Pengaruh Kompres Dingin pada Nyeri Pasien
Pengaruh Kompres Dingin pada Nyeri Pasien
Oleh
Nurlita Eko Kusuma Wardani
11222177
Oleh
Nurlita Eko Kusuma Wardani
11222177
II
LEMBAR PERSETUJUAN
Proposal penelitian ini telah diperiksa disetujui dan dipertahankan dihadapan Tim
Penguji Program Studi S1 Keperawatan
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan PERTAMEDIKA
Mengetahui,
Kepala Program Studi S1 Keperawatan
III
LEMBAR PENGESAHAN
Pembimbing,
Penguji I,
IV
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadiran Allah SWT yang telah melimpahkan Rahm
at dan Karunianya sehingga peneliti dapat menyelesaikan proposal penelitian yan
g berjudul “Pengaruh Kompres Dingin Terhadap Skala Nyeri Pada Pasien Post Ka
teterisasi Jantung Akses Transradialis Di Ruang ICR Arimbi Rumah Sakit Pertami
na Pusat”
Proposal Penelitian ini dibuat untuk memenuhi tugas akhir mata ajar Skripsi pada
Program Studi S1 Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan PERTAMEDIKA.
Pada kesempatan ini peneliti ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada:
1. Drg. Mira Dyah Utami, MARS, selaku Direktur Utama PERTAMEDIKA/IHC
dan Pembina Yayasan Pendidikan PERTAMEDIKA.
2. Dr. Asep Saefudin., SH., MM., CHRP., CHRA, selaku Ketua Pengurus Yayasa
n Pendidikan PERTAMEDIKA.
3. Ns. Maryati, [Link]., [Link]., MARS, selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Keseh
atan PERTAMEDIKA.
4. Wasijati, [Link]., [Link]., [Link], selaku Pjs. Wakil Ketua I, pembimbing
akademik non regular 16A serta Kepala Program Studi S1 Keperawatan Sekol
ah Tinggi Ilmu Kesehatan PERTAMEDIKA .
5. Sri Sumartini, SE., MM, selaku Wakil Ketua II Sekolah Tinggi Ilmu Kesehata
n PERTAMEDIKA.
6. Ns. Achirman, SKM., [Link], selaku Wakil Ketua III Sekolah Tinggi Ilmu Ke
sehatan PERTAMEDIKA.
7. Ns. Alfonsa Reni Oktavia, [Link]., [Link], selaku Pembimbing Skripsi yang d
engan kesabaran dan kebaikannya telah membimbing penulis selama proses p
enelitian ini.
8. Ns. Gaung Eka Ramadhan, [Link]., [Link], selaku Penguji I yang telah bersedi
a menjadi penguji dalam proposal penelitian ini.
9. Dr. Neny Herawati, MKKK, selaku Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Perta
mina (RSPP).
10. Para dosen Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan PERTAMEDIKA.
V
11. Suamiku (Teddy Bertoni) yang tidak pernah lelah memberikan semangat juga
mendukung dalam hal materi dan non materi “ Love You so much” dan anak-a
nakku tercinta (Danish dan Gendhis) untuk suport doa dan dukungannya sela
ma ini (peluk Sayang selalu), sehingga proposal penelitian ini dapat selesai ses
uai dengan waktunya.
12. Orang tua saya (mama dan papa) yang tak pernah putus dengan Doanya,serta a
dik-adik saya yang selalu mendukung dan mendoakan saya dalam melakukan
penelitian ini, sehingga proposal penelitian ini dapat selesai sesuai dengan wa
ktunya.
13. Para responden atau keikutsertaan dan kerjasamanya, sehingga proposal peneli
tian ini dapat selesai sesuai dengan waktunya.
14. Teman-teman Angkatan Non Reguler XVI Program Studi S1 Keperawatan Se
kolah Tinggi Ilmu Kesehatan PERTAMEDIKA.
15. HOOD, supervisor Ruangan Arimbi Rumah Sakit Pertamina Pusat
16. Teman teman di Ruangan Arimbi yang membantu dan mensupport sehingga p
roposal penelitian ini dapat selesai sesuai dengan waktunya.
17. Semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu yang turut berpartisi
pasi sehingga selesainya penelitian ini.
VI
DAFTAR ISI
VII
LAMPIRAN………………………………………………………………….63
GAMBAR…………………………………………………………………….68
VIII
BAB I
PENDAHULUAN
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, angka kejadian
penyakit jantung dan pembuluh darah semakin meningkat dari tahun ke tahun. Set
idaknya 15 dari 1000 orang, atau sekitar 2.784.064 individu di Indonesia menderit
a penyakit jantung. Prevalensi jantung koroner berdasarkan terdiagnosis dokter di
DKI Jakarta yaitu 0,7 %. Prevalensi penyakit jantung berdasarkan diagnosis dokte
r pada Penduduk semua umur menurut karakteristik, Provinsi DKI Jakarta, yaitu 1,
9% atau 15.170 orang.
Penyakit jantung coroner dapat di tandai dengan gejala nyeri dada, berdebar – deb
ar, sesak nafas, pingsan (Nurhidayat. S, 2011). Penyakit jantung koroner dapat
menyebabkan komplikasi,yang paling sering terjadi antara lain: syok kardiogenik,
gagal, jantung kongestif, disfungsi otot papilaris, pericarditis akut, aneurisma
ventrikel,rupture miokard.( Wicaksono Saputro, 2019). Untuk mendeteksi
1
2
penyakit jantung koroner, ada beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilaku
kan, diantaranya EKG (elektrokardiografi), Ekokardiografi, Radioaktif isotop, An
giografi, Arterigrafi koroner (kateterisasi)(Setiati, 2014) .
