STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
NOMOR DOKUMEN: REV: HALAMAN: TANGGAL DIKELUARKAN: TANGGAL
1 dari 10 REVISI :
DIPERSIAPKAN OLEH: DIPERIKSA OLEH: DISETUJUI OLEH: DISETUJUI OLEH:
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR IDENTIFIKASI
JUDUL: IDENTIFIKASI BAHAYA DAN PENILAIAN RISIKO (IBPR)
1. TUJUAN
a. Sebagai dasar utama dalam pengembangan dan Implementasi Sistem
Manajemen K3 untuk mengendalikan risiko yang terjadi di area kerja.
b. Sebagai referensi dalam membuat kebijakan K3 Perusahaan, Sasaran K3,
Program Kerja serta semua prosedur, Instruksi kerja dan peraturan peraturan K3.
2. RUANG LINGKUP
Ruang Lingkup SOP ini meliputi semua area fasilitas, pekerjaan dan proses kerja di
area PT. XYZ sebagai Jobsite CV. Terbit Bersama baik di area luar maupun area
pertambangan PT. XYZ termasuk semua aktifitas yang di kerjakan oleh kontraktor.
3. REFERENSI
1. Undang – Undang No.1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja, Bab V Pasal 9.
2. Undang – Undang No.13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.
3. Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2012 Tentang Penerapan Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
4. Permen ESDM 26 Tahun 2018 Pelaksanaan Kaidah Teknik Pertambangan yang
baik.
5. Kepmen ESDM 1827 Tahun 2018 Pedoman Pelaksanaan Kaidah Teknik
Pertambangan yang baik.
6. SOP-HSE-XYZ-01 Proses Manajemen Risiko.
4. DEFINISI
1. IBPR dibuat oleh orang yang memang melakukan pekerjaan tersebut
2. Pengawas lapangan bertanggung jawab atas IBPR yang dibuat pada area
dibawah tanggung jawabnya
3. Level menengah organisasi memeriksa, mengkaji IBPR yang telah disusun
4. Level manajemen keatas mengevaluasi dan menyetujui IBPR sesuai departemen
/ Section.
5. Departemen HSE bertindak sebagai fasilitator dan kordinator pembuatan IBPR
disemua area kerja PT. XYZ
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
NOMOR DOKUMEN: REV: HALAMAN: TANGGAL DIKELUARKAN: TANGGAL
2 dari 10 REVISI :
DIPERSIAPKAN OLEH: DIPERIKSA OLEH: DISETUJUI OLEH: DISETUJUI OLEH:
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR IDENTIFIKASI
JUDUL: IDENTIFIKASI BAHAYA DAN PENILAIAN RISIKO (IBPR)
5. TANGGUNG JAWAB
PJO & SPV
6. PROSEDUR
6.1 PERSIAPAN
Sebelum melakukan identifikasi bahaya dan pengendalian resiko di suatu lokasi
kerja maka setiap departemen harus menyiapkan formulir IBPR standar yang
telah disediakan dan SOP pembuatan IBPR milik PT XYZ
6.2 PENETAPAN LOKASI
a. Seluruh departemen dan mitra kerja melakukan identifikasi terhadap seluruh
kerja dan memeriksa apakah kegiatan dan peralatan dilokasi tersebut
mengandung bahaya yang dapat mengancam keselamatan orang, lingkungan
dan peralatan kerja.
b. Penetapan harus dilakukan secara menyeluruh disetiap lokasi kerja yang
meliputi semua bidang kegiatan baik yang bersifat rutin ataupun tidak rutin
termasuk semua proses, orang, lingkungan, infrastruktur & fasilitasnya,
kontraktor dan tamu.
c. Penetapan lokasi dilakukan oleh departemen IT dan dapat berkonsultasi
dengan HSE PT. Sumbawa Timur Mining
d. Penetapan lokasi ini dapat ditinjau kembali jika ada perubahan pada proses,
cara, dan area kerja, atau minimum satu kali setahun.
