Program Manajemen Keselamatan RSUD Bojonegoro
Program Manajemen Keselamatan RSUD Bojonegoro
MANAJEMEN FASILITAS
DAN KESELAMATAN
COVER
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………. 1
SK DIREKTUR TENTANG PEMBERLAKUAN PROGRAM KERJA………….. 2
BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………………. 7
BAB II LATAR BELAKANG………………………………………………………… 8
BAB III TUJUAN UMUM DAN TUJUAN KHUSUS………………………………. 9
BAB IV KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN KEGIATAN……………………….. 10
BAB V CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN……………………………………. 16
BAB VI SASARAN…………………………………………………………………… 17
BAB VII JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN…………………………………. 18
BAB VIII EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PELAPORAN………. 19
BAB IX PENCATATAN, PELAPORAN, DAN EVALUASI KEGIATAN………… 20
BAB X PEMBIAYAAN DAN ANGGARAN………………………………………… 21
BAB XI PENUTUP…………………………………………………………………... 22
1
PEMERINTAH KABUPATEN BOJONEGORO
RSUD Dr. R. SOSODORO DJATIKOESOEMO
Jl. Veteran No. 36 Telpon (0353) 3412133 Fax (0353) 3412133
Website : [Link] Email : rsudsosodoro@[Link]
BOJONEGORO 62111
KEPUTUSAN DIREKTUR
RSUD Dr. R. SOSODORO DJATIKOESOEMO
NOMOR:
TENTANG
Menimbang : a. bahwa rumah sakit merupakan tempat kerja atau lokasi yang
memiliki risiko tinggi terhadap keselamatan serta kesehatan
pasien, keluarga pasien, karyawan rumah sakit dan lingkungan
sekitar rumah sakit;
b. bahwa dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan
keselamatan dan kesehatan kerja rumah sakit, maka perlu
ditetapkan dengan keputusan direktur sebagai program dalam
pelaksanaan manajemen fasilitas dan keselamatan agar tercipta
kondisi rumah sakit yang aman, selamat dan nyaman;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan dimaksud dalam huruf a dan b
diatas, maka perlu ditetapkan dalam suatu keputusan Direktur
RSUD Dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro Tentang
Program Manajemen Fasilitas dan Keselamatan di RSUD Dr. R.
Sosodoro Djatikoesoemo.
2
Kedokteran;
4. Undang – Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan
: dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;
5. Undang – Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan;
6. Undang – Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit;
7. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1991 tentang
Penanggulangan Wabah Penyakit Menular;
8. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin
Lingkungan;
9. Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014 tentang
Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun;
10. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 3 Tahun 2008
tentang Tata Cara Pemberian Simbol dan Label Bahan
berbahaya dan Beracun;
11. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 30 Tahun 2009
tentang Tata Laksana Perizinan dan Pengawasan Pengelolaan
Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun serta Pengawasan
Pemulihan Akibat Pencemaran Limbah Bahan Berbahaya dan
Beracun oleh Pemerintah Daerah;
12. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 13 Tahun 2010
tentang Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya
Pemantauan Lingkungan Hidup dan Surat Pernyataan
Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup;
13. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 14 Tahun 2013
tentang Simbol dan Label Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
(B3);
14. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 54 Tahun 2015 tentang
Pengujian dan Kalibrasi Alat Kesehatan;
15. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 56
Tahun 2015 tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis
Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun dari
Fasilitas Pelayanan Kesehatan;
16. Peraturan Menteri Kesehatan nomor 24 tahun 2016 tentang
Persyaratan Teknis Bangunan dan Prasarana Rumah Sakit.;
17. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 66 Tahun 2016 tentang
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit;
18. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 11 Tahun 2017 tentang
Keselamatan Pasien;
3
19. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 27 Tahun 2017 tentang
Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan;
20. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 34 Tahun 2017 tentang
Akreditasi Rumah Sakit;
21. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 7 Tahun 2019 tentang
Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit;
22. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2020 tentang
Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit;
23. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 330/MENKES/SK/V/2006
tentang Peningkatan Kelas Rumah Sakit Umum Daerah Dr. R.
Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro milik Pemerintah
Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur dari Kelas C menjadi Kelas B
Non Pendidikan;
24. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 129/MENKES/SK/II/2008
tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit;
25. Keputusan Mentari Kesehatan Nomor
HK.01.07/MENKES/1128/2022 tentang Standar Akreditasi
Rumah Sakit;
26. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan
Nomor Kep-01/BAPEDAL/09/1995 tentang Tata Cara dan
Persyaratan Teknis Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah
Bahan Berrbahaya dan Beracun;
27. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan
Nomor Kep-02/BAPEDAL/09/1995 tentang Dokumen Limbah
Bahan Berbahaya dan Beracun;
28. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan
Nomor Kep-02/BAPEDAL/01/1998 tentang Tata Laksana
Pengawasan Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan
Beracun di Daerah;
29. Peraturan Daerah Kabupaten Bojonegoro Nomor 9 Tahun 2011
tentang Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat, Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah dan Lembaga Teknis
Daerah Kabupaten Bojonegoro;
30. Peraturan Daerah Kabupaten Bojonegoro Nomor 13 Tahun 2016
Tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah
Kabupaten Bojonegoro;
31. Peraturan Bupati Bojonegoro Nomor 5 tahun 2009 sebagaimana
4
telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Bupati
Nomor 31 Tahun 2014 tentang tugas pokok dan fungsi
Inspektorat, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan
Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Bojonegoro;
32. Keputusan Bupati Bojonegoro Nomor 188/413/KEP/412.12/2008
tentang Rumah Sakit Umum Daerah Kelas B dr. R. Sososodoro
Djatikoesoemo Bojonegoro sebagai Pola Pengelolaan Keuangan
Badan Layanan Umum Daerah Secara Penuh sebagaimana telah
diubah dengan Keputusan Bupati Bojonegoro Nomor
118/404/KEP/412.11/2014 tentang Perubahan Atas Keputusan
Bupati Bojonegoro Nomor 188/413/KEP/412.12/2008 tentang
Rumah Sakit Umum Daerah Kelas B dr. R. Sososodoro
Djatikoesoemo Bojonegoro sebagai Pola Pengelolaan Keuangan
Badan Layanan Umum Daerah Secara Penuh
5
MEMUTUSKAN
Menetapkan : KEPUTUSAN DIREKTUR RSUD Dr. R. SOSODORO
DJATIKOESOEMO TENTANG PROGRAM MANAJEMEN
FASILITAS DAN KESELAMATAN RUMAH SAKIT DI RSUD Dr. R.
SOSODORO DJATIKOESOEMO
Ditetapkan di Bojonegoro
pada tanggal ………………
DIREKTUR
RSUD Dr. R. SOSODORO DJATIKOESOEMO
6
Lampiran I : Keputusan Direktur RSUD Dr. R. Sosodoro
Djatikoesoemo
No : 445/ .... /412.202.39/SK /2022
Tanggal : …….
BAB I
PENDAHULUAN
Rumah sakit merupakan tempat kerja atau lokasi yang memiliki risiko
tinggi terhadap keselamatan serta kesehatan pasien, keluarga pasien, karyawan
rumah sakit dan lingkungan sekitar rumah sakit. Dalam rangka pengendalian
risiko yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kerja rumah sakit,
maka perlu ditetapkan dengan keputusan direktur sebagai pedoman dalam
penyelenggaraan keselamatan dan kesehatan kerja rumah sakit (K3) agar
tercipta kondisi rumah sakit yang aman, selamat dan nyaman.
Fasilitas dan lingkungan dalam rumah sakit harus aman, berfungsi baik,
dan memberikan lingkungan perawatan yang aman bagi pasien, keluarga, staf,
dan pengunjung. Untuk mencapai tujuan itu maka fasilitas fisik, bangunan,
prasarana dan peralatan kesehatan serta sumber daya lainnya harus dikelola
secara efektif untuk mengurangi dan mengendalikan bahaya, risiko, mencegah
kecelakaan, cidera dan penyakit akibat kerja.
Pengelolaan yang efektif mencakup perencanaan, pendidikan, dan
pemantauan multidisiplin dimana pemimpin merencanakan ruang, peralatan, dan
sumber daya yang diperlukan untuk mendukung layanan klinis yang disediakan
secara aman dan efektif serta semua staf diedukasi mengenai fasilitas, cara
mengurangi risiko, cara memantau dan melaporkan situasi yang berisiko
termasuk melakukan penilaian risiko yang komprehensif di seluruh fasilitas yang
dikembangkan dan dipantau berkala.