Adapun kontra Indikasi dalam kateterisasi jantung relatif antara lain : penyakit
gagal jantung kongestif yang tidak terkontrol, tekanan darah tinggi, aritmia,
penyakit pembuluh darah serebral yang kurang dari satu bulan, infeksi/demam,
elektrolit tidak seimbang, perdarahan gastrointestinal, kehamilan, antikoagulasi
3
(perdarahan akut tidak terkontrol), pasien tidak kooperatif, keracunan obat (seperti
digitalis, phennothiazid), gagal ginjal. Sedangkan kontra indikasi mutlak (tidak
boleh dilakukan) apabila tidak cukup perlengkapan atau fasilitas ([Link]
Fadli,2023).
Adapun prosedur Tindakan Kateterisasi yaitu tindakan dilakukan di ruangan
khusus (laboratorium kateterisasi/Cathlab) & steril. Selama tindakan berlangsung
pasien tetap dalam keadaan sadar dan dapat berkomunikasi dengan dokter yang
melakukan [Link] akan dibius secara lokal di lipat paha atau pergelangan
tangan atau lipat siku sehingga pasien tidak akan merasakan nyeri. Sebuah selang
halus (kateter) “steril” dimasukan ke dalam pembuluh darah arteri koroner.
Kemudian, zat kontras akan diinjeksikan melalui kateter tersebut dan mengisi
arteri koroner. Sinar X-ray akan mengambil gambar saat arteri koroner berisi zat
kontras, sehingga kita dapat melihat adanya penyempitan atau sumbatan pada
arteri koroner tersebut( Dr. Hardjo Prawira, 2022). Kateterisasi jantung
merupakan yang tercepat (96- 99%) untuk mendeteksi kelainan kardiovaskular,
terutama penyakit jantung koroner (Spadaccio & Benedetto, 2018).
subjektif dan hanya orang yang mengalaminya, yang mampu menjelaskan dan me
ngevaluasi perasaan nyeri tersebut (Setiadi &Irawandi D, 2020). Nyeri adalah pen
galaman yang sangat individual dan subjektif yang dapat memengaruhi semua ora
ng di semua usia, nyeri dapat berasal dari beberapa penyebab, antara lain proses p
enyakit, cedera, prosedur, dan intervensi pembedahan (Kyle & Carman, 2019) .
Menurut (Brunner & Suddarth, 2013) Salah satu tindakan keperawatan yang diper
lukan paska kateterisasi jantung diantaranya adalah mengevaluasi pasien mengena
i keluhan nyeri, ketidaknyamanan, kesemutan pada bagian yang dilakukan tindaka
n, Peran perawat diharapkan bisa melakukan intervensi dalam meminimalisis efek
fisik serta emosional dari prosedur medis yang dianggap menyakitkan, sehingga p
erawat dituntut untuk melakukan suatu metoda yang terintegrasi dalam mengontro
l nyeri.
Kompres dingin adalah suatu metode dalam penggunaan suhu rendah setempat ya
ng dapat menimbulkan beberapa efek fisiologis. Terapi dingin diperkirakan meni
mbulkan efek analgetik dengan memperlambat kecepatan hantaran saraf sehingga
impuls nyeri yang mencapai otak lebih sedikit. Mekanisme lain yang bekerja adal
ah bahwa persepsi dingin menjadi dominan dan mengurangi persepsi nyeri. Komp
res dingin merupakan tindakan untuk menurunkan inflamasi dengan memberikan
energi dingin melalui proses konduksi, dimana energi tersebut dapat menyebabkan
vasokontriksi (penyempitan pembuluh darah) sehingga menambah pemasukkan o
ksigen, nutrisi dan leukosit darah yang menuju ke jaringan [Link] kompre
s dingin untuk pengobatan nyeri akut dan kronis dianggap sebagai intervensi kepe
rawatan nonfarmakologis. Pemberian kompres dingin banyak digunakan karena ef
ek fisiologisnya seperti vasokonstriksi pembuluh darah, memperlambat metabolis
me jaringan, peningkatan viskositas darah, dan sebagai anestesi lokal. Kompres di
ngin dapat mengurangi aliran darah dan permeabilitas kapiler dengan menyebabka
n vasokonstriksi arteriol, sehingga mengurangi perdarahan. Selain itu, mengurangi
kecepatan aliran darah dan meningkatkan viskositas dan koagulasi (Çürük et al., 2
017).
Data rekam medik RS Pusat Pertamina Jakarta pada tahun 2023 periode januari-se
ptember menunjukan jumlah pasien yang dirawat dengan diagnosa CAD
6
sebanyak 432 pasien. Salah satu Tindakan yang dilakukan pada pasien CAD adala
h Coronary Angiography (CAG) dan Percutaneous Coronary Intervention (PCI) at
au dikenal dengan kateterisasi jantung.
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti di Ruang Rawat inap pada
pasien post kateterisasi jantung jantung selama 3 bulan terakhir didapatkan data
112 pasien yang dirawat dengan post kateterisasi jantung di ruang ICR Arimbi
Rumah Sakit Pusat Pertamina. Dari 10 responden yang diwawancara oleh peneliti
didapat data pasien yang post kateterisasi melalui arteri radialis di ruang ICR Ari
mbi Rumah Sakit Pusat Pertamina mengatakan nyeri pada area luka dengan skala
nyeri 2-5 dengan menggunakan skala nyeri Numeric Rating Scale (NRS). Hal
tersebut menyebabkan rasa ketidaknyamanan.
