterampilan mental (softskills);
9) pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan
pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang
hayat;
10) pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi
keteladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun
kemauan (ing madyo mangun karso), dan mengembangkan
kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut
wuri handayani);
11) pembelajaran yang berlangsung di rumah di sekolah, dan di
masyarakat;
12) pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja
adalah guru, siapa saja adalah peserta didik, dan di mana
saja adalah kelas;
13) Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk
meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran; dan
14) Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang
budaya peserta didik.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa

pembelajaran adalah memiliki hakikat perencanaan atau

perancangan sebagai upaya untuk membelajarkan peserta didik,


sehingga peserta didik akan mengalami perubahan dan hasil akhir

dari proses suatu kegiatan pembelajaran akan tampak dalam

penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang ditunjukkan dengan

nilai tes serta untuk memperoleh nilai tersebut perlu dilakukan

evaluasi.

b. Tujuan Pembelajaran

Tujuan dalam pembelajaran merupakan komponen yang

paling penting yang harus ditetapkan dalam proses pembelajaran

yang mempunyai fungsi sebagai tolak ukur keberhasilan

pembelajaran. Tujuan pembelajaran (tujuan instruksional) yaitu

tujuan yang menggambarkan pengetahuan, kemampuan,

keterampilan dan sikap yang harus dimiliki siswa sebagai akibat dari

hasil pembelajaran (Suardi, 2018, p. 23). Kemampuan yang harus

dimiliki peserta didik merupakan suatu tujuan yang ditargetkan oleh

guru setelah berakhirnya proses pembelajaran. Dengan kata lain

tujuan merupakan suatu komponen yang dapat mempengaruhi

komponen pembelajaran lainnya seperti pemilihan metode, alat,

sumber, dan alat evaluasi, yang harus disesuaikan dan digunakan

untuk mencapai tujuan seefektif dan seefisien mungkin. Bila salah

satu komponen tidak sesuai dengan tujuan, maka pelaksanaan

kegiatan belajar mengajar tidak akan dapat mencapai tujuan yang

telah ditetapkan (Asrul, dkk., 2022, p. 12).


Tujuan pembelajaran pada dasarnya merupakan harapan,

yaitu apa yang diharapkan dari siswa sebagai hasil belajar. Tujuan

pembelajaran, yaitu maksud yang dikomunikasikan melalui

peenyataan yang menggambarkan tentang perubahan yang

diharapkan dari siswa. Menurut Daryanto (2018, p. 58) tujuan

pembelajaran adalah tujuan yang menggambarkan pengetahuan,

kemampuan, keterampilan, dan sikap yang harus dimiliki siswa

sebagai akibat dari hasil pembelajaran yang dinyatakan dalam

bentuk tingkah laku yang dapat diamati dan diukur.

Tujuan pembelajaran adalah rumusan secara terperinci apa

saja yang harus dikuasai oleh siswa sesudah melewati kegiatan

pembelajaran yang bersangkutan dengan berhasil (Darman, 2020, p.

14). Tujuan pembelajaran memang perlu dirumuskan dengan jelas,

karena perumusan tujuan yang jelas dapat digunakan sebagai tolak

ukur keberhasilan dari proses pembelajaran itu sendiri. Tujuan

pembelajaran merupakan upaya perubahan tingkah laku siswa yang

berlangsung sebagai akibat dari keterlibatannya dalam sebuah

pengalaman pendidikan (Arfabi, 2018, p. 2).

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulakan bahwa tujuan

pembelajaran adalah rumusan secara terperinci apa saja yang harus

dikuasai oleh siswa sebagai akibat dari hasil pembelajaran yang

dinyatakan dalam bentuk tingkah laku yang dapat diamati dan

diukur. Rumusan tujuan pembelajaran ini harus disesuaikan dengan


standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator pencapaian

siswa. Selain itu tujuan pembelajaran yang dirumuskan juga harus

spesifik dan operasional agar dapat digunakan sebagai tolak ukur

keberhasilan dari proses pembelajaran.

c. Hakikat Pembelajaran PJOK

Salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah adalah

Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK). Mata

pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK)

merupakan salah satu pelajaran yang diajarkan di sekolah. Pada

tingkat SD, SMP, dan SMA/sederajat. Mata pelajaran PJOK pada

dasarnya merupakan bagian integral dari sistem pendidikan secara

keseluruhan yang bertujuan untuk mengembangkan aspek kesehatan,

kebugaran jasmani, keterampilan berfikir kritis, stabilitas emosional,

keterampilan sosial, penalaran dan tindakan moral melalui aktivitas

jasmani dan olahraga. Pelajaran PJOK khususnya di tingkat SMP,

diharapkan mampu mengenalkan peserta didik dengan konsep-

konsep penjas yang mengarahkan peserta didik agar memahami

konsep tentang olahraga, kesehatan, dan prestasinya (Iswanto, 2017,

p. 46).

PJOK telah disajikan sebagai mata pelajaran di mana peserta

didik dan guru dapat mengembangkan kesejahteraan emosional dan

membangun pengalaman sosio-emosional yang positif (Gagnon,

2016, p. 22). PJOK merupakan mata pelajaran yang penting, karena


membantu mengembangkan peserta didik sebagai individu dan

mahkluk sosial agar tumbuh dan berkembang secara wajar. Hal Ini

dikarenakan pelaksanaannya mengutamakan aktivitas jasmani

khususnya olahraga dan kebiasaan hidup sehat. Dengan adanya

pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan, maka potensi diri dari

seseorang akan dapat berkembang (Utami & Purnomo, 2019, p. 11).

Quennerstedt (2019, p. 2) menegaskan perlu untuk

menempatkan penekanan pada PJOK yaitu komponen fisik dan

pendidikan. Dari perspektif ini, PJOK melibatkan kombinasi

pengetahuan teoretis dan gerakan. Seperti yang ditegaskan bahwa

PJOK memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar

melalui gerakan. Pendidikan jasmani merupakan proses pendidikan

seseorang sebagai perorangan atau anggota masyarakat yang

dilakukan secara sadar dan sistematik melalui berbagai kegiatan

jasmani untuk memperoleh pertumbuhan jasmani, kesehatan jasmani

dan kesegaran jasmani, kemampuan dan keterampilan, kecerdasaan

serta perkembangan watak dan kepribadian dalam rangka

pembentukan individu Indonesia yang berkualitas. Pendidikan

jasmani adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas isik

untuk menghasilkan perubahan holistic dalam kualitas individu, baik

dalam hal fisik, mental, serta emosional (Wicaksono, dkk, 2020, p.

11).
Pendidikan Jasmani mewujudkan tujuan pendidikan melalui

aktivitas jasmani atau fisik, sehingga bukan hanya mengembangkan

aspek jasmani saja melainkan juga mengembangkan aspek kognitif

yang meliputi kemampuan berpikir kritis dan penalaran serta aspek

afektif yang meliputi keterampilan sosial, karakter diri seperti

kepedulian dan kemampuan kerjasama. Ini berarti bahwa pendidikan

jasmani tidak hanya membentuk insan Indonesia sehat namun juga

cerdas dan berkepribadian atau berkarakter dengan harapan akan

lahir generasi bangsa yang tumbuh dan berkembang dengan karakter

yang memiliki moral berdasarkan nilai-nilai luhur bangsa dan agama

(Triansyah, dkk., 2020, p. 146).

Pendidikan Jasmani adalah proses pendidikan yang

memanfaatkan aktifitas jasmani yang direncanakan secara sistematik

bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan individu secara

organik, neuromuskular, perseptual, kognitif, dan emosional, dalam

kerangka pendidikan nasional (Walton-Fisette & Wuest, 2018, p.

12). Pendidikan jasmani menekankan pada keterampilan motorik dan

aktivitas fisik sebagai ekspresi diri, dengan aktivitas fisik atau

aktivitas gerak sejauh ini untuk tujuan, pengambilan keputusan dan

sebagainya serta dapat dimodifikasi dalam pembelajaran (Knudson

& Brusseau, 2021, p. 5).

Espoz-Lazo et al., (2020, p. 192) menyatakan Pendidikan

jasmani adalah model pedagogis di mana literasi fisik dapat


dioperasionalkan dalam pembelajaran. Bukti substansial bahwa

model tersebut memiliki fitur pedagogis berbeda yang berkontribusi

pada atribut spesifik individu yang melek fisik dalam PJOK. PJOK

adalah mata pelajaran yang proses pembelajarannya lebih dominan

dilaksanakan di luar kelas, sehingga anak akan lebih mudah untuk

mempelajari banyak hal di lingkungannya, karena pada dasarnya

tujuan penjas tidak hanya mengembangkan kemampuan motorik

anak saja melainkan juga mengembangkan aspek kognitif dan afektif

(Kusriyanti & Sukoco, 2020, p. 35).

PJOK telah lama dikemukakan sebagai menyajikan peserta

didik dengan niat belajar yang membantu peserta didik "mengenali"

dan mengelola emosi mereka, membangun hubungan yang sehat,

menetapkan tujuan positif, memenuhi kebutuhan pribadi dan

kebutuhan sosial, membuat keputusan yang bertanggung jawab, dan

memecahkan masalah” (Ciotto & Gagnon, 2018, p. 32). Kustiawan,

dkk., (2019, p. 29) menyatakan bahwa Pendidikan jasmani bukan

hanya merupakan bagian penting bagi kehidupan manusia saja.

