0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan21 halaman

Tinjauan Metode Perencanaan Pelabuhan

Diunggah oleh

Nur Maida
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan21 halaman

Tinjauan Metode Perencanaan Pelabuhan

Diunggah oleh

Nur Maida
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Umum


Pada bab ini dibahas mengenai landasan teori perencanaan dan
perhitungan yang akan dipakai pada perencanaan Pelabuhan ini. Pada
perencanaan tersebut digunakan beberapa metode dan perhitungan yang
bersumber dari beberapa referensi yang terkait dengan jenis proyek ini.
Untuk mendapatkan Pelabuhan Kapal Penumpang yang benar-benar layak
dan efisien maka semua yang mempengaruhi dalam perencanaan harus
dipertimbangkan dengan baik dan terencana. Ukuran Pelabuhan disesuaikan
dengan jumlah dan ukuran kapal yang keluar masuk pelabuhan.
Ada beberapa data yang dipergunakan untuk perencanaan yang terlebih
dahulu harus dianalisis. Data-data tersebut antara lain data angin, pasang surut,
jumlah kapal, dan karakteristik kapal. Selanjutnya dari data yang telah dianalisis
tersebut dapat digunakan untuk merencanakan kedalaman alur pelayaran,
training jetty, breasting dolphin, mooring dolphin, dan jalan akses.

2.2 Gelombang
Gelombang adalah dinamika/pergerakan naik dan turunnya permukaan
laut yang disebabkan oleh berbagai kekuatan, dimana profil/fluktuasi muka
air merupakan fungsi ruang (x) dan waktu (t).
Gelombang yang menjalar dari laut dalam adalah gelombang sinusoidal.
Penjalaran gelombang di laut dalam tidak dipengaruhi oleh kedalaman dasar
(d), tetapi untuk gelombang di laut transisi dan laut dangkal, penjalarannya
dipengaruhi oleh kedalaman dasar. Di zona ini, apabila ditinjau suatu garis
puncak gelombang, bagian dari puncak gelombang yang berada di kedalaman
yang lebih dangkal akan menjalar dengan kecepatan lebih kecil daripada bagian
yang menjalar di kedalaman yang lebih besar.
Berdasarkan kedalaman relative (d/L), yaitu perbandingan antara
kedalaman air (d) dan panjang gelombang (L). Gelombang dapat
diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) macam yaitu:

3
4

1. gelombang di laut dalam jika d/L ≥ 0.50


2. gelombang di laut transisi jika 0.05 < d/L < 0.50
3. gelombang di laut dangkal jika d/L ≤ 0.05

2.3 Pembangkitan Gelombang Angin


Angin yang berhembus di atas permukaan air yang semula tenang,
akan menyebabkan gangguan pada permukaan tersebut, dengan timbulnya riak
gelombang kecil di atas permukaan. Apabila kecepatan angin bertambah, riak
tersebut menjadi semakin besar, dan apabila angin berhembus terus, akhirnya
akan terbentuk gelombang. Semakin lama dan semakin kuat angin berhembus,
maka gelombang yang terbentuk semakin besar.
Sebagian besar gelombang di laut dibangkitkan oleh angin, dimana
tinggi dan periode gelombang yang dibangkitkan dipengaruhi oleh kecepatan
angin (U), lama hembus angin (td), dan fetch (F).

2.4 Analisis Data Angin


Angin adalah sirkulasi udara yang kurang lebih sejajar dengan permukaan
bumi. Gerakan udara ini disebabkan oleh perubahan temperatur atmosfer.
Data angin yang kita gunakan berupa data angin harian, yaitu berupa data
arah dan kecepatan angin. Kemudian data ini diolah untuk mendapatkan
persentase kejadian angin. Setelah itu dibuat gambar windrose yang
menggambarkan antara kecepatan angin dan persentase kejadian, untuk
mengetahui arah angin dominan. Dengan data ini dapat untuk mencari tinggi
gelombang dan periode gelombang.
Gelombang dapat terjadi karena angin, gaya tarik matahari dan bulan
(pasang surut), gerakan kapal dan letusan gunung berapi atau gempa di laut
(tsunami). Gelombang dibagi menjadi 2, yaitu gelombang laut dangkal dan
gelombang laut dalam. Gelombang yang berpengaruh pada tinggi permukaan air
laut sampai ke pantai adalah gelombang laut dalam.
5

