0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan15 halaman

Dongeng Anak Penuh Makna untuk Tidur

Diunggah oleh

Anonymous ezEL09
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan15 halaman

Dongeng Anak Penuh Makna untuk Tidur

Diunggah oleh

Anonymous ezEL09
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

juga mengajarkan nilai-nilai positif, membantu meningkatkan imajinasi, dan mengajak anak-

anak untuk bermimpi dan berpetualang.


Selain itu, membacakan dongeng kepada anak juga menjadi momen yang menyenangkan bagi
mereka untuk menciptakan hubungan yang lebih akrab dengan orang tersayangnya lho. Ini
akan menjadi hal yang tak terlupakan baginya sampai kapanpun.

Untuk kamu yang bingung memilih dongeng seperti apa, berikut 15 dongeng penuh makna
yang bisa kamu bacakan untuk si kecil sebagai pengantar tidurnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga:
3 Cerita Dongeng Anak Sebelum Tidur, Banyak Pesan Moralnya
15 Cerita Dongeng Nusantara
Mengutip dari buku 88 Cerita Terbaik Asal-Usul Nama Daerah, karya Marina dan Zulfa, berikut
beberapa cerita dongeng anak penuh makna yang cocok sebagai pengantar tidur dan
membentuk pribadi aanak:

1. Putri Pukes dan Danau Laut Tawar


Di dataran tanah Gayo, hiduplah seorang putri raja bernama Putri Pukes. Sang Putri menyukai
seorang pangeran dari kerajaan lain. Semula, kedua orang tuanya tidak merestui, karena negeri
tempat tinggal pangeran itu jauh. Namun, karena kegigihan Putri Pukes dan Sang Pangeran,
orangtua sang Putri pun merestui dan menikahkan mereka.

ADVERTISEMENT
Setelah menikah, tibalah saatnya Putri Pukes harus menyusul suaminya. la pun pamit kepada
orangtuanya untuk pergi ke kerajaan suaminya. Orangtua Putri Pukes sangat bersedih, tetapi
mereka harus melepas anaknya itu pergi.

"Pergilah, Nak, bersama para pengawal. Namun, satu hal yang harus kau jaga, begitu
melangkahkan kaki keluar dari kerajaan ini, sekali pun janganlah menoleh lagi ke belakang,"
pesan orangtuanya.

Putri Pukes pun berangkat bersama para pengawalnya. Di tengah jalan. ia selalu teringat akan
orang tuanya dan sangat merindukan mereka. Karena ia terlalu bersedih, tanpa sengaja ia
menoleh ke belakang.

Tiba-tiba, datanglah petir menyambar dan hujan yang sangat lebat. Putri Pukes dan
rombongannya berteduh di dalam sebuah gua. Di dalam gua, Putri Pukes berdiri di sudut gua
untuk menghangatkan tubuhnya yang kedinginan. Perlahan, sang Putri merasa tubuhnya
mengeras. Putri Pukes sangat terkejut dan menangis.

Ternyata tubuhnya menjadi batu la menyesal karena tidak mengindahkan pesan orangtuanya.
Seharusnya, la tidak menoleh ke belakang selama perjalanan. Setelah merasa cukup lama
beristirahat dan hujan mulai reda, mereka berniat melanjutkan perjalanan. Para pengawal pun
memanggil Sang Putri.

"Tuan Putri! Hujan sudah reda, mari kita melanjutkan perjalanan!" panggil para pengawal.
Berkali-kali mereka memanggil, tetapi tetap tidak terdengar jawaban.

Para pengawal pun menghampiri tempat Putri Pukes berdiri. Mereka terus memanggil, tetapi
sang Putri diam saja. Saat melihat dengan jelas, para pengawal sangat terkejut karena tubuh
Putri Pukes telah mengeras dan menjadi batu. Sampai sekarang, batu Putri Pukes masih bisa
dilihat.

Bentuknya membesar di bagian bawah, tetapi bentuk sanggul dan kepala Sang Putri masih bisa
dikenall. Menurut kepercayaan penduduk, batu tersebut membesar di bawah karena Putri
Pukes terus menangis yang menyebabkan air matanya menumpuk di bawah.

Sementara itu, karena hujan yang sangat lebat, terbentuklah danau di kawasan itu. Penduduk
sekitar menyebut danau tersebut dengan nama Danau Laut Tawar.

Pesan moral dari cerita di atas adalah, patuhilah pesan orang tua kita, karena itu semua pasti
demi kebaikan kita.

2. Si Parkit Raja Parakeet


Konon, di tengah hutan belantara Aceh, hiduplah sekawanan burung parakeet yang hidup
damai, tentram, dan makmur. Kawanan burung tersebut dipimpin oleh seorang raja parakeet
yang bernama si Parkit.

Suatu hari datanglah seorang pemburu yang berniat menangkap mereka dengan cara
memasang perekat. Si Parkit mengetahui niat jahat pemburu dan memberitahukan pada
seluruh kawanan burung untuk berhati-hati.

