Penggunaan Na2SiO3 dalam Beton Geopolimer
Penggunaan Na2SiO3 dalam Beton Geopolimer
BAB I
PENDAHULUAN
[Link] Belakang
komposisi semen, air,abu batu,dll salah satunya adalah beton. Beton adalah
suatu komposisi bahan bangunan yang didasar pada campuran semen portland
atau bahan pengikat sejenis air, agregat halus dan agregat kasar tanpa bahan
inovasi yaitu penggunaan bahan kimia sebagai pengganti semen sebagai bahan
[Link] kimia yang di gunakan sebgai pengganti semen yaitu zat kimia
kemungkinan dapat menjadi solusi masa depan yang di mana beton bahan
konvensional.
Maka dari itu di lakukan eksperimen yang dimana membuat beton tanpa
menggunakan semen sama sekali dan di ganti dengan bahan kimia yaitu Naoh
dan Na2sio3 yang di campur dan menjadi sebuah reaksi yang di sebut alkali
aktivator
Akali Activator adalahn Combinasi zat dari Naoh dan Sa2SIO3(Sodium Silika)
yang menjadi bahan utama pengganti [Link] beton yang didapatkan dari
penelitian ini diharapkan bisa memenuhi mutu yang diinginkan. Dalam mencapai
[Link] Masalah
sebagai berikut:
Activator?
sebagai berikut:
6. Nilai rasio alkali aktivator yang di pakai 1:1, 1:1,5, 1:2, 1:2,5, 1:3
[Link] Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
beton.
Activator
Alkali Activator
Adapun manfaat yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Manfaat teoritis
2. Manfaat praktis
LANDASAN TEORI
Martha Adi Pamungkas (2021), pada jurnalnya yang berjudul “KUAT TEKAN
dasar abu terbang dan aktivator NaOH dan Na2SiO3. Gradasi butiran pasir dan koral
dirancang, pada zona 2 dan gradasi koral dengan butiran maksimum 20 mm.
Perbandingan pasir dan koral digunakan 1:1,24. Dibuat 3 campuran C1,C2, dan C3
dengan persentase abu terbang dan aktivator sebesar C1, 70%:30%, C2 65%:35%,
dan C3 60%:40%. Perbandingan Na2SiO3 dan NaOH sebesar 1:1.5 dengan molaritas
700C selama 24 jam. Pengujian kuat tekan beton dilakukan pada umur 7, 14, dan 28
mendapatkan campuran yang terbaik dan menghasilkan kuat tekan beton yang
peningkatan kuat tekan hingga 14 hari, hal ini terjadi pada beton C1, C2, dan C3.
Pada umur 14 hari hingga 28 hari kuat tekan beton geopolimer tidak mengalami
Menurut Nisa Latifah Gandina, Y. Djoko Setiyarto, (2020), pada jurnalnya yang
abu terbang, NaOH dan Na2SiO3 digunakan sebagai zat pengaktif, serta
ditambahkan pula serat mat sebagai bahan aditif. Dalam penelitian ini dibuat 6
Sodium Hidroksida dengan rasio 0,5 dan 1,5 dan proses curing dengan cara dioven
serta penambahan serat mat sebagai bahan aditif; Campuran 1,5 M Sodium
Hidroksida dengan Sodium Silikat terhadap Sodium Hidroksida dengan rasio 0,5
dan 1,5 dan proses curing dengan cara dioven serta tanpa penambahan serat mat;
Hidroksida dengan rasio 0,5 dan 1,5 dan proses curing dengan cara tidak dioven
serta penambahan serat mat sebagai bahan aditif. Berdasarkan pengujian kuat tekan,
rasio perbandingan sodium silikat dengan sodium hidroksida 0,5 menghasilkan kuat
tekan yang lebih tinggi dibandingkan dengan rasio 1,5. Untuk proses curing dengan
cara tidak dioven menghasilkan kuat tekan yang lebih tinggi dibandingkan proses
curing dengan cara dioven. Penggunaan serat mat diketahui dapat meningkatkan