Pendidikan jasmani juga merupakan bagian penting dari proses

pendidikan. Artinya, melalui pendidikan jasmani yang diarahkan

dengan baik, anak akan mengembangkan keterampilan yang berguna

bagi pengisian waktu senggang, terlibat dalam aktivitas yang

kondusif untuk mengembangkan hidup sehat, berkembang secara

sosial, dan menyumbang pada kesehatan fisik dan mentalnya.


Program pendidikan jasmani yang efektif membantu peserta

didik untuk memahami dan menghargai nilai yang baik sebagai

sarana untuk mencapai produktivitas terbesar, efektivitas, dan

kebahagiaan. Pendidikan Jasmani terkait langsung dengan persepsi

positif peserta didik dan kebiasaan olahraga. Permainan dan olah

raga merupakan aspek penting dari subyek (Alcala & Garijo, 2017,

p. 27). Pendidikan jasmani memperlakukan anak sebagai sebuah

kesatuan utuh, makhluk total, dan sebagai seseorang yang terpisah

kualitas fisik dan mentalnya. Tujuan dari pendidikan jasmani adalah

untuk meningkatkan taraf kesehatan anak yang baik dan tidak bisa

disangkal pula ada yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan

jasmani adalah untuk meningkatkan kebugaran jasmani. Dengan

demikian proses pembelajaran pendidikan jasmani dapat membentuk

karakter yang kuat untuk peserta didik, baik fisik, mental maupun

sosial, sehingga di kemudian hari diharapkan peserta didik memiliki

budi pekerti yang baik, bermoral, serta mandiri dan bertanggung

jawab (Mahardhika, dkk., 2018, p. 12).

PJOK merupakan bagian integral dari pendidikan secara

keseluruhan yang memiliki peranan dalam membina pertumbuhan

fisik, pengembangan psikis, keterampilan motorik, pengetahuan dan

penghayatan nilai-nilai serta pembentukan pola hidup yang sehat.

Tujuan penjasorkes di sekolah dasar juga mempertimbangkan

adanya tujuan pembelajaran, kemampuan peserta didik, metode


pembelajaran, materi, sarana dan prasarana, serta aktivitas

pembelajaran. Materi dalam PJOK mempunyai beberapa aspek di

antaranya aspek permainan dan olahraga, aspek pengembangan,

aspek uji diri/senam, aspek ritmik, aspek akuatik, aspek pendidikan

luar kelas, dan aspek kesehatan (Kurniawan & Suharjana, 2018, p.

31).

Pada hakikatnya pendidikan jasmani adalah proses

pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan

perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik,

mental dan emosional (Wright & Richards, 2021, p. 21). Pendidikan

Jasmani merupakan suatu proses interaksi antara peserta didik dan

lingkungan yang dikelola melalui pendidikan jasmani secara

sistematik untuk membentuk manusia seutuhnya, yaitu untuk

mengembangkan aspek physical, psychomotor, cognitif, dan aspek

affektif (Komarudin, 2016, p. 21). Salah satu tujuan utama dari

PJOK adalah untuk mendorong motivasi terhadap subjek untuk

meningkatkan prestasi akademik atau latihan latihan fisik (Quintas-

Hijós, et al., 2019, p. 20).

Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka dapat

disimpulkan bahwa PJOK adalah suatu bagian dari pendidikan

keseluruhan yang mengutamakan aktivitas jasmani dan pembinaan

hidup sehat untuk pertumbuhan dan pengembangan jasmani, mental,

sosial, dan emosional yang serasi selaras dan seimbang.


3. Kecerdasan Emosi

a. Pengertian Emosi

Kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu “emovere”, yang

berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa

kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Emosi

merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan

biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk

bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak.

Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan

dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira mendorong

perubahan suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat

tertawa, emosi sedih mendorong seseorang berperilaku menangis

(Lubis, 2018, p. 237).

Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai

pikiran. Jadi, emosi merupakan salah satu aspek penting dalam

kehidupan manusia, karena emosi dapat merupakan motivator

perilaku dalam arti meningkatkan, tapi juga dapat mengganggu

perilaku intensional manusia. Emosi terbagi atas, p. desire (hasrat),

hate (benci), sorrow (sedih/duka), wonder (heran), love (cinta) dan

joy (kegembiraan). tiga macam emosi, yaitu: fear (ketakutan), rage

(kemarahan), love (cinta) (Septyani, dkk., 2021, p. 6).

Goleman (2017, p. 413) mengemukakan beberapa macam

emosi yang tidak berbeda jauh dengan kedua tokoh di atas, yaitu:
1) Amarah: beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati

2) Kesedihan: pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi

diri, putus asa

3) Rasa takut: cemas, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut

sekali, waspada, tidak tenang, ngeri

4) Kenikmatan: bahagia, gembira, riang, puas, riang, senang,

terhibur, bangga

5) Cinta: penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati,

rasa dekat, bakti, hormat, kemesraan, kasih

6) Terkejut: terkesiap, terkejut.

7) Jengkel: hina, jijik, muak, mual, tidak suka malu, malu hati,

kesal.

Seperti yang telah diuraikan di atas, bahwa semua emosi

menurut Goleman pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak.

Jadi berbagai macam emosi itu mendorong individu untuk

memberikan respon atau bertingkah laku terhadap stimulus yang ada.

Dalam The Nicomachea Ethics pembahasan Aristoteles secara

filsafat tentang kebajikan, karakter dan hidup yang benar,

tantangannya adalah menguasai kehidupan emosional kita dengan

kecerdasan. Nafsu, apabila dilatih dengan baik akan memiliki

kebijaksanaan; nafsu membimbing pemikiran, nilai, dan

kelangsungan hidup. Nafsu dapat dengan mudah menjadi tak

terkendalikan, dan hal itu seringkali terjadi. Menurut Aristoteles,


masalahnya bukanlah mengenai emosionalitas, melainkan mengenai

keselarasan antara emosi dan cara mengekspresikan (Goleman, 2017,

p. 16).

Munte & Samosir (2019, p. 165) menyatakan bahwa orang

cenderung menganut gaya-gaya khas dalam menangani dan

mengatasi emosi, yaitu: sadar diri, tenggelam dalam permasalahan,

dan pasrah. Dengan melihat keadaan itu, maka penting bagi setiap

individu memiliki kecerdasan emosional agar menjadikan hidup

lebih bermakna dan tidak menjadikan hidup yang dijalani menjadi

sia-sia. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa emosi

adalah suatu perasaan (afek) yang mendorong individu untuk

merespon atau bertingkah laku terhadap stimulus, baik yang berasal

dari dalam maupun dari luar dirinya.

b. Pengertian Kecerdasan Emosional

Istilah “kecerdasan emosional” pertama kali dilontarkan pada

tahun 1990 oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan

John Mayer dari University of New Hampshire untuk menerangkan

kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi

keberhasilan (Nurjamil, dkk., 2021, p. 100). Sabrun (2021, p. 103)

menyatakan bahwa kecerdasan emosional atau yang sering disebut

“Emotional Quotient (EQ)” yaitu himpunan bagian dari kecerdasan

sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan sosial yang

melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah-milah semuanya


dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan

tindakan.

Hasmara (2022, p. 34) menyatakan bahwa kecerdasan

emosional sangat dipengaruhi oleh lingkungan, tidak bersifat

menetap, dapat berubah-ubah setiap saat. Untuk itu peranan

lingkungan terutama orang tua pada masa kanak-kanak sangat

mempengaruhi dalam pembentukan kecerdasan emosional.

Keterampilan EQ bukanlah lawan keterampilan IQ atau keterampilan

kognitif, namun keduanya berinteraksi secara dinamis, baik pada

tingkatan konseptual maupun di dunia nyata. Selain itu, EQ tidak

begitu dipengaruhi oleh faktor keturunan.

Sebuah model pelopor lain yentang kecerdasan emosional

diajukan oleh Bar-On pada tahun 1992 seorang ahli psikologi Israel,

yang mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai serangkaian

kemampuan pribadi, emosi dan sosial yang mempengaruhi

kemampuan seseorang untuk berhasil dalam mengatasi tututan dan

tekanan lingkungan (Goleman, 2017, p. 180). Gardner (dalam

Hartika & Mariana, 2019, p. 57) menyatakan bahwa bukan hanya

satu jenis kecerdasan yang monolitik yang penting untuk meraih

sukses dalam kehidupan, melainkan ada spektrum kecerdasan yang

lebar dengan tujuh varietas utama yaitu linguistik,

matematika/logika, spasial, kinestetik, musik, interpersonal dan

intrapersonal. Kecerdasan ini dinamakan oleh Gardner sebagai


kecerdasan pribadi yang oleh Daniel Goleman disebut sebagai

kecerdasan emosional.