6.3 IDENTIFIKASI BAHAYA
a. Seluruh departemen dan mitra kerja melakukan identifikasi bahaya dan
risiko terhadap seluruh lokasi kerja yang meliputi semua kegiatan PT. XYZ
b. Identifikasi bahaya harus dilakukan secara berkala minimum setahun sekali
atau kurang dari waktu yang ditentukan karena adanya perubahan yang
dapat mendatangkan bahaya baik perubahan area kerja, cara kerja dan
fasilitas kerja.
c. Yang perlu diketahui dalam melakukan identifikasi bahaya adalah
melihat bahaya yang mungkin dapat terjadi dari kondisi tempat kerja baik
untuk tempat kerja yang sudah ada pengendaliannya ataupun yang belum.
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
NOMOR DOKUMEN: REV: HALAMAN: TANGGAL DIKELUARKAN: TANGGAL
3 dari 10 REVISI :
DIPERSIAPKAN OLEH: DIPERIKSA OLEH: DISETUJUI OLEH: DISETUJUI OLEH:
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR IDENTIFIKASI
JUDUL: IDENTIFIKASI BAHAYA DAN PENILAIAN RISIKO (IBPR)
d. Dalam melakukan identifikasi bahaya harus melihat aspek 4M + 1E (Man,
Machine, Method, Material, Environment).
e. Pada saat melakukan identifikasi bahaya setiap departemen / kontraktor
dapat berkonsultasi dengan HSE, semua section harus melakukan IBPR,
minimum merujuk pada standar IBPR PT. XYZ
f. Pembuatan IBPR untuk setiap divisi menjadi tanggung jawab section
yang menangani pekerjaan / proyek tersebut.
g. Untuk mengidentifikasi bahaya dan menilai resiko harus memperhatikan :
Aktifitas Normal, Abnormal, Emergency, Rutin & tidak rutin.
h. Aktifitas seluruh personil yang mempunyai akses ketempat kerja (termasuk
kontraktor dan tamu).
i. Perilaku manusia, kemampuan dan faktor – faktor manusia lainnya.
j. Untuk setiap bahaya yang sudah diidentifikasi harus juga dilihat faktor –
faktor perilaku manusia yang menyebabkan bahaya tersebut dapat terjadi.
k. Bahaya - bahaya yang timbul dari luar tempat kerja yang berdampak pada
kesehatan dan keselamatan personel didalam kendali organisasi dilingkungan
tempat kerja.
l. Bahaya - bahaya yang terjadi disekitar kerja hasil aktifitas kerja yang terkait
didalam kendali organisasi.
m. Prasarana, peralatan dan materi di tempat kerja yang disediakan oleh
Perusahaan.
n. Perubahan atau usulan perubahan didalam organisasi, aktifitas atau material.
o. Modifikasi system manajemen K3, termasuk perubahan sementara, dan
dampaknya terhadap operasional, proses - proses dan aktifitas - aktifitas.
p. Adanya kewajiban peraturan perundang - undangan dan persyaratan lainnya,
yang relevan terkait dengan penilaian resiko dan penerapan pengendalian
yang diperlukan.
q. Rancangan area - area kerja, proses - proses, instalasi - instalasi,
mesin/peralatan, prosedur dan organisasi kerja, termasuk adaptasinyakepada
kemampuan manusia.
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
NOMOR DOKUMEN: REV: HALAMAN: TANGGAL DIKELUARKAN: TANGGAL
4 dari 10 REVISI :
DIPERSIAPKAN OLEH: DIPERIKSA OLEH: DISETUJUI OLEH: DISETUJUI OLEH:
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR IDENTIFIKASI
JUDUL: IDENTIFIKASI BAHAYA DAN PENILAIAN RISIKO (IBPR)
6.4 PENILAIAN RESIKO
a. Yang perlu diketahui dalam melakukan penilaian bahaya adalah melihat potensi
bahaya yang mungkin dapat terjadi dari kondisi ditempat kerja baik untuk tempat
kerja yang sudah ada pengendalian maupun yang belum terfasilitasi.
