0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan10 halaman

CAPM vs APT: Akurasi Prediksi Return Saham

Diunggah oleh

Adriyan Airul Putra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan10 halaman

CAPM vs APT: Akurasi Prediksi Return Saham

Diunggah oleh

Adriyan Airul Putra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ISSN: 2338-8412 e-ISSN : 2716-4411

Jurnal Ekombis Review – Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Bisnis


Available online at : [Link]
DOI: [Link]

Analisis Keakuratan Capital Asset Pricing Model Dan Arbitrage Pricing Theory Dalam
Memprediksi Return Saham
(Studi Pada Perusahaan LQ 45 Di Bursa Efek Indonesia Periode 2016-2020)

Yudi Partama Putra 1) Hesti Setiorini 2) Chairul Suhendra3)


1)2,3) Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Bengkulu
Email: 1) akoe_yudi94@[Link] 3)[Link]@[Link]

How to Cite :
Putra, Y.P., Setiorini H., Suhendra, C. (2023). Analisis Keakuratan Capital Asset Pricing Model Dan Arbitrage
Pricing Theory Dalam Memprediksi Return Saham (Studi Pada Perusahaan LQ 45 Di Bursa Efek
Indonesia Periode 2016-2020). EKOMBIS REVIEW: Jurnal Ilmiah Ekonomi Dan Bisnis, 11 (1). doi:
[Link]

ABSTRAK
ARTICLE HISTORY
Penelitian ini didasari oleh perkembangan dunia investasi yang begitu pesat
Received 13 November 2022]
namun sebagian besar investor memiliki keterbatasan kemampuan dan
Revised [25 Desember 2022]
Accepted [04 Januari 2023] strategi dalam berinvestasi maka dari itu dibutuhkan metode dan konsep
yang penting untuk menilai tingkat keuntungan dari suatu investasi dengan
berbagai faktor-faktor risiko yang ada. Penelitian ini berfokus pada
perbandingan keakuratan antara metode Capital Asset Pricing Model
(CAPM) dan Arbitrage Pricing Theory (APT) dalam memprediksi return
KEYWORDS saham perusahaan indeks LQ 45 periode 2016-2020. Tujuan penelitian ini
Stock Returns, Capital Asset adalah untuk mengetahui metode mana yang lebih tepat dalam
Pricing Model (CAPM) and memprediksi return saham perusahaan. Ketepatan metode CAPM dan APT
Arbitrage Pricing Theory diukur menggunakan Mean Absolute Deviation (MAD).Uji Independent
(APT). Sample T-test digunakan untuk megetahui apakah terdapat perbedaan
akurasi antara metode CAPM dan APT dalam memprediksi return saham.
Dengan menggunakan perhitungan dari Mean Absolute Deviation hasil
This is an open access article under penelitian menunjukkan bahwa metode APT lebih akurat dibanding metod
the CC–BY-SA license CAPM dalam memprediksi return saham. Hal ini dikarenakan nilai MAD APT
(0,000246) lebih kecil dari nilai MAD CAPM (0,003739) dan berdasarkan
pengolahan data dari uji Independent Sample T-test menunjukkan bahwa
H0 ditolak, yang artinya terdapat perbedaan akurasi yang signifikan antara
model CAPM dan APT dalam memprediksi return saham perusahaan.

ABSTRACT
This study is based on the rapid development of the investment world. Hence,
most investors have limited abilities and strategies in investing, therefore it takes
important methods and concepts to assess the level of profit from an investment
with various existing risk factors. This study focuses on the comparison of the
accuracy between the Capital Asset Pricing Model (CAPM) and Arbitrage Pricing
Theory (APT) methods in predicting stock returns of LQ 45 index companies for
the 2016-2020 period. This study aimed to determine which method was more
appropriate in predicting the company's stock returns. The accuracy of the
CAPM and APT methods was measured by using the Mean Absolute Deviation
(MAD). The Independent Sample T-test was used to determine whether there was
a difference in accuracy between the CAPM and APT methods in predicting stock
returns. The results of this study show that by using the calculation of the Mean
Absolute Deviation, the APT method is more accurate than the CAPM method in

Jurnal Ekombis Review, Vol. 11 No. 1, Januari 2023 page: 839 – 848| 839
ISSN: 2338-8412 e-ISSN : 2716-4411

predicting stock returns. The MAD APT value (0.000246) is smaller than the MAD
CAPM value (0.003739) and based on data processing from the Independent
Sample T-test shows that H0 is rejected, which means that there is a significant
difference in accuracy between the CAPM and APT models particularly in
predicting the company's stock return.

