0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan8 halaman

Pengaruh Self-Compassion pada Optimisme

Diunggah oleh

vindy aura
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan8 halaman

Pengaruh Self-Compassion pada Optimisme

Diunggah oleh

vindy aura
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Pengaruh Self-compassion terhadap Optimism Dewasa Awal

Vindy Aulia Rahma


Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang
vindyauliarahma67@[Link]

Abstrak: Penelitian ini memiliki tujuan untuk melihat pengaruh antara Self-compassion
terhadap Optimism pada dewasa awal. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengaruh
Self-compassion terhadap sikap Optimism dewasa awal. Penelitian ini menerapkan metode
penelitian kualitatif, penelitian ini memilih menggunakan dewasa awal karena pada masa ini
terjadi transisi penting dalam kehidupan individu, di mana mereka menghadapi tantangan dan
perubahan baru, Teknik pengambilan data menggunakan skala Self-compassion yang
dikembangkan oleh Neff dan skala Optimism yang dikembangkan Seligman.

Kata kunci: Self-compassion, Optimism

Pendahuluan
Pada masa dewasa awal, individu memasuki fase kehidupan yang penuh dengan perubahan
dinamis dan tantangan besar yang memerlukan keberanian dan keteguhan hati. Masa transisi
ini, yang sering kali ditandai dengan gejolak emosi dan ketidakpastian, mengharuskan
individu mengambil keputusan besar yang akan membentuk masa depan mereka. Memilih
karir yang tepat, merupakan salah satu keputusan krusial yang harus dihadapi, mengingat
pilihan tersebut tidak hanya menentukan stabilitas finansial, namun juga kepuasan pribadi
dan profesional. Selain itu, menjalin hubungan yang serius dan bermakna juga menjadi fokus
utama pada periode ini, di mana individu belajar membangun dan memelihara ikatan yang
sehat dan saling mendukung. Dalam prosesnya, mereka sering menghadapi tantangan dalam
menyeimbangkan harapan mereka sendiri dan harapan sosial yang mungkin bertentangan,
sehingga menambah kompleksitas situasi yang mereka hadapi.
Tak hanya itu, masa dewasa awal juga adalah periode penting bagi individu guna
membangun identitas diri yang kuat dan autentik. Identitas ini tidak hanya mencakup aspek
pribadi seperti nilai dan keyakinan, tetapi juga peran sosial yang mereka emban dalam
masyarakat dan lingkungan kerja. Proses pencarian jati diri ini seringkali disertai dengan rasa
ragu dan bimbang, apalagi ketika dihadapkan pada berbagai pilihan dan kemungkinan yang
ada di hadapannya. Tekanan dari lingkungan, termasuk keluarga dan teman, serta tekanan
internal untuk memenuhi standar pribadi, seringkali dapat menambah beban mental dan
emosional. Oleh karena itu, masa dewasa awal adalah periode yang memerlukan ketahanan
mental dan fleksibilitas dalam menghadapi perubahan, serta kemampuan mengembangkan
strategi coping yang efektif untuk mengatasi tantangan yang muncul.
Masa dewasa awal adalah tahap transisi dari masa remaja ke masa dewasa (Santrock,
2011). Pada masa transisi menuju masa dewasa banyak individu menghadapi berbagai
kendala dan penyesuaian. Menurut Putri (2019) Masa dewasa awal adalah masa penyesuaian
terhadap gaya hidup baru dan harapan sosial baru. Transisi dari ketergantungan menuju
kemandirian, kebebasan menentukan masa depan, dan lebih realistis. Secara hukum, siapa
pun yang berusia anatara 21 sampai 40 tahun adalah dewasa awal. Namun menurut Hurlock
(1996) masa dewasa awal dimulai pada usia 18 tahun hingga sekitar 40 tahun, saat perubahan
fisik dan psikis mencapai kematangan. Masa dewasa awal adalah periode transisi penting
