0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan22 halaman

Faktor dan Aspek Hasil Belajar Siswa

Diunggah oleh

taufik hidayat
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan22 halaman

Faktor dan Aspek Hasil Belajar Siswa

Diunggah oleh

taufik hidayat
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

LANDASAN TEORITIS, ANGGAPAN DASAR DAN HIPOTESIS

2.1 Hasil Belajar

2.1.1 Pengertian Hasil Belajar

Menurut Morgan (Suprijono, 2013: 3), “Belajar adalah perubahan perilaku

yang bersifat permanen sebagai hasil dari pengalaman. Pengalaman belajar ini

tentu akan didapat dalam kegiatan proses belajar”. Hamalik (2013: 27) juga

berpendapat bahwa, “Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan

melalui pengalaman”. Dengan demikian, belajar merupakan suatu proses usaha

yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru

secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri.

Belajar diartikan Trianto (2013: 17), “Sebagai proses perubahan perilaku

tetap dari belum tahu menjadi tahu, dari tidak paham menjadi paham, dari kurang

terampil menjadi lebih terampil, dan dari kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru,

serta bermanfaat bagi lingkungan maupun individu itu sendiri”. Hal ini berarti

dengan belajar, manusia dapat melakukan perubahan-perubahan sehingga individu

tersebut dapat berkembang dan bermanfaat bagi lingkungannya maupun dirinya

sendiri.

Menurut Pribadi (2009: 6), “Belajar adalah kegiatan yang dilakukan oleh

seseorang agar memiliki kompetensi berupa keterampilan dan pengetahuan yang

diperlukan. Belajar juga dapat dipandang sebagai sebuah proses elaborasi dalam

upaya pencarian makna yang dilakukan oleh individu”. Hal ini sejalan dengan

9
10

Robert M (Pribadi, 2009: 6), “Belajar juga dipandang sebagai proses alami yang

dapat membawa perubahan pada pengetahuan, tindakan dan prilaku seseorang”.

Artinya, belajar merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh individu untuk

mendapatkan keterampilan dan pengetahuan.

Hal ini tentu disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, karena pada

dasarnya pencapain tujuan pendidikan dan pengajaran dalam wujud pemahaman

terhadap materi yang disajikan dan dipelajari serta ditargetkan untuk dimiliki oleh

siswa yang sedang belajar. Target pencapaian itu sering diwujudkan dalam

bentuknya yang kongkret yaitu berupa hasil belajar.

Menurut Aunurrahman (2012: 37), “Hasil belajar merupakan perubahan

tingkah laku yang dapat diamati”. Hasil belajar juga menurut Hamalik (2013: 31),

“Merupakan pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap,

apresiasi, abilitas dan keterampilan”. Hal ini juga sejalan dengan Burton

(Hamalik, 2013: 31), yang menyebutkan sebagai berikut.

Hasil-hasil belajar sacara fungsional bertalian satu sama lain tetapi dapat
didiskusikan secara terpisah. Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan,
nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, abilitas dan
keterampilan. Hasil-hasil belajar dilengkapi dengan jalan serangkaian
pengalaman-pengalaman yang dapat dipersamakan dan dengan
pertimbangan yang baik.

Dengan demikian, hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku yang

meliputi pola-pola perbuatan, nilai, pengertian, sikap, apresiasi, abilitas serta

keterampilan seseorang. Selanjutnya Kingsley (Sudjana, 2010: 45), “Membagi

tiga macam hasil belajar, yaitu keterampilan dan kebiasaan, pengetahuan dan

pengertian serta sikap dan cita-cita, yang masing-masing golongan dapat diisi

dengan bahan yang ditetapkan dalam kurikulum sekolah”. Hal ini berarti hasil
11

belajar dibagi menjadi tiga yaitu keterampilan dan kebiasaan, pengetahuan dan

pengertian serta sikap dan cita-cita.

Sedangkan Hayati (2013: 11) berpendapat bahwa, “Hasil belajar dalam

proses pembelajaran disekolah meliputi tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan

psikomotor. Tujuan aspek kognitif berorientasi pada kemampuan berpikir yang

mencakup kemampuan intelektual”. Hal ini juga sejalan dengan Bloom

(Poerwanti, Endang, dkk 2008: 65), “Secara garis besar membaginya menjadi tiga

ranah yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik”. Berikut ini

akan penulis paparkan secara singkat tentang ranah-ranah yang menjadi objek

penilaian hasil belajar.