B. Rumusan Masalah
Coronary Artery Disease (CAD) merupakan suatu gangguan fungsi jantung yang
disebabkan karena otot miokard kekurangan suplai darah akibat adanya penyempit
an arteri koroner dan tersumbatnya pembuluh darah jantung (AHA, 2017).Untuk
mendeteksi penyakit jantung koroner,ada beberapa pemeriksaan penunjang yang d
apat dilakukan,diantaranya EKG (elektrokardiografi),Ekokardiografi, Radioaktif i
sotop,Angiografi,Arterigrafi koroner (kateterisasi)(Setiati, 2014).
7
Dari data tersebut keluhan nyeri merupakan komplikasi yang paling sering terjadi
pada pasien paska tindakan akses transradial. Penyebab timbulnya nyeri/ ketidakn
yamanan pada pasien post kateterisasi jantung antara lain: adanya luka bekas tinda
kan invasif, letak area yang dilakukan tindakan dan respon pasien yang berbeda da
lam merasakan nyeri (Setiadi &Irawandi D, 2020)
hantaran saraf sehingga impuls nyeri yang mencapai otak lebih sedikit. Mekanism
e lain yang bekerja adalah bahwa persepsi dingin menjadi dominan dan menguran
gi persepsi nyeri. (Kristanto, A,2016).
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti di Ruang Rawat inap pada
pasien post kateterisasi jantung jantung selama 3 bulan terakhir didapatkan data
112 pasien yang dirawat dengan post kateterisasi jantung di ruang ICR Arimbi
Rumah Sakit Pusat Pertamina. Dari 10 responden yang diwawancara oleh peneliti
didapat data pasien yang post kateterisasi melalui arteri radialis di ruang ICR Ari
mbi Rumah Sakit Pusat Pertamina mengatakan nyeri pada area luka dengan skala
nyeri 2-5 dengan menggunakan skala nyeri Numeric Rating Scale (NRS).
Salah satu tindakan keperawatan yang diperlukan paska kateterisasi jantung dianta
ranya adalah mengevaluasi pasien mengenai keluhan nyeri, ketidaknyamanan, kes
emutan pada bagian yang dilakukan tindakan, Peran perawat diharapkan bisa mela
kukan intervensi dalam meminimalisis efek fisik serta emosional dari prosedur me
dis yang dianggap menyakitkan, sehingga perawat dituntut untuk melakukan suatu
metoda yang terintegrasi dalam mengontrol nyeri.
Manajemen nyeri nonfarmakologi salah satunya terapi relaksasi yaitu dengan pem
berian kompres dingin. Pemberian kompres dingin banyak digunakan karena efek
fisiologisnya seperti vasokonstriksi pembuluh darah, memperlambat metabolisme
jaringan, peningkatan viskositas darah, dan sebagai anestesi lokal.
Berdasarkan uraian diatas, dapat dirumuskan masalah yang menjadi pokok pemba
hasan dalam penelitian ini adalah “Apakah ada pengaruh kompres dingin terh
adap skala nyeri pada pasien post kateterisasi jantung akses transradial di
ruang ICR Arimbi Rumah Sakit Pertamina Pusat.”
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
9
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada peng
aruh kompres dingin terhadap skala nyeri pada pasien post kateterisasi jant
ung akses transradialis di ruang ICR Arimbi Rumah Sakit Pertamina Pusat.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi gambaran karakteristik pasien (usia dan jenis kelamin)
kateterisasi jantung akses transradial di ruang ICR Arimbi Rumah Sakit
Pertamina Pusat.
b. Mengidentifikasi gambaran rata-rata skala nyeri pasien pre kateterisasi j
antung akses transradial sebelum di berikan kompres dingin di ruang
ICR Arimbi Rumah Sakit Pertamina Pusat.
c. Mengidentifikasi gambaran rata-rata skala nyeri pasien post kateterisasi j
antung akses transradial sesudah diberikan intervensi kompres dingin di r
uang ICR Arimbi Rumah Sakit Pertamina Pusat.
d. Menganalisa pengaruh kompres dingin terhadap skala nyeri pasien post k
ateterisassi jantung akses transradial yang belum dan sesudah dilakukan i
ntervensi kompres dingin di ruang ICR Arimbi Rumah Sakit Pertamina P
usat.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Pelayanan Keperawatan.
Diharapkan dapat menjadi referensi dalam meningkatkan pelayanan keperaw
atan dengan memberikan kompres dingin untuk mengurangi nyeri pada pasie
n post kateterisasi jantung.
2. Bagi perkembangan ilmu keperawatan.
Sebagai bahan acuan dalam melakukan penelitian-penelitian lebih lanjut. Has
il penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan tenta
ng terapi non farmakologi kompres dingin untuk meringankan/mengurangi ny
eri pada pasien post kateterisasi jantung
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
b. Etiologi
Penyebab dari penyakit CAD ini ialah adanya sumbatan pada arteri
koroner, yang dapat menyebabkan serangan jantung iskemia miokardium
melalui tiga mekanisme: spasme vaskular hebat arteri koronaria,
pembentukan plak aterosklerotik dan tromboembolisme (Sherwood,
2014).