7
BAB II
LATAR BELAKANG
Fasilitas dan lingkungan dalam rumah sakit harus aman, berfungsi baik,
dan memberikan lingkungan perawatan yang aman bagi pasien, keluarga, staf,
dan pengunjung. Untuk mencapai tujuan itu maka fasilitas fisik, bangunan,
prasarana dan peralatan kesehatan serta sumber daya lainnya harus dikelola
secara efektif untuk mengurangi dan mengendalikan bahaya, risiko, mencegah
kecelakaan, cidera dan penyakit akibat kerja. Dalam pengelolaan fasilitas dan
lingkungan serta pemantauan keselamatan, rumah sakit menyusun program
pengelolaan fasilitas dan lingkungan serta program pengelolaan risiko untuk
pemantauan keselamatan di seluruh lingkungan rumah sakit.
Pengelolaan yang efektif mencakup perencanaan, pendidikan, dan
pemantauan multidisiplin dimana pemimpin merencanakan ruang, peralatan, dan
sumber daya yang diperlukan untuk mendukung layanan klinis yang disediakan
secara aman dan efektif serta semua staf diedukasi mengenai fasilitas, cara
mengurangi risiko, cara memantau dan melaporkan situasi yang berisiko
termasuk [Link] - 90 - melakukan penilaian risiko yang komprehensif
di seluruh fasilitas yang dikembangkan dan dipantau berkala.
Bila di rumah sakit memiliki entitas non-rumah sakit atau tenant/penyewa
lahan (seperti restoran, kantin, kafe, dan toko souvenir) maka rumah sakit wajib
memastikan bahwa tenant/penyewa lahan tersebut mematuhi program
pengelolaan fasilitas dan keselamatan, yaitu program keselamatan dan
keamanan, program pengelolaan bahan berbahaya dan beracun, program
penanganan bencana dan kedaruratan, serta proteksi kebakaran.
Rumah sakit perlu membentuk satuan kerja yang dapat mengelola,
memantau dan memastikan fasilitas dan pengaturan keselamatan yang ada
sehingga tidak menimbulkan potensi bahaya dan risiko yang akan berdampak
buruk bagi pasien, staf dan pengunjung. Satuan kerja yang dibentuk dapat
berupa Komite/Tim K3 RS yang disesuaikan dengan kebutuhan, ketersediaan
sumber daya dan beban kerja rumah sakit. Rumah sakit harus memiliki program
pengelolaan fasilitas dan keselamatan yang menjangkau seluruh fasilitas dan
lingkungan rumah sakit.
Rumah sakit tanpa melihat ukuran dan sumber daya yang dimiliki harus
mematuhi ketentuan dan peraturan perundangan yang berlaku sebagai bagian
dari tanggung jawab mereka terhadap pasien, keluarga, staf, dan para
pengunjung.
8
BAB III
TUJUAN UMUM DAN TUJUAN KHUSUS
a. TUJUAN UMUM
Pengaturan Manajemen Fasilitas dan Keselamatan dalam pedoman
Manajemen Fasilitas dan Keselamatan bertujuan agar fasilitas dan
lingkungan dalam rumah sakit harus aman, berfungsi baik, dan
memberikan lingkungan perawatan yang aman bagi pasien, keluarga, staf,
dan pengunjung
b. TUJUAN KHUSUS
Manajemen Fasilitas dan Keamanan ini meliputi:
a. Kepemimpinan dan perencanaan;
b. Keselamatan;
c. Keamanan;
d. Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dan Limbah B3;
e. Proteksi kebakaran;
f. Peralatan medis;
g. Sistim utilitas;
h. Penanganan kedaruratan dan bencana;
i. Konstruksi dan renovasi;
j. Pelatihan.
9
BAB IV
KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN KEGIATAN
B. Keselamatan
Rumah sakit menerapkan proses untuk mengelola dan memantau
keselamatan.
Bagian dari program Manajemen Fasilitas Keselamatan meliputi:
1) Pengelolaan risiko keselamatan di lingkungan rumah sakit secara
komprehensif
2) Penyediaan fasilitas pendukung yang aman untuk mencegah kecelakaan dan
cedera, penyakit akibat kerja, mengurangi bahaya dan risiko, serta
mempertahankan kondisi aman bagi pasien, keluarga, staf, dan pengunjung;
dan c
3) Pemeriksaan fasilitas dan lingkungan (ronde fasilitas) secara berkala dan
dilaporkan sebagai dasar perencanaan anggaran untuk perbaikan,
penggantian atau “upgrading”.
