Gaya Hidup dan Hipertensi di Kendari
Gaya Hidup dan Hipertensi di Kendari
DOSEN PENGAMPUH :
OLEH :
KELOMPOK II
BELLA : J1A121013
HERIYANTHO ARYA LACADEN : J1A121028
MALINDA VIVI SABARA : J1A121037
MIRAWATI : J1A121040
MISYUNI SARTIKA : J1A121041
HALAMAN JUDUL
KENDARI
2024
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbil'alamiin, tiada kata yang paling pantas diucapkan
selain rasa syukur atas segala nikmat dan hidayah yang diberikan oleh Allah
Subhanahu Wa Ta'ala. Atas rahmat dan karunia-Nya, maka penelitian ini dapat
terselesaikan dengan baik. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada baginda
Rasulullah Muhammad Shallallahu „Alaihi Wasallam sebagai suri tauladan umat
manusia hingga akhir zaman.
Kendari, 2024
Kelompok II
ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i
KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ iv
DAFTAR TABEL ................................................................................................. v
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ...................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................. 4
1.3 Tujuan Penelitian .................................................................................. 4
1.4 Manfaat Penelitian ................................................................................ 5
1.5 Ruang Lingkup Penelitian .................................................................... 6
1.6 Organisasi/Sistematika ......................................................................... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................... 8
2.1 Tinjauan umum tentang hipertensi.................................................. 8
2.2 Tinjauan Umum Tentang Gaya Hidup .......................................... 13
2.3 Tinjaun Penelitian Sebelumnya ......................................................... 17
2.4 Kerangka Teori ................................................................................ 19
2.5 Kerangka Konsep Penelitian .............................................................. 21
2.6 Hipotesis Penelitian ............................................................................. 21
BAB III METODOLOGI PENELITIANELITIAN ........................................ 23
3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian ..................................................... 23
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian.......................................................... 23
3.3 Populasi dan Sampel ........................................................................ 23
3.4 Variabel Penelitian .......................................................................... 24
3.5 Instrumen Penelitian ....................................................................... 25
3.6 Definisi Operasional dan Kriterian Objektif ................................ 25
3.7 Jenis Data Penelitian ....................................................................... 26
3.8 Pengolahan, Analisis dan Penyajian Data ..................................... 27
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 29
DAFTAR ISI
iii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Kerangka Teori .............................................................................................. 20
Gambar 2. variabel independent dan variabel dependent ................................................ 21
iv
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Klasifikasi Hipertensi Menurut JNC-VII 2003..................................................... 9
v
BAB I PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
gagal jantung, stroke dan penyakit ginjal yang mana pada tahun 2016
penyakit jantung iskemik dan stroke menjadi dua penyebab kematian utama
tubuh. Tekanan darah tertulis sebagai dua hal yang dituliskan dalam bentuk
2021).
karena cenderung mengenai segala usia. Penyakit ini sering disebut dengan
darah yang melebihi batas normal. Peningkatan tekanan darah dipengaruhi oleh
beberapa faktor risiko antara lain: usia, jenis kelamin, riwayat keluarga, genetik
2 dan gaya hidup. Gaya hidup adalah pola hidup seseorang yang diekspresikan
dalam aktifitas, minat dan opininya yang berpengaruh terhadap kondisi fisik
maupun psikis. Salah satu penyakit akibat dari gaya hidup adalah hipertensi
(Supratman, 2019)
Salah satu faktor penyebab hipertensi adalah asupan makanan. Hal ini
tekanan darah seperti pola konsumsi garam dengan intake berlebihan dan
(Nurmandhani, 2020).
kematian penyakit tidak menular. Orang yang kurang aktif memiliki 20%
meningkatkan tekanan darah dan denyut nadi. Tekanan darah yang naik
jantung bekerja lebih keras (Prang, Kaunang, dan Sekeon, 2021) Hipertensi
miliar orang di seluruh dunia menderita hipertensi, sebagian besar (dua pertiga)
2
hidup di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Pada 2015, 1 dari
4 pria dan 1 dari 5 wanita menderita hipertensi. Kurang dari 1 dari 5 orang
penderita hipertensi mengatasi problem ini. Salah satu target global untuk
18 tahun di Indonesia sebesar 34, 11% . Angka kejadian hipertensi di beberapa
provinsi di Indonesia pada tahun 2018 ada yang mencapai 44,13% yaitu
Berdasarkan data dari profil kesehatan kota Kendari tahun 2019 jumlah
tiga dengan angka kejadian hipertensi berusia 15 tahun sebanyak 9% atau
Berdasarkan data dari dinas kesehatan kota Kendari tahun 2020 kejadian
beberapa Puskesmas di Kota Kendari pada tahun 2018 ada yang mencapai 983
orang yaitu Puskesmas Abeli dan Puskesmas Mokoau 166 orang. Puskesmas
Mokoau berada diurutan ke-6 dari 15 Puskesmas yang ada di Kota Kendari.