PENDAHULUAN

Perkembangan dunia investasi di Indonesia semakin pesat. Banyaknya masyarakat yang


tertarik dan masuk ke bursa untuk melakukan investasi menambah semakin berkembangnya dunia
investasi (Yadnya & Putra, 2016). Investasi dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, tergantung
minat dan kemampuan investor dalam menanggung risiko. Diantara jenis instrumen investasi yang
ditawarkan, saham merupakan salah satu instrumen invetasi yang cukup diminati oleh masyarakat.
Saham merupakan bukti penyertaan modal pada sebuah perusahaan, dengan membeli saham
suatu perusahaan, berarti investor menginvestasikan modal atau dana yang nantinya digunakan
untuk membiayai operasional perusahaan (Jogiyanto, 2015). Saham menjadi instrumen investasi
yang populer dan menarik cukup banyak investor dikarenakan imbal hasil yang diperoleh lebih
tinggi dari instrumen investasi lainnya. Rata-rata investor menyukai pengembalian yang tinggi, tetapi
tidak menyukai risiko. Investasi dengan risiko lebih tinggi perlu menawarkan pengembalian yang
diharapkan tinggi kepada para investor (Eugene & Joel, 2018). Harga saham secara universal diyakini
bereaksi secara sensitif terhadap berita ekonomi. Harga saham individu dipengaruhi oleh berbagai
macam peristiwa tak terduga dan bahwa beberapa peristiwa memiliki pengaruh yang cukup
signifikan terhadap harga saham (Insania, 2020). Seorang investor sebelum memilih untuk
berinvestasi dalam bentuk saham harus memperhatikan terlebih dahulu bahwa investasi yang
dipilih itu tepat. Dalam dunia investasi para investor harus mampu melihat peluang investasi yang
menjanjikan, sehingga nantinya investasi tersebut dapat menghasilkan tingkat pengembalian yang
optimal dengan tingkat risiko yang minimal (Hidayati, 2018). Terdapat beberapa metode peramalan
untuk memprediksi tingkat pengembalian atas investasi saham. Pada penelitian ini dikhususkan
pada pendekatan dengan menggunakan metode Capital Asset Pricing Model dan Arbitrage Pricing
Theory.
Model CAPM (Capital Asset Pricing Model) atau sering disebut dengan model penentuan
harga aset modal dikembangkan oleh Treynor, Sharpe, Litner, dan Mossin (Eugene & Joel, 2018).
Capital Asset Pricing Model merupakan model keseimbangan yang menggambarkan hubungan
suatu risiko dengan return yang diukur oleh beta (Lipiec, 2014). Koefisien beta berfungsi untuk
mengukur kecenderungan saham bergerak naik dan turun mengikuti pasar. Tujuan utama dari
penerapan CAPM adalah untuk menentukan tingkat expected return dalam meminimalisir investasi
yang berisiko. CAPM dapat membantu investor dalam menghitung risiko yang relevan terhadap
saham. Risiko relevan adalah risiko yang tetap ada meskipun saham telah ada dalam portofolio
yang terdiversifikasi. Risiko ini diukur berdasarkan sejauh mana saham tersebut bergerak naik atau
turun mengikuti pasar (Eugene & Joel, 2018). Namun model penetapan aset modal (CAPM) bukan
sekedar teori abstrak. Model ini memiliki daya tarik intuitif yang sangat besar dan digunakan secara
luas oleh para analis, investor, dan perusahaan. Beberapa studi yang telah dilakukan belakangan ini
meningkatkan kekhawatiran tentang validitasnya. Maka dari itu sebagai alternatif dari metode
CAPM, para peneliti dan praktisi mengembangkan model dengan variabel-variabel yang lebih
relevan. Metode peramalan mutivariabel memberikan generalisasi yang menarik atas pandangan
Capital Asset Pricing Model. Dalam model multivariabel (banyak faktor), risiko dianggap disebabkan
oleh beberapa faktor yang berlainan berbeda dengan CAPM yang mengukur risiko hanya relatif
terhadap pengembalian dari portofolio pasar. Model multivariabel ini mencerminkan langkah
kedepan yang penting dan potensial dalam teori ilmu keuangan. Salah satu model multivariabel
yang mencoba menutupi kekurangan dari model Capital Asset Pricing Model (CAPM) adalah model
Arbitrage Pricing Theory (APT) (Bodie dkk, 2019).

