CAPM vs APT: Akurasi Prediksi Return Saham
CAPM vs APT: Akurasi Prediksi Return Saham
Analisis Keakuratan Capital Asset Pricing Model Dan Arbitrage Pricing Theory Dalam
Memprediksi Return Saham
(Studi Pada Perusahaan LQ 45 Di Bursa Efek Indonesia Periode 2016-2020)
How to Cite :
Putra, Y.P., Setiorini H., Suhendra, C. (2023). Analisis Keakuratan Capital Asset Pricing Model Dan Arbitrage
Pricing Theory Dalam Memprediksi Return Saham (Studi Pada Perusahaan LQ 45 Di Bursa Efek
Indonesia Periode 2016-2020). EKOMBIS REVIEW: Jurnal Ilmiah Ekonomi Dan Bisnis, 11 (1). doi:
[Link]
ABSTRAK
ARTICLE HISTORY
Penelitian ini didasari oleh perkembangan dunia investasi yang begitu pesat
Received 13 November 2022]
namun sebagian besar investor memiliki keterbatasan kemampuan dan
Revised [25 Desember 2022]
Accepted [04 Januari 2023] strategi dalam berinvestasi maka dari itu dibutuhkan metode dan konsep
yang penting untuk menilai tingkat keuntungan dari suatu investasi dengan
berbagai faktor-faktor risiko yang ada. Penelitian ini berfokus pada
perbandingan keakuratan antara metode Capital Asset Pricing Model
(CAPM) dan Arbitrage Pricing Theory (APT) dalam memprediksi return
KEYWORDS saham perusahaan indeks LQ 45 periode 2016-2020. Tujuan penelitian ini
Stock Returns, Capital Asset adalah untuk mengetahui metode mana yang lebih tepat dalam
Pricing Model (CAPM) and memprediksi return saham perusahaan. Ketepatan metode CAPM dan APT
Arbitrage Pricing Theory diukur menggunakan Mean Absolute Deviation (MAD).Uji Independent
(APT). Sample T-test digunakan untuk megetahui apakah terdapat perbedaan
akurasi antara metode CAPM dan APT dalam memprediksi return saham.
Dengan menggunakan perhitungan dari Mean Absolute Deviation hasil
This is an open access article under penelitian menunjukkan bahwa metode APT lebih akurat dibanding metod
the CC–BY-SA license CAPM dalam memprediksi return saham. Hal ini dikarenakan nilai MAD APT
(0,000246) lebih kecil dari nilai MAD CAPM (0,003739) dan berdasarkan
pengolahan data dari uji Independent Sample T-test menunjukkan bahwa
H0 ditolak, yang artinya terdapat perbedaan akurasi yang signifikan antara
model CAPM dan APT dalam memprediksi return saham perusahaan.
ABSTRACT
This study is based on the rapid development of the investment world. Hence,
most investors have limited abilities and strategies in investing, therefore it takes
important methods and concepts to assess the level of profit from an investment
with various existing risk factors. This study focuses on the comparison of the
accuracy between the Capital Asset Pricing Model (CAPM) and Arbitrage Pricing
Theory (APT) methods in predicting stock returns of LQ 45 index companies for
the 2016-2020 period. This study aimed to determine which method was more
appropriate in predicting the company's stock returns. The accuracy of the
CAPM and APT methods was measured by using the Mean Absolute Deviation
(MAD). The Independent Sample T-test was used to determine whether there was
a difference in accuracy between the CAPM and APT methods in predicting stock
returns. The results of this study show that by using the calculation of the Mean
Absolute Deviation, the APT method is more accurate than the CAPM method in
Jurnal Ekombis Review, Vol. 11 No. 1, Januari 2023 page: 839 – 848| 839
ISSN: 2338-8412 e-ISSN : 2716-4411
predicting stock returns. The MAD APT value (0.000246) is smaller than the MAD
CAPM value (0.003739) and based on data processing from the Independent
Sample T-test shows that H0 is rejected, which means that there is a significant
difference in accuracy between the CAPM and APT models particularly in
predicting the company's stock return.