2.5 Fetch
Fetch didefinisikan sebagai daerah angin bergerak dengan arah dan
kecepatan angin yang relatif konstan. Di dalam tinjauan pembangkitan
gelombang di laut, fetch dibatasi oleh bentuk daratan yang mengelilingi laut.
Di daerah pembentukan gelombang, gelombang tidak hanya dibangkitkan
dalam arah yang sama dengan arah angin tetapi juga dalam berbagai sudut
terhadap arah angina. Arah angin yang masih dapat diterima sebagai konstan
untuk hitungan adalah bila perubahan arahnya kurang dari 150. Perubahan arah
angin lebih dari 450 seyogyanya dianggap sebagai arah yang berbeda.
Pada beberapa pustaka, dikenal fetch efektif untuk meramalkan
gelombang. Menurut beberapa penelitian terakhir, ternyata penggunaan fetch
efektif berakibat terlalu rendahnya hasil hitungan, namun demikian CERC
(1984) masih menganjurkan untuk menggunakan fetch efektif yang dihitung
dengan memperhatikan perairan dan pulau di depan atau di sekitar lokasi yang
ditinjau.
Perhitungan panjang fetch efektif dilakukan dengan menggunakan
bantuan peta topografi lokasi dengan skala yang cukup besar atau
menggunakan Google Earth.
Untuk keperluan peramalan gelombang, fetch efektif juga dapat dihitung
dengan menggunakan Saville’s Method (1962) atau dalam buku teknik
pantai Bambang Triatmodjo (1999) dengan bentuk persamaan sebagai berikut:

Dengan:
Feff = fetch efektif,
Fi = panjang segmen fetch yang diukur dari titik observasi gelombang
ke ujung akhir fetch,
ά = deviasi pada kedua sisi arah angin, dengan menggunakan
pertambahan 6° sampai sudut sebesar 42° pada kedua sisi arah
angin.
6

2.6 Faktor Tegangan Angin (wind stress factor)


Biasanya pengukuran angin dilakukan di daratan, padahal di dalam rumus-
rumus pembangkitan gelombang angin yang digunakan adalah diukur di atas
permukaan laut. Seperti data angin yang biasanya diperoleh dari Badan
Meteorologi & Geofisikan, BMG berupa kecepatan angin. Oleh karena itu
diperlukan transformasi dari data angin di daratan yang terdekat dengan lokasi
studi ke data angin di atas permukaan alut. Transformasi tersebut dituangkan
dalam bentuk koreksi untuk mendapatkan faktor tegangan angin, UA (wind
stress factor).
2.6.1 Koreksi elevasi
Wind stress factor dihitung dari kecepatan angin yang diukur dari
ketinggian 10 m di atas permukaan. Bila data angin diukur tidak dalam
ketinggian ini, koreksi perlu dilakukan dengan persamaan berikut ini
(persamaan ini dapat dipakai untuk y < 20 m):

( )
1
10
U 10=U y 7
y
dengan:
U10 = kecepatan angin hasil koreksi elevasi (m/det),
Uy = kecepatan angin yang tidak diukur pada ketinggian 10 m
(m/det),
y = elevasi atau ketinggian alat ukur di atas permukaan laut (m).

2.6.2 Koreksi stabilitas dan koreksi lokasi pengamatan


Koreksi stabilitas (RT) diperlukan karena adanya perbedaan
temperatur antara udara dan laut. Apabila data temperatur tidak
diketahui, maka CERC (1984) menyarankan penggunaan RT = 1,1.
Sedangkan koreksi lokasi dilakukan karena data angin yang digunakan
adalah data angin daratan sehingga perlu adanya koreksi lokasi untuk
menjadikan data angin daratan menjadi data angin pengukuran di laut.
Berikut ini adalah persamaan yang digunakan untuk koreksi stabilitas:
7

Sedangkan untuk menentukan kecepatan angin di laut, digunakan


persamaan sebagai berikut:
U W = RL . U L

dengan:
U10 = kecepatan angin hasil koreksi elevasi (m/det)
RT = rasio amplifikasi, (RT = 1,1)
UL = kecepatan angin di daratan (m/det)
RL = rasio kecepatan angin di atas laut dengan daratan, diperoleh
dari kurva
UW = kecepatan angin di laut (m/det).

