LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL
DENGAN GANGGUAN PENDARAHAN ANTEPARTUM ( HAP )
Nama : Maya Mauli yani
Nim : 222213027
Tanggal praktik : 24 Juni 2024
Pembimbing klinik Pembimbing akademik
Ns. Netti,[Link] Komala Sari,[Link],Ns,[Link]
PRAKTIK KLINIK KEPERAWATAN MATERNITAS
PRODI D3 KEPERAWATAN
STIKES HANG TUAH TANJUNGPINANG
TA.2024
PENDARAHAN ANTEPARTUM ( HAP )
A. Konsep Dasar
1. Pengertian
Pendarahan antepartum adalah pendarahan yang terjadi setelah kehamilan 28
[Link] antepartum merupakan pendarahan dari traktus genitalis yang terjadi
antara kehamilan minggu ke 28 awal partus.
Perdarahan antepartum adalah perdarahan melalui vagina yang terjadi pada usia
kehamilan lebih dari 24 minggu. Akan tetapi, ada beberapa sumber yang menyatakan
perdarahan dari usia kehamilan 20 minggu juga termasuk ke dalam perdarahan
antepartum.
Perdarahan antepartum adalah perdarahan yang terjadi setelah minggu ke 28 masa
kehamilan. Perdarahan antepartum merupakan perdarahan yang berasal dari traktus
genitalia setelah usia kehamilan 24 minggu dan sebelum onset pelahiran janin. Angka
kejadiannya berkisar antara 5-10% kehamilan. Keparahan dan frekuensi perdarahan
obstetri membuat perdarahan trimester ketiga menjadi salah satu dari tiga penyebab
kematian ibu dan penyebab terbesar morbiditas dan mortalitas perinatal di Amerika
Serikat.
Harus dibedakan antara perdarahan yang disebabkan oleh karena penyebab obstetri
dan nonobstetri (penyebab lokal). Penyebab nonobstetri menghasilkan perdarahan yang
menyebabkan kehilangan darah yang relatif sedikit kecuali pada karsinoma cerviks yang
invasive. Kebanyakan perdarahan yang parah menghasilkan hilangnya > 800 mL darah
biasanya akibat solusio plasenta atau plasenta previa. Yang lebih jarang namun tetap
berbahaya yaitu perdarahan dari circumvallate placenta, abnormalitas mekanisme
pembekuan darah dan ruptur uteri.
2. Etiologi
Pendarahan antepartum dapat disebabkan oleh :
a. Bersumber dari kelainan plasenta
1) Plasenta previa
Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat
abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau
seluruh pembukaan jalan lahir ( osteum uteri internal ).
Plasenta previa diklasifikasikan menjadi 3 :
a) Plasenta previa totalis : seluruhnya ostium internus ditutupi plasenta.
b) Plasenta previa lateralis : hanya sebagian dari ostium tertutup oleh plasenta.
c) Plasenta previa marginalis : hanya pada pinggir ostium terdapat jaringan
plasenta.
Plasenta previa dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain :
a) Endometrium yang kurang baik
b) Chorion leave yang peresisten
c) Korpus luteum yang berreaksi lambat
2) Solusi plasenta
Solusi plasenta adalah suatu keadaan dimana plasenta yang letaknya normal
terlepas dari perlekatannya sebelum janin [Link] dihitung kehamilan 28
minggu.
Solusi plasenta dapat diklasifikasikan menjadi 3 berdasarkan tingkat gejala klinik
antara lain :
a) Solusi plasenta ringan
Tanpa rasa sakit
Pendarahan kurang 500cc
Plasenta lepas kurang dari 1/5 bagian
Fibrinogen diatas 250 mg %
b) Solusi plasenta sedang
Bagian janin masih teraba
Perdarahan antara 500 – 1000 cc
Plasenta lepas kurang dari 1/3 bagian
c) Solusi plasenta berat
Abdomen nyeri-palpasi janin sukar
Janin telah meninggal
Plasenta lepas diatas 2/3 bagian
Terjadi gangguan pembekuan darah
b. Tidak bersumber dari kelainan plasenta, biasanya tidak begtu berbahaya, misalnya
kelainan serviks dan vagina ( erosion, polip, varises yang pecah ).
