BAB II
LANDASAN TEORITIS, ANGGAPAN DASAR DAN HIPOTESIS
2.1 Hasil Belajar
2.1.1 Pengertian Hasil Belajar
Menurut Morgan (Suprijono, 2013: 3), “Belajar adalah perubahan perilaku
yang bersifat permanen sebagai hasil dari pengalaman. Pengalaman belajar ini
tentu akan didapat dalam kegiatan proses belajar”. Hamalik (2013: 27) juga
berpendapat bahwa, “Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan
melalui pengalaman”. Dengan demikian, belajar merupakan suatu proses usaha
yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru
secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri.
Belajar diartikan Trianto (2013: 17), “Sebagai proses perubahan perilaku
tetap dari belum tahu menjadi tahu, dari tidak paham menjadi paham, dari kurang
terampil menjadi lebih terampil, dan dari kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru,
serta bermanfaat bagi lingkungan maupun individu itu sendiri”. Hal ini berarti
dengan belajar, manusia dapat melakukan perubahan-perubahan sehingga individu
tersebut dapat berkembang dan bermanfaat bagi lingkungannya maupun dirinya
sendiri.
Menurut Pribadi (2009: 6), “Belajar adalah kegiatan yang dilakukan oleh
seseorang agar memiliki kompetensi berupa keterampilan dan pengetahuan yang
diperlukan. Belajar juga dapat dipandang sebagai sebuah proses elaborasi dalam
upaya pencarian makna yang dilakukan oleh individu”. Hal ini sejalan dengan
9
10
Robert M (Pribadi, 2009: 6), “Belajar juga dipandang sebagai proses alami yang
dapat membawa perubahan pada pengetahuan, tindakan dan prilaku seseorang”.
Artinya, belajar merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh individu untuk
mendapatkan keterampilan dan pengetahuan.
Hal ini tentu disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, karena pada
dasarnya pencapain tujuan pendidikan dan pengajaran dalam wujud pemahaman
terhadap materi yang disajikan dan dipelajari serta ditargetkan untuk dimiliki oleh
siswa yang sedang belajar. Target pencapaian itu sering diwujudkan dalam
bentuknya yang kongkret yaitu berupa hasil belajar.
Menurut Aunurrahman (2012: 37), “Hasil belajar merupakan perubahan
tingkah laku yang dapat diamati”. Hasil belajar juga menurut Hamalik (2013: 31),
“Merupakan pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap,
apresiasi, abilitas dan keterampilan”. Hal ini juga sejalan dengan Burton
(Hamalik, 2013: 31), yang menyebutkan sebagai berikut.
Hasil-hasil belajar sacara fungsional bertalian satu sama lain tetapi dapat
didiskusikan secara terpisah. Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan,
nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, abilitas dan
keterampilan. Hasil-hasil belajar dilengkapi dengan jalan serangkaian
pengalaman-pengalaman yang dapat dipersamakan dan dengan
pertimbangan yang baik.
Dengan demikian, hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku yang
meliputi pola-pola perbuatan, nilai, pengertian, sikap, apresiasi, abilitas serta
keterampilan seseorang. Selanjutnya Kingsley (Sudjana, 2010: 45), “Membagi
tiga macam hasil belajar, yaitu keterampilan dan kebiasaan, pengetahuan dan
pengertian serta sikap dan cita-cita, yang masing-masing golongan dapat diisi
dengan bahan yang ditetapkan dalam kurikulum sekolah”. Hal ini berarti hasil
11
belajar dibagi menjadi tiga yaitu keterampilan dan kebiasaan, pengetahuan dan
pengertian serta sikap dan cita-cita.
Sedangkan Hayati (2013: 11) berpendapat bahwa, “Hasil belajar dalam
proses pembelajaran disekolah meliputi tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan
psikomotor. Tujuan aspek kognitif berorientasi pada kemampuan berpikir yang
mencakup kemampuan intelektual”. Hal ini juga sejalan dengan Bloom
(Poerwanti, Endang, dkk 2008: 65), “Secara garis besar membaginya menjadi tiga
ranah yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik”. Berikut ini
akan penulis paparkan secara singkat tentang ranah-ranah yang menjadi objek
penilaian hasil belajar.
