0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan20 halaman

Panduan Budidaya Bawang Daun Agribisnis

Diunggah oleh

PrasetyoWaskito
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan20 halaman

Panduan Budidaya Bawang Daun Agribisnis

Diunggah oleh

PrasetyoWaskito
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura SMKN 1 Karangtengah

BAB II

PROSES PELAKSANAAN
A. WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN
1. Waktu pelaksanaan prakerin dilaksanakan pada tanggal 12 Januari
2017 sampai dengan tanggal 12 April 2017.
2. Tempat pelaksanan prakerin dilaksanakan di DU/DI P4S Batra Agro
Manduri Jalan Perkebunan Gedeh.

B. ALAT DAN BAHAN

No Nama Alat Tipe Lama/ Baru Banyaknya


1. Heun Traktor Yanmar Lama 1
2. Heun Traktor Honda Baru 1
3. Cangkul Cap Jago - 10
4. Garpuh - - 5
5. Gacuk - - 6
6. Dan lain-lain

No Nama Bahan Varietas Banyaknya Luas Ket


1. Daun Bawang Cepak 500 kg 1000
m2
2. Pupuk Kandang Postal 1000 kg
3. Pupuk Kimia ZA 100 kg
SP 36 50kg
KCL 30 kg
4. Insektisida Curakron Sesuai
anjuran
5. Fungisida Victory
Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura SMKN 1 Karangtengah

C. GAMBAR KERJA

1. Pengolahan Lahan
2. Pencangkulan dan Pembajakan
3. Persiapan Bibit
4. Penanaman
5. Penyulaman
6. Pembuatan Bedengan
7. Pemupukan Dasar
8. Pemasangan Mulasa (MPHP)
9. Pembuatan Lubang Tanam
10. Pemupukan Sususlan
11. Penyiangan
12. Pembubunan
13. Pengendalian Hama dan Penyakit
14. Panen dan Pasca Panen
Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura SMKN 1 Karangtengah

BAB III
PROSES PENGERJAAN

D. Proses Pengerjaan
A. Botani bawang daun
Bentuk dan anatomi bawang daun tidak banyak berbeda dari
bawang merah, hanya saja tidak membentuk umbi. Padahal
tampaknya bawang daun ini ingin membetuk umbi juga, namun tidak
sampai, hanya ada pembengkakan sekedarnya pada bagian bawah
tanaman belaka.
Bawang daun tidak mengenal musim hujan dan kemarau. Asalkan
ada air yang cukup ia pasti dapat tumbuh terus. Umurnya dapat
panjang, namun petani bawang daun senantiasa memperpendek
umurnya.
Daunnya berbentuk pipa dan berlilin. Walaupun dapat mudah
dengan berbunga berbunga dan menghasilkan biji tidak seorang
petani pun yang memikirkan untuk menanam bawang daun melalui
biji, karena umumnya melakukan perbanyakan (budidaya) melaui
sabetan atu anakannya lebih
peraktis untuk dijalankan.
Bawang daun terdiri dari beberapa jenis ( varetas ). Didaerah jawa
barat dikenal dan ditanam beberapa jenis bawang daun yang secara
umum dibudidayakan oleh masyarakat. Adpun jenis-jenis dari pada
bawang daun tersebut antara lain adalah sebagai berikut :

a. Bawang cepak
Tinginya rata-rata 25 cm, anakannya 15-20, umurnya 2,5-3 bulan,
dan rasanya tergolong enak.
b. Bawang sinyonya
Berukuran lebih besar dan lebih tinggi dari pada sicepak, hanya
anakannya antara 5-10, umurnya 3,5 bulan, dan rasanya lebih
enak dari pada sicepak.
c. Bawang gaji
Bentuknya seperti bawang cepak hanya berumbi lebih sedikit,
rata-rata anaknya 10, dan pada umur 2,5 – 3 bulan sudah dapat
dilakukan pemanenan.

d. Bawang siam atau cerutu (serutu)


Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura SMKN 1 Karangtengah

Bentuknya pendek, daunnya besar dan bulat seperti cerutu,


anaknya rata-rata 10, umur 2,5 -3 bulan, rasanya tergolong
sedang.

e. Bawang siih
Seperti sinyonya hanya warna batangnya lebih putih.

f. Bawang sereh atau sop


Batang atau daunnya kecil-kecil anaknya 20-25, rasa dan baunya
enak baik untuk penyedap makanan dan sebagainya.
Setiap tanaman mempunyai taksonomi masing-masing, begitu
dengan bawang daun. Adapun kedudukan daripada tanaman
bawang daun dalam tatanan (sistematika) tumbuhan mempunyai
kelasifikasi sebagai berikut :
Divisio : Spermatophyta
Sub divisio : Aingiospernae
Kelas : Monocotayledoneae
Ordo : Liliflorae
Famili : Liliaceae
Genus : Allium
Sepesies : Alium fistulosum L.