dalam kehidupan individu, dimana mereka menghadapi tantangan dan perubahan baru. Pada
tahap dewasa awal, indidvidu sering menghadapi tekanan dari berbagai bidang kehidupan,
seperti pendidikan, hubungan interpersonal, pekerjaan dan ekspektasi sosial yang memicu
keadaan stress, kecemasan dan depresi.
Menurut Seligman (Dewi et al., 2021) Optimism yaitu keyakinan individu terhadap
kejadian buruk yang tidak akan bertahan lama, melihat kejadian buruk sebagai suatu hal yang
positif dan menganggap bahwa kegagalan tersebut bukan karena kesalahan sendiri tetapi
disebabkan oleh keadaan, nasib atau orang lain. Sikap optimis menjadikan individu melihat
masalah dengan perspektif positif, mengembangkan ketahanan terhadap kesulitan, dan
meningkatkan motivasi untuk mencapai suatu tujuan. Individu dengan Tingkat Optimism
yang tinggi cenderung mempunyai kemampuan adaptasi diri yang baik, yang dapat
berkontribusi pada kesejahteraan psikologis. Menurut Shapiro (Dewi et al., 2021) Optimism
merupakan kebiasaan individu berpikir positif dan realistis terhadap suatu permasalahan. Saat
menghadapi suatu masalah, orang yang optimis akan menunjukkan ketahanan diri yang lebih
baik. Menurut Chang & McBride-Chang (1996) Optimism dapat mengatasi dan mencegah
stress akibat tekanan dan tuntutan yang menjadikan individu berpikir lebih positif tentang
masa depannya, termasuk kemampuan dalam menyelesaikan masalah, mempunyai akhlak
yang baik dan kesehatan yang baik.
Self-compassion adalah ketrampilan untuk mencintai diri sendiri tanpa mengkritik diri
sendiri atas kegagalan atau ketidakmampuan mengatasi pengalaman menyakitkan (K. D.
Neff, 2003). Self-compassion terhadap diri sendiri sama seperti ketika penderitaan datang
karena kesalahan, kegagalan, atau ketidakmampuan diri, namum dapat memeperlakukan diri
sendiri dengan baik. Rasa sayang pada diri sendiri dapat memediasi kecenderungan individu
untuk membandingkan dirinya dengan orang lain dalam eveluasinya. Menurut pengkajian
yang telah dilakukan oleh Saleh et al. (2022) Self-compassion sangat berhubungan dengan
uisa, sehingga seiring bertambahnya usia seseorang maka Self-compassion seseorang akan
semakin meningkat.
Rizky Amelia et al. (2023) menemukan bahwa ada hubungan positif antara tingkkat
Self-compassion dan tingkat Optimism pada individu. Penelitian Hidayati (2018) juga
menunjukkan bahwa individu yang memiliki Self-compassion cenderung memiliki motivasi
untuk mengembangkan diri dan menghadapai situasi dengan lebih terbuka. Optimism yang
membuat individu mampu melihat sisi positif dari setiap situasi dan ketahanan dalam
menghadapi permasalahan, memungkinkannya mengembangkan Self-compassion dengan
lebih mudah. Dengan sikap optimis, mereka cenderung tidak terlalu memaksakan diri dan
memahami bahwa kegagalan adalah bagian dari proses kehidupan, yang pada akhirnya
meningkatkan kesejahteraan psikologis dan kemampuan beradaptasi mereka (Sulistyowati et
al., 2015). Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki pengaruh Self-
compassion terhadap tingkat Optimism pada individu dewasa awal.
Kajian Teori
Optimism adalah keyakinan dan harapan bahwa masa depan akan membawa hal-hal
yang positif dan kemampuan untuk melihat sisi baik dari berbagai situasi, dan menganggap
bahwa kegagalan diakibatkan oleh nasib ataupun situasi (Seligman, 2005). Perilaku
Optimism merupakan sebuah imitasi yang dapat ditumbuhkan, karena perilaku seseorang
dapat dipengaruhi oleh berbagai hal seperti lingkungan sekitar, orang tua, teman, atau orang-
orang yang ada disekitarnya. Individu yang memiliki perilaku Optimism tidak takut akan