840 | Yudi Partama Putra, Hesti Setiorini, Chairul Suhendra; Analisis Keakuratan...
ISSN: 2338-8412 e-ISSN : 2716-4411

Model APT (Arbitrage Pricing Theory) atau juga disebut sebagai teori penetapan harga
arbitrase dikembangkan oleh Stephen A Ross. Model ini pertama kali dikembangkan untuk
mencoba menghilangkan kekurangan yang terjadi pada Capital Asset Pricing Model (Bodie dkk,
2019). Model ini juga menggambarkan hubungan antara risiko dan return, tetapi dengan asumsi
dan prosedur yang berbeda. Model APT menggunakan banyak variabel pengukur risiko untuk
melihat hubungan risiko dan return yang berbeda dengan model CAPM (Kisman & Restiyanita,
2015). Perbedaan mendasar antara metode APT dan CAPM yaitu pada metode APT terdapat lebih
dari satu faktor makro ekonomi yang mempengaruhi tingkat pengembalian saham, sedangkan pada
model CAPM tingkat pengembalian saham hanya dipengaruhi oleh satu faktor makro ekonomi saja
yaitu risiko pasar (Jayaprana, 2014). Penelitian ini akan dilakukan di Bursa Efek Indonesia (BEI)
khususnya pada saham-saham perusahaan yang terdaftar di indeks LQ 45 periode 2016-2020.
Alasan penulis memilih kelompok saham perusahaan yang termasuk dalam indeks LQ 45 yaitu
karna indeks LQ 45 adalah indeks yang mengukur kinerja harga dari 45 saham perusahaan yang
memiliki likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar serta didukung oleh fundamental perusahaan
yang baik. Kelompok saham yang dipilih dalam penelitian ini terdiri dari 45 perusahaan yang
sahamnya berlikuiditas tinggi serta sesuai dengan kriteria pemilihan yang ditetapkan.
Penelitian yang dilakukan oleh Muhammad & Maulana (2019) dengan menggunakan metode
Capital Asset Pricing Model (CAPM) dan Arbitrage Pricing Theory (APT) dalam memprediksi return
saham. Dimana sampel yang di uji adalah saham perusahaan perbankan di Bursa Efek Indonesia
periode tahun 2014-2018. Dapat disimpulkan bahwa model CAPM lebih akurat dalam memprediksi
return saham sektor perbankan daripada model APT dan berdasarkan pengolahan data dengan
Independent Sample T-test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan akurasi antara Capital Asset
Pricing Model dengan Arbitrage Pricing Theory dalam memprediksi return saham sektor perbankan.
Berdasarkan dari hasil penelitian yang memberikan kesimpulan yang berbeda atas
penelitian satu dengan penelitian yang lainnya. Penulis tertarik untuk mengadakan penelitian lebih
lanjut. Dalam menghitung tingkat pengembalian saham dengan menggunakan metode Arbitrage
Pricing Theory (APT) penulis menggunakan faktor makro ekonomi berupa inflasi, tingkat suku bunga
(SBI), dan nilai tukar. Faktor tersebut diambil berdasarkan penelitian empiris yang dilakukan oleh
(Paulina dkk, 2017). Pada metode Capital Asset Pricing Model (CAPM) faktor risiko yang digunakan
yaitu risiko pasar.

LANDASAN TEORI

Investasi
Investasi merupakan komitmen dari uang atau sumber daya lainnya dengan harapan
memperoleh keuntungan di masa depan (Bodie dkk, 2019). Investasi dapat dilakukan dalam
berbagai bentuk tergantung minat dan kemampuan investor dalam menanggung risiko. Hal ini
dikarenakan, keuntungan yang didapat dan risiko yang ditanggung selalu berbanding lurus.
Semakin tinggi risiko dari investasi maka semakin tinggi pula tingkat pengembalian yang diminta
oleh investor (Nuzula & Nurlaily, 2020). Investasi merupakan sebuah alternatif untuk meningkatkan
nilai aset di masa yang akan datang. Setiap pilihan investasi mempunyai tingkat keuntungan dan
juga risiko yang berbeda-beda.

Capital Asset Pricing Model (CAPM)


Model CAPM (Capital Asset Pricing Model) atau sering disebut dengan model penentuan
harga aset modal merupakan sebuah model yang dikembangkan oleh Treynor, Sharpe, Litner, dan
Mossin (Bodie dkk, 2019). Model CAPM merupakan pengembangan teori portofolio yang dikemukan
oleh Markowitz dengan memperkenalkan istilah risiko sistematik (systematic risk) dan risiko tidak
sistematik (unsystematic risk) (Eugene & Joel, 2018). Model CAPM merupakan model keseimbangan
yang menggambarkan hubungan suatu risiko dengan return secara lebih sederhana karena hanya
menggunakan satu sumber risiko yang digambarkan dengan beta (β). Tujuan utama dari penerapan

Jurnal Ekombis Review, Vol. 11 No. 1, Januari 2023 page: 839 – 848| 841
ISSN: 2338-8412 e-ISSN : 2716-4411

CAPM adalah untuk menentukan tingkat expected return dalam meminimalisir investasi yang
berisiko (Singh, 2008). Menurut (Bodie dkk, 2019) pengujian empiris terdahap model dari CAPM
dapat dituliskan yaitu, sebagai berikut:

E(Ri) = Rf +β [R(m) - Rf]


Dimana:
E(Ri) = Tingkat pendapatan yang diharapkan dari sekuritas i.
𝑅f = Tingkat pendapatan bebas risiko.
E(Rm) = Tingkat pendapatan yang diharapkan dari portofolio pasar.
𝛽i beta = Tolak ukur (benchmark) risiko yang tidak bisa terdiversifikasi.