Kecerdasan pribadi terdiri atas kecerdasan antar pribadi yaitu

kemampuan untuk memahami orang lain, apa yang memotivasi,

bagaimana bekerja, bagaimana bekerja bahu membahu dengan

kecerdasan. Kecerdasan intra pribadi adalah kemampuan yang

korelatif, tetapi terarah ke dalam diri. Kemampuan tersebut adalah

kemampuan membentuk suatu model diri sendiri yang teliti dan

mengacu pada diri serta kemampuan untuk menggunakan modal tadi

sebagai alat untuk menempuh kehidupan secara efektif (Goleman,

2017, p. 152).

Dalam rumusan lain, Gardner menyatakan bahwa inti

kecerdasan antar pribadi itu mencakup kemampuan untuk

membedakan dan menanggapi dengan tepat suasana hati,

temperamen, motivasi dan hasrat orang lain. Dalam kecerdasan antar

pribadi yang merupakan kunci menuju pengetahuan diri, ia

mencantumkan “akses menuju perasaan-perasaan diri seseorang dan

kemampuan untuk membedakan perasaan-perasaan tersebut serta

memanfaatkannya untuk menuntun tingkah laku (Goleman, 2017, p.

153).

Berdasarkan kecerdasan yang dinyatakan oleh Gardner,

Goleman (2017, p. 155) memilih kecerdasan interpersonal untuk

dijadikan sebagai dasar untuk mengungkap kecerdasan emosional


pada diri individu. Menurutnya kecerdasan emosional adalah

kemampuan seseorang untuk mengenali emosi diri, mengelola

emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati)

dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan

orang lain. Goleman (2017, p. 168) menyatakan bahwa kecerdasan

emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan

emosinya dengan inteligensi (to manage our emotional life with

intelligence); menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya (the

appropriateness of emotion and its expression) melalui keterampilan

kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan

keterampilan sosial.

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa

kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenali emosi

diri, mengelola emosi diri, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi

orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina hubungan

(kerjasama) dengan orang lain.

c. Faktor Kecerdasan Emosional

Goleman (2017, p. 58-59) menempatkan kecerdasan pribadi

Gardner dalam definisi dasar tentang kecerdasan emosional yang

dicetuskannya dan memperluas kemapuan tersebut menjadi lima

kemampuan utama, yaitu:


1) Mengelola Emosi

Mengelola emosi merupakan kemampuan individu dalam

menangani perasaan agar dapat terungkap dengan tepat atau

selaras, sehingga tercapai keseimbangan dalam diri individu.

Menjaga agar emosi yang merisaukan tetap terkendali

merupakan kunci menuju kesejahteraan emosi. Emosi

berlebihan, yang meningkat dengan intensitas terlampau lama

akan mengoyak kestabilan kita (Goleman, 2017, p. 77-78).

Kemampuan ini mencakup kemampuan untuk menghibur diri

sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan atau

ketersinggungan dan akibat-akibat yang ditimbulkannya serta

kemampuan untuk bangkit dari perasaan-perasaan yang

menekan.

2) Memotivasi Diri Sendiri

Prestasi harus dilalui dengan dimilikinya motivasi dalam

diri individu, yang berarti memiliki ketekunan untuk menahan

diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati, serta

mempunyai perasaan motivasi yang positif, yaitu antusianisme,

gairah, optimis, dan keyakinan diri.

3) Mengenali Emosi Orang Lain

Kemampuan untuk mengenali emosi orang lain disebut

juga empati. Goleman (2017, p. 57) menyatakan bahwa

kemampuan seseorang untuk mengenali orang lain atau peduli,


menunjukkan kemampuan empati seseorang. Individu yang

memiliki kemampuan empati lebih mampu menangkap sinyal-

sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa

yang dibutuhkan orang lain, sehingga ia lebih mampu menerima

sudut pandang orang lain, peka terhadap perasaan orang lain dan

lebih mampu untuk mendengarkan orang lain.

Orang-orang yang mampu membaca perasaan dan isyarat

non verbal lebih mampu menyesuiakan diri secara emosional,

lebih populer, lebih mudah beraul, dan lebih peka. Anak-anak

yang tidak mampu membaca atau mengungkapkan emosi

dengan baik akan terus menerus merasa frustasi. Seseorang yang

mampu membaca emosi orang lain juga memiliki kesadaran diri

yang tinggi. Semakin mampu terbuka pada emosinya sendiri,

mampu mengenal dan mengakui emosinya sendiri, maka orang

tersebut mempunyai kemampuan untuk membaca perasaan

orang lain (Goleman, 2017, p. 136).

4) Membina Hubungan

Kemampuan dalam membina hubungan merupakan suatu

keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan dan

keberhasilan antar pribadi (Goleman, 2017, p. 159).

Keterampilan dalam berkomunikasi merupakan kemampuan

dasar dalam keberhasilan membina hubungan. Individu sulit

untuk mendapatkan apa yang diinginkannya dan sulit juga


memahami keinginan serta kemauan orang lain. Orang-orang

yang hebat dalam keterampilan membina hubungan ini akan

sukses dalam bidang apapun. Orang berhasil dalam pergaulan

karena mampu berkomunikasi dengan lancar pada orang lain.

Orang-orang ini populer dalam lingkungannya dan menjadi

teman yang menyenangkan karena kemampuannya

berkomunikasi. Ramah tamah, baik hati, hormat dan disukai

orang lain dapat dijadikan petunjuk positif bagaimana siswa

mampu membina hubungan dengan orang lain. Sejauhmana

kepribadian siswa berkembang dilihat dari banyaknya hubungan

interpersonal yang dilakukannya (Goleman, 2017, p. 59).

Berdasarkan uraian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa

komponen-komponen utama dan prinsip-prinsip dasar dari

kecerdasan emosional sebagai faktor untuk mengembangkan

instrumen kecerdasan emosional. Faktor-faktor tersebut di antaranya

mengenali emosi diri sendiri, mengelola emosi, memotivasi diri

sendiri, mengenali emosi orang, lain, membina hubungan.

4. Kecerdasan Kinestetik

Kinestetik atau lebih sering dinyatakan sebagai perasaan otot

ataupun perasaan motorik, lebih popular lagi dengan indra keenam (the

sixth sense), karena dikenal sebagai indera tambahan dari lima indera

yang dikenal saat ini. Sedangkan untuk menggambarkan perasaan otot,

tendo, dan persendian, termasuk di dalamnya kesadaran jumlah tegangan


serabut otot, berupa peregangan dan kontraksi kerapkali digunakan

terminologi sensasi somatik. Kecerdasan kinestetik merupakan

kemampuan menggunakan seluruh tubuh dan komponennya untuk

memecahkan suatu permasalahan, membuat sesuatu, atau menggunakan

beberapa macam produk, dan koordinasi anggota tubuh dan pikiran untuk

menyempurnakan penampilan fisik (Annisa, 2021, p. 410).

Kecerdasan kinestetik berkaitan dengan keterampilan fisik

tertentu seperti koordinasi, keseimbangan, ketangkasan, kekuatan,

fleksibilitas dan kecepatan, serta kapasitas proprioseptif, taktil, dan

haptic. Dalam kecerdasan kinestetik dibutuhkan keahlian dalam

menggunakan seluruh tubuh seseorang untuk mengekspresikan ide dan

perasaan (misalnya, sebagai aktor, pantomim, atlet, atau penari)

menggunakan tangan untuk menghasilkan atau mengubah sesuatu

(misalnya, sebagai pengrajin, pematung, mekanik, atau ahli bedah)

(Rosita, 2020, p. 89).

Sari & Oktariana (2022, p. 2) menyatakan bahwa media utama

yang sangat penting dalam menstimulasi kemampuan gerak atau

kinestetik anak adalah tubuh. Melalui tubuh (fisik) yang baik anak dapat

untuk mengekspresikan ide dan perasaan (dalam berpantomim, menari,

berolahraga) menggunakan tangan untuk menciptakan atau mengubah

sesuatu (membuat kerajinan, membuat patung, menjahit) sesuai dengan

apa yang ada dalam fikirannya. Cerdas kinestetik berarti belajar serta

berpikir dalam memahami perintah otak.


Kecerdasan kinestetik yaitu kecakapan dalam menggunakan

seluruh tubuhnya untuk dapat mengekspresikan ide atau gagasannya,

perasaan, dan menggunakan tangan untuk menghasilkan atau

mentransformasi sesuatu. Dipandang dari segi proses terbentuknya,

kinestetik merupakan penginformasian sensoris gerak dari lingkungan

menuju otak dan diteruskan ke jaringan otot, tendon dan sendi untuk

berkotraksi dalam waktu yang sangat singkat. Dalam konteks ini, seorang

pemain yang terampil biasanya mengetahui suatu gerakkan yang tepat

(Munajah & Supena, 2021, p. 12).

Kecerdasan kinestetik juga disebut kecerdasan olah tubuh karena

dapat membangkitkan kemampuan seseorang untuk mengolah tubuh

untuk mengekspresikan gagasan dan emosi melalui gerakan-gerakan

yang tercipta. Kecerdasan kinestetik mencakup keterampilan dalam

melakukan koordinasi, keseimbangan, ketangkasan, kekuatan,

fleksibilitas, dan kecepatan (Suhaimi, 2017, p. 72). Kecerdasan kinestetik

merupakan kemampuan untuk menggunakan seluruh bagian badan secara

fisik seperti menggunakan tangan, jari-jari, lengan, dan berbagai kegiatan

fisik lain dalam menyelesaikan masalah, membuat sesuatu, atau dalam

menghasilkan berbagai macam produk (Mayar & Putri, 2021, p. 3).