1. Ranah kognitif berkenan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari

enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis,

sintesis, dan evaluasi.

a. Pengetahuan hafalan, tingkat kemampuan untuk mengenal atau

mengetahui adanya respon, fakta, atau istilah-istilah tanpa harus

mengerti, atau dapat menilai, dan menggunakannya.

b. Pemahaman adalah kemampuan memahami arti konsep, situasi, serta

fakta yang diketahuinya.

c. Aplikasi atau penerapan adalah penggunaan abstraksi pada situasi konkrit

yang dapat berupa ide, teori atau petunjuk teknis.

d. Analisis adalah kemampuan menguraikan suatu integrasi atau situasi

tertentu kedalam komponen-komponen atau unsur-unsur pembentuknya.


12

e. Sintesis yaitu penyatuan unsur-unsur bagian-bagian kedalam suatu

bentuk menyeluruh.

f. Evaluasi adalah membuat suatu penilaian tentang suatu pernyataan,

konsep, situasi, dan lain sebagainya.

2. Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek, yakni:

a. Menerima, merupakan tingkat terendah tujuan ranah afektif berupa

perhatian terhadap stimulus secara pasif yang meningkat secara lebih

aktif.

b. Merespon, merupakan kesempatan untuk menanggapi stimulus dan

merasa terikat serta secara aktif memperhatikan.

c. Menilai, merupakan kemampuan menilai gejala atau kegiatan sehingga

dengan sengaja merespon lebih lanjut untuk mencapai jalan bagaimana

dapat mengambil bagian atas yang terjadi.

d. Mengorganisasi, merupakan kemampuan untuk membentuk suatu sistem

nilai bagi dirinya berdasarkan nilai-nilai yang dipercaya.

e. Karakterisasasi, merupakan kemampuan untuk mengkonseptualisasikan

masing masing nilai pada waktu merespon, dengan jalan

mengidentifikasi karakteristik nilai atau membuat pertimbangan.

3. Ranah psikomotorik berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan

kemampuan bertindak. Ada empat aspek dalam ranah psikomotorik, yakni:

a. Gerakan tubuh, merupakan kemampuan gerakan tubuh yang mencolok.


13

b. Ketepatan gerakan yang dikoordinasikan, merupakan keterampilan yang

berhubungan dengan urutan atau pola dari gerakan yang dikoordinasikan

biasanya berhubungan dengan gerakan mata, telinga dan badan.

c. Perangkat komunikasi non verbal, merupakan kemampuan mengadakan

komunikasi tanpa kata.

d. Kemampuan berbicara, merupakan yang berhubungan dengan

komunikasi secara lisan.

Ketiga ranah tersebut menjadi objek penilaian hasil belajar. Diantara

ketiga ranah tersebut, biasanya ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh

para guru di sekolah karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam

menguasai bahan pengajaran.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar

adalah kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah melakukan aktivitas

pembelajaran. Hasil belajar diwujudkan dalam tiga aspek kemampuan yaitu

berupa kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik.

2.1.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Siswa merupakan subjek sekaligus objek pendidikan. Mulyasa (2010: 146)

berpendapat bahwa, “Perubahan perilaku siswa ditentukan oleh pengalaman

belajarnya, di samping faktor-faktor bawaan (hereditas)”. Hal ini berarti belajar

dapat mengubah prilaku siswa, tetapi perubahan prilaku itu sendiri ditentukan

oleh pengalaman belajar siswa.


14

Menurut Sukmadinata (2012: 13),

Siswa sebagai individu selalu berinteraksi dengan lingkungannya, selalu


terjadi hubungan timbal balik di antara keduanya. Pandangan-
pandangannya mempengaruhi bentuk dan pola lingkungan, di lain pihak
kekuatan dan keterbatasan lingkungan mempengaruhi individu siswa.
Lingkungan merupakan bagian dari kehidupan siswa. Interaksi juga terjadi
antara pemikiran siswa dengan kehidupannya. Suatu kebenaran tidak akan
diyakininya apabila tidak dicoba dan dihayati dalam kehidupannya sehari-
hari.