Arbitrage Pricing Theory (APT)


Arbitrage Pricing Theory (APT) merupakan teori yang dirumuskan oleh Stephen A. Ross pada
tahun 1976. Model ini pertama kali dikembangkan untuk mencoba menghilangkan kekurangan yang
terjadi pada model CAPM (Paulina dkk, 2017). Model APT (Arbitrage Pricing Theory) atau juga
disebut sebagai teori penetapan harga arbitrase menggambarkan hubungan antara risiko dan
return, tetapi dengan asumsi dan prosedur yang berbeda (Nugraha, 2020). Pendekatan APT dalam
menentukan harga aset mencoba menjelaskan bahwa selain faktor pasar ada juga faktor non pasar
yang menyebabkan harga saham bergerak bersama. Model APT menggunakan banyak variabel
pengukur risiko untuk melihat hubungan antara risiko dan return (Kisman & Restiyanita, 2015).
Model APT ini didasarkan pada hukum satu harga (The Law of One Price) dimana aset yang sama
tidak bisa dijual dengan harga yang berbeda untuk mendapatkan keuntungan arbitrase (membeli
aset berharga murah, pada saat yang sama menjual dengan harga yang lebih tinggi sehingga
memperoleh laba tanpa risiko) (Muhammad & Maulana, 2019). Model Arbitrage Pricing Theory
mengasumsikan bahwa return sekuritas merupakan fungsi linear dari berbagai faktor makro
ekonomi dan sensitivitas perubahan setiap faktor dinyatakan oleh koefisien beta masing-masing
faktor tersebut dan tidak oleh risiko unik. Tidak ada pedoman teoritis yang dapat menjelaskan
faktor-faktor yang digunakan dalam teori penetapan harga arbitrase. Namun penelitian yang
dilakukan oleh (Jayaprana, 2014) memberikan instruksi yang baik dan sederhana tentang faktor
risiko yang sah yang dapat menjadi kriteria untuk digunakan dalam teori penetapan harga arbitrase.
Menurut (Yunita, 2017) pengujian empiris terhadap model dari Arbitrage Pricing Theory (APT) dapat
dirumuskan yaitu, sebagai berikut:

E(Rᵢ) = Rf+β1,ᵢ F1 + β2,ᵢ F2 + β3,ᵢ F3 + ɛᵢ


Keterangan:
E(Rᵢ) : Return harapan pada sekuritas i
Rf : Risk Free
F1 : Pertumbuhan inflasi
F2 : Tingkat suku bunga
F3 : Perubahan suku bunga bebas risiko (SBI)
β 1,2,..n : Sensitivitas return saham terhadap suatu faktor
F1,2,…n : Faktor yang mempengaruhi pendapatan pada periode ke n
ɛᵢ : error

METODE PENELITIAN

Populasi dan Sampel


Populasi dari penelitian ini adalah seluruh saham-saham perusahaan yang konsisten masuk
ke dalam indeks LQ 45 di Bursa Efek Indonesia (BEI) yaitu berjumlah 45 perusahaan. Berdasarkan
kriteria yang telah ditetapkan, terdapat 26 perusahaan yang memenuhi karakteristik sebagai sampel

842 | Yudi Partama Putra, Hesti Setiorini, Chairul Suhendra; Analisis Keakuratan...
ISSN: 2338-8412 e-ISSN : 2716-4411

penelitian ini. Metode analisis data dalam pengujian ini adalah dengan metode peramalan
menggunakan metode double exponential smoothing dari brown.

No Variabel Definisi Pengukuraan


1 β (beta) Risiko sistematis yang
mempengaruhi return
2 R (m) Tingkat pengembalian pasar

3 Rf Tingkat suku bunga bebas risiko


(SBI)
4 β12,..n Sensitivitas return saham
terhadap suatu faktor
5 F12,..n Faktor yang mempengaruhi
pendapatan pada period eke n

6 F1 Selisih tingkat inflasi


sesungguhnya dengan tingkat
inflasi yang diharapkan
7 F2 Selisih tingkat suku bunga
sesungguhnya dengan tingkat
suku bunga yang diharapkan
8 F3 Selisih tingkat kurs
sesungguhnya dengan tingkat
kurs yang diharapkan

HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis Statistik Deskriptif


Tabel 1. Panel A: Expected Return dengan Metode CAPM
Nomor Nama Perusahaan Beta CAPM
1 AKR Corporindo Tbk 1.7594 0.2188
2 Astra International Tbk 1.5984 0.2180
3 Bank Negara Indonesia Tbk 1.9982 0.2201
4 Bank Rakyat Indonesia Tbk 1.4313 0.2171
5 Bank Tabungan Negara Indonesia Tbk 2.3084 0.2218
6 Bank Mandiri Tbk 1.4838 0.2173
7 Bumi Serpong Damai Tbk 1.6726 0.2184
8 Aneka Tambang Tbk 1.9957 0.2201
9 H.M. Sampoerna Tbk 1.1721 0.2157
10 Gudang Garam Tbk 0.9826 0.2147
11 Indofood CBP Sukses Makmur Tbk 0.3474 0.2113
12 Vale Indonesia Tbk 1.5958 0.2179
13 Indofood Sukses Makmur Tbk 0.6612 0.2129
14 Bank Sentral Asia Tbk 0.9517 0.2145
15 Indocement Tunggal Prakarsa Tbk 1.3946 0.2169
16 PP (Persero) Tbk 3.9752 0.2307

Jurnal Ekombis Review, Vol. 11 No. 1, Januari 2023 page: 839 – 848| 843
ISSN: 2338-8412 e-ISSN : 2716-4411

17 Jasa Marga Tbk 1.5602 0.2178


18 Kalbe Farma Tbk 0.7790 0.2136
19 Media Nusantara Tbk 1.8809 0.2195
20 Perusahaan Gas Negara Tbk 2.4880 0.2227
21 Bukit Asam Tbk 1.1199 0.2154
22 Semen Indonesia Tbk 1.6411 0.2182
23 Telekomunikasi Indonesia Tbk 0.7446 0.2134
24 Unilever Indonesia Tbk 0.4677 0.2119
25 United Tractors Tbk 0.7767 0.2136
26 Wijaya Karya Tbk 2.4825 0.2227

Dari tabel diatas, menunjukkan bahwa besarnya expected return (E(Ri)) dari setiap jenis
saham mengikuti besarnya tingkatan risiko beta (β). Saham Indofood CBP Sukses Makmur Tbk
(ICBP) memiliki beta paling rendah yaitu sebesar 0,3474 dan expected return juga paling rendah
yaitu sebesar 0.2113. Sedangkan saham perusahaan PP (Persero) Tbk memiliki beta paling tinggi
yaitu sebesar 3,9752 dan expected return juga paling tinggi yaitu sebesar 0.2307. Selain itu dapat
pula dilihat saham mana yang undervalued atau yang sudah overvalued. Berdasarkan pada tabel
diatas dapat dilihat bahwa saham yang memiliki nilai (E(Ri)) lebih rendah daripada nilai average
return (Ri) maka saham perusahaan tersebut termasuk saham yang undervalued atau saham yang
mempunyai tingkat pengembalian saham individu lebih besar dari tingkat pengembalian yang
diharapkan sehingga berdasarkan perhitungan dengan menggunakan metode CAPM saham
perusahaan tersebut layak untuk dimiliki atau dibeli. Sebaliknya saham perusahaan yang nilai (E(Ri))
lebih tinggi daripada nilai average return (Ri) maka saham perusahaan tersebut termasuk saham
yang overvalued atau saham yang mempunyai tingkat pengembalian saham individu lebih kecil dari
tingkat pengembalian yang diharapkan, tetapi jika (E(Ri)) lebih besar daripada risk free (Rf) maka
untuk seorang investor yang memiliki tipe risk averse (penghindar risiko) saham perusahaan
tersebut masih layak untuk dimiliki atau dibeli namun bagi investor dengan tipe risk seeker (pencari
risiko) saham perusahaan tersebut tidak layak untuk dibeli ataupun dimiliki meskipun expected
return (E(Ri)) diatas risk free (Rf), namun masih dibawah rata-rata tingkat pengembalian aktual (Ri)
dari saham tersebut.

Tabel 2. Panel B: Expected Return dengan Metode APT


No Nama Perusahaan Ri E(Ri)APT
1 AKR Corporindo Tbk -0,0892 0,0039
2 Astra International Tbk 0,0024 0,0033
3 Bank Negara Indonesia Tbk -0,0034 0,0066
4 Bank Rakyat Indonesia Tbk 0,0073 0,0053
5 Bank Tabungan Negara Indonesia Tbk -0,0094 0,0092
6 Bank Mandiri Tbk 0,0008 0,0050
7 Bumi Serpong Damai Tbk -0,0111 0,0065
8 Aneka Tambang Tbk 0,0166 0,0082
9 H.M. Sampoerna -0,0205 0,0017
10 Gudang Garam Tbk -0,009 0,0019
11 Indofood CBP Sukses Makmur Tbk 0,003 0,0013
12 Vale Indonesia Tbk 0,0115 0,0036
13 Indofood Sukses Makmur Tbk -0,0006 0,0019
14 Bank Sentral Asia Tbk 0,0146 0,0029

