0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan29 halaman

Pembelajaran dan Pemahaman Matematika

Diunggah oleh

Azhari Azhari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan29 halaman

Pembelajaran dan Pemahaman Matematika

Diunggah oleh

Azhari Azhari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

LANDASAN TEORITIS

A. Pembelajaran Matematika

1. Pengertian pembelajaran matematika

Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk

memperoleh perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan. Pembelajaran

merupakan suatu proses yang mengandung dua jenis kegiatan yang tidak

terpisahkan, yaitu belajar dan mengajar. Kedua aspek ini akan berpadu menjadi

suatu kegiatan pada saat terjadi interaksi antara siswa dengan guru, antara sesama

siswa di saat berlangsungnya pembelajaran. Menurut UUSPN no. 20 tahun 2003

pembelajaran adalah “suatu proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan

sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”.1

Matematika adalah suatu ilmu yang sangat penting dalam kehidupan kita.

Banyak hal di sekitar kita yang berhubungan dengan matematika seperti untuk

mengukur tinggi sebuah menara, mengukur luas sebuah ruangan yang berbentuk

persegi panjang, dan lain-lain. Seperti yang di kemukakan Hamzah bahwa

“matematika merupakan pelajaran yang memerlukan pemusatan pikiran untuk

mengingat dan mengenal kembali semua aturan-aturan yang ada, yang harus

dipenuhi untuk menguasai materi yang dikuasai”.2

Pembelajaran matematika merupakan kegiatan yang menggunakan

matematika sebagai kendaraan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Pada

proses pembelajaran matematika, para siswa dibiasakan untuk memperoleh


1
Syaiful Sagala, Konsep Dan Makna Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2007), h 62
2
Hamzah, Pembelajaran Matematika I, (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), hal. 23

1
2

pemahaman melalui pengalaman tentang sifat-sifat yang dimiliki dan yang tidak

dimiliki dari sekumpul objek. Melalui pengamatan terhadap contoh dan bukan

contoh diharapkan siswa mampu menangkap pengertian suatu konsep.

2. Tujuan Pembelajaran Matematika

Matematika merupakan suatu bidang studi yang diajarkan di semua jenjang

pendidikan, termasuk pada jenjang sekolah dasar. Menurut wina sanjaya “Tujuan

pembelajaran adalah kemampuan (kompetensi) atau keterampilan yang

diharapakn dapat dimiliki oleh siswa setelah mereka melakukan proses

pembelajaran tertentu.3

Adapun tujuan pembelajaran matematika di jenjang pendidikan dasar dan

pendidikan menengah pada kurikulum KTSP tahun 2006 adalah: 1) Melatih cara

berfikir dan menalar dalam menarik kesimpulan. 2) Mengembangkan aktifitas

kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan

pemikiran divergen, orisinal, rasa ingin tahu dan dugaan serta mencoba-coba. 3)

Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah. 4) mengembangkan

kemampuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan antara

lain melalui pembicaraan lisan, catatan, grafik , diagram, dalam melaksanakan

gagasan.

Dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran matematika yaitu untuk

terbentuknya penalaran pada diri siswa yang tercermin melalui kemampuan

berfikir kritis, sistematis, dan disiplin dalam memecahkan suatu permasalahan

baik dalam bidang matematika maupun dalam kehidupan sehari-hari.

3
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (jakarta:
Kencana, 2008), hal. 68
3

B. Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis

Pemahaman konsep adalah kemampuan untuk memperoleh makna dari ide

abstrak sehingga dapat digunakan atau memungkinkan seseorang untuk

mengelompokkan atau menggolongkan suatu obyek atau kejadian tertentu.

Dalam buku landasan psikologis proses pendidikan karya Nana Syaodih

Sukmadinata dijelaskan bahwa “pemahaman adalah cara seseorang memahami

(mengerti) permasalahan atau keadaan yang terjadi”. 4 Dan pengertian

kemampuan yang dikemukakan oleh Daryanto adalah “pemahaman seorang untuk

mengerti atau memahami sesuatu setelah diketahui apa yang diajarkan” 5.

Sedangkan woolfolk mendefinisikan konsep sebagai “suatu kategori yang

digunakan untuk mengelompokkan ide-ide, peristiwa-peristiwa, orang-orang,

objek-objek yang serupa”.6 Jadi kemampuan pemahaman konsep matematika

merupakan suatu pemahaman yang abstrak dari sekelompok objek untuk

memahami (mengerti) permasalahan serta dapat menerapkan konsep dalam

pemecahan masalah.

Konsep dalam matematika merupakan salah satu objek kajian disamping

tiga objek lain, yaitu: fakta, operasi (relasi) dan prinsip. Selain itu, konsep-konsep

dalam matematika disusun dari konsep-konsep terdahulu dan fakta-fakta.

Sedangkan untuk menunjukkan konsep tertentu digunakan batasan atau definisi.

Hal ini memberikan gambaran bahwa suatu konsep digunakan secara

44
Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologis Proses Pendidikan, (Bandung:Remaja
Rosda karya,2005), h. 214
5
Daryanto, Evaluasi Pendidikan, (Jakarta:Garafindo,1996),h.23
6
Woolfolk dikutip dalam Mursalin, “Pemahaman konsep matematika Siswa KelasVII MTsS
Lhok Mon Puteh,”Skripsi ,(Lhokseumawe: STAIN Malikussaleh,2011),h. 9.
4

berkesinambungan untuk menjelaskan konsep-konsep yang lain dalam

matematika, karena sifat dari matematika adalah hirarkis. Dengan demikian,

kesalahan konsep yang diterima oleh siswa akan berakibat fatal untuk

mempelajari konsep-konsep berikutnya yang berkaitan dengan konsep tersebut.