Saat burung-burung itu keluar dari sarangnya untuk mencari makan, mereka tarekat pada
perekat si Pemburu. Mereka berusaha melepaskan diri tetapi sia-sia. Melihat kejadian itu, si
Parkit menenangkan rakyatnya dan memberi tahu untuk berpura-pura mati saat pemburu
melepaskan mereka dari perekatnya, agar si Pemburu itu nantinya tidak jadi mengambil
mereka.

Ternyata cara itu dapat mengelabui si Pemburu dan saat lengah, kawanan burung tersebut
melarikan diri. Si Pemburu pun kaget dan menyadari bahwa ia telah ditipu. Malangnya, si Parkit
justru masih terjebak. Pemburu segera menghampirinya dan mengancam akan membunuhnya.
Si Parkit yang ketakutan pun membujuk si Pemburu agar tidak membunuhnya dan berjanji akan
bernyanyi setiap hari untuk menghibur pemburu.

Sejak saat itu, setiap hari si Parkit selalu bernyanyi. Banyak orang yang memuji kemerduan si
Parkit, salah satunya Raja Aceh. Akhirnya, dengan menyerahkan sejumlah uang kepada
pemburu, si Parkit menjadi milik raja. la dibawa ke istana, dimasukkan ke dalam sangkar emas,
dan diberikan makanan enak setiap harinya.
Meskipun serba enak, si Parkit tetap ingin kembali ke hutan, agar ia bisa ter- bang bebas
bersama rakyatnya. Si Parkit pun memikirkan cara untuk bisa keluar dari sangkar dan
memutuskan untuk berpura-pura mati.

Suatu hari, petugas istana melaporkan kematian si Parkit pada raja. Sang raja pun sedih
mendengar berita kematian itu. Namun, ketika hendak dikebumikan, si Parkit dengan cepat
terbang setinggi-tingginya. Akhirnya si Parkit yang cerdik itu bisa kembali ke hutan. Kedatangan
si Parkit pun disambut dengan meriah oleh rakyatnya.

Cerita ini dikutip dari buku Rangkuman 100 Cerita Rakyat Indonesia: Dari Sabang Sampai
Merauke karya Irwan dan Shenia.

3. Si Malin Kundang
Di pesisir pantai wilayah Sumatera hiduplah seorang anak laki-laki yang bernama Malin
Kundang bersama ayah ibunya. Suatu hari ayahnya pergi mengadu nasib ke negeri seberang
dengan mengarungi lautan yang luas. Hampir setahun ayahnya tidak pernah kembali dan
dikabarkan telah meninggal.

Sejak saat itu, ibunya yang mencari nafkah untuk mereka berdua. Malin anak yang cerdas
walau kadang nakal. la suka mengejar ayam hingga suatu kali terjatuh dan meninggalkan bekas
luka di lengannya.

Saat dewasa, Malin Kundang merasa kasihan dengan ibunya yang sudah tua tetapi tetap
bekerja, la pun menyampaikan niatnya untuk mencari nafkah di negeri seberang. Walaupun
awalnya ibunya tidak setuju, tapi akhirnya ia tetap mengizinkannya untuk pergi.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang diserang oleh bajak laut. Malin
Kundang sangat beruntung dirinya selamat dan tidak dibunuh karena Malin bisa bersembunyi di
sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu.

Malin Kundang terkatung-katung di tengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya
terdampar di sebuah pantai. Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju ke
desa yang terdekat dari pantai. Selanjutnya, Malin menetap di desa itu dan bekerja dengan
gigih dan ulet.

Malin pun menjadi kaya raya dan ia pun telah mempersunting seorang gadis. Berita Malin
Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibunya. Ibu
Malin Kundang merasa bersyukur anaknya telah berhasil.

Suatu hari Malin dan istrinya melakukan pelayaran ke kampungnya dengan kapal yang besar
dan indah disertai anak buah kapal serta pengawalnya. Saat Malin turun dari kapal, ibunya
berdiri cukup dekat dan meyakini bahwa itu anaknya karena ia melihat bekas luka di lengannya.

Ia pun segera memeluk Malin, tetapi dengan kasarnya Malin melepaskan pelukan. Bahkan,
mendorongnya, menghinanya, serta tidak mengakui bahwa wanita itu ibunya. Ibu Malin sangat
sedih dan marah.
Karena itu ia segera menengadahkan tangan, "Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi
dia menjadi sebuah batu". Tidak berapa lama kemudian angin bergemuruh kencang dan badai
dahsyat. Tubuh Malin Kundang pun perlahan kaku dan menjadi sebuah batu karang.

4. Kutukan Seorang Nenek, Asal Usul Danau Lau Kawar


Lau Kawar adalah sebuah danau yang terletak di Desa Kuta Gugung. Kecamatan Simpang
Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Danau ini dikelilingi oleh bunga-bunga anggrek yang
Indah dan pemandangan alam yang memesona.