1. Ranah kognitif berkenan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari
enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis,
sintesis, dan evaluasi.
a. Pengetahuan hafalan, tingkat kemampuan untuk mengenal atau
mengetahui adanya respon, fakta, atau istilah-istilah tanpa harus
mengerti, atau dapat menilai, dan menggunakannya.
b. Pemahaman adalah kemampuan memahami arti konsep, situasi, serta
fakta yang diketahuinya.
c. Aplikasi atau penerapan adalah penggunaan abstraksi pada situasi konkrit
yang dapat berupa ide, teori atau petunjuk teknis.
d. Analisis adalah kemampuan menguraikan suatu integrasi atau situasi
tertentu kedalam komponen-komponen atau unsur-unsur pembentuknya.
12
e. Sintesis yaitu penyatuan unsur-unsur bagian-bagian kedalam suatu
bentuk menyeluruh.
f. Evaluasi adalah membuat suatu penilaian tentang suatu pernyataan,
konsep, situasi, dan lain sebagainya.
2. Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek, yakni:
a. Menerima, merupakan tingkat terendah tujuan ranah afektif berupa
perhatian terhadap stimulus secara pasif yang meningkat secara lebih
aktif.
b. Merespon, merupakan kesempatan untuk menanggapi stimulus dan
merasa terikat serta secara aktif memperhatikan.
c. Menilai, merupakan kemampuan menilai gejala atau kegiatan sehingga
dengan sengaja merespon lebih lanjut untuk mencapai jalan bagaimana
dapat mengambil bagian atas yang terjadi.
d. Mengorganisasi, merupakan kemampuan untuk membentuk suatu sistem
nilai bagi dirinya berdasarkan nilai-nilai yang dipercaya.
e. Karakterisasasi, merupakan kemampuan untuk mengkonseptualisasikan
masing masing nilai pada waktu merespon, dengan jalan
mengidentifikasi karakteristik nilai atau membuat pertimbangan.
3. Ranah psikomotorik berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan
kemampuan bertindak. Ada empat aspek dalam ranah psikomotorik, yakni:
a. Gerakan tubuh, merupakan kemampuan gerakan tubuh yang mencolok.
13
b. Ketepatan gerakan yang dikoordinasikan, merupakan keterampilan yang
berhubungan dengan urutan atau pola dari gerakan yang dikoordinasikan
biasanya berhubungan dengan gerakan mata, telinga dan badan.
c. Perangkat komunikasi non verbal, merupakan kemampuan mengadakan
komunikasi tanpa kata.
d. Kemampuan berbicara, merupakan yang berhubungan dengan
komunikasi secara lisan.
Ketiga ranah tersebut menjadi objek penilaian hasil belajar. Diantara
ketiga ranah tersebut, biasanya ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh
para guru di sekolah karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam
menguasai bahan pengajaran.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar
adalah kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah melakukan aktivitas
pembelajaran. Hasil belajar diwujudkan dalam tiga aspek kemampuan yaitu
berupa kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik.
2.1.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Siswa merupakan subjek sekaligus objek pendidikan. Mulyasa (2010: 146)
berpendapat bahwa, “Perubahan perilaku siswa ditentukan oleh pengalaman
belajarnya, di samping faktor-faktor bawaan (hereditas)”. Hal ini berarti belajar
dapat mengubah prilaku siswa, tetapi perubahan prilaku itu sendiri ditentukan
oleh pengalaman belajar siswa.
14
Menurut Sukmadinata (2012: 13),
Siswa sebagai individu selalu berinteraksi dengan lingkungannya, selalu
terjadi hubungan timbal balik di antara keduanya. Pandangan-
pandangannya mempengaruhi bentuk dan pola lingkungan, di lain pihak
kekuatan dan keterbatasan lingkungan mempengaruhi individu siswa.
Lingkungan merupakan bagian dari kehidupan siswa. Interaksi juga terjadi
antara pemikiran siswa dengan kehidupannya. Suatu kebenaran tidak akan
diyakininya apabila tidak dicoba dan dihayati dalam kehidupannya sehari-
hari.