PENDAHULUAN
840 | Yudi Partama Putra, Hesti Setiorini, Chairul Suhendra; Analisis Keakuratan...
ISSN: 2338-8412 e-ISSN : 2716-4411
Model APT (Arbitrage Pricing Theory) atau juga disebut sebagai teori penetapan harga
arbitrase dikembangkan oleh Stephen A Ross. Model ini pertama kali dikembangkan untuk
mencoba menghilangkan kekurangan yang terjadi pada Capital Asset Pricing Model (Bodie dkk,
2019). Model ini juga menggambarkan hubungan antara risiko dan return, tetapi dengan asumsi
dan prosedur yang berbeda. Model APT menggunakan banyak variabel pengukur risiko untuk
melihat hubungan risiko dan return yang berbeda dengan model CAPM (Kisman & Restiyanita,
2015). Perbedaan mendasar antara metode APT dan CAPM yaitu pada metode APT terdapat lebih
dari satu faktor makro ekonomi yang mempengaruhi tingkat pengembalian saham, sedangkan pada
model CAPM tingkat pengembalian saham hanya dipengaruhi oleh satu faktor makro ekonomi saja
yaitu risiko pasar (Jayaprana, 2014). Penelitian ini akan dilakukan di Bursa Efek Indonesia (BEI)
khususnya pada saham-saham perusahaan yang terdaftar di indeks LQ 45 periode 2016-2020.
Alasan penulis memilih kelompok saham perusahaan yang termasuk dalam indeks LQ 45 yaitu
karna indeks LQ 45 adalah indeks yang mengukur kinerja harga dari 45 saham perusahaan yang
memiliki likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar serta didukung oleh fundamental perusahaan
yang baik. Kelompok saham yang dipilih dalam penelitian ini terdiri dari 45 perusahaan yang
sahamnya berlikuiditas tinggi serta sesuai dengan kriteria pemilihan yang ditetapkan.
Penelitian yang dilakukan oleh Muhammad & Maulana (2019) dengan menggunakan metode
Capital Asset Pricing Model (CAPM) dan Arbitrage Pricing Theory (APT) dalam memprediksi return
saham. Dimana sampel yang di uji adalah saham perusahaan perbankan di Bursa Efek Indonesia
periode tahun 2014-2018. Dapat disimpulkan bahwa model CAPM lebih akurat dalam memprediksi
return saham sektor perbankan daripada model APT dan berdasarkan pengolahan data dengan
Independent Sample T-test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan akurasi antara Capital Asset
Pricing Model dengan Arbitrage Pricing Theory dalam memprediksi return saham sektor perbankan.
Berdasarkan dari hasil penelitian yang memberikan kesimpulan yang berbeda atas
penelitian satu dengan penelitian yang lainnya. Penulis tertarik untuk mengadakan penelitian lebih
lanjut. Dalam menghitung tingkat pengembalian saham dengan menggunakan metode Arbitrage
Pricing Theory (APT) penulis menggunakan faktor makro ekonomi berupa inflasi, tingkat suku bunga
(SBI), dan nilai tukar. Faktor tersebut diambil berdasarkan penelitian empiris yang dilakukan oleh
(Paulina dkk, 2017). Pada metode Capital Asset Pricing Model (CAPM) faktor risiko yang digunakan
yaitu risiko pasar.
LANDASAN TEORI
Investasi
Investasi merupakan komitmen dari uang atau sumber daya lainnya dengan harapan
memperoleh keuntungan di masa depan (Bodie dkk, 2019). Investasi dapat dilakukan dalam
berbagai bentuk tergantung minat dan kemampuan investor dalam menanggung risiko. Hal ini
dikarenakan, keuntungan yang didapat dan risiko yang ditanggung selalu berbanding lurus.
Semakin tinggi risiko dari investasi maka semakin tinggi pula tingkat pengembalian yang diminta
oleh investor (Nuzula & Nurlaily, 2020). Investasi merupakan sebuah alternatif untuk meningkatkan
nilai aset di masa yang akan datang. Setiap pilihan investasi mempunyai tingkat keuntungan dan
juga risiko yang berbeda-beda.