Adapun kurva rasio kecepatan angin di atas laut dengan di


daratan, ditunjukkan pada Gambar 2.1 di bawah ini.

Gambar 2.1. Kurva rasio kecepatan angin di atas laut dengan di daratan.
(Sumber: CERC, 1984)
8

2.6.3 Koreksi durasi


Data angin yang tersedia biasanya tidak disebutkan durasinya atau
merupakan data hasil pengamatan sesaat. Kondisi sebenarnya kecepatan
angin adalah selalu berubah-ubah meskipun pada arah yang sama. Untuk
melakukan peramalan gelombang diperlukan juga durasi angin bertiup,
dimana selama dalam durasi tersebut dianggap kecepatan angin adalah
konstan. Oleh karena itu, koreksi durasi ini dilakukan untuk mendapatkan
kecepatan angin rata-rata selama durasi angin bertiup diinginkan.
Berdasarkan data hasil pengamatan angin sesaat, dapat dihitung
kecepatan angin rata-rata untuk durasi angintertentu, dengan prosedur
sebagai berikut:
a. Diketahui kecepatan angin sesaat adalah uf, akan ditentukan angin
dengan durasi ti detik (ut).

b. Menghitung u3600

c. Menghitung U3600

d. Menghitung ut =, t = durasi yang ditentukan

e. dengan nilai c adalah sebagai berikut: untuk 1 < ti < 3600 det

untuk 3600 < ti < 36000 det:c = -0.15 log t i + 1.5334


9

Keterangan:
uf = Kecepatan angin maksimum (m/det)
ut = Kecepatan angin rata-rata untuk durasi angin yang diinginkan
(m/det)
ti = durasi angin yang diinginkan (detik)

2.6.4 Koreksi koefisien seret


Setelah data kecepatan angin melalui koreksi-koreksi di atas,
maka data kecepatan tersebut dikonversi menjadi wind stress factor
(UA) dengan menggunakan persamaan di bawah ini:

dengan:
UW = kecepatan angin di atas laut (m/det),
UA = wind stress factor (m/det).

2.7 Peramalan/Hindcasting Gelombang di Laut Dalam


Pembentukan gelombang di laut dalam, dianalisa dengan formula-
formula empiris yang diturunkan dari model parametrik berdasarkan spektrum
gelombang JONSWAP (Joint North Sea Wave Project) (CERC, 1984).
Prosedur peramalan tersebut berlaku baik untuk kondisi fetch terbatas (fetch
limited condition) maupun kondisi durasi terbatas (duration limited condition).
10

Pada kondisi fetch terbatas, angin bertiup secara konstan cukup jauh
untuk tinggi gelombang di ujung fetch dalam mencapai keseimbangan
sedangkan pada kondisi durasi terbatas, tinggi gelombang dibatasi waktu
setelah angin bertiup/berhembus. Spektral tinggi gelombang signifikan (H0) dan
periode puncak spektrum (Tp) adalah parameter yang diramalkan dengan
persamaan sebagai berikut.
Prosedur peramalan gelombang di laut dalam adalah sebagai berikut ini.
1. Melakukan analisis perbandingan hasil hitungan Persamaan (4.32) dengan
Persamaan (4.33). Jika tidak memenuhi Persamaan (4.33), maka gelombang
yang terjadi merupakan hasil pembentukan gelombang sempurna atau
Fully Developed Sea (FDS).
Penghitungan tinggi dan periode gelombangnya menggunakan persamaan
berikut:

2. Jika hasil analisis perbandingan memenuhi Persamaan (4.33), maka


gelombang yang terjadi merupakan hasil pembentukan gelombang tidak
sempurna atau Non-Fully Developed Sea (NFDS). Pembentukan
gelombang tidak sempurna ini terdiri dari dua jenis, yaitu pembentukan
gelombang terbatas fetch (fetch limited) dan terbatas durasi (duration
limited). Untuk membedakannya perlu dihitung terlebih dahulu durasi
minimum (tmin), (Deo, 2007) sebagai berikut:

3. Memeriksa durasi angin aktual yang ditentukan (td), lalu membandingkan


terhadap durasi hasil hitungan (tmin).
a. Jika td > tmin, maka gelombang yang terjadi merupakan gelombang
11

hasil pembentukan terbatas fetch. Pada pembentukan jenis ini, durasi


angin yang bertiup cukup lama. Penghitungan tinggi dan periode
gelombangnya dilakukan dengan menggunakan Persamaan (4.30) dan
(4.31).
b. Jika td < tmin, maka gelombang yang terjadi merupakan gelombang
hasil pembentukan terbatas durasi. Pada pembentukan ini, durasi
angin yang bertiup tidak cukup lama. Penghitungan tinggi dan periode
gelombangnya dilakukan dengan menggunakan Persamaan (4.30) dan
(4.31) dengan terlebih dahulu mengganti panjang Feff dengan Fmin
berikut ini:

Keterangan:
Feff = panjang fetch efektif (m),
H0 = tinggi gelombang signifikan menurut teori spektral energi
(m),
Tp = periode puncak spektrum (detik),
2
g = percepatan gravitasi = 9.81 (m/det ),
UA = wind stress factor (m/det),
ta = durasi angin (detik),
td = durasi angin aktual yang ditentukan (detik),
tmin = durasi angin kritik/minimum (detik).
12

Gambar 2.2. Flowchart peramalan gelombang

2.8 Perencanaan Fasilitas Dasar


2.8.1 Alur Pelayaran
Alur pelayaran adalah bagian perairan pelabuhan yang berfungsi
sebagai jalan keluar-masuk kapal-kapal yang berlabuh dan
menyandarkan kapalnya di pelabuhan. Alur pelayaran dan kolam
pelabuhan harus cukup tenang terhadap pengaruh gelombang dan arus.
Perencanaan alur pelayaran dan kolam pelabuhan ditentukan oleh kapal
terbesar yang akan masuk ke pelabuhan dan kondisi meteorologi dan
oceanografi. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan
karakteristik alur masuk pelabuhan adalah sebagai berikut:
1. Keadaan trafik kapal
2. Keadaan geografi dan meterologi di daerah alur (bathimetri laut)
3. Kondisi pasang surut, arus dan gelombang
4. karateristik maksimum kapal – kapal yang menggunakan pelabuhan
13

Gambar 2.4. Kedalaman alur pelayaran

2.8.2 Kedalaman Alur


Persamaan yang digunakan untuk mendapatkan kedalaman alur ideal yaitu
:
Z=d+G+R+P+S+K
Dimana :
Z = kedalaman alur pelayaran (m)
d = draft kapal (direncanakan d = 1,8 m)
G = gerak vertikal kapal karena gelombang (toleransi maksimal 0,5)
R = ruang kebebasan bersih minimum 0,5 m
P = ketelitian pengukuran
S = pengendapan sedimen antara dua pengerukan
K = toleransi pengerukan

2.8.3 Lebar Alur Pelayaran


Lebar alur pelayaran dapat digunakan untuk satu kapal atau dua
kapal (oneway traffic atau two way traffic), dihitung dengan formula
sebagai berikut :

Alur dengan 1 Kapal W= 4,8 B


Alur dengan 2 kapal W= 7,6 B
14

Dimana :
W : Lebar Alur Pelayaran
B : Lebar Kapal.

2.8.4 Kolam Pelabuhan


Kolam pelabuhan adalah lokasi perairan tempat kapal berlabuh,
mengisi perbekalan, atau melakukan aktifitas bongkar muat. Kondisi
kolam pelabuhan yang tenang dan luas, menjamin efisiensi operasi
pelabuhan. Kenyamanan dan ketenangan kolam pelabuhan dapat
dipenuhi apabila memenuhi syarat:
1. Kolam pelabuhan cukup luas dan dapat menampung semua kapal
yang datang dan masih tersedia cukup ruang bebas, agar kapal yang
sedang melakukan manufer dapat bergerak bebas tanpa menganggu
aktifitas kapal yang sedang bongkar muat di dermaga.
2. Kolam pelabuhan mempunyai kedalaman yang cukup, agar arus
keluar masuknya kapal-kapal tidak terpengaruh pada pasang surut air
laut.
3. Tersedianya bangunan peredam gelombang, sehingga kolam
pelabuhan sebagai kolam perlindungan dari pengaruh gelombang.
4. Memiliki radius putar (turning basin) bagi kapal-kapal yang
melakukan gerak putar berganti haluan, tanpa menganggu aktifitas
kapal-kapal lain yang ada di kolam pelabuhan.
Adapun rumus untuk mencari Luas Kolam Pelabuhan adalah :

A = R + (3n x L x B)