pada jurnalnya yang berjudul “Studi Beton Geopolimer Dengan Bahan Dasar Fly
menggunakan fly ash dan cairan alkali activator berupa NaOH dan Na2SiO3
dengan perbandingan sebesar 1,5; 2,0; 2,5; 3,0; 3,5 yang menggunakan metode
dan dimuat dalam Standar SNI 03-2834-2000, "Tata cara pembuatan rencana
campuran beton normal”. Secara berurut nilai kuat tekan beton (rata-rata) yang di
dapat adalah 3,40 MPa (SS/SH = 1,5) ; 7,11 MPa (SS/SH = 2,0); 10,13 MPa (SS/SH
= 2,5); 9,07 MPa (SS/SH = 3,0) dan 8,05 MPa (SS/SH = 3,5). Beton yang
menghasilkan kuat tekan beton maksimal ada pada variasi perbandingan SS/SH
sodium hidroksida (NaOH) padat dan sodium silikat (Na2SiO3) padat yang
digunakan adalah 1:1, 1:1,5, 1:2, 1:2,5, 1:3, 1:3,5, kemudian aktivator ini digiling
bersama dengan fly ash tipe C menghasilkan semen geopolimer. Kemudian semen
ini dicampur dengan air sebesar 0,4 dan juga pasir. Setelah mortar homogen, mortar
tersebut disimpan pada suhu ruangan dengan metode polyethene curing. Hasil yang
didapatkan bahwa kuat tekan tertinggi berada pada variasi NaOH terhadap
Na2SiO3 sebesar 1:3,5 dengan nilai kuat tekan 23,21 MPa. Hasil uji waktu
1:3,5. Kandungan sodium silikat berpengaruh besar terhadap nilai kuat tekan dan
Menurut Cahyo Didit Prasetyo dkk, (2020), pada jurnalnya yang berjudul
“Kajian Pemanfaatan Limbah Kaca Sebagai Pengganti Agregat Halus dan FLY ASH
30% dari Berat Semen Ditinjau dari Kuat Tarik Belah, Daya Serap dan Porositas
sebagai pengganti agregat halus yang menghasilkan kuat tarik beton maksimal
terdapat pada persentase penggantian serbuk kaca 10% yaitu sebesar 2,258 Mpa,
sedangkan kuat tarik belah beton normal yaitu 2,310 Mpa. Hal ini menunjukan
agregat halus yang menghasilkan daya serap beton minimal terdapat pada
persentase 10% yaitu sebesar 6,407 Mpa, sedangkan daya serap air beton normal
sebesar 6,683%, hal ini menunjukan penurunan sebesar 4,13%. Persentase serbuk
kaca optimal sebagai pengganti agregat halus yang menghasilkan porositas beton
minimal terdapat pada persentase 10% yaitu sebesar 14,006 Mpa, sedangkan
porositas beton normal sebesar 15,065 hal ini menunjukan penurunan sebesar
18.91%.
, Oktri Yanti2 , Arista Widya Iryan, ( 2020), pada jurnalnya yang berjudul “Analisis
Kuat Beton Geopolimer Menggunakan Fly Ash dan Abu Sekam Padi” dalam
jurnalna menjelaskan bahwa beton geopolimer yang ramah lingkungan dan efisien
dalam hal pemanfaatan energi. Penelitian menggunakan 4 variasi kombinasi fly ash
dan abu sekam padi (100% FA : 0% ASP, 75% FA : 25% ASP, 50% FA : 50%
ASP, dan 25% FA : 75% ASP) dengan penambahan larutan alkaline berupa
Na2SiO3 dan NaOH dengan perbandingan 5:1 pada umur beton 7 hari, 14 hari, dan
28 hari, dengan sampel yang digunakan berbentuk kubus dan kuat tekan rencana
sebesar 225 kg/cm2 pada umur beton 28 hari. Penelitian bertujuan untuk
penggunaan fly ash dan abu sekam padi dengan penambahan larutan alkaline
berada pada beton geopolimer 100% FA : 0% ASP dengan nilai kuat tekan 395,643
kadar SP terhadap nilai kuat tekan dan porositas beton geopolimer. Material yang
digunakan adalah abu terbang kelas C, aktivator sodium hidroksida (NaOH) 12M
dan Sodium Silikat (Na2SiO3) dengan perbandiangan NaOH/ Na2SiO3 sebesar 1,5.