Jurnal Ekombis Review, Vol. 11 No. 1, Januari 2023 page: 839 – 848| 841
ISSN: 2338-8412 e-ISSN : 2716-4411
CAPM adalah untuk menentukan tingkat expected return dalam meminimalisir investasi yang
berisiko (Singh, 2008). Menurut (Bodie dkk, 2019) pengujian empiris terdahap model dari CAPM
dapat dituliskan yaitu, sebagai berikut:
METODE PENELITIAN
842 | Yudi Partama Putra, Hesti Setiorini, Chairul Suhendra; Analisis Keakuratan...
ISSN: 2338-8412 e-ISSN : 2716-4411
penelitian ini. Metode analisis data dalam pengujian ini adalah dengan metode peramalan
menggunakan metode double exponential smoothing dari brown.
Jurnal Ekombis Review, Vol. 11 No. 1, Januari 2023 page: 839 – 848| 843
ISSN: 2338-8412 e-ISSN : 2716-4411
Dari tabel diatas, menunjukkan bahwa besarnya expected return (E(Ri)) dari setiap jenis
saham mengikuti besarnya tingkatan risiko beta (β). Saham Indofood CBP Sukses Makmur Tbk
(ICBP) memiliki beta paling rendah yaitu sebesar 0,3474 dan expected return juga paling rendah
yaitu sebesar 0.2113. Sedangkan saham perusahaan PP (Persero) Tbk memiliki beta paling tinggi
yaitu sebesar 3,9752 dan expected return juga paling tinggi yaitu sebesar 0.2307. Selain itu dapat
pula dilihat saham mana yang undervalued atau yang sudah overvalued. Berdasarkan pada tabel
diatas dapat dilihat bahwa saham yang memiliki nilai (E(Ri)) lebih rendah daripada nilai average
return (Ri) maka saham perusahaan tersebut termasuk saham yang undervalued atau saham yang
mempunyai tingkat pengembalian saham individu lebih besar dari tingkat pengembalian yang
diharapkan sehingga berdasarkan perhitungan dengan menggunakan metode CAPM saham
perusahaan tersebut layak untuk dimiliki atau dibeli. Sebaliknya saham perusahaan yang nilai (E(Ri))
lebih tinggi daripada nilai average return (Ri) maka saham perusahaan tersebut termasuk saham
yang overvalued atau saham yang mempunyai tingkat pengembalian saham individu lebih kecil dari
tingkat pengembalian yang diharapkan, tetapi jika (E(Ri)) lebih besar daripada risk free (Rf) maka
untuk seorang investor yang memiliki tipe risk averse (penghindar risiko) saham perusahaan
tersebut masih layak untuk dimiliki atau dibeli namun bagi investor dengan tipe risk seeker (pencari
risiko) saham perusahaan tersebut tidak layak untuk dibeli ataupun dimiliki meskipun expected
return (E(Ri)) diatas risk free (Rf), namun masih dibawah rata-rata tingkat pengembalian aktual (Ri)
dari saham tersebut.
844 | Yudi Partama Putra, Hesti Setiorini, Chairul Suhendra; Analisis Keakuratan...
ISSN: 2338-8412 e-ISSN : 2716-4411
Dari tabel diatas menunjukkan bahwa perusahaan yang memiliki expected return paling
rendah dengan menggunakan metode APT yaitu expected return saham perusahaan UNVR sebesar
0,00004 dan expected return yang paling tinggi adalah saham perusahaan PTPP yaitu sebesar
0,0117. Selain itu dapat pula dilihat saham mana yang undervalued atau yang sudah overvalued.