3
Data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Kendari penderita
Hipertensi pada tahun 2016 sebanyak 10.559 penderita. Pada tahun 2017
Hipertensi (Dinkes Kota Kendari 2018). Data dari Puskesmas Abeli Kota
Kendari diketahui bahwa penyakit hipertensi termasuk urutan ke-2 dari sepuluh
besar penyakit yang ada di Puskesmas Abeli tahun 2018. Penderita hipertensi
usia lebih dari 45 tahun, pada tahun 2016 sebanyak 487 (3,57%) penderita.
Penderita hipertensi tahun 2017 sebanyak 599 (3,80%) penderita, tahun 2018
sebanyak 577 (3,62%) penderita, dan penderita hipertensi lebih dari 45 tahun
yang terletak dari 3 kelurahan yaitu Kelurahan Puday, Kelurahan Talia, dan
Kelurahan Lapulu, tahun 2019 dari bulan Januari sampai Juni sebanyak 176
2023.
4
1.3.2 Tujuan Khusus
2023.
hipertensi
5
1.4.2 Manfaat Ilmiah
selama perkuliahan.
tahun 2023.
1.6 Organisasi/Sistematika
6
2023, yang bertujuan memenuhi tugas mata kuliah Metodologi penelitian
7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan umum tentang hipertensi
2.1.1 Definisi Hipertensi
Hipertensi atau yang lebih dikenal dengan tekanan darah tinggi adalah penyakit
kronik akibat desakan darah yang berlebihan dan hampir tidak konstan pada arteri.
Tekanan dihasilkan oleh kekuatan jantung ketika memompa darah. Hipertensi
berkaitan dengan meningkatnya tekanan pada arterial sistemik, baik diastolik
maupun sistolik secara terus-menerus. Gejala hipertensi sulit diketahui karena
tidak memiliki gejala khusus. Gejala yang mudah diamati yaitu pusing, sering
gelisah, wajah merah, telinga berdengung, sesak napas, mudah lelah, mata
berkunang-kunang (Sutanto 2023).
Hipertensi adalah kondisi terjadinya peningkatan tekanan darah sistole ≥
140 mmHg dan atau diastole ≥ 90 mmHg. Kondisi ini sering tanpa gejala.
Peningkatan tekanan darah yang tidak terkendali dapat mengakibatkan komplikasi,
seperti stroke, aneurisma, gagal jantung, serangan jantung dan kerusakan
ginjal.(Wirakhmi 2023)
Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Hipertensi adalah
atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari
140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali
pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup
istirahat/tenang. Peningkatan tekanan darah yang berlangsung dalam jangka
waktu lama (persisten) dapat menimbulkan kerusakan pada ginjal (gagal ginjal),
jantung (penyakit jantung koroner) dan otak (menyebabkan stroke) bila tidak
dideteksi secara dini dan mendapat pengobatan yang memadai (Kemenkes RI,
2015).Organisasi kesehatan dunia WHO (World Health Organization)
memperkirakan sebanyak 1.13 Milliar orang di seluruh dunia mempunyai
hipertensi. WHO juga mengestimasikan saat ini prevalensi hipertensi secara global
sebesar 22% dari total penduduk dunia (WHO, 2019). Asia Tenggaraberada
di posisi ke-3 tertinggi dengan prevalensi sebesar 25% terhadap total
penduduk. WHO juga memperkirakan 1 diantara 5 orang perempuan di seluruh
dunia memiliki hipertensi. Jumlah ini lebih besar dibandingkan kelompok laki-
laki,yaitu 1diantara 4 orang(Jasmin, Avianty, and Noor Prastia 2023)
2.1.2 Klasifikasi
Dengan perkembangan ekonomi dan perubahan gaya hidup, hipertensi
secara bertahap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius (Yan et al.,
2021). Hipertensi atau tekanan darah tinggi yaitu ketika tekanan darah sistolik
140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik -90 mmHg (Kemenkes RI 2013).
Hipertensi merupakan kondisi dimana tekanan darah secara menetap berada diatas
normal. Hipertensi sering tidak menimbulkan gejala sehingga disebut sebagai
silent killer. Hipertensi merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan tetapi
dapat [Link] JNC VII tekanan darah sistol -140 mmHg dan
diastol -90 mmHg dikategorikan sebagai hipertensi (Palandeng, 2020).
Tekanan darah ditentukan oleh jumlah darah yang dipompa jantung
dan resistensi terhadap aliran darah di arteri. Tekanan darah dibagi menjadi
dua yaitu tekanan darah sistolik dan diastolik. Angka lebih tinggi diperoleh
pada saat jantung berkontraksi disebut tekanan darah sistolik. Angka yang
lebih rendah diperoleh pada saat jantung berelaksasi disebut tekanan darah
diastolik. Dikatakantekanan darah tinggi jika tekanan sistolik mencapai 140
mmHg atau lebih, atau tekanan diastolik mencapai 90 mmHg atau lebih,
atau keduanya (Manurung, 2021).
Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dibedakan menjadi 2 kelompok
(P2PTM Kemenkes RI, 2020), yaitu :
a. Hipertensi essensial atau primer yang tidak diketahui penyebabnya (90%).
b. Hipertensi sekunder yang penyebabnya dapat ditentukan (10%), antara lain
kelainan pembuluh darah ginjal, gangguan kelenjar tiroid (hipertiroid),
penyakit kelenjar adrenal (hiperadolsteronisme) dan lain-lain.
