0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan51 halaman

Penggunaan Na2SiO3 dalam Beton Geopolimer

Diunggah oleh

satrianirvana1903
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan51 halaman

Penggunaan Na2SiO3 dalam Beton Geopolimer

Diunggah oleh

satrianirvana1903
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

BAB I
PENDAHULUAN
[Link] Belakang

Era sekarang sudah banyak dikembangkan material konstruksi dengan

komposisi semen, air,abu batu,dll salah satunya adalah beton. Beton adalah

suatu komposisi bahan bangunan yang didasar pada campuran semen portland

atau bahan pengikat sejenis air, agregat halus dan agregat kasar tanpa bahan

tambahan lain yang tidak menurunkan mutu beton. Penggunaan beton

digunakan sebagai pelapis perkerasan jalan, konstruksi gedung, jembatan dll.

Oleh karena itu, untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan

inovasi yaitu penggunaan bahan kimia sebagai pengganti semen sebagai bahan

[Link] kimia yang di gunakan sebgai pengganti semen yaitu zat kimia

Naoh dan Sa2SIO3(Sodium Silika).Beton geopolimer ini adalah beton inovasi

baru yang tidak menggunakan semen sebagai bahan [Link] ini

kemungkinan dapat menjadi solusi masa depan yang di mana beton bahan

pengikatnya menggunakan semen sekarang di ganti menggunakan zat

[Link] ini merupakan variasi yang mungkin menjadi sebuah invoasi

untuk kontruksi di masa depan yang mungkin bisa menggantikan beton

konvensional.

Maka dari itu di lakukan eksperimen yang dimana membuat beton tanpa

menggunakan semen sama sekali dan di ganti dengan bahan kimia yaitu Naoh

dan Na2sio3 yang di campur dan menjadi sebuah reaksi yang di sebut alkali

aktivator
Akali Activator adalahn Combinasi zat dari Naoh dan Sa2SIO3(Sodium Silika)

yang menjadi bahan utama pengganti [Link] beton yang didapatkan dari

penelitian ini diharapkan bisa memenuhi mutu yang diinginkan. Dalam mencapai

kualitas beton yang baik, dilakukan variasi perbandingan komposisi campuran

bahan dalam pembuatan beton.

Dengan adanya penelitian “Variasi Perbandingan Alkali Activator Pada

Kuat Tekan Beton Geopolimer Dengan Agregat Lokal Madiun” .

[Link] Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti mendapatkan rumusan masalah

sebagai berikut:

1. Bagaimana pengaruh pebandingan alkali aktvator terhadap mutu beton?

2. Bagaimana Hasil kuat tekan beton geopolimer dengan variasi alkali

Activator dengan agregat local madiun?

3. Bagaimana hasil pengujian slump beton dengan variasi Alkali

Activator?

4. Bagaimana mix disegn Beton Geopolime?


[Link] Masalah

Berdasarkan rumusan masalah diatas, peneliti dibatasi oleh batasan masalah

sebagai berikut:

1. Pengaruh Alkali Activator terhadap mutu beton.

2. Agregat kasar Berasal dari Lokal Madiun

3. Agregat halus Berasal dari Lokal Madiu

4. Umur beton 28 hari

5. Nilai Molaritas yang di gunakan yaitu 10M

6. Nilai rasio alkali aktivator yang di pakai 1:1, 1:1,5, 1:2, 1:2,5, 1:3

[Link] Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh Alkali aktivator pada mutu

beton.

2. Untuk mengetahui hasil pengujian slump beton dengan variasi Alkali

Activator

3. Untuk mengetahui hasil pengujian kuat tekan beton dengan variasi

Alkali Activator

4. Untuk mengetahui Mix Design beton dengan variasi Alkali Activator


[Link] Penelitian

Adapun manfaat yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat teoritis

a) Dapat menambah informasi bagi masyarakat tentang bahan kimia

sebagai pengganti semen.

b) Dapat dijadikan dasar untuk penelitian selanjutnya mengenai Alkali

Activator untuk pembuatan beton.

2. Manfaat praktis

a) Untuk memberi informasi kepada Citivas Akademika Universitas

Merdeka Madiun bahwa bahan kimia dapat menjadi pengganti

semen sebagai bahan pengikat.

b) Dapat menambah pengetahuan tentang bagaimana memanfaatkan

zat Naoh dan Sa2AIO3.


BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Pustaka

Menurut M. Alit K. Salain1 , M. Ngakan Anom Wiryasa2 , dan I Nym Mahendra

Martha Adi Pamungkas (2021), pada jurnalnya yang berjudul “KUAT TEKAN

BETON GEOPOLIMER MENGGUNAKAN ABU TERBANG” dalam

peneletiannya menjelaskan Penelitian membuat beton geopolimer dengan bahan

dasar abu terbang dan aktivator NaOH dan Na2SiO3. Gradasi butiran pasir dan koral

dirancang, pada zona 2 dan gradasi koral dengan butiran maksimum 20 mm.

persentase agregat dengan abu terbang dan aktivator sebesar 75%:25%.

Perbandingan pasir dan koral digunakan 1:1,24. Dibuat 3 campuran C1,C2, dan C3

dengan persentase abu terbang dan aktivator sebesar C1, 70%:30%, C2 65%:35%,

dan C3 60%:40%. Perbandingan Na2SiO3 dan NaOH sebesar 1:1.5 dengan molaritas

NaOH 14 M. Beton dicetak kubus 15 cm x 15 cm, kemudian dipanaskan pada suhu

700C selama 24 jam. Pengujian kuat tekan beton dilakukan pada umur 7, 14, dan 28

hari masing masing menggunakan 3 benda uji. Penelitian bertujuan untuk

mendapatkan campuran yang terbaik dan menghasilkan kuat tekan beton yang

tertinggi. Hasil menyatakan bahwa pengurangan jumlah abu terbang dan

penambahan aktivator meningkatkan nilai slump beton geopolimer, serta

menurunkan kuat tekan beton geopolimer. Beton geopolimer mengalami

peningkatan kuat tekan hingga 14 hari, hal ini terjadi pada beton C1, C2, dan C3.

Pada umur 14 hari hingga 28 hari kuat tekan beton geopolimer tidak mengalami

perkembagan, bahkan cenderung mengalami penurunan terutama pada beton C3.


Campuran beton geopolimer yang terbaik terdapat pada beton C2, dengan kuat tekan

sebesar 48,89 MPa pada umur 28 hari.

Menurut Nisa Latifah Gandina, Y. Djoko Setiyarto, (2020), pada jurnalnya yang

berjudul “STUDI EKSPERIMENTAL BETON GEOPOLIMER DENGAN

MEMANFAATKAN FLY ASH SEBAGAI PENGGANTI SEMEN DAN SERAT

MAT SEBAGAI ADITIF” dalam penelitiannya menjelaskan bahwa beton alternatif

yang tidak menggunakan semen apapun dalam pencampuran tetapi menggunakan

abu terbang, NaOH dan Na2SiO3 digunakan sebagai zat pengaktif, serta

ditambahkan pula serat mat sebagai bahan aditif. Dalam penelitian ini dibuat 6

sampel beton geopolimer yang dibedakan menjadi 3 dengan komposisi sebagai

berikut : Campuran 1,5 M Sodium Hidroksida dengan Sodium Silikat terhadap

Sodium Hidroksida dengan rasio 0,5 dan 1,5 dan proses curing dengan cara dioven

serta penambahan serat mat sebagai bahan aditif; Campuran 1,5 M Sodium

Hidroksida dengan Sodium Silikat terhadap Sodium Hidroksida dengan rasio 0,5

dan 1,5 dan proses curing dengan cara dioven serta tanpa penambahan serat mat;