Berdasarkan pada tabel diatas dapat dilihat bahwa saham yang memiliki nilai (E(Ri)) lebih rendah
daripada nilai average return (Ri) maka saham perusahaan tersebut termasuk saham yang
undervalued atau saham yang mempunyai tingkat pengembalian saham individu lebih besar dari
tingkat pengembalian yang diharapkan sehingga berdasarkan perhitungan dengan menggunakan
metode APT saham perusahaan tersebut layak untuk dimiliki atau dibeli. Seperti saham perusahaan
BBRI, ANTM, ICBP, INCO, BBCA, PTBA, UNTR. Sebaliknya saham perusahaan yang nilai (E(Ri)) lebih
tinggi daripada nilai average return (Ri) maka saham perusahaan tersebut termasuk saham yang
overvalued atau saham yang mempunyai tingkat pengembalian saham individu lebih kecil dari
tingkat pengembalian yang diharapkan tetapi jika (E(Ri)) lebih besar daripada risk free (Rf) maka
untuk seorang investor yang memiliki tipe risk averse (penghindar risiko) saham perusahaan
tersebut masih layak untuk dimiliki atau dibeli namun bagi investor dengan tipe risk seeker (pencari
risiko) saham perusahaan tersebut tidak layak untuk dibeli ataupun dimiliki meskipun expected
return (E(Ri)) diatas nilai risk free (Rf), namun masih dibawah rata-rata tingkat pengembalian aktual
(Ri) dari saham tersebut.
Jurnal Ekombis Review, Vol. 11 No. 1, Januari 2023 page: 839 – 848| 845
ISSN: 2338-8412 e-ISSN : 2716-4411
Untuk melihat metode mana yang lebih baik dalam menghitung return saham perusahaan,
maka akan dilihat nilai Mean Absolute Deviation (MAD) dari kedua model tersebut. Berdasarkan
tabe 4.14, secara keseluruhan rata-rata nilai MAD_CAPM lebih besar yaitu 0.003739 dari nilai
MAD_APT yang hanya sebesar 0.000246. Hal ini menunjukkan bahwa metode Arbitrage Pricing
Theory (APT) lebih baik dibandingkan metode Capital Asset Pricing Model (CAPM) dalam
memprediksi return saham perusahaan.
Dapat dilihat pada tabel 4.15 bahwa data terdistribusi normal, baik nilai MAD CAPM 0,200 >
0,005 dan nilai MAD APT 0,200 > 0,005. Karena data terdistribusi normal maka dapat dilakukan uji
beda t test.
Berdasarkan pengolahan data dengan menggunakan program SPSS 24 yang dapat dilihat
pada tabel 5., hasil dari Levene’s Test didapat nilai sig (p) = 0,000 yang lebih kecil dari nilai α = 0,05,
maka H0 ditolak yang artinya terdapat perbedaan akurasi yang signifikan antara Capital Asset
846 | Yudi Partama Putra, Hesti Setiorini, Chairul Suhendra; Analisis Keakuratan...
ISSN: 2338-8412 e-ISSN : 2716-4411
Pricing Model dan Arbitrage Pricing Theory dalam memprediksi return saham. Hal ini sesuai dengan
hasil penelitian yang dilakukan oleh Fibriantiwi dkk (2019) tentang Analisis Keakuratan Capital Asset
Pricing Model (CAPM) dan Arbitrage Pricing Theory (APT) dalam Memprediksi Return Saham Industri
Pertambangan di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2015-2017 menjelaskan bahwa terdapat
perbedaan yang signifikan antara Capital Asset Pricing Model (CAPM) dan Arbitrage Pricing Theory
(APT) dalam memprediksi return saham industri pertambangan di Bursa Efek Indonesia periode
tahun 2015-2017. Serta didukung pula dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Kisman &
Restiyanita, 2015) yang berjudul The Validity of Capital Asset Pricing Model (CAPM) and Arbitrage
Pricing Theory (APT) In Predicting The Return of Stocks In Indonesia Stock Exchange 2008-2010 yang
menyatakan bahwa terdapat perbedaan akurasi yang signifikan antara metode CAPM dan APT
dalam memprediksi return dan risiko saham perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
periode tahun 2008-2010.
Saran
Dalam penelitian ini terdapat kekurangan baik secara teknis maupun teoritis yang diharapkan
mampu menjadi masukan bagi penelitian selanjunya yaitu, sebagai berikut:
1. Penelitian ini hanya menggunakan data bulanan selama 5 tahun (2016-2020) dan hanya
menggunakan sampel sebanyak 26 perusahaan untuk menghitung return saham, maka dari itu
hendaknya peneliti selanjutnya untuk menggunakan periode yang lebih panjang serta sampel
perusahaan yang lebih banyak lagi.