Uraian-uraian di atas mendasari bahwasanya ada banyak faktor yang dapat

mempengaruhi siswa dalam proses pencapaian hasil belajar. Menurut Suhada

(2012: 46-51), “Siswa sebagai individu memiliki beberapa faktor dalam

perkembangannya, yaitu faktor hereditas, faktor lingkungan dan ketentuan

Tuhan”. Artinya dalam perkembangan siswa banyak faktor yang mempengaruhi

diantaranya faktor hereditas, lingkungan dan ketentuan Tuhan. Faktor hereditas

adalah karakter yang diwariskan oleh orang tua kepada anak-anak, baik fisik

maupun psikis.

Aunurrahman (2012: 178-195) mengatakan bahwa,

Hasil belajar dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal yang
dialami dan dihayati siswa, sehingga berpengaruh terhadap proses belajar.
Faktor tersebut adalah 1) ciri khas/karakteristik siswa, 2) sikap terhadap
belajar, 3) motivasi belajar, 4) konsentrasi belajar, 5) mengolah bahan
belajar, 6) menggali hasil belajar, 7) rasa percaya diri siswa, dan 8)
kebiasaan belajar. Sedangkan faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi
hasil belajar antara lain; 1) guru, 2) lingkungan sosial, 3) kurikulum
sekolah, dan 4) sarana dan prasarana.

Jadi, berdasarkan penjelasan di atas bahwa hasil belajar dapat dipengaruhi

oleh beberapa faktor di antaranya faktor internal dan faktor eksternal. Dengan

adanya beberapa faktor ini dapat memengaruhi keadaan belajar siswa, baik yang
15

dapat mengakibatkan hasil belajar siswa menjadi meningkat maupun menjadi

rendah.

2.2 Kontruksi Baterai

2.2.1 Pengertian Baterai

Baterai adalah perangkat yang mengandung sel listrik yang dapat

menyimpan energi yang dapat dikonversi menjadi daya. Baterai menghasilkan

listrik melalui proses kimia.

Toyota (1995: 6-2) mengemukakan tentang baterai sebagai berikut.

Baterai ialah alat elektro kimia yang dibuat untuk mensuplai listrik ke
sistem starter mesin, sistem pengapian, lampu-lampu dan komponen
kelistrikan lainnya. Alat ini menyimpan listrik dalam bentuk energi kimia,
yang dikeluarkannya bila diperlukan dan mensuplainya ke masing-masing
sistem kelistrikan atau alat yang memerlukannya. Karena di dalam proses
baterai kehilangan energi kimia, maka alternator mensuplainya kembali ke
dalam baterai (yang disebut pengisian). Baterai menyimpan listrik dalam
bentuk energi kimia. Siklus pengisian dan pengelaaran ini terjadi berulang
kali secara terus-menerus.

Dengan demikian, baterai merupakan sumber energi listrik yang

digunakan oleh sistem starter dan sistem kelistrikan yang lain. Baterai ada dua

tipe yaitu baterai kering dan baterai basah. Baterai yang digunakan untuk motor,

mobil maupun truk adalah baterai jenis basah.

Pada kendaraan secara umum baterai berfungsi sebagai sumber energi

listrik pada kendaraan. Bila kita amati lebih detail maka fungsi baterai adalah

sebagai berikut.

1. Saat mesin mati sebagai sumber energi untuk menghidupkan asessoris,

penerangan, dsb.
16

2. Saat starter untuk mengidupkan sistem starter.

3. Saat mesin hidup sebagai stabiliser suplai listrik pada kendaraan, dimana pada

saat hidup energi listrik bersumber dari alternator.

Untuk memperjelas fungsi baterai pada kendaraan dapat kita lihat

rangkaian gambar di bawah ini.

Gambar 2.1. Fungsi Baterai pada Kendaraan

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa baterai adalah

sumber energi listrik yang dihasilkan melalui proses kimia. Dalam kendaraan

baterai digunakan untuk sistem stater dan sistem kelistrikan. Ada dua tipe

baterai yaitu baterai basah dan kering. Secara umum baterai berfungsi sebagai

sumber energi listrik pada kendaraan, tetapi bila kita amati lebih detail maka

fungsi baterai yaitu saat mesin mati sebagai sumber energi untuk menghidupkan

asessoris, penerangan, saat starter untuk mengidupkan sistem starter dan saat

mesin hidup sebagai stabiliser suplai listrik pada kendaraan.