Uraian-uraian di atas mendasari bahwasanya ada banyak faktor yang dapat
mempengaruhi siswa dalam proses pencapaian hasil belajar. Menurut Suhada
(2012: 46-51), “Siswa sebagai individu memiliki beberapa faktor dalam
perkembangannya, yaitu faktor hereditas, faktor lingkungan dan ketentuan
Tuhan”. Artinya dalam perkembangan siswa banyak faktor yang mempengaruhi
diantaranya faktor hereditas, lingkungan dan ketentuan Tuhan. Faktor hereditas
adalah karakter yang diwariskan oleh orang tua kepada anak-anak, baik fisik
maupun psikis.
Aunurrahman (2012: 178-195) mengatakan bahwa,
Hasil belajar dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal yang
dialami dan dihayati siswa, sehingga berpengaruh terhadap proses belajar.
Faktor tersebut adalah 1) ciri khas/karakteristik siswa, 2) sikap terhadap
belajar, 3) motivasi belajar, 4) konsentrasi belajar, 5) mengolah bahan
belajar, 6) menggali hasil belajar, 7) rasa percaya diri siswa, dan 8)
kebiasaan belajar. Sedangkan faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi
hasil belajar antara lain; 1) guru, 2) lingkungan sosial, 3) kurikulum
sekolah, dan 4) sarana dan prasarana.
Jadi, berdasarkan penjelasan di atas bahwa hasil belajar dapat dipengaruhi
oleh beberapa faktor di antaranya faktor internal dan faktor eksternal. Dengan
adanya beberapa faktor ini dapat memengaruhi keadaan belajar siswa, baik yang
15
dapat mengakibatkan hasil belajar siswa menjadi meningkat maupun menjadi
rendah.
2.2 Kontruksi Baterai
2.2.1 Pengertian Baterai
Baterai adalah perangkat yang mengandung sel listrik yang dapat
menyimpan energi yang dapat dikonversi menjadi daya. Baterai menghasilkan
listrik melalui proses kimia.
Toyota (1995: 6-2) mengemukakan tentang baterai sebagai berikut.
Baterai ialah alat elektro kimia yang dibuat untuk mensuplai listrik ke
sistem starter mesin, sistem pengapian, lampu-lampu dan komponen
kelistrikan lainnya. Alat ini menyimpan listrik dalam bentuk energi kimia,
yang dikeluarkannya bila diperlukan dan mensuplainya ke masing-masing
sistem kelistrikan atau alat yang memerlukannya. Karena di dalam proses
baterai kehilangan energi kimia, maka alternator mensuplainya kembali ke
dalam baterai (yang disebut pengisian). Baterai menyimpan listrik dalam
bentuk energi kimia. Siklus pengisian dan pengelaaran ini terjadi berulang
kali secara terus-menerus.
Dengan demikian, baterai merupakan sumber energi listrik yang
digunakan oleh sistem starter dan sistem kelistrikan yang lain. Baterai ada dua
tipe yaitu baterai kering dan baterai basah. Baterai yang digunakan untuk motor,
mobil maupun truk adalah baterai jenis basah.
Pada kendaraan secara umum baterai berfungsi sebagai sumber energi
listrik pada kendaraan. Bila kita amati lebih detail maka fungsi baterai adalah
sebagai berikut.
1. Saat mesin mati sebagai sumber energi untuk menghidupkan asessoris,
penerangan, dsb.
16
2. Saat starter untuk mengidupkan sistem starter.
3. Saat mesin hidup sebagai stabiliser suplai listrik pada kendaraan, dimana pada
saat hidup energi listrik bersumber dari alternator.
Untuk memperjelas fungsi baterai pada kendaraan dapat kita lihat
rangkaian gambar di bawah ini.
Gambar 2.1. Fungsi Baterai pada Kendaraan
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa baterai adalah
sumber energi listrik yang dihasilkan melalui proses kimia. Dalam kendaraan
baterai digunakan untuk sistem stater dan sistem kelistrikan. Ada dua tipe
baterai yaitu baterai basah dan kering. Secara umum baterai berfungsi sebagai
sumber energi listrik pada kendaraan, tetapi bila kita amati lebih detail maka
fungsi baterai yaitu saat mesin mati sebagai sumber energi untuk menghidupkan
asessoris, penerangan, saat starter untuk mengidupkan sistem starter dan saat
mesin hidup sebagai stabiliser suplai listrik pada kendaraan.
17
2.2.2 Pengertian Kontruksi Baterai
Dalam baterai terdapat jenis elemen dan sel untuk menyimpan arus yang
mengandung asam sulfat (H2SO4). Tiap sel berisikan plat positif dan negatif. Plat-
plat tersebut ditempatkan pada batang penghubung.