Menurut Oemar Hamalik dalam pengajaran konsep, ada tujuh (7) langkah-langkah

yang perlu diikuti yaitu :7

[Link] perilaku yang diharapkan diperoleh siswa oleh siswa setelah

mempelajari konsep.

b. Mengurangi banyaknya atribut yang terdapat dalam konsep yang kompleks dan

menjadi atribut-atribut penting dominan.

c. Menyediakan mediator verbal yang berguna bagi siswa.

d. Memberikan contoh-contoh yang postif dan negative mengenai konsep.

e. Menyajikan contoh-contoh.

f. Sambutan siswa dan penguatan (reinforcement)

g. Menilai belajar konsep

Kriteria untuk mengetahui apakah siswa telah mengetahui suatu

pemahaman konsep, paling tidak ada empat hal yang diperbuatnya, yaitu sebagai

berikut :

a. Ia dapat menyebutkan nama-nama contoh-contoh konsep bila dia melihatnya.

b. Ia dapat menyatakan ciri-ciri (properties) konsep tersebut.

c. Ia dapat memilih, membedakan antara contoh-contoh dari yang bukan contoh.

7
Oemar Hamalik, Perencanaan pengajaran brdasarkan pendekatan sistem, (2008). h.166.
5

d. Ia mungkin lebih mampu memecahkan masalah yang berkenaan dengan konsep

tersebut.

Berdasarkan dari langkah-langkah dan indikator dari pemahaman konsep di

atas diharapkan guru mampu menemukan upaya untuk menarik perhatian siswa

agar lebih menyukai pembelajaran matematika serta tetap memberikan penguatan

pemahaman konsep, sehingga siswa lebih betah diajar guru disekolah. Untuk itu

diperlukan pengetahuan guru untuk mengembangkan media pembelajaran, metode

dan model pembelajaran yang cocok atau pas dengan kondisi siswa.

Pemahaman konsep sangat penting, karena dengan penguasaan konsep akan

memudahkan siswa dalam mempelajari matematika. Pada setiap pembelajaran

diusahakan lebih ditekankan pada penguasaan konsep agar siswa memiliki bekal

dasar yang baik untuk mencapai kemampuan dasar yang lain seperti penalaran,

komunikasi, koneksi dan pemecahan masalah. Mulyasa menyatakan bahwa

“pemahaman adalah kedalaman kognitif dan afektif yang dimiliki oleh individu”.8

Konsep menurut Herman adalah “Suatu ide abstrak yang memungkinkan

kita mengklasifikasikan objek-objek atau peristiwa-peristiwa itu termasuk atau

tidak ke dalam ide abstrak tersebut9. Sedangkan konsep menurut Winkel adalah

“satuan arti yang mewakili sejumlah objek yang memiliki ciri-ciri yang sama.

Pemahaman menurut Bloom mencakup kemampuan untuk menangkap makna

dalam arti yang dipelajari”. 10Kemampuan memahami dapat juga disebut dengan
8
Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi. (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2005). h.78.
9
Herman Hudojo, Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. (Malang:
Universitas Negeri Malang.2003). h.124.
10
[Link], Psikologi Pengajaran. (Yogyakarta: Media Abadi.2004). h.274.
6

istilah “mengerti”. Seorang siswa dikatakan telah mempunyai kemampuan

mengerti atau memahami apabila siswa tersebut dapat menjelaskan suatu konsep

tertentu dangan kata-kata sendiri, dapat membandingkan, dapat membedakan, dan

dapat mempertentangkan konsep tersebut dengan konsep lain.

Kemampuan tersebut mencakup tiga hal yaitu, translasi yang mencakup

penerjemahan pengetahuan atau gagasan dari bentuk abstrak ke bentuk konkret

atau sebelumnya, interpretasi yang mencakup kemampuan untuk mencirikan

merangkum pikiran utama dari suatu gagasan, serta ektrapolasi yang mencakup

kemampuan untuk menterjemahkan, mengartikan serta menyelesaikan masalah.

Standar kompetensi mata pelajaran matematika Sekolah Dasar terdiri dari 4

aspek yaitu: (a) bilangan, (b) aljabar, (c)geometri dan pengukuran, (d) peluang

dan statistika. Kecakapan atau kemahiran matematika yang diharapkan dalam

pembelajaranmatematika yang mencakup ke empat aspek tersebut diatas adalah :

(a)pemahaman konsep, (b) prosedur, (c) penalaran dan komunikasi, (d)pemecahan

masalah, dan (e) menghargai kegunaan matematika. Pemahaman konsep

merupakan kompetensi yang ditunjukkan siswadalam memahami konsep dan

dalam melakukan prosedur (algoritma)secara luwes, akurat, efisien dan tepat.11

Konsep geometri adalah membahas tentang geometri dasar dan geometri

ruang, geometri dasar terdiri dari segitiga, segi empat, segi lima dan lingkaran.

Konsep pengukuran adalah penentuan besaran, dimensi atau kapasitas, biasanya

terhadap suatu standar atau satuan pengukuran tidak hanya kuantitas fisik, tetapi

juga dapat di perluas untuk mengukur hampir semua benda yang bisa

11
Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi. (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2005), h. 36.
7

dibayangkan. Pemahaman geometri dan pengukuran adalah memahami materi

geomerti dan pengukuran baik cara menghitung dan jenis-jenisnya. Permasalahan

yang sering timbul dari geometri dan pengukuran yaitu masih rendahnya tingkat

pemahaman siswa terhadap konsep geometri dan pengukuran.