Dahulu kala, Desa Kawar merupakan desa yang subur. Suatu ketika, hasil panen penduduk
berlimpah ruah. Para penduduk pun mengadakan acara adat sebagai bentuk syukur kepada
Tuhan Yang Maha Esa.

Penduduk desa bersukacita menghadiri acara itu. Semua penduduk hadir, kecuali seorang
nenek yang sedang terbaring sakit di rumahnya. Semua anggota keluarga nenek itu pergi ke
pesta dan meninggalkan sang nenek seorang diri.

Suara yang ramai membangunkan si nenek. Perutnya terasa lapar. Dengan susah payah ia
turun dari tempat tidur dan beringsut ke dapur untuk mencari makanan. Sayangnya, tidak ada
sedikitpun makanan di dapur.

Nenek itu kembali ke tempat tidur. la sangat sedih, karena anak dan menantunya tidak ingat
kepadanya. Padahal, di tempat pesta, makanan berlebih. Air matanya bercucuran.

Ketika pesta makan-makan usai, barulah anaknya ingat bahwa ibunya belum makan. Ia
menyuruh istrinya mengirimkan makanan untuk ibu mereka di rumah. Istrinya segera
membungkus makanan dan menyuruh anaknya mengantarkan makanan itu.

Di perjalanan ke rumah nenek, si anak merasa lapar. la pun menyantap makanan untuk
neneknya, lalu membungkusnya kembali. Setelah mengantar makanan, anak itu kembali lagi ke
tempat pesta.

Si nenek sangat senang ketika cucunya datang membawa makanan. Namun, ia terkejut saat
membuka bungkusan tersebut. Isinya hanyalah sisa- sisa makanan yang menjijikan.

Si nenek sangat sedih, air matanya berlinang. Dalam kesedihannya, la berdoa kepada Tuhan.

"Ya Tuhan, betapa durhakanya mereka kepadaku. Berikanlah pelajaran yang setimpal kepada
mereka!" doanya. Tak lama kemudian, terjadilah gempa bumi yang dahsyat. Petir menyambar
dan guntur menggelegar. Hujan turun begitu derasnya.

Penduduk yang menyelenggarakan pesta rakyat berlari dengan panik sambil menjerit
ketakutan. Namun, hujan semakin deras. Dalam sekejap. Desa Kawar pun tenggelam. Tak ada
seorang pun selamat. Desa yang subur dan makmur itu telah berubah menjadi sebuah danau
besar yang digenangi air. Danau tersebut disebut dengan Lau Kawar

Pesan moral dari cerita ini adalah, dalam keadaan apapun kita harus selalu berbakti kepada
orangtua, jangan durhaka apalagi sampai mengabaikannya.

5. Batu Menangis
Alkisah, di sebuah desa terpencil hiduplah seorang janda tua dengan seorang putrinya yang
cantik jelita bernama Darmi. Mereka tinggal di sebuah gubuk yang terletak di ujung desa.

Darmi memang cantik, parasnya indah menawan. Namun, tingkah lakunya sangatlah tidak
cantik dan sifatnya sangatlah tidak menarik.

Setiap hari Darmi selalu bersolek di kamarnya. Ia tidak pernah mau membantu ibunya sedikit
pun membereskan isi rumah. Kamarnya selalu berantakan. Darmi tidak peduli akan hal itu, ia
hanya peduli pada wajahnya yang cantik jelita tiada terkira haruslah selalu tampil sempurna.

Ibunya Darmi yang sudah tua, setiap hari selalu bekerja keras demi mendapatkan uang.
Apapun jenis pekerjaannya, selama itu halal, akan ia kerjakan. Semua itu ia lakukan hanya
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan kebutuhan Darmi, anak semata wayangnya.

Ibunya Darmi juga kerap diperlakukan seperti pembantu. Setiap ditanya siapa yang berjalan di
belakangmu, ia selalu menjawab bahwa ibunya adalah budaknya.

Mendengar hal itu terus menerus, Ibu Darmi merasa sakit hati hingga berdo'a. Secara perlahan
Darmi berubah menjadi batu. Ia terus menangis dan memohon kepada ibunya. Namun, semua
sudah terlambat. Kini tubuhnya berubah menjadi batu yang terus mengeluarkan air mata.

Cerita ini dikutip dari buku Batu Menangis karya Noor [Link], yang berisi pesan moral bahwa
kita harus senantiasa berbakti kepada orang tua.

6. Bawang Merah dan Bawang Putih


Dahulu kala, hiduplah Bawang Putih dan saudara tirinya, Bawang Merah. Ibu Bawang Putih
meninggal ketika ia masih bayi. Kemudian ayahnya menikah lagi dengan wanita lain dan
memiliki anak bernama Bawang Merah.

Tak berselang lama, ayahnya pun meninggal. Setelah itu, kehidupan Bawang Putih amat
menyedihkan. Kesehariannya, Bawang Putih selalu diminta untuk mengerjakan seluruh
pekerjaan rumah termasuk mencuci baju.