Toyota (1995: 6-2) mengemukakan bahwa,
Di dalam baterai mobil terdapat elektrolit asam sulfat, elektroda positif
dan negatif dalam bentuk plat. Plat-plat dibuat dari timah atau berasal dari
timah, karena itu baterai tipe ini sering disebut baterai timah. Ruangan
dalamnya dibagi menjadi beberapa sel (biasanya 6 sel, untuk baterai
mobil) dan di dalam masing-masing sel terdapat beberapa elemen yang
terendam di dalam elektrolit.
Hal ini berarti kontruksi baterai terdiri dari elektrolit asam sulfat, elektroda
positif dan negatif dalam bentuk plat. Plat-plat tersebut terbuat dari timah
sehingga baterai tipe ini sering disebut baterai timah.
Berdasarkan uraian diatas, dapat penulis simpulkan bahwa kontruksi
baterai merupakan elemen dan sel untuk menyimpan arus yang mengandung
elektrolit asam sulfat (H2SO4). Tiap sel berisikan plat elektroda positif dan negatif.
2.2.3 Komponen-komponen Baterai
Baterai terdiri dari beberapa komponen antara lain: kotak baterai, terminal
baterai, elektrolit baterai, lubang elektrolit baterai, tutup baterai dan sel baterai.
Dalam satu baterai terdiri dari beberapa sel baterai, tiap sel menghasilkan
tegangan 2 - 2,2V. Baterai 6V terdiri dari 3sel, dan baterai 12V mempunyai 6sel
baterai yang dirangkai secara seri.
Tiap sel baterai mempunyai lubang untuk mengisi elektrolit baterai,
lubang tersebut ditutup dengan tutup baterai. Pada tutup baterai terdapat lubang
18
ventilasi yang digunakan untuk mengalirkan uap dari elektrolit baterai. Tiap sel
baterai terdapat plat positif, saparator dan plat negatif. Plat positip berwarna
coklat gelap (darkbrown) dan plat negatif berwarna abu-abu metalik (metallic
gray). Untuk memperjelas tentang komponen-komponen baterai dapat kita lihat
gambar di bawah ini.
Gambar 2.2 Komponen Baterai
Berikut ini akan penulis paparkan tentang komponen-komponen baterai
yang dapat dipakai dalam kendaraan secara umum.
1. Elektrolit Baterai
Cairan elektrolit yang dipakai untuk mengisi aki adalah larutan encer asam
sulfat yang tidak berwarna dan tidak berbau. Elektrolit ini cukup kuat untuk
merusak pakaian. Untuk cairan pengisi aki dipakai elektrolit dengan berat jenis
1.260 pada 20° C.
19
Toyota (1995: 6-2) mengemukakan bahwa,
Elektrolit baterai ialah larutan asam sulfat dengan air sulingan. Berat jenis
elektrolit pada baterai dalam keadaan terisi penuh ialah 1,260 atau 1,280
(pada temperatur 20o C). Perbedaan ini disebabkan perbandingan antara air
sulingan dengan asam sulfat pada masing-masing tipe berbeda. Elektrolit
yang berat jenisnya 1,260 mengandung 65% air sulingan dan 35% asam
sulfat, sedangkan elektrolit yang berat jenisnya 1,280 mengandung 63%
air sulingan dan 37% asam sulfat.
Dengan demikian, Elektrolit baterai merupakan campuran antara air suling
dengan asam sulfat. Komposisi campuran adalah 65% air sulingan dan 35% asam
sulfat. Dari campuran tersebut diperoleh elektrolit baterai dengan berat jenis
1,260. Sedangkan elektrolit yang berat jenisnya 1,280 mengandung 63% air
sulingan dan 37% asam sulfat. Berikut ini dapat kita lihat komposisi elektrolit
baterai pada gambar di bawah ini.
35% Asam Sulfat 65% Air Sulingan 1,260 Elektrolit
Gambar 2.3. Komposisi Elektrolit Baterai
2. Kotak Baterai
20
Wadah yang mengandung elektrolit dan elemen baterai disebut kotak
baterai. Ruangan dalamnya dibagi menjadi 6 ruangan atau sel. Pada kotak baterai
terdapat garis tanda permukaan atas dan bawah (upper dan lower). Plat-plat
posisinya ditinggikan dari dasar dan diberi penyekat, tujuannya agar tidak terjadi
hubungan singkat apabila ada bahan aktif (timah dan lain-lain) terjatuh dari plat
(Toyota, 1995: 6-3). Untuk memperjelas tentang kotak baterai dapat kita lihat
gambar di bawah ini.