Berdasarkan JNC-VII hipertensi diklasifikasikan sesuai
tertera pada tabel berikut:
Tabel 1. Klasifikasi Hipertensi Menurut JNC-VII 2003
9
Hipertensi Sistolik Terisolasi -140 dan -90
10
tidak menular maka dimungkinkan sepanjang hidup keturunannya
memiliki peluang 25% terserang penyakit tersebut. Jika kedua orang
tua memiliki penyakit tidak menular maka kemungkinan mendapatkan
penyakit tersebut sebesar 60%
2. Faktor Risiko Yang Dapat Diubah
Faktor risiko yang diakibatkan perilaku tidak sehat dari penderita hipertensi.
Faktor ini cenderung berhubungan dengan perilaku hidup tidak sehat seperti
a. Merokok
Satu batang rokok diketahui mengandung lebih dari 4000 bahan kimia
yang merugikan kesehatan baik bagi perokok aktif maupun perokok pasif.
Seseorang yang menghisap rokok denyut jantungnya akan meningkat
sampai 30%.56 Nikotin dan karbon monoksida yang dihisap melalui rokok
yang masuk ke aliran darah dapat merusak lapisan endotel pembuluh darah
arteri dan mengakibatkan proses arteriosklerosis, serta vasokonstriksi
pembuluh darah, akhirnya terjadi peningkatan tekanan darah. Selain itu
kandungan nikotin dalam rokok dianggap sebagai penyebab ketagihan dan
merangsang pelepasan adrenalin sehingga kerja jantung lebih cepat dan
kuat, akhirnya terjadi peningkatan tekanan darah. Merokok telah
menunjukkan hubungan peningkatan kekakuan pembuluh darah,
penghentian merokok merupakan gaya hidup yang penting untuk
mencegah penyakit kardiovaskular.
b. Diet rendah serat
c. Konsumsi makanan tinggi lemak
Seseorang yang terbiasa mengonsumsi lemak jenuh berhubungan erat
dengan peningkatan berat badan yang berisiko terjadinya hipertensi.
Konsumsi lemak jenuh juga meningkatkan risiko terjadinya aterosklerosis
yang berkaitan dengan kenaikan tekanan darah. Asam lemak jenuh, asam
lemak trans, asam lemak tak jenuh tunggal dan jamak merupakan
komposisi asam lemak. Salah satu jenis asam lemak selain asam lemak
jenuh yang kini menjadi sorotan adalah asam lemak trans Asupan asam
lemak trans dengan kadar kolesterol HDL memiliki hubungan terbalik.
Maksudnya, jika asupan asam lemak trans tinggi maka cenderung
menurunkan kadar kolesterol HDL. Konsumsi gorengan adalah salah satu
yang menyebabkan meningkatnya asam lemak trans total. Ratu Ayu Dewi
11
Sartika dalam penelitiannya melaporkan bahwa tingginya asam lemak
trans berhubungan dengan penyakit kronik seperti aterosklerosis yang
memicu hipertensi dan penyakit jantung.
d. Konsumsi Natrium
Badan kesehatan dunia yaitu World Health Organization (WHO)
mengungkapkan bahwa untuk mengurangi risiko terjadinya hipertensi
dengan mengurani pola konsumsi garam. Kadar sodium yang
direkomendasikan yaitu tidak lebih dari 100 mmol (sekitar 2,4 gram
sodium atau 6 gram garam) perhari. Terlalu banyak mengonsumsi natrium
mengakibatkan konsentrasi natrium di dalam cairan ekstraseluler
meningkat. Dalam kondisi tersebut tubuh berusaha mencoba menormalkan
dengan cara cairan intraseluler ditarik ke luar, sehingga volume cairan
ekstraseluler meningkat. Namun meningkatnya volume cairan
ekstraseluler tersebut dapat menyebabkan meningkatnya volume darah,
sehingga menyebabkan timbulnya hipertensi
2.1.4 Etiologi Hipertensi
Dalam kasus hipertensi, dapat terjadi tekanan darah (TD)
meningkat sangat tinggi secara tiba-tiba, sehingga memerlukan
penanganan secepatnya. Kondisi ini disebut hipertensi krisis.
Terminologi hipertensi krisis terdiri dari hipertensi emergensi dan
hipertensi urgensi.1,2Hipertensi emergensi didefinisikan sebagai
peningkatan tekanan darah sistolik >180 mmHg dan/atau
tekanan darah diastolik >120 mmHg disertai bukti kerusakan
organ target (target organ damage). Sedangkan hipertensi urgensi
adalah peningkatan tekanan darah sistolik >180 mmHg dan/atau
tekanan darah diastolik >120 mmHg tanpa disertai kerusakan organ
target. Organ target yang dimaksud meliputi jantung, otak,
ginjal, mata, dan pembuluh darah (Panggabean 2023).
2.1.5 Patofisiologi
Masih ada ketidakpastian tentang patofisiologi hipertensi. Sejumlah
kecil orang (sekitar 2% dan 5%) memiliki penyakit ginjal atau
adrenal yang mendasari sebagai penyebab tekanan darah tinggi.
