0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan6 halaman

Pengujian Fluiditas Paduan Perunggu Timah

Diunggah oleh

alrinrahangmetan84
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan6 halaman

Pengujian Fluiditas Paduan Perunggu Timah

Diunggah oleh

alrinrahangmetan84
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Prosiding SNATIF Ke -4 Tahun 2017 ISBN: 978-602-1180-50-1

PENGARUH KOMPOSISI DAN TEMPERATUR RUANG TERHADAP


FLUIDITAS PADUAN PERUNGGU TIMAH MELALUI INVESTMENT
CASTING.

Sugeng Slamet1,2 , Suyitno1


1
Departemen Teknik Mesin dan Industri, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada
Jl. Grafika No. 2 Yogyakarta 55281
2
Program studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Muria Kudus
Jl. Gondangmanis, PO. Box 53, Bae, Kudus 59352
*
Email: [Link]@[Link]

Abstrak
Logam perunggu merupakan paduan antara tembaga dengan timah yang lebih dikenal dengan
paduan Cu-Sn. Perunggu merupakan paduan berbahan dasar tembaga yang telah lama digunakan
untuk berbagai macam keperluan. Komposisi timah yang ada dalam paduan perunggu juga sangat
menentukan sifat fisis yang dihasilkan. Perunggu selain digunakan untuk membuat berbagai
macam produk rumah tangga, asesories, komponen permesinan, juga digunakan untuk membuat
alat musik gamelan. Keberhasilan proses pengecoran perunggu timah sangat dipengaruhi sifat
mampu alir dan mampu isi pada cetakan.
Metode yang dilakukan adalah membuat paduan perunggu timah pada batas high tin bronze.
Paduan yang digunakan yaitu Cu-(20,22, 24 dan 25%)Sn. Paduan perunggu dilakukan peleburan
pada temperatur Tm, TS1 dan TS2. Pengujian fluiditas menggunakan jenis cetakan investment
casting dengan model cetakan Birmingham. Variasi rongga cetakan dibuat dengan ketebalan strip
plat 1.5,2,3,4 dan 5 mm dengan panjang 400 mm. Temperatur cetakan saat penuangan pada
temperatur rata-rata 300°C. Pengujian dilakukan dengan menentukan panjang fluiditas paduan
perunggu pada beberapa komposisi dengan variasi temperatur penuangan..
Hasil pengujian menunjukkan panjang fluiditas mengalami penurunan dengan penambahan Sn
pada temperatur lebur (Tm). Peningkatan temperatur Ts1 dan Ts2 mampu meningkatkan laju
fluiditas. Peningkatan tebal strip plat meningkatkan laju fludititas pada setiap komposisi paduan
perunggu timah. Laju fluiditas sangat penting untuk menghindari gagal produk terutama pada
pembuatan produk cor berdinding tipis.

Kata kunci : fluiditas, komposisi paduan, perunggu timah, investment casting, temperatur tuang.

1. PENDAHULUAN
Tembaga paduan khususnya perunggu mulai digunakan sejak ilmu metalurgi dikenal oleh
masyarakat yaitu sekitar abad 9 dan 10 (Srinivasan et al. 2007). Perunggu merupakan paduan
antara logam tembaga (Cu) dan timah (Sn). Paduan perunggu pada komposisi 10%,14% dan 20%
Sn banyak digunakan untuk produk patung, persenjataan militer serta alat musik seperti lonceng,
gamelan, simbal drum dan lainnya. Material perunggu timah (Cu-Sn) diaplikasikan untuk
pembuatan lonceng gereja selama berabad-abad (Audy & Audy 2008). Perunggu timah terbagi
menjadi 2 kelompok yaitu : perunggu timah rendah dengan kadar timah kurang dari 17% dan
perunggu timah tinggi kadar timah lebih dari 17% (Republic 2012).
Perunggu timah dipilih sebagai bahan untuk lonceng dan alat musik karena mempunyai
keunggulan yaitu : mampu cor yang baik, menghasilkan produk lonceng dengan kualitas tinggi,
umur pakai tinggi dan mempunyai sifat akustik yang baik (Sugita et al. 2011). Penambahan timah
putih (Sn) pada paduan perunggu sebagai material alat musik khususnya lonceng sangat
mempengaruhi sifat mekanis dan akustik yang dihasilkan. Paduan perunggu 10-20% Sn, 5% Zn
dan 1%Sb akan mampu meningkatkan kekuatan tarik, keuletan, kekerasan dan sifat akustiknya.
Penambahan unsur lain lebih dari 1.5% Pb, Zn dan 1% Ag pada paduan justru akan menurunkan
kualitas akustiknya (Audy & Audy 2008). Paduan perunggu komposisi 20-25%Sn menghasilkan
produk lonceng dengan frekuensi yang tinggi dibanding menggunakan paduan 10-15%Sn (Debut et
al. 2016). Densitas perunggu dapat ditingkatkan dengan menambahkan logam lain yaitu seng (Zn).
Unsur seng digunakan untuk menghasilkan paduan perunggu yang lebih keras, kuat, warna yang
menarik, dan meningkatkan fluiditasnya.