Kecerdasan kinestetik membutuhkan koordinasi antara pikiran

dengan tubuh, hal tersebut memungkinkan tubuh untuk menciptakan

gerakan dan memanipulasi objek. Kecerdasan fisik merupakan

kemampuan menggunakan pikiran dan tubuh secara bersamaan untuk


memperoleh tujuan yang diinginkan. Ini serupa dengan keterampilan

yang pada umumnya dirujuk sebagai keterampilan psikomotor, yang

menggabungkan interprestasi mental dengan tanggapan fisik. Dengan

demikian kecerdasan kinestetik dapat merangsang kemampuan seseorang

untuk mengolah tubuh guna mengekspresikan ide dan emosi melalui

gerakan yang tercipta (Nirwana & Naba, 2021, p. 139).

Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan

bahwa kecerdasan kinestetik adalah kemampuan seseorang dalam

menggunakan dan mengolah tubuh untuk merealisasikan ide yang

difikiran melalui gerakan tubuh. Dapat disimpulkan bahwa kecerdasan

kinestetik mencerminkan kemampuan seseorang dalam menggunakan

dan mengolah tubuh untuk merealisasikan ide melalui gerakan fisik. Hal

ini menunjukkan pentingnya pengembangan aspek fisik dan sensoris

dalam pemahaman dan ekspresi diri.

5. Motivasi Belajar

a. Pengertian Motivasi

Motivasi belajar merupakan salah satu faktor yang turut

menentukan keefektifan dalam pembelajaran. Seorang peserta didik

akan belajar dengan baik apabila ada faktor pendorongnya yaitu

motivasi belajar. Peserta didik akan belajar dengan sungguh-sungguh

jika memiliki motivasi belajar yang tinggi. Motivasi berawal dari

kata “motif”, motif dapat diartikan aktif saat melakukan sesuatu, hal

ini dirasa mempunyai kebutuhan cukup mendesak untuk mencapai


tujuan. Motivasi adalah suatu dorongan dari dalam individu untuk

melakukan suatu tindakan dengan cara tertentu sesuai dengan tujuan

yang direncanakan (Lince, 2022: 38). Sardiman (2018: 102)

menyatakan bahwa motivasi berpangkal dari kata “motif”, yang

dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri

seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi

tercapainya suatu tujuan.

Pendapat Marisa (2019, p. 20) bahwa motivasi merupakan

satu penggerak dari dalam hati seorang individu untuk melakukan

atau mencapai tujuan tetentu. Motivasi juga bisa dikatakan sebagai

sebuah rencana atau keinginan untuk menuju kesuksesan dan

menghindari kegagalan hidup. Motivasi ada kaitannya dengan tujuan

yang ingin dicapai. Uno (2021, p. 3) menyimpulkan bahwa motivasi

sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu, yang

menyebabkan individu tersebut dapat bertindak atau berbuat.

Motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling mempengaruhi.

Motivasi merupakan proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan

ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya. Motivasi

merupakan sebuah usaha yang mengarah pada dorongan untuk

mencapai tujuan tertentu.

Abnisa (2020, p. 124) menyatakan bahwa motivasi adalah

kekuatan yang menjadi pendorong kegiatan individu, kondisi dalam

diri individu yang mendorong atau menggerakan dalam individu


untuk melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan. Seperti halnya

motivasi belajar, dorongan yang ada dalam diri siswa untuk

mencapai hasil belajar yang maksimal. Siswa akan melakukan

berbagai upaya untuk mendapatkan hasil yang memuaskan apabila

mempunyai motivasi yang tinggi. Motivasi belajar dibentuk dan

salah satu landasan yang mendorong manusia untuk tumbuh,

berkembang, dan maju mencapai sesuatu. Motivasi belajar dapat

dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak dalam diri siswa

yang dapat timbul pada proses belajar dan menjamin kelangsungan

dalam pembelajarannya. Motivasi adalah sesuatu usaha yang

disadari untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang agar tergerak

hatinya untuk bertindak melakukan sesuatu, sehingga mencapai hasil

dan tujuan tertentu.

Ningrat, dkk., (2018, p. 257) berpendapat bahwa motivasi

belajar adalah kekuatan (power motivation), daya pendorong

(driving force), atau alat pembangun kesediaan dan keinginan yang

kuat dalam diri seseorang untuk belajar secara aktif, kreatif, efektif,

inovatif, dan menyenangkan dalam rangka perubahan perilaku, baik

dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor. Kamarudin, dkk.,

(2021, p. 43) menjelaskan pengertian motivasi adalah suatu kekuatan

atau daya atau suatu keadaan yang kompleks dan kesiapsediaan

dalam diri individu untuk bergerak ke arah tujuan tertentu, dan

dipengaruhi oleh adanya berbagai macam kebutuhan yang hendak


dipenuhi, keinginan, dan dorongan, yaitu sesuatu yang memaksa

seseorang untuk berbuat atau bertindak.

Lestari (2020, p. 14) menyatakan bahwa motivasi belajar

adalah suatu perubahan energi yang terdapat pada diri siswa yang

mendorong siswa untuk melakukan hal yang ingin dicapai, sesuatu

yang membuat siswa tersebut tetap ingin melakukannya dan

menyelesaikan tugas-tugas akademik. Dorongan akan menjadi

kekuatan energi untuk memungkinkan pembelajar bekerja lebih

keras untuk memenuhi kebutuhan atau tujuan yang dicapai. Motivasi

melibatkan proses yang memberi energi, mengarahkan, dan

mempertahankan tingkah laku. Dorongan akan menjadi kekuatan

energi untuk memungkinkan pembelajar bekerja lebih keras untuk

memenuhi kebutuhan atau tujuannya.

Pendapat lain mengenai motivasi merupakan keadaan yang

terdapat dalam diri seseorang untuk melakukan kegiatan tertentu

guna pencapaian suatu tujuan. Proses mengarahkan, dan

memantapkan perilaku ke arah suatu tujuan. Motivasi yaitu kondisi

psikologis dan fisiologis yang ada pada diri seseorang dan

mendorong untuk melakukan suatu aktivitas dengan tujuan tertentu

(Arianti, 2019, p. 117). Seseorang yang belajar dengan motivasi

kuat, akan melaksanakan semua kegiatan belajarnya dengan

sungguh-sungguh, penuh gairah ada semangat. Sebaliknya, belajar


dengan motivasi yang lemah, akan malas bahkan tidak mau

mengerjakan tugas-tugas yang berhubungan dengan pelajaran.

Motivasi adalah suatu stimulus atau dorongan dari dalam

maupun dari luar siswa untuk belajar secara aktif. Motivasi

merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan kualitas

pembelajaran dan hasil belajar siswa, karena siswa akan belajar

dengan sungguh-sungguh apabila memiliki motivasi yang tinggi.

Motivasi belajar adalah merupakan faktor psikis yang bersifat non-

intelektual dan peranannya yang khas adalah dalam hal penumbuhan

gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar (Yulika, 2019, p.

252).

Melalui beberapa pengertian motivasi seperti yang telah

dikemukakan di atas, kesimpulan pengertian motivasi belajar adalah

suatu bentuk usaha yang dirasa mendesak dan memiliki peran

didasari kemauan sendiri dalam upaya untuk mencapai tujuan dalam

belajar. Tujuan penting untuk ditunjukkan guna dapat menargetkan

seberapa jauh capaian yang dapat diusahakan atau diraih. Tujuan

belajar tidak lepas kaitannya untuk meraih ilmu atau pengetahuan hal

ini perlu arahan atau motivasi yang turut mengarahkan minat dan

bakat yang dimiliki.

b. Bentuk-bentuk Motivasi dalam Belajar

Menurut perkembangannya, terdapat berbagai macam

motivasi. Parnawi (2019: 39) menyatakan bahwa teori motivasi yang


lazim digunakan untuk menjelaskan sumber motivasi seseorang

sedikitnya bisa digolongkan menjadi dua, yaitu:

1) Motivasi Intrinsik (Rangsangan dari dalam diri seseorang)

Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif

atau berfungsi tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam

diri setiap seseorang sudah ada dorongan untuk melakukan

sesuatu. Itulah sebabnya motivasi intrinsik dapat juga dikatakan

sebagai bentuk motivasi yang di dalamnya aktivitas dimulai dan

diteruskan berdasarkan suatu dorongan dari dalam diri dan

secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajarnya. Faktor

individual yang biasanya mendorong seseorang untuk

melakukan sesuatu adalah:

a) Minat. Seseorang akan merasa terdorong untuk belajar, jika

kegiatan belajar tersebut sesuai dengan minatnya. Apabila

semakin tinggi minat belajar siswa, maka semakin banyak

usaha yang akan dilaluinya.

b) Sikap positif. Seseorang yang mempunyai sifat terhadap

suatu kegiatan, maka ia akan berusaha sebisa mungkin

menyelesaikan kegiatan tersebut dengan sebaik-sebaiknya.