Dimana :
A : Luas kolam pelabuhan (m2)
R : Radius putar (m2)
2 x Loa (length Over All) atau 2 x Panjang kapal
n : Jumlah kapal maksimum yang berlabuh tiap hari
L : Panjang kapal (m)
B : Lebar kapal (m)
15

2.8.5 Dermaga
Dermaga berfungsi sebagai tempat membongkar muatan atau ikan
hasil tangkapan (unloading), memuat/mengisi perbekalan (loading
service) dan brlabuh (berthing). Dasar pertimbangan dalam perencanaan
dermaga:
 Panjang dan lebar dermaga disesuaikan dengan kapasitas/jumlah
kapal yang akan berlabuh.
 Lebar dermaga dipilih sedemikian rupa sehingga paling
menguntungkan terhadap fasilitas darat yang tersedia seperti TPI dan
gudang dengan masih tetap mempertimbangkan kedalaman air.

1) Tipe Demaga
Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pemilihan tipe dermaga
adalah sebagai berikut:
 Tinjauan topografi daeah pantai
 Jenis kapal yang dilayani
 Daya dukung tanah

Ada dua macam tipe dermaga yaitu:


a) Tipe Wharft
Wharft adalah dermaga yang dibuat sejajar pantai dan
dapat dibuat berhimpitan dengan garis pantai atau agak menjorok
ke laut. Wharft dibangun apabila garis kedalaman laut hampir
merata dan sejajar dengan garis pantai.
b) Pier atau Jetty
Pier adalah dermaga yang dibangun dengan membentuk sudut
terhadap garis pantai.

2) Panjang Dermaga
Persamaan panjang dermaga disesuaikan dengan fungsi
pelabuhannya, dalam hal ini pelabuhan peti kemas sehingga
digunakan rumus pendekatan panjang dermaga sebagai berikut:

Lp = n × Loa + (n + 1) × 10% × Loa


16

Keterangan :
Lp = Panjang Dermaga
Loa = Panjang Kapal
n = Jumlah Kapal yang direncanakan akan bertambat

3) Lebar Dermaga
Lebar dermaga harus di rencanakan sedemikian rupa,
disesuaikan dengan kebutuhan ruang yang tergantung aktivitas
bongkar muat dan persiapan pelayaran. Umumnya lebar dermaga
antara 3 – 25 m

4) Panjang Trentle
Penentuan panjang trestle berdasarkan kedalaman dermaga
yang direncanakan, diukur dari titik pelabuhan yang direncanakan
hingga mencapai kedalaman rencana dermaga.

5) Lebar Trestle
Lebar trestle pelabuhan peti kemas dapat dihitung
menggunakan persamaan berikut :

Bt = (n × Bb) + 1 + (0,5 × 2) + (0,5 × 2)

Keterangan :
Bt = Lebar Trestle
Bb = Lebar Kendaraan yang direncanakan
n = Jumlah kendaraan.

2.8.6 Pemecah Gelombang


Pemecah gelombang berfungsi untuk melindungi kolam pelabuhan,
pantai, fasilitas pelabuhan dari gangguan gelombang yang dapat
mempengaruhi keamanan dan kelancaran aktifitas pelabuhan. Pemecah
gelombang (breakwater) yang umum digunakan ada 2 macam yaitu:
17

1. Pemecah gelombang yang dihubungkan dengan pantai (shore


connected breakwater)
2. Pemecah gelombang lepas pantai (off shore breakwater)

Pemilihan pemecah gelombang ditentukan dengan melihat hal-hal


sebagai berikut:
 Bahan yang tersedia di sekitar lokasi
 Besar gelombang
 Pasang surut air laut
 Kondisi tanah dasar laut
 Peralatan yang digunakan untuk pembuatnya

Untuk perencanaan bentuk dan kestabilan pemecah gelombang


perlu diketahui:
 Tinggi muka air laut akibat adanya pasang surut
 Tinggi puncak gelombang dari permukaan air tenang
 Perkiraan tinggi dan panjang gelombang
 Run up gelombang