Pemahaman konsep merupakan salah satu aspek dari tiga aspek penilaian

matematika. Penilaian pada aspek pemahaman konsep ini bertujuan mengetahui

sejauh mana siswa mampu menerima dan memahami konsep dasar matematika

yang telah diterima siswa. Dari uraian di atas pemahaman konsep adalah

kemampuan menerima dan memahami konsep dasar matematika serta

menangkap makna yaitu translasi, interpretasi, dan ekstrapolasi dari suatu ide

abstrak/prinsip dasar dari suatu objek matematika untuk menyelesaikan masalah

matematika. Dengan demikian menurut Wina Sanjaya indikator untuk

menunjukkan pemahaman konsep dalam penelitian ini antara lain:

a. Menyatakan ulang sebuah konsep.


b. Mengklasifikasi obyek-obyek menurut sifat-sifat tertentu.
c. Memberi contoh dan non-contoh dari konsep.
d. Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis.
e. Mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu konsep.
f. Menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasitertentu.
g. Mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah.12

Penguasan konsep merupakan tingkatan hasil belajar siswa sehingga dapat

mendefinisikan atau menjelaskan sebagian atau mendefinisikan bahan pelajaran

dengan menggunakan kalimat sendiri. Dengan kemampuan siswa menjelaskan

atau mendefinisikan, maka siswa tersebut telah memahami konsep atau prinsip

dari suatu pelajaran.


12
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta:
Kencana, 2008). h. 201
8

Definisi-definisi yang dikemukakan diatas pada dasarnya mengacu pada

sesuatu yang diterima dalam pikiran atau suatu ide yang umum dan abstrak. Hal

seperti yang diungkapkan oleh Darjitno bahwa “konsep adalah pengertian

umum.”13 Berdasarkan definisi-definisi diatas maka dapat kita pahami bahwa

konsep merupakan pengertian umum yang berupa ide abstrak dari sekelompok

objek, sehingga memungkinkan kita untuk mengelompokkan objek-objek yang

lain kedalam contoh atau noncontoh dari sekelompok tersebut.

Untuk memahami suatu konsep siswa didorong memiliki kemampuan

untuk mengorganisasi, memproses, menyimpan dan mengungkapkan kembali

struktur pengetahuan dan informasi yang telah diperolehnya. Jika dihubungkan

dengan pengertian belajar, maka belajar konsep adalah belajar untuk memperoleh

konsep. Menanamkan konsep pada diri siswa adalah tujuan utama dari belajar

konsep.

Pada kurikulum 2006 Standar Kompetensi Pembelajaran Matematika

SD/MI dinyatakan bahwa kemampuan yang perlu diperhatikan dalam

pembelajaran matematika antara lain adalah pemahaman konsep dan prosedur

(algoritma). Lebih jauh dinyatakan bahwa siswa dikatakan memahami konsep bila

siswa mampu mendefinisikan konsep, mengidentifikasi dan memberi contoh atau

bukan contoh dari konsep. Siswa mempunyai kemampuan memahami prosedur

jika mampu mengenali prosedur atau proses menghitung yang benar dan tidak

benar.

C. Pemahaman Konsep pada Materi Bangun Ruang

13

E. V. Berg, Miskonsepsi Fisika dan Remediasi, (salatiga: UKSW, 1991), h. 63.


9

Pemahaman konsep-konsep merupakan suatu kegiatan mengkategorikan,

mengidentifikasikan dan menempatkan contoh-contoh (objek-objek atau

peristiwa-peristiwa) ke dalam kelas dengan menggunakan dasar kriteria tertentu

yaitu konsep-konsep yang sudah ada sebelumnya. Pengalaman dalam diri seorang

penulis semenjak SD sampai ketingkat lebih tinggi, guru selalu memberikan

pemahaman kepada siswanya hanya pada seorang guru tapi tidak memberikan

kesempatan kepada siswa untuk berpikir, menganalisa suatu konsep agar siswa

mampu mengenal konsep sehingga bisa diaplikasikan kedalam kehidupan sehari-

hari, namun siswa memperoleh pemahaman hanya dari guru mata pelajaarannya

maka siswa akan mengalami kesulitan dalam mempelajari matematika dan hanya

mengharap atau ketergantungan dari seorang guru. Tidak salahnya kalau pelajaran

matematika sangat tidak dikuasai oleh seorang murid dan bahkan menganggap

bahwa matematika bagaikan mata pelajaran yang sangat menakutkan.

Dengan demikian, pemahaman terhadap konsep sangatlah penting dalam

belajar matematika karena pemahaman tersebut akan membantu siswa dalam

mengklsifikasikan, menganalisis, menghubungkan atau menggabungkan dalam

bentuk struktur fundamental bagi penguasaan konsep-konsep lain yang lebih

lanjut. Bangun ruang merupakan bagian ruang yang dibatasi oleh himpunan titik-

titik yang terdapat pada seluruh permukaan bangun tersebut.

D. Alat Peraga Matematika

1. Pengertian Alat Peraga Matematika


10

Secara langsung alat peraga pendidikan berfungsi membantu memperjelas

atau memvisualisasikan sebuah konsep, ide, atau pengertian tertentu. Alat peraga

merupakan seperangkat benda konkrit yang dirancang, dibuat, dihimpun atau

disusun secara sengaja yang digunakan untuk membantu menanamkan atau

mengembangkan konsep-konsep atau prinsip-prinsip dalam matematika . Secara

umum pengertian alat peraga adalah benda atau alat-alat yang diperlukan untuk

melaksanakan kegiatan pembelajaran. Jika benda atau alat tersebut digunakan

untuk pembelajaran matematika, benda atau alat itu disebut sebagai alat peraga

matematika.14 Alat peraga matematika yaitu alat yang digunakan untuk

menerangkan sesuatu mewujudkan konsep matematika benda-benda, batu-batuan

dan kadang-kadang untuk menerangkan konsep-konsep bilangan, kubus

( bendanya) untuk memperjelas konsep titik-titik, ruas garis daerah bujur sangkar

dan dari kubus itu sendiri, benda-benda bidang beraturan untuk menerangkan

konsep pecahan: benda-benda seperti cincin, gelang, permukaan gelas dan

sebagainya untuk memperjelas konsep lingkaran.15

Penggunaan alat peraga matematika bertujuan untuk memberikan wujud

riil terhadap bahan yang dibicarakan dalam materi pembelajaran. Alat peraga

matematika yang digunakan dalam proses belajar mengajar dalam garis besarnya

memiliki faedah menambah kegiatan belajar siswa, menghemat waktu belajar,

memberikan alasan yang wajar untuk belajar karena membangkitkan minat

perhatian dan aktivitas siswa.