A. Jenis- jenis bawang daun


Tanaman bawang daun yamg telah umum dibudidayakan oleh
petani umumnya ada dua jenis yakni antara lain :

 Bawang daun (Alium fistulosim L.)


Bawang jenis ini sering disebut juga dengan nama bawang
semprong atau Ciboule (sibol). Jenis bawang daun ini mempunyai
ciri-ciri antara lain mempunyai bentuk daun bulat panjang,
didalamnya berongga (berlubang) seperi pipa, dan kadang-kadang
dapat membentuk umbi yang ukurannya kecil. Varietas bawang
daun yang banyak ditemukan dipasar antara lain sinyonya rarahan
yang dapat menghasilkan bawang daun (peruduksinya) 10,8 ton per
hektar didataran rendah dan silih besar yang rata-rata produksinya
jika ditanam didataran rendah mencapai 11,0 ton/ha.
Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura SMKN 1 Karangtengah

 Bawang kucai (Allium schoenoprasum)

Bawang kucai adalah salah satu jenis tanaman yang cukup


terkenal sebagai bahan sayuran. Jenis bawang ini mempunyai ciri
daunnya keci-kecil, panjang, pipih, dan berwarna hijau tua, pada
daun terdapat libang atau daunnya belubang kecil. Bawang kucai ini
dapat membentuk umbi walaupun umbinya kecil-kecil sekali. Ini
berbeda dengan bawang prey yang tidak dapat membentuk umbi.

 Bawang prey (Aluim porum L.)

Diluar negri jenis bawang daun ini lebih dikenal dengan


sebutan bawang leek. Bawang daun ini mempunyai ciri-ciri bentuk
daunnya panjang pipih namun lebih lebar daripada daun bawang
merah maupun bawang putih, berpelepah panjang dan liat, bagian
dalam daun brwarna putih sera tidak berumbi.

B. Syarat tumbuh

Tanaman bawang daun memiliki daya adaptasi yang cukup


tinggi ter hadap
lingkungan tumbuh sehingga dapat ditanam baik didataran rendah
maupun didataran tingi (pegunungan). Menurut Nazaruddin (1999)
bawang daun dapat ditanam mulai dari ketinggian 250-1500 m
diatas permukaan laut. Curah hujan antara 1500-2000 mm/tahun,
pada suhu 18 º-25º C. Namun menurut Rukmana (1995) daerah yang
paling sesuai untuk budidaya bawang daun adalah dataran tinggi
antara 900-1700 m diatas permukaan laut dan dapat pula
berperoduksi dengan baik pada keting gian antara 1000-1200 m
diatas permukaan laut, suhu antara 19º-24º C dan kelembaban udara
berkisar antara 80%-90%.
Adapun sarat tanah yang ideal untuk tanaman bawang daun
adalah subur , gembur banyak mengandung bahan organuk dengan
pH 6,5-7 (Sunarjono, 2003), pernyataan ini sesuai dengan pendapat
Rukman (1995) dan Nazaruddin (1999) yang mengatakan bahwa
kondisi tanah yang baik untuk konoditi bawangh daun adalah tanah
yang subur,gembur,dreainase dan aerase baik dengan pH antara 6,5-
7,5.
Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura SMKN 1 Karangtengah

C. Teknik budidaya
Tanaman bawang daun mempunyai daya adaptasi yang cukup
luas terhadap lingkungan [Link] karena itu tanaman
bawang daun dapat ditanam (dibudidayakan) mulai dari dataran
rendah sampai dengn dataran tinggi (pegunungan). Menurut
indikator kondisi iklim yang ada,daerah cocok menjadi pusat
(sentra) penanaman bawang daun diantaranya adalah Jawa barat,
Jawa timur, dan Jawa tengah yang pada umumnya daerah-daerah ini
mempunyai hawa yang sejuk dan termasuk dataran tinggi.