2.9 Fender
Dalam perkapalan, fender adalah bumper yang digunakan untuk
meredam benturan yang terjadi pada saat kapal akan merapat ke dermaga
atau pada saat kapal yang sedang ditambatkan tergoyang oleh gelombang
atau arus yang terjadi di pelabuhan.
Fender berfungsi sebagai bantalan yang ditempatkan di depan dermaga
sehingga fender tersebut akan menyerap energi benturan antara Program
kapal dan dermaga. Gaya yang harus ditahan oleh dermaga tergantung pada
tipe dan konstruksi fender dan defleksi dermaga yang diijinkan. Fender juga
melindungi rusaknya cat badan kapal karena gesekan antara kapal dan
dermaga yang disebabkan oleh gerak karena gelombang, arus dan angin.
Fender harus dipasang di sepanjang dermaga dan letaknya harus sedemikian
rupa sehingga dapat mengenai kapal. Oleh karena kapal mempunyai ukuran
yang berlainan maka fender harus dibuat agak tinggi pada sisi dermaga.
18

Dalam perencanaan fender ini harus memperhitungkan bobot kapal yang


akan bersandar, frekuensi dari kapal dengan bobot kapal yang berbeda-beda
tetapi dapat bersandar pada dermaga yang sama dan dengan kondisi pasang
surut yang berbeda-beda pada daerah kolam pelabuhan. Setelah diketahui
karakteristik kapal yang akan bersandar dan kondisi pasang surut pada
daerah kolam pelabuhan, maka dapat direncanakan suatu sistem fender yang
efisien dan ekonomis.

Kapal yang merapat ke dermaga masih mempunyai kecepatan baik yang


digerakkan oleh mesinnya sendiri atau ditarik oleh kapal tunda. Pada waktu
kapal merapat akan terjadi benturan antara kapal dengan dermaga, untuk
menghindari kerusakan pada kapal dan dermaga karena benturan maka di
depan dermaga diberi bantalan yang berfungsi sebagai penyerap energi
benturan. Bantalan yang diletakkan di depan dermaga tersebut dinamakan
fender.

Pada waktu kapal melakukan bongkar muat, maka kapal harus tetap
berada pada tempatnya dengan tenang, untuk itu kapal diikat dengan
penambat. Alat penambat harus mampu manahan gaya tarik yang
ditimbulkan oleh kapal.

Fender berfungsi sebagai bantalan yang ditempatkan di depan dermaga.


Fender akan menyerap energi benturan antara kapal dan dermaga. Ada
beberapa tipe fender, yaitu:

1. Fender kayu
Fender kayu bisa berupa batang-batang kayu yang dipasang horisontal
atau vertikal. Fender kayu ini mempunyai sifat untuk menyerap energi.
Fender tiang pancang kayu yang ditempatkan di depan dermaga
dengan kemiringan 1 H : 24 V akan menyerap energi karena defleksi yang
terjadi pada waktu dibentur kapal.
19

Penyerapan energi tidak hanya tidak hanya diperoleh dari defleksi tiang kayu,
tetapi juga dari balok kayu memanjang. Tiang kayu dipasang pada setiap
seperempat bentang.
2. Fender karet
Karet banyak digunakan sebagai fender, bentuk paling sederhana dari fender
ini berupa ban-ban luar mobil untuk kapal kecil yang dipasang pada sisi
depan di sepanjang dermaga.
Fender karet mempunyai bentuk berbeda seperti fender tabung silinder dan
segiempat, blok karet berbentuk segiempat dan fender Raykin.
3. Fender gravitasi
Fender ini terbuat dari tabung baja yang diisi dengan beton dan sisi depannya
diberi pelindung kayu dengan berat sampai 15 ton. Apabila terbentur kapal
maka fender tersebut akan bergerak ke belakang dan ke atas, sedemikian
sehingga kapal dapat dikurangi kecepatannya, karena untuk menggerakan ke
belakang diperlukan tenaga yang besar. Prinsip kerja fender gravitasi adalah
mengubah energi kinetik menjadi energi potensial. Perencanaan Fender
a) Dalam perencanaa fender dianggap bahwa kapal bermuatan penuh dan
merapat dengan sudut 100 terhadap sisi depan dermaga.
b) Energi yang diserap oleh sistem fender dan dermaga biasanya 0,5E.
Setengah energi yang lain diserap oleh kapal dan air, tahanan naik dari
nol sampai maksimum dan kerja yang dilakukan :
1
K= Fd
2

\
20

Gambar 2.12 Benturan Kapal Pada Dermaga

1 1
E= Fd
2 2

1 W 2 1
V = Fd
2 g 2

W
F= V2
2 gd

Dengan :

F : gaya bentur yang diserap sistem fender

d : defleksi fender

V : komponen kecepatan dalam arah tegak lurus sisi dermaga

W : bobot kapal bermuatan penuh

Persamaan berikut adalah untuk menentukan jarak maksimum antar fender.