SP yang digunakan adalah merek Sika Viscocrete 1003 yang dikategorikan aditif
tipe F. Penelitian yang dilakukan meliputi uji XRF pada abu terbang, uji vikat untuk
binder beton geopolimer, uji slump untuk beton geopolimer segar, pemeriksaan
berat volume, uji tekan dan uji porositas pada beton usia 3, 7, dan 28 hari. Hasil
pada hampir keseluruhan benda uji. Dari uji tekan didapatkan bahwa SP dapat
meningkatkan kuat tekan beton geopolimer hingga rata-rata maksimum 13.58 MPa
peningkatan nilai kuat tekan beton geopolimer dengan menggunakan abu cangkang
telur itik dengan campuran natrium silikat dan natrium hidroksida dengan variasi
65%: 35%, 70%: 30%, dan 75%: 25% pada 7 hari 28 hari dengan benda uji oven
dan beton kontrol yang hanya dibiarkan pada suhu kamar. Adapun latar belakang
penulisan ini karena penggunaan semen dapat menimbulkan CO2 sehingga dengan
material abu cangkang telur bebek yang lebih ramah lingkungan menggantikan
telur bebek yang digunakan adalah limbah yang dibakar dengan suhu mencapai 800
cm dengan kualitas denah fc '20 MPa. Pengujian kuat tekan beton geopolimer
menggunakan alat Crushing Test Machine. Kuat tekan beton geopolimer hasil
pemanasan benda uji beton pada variasi aktivator 65%: 35%, 70%: 30%, dan 75%:
25% pada 7 hari yaitu 6.157 MPa, 12.314 MPa, dan 3.736 MPa, dan selama 28 hari.
yaitu 2.547 MPa, 2.760 MPa, dan 1.698 MPa. Sedangkan benda uji beton yang tidak
dipanaskan nilai kuat tekan beton pada variasi aktivator adalah 65%: 35%, 70%:
30%, dan 75%: 25% pada 7 hari, yaitu 2,972 MPa, 3,991 MPa, dan 1,486 MPa. ,
dan untuk 28 hari yaitu 1,401 MPa, 2,123 MPa, dan 1.273 MPa. Terlihat bahwa
nilai kuat tekan rata-rata maksimum pada variasi aktivator 70%: 30% dengan benda
menjelaskan bahwa Penelitian kali ini bertujuan untuk mengetahui waktu optimum
7.5, 10, 12.5, 15 menit. Mix design mengacu pada penelitian sebelumnya. Jumlah
benda uji pada masing-masing 3 buah pada tiap pemberian variasi,sehingga total
benda uji keseluruhan berjumlah 75 buah. Benda uji berbentuk silinder dengan
geopolymer memiliki waktu pencampuran optimum pada 7.5 menit. Data hasil
pengujian kuat tarik belah beton geopolymer pada variaasi perbandingan bahan
penyusun 20%:80% dan pada variasi waktu pencampuran 5 menit adalah 4.044
MPa, 7.5 menit adalah 5.007 MPa, 10 menit adalah 4.667 MPa, 12.5 menit adalah
3.719 MPa, 15 menit adalah 2.993 MPa. Pada variasi perbandingan bahan penyusun
25%:75% dan variasi waktu pencampuran 5menit adalah 4.770 MPa, 7.5 menit
adalah 6.622 MPa, 10 menit adalah 5.763 MPa, 12.5 menit adalah 4.533 MPa, 15
menit adalah 3.985 MPa. Pada variasi perbandingan bahan penyusun 30%:70% dan
variasi waktu pencampuran 5 menit adalah 5.319 MPa, 7.5 menit adalah 7.822 Mpa,
10 menit adalah 6.148 MPa, 12.5 menit adalah 4.785 MPa, 15 menit adalah 4.430
MPa. Pada variasi perbandingan bahan penyusun 35%:65% dan variasi waktu
pencampuran 5 menit adalah 4.563 MPa, 7.5 menit adalah 5.926 Mpa, 10 menit
adalah 5.363 MPa, 12.5 menit adalah 4.237 MPa, 15 menit adalah 3.867 MPa. Pada
menit adalah 4.059 MPa, 7.5 menit adalah 5.526 Mpa, 10 menit adalah 4.948 MPa,
12.5 menit adalah 3.985 MPa, 15 menit adalah 3.244 MPa. Dapat disimpulkan
bahwa waktu pencampuran beton geopolymer yang paling optimum adalah 7.5
menit.