Bawang daun dapat tumbuh dan berperoduksi dengan baik


pada daerah-daerah yang mempunyai ketinggian tempat antara 250-
1700 meter diatas permukaan laut, dengan curah hujan sekitar 1500-
2000 mm per tahun, memiliki temperatur kurang lebih 18º-32ºC dan
kelembaban sekitar 80%-90%.
Kondisi tanah yang paling baik untuk pertumbuhan bawang
daun antara lain adalah tanah subur, gembur dan banyak
mengandung bahan organik, drainase dan aerasi tanahnya baik (tidak
becek atau menggenang), reaksi tanah (Ph) netrtal yakni antara 6,5-
7,5. Pada eraksi tanah rendah (asam=kurang dari 6) sebaiknya
dilakukan pengapuran pada saat penolahan tanah.
Adapun tata laksana daripada teknik budidaya bawang daun
berdasarkan reperensi yang penulisan peroleh adalah sebagai
berikut:
Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura SMKN 1 Karangtengah

 Penyiapan bahan tanam


Bawang daun dapat diperbanyak dengan dua cara yaitu
secara generatif berupa biji-bijinya maupun secara vegetatif
yakni berupa setek tunas atau anakan-anakannya. Perbanyakan
tanaman
bawang daun dengan cara generatif (biji) dilakukan
melalui persemaian terlebih dahulu selama kurang lebih 2
bulan namun oada umumnya (khususnya) parapetani memilih
melakukan perbanyakan tanaman dengan cara vegetatif yaitu
dengan menggunakan setek tunas atau anakannya. Ini
dikarenakan para petani beranggapan bahwa dengan
menggunakan bibit yang berasal dari setek tunas (anakan)
lebih mudah dan peraktis untuk dilakukan.

 Penyiapan lahan
Bawang daun dapat ditanam pada lahan-lahan kering
(ladang atau tegalan) maupun lahan basah (sawah) dengan
menggunakan pola tanam yang serasi (sesuai deng musim
tanam).
Penyiapan lahan atau pengolahan tanah untuk tanaman
bawang daun sebaiknya dilakukan kira-kira 25-30 hari
sebelum tanam. Kegiatan penolahan tanah ini mempunyai
tujuan untuk
memperbaiki fisik, kimia, dan biologis tanah

Agar peroduksi tanaman bawang daun mencapai hasil


yang maksimal maka lahan yang akan dijadikan tempat untuk
menanam bawang daun terlebih dahulu haris diolah
sedemikian rupa atau dilakukan pengolahan tanah yang baik.
Adapun tatacara penyiapan lahan untuk tanaman bawang daun
(brkebun) antara lain sebagai berikut:

 Pembersihan lahan dengan cara membuang rumput gulma,


kerikil dan sisa tanaman lainnya.
Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura SMKN 1 Karangtengah

Gambar 1. Persiapan Lahan

 Tanah diolah dengan cara dicangkul atau dibajak


sedalam 30-40 cm hingga seteruktur tanah menjadi
gembur
 Setelah itu membuat parit keliling untuk pemasukan
dan pengeluaran air.
 Buat bedengan selebar 80-100 cm, tinggi bedengan
30-40 cm,jarak antara bedengan 30-35 cm, dengan
panjang tergantung atau disesuaikan dengan kondisi
lahan.

Gambar 2. Pembuatan Bedengan

 Berikan atau sebarkan pupuk dasar berupa pupuk


kandang lebih sebanyak 10-15 ton/ha atau pupuk
organik super dengan dosis 2,5-3,5 ton/ha pada
Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura SMKN 1 Karangtengah

 permukaan bedengan kemudian campurkan hingga


merata dengan tanah.

Gambar 3. Pemupukan Dasar

 Ratakan permukaan bedengan dengan cangkul atau


denggan papan hingga siap untuk ditanam.
 Pemasangan mulsa pelastik hitam perak ( MPHP)
Bedengan yang sudah diolah dan telah diberi pupuk
dasasar didutupi dengan mulsa pelastik hitam perak.
Warna perak dari mulsa ini diletakan dibagian atas
dan hitam dibagian bawah.