Gambar 2.4. Kotak Baterai
3. Sumbat Ventilasi
Sumbat ventilasi ialah tutup untuk lubang pengisian elektrolit. Sumbat ini
juga berfungsi untuk memisahkan gas hidrogen (yang terbentuk saat pengisian)
dan uap asam sulfat di dalam baterai dengan cara membiarkan gas hidrogen keluar
lewat lubang ventilasi sedangkan uap asam sulfat mengembun pada tepian
ventilasi dan menetes kembali ke bawah. Untuk memperjelas tentang sumbat
ventilasi pada baterai dapat kita lihat gambar di bawah ini.
21
Gambar 2.5. Sumbat Baterai
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa komponen-
komponen baterai terdiri dari Kotak baterai, terminal baterai, elektrolit baterai,
lubang elektrolit baterai, tutup baterai dan sel baterai. Dalam satu baterai terdiri
dari beberapa sel baterai, tiap sel menghasilkan tegangan 2 - 2,2V. Baterai 6V
terdiri dari 3sel, dan baterai 12V mempunyai 6sel baterai yang dirangkai secara
seri.
2.3 Model Pembelajaran
2.3.1 Pengertian Model Pembelajaran
Pembelajaran menurut Rusman (2013: 134), “Pada hakikatnya merupakan
suatu proses interaksi antara guru dengan siswa, baik interaksi secara langsung
seperti kegiatan tatap muka maupun secara tidak langsung, yaitu dengan
menggunakan berbagai media pembelajaran”. Didasari oleh adanya perbedaan
22
interaksi tersebut, kegiatan pembelajaran dapat dilakukan dengan menggunakan
berbagai pola pembelajaran.
Hal yang menunjang dalam keberhasilan pembelajaran adalah dengan
menggunakannya model dalam proses pembelajaran. Brady (Aunurrahman, 2012:
146) mengemukakan bahwa, “Model pembelajaran dapat diartikan sebagai
blueprint yang dapat dipergunakan untuk membimbing guru di dalam
mempersiapkan dan melaksanakan pembelajaran”. Dengan demikian, model
pembelajaran dapat membantu guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar.
Suprijono (2013: 46) menyatakan bahwa,
Model pembelajaran merupakan pola yang digunakan sebagai pedoman
dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial. Model
pembelajaran merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal
sampai akhir yang disajikan oleh guru di kelas pada kegiatan
pembelajaran. Dalam model pembelajaran terdapat model pencapaian
kompetensi siswa dengan pendekatan, pembelajaran secara, dan teknik
pembelajaran.
Lebih lanjut Joyce (2009: 30) juga menambahkan bahwa,
Model pembelajaran merupakan gambaran suatu lingkungan pembelajaran
yang memiliki banyak kegunaan, mulai dari merancang sekolah, materi
perencanaan dan kurikulum hingga materi perancangan intruksional yang
dapat mencapai tujuan-tujuan sekolah secara umum. Ataupun tujuan-
tujuan yang telah dirancang. model pembelajaran dapat diterapkan secara
efektif dan menyenangkan di kelas dan lingkungan pendidikan lain.
Berdasarkan uraian di atas, model pembelajaran dapat diartikan sebagai
kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam
mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu.
Model pembelajaran berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang
pembelajaran dan para guru untuk merancang dan melaksanakan aktivitas
pembelajaran.
23
2.3.2 Jenis-jenis Model Pembelajaran
Penggunaan model pembelajaran yang tepat merupakan salah satu penentu
keberhasilan dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Dengan
demikian, guru dapat memilih jenis-jenis model pembelajaran yang sesuai demi
tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan. Menurut Komalasari (2010:
58-88) jenis-jenis model pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran,
antara lain:
a. Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-based Learning).
b. Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning).
c. Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-based Learning).
d. Model Pembelajaran Pelayanan (Service Learning).
e. Model Pembelajaran Berbasis Kerja.
f. Model Pembelajaran Konsep (Concept Learning).
g. Model Pembelajaran Nilai (Value Learning).