C. Keamanan
Rumah sakit menerapkan proses untuk mengelola dan memantau keamanan
yang meliputi:
10
1) Menjamin lingkungan yang aman dengan memberikan identitas/tanda
pengenal (badge nama sementara atau tetap) pada pasien, staf, pekerja
kontrak, tenant/penyewa lahan, keluarga (penunggu pasien), atau pengunjung
(pengunjung di luar jam besuk dan tamu rumah sakit) sesuai dengan regulasi
rumah sakit;
2) Melakukan pemeriksaan dan pemantauan keamanan fasilitas dan lingkungan
secara berkala dan membuat tindak lanjut perbaikan;
3) Pemantauan pada daerah berisiko keamanan sesuai penilaian risiko di rumah
sakit. Pemantauan dapat dilakukan dengan penempatan petugas keamanan
(sekuriti) dan atau memasang kamera sistem CCTV yang dapat dipantau oleh
sekuriti;
4) Melindungi semua individu yang berada di lingkungan rumah sakit terhadap
kekerasan, kejahatan dan ancaman; dan
5) Menghindari terjadinya kehilangan, kerusakan, atau pengrusakan barang milik
pribadi maupun rumah sakit
E. Proteksi Kebakaran
Berdasarkan hasil pengkajian risiko kebakaran, rumah sakit menerapkan
proses proteksi kebakaran untuk:
11
1) Pencegahan kebakaran melalui pengurangan risiko seperti penyimpanan dan
penanganan bahan-bahan mudah terbakar secara aman, termasuk gas-gas
medis yang mudah terbakar seperti oksigen, penggunaan bahan yang non
combustible, bahan yang waterbase dan lainnya yang dapat mengurangi
potensi bahaya kebakaran;
2) Pengendalian potensi bahaya dan risiko kebakaran yang terkait dengan
konstruksi apapun di atau yang berdekatan dengan bangunan yang ditempati
pasien;
3) Penyediaan rambu dan jalan keluar (evakuasi) yang aman serta tidak
terhalang apabila terjadi kebakaran;
4) Penyediaan sistem peringatan dini secara pasif meliputi, detektor asap
(smoke detector), detektor panas (heat detector), alarm kebakaran, dan
lainlainnya;
5) Penyediaan fasilitas pemadaman api secara aktif meliputi APAR, hidran,
sistem sprinkler, dan lainlainnya; dan
6) Sistem pemisahan (pengisolasian) dan kompartemenisasi pengendalian api
dan asap.
F. Peralatan Medis
Proses pengelolaan peralatan medis (yang merupakan bagian dari progam
Manajemen Fasilitas dan Keselamatan/MFK meliputi:
1) Identifikasi dan penilaian kebutuhan alat medik dan uji fungsi sesuai ketentuan
penerimaan alat medik baru.
2) Inventarisasi seluruh peralatan medis yang dimiliki oleh rumah sakit dan
peralatan medis kerja sama operasional (KSO) milik pihak ketiga; serta
peralatan medik yang dimiliki oleh staf rumah sakit jika ada Inspeksi peralatan
medis sebelum digunakan.
3) Pemeriksaan peralatan medis sesuai dengan penggunaan dan ketentuan
pabrik secara berkala.
4) Pengujian yang dilakukan terhadap alat medis untuk memperoleh kepastian
tidak adanya bahaya yang ditimbulkan sebagai akibat penggunaan alat.
5) Rumah sakit melakukan pemeliharaan preventif dan kalibrasi, dan seluruh
prosesnya didokumentasikan.