12
Namun, sisanya belum dapat diidentifikasi penyebab yang jelas dan
kondisi mereka disebut "hipertensi esensial." Beberapa mekanisme
fisiologis terlibat dalam pemeliharaan tekanan darah normal, dan
gangguan yang mungkin memainkan peran dalam pengembangan
hipertensi esensial (Suling, 2018).
2.1.6 Tatalaksana Hipertensi
Tatalaksana hipertensi meliputi non farmakologis dan farmakologis.
Penatalaksanaan non farmakologis meliputi perubahan gaya hidup, upaya
tersebut dapat mengurangi ketergantungan penderita hipertensi terhadap
penggunaan.
Obat-obatan. Sedangkan tatalaksana farmakologis umumnya
dilakukan dengan pemberian obat antihipertensi di Puskesmas. Apabila
upaya nonfarmakologis dan farmakologis belum memberikan hasil yang
diharapkan, Puskesmas bisa meujuk pasien ke pelayanan kesehatan
sekunder yaitu Rumah Sakit (Kemenkes RI, 2020).
13
mengalami hipertensi. Kaitan erat antara kelebihan berat badan dan kenaikan
tekanan darah telah dilaporkan oleh beberapa studi. Berat badan dan indeks massa
tubuh (IMT) berkolerasi langsung dengan tekanan darah, terutama tekanan darah
sistolik. Obesitas bukanlah penyebab hipertensi. Akan tetapi prevalensi hipertensi
pada obesitas jauh lebih besar (Manurung, 2021).
• Kebiasaan Konsumsi Makanan Bergaram
Garam menyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh karena menarik cairan
diluar sel agar tidak keluarkan, sehingga akan meningkatkan volume dan tekanan
darah. Pada sekitar 60% kasus hipertensi primer (essensial) terjadi respon penurunan
tekanan darah dengan mengurangi asupan garam 3 gram atau kurang, ditemukan
tekanan darah rata-rata rendah, sedangkan pada masyarakat asupan garam sekitar 7-
8 gram tekanan rata-rata lebih tinggi. Pengaturan keseimbangan natrium dalam
darah diatur oleh ginjal. Sumber utama natrium adalah garam dapur atau NaCl
(Audina, 2020).
Natrium merupakan satu-satunya elemen yang biasa dikonsumsi dalam
bentuk garam dapur. Natrium berfungsi menjaga keseimbangan cairan dan asam
basa tubuh dan berperan dalam transisi saraf dan kontraksi otot. Pada umumnya pola
makan sehari-hari mengandung lebih banyak natrium daripada yang diperkukan
tubuh. Untuk mendapatkan keseimbangan maka jumlah natrium yang dikonsumsi
sama dengan jumlah yang dikeluarkan (Supratman, 2020).
Asupan natrium yang tinggi dapat menyebabkan peningkatan volume plasma,
dan tekanan darah. Natrium menyebabkan tubuh menahan air dengan kandungan
melebihi ambang batas normal tubuh sehingga dapat meningkatkan volume darah
dan meningkatkan tekanan darah. Asupan natrium yang tinggi menyebabkan
hipertropi sel lemak karena adipogenesis di jaringan lemak putih, jika berlangsung
terus-menerus akan menyebabkan penyempitan saluran pembuluh darah oleh lemak
yang mempengaruhi peningkaatan tekanan darah (Darmawan, Tamrin, dan
Nadimin, 2021).
• Kebiasaan Konsumsi Makanan Berlemak
Asupan lemak berfungsi sebagai sumber pembangun jika sesuai dengan
kebutuhan asupan lemak yang di butuhkan tetapi asupan lemak akan menjadi
masalah ketika asupan lemak yang masuk berlebih dari asupan lemak yang
dibutuhkan (Supratman 2021). Konsumsi lemak yang tinggi berpengaruh pada
tingginya simpanan kolesterol di dalam darah. Simpanan ini nantinya akan
14
menumpuk yang akan menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah.
Penyumbatan ini menjadikan elastisitas pembuluh darah berkurang sehingga volume
dan tekanan darah meningkat. Hal inilah yang memicu terjadinya hipertensi
(Kartika, Afifah, dan Suryani, 2020).
• Aktivitas Fisik
WHO mendefinisikan aktivitas fisik sebagai setiap gerakan tubuh yang
dihasilkan oleh otot rangka yang membutuhkan pengeluaran energi. Aktivitas fisik
mengacu pada semua gerakan termasuk selama waktu senggang, untuk transportasi
ke dan dari tempat, atau sebagai bagian dari pekerjaan [Link] aktivitas
fisik intensitas sedang dan kuat meningkatkan kesehatan. Cara populer untuk aktif
termasuk berjalan kaki, bersepeda, olahraga, rekreasi aktif danbermain, dan dapat
dilakukan pada tingkat keterampilan apa pun dan untuk kesenangan semua orang.
Aktivitas fisik secara teratur terbukti dapat membantu mencegah dan mengelola
penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, stroke, diabetes, dan beberapa jenis
kanker. Ini juga membantu mencegah hipertensi, menjaga berat badan yang sehat
dan dapat meningkatkan kesehatan mental, kualitas hidup dan kesejahteraan (WHO,
2020).
Aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin dan teratur akan meningkatkan
kualitas hidup secara fisik dan mental (Nugroho, Sanubari, dan Rumondor 2019).
Berat badan yang meningkat akibat dari kurangnya aktivitas fisik akan berdampak
pada peningkatan risiko menderita hipertensi. Jantung akan bekerja lebih keras
menyebabkan tekanan yang besar pada arteri (Simanullang 2018). Perilaku aktivitas
fisik rendah berpengaruh pada menurunnya elastisitas pembuluh darah dan sistem
jantung. Hal inilah yang menjadikan tekanan darah meningkat (Kartika, Afifah, dan
Suryani, 2020).
• Kebiasaan Merokok
Merokok merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan hipertensi,
sebab rokok mengandung nikotin. Menghisap rokok menyebabkan nikotin teresap
oleh pembuluh darah kecil dalam paru-paru dan kemudian akan diedarkan hingga
ke otak. di otak, nikotin akan memberikan sinyal pada kelenjar adrenal untuk
melepas epinefrin atau adrenalin yang akan menyempitkan pembuluh darah dan
memaksa jantung untuk bekerja lebih berat karena tekanan darah yang lebih tinggi
(Simanullang, 2023).
• Kebiasaan Istirahat
15
Istirahat yang tidak cukup akan mengakibatkan gangguan fisik dan mental.
Istirahat yang cukup adalah kebutuhan dasar manusia untuk mempertahankan
ksehatannya. Istirahat dan tidur berguna untuk melemaskan otot-otot setelah
beraktifitas dan juga untuk menenangkan pikiran. Tidur yang cukup di malam hari
6-8 jam akan memulihkan kelelahan sepanjang hari dan siap untuk bekerja esok hari.
Istirahat yang cukup sangat dibutuhkan badan kita. Kurang tidur dapat menyebabkan
badan lemas, tidak ada semangat, lekas marah dan stres. Apabila stres berlangsung
lama dapat mengakibatkan peninggian tekanan darah yang menetap. Stres dapat
meningkatkan tekanan darah untuk sementara waktu dan bila stress sudah hilang
tekanan darah bias normal kembali (Pakpahan, 2021).
• Minuman Berkafein
Kafein merupakan zat yang dapat mengatasi kelelahan dan meningkatkan
konsentrasi serta menggembirakan suasana hati. Namun konsumsi kafein yang
berlebihan dalam jangka yang panjang dan jumlah yang banyak diketahui dapat
meningkatkan risiko penyakit hipertensi atau penyakit kardiovaskuler. Contoh
makanan atau minuman yang mengandung kafein yaitu kopi, teh, soft drink, dan
cokelat (Eriana, 2022).
• Dislipidemia
Dislipidemia disebabkan oleh terganggunya metabolisme lipid akibat
interaksi faktor genetik dan faktor lingkungan. Walau terdapat bukti hubungan
antara kolesterol total dengan kejadian kardiovaskular, hubungan ini dapat
menyebabkan kesalahan interpretasi di tingkat individu seperti pada wanita yang
sering mempunyai konsentrasi kolesterol HDL yang tinggi. Terdapat bukti kuat
hubungan antara kolesterol LDL dengan kejadian kardiovaskular berdasarkan studi
luaran klinis, sehingga kolesterol LDL merupakan target utama dalam tatalaksana
dislipidemia (Erwinanto et al., 2021)
16
jaringan serta dapat mengakibatkan hipertensi apabila konsumsi terlalu banyak
(Sukmawati, 2020).
• Psikososial Dan Stress
Stress diyakini memiliki hubungan dengan hipertensi. Hal ini diduga melalui
aktivitas saraf simpatis yang dapat meningkatkan tekanan secara intermiten.
Disamping itu juga dapat merangsang kelenjar anak ginjal melepaskan hormon
adrenalin dan memacu jantung berdenyut lebih cepat yang menyebabkan tekanan
darah meningkat. Stress dapat meningkatkan tekanan darah untuk sementara waktu
dan bila stress sudah hilang tekanan darah bisa normal kembali (Pramana, 2020).
2.3 Tinjaun Penelitian Sebelumnya
Penelitian ini berdasarkan dari hasil penelitian-penelitian terdahulu yang
pernah dilakukan sebagai bahan perbandingan dan kajian. Adapun hasil-hasil
penelitian yang dijadikan perbandingan dari topik penelitian ini yaitu mengenai
hubungan gaya hidup dengan kejadian hipertensi, antara lain:
a. Hasil penelitian yang dilakukan Ririn Nurmandhani (2020) yang berjudul
Hubungan Gaya Hidup dengan Kejadian Hipertensi Di Wilayah Kerja
Puskesmas Geneng, Ngawi‖. Jenis penelitian ini adalah suatu penelitian
korelasi dengan desain Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini yaitu
semua penderita hipertensi yang berkunjung/berobat di Puskesmas Geneng.
Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Purposive Sampling dengan
sampel 69 orang penderita hipertensi. Instrumen penelitian ini menggunakan
kuesioner yang diambil dari Aisyiyah (2009), dengan sub variabel aktivitas
fisik, kebiasaan makan, kebiasaan minum alkohol, kebiasaan minum kafein,
kebiasaan merokok, dan stres. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan
diketahui bahwa sebagian besar penderita hipertensi di Wilayah Kerja
Puskesmas Geneng memiliki perilaku gaya hidup yang kurang sebanyak 55
responden (79,7 %), mengalami hipertensi sedang sebanyak 46 responden
(66,7%), terdapat hubungan antara perilaku gaya hidup dengan kejadian
hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Geneng dengan nilai koefisien korelasi
r = 0,787 menunjukkan bahwa kekuatan korelasi yaitu kuat (Nurmandhani,
2020).
b. Penelitian yang dilakukan Winnellia Rangkuti (2021) yang berjudul ―Gaya
Hidup Berhubungan Dengan Kejadian Hipertensi‖. Penelitian ini
menggunakan jenis penelitian kuanitatif dengan metode penelitian analitik
17
corelational dengan menggunakan pendekatan cross sectional untuk
mengetahui hubungan antara variabel dimana variabel independen adalah pola
makan/diet, kebiasaan merokok, kebiasaan olahraga dan variabel dependen
adalah kejadian hipertensi. Cara pemilihan sampel dalam penelitian ini
menggunakan cara non probability sampling dengan teknik pengambilan
sampel consecutive sampling. Besaran sampel yang digunakan dalam
penelitian ini sebanyak 33 responden. Hasil dari penelitian ini yaitu ada
hubungan Gaya Hidup dengan kejadian hipertensi di Unit Pelayanan Terpadu
Puskesmas Kecamatan Singkawang Selatan 1 yang mana hal ini ditunjukkan
dengan dilakukan perhitungan melalui spss didapatkan nilai p signifikansi =
0,001 (Rangkuti, 2021).
c. Penelitian yang dilakukan Nur Furqani, Cyntiya Rahmawati dan Melianti
(2019) yang berjudul ―Hubungan Gaya Hidup Dengan Kejadian Hipertensi
Pada Pasien Rawat Jalan di Puskesmas Pagesangan Periode Juli 2019‖. Metode
penelitian ini adalah penelitian observasi analitik, dengan desain case control
dan dianalisi mengunakan uji Chi square. Pengambilan data yang dilakukan
yaitu dengan cara wawancara langsung dengan menggunakan kuesioner yang
diberikan pada responden yang akan diteliti dengan jumlah sampel sebanyak
80 responden diambil berdasarkan kurun waktu penelitian (Furqani,
Rahmawati, dan Melianti, 2020).
d. Penelitian yang dilakukan Agus Purnomo, Fahrurazi, dan Kasman (2020) yang
berjudul ―Hubungan Perilaku Gaya Hidup Dengan Kejadian Hipertensi Di
Wilayah Kerja Puskesmas Parenggeani Kabupaten Kotawaringin Timur
Kalimantan Tengah Tahun 2020‖. Desain yang digunakan dalam penelitian ini
adalah survei analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Populasi dalam
penelitian ini adalah semua penderita penyakit hipertensi yang datang berobat
ke Puskesmas Parenggean I dalam 3 bulan terakhir yaitu bulan Oktober 2019
hingga Desember 2019 sebanyak 449 Orang. Penelitian ini menggunakan
teknik purposive sampling, denan jumlah sampel sebanyak 88 orang. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara
perilaku merokok (p value 0,001), terdapat hubungan yang bermakna antara
aktivitas fisik dengan hipertensi (p value 0,001), terdapat hubungan yang
bermakna antara perilaku konsumsi kafein dengan hipertensi (p value 0,001)
(Purnomo, Fahrurazi, dan Kasman, 2020).
18
2.4 Kerangka Teori
Teori adalah sekumpulan interrelasi berbagai pernyataan yang
terorganisasi dan sistematik yang secara khusus menjelaskan hubungan antara
dua atau lebih variabel, yang bertujuan untuk memahami permasalahan atau
latar belakang masalah. Sementara itu konsep adalah pernyataan simbolis
yang menjelaskan suatu fenomena atau sub fenomena tertentu. Penentuan
kerangka teori harus sesuai dengan topik/permasalahan penelitian dan tujuan
dari penelitian (Heryana, 2019).
19
Kejadian
Hipertensi
Usia Obesitas
Aktivitas fisik
Genetik
usia
Kebiasaan merokok
Kebiasaan istirahat
Minuman berkafein
Dislipidemia
20
2.5 Kerangka Konsep Penelitian
Berdasarkan kerangka teori yang telah dijelaskan sebelumnya, maka didapatkan
kerangka konsep untuk mendeskripsikan variabel-variabel yang diteliti. kerangka
konsep terdiri dari varibel dependen dan independen. Adapun kerangka konsep dari
penelitian ini yaitu hubungan gaya hidup dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja
Puskesmas Mokoau kota Kendari tahun 2023. Hubungan antara variabel independent
dan variabel dependent penelitian ini digambarkan dalam bagan berikut :
Gaya Hidup:
3. Aktivitas fisik
21
H1 :Ada hubungan antara kebiasaan mengonsumsi makanan berlemak dengan
kejadian hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Mokoau, kota Kendari tahun
2023.