844 | Yudi Partama Putra, Hesti Setiorini, Chairul Suhendra; Analisis Keakuratan...
ISSN: 2338-8412 e-ISSN : 2716-4411

15 Indocement Tunggal Prakarsa Tbk -0,0106 0,0044


16 PP (PERSERO) Tbk -0,0283 0,0117
17 Jasa Marga Tbk -0,0109 0,0052
18 Kalbe Farma Tbk -0,0003 0,0010
19 Media Nusantara Tbk -0,0113 0,0066
20 Perusahaan Gas Negara Tbk -0,0203 0,0081
21 Bukit Asam Tbk 0,0129 0,0038
22 Semen Indonesia Tbk -0,0035 0,0051
23 Telekomunikasi Indonesia Tbk -0,0021 0,0018
24 Unilever Indonesia Tbk -0,0017 0,0004
25 United Tractors Tbk 0,0033 0,0023
26 Wijaya Karya Tbk -0,0191 0,0101

Dari tabel diatas menunjukkan bahwa perusahaan yang memiliki expected return paling
rendah dengan menggunakan metode APT yaitu expected return saham perusahaan UNVR sebesar
0,00004 dan expected return yang paling tinggi adalah saham perusahaan PTPP yaitu sebesar
0,0117. Selain itu dapat pula dilihat saham mana yang undervalued atau yang sudah overvalued.
Berdasarkan pada tabel diatas dapat dilihat bahwa saham yang memiliki nilai (E(Ri)) lebih rendah
daripada nilai average return (Ri) maka saham perusahaan tersebut termasuk saham yang
undervalued atau saham yang mempunyai tingkat pengembalian saham individu lebih besar dari
tingkat pengembalian yang diharapkan sehingga berdasarkan perhitungan dengan menggunakan
metode APT saham perusahaan tersebut layak untuk dimiliki atau dibeli. Seperti saham perusahaan
BBRI, ANTM, ICBP, INCO, BBCA, PTBA, UNTR. Sebaliknya saham perusahaan yang nilai (E(Ri)) lebih
tinggi daripada nilai average return (Ri) maka saham perusahaan tersebut termasuk saham yang
overvalued atau saham yang mempunyai tingkat pengembalian saham individu lebih kecil dari
tingkat pengembalian yang diharapkan tetapi jika (E(Ri)) lebih besar daripada risk free (Rf) maka
untuk seorang investor yang memiliki tipe risk averse (penghindar risiko) saham perusahaan
tersebut masih layak untuk dimiliki atau dibeli namun bagi investor dengan tipe risk seeker (pencari
risiko) saham perusahaan tersebut tidak layak untuk dibeli ataupun dimiliki meskipun expected
return (E(Ri)) diatas nilai risk free (Rf), namun masih dibawah rata-rata tingkat pengembalian aktual
(Ri) dari saham tersebut.

Tabel 3. Mean Absolute Deviation (MAD)


No Nama Perusahaan MAD CAPM MAD APT
1 AKR Corporindo Tbk 0.005134 0.001552
2 Astra International Tbk 0.003593 0.000014
3 Bank Negara Indonesia Tbk 0.003725 0.000166
4 Bank Rakyat Indonesia Tbk 0.003496 0.000033
5 Bank Tabungan Negara Indonesia Tbk 0.003853 0.000310
6 Bank Mandiri Tbk 0.003609 0.000070
7 Bumi Serpong Damai Tbk 0.003824 0.000293
8 Aneka Tambang Tbk 0.003391 0.000140
9 H.M. Sampoerna Tbk 0.003937 0.000371
10 Gudang Garam Tbk 0.003728 0.000182
11 Indofood CBP Sukses Makmur Tbk 0.003471 0.000028
12 Vale Indonesia Tbk 0.003441 0.000131
13 Indofood Sukses Makmur Tbk 0.003559 0.000042

Jurnal Ekombis Review, Vol. 11 No. 1, Januari 2023 page: 839 – 848| 845
ISSN: 2338-8412 e-ISSN : 2716-4411

14 Bank Sentral Asia Tbk 0.003332 0.000194


15 Indocement Tunggal Prakarsa Tbk 0.003791 0.000251
16 PP (PERSERO) Tbk 0.004317 0.000667
17 Jasa Marga Tbk 0.003811 0.000269
18 Kalbe Farma Tbk 0.003564 0.000022
19 Media Nusantara Tbk 0.003846 0.000299
20 Perusahaan Gas Negara Tbk 0.004050 0.000473
21 Bukit Asam Tbk 0.003375 0.000152
22 Semen Indonesia Tbk 0.003695 0.000144
23 Telekomunikasi Indonesia Tbk 0.003591 0.000065
24 Unilever Indonesia Tbk 0.003560 0.000034
25 United Tractors Tbk 0.003504 0.000016
26 Wijaya Karya Tbk 0.004030 0.000487
Total Rata-rata 0.003739 0.000246