Fakultas Teknik – Universitas Muria Kudus


655
Prosiding SNATIF Ke -4 Tahun 2017 ISBN: 978-602-1180-50-1

Fluiditas adalah kemampuan logam cair mengalir dalam cetakan uji sampai berhenti karena
terjadi solidifikasi (Campbell & Harding 1994). Produk hasil pengecoran akan menjadi cacat
apabila sifat fluiditas logam jelek terutama pada kasus pengecoran benda benda tipis. Mampu alir
atau fluiditas logam cor sangat mempengaruhi kualitas produk cor. Fluiditas logam cor yang rendah
tidak akan mampu mengisi rongga cor keseluruhan sehingga akan menimbulkan cacat produk.
Fluiditas sangat dipengaruhi oleh temperatur tuang, perpindahan panas, viskositas, tegangan
permukaan dan inklusi logam (Valery Marinov, 2004). Pengukuran fluiditas secara tidak langsung
juga mengukur viskositas, panjang fluiditas dan memaparkan sifat-sifat dari komposisi paduan
(Raza 2015).Viskositas paling tinggi terjadi pada fase β yaitu pada paduan Cu-25%Sn. Ketika
konsentrasi paduan antara 20-40% viskositas cenderung meningkat dengan penurunan temperatur
sangat cepat (Tan et al. 2007). Panjang fluiditas diukur dari titik tuang sampai dengan titik
pembekuan berhenti dan merupakan jarak maksimum logam cair mengalir di dalam cetakan
(Siavashi 2011). Fluiditas yang jelek akan menyulitkan pengisian cetakan dan meningkatnya cacat
cor (Caliari et al. 2015).
Metode uji fluiditas dapat dilakukan dengan beberapa model cetakan. Pengujian fluiditas
dengan model cetakan spiral merupakan metode yang sangat sederhana. Metode ini dilakukan
dengan mengalirkan logam cair dalam cetakan berbentuk spiral. Kemampuan fluiditas logam
diukur dengan mengukur panjang benda cor yang terbentuk. Metode ini sesuai untuk menguji
fluiditas paduan Aluminium (Sabatino 2005). Metode lain yang dapat digunakan untuk menguji
laju fluiditas adalah model cetakan Birmingham. Metode ini dikembangkan selain dapat mengukur
panjang fluiditas juga dapat digunakan untuk mengukur efek dari dimensi rongga terhadap laju
pembekuan logam cair saat penuangan (Campbell & Harding 1994). Selain kedua metode diatas
terdapat juga uji fluiditas menggunakan model Qudong. Metode ini mempunyai keunggulan
dimana 8 alur yang ada akan mendapatkan distribusi aliran logam cair yang sama besar karena
saluran turun terletak di tengah cetakan (Qudong et al. 1999). Metode Birmingham dan metode
Wang Qudong sangat sesuai untuk menentukan panjang fluiditas dan ketebalan rongga yang dilalui
logam cair. Beberapa model uji fluiditas sebagaimana ditunjukkan pada gambar 1.