Campuran 1,5 M Sodium Hidroksida dengan Sodium Silikat terhadap Sodium

Hidroksida dengan rasio 0,5 dan 1,5 dan proses curing dengan cara tidak dioven

serta penambahan serat mat sebagai bahan aditif. Berdasarkan pengujian kuat tekan,

rasio perbandingan sodium silikat dengan sodium hidroksida 0,5 menghasilkan kuat

tekan yang lebih tinggi dibandingkan dengan rasio 1,5. Untuk proses curing dengan

cara tidak dioven menghasilkan kuat tekan yang lebih tinggi dibandingkan proses

curing dengan cara dioven. Penggunaan serat mat diketahui dapat meningkatkan

daktilitas material geopolimer


Menurut Yussy Afrilia ILYAS1 , Gusneli YANTI1, Lusi Dwi PUTRI1, (2022),

pada jurnalnya yang berjudul “Studi Beton Geopolimer Dengan Bahan Dasar Fly

Ash Terhadap Kuat Tekan Beton” dalam penelitiannya menjelaskan bahwa

Penelitian ini menggunakan bahan pengikat campuran beton geopolymer

menggunakan fly ash dan cairan alkali activator berupa NaOH dan Na2SiO3

dengan perbandingan sebesar 1,5; 2,0; 2,5; 3,0; 3,5 yang menggunakan metode

ekperimental. Metode dalam perancangan campuran beton menggunakan cara DOE

di Indonesia dikenal sebagai standar perencanaan oleh Departemen Pekerjaan Umm

dan dimuat dalam Standar SNI 03-2834-2000, "Tata cara pembuatan rencana

campuran beton normal”. Secara berurut nilai kuat tekan beton (rata-rata) yang di

dapat adalah 3,40 MPa (SS/SH = 1,5) ; 7,11 MPa (SS/SH = 2,0); 10,13 MPa (SS/SH

= 2,5); 9,07 MPa (SS/SH = 3,0) dan 8,05 MPa (SS/SH = 3,5). Beton yang

menghasilkan kuat tekan beton maksimal ada pada variasi perbandingan SS/SH

sebesar 2,5 dengan nilai kuat tekan sebesar 10,13 MPa.

Menurut Irfan Prasetyo Loekito, (2021), pada jurnalnya yang berjudul

“PENGARUH VARIASI NaOH DAN Na2SiO3 TERHADAP KUAT TEKAN

DRY GEOPOLYMER MORTAR PADA KONDISI RASIO FLY ASH

TERHADAP AKTIFATOR 2,5 : 1” dalam penelitiannya menjelaskan bahwa dari

sodium hidroksida (NaOH) padat dan sodium silikat (Na2SiO3) padat yang

digunakan adalah 1:1, 1:1,5, 1:2, 1:2,5, 1:3, 1:3,5, kemudian aktivator ini digiling

bersama dengan fly ash tipe C menghasilkan semen geopolimer. Kemudian semen

ini dicampur dengan air sebesar 0,4 dan juga pasir. Setelah mortar homogen, mortar

tersebut disimpan pada suhu ruangan dengan metode polyethene curing. Hasil yang

didapatkan bahwa kuat tekan tertinggi berada pada variasi NaOH terhadap
Na2SiO3 sebesar 1:3,5 dengan nilai kuat tekan 23,21 MPa. Hasil uji waktu

pengikatan tercepat didapatkan pada variasi NaOH terhadap Na2SiO3 sebesar

1:3,5. Kandungan sodium silikat berpengaruh besar terhadap nilai kuat tekan dan

waktu pengikatan mortar.

Menurut Cahyo Didit Prasetyo dkk, (2020), pada jurnalnya yang berjudul

“Kajian Pemanfaatan Limbah Kaca Sebagai Pengganti Agregat Halus dan FLY ASH

30% dari Berat Semen Ditinjau dari Kuat Tarik Belah, Daya Serap dan Porositas

Beton” dalam penelitiannya menjelaskan bahwa Persentase serbuk kaca optimal

sebagai pengganti agregat halus yang menghasilkan kuat tarik beton maksimal

terdapat pada persentase penggantian serbuk kaca 10% yaitu sebesar 2,258 Mpa,

sedangkan kuat tarik belah beton normal yaitu 2,310 Mpa. Hal ini menunjukan

penurunan sebesar 9,09%. Persentase serbuk kaca optimal sebagai pengganti

agregat halus yang menghasilkan daya serap beton minimal terdapat pada

persentase 10% yaitu sebesar 6,407 Mpa, sedangkan daya serap air beton normal

sebesar 6,683%, hal ini menunjukan penurunan sebesar 4,13%. Persentase serbuk

kaca optimal sebagai pengganti agregat halus yang menghasilkan porositas beton

minimal terdapat pada persentase 10% yaitu sebesar 14,006 Mpa, sedangkan

porositas beton normal sebesar 15,065 hal ini menunjukan penurunan sebesar

18.91%.

Menurut Ika Sulianti1 , Indrayani1,*, Agus Subrianto1 , Efrilia Rahmadona1

, Oktri Yanti2 , Arista Widya Iryan, ( 2020), pada jurnalnya yang berjudul “Analisis

Kuat Beton Geopolimer Menggunakan Fly Ash dan Abu Sekam Padi” dalam

jurnalna menjelaskan bahwa beton geopolimer yang ramah lingkungan dan efisien

dalam hal pemanfaatan energi. Penelitian menggunakan 4 variasi kombinasi fly ash
dan abu sekam padi (100% FA : 0% ASP, 75% FA : 25% ASP, 50% FA : 50%

ASP, dan 25% FA : 75% ASP) dengan penambahan larutan alkaline berupa

Na2SiO3 dan NaOH dengan perbandingan 5:1 pada umur beton 7 hari, 14 hari, dan

28 hari, dengan sampel yang digunakan berbentuk kubus dan kuat tekan rencana

sebesar 225 kg/cm2 pada umur beton 28 hari. Penelitian bertujuan untuk

mengetahui variasi optimum serta menganalisis kuat tekan beton geopolimer

penggunaan fly ash dan abu sekam padi dengan penambahan larutan alkaline

Na2SiO3 : NaOH = 5:1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi optimum

berada pada beton geopolimer 100% FA : 0% ASP dengan nilai kuat tekan 395,643

kg/cm2 pada umur beton 28 hari

Menurut Emir Musa, (2018), pada jurnalnya yang berjudul “PENGARUH

PENAMBAHAN SUPER PLASTICIZER TERHADAP KUAT TEKAN DAN

POROSITAS BETON GEOPOLIMER DENGAN NaOH 12M” dalam

penelitiannya menjelaskan bahwa Penelitian ini mempelajari pengaruh variasi

kadar SP terhadap nilai kuat tekan dan porositas beton geopolimer. Material yang

digunakan adalah abu terbang kelas C, aktivator sodium hidroksida (NaOH) 12M

dan Sodium Silikat (Na2SiO3) dengan perbandiangan NaOH/ Na2SiO3 sebesar 1,5.

SP yang digunakan adalah merek Sika Viscocrete 1003 yang dikategorikan aditif

tipe F. Penelitian yang dilakukan meliputi uji XRF pada abu terbang, uji vikat untuk

binder beton geopolimer, uji slump untuk beton geopolimer segar, pemeriksaan

berat volume, uji tekan dan uji porositas pada beton usia 3, 7, dan 28 hari. Hasil

penelitian menunjukkan bahwa untuk varian campuran beton geopolimer dengan

penggunaan SP dapat memperlambat setting time awal binder geopolimer dari 30

menit untuk penambahan SP 0.5% hingga 39 menit untuk penambahan SP 2.0%.


Uji porositas didapatkan SP dapat meningkatkan nilai porositas beton geopolimer

pada hampir keseluruhan benda uji. Dari uji tekan didapatkan bahwa SP dapat

meningkatkan kuat tekan beton geopolimer hingga rata-rata maksimum 13.58 MPa

pada usia 28 Hari.