1) Spasme Vaskular, merupakan suatu konstriksi spastik abnormal yang
secara transien (sekejap/seketika) menyempitkan pembuluh
koronaria. Spasme ini terjadi jika oksigen yang tersedia untuk
pembuluh koronaria terlalu sedikit, sehingga endotel (lapisan 6
dalam pembuluh darah) menghasilkan platelet activating factor
(PAF). PAF memiliki efek utama yaitu menghasilkan trombosit.
PAF ini akan berdifusi ke otot polos vaskular di bawahnya dan
menyebabkan kontraksi, sehingga menimbulkan spasme vaskular.
10
11
Menurut Hemingway & Marmot (2015) ada beberapa faktor risiko yang
mengakibatkan terjadinya CAD yaitu :
1) Faktor yang tidak dapat dimodifikasi Faktor risiko biologis yang tida
k dapat diubah, yang meliputi:
a) Usia
Kerentanan terhadap aterosklerosis meningkat dengan bertamb
ahnya usia. Pada laki-laki biasanya risiko meningkat setelah u
mur 45 tahun sedangkan pada wanita umur 55 tahun.
b) Jenis Kelamin
Aterosklerosis 3 kali lebih sering terjadi pada pria dibanding w
anita. Wanita agaknya relatif lebih kebal terhadap penyakit ini
karena dilindungi oleh hormon estrogen, namun setelah menop
ause sama rentannya dengan pria.
c) Ras
Orang Amerika-Afrika lebih rentan terhadap aterosklerosis dib
anding orang kulit putih.
d) Riwayat Keluarga CAD
12
e) Obesitas Obesitas adalah jika berat badan lebih dari 30% berat b
adan standar. Obesitas akan meningkatkan kerja jantung dan ke
butuhan oksigen.
f) Inaktifitas Fisik
Inaktifitas fisik akan meningkatkan risiko aterosklerosis. Deng
an latihan fisik akan meningkatkan HDL dan aktivitas fibrinoli
sis.
g) Stres dan Pola Tingkah Laku
Stres akan merangsang Hiperaktivitas HPA yang dapat memper
cepat terjadinya CAD. Peningkatan kadar kortisol menyebabka
n ateroklerosis, hipertensi, dan kerusakan sel endotel pembuluh
darah dan merangsang kemotaksis (Januzzi dkk, 2014).
c. Klasifikasi
Penyakit jantung koroner menurut Chia et al., (2013) diklasifikasikan
menjadi 3, antara lain sebagai berikut:
1) Silent Ischaemeia (Asimtotik) Penderita tidak merasakan adanya tanda
penyakit.
2) Angina Pectoris Seseorang merasakan nyeri pada bagian dada daerah
sternum, substernal/dada sebelah kiri dan seringkali menjalar ke bagian
lengan sebelah kiri, rahang, punggung, leher, bahkan sampai ke lengan
kanan. Nyeri ini ditandai dengan adanya rasa tertekan benda berat dan
terasa panas. Durasinya sekitar 1-5 menit dan nyeri akan muncul saat
melakukan aktivitas dan berkurang dengan istirahat. Gambaran EKG dan
foto rontgen dada memperlihatkan bentuk jantung yang normal saat
istirahat. Jika hasil EKG menunjukkan depresi segmen ST, maka perlu
dilakukan exercise test.
3) Infark Miokard Akut Disebabkan karena jaringan otot jantung mati dan
kekurangan O2 dalam darah dalam beberapa waktu, ditandai dengan
nyeri dada sebelah kiri, menjalar ke lengan kiri. Nyeri timbul terus-
menerus dan berangsur lama, tidak mudah sembuh dengan hanya
beristirahat. Infark miokard akut berdasarkan EKG 12 sadapan dapat
14
d. Patofisiologi
PJK biasanya disebabkan oleh aterosklerosis, sumbatan pada arteri coroner
oleh plak lemak dan fibrosa (LeMone, Burke, & Bauldoff, 2016). Plak
atheroma pembuluh darah coroner dapat pecah akibat perubahan komposisi
plak dan penipisan fibrosa yang menutupi plak tersebut. Kejadian ini akan
diikuti oleh proses agregasi trombosit dan aktivasi jalur koagulasi sehingga
terbentuk thrombus yang kaya trombosit (white thrombus). Thrombus ini
akan menyumbat lubang pembuluh darah coroner, baik secara total maupun
parsial; atau menjadi mikroemboli yang menyumbat pembuluh coroner
(PERKI, 2018).
Pada sebagian pasien, SKA terjadi karena sumbatan dinamis akibat spasme
local arteria coroner epikardial (angina prinsmetal). Penyempitan arteri
koronaria, tanpa spasme maupun thrombus, dapat diakibatkan oleh progresi
pembentukan plak atau restenosis setelah Percutant Coronary Intervention
atau intervensi coroner perkutan (IKP) (PERKI, 2018)
e. Manifestasi Klinik
Pasien yang sudah mengalami CAD bisa saja tidak timbul gejala apapun.
Semakin besar sumbatan yang ada di dalam pembuluh darah, maka aliran
darah yang dapat melewatinya semakin sedikit, dan kemungkinan untuk
timbulnya gejala semakin besar. Pasien biasanya baru mengetahui adanya
CAD setelah timbul gejala. Gejala-gejala yang dapat timbul akibat CAD
antara lain (Mediskus, 2017):
1) Nyeri dada
Gejala yang paling sering terjadi akibat CAD adalah adanya nyeri
dada atau biasa disebut dengan angina pectoris. Nyeri dada ini
dirasakan sebagai rasa tidak nyaman atau tertekan di daerah dada,
sesuai dengan lokasi otot jantung yang tidak mendapat pasokan
oksigen. Nyeri dapat menjalar ke daerah bahu, lengan, leher, rahang,
atau punggung. Keluhan akan dirasakan semakin memberat dengan
adanya aktivitas.