G. Sistim Utilitas
Rumah sakit perlu menerapkan proses pengelolaan sistem utilitas dan
komponen kritikal sekurang- kurangnya meliputi:
12
1) Ketersediaan air dan listrik 24 jam setiap hari dan dalam waktu 7 (tujuh) hari
dalam seminggu secara terus menerus;
2) Membuat daftar inventaris komponen-komponen sistem utilitas, memetakan
pendistribusiannya, dan melakukan update secara berkala;
3) Pemeriksaan, pemeliharaan, serta perbaikan semua komponen utilitas yang
ada di daftar inventaris;
4) Jadwal pemeriksaan, uji fungsi, dan pemeliharaan semua sistem utilitas
berdasar atas kriteria seperti rekomendasi dari pabrik, tingkat risiko, dan
pengalaman rumah sakit; dan
5) Pelabelan pada tuas-tuas kontrol sistem utilitas untuk membantu pemadaman
darurat secara keseluruhan atau sebagian saat terjadi kebakaran
Untuk mempersiapkan diri terhadap keadaan darurat seperti ini, rumah sakit
agar mempunyai proses meliputi:
1) Mengidentifikasi peralatan, sistem, serta area yang memiliki risiko paling tinggi
terhadap pasien dan staf (sebagai contoh, rumah sakit mengidentifikasi area
yang membutuhkan penerangan, pendinginan (lemari es), bantuan
hidup/ventilator, serta air bersih untuk membersihkan dan sterilisasi alat);
2) Menyediakan air bersih dan listrik 24 jam setiap hari dan 7 (tujuh) hari
seminggu;
3) Menguji ketersediaan serta kehandalan sumber tenaga listrik dan air bersih
darurat/pengganti/back-up;
4) Mendokumentasikan hasil-hasil pengujian;
5) Memastikan bahwa pengujian sumber cadangan/alternatif air bersih dan listrik
dilakukan setidaknya setiap 6 (enam) bulan atau lebih sering jika
dipersyaratkan oleh peraturan perundang-undangan di daerah, rekomendasi
produsen, atau kondisi sumber listrik dan air.
6) Kondisi sumber listrik dan air yang mungkin dapat meningkatkan frekuensi
pengujian mencakup:
a) Perbaikan sistem air bersih yang terjadi berulangulang.
b) Sumber air bersih sering terkontaminasi.
c) Jaringan listrik yang tidak dapat diandalkan.
d) Pemadaman listrik yang tidak terduga dan berulang-ulang
13
dan pengalaman sebelumnya dengan masalah mutu air. Hasil pemeriksaan
didokumentasikan;
2) Pemeriksaan air limbah dilakukan setiap 3 (tiga) bulan atau lebih sering
bergantung pada peraturan perundang-undangan, kondisi sumber air, dan hasil
pemeriksaan air terakhir bermasalah. Hasil pemeriksaan didokumentasikan;
3) Pemeriksaan mutu air yang digunakan untuk dialisis ginjal setiap bulan untuk
menilai pertumbuhan bakteri dan endotoksin. Pemeriksaan tahunan untuk
menilai kontaminasi zat kimia. Hasil pemeriksaan didokumentasikan;
4) Melakukan pemantauan hasil pemeriksaan air dan perbaikan bila diperlukan
14
f) Bahan dan limbah berbahaya;
g) Keselamatan kebakaran;
h) Keamanan;
i) Prosedur darurat, termasuk jalur/keluar alternatif dan akses ke layanan
darurat;
j) Bahaya lain yang mempengaruhi perawatan, pengobatan, dan layanan
J. Pelatihan
Semua staf telah diberikan pelatihan program manajemen fasilitas dan
keselamatan (MFK) tiap tahun terkait:
1) Keselamatan
2) Keamanan
3) Pengelolaan B3 dan limbahnya
4) Proteksi kebakaran
5) Peralatan medis
6) Sistim utilitas
7) Penanganan bencana
Pelatihan tentang pengelolaan fasilitas dan program keselamatan mencakup
vendor, pekerja kontrak, relawan, pelajar, peserta didik, peserta pelatihan, dan
lainnya, sebagaimana berlaku untuk peran dan tanggung jawab individu, dan
sebagaimana ditentukan oleh rumah sakit
15
BAB V
CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN
16
BAB VI
SASARAN
17
BAB VII
JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN
18
BAB VIII
EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PELAPORAN
19
BAB IX
PENCATATAN, PELAPORAN, DAN EVALUASI KEGIATAN
20
BAB X
PEMBIAYAAN DAN ANGGARAN
21
BAB XI
PENUTUP
Mengetahui,
DIREKTUR
RSUD Dr. R. SOSODORO Ketua Pokja MFK
DJATIKOESOEMO
22