14

Depdiknas, Pedoman Pembuatan Alat Peraga Kimia Sederhana, (Jakarta: Direktorat


Pendidikan Menengah Umum, 2004), h.5.
15
Russefendi, Pendidikan Matematika III ( Jakarta : Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Proyek Peningkatan Mutu Guru Kelas SD Setara D-II, 1991), h.141
11

Menurut Sudjana alat peraga merupakan wahana fisik yang alami

maupun buatan mengandung materi pembelajaran. Alat peraga matematika dalam

pengertian terbatas yaitu sebagai alat bantu pengajaran, khususnya dalam

pengajaran matematika di SD. Alat peraga dalam mengajar memegang peranan

penting sebagai alat bantu untuk menciptakan proses belajar mengajar matematika

yang efektif.16

Alat peraga adalah salah satu macam dari beberapa media yang sudah ada.

Alat peraga dapat dikategorikan dalam media pengajaran (instruksional media)

yang dapat secara khusus dirancang untuk kepentingan pengajaran ataupun dapat

pula merupakan pemanfaatan dari media yang bersifat umum seperti papan tulis.

Menurut Hamalik yang dikutip Arsyad mengemukakan bahwa “Pemakaian media

pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan

minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan

bahkan membawa pengaruh-pengaruh psokologis terhadap siswa".17

Proses pembelajaran akan menarik bila dalam proses belajar mengajar

menggunakan alat peraga. Meskipun penggunaan alat peraga menimbulkan

berbagai pendapat dan pandangan, tetapi perbedaan tersebut akan menambah

perbendaharaan pengetahuan bagi kita. Penggunaan alat peraga sangat berperan

dalam penyampaian materi pelajaran bagi pendidik.

Menurut Winata ”Alat peraga dapat membantu siswa untuk berfikir logis

dan sistematis sehingga mereka pada akhirnya mempunyai pola pikiran yang

16

Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. (Bandung:Sinar Baru Algensindo,


2001), h. 99.
17
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran.(Jakarta: Raja Cerapindi Persada, 2009), h. 5.
12

diperlukan dalam kehidupan sehari-hari”. Alat peraga matematika berfungsi

membantu guru dalam :

1) Memberikan penjelasan konsep

2) Merumuskan dan membentuk konsep

3) Melatih siswa dalam keterampilan

memberi/percobaan

4) Penguatan konsep pada siswa

5) Melatih siswa dalam pemecahan

masalah

6) Mendorong siswa berfikir kritis.18

Berdasarkan fungsi di atas, dapat dikaji bahwa alat peraga matematika

adalah benda-benda yang digunakan guru dalam penyampaian materi pelajaran

sehingga materi pelajaran tampak lebih konkret dan mudah dipahami oleh siswa

sehingga dapat membantu atau mempermudah dalam pencapaian tujuan

pembelajaran. Penggunaan alat peraga adalah membantu menurunkan

keabstrakan dari materi yang dipelajari sehingga siswa lebih mudah dalam

memahami materi yang dipelajari, dimana penggunaan alat peraga ini akan

mampu untuk mempengaruhi minat siswa dan prestasi belajar siswa. Dengan

adanya alat peraga siswa dapat memahami konsep yang abstrak dengan lebih

mudah dengan peragaan karena siswa dapat mengutak-atik, memegang,

bagaimana penggunaannya sehingga siswa memperoleh pengalaman yang nyata

sehingga tidak mudah untuk dilupakan.

18
Putra Winata, Materi dan Pembelajaran IPS SD. (Jakarta: Universitas Terbuka, 2004),
h.271.
[[
13

2. Jenis-Jenis Alat Peraga Matematika

Jenis-jenis alat peraga dalam pembelajaran matematika diantaranya:

a. Manik-manik pada kawat tegang, untuk mempelajari himpunan

dan himpunan bagian, menemukan hubungan-hubungan diantara

fakta-fakta penambahan

b. Papan berpaku melingkar, digunakan untuk menyelidiki makna

pecahan dan membuat bangun-bangun geometrik

c. Papan berpaku, untuk menyelidiki bangun, keliling, luas dan

pecahan

d. Kertas bertitik, digunakan untuk menggambar polygon dan

bangun-bangun geometrik lainnya

e. Kubus satuan, digunakan untuk menyelidiki himpunan membuat

model menara (pada taman kanak-kanak), dan menyelidiki volume

prisma tegak.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan jenis alat peraga kubus

satuan, karena dengan alat peraga kubus satuan siswa akan lebih mudah

memahami suatu konsep materi dan objek yang dibicarakan bisa langsung dilihat

bahkan bisa langsung diperagakan oleh siswa sehingga itu akan memberi

pengalaman yang nyata bagi siswa dan akan memudahkan siswa dalam

memahami suatu konsep.

3. Prinsip-Prinsip Penggunaan Alat Peraga

Selain mempersiapkan langkah-langkah penggunaan alat peraga, seperti

persiapanguru, lingkungan, persiapan peserta didik, maka perlu pula mengetahui


14

prinsip-prinsip umum dalam penggunaan alat peraga. Untuk dapat memanfaatkan

alat peraga dalam pembelajaran maka perlu juga mengetahui prinsip-prinsip

umum dalam penggunaan alat peraga. Prinsip-prinsip umum dalam penggunaan

alat peraga di antaranya sebagai berikut.