penelitiannya kuat tekan beton pada umur 7, 14, 28 dan 56 hari diuji melalui tes
kuat tekan. Material yang digunakan adalah abu terbang Bata Merah daerah simli
15/30 cm, dengan metode perawatan beton ditutup menggunakan plastik pada suhu
ruang. Nilai maksimum rata-rata kuat tekan beton geopolymer Bata Merah dalam
penelitian ini sebesar 3,60 MPa didapatkan pada rasio 1:2 dengan umur pangujian
56 hari
2.2 Dasar Teori
dari campuran agregat (kasar dan halus), semen, air, dan pula ditambah dengan
bahan campuran tertentu apabila dianggap perlu. Bahan air dan semen disatukan
akan membentuk pasta semen berfungsi sebagai bahan pengikat, sedangkan agregat
halus dan agregat kasar sebagai pengisi (Nugraha, Paul dan Antoni, 2007). Bahan
dari beberapa material, yang bahan utamanya terdiri dari campuran antara semen,
agregat halus, agregat kasar, air dan atau tanpa bahan tambahan membentuk masa
padat. Untuk mempelajari perilaku unsur unsur penyusun beton tersebut dibutuhkan
mendapatkan kuat tekan yang tinggi kadar air yang digunakan harus ditekan
seminimal mungkin. Air yang ada pada campuran hanya digunakan sebagai reaktan
mencapai maksimum pada saat umur uji 28 hari, namun dalam beberapa literatur
seperti pada kutipan penulis kali ini yang menunjukkan hasil penelitian dengan
umur uji di atas 28 hari, yaitu 90 hari. Ketentuan tentang pengujian beton dengan
Beton yang baik, serta pemilihan bahan tambahan sesuai dosis yang diperlukan.
Bahan pembentuk beton terdiri dari semen, agregat halus, air, dan bahan tambahan
lain jika diperlukan. Untuk pembuatan beton yang baik, material-material tersebut
harus melalui tahap penelitian yang sesuai standart penelitian yang baku sehingga
Naoh atau sering di sebut soda api adalah zat kimia atau senyawa kimia
denga alkali [Link] – sifat kimia membuat ideal untuk digunakan dalam
gunakan di industri.
NA2SIO3 atau sering di sebut dengan sodium silika senyawa bahan kimia
B. Agregat Kasar
Agregat kasar adalah kerikil sebagai hasil disintegrasi alam dari batuan atau
berupa batu pecah yang diperoleh dari industri pemecah batu dan mempunyai
memenuhi syarat kekuatan, bentuk, tekstur maupun ukuran. Agregat kasar yang
baik bentuknya bersudut dan pipih (tidak boleh blondos). Agregat harus memiliki
syarat kebersihan yaitu, tidak mengandung lumpur lebih dari 1%, dan tidak
menghasilkan beton yang memiliki kekuatan yang tinggi. Agregat kasar yang
digunakan dalam penelitian ini adalah agregat alam berupa batu pecah. Batasan
9,50 mm (3/8”) 20 – 55
4,75 mm (No. 4) 0 – 10
Menurut PBI 1971 Bab 3.4 agregat kasar/harus memenuhi syarat sebagai berikut:
Agregat kasar terdiri dari butir-butir keras dan tidak berpori. Kerikil yang
berpori akan menghasilkan beton yamg mudah ditembus air. Agregat kasar yang
mengandung butir-butir pipih hanya dapat dipakai jika jumlah butirannya tidak
melebihi 20% berat agregat seluruhnya. Butir-butir agregat kasar tersebut harus
bersifat kekal artinya tidak pecah atau hancur karena pengaruh cuaca.
Agregat kasar tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1% apabila lebih
Agregat tidak mengandung zat-zat yang merusak beton, seperti zat-zat yang
dan Rudellof atau dengan mesin pengaus Los Angeles dimana tidak boleh
Agregat kasar terdiri dari butir-butir yang beraneka ragam besarnya atau
bergradasi baik.
Besar butiran maksimum agregat kasar tidak boleh lebih dari 1/5 jarak
terkecil antara bidang-bidang samping cetakan 1/3 tebal pelat 3/4 dari jarak
C. Agregat Halus
Agregat halus merupakan agregat yang lolos ayakan 4,75 mm atau lolos
saringan no. 4 dan tertahan pada saringan no. 200. Agregat halus pada beton dapat
berupa pasir alami atau pasir buatan. Pasir alami didapatkan dari hasil disintegrasi
alami dari batu -batuan (pasir gunung atau pasir sungai). Pasir buatan adlah pasir
yang di hasilkan oleh alat-alat pemecah batu atau dipero;eh dari hasil sampingan
stone crusher. Pasir alam didpatkan dari hasil disintegrasi alami dari batuan-batuan
(pasir gunung dan pasir sungai). Pasir berfungsi sebagai pengisi pori-pori yang
ditimbulkan oleh agregat yang lebih besar (agregt kasar). Agregat halus tidak boleh
merusak beton. Kualitas pasir sangat mempengaruhi kualitas beton yang dihasilkan.
