SKEMA MATA RANTAI PEMASARAN
Konsumen
Tengkulak
Pedagang npengepul
Produsen (petani)
Konsumen
Agen
Konsumen
Pasar swalayan
Pembahasan
Bawang daun merupakan salah satu tanaman yang mempunyai daya adaptasi yang
cukup luas. Hal ini dapat dibuktikan salah satunya dengan iklim yaitu tanaman bawang daun
dapat tumbuh dengan ketinggian 200-1700 m diatas permukaan laut. Suhu (temperatur)
antara 18®-32®c curah hujan antara 1500-2500 mm per tahun.
Kondisi iklim yang didasarkan pada referensi di atas sekitar banyaknya mempunyai
kecocokan dengan kondisi iklim yang ada di desa sarampad . Desa ini memiliki ketinggian
rata-rata 8 m diatas permukaan laut. Di tempat penulis melaksanakan Peraktek Kerja
Industri (PERAKERIN) ini diperkirakan ketinggian lebih dari 880, hal ini disebabkan karena
tempat tersebut bnerada jauh di atas pusat (kantor) desa. Konfdisi iklim sehari –hari desa
sarampad ini mempunyai hawa yang sejuk, kadang-kadang di selimuti kalbutyang cukup
tebal, sehingga teperatur rata-ratanya hanya mencapai 24®. Curah hujan rata-rata yang
terjadi cukup tinggi yaitu mencapai 3250 mm/tahun.
Salah satu kendala yang ada dalam peroses budidaya bawang daun di desa sarampad ini
keadaan curah hujan yang cukup tinggi. Namun hal ini bagi masyarakat peribumi bukan
merupakan hambatan yang vital, sebab para petani umumnya dapat menanggulangi masalah
ini dengan cara melakukan kegiatan penyemperotan yang interval waktunya telah
ditentukan. Kegiatan ini telah diakui oleh para petani ternyata efektip. Selain iklim masalah
diatas,hambatan lainya adalah serangan hama dan penyakit. Hama utama yang sering
menyerang tanaman bawang daun pada saat ini dilapangan adalah hama ulat dau bawang
(Spodoptera exiqua Hbn). Hama ini menyerang dengan cara, ulat yang baru menetas
melubangi daun bawang kemudian masuk dan memakan daging daun sebelah dalam.
Serangan ini menyebabkan tanaman bawang daun kehilangan hijau daun (kloropil) sehingga
yang tertinggal hanya kulit luar (lapisan epidermis) saja. Pada serangan berat dapat
mengakibatkan daun-daun nenjadi rusak, bahkan kemungkinan tidak laku dijual ke pasar,
sedangkan penyakit utama yang menyerang tanaman penyakit busuk leher batang (bottrotys
allii munn.) yang disebabkan oleh jamur atau cendawan. Penyakit ini menyerang leher
batang sehgingga menyebabkan busuk, kemudian tanaman menjadi [Link] ini
kemudian merambat sampai pangkal daun tanaman dan menimbulkan bau tidak sedap.
Menurut pengalaman petani yang ada di desa sarampad hama dan penyakit diatas
dapat dikendalikan sangat mudah. Hana ulat daun misalnya dapat dikendalikan dengan
pestisida kimia. Racu insektisida yang lazim (umum) dipergunakan oleh petani setempat
insektisida curaccron dengan konsenterasi 0,2-0,3% untuk penyakit busuk leher batang ini
dapat dikendalikan dengan menggunakan pestisida untuk mengendalikan jamur (cendawan)
karena penyakit ini disebabkan oleh serangan jamur. Jenis pestisida yang sering digunakan
oleh para petani adalah fungisida Antracol. Jumlah peroduksi atau peroduktivitas
tanaman bawang daun didesa sarampad ini cukup baik. Ini dapat diketahui dari jumlah
peroduksiyang bawang daun yang bihasilkan. Jumlah peroduksi rata-rata tanaman bawang
daun didesa sarampad adalah antara 3-4 ton per hektart. Jumlah peroduksi ini dapat setabil,
apabila pelaksanaan budidaya sesuai dengan perosedur yang seharusnya dilakukan. Dengan
kata lain, meskipun bawang daun ditanam dimusim penghujan peroduksinya akan sama
minimalnya jumlah peroduksi yang dihasilkan tidak jauh berbeda papabila bawang daun
ditanam pada musim kemaraui.
Analisa usahatani bawang daun
gambaran kelayakan suatu usaha tani dapat dilhat dari analisis komoditi yang
ditanam. Tidak hanya desar modal dan keuntungan yang dapat diketahui, tetapi aspek
penunjang kelancaran lainya juga harus disimak.