3. Patofisiologi
a. Plasenta previa
Seluruh plasenta biasanya terletak pada segmen atau [Link]-kadang bagian
atau seluruh organ dapat melekat pada segmen bawah uterus, dimana hal ini dapat
diketahui sebagai plasenta [Link] segmen bawah agak merentang selama
kehamilan lanjut dan persalinan, dalam usaha mencapai dilatasi serviks dan kelahiran
anak, pemisahan plasenta dari dinding usus sampai tingkat tertentu tidak dapat
dihindarkan sehingga terjadi pendarahan.
b. Solusi plasenta
Perdarahan dapat terjadi pada pembuluh darah plasenta atau uterus yang
membentuk hematom pada desisua, sehingga plasenta terdesak akhirnya terlepas.
Apabila perdarahan sedikit, hematom yang kecil itu hanya akan mendesak jaringan
plasenta, peredaran darah antara uterus dan plasenta belum terganggu dan tanda
serta gejalanya pun tidak jelas. Kejadiannya baru diketahui setelah plasenta lahir
yang pada pemeriksaan didapatkan cekungan pada permukaan maternalnya dengan
bekuan darah lama yang warnanya kehitam-hitaman. Biasanya perdarahan akan
berlangsung terus menerus karena otot uterus yang telah meregang oleh
kehamilan itu tidak mempu untuk lebih berkontraksi menghentikan pendarahannya.
Akibatnya, hematom retroplasenter akan bertambah besar, sehingga sebagian dan
akhirnya seluruh plasenta terlepas dari dinding uterus.
4. Pathway
5. Tanda dan Gelaja
a. Plasenta previa
1) Perdarahan terjadi tanpa rasa sakit pada trimester III
2) Sering terjadi pada malam hari saat pembentukan S.B.R
3) Perdarahan dapat terjadi sedikit atau banyak sehingga menimbulkan gejala
4) Perdarahan berwarna merah segar
5) Letak janin abnormal
b) Solusi plasenta
1) Perdarahan disertai rasa sakit
2) Jalan asfiksia ringan sampai kematian intrauterine
3) Gejala kardiovaskuler ringan sampai berat
4) Abdomen menjadi tegang
5) Perdarahan berwarna kehitaman
6) Sakit perut terus menerus
6. Komplikasi
a. Plasenta previa
1) Prolaps tali pusat
2) Prolaps plasenta
3) Plasenta melekat sehingga harus dikeluarkan manual dan kalau perlu dibersihkan
dengan kerokan
4) Robekan-robekan jalan lahir
5) Perdarahan post partum
6) Infeksi karena perdarahan yang banyak
7) Bayi prematuritas atau kelahiran mati
b. Solusi plasenta
1) Langsung
a) Perdarahan
b) Infeksi
c) Emboli dan obstetrik syok
2) Komplikasi tidak langsung
a) Couvelair uterus kontraksi tak baik, menyebabkan pendarahan post partum
b) Adanya hipo fibrinogenemia dengan perdarahan post partum
c) Nekrosis korteks renalis, menyebabkan anuria dan uremia
d) Kerusakan-kerusakan organ seperti hati, hipofise dll.
7. Pemeriksaan penunjang
a. Plasenta previa
USG untuk diagnosis pasti, yaitu menentukan letak plasenta.
Pemeriksaan darah: hemoglobin, hematokrit
b. Solusi plasenta
Untuk membantu mengidentifikasi kemungkinan sumber perdarahan vagina,
dokter mungkin akan merekomendasikan tes darah dan urin dan USG. Namun,
tidak semua solusio plasenta bisa dideteksi melalui USG.
8. Penatalaksanaan
a. Plasenta previa
Perawat memeriksa adanya perdarahan
Perawat melakukan pemeriksaan abdomen. Pada plasenta previa, rahim
memiliki tonus yang normal, lunak, rileks dan tidak nyeri tekan.
Melakukan pemeriksaan laboratorium meliputi hitung sel darah, golongan
darah, Rh, pembekuan darah dan uji silang darah.
Melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital dan pemeriksaan noninvasi
urah jantung untuk mengobservasi tanda penurunan status
hemodinamika.
Melakukan penatalaksanaan konservatif, misalnya istirahat di tempat
tidur sepanjang masa hamil. Hal ini dilakukan bila janin belum cukup
matang karena biasanya perdarahan spontan awal pada plasenta previa
tidak mengancam kehidupan ibu atau janin. Jika paru-paru janin
sudah matur dan kemungkinan hidup besar, pelahiran bisa dilakukan.
Memantau status janin jika janin masih hidup setelah
peristiwa perdarahan.
Pemassangan kateter tekanan intrauterin untuk mengevaluasi tonus
rahim.
Setelah diagnosis plasenta previa ditegakkan, ibu biasanyatetap tinggal
di rumah sakit di bawah supervisi yang ketat. Durasi kehamilan harus
dipastikan kecuali dalam keadaan darurat, kehamilan ditunda sampai
setelah minggu ke-36. Biasanya dilakukan pelahiran sesaria bagi ibu
dengan plasentaprevia
b. Solusio plasenta
Perawat memeriksa adanya perdarahan
Perawat melakukan pemeriksaan abdomen. Pada solusio plasenta, rahim
mengalami nyeri tekan dan tonus meningkat.
Melakukan pemeriksaan laboratorium meliputi hitung sel darah,
golongan darah, Rh, pembekuan darah dan uji silang darah.
Melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital dan pemeriksaan noninvasif urah
jantung untuk mengobservasi tanda penurunan status hemodinamika.
Melakukan penatalaksanaan konservatif, misalnya istirahat di tempat
tidur sepanjang masa hamil. Hal ini dilakukan bila janin belum cukup
matang karena biasanya perdarahan spontan awal pada plasenta previa
tidak mengancam kehidupan ibu atau janin. Jika paru-paru janin
sudah matur dan kemungkinan hidup besar, pelahiran bisa dilakukan
Memantau status janin jika janin masih hidup setelah
peristiwa perdarahan.
Pemassangan kateter tekanan intrauterin untuk mengevaluasi tonus
rahim.
B. Asuhan Keperawatan Teoritis
1. Pengkajian
a. Data Subjektif
1) Data umum
Biodata, identitas ibu hamil dan suaminya.
2) Keluhan utama
Keluhan pasien saat masuk RS adalah perdarahan pada kehamilan 28 minggu.
3) Riwayat kesehatan yang lalu
4) Riwayat kehamilan
a) Haid terakhir
b) Keluhan
c) Imunisasi
5) Riwayat keluarga
a) Riwayat penyakit ringan
b) Penyakit berat
c) Keadaan psikososial
d) Dukungan keluarga
e) Pandangan terhadap kehamilan
6) Riwayat persalinan
7) Riwayat menstruasi
a) Haid pertama
b) Sirkulasi haid
c) Lamanya haid
d) Banyaknya darah haid
e) Nyeri
f) Haid terakhir
8) Riwayat perkawinan
a) Status perkawinan
b) Kawin pertama
c) Lama kawin
b. Data Objektif
1) Umum
Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan ibu hamil.
a) Rambut dan kulit
- Terjadi peningkatan pigmentasi pada areola, putting susu dan linea nigra.
- Striae atau tanda guratan bisa terjadi di daerah abdomen dan paha.
- Laju pertumbuhan rambut berkurang.
b) Wajah
- Mata : pucat, anemis
- Hidung
- Gigi dan mulut
c) Leher
d) Payudara
- Peningkatan pigmentasi areola putting susu
- Bertambahnya ukuran dan noduler
e) Jantung dan paru
- Volume darah meningkat
- Peningkatan frekuensi nadi
- Penurunan resistensi pembuluh darah sistemik dan pembulu darahpulmonal.
- Terjadi hiperventilasi selama kehamilan.
- Peningkatan volume tidal, penurunan resistensi jalan nafas.
- Diafragma meninggi.