Suatu hari ketika sedang mencuci, baju ibu tiri Bawang Putih hanyut. Bawang Putih pun
bingung sampai akhirnya bertemu dengan seorang nenek yang mengatakan kalau ia
menyimpan baju yang hanyut itu dan akan mengembalikannya dengan satu syarat. Bawang
Putih harus membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Bawang Putih pun menuruti.

Setelah selesai, nenek itu mengembalikan baju ibu tirinya. Nenek itu juga memberinya hadiah.
Bawang Putih harus memilih salah satu labu untuk dibawa pulang, ada labu besar dan labu
kecil. Bawang Putih memilih yang kecil. Sesampainya di rumah alangkah terkejutnya ia beserta
ibu dan saudara tirinya, ternyata labu itu berisi banyak perhiasan.

Keesokan harinya, Bawang Merah melakukan hal yang sama seperti Bawang Putih. Ia pura-
pura menghanyutkan pakaiannya. Kemudian, memilih labu yang besar. Ketika dibuka labu itu
malah berisi ular.

Bawang Merah dan ibunya pun merasa itu adalah bentuk teguran dari Tuhan untuk mereka
karena sudah memperlakukan Bawang Putih layaknya seorang pembantu. Mereka menyadari
semua kesalahannya selama ini pada Bawang Putih dan meminta maaf.

Pesan moralnya adalah, kita tidak boleh berperilaku buruk terhadap orang lain dan memiliki
sifat serakah.

7. Si Tikus dan Si Singa


Suatu saat ada Tikus yang menjahili Singa dikala sedang menikmati tidur siang, sontak
membuat Singa tersebut marah dan ingin memakan sang Tikus karena merasa terganggu.

Sambil meringis ketakutan, Tikus pun memohon kepada Singa untuk melepaskannya dan
memaafkan kejahilan yang ia perbuat. Merasa kasihan, Singa melepaskan Tikus. Tikus merasa
senang, ia berterima kasih dan berjanji untuk membalas semua kebaikan Singa padanya.

Lalu pada suatu hari, Tikus mendengar suara Singa yang mengaung keras. Sang Singa
ternyata terperangkap di sebuah jaring yang sengaja dipasang oleh pemburu. Singa memohon
bantuan Tikus untuk melepaskan jaring tersebut. Dengan sigap, Tikus membantu Singa keluar
dari jaring tersebut dengan menggerogoti jaring sampai terputus. Keduanya pun segera kabur
dan menyelamatkan diri.

Kisah persahabatan Tikus dan Singa ini menjadi inspirasi bagi anak untuk selalu berbuat
kebaikan dan mengingat semua kebaikan yang kita terima.

8. Hang Tuah Ksatria Melayu


Pada masa lalu, dikenal seorang ksatria bernama Hang Tuah. Saat berumur sepuluh tahun,
Hang Tuah pergi berlayar ke Laut Cina Selatan disertai empat sahabatnya, yaitu Hang Jebat,
Hang Kasturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu.

Dalam perjalanan, mereka berkali-kali diganggu oleh gerombolan bajak laut, tetapi mereka
selalu berhasil mengalahkan gerombolan itu. Kabar tersebut terdengar sampai ke telinga
Bendahara Paduka Raja Bintan. la pun mengangkat mereka sebagai anak angkatnya.

Suatu hari di istana Majapahit terjadi sebuah kegaduhan. Taming Sari, prajurit Majapahit yang
sudah tua tapi amat tangguh, tiba-tiba mengamuk. Mengetahui keadaan itu, Hang Tuah
kemudian menghadang Taming Sari dan berhasil mengalahkannya. Hang Tuah kemudian
diberi gelar Laksamana dan dihadiahi keris Taming Sari.

Hang Tuah menjadi laksamana yang amat setia, amat disayang, serta dipercaya raja. Hal itu
menimbulkan rasa iri pada Patih Kerma Wijaya, sehingga ia pun menyebar fitnah. Baginda Raja
pun marah dan mengusir Hang Tuah. Ia pun segera meninggalkan Melaka dan pergi ke
Indrapura. Suatu waktu, di Indrapura ia kedatangan tamu dari Melaka yang memintanya
kembali ke Melaka, dan mendapat tugas menjadi Laksamana Melaka lagi.
Suatu hari, Hang Tuah melakukan pelayaran ke negeri Cina. Di pelabuhan Cina,
rombongannya berselisih paham dengan orang-orang Portugis. Dalam perjalanan pulang
kembali ke Melaka, mereka diserang oleh Portugis, tetapi Hang Tuah mampu mengatasi
serangan mereka dan selamat.

Sementara itu, Gubernur Portugis di Manila sangat marah mendengar laporan kekalahan dan
melakukan penyerangan ke Selat Melaka sebagai balas dendam. Pada saat itu Baginda Raja
memerintahkan Tuan Bendahara untuk meminta bantuan Hang Tuah.