2) Sesak
Jika jantung tidak mampu memompakan darah keseluruh tubuh akibat
adanya gangguan pada kontraktilitas jantung, hal ini dapat
mengakibatkan penumpukan darah dijantung sehingga terjadi aliran
balik ke paru-paru hal ini menyebabkan timbulnya penumpukan cairan
di dalam paru-paru maka seseorang akan mengalami sesak nafas
3) Aritmia Adalah gangguan dalam irama jantung yang bisa menimbulkan
perubahan elektrofisiologi otot-otot jantung. perubahan elektrofisiologi
ini bermanifestasi sebagai bentuk potensial aksi yaitu rekaman grafik
aktivitas listrik sel misalnya perangsangan simpatis akan meningkatkan
kecepatan denyut jantung.
4) Mual muntah
16
f. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang dapat dilakukan ialah pemeriksaan tekanan darah, tes
darah dan tes kadar gula/protein dalam air seni, dll. Pemeriksaan terkait
lainnya mencakup (AHA, 2016):
1) Electrocardiogram (EKG)
Pemeriksaan EKG pada saat latihan fisik dilakukan untuk mengkaji
respon jantung terhadap peningkatan beban kerja seperti latihan fisik.
Pemeriksaan dianggap positif PJK jika ditemukan iskemia miokard pada
EKG yakni adanya penurunan segmen ST, pasien mengalami nyeri
dada, atau pemeriksaan dihentikan jika terjadi keletihan berlebihan, atau
gejala lain sebelum perkiraan laju jantung maksimal dicapai Jika
pemeriksaan EKG awal tidak menunjukkan kelainan atau menunjukkan
kelainan yang non-diagnostik sementara angina
masih berlangsung, maka pemeriksaan diulang 10-20 menit kemudian.
Jika EKG ulangan tetap menunjukkan gambaran non diagnostik
sementara keluhan angina sangat sugestif SKA, maka pasien dipantau
selama 12-24 jam. EKG diulang setiap terjadi angina berulang atau
setidaknya 1 kali dalam 24 jam (PERKI, 2018).
2) Pemeriksaan laboratorium
17
g. Penatalaksanaan Medis
Pengobatan yang dapat diberikan (AHA, 2016):
1) Terapi awal
Terapi awal yang dimaksud adalah Morfin, Oksigen, Nitrat, Aspirin
(disingkat MONA), yang tidak harus diberikan semua atau bersamaan.
Yang dimaksud dengan terapi awal adalah terapi yang diberikan pada
pasien dengan diagnosis kerja kemungkinan CAD atau CAD atas dasar
keluhan angina di ruang gawat darurat, sebelum ada hasil pemeriksaan
EKG dan/atau marka jantung.
a) Tirah baring.
b) Suplemen oksigen harus diberikan segera bagi mereka dengan
saturasi O2 arteri < 90 % atau yang mengalami distress respirasi.
Suplemen oksigen dapat diberikan pada semua pasien CAD dalam 6
jam pertama, tanpa mempertimbangkan saturasi O2 arteri.
c) Aspirin 160-320 mg diberikan segera pada semua pasien yang tidak
diketahui intoleransinya terhadap aspirin (Kelas I-A). Aspirin tidak
bersalut lebih terpilih mengingat absorpsi sublingual (di bawah
lidah) yang lebih cepat.
d) Penghambat reseptor ADP (adenosine diphosphate)
Dosis awal ticagrelor yang dianjurkan adalah 180 mg dilanjutkan
dengan dosis pemeliharaan 2 x 90 mg/hari kecuali pada pasien
STEMI yang direncanakan untuk reperfusi menggunakan agen
fibrinolitik atau dosis awal clopidogrel adalah 300 mg dilanjutkan
dengan dosis pemeliharaan 75 mg/hari (pada pasien yang
direncanakan untuk terapi reperfusi menggunakan agen fibrinolitik,
penghambat reseptor ADP yang dianjurkan adalah clopidogrel
e) Nitrogliserin (NTG) spray/tablet sublingual bagi pasien dengan
nyeri dada yang masih berlangsung saat tiba di ruang gawat darurat.
jika nyeri dada tidak hilang dengan satu kali pemberian, dapat
diulang setiap lima menit sampai maksimal tiga kali. Nitrogliserin
intravena diberikan pada pasien yang tidak responsif denganterapi
tiga dosis NTG sublingual. dalam keadaan tidak tersedia NTG,
isosorbid dinitrat (ISDN) dapat dipakai sebagai pengganti.
20
2. Kateterisasi Jantung
a. Pengertian
Para ahli memberikan pengertian tentang kateterisasi jantung. Beberapa
pengertian kateterisasi jantung menurut beberapa ahli antara lain sebagai
berikut:
1) Katerisasi jantung merupakan teknik intervensi dan diagnosa hemodinam
ik yang paling banyak digunakan di dunia (Sinaga et al., 2022).
2) Katerisasi jantung adalah tindakan non ivasif atau non pembedahan dima
na selang kateter yang tipis (diameter sekitar 1,7 mm) dan panjang dimas
ukkan ke dalam pembuluh darah, kemudian diarahkan menuju jantung. S
alah satu jenis kateterisasi jantung yang paling sering dilakukan adalah p
emeriksaan aliran pembuluh darah koroner jantung, atau dikenal dengan
angiografi koroner (Pramudita, 2022).