Menurut Kevin Erin Hasner , Prihantono , Sittati Musalamah (2019), pada

jurnalnya yang berjudul VARIASI CAMPURAN ALKALI AKTIVATOR PADA

KUAT TEKAN BETON GEOPOLIMER DENGAN MENGGUNAKAN ABU

CANGKANG TELUR BEBEK PADA PROSES PENGOVENAN” dalam

penelitiannya menjelaskan bahwa Dari hasil penelitian untuk mengetahui

peningkatan nilai kuat tekan beton geopolimer dengan menggunakan abu cangkang

telur itik dengan campuran natrium silikat dan natrium hidroksida dengan variasi

65%: 35%, 70%: 30%, dan 75%: 25% pada 7 hari 28 hari dengan benda uji oven

dan beton kontrol yang hanya dibiarkan pada suhu kamar. Adapun latar belakang

penulisan ini karena penggunaan semen dapat menimbulkan CO2 sehingga dengan

material abu cangkang telur bebek yang lebih ramah lingkungan menggantikan

semen dengan penambahan Na2SiO3 dan NaOH sebagai aktivatornya. Cangkang

telur bebek yang digunakan adalah limbah yang dibakar dengan suhu mencapai 800

° C selama ± 4 jam dengan menggunakan oven pembakar keramik. Penelitian ini

menggunakan benda uji berbentuk silinder dengan diameter 10 cm dan tinggi 20

cm dengan kualitas denah fc '20 MPa. Pengujian kuat tekan beton geopolimer

menggunakan alat Crushing Test Machine. Kuat tekan beton geopolimer hasil

pemanasan benda uji beton pada variasi aktivator 65%: 35%, 70%: 30%, dan 75%:

25% pada 7 hari yaitu 6.157 MPa, 12.314 MPa, dan 3.736 MPa, dan selama 28 hari.

yaitu 2.547 MPa, 2.760 MPa, dan 1.698 MPa. Sedangkan benda uji beton yang tidak
dipanaskan nilai kuat tekan beton pada variasi aktivator adalah 65%: 35%, 70%:

30%, dan 75%: 25% pada 7 hari, yaitu 2,972 MPa, 3,991 MPa, dan 1,486 MPa. ,

dan untuk 28 hari yaitu 1,401 MPa, 2,123 MPa, dan 1.273 MPa. Terlihat bahwa

nilai kuat tekan rata-rata maksimum pada variasi aktivator 70%: 30% dengan benda

uji dibuang terlebih dahulu pada suhu 79 ° C.

Menurut MEY IMRON ALFIDIANDRA, (2017), pada jurnalnya yang

berjudul “KUAT TARIK BETON GEOPOLYMER OPTIMUM PADA VARIASI

PERBANDINGAN BAHAN PENYUSUN (20:80 s/d 40:60) DAN PADA

VARIASI WAKTU PENCAMPURAN (5 s/d 15 MENIT)” dalam penelitiannya

menjelaskan bahwa Penelitian kali ini bertujuan untuk mengetahui waktu optimum

pencampuran beton geopolymer dengan variasi bahan penyusun 20%:80%,

25%:75%, 30%:70%, 35%:65%, 40%:60% dan pada variasi waktu pencampuran 5,

7.5, 10, 12.5, 15 menit. Mix design mengacu pada penelitian sebelumnya. Jumlah

benda uji pada masing-masing 3 buah pada tiap pemberian variasi,sehingga total

benda uji keseluruhan berjumlah 75 buah. Benda uji berbentuk silinder dengan

diameter 15 cm dan tinggi 30 cm. Hasil pengujian menunjukkan bahwa beton

geopolymer memiliki waktu pencampuran optimum pada 7.5 menit. Data hasil

pengujian kuat tarik belah beton geopolymer pada variaasi perbandingan bahan

penyusun 20%:80% dan pada variasi waktu pencampuran 5 menit adalah 4.044

MPa, 7.5 menit adalah 5.007 MPa, 10 menit adalah 4.667 MPa, 12.5 menit adalah

3.719 MPa, 15 menit adalah 2.993 MPa. Pada variasi perbandingan bahan penyusun

25%:75% dan variasi waktu pencampuran 5menit adalah 4.770 MPa, 7.5 menit

adalah 6.622 MPa, 10 menit adalah 5.763 MPa, 12.5 menit adalah 4.533 MPa, 15

menit adalah 3.985 MPa. Pada variasi perbandingan bahan penyusun 30%:70% dan
variasi waktu pencampuran 5 menit adalah 5.319 MPa, 7.5 menit adalah 7.822 Mpa,

10 menit adalah 6.148 MPa, 12.5 menit adalah 4.785 MPa, 15 menit adalah 4.430

MPa. Pada variasi perbandingan bahan penyusun 35%:65% dan variasi waktu

pencampuran 5 menit adalah 4.563 MPa, 7.5 menit adalah 5.926 Mpa, 10 menit

adalah 5.363 MPa, 12.5 menit adalah 4.237 MPa, 15 menit adalah 3.867 MPa. Pada

variasi perbandingan bahan penyusun 40%:60% dan variasi waktu pencampuran 5

menit adalah 4.059 MPa, 7.5 menit adalah 5.526 Mpa, 10 menit adalah 4.948 MPa,

12.5 menit adalah 3.985 MPa, 15 menit adalah 3.244 MPa. Dapat disimpulkan

bahwa waktu pencampuran beton geopolymer yang paling optimum adalah 7.5

menit.

Menurut Dicky Rizkiandany, (2020), pada jurnalnya yang berjudul

“PENGARUH VARIASI RASIO ALKALIN AKTIVATOR KUAT TEKAN

BETON GEOPOLYMER BERBAHAN LIMBAH BATA MERAH” dalam

penelitiannya kuat tekan beton pada umur 7, 14, 28 dan 56 hari diuji melalui tes

kuat tekan. Material yang digunakan adalah abu terbang Bata Merah daerah simli

gungguruh. Sukabumi jawabarat, natrium silikat (Na2SiO3), natrium hidroksida

(NaOH) dengan rasio (1:1),(1:1,5),(1:2), pada beton goepolymer, dan

Superplastisizer Viscocrete-10. Benda uji yang digunakan adalah silinder ukuran

15/30 cm, dengan metode perawatan beton ditutup menggunakan plastik pada suhu

ruang. Nilai maksimum rata-rata kuat tekan beton geopolymer Bata Merah dalam

penelitian ini sebesar 3,60 MPa didapatkan pada rasio 1:2 dengan umur pangujian

56 hari
2.2 Dasar Teori

Dalam pembuatan beton mempunyai dasar teori, berikut penjelasan lebih

lanjut mengenai dasar teori pembuatan beton.

2.2.1 Karakteristik Material Penyusun Beton

Beton merupakan ikatan dari material-material pembentuk beton, yaitu terdiri

dari campuran agregat (kasar dan halus), semen, air, dan pula ditambah dengan

bahan campuran tertentu apabila dianggap perlu. Bahan air dan semen disatukan

akan membentuk pasta semen berfungsi sebagai bahan pengikat, sedangkan agregat

halus dan agregat kasar sebagai pengisi (Nugraha, Paul dan Antoni, 2007). Bahan

tambah (admixture) dapat ditambahkan jika menginginkan sifat-sifat tertentu dari

beton yang bersangkutan untuk menjadi lebih baik.

Menurut (SNI 03-2834), beton merupakan suatu bahan komposit (campuran)

dari beberapa material, yang bahan utamanya terdiri dari campuran antara semen,

agregat halus, agregat kasar, air dan atau tanpa bahan tambahan membentuk masa

padat. Untuk mempelajari perilaku unsur unsur penyusun beton tersebut dibutuhkan

pengetahuan menyangkut karakteristik masing masing komponen tersebut. Untuk

mendapatkan kuat tekan yang tinggi kadar air yang digunakan harus ditekan

seminimal mungkin. Air yang ada pada campuran hanya digunakan sebagai reaktan

kunci dalam proses hidrasi

Menurut (SNI 1974-2011), Umur pengujian beton pada umumnya sudah

mencapai maksimum pada saat umur uji 28 hari, namun dalam beberapa literatur

seperti pada kutipan penulis kali ini yang menunjukkan hasil penelitian dengan
umur uji di atas 28 hari, yaitu 90 hari. Ketentuan tentang pengujian beton dengan

umur uji 90 hari ini pun terdapat di dalamnya.

2.2.2 Bahan Penyusun Material Beton

Kualitas Beton dapat ditentukan dengan pemilihan bahan-bahan pembentuk

Beton yang baik, serta pemilihan bahan tambahan sesuai dosis yang diperlukan.

Bahan pembentuk beton terdiri dari semen, agregat halus, air, dan bahan tambahan

lain jika diperlukan. Untuk pembuatan beton yang baik, material-material tersebut

harus melalui tahap penelitian yang sesuai standart penelitian yang baku sehingga

didapat material yang berkualitas baik.

A. NAOH dan SA2SIO3

Naoh atau sering di sebut soda api adalah zat kimia atau senyawa kimia

denga alkali [Link] – sifat kimia membuat ideal untuk digunakan dalam

berbagai aplikasi yang [Link] hidroksida bahan dasar populer yang di

gunakan di industri.