17

2.2.2 Pengertian Kontruksi Baterai

Dalam baterai terdapat jenis elemen dan sel untuk menyimpan arus yang

mengandung asam sulfat (H2SO4). Tiap sel berisikan plat positif dan negatif. Plat-

plat tersebut ditempatkan pada batang penghubung.

Toyota (1995: 6-2) mengemukakan bahwa,

Di dalam baterai mobil terdapat elektrolit asam sulfat, elektroda positif


dan negatif dalam bentuk plat. Plat-plat dibuat dari timah atau berasal dari
timah, karena itu baterai tipe ini sering disebut baterai timah. Ruangan
dalamnya dibagi menjadi beberapa sel (biasanya 6 sel, untuk baterai
mobil) dan di dalam masing-masing sel terdapat beberapa elemen yang
terendam di dalam elektrolit.

Hal ini berarti kontruksi baterai terdiri dari elektrolit asam sulfat, elektroda

positif dan negatif dalam bentuk plat. Plat-plat tersebut terbuat dari timah

sehingga baterai tipe ini sering disebut baterai timah.

Berdasarkan uraian diatas, dapat penulis simpulkan bahwa kontruksi

baterai merupakan elemen dan sel untuk menyimpan arus yang mengandung

elektrolit asam sulfat (H2SO4). Tiap sel berisikan plat elektroda positif dan negatif.

2.2.3 Komponen-komponen Baterai

Baterai terdiri dari beberapa komponen antara lain: kotak baterai, terminal

baterai, elektrolit baterai, lubang elektrolit baterai, tutup baterai dan sel baterai.

Dalam satu baterai terdiri dari beberapa sel baterai, tiap sel menghasilkan

tegangan 2 - 2,2V. Baterai 6V terdiri dari 3sel, dan baterai 12V mempunyai 6sel

baterai yang dirangkai secara seri.

Tiap sel baterai mempunyai lubang untuk mengisi elektrolit baterai,

lubang tersebut ditutup dengan tutup baterai. Pada tutup baterai terdapat lubang
18

ventilasi yang digunakan untuk mengalirkan uap dari elektrolit baterai. Tiap sel

baterai terdapat plat positif, saparator dan plat negatif. Plat positip berwarna

coklat gelap (darkbrown) dan plat negatif berwarna abu-abu metalik (metallic

gray). Untuk memperjelas tentang komponen-komponen baterai dapat kita lihat

gambar di bawah ini.

Gambar 2.2 Komponen Baterai

Berikut ini akan penulis paparkan tentang komponen-komponen baterai

yang dapat dipakai dalam kendaraan secara umum.

1. Elektrolit Baterai

Cairan elektrolit yang dipakai untuk mengisi aki adalah larutan encer asam

sulfat yang tidak berwarna dan tidak berbau. Elektrolit ini cukup kuat untuk

merusak pakaian. Untuk cairan pengisi aki dipakai elektrolit dengan berat jenis

1.260 pada 20° C.


19

Toyota (1995: 6-2) mengemukakan bahwa,

Elektrolit baterai ialah larutan asam sulfat dengan air sulingan. Berat jenis
elektrolit pada baterai dalam keadaan terisi penuh ialah 1,260 atau 1,280
(pada temperatur 20o C). Perbedaan ini disebabkan perbandingan antara air
sulingan dengan asam sulfat pada masing-masing tipe berbeda. Elektrolit
yang berat jenisnya 1,260 mengandung 65% air sulingan dan 35% asam
sulfat, sedangkan elektrolit yang berat jenisnya 1,280 mengandung 63%
air sulingan dan 37% asam sulfat.

Dengan demikian, Elektrolit baterai merupakan campuran antara air suling

dengan asam sulfat. Komposisi campuran adalah 65% air sulingan dan 35% asam

sulfat. Dari campuran tersebut diperoleh elektrolit baterai dengan berat jenis

1,260. Sedangkan elektrolit yang berat jenisnya 1,280 mengandung 63% air

sulingan dan 37% asam sulfat. Berikut ini dapat kita lihat komposisi elektrolit

baterai pada gambar di bawah ini.