Oleh karena itu sifat-sifat pasir harus diteliti terlebih dahulu sebelum pasir
digunakan untuk bahan pembuatan beton dan harus memenuhi syarat yang
ditetapkan.
Persyaratan agregat halus (pasir) menurut PBI 1971 Bab 3,3 adalah sebagai
berikut.
- Terdiri dari butir-butir tajam dan keras. Butir-utirannya herus bersifat
kekal,artinya tidak pecah atau tidak hancur oleh pengaruh-pengaruh cuaca, seperti
kering). Yang diartikan dengan lumpur adalah bagian-bagian yang dapat melalui
ayakan 0,063 mm. Apabila kadar lumpur melampaui 5% agregat halus harus
dicuci.
larutan NaOH).
- Agregat halus harus terdiri dari butir-butir yang beraneka ragam besarya
apabila diayak dengan susunan ayakan yangditentukan dalam pasal 35 ayat (1),
- Pasir laut tidak boleh dipakai sebagai agregat halus untuk semua mutu beton,
diaku
Air merupakan bahan dasar pembuatan beton yang penting namun harganya
murah. Fungsi air pada campuran beton adalah untuk membantu reaksi kimia yang
Pemakaian air pada pembuatan campuran harus pas karena pemakaian air yang
hidrasi selesai dan hal tersebut akan mengurangi kekuatan beton yang dihasilkan.
Sedangkan terlalu sedikit air akan menyebabkan proses hidrasi tidak tercapai
seluruhnya, sehingga dapat mempengaruhi kekuatan paving block yang dihasilkan.
Persyaratan mengenai air untuk pembuatan dan perawatan beton dapat dilihat pada
Persyaratan agregat halus (pasir) menurut PBI 1971 Bab 3,3 adalah sebagai
berikut. - Terdiri dari butir-butir tajam dan keras. Butir-utirannya herus bersifat
kekal,artinya tidak pecah atau tidak hancur oleh pengaruh-pengaruh cuaca, seperti
matahari dan hujan. - Tidak boleh mengandung lumpur ebih dari 5% (ditentukan
terhadap brat kering). Yang diartikan dengan lumpur adalah bagian-bagian yang
dapat melalui ayakan 0,063 mm. Apabila kadar lumpur melampaui 5% agregat
halus harus dicuci. - Agregat tidak halus mengandug bahan-bahan organik yang
terlalu banyak yang harus dibuktikan dengan percobaan warna dari Abraham-
Harder (dengan larutan NaOH). - Agregat halus harus terdiri dari butir-butir yang
dalam pasal 35 ayat (1), harus memenuhi syarat-syarat: - Pasir laut tidak boleh
dipakai sebagai agregat halus untuk semua mutu beton, kecuali dengan petunjuk-
E. Fly asha
Fly Ash merupakan limbah hasil pembakaran batu bara pada tungku
pembangkit listrik tenaga uap yang berbentuk halus, bundar dan bersifat pozolik
(SNI 03_6414-2002). Jumlah Fly Ash yang dihasilkan per hari mencapai 500-1000
ton. Penyumbang produksi Fly Ash terbesar adalah sektor pembangkit listrik. Fly
Ash umumnya teridiri dari partikel solid yang berbentuk bulat, dan sebagian adalah
partikel bulat berongga serta patikel bulat yang berisi partikel-partikel bulat lain
yang lebih kecil. Ukuran partikel Fly Ash bervariasi mulai yang lebih kecil dai 1
𝜇𝑚 (micrometer) sampai yang lebih besar dari (beberapa literatur menyebutkan
ukuran 0,5 𝜇𝑚 – 300 𝜇𝑚), dengan sebagian besar partikel berukuran kurang dari
20 𝜇𝑚. Massa jenis Fly Ash dalam kondisi loose berkisar 540-860 kg/m3 , dan
mempunyai massa jenis 1.120-1.500 kg/m3 . Untuk bentuk butiran bulat Fly Ash
Dari gambar diatas, diketahui bahwa bentuk butiran bulat Fly Ash terdiri dari
bulatan-bulatan kecil. Abu terbang Fly Ash adalah produk sampingan dari 23
industru Pembangkit Listruk Tenaga Uap (PLTU) yang menggunakan batu bara
sebagai bahan bakar, berupa butiran halus ringan, bundar, tidak porus serta bersifat
terbang ini misalnya PLTU Paiton. Abu terbang juga dihasilkan oleh pabrik kertas
maupun pabrik kimia. Sekitar 75-90% abu yang keluar dari cerobong asap dapat
ditangkap oleh sistem elektrostatik precipitator. Sisa yang lain didapat dari dasar
tungku (disebut Bottom Ash). Mutu Fly Ash tergantung pada kesempurnaan proses
pembakarannya
Sebagian besar komposisi kimia dari abu terbang tergantung tipe batu bara.