NA2SIO3 atau sering di sebut dengan sodium silika senyawa bahan kimia

yang berbentuk jel yang memiliki sifat lengkat

B. Agregat Kasar

Agregat kasar adalah kerikil sebagai hasil disintegrasi alam dari batuan atau

berupa batu pecah yang diperoleh dari industri pemecah batu dan mempunyai

ukuran butir 5 mm sampai 40 mm (SNI 03-2847-2002). Agregat ini harus

memenuhi syarat kekuatan, bentuk, tekstur maupun ukuran. Agregat kasar yang

baik bentuknya bersudut dan pipih (tidak boleh blondos). Agregat harus memiliki

syarat kebersihan yaitu, tidak mengandung lumpur lebih dari 1%, dan tidak

mengandung zat-zat organik yang dapat merusak beton.


Agregat yang memiliki ukuran butir yang lebih kecil memiliki potensial untuk

menghasilkan beton yang memiliki kekuatan yang tinggi. Agregat kasar yang

digunakan dalam penelitian ini adalah agregat alam berupa batu pecah. Batasan

gradasi agregat kasar yang baik menurut ASTM C33-78 adalah:

Tabel 2. 1 Gradasi Standar Agregat Kasar Alam Berdasarkan ASTM C33-78

Diameter Ayakan Presentase Lolos

25,4 mm (1”) 100

19,0 mm (3/4”) 95 – 100

9,50 mm (3/8”) 20 – 55

4,75 mm (No. 4) 0 – 10

2,36 mm (No. 8) 0–5

Menurut PBI 1971 Bab 3.4 agregat kasar/harus memenuhi syarat sebagai berikut:

 Agregat kasar terdiri dari butir-butir keras dan tidak berpori. Kerikil yang

berpori akan menghasilkan beton yamg mudah ditembus air. Agregat kasar yang

mengandung butir-butir pipih hanya dapat dipakai jika jumlah butirannya tidak

melebihi 20% berat agregat seluruhnya. Butir-butir agregat kasar tersebut harus

bersifat kekal artinya tidak pecah atau hancur karena pengaruh cuaca.

 Agregat kasar tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1% apabila lebih

dari 1% maka agregat harus dicuci terlebih dahulu.

 Agregat tidak mengandung zat-zat yang merusak beton, seperti zat-zat yang

reaktif dengan alkali.


 Kekerasan dan butir-butir agregat kasar diperiksa dengan bejana penguji

dan Rudellof atau dengan mesin pengaus Los Angeles dimana tidak boleh

kehilangan berat lebih dari 50%.

 Agregat kasar terdiri dari butir-butir yang beraneka ragam besarnya atau

bergradasi baik.

 Besar butiran maksimum agregat kasar tidak boleh lebih dari 1/5 jarak

terkecil antara bidang-bidang samping cetakan 1/3 tebal pelat 3/4 dari jarak

bersih minimum antara tulangan yang ada .

C. Agregat Halus

Agregat halus merupakan agregat yang lolos ayakan 4,75 mm atau lolos

saringan no. 4 dan tertahan pada saringan no. 200. Agregat halus pada beton dapat

berupa pasir alami atau pasir buatan. Pasir alami didapatkan dari hasil disintegrasi

alami dari batu -batuan (pasir gunung atau pasir sungai). Pasir buatan adlah pasir

yang di hasilkan oleh alat-alat pemecah batu atau dipero;eh dari hasil sampingan

stone crusher. Pasir alam didpatkan dari hasil disintegrasi alami dari batuan-batuan

(pasir gunung dan pasir sungai). Pasir berfungsi sebagai pengisi pori-pori yang

ditimbulkan oleh agregat yang lebih besar (agregt kasar). Agregat halus tidak boleh

mengandung lumpur 5% serta tidak mengandung zat-zat organik yang dapat

merusak beton. Kualitas pasir sangat mempengaruhi kualitas beton yang dihasilkan.

Oleh karena itu sifat-sifat pasir harus diteliti terlebih dahulu sebelum pasir

digunakan untuk bahan pembuatan beton dan harus memenuhi syarat yang

ditetapkan.

Persyaratan agregat halus (pasir) menurut PBI 1971 Bab 3,3 adalah sebagai

berikut.
- Terdiri dari butir-butir tajam dan keras. Butir-utirannya herus bersifat

kekal,artinya tidak pecah atau tidak hancur oleh pengaruh-pengaruh cuaca, seperti

matahari dan hujan.

- Tidak boleh mengandung lumpur ebih dari 5% (ditentukan terhadap brat

kering). Yang diartikan dengan lumpur adalah bagian-bagian yang dapat melalui

ayakan 0,063 mm. Apabila kadar lumpur melampaui 5% agregat halus harus

dicuci.

- Agregat tidak halus mengandug bahan-bahan organik yang terlalu banyak

yang harus dibuktikan dengan percobaan warna dari Abraham-Harder (dengan

larutan NaOH).

- Agregat halus harus terdiri dari butir-butir yang beraneka ragam besarya

apabila diayak dengan susunan ayakan yangditentukan dalam pasal 35 ayat (1),

harus memenuhi syarat-syarat:

- Pasir laut tidak boleh dipakai sebagai agregat halus untuk semua mutu beton,

kecuali dengan petunjuk-petunjuk dari lembaga pemeriksaan bahan-bahan yang

diaku

D. Air dari pencampuran (NAOH dan SA2SIO3)

Air merupakan bahan dasar pembuatan beton yang penting namun harganya

murah. Fungsi air pada campuran beton adalah untuk membantu reaksi kimia yang

menyebabkan berlangsungnya proses pengikatan.

Pemakaian air pada pembuatan campuran harus pas karena pemakaian air yang

terlalu berlebihan akan menyebabkan banyaknya gelembung air setelah proses

hidrasi selesai dan hal tersebut akan mengurangi kekuatan beton yang dihasilkan.

Sedangkan terlalu sedikit air akan menyebabkan proses hidrasi tidak tercapai
seluruhnya, sehingga dapat mempengaruhi kekuatan paving block yang dihasilkan.

Persyaratan mengenai air untuk pembuatan dan perawatan beton dapat dilihat pada

Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971 ( NI-2 ).

Persyaratan agregat halus (pasir) menurut PBI 1971 Bab 3,3 adalah sebagai

berikut. - Terdiri dari butir-butir tajam dan keras. Butir-utirannya herus bersifat

kekal,artinya tidak pecah atau tidak hancur oleh pengaruh-pengaruh cuaca, seperti

matahari dan hujan. - Tidak boleh mengandung lumpur ebih dari 5% (ditentukan

terhadap brat kering). Yang diartikan dengan lumpur adalah bagian-bagian yang

dapat melalui ayakan 0,063 mm. Apabila kadar lumpur melampaui 5% agregat

halus harus dicuci. - Agregat tidak halus mengandug bahan-bahan organik yang

terlalu banyak yang harus dibuktikan dengan percobaan warna dari Abraham-

Harder (dengan larutan NaOH). - Agregat halus harus terdiri dari butir-butir yang

beraneka ragam besarya apabila diayak dengan susunan ayakan yangditentukan

dalam pasal 35 ayat (1), harus memenuhi syarat-syarat: - Pasir laut tidak boleh

dipakai sebagai agregat halus untuk semua mutu beton, kecuali dengan petunjuk-

petunjuk dari lembaga pemeriksaan bahan-bahan yang diaku

E. Fly asha

Fly Ash merupakan limbah hasil pembakaran batu bara pada tungku

pembangkit listrik tenaga uap yang berbentuk halus, bundar dan bersifat pozolik

(SNI 03_6414-2002). Jumlah Fly Ash yang dihasilkan per hari mencapai 500-1000

ton. Penyumbang produksi Fly Ash terbesar adalah sektor pembangkit listrik. Fly

Ash umumnya teridiri dari partikel solid yang berbentuk bulat, dan sebagian adalah

partikel bulat berongga serta patikel bulat yang berisi partikel-partikel bulat lain

yang lebih kecil. Ukuran partikel Fly Ash bervariasi mulai yang lebih kecil dai 1
𝜇𝑚 (micrometer) sampai yang lebih besar dari (beberapa literatur menyebutkan

ukuran 0,5 𝜇𝑚 – 300 𝜇𝑚), dengan sebagian besar partikel berukuran kurang dari

20 𝜇𝑚. Massa jenis Fly Ash dalam kondisi loose berkisar 540-860 kg/m3 , dan

dalam kondisi dipadatkan dengan penggetaran dalam kemasan pada umumnya

mempunyai massa jenis 1.120-1.500 kg/m3 . Untuk bentuk butiran bulat Fly Ash

dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Sumber: [Link] 2023

GAMBA 2.1 Bentuk butiran fly ash

Dari gambar diatas, diketahui bahwa bentuk butiran bulat Fly Ash terdiri dari

bulatan-bulatan kecil. Abu terbang Fly Ash adalah produk sampingan dari 23

industru Pembangkit Listruk Tenaga Uap (PLTU) yang menggunakan batu bara

sebagai bahan bakar, berupa butiran halus ringan, bundar, tidak porus serta bersifat

pozzolanik. PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) yang menghasilkan abu

terbang ini misalnya PLTU Paiton. Abu terbang juga dihasilkan oleh pabrik kertas

maupun pabrik kimia. Sekitar 75-90% abu yang keluar dari cerobong asap dapat

ditangkap oleh sistem elektrostatik precipitator. Sisa yang lain didapat dari dasar

tungku (disebut Bottom Ash). Mutu Fly Ash tergantung pada kesempurnaan proses

pembakarannya
Sebagian besar komposisi kimia dari abu terbang tergantung tipe batu bara.