22
BAB III METODOLOGI PENELITIANELITIAN
METODOLOGI PENELITIAN
{Za√2(PQ)+Zβ√(P1Q1)+(P2Q2)}
n= (𝑃1+𝑃2)
{1,96√2(0,299.0,701+1,64√(0,42.0,58)+(0,178.0,822)2 }
n= (0,42−0,178)2
n = 46
Berdasarkan perhitungan diatas, dalam penelitian ini sampel yang
diperlukan untuk kasus dan kontrol adalah 1:1 yang masing-masing
sebanyak 46 kasus dan 46 kontrol. Kelompok kasus yaitu masyarakat
yang menderita hipertensi dan mengikuti Posbindu di wilaya kerja
Puskesmas Mokoau Kota Kendari tahun 2023 dan kontrol yaitu
masyarakat yang tidak menderita hipertensi dan mengikuti Posbindu di
wilayah kerja Puskesmas Mokoau Kota Kendari. Sehingga total sampel
yang diperoleh adalah 92 responden.
24
3.5 Instrumen Penelitian
Adapun instrumen pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini
adalah:
3.5.1. Formulir persetujuan menjadi responden dari peneliti dan informed
consent.
3.5.2. Kuisioner yang berisi tentang identitas responden
3.5.3. Kuisioner FFQ Semi Quantitatif, digunakan untuk mengetahui kebiasaan
konsumsi makanan bergaram dan kebiasaan konsumsi makanan berlemak
responden
3.5.4. Kuisioner IPAQ, digunakan untuk mengetahui aktivitas fisik responden
3.5.5. Tensi digital, yaitu alat yang digunakan untuk mengukur TDS dan TDD
responden. 3.5.6 Alat dokumentasi, berupa kamera atau handphone
berkamera.
3.5.6. Laptop dan kalkulator, yaitu alat yang digunakan untuk mengolah data
yang diperoleh serta yang digunakan untuk menyusun hasil penelitian.
3.5.7. Alat tulis, yaitu alat yang digunakan untuk mengisi lembar kuesioner.
3.5.8. Software program pengolahan data
25
a) Definisi operasional : Konsumsi makanan asin untuk mengetahui
persentase tingkat konsumsi natrium responden.
b) Alat ukur : kuesioner FFQ Semi Quantitatif
c) Skala ukur : ordinal
d) Kriteria objektif
• Lebih : jika > 120%
• Normal : jika 90-119%
2) Kebiasaan mengonsumsi makanan berlemak
a) Definisi operasional : kebiasaan responden mengonsumsi makanan
yang mengandung lemak.
b) Alat ukur : kuesioner FFQ Semi Quantitatif
c) Skala ukur : ordinal
d) Kriteria objektif
• Lebih : jika > 120%
• normal : jika 90-119%
3) Aktivitas fisik
a) Definisi operasional : Aktivitas yang membutuhkan energi dan
dilakukan 7 hari sebelumnya.
b) Alat ukur : kuesioner IPAQ
c) Skala ukur : ordinal
d) Kriteria objektif Berikut kriteria objektif aktivitas fisik :
26
3.8 Pengolahan, Analisis dan Penyajian Data
3.8.1 Pengolahan Data
Data yang diperoleh dari hasil pengukuran selanjutnya dimasukkan dan
diolah dengan bantuan komputer menggunakan program komputer dengan
tahap-tahap sebagai berikut :
1) Editing yaitu meneliti kembali apakah isian dalam lembar kuesioner
sudah lengkap diisi. Penyuntingan sebelum proses pemasukan data.
2) Coding yaitu kegiatan mengklasifikasikan jawaban-jawaban responden
atas pertanyaan yang ada pada kuesioner.
3) Tabulating (menyusun data) yaitu langkah memasukan data-data hasil
penelitian kedalam tabel sesuai kriteria yang telah ditentukan serta
mengelompokkan data sesuai variabel dan kategori penelitian sehingga
dapat dihitung jumlahnya.
4) Entry Data yaitu memasukan data ke dalam kategori tertentu untuk
dilakukan analisis data dengan menggunakan bantuan program
komputer.
5) Cleaning yaitu proses pembersihan data setelah data entry dan
mengecek kembali data yang sudah dientry apakah masih ada kesalahan
atau tidak dan kemudian mengedit data yang salah tersebut dan
dianalisis.
3.8.2 Analisis Data
1) Analisis Univariat
Dilakukan secara deskriptif pada masing- masing variabel dengan
analisis pada distribusi frekuensi.
2) Analisis Bivariat
Analisa bivariat adalah analisis yang digunakan untuk mengetahui
hubungan gaya hidup dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja
Puskesmas Mokoau, Kota Kendari tahun 2023. Analisis bivariat
digunakan untuk membuktikan hipotesis penelitian antara variabel
independen dan variabel dependen.
27
3.8.3 Penyajian data
Data-data yang telah didapat dan diolah kemudian ditampilkan dalam bentuk
tabel dan tekstual serta selanjutnya diinterpretasikan dalam bentuk
penjelasan.