Komoditas sayuran nemang tidak semuanya memiliki nilai komersial yang
tinggi. Ada berapa jenis yang ditanam sebagai sambilan (dengan pola tanam tumpang
sari) dan ada juga yang diusahakan dalam sekala besar dengan tujuan mengejar tujuan.
Komoditas sayuran yang tergolong mempunyai nilai komersial yang cukup tinggi
diantarany adalah cabai, tomat, bawang merah, bawang daun, bawang putih, selada dan
sawi. Jenis sayuran yang kadar komarsinya lebih rendah dari jenis diatas antara lain
kacang panjang, labu, kangkung, pare, mentimun, kemangi, bayam, kecipir dan terong.
Tingkat keuntungan yang bisa diperoleh tergantung pada biyaya yang
dikeluarkan dan harga komoditas tanaman yang ditanam. Pada analisi inijuga disertakan
biyaya sewa lahan, namun untuk buang modal sengaja tidak diikut sertakan. Hal ini
karena modal yang dipergunakan adalah modal pribadi. Analisi ini adalah sebagai
gambaran bagi kalangan yang tertarik untuk mengusahakannya, tetapi tidak mempunyai
lahan sendiri. Bagi petani atau pemilik biyaya sewa lahan ini biyasanya diabaikan
sehingga lebih irit. Akan tetapi pajak, ipeda, dan pengeluaran sehubungan dengan biyaya
lahan tetap dihitung. Biyaya pembelian bibit, pupuk,
pestisida juga diperhitungkan. Selain itu biyaya yang tidak kalah besarnya mencangkup
biyaya tenaga kerja. Sejak pengolahan lahan sampai panen tenaga kerja selalu
dibutuhkan. Tenaga kerja disini dibedakan atas tenaga kerja peria yang dihitung dengan
HKP (hari kerja peria) dan tenaga kerja wanita yang dihitung dengan HKW (hari kerja
wanita). Tenaga kerja peria dibayar lebih mahal daripada pekerja wanita, karena tingkat
pekerjaan yang dilakukan lebih berat. Untuk pekerjaan yang sama, tenaga kerja peria
ditargetkan untuk menyelesaikan 2 (dua) kali lipat pekerjaan wanita. Itulah sebab tenaga
kerja peria dibayar 2 (dua) kali lipat dari tenaga kerja [Link] laporan ini akan
membahas mengenai analisi usahatani pada pola tanam monokultur. Analisi pola tanam
ini, dipilih bawang daun sebagai komoditasnya. Kebutuhan bawang daun bagi
masyarakat indonesia sangat besar. Hampir seluruh kalangan masyarakat
membutuhkanya, baik itu untuk kebutuhan rumah tangga, rumah makan, hotel dan
campuran makanan olahan. Analisi berikut dibuat
dengan nengambil lokasi usaha di desa sarampad, Kecamatan Cugenang, Kabupaten
Cianjur(Jawa Barat). Tingkat harga yang digunakan adalah harga yang berlaku di Cianjur
pada bulan Oktober 2004. Untuk daerah lainnya di
indonesia, perhitungan analisi usaha bisa berbeda. Oleh karena itu penyesuaian beben
biaya dan harga jual perlu ditinjau kembali.
Analisi Usaha Budidaya Tnaman Bawang Daun Untuk 1 Musim Tanaman (1 Hektar)
No Uraian Volume Harga satuan Jumlah Total
(RP) biyaya(RP)
1 2 3 4 5
1 INPUT
A. Biyaya Tempat
1. Sewa tanah 1 MT Rp.2.500.000 Rp.600.000
2. Penyusutan alat
Cangkul 3 MT Rp.40.000 Rp.10.000
Handsprayer 4 MT Rp.240.000 Rp.60.000
Jumlah biyaya tetap (BT) Rp.620. 000
B. Biyaya Varabel
1. Pembelian bibit 600 Kg Rp 2.000 Rp.1.200.000
2. Pupuk anorganik
Pupuk Urea 400 Kg Rp.1250 Rp.600.000
Pupuk TSP 150 Kg Rp.1800 Rp.270.000
Pupuk KCI 150 Kg Rp.1900 Rp.380.000
Pupuk NKP 100 Kg Rp.2500 Rp.250.000
3. Pupuk organik
Pupuk kandang 5000 Kg Rp.80 Rp.400.000
4. Pestisida
Insektisida “Curacron” 2 liter Rp.180.000 Rp.360.00
Fungisida “Antracol” 4 Kg Rp.45.000 Rp.270.000
5. Tenaga kerja
Pengolahan tanah 105 HOK Rp.15.000 Rp.1.575.000
Penanaman 15 HOK Rp.10.000 Rp.150.000
Pemeliharaan
Penyiraman 20 HOK Rp.15.000 Rp.300.000
Penyiangan 20 HOK Rp.10.000 Rp.200.000