Menurut ASTM C618-86, terdapat dua jenis abu terbang, kelas F dan kelas C. Kelas

F dihsilkan dari pembakaran batu bara jenis antrasit dan bituminous, sedangkan

kelas C dari betu abra jenis lignite dan subituminous. Kelas C memilii kadar kapur

yang tinggi. Fly Ash dapat dibedakan menjadi 3 jenis (ACI Manual of Concrete

Practice 1993 Parts 2 226.3R-3), untuk penjelasan lebih lanjut mengenai

macammacam jenis kelas fly ash sebagai berikut

1) Kelas C

Fly Ash yang mengandung CaCo diatas 10% yang dihasilkan dari lignite atau

sub bitumen batu bara (batu bara muda). Dalam campuran beton digunakan

sebanyak15%-35% total berat semen

2) Kelas F

Fly Ash yang mengandung CaO lebih kecil dari10% 10% yang dihasilkan

dari pembakaran anthracite atau bitumen batu bar. Dalam campuran beton

digunakan sebanyak15%-25% dari total berat binder

3) Kelas N

Pozzolan alam atau hasil pembakaran yang dapat digologkan antara lain tanah

diatomic, opaline, shales, tuff dan abu vulkanik yang mana bias diproses melalui

pembakaran atau melalui proses pembakaran. Selainitu juga mempunyai sifat

pozzolan yang baik. (Nugraha dan Antoni,2007:105). Penggunaan abu terbang (Fly

Ash) dalam campuran beton memiliki berbagai keunggulan, yaitu:

a. Pada Beton Segar Keuntungan dari pemanfaatan fly ash pada beton segar yaitu

sebagai berikut:
• Kehalusan dan bentuk partikel Fly Ash yang bulat dapat meningkatkan

workability.

• Mengurangi terjadinya bleeding dan segregasi.

b. Pada Beton Keras Keuntungan dari pemanfaatan fly ash pada beton keras yaitu

sebagai berikut:

• Kontribusi peningkatan kuat tekan beton pada umur setelah 52 hari.

• Meningkatkan durabilitas beton

• Meningkatkan kepadatan (density)beton.

• Mengurangi terjadinya penyusutan beton

2.2.3 Uji Karakteristik Material Beton

A. Pemeriksaan Agregat Kasar

Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan pembagian butir (gradasi)

kasar dengan menggunakan ayakan. Gradasi agregat kasar adalah distribusi ukuran

butiran dari agregat kasar. Bila butir-butir agregat mempunyai ukuran yang sama

atau seragam volume pori akan besar. Sebaliknya bila ukuran butiran bervariasi

akan terjadi volume pori yang kecil. Hal ini dikarenakan butiran yang kecil mengisi

pori diantara butiran yang lebih besar, sehingga pori-porinya menjadi sedikit.

Sebagai pernyataan gradasi dipakai nilai prosentase dari berat butiran yang

tertinggal atau lolos didalam suatu susunan ayakan. Susunan ayakan adalah ayakan

dengan lubang 3, 2 12, 212, 1, 34, 12, 38, no.4 (4,80 mm), 8 (2,40 mm), 16 (1,20

mm), 30 (60 mm), 50 (0,30 mm), 100 (0,15 mm) pan. Menurut peraturan di Inggris

(British Standart) yang juga dipakai di Indonesia saat ini dalam SKSNI-T15-1991

kekasaran pasir dapat dibagi menjadi tiga kelompok menurut gradasinya, yaitu
kerikil dengan butiran maksimal 10 mm,butiran 20 mm, butiran 30 mm, butiran 40

mm. Gradasi kerikil masuk pada kurva 1 dan 2 akan diperoleh adukan beton yang

kasar diperlukan faktor air semen yang rendah, bila gradasi kerikil masuk kurva 3

dan 4 maka akan diperoleh adukan beton yang halus diperlukan faktor air semen

yang tinggi. Jadi sebaiknya gradasi yang baik adalah masuk kurva 2 dan 3. Dapat

dihitung dengan persamaan:

Komulatif Berat Tertahan


MHB = × 100%.. ..................................... (8)
Berat Tertahan

F. Pemeriksaan Berat Jenis dan Penyerapan Air Agregat Kasar

Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan berat jenis kering

permukaaan jenuh (SSD = Saturated Surface Dry), berat jenis kering oven, berat

jenis semu dan penyerapan kerikil. Berat jenis kering permukaan jenuh (SSD)

adalah perbandingan antara agregat kering permukaan jenuh dengan berat air suling

yang isinya sama dengan isi agregat dalam keadaan jenuh pada suhu tertentu.

Penyerapan adalah prosentase berat air yang dapat diserap pori terhadap berat

agregat kering. Standar yang digunakan pada pengujian ini adalah SNI 03- 1969-

1990. Perhitungan berat jenis dan penyerapan air agregat kasar dapat dihitung

dengan persamaan sebagai berikut:

Bk
Berat Jenis Curah = Bj−Ba.. ......................................................... (9)

Bj
Berat Jenis Kering Permukaan Jenuh = (Bj−Ba)... ....................... (10)

𝐵𝑗
Berat Semu = (𝐵𝑗−𝐵𝑎)... ............................................................... (11)

𝐵𝑗
Penyerapan Air = 𝐵𝑗−𝐵𝑎 × 100%... ............................................ (12)
G. Pemeriksaan Berat Volume Agregat Kasar

Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan berat isi kerikil. Berat isi

adalah perbandingan berat dan isi yang digunakan untuk mengkonversikan dari

berat menjadi volume. Volume kerikil akan mengembang jika mengandung air.

Berkembangnya volume ini dikarenakan adanya lapisan tipis air di sekitar butirbutir

kerikil. Ketebalan lapisan kerikil ini bertambah dengan bertambahnya kandungan

air dalam kerikil, berarti pengembangan volume secara keseluruhan. Kerikil yang

halus mengembang lebih banyak daripada kerikil yang kasar. Besar perkembangan

volume kerikil antara 25-40 % dan kadar airnya antara 5-8%. Berat isi kerikil antara

1-2 gram/cc. Standar yang digunakan pada pengujian ini adalah SNI 1973.2008

Dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut:


Bs Wta−Wts
Berat Volume = Vb = ................................................... (13)
Vb

H. Pemeriksaan Kadar Lumpur Agregat Kasar

Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan berapa banyak lumpur yang

dikandung kerikil. Agregat kasar (kerikil) tidak boleh mengandung lumpur lebih

dari 1% ditentukan dari berat kering yang diartikan dengan lumpr adalah

bagianbagian yang dapat melalui ayakan 200 atau 0,063 mm. Apabila kadar lumpur

melampaui 1% maka agregat harus dicuci (PBI 1971 Hal 23). Dapat dihitung

dengan persamaan sebagai berikut:

500−(𝑊𝑘𝑜−𝑊𝑝𝑡)
Kandungan lumpur = × 100... ......................... (14)
500

Wko= Berat kering oven (gram)

Wpt= Berat tempat (gram)


2.2.4 Perencanaan Job Mix Design (SNI DT 91-0008-20075)

Mix design adalah suatu proses perencanaan perhitungan proporsi campuran

material pembuat beton. Tujuan dari mix design adalah untuk membuat mutu beton

yang diinginkan. Setiap bangunan membutuhkan kuat tekan yang berbeda-beda.