b. Pada saat melakukan penilaian resiko, setiap departemen dapat berkonsultasi
dengan HSE .
c. Resiko suatu lokasi atau objek akan mengalami perubahan (akan turun)
bila sudah ada tindakan pengendalian.
d. Apabila setelah ada pengendalian ditemukan resikonya belum turun maka
penanganan yang dilakukan evaluasi tambahan untuk menurunkan nilai resiko,
Bahaya yang timbul di tempat kerja, meliputi :
Infrastruktur, peralatan dan material, baik yang disediakan perusahaan
maupun pihak lain yang berhubungan dengan perusahaan
Perubahan pada organisasi, aktivitas atau material yang digunakan
Perubahan pada sistem manajemen K3 termasuk perubahan yang bersifat
sementara dan berdampak terhadap operasi, proses, dan aktivitas kerja
Kewajiban perundangan-undangan terkait penilaian risiko dan tindakan
pengendalian
Design tempat kerja, proses, instalasi mesin/peralatan, prosedur
operasional, dan organisasi kerja.
6.5 PENILAIAN BERDASARKAN KEMUNGKINAN TERJADI
Setiap departemen harus melakukan penilaian terhadap resiko berdasarkan
tingkat kemungkinan terjadinya suatu bahaya sesuai tingkatan.
6.6 PENILAIAN BERDASARKAN TINGKAT KEPARAHAN
Setiap departemen melakukan penilaian terhadap resiko dari suatu bahaya
berdasarkan tingkat keparahan sebagai berikut
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
NOMOR DOKUMEN: REV: HALAMAN: TANGGAL DIKELUARKAN: TANGGAL
5 dari 10 REVISI :
DIPERSIAPKAN OLEH: DIPERIKSA OLEH: DISETUJUI OLEH: DISETUJUI OLEH:
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR IDENTIFIKASI
JUDUL: IDENTIFIKASI BAHAYA DAN PENILAIAN RISIKO (IBPR)
6.7 PENETAPAN KATEGORI RESIKO
Penetapan resiko dibuat berdasarkan matriks yang sudah disusun berdasarkan
kajian terhadap kondisi spesifik kegiatan PT. XYZ
Penetapan resiko digolongkan dalam 6 (Enam) Kategori Risiko, antara lain :
a. Eliminasi : Menanggulangi bahaya dengan cara menghilangkan / menghapus barang
/ alat kerja/cara kerja yang dapat menimbulkan bahaya.
b. Substitusi : Menanggulangi bahaya dengan jalan mengganti barang / alat / cara kerja
yang lain yang tidak berbahaya
c. Rekayasa Enginering / Pengendalian : Menanggulangi potensi bahaya dengan
melakukan rekayasa ulang dan menanggulangi bahaya dengan cara mengurangi
pemakaian barang / alat / atau cara kerja yang dapat menimbulkan bahaya
d. Administrasi Control meliputi:
Rambu / Peringatan, SOP / IK / JSA, menanggulangi potensi bahaya dengan
membuat SOP/IK/JSA
Peningkatan Kompetensi ; Menanggulangi potensi bahaya dengan cara
memberikan pendidikan atau pelatihan kepada para pekerja
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
NOMOR DOKUMEN: REV: HALAMAN: TANGGAL DIKELUARKAN: TANGGAL
6 dari 10 REVISI :
DIPERSIAPKAN OLEH: DIPERIKSA OLEH: DISETUJUI OLEH: DISETUJUI OLEH:
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR IDENTIFIKASI
JUDUL: IDENTIFIKASI BAHAYA DAN PENILAIAN RISIKO (IBPR)
Peraturan Khusus : Menanggulangi potensi bahaya dengan cara membuat aturan
khusus
e. APD : Meminimalisasi potensi bahaya yang dapat menimbulkan resiko terhadap
pekerja dengan mewajibkan pemakaian APD sesuai dengan jenis pekerjaannya.