2. Untuk penelitian selanjutnya sebaiknya melakukan perbandingan dengan model lainnya untuk
memprediksi return saham seperti menggunakan Model Tiga Faktor Fama-French.
Jurnal Ekombis Review, Vol. 11 No. 1, Januari 2023 page: 839 – 848| 847
ISSN: 2338-8412 e-ISSN : 2716-4411
DAFTAR PUSTAKA
Bodie, Z., Kane, A., & Marcus, A. J. (2019). Dasar- Dasar Investasi. Jakarta: Salemba Empat.
Eugene, F. B., & Joel, F. H. (2018). Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. Jakarta: Salemba Empat.
Fibriantiwi, Dimyati, M., & Ermawati, E. (2019). Perbandingan Capital Asset Pricing Model (CAPM) dan
Arbitrage Pricing Theory (APT) dalam Memprediksi Return Saham Industri Pertambangan di Bursa
Efek Indonesia. Progress Conference, 305-312.
Hidayati, R. S. (2018). Analisis Portofolio Optimal Perusahaan Terdaftar di IHSG dengan Metode CAPM dan
Markowitz. Academica Journal of Multidisciplinary Studies, 269-279.
Insania, Z. (2020). Faktor-Faktor Makro ekonomi yang Mempengaruhi Harga Saham dan Minyak Gas di
Indonesia. Universitas Pertamina, 1-36.
Jayaprana, O. (2014). Perbandingan Return Saham LQ 45 di Bursa Efek Indonesia Dengan Menggunakan
Capital Asset Pricing Model (CAPM) dan Arbitrage Pricing Theory (APT). Universitas Pendidikan
Indonesia, 48-67.
Jogiyanto. (2015). Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.
Kisman, Z., & Restiyanita, S. (2015). The Validity of Capital Asset Pricing Model (CAPM) and Arbitrage
Pricing Theory (APT) In Predicting The Return of Stocks In Indonesia Stock Exchange 2008-2010.
American Journal Of Economics, Finance and Management, 184-189.
Lipiec, J. (2014). Capital Asset Pricing Model Testing at Warsaw Stock Exchange: Are Family Businesses the
Remedy for Economic Recessions? International Journal of Financial Studies, 266-279.
Muhammad, G., & Maulana, R. (2019). Analisis Komparasi Keakuratan Metode Capital Asset Pricing Model
(CAPM) dan Arbitrage Pricing Theory (APT) dalam Memprediksi Return Saham. Jurnal Manajemen
Dan Bisnis Terapan, 43-52.
Nugraha, N. A. (2020). Perbandingan Akurasi Metode Capital Asset Pricing Model (CAPM) dengan
Arbitrage Pricing Theory (APT) dalam Penilaian Investasi Saham Sektor Pertanian, Pertambangan
dan Keuangan di Bursa Efek Indonesia Tahun 2008-2017. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Lampung, 1-41.
Nuzula, N. F., & Nurlaily, F. (2020). Dasar Dasar Manajemen Investasi. Malang: UB Press.
Paulina, A., Indiastuti, R., Nidar, S. R., & Masyita, D. (2017). Macroe conomic Factors And Stock Returns In
APT Framework. International Journal of Economics and Management, 197-206.
Singh, R. (2008). CAPM Vs APT With Macro Economic Variables : Evidence From The Indian Stock Market.
Asia Pasific Business Review, 76-92.
Yadnya, I. P., & Putra, M. (2016). Penerapan Metode Capital Asset Pricing Model Sebagai Pertimbangan
dalam Pengembalian Keputusan Investasi Saham. E-Jurnal Manajemen Unud, 8079-8106.
Yunita, P. A. (2017). Analisis Komparatif Capital Asset Pricing Model dengan Arbitrage Pricing Theory
dalam Memprediksi Return dan Risiko Saham. Jurnal Administrasi Bisnis, 80-94.
848 | Yudi Partama Putra, Hesti Setiorini, Chairul Suhendra; Analisis Keakuratan...