1) Penggunaan alat peraga hendaknya sesuai dengan tujuan pembelajaran.

2) Alat peraga yang digunakan hendaknya sesuai dengan metode/strategi

pembelajaran.

3) Tidak ada satu alat peragapun yang dapat atau sesuai untuk segala macam

kegiatan belajar.

4) Guru harus terampil menggunakan alat peraga dalam pembelajaran.

5) Peraga yang digunakan harus sesuai dengan kemampuan siswa dan gaya

belajarnya.

6) Pemilihan alat peraga harus obyektif, tidak didasarkan kepada kesenangan

pribadi.

7) Keberhasilan penggunaan alat peraga juga dipengaruhi oleh kondisi.19

Berdasarkan prinsip di atas, dapat disimpulkan bahwa dengan peragaan

dapat meletakkan dasar-dasar yang nyata untuk berfikir, oleh karena itu dapat

mengurangi terjadinya kebosanan pada siswa. Dengan peragaan dapat

memperbesar minat dan perhatian siswa untuk belajar. Dengan peragaan dapat

meletakkan dasar untuk perkembangan belajar sehingga hasil belajar bertambah

mantap. Memberikan pengalaman yang nyata dan dapat menumbuhkan kegiatan

berusaha sendiri pada setiap siswa. Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan

19
Depdiknas, Pedoman Pembuatan Alat Peraga Kimia Sederhana, (Jakarta: Direktorat
Pendidikan Menengah Umum, 2004), h. 6.
15

berkesinambungan. Memberikan pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan

cara lain serta membantu berkembangnya efisiensi dan pengalaman belajar yang

lebih [Link] menggunakan alat peraga hendaknya guru memperhatikan

sejumlah prinsip tertentu agar penggunaan alat peraga tersebut dapat mencapai

hasil yang baik.

4. Kelebihan dan Kekurangan Penggunaan Alat Peraga

Menurut Russeffendi, kelebihan dan kekurangan penggunaan alat peraga

dalam pengajaran. Kelebihan penggunaan alat peraga antara lain sebagai berikut :

a. Menumbuhkan minat belajar siswa karena pelajaran menjadi lebih

menarik.

b. Memperjelas makna bahan pelajaran sehingga siswa lebih mudah

memahaminya

c. Metode mengajar akan lebih bervariasi sehingga siswa tidak akan mudah

bosan

d. Membuat lebih aktif melakukan kegiatan belajar seperti :mengamati,

melakukan dan mendemonstrasikan dan sebagainya.20

Disamping kelebihan, terdapat juga beberapa kelemahan sehubungan

dengan gerakan pengajaran alat peraga itu, antara lain terlalu menekankan

bahan-bahan peraganya sendiri dengan tidak menghiraukan kegiatan-kegiatan

lain yang berhubungan dengan desain, pengembangan, produksi, evaluasi, dan

pengelolaan bahan-bahan itu.

20
Ruseffendi, Pengajaran Matematika Modern Dan Masa Kini Untuk Guru Dan PGSD D2.
(Bandung: Tarsito, 2001), h. 227.
16

Adapun kekurangan penggunaan alat peraga menurut Russeffendi, adalah

sebagai berikut:

[Link] dengan memakai alat peraga lebih banyak menuntuk guru.

[Link] waktu yang diperlukan untuk persiapan.

[Link] kesediaan berkorban secara materil.21

E. Perbedaan Media Dan Alat Peraga

Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan

pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perhatian

dan minat siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi sedangkan alat

peraga adalah alat bantu pembelajaran yang dirancang, dibuat, dihimpun atau

disusun secara sengaja yang digunakan untuk membantu menanamkan atau

mengembangkan konsep-konsep atau prinsip-prinsip dalam matematika.

Perbedaan media dengan alat peraga terletak pada fungsinya dan bukan

pada substansinya. Suatu sumber belajar disebut alat peraga bila hanya berfungsi

sebagai alat bantu pembelajaran saja dan sumber belajar disebut media bila

merupakan bagian integral dari seluruh proses atau kegiatan. Media memiliki

tugas sebagai guru dan menjadi sumber belajar bagi peserta didiknya. Dengan

demikian media memiliki peran utama dalam keberhasilan pendidikan sedangkan

alat peraga hanya menjadi perantara dalam memudahkan penyampaian informasi

dari guru kepada peserta didiknya.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan alat peraga atau alat bantu

pembelajaran berupa kubus satuan untuk memperagakan konsep dari volume


21

Ibid.
17

kubus dan balok.

F. Materi Bangun Ruang

1. Kubus

Kubus merupakan salah satu bentuk bangun ruang atau dimensi tiga.

Kubus merupakan sebuah bangun ruang atau dimensi tiga yang semua sisinya

berbentuk persegi dan semua rusuknya sama panjang. Coba kita perhatikan

gambar berikut:

Gambar diatas dinamakan kubus [Link].