Gambar4. Pemasangan Mulsa ( MPHP )

Alasan pemasangan mulsa pelastik hitam perak


tersebut lebih baik karena pelastik dapat
memantulkan cahaya serta menjaga kesetabilan suhu
dan kelembaban tanah sehingga menjamin kondisi
yang baik bagi pertumbuhan tanaman. Keebutuhan
Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura SMKN 1 Karangtengah

mulsa pelastik ini berbeda sesuai dengan ukuran


bedengan. Ukuran bedengan 1,2x10 m diperlukan 1
kg mulsa pelastik berukuran lebar 1,2 cm dan panjang
22,5 m. Penanaman bawang daun dilakukan 7 hari
setelah pemasangan mulsa plastik.
 Pembuatan lubang tanam /membolongi mulsa
Membolongi mulsa untuk lubang tanam dengan alat
pembolong mulsa memakai media pembakaran seperti
pakai arang atau pakai kaleng bulat yang diisi arang,
dan bisa juga membolongi mulsa atau lubang tanam
dengan cara dibolongi dengan pisau karter dengan
jarak antar lubang 15 cm x 20 cm.

Gambar5. Pembuatan Lubang Tanam

D. Penanaman
menjadi [Link] itubasahi tanah dengan
melakukan penyiraman.

Namun menurut Rukmana (1995), bibit bawang daun


yang siap ditanam sebaiknya direndam terlebih dahulu
dalam larutan fungisida sepert Benlate atau Orthocide
pada konsentrasi 30% -50% dari dosis anjuran selama 10-
15 menit.

Bedengan yang akan ditanami bawang daun


dipupuk terlebih dahulu dengan Tsp 400 kg/ha dan Kcl
200 kg/ha yang dicampur merata dengan tanah. Buat
lubang tanam pada jarak 20x20 cm. Kemudian isi setiap
lubang dengan satu batang bawang daun. Penanaman
adalah dengan membenamkan pangkal batang (bibit) pada
lubang tanam diatur secara tegak lurus (berdiri) ataupun
Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura SMKN 1 Karangtengah

direbahkan kesatu arah (biasanya kearah timur). Keadaan


tanah disekitar pangkal batang dipadatkan pelan-pelan
agar perakaran dapat kontak langsung dengan air tanah.

Gambar 6. Penanaman Bawang Daun

Kegiatan penanaman bawang daun ini dilakukan


sebaiknya pada pagihari atau sore hari. Bila kondisi air
tidak memadai bawang daun akan tumbuh pada umur 7-
15 hari setelah tanam.
`
E. Pemeliharaan
Kegiatan pemeliharaan bawang daun terdiri dari
penyiraman, penyulaman, penyiangan, (pendaniran),
pemupukan dan pemangkasan tangkai bung dan daun yang
telah tua.

1. Penyiraman (pengairan)
Pada setadium awal pertumbuhan, bibit bawang daun
memerlukan pengairan yang cukup. Oleh kareha
itu,penyiraman dilakukan secara rutin satu sampai dua kali
sehari atau trgantung cuaca dan tanah. Sat melakukan
penyiramankeadan tanah tidak terlalu basah karena dapat
menyebabkan akar busuk.
Pengairan (penyiraman) berikutnya berangsur-ansur
dikurangi yakni tiga sampai limahari sekali atau
tergantung kering tidaknya [Link] penyiraman ini
sebaiknya dilakukan pada pagi hariatau sore hari.
Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura SMKN 1 Karangtengah

2. Penyulaman
Penyulaman dilakukan apa bila tterdapat bibit yang
tidak tumbuh (mati) atau busuk dan tidak
[Link] dilakukan dengan mengganti bibit
yangmati dengan bibit yang baru. Penyulaman sebaiknya
dilakukan seawal mungkin (tidak lebih dari 15 hari setelah
tanam ) agar pertumbuhan seragam, halini untuk
memudahkan pemeliharaan tanaman berikutnya.

Gambar 7. Penyulaman

3. Penyiangan (pendangiran)
Penyiangan gulma minimal dilakukan dua kali, yaitu
pada waktu tanaman berumur 3-4 minggi dan diulang
sekitat 6minggu setelah tanam. Penyiangan dilakukan
dengan cara mencabut rumput-rumput liar atau tumbuhan
lain yang tumbuh lain yang ada diarea penanaman bawang
daun dengan tangan atau koretd secara hati-hati agartidak
merusak perkembangan tanaman.
Rumput-rumput tersebut dikumpulkan dan diangkut
kepenampungan limbah. Bersama dengan dilakukan