L = 2 √ r 2−¿ ¿

dengan : L : jarak maksimum antar fender (m)

r : jari-jari kelengkungan sisi haluan kapal (m)

h : tinggi fender

2.10 Pondasi
Pondasi adalah suatu bagian dari dermaga yang tertanam atau
berhubungan dengan tanah, fungsi dari pondasi adalah untuk menahan
beban bangunan di atasnya dan meneruskannya ke tanah dasar. Tujuannya
adalah agar didapat keadaan yang kokoh dan stabil atau dengan kata lain tidak akan
terjadi penurunan yang besar, baik arah vertikal maupun horizontal. Dalam
perencanaan suatu konstruksi untuk bangunan yang kokoh, kuat, stabil dan
ekonomis, perlu diperhitungkan hal-hal sebagai berikut:
1. Daya dukung dan sifat-sifat tanah.
21

2. Jenis serta besar kecilnya bangunan yang dibuat.


3. Keadaan lingkungan lokasi pelaksanaan.
4. Peralatan yang tersedia.
5. Waktu pelaksanaan yang tersedia.

Dari kelima faktor tersebut diatas, dalam perencanaan dan pelaksanaan serta
jenis pondasi yang akan dipakai, maka dapat dipilih beberapa alternatif
antara lain:

1. Pondasi dangkal
Pondasi dangkal adalah suatu pondasi yang mendukung bangunan bawah
secara langsung pada tanah. Pondasi dangkal dapat dibedakan menjadi:
a. Pondasi tumpuan setempat. b. Pondasi tumpuan menerus. c. Pondasi
tumpuan pelat.
2. Pondasi dalam Pondasi
dapat dibedakan menjadi:
a. Pondasi tiang pancang Pondasi tiang pancang digunakan bila tanah
pendukung berada pada kedalaman lebih dari 8 meter, bentuk dari
pondasi tiang pancang adalah lingkaran, segi empat, segi tiga, dan
lainnya.
b. Pondasi sumuran Pondasi sumuran digunakan apabila tanah pendukung
berada pada kedalaman 2-8 meter, pondasi ini mempunyai bentuk
penampang bulat, segiempat, dan oval.

Perencanaan pondasi dimaksudkan agar pondasi yang dibuat mampu


menahan gaya-gaya yang bekerja pada pelabuhan secara baik. Adapun
perhitungan ini menggunakan rumus Meyerhof yang berdasarkan nilai N-
SPT.

Data yang diketahui:N-SPT, Panjang lapisan tanah,mBerat jenis beton


bertulang
Menghitung beban vertical yang harus ditahan pondasi
a) Beban Mati
Jarak antar tiang (S) >3 d
22

Jumlah tiang untuk 1 baris = P Dermaga / (jarak tiang+d tiang)

Jumlah total 1 segmen = 3 x [Link]

Volume balok =Lxbxh

Volume Pile Cap =Lxbxh

Keseluruhan beban mati dan beban sendiri

Beban pelat = γ beton x L x tebal pelat x b

Beban balok = jml balok x (γ beton x L x b x h)

Beban pile cap = jml pile cap x (γ beton x L x b x h)

Beban tiang = j. dipakai x (γ beton x (1/4 π D2)) x d

b) Beban Hidup
Berat truk barang
Berat alat pelengkap lain
Keseluruhan beban hidup yang akan ditahan struktur dermaga
Beban kendaraan = wtruk x jumah
Menghitung daya dukung tiang
Cu = N-SPT x (2/3) x 10

Ap = ¼ π d2

Sehingga, didapatkan daya dukung ujung tiang


Qp = 9 x Cu x Ap/SF

Menghitung daya dukung selimut tiang


P = πd

Sehingga, didapatkan daya dukung selimut tiang


Qs = α x Cu x P x Li/SF
23

Maka daya dukung ijin didapatkan


Qijin untuk 1 tiang = Qp + Qs

Qijin = n x Qijin untuk 1 tiang

Cek (Qijin/SF>Pu) = Qijin/ 3

Syarat
Qijin/SF >PU

Anda mungkin juga menyukai