Gambar 1. (a) metode spiral (b) metode Birmingham, UK (c) metode Qudong

2. METODOLOGI
Penelitian ini menggunakan master alloys paduan perunggu timah Cu-(20,22,24 dan 25%)Sn
dengan uji spektrometri ditunjukkan pada tabel 1.
Tabel 1. Uji komposisi
Komposisi paduan
Paduan
Cu Sn Zn Pb Fe Ni Al
Cu-25%Sn 73.71 24.92 <0.05 0.51 0.59 <0.02 0.041
Cu-24%Sn 75.13 23.89 0.140 0.204 0.487 0.14 <0.001
Cu-22%Sn 78.16 21.49 0.037 0.149 0.13 0.10 <0.001
Cu-20%Sn 78.36 20.03 0.372 0.10 0.00 0.08 0.00

Paduan perunggu timah selanjutnya dilakukan proses peleburan pada tungku peleburan
dengan variasi temperatur tuang yaitu Tm, Ts1 dan Ts2. Tm ( melting temperatur ) merupakan
temperatur lebur, ditentukan dengan mengacu pada diagaram fase Cu-Sn. Sedangkan Ts1

Fakultas Teknik – Universitas Muria Kudus


656
Prosiding SNATIF Ke -4 Tahun 2017 ISBN: 978-602-1180-50-1

(superheat temperatur 1) dan Ts2 (superheat temperatur 2) ditentukan dengan menghitung selisih
temperatur liquidus (TL) dengan temperatur lebur (Tm). Batasan temperatur tuang dan komposisi
paduan yang dimaksud dalam penelitian ini, ditunjukkan pada diagram fase gambar 2.

Gambar 2. Diagram fase Cu-Sn: Tm; Ts1=1000°C;Ts2=1100°C

Cetakan uji fluiditas dalam penelitian ini menggunakan pola lilin dengan metode investment
casting. Pola lilin dilapisi dengan slurry yang merupakan campuran antara tanah liat, pasir cetak
lolos mesh 100 dan air sebagai pengikat. Cetakan dikeringkan secara alami dan selanjutnya
dilakukan proses dewaxing untuk mengeluarkan pola lilin. Proses sintering dilakukan pada cetakan
sampai mencapai temperatur 700ºC. Sintering ini bertujuan untuk melepaskan kandungan air dan
memperkuat ikatan antar partikel antara tanah liat dan pasir. Model dan dimensi cetakan
ditunjukkan pada gambar 3.

Gambar 3. Model dan dimensi cetakan uji fluiditas

Gambar 4. Menunjukkan penempatan pola lilin dalam cetakan dan hasil akhir cetakan investment
setelah dilapisi dengan slurry campuran tanah liat dan pasir mesh 100.

a b

Gambar 4. Cetakan uji fluiditas (a) pola lilin (b) cetakan sudah dilapisi slurry

Fakultas Teknik – Universitas Muria Kudus


657
Prosiding SNATIF Ke -4 Tahun 2017 ISBN: 978-602-1180-50-1

Tahapan proses dalam penelitian ini mengikuti diagram alir sebagaimana ditunjukkan pada gambar
5.
Mulai

Membuat master alloys Membuat pola dan

Melakukan uji Melakukan proses

Proses peleburan dan

Pengukuran specimen uji

Analisis dan pembahasan

Selesai
Gambar 5. Diagram alir penelitian

3. HASIL DAN PEMBAHASAN


Paduan perunggu komposisi 20-25%Sn sebagai objek dalam penelitian ini merupakan paduan
high tin bronze. Hasil pengujian fluiditas yang telah dilakukan terhadap komposisi paduan 20-
25%Sn ditunjukkan pada gambar 6.

a b

c d

Gambar 6. Uji fluiditas investment casting (a) 20%Sn (b)22%Sn (c)24%Sn (d) Cu-25%Sn