Untuk melihat metode mana yang lebih baik dalam menghitung return saham perusahaan,
maka akan dilihat nilai Mean Absolute Deviation (MAD) dari kedua model tersebut. Berdasarkan
tabe 4.14, secara keseluruhan rata-rata nilai MAD_CAPM lebih besar yaitu 0.003739 dari nilai
MAD_APT yang hanya sebesar 0.000246. Hal ini menunjukkan bahwa metode Arbitrage Pricing
Theory (APT) lebih baik dibandingkan metode Capital Asset Pricing Model (CAPM) dalam
memprediksi return saham perusahaan.

Tabel 4. Uji Normalitas


One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
MAD_AP MAD_CAPM
T
N 26 26
Test Statistic ,133 ,131
Asymp. Sig. (2-tailed) ,200c,d ,200c,d

Dapat dilihat pada tabel 4.15 bahwa data terdistribusi normal, baik nilai MAD CAPM 0,200 >
0,005 dan nilai MAD APT 0,200 > 0,005. Karena data terdistribusi normal maka dapat dilakukan uji
beda t test.

Tabel 5. Uji Independent Sample T-test


Levene's Test for
t-test for Equality of Means
Equality of Variances

F Sig. T Df Sig. (2-tailed)

Equal variances assumed 15,517 ,000 23,936 50 ,000


Nilai
Equal variances not
MAD 23,936 29,707 ,000
assumed

Berdasarkan pengolahan data dengan menggunakan program SPSS 24 yang dapat dilihat
pada tabel 5., hasil dari Levene’s Test didapat nilai sig (p) = 0,000 yang lebih kecil dari nilai α = 0,05,
maka H0 ditolak yang artinya terdapat perbedaan akurasi yang signifikan antara Capital Asset

846 | Yudi Partama Putra, Hesti Setiorini, Chairul Suhendra; Analisis Keakuratan...
ISSN: 2338-8412 e-ISSN : 2716-4411

Pricing Model dan Arbitrage Pricing Theory dalam memprediksi return saham. Hal ini sesuai dengan
hasil penelitian yang dilakukan oleh Fibriantiwi dkk (2019) tentang Analisis Keakuratan Capital Asset
Pricing Model (CAPM) dan Arbitrage Pricing Theory (APT) dalam Memprediksi Return Saham Industri
Pertambangan di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2015-2017 menjelaskan bahwa terdapat
perbedaan yang signifikan antara Capital Asset Pricing Model (CAPM) dan Arbitrage Pricing Theory
(APT) dalam memprediksi return saham industri pertambangan di Bursa Efek Indonesia periode
tahun 2015-2017. Serta didukung pula dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Kisman &
Restiyanita, 2015) yang berjudul The Validity of Capital Asset Pricing Model (CAPM) and Arbitrage
Pricing Theory (APT) In Predicting The Return of Stocks In Indonesia Stock Exchange 2008-2010 yang
menyatakan bahwa terdapat perbedaan akurasi yang signifikan antara metode CAPM dan APT
dalam memprediksi return dan risiko saham perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
periode tahun 2008-2010.

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
Penelitian ini bertujun untuk menganalisis perbedaan akurasi antara model CAPM dan APT
dalam memprediksi return saham perusahaan indeks LQ 45 periode tahun 2016 - 2020 serta
menganalisis tentang keakuratan model CAPM dan APT dalam memprediksi return saham indeks
LQ 45 periode tahun 2016-2020. Adapun kesimpulan yang dapat diambil dalam penelitian ini
adalah:
1. Return saham perusahaan indeks LQ 45 dihitung dengan metode CAPM yang memiliki nilai
return terbesar yaitu saham perusahaan PP (Persero) Tbk (PTPP) sebesar 0,2307. Sedangkan
return saham perusahaan terkecil yaitu saham perusahaan Indofood CBP Sukses Makmur
sebesar 0,2113.
2. Return saham perusahaan indeks LQ 45 dihitung dengan metode APT yang memiliki nilai return
terbesar yaitu saham perusahaan Wijaya Karya (Persero) Tbk yaitu sebesar 0,21951. Sedangkan
return saham perusahaan terkecil yaitu saham perusahaan Unilever Indonesia (Persero) Tbk
yaitu sebesar 0,20976
3. Berdasarkan pengolahan data dengan independent sample t-test menunjukkan bahwa H0
ditolak, yaitu terdapat perbedaan akurasi yang signifikan antara model CAPM dan APT dalam
memprediksi return saham perusahaan indeks LQ 45, didapat nilai sig (p) = 0,000 lebih kecil dari
nilai α = 0,05.
4. Arbitrage Pricing Theory (APT) lebih tepat dibandingkan Capital Asset Pricing Model (CAPM)
dalam memprediksi return saham perusahaan indeks LQ 45, karna nilai MAD APT (0.000246)
lebih kecil dari nilai MAD CAPM (0.003739)