35% Asam Sulfat 65% Air Sulingan 1,260 Elektrolit

Gambar 2.3. Komposisi Elektrolit Baterai

2. Kotak Baterai
20

Wadah yang mengandung elektrolit dan elemen baterai disebut kotak

baterai. Ruangan dalamnya dibagi menjadi 6 ruangan atau sel. Pada kotak baterai

terdapat garis tanda permukaan atas dan bawah (upper dan lower). Plat-plat

posisinya ditinggikan dari dasar dan diberi penyekat, tujuannya agar tidak terjadi

hubungan singkat apabila ada bahan aktif (timah dan lain-lain) terjatuh dari plat

(Toyota, 1995: 6-3). Untuk memperjelas tentang kotak baterai dapat kita lihat

gambar di bawah ini.

Gambar 2.4. Kotak Baterai

3. Sumbat Ventilasi

Sumbat ventilasi ialah tutup untuk lubang pengisian elektrolit. Sumbat ini

juga berfungsi untuk memisahkan gas hidrogen (yang terbentuk saat pengisian)

dan uap asam sulfat di dalam baterai dengan cara membiarkan gas hidrogen keluar

lewat lubang ventilasi sedangkan uap asam sulfat mengembun pada tepian

ventilasi dan menetes kembali ke bawah. Untuk memperjelas tentang sumbat

ventilasi pada baterai dapat kita lihat gambar di bawah ini.


21

Gambar 2.5. Sumbat Baterai

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa komponen-

komponen baterai terdiri dari Kotak baterai, terminal baterai, elektrolit baterai,

lubang elektrolit baterai, tutup baterai dan sel baterai. Dalam satu baterai terdiri

dari beberapa sel baterai, tiap sel menghasilkan tegangan 2 - 2,2V. Baterai 6V

terdiri dari 3sel, dan baterai 12V mempunyai 6sel baterai yang dirangkai secara

seri.

2.3 Model Pembelajaran

2.3.1 Pengertian Model Pembelajaran

Pembelajaran menurut Rusman (2013: 134), “Pada hakikatnya merupakan

suatu proses interaksi antara guru dengan siswa, baik interaksi secara langsung

seperti kegiatan tatap muka maupun secara tidak langsung, yaitu dengan

menggunakan berbagai media pembelajaran”. Didasari oleh adanya perbedaan


22

interaksi tersebut, kegiatan pembelajaran dapat dilakukan dengan menggunakan

berbagai pola pembelajaran.

Hal yang menunjang dalam keberhasilan pembelajaran adalah dengan

menggunakannya model dalam proses pembelajaran. Brady (Aunurrahman, 2012:

146) mengemukakan bahwa, “Model pembelajaran dapat diartikan sebagai

blueprint yang dapat dipergunakan untuk membimbing guru di dalam

mempersiapkan dan melaksanakan pembelajaran”. Dengan demikian, model

pembelajaran dapat membantu guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar.

Suprijono (2013: 46) menyatakan bahwa,

Model pembelajaran merupakan pola yang digunakan sebagai pedoman


dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial. Model
pembelajaran merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal
sampai akhir yang disajikan oleh guru di kelas pada kegiatan
pembelajaran. Dalam model pembelajaran terdapat model pencapaian
kompetensi siswa dengan pendekatan, pembelajaran secara, dan teknik
pembelajaran.

Lebih lanjut Joyce (2009: 30) juga menambahkan bahwa,

Model pembelajaran merupakan gambaran suatu lingkungan pembelajaran


yang memiliki banyak kegunaan, mulai dari merancang sekolah, materi
perencanaan dan kurikulum hingga materi perancangan intruksional yang
dapat mencapai tujuan-tujuan sekolah secara umum. Ataupun tujuan-
tujuan yang telah dirancang. model pembelajaran dapat diterapkan secara
efektif dan menyenangkan di kelas dan lingkungan pendidikan lain.

Berdasarkan uraian di atas, model pembelajaran dapat diartikan sebagai

kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam

mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu.

Model pembelajaran berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang

pembelajaran dan para guru untuk merancang dan melaksanakan aktivitas

pembelajaran.
23

2.3.2 Jenis-jenis Model Pembelajaran

Penggunaan model pembelajaran yang tepat merupakan salah satu penentu

keberhasilan dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Dengan

demikian, guru dapat memilih jenis-jenis model pembelajaran yang sesuai demi

tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan. Menurut Komalasari (2010:

58-88) jenis-jenis model pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran,

antara lain:

a. Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-based Learning).


b. Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning).
c. Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-based Learning).
d. Model Pembelajaran Pelayanan (Service Learning).
e. Model Pembelajaran Berbasis Kerja.
f. Model Pembelajaran Konsep (Concept Learning).
g. Model Pembelajaran Nilai (Value Learning).