Oleh sebab itu rekayasa dalam pembuatan beton sangat bergantung pada mix design

yang dibuat.

2.2.5 Perawatan Benda Uji (Curing)

Perawatan benda uji dilakukan setelah benda uji mencapai final setting, artinya

benda uji telah mengeras. Perawatan ini dilakukan agar proses hidrasi selanjutnya

tidak mengalami gangguan. Jika hal ini terjadi, benda uji akan mengalami keretakan

karena kehilangan air yang begitu cepat. Perawatan dilakukan minimal 7 hari dan

benda uji untuk berkekuatan awal tinggi minimal selama 3 hari serta harus

dipertahankan dalam kondisi lembab.

Berdasarkan SNI 2493:2011 menjelaskan bahwa kecuali bila ada persyaratan

lain, semua benda uji harus dirawat basah pada temperatur 23ºC ± 1,7ºC mulai dari

waktu pencetakan sampai saat pengujian. Penyimpanan selama 48 jam pertama

perawatan harus pada lingkungan bebas getaran. Seperti yang diberlakukan pada

perawatan benda uji yang dibuka, perawatan basah berarti bahwa benda uji yang

akan diuji harus memiliki air bebas yang dijaga pada seluruh permukaan pada

semua waktu. Kondisi ini dipenuhi dengan merendam dalam air jenuh kapur dan

dapat dipenuhi dengan penyimpanan dalam ruang jenuh air sesuai dengan

AASTHO M 201.
2.2.6 Pengujian Beton

Dalam SNI 03-0691-1996 beton diharuskan memiliki sifat-sifat fisika yang

berupa kuat tekan, dan penyerapan air. Dengan itu peneliti juga melakukan

pengujian sesuai dengan yang sudah ditetapkan SNI 03-0681-1996. Pengujian

beton antara lain.

1. Kuat Tekan beton (Concrete Compressive Strength)

Kuat tekan beton adalah besarnya beban persatuan luas yang menyebabkan

benda uji hancur apabila dibebani dengan gaya tekan tertentu, sehingga besarnya

beban yang dapat di tahan oleh silinder beton persatuan luas yang menyebabkan

benda uji silinder beton hancur karena gaya yang dihasilkan oleh mesin tekan dapat

sebagai nilai kuat tekan paving blok. Penentuan kuat tekan mengacu pada SNI-03-

1974-1990, yaitu dengan menyiapkan benda uji yang telah ditentukan kuat dari

curing. Setelah benda uji siap, kemuadian meletakannya dalam mesin uji tekan

dengan penambahan beban yang konstan berkisar 2-4 kg/cm² per detik, lakukan

sampai benda uji terlihat retak dan menjadi hancur atau hingga tidak ada lagi

peningkatan beban atau tekanan. Kuat tekan beton ini bertujuan untuk mengetahui

seberapa besar kuat desak atau tekan yang mampu diterima oleh benda uji.

Pencatatan yang dilakukan pada saat pengujian adalah besarnya beban P pada saat

benda uji hancur. Untuk mendapatkan besarnya tegangan hancur dari benda uji

tersebutdilakukan dengan perhitungan seperti pada persamaan berikut:


𝑃
f′c = 𝐴 .............................................................................................. (8)

Dimana: f’c = kuat tekan

P = beban maksimum (N)

A = Luas Permukaan Benda Uji (mm2)


2. Penyerapan Air

Penyerapan air pada beton merupakan presentase berat air yang mampu di

serap melalui perantara pori-pori pada beton. Penyerapan air pada beton didapatkan

dengan cara merendam utuh benda uji beton dalam air selama 24 jam, Ketika sudah

24 jam kemudian ditimbang sebagai berat basah. Kemudian dikeringkan di dalam

mesin pengering selama 24 jam pada suhu ±105°C sampai beratnya pada dua kali

penimbangan berselisih tidak lebih dari 0,2% penimbangan.

Untuk menghitung penyerapan air pada beton dapat dilihat pada persamaan

berikut ini.
𝐴−𝐵
DSA = × 100% ... ............................................................................. (10)
𝐵

Dengan:

DSA = Penyerapan Air (%)

A = Berat beton Basah (gram)

B = Berat beton Kering (gram)


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi Penelitian

Pelaksanaan penelitian ini dilakukan di Laboratorium Universitas Merdeka

Madiun Objek dalam penelitian ini adalah pembuatan Beton Geopolimer

menggunakan bahan campuran antara limbah abu batu dengan limbah serbuk kaca

yang akan digunakan sebagai pengganti sebagian pasir. Pengujian kuat tekan

dilakukan bila beton sudah berumur 28 hari dengan metode eksperimen.

3.2 Alat dan Bahan Penelitian

3.2.1 Alat

Adapun alat yang digunakan yaitu dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut:

1) Mesin uji kuat tekan

Mesin kuat tekan digunakan untuk mendapatkan nilai beban maksimum

yang dapat di tahan oleh beton. Mesin kuat tekan memberikan beban dengan

gaya tekan konstan sampai sampel beton hancur.

2) Alat cetakan beton

Dipergunakan sebagai cetakan sampel pengujian kekuatan tekanan, dan

penyerapan air beton.


3) Oven

Oven digunakan untuk memanaskan atau mengeringkan benda uji yang

akan diujikan serta juga digunakan untuk uji propertis bahan yang digunakan

untuk pembuatan beton.

4) Ayakan

Ayakan digunakan untuk menyaring abu batu, agregat kasar, dan dan limbah

serbuk kaca. Selain itu ayakan digunakan untuk pengujian Modulus Halus

Butir (MHB) pasir.

5) Cetok

Cetok digunakan untuk mengambil, memindahkan dan mencampur bahan

penyusun beton. Cetok juga digunakan untuk meratakan dan memasukkan

campuran ke dalam cetakan.

6) Timbangan

Timbangan digunakan untuk menimbang berat suatu benda. Pada penelitian

ini timbangan digunakan untuk menimbang bahan pembuatan beton sehingga

bahan yang sudah disiapkan serta diperhitungkan tidak meleset.

7) Ember

Ember digunakan untuk tempat menaruh bahan yang sudah disiapkan

sebelumnya untuk pembuatan beton.

8) Molen

Molen digunaka untuk mencampurkan semua bahan penyusun beton.

9) Piring logam

Piring logam digunakan untuk menampung agregat halus


10) Kerucut abrams

Kerucut abrams digunakan untuk pengujian slump.

11) Kolam air penampung

Untuk menjaga kelembapan beton.

12) Gelas ukur

Gelas ukur digunakan sebagai tempat untuk mengukur jumlah air dan zat

lainnya.

13) Vibrator

Digunakan sebagai alat penggetar saringan/ayakan pasir.

14) Mistar/penggaris

Mistar/penggaris dipergunakan guna mengukur panjang paving block.

15) Kaliper

Kaliper digunakan untuk mengukur benda uji

16) Sekop

Sekop digunakan untuk mengaduk agregaT

3.2.2 Bahan

Adapun bahan yang digunakan yaitu dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut:

1) Zat Naoh dan Sa2SIO3.

2) Agregat kasar

3) Agregat halus

4) Fly AS (Abu terbang)

5) Air
3.3 Teknik Analisa Dara

Teknik Analisa data dilakukan untuk mengetahui kelayakan

material penyusun dan mengetahui Langkah-langkah pengujian beton.


Tabel 3.1 Teknik analisa data
No Pembahasan Metode Langkah – langkah Pengujian

1 Pengujian Material Penyusun

Beton

[Link] Agregat Halus


1. Mempersiapkan alat dan bahan (pasir) terlebih dahulu
SNI S-04-1989-F
1. Kadar Lumpur Agregat 2. Menimbang piring sebelum digunakan untuk tempat pasir (Wpi)

Halus 3. Menimbang pasir dengan berat 100 gram, kemudian

dimasukkan ke dalam gelas ukur 250 cc dan diisi dengan air

jernih setinggi 12 cm diatas muka pasir.

4. Gelas ukur dikocok-kocok selama kurang lebih 25 kali,

kemudian biarkan selama kurang lebih 1 menit dan bila air

dalam gelas masih terlihat keruh maka air dibuang dan diisi

kembali dengan air jernih.