Fakultas Teknik – Universitas Muria Kudus


658
Prosiding SNATIF Ke -4 Tahun 2017 ISBN: 978-602-1180-50-1

Perlakuan temparatur terhadap panjang fluiditas menunjukkan bahwa perubahan temperatur


tuang dari Tm ke Ts1 dan Ts2 akan meningkatkan panjang fluiditas pada semua komposisi paduan.
Panjang fluiditas paling rendah terjadi pada temperatur lebur (Tm), sedangkan perlakuan
temperatur superheat (Ts1 dan Ts2) akan meningkatkan panjang fluiditas. Peningkatan temperatur
akan menyebabkan turunnya tegangan permukaan antara logam cair dengan dinding cetakan dan
viskositas, sehingga menambah kecepatan pengisian (Di Sabatino 2005). Peningkatan tempeartur
tuang akan menurunkan viskositas (Mudry et al. 2013). Temperatur tuang yang tinggi juga akan
memperpanjang waktu pembekuan, semakin lama waktu pembekuan semakin panjang aliran
logam. Peningkatan panjang fluiditas logam cair untuk mengisi rongga yang tipis sangat kecil
dibanding pada rongga yang tebal (Qudong et al. 1999).
Penambahan komposisi timah akan meningkatkan viskositas yang dapat menurunkan mampu
alir dan menurunkan panjang fluiditas. Logam paduan pada umumnya mempunyai batas
pembekuan yang pendek dibandingkan dengan logam murni. Paduan akan mempunyai fluiditas
yang tinggi jika mempunyai batas pembekuan yang panjang. Komposisi 10%Sn merupakan fase
pembekuan α+L dan terus bergerak menuju fase pembekuan β+L pada komposisi 25%Sn. Batas
daerah pembekuan pada α+L lebih panjang sementara batas daerah pembekuan β+L lebih pendek.
Panjang fluiditas sangat dipengaruhi oleh kecepatan penuangan dan waktu pembekuan
(Talat,1994).Transisi intermetalic fase α dan β ini akan menyebabkan peningkatan viskositas yang
dapat menurunkan panjang fluiditas. Penambahan komposisi timah akan meningkatkan viskositas
paduan mulai pada 10%Sn dan maksimal 25%Sn (Tan et al. 2007). Penambahan komposisi 20-
30%Sn akan mempengaruhi viskositas pada phase β dan γ intermetalic (Mudry et al. 2013).
Tebal strip terhadap panjang fluiditas menunjukkan bahwa penambahan tebal strip pada
cetakan akan meningkatkan panjang fluiditas pada semua komposisi. Penambahan tebal strip akan
meningkatkan mampu alir dan volume aliran logam cor masuk ke dalam cetakan. Gambar 7. hasil
pengukuran panjang fluiditas tiap komposisi paduan Cu-Sn.
Fluiditas Cu-20%Sn Investment 500 Fluiditas Cu-22%Sn Investment
500
Panjang fluiditas (mm)

Casting 400 casting


a b
Panjang fluiditas (mm)

300

200

100
0 0
1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 1.0 2.0 3.0 4.0 5.0 6.0
Tebal strip (mm)
Tm =900°C TS1 = 1000°C Tebal Tm
strip (mm)
=850°C

500 Fluiditas Cu-24%Sn Investment 600 Fluiditas Cu-25%Sn


Panjang fluiditas (mm)

400 Casting
c d Investment casting
Panjang fluiditas (mm)

300 400

200
200
100
0
0
1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5 4.0 4.5 5.0 5.5
1.0 2.0 3.0 4.0 5.0
TebalTmstrip (mm )
=825°C Tm =800°C
Tebal strip (mm)
Gambar 3. Grafik panjang fluiditas (a) 20%Sn (b) 22%Sn (c) 24%Sn (d) 25%Sn

Paduan perunggu timah yang direkomendasikan untuk bahan alat musik gamelan dan lonceng
berkisar antara 20-23%Sn (Goodway 1992) dan 20-25%Sn (Debut et al. 2016).