Penting untuk menumbuhkan sikap positif dalam diri

seseorang, hal ini dapat menumbuhkan sikap percaya diri

dan tanggung jawab.


c) Kebutuhan. Seseorang mempunyai kebutuhan tertentu dan

akan berusaha melakukan kegiatan apapun sesuai

kebutuhannya. Kebutuhan dalam hal ini dapat ditunjukkan

dengan usaha yang akan menuntunnya untuk bersemangat

dalam belajar.

Motivasi instrinsik sangat diperlukan untuk

menumbuhkan motivasi belajar, siswa yang memiliki motivasi

instrinsik selalu ingin maju dalam belajar, keinginan untuk ini

dilatar belakangi oleh pemikiran positif bahwa semua pelajaran

yang dipelajari sekarang akan berguna untuk dirinya baik untuk

sekarang maupun dimasa yang akan datang. Anak didik yang

memiliki motivasi instrinsik cenderung akan menjadi anak yang

berpengetahuan dan mempunyai keahlian dalam bidang tertentu.

Gemar membaca dikonotasikan sebagai hal yang mencerminkan

tindakan belajar, tindakan ini tidak lepas dari peserta didik yang

memiliki dorongan yang kuat, yaitu motivasi instrinsik.

2) Motivasi Ekstrinsik (Rangsangan dari luar seseorang)

Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan

berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Motivasi

ekstrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang di

dalamnya aktivitas dimulai dan diteruskan berdasarkan

dorongan dari luar yang tidak berkaitan dengan dirinya. Jenis

motivasi ekstrinsik ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar


seseorang, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan

dari orang lain, sehingga dengan keadaan demikian maka

seseorang mau melakukan sesuatu, contohnya belajar. Bagi

seseorang dengan motivasi instrinsik yang lemah, misalnya

kurang rasa ingin tahunya, maka motivasi jenis kedua ini perlu

untuk diberikan.

Motivasi ekstrinsik diperlukan agar anak mau belajar dan

dalam dunia pendidikan motivasi ini diperlukan walaupun

kekuatannya tidak sebesar kekuatan motivasi instrinsik. Seorang

guru sering memotivasi siswa yang malas, yang enggan untuk

belajar hal ini merupakan conntoh motivasi guru yang diberikan

kepada siswa, ketika motivasi diberikan kepada siswa, ketika

motivasi yang diberikan oleh guru iitu tepat maka tidak menutup

kemungkinan bahwa anak itu akan mau untuk belajar dan dapat

menunjang proses interaksi di dalam diri siswa.

Motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik sangat diperlukan

dalam proses belajar mengajar untuk mendorong agar tekun belajar.

Motivasi ekstrinsik digunakan ketika siswa tidak memiliki motivasi

intrinsik. Dalam proses belajar mengajar di sekolah guru menjadi

pembangkit motivasi ekstrinsik peserta didik, ketika guru

menggunakan kesalahan dalam memberi akan motivasi maka akan

merugikan prestasi belajar dan gairah siswa untuk belajar akan

menurun. Motivasi belajar yang berasal dari dalam diri, di mana


dengan pengendalian diri yang baik, anak yang mampu mengatur

sendiri kegiatannya, akan mengenal kecepatan belajarnya serta lebih

mengerti tujuan dan manfaat belajar

Hal senada juga diungkapkan oleh Octavia (2020: 53), bahwa

dalam perkembangannya, motivasi dibedakan menjadi dua macam,

yaitu motivasi internal dan motivasi eksternal. Termasuk dalam

motivasi internal siswa adalah perasaan menyenangi materi dan

kebutuhannya terhadap materi tersebut, misalnya untuk kehidupan

masa depan siswa yang bersangkutan. Pujian, hadiah, teladan orang

tua, dosen, dan seterusnya merupakan contoh konkret motivasi

eksternal yang dapat membantu siswa belajar.

Sardiman (2018: 75) menjelaskan peran yang khas dari

motivasi adalah menumbuhkan gairah, merasa senang, semangat,

dan mempunyai banyak energi untuk belajar. Dapat dikatakan bahwa

motivasi inilah yang akan mendorong siswa untuk melakukan

kegiatan belajar. Oleh karena itu, apabila siswa belajar dengan

motivasi tinggi, maka akan belajar dengan sungguh-sungguh,

senang, dan semangat untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi.

Akan tetapi, jika siswa belajar dengan motivasi rendah, maka akan

belajar dengan perasaan malas dan tidak bersemangat, sehingga

tujuan belajar yang dicapai kurang maksimal.

c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar


Menurut Slameto (2018: 26), motivasi belajar dipengaruhi

oleh tiga komponen, yaitu: (1) Dorongan kognitif, yaitu kebutuhan

untuk mengetahuhi, mengerti, dan memecahkan masalah. Dorongan

ini timbul di dalam proses interaksi antara siswa dengan tugas/

masalah. (2) Harga diri, yaitu ada siswa tertentu yang tekun belajar

dan melaksanakan tugas-tugas bukan terutama untuk memperoleh

pengetahuan atau kecakapan, tetapi untuk memperoleh status dan

harga diri. (3) Kebutuhan berafiliasi, yaitu kebutuhan untuk

menguasai bahan pelajaran/ belajar dengan niat guna mendapatkan

pembenaran dari orang lain/ teman-teman. Kebutuhan ini sukar

dipisahkan dengan harga diri.

Selain itu, Suryabrata (2016: 236-237), menyebutkan ada

beberapa hal yang mendorong motivasi belajar, yaitu: (1) Adanya

sifat ingin tahu untuk belajar dan menyelidiki dunia yang lebih luas.

(2) Adanya sifat yang kreatif pada manusia dan berkeinginan untuk

terus maju. (3) Adanya keinginan untuk mendapatkan simpati dari

orang tua, guru, dan teman-teman. (4) Adanya keinginan untuk

memperbaiki kegagalan yang lalu dengan usaha yang baik melalui

kooperasi maupun dengan kompetisi. (5) Adanya keinginan untuk

mendapatkan kenyamanan bila menguasai pelajaran. (6) Adanya

ganjaran atau hukuman sebagai akhir kegiatan pembelajaran.


Sejalan dengan pendapat di atas, Yusuf (2017: 23),

menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar

yaitu:

1) Faktor Internal, meliputi:

a) Faktor Fisik

Faktor fisik meliputi nutrisi (gisi), kesehatan, dan fungsi-

fungsi fisik (terutama panca indera).

b) Faktor Psikologis

Faktor psikologis berhubungan dengan aspek-aspek yang

mendorong atau menghambat aktivitas belajar pada siswa.

2) Faktor Eksternal (yang berasal dari lingkungan), merliputi:

a) Faktor Non-Sosial

Faktor non-sosial meliputi keadaan udara (cuaca panas atau

dingin), waktu (pagi, siang, malam), tempat (sepi, bising,

atau kualitas sekolah tempat belajar), sarana dan prasarana

atau fasilitas belajar.

b) Faktor Sosial

Faktor sosial adalah faktor manusia (guru, konselor, dan

orang tua), baik yang hadir secara langsung maupun tidak

langsung (foto atau suara). Proses belajar akan berlangsung

dengan baik, apabila guru mengajar dengan cara

menyenangkan, seprti bersikap ramah, memberi perhatian


pada semua siswa, serta selalu membantu siswa yang

mengalami kesulitan belajar. Pada saat di rumah siswa tetap

mendapat perhatian orang tua, baik material dengan

menyediakan sarana dan prasarana belajar guna membantu

dan mempermudah siswa belajar di rumah.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa

motivasi belajar mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap

hasil usaha seseorang. Bila usaha yang dilakukan peserta didik itu

adalah hal-hal yang positif dan menunjang serta berorientasi pada

kegiatan belajar. Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar

siswa dapat berasal dari faktor internal maupun faktor eksternal.

d. Indikator Motivasi Belajar

Uno (2011: 23) menyatakan motivasi belajar dapat timbul

karena faktor intrinsik dan ekstrinsik. Faktor intrinsik yang

mempengaruhi motivasi belajar yaitu “hasrat dan keinginan berhasil

dan dorongan kebutuhan belajar, harapan akan cita-cita masa

depan”. Faktor ekstrinsik yang mempengaruhi motivasi belajar

meliputi “adanya penghargaan, lingkungan belajar yang kondusif,

dan kegiatan belajar yang menarik”.

Motivasi belajar menurut Uno (2021: 23) adalah dorongan

internal dan eksternal pada siswa-siswa yang sedang belajar untuk

mengadakan perubahan tingkah laku, pada umumnya dengan


beberapa indikator atau unsur yang mendukung. Indikator dari

motivasi belajar dapat diklasifikasikan, menjadi:

a) Adanya hasrat dan keinginan berhasil

Keinginan untuk mencapai keberhasilan di sekolah dan

dalam kehidupan sehari-hari sering disebut dengan motivasi

berprestasi, yaitu motivasi untuk berhasil dalam melaksanakan

suatu tugas dan pekerjaan atau motivasi untuk mencapai

kesempurnaan. Stereotip jenis ini merupakan unsur karakter dan

perilaku seseorang, sesuatu yang berasal dari dalam diri orang

tersebut.