Berdasarkan jenis-jenis model pembelajaran di atas, pemilihan dan

penggunaan model pembelajaran yang tepat merupakan salah satu penentu

keberhasilan dalam kegiatan pembelajaran. Model pembelajaran ternyata cukup

beragam. Oleh karena itu, guru harus dapat memilih model pembelajaran yang

tepat sesuai dengan materi pembelajaran. Hal itu perlu dilakukan agar siswa dapat

lebih mengerti dan memahami pembelajran yang diberikan oleh guru.

2.4 Model Everyone Is A Teacher Here

2.4.1 Pengertian Model Everyone Is A Teacher Here


24

Dalam pembelajaran di kelas, banyak dijumpai diskusi yang tidak berjalan

efektif karena didominasi oleh salah seorang peserta didik yang telah mempunyai

pengetahuan tentang apa yang akan dipelajarinya. Padahal selain membutuhkan

pengetahuan awal tentang apa yang akan dipelajari, peserta didik juga harus

mempunyai keterampilan bertanya jawab. Dalam model Everyone Is A Teacher

Here seluruh peserta didik akan menjadi lebih aktif karena dengan model ini

peserta didik akan menjadi seorang guru bagi teman-temanya.

Zaini (2008: 60) mengemukakan bahwa,

Everyone Is A Teacher Here (setiap orang adalah guru) ini merupakan


sebuah model yang mudah guna memperoleh partisipasi kelas yang besar
dan tanggung jawab individu. Model ini memberikan kesempatan kepada
setiap peserta didik untuk bertindak sebagai pengajar terhadap peserta
didik lain. Model ini sangat tepat untuk mendapatkan partisipasi kelas
secara keseluruhan dan secara individu. Dengan model ini peserta didik
yaag tidak mau terlibat akan ikut serta dalam pembelajaran secara aktif.

Menurut Suprijono (Diani, 2013: 47), “Model Everyone Is Teacher Here

merupakan cara yang tepat untuk mendapatkan partisipasi kelas secara

keseluruhan maupun individual. Model ini memberikan kesempatan kepada

semua siswa untuk berperan sebagai guru bagi kawan-kawannya sehingga

terbentuk aktivitas belajar yang partisipatif dan aktif”. Hal ini sejalan dengan

Djamarah (2010: 397), “Model Everyone Is A Teacher Here memberi kesempatan

kepada setiap anak didik untuk berperan sebagai guru bagi kawan-kawannya.

Dengan model ini anak didik yang selama ini tidak mau terlibat akan ikut serta

dalam pembelajaran secara aktif ”. Hal ini berarti model pembelajaran Everyone

Is A Teacher Here dapat membuat siswa menjadi lebih aktif karena semua siswa

akan merasakan menjadi seorang guru bagi kawan-kawannya.


25

Menurut Silberman (2010: 183) bahwa, “Everyone Is A Teacher Here

merupakan model mudah untuk mendapatkan partisipasi seluruh kelas dan

pertanggung jawaban individu. Model ini memberi kesempatan bagi setiap peserta

didik untuk bertindak sebagai “guru” bagi peserta didik lain”. Pendapat ini

didukung oleh Fachrurrozi dan Mahyuddin (2010: 206) yang menjelaskan bahwa,

“Everyone Is A Teacher Here adalah suatu model yang memberi kesempatan

kepada setiap peserta didik untuk bertindak sebagai “pengajar” terhadap peserta

didik lain”. Artinya, model pembelajaran Everyone Is A Teacher Here memberi

kesempatan kepada setiap peserta didik untuk menjadi pengajar terhadap peserta

didik lainnya.

Dengan demikian, model pembelajaran Everyone is a Teacher Here

(semua orang adalah guru) adalah model yang memungkinkan peserta didik untuk

dapat belajar dengan mudah, menyenangkan dan dapat tercapai tujuan

pembelajaran sesuai dengan tuntutan kompetensi. Prosedurnya dilakukan dengan

peserta didik menulis pertanyaan di kartu indeks, mempersiapkan jawaban, dan

berkomunikasi. Dengan berkomunikasi, pembelajaran dititik beratkan pada

hubungan antar individu dan sumber belajar yang lain. Orientasinya pada

kemampuan individu maupun kelompok untuk berhubungan dengan sumber

belajar.