Menurut ASTM C618-86, terdapat dua jenis abu terbang, kelas F dan kelas C. Kelas
F dihsilkan dari pembakaran batu bara jenis antrasit dan bituminous, sedangkan
kelas C dari betu abra jenis lignite dan subituminous. Kelas C memilii kadar kapur
yang tinggi. Fly Ash dapat dibedakan menjadi 3 jenis (ACI Manual of Concrete
1) Kelas C
Fly Ash yang mengandung CaCo diatas 10% yang dihasilkan dari lignite atau
sub bitumen batu bara (batu bara muda). Dalam campuran beton digunakan
2) Kelas F
Fly Ash yang mengandung CaO lebih kecil dari10% 10% yang dihasilkan
dari pembakaran anthracite atau bitumen batu bar. Dalam campuran beton
3) Kelas N
Pozzolan alam atau hasil pembakaran yang dapat digologkan antara lain tanah
diatomic, opaline, shales, tuff dan abu vulkanik yang mana bias diproses melalui
pozzolan yang baik. (Nugraha dan Antoni,2007:105). Penggunaan abu terbang (Fly
a. Pada Beton Segar Keuntungan dari pemanfaatan fly ash pada beton segar yaitu
sebagai berikut:
• Kehalusan dan bentuk partikel Fly Ash yang bulat dapat meningkatkan
workability.
b. Pada Beton Keras Keuntungan dari pemanfaatan fly ash pada beton keras yaitu
sebagai berikut:
kasar dengan menggunakan ayakan. Gradasi agregat kasar adalah distribusi ukuran
butiran dari agregat kasar. Bila butir-butir agregat mempunyai ukuran yang sama
atau seragam volume pori akan besar. Sebaliknya bila ukuran butiran bervariasi
akan terjadi volume pori yang kecil. Hal ini dikarenakan butiran yang kecil mengisi
pori diantara butiran yang lebih besar, sehingga pori-porinya menjadi sedikit.
Sebagai pernyataan gradasi dipakai nilai prosentase dari berat butiran yang
tertinggal atau lolos didalam suatu susunan ayakan. Susunan ayakan adalah ayakan
dengan lubang 3, 2 12, 212, 1, 34, 12, 38, no.4 (4,80 mm), 8 (2,40 mm), 16 (1,20
mm), 30 (60 mm), 50 (0,30 mm), 100 (0,15 mm) pan. Menurut peraturan di Inggris
(British Standart) yang juga dipakai di Indonesia saat ini dalam SKSNI-T15-1991
kekasaran pasir dapat dibagi menjadi tiga kelompok menurut gradasinya, yaitu
kerikil dengan butiran maksimal 10 mm,butiran 20 mm, butiran 30 mm, butiran 40
mm. Gradasi kerikil masuk pada kurva 1 dan 2 akan diperoleh adukan beton yang
kasar diperlukan faktor air semen yang rendah, bila gradasi kerikil masuk kurva 3
dan 4 maka akan diperoleh adukan beton yang halus diperlukan faktor air semen
yang tinggi. Jadi sebaiknya gradasi yang baik adalah masuk kurva 2 dan 3. Dapat
permukaaan jenuh (SSD = Saturated Surface Dry), berat jenis kering oven, berat
jenis semu dan penyerapan kerikil. Berat jenis kering permukaan jenuh (SSD)
adalah perbandingan antara agregat kering permukaan jenuh dengan berat air suling
yang isinya sama dengan isi agregat dalam keadaan jenuh pada suhu tertentu.