Pemupuken 20 HOK Rp.10.000 Rp.200.000
pembumbunan 8 HOK Rp.10.000 Rp.80.000
Jumlah total seluruh biyaya (jumlah input) = BT+BV
Penyemprotan 15 HOK= Rp.670.000,- + Rp.5895.000,-
Rp.15.000 Rp.225.000
1. Pemungutan hasil = Rp.6.565.000,-
o Pemanenan 15 HOK Rp.15.000 Rp.225.000
o pengangkutan 5 HOK Rp.15.000 Rp.75.000
Pendapatan (Output)
Jumlah peroduksi adalah 4,25 ton – 4.250 Kg
Harga/Kg = Rp.2.500
Pendapatan (Output) = jumlah peroduksi X Harga/Kg
= 4.250 Kg X Rp. 2.500,-
= Rp. 11.250.000
Jumlah biyaya variabel (BV) Rp.5.895.000
1. Keterangan : MT= musim tanam, HOK = Hari Orang Kerja
a. Penerimaan = Rp.11.250.000,-
b. Biyaya (cost ) =Rp.9.230.000,-
c. Proyeksi rugi laba = Rp.11.250.000,00 – Rp.8.615.000,00
( keuntungan) =Rp.2.170.000,00
2. Revenue Coset Ratio (R/C)
R/C = Jumlah penerima
Biyaya total
= Rp. 11.250.000,00
Rp. 5.895.000,00
=1,75
Artinya :
dengan mengeluarkan (menginvestasikan) biyaya sebesar Rp.1.00 maka akan
menghasilkan Rp.1,21 atau akan mendapatkan keuntungan 0,21”
BAB V
KESIMPULAN
Dengan adanya peraktek kerja industri (PERAKERIN) 1 yang telah dilaksanakan
yang ,kurang lebih 3 (bulan), dapat dirasakan bahwa pwngetahuan mahasiswa menjadi lebih
meningkat yang kehususnya perampil dalam budidaya tanaman bawang daun.
Berdasarkan hasil peraktek kerja industri (PERAKERIN) 1 ini, penyusunan dapat
mengambil diantaranya sebagai berikut :
Pada budidaya dilaksanakan oleh masyarakat setempat terdapat sedikit perbedaan dalam
pemeliharaan, yaitu dengan adanya perlakuan pembumbunan.
Peroduktivitas tanaman bawang daun di desa sarampad ini cukup tinggi yaitu antara 2,5 –
4,5 ton/ha
Apa bila kita simak dari hasil analisi usahatani dapat dikatakan usahatani yang dilakukan
oleh masyarakat desa sarampad adalah menguntungkan.
Hal yang sangat potensi menyerang tanaman bawang daun ulat bawang (Sepodoptera
exiqua hubn) atau para petani menyebutnya dengan nama ulat gerayakni (ulat gerayak),
sedangkan untuk penyakit yang juga sangat membahayakan selama peroses budidaya
berlangsung adalah penyakit busuk leher batang (Bollrytis alli. Munn).
Para petani sudah biyasa melakukan pengndalian hama dan penyakit dengan pektisida
sintetis (kimia) dengan dosis yang selalu dilebih kan dari yang dianjurkan,sedangkan
untuk pengendalian secara mekanis maupun kultur teknis masih sangat jarang dilakukan.
Hal ini karena para petani beranggapan bahwa pengendalian hama secara non
kimiakurang efektif dan efisien.
Teknis pemasaran yang dilakukan oleh masyarakat setempat kebanyakan adalah hasil
peraduksi yang telah dihasilkan ini ditawarkan (dijual) langsung ketengkulak atau
pemborong.
Pada pelaksanaan peraktek kerja industri (PERAKERIN) 1 penyusunan hanya terampil
dalam bidang pemeliharaan saja , yaitu dalam hal penyiangan dan penyiraman. Hal ini
karena waktu yang sedikit sangat sempit sewhingga tidak dapat mengikuti kegiatan
budidaya dari awal .
DAFTAR PUSTAKA
Nazarudin. 1993 Budidaya dan Pengaturan Panen sayuran Dataran Rendah.
Penebaran swadaya. Jakarta.
Rukman, Rahmat.1995. Budidaya Bawang Daun.K0nisius. Yogyakarta.
Warim. 2004. Amalisi Dan pendapatan usaha Bawang Daun Berdasar Penggunaan pupuk
Organik Dan pupuk An Organik Di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. STPP
Jurluhtan. Bogor.
Yuniara, Yuyun. [Link] Penggunaan Pestisida Sitensis Dengan Pemangfaatan
Pestisida Nabati Untuk Meningkatkan Kualitas Bawang Daun (Allium fistulalosum.
L) Dan Pendapatan Petani Di Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur. STPP
[Link].