Meski sakit, Hang Tuah tetap memimpin pasukan. Namun, sebuah peluru mesiu Portugis
menghantam Hang Tuah. Ia terlempar sejauh 7 meter dan terjatuh ke laut. Beruntung, Hang
Tuah berhasil diselamatkan.

Akhirnya, peperangan berakhir tanpa pemenang dan yang kalah. Setelah sembuh, Hang Tuah
tidak lagi menjabat sebagai Laksamana Melaka karena sudah semakin tua. Ia menjalani
hidupnya dengan menyepi di puncak bukit Jugra di Melaka.

9. Anak Beruang dan Lebah


Suatu hari, seekor beruang tengah menjelajahi hutan untuk mencari buah-buahan. Di tengah
pencarian, ia menemukan pohon tumbang di mana terdapat sarang tempat lebah menyimpan
madu.

Beruang itu mulai mengendus-endus dengan hati-hati di sekitar pohon tumbang tersebut untuk
mencari tahu apakah lebah-lebah sedang berada dalam sarang tersebut. Tepat pada saat itu,
sekumpulan kecil lebah terbang pulang dengan membawa banyak madu.

Lebah-lebah yang pulang tersebut, tahu akan maksud sang Beruang dan mulai terbang
mendekati sang Beruang, menyengatnya dengan tajam lalu lari bersembunyi ke dalam lubang
batang pohon.

Seketika Beruang tersebut menjadi sangat marah, loncat ke atas batang yang tumbang tersebut
dan dengan cakarnya menghancurkan sarang lebah. Tetapi hal ini malah membuat seluruh
kawanan lebah yg berada dalam sarang, keluar dan menyerang sang Beruang.

Beruang yang malang itu akhirnya lari terbirit-birit dan hanya dapat menyelamatkan dirinya
dengan cara menyelam ke dalam air sungai.

Dari cerita ini, dapat ditarik pesan moral bahwa jangan menjadi orang yang serakah. Karena
untuk mendapat kesuksesan, diperlukan kerja keras dan kesabaran.

10. Kelingking Sakti


Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa di Kepulauan Riau, hiduplah sepasang suami-istri
yang sangat miskin. Mereka mempunyai tiga orang anak laki- laki bernama Salimbo, Ngah, dan
Kelingking. Saat Kelingking berusia 5 bulan, ibunya meninggal dunia. Sejak saat itu mereka
tinggal berempat.

Waktu terus berlalu. Kelingking sudah dewasa. la pun berniat merantau, dan menyampaikan
niat tersebut pada ayahnya. Meskipun berat hati, sang ayah mengizinkannya. Esoknya, dengan
berbekal tujuh buah ketupat, berangkatlah Kelingking merantau.

Selama dalam perjalanan, ia makan buah dan daun- daunan yang ditemuinya sehingga bekal
ketupatnya masih utuh. Suatu siang, sampailah Kelingking di hutan lebat. Kemudian ia tertidur
di bawah pohon rindang.

Dalam tidurnya, ia mendengar suara yang mengatakan, jika ia ingin menikah dengan seorang
putri, ia harus untuk mengikatkan ketupatnya dengan akar tuba dan memasukkannya ke dalam
sungai yang mengalir di hutan ini.

Apabila air sungai itu sudah berbuih, berarti ikan besar di dalamnya sudah mati. Lalu, ambil
ikannya. Saat terbangun, Kelingking pun melaksanakan semua perintah dalam mimpinya.
Sampai akhirnya ia mendapatkan ikan yang kemudian ia bakar dan makan sendiri hingga
hanya kepala ikan yang tersisa.

Setelah itu kelingking bingung karena tidak ada tanda-tanda kedatangan seorang putri.
Akhirnya, dengan kesal, ia menendang kepala ikan itu hingga melambung tinggi dan tidak
memperdulikannya lagi.

Ia pun melanjutkan pengembaraannya hingga sampai di sebuah kampung. Ternyata, di


kampung itu, seorang raja sedang mengadakan sayembara untuk memindahkan kepala ikan
yang mengganggu pemandangan istana. Jika laki-laki, akan dinikahkan dengan putrinya, dan
jika perempuan akan diangkat sebagai anaknya.

Melihat kepala ikan itu, Kelingking merasa mengenalnya. Ia pun mendaftar- kan diri. Tidak
seorang pun yang mampu menggerakkannya hingga tibalah giliran Kelingking. Semua orang
mencemooh badannya yang kecil.

Namun, dengan mudahnya ia mengangkat kepala ikan itu dan menguburnya di belakang istana.
la pun berhak menikah dengan putri raja. Seluruh istana dan penduduk negeri berbahagia atas
pernikahan tersebut. Kelingking pun tak lupa menjemput ayah dan kedua abangnya untuk
tinggal bersama di istana.

11. Asal usul Danau Tes


Dahulu kala, ada seorang laki-laki sakti bernama si Lidah Pahit yang tinggal di Dusun Kutei
Donok. Ia dipanggil si Lidah Pahit, karena apa yang diucapkannya selalu menjadi kenyataan.
Meskipun demikian, si Lidah Pahit tidak pernah sembarangan mengucapkan sesuatu.