Dari gambar diatas tampak bahwa kubus memiliki unsur-unsur sebagai

berikut :

a. Sisi/Bidang kubus merupakan datar yang membatasi kubus. Kubus memiliki 6

buah sisi yang semuanya berbentuk persegi, yaitu sisi bawah = ABCD, sisi atas

= EFGH, sisi depan (ABFE), sisi belakang= CDHG, sisi kanan = ADHE, dan

sisi kiri = BCGF.

b..Titik Sudut merupakan titik potong antara tiga rusuk. Kubus ABCD. EFGH

memiliki 8 buah titik sudut, yaitu titik A, B, C, D, E, F, G, dan H.

c..Rusuk merupakan garis potong antara dua sisi bidang kubus. Kubus memiliki

12 buah rusuk, yaitu AB, BC, CD, DA, EF, FG, GH, HE, AE, BF, CG, dan
18

DH.

d. Diagonal Bidang merupakan garis yang menghubungkan dua titik sudut yang

saling berhadapan dalam satu sisi/bidang. Pada kubus [Link] terdapat 8

buah titik sudut yaitu : A, B, C, D, E, F, G, H.

e. Diagonal ruang merupakan HB yang menghubungkan dua titik sudut yang

saling berhadapan dalam satu ruang. Terdapat empat diagonal ruang yang sama

panjangnya dan saling berpotongan di tengah-tenagh yaitu AG = BH = CE =

DF.

f. Bidang diagonal merupakan bidang yang dibentuk oleh dua diagonal bidang

dan dua rusuk yang saling sejajar. Terdapat 6 buah bidang diagonal yaitu :

ACGE, BDHF, ABGH, CDEF, ADGF, BCHE.

Contoh Soal:

1. Panjang rusuk-rusuk sebuah kubus 4 cm. Hitunglah luas permukaan kubus

itu !

Jawab :

Dikt: s = 4 cm

Dit : Luas permukaan kubus = …………?

Penyelesaian :

Luas permukaan kubus = 6s²

= 6 x 4²

= 6 x 16

= 96 cm²

2. Tentukan volume kubus jika panjang rusuknya 4 cm.


19

Jawab : Dikt : s = 4 cm

Dit : V = …?

Penyelesaian : V = s x s x s

=4x4x4

= 64 cm³

2. Balok

Balok adalah bangun ruang tiga dimensi yang dibentuk oleh tiga

pasang persegi atau persegi panjang, dengan paling tidak satu pasang di

antaranya berukuran [Link] memiliki 6 sisi, 12 rusuk dan 8 titik

sudut. Balok yang dibentuk oleh enam persegi sama dan sebangun disebut

sebagai kubus. Jaring-jaring balok adalah gabungan dari beberapa persegi

panjang yang membentuk balok.

Ciri-ciri balok adalah sebagai berikut :

a. Balok merupakan bangun ruang yang dibatasi 6 persegi panjang dimana 3

persegi panjang kongruen.

b. Balok mempunyai 6 sisi berbentuk persegi panjang.

c. Balok mempunyai 3 pasang bidang sisi berhadapan yang kongruen.

d. Balok mempunyai 12 rusuk.

e. 4 buah rusuk yang sejajar sama panjang.


20

f. Balok mempunyai 8 titik sudut.

g. Jaring-jaring balok berupa 6 buah persegi panjang.


[[[[[

Contoh:

1. Tumpal ingin membuat sebuah jaring-jaring balok dari kertas karton dengan

ukuran panjang 16 cm, lebar 12 cm, dan tinggi 8 cm. Berapa luas kertas karton

yang dibutuhkan untuk membut jarring-jaring balok tersebut?

Jawab :

Dikt : p = 16 cm
l = 12 cm
t = 8 cm
Dit : Luas = ….?

Peny :

L = 2(pl + pt + lt)

= 2(16 x 12 + 16 x 8 + 12 x 8)

= 2(192 + 128 + 96)

= 2(414)

= 824 cm²

2. Tentukan volume balok yang berukuran panjang 16 cm, lebar 12 cm, dan

tinggi 8 cm!

Jawab : Dikt : p = 16 cm
l = 12 cm
t =8 cm
Dit : V = ….?

Peny : V = p x l x t

= 16 x 12 x 8

= 1.536 cm³
21

G. Pembelajaran Konvensional

Pembelajaran konvensional terdiri dari 2 kata, yaitu pembelajaran dan

konvensional. Pembelajaran adalah proses, perbuatan, cara mengajar atau

mengajarkan, sedangkan konvensional adalah kebiasaan, maka pembelajaran

konvensional adalah pembelajaran yang digunakan pada umumnya, misalnya

strategi pembelajaran ekspositori. Endro dalam Humas mengemukakan metode

konvensional adalah metode dimana guru tidak melakukan penyaluran

pengetahuan (transfer of knowledge) tetapi lebih kepada repetisi atau

pengulangan. “Otak siswa diminta untuk menghafal tetapi bukan menganalisis

secara kritis”.22 Sedangkan menurut Djamarah adalah pembelajaran konvensional

adalah metode pembelajaran tradisional atau disebut juga metode ceramah, karena

sejak dulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara

guru dengan siswa dalam proses belajar dan pembelajaran. 23 Adapun ciri-ciri

pembelajaran konvensional adalah sebagai berikut:

1. Mengandalkan pada hafalan.

2. Pemilihan informasi ditentukan oleh guru.

3. Cenderung terfokus pada bidang (disiplin) tertentu.

4. Memberikan kumpulan informasi kepada siswa sampai pada saatnya

diperlukan.

22
Humas, Metode Pengajaran Konvensional Sebabkan Siswa Kurang Berpikir kritis,
(Remaja Rosdakarya. 2011), hal. 1
23
Muhammad Kholid, Metode Pembelajaran Konvensional, (Pustaka Pelajar, 2012),
hal. 9
22

5. Penilaian hasil belajar hanya melalui kegiatan akademik berupa ujian atau

ulangan.

Dalam pembelajaran ini guru terlihat lebih aktif dari pada siswa atau

peserta didik, karena seluruh proses belajar mengajar didominasi oleh guru.

Dalam pembelajaran konvensional peran guru adalah menyiapkan pengetahuan

atau informasi kepada siswa, sedangkan peran siswa adalah menerima,

menyiapkan dan melakukan aktivitas-aktivitas lain yang sesuai dengan informasi

yang diberikan.