Fakultas Teknik – Universitas Muria Kudus


659
Prosiding SNATIF Ke -4 Tahun 2017 ISBN: 978-602-1180-50-1

4. KESIMPULAN
Pengujian fluiditas sangat menentukan keberhasilan proses pengecoran untuk dapat
meminimalisir cacat produk. Kesimpulan yang dapat diambil dari pengujian fluiditas paduan
perunggu timah dengan penambahan komposisi dan tempartur tuang adalah sebagai berikut :
1. Variasi temperatur tuang, komposisi paduan serta tebal rongga cetakan sangat
mempengaruhi fluiditas paduan perunggu timah.
2. Peningkatan temperatur tuang dan tebal rongga cetakan akan meningkatkan panjang
fluiditas.
3. Peningkatan komposisi timah pada high tin bronze yaitu > 17%Sn cenderung
menurunkan laju fluiditas, terutama pada temperatur lebur (Tm) akibat dari makin
pendeknya waktu pembekuan pada fase α+L dan β +L.
4. Peningkatan temperatur liquidus (Ts1 dan Ts 2) dan tebal rongga akan meningkatkan
panjang fluiditas pada komposisi 20-24%Sn yang berada pada fase α+L, sedangkan
paduan 25%Sn berada pada fase β +L menunjukkan padang fluiditas yang lebih pendek.

DAFTAR PUSTAKA
Audy, J. & Audy, K., 2008. Analysis of bell materials: Tin bronzes. China Foundry, 5(3), pp.199–
204.
Caliari, D. et al., 2015. Fluidity of aluminium foundry alloys: Development of a testing procedure.
Metallurgia Italiana, 107(6), pp.11–18.
Campbell, J. & Harding, R.A., 1994. The Fluidity of Molten Metals 3205 The Fluidity of Molten
Metals. TALAT Lecture 3205, pp.1–19.
Debut, V. et al., 2016. The sound of bronze: Virtual resurrection of a broken medieval bell. Journal
of Cultural Heritage, 19, pp.544–554.
Goodway, M., 1992. Metals of Music. , 184, pp.177–184.
Mudry, S. et al., 2013. Viscosity and structure of liquid Cu – In alloys. Journal of Molecular
Liquids, 179, pp.94–97. Available at: [Link]
Qudong, W. et al., 1999. Study on the fluidity of AZ91+xRE magnesium alloy. Materials Science
and Engineering: A, 271(1–2), pp.109–115.
Raza, M., 2015. PROCESS DEVELOPMENT FOR INVESTMENT CASTING OF THIN-WALLED
COMPONENTS,
Republic, C., 2012. A MICROSTRUCTURAL STUDY ON CuSn10 BRONZE PRODUCED BY
SAND AND INVESTMENT CASTING TECHNIQUES Zeynep TAŞLIÇUKUR *, Gözde S
. ALTUĞ *, Şeyda POLAT **, Ş . Hakan ATAPEK **, Enbiya.
Sabatino, M. Di, 2005. Fluidity of aluminium foundry alloys. , (September).
Di Sabatino, M., 2005. Fluidity of aluminium foundry alloys. , (September), p.161.
Siavashi, K., 2011. The Effect of Casting Parameters on the Fluidity and Porosity of Aluminium
Alloys in the Lost Foam Casting Process. , p.226.
Srinivasan, S. et al., 2007. MEGALITHIC HIGH-TIN BRONZES AND PENINSULAR INDIA ‟ S
“ LIVING PREHISTORY ” Sharada Srinivasan. , (Srinivasan 1994).
Sugita, I.K.G., Soekrisno, R. & Miasa, I.M., 2011. The Effect of Annealing Temperature on
Damping Capacity of the Bronze 20 % Sn Alloy. , (August), pp.1–5.
Tan, M. et al., 2007. Correlation between viscosity of molten Cu-Sn alloys and phase diagram.
Physica B: Condensed Matter, 387(1–2), pp.1–5.
Talat, lecture 3205, 1994, The fluidity of molten metals, prepared by John Campbell and Richard
A. Harding, IRC in Materials, The University of Birmingham, pp.1-19

Fakultas Teknik – Universitas Muria Kudus


660

Anda mungkin juga menyukai