Berdasarkan jenis-jenis model pembelajaran di atas, pemilihan dan
penggunaan model pembelajaran yang tepat merupakan salah satu penentu
keberhasilan dalam kegiatan pembelajaran. Model pembelajaran ternyata cukup
beragam. Oleh karena itu, guru harus dapat memilih model pembelajaran yang
tepat sesuai dengan materi pembelajaran. Hal itu perlu dilakukan agar siswa dapat
lebih mengerti dan memahami pembelajran yang diberikan oleh guru.
2.4 Model Everyone Is A Teacher Here
2.4.1 Pengertian Model Everyone Is A Teacher Here
24
Dalam pembelajaran di kelas, banyak dijumpai diskusi yang tidak berjalan
efektif karena didominasi oleh salah seorang peserta didik yang telah mempunyai
pengetahuan tentang apa yang akan dipelajarinya. Padahal selain membutuhkan
pengetahuan awal tentang apa yang akan dipelajari, peserta didik juga harus
mempunyai keterampilan bertanya jawab. Dalam model Everyone Is A Teacher
Here seluruh peserta didik akan menjadi lebih aktif karena dengan model ini
peserta didik akan menjadi seorang guru bagi teman-temanya.
Zaini (2008: 60) mengemukakan bahwa,
Everyone Is A Teacher Here (setiap orang adalah guru) ini merupakan
sebuah model yang mudah guna memperoleh partisipasi kelas yang besar
dan tanggung jawab individu. Model ini memberikan kesempatan kepada
setiap peserta didik untuk bertindak sebagai pengajar terhadap peserta
didik lain. Model ini sangat tepat untuk mendapatkan partisipasi kelas
secara keseluruhan dan secara individu. Dengan model ini peserta didik
yaag tidak mau terlibat akan ikut serta dalam pembelajaran secara aktif.
Menurut Suprijono (Diani, 2013: 47), “Model Everyone Is Teacher Here
merupakan cara yang tepat untuk mendapatkan partisipasi kelas secara
keseluruhan maupun individual. Model ini memberikan kesempatan kepada
semua siswa untuk berperan sebagai guru bagi kawan-kawannya sehingga
terbentuk aktivitas belajar yang partisipatif dan aktif”. Hal ini sejalan dengan
Djamarah (2010: 397), “Model Everyone Is A Teacher Here memberi kesempatan
kepada setiap anak didik untuk berperan sebagai guru bagi kawan-kawannya.
Dengan model ini anak didik yang selama ini tidak mau terlibat akan ikut serta
dalam pembelajaran secara aktif ”. Hal ini berarti model pembelajaran Everyone
Is A Teacher Here dapat membuat siswa menjadi lebih aktif karena semua siswa
akan merasakan menjadi seorang guru bagi kawan-kawannya.
25
Menurut Silberman (2010: 183) bahwa, “Everyone Is A Teacher Here
merupakan model mudah untuk mendapatkan partisipasi seluruh kelas dan
pertanggung jawaban individu. Model ini memberi kesempatan bagi setiap peserta
didik untuk bertindak sebagai “guru” bagi peserta didik lain”. Pendapat ini
didukung oleh Fachrurrozi dan Mahyuddin (2010: 206) yang menjelaskan bahwa,
“Everyone Is A Teacher Here adalah suatu model yang memberi kesempatan
kepada setiap peserta didik untuk bertindak sebagai “pengajar” terhadap peserta
didik lain”. Artinya, model pembelajaran Everyone Is A Teacher Here memberi
kesempatan kepada setiap peserta didik untuk menjadi pengajar terhadap peserta
didik lainnya.
Dengan demikian, model pembelajaran Everyone is a Teacher Here
(semua orang adalah guru) adalah model yang memungkinkan peserta didik untuk
dapat belajar dengan mudah, menyenangkan dan dapat tercapai tujuan
pembelajaran sesuai dengan tuntutan kompetensi. Prosedurnya dilakukan dengan
peserta didik menulis pertanyaan di kartu indeks, mempersiapkan jawaban, dan
berkomunikasi. Dengan berkomunikasi, pembelajaran dititik beratkan pada
hubungan antar individu dan sumber belajar yang lain. Orientasinya pada
kemampuan individu maupun kelompok untuk berhubungan dengan sumber
belajar.