Si Lidah Pahit berniat membuka lahan baru di pinggir Sungai Air Ketahun untuk dijadikan
ladang. la mendapat izin dari para tetangga dan ketua adat Kutai Donok. Setelah
mempersiapkan semuanya, si Lidah Pahit mulai membuka lahan itu. la mencangkul tanah dan
membuang tanah tersebut ke Sungai Air Ketahun.

Namun, banyaknya tanah cangkulan yang dibuang ke Sungai Air Ketahun membuat para
tetangganya resah. Mereka khawatir, tanah tersebut dapat menyebabkan Sungai Air Ketahun
tersumbat dan menyebabkan banjir. Oleh karena itu, mereka pun berunding untuk
menghentikan kegiatan si Lidah Pahit. Seorang warga diutus untuk menemui si Lidah Pahit.

"Lidah Pahit, kami menyampaikan berita duka cita. Anakmu meninggal dunia, Pulanglah ke
kampung halamanmu." Lidah Pahit tidak mempercayai berita yang disampaikan oleh
tetangganya tersebut. Namun, orang yang diutus untuk menyampaikan berita tersebut pulang
dengan kecewa.

Lidah Pahit tidak mempercayai berita yang disampaikan oleh tetangganya tersebut. Namun,
orang yang diutus untuk menyampaikan berita tersebut pulang dengan [Link]
harinya, diutuslah seorang tokoh masyarakat untuk menyampaikan berita yang sama kepada si
Lidah Pahit.

Namun, ia tetap tidak mempercayainya. Akhirnya, para sesepuh desa datang sendiri kepada si
Lidah Pahit.

"Lidah Pahit, percayalah apa yang kami katakan adalah benar. Lebih baik kau pulang, karena
anakmu meninggal dunia."

Karena yang datang kepadanya adalah sesepuh desa, si lidah Pahit pun mempercayainya.

"Baiklah! Karena Bapak-Bapak yang datang menyampaikan berita ini. sekarang saya percaya
bahwa anak saya telah meninggal. Saya akan pulang." kato si Lidah Pahit. Mendengar ucapan
itu, para sesepuh desa berpamitan pulang

Setelah para sesepuh pergi, si Lidah Pahit baru menyadari kata-katanya tadi. Dalam hati, la
tetap tidak percaya bahwa anaknya sudah meninggal. Namun, karena kata-katanya yang
diucapkannya tadi, anaknya bisa benar- benar meninggal.

Lidah Pahit menyesali ucapannya. Kata-katanya sudah tak bisa ditarik lagi ia melampiaskan
kekesalannya dengan menghentakkan cangkulnya ke tanah dan membuang tanah cangkulan
ke dalam Sungai Air Ketahun.

Ketika ia kembali ke kampungnya, benar saja, anaknya sudah meninggal dunia. Akhirnya,
tanah cangkulan yang dibuang si Lidah Pahit menyumbat Sungai Air Ketahun dan membentuk
sebuah danau besar yang kemudian dinamakan Danau Tes.

Danau Tes merupakan danau yang membentang di antara Dusun Kutei Donok, Bengkulu.
Danau Ini memiliki pemandangan alam yang indah.

12. Timun Mas


Mbok Sirni tinggal sebatang kara. Suaminya sudah lama meninggal dan ia tidak dikarunia
seorang anak pun. Kesehariannya, Mbok Sirni bertani sayur-sayuran di sekitar rumah.
Kemudian menjualnya ke pasar.

Setiap hari Mbok Sirni selalu memohon kepada Tuhan agar dikaruniai seorang anak. Suatu
hari, saat sedang berdo'a tiba-tiba datang raksasa bermuka hijau bernama Buto Ijo.
"Aku bisa memberimu anak, tapi dengan satu syarat. Setelah berusia enam tahun, anak itu
harus kamu berikan lagi kepadaku," kata Buto Ijo.

Tanpa pikir panjang, Mbok Sirni pun menyetujuinya. Buto Ijo memberikan bibit timun untuk
ditanam. Katanya salah satu dari timun itu nanti ada timun paling besar berwarna emas. Timun
itulah yang berisi bayi.

Benar saja, dua minggu setelah bibit timun ditanam, Mbok Sirni menemukan timun yang paling
besar diantara timun lainnya dan berwarna emas. Ketika dibelah, berisi bayi perempuan yang
kemudian diberi nama Timun Emas oleh Mbok Sirni.

Beberapa tahun berlalu, Timun Emas dan Mbok Sirni selalu bersama sampai tiba saatnya Buto
Ijo datang untuk mengambil Timun Emas. Mbok Sirni sangat menyayangi Timun Emas lalu ia
berdo'a agar selalu bersama. Kemudian datanglah seorang pertapa yang memberinya
bungkusan kecil berisi biji mentimun, jarum, garam, dan terasi.