Pola keberhasilan adalah pola yang dapat dipelajari,

sehingga pola tersebut dapat ditingkatkan dan dikembangkan

melalui proses pembelajaran. Seseorang dengan motivasi sukses

yang kuat cenderung berusaha menyelesaikan tugas secara

maksimal, tanpa menunda-nunda pekerjaannya. Menyelesaikan

jenis tugas ini tidak dimotivasi oleh dorongan dari luar, tetapi

oleh usaha pribadi.

b) Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar

Penyelesaian tugas tidak selalu didorong oleh motivasi

berprestasi atau keinginan untuk berhasil, terkadang individu

maupun mereka yang memiliki motivasi berprestasi tinggi

didorong oleh keinginan untuk menghindari kegagalan yang

bersumber dari rasa takut akan kegagalan. Peserta didik dapat


bertindak dengan rajin karena jika tidak dapat menyelesaikan

tugasnya dengan baik, akan dipermalukan oleh gurunya, diejek

oleh temannya atau bahkan dihukum oleh orang tuanya. Dari

uraian di atas, tampak bahwa keberhasilan peserta didik tersebut

karena adanya dorongan atau rangsangan dari luar dirinya.

c) Adanya harapan dan cita-cita masa depan

Harapan didasari pada keyakinan bahwa orang

dipengaruhi oleh perasaan tentang gambaran hasil tindakan,

contohnya orang yang menginginkan kenaikan pangkat akan

menunjukkan kinerja yang baik kalau menganggap kinerja yang

tinggi diakui dan dihargai dengan kenaikan pangkat.

d) Adanya penghargaan dalam belajar

Pernyataan verbal atau penghargaan dalam bentuk

lainnya terhadap perilaku yang baik atau hasil belajar peserta

didik yang baik merupakan cara paling mudah dan efektif unutk

menungkatkan motivasi belajar peserta didik kepada hasil

belajar yang lebih baik.

e) Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar

Simulasi maupun permaian merupakan salah stau yang

menarik dalam proses pembelajaran untuk menarik minat

peserta didik. Suasana yang menarik menyebabkan proses

pembelajaran menjadi bermakna. Sesuatu yang bermaksna akan


selalu diingat, dipahami, dan dihargai. Seperti kegiatan belajar,

diskusi, pengabdian masyarakat dan sebagainya.

f) Adanya lingkungan belajar yang kondusif

Pada umunya motif dasar yang bersifat pribadi muncul

dalam tindakan seorang individu setelah dibentuk oleh

lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, motif individu untuk

melakukan sesuatu misalnya untuk belajar dengan baik, dapat

dikembangkan dan diperbaiki atau diubah melalui proses

bekajar dan latihan.

Pendapat lain Sardiman (2018: 81) menjelaskan motivasi

belajar tersusun dalam beberapa indikator, di antaranya tekun

menghadapi tugas, ulet menghadapi kesulitan (tidak mudah putus

asa), menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah orang

dewasa, lebih senang bekerja mandiri, cepat bosan pada tugas-tugas

rutin, dan dapat mempertahankan pendapatnya. Berikut ciri-ciri

siswa yang memiliki motivasi, yaitu:

1) tekun menghadapi tugas (akan bekerja secara terus menerus dan

tidak akan berhenti sebelum selesai, dan dalam waktu lama),

2) ulet dalam menghadapi kesulitan (tidak peru adanya dorongan

dari luar untuk berprestasi, tidak mudah putus asa serta tidak

mudah puas atas prestasi yang telah diraih),


3) menunjukkan minat terhadap berbagai persoalan (bagi orang

dewasa, misalnya seperti pembangunan agama, politik, ekonomi

dan lain sebagaianya),

4) lebih senang bekerja mandiri,

5) cepat bosan pada tugas-tugas rutin (ini seperti suatu hal yang

bersifat mekanis, serta berulang-ulang, sehingga menurutnya

kurang kreatif),

6) dapat mempertahankan pendapatnya (jika yakin akan sesuatu, ia

akan mepertahankan dan tidak mudah goyah),

7) tidak mudah melepas hal yang diyakini,

8) senang mencari dan memecahkan soal-soal.

Prameswari, et al., (2020) dalam penelitiannya menjelaskan

bahwa indikator motivasi belajar meliputi:

1) Kesediaan

Seorang yang memiliki motivasi tinggi akan memiliki kemauan

yang kuat untuk selalu belajar meskipun tidak ada tugas dari

guru. Siswa tersebut memiliki motivasi untuk selalu mencari

tahu tentang hal-hal baru termasuk materi dalam pelajaran di

sekolah dan siswa ini telah memiliki kesadaran tentang

pentingnya belajar serta beranggapan belajar sebagai suatu

kewajiban tanpa harus diperintah dari guru, orang tua atau pihak

lain.
2) Waktu

Waktu yang disediakan untuk belajar merupakan kesediaan

siswa meluangkan waktu ditiap harinya untuk mempelajari hal-

hal tertentu misalnya mata pelajaran besok hari. Siswa dengan

motivasi belajar tinggi akan memiliki lebih banyak waktu untuk

belajar dari pada bermain. Selain itu siswa tersebut akan

menambah jumlah waktu/jam belajar ketika menjelas tes atau

ulangan di sekolah.

3) Kewajiban

Seorang siswa berkewajiban belajar dengan rajin dan tekun

merupakan contoh kewajiban. Kewajiban siswa di sekolah

adalah segala sesuatu yang harus dilakukan menurut aturan yang

berlaku. Kewajiban dan hak harus dilaksanakan dengan

seimbang agar tidak terjadi ketimpangan.

4) Ketekunan

Ketekunan merupakan ciri-ciri kesabaran siswa dalam

mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah (PR) dari guru. Siswa

tersebut selalu mengerjakan sendiri tugas-tugas sekolah tanpa

bantuan dari orang lain. Siswa dapat bekerja secara terus

menerus dalam waktu yang lama, tidak pernah berhenti sebelum

selesai. Sikap yang tekun akan selalu mencari cara untuk

menyelesaikan kesulitan belajarnya.


Berdasarkan beberapa indikator motivasi belajar di atas,

dapat disimpulkan bahwa indikator motivasi belajar meliputi Tekun

menghadapi tugas, Memperhatikan materi, Memiliki semangat akan

tugas yang diberikan, Memiliki tujuan belajar. Indikator tersebut

digunakan untuk menyusun kuesioner penelitian.

1. Karakteristik Peserta Didik Sekolah Dasar

Masa sekolah dasar merupakan masa perkembangan, di mana

baik untuk pertumbuhan anak dan perkembangan anak. Ariyanto, dkk.

(2020, p. 79) menyatakan bahwa “masa usia sekolah dasar merupakan

masa di mana peserta didik harus lebih banyak bermain ketimbang

berdiam diri. Pada masa ini juga seluruh aspek perkembangan

kecerdasan, yaitu kecerdasan intelektual, emosi, dan spiritual mengalami

perkembangan yang luar biasa, sehingga semua informasi akan terserap

lebih cepat dan akan menjadi dasar terbentuknya karakter, kepribadian,

dan kemampuan kongnitifnya”.

Pendapat Yusuf (2018, p. 24-25) bahwa “masa usia Sekolah

Dasar sering disebut masa intelektual atau masa keserasian bersekolah.

Pada masa keserasian bersekolah ini secara relatif, anak lebih mudah

dididik daripada masa sebelum dan sesudahnya”. Masa ini diperinci lagi

menjadi dua fase, yaitu:

a. Masa kelas-kelas rendah sekolah dasar, kira-kira 6 atau 7 ahun


sampai umur 9 atau 10 tahun. Beberapa sifat anak-anak pada
masa ini antara lain.
1) Adanya hubungan positif yang tinggi antara keadaan
jasmani dengan prestasi (Apabila jasmaninya sehat banyak
prestasi yang diperoleh)
2) Sikap tunduk kepada peraturan-peraturan permainan yang
tradisional
3) Adanya kecenderungan memuji diri sendiri (menyebut
nama sendiri)
4) Suka membanding-bandingkan dirinya dengan anak yang
lain
5) Apabila tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka soal itu
tidak dianggap penting.
6) Pada masa ini (terutama usia 6,0-8,0 tahun) anak
menghendaki nilai (angka rapor) yang baik, tanpa
mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai
baik atau tidak.
b. Masa kelas-kelas tinggi Sekolah Dasar, kira-kira umur 9,0 atau
10,0 sampai umur 12,0 atau 13,0 tahun. Beberapa sifat khas
anak-anak pada masa ini ialah:
1) Adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang
konkret, hal ini menimbulkan adanya kecenderungan untuk
membandingkan pekerjaan-pekerjaan yang praktis.
2) Amat realistik, ingin mengetahui ingin belajar.
3) Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal
dan mata pelajaran khusus, yang oleh para ahli yang
mengikuti teori faktor ditafsirkan sebagai nilai menonjolnya
faktor-faktor (Bakat-bakat khusus)
4) Sampai kira-kira umur 11,0 tahun anak membutuhkan guru
atau orang-orang dewasa lainnya untuk menyelesaikan
tugas dan memenuhi keinginannya. Selepas umur ini pada
umumnya anak menghadapi tugas-tugasnya dengan bebas
dan berusaha untuk menyelesaikannya.
5) Pada masa ini, anak memandang nilai (angka rapor) sebagai
ukuran yang tepat (sebaik-baiknya) mengenai prestasi
sekolah.
6) Anak-anak pada usia ini gemar membentuk kelompok
sebaya biasanya untuk dapat bermain bersama-sama. Dalam
permainan itu biasanya anak tidak lagi terikat kepada
peraturan permainan yang tradisional (yang sudah ada),
membuat peraturan sendiri.