Berdasarkan uraian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa model

Everyone Is A Teacher Here dapat memotivasi peserta didik untuk aktif mengajar

temannya, mempelajari sesuatu dengan baik pada waktu yang sama, dan memiliki

kesempatan untuk mengemukakan pendapat. Hal ini didukung oleh pendapat


26

Ismail (2008: 74) yang menyatakan bahwa, “Tujuan model Everyone Is A Teacher

Here ini adalah membiasakan peserta didik untuk belajar aktif secara individu dan

membudayakan sifat berani bertanya, tidak minder dan tidak takut salah”. Dengan

demikian, model Everyone Is A Teacher Here bertujuan untuk membuat peserta

didik menjadi lebih aktif dalam proses belajar.

2.4.2 Langkah-langkah Model Pembelajaran Everyone Is A Teacher Here

Langkah-langkah model pembelajaran Everyone Is Teacher Here menurut

Djamarah (2010: 397-398) adalah sebagai berikut.

1. Bagikan secarik kertas/kartu indeks kepada seluruh anak didik. Minta


mereka untuk menuliskan satu pertanyaan tentang meteri pelajaran yang
sedang dipelajari di kelas (misalnya tugas membaca) atau sebuah topik
khusus yang akan didiskusikan di dalam kelas.
2. Kumpulkan kertas, acak kertas tersebut, kemudian bagikan kepada
setiap anak didik. Pastikan, tidak ada anak didik yang menerima soal
yang ditulis sendiri. Minta mereka untuk membaca dalam hati
pertanyaan dalam kertas tersebut, kemudian memikirkan jawabannya.
3. Minta anak didik secara sukarela untuk membacakan pertanyaan
tersebut dan jawabannya.
4. Setelah jawaban diberikan, mintalah anak didik lainnya untuk
menambahkan.
5. Lanjutkan dengan sukarelawan berikutnya.

Sedangkan langkah-langkah model Everyone Is A Teacher Here menurut

Silberman (2010: 183-184) adalah sebagai berikut.

1. Bagikan kartu indeks kepada setiap peserta didik. Perintahkan peserta


didik untuk menuliskan pertanyaan yang mereka miliki tentang materi
belajar yang tengah dipelajari di kelas (misalnya tugas membaca) atau
topik khusus yang ingin mereka diskusikan di kelas.
2. Kumpulkan kartu, kemudian kocoklah, dan bagikan satu-satu kepada
peserta didik. Perintahkan peserta didik untuk membaca dalam hati
pertanyaan atau topik pada kartu yang mereka terima dan pikirkan
jawabannya.
3. Tunjuklah beberapa peserta didik untuk membacakan kartu yang
mereka dapatkan dan memberikan jawabannya.
27

4. Setelah memberikan jawaban, perintahkan peserta didik lain untuk


memberikan tambahan atas apa yang dikemukakan oleh peserta didik
yang membacakan kartunya itu.
5. Lanjutkan prosdur ini bila waktunya memungkinkan.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan langkah-langkah Everyone Is

A Teacher Here adalah sebagai berikut.

1. Kartu indeks diedarkan pada tiap siswa, dan siswa diminta untuk menuliskan

pertanyaan tentang materi pelajaran yang sedang dipelajari.

2. Kumpulkan kartu indeks yang sudah diisi pertanyaan kemudian bagikan kartu

tersebut kepada seluruh siswa secara acak.

3. Minta siswa untuk membacakan pertanyaan dan menjelaskan jawabannya di

depan kelas.

4. Setelah pertanyaan di jawab minta siswa lain untuk mananggapi jawaban

yang dikemukakan temannya.

5. Lanjutkan dengan siswa lainnya.

2.4.3 Manfaat model Everyone Is A Teacher Here

Sekarningrum dan Rahayu (Cahyani, 2014: 37) menguraikan manfaat-

manfaat penerapan model Everyone Is A Teacher Here yaitu sebagai berikut.

1. Meningkatkan partisipasi kelas secara keseluruhan dan individual.


2. Mengaktifkan peserta didik.
3. Menggali informasi secara luas baik administrasi maupun akademis.
4. Mengecek pemahaman siswa tentang pokok bahasan tertentu.
5. Membangkitkan respon siswa.