Ketika Buto Ijo mengejar Timun Emas, satu persatu bungkusan tersebut ditabur hingga
menghalangi langkah Buto Ijo. Bungkusan terakhir berisi terasi yang ditabur ke arah Buto Ijo
berubah menjadi lumpur panas hingga Buto Ijo meninggal.

Timun Emas pun terbebas dari Buto Ijo. Ia kembali ke rumah dan hidup bahagia kembali
bersama Mbok Sirni.

Pesan moralnya, kita tidak boleh berniat jahat kepada orang lain, karena hal itu akan kembali
kepada kita. Cerita ini dikutip dari buku Kumpulan Cerita Rakyat karya Ali Muakhir.

13. Si Kelinci yang Sombong dan Kura-kura


Pada suatu hari di sebuah hutan, Kelinci yang merasa Kura-Kura sangat lambat mengajaknya
balap lari untuk membuktikan kehebatan Kelinci dalam berlari. Kura-kura yang rendah hati
menyambut gembira ajakan Kancil. Keduanya pun mempersiapkan balap lari mereka ditemani
dengan para hewan lain di hutan.

Kelinci yang merasa hebat pun berhasil lari lebih dulu dibanding Kura-Kura yang berjalan amat
lambat. Saat mendekati garis finish, Kelinci memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon
yang rindang.

Kelinci yakin, Kura-kura pasti masih lama jadi ia memutuskan untuk tertidur sebentar hingga tak
menyadari ia sampai larut dalam tidurnya dan membuat Kura-Kura telah lebih dulu sampai lebih
di garis finish.

Dari dongeng tersebut, Mama dapat mengajarkan pada anak bahwa sehebat apa pun ia nanti,
tak boleh meremehkan kemampuan yang dimiliki orang lain. Saling menghargai dan rendah hati
adalah kuncinya.

14. Anak Gembala dan Serigala


Hidup seorang anak gembala yang bekerja pada saudagar kaya. Dia bertugas untuk merawat
domba majikannya dan meminta tolong warga jika ada serigala yang mendekati domba.
Bosan dengan rutinitasnya menggembala domba, anak gembala tiba-tiba berteriak, "Tolong!
Ada serigala di sini!" Sontak, warga desa pun segera menghampiri dan menolong, tetapi
mereka kesal karena anak gembala hanya bercanda.

Senang dengan reaksi warga, anak gembala pun terus-menerus menipu warga dengan
mengatakan ada serigala datang. Sampai suatu sore hari, datanglah segerombolan serigala
yang mendekati domba dan anak gembala.

Ketakutan, anak gembala pun berteriak minta-tolong, tetapi tidak ada warga yang menjawab
karena mereka sudah tidak percaya. Akhirnya si anak gembala menyesal dan tidak lagi
mengulangi perbuatannya.

15. Siamang Putih


Seorang raja yang bernama Tuanku Raja Kecik mengadakan sebuah pesta untuk mencarikan
jodoh bagi cucunya yang cantik jelita, Puti Julian. Pada malam sebelum pesta, Puti Julian
bermimpi bertemu dengan seorang pemuda bernama Sutan Rumandang.

Pada pesta hari pertama, tidak ada seorang undangan pun yang bernama Sutan Rumandang.
Begitu juga pada hari-hari berikutnya sampai pesta tersebut berakhir. Suatu hari, seorang
pemuda dengan sebuah kapal layar berlabuh di dermaga.

Pemuda tersebut dibawa oleh prajurit ke istana untuk melapor kepada Tuanku Raja Kecik.
Melihat pemuda itu, Puti Julian langsung menyadari bahwa pemuda itulah yang selalu hadir
dalam mimpinya.

Pemuda tersebut memperkenalkan diri sebagai Sutan Rumandung. Mendengar itu, semua
keluarga istana yang hadir merasa sangat gembira dan bahagia. Akhirnya, disepakati untuk
menenangkan Sutan Rumandang dan Puti Julian. Usai acara, Sutan Rumandang izin kepada
keluarga istana untuk pergi.

Sebelum pergi ia bersumpah jika ia menikah dengan gadis selain Puti Julian, ia akan tenggelam
bersama kapal di tengah laut. Puti Julian juga bersumpah jika ia menikah dengan pemuda
selain Sutan Rumandang, ia akan menjadi siamang.

Waktu berjalan begitu cepat. Sudah dua tahun lebih menunggu, Puti Julian belum juga
mendapat kabar dari tunangannya. Ketika memasuki tahun ketiga, seorang pemuda tampan
dengan kapal dagang yang besar berlabuh di dermaga.

Wajah tampan dan kewibawaan pemuda itu memikat hati Puti Julian. Saat itu juga ia jatuh hati
pada pemuda tersebut, demikian sebaliknya. Puti Julian dan pemuda itu pun melaksanakan
pernikahan.