Penyerapan adalah prosentase berat air yang dapat diserap pori terhadap berat
agregat kering. Standar yang digunakan pada pengujian ini adalah SNI 03- 1969-
1990. Perhitungan berat jenis dan penyerapan air agregat kasar dapat dihitung
Bk
Berat Jenis Curah = Bj−Ba.. ......................................................... (9)
Bj
Berat Jenis Kering Permukaan Jenuh = (Bj−Ba)... ....................... (10)
𝐵𝑗
Berat Semu = (𝐵𝑗−𝐵𝑎)... ............................................................... (11)
𝐵𝑗
Penyerapan Air = 𝐵𝑗−𝐵𝑎 × 100%... ............................................ (12)
G. Pemeriksaan Berat Volume Agregat Kasar
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan berat isi kerikil. Berat isi
adalah perbandingan berat dan isi yang digunakan untuk mengkonversikan dari
berat menjadi volume. Volume kerikil akan mengembang jika mengandung air.
Berkembangnya volume ini dikarenakan adanya lapisan tipis air di sekitar butirbutir
air dalam kerikil, berarti pengembangan volume secara keseluruhan. Kerikil yang
halus mengembang lebih banyak daripada kerikil yang kasar. Besar perkembangan
volume kerikil antara 25-40 % dan kadar airnya antara 5-8%. Berat isi kerikil antara
1-2 gram/cc. Standar yang digunakan pada pengujian ini adalah SNI 1973.2008
dikandung kerikil. Agregat kasar (kerikil) tidak boleh mengandung lumpur lebih
dari 1% ditentukan dari berat kering yang diartikan dengan lumpr adalah
bagianbagian yang dapat melalui ayakan 200 atau 0,063 mm. Apabila kadar lumpur
melampaui 1% maka agregat harus dicuci (PBI 1971 Hal 23). Dapat dihitung
500−(𝑊𝑘𝑜−𝑊𝑝𝑡)
Kandungan lumpur = × 100... ......................... (14)
500
material pembuat beton. Tujuan dari mix design adalah untuk membuat mutu beton
Oleh sebab itu rekayasa dalam pembuatan beton sangat bergantung pada mix design
yang dibuat.
Perawatan benda uji dilakukan setelah benda uji mencapai final setting, artinya
benda uji telah mengeras. Perawatan ini dilakukan agar proses hidrasi selanjutnya
tidak mengalami gangguan. Jika hal ini terjadi, benda uji akan mengalami keretakan
karena kehilangan air yang begitu cepat. Perawatan dilakukan minimal 7 hari dan
benda uji untuk berkekuatan awal tinggi minimal selama 3 hari serta harus
lain, semua benda uji harus dirawat basah pada temperatur 23ºC ± 1,7ºC mulai dari
perawatan harus pada lingkungan bebas getaran. Seperti yang diberlakukan pada
perawatan benda uji yang dibuka, perawatan basah berarti bahwa benda uji yang
akan diuji harus memiliki air bebas yang dijaga pada seluruh permukaan pada
semua waktu. Kondisi ini dipenuhi dengan merendam dalam air jenuh kapur dan
dapat dipenuhi dengan penyimpanan dalam ruang jenuh air sesuai dengan
AASTHO M 201.
2.2.6 Pengujian Beton
berupa kuat tekan, dan penyerapan air. Dengan itu peneliti juga melakukan
Kuat tekan beton adalah besarnya beban persatuan luas yang menyebabkan
benda uji hancur apabila dibebani dengan gaya tekan tertentu, sehingga besarnya
beban yang dapat di tahan oleh silinder beton persatuan luas yang menyebabkan
benda uji silinder beton hancur karena gaya yang dihasilkan oleh mesin tekan dapat
sebagai nilai kuat tekan paving blok. Penentuan kuat tekan mengacu pada SNI-03-
1974-1990, yaitu dengan menyiapkan benda uji yang telah ditentukan kuat dari
curing. Setelah benda uji siap, kemuadian meletakannya dalam mesin uji tekan
dengan penambahan beban yang konstan berkisar 2-4 kg/cm² per detik, lakukan
sampai benda uji terlihat retak dan menjadi hancur atau hingga tidak ada lagi
peningkatan beban atau tekanan. Kuat tekan beton ini bertujuan untuk mengetahui
seberapa besar kuat desak atau tekan yang mampu diterima oleh benda uji.
Pencatatan yang dilakukan pada saat pengujian adalah besarnya beban P pada saat
benda uji hancur. Untuk mendapatkan besarnya tegangan hancur dari benda uji
Penyerapan air pada beton merupakan presentase berat air yang mampu di
serap melalui perantara pori-pori pada beton. Penyerapan air pada beton didapatkan
dengan cara merendam utuh benda uji beton dalam air selama 24 jam, Ketika sudah
mesin pengering selama 24 jam pada suhu ±105°C sampai beratnya pada dua kali
Untuk menghitung penyerapan air pada beton dapat dilihat pada persamaan
berikut ini.