Saran
Dalam penelitian ini terdapat kekurangan baik secara teknis maupun teoritis yang diharapkan
mampu menjadi masukan bagi penelitian selanjunya yaitu, sebagai berikut:
1. Penelitian ini hanya menggunakan data bulanan selama 5 tahun (2016-2020) dan hanya
menggunakan sampel sebanyak 26 perusahaan untuk menghitung return saham, maka dari itu
hendaknya peneliti selanjutnya untuk menggunakan periode yang lebih panjang serta sampel
perusahaan yang lebih banyak lagi.
2. Untuk penelitian selanjutnya sebaiknya melakukan perbandingan dengan model lainnya untuk
memprediksi return saham seperti menggunakan Model Tiga Faktor Fama-French.

Jurnal Ekombis Review, Vol. 11 No. 1, Januari 2023 page: 839 – 848| 847
ISSN: 2338-8412 e-ISSN : 2716-4411

DAFTAR PUSTAKA

Bodie, Z., Kane, A., & Marcus, A. J. (2019). Dasar- Dasar Investasi. Jakarta: Salemba Empat.
Eugene, F. B., & Joel, F. H. (2018). Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. Jakarta: Salemba Empat.
Fibriantiwi, Dimyati, M., & Ermawati, E. (2019). Perbandingan Capital Asset Pricing Model (CAPM) dan
Arbitrage Pricing Theory (APT) dalam Memprediksi Return Saham Industri Pertambangan di Bursa
Efek Indonesia. Progress Conference, 305-312.
Hidayati, R. S. (2018). Analisis Portofolio Optimal Perusahaan Terdaftar di IHSG dengan Metode CAPM dan
Markowitz. Academica Journal of Multidisciplinary Studies, 269-279.
Insania, Z. (2020). Faktor-Faktor Makro ekonomi yang Mempengaruhi Harga Saham dan Minyak Gas di
Indonesia. Universitas Pertamina, 1-36.
Jayaprana, O. (2014). Perbandingan Return Saham LQ 45 di Bursa Efek Indonesia Dengan Menggunakan
Capital Asset Pricing Model (CAPM) dan Arbitrage Pricing Theory (APT). Universitas Pendidikan
Indonesia, 48-67.
Jogiyanto. (2015). Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.
Kisman, Z., & Restiyanita, S. (2015). The Validity of Capital Asset Pricing Model (CAPM) and Arbitrage
Pricing Theory (APT) In Predicting The Return of Stocks In Indonesia Stock Exchange 2008-2010.
American Journal Of Economics, Finance and Management, 184-189.
Lipiec, J. (2014). Capital Asset Pricing Model Testing at Warsaw Stock Exchange: Are Family Businesses the
Remedy for Economic Recessions? International Journal of Financial Studies, 266-279.
Muhammad, G., & Maulana, R. (2019). Analisis Komparasi Keakuratan Metode Capital Asset Pricing Model
(CAPM) dan Arbitrage Pricing Theory (APT) dalam Memprediksi Return Saham. Jurnal Manajemen
Dan Bisnis Terapan, 43-52.
Nugraha, N. A. (2020). Perbandingan Akurasi Metode Capital Asset Pricing Model (CAPM) dengan
Arbitrage Pricing Theory (APT) dalam Penilaian Investasi Saham Sektor Pertanian, Pertambangan
dan Keuangan di Bursa Efek Indonesia Tahun 2008-2017. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Lampung, 1-41.
Nuzula, N. F., & Nurlaily, F. (2020). Dasar Dasar Manajemen Investasi. Malang: UB Press.
Paulina, A., Indiastuti, R., Nidar, S. R., & Masyita, D. (2017). Macroe conomic Factors And Stock Returns In
APT Framework. International Journal of Economics and Management, 197-206.
Singh, R. (2008). CAPM Vs APT With Macro Economic Variables : Evidence From The Indian Stock Market.
Asia Pasific Business Review, 76-92.
Yadnya, I. P., & Putra, M. (2016). Penerapan Metode Capital Asset Pricing Model Sebagai Pertimbangan
dalam Pengembalian Keputusan Investasi Saham. E-Jurnal Manajemen Unud, 8079-8106.
Yunita, P. A. (2017). Analisis Komparatif Capital Asset Pricing Model dengan Arbitrage Pricing Theory
dalam Memprediksi Return dan Risiko Saham. Jurnal Administrasi Bisnis, 80-94.

848 | Yudi Partama Putra, Hesti Setiorini, Chairul Suhendra; Analisis Keakuratan...

Anda mungkin juga menyukai