Penghulu menanyakan kesediaan kedua mempelai. Ketika Puti Julian hendak menjawab
pertanyaan, tiba-tiba ia memekik dengan keras seraya melompat ke bubungan rumah. Seketika
tubuh Puti Julian berubah menyerupai seekor siamang.
Menyaksikan hal tersebut, Tuanku Raja Kecik tersadar bahwa cucu kesayangan- nya itu telah
melanggar sumpahnya. Suatu hari seorang warga menemukan siamang itu telah mati di atas
pohon tempatnya bersarang.

Beberapa hari kemudian, terdengar kabar Sutan Rumandang tenggelam di laut. Karena telah
melanggar sumpahnya, menikah dengan seorang putri di negeri rantau.

Nah itu tadi kumpulan 15 cerita dongen anak yang dapat dijadikan referensi bacaan sebelum
tidur. Semoga bermanfaat ya.

Jeritan Anak-anak Gaza saat Sekolah Tempat Warga Mengungsi Dihantam Rudal

Jeritan Anak-anak Gaza saat Sekolah Tempat Warga Mengungsi Dihantam Rudal

(elk/row)
anak-anak
cerita
fabel

Berita Terkait
20 Contoh Soal Cerita Matematika Kelas 2 SD Lengkap dengan Jawabannya
Perhatikan Hal Ini Sebelum Mendongeng ke Anak-anak
Budaya Benda dan Non Benda, dari Tari hingga Batik
Terapi Mental Bisa Meningkatkan Kebahagiaan, Tapi Kenapa Stigma Masyarakat Buruk?
Pakar Gizi Ungkap Siasat Jitu Atasi Anak Kecanduan Jajanan Manis
Jeritan Anak-anak Gaza saat Sekolah Tempat Warga Mengungsi Dihantam Rudal
Kemenkes: Anak-anak Lebih Rentan Kena DBD Dibanding Orang Dewasa
8 Obat Radang Tenggorokan Alami untuk Anak, Ada Madu hingga Jahe
Berita detikcom Lainnya
Sepakbola
Final Copa America 2024: Duh, Messi Dicap Lamban!
detikHot
Brisia Jodie-Chef Alden Malu-malu Akui Punya Komitmen, Pernah PDKT 2 Tahun Lalu
detikHealth
Ribuan TK di China Tutup Kekurangan Murid Imbas Populasi yang Menua
detikTravel
Sering Naik Pesawat Ternyata Buat Pria Lemah Syahwat
Sepakbola
Final Copa America 2024: Duh, Messi Dicap Lamban!
detikNews
5 Fakta Andi Bunuh Karyawati: Sempat Skizofrenia, Divonis 16 Tahun Bui
detikFinance
Banyak Pesawat yang Beroperasi di RI Servisnya Malah di Luar Negeri
detikFood
Konsumsi 6 Buah Mengandung Kolagen Ini Bikin Kulit Sehat Kencang!

Berita Terpopuler
#1
Rupanya Ada Larangan Menyentuh Anak Rusa yang Sendirian, Mengapa?
#2
Mengenal Kerja Rodi, Sejarah Kelam dan Dampaknya Bagi Rakyat Indonesia
#3
Al-Battani, Ilmuwan Muslim Penemu Teori 1 Tahun 365 Hari
#4
Ukuran Margin Skripsi dan Cara untuk Mengaturnya di Microsoft Word
#5
20 Negara Paling Percaya Tentang Tuhan, Indonesia Nomor Satu?
Lihat Selengkapnya
Komentar Terbanyak
26
Komentar
Aturan Seragam Sekolah Terbaru yang Berlaku, Untuk Siswa SD-SMA
9
Komentar
Bukan Elon Musk atau Jeff Bezos, Ini Orang Terkaya Sepanjang Sejarah
8
Komentar
20 Negara Paling Percaya Tentang Tuhan, Indonesia Nomor Satu?

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia


#1

Universitas Indonesia
#2

Universitas Gadjah Mada


#3

Universitas Diponegoro
#4

Universitas Airlangga
#5

Institut Pertanian Bogor


Sumber : Scimago Institutions Rankings (SIR) 2024
part of
Connect With Us

Copyright @ 2024 detikcom.


All right reserved
Kategori
detikNews

detikEdukasi

detikFinance

detikInet

detikHot

detikSport

Sepakbola

detikOto

detikProperti

detikTravel

detikFood

detikHealth

Wolipop

detikX

20Detik

detikFoto

detikHikmah

detikPop
Layanan
[Link]
Pasang Mata
Adsmart
Forum
detikEvent
Signature Awards
Trans Snow World
Trans Studio
Informasi
Redaksi
Pedoman Media Siber
Karir
Kotak Pos
Media Partner
Info Iklan
Privacy Policy
Disclaimer
Jaringan Media
CNN Indonesia
CNBC Indonesia
Haibunda
Insertlive
Beautynesia
Female Daily
CXO Media
CLOSE

Baca artikel detikedu, "15 Cerita Dongeng Nusantara, Pengantar Tidur, dan Pembentuk
Karakter" selengkapnya [Link]
nusantara-pengantar-tidur-dan-pembentuk-karakter.

Download Apps Detikcom Sekarang [Link]

Anda mungkin juga menyukai