kegagalan, berusaha untuk bangkit ketika gagal dan menjadi lebih baik dari masa lalunya
(Lusiawati, 2016).
Menurut Sidabalok et al., (2019) Optimism merupakan suatu cara individu berfikir
positif untuk menghadapi masalah-masalah yang ada pada dirinya. Berfikir positif ialah usaha
untuk mendapatkan sesuatu yang terbaik dari keadaan yang sebelumnya kurang baik.
Seligman (2008) berpendapat bahwa individu yang optimis akan mudah bangkit dari
keterpurukan yang hanya sementara. Rasa Optimism dapat ditimbulkan dari rasa percaya diri
kepada orang lain (Ifdil, 2013). Seligman (1991) menyebutkan bahwa individu yang memiliki
perilaku Optimism akan nampak sperti aspek-aspek dibawah ini :
 Permanence merupakan cara individu untuk menanggapi kejadian yang dialami
berjalan lama atau hanya sementara. Individu yang optimis percaya bahwa kejadian
negatif yang menimpa mereka hanya bersifa sementara, sedangkan kejadian poditif
dianggap berlangsung lama atau permanen.
 Pervasiveness merupakan cara individu menafsirkan kegagalan dan kesuksesan dalam
hidup mereka, apakah mereka menganggap berlaku secara umum atau spesifik.
Individu yang optimis meyakini bahwa kegagalan terjadi karena faktor-faktor spesifik,
sementara kesuksesan disebabkan oleh faktor-faktor yang lebih umum atau universal.
 Personalization merupakan cara individu menilai penyebab kegagalan dan
kesuksesan, apakah disebabkan oleh faktor internal atau eksternal. Individu yang
optimis cenderung meyakini bahwa kesalahan disebabkan oleh faktor-faktor eksternal,
sementara kesuksesan berasal dari faktor-faktor internal.
Menurut Seligman (2008) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi Tingkat
Optimism seseorang.
 Dukungan sosial
Ketika individu menerima dukungan yang memadai maka dapat meningkatkan
Tingkat Optimism mereka. Dukungan sosial memeberikan keyakinan bahwa
bantuan akan selalu tersedian ketika [Link] yang konsisten akan
memeberikan perasaan mana dan stabil, yang dapat memperkuat individu bahawa
segala rintanagan dapat diatasi dengan adanya dukungan sosial.
 Kepercayaan diri
Individu yang memiliki keyakinaan kuat terhadap potensi dan kualitas diri mereka
sendiri serta yakin akan kemmapuan yang dimiliki cenderung memiliki Tingkat
Optimism yang tinggi. Kepercayaan diri yang tinggi membuat lebih yakin bahwa
mereka mampu menghadapi dan mengatasi berbagai tantanagan dan kesulitan
yang mungkin muncul dalam hidup.
 Harga diri
Individu yang memiliki harga diri yang tinggi cenderung selalu temotivasi untuk
mempertahankan pandangan positif tentang diri mereka. Harga diri merupakan
penilian pribadi terhadap diri sendiri yang mencerminkan sikap individu terhadap
diri mereka, dari dimensi positif hingga negatif.
 Akumulasi pengelaman
Pengalaman-pengalaman yang dialami individu, terutama keberhasilan dalam
menghadapi masalah atau tantangan, dapat mengakumulasi sikap Optimism ketika
menghadapi tantangan berikutnya. Keberhasilan sebelumnya membantu
memperkuat keyakinan bahwa individu mampu mengatasi rintangan yang serupa
di masa depan.
Menurut K. Neff (2003) Self-compassion adalah sikap baik hati dan pengertian
terhadap diri sendiri, yang melibatkan perlakuan yang sama terhadap diri saat menghadapi
kesulitan, kegagalan, atau hal yang tidak disukai tentang diri. Self-compassion merupakan
sebuah konsep penting dalan psikilogi yang membantu individu untuk menerima kenyataan
yang tidak diinginkan dengan penuh kesadaran (Hidayati, 2018).
Self-compassion memberikan individu keberanian untuk mencoba hal-hal baru
sebagai bentuk kasih sayang pada diri sendiri (Nabila, 2020). Self-compassion mencangkup