Pendapat Desmita (2018, p. 45) bahwa ciri-ciri anak usia 8-12

tahun atau disebut juga dengan remaja awal adalah:

a. Pertumbuhan dan perkembangan fisik.


Pada anak laki-laki mulai memperlihatkan penonjolan otot-otot
pada dada, lengan, paha, betis yang mulai nampak, dan pada
wanita mulai menunjukkan mekar tubuh yang membedakan
dengan kanak-kanak, pada akhir masa remaja awal sudah mulai
muncul jerawat.
b. Seks
Sudah ada rasa tertarik dengan lawan jenis terutama pada akhir
masa remaja awal.
c. Otak
Pertumbuhan otak pada anak wanita meningkat lebih cepat
dalam usia 11 tahun dibandingkan dengan otak pria.
d. Emosi
Usia ini anak peka terhadap ejekan-ejekan ataupun kritikan yang
kurang berkenan terhadap dirinya, dan gembira pada saat
mendapat pujian, karena masa ini anak belum dapat mengontrol
emosi dengan baik.
e. Minat/ Cita-cita
Minat bersosial, minat rekreasi, minat terhadap agama, dan
minat terhadap sekolah sangat kuat dan meningkat.
f. Pribadi, sosial dan moral
Remaja Putri seringkali menilai dirinya lebih tinggi dan remaja
Pria menilai lebih rendah, sudah mulai dapat mengetahui
konsep-konsep yang baik dan buruk, layak dan tidak layak.
Pendapat Nawasari, dkk., (2018, p. 2) fase anak besar antara usia

6-12 tahun, aspek yang menonjol adalah perkembangan sosial dan

intelegensi. Perkembangan kemampuan fisik yang tampak pada masa

anak besar atau anak yang berusia 6-12 tahun, selain mucul kekuatan

yang juga mulai menguasai apa yang yang disebut fleksibilitas dan

keseimbangan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Sutiswo & Hambali

(2018, p. 26) bahwa ciri-ciri atau karakteristik usia sekolah dasar

terutama kelas atas adalah sebagai berikut: (1) Senang melakukan

aktivitas yang aktif. (2) Meningkatnya perbuatan untuk melakukan

olahraga kompetitif. (3) Meningkatnya minat terhadap permainan yang

terorganisir. (4) Rasa kebanggaan atas keterampilan yang dikuasainya.

(5) Selalu berusaha menarik perhatian orang dewasa. (6) Mempercayai

orang dewasa. (7) Memperoleh kepuasan yang besar bila mencapai.


Peserta didik pada kelas V atau usia 10-12 tahun merupakan tahap

peralihan dari masa kanak-kanak ke masa remaja awal yang merupakan

kondisi dimana pertumbuhan dan perkembangan peserta didik akan

mengalami banyak perubahan. Dalam masa peralihan inilah banyak

perubahan yang terjadi dalam diri peserta didik. Perubahan kognisi,

psikologis, emosi, perasaan, perilaku seksual dan lain-lain memberi

dampak yang sangat besar terhadap pengaruh kualitas karakter peserta

didik. Transisi keluar dari masa kanak-kanak menjadikan peserta didik

untuk tumbuh dan berkembang dengan resiko yang cukup besar.

Sebagian peserta didik kesulitan menangani begitu banyak perubahan

yang terjadi dalam satu waktu dan mungkin membutuhkan perhatian

untuk menghadapi perubahan-perubahan tersebut (Bausad & Musrifin,

2019, p. 3).

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa

karakteristik anak Sekolah Dasar kelas V sudah mulai ada perubahan dari

segi mental, sosial, agama, dan psikomotor anak, selain itu juga ditunjang

dengan perkembangan perubahan fisik yang semakin lama tumbuh dan

berkembang.

B. Hasil Penelitian yang Relevan

Manfaat dari penelitian yang relevan yaitu sebagai acuan agar

penelitian yang sedang dilakukan menjadi lebih jelas. Beberapa penelitian

yang relevan dengan penelitian ini yaitu sebagai berikut.


1. Penelitian yang dilakukan Putri & Tuasikal (2023) berjudul “Hubungan

Motivasi Terhadap Hasil Belajar Pembelajaran PJOK Materi Bola Voli

Kelas VII SMPN 17 Surabaya”. Tujuan penelitian ini adalah untuk

mengetahui hubungan motivasi terhadap hasil belajar Salah satu faktor

motivasi adalah memiliki pengaruh keberhasilan pada siswa. Motivasi

memiliki peran penting bagi siswa dan motivasi berfungsi sebagai

dorongan bagi siswa untuk mendapatkan hasil belajar yang baik sesuai

keinginan. Dari hasil belajar tersebut guru akan mengetahui adanya

perubahan-perubahan tingkah laku yang ada pada siswa yaitu meliputi

pada bidang psikomotor, kognitif dan afektif. Pendekatan kuantitatif

adalah pendekatan yang diterapkan. Korelasional merupakan jenis

penelitian yang diterapkan. Siswa kelas VII SMPN 17 Surabaya menjadi

populasi dalam penelitian ini. Penentuan sampel memakai teknik

Random Sampling, serta angket digunakan sebagai instrument dan

dibagikan kepada 60 siswa. Teknik analisis data dalam penelitian ini

menggunakan analisis mean, median, modus dan tabel distribusi

frekuensi. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan adanya

hubungan motivasi terhadap hasil belajar. Mean untuk motivasi siswa

kelas VII SMPN 17 Surabaya adalah 65,56 memasuki kategori sedang.

Mean untuk hasil belajar siswa kelas VII SMPN 17 Surabaya adalah

86,33 memasuki kategori tinggi. Pada penelitian yang telah dilakukan,

terdapat memiliki hubungan positif dan signifikan motivasi dengan hasil

belajar terhadap mata pelajaran PJOK materi Bola Voli siswa kelas VII
di SMPN 17 Surabaya. Hal ini dibuktikan dari besarnya nilai t hitung

daripada t tabel (2,605>200172) dan nilai signifikan sebesar 0,012.

2. Penelitian yang dilakukan Irwansyah (2018) berjudul “Analisis

Kecerdasan Kinestetik, Interpersonal dan Intrapersonal dengan Hasil

Belajar Pendidikan Jasmani”. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat

hubungan antara kecerdasan kinestetik, interpersonal dan intrapersonal

dengan hasil belajar pembelajaran jasmani siswa MTsN Kuta Baro Aceh

Besar. Jenis penelitian korelasional ini menggunakan siswa MTsN Kuta

Baro Aceh Besar berjumlah 175 siswa, sedangkan teknik pengambilan

sampel menggunakan random sampling diambil 15% dari 25 orang, dan

analisis data menggunakan rumus korelasi ganda. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa ada hubungan antara kecerdasan kinestetik,

kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal dengan hasil belajar

siswa di MTsN Kuta Baro Aceh Besar.

3. Penelitian yang dilakukan Putra, dkk., (2020) berjudul

“Hubungan antara Motivasi Belajar dengan Hasil Belajar PJOK”.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara motivasi

belajar dengan hasil belajar PJOK pada materi atletik peserta didik. Jenis

penelitian ini adalah expost-facto. Populasi dalam penelitian ini adalah

peserta didik kelas XI Akuntansi I, Akuntasi II, dan Akuntansi III SMK

N 1 Bangli yang terdiri dari kelas, jumlah sampel dalam penelitian ini

yakni 99 orang peserta didik. Teknik pengambilan sampel adalah sampel

jenuh. Data hasil belajar PJOK pada materi atlentik yang diambil dengan
pencatatan dokumen, sedangkan data motivasi belajar dikumpulkan

dengan kuesioner. Teknik analisis data yang digunakan adalah statistik

deskriptif yang terdiri dari menghitung mean, median, modus, dan

standar deviasi dan statistika inferensial berupa pengujian asumsi

normalitas dan linearitas. Uji hipotesis menggunakan analisis korelasi

korelasi product moment dengan mengkorelasikan hasil belajar PJOK

pada materi antkentik sebagai variabel terikat dan motivasi belajar

sebagai variabel bebas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat

hubungan yang signifikan antara motivasi belajar dengan hasil belajar

PJOK pada peserta didik kelas XI Akuntansi SMK N 1 Bangli, yang

ditunjukkan dengan hasil korelasi sebesar (0.97) > rtabel (0.19).

Berdasarkan analisis data dan pembahasan bahwa terdapat hubungan

yang positif signifikan antara motivasi belajar dengan hasil belajar PJOK

pada peserta didik kelas.