Berdasarkan pengertian dari beberapa ahli maka peneliti mengemukakan

bahwa pembelajaran konvensional adalah pembelajaran yang digunakan pada

umumnya dimana guru berperan sebagai pusat atau sumber ilmu pengetahuan

sedangkan siswa hanya menerima apa yang disampaikan guru.

H. Perbedaan pedagogik

Ada beberapa perbedaan antara pembelajaran menggunakan alat peraga

dengan pembelajaran konvensional yang selama ini banyak dilakukan guru, yaitu

sebagai berikut :

Tabel 2.1 Perbedaan pembelajaran menggunakan alat peraga dengan


pembelajaran konvensional
No Penggunaan alat peraga konvensional
1 Menempatkan peserta didik Menempatkan peserta didik sebagai
sebagai subjek belajar objek belajar
2 Pembelajarannya dikaitkan dengan Pembelajaran bersifat teoritis dan
kehidupan nyata melalui abstrak
penggalian pengalaman siswa
3 Kemampuan didasarkan atas Kemampuan diperoleh melalui
penggalian pengalaman latihan-latihan
4 Tujuan akhirnya adalah Tujuan akhir adalah penguasaan
23

kemampuan berpikir melalui materi pembelajaran


proses menghubungkan antara
pengalaman dengan kenyataan
5 Pengetahuan setiap individu selalu Pengetahuan yang dimiliki bersifat
berkembang sesuai dengan absolut dan final
pengalaman yang dialami
6 Keberhasilan ditentukan proses dan Keberhasilan pembelajaran hanya
hasil belajar diukur dari tes

I. Teori Belajar Yang Mendukung

“Teori belajar adalah deskriptif karena tujuan utamanya memberikan proses

belajar.” Adapun teori-teori belajar yang mendukung penggunaan alat peraga

adalah sebagai berikut :

1. Teori Belajar Bruner

Bruner mengemukakan 2 asumsi tentang belajar. Asumsi pertama adalah

bahwa perolehan pengetahuan merupakan suatu proses interaktif. Bruner yakin

bahwa siswa yang belajar berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, perubahan

tidak hanya terjadi di lingkungan, tapi juga dalam diri [Link] kedua adalah

bahwa siswa mengkonstruksi pengetahuannya dengan menghubungkan informasi

yang disimpan yang diperoleh sebelumnya.24 Dengan menghadapi aspek dari

lingkungan, siswa dapat menyusun hipotesis, struktur dan model.

Dengan model tersebut dapat menyusun hipotesis untuk memasukkan

pengetahuan baru ke dalam struktur-struktur itu. Bruner menyebutkan dalam

proses interaksi dengan lingkungan maka siswa mengembangkan model dalam

(inner model) atau system koding untuk menyajikan pengetahuan sebagaimana

diketahuinya. Pendekatan bruner terhadap belajar merupakan pendekatan katagori

24
Bansu I. Ansari, Komunikasi Matematik Konsep Dan Aplikasi, (Banda Aceh : Pena,
2009). H. 41-42
24

dimana semua interaksi pembelajaran dengan lingkungannya melibatkan katagori-

katagori yang dibutuhkan manusia.

Selain itu bruner juga menyarankan agar siswa hendaknya belajar melalui

partisipasi aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, agar mereka

dianjurkan untuk memperoleh pengalaman dan melakukan eksperimen-

eksperimen yang mengizinkan mereka untuk menemukan prinsip-prinsip itu

sendiri. Dari teori-teri diatas, dapat disimpulkan bahwa proses belajar terjadi

karena interaksi aktif dengan lingkungan, pendapat bruner sangat mendukung

dengan fungsi penggunaan alat peraga yaitu dengan menggunakan alat peraga

siswa akan lebih aktif berinteraksi, berfikir dan menghubungkan pengertahuan

sebelumnya yang akan menghasilkan pengetahuan yang baru. Hal ini

menyebabkan pengetahuan yang diperoleh lebih tahan lama serta menghasilkan

pemahaman konsep yang lebih baik.

Implikasi toeri ini dengan penggunaan alat peraga didalam pembelajaran

yaitu melalui penggunaan alat peraga siswa mampu menemukan sendiri rumus-

rumus atau konsep-konsep yang baru. melalui penggunaan alat peraga siswa dapat

menyaksikan langsung langkah-langkah penggunaannya sehingga siswa bisa

menemukan sendiri konsep-konsep suatu materi. Jadi teori ini sangat mendukung

terhadap penggunaan alat peraga didalam pembelajaran matematika, karena

melalui penggunaan alat peraga siswa mampu menemukan sendiri

pemahamannya.

2. Teori belajar Gestalt


25

Gestalt mengemukakan belajar adalah “ proses mengembangkan insight.

Insight adalah pemahaman terhadap hubungan antar bagian di dalam suatu situasi

permasalahan.25 Belajar Gestalt menekankan pemahaman atau insight dan

pengamatan sebagai suatu alternative. Berkat pengalaman siswa akan mampu

mencapai pemahaman yang objektif sebelum mencapai pengertian.

Dalam pelaksanaan pembelajaran menurut pendapat Gestalt, guru tidak

memberikan setengah-setengah atau bagian-bagian materi ajaran, tetapi selalu satu

kesatuan yang utuh. Guru memberikan suatu kesatuan situasi atau bahan yang

mengandung permasalahan-permasalahan, dimana anak harus harus berusaha

menemukan hubungan antar bagian, memperoleh insight agar anak dapat

memahami keseluruhan situasi atau materi ajaran tersebut. Berdasarkan pendapat

Gestalt diatas terlihat bahwa belajar itu dapat terjadi jika dihadapkan kepada

sebuah permasalahan atau persoalan yang harus dipecahkan. Serta belajar juga

melakukan pengamatan terhadap objek-objek yang kemudian mengaitkan

hubungan antar objek sehingga akan menghasilkan insight atau pemahaman.