keberanian untuk terbuka terhadap penderitaan diri sendiri tanpa menghindarinya, serta
pemahaman yang tidak menghakimi terhadap rasa sakit, kekurangan dan kegagalan sebagai
bagian dari pengalaman manusia yang luas (K. Neff, 2003). Neff 2003 (dalam Halim, 2015)
aspek-aspek Self-compassion mencangkup enam komponen yaitu :
 Self-kindess
Self-kindess yaitu kemampuan memahami dan menerima diri sendiri serta
memberikan kelembutan tanpa menghakimi diri. Self-kidness menjadikan
individu bersikap hangat ketika menghadpai rasa sakit dan kekurangan yang ada
didalam diri.
 Self-judgement
Self-judgment terjadi ketika individu menolak perasaan, pemikiran, dorongan,
tindakan dan nilai diri mereka sendiri yang mengakibatkan reaksi berlebihan
terhadap apa yang sedang terjadi. Self-judgement merupakan antonim dari self-
kindess.
 Common humanity
Common humanity adalah kesadaran bahwa kesulitan, kegagalan, dan tantangan
adalah pengalaman umum manusia, bukan sesuatu yang dialami sendiri.
Kesadaran ini penting untuk dipahami bahwa setiap orang mengalami tantangan
dan kesulitan dalam hidup mereka.
 Isolation
Isolation yaitu dimana individu merasa bahwa mereka mengalami segala bentuk
kesulitan sendiri dan bertanggung jawab sendiri atas semua masalah yang mereka
hadapi, sehingga cenderung mengisolasi diri dari orang lain. Isolation merupakan
antonim dari Common humanity yang mana individu merasa bahwa dirinya
merupakan orang yang paling menderita di dunia.
 Mindfulness
Mindfulness adalah kemampuan untuk melihat dengan jelas, menerima dan
menghadapi kenyataan tanpa melakukan penilian terhadap apa yang terjadi dalam
suatu situasi. Mindfulness penting untuk mencegah individu terlalu terikat pada
pikiran atau perasaan negatife dan dengan adanya mindfulness individu dapat
sepenuhnya mengenali dan memahami apa yang mereka rasaka.
 Over identification
Over identification yaitu Dimana individu terlalu fokus pada keterbatasan diri
sehingga pada akhirnya menimbulkan kecemasan dan deperesi. Over
identification merupakan antonim dari Mindfulness, Over identification adalah
kecenderungan individu untuk bereaksi secara ekstrem atau berlebihan saat
menghadapi suatu permasalahan.
Menurut Neff (dalam Karinda, 2020) mengatakan bahwa self compassion memiliki beberapa
faktor yang mempengaruhi, yaitu:
 Jenis kelamin
Perempuan cenderung memiliki pola piker yang lebih kompleks daripada pria,
yang mengakibatkan Perempuan lebih rentan terhadap depresi dan kecemasan
yang kompleks. Meskipun perbedaan gender dipengaruhi oleh faktor peran,
tempat dan budaya sebuah penelitian menunjukkan bahwa perempuan sering kali
memiliki Tingkat belas kasihan terhadap diri yang lebih rendah dibandingakn pria.
Hal ini dikaitkan dengan kecenderungan Perempuan untuk lebih memperhatikan
kejadian negatif di masa lalu mereka.
 Budaya
Penelitian yang dilakukan di Thailand, Taiwan, dan Amerika Serikat menunjukkan
bahwa budaya memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat belas kasih terhadap
diri. Masyarakat Asia yang cenderung kolektivis, misalnya, menekankan
hubungan dengan orang lain, keselarasan perilaku, dan perhatian terhadap
komunitas. Sebaliknya, individu dalam budaya Barat yang cenderung
individualistis menekankan kemandirian, kebutuhan pribadi, dan uniknya individu
dalam perilaku mereka. Dalam konteks ini, masyarakat Asia mungkin memiliki
tingkat belas kasihan terhadap diri yang lebih tinggi karena nilai-nilai
kolektivisme mereka yang mempromosikan ketergantungan antarindividu.
 Usia
Penelitian menunjukkan bahwa usia berhubungan signifikan dengan tingkat belas
kasih terhadap diri. Neff, mengacu pada teori tahap perkembangan Erikson,