22
b. Jenis-Jenis
Pembagian PCI berdasarkan onset, sebagai berikut : (Harselia S, 2018)
1) Primary Percutaneous Coronary Intervention adalah tindakan
angiosplasthy (dengan atau tanpa stent) yang dilakukan pada Akut
koroner Infark dengan Onset gejala kurang dari 12 Jam pada lumen
koroner yang mengalami penyumbatan tanpa di dahului pemberian
fibronilitik atau obat lain yang dapat melarutkan bekuan darah,
Keterlambatan door to needle atau door to balloon tiap 30 menit akan
meningkatkan risiko relative 1 tahun sebanyak 7.5%. Sehingga segala
usaha harus dilakukan untuk mempercepat reperfusi.
2) Early Percutaneous Coronary Intervention adalah tidakan yang
dilakukan pada Akut koroner Infark dengan Onset gejala lebih dari 12
Jam
3) Rescue Percutaneous Coronary Intervention adalah tindakan yang
dilakukan pada Akut koroner Infark dengan Onset gejala kurang dari 12
Jam setelah mengalami kegagalan terapi Fibrinolitik
23
c. Indikasi.
Indikasi kateterisasi jantung menurut Darliana (2017), adalah sebagai berikut:
1) Memiliki gejala penyakit arteri koroner meskipun telah mendapat terapi
medis yang adekuat
2) Penentuan prognosis pada pasien dengan penyakit arteri koroner Nyeri d
ada stabil dengan perubahan iskemik bermakna pada tes latihan
3) Pasien dengan nyeri dada tanpa etiologi yang jelas
4) Sindrom koroner tidak stabil (terutama dengan peningkatan Toponin T at
au I
5) Pasca infark miokard non gelombang Q
6) Pasca infark miokard gelombang Q pada pasien risiko tinggi (ditentukan
dengan tes latihan atau pemindaian perfusi miokard)
7) Pasien dengan aritmia berlanjut atau berulang
8) Gejala berulang pasca Coronary Artery Bypass Graft (CABG) atau Perc
utaneus Coronary Intervention (PCI)
9) Pasien yang menjalani pembedahan katup jantung
10) Pasien gagal jantung dengan etiologi yang tidak jelas
11) Menentukan penyebab nyeri dada pada kardiomiopati hipertropi
d. Kontra Indikasi.
Kontra Indikasi kateterisasi jantung/ angiografi koroner antara lain :
1. Bleeding disorder/ koagulopati ialah kondisi di mana kemampuan darah
koagulasi/menggumpal untuk membentuk trombus atau bekuan.
2. CHF/gagal Jantung kongestif
3. Hipertensi
4. CVA/Cerebrovaskuler
5. Aritmia
6. Gastroinstestinal disertai perdarahan
7. Penderita dengan kehamilan
24
e. Komplikasi.
Hal-hal yang kemungkinan bisa terjadi akibat tindakan kateterisasi jantung
menurut American College of Cardiology dalam (Handayani,2018) :
1) Komplikasi vaskular mayor antara lain: tromboemboli, meninggal akibat
komplikasi vaskular, invasif vaskular, perdarahan vaskular mayor,
turunnya hemoglobin (HB) > 3g akibat perdarahan akses vaskular,
retroperineal mengalami perdarahan, penyempitan/sumbatan vaskular,
nadi tidak teraba.
2) Komplikasi vaskular minor: Hematoma/pembengkakan 10 cm,
arteriovenous fistule, pseudoaneurysm, komplikasi jarang seperti: ruptur
pembuluh darah, kateter melilit, kateter putus, perforasi arteria koroner,
nyeri daerah tusukan.
3. Akses Radialis
a. Pengertian arteri radial
Arteri radial adalah arteri besar yang memberikan darah ke tangan, lengan
bawah, dan bagian dari lengan pengguna. Ini juga membantu kepala dan
leher dengan cabang yang sangat kecil di beberapa tempat. Arteri radial
adalah salah satu dari tiga arteri yang terletak di permukaan bawah lengan
Anda di dekat garis tengahnya. Ini disebut "radial" karena berjalan sejajar
dengan Anda radius tulang. (Health Literacy, 2021)
b. Fungsi arteri radial
Terutama, arteri radial memasok darah ke siku, otot lengan bawah lateral,
saraf radial, terowongan utama tulang dan sendi, ibu jari, dan jari. Karena
letaknya lebih dekat ke permukaan kulit, arteri radialis dapat digunakan
untuk mengukur bisul di pergelangan tangan. Selain itu, darah yang diambil
dari arteri ini digunakan untuk tes gas darah arteri (ABG), yang menentukan
tingkat oksigen. Tes ini sering dilakukan sebagai bagian dari prosedur
perawatan intensif.
25
4. Teori Nyeri
a. Pengertian
Nyeri adalah penyakit yang ditandai dengan sensasi tidak menyenangkan ya
ng hanya dapat dijelaskan secara akurat oleh orang yang mengalaminya, kare
na pengalaman rasa sakit dan ketidaknyamanan setiap orang berbeda (Alimu
l, 2015). Nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak nyama
n yang terjadi sebagai akibat dari kerusakan jaringan , atau kerusakan jaringa
n yang ada atau yang akan datang (Aydede, 2017).