Berdasarkan uraian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa model
Everyone Is A Teacher Here dapat memotivasi peserta didik untuk aktif mengajar
temannya, mempelajari sesuatu dengan baik pada waktu yang sama, dan memiliki
kesempatan untuk mengemukakan pendapat. Hal ini didukung oleh pendapat
26
Ismail (2008: 74) yang menyatakan bahwa, “Tujuan model Everyone Is A Teacher
Here ini adalah membiasakan peserta didik untuk belajar aktif secara individu dan
membudayakan sifat berani bertanya, tidak minder dan tidak takut salah”. Dengan
demikian, model Everyone Is A Teacher Here bertujuan untuk membuat peserta
didik menjadi lebih aktif dalam proses belajar.
2.4.2 Langkah-langkah Model Pembelajaran Everyone Is A Teacher Here
Langkah-langkah model pembelajaran Everyone Is Teacher Here menurut
Djamarah (2010: 397-398) adalah sebagai berikut.
1. Bagikan secarik kertas/kartu indeks kepada seluruh anak didik. Minta
mereka untuk menuliskan satu pertanyaan tentang meteri pelajaran yang
sedang dipelajari di kelas (misalnya tugas membaca) atau sebuah topik
khusus yang akan didiskusikan di dalam kelas.
2. Kumpulkan kertas, acak kertas tersebut, kemudian bagikan kepada
setiap anak didik. Pastikan, tidak ada anak didik yang menerima soal
yang ditulis sendiri. Minta mereka untuk membaca dalam hati
pertanyaan dalam kertas tersebut, kemudian memikirkan jawabannya.
3. Minta anak didik secara sukarela untuk membacakan pertanyaan
tersebut dan jawabannya.
4. Setelah jawaban diberikan, mintalah anak didik lainnya untuk
menambahkan.
5. Lanjutkan dengan sukarelawan berikutnya.
Sedangkan langkah-langkah model Everyone Is A Teacher Here menurut
Silberman (2010: 183-184) adalah sebagai berikut.
1. Bagikan kartu indeks kepada setiap peserta didik. Perintahkan peserta
didik untuk menuliskan pertanyaan yang mereka miliki tentang materi
belajar yang tengah dipelajari di kelas (misalnya tugas membaca) atau
topik khusus yang ingin mereka diskusikan di kelas.
2. Kumpulkan kartu, kemudian kocoklah, dan bagikan satu-satu kepada
peserta didik. Perintahkan peserta didik untuk membaca dalam hati
pertanyaan atau topik pada kartu yang mereka terima dan pikirkan
jawabannya.
3. Tunjuklah beberapa peserta didik untuk membacakan kartu yang
mereka dapatkan dan memberikan jawabannya.
27
4. Setelah memberikan jawaban, perintahkan peserta didik lain untuk
memberikan tambahan atas apa yang dikemukakan oleh peserta didik
yang membacakan kartunya itu.
5. Lanjutkan prosdur ini bila waktunya memungkinkan.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan langkah-langkah Everyone Is
A Teacher Here adalah sebagai berikut.
1. Kartu indeks diedarkan pada tiap siswa, dan siswa diminta untuk menuliskan
pertanyaan tentang materi pelajaran yang sedang dipelajari.
2. Kumpulkan kartu indeks yang sudah diisi pertanyaan kemudian bagikan kartu
tersebut kepada seluruh siswa secara acak.
3. Minta siswa untuk membacakan pertanyaan dan menjelaskan jawabannya di
depan kelas.
4. Setelah pertanyaan di jawab minta siswa lain untuk mananggapi jawaban
yang dikemukakan temannya.
5. Lanjutkan dengan siswa lainnya.
2.4.3 Manfaat model Everyone Is A Teacher Here
Sekarningrum dan Rahayu (Cahyani, 2014: 37) menguraikan manfaat-
manfaat penerapan model Everyone Is A Teacher Here yaitu sebagai berikut.
1. Meningkatkan partisipasi kelas secara keseluruhan dan individual.
2. Mengaktifkan peserta didik.
3. Menggali informasi secara luas baik administrasi maupun akademis.
4. Mengecek pemahaman siswa tentang pokok bahasan tertentu.
5. Membangkitkan respon siswa.
Dengan demikian, manfaat model Everyone Is A Teacher Here adalah
meningkatkan partisipasi kelas, mengaktifkan peserta didik, menggali informasi
28
secara luas, mengecek pemahaman siswa tentang pokok bahasan tertentu dan
membangkitkan respon siswa.