Dengan demikian, teori ini sangat sesuai dengan penggunaan alat peraga

dimana dengan menggunakan alat peraga siswa akan melakukan pengamatan

secara langsung dan mengaitkan hubungan-hubungan yang ada sebelumnya

sehingga menghasilkan pemahaman dan dengan demikian pemahaman konsep

akan lebih mudah dipahami terhadap suatu permasalahan.

3. Teori Belajar Gagne


25
Wina Sanjaya, Kurikulum Dan Pembelajaran (Teori Dan Praktik Pengembangan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP )), (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008),
h. 242.
26

Menurut teori Gagne,” belajar dipandang sebagai pemecahan masalah,

mencari persepsi untuk membentuk medan kognitif, mencari cara-cara untuk

mengatasi hambatan-hambatan serta menyatukan pemahaman-pemahaman itu

terjadi ruang hidup baru yang telah diatur kembali.”26

Teori Gagne ini sesuai dengan konsep pembelajaran yang terdapat dalam

pembelajaran yang menggunakan alat peraga dimana hal-hal yang abstrak dapat

disajikan dalam bentuk model-model benda yang lebih konkrit dan dapat diamati

langsung oleh siswa. Sehingga siswa akan lebih mudah memahami konsep-konsep

dari suatu permasalahan yang terjadi.

J. Hasil Penelitian yang Relevan

Beberapa penelitian yang berkaitan dengan permasalahan dalam penelitian

ini antara lain salah satu penelitian yang dilakukan oleh Faryati dengan judul

penelitian “Upaya Peningkatan Hasil Belajar Murid pada Konsep Sistem Alat

Pencernaan Makanan pada Manusia dengan Menggunakan Alat Peraga pada

Murid Kelas V SD Negeri 2 Blang Mangat.” Hasil penelitian menjelaskan bahwa

hasil tes siklus I siswa yang tuntas belajarnya hanya52,38% dan yang tidak tuntas

47,62%, sementara pada siklus II terjadi peningkatan yang sangat tinggi yaitu

95,23% siswa yang mencapai ketuntasan dan hanya 4,67% dari 21 siswa yang

masih belum tuntas yaitu sebanyak 1 siswa. Respon siswa pada siklus I masih

banyak yang tidak senang dengan menggunakan alat peraga karena metode

tersebut masih baru bagi mereka sehingga sulit untuk [Link] pada

siklus II kebanyakan siswa senang dengan penggunaan alat peraga tersebut. Dari

26
Gagne, Teori-teori Belajar, (Jakarta: Depdikbud, 1998), h. 20
27

hasil penelitian juga dijelaskan melalui penggunaan alat peraga hasil belajar siswa

murid kelas V SD Negeri 2 Blang Mangat pada materi Sistem Alat Pencernaan

Makanan pada Manusia.27

Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Muzakir dengan judul

penelitian “Penggunaan Alat Peraga Dalam Meningkatkan Hasil Belajar

Matematika Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Nisam” Hasil penelitian

membuktikan bahwa penggunaan alat peraga dapatmeningkatkan pemahaman

konsep siswa pada pelajaran matematika di Kelas VII SMP Negeri 1 Nisam. Hasil

observasi di lapangan menunjukkan bahwaprestasi mengalami peningkatan dari

pre test ke post test yang semula nilai ratarata56 % meningkat siklus ke siklus.

Untuk siklus I nilai rata-rata 60.5 % , siklusII nilai rata-rata 72.6 % dan siklus III

nilai rata-rata 81.3 %. Berdasarkan pengujian hipotesis bahwa penggunaan alat

peraga dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa Kelas VII SMP

Negeri 1 Nisam28.

Berdasarkan penelitian yang sudah diteliti diatas, maka peneliti terdorong

untuk melakukan penelitian tentang penggunaan Alat Peraga. Adapun yang

membedakan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah terhadap

kemampuan pemahaman konsep matematis dan pada penggunaan alat peraga.

Dari hasil penelitian yang sebelumnya maka peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian tentang pemahaman konsep matematis siswa. Maka judul dalam

27
Faryati, Upaya Peningkatan Hasil Belajar Murid pada Konsep Sistem Alat Pencernaan
Makanan pada Manusia dengan Menggunakan Alat Peraga pada Murid Kelas V SD Negeri 2
Blang Mangat. (Skripsi: Universitas Al-Muslim Matanggulumpangdua Bireuen, 2014).
28
Muzakir, Penggunaan Alat Peraga Dalam Meningkatkan hasil belajar Matematika Siswa
Kelas VII SMP Negeri 1 Nisam, (Skripsi : STAIN Malikussaleh, 2011).
28

penelitian ini adalah Pengaruh Penggunaan Alat Peraga Terhadap Kemampuan

Pemahaman Konsep Matematis pada Siswa MIN Geudong Aceh Utara.

K. Hipotesis Penelitian
19

Hipotesis merupakan jawaban sementara dari seorang peneliti dan

kebenaran dari hipotesis tersebut membutuhkan suatu pembuktian. Seperti yang

dikemukakan oleh M. Burhan Bungin, hipotesis penelitian adalah “pernyataan

sementara terhadap hasil penelitian.29

Adapun hipotesis yang diajukan didalam penelitian ini adalah “Ada

pengaruh penggunaan alat peraga terhadap kemampuan pemahaman konsep

matematis pada materi bangun ruang pada siswa kelas V MIN Geudong Aceh

Utara”.

29
M. Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Kuantitatif : Komunikasi, Ekonomi, dan
Kebijakan Publik Serta Ilmu-ilmu Sosial Lainnya, Edisi Pertama, (Jakarta: Kencana, 2006), h. 92.
29

Anda mungkin juga menyukai