- Perubahan pernapasan abdomen menjadi pernapasan dada.
f) Abdomen
- Menentukan letak janin
- Menentukan tinggi fundus uteri
g) Vagina
- Peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna kebiruan ( tandaChandwick )
- Hipertropi epithelium
h) System musculoskeletal
- Persendian tulang pinggul yang mengendur
- Gaya berjalan yang canggung
- Terjadi pemisahan otot rectum abdominalis dinamakan dengan diastasisrectal
2) Khusus
a) Tinggi fundus uteri
b) Posisi dan persentasi janin
c) Panggul dan janin lahir
d) Denyut jantung janin
3) Pemeriksaan penunjang
a) Pemeriksaan inspekulo
b) Pemeriksaan radio isotopic
c) Ultrasonografi
Diagnosa Tujuan atau Luaran Intervensi
Keperawatan (SLKI) (SIKI)
(SDKI)
(D.0023) Status Cairan (L.03028) Manajemen Hipovolemia (1.03116)
Hipovolemia Setelah dilakukan intervensi keperawatan, Observasi:
berhubungan dengan maka status cairan membaik, dengan - Periksa tanda gejala hipovolemia (misal: frekuensi nadi
kehilangan cairan kriteria hasil: meningkat, nadi teraba lemah, tekanan darah menurun, tekanan
aktif dibuktikan a. Kekuatan nadi meningkat nadi menyempit, turgor kulit menurun, membran mukosa
dengan merasa lemah, b. Turgor kulit meningkat kering, volume urine menurun, hematokrit meningkat, haus,
frekuensi nadi c. Output urine meningkat lemah)
meningkat, nadi teraba d. Pengisian vena meningkat - Monitor intake dan output cairan
Terapeutik:
lemah, tekanan darah e. Ortopnea menurun
- Hitung kebutuhan cairan
menurun, membran f. Dispnea menurun
- Berikan posisi modified Trendelenburg
mukosa kering, dan g. Edema anasarca menurun
- Berikan asupan cairan oral
hematokrit meningkat h. Edema perifer menurun
Edukasi:
i. Distensi vena jugularis menurun
- Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral
j. Suara napas tambahan menurun
(D.0080) Tingkat Ansietas (L.09093) Reduksi Ansietas (1.09314)
Ansietas berhubungan Setelah dilakukan intervensi keperawatan, Observasi:
dengan krisis maka tingkat ansietas menurun, dengan
- Identifikasi saat tingkat ansietas berubah (misal: kondisi,
situasional dibuktikan kriteria hasil:
dengan merasa a. Verbalisasi kebingungan menurun waktu, stessor)
khawatir dengan
b. Verbalisasi khawatir akibat kondisi - Identifikasi kemampuan mengambil keputusan
akibat dari kondisi yang
dihadapi, tampak yang dihadapi menurun - Monitor tanda-tanda ansietas (verbal dan non-verbal)
gelisah, tampak Terapeutik:
c. Perilaku gelisah menurun
tegang, dan frekuensi
- Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan
nadi meningkat d. Perilaku tegang menurun
- Temani pasien untuk mengurangi kecemasan,
e. Keluhan pusing menurun
jika memungkinkan
f. Anoreksia menurun
- Pahami situasi yang membuat ansietas, dengarkan dengan
g. Palpitasi menurun
penuh perhatian
h. Frekuensi pernapasan menurun
- Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan
i. Frekuensi nadi menurun
- Tempatkan barang pribadi yang memberikan kenyamanan
j. Tekanan darah menurun
- Motivasi mengidentifikasi situasi yang memicu kecemasan
k. Diaphoresis menurun
- Diskusikan perencanaan realistis tentang peristiwa yang akan
l. Tremor menurun
datang
m. Pucat menurun
Edukasi:
n. Konsentrasi membaik
- Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami
k. Kongesti paru menurun - Anjurkan menghindari perubahan posisi mendadak
Kolaborasi:
l. Perasaan lemah menurun
- Kolaborasi pemberian cairan IV isotonis (misal: NaCl, RL)
m. Keluhan haus menurun
- Kolaborasi pemberian cairan IV hipotonis (misal: glukosa
n. Konsistensi urine menurun
2,5%, NaCl 0,4%)
o. Frekuensi nadi membaik
- Kolaborasi pemberian cairan koloid (misal: albumin,
p. Tekanan darah membaik
Plasmanate)
q. Tekanan nadi membaik
- Kolaborasi pemberian produk darah
r. Membran mukosa membaik
s. JVP membaik
t. Kadar Ht membaik
u. Kadar Hb membaik
v. CVP membaik
w. Oliguria membaik
x. Intake cairan membaik
y. Status mental membaik
z. Suhu tubuh membaik
(D.0138) Status Pertumbuhan (L.10102) Resusitasi Janin (1.02082)
Observasi:
Resiko cedera pada Setelah dilakukan intervensi keperawatan,
- Monitor denyut jantung janin
janin dibuktikan maka status pertumbuhan membaik,
dengan nyeri pada dengan kriteria hasil: - Monitor tanda-tanda denyut jantung janin abnormal (misal:
abdomen a. Berat badan sesuai usia meningkat bradikardia, takikardia, deselerasi, deselerasi lambat, deselerasi
b. Panjang/ tinggi badan sesuai usia berkepanjangan, dan pola ainusoidal)
meningkat - Monitor tanda vital ibu dan janin
Terapeutik:
c. Lingkar kepala meningkat
- Gunakan kewaspadaan universal
d. Kecepatan pertambahan berat badan
- Reposisi ibu ke posisi lateral
meningkat
- Berikan oksigen 6-8 L, sesuai indikasi
e. Kecepatan pertambahan tinggi/ Panjang
- Berikan bolus cairan IV, sesuai indikasi
badan meningkat
- Tenangkan ibu dan keluarga
f. Indeks massa tubuh meningkat
- Berikan posisi lateral kiri selama kala dua persalinan untuk
g. Asupan nutrisi meningkat
memperbaiki perfusi plasenta
- Antisipasi kondisi persalinan segera
Edukasi:
- Jelaskan tujuan dan prosedur resusitasi janin
- Informasikan tindakan yang akan dilakukan untuk
meningkatkan oksigenasi janin
Kolaborasi:
- Kolaborasi pemberian induksi oksitosin, sesuai indikasi
o. Pola tidur membaik - Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan,
p. Perasaan keberdayaan membaik dan prognosis
q. Kontak mata membaik - Anjurkan keluarga untuk tetap bersama pasien, jika perlu
r. Pola berkemih membaik - Anjurkan melakukan
kegiatan yang tidak kompetitif, jika perlu
s. Orientasi membaik
- Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi
- Latih kegiatan pengalihan untuk mengurangi ketegangan
- Latih penggunaan mekanisme pertahanan diri yang tepat
- Latih teknik relaksasi
Kolaborasi:
Kolaborasi pemberian obat antiansietas, jika perlu
DAFTAR PUSTAKA
Biescher, NA, Mackay, EV, 1986. Obstetrics and the Newborn, an Illustrated Teexbook (2 nd
Ed), Sidney, WB Saunders Comp
Bonnar J, 1987, Recent Advances in Obstetrics and Gynecology and Gynecology, London,
Churchill Livingstone
Hanafiah W, 1994. Ilmu Bedah Kebidanan, Jakarta Yayasan Bina Pustaka
Hanafiah W, 1991. Ilmu Kebidanan Bagian Ilmu Kebidanan FKUI-RSCM, Jakarta Yayasan
Bina Pustaka
Irene M. Boback, ea tl, 1995, Maternity Nursing St Louis Baltimore, Fourth Edition Mosby
Prawiroharjo. S,1994, Ilmu Kandungan Jakarta, Yayasan Bina Pustaka, Sarwono
Prawiroharjo
Prawiroharjo. S, 1994, Ilmu Kebidanan Jakarta, Yayasan Bina Pustaka, Sarwono
Prawiroharjo
Pusdiknakes, 1993, Asuhan Kebidanan pada Ibu Gangguan Sistem Reproduksi, Jakarta
Saifudin, A.B. dkk, 2001, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal, [Link] Bina Pustaka, Sarwono Prawiroharjo