Menurut International Association for the Study of Pain (IASP), nyeri adalah
fenomena rumit yang tidak hanya mencakup respons fisik atau mental, tetapi
juga emosi emosional individu. Penderitaan seseorang atau individu dapat m
enjadi penyebab utama untuk mencari perawatan medis, dan juga dapat menj
adi alasan individu untuk mencari bantuan medis. Kenyamanan individu dipe
rlukan, dan itu harus menyenangkan. Sakit merupakan kebutuhan penderitan
ya. Nyeri adalah keadaan tidak nyaman yang disebabkan oleh kerusakan jari
ngan yang terjadi dari suatu daerah tertentu (Siti Cholifah, et al 2020). Sehin
gga dari pernyataan diatas, nyeri adalah suatu stimulus yang tidak menyenan
gkan dan sangat kompleks yang dapat diamati secara verbal maupun nonverb
al.
b. Klasifikasi Nyeri
Nyeri dapat diklasifikasikan berdasarkan durasinya dibedakan menjadi nyeri
akut dan nyeri kronis.
27
1) Nyeri Akut
Nyeri akut biasanya datang tiba-tiba dan umumnya berkaitan dengan ce
dera spesifik. Nyeri merupakan respon biologis terhadap suatu cedera ja
ringan dan menjadi suatu tanda bila ada kerusakan jaringan, seperti nyer
i pasca operasi. Jika nyeri terjadi bukan karena penyakit sistematik, nyer
i akut biasanya sembuh setelah kerusakan jaringan diperbaikinyeri akut
umumnya terjadi kurang dari enam bulan atau kurang dari satu bulan (d
e Boer, 2018).
2) Nyeri Kronik
Nyeri kronik yaitu nyeri yang menetap sepanjang suatu periode waktu, k
onstan atau intermiten. Nyeri akut berlangsung diluar penyembuhan yan
g diperkirakan dan sering tidak dapat dikaitkan dengan penyebab atau ce
dera spesifik yang menyebabkan nyeri terus menerus atau nyeri berulan
g dalam beberapa bulan atau tahun. Beberapa peneliti menggunakan dur
asi dari 6 bulan untuk menunjuk nyeri sebagai kronis (de Boer, 2018).
3) Usia /Umur
Menurut (Potter et al., 2013) usia adalah variabel penting yang mempen
garuhi nyeri terutama pada anak dan orang dewasa. Perbedaan perkemb
angan yang ditemukan antara kedua kelompok umur ini dapat mempeng
aruhi bagaimana anak dan orang dewasa bereaksi terhadap nyeri. Seoran
g perawat harus menggunakan teknik komunikasi yang sederhana dan te
pat untuk membantu anak dalam membantu anak dalam memahami dan
mendeskripsikan nyeri. Perawat dapat menunjukkan serangkaian gamba
r yang melukiskan deskripsi wajah yang berbeda, seperti tersenyum, me
ngerutkan dahi atau menangis. Anak-anak dapat menunjukkan gambar y
ang paling tepat untuk menggambarkan perasaan mereka.
4) Pola Koping
Ketika seseorang mengalami nyeri dan menjalani perawatan di rumah sa
kit adalah hal yang sangat tak tertahankan. Secara terusmenerus klien ke
hilangan kontrol dan tidak mampu untuk mengontrol lingkungan termas
uk nyeri. Klien sering menemukan jalan untuk mengatasi efek nyeri bai
k fisik maupun psikologis. Penting untuk mengerti sumber koping indivi
du selama nyeri. Sumber-sumber koping ini seperti berkomunikasi deng
an keluarga, latihan dan bernyanyi dapat digunakan sebagai rencana unt
uk mensupport klien dan menurunkan nyeri klien (Potter et al., 2013).
5) Ansietas
Meskipun pada umumnya diyakini bahwa ansietas akan meningkatkan n
yeri, mungkin tidak seluruhnya benar dalam semua keadaaan. Riset tida
k memperlihatkan suatu hubungan yang konsisten antara ansietas dan ny
eri juga tidak memperlihatkan bahwa pelatihan pengurangan stres praop
eratif menurunkan nyeri saat pascaoperatif. Namun, ansietas yang releva
n atau berhubungan dengan nyeri dapat meningkatkan persepsi pasien te
rhadap nyeri. Ansietas yang tidak berhubungan dengan nyeri dapat men
distraksi pasien dan secara aktual dapat menurunkan persepsi nyeri. Sec
ara umum, cara yang efektif untuk menghilangkan nyeri adalah dengan
mengarahkan pengobatan nyeri ketimbang ansietas (Potter et al., 2013).
29
3) Transmisi
Transmisi merupakan proses penerusan impuls nyeri dari nociceptor sar
af perifer melewati cornu dorsalis dan corda spinalis menuju korteks se
rebri.
4) Modulasi
Modulasi adalah proses pengendalian internal oleh sistem saraf, dapat m
eningkatkan atau mengurangi penerusan impuls nyeri.
5) Persepsi
Persepsi adalah hasil rekonstruksi susunan saraf pusat tentang impuls ny
eri yang diterima.
orang tua, pasien yang kebingungan atau pada pasien yang tidak
mengerti dengan bahasa lokal setempat.
g. Penatalaksanaan Nyeri
Penatalaksanaan nyeri adalah cara meringankan nyeri atau mengurangi nyeri
sampai tingkat kenyamanan yang dapat diterima klien.
Penatalaksanaan nyeri meliputi dua tipe dasar intervensi keperawatan: interv
ensi farmakologi dan nonfarmakologi. Penatalaksanaan keperawatan pada ny
eri terdiri dari tindakan keperawatan mandiri dan kolaborasi. Pada umumnya,
tindakan non-invasif mungkin dilakukan sebagai fungsi keperawatan mandir
i dan pemberian obat analgesik memerlukan program dokter.