Dengan demikian, manfaat model Everyone Is A Teacher Here adalah

meningkatkan partisipasi kelas, mengaktifkan peserta didik, menggali informasi


28

secara luas, mengecek pemahaman siswa tentang pokok bahasan tertentu dan

membangkitkan respon siswa.

2.4.4 Kelebihan Model Everyone Is A Teacher Here

Silberman (2009: 183) menjelaskan bahwa, kelebihan-kelebihan model

Everyone is a Teacher Here yaitu sebagai berikut.

1. Mendukung pembelajaran sesama peserta didik di kelas.


2. Tanggung jawab pembelajaran berada pada seluruh anggota kelas.
3. Meningkatkan proses pembelajaran peserta didik.
4. Dapat diterapkan dan disesuaikan dengan semua mata pelajaran.
5. Meningkatkan kemampuan dalam mengemukakan pendapat.
6. Meningkatkan kemampuan dalam menganalisis masalah.
7. Meningkatkan keterampilan dalam membuat simpulan.

Djamarah dan Zaini (Cahyani, 2014: 38) turut menjelaskan kelebihan-

kelebihan model Everyone Is A Teacher Here ini yaitu sebagai berikut.

1. Pertanyaan dapat menarik dan memusatkan perhatian peserta didik,


sekalipun ketika itu peserta didik sedang ribut, yang mengantuk
kembali segar dan hilang kantuknya.
2. Merangsang peserta didik untuk melatih dan mengembangkan daya
pikir, termasuk daya ingatan.
3. Mengembangkan keberanian dan tampil percaya diri dalam menjawab
dan mengemukakan pendapat.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan kelebihan dari model

Everyone Is A Teacher Here yaitu dapat mengaktifkan seluruh peserta didik,

meningkatkan proses belajar mengajar dan meningkatkan kemampuan peserta

didik dalam memahami materi pelajaran.

2.4.5 Kelemahan Model Everyone Is A Teacher Here


29

Djamarah dan Zaini (Cahyani, 2014: 38-39) menjelaskan kelemahan

model Everyone Is A Teacher Here ini yaitu sebagai berikut.

1. Pertanyaan yang diajukan siswa tidak sesuai dengan tujuan


pembelajaran.
2. Membutuhkan waktu yang lama untuk menghabiskan semua pertanyaan
untuk kelas besar.
3. Siswa merasa takut ketika tidak bisa menjawab pertanyaan.

Dapat disimpulkan bahwa kelemahan model Everyone Is A Teacher Here

adalah tidak sesuainya pertanyaan dengan tujuan pembelajaran, membutuhkan

waktu lama dan siswa menjadi takut ketika tidak bisa menjawab.

2.5 Anggapan Dasar

Anggapan dasar atau postulat adalah sebuah titik tolak pemikiran yang

kebenarannya diterima oleh penyelidik. Berdasarkan hal tersebut, penulis

mendapat gambaran bahwa anggapan dasar mempunyai kedudukan sangat penting

dalam melaksanakan penelitian, yaitu sebagai titik tolak penelitian. Adapun

anggapan dasar yang penulis tentukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Materi pembelajaran memahami kontruksi baterai dan komponen-

komponennya merupkan salah satu materi pokok pembelajaran yang tercantum

dalam KTSP.

2. Dalam pembelajaran memahami kontruksi baterai dan komponen-

komponennya diperlukan model pembelajaran yang membuat siswa aktif

sehingga bisa diperoleh hasil belajar yang optimal.


30

3. Model pembelajaran merupakan bagian integral dalam interaksi pembelajaran

di sekolah karena turut menentukan keberhasilan pencapaian indikator hasil

pembelajaran.

4. Model pembelajaran Everyone Is A Teacher Here merupakan salah satu model

pembelajaran yang dapat di gunakan dalam pembelajaran memahami kontruksi

baterai dan komponen-komponennya sebab model ini mampu membuat siswa

lebih aktif.

2.6 Hipotesis

Hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara

terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul.

Berangkat dari uraian tersebut, penulis merumuskan hipotesis dalam penelitian ini

yaitu, “Terdapat pengaruh yang signifikan antara model pembelajaran Everyone Is

A Teacher Here terhadap hasil belajar siswa pada materi memahami kontruksi

baterai dan komponen-komponennya pada siswa kelas X teknik otomotif SMK

YPSA tahun pelajaran 2015/2016”.

Anda mungkin juga menyukai