mengemukakan bahwa individu cenderung mencapai tingkat belas kasih terhadap
diri yang lebih tinggi saat mereka mencapai tahap integritas. Pada tahap ini,
mereka mampu menerima diri mereka dengan positif.
 Kepribadian
Faktor kepribadian juga berpengaruh terhadap Self-compassion, yang diukur
menggunakan The Big Five Personality dari NEO-FFI. Penelitian menunjukkan
bahwa neuroticism, agreeableness, extroversion, dan conscientiousness memiliki
korelasi dengan tingkat balas kasih atau Self-compassion.
 Peran oaring tua
Individu yang memiliki tingkat belas kasih terhadap diri yang rendah sering kali
memiliki latar belakang dari orang tua yang kritis dan mungkin berasal dari
keluarga yang tidak harmonis. Mereka cenderung lebih mungkin menunjukkan
gejala kegelisahan daripada individu yang memiliki tingkat belas kasih terhadap
diri yang tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa pola perilaku orang tua yang
sering mengkritik diri mereka sendiri dalam menghadapi kegagalan atau kesulitan
dapat menjadi contoh bagi anak-anak mereka, yang kemudian menginternalisasi
kecenderungan serupa saat mereka menghadapi tantangan dan menunjukkan
kurangnya belas kasih terhadap diri sendiri.
Dinamika varaibel X dan Y dalam pengaruh Self-compassion terhadap Optimism
dewasa awal dapat dilihat dari beberapa penelitian yang telah dilakukan. Hasil penelitian
yang dilakukaan oleh Anni & Duryati (2021) terdapat hubungan positif anatar Self-
compassion dan Optimism pada siswa MAS, Self-compassion memiliki pengaruh signifikan
terhadap Optimism. Hasil penelitian yang dilakukan pada mahasiswa akhir juga menunjukkan
bahwa social support dan Self-compassion memiliki hubungan secara signifikan dengan
Optimism (Rizky Amelia et al., 2023).
Dewasa awal merupakan masa transisi yang sangat penting dala kehidupan seseorang.
Pada masa ini individu harus menghadapi tantangan dan tekanan dalam kehidupannya, merak
harus dapat menerima segala cobaan dengan Optimism dan tetap berjuang untuk mecapai
tujuan. Self-compassion dapat membantu individu dalam menghadapi tekanan psikologis dan
meningkatkan kualitas hidup mereka. Oleh karena itu penelitian ini akan dilakukan untuk
menganalisis pengaruh Self-compassion (Y) terhadap Optimism (X) dewasa awal.
Hipotesis (0) : tidak ada pengaruh yang signifikan anatar Self-compassion dan Optimism
pada dewasa awal.
Hipotesis (a) : terdapat pengaruh yang signifikan anatara Self-compassion dan Optimism
pada dewasa awal.
Metode Penelitian
a) Desain penelitian,
Penelitian ini mrnggunakan desain penelitian kuantitatif korelasioanl karena tujuannya
adalah untuk mengidentifikasi pengaruh antara dua varaibel, yaitu tingakt Self-
compassion dan Optimism pada orang dewasa awal.
b) Subjek penelitian,
Populasi penelitian ini adalah Dewasa Awal. Metode pengambilan sampel yang
digunakan adalah random sampling, dengan rentang usia 21 tahun samapi 40 tahun.
c) Instrument yang digunakan
Penelitian ini akan menganalisis dua variable yaitu Self-compassion dan Optimism.
Variable bebas yaitu Self-compassion adalah bentuk penerimaan diri dan pemahaman
bahwa kegagalan sebagai bagian dari hidup. Sedangakan varaibel terikatnya yaitu
Optimism adalah cara berfikir yang positif dan realistis dalam memandang suatu masalah.
Metode pengumpulan data penelitian ini menggunakan skala self compassion dan skala
Optimism. Skala self-compassion menggunaka The Self-compassion Scale yang
dikembangkan oleh Neff lalu diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia oleh Sugianto et
al. (2020) yang memiliki enam aspek yaitu mengasihi diri, menghakimi diri, kemanusiaan