6.8 PERTIMBANGAN LAIN
a. Apabila dalam penetapan aturan resiko ditemukan bahwa suatu daerah / kegiatan
memiliki resiko ekstrim maka departemen tersebut harus membuat program
pengendalian yang sangat khusus dan bersifat segera untuk mencegah resiko yang
mungkin timbul dari kegiatan tersebut.
b. Apabila dalam melakukan penetapan resiko dan ditemukan ada daerah / kegiatan yang
memiliki resiko tinggi maka perlu adanya pengaturan pengendalian yang khusus dan
spesifik secepatnya.
c. Apabila dalam melakukan penetapan resiko dan ditemukan ada daerah / atau
kegiatan yang memiliki resiko moderate / sedang / menengah maka perlu ada
pengaturan pengawasan yang lebih spesifik serta diperlukan adanya prosedur lanjutan
d. Apabila dalam melakukan penetapan resiko ditemukan suatu daerah / kegiatan
memiliki resiko rendah dan dapat diabaikan maka daerah atau kegiatan tersebut
memerlukan tindakan perbaikan yang akan dilakukan jika dapat diperbaiki
e. Apabila tindakan pengendalian yang dilakukan mengandung potensi bahaya yang
besar maka sebelum melakukan tindakan pengendalian tersebut harus dibuat kan
IBPR
6.9 EVALUASI
a. Setiap Departemen / kontraktor / sub kontraktor harus melakukan evaluasi atas
setiap penilaian resiko yang sudah dibuat untuk menetapkan prioritas program
pengendalian yang akan dilakukan di departemennya
b. Evaluasi terhadap IBPR mengacu pada peraturan pemerintah dan hokum yang berlaku
serta kebijakan perusahaan
c. Penjelasan pengisian kolom IBPR
Lokasi :
Lokasi adalah nama tempat, dimana bahaya itu dapat terjadi. Misalnya Workshop,
Area Tambang, PIT, Houl Road, Office, dll..
Aktifitas :
Aktifitas disi dengan jenis jenis kegiatan yang dilakukan dan dapat memicu bahaya
itu terjadi, seperti aktifitas pengupasan OB, Pengelasan, aktifitas inspeksi dan
aktifitas kerja lainnya
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
NOMOR DOKUMEN: REV: HALAMAN: TANGGAL DIKELUARKAN: TANGGAL
7 dari 10 REVISI :
DIPERSIAPKAN OLEH: DIPERIKSA OLEH: DISETUJUI OLEH: DISETUJUI OLEH:
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR IDENTIFIKASI
JUDUL: IDENTIFIKASI BAHAYA DAN PENILAIAN RISIKO (IBPR)
Rincian Bahaya :
Rincian bahaya yang dimaksud disini adalah hal-hal rinci yang dapat
menyebabkan bahaya itu terjadi. Bahaya dapat terjadi karena 2 hal utama
yaitu :
Kondisi Tidak Aman
Kolom ini diisi dengan sumber, kondisi atau situasi berbahaya yang
memungkinkan dapat terjadinya inciden di lokasi tersebut, seperti Jalan licin,
asap genset, area loading tanpa tanda bahaya, tikungan jalan yang tajan,
tabung gas tanpa pembatas rantai, kabel terkelupas, power plan tanpa
batas pengaman.
Tindakan Tidak Aman
Kolom ini diisi dengan tindakan atau perilaku berbahaya yang dilakukan oleh
seseorang yang dapat mengakibatkan terjadinya inciden, seperti ngebut di
jalan, bekerja menyalahi prosedur, tidak menggunakan seat belt, tidak
menggunakan APD yang sesuai dll.
Resiko
Akibat dari bahaya yang terjadi dalam inciden di area tersebut. Resiko merupakan
suatu hasil inciden berupa cidera, atau kerugian karena adanya kemungkinan bahaya
dengan paparan keparahan yang terjadi misalnya :
Tertimpa balok, kepala pecah.
Terpeleset, kaki patah.
Dilindas HD, meninggal dunia.
Tabrakan, kendaraan rusak parah.
Tubuh terbakar, cidera berat.