5. Melakukan langkah ke 4 hingga pasir dalam gelas ukur jernih,


Tabel 3.1 Teknik Analisa Data (Lanjutan)
No Pembahasan Metode Langkah – langkah Pengujian
lalu air dipisahkan dengan pasir lalu dibuang, pasir diletakkan

dalam piring, kemudian dimasukkan kedalam oven pada suhu

(105-110) derajat celcius.

6. Kemudian pasir dikeluarkan dari oven didinginkan,dan

ditimbang beratnya (Wko), setelah itu pasir dibuang

2. Analisa Saringan Agregat


SNI 03-1968-1990 1. Ambil contoh agregat yang akan digunakan, kemudian dioven
halus
pada suhu 110° C sampai berat tetap.

2. Timbang masing-masing saringan.

3. Susun saringan pada mesin pengguncang

4. Masukkan benda uji pada saringan teratas kemudian tutup.

5. Biarkan selama 10 menit agar debu-debu mengendap.


Tabel 3.1 Teknik Analisa Data (Lanjutan)
No Pembahasan Metode Langkah – langkah Pengujian

3. Berat jenis dan penyerapan SNI-03-1970-1990 1. Pasir sebanyak 2500 gram ditimbang.

agregat halus 2. Pasir dikeringkan didalam oven pada suhu (110±5) derajat

celcius, sampai kering tetap / berat tetap, didinginkan pada suhu

ruang dan kemudian direndam didalam air sampai basah jenuh.

Berat tetap yang di maksutkan adalah keadaan berat pasir

selama 3 kali poroses penimbangan dan pemanasan dalam oven

dengan selang waktu 2 jam berturut-turut, tidak mengalami

perubahan kadar air lebih besar dari pada 0,1%.

3. Air rendaman dibuang hati-hati jangan sampai butiran yang

hilang.

4. Pasir dimasukkan kedalam loyang seng, kemudian dipanaskan

dengan menggunakan kompor dibolak balik hingga kering

jenuh
Tabel 3.1 Teknik Analisa Data (Lanjutan)
No Pembahasan Metode Langkah – langkah Pengujian

5. Untuk menggetahui kering permukaan semu dengan jalan ditest

memakai cone dengan diisi sebanyak 3 lapis hingga penuh

dimana tiap lapis ditumbuk lapis pertama 8 kali, lapis ke dua 8

kali dan lapis ke tiga 9 kali, kemudian conne di angkat dengan

hati-hati, kalo pasir masih berbentuk kerucut seperti conne

berarti benda uji belum mencapai kering permukaan jenuh.

5. Pekerjaan no. 4 dan no. 5 di ulang sampai kering permukaan

jenuh (SSD).

6. Kalau sudah mencapai keadaan SSD pasir ditimbang sebanyak

500 gram dan dimasukkan kedalam picnometer yang sudah

diketahui beratnya, kemudian diisi lagi dengan air suling

sebanyak 90% dari kapasitas piknometer.

7. Piknometer yang sudah berisi pasir dan air suling diletakkan di


Tabel 3.1 Teknik Analisa Data (Lanjutan)
No Pembahasan Metode Langkah – langkah Pengujian

8. Piknometer yang sudah berisi pasir dan air suling diletakkan di

atas kompor yang sudah dinyalakkan, kemudian di rebus untuk

menghilangkan gelembung udara yang ada didalam pasir atau

dapat digunakan pipa MPa udara guna mempercepat proses

tersebut tetapi harus diperhatikan jangan sampai ada air ikut

terserap.

9. Setelah mendidih didiamkan sampai mencapai suhu

ruang,kemudian di tambah air suling sebanyak yang

diperlukan(sampai batas maksimal) lalu di timbang.

Perhitungan suhu standat 25 derajat celcius. Ditambahkan

dengan air sampai tanda batas dan timbang piknometer berisi

air dan pasir sampai ketelitian 0,1 gram (wt).


Tabel 3.1 Teknik Analisa Data (Lanjutan)
No Pembahasan Metode Langkah – langkah Pengujian

10. Setelah dingin pasir ditimbang ditentukan berat picnometer berisi

air penuh dan ukur suhu air dengan suhu standar 25oC

11. Timbang dan catat berat wadah.

4. Pengujian Kadar Air SNI 03-1971-1990 1. Masukkan benda uji ke wadah kemudian timbang dan catat

Agregat Halus beratnya

2. Hitunglah berat benda uji.

3. Keringkan benda uji dalam oven dengan suhu (110±5) sampai

beratnya tetap.

4. Setelah kering ditimbang dan catat berat benda uji beserta wadah

5. Hitung berat benda uji kering.


Tabel 3.1 Teknik Analisa Data (Lanjutan)
No Pembahasan Metode Langkah – langkah Pengujian

B. Pengujian agregat kasar

SNI S-04-1989-F
1. Kadar lumpur agregat 1. Persiapkan alat dan bahan agregat kasar (kerikil).

kasar 2. Kerikil diambil dan ditimbang sebanyak 900 gram.

3. Kerikil dicuci dengan air, kemudian yang keruh dituangkan

kedalam ayakan no.200 dan kerikil yang tertinggal dalam ayakan

dikembalikan lagi kedalam talam kerikil tadi dan diusahakan

jangan ada yang berceceran.

4. Pencucian dilakukan secara berulang-ulang sampai air dalam

5. Kerikil hasil cucian yang telah bersih dioven selama 24 jam

dengan suhu 110 ℃.

6. Setelah kerikil dikeringkan, ditimbang beratnya.


Tabel 3.1 Teknik Analisa Data (Lanjutan)
No Pembahasan Metode Langkah – langkah Pengujian

2. Analisa saringan agregat SNI 03-1968-1990 1. Ambil contoh agregat yang akan digunakan, kemudian dioven

kasar pada suhu 110° C sampai berat tetap.

2. Timbang masing-masing saringan.

3. Susun saringan pada mesin pengguncang, yang paling bawah

adalah pan kemudian saringan dengan lubang terkecil dan

seterusnya sampai saringan dengan lubang terbesar.

4. Masukkan benda uji pada saringan teratas kemudian tutup. Jepit

susunan saringan tersebut lalu hidupkan motor mesin

pengguncang selama 10 menit.

5. Biarkan selama 10 menit agar debu-debu mengendap.

Buka saringan, kemudian timbang masing-masing saringan

beserta isinya.
Tabel 3.1 Teknik Analisa Data (Lanjutan)
No Pembahasan Metode Langkah – langkah Pengujian

6. Kemudian hitung berat agregat yang tertahan pada masing-

masing saringan.

1. Keringkan benda uji dalam oven pada suhu (110±5) oC, sampai
3. Berat jenis dan SNI 03-1969-1990 kering tetap/berat tetap, kemudian benda uji didinginkan dengan
penyerapan agregat kasar
suhu kamar 1-3 jam.

2. Rendam benda uji pada suhu kamar ±24 jam.

3. Kemudian benda uji dikeluarkan dari air dan dilap dengan kain

satu persatu hingga selaput air pada permukaan hilang (SSD).

4. Benda uji keadaan SSD ditimbang.

5. Benda uji diletakkan di keranjang air lalu diguncangkan untuk

mengeluarkan udara yang tersekap dan catat beratnya dalam air.

Suhu air disesuaikan pada suhu 25oC.


Tabel 3.1 Teknik Analisa Data (Lanjutan)
No Pembahasan Metode Langkah – langkah Pengujian

6. Benda uji diletakkan dalam pan lalu dimasukkan ke dalam oven

pada suhu (110±5)oC selama (24±4) jam, setelah kering di

timbang beratnya.

1. Masukkan benda uji ke wadah kemudian timbang dan catat


SNI 03-1971-1990
4. Kadar air agregat kasar beratnya.

2. Hitunglah berat benda uji.

3. Keringkan benda uji dalam oven dengan suhu (110±5) oC

sampai beratnya tetap.

4. Setelah kering ditimbang dan catat berat benda uji beserta

wadah.

5. Hitung berat benda uji kering.


Tabel 3.1 Teknik Analisa Data (Lanjutan)
No Pembahasan Metode Langkah – langkah Pengujian

5. Abrasi agregat kasar SNI 03-2417-1991 1. Cuci dan keringkan agregat pada temperatur 110°C ± 5°C

sampai berat tetap.

2. Pisah-pisahkan agregat ke dalam fraksi-fraksi yang dikehendaki

dengan cara Penyaringan dan lakukan penimbangan.

3. Gabungkan kembali fraksi-fraksi agregat sesuai grading yang

dikehendaki.