universal, isolasi, mindfulness dan overidentifikasi dengan 26 item. Lalu untuk
pengumpulan data varaibel Optimism menggunakan skala Optimism Seligman dengan 3
aspek yaitu permanence, pervasiveness, dan personalization dengan 26 item.
d) Prosedur penelitian dan Analisis data
Prosedur yang dilakukan yakni persiapan dengan membuat gform yang akan disebar
melalui sosial media kepada dewasa awal. Setelah data yang dikumpulkan telah mencapai
target langakah selanjutnya yaitu melakukan analisi data menggunakan JASP untuk
menguji korelasi antar variable penelitian.
Daftar Pustaka
Anni, R. S., & Duryati. (2021). Hubungan antara self-compassion dengan optimisme pada
siswa madrasah aliyah swasta (mas) nagari kepala hilalang. Jurnal Pendidikan
Tambusai, 5(1), 85–91.
Chang, L., & McBride-Chang, C. (1996). The factor structure of the life orientation test.
Education and Psychological Measurement, 56(2), 325=329.
[Link]
Dewi, N. U., Danyalin, A. M., Wahyu, A. M., & Chusniyah, T. (2021). Self compassion
sebagai prediktor optimisme pada mahasiswa Universitas Negeri Malang yang
orang tuanya bercerai. Buku Abstrak Seminar Nasional “Memperkuat
Kontribusi Kesehatan Mental Dalam Penyelesaian Pandemi Covid 19:
Tinjauan Multidisipliner,” April, 14–25.
Halim, A. R. (2015). Pengaruh self-compassion terhadap subjective well-being pada
mahasiswa asal luar jawa tahun pertama universitas negeri semarang.
Hidayati, F. (2018). Penguatan karakter kasih sayang “self compassion” melalui pelatihan
psikodrama. Prosiding Seminar Nasional Psikologi Unissula, 93–102.
Hurlock, E. B. (1996). Psikologi Perkembangan (Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang
Kehidupan). Airlangga.
Karinda, F. B. (2020). Belas kasih diri (self compassion) pada mahasiswa. Cognicia, 8(2),
234–252.
Lusiawati, I. (2016). Membangun optimisme pada seseorang ditinjau dari sudut pandang
psikologi komunikasi. TEDC, 10(3), 147–151.
Nabila, A. (2020). Self compassion : regulasi diri untuk bangkit dari kegagalan dalam
menghadapi fase quarter life crisis. Jurnal Psikologi Islam, 7(1), 23–28.
[Link]
Neff, K. (2003). Self-compassion : an alternative conceptualization of a healthy attitude
toward oneself. Self and Identity, 2, 85–101.
[Link]
Neff, K. D. (2003). The development and validation of a scale to measure self-compassion.
Self and Identity, 2(3), 223–250. [Link]
Putri, A. F. (2019). Pentingnya orang dewasa awal menyelesaikan tugas perkembangannya.
SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling, 3(2), 35–40.
[Link]
Rizky Amelia, Sholeh, M., & Fithri, R. (2023). Hubungan social support dan self compassion
dengan optimism pada mahasiswa akhir yang sedang menyelesaikan skripsi di
masa pandemi covid-19. Indonesian Psychological Research, 5(1), 20–33.
[Link]
Saleh, U., Kusuma, R. D., & Arifin, M. (2022). Being compassionate in early adulthood.
PAdvances in Social Science, Education and Humanities Research, 639, 11–
17. [Link]
Santrock, J. W. (2011). Life-span development (perkembangan masa hidup). Erlangga.
Sidabalok, R. N., Marpaung, W., & Manurung, Y. S. (2019). Optimisme dan self esteem
pada pelajar sekolah menengah atas. 3(1), 1–74.
Sugianto, D., Suwartono, C., & Sutanto, S. H. (2020). Reliabilitas dan validitas self-
compassion scale versi bahasa indonesia. Jurnal Psikologi Ulayat, 7(2), 177–
191. [Link]
Sulistyowati, D. A., Wismanto, Y. B., & Utami, C. T. (2015). Hubungan antara kecerdasan
emosional dan optimisme dengan problem focused coping pada mahasiswa s1
keperawatan stikes telogorejo semarang. Prediksi, 4(1), 11–18.
[Link]

Anda mungkin juga menyukai