Terjatuh dari ketinggian, meninggal dunia.
Peraturan
Hukum, perundangan, aturan internasional, aturan pemerintah dan peraturan lain
yang relevan yang mengatur tentang pengendalian bahaya yang sedang
dibahas tersebut. Jangan hanya mengisi nama dan nomor peraturannya saja,
namun harus lebih detail dengan mencantumkan pasal mana yang mengatur
Pengendalian Yang Dilakukan Saat Ini
Pada kolom ini harus diisi tentang pengendalian-pengendalian apa saja yang sudah
dilakukan saat ini, guna mengantisipasi bahaya yang sudah di identifikasi tadi.
Pengendalian bahaya harus mengikuti urutan urutan hirarki yang telah ditentukan
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
NOMOR DOKUMEN: REV: HALAMAN: TANGGAL DIKELUARKAN: TANGGAL
8 dari 10 REVISI :
DIPERSIAPKAN OLEH: DIPERIKSA OLEH: DISETUJUI OLEH: DISETUJUI OLEH:
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR IDENTIFIKASI
JUDUL: IDENTIFIKASI BAHAYA DAN PENILAIAN RISIKO (IBPR)
Penilaian Resiko
Adalah proses menilai resiko resiko dalam kategori tingkatan kemungkinan
dikalikan dengan keparahan yang menghasilkan Nilai Resiko
Usulan Pengendalain Tambahan
Adalah usulan usulan yang diberikan oleh bagian yang bersangkutan, guna lebih
meminimalisir nilai resiko bahaya yang dapat terjadi
Penilaian Resiko (Dengan Pengendalian Tambahan)
Dalam hal pengisian kolom ini, maka bagian yang mengisi harus memperhitungkan
harapannya pada nilai resiko berkurang (baik nilai kemungkinan, tingkat keparahan
maupun nilai resikonya) setelah nantinya Pengendalian Tambahan itu dilakukan.
PIC
PIC adalah orang yang ditunjuk untuk bertanggung jawab atas dijalankannya
usulan- usulan Pengendalian Tambahan yang diberikan. PIC harus satu orang.
Rutin / Non Rutin / Abnormal / Normal / Emergency
Kolom ini harus diisi dengan huruf R (Rutin) atau NR (Non Rutin). Bagian yang
mengisi kolom ini harus melihat apakah kegiatan tersebut bersifat rutin atau tidak.
Progress
Kolom ini harus diisi dengan tanggal pada saat pemeriksaan dan tingkat kemajuan
dari pelaksanaan pengendalian tambahan (contoh : sudah selesai, belum dilakukan,
dalam proses pelaksanaan)
6.10. PEMANTAUAN DAN PENINJAUAN
a. Setiap kepala bagian dari masing-masing departemen PT. xxxxxx harus
melakukan pemantauan dan peninjauan ulang terhadap hasil penilaian resiko jika :
Secara berkala minimal 1 tahun sekali untuk menjamin kesesuaian dan
kondisi aktual proses
Adanya perubahan proses, lingkungan kerja, metode kerja, kompetensi dan
faktor lainnya
b. Hasil evaluasi identifikasi dan penilaian resiko dilakukan pengesahan kembali
sesuai dengan peraturan atau mekanisme yang berlaku
6.11. Laporan
Setiap departemen / kontraktor / sub kontraktor harus menyerahkan laporan hasil
IBPR. Laporan tersebut diserahkan ke dept. HSE PT. XYZ untuk untuk di Arsip.
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR
NOMOR DOKUMEN: REV: HALAMAN: TANGGAL DIKELUARKAN: TANGGAL
9 dari 10 REVISI :
DIPERSIAPKAN OLEH: DIPERIKSA OLEH: DISETUJUI OLEH: DISETUJUI OLEH:
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR IDENTIFIKASI
JUDUL: IDENTIFIKASI BAHAYA DAN PENILAIAN RISIKO (IBPR)
7. LAMPIRAN
Formulir Identifikasi Bahaya dan Pengendalian
8. LAIN-LAIN