4. Catat berat contoh dengan ketelitian mendekati 1 gram.

5. Pengujian ketahanan agregat kasar terhadap keausan dapat

dilakukan dengan salah satu dari 7 (tujuh) cara dalam berikut:

a) Cara A : Gradasi A, bahara lolos 37,5 mm ,ampai tertahan

),5 mm. Jumlah bola 12 buah dengan 500 putaran.

b) Cara B : Gradasi B, bahan lolos 19 mm sampai tertahan 9,5

mm. Jumlah bola 11 buah dengan 500 putaran.


Tabel 3.1 Teknik Analisa Data (Lanjutan)
No Pembahasan Metode Langkah – langkah Pengujian

c) Cara C : Gradasi C, bahan lolos 9,5 mm sampai tertahan 4,75

mm (no.4), Jumlah bola 8 buah dengan 500 putaran.

d) Cara D : Gradasi D, bahan lolos 4,75 mm (no.4) sampai

tertahan 2,36 mm (no.8). Jumlah bola 6 buah dengan 500

putaran.

e) Cara E : Gradasi E, bahan lolos 75 mm sampai tertahan 37,5

mm. Jumlah bola 12 buah dengan 1000 putaran.

f) Cara F : Gradasi F, bahan lolos 50 mm sampai tertahan 25

mm. Jumlah bola 12 dengan 1000 putaran.

g) Cara G : Gradasi G, bahan lolos 37,5 mm sampai tertahan 19

mm. Jumlah bola 12 buah dengan 1000 putaran.

6. Benda uji dan bola baja dimasukkan ke dalam mesin abrasi Los

Angeles putaran mesin dengan kecepatan 30 rpm, jumlah putaran


Tabel 3.1 Teknik Analisa Data (Lanjutan)
No Pembahasan Metode Langkah – langkah Pengujian

gradasi A, gradasi B, gradasi C dan gradasi D adalah 500 putaran

dan untuk gradasi E, gradasi F dan gradasi G adalah 1000

putaran.

7. Setelah selesai pemutaran, keluarkan benda uji dari mesin

kemudian saring dengan saringan No.12 (1,70 mm); butiran yang

tertahan di atasnya dicuci bersih, selanjutnya dikeringkan dalam

oven pada temperatur 110°C ± 5°C sampai berat tetap.

8. Jika material contoh uji homogen, pengujian cukup dilakukan

dengan 100 putaran, dan setelah selesai pengujian disaring

dengan saringan No.12 (1,70 mm) tanpa pencucian.

Perbandingan hasil pengujian antara 100 putaran dan 500 putaran

agregat tertahan di atas saringan No.12 (1,70 mm) tanpa

pencucian tidak boleh lebih besar dari 0,20.


Tabel 3.1 Teknik Analisa Data (Lanjutan)
No Pembahasan Metode Langkah – langkah Pengujian

2 Pembuatan Job Mix Design SNI 03-2834-2000 1. Ambil kuat tekan beton yang disyaratkan f’c pada umur tertentu;

Beton 2. Tentukan deviasi standar.

3. Hitung nilai tambah.

4. Hitung kuat tekan beton rata-rata yang ditargetkan.

5. Tetapkan jenis semen.

6. Tentukan jenis agregat kasar dan agregat halus, agregat ini dapat

dalam bentuk tak dipecahkan (pasir atau koral) atau dipecahkan;

7. Tentukan faktor air semen dengan langkah-langkah berikut:

a. Tentukan nilai kuat tekan pada umur 28 hari sesuai dengan

semen dan agregat yang akan dipakai sesuai tabel berikut.

b. Tarik garis tegak lurus ke atas melalui faktor air semen 0,5

sampai memotong kurva kuat tekan yang ditentukan di atas

c. Tarik garis lengkung secara proporsional.


47

Tabel 3.1 Teknik Analisa Data (Lanjutan)


No Pembahasan Metode Langkah – langkah Pengujian

d. Tarik garis mendatar melalui nilai kuat tekan yang

ditargetkan sampai memotong kurva baru yang

ditentukan.

e. Tarik garis tegak lurus kebawah melalui titik potong

tersebut untuk mendapatkan faktor air semen yang

diperlukan.

f. Tetapkan factor air naoh maksimum menurut butir

(dapat ditetapkan sebelumnya atau tidak). Jika nilai

faktor air naoh yang diperoleh lebih kecil dari yang

dikehendaki, maka yang dipakai yang terendah.

8. Tetapkan slump.

9. Tetapkan ukuran agregat maksimum.

10. Tentukan nilai kadar air bebas


Tabel 3.1 Teknik Analisa Data (Lanjutan)
No Pembahasan Metode Langkah – langkah Pengujian

11. Hitung jumlah naoh dan na2sio3 yang besarnya iyalah

kadar alkali actiator adalah kadar air bebas dibagi factor

naoh.

12. Jumlah alkali activator maksimum jika tidak ditetapkan,

dapat diabaikan;

13. Tentukan alkali activator dari perbandingan yang sudah

ada pada jurnal

14. Tentukan susunan butir agregat halus (pasir kalau agregat

halus sudah dikenal dan sudah dilakukan analisa ayak

menurut standar yang berlaku,

15. Tentukan susunan agregat kasar menurut ukuran yang


Tabel 3.1 Teknik Analisa Data (Lanjutan)
No Pembahasan Metode Langkah – langkah Pengujian

Digunakan

16. Tentukan persentase pasir dengan perhitungan. Jumlah

seluruh dari pasir atau fraksi agregat yang lebih halus dari

5 mm. Dalam agregat kasar yang biasa dipakai di

Indonesia seringkali dijumpai bagian yang lebih halus dari

5 mm dalam jumlah yang lebih dari 5 persen.

17. Hitung berat jenis gabungan agregat menurut butir.

18. Tentukan berat isi beton menurut sesuai dengan kadar air

bebas yang sudah ditemukan dan berat jenis gabungan dari

agregat gabungan.

19. Hitung kadar agregat gabungan yang besarnya adalah

berat jenis beton dikurangi jumlah kadar semen dan kadar

air bebas.
Tabel 3.1 Teknik Analisa Data (Lanjutan)
No Pembahasan Metode Langkah – langkah Pengujian

20. Hitung kadar agregat halus yang besarnya adalah hasil kali

persen pasir dengan agregat gabungan.

21. Proporsi campuran, kondisi agregat dalam keadaan jenuh

kering permukaan.

22. Koreksi proporsi campuran menggunakan kadar air dan

penyerapan agregat kasar dan agregat halus.

1. Tempatkan slump cone di bagian Tengah base plate.


3 Pengujian Slump SNI 03-1972-1990 2. Isi cone dengan beton tanpa di tumbuk dan ratakan

permukaan atas cone menggunakan trowel.

3. Bersihkan area baseplate dan beton yang berlebihan.

4. Tarik cone vertikal tegak lurus dengan base plate agar

beton mengalir.
Tabel 3.1 Teknik Analisa Data (Lanjutan)
No Pembahasan Metode Langkah – langkah Pengujian

5. Ukur final diameter dari beton di perpendicular direction.

4 Pengujian Kuat Tekan Beton SNI 03-1974-1990 1. Menyiapkan benda uji yang telah di curing.

2. Meletakkan benda uji pada Compression Testing Machine

(CTM).

3. Jarum pada CTM diatur tepat pada posisi angka nol.

4. Menyalakan CTM dan membaca jarum penunjuk saat

benda uji hancur.

5. Mencatat nilai beban tekan maksimum.


3.4 Bagan Alir Penelitian
Mulai

Persiapan Material

Pengujian Agregat Halus


Pengujian Fly Ash: Pengujian Naoh dan
dan Agregat Kasar:
- Pemeriksaan Modulus Na2so3:
- Pemeriksaan Modulus
Halus Butir - Pemeriksaan Berat
Halus Butir
- Pemeriksaan Kimia Naoh dan Na2sio3
- Pemeriksaan Berat Jenis
Jenis Semen
dan Penyerapan
- Pemeriksaan Kadar
Lumpur
- Pemeriksaan Berat
Volume
- Pemeriksaan Abrasi

Pembuatan Job Mix Formula

Pengujian Slump

Pembuatan Benda Uji

Uji Kuat Tekan

Analisis Hasil

Kesimpulan dan Saran

Selesai

Anda mungkin juga menyukai