2.4.4 Kelebihan Model Everyone Is A Teacher Here
Silberman (2009: 183) menjelaskan bahwa, kelebihan-kelebihan model
Everyone is a Teacher Here yaitu sebagai berikut.
1. Mendukung pembelajaran sesama peserta didik di kelas.
2. Tanggung jawab pembelajaran berada pada seluruh anggota kelas.
3. Meningkatkan proses pembelajaran peserta didik.
4. Dapat diterapkan dan disesuaikan dengan semua mata pelajaran.
5. Meningkatkan kemampuan dalam mengemukakan pendapat.
6. Meningkatkan kemampuan dalam menganalisis masalah.
7. Meningkatkan keterampilan dalam membuat simpulan.
Djamarah dan Zaini (Cahyani, 2014: 38) turut menjelaskan kelebihan-
kelebihan model Everyone Is A Teacher Here ini yaitu sebagai berikut.
1. Pertanyaan dapat menarik dan memusatkan perhatian peserta didik,
sekalipun ketika itu peserta didik sedang ribut, yang mengantuk
kembali segar dan hilang kantuknya.
2. Merangsang peserta didik untuk melatih dan mengembangkan daya
pikir, termasuk daya ingatan.
3. Mengembangkan keberanian dan tampil percaya diri dalam menjawab
dan mengemukakan pendapat.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan kelebihan dari model
Everyone Is A Teacher Here yaitu dapat mengaktifkan seluruh peserta didik,
meningkatkan proses belajar mengajar dan meningkatkan kemampuan peserta
didik dalam memahami materi pelajaran.
2.4.5 Kelemahan Model Everyone Is A Teacher Here
29
Djamarah dan Zaini (Cahyani, 2014: 38-39) menjelaskan kelemahan
model Everyone Is A Teacher Here ini yaitu sebagai berikut.
1. Pertanyaan yang diajukan siswa tidak sesuai dengan tujuan
pembelajaran.
2. Membutuhkan waktu yang lama untuk menghabiskan semua pertanyaan
untuk kelas besar.
3. Siswa merasa takut ketika tidak bisa menjawab pertanyaan.
Dapat disimpulkan bahwa kelemahan model Everyone Is A Teacher Here
adalah tidak sesuainya pertanyaan dengan tujuan pembelajaran, membutuhkan
waktu lama dan siswa menjadi takut ketika tidak bisa menjawab.
2.5 Anggapan Dasar
Anggapan dasar atau postulat adalah sebuah titik tolak pemikiran yang
kebenarannya diterima oleh penyelidik. Berdasarkan hal tersebut, penulis
mendapat gambaran bahwa anggapan dasar mempunyai kedudukan sangat penting
dalam melaksanakan penelitian, yaitu sebagai titik tolak penelitian. Adapun
anggapan dasar yang penulis tentukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Materi pembelajaran memahami kontruksi baterai dan komponen-
komponennya merupkan salah satu materi pokok pembelajaran yang tercantum
dalam KTSP.
2. Dalam pembelajaran memahami kontruksi baterai dan komponen-
komponennya diperlukan model pembelajaran yang membuat siswa aktif
sehingga bisa diperoleh hasil belajar yang optimal.
30
3. Model pembelajaran merupakan bagian integral dalam interaksi pembelajaran
di sekolah karena turut menentukan keberhasilan pencapaian indikator hasil
pembelajaran.
4. Model pembelajaran Everyone Is A Teacher Here merupakan salah satu model
pembelajaran yang dapat di gunakan dalam pembelajaran memahami kontruksi
baterai dan komponen-komponennya sebab model ini mampu membuat siswa
lebih aktif.
2.6 Hipotesis
Hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara
terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul.
Berangkat dari uraian tersebut, penulis merumuskan hipotesis dalam penelitian ini
yaitu, “Terdapat pengaruh yang signifikan antara model pembelajaran Everyone Is
A Teacher Here terhadap hasil belajar siswa pada materi memahami kontruksi
baterai dan komponen-komponennya pada siswa kelas X teknik otomotif SMK
YPSA tahun pelajaran 2015/2016”.