4. Penelitian yang dilakukan Saputra & Barikah (2021) berjudul “Hubungan

antara Kecerdasan Emosional dan Kecerdasan Spiritual dengan Prestasi

Belajar Pendidikan Jasmani”. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui

hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar

Pendidikan Jasmani, hubungan kecerdasan spiritual dengan prestasi

belajar pelajaran Pendidikan Jasmani dan hubungan antara kecerdasan

emosional dengan kecerdasan spiritual pada siswa-siswi kelas X di SMA

Negeri 5 Metro. Sampel penelitian sebanyak 60 orang. Penelitian ini

dapat disimpulkan bahwa hasil koefisien korelasi antara kecerdasan


emosional dengan prestasi belajar pendidikan jasmani sebesar 0,84 dan

hasil koefisien korelasi antara kecerdasan spiritual dengan prestasi

belajar pendidikan jasmani sebesar 0,88 serta hasil koefiensi korelasi

antara kecerdasan emosional dengan kecerdasan spiritual sebesar 0,80,

dapat disimpulkan bahwa hubungan X1 dan X2 dengan variabel Y

signifikan. Dengan demikian, semakin tinggi kecerdasan emosional dan

kecerdasan spiritualnya semakin tinggi pula pestasi belajar Pendidikan

Jasmaninya.

5. Penelitian yang dilakukan Laumara, dkk., (2018) berjudul “Pengaruh

kecerdasan emosional dan motivasi belajar terhadap hasil belajar

pendidikan jasmani siswa di MTsN Al-Ikhlas Kilo”. Tujuan penelitian ini

untuk mengetahui pengaruh kecerdasan emosional dan motivasi belajar

tehadap hasil belajar pendidikan jasmani siswa di MTSN AlIkhlas Kilo

Kecamatan Poso Pesisir Utara. Jenis penelitian yang digunakan, yaitu

Expost Facto teknik pengumpulan data menggunakan teknik angket,

observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil

bejaran pendidikan jasmani siswa dalam kategori tuntas, kecerdasan

emosional siswa berada pada kategori sedang, dan yang terakhir motivasi

belajar siswa berada pada kategori sedang. Dapat ditarik kesimpulan

bahwa (1). Terdapat pengaruh positif dan signifikan Kecerdasan

Emosional terhadap Hasil Belajar Pendidikan Jasmani Siswa di MTSN

Al-Ikhlas Kilo. (2). Terdapat pengaruh positif dan signifikan Motivasi

Belajar terhadap Hasil Belajar Pendidikan Jasmani Siswa di MTSN Al-


Ikhlas Kilo. (3). Terdapat pengaruh positif dan signifikan kecerdasan

emosional dan Motivasi Belajar terhadap Hasil Belajar Pendidikan

Jasmani Siswa di MTSN Al-Ikhlas Kilo.

6. Penelitian yang dilakukan Ishar, dkk., (2023) berjudul “Hubungan

Kecerdasan Kinestetik dan Motivasi Belajar dengan Hasil Belajar PJOK

Peserta Didik Kelas XI UPT SMA Negeri 6 Sinjai”. Penelitian bertujuan

untuk membuktikan bagaimana motivasi belajar memberikan pengaruh

pada nilai PJOK. Penelitian ini merupakan penelitian ex post facto yang

bersifat korelasional. Pengambilan data dilakukan pada sampel penelitian

yakni siswa kelas XI UPT SMAN 6 Sinjai dengan menggunakan

instrument non tes berupa kuesioner dalam bentuk skala Likert untuk

mencari tahu dan membuktikantingkat kecerdasan kinestetik dan

semangat belajar siswa. Sementara untuk nilai PJOK siswa, maka peneliti

melihat secara langsung laporan hasil belajar selama satu semester. Hasil

penelitian dan analisis menunjukkan kecerdasan kinestetik siswa kelas XI

UPT SMAN 6 Sinjai berada dalam kategori tinggi, semangat belajar

siswa kelas XI UPT SMAN 6 Sinjai berada dalam kategori tinggi, Nilai

PJOK Siswa Kelas XI UPT SMAN 6 Sinjai berada dalam kategori sangat

tinggi. Terdapat hubungan positif antara kecerdasan kinestetik dengan

nilai PJOK siswa kelas XI UPT SMAN6 Sinjai.

C. Kerangka Pikir
Belajar mengandung dua pokok pengertian, yaitu proses dan hasil

belajar. Proses belajar disini dapat dimaknai sebagai suatu kegiatan dan usaha

untuk mencapai suatu perubahan tingkah laku yang positif, sedangkan

perubahan tingkah laku tersebut merupakan hasil belajar. Hasil belajar adalah

hasil yang dicapai dalam bentuk angka-angka atau skor setelah diberikan tes

hasil belajar pada setiap akhir pembelajaran. Nilai yang diperoleh siswa

menjadi acuan untuk melihat penguasaan siswa dalam menerima materi

pelajaran. Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa

setelah ia menerima pengalaman belajarnya.

Prestasi belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor tersebut

dapat digolongkan menjadi dua faktor yaitu faktor intern dan faktor ekstern.

Faktor internal antara lain: faktor kematangan atau pertumbuhan fisik,

kecerdasan (inteligensi), latihan, motivasi, dan faktor pribadi. Faktor

eksternal antara lain faktor keluarga atau keadaan rumah tangga orang tua,

guru, metode mengajarnya, media yang digunakan dalam proses belajar dan

mengajar, lingkungan dan kesempatan yang tersedia, dan motivasi.

Kecerdasan emosional merupakan suatu kemampuan untuk

memotivasi diri, mengendalikan perasaan dan dorongan hati menjaga agar

stres tidak mematikan kemampuan berpikir, berempati dan mengaplikasikan

kecerdasan emosi secara efektif. Kecerdasan emosional menyumbang 80%

keberhasilan pembelajaran individu, tetapi kecerdasan intelegensi (IQ) tinggi

juga membuat prestasi akademik menjadi kenyataan. Hal ini menunjukkan

bahwa kecerdasan intelegensi tidak selalu dapat memperkirakan prestasi


belajar seseorang dan bukan satu-satunya faktor yang dapat mempengaruhi

keberhasilan seseorang. Emosi yang dikelola dengan baik dapat dimanfaatkan

untuk mendukung keberhasilan dalam berbagai bidang karena pada waktu

emosi muncul, individu memiliki energi lebih dan mampu mempengaruhi

individu lain. Segala sesuatu yang dihasilkan emosi tersebut bila

dimanfaatkan dengan benar dapat diterapkan sebagai sumber energi yang

diperlukan untuk menyelesaikan tugas, mempengaruhi orang lain dan

menciptakan hal-hal baru.

Kecerdasan kinestetik merupakan satu jenis kecerdasan yang umum

dimiliki oleh manusia. Kinestetik berkaitan dengan koordinasi gerak seluruh

tubuh atau dengan kata lain kemampuan untuk menyamakan pikiran dan

tubuh sehingga apa yang terdapat dapat pikiran akan dapat dituangkan dalam

bentuk gerak oleh anggota badan. Kemampuan kinestetik juga dikatakan

sebagai kemampuan tubuh melakukan atau mempraktekkan perintah otak

dalam satu rangkaian gerak. Peserta didik dengan memanfaatkan kecerdasan

kinestetik ini, maka diharapkan siswa dapat memiliki nilai PJOK yang tinggi.

Motivasi belajar adalah daya dorongan bagi siswa dalam melakukan

aktivitas belajar yang ada pada diri siswa sehingga muncul rasa untuk

menumbuhkan semangat dalam belajar. Motivasi juga dapat diartikan sebagai

jalan seseorang yang mengarah pada perilaku dan sikap, atau sebagai

konstruksi yang menyebabkan seseorang berkeinginan untuk meniru perilaku

tersebut dan sebaliknya. Motivasi tentu saja sebagai daya penggerak. Motif

Aktif untuk menjadi aktif pada saat tertentu, yaitu jika seseorang memiliki
keinginan dalam mencapai tujuan dan keinginan atau mendesak. Seseorang

memerlukan motivasi agar semangatnya bisa muncul. Apabila seseorang

mempunyai motivasi belajar tentu saja seseorang memiliki minat di dalam

diri, fokus, bersungguh-sungguh dan berpacu melawan rasa bosan untuk

meraih prestasi.

D. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir di atas, dapat

dirumuskan hipotesis yaitu:

1. Ada hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosional terhadap

hasil belajar PJOK peserta didik kelas V di SD Negeri se-Kecamatan

Kretek Kabupaten Bantul.

2. Ada hubungan yang signifikan antara kecerdasan kinestetik terhadap

hasil belajar PJOK peserta didik kelas V di SD Negeri se-Kecamatan

Kretek Kabupaten Bantul.

3. Ada hubungan yang signifikan antara motivasi belajar terhadap hasil

belajar PJOK peserta didik kelas V di SD Negeri se-Kecamatan Kretek

Kabupaten Bantul.

4. Ada hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosional, kecerdasan

kinestetik, dan motivasi belajar terhadap hasil belajar PJOK peserta didik

kelas V di SD Negeri se-Kecamatan Kretek Kabupaten Bantul.

Anda mungkin juga menyukai