Gambar 8. Penyiangan
Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura SMKN 1 Karangtengah

penyiangan dilakukan pendangiran yaitu dengan


menggemburkan tanah disekitar tanaman.
4. Pemupukan
Menurut Sunarjo (2003) bawang daun mulai dipupuk pada
pada umur 3-4 minggu setelah tanam menggunakan pupuk
urea sebanyak 600 kg/ha. Sedangkan Nazaruddin (1999)
menyatakan bahwa pemupukan urea dilakukan sebanyak dua
kali yaitu pada saat tanaman berumur 3 minggu setelah tanam,
sebanyak 200 kg/ha dan padasat berumur 6 ninggu setelah
tanam sebanyak 100 kg/ha.
Pernyataan ini sependapat dengan Rukman (1995) yang
mengemukan bahwa pemupukan bawang daun biasanya
dilakukan bersamaan dengan penyiangan. Jenis pupuk yang
digunakan yaitu urea sebanyak 30 kg/ha atau ZA 600 kg/ha.
Pupuk dapat diberikan dengancara disebar secara merata
dalam larikan diantara barisan [Link] ditutup
dengan tanah tipis.
Pada kondisi pertumbuhan tanaman kurang subur, dapat
diberikan pupuk organik Amino Age sebanyak 1,2-2 cc/liter.
Pupuk organik ini diberikan pada saat tanaman berumur 10
hari setelah tanam dengan cara disemprotkan pada tanaman
atau dikocorkan ketanah. Pemberian pupuk organik ini
kemudian diulang 7-10 sekali secara berturut-turut sebanyak 3
sampai 4 kali.
5. Pembuangan daun kering dan bunga
Menurut Rukmana (1995), pada saat tertentu akan
bermunculan (tumbuh) tangkai bunga dan daun-daun tua yang
menguning sehinnga perlu di potong atau dibuang atau
dipangkas. Tujuan pemangkasan tersebut adalah untuk
menjaga kebersihan kebun dan tanaman serta untuk
merangsang pertumbuhan anakan dan daun yang lebih
banyak,serta untuk menghilangkan sarang hama dan penyakit
yang ada pada daun bawang.
6. Pengendalian hama dan penyakit
Menurut Rukmana( 1995 ), beberapa jenis hama dan
penyakit penting yang menyerang tanaman bawang daun
adalah sebagai berikut :
Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura SMKN 1 Karangtengah

Gambar 9. Pengendalian Hama

 Ulat bawang ( spodoptra exiqua Hbn ).


Halini disebut juga sebagain ulat gerayak dengan
nama lain sepodoptera exqua Hubn. Kumpulan (koloni)
ulat yangmasih kecil akan membuat lubang pada daun,
kemudian masuk pada daun dan merusak dan memakan
daging daun sebela dalam. Daun bawang yang terserang
tanpak bercak-bercak putih dekat dengan lubang tersebut
akan kotoran ulat. Pada serangan yang sangat berat
menyebabkan daun-daun rusak sehingga menurunkan
kualitas dan kuantitas hasil panen atau tidak laku dijual.
Serangga dewasa berupa kupu-kupu kecil (ngengat)
yang berwarna abu-abu. Seekor serangga betina dapat
bertelur antara 500-600 butir dengan bentuk lonjong atau
bulat telur yang ditutupi oleh lapisan tipis. Lava yang baru
menetas hidup kelompok, namun setelah besar hidup

[Link] atau kepompong dibentuk diatas


permukaan tanah dan siklus hidup hama berlangsung
sekitar tiga minggu.
Pengendalian ulat ini dapat dilakukan baik secvara
non-kimiawi mampu secara kimia. Secara non-kimia
dapat dil;akukan dengan cara rotasi tanaman yang bukan
sefamili Liliaceae,menjaga sanitasi kebun dari gulma atau
sisa-sisa tanaman, mengatur waktu tanam yang serempak.
Pengendalian secara kimia dapat dilakukan dengan
menggunakan sex pheromone seperti Ugratus biru,
Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura SMKN 1 Karangtengah