28
DAFTAR PUSTAKA
Audina, R. 2019. ―Hubungan Asupan Natrium, Pengetahuan, Aktivitas Fisik,
Stres, Kebiasaan Merokok Dengan Kejadian Hipertensi Pada Lansia Di
Wilayah Kerja Puskesmas Sungai Penuh Tahun 2020. Sustainability
(Switzerland). Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Perintis Padang.
Arifin, B., S. Zaenal, dan Irmayani. 2020. ―Hubungan Gaya Hidup Dengan
Kejadian Hipertensi Di Puskesmas Sabutung Kabupaten Pangkep.‖ Jurnal
Ilmiah Kesehatan Diagnosis 15 (3): 227–31Dinas Kesehatan Kota Kendari.
2019. Profil Kesehatan 2019. Diedit oleh Arpan 67 Tombili. Kendari.
Darmawan, H., A. Tamrin, dan Nadimin. 2018. ―Hubungan Asupan Natrium dan
Status Gizi Terhadap Tingkat Hipertensi Pada Pasien Rawat Jalan Di RSUD
Kota Makassar.‖ Media Gizi Pangan 25 (1): 11–17.
[Link]
Furqani, N., C. Rahmawati, dan Melianti. 2020. ―Hubungan Gaya Hidup Dengan
Kejadian Hipertensi Pada Pasien Rawat Jalan di Puskesmas Pagesangan
Periode Juli 2019.‖ Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian 1 (1): 34–40.
[Link]
Heryana, A.. 2019. Buku Ajar Metodologi Penelitian Kesehatan Masyarakat.
Deepublish. Jakarta
[Link]
da_Kesehatan_Masyarakat_Edisi_Revisi.pdf.
Jasmin, Rizaldy, Ichayuen Avianty, and Tika Noor Prastia. 2023. “Hubungan
Aktivitas Fisik Dengan Tingkat Hipertensi Pada Lansia Di Puskesmas
Pancasan Kecamatan Bogor Barat Tahun 2021.” Promotor 6(1): 49–52.
Kartika, L. A., E. Afifah, dan I. Suryani. 2021. ―Asupan lemak dan aktivitas fi sik
serta hubungannya dengan kejadian hipertensi pada pasien rawat jalan.‖ Jurnal
Gizi Dan Dietetik Indonesia 4 (3): 139–46.
[Link]
Manurung, R. V. 2018. ―Hubungan Kebiasaan Makan dan Gaya Hidup Dengan
Kejadian Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Karo Pematangsiantar.‖
Universitas Sumatera Utara.
Marsita, Sri, Nurmawan, and Diah Indriastuti. 2020. “Faktor Risiko Kejadian
Hipertensi Pada Lansia Di Wilayah Pesisir Puskesmas Abeli Kota Kendari.”
Jurnal Kesehatan Masyarakat Celebes 2(1): 18–24.
Nurmandhani, R. 2020. ―Hubungan Gaya Hidup dengan Kejadian Hipertensi Di
Wilayah Kerja Puskesmas Geneng, Ngawi.‖ JPKM: Jurnal Profesi Kesehatan
Masyarakat 1 (2): 51–59. [Link]
Palandeng, H. M. F. 2018. ―Pengelolaan hipertensi dengan pendekatan pelayanan
dokter keluarga.‖ Jurnal Kedokteran Komunitas dan Tropik 6 (1): 265–69.
Panggabean, Martinova Sari. 2023. “Penatalaksanaan Hipertensi Emergensi.”
Cermin Dunia Kedokteran 50(2): 82–91.
Purnomo, A., Fahrurazi, dan Kasman. 2020. ―Hubungan Perilaku Gaya Hidup
Dengan Kejadian Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Parenggeani
Kabupaten Kotawaringin Timur Kalimantan Tengah Tahun 2020.
Rangkuti, W.. 2021. ―Gaya Hidup Berhubungan Dengan Kejadian Hipertensi.‖
Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal 11 (April): 341–48.
[Link]
Riskesdas. 2019. Laporan Nasional Riskesdas 2019.
Siswanto, Yuliaji et al. 2020. “Hipertensi Pada Remaja Di Kabupaten Semarang.”
Jppkmi 1(1): 2.
Suling, F. R. W. 2018. Buku Referensi Hipertensi. Diedit oleh Abraham
Simatupang. Agustus 20. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Kristen
Indonesia.
Supratman, A. 2019. ―Hubungan Gaya Hidup Dengan Kejadian Hipertensi Pada
Usia Dewasa Muda (20-44 Tahun) Di Wilayah Kerja Puskesmas Kampung
Dalam Pontianak Timur.‖ Universitas Muhammadiyah Pontianak
Sutanto, Sijabat. 2023. “No Title.” 2(April): 100–117.
WHO. 2019. ―Global Brief on Hypertension: Silent Killer, Global Public Health
Crisis,‖ 2013. [Link] ———. 2020a. ―Salt
Reduction.‖ World Health Organization. 2020. [Link]
room/fact-sheets/detail/salt-reduction. ———. 2020b. ―Physical Activity.‖
World Health Organization. November 2020. [Link]
room/fact-sheets/detail/physical-activity. ———. 2021. ―Hypertension.‖
[Link]. 2021. [Link]
sheets/detail/hypertension.
30