𝐴−𝐵
DSA = × 100% ... ............................................................................. (10)
𝐵
Dengan:
METODE PENELITIAN
menggunakan bahan campuran antara limbah abu batu dengan limbah serbuk kaca
yang akan digunakan sebagai pengganti sebagian pasir. Pengujian kuat tekan
3.2.1 Alat
Adapun alat yang digunakan yaitu dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
yang dapat di tahan oleh beton. Mesin kuat tekan memberikan beban dengan
akan diujikan serta juga digunakan untuk uji propertis bahan yang digunakan
4) Ayakan
Ayakan digunakan untuk menyaring abu batu, agregat kasar, dan dan limbah
serbuk kaca. Selain itu ayakan digunakan untuk pengujian Modulus Halus
5) Cetok
6) Timbangan
7) Ember
8) Molen
9) Piring logam
Gelas ukur digunakan sebagai tempat untuk mengukur jumlah air dan zat
lainnya.
13) Vibrator
14) Mistar/penggaris
15) Kaliper
16) Sekop
3.2.2 Bahan
Adapun bahan yang digunakan yaitu dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
2) Agregat kasar
3) Agregat halus
5) Air
3.3 Teknik Analisa Dara
Beton
dalam gelas masih terlihat keruh maka air dibuang dan diisi
3. Berat jenis dan penyerapan SNI-03-1970-1990 1. Pasir sebanyak 2500 gram ditimbang.
agregat halus 2. Pasir dikeringkan didalam oven pada suhu (110±5) derajat
hilang.
jenuh
Tabel 3.1 Teknik Analisa Data (Lanjutan)
No Pembahasan Metode Langkah – langkah Pengujian
jenuh (SSD).
terserap.
air penuh dan ukur suhu air dengan suhu standar 25oC
4. Pengujian Kadar Air SNI 03-1971-1990 1. Masukkan benda uji ke wadah kemudian timbang dan catat
beratnya tetap.
4. Setelah kering ditimbang dan catat berat benda uji beserta wadah
SNI S-04-1989-F
1. Kadar lumpur agregat 1. Persiapkan alat dan bahan agregat kasar (kerikil).
2. Analisa saringan agregat SNI 03-1968-1990 1. Ambil contoh agregat yang akan digunakan, kemudian dioven
beserta isinya.
Tabel 3.1 Teknik Analisa Data (Lanjutan)
No Pembahasan Metode Langkah – langkah Pengujian
masing saringan.
1. Keringkan benda uji dalam oven pada suhu (110±5) oC, sampai
3. Berat jenis dan SNI 03-1969-1990 kering tetap/berat tetap, kemudian benda uji didinginkan dengan
penyerapan agregat kasar
suhu kamar 1-3 jam.
3. Kemudian benda uji dikeluarkan dari air dan dilap dengan kain
timbang beratnya.
wadah.
5. Abrasi agregat kasar SNI 03-2417-1991 1. Cuci dan keringkan agregat pada temperatur 110°C ± 5°C
dikehendaki.
putaran.
6. Benda uji dan bola baja dimasukkan ke dalam mesin abrasi Los
putaran.
2 Pembuatan Job Mix Design SNI 03-2834-2000 1. Ambil kuat tekan beton yang disyaratkan f’c pada umur tertentu;
6. Tentukan jenis agregat kasar dan agregat halus, agregat ini dapat
b. Tarik garis tegak lurus ke atas melalui faktor air semen 0,5
ditentukan.
diperlukan.
8. Tetapkan slump.
naoh.
dapat diabaikan;
Digunakan
seluruh dari pasir atau fraksi agregat yang lebih halus dari
18. Tentukan berat isi beton menurut sesuai dengan kadar air
agregat gabungan.
air bebas.
Tabel 3.1 Teknik Analisa Data (Lanjutan)
No Pembahasan Metode Langkah – langkah Pengujian
20. Hitung kadar agregat halus yang besarnya adalah hasil kali
kering permukaan.
beton mengalir.
Tabel 3.1 Teknik Analisa Data (Lanjutan)
No Pembahasan Metode Langkah – langkah Pengujian
4 Pengujian Kuat Tekan Beton SNI 03-1974-1990 1. Menyiapkan benda uji yang telah di curing.
(CTM).
Persiapan Material
Pengujian Slump
Analisis Hasil
Selesai