insektisida berupa Hostathion 40 EC, Orthene 75 sp,


Cascade 50 EC atau Penon 30 EC pada konsentrasi sesusi
anjuran.
 Ulat tanah (Agrotis ipsilon Hufn)
Tanaman bawang daun yang terserang ulat ini akan
terkulai layu karena pucuk-pucuknya dipotong pada bagian
pangkalnya. Pada serangan yang berat dapat menyebabkan
terhanbatnya pertumbuhan bawang daun walaupun mampu
bertunas kembali.
Pengendalian secara non-kimiawi dapat dilakukan
dengan mengumpulkan lulat pada senja atau pada malam
hari,kemudian membunuhnya. Menjaga sanitasi kebun dan
melakukan pergiliran tanaman.
Pengendalian secara kimia dapat dilakukan dengan
menyemprotkan insektisida seperti Dipterex 95 SL,
Dusban 20 EC, atau Hostathion 40 EC dengan
konsenterasi sesuai anjuran.
 Thrips(thrips tabaci Lind.)
Gejala serangan hama ini adalah ditandai dengan
adanya daun yang berwarna putih mengkilat seperti perak.
Pada serangan berat daun bawang seluruhnya berwarna
putih. Hama ini biasanya menyerang bibit pada keadaan
suhu udara tinggi (diatas rata-rata normal) dengan
kelembaban udara diatas 70%
Pengendalian non-kimiawi dapat dilakukan dengan
cara rotasi tanaman yang bukan famili, mengatur waktu
tanam yang baik dan serempak serta memasang perangkap
yang disebut Insect Adhesieve Trap Paper (IATP) asal
Taiwan.
Pengendalian secara kimia dilakukan dengan
menyemprotkan insektisida seperti Mesurol 50 WP pada
konsentrasi yang dianjurkan.

 Bercak ungu (Alternaria porri (Eii.) Cif)


Gejala serangan penyakit ini ditandai dengan adanya
bercak-bercak kecil, melekuk berwarna putih sampai
kelabu, kemudian bercak tersebut membesar dan warnanya
berubah nenjadi agakeunguan. Tepi daun yang terserang
menjadi berwarna kemerah-merahan atau keunguan yang
Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura SMKN 1 Karangtengah

dikelilingi warna kuning. Lambat laun ujung daun


mengering.
Serangan yang berat dapat menyebabkan pembusukan
pada pangkal batang atau leher akar yang ditandai dengan
warna kuning sampai kecoklatan.
Pengendalian secara no-kimiawi dapat dilakukan
dengan memperbaiki drainase, rotasi tanaman dan
menggunakan bibit bibit yang sehat. Pengendalian secara
kimia dilakukan dengan menyemprotkan fungisida seperti
Dithan M-45, Orthocide 50 WP, atau Difolatan 4 F pada
kosentrasi sesuai anjuran.
 Busuk daun (peronospara destructor (Berk) Calp)
Penyebab penyakit ini adalah cendawan yang di sebut
embun palsu atau tepung palsu (downy mildew). Penyakit
ini mudah berkembang dan berjangkit pada musim hujan,
terutama bila suhu udara malam hari rendah dan lembab.
Gejala serangan penyakit ini di tandai dengan
timbulnya bercak hijau pucat pada ujung daun, kemudian
berubah menjadi kuning atau lembayung, lambat laun
daun-daun akan layu dan mengering (mati) yang di tandai
dengan warna putih di liputi oleh jamur hitam.

Gambar 10. Pengendalian Penyakit

Pengendalian secara non-kimia dapat di lakukan


dengan penggunaaan bahan tanah atau bibit yang sehat,
pemusnahan sisa-sisa tanaman setelah panen dan rotasi
tanaman yang tidak sefamili. Pengendalian secara kimia
dapat di lakukan dengan menyemprotkan fungisida
Dithane M-45, Antracol 70 WP, atau Daconil 75 WP pada
konsentrasi sesuai anjuran.
Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura SMKN 1 Karangtengah

 Busuk leher batang (Botrytis alli munn)


Penyebab penyakit ini adalah jamur atau cendawan.
Gejala serangan di tandai dengan terserangnya leher
batang sehingga menjadi lunak, berwarna kelabu seperti
disiram air panas dan akhirnya busuk dengan bentuk
melekuk.
Pengendalian secara non-kimiawi di lakukan enggan
penggunaan benih atau bibit yang sehat, rotasi tanaman
yang bukan famili, perbaikan drainase dan menjaga
sanitasi kebun.
Secara kimiami dapat dikendalikan dengan cara
menyemprotkan fungisida seperti Dithane M-45 atau
Daconil 75 WP pada konsentrasi sesuai anjuran.

 Antraknosa (colletrolichum gloesporaides Penz)


Penyakit ini di sebabkan oleh cendawan yang di kenal
sebagai penyakit otomatis karena tanaman yang sakit pasti
akan mati. Gejala serangan adalah rebahnya daun-daun
bagaian bawah akibat mengecilnya pangakal daun dan
tanaman mati secara mendadak.
Pengendalian secara non-kimiawi dapat di lakukan
antara lain dengan menggunakan bibit yang tahan,
mencabut tanaman yang terserang, perbaikan drainase dan
memusnahkan sisa-sisa tanaman. Pengendalian secara
kimia dapat di lakukan dengan menyemprotkan fungisida
Antrocol 70 WP atau Daconil 75 WP pada konsentrasi
sesuai anjuran.

G. Pemungutan hasil

Menurut Sunarjono ( 2003 ), bawang daun sisap


untuk dipanen padasat ber umur 2,5 bulan setelah tanam.
Pendapat ini sesuai dengan pendapat Rukmana ( 1995 ),
yang menyatakan bahwa ciri-ciri bawang daun siap panen

apabila tanaman telah ber umur 2,5 bulan setelah tanam


( jika menggunakan bibit tunas ) atau 5 bulan jika
menggunakan benih asal biji. Jumlah anak atau rumpun
yang telah banyak atau maksimal, beberapa helai bawang
mulai menuning atau mengering.
Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura SMKN 1 Karangtengah

Bawang daun dapat dipanen dengan cara mencabut


seluruh rumpun tanaman atau membongkarnya dengan
alat bantu cangkul atau koret secara hati-hati. Pada
penanaman yang baik dan varietas yamg diginakan
tergolong unggul,bawang daun dapat menghasilkan 10-40
ton/ha.
H. Pasca panen
Bawang daun biyasanya dsipasarkan dalam bentuk
seragam. Oleh karena itu, kesegaran dan daya simpan
bwangndaun perlu dipertahankan dengan baik . beberspa
kegiatan pokok dalam pasca panen bawang daun untuk
tujuan pemasaran lokal adalah sebagai berikut , Rukman
(1995):
o Pengumpulan
Hasil panen bawang daun segera diukumpulkan
disuatu tempat penampungan sementara yang letaknya
setrategis dan teduh.

Gambar 11. Pemanenan


o Pembersihsn
Di tempat penampungan sementara, rumpun-rumpun
bawang daun dibersihksn dsri tanah yang menempel
setelah sebagian [Link] itu juga dibuang
bsgisn tanaman yaitu daun yang rusak atau yang kering.
o Pengikatan
Hasil bawang daun yang telah dibersihkan dari
kotoran atau bagian tanaman yang rusak, kemuidian diikat
Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura SMKN 1 Karangtengah

menurut ukuran atau bobot trtentu sesuai dsngan


keperaktisan dalamsegi pemasaran. Untuk pasaran lokal
yang jaraknya relatuv dekatsetiap ikatan berkisar antara
25-50 kg.
 Pengangkutan
Pengangkutan kepasar lokal dapat dilakukan
dengan cara dipikul atau menggunakan kendaraan,
 Penyimpatan
Sebelum dipasarkan, bawang daun yang telah
dipanen sebaiknya disimpan di tempat yang teduh dan
bersuhu rendah. Khusus untuk tujuan pemasaran
ekspor, penanganan pasca panen bawang daun yang
harus dilakukan antara lain melalui tahap sebagai
berikut :
 Pembersihan

Gambar 12. Pembersihan

Rumpun-rumpun bawang daun ditempat


penanpungan dibersihkan dari tanah yang melekat dan
sebagaian akarnya dipotong. Bagian-bagian yang rusak
dikelupaskan (trimming).
 Pernyortiran
Dari sekumpulan rumpun bawang daun dalam
bagai ukuran dilakukan penyortiran atau pemisahan
berdasarkan kelas mutu. Pada sekala penelitian, mutu
Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura SMKN 1 Karangtengah

bawang daun dibedakan atas dua kelas yaitu ukuran


besar apabila diameter batangnya antara 1,5-2 cm dan
lingkaran kecil apabila diameter batangnya antara 1,0-
1,4cm.
 Pencucian
Peruduk bawang daun yang telah disortir
segera dicuci dengan air bersih yang mengalir atau
airnya disemprotkan, kemudian dikeringkan di tempat
yang teduh.
 Pemotongan ujung daun
Ujung-ujung daun dipotong sekitar 10 cm
hingga tingal sebagian daun dan batang yang berwarna
putih.

Anda mungkin juga menyukai