1) Pengelolaan Nyeri Secara Farmakologis
Teknik farmakologi adalah cara yang paling efektif untuk menghilangka
n nyeri dengan pemberian obat-obatan pereda nyeri terutama untuk nyer
i yang sangat hebat yang berlangsung selama berjam-jam ataubahkan be
rhari-hari. Metode yang paling umum digunakan untuk mengatasi nyeri
adalah analgesi. Menurut (Potter et al., 2013) ada tiga jenis analgesik ya
kni:
a) Non-narkotik dan anti inflamasi nonsteroid (NSAID): menghilangka
n nyeri ringan dan sedang. NSAID dapat sangat berguna bagi pasien
yang rentan terhadap efek pendepresi pernafasan.
b) Analgesik narkotik atau opiad: analgesik ini umumnya diresepkan u
ntuk nyeri yang sedang sampai berat, seperti nyeri pasca operasi. Ef
ek samping dari opiad ini dapat menyebabkan depresi pernafasan, se
dasi, konstipasi, mual muntah. c. Obat tambahan atau ajuvant (koana
lgesik): ajuvant seperti sedative, anti cemas, dan relaksan otot
34
f) Terapi Musik
Pengaruh signifikan pemberian musik instrumental terhadap
penurunan skala nyeri pasien pra operasi fraktur. Musik
instrumental dapat memberikan ketenangan pada pasien. Pemberian
musik dapat mengalihkan perhatian pasien dan menurunkan tingkat
nyeri yang dialami.
g) Kompres Dingin dan Hangat
Kompres dingin menurunkan produksi prostaglandin sehingga
reseptor nyeri lebih tahan terhadap rangsang nyeri dan menghambat
proses inflamasi. Kompres hangat berdampak pada peningkatan
aliran darah sehingga menurunkan nyeri dan mempercepat
penyembuhan. Kedua kompres ini digunakan secara hati-hati agar
tidak terjadi cedera. (Faisol,2022)
2) Mengurangi bengkak
3) Mengurangi perdarahan
4) Fisiologi kompres dingin
6. Penelitian Terkait
Beberapa penelitian terkait dengan penelitian ini meliputi antara lain:
a) Bayındır , et al (2017) dalam penelitian berjudul “Effect of Ice Bag
Application to Femoral Region on Pain on Patients Undergoing
Percutaneous Coronary Intervention”. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui efektivitas pengurangan nyeri dengan aplikasi ice bag pada
38
b) daerah femoralis pada pasien yang menjalani PCI. Metode yang digunakan
adalah randomized controlled trial with measures and two group design.
Populasi penelitian ini berjumlah 104 pasien, masing-masing 52 orang dalam
kelompok ekperimen dan 52 orang pada kelompok kontrol. Dengan
menggunakan Uji Shapiro-Wilks yaitu untuk menentukan apakah data
terdistribusi secara normal. Karena distribusinya tidak normal, maka
digunakan uji nonparametrik. Kategorikal variabel dibandingkan dengan uji
Chi-square dan perbandingan antar kelompok variabel numerik dilakukan
dengan uji Mann-Whitney U. Perbandingan pengukuran berulang
pengukuran berulang dilakukan dengan menggunakan uji Wilcoxon dan
analisis Friedman untuk dua dan tiga pengukuran, masing-masing. Analisis
post hoc dilakukan pada skor NRS antara kelompok dan antara masing-
masing dari tiga titik [Link] deskriptif ditampilkan sebagai rata-rata,
standar deviasi, median (25%-75%), dan nilai persentase. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa aplikasi ice bag ke daerah femoralis 49 efektif
mengurangi rasa nyeri yang disebabkan oleh pelepasan sheath femoralis pada
pasien yang menjalani PCI, dengan perbedaan yang signifikan secara statistik
dengan v-value (p<0,001).
c) Andy Kristiyan,et al (2019) dalam penelitian yang berjudul”Pengaruh Kompr
es Dingin dalam Penurunan Nyeri Pasien Post Percutaneous Coronary Interv
ention (PCI): Literature [Link] ini bertujuan untuk mengetahui Pe
mberian kompres dingin dapat menurunkan nyeri karena dapat menghambat
perjalanan saraf berdiameter kecil dalam menghantarkan rangsang nyeri
Dengan menggunakan Pencarian melalui Sciencedirect, PubMed, dan EBSC
O dilakukan menggunakan advanced search dengan kata kunci “ice bag”, “pa
in”, dan “percutaneous coronary intervention”. Pencarian melalui google sch
olar dengan kata kunci “effectiveness ice bag on pain inpatients percutaneous
coronary intervention (PCI)”. Didapatkan tiga artikel dengan sebuah Random
ized Control Trials (RCTs) dan dua artikel dengan desain penelitian control tr
ial. Kriteria inklusi yaitu studi primer berupa RCTs dan Non Randomized Co
ntrol Trials atau Control Trials, full text, dan dalam bahasa Inggris. Subjek da
lam artikel menjalani prosedur PCI atau prosedur kateterisasi. Intervensi yan
g digunakan merupakan terapi kompres dingin dengan ice bag. Outcome arti
kel harus mengukur tingkat nyeri
39
2.1 Skema
Kerangka Teori
A. Kerangka Konsep
Kerangka konsep merupakan suatu cara yang digunakan untuk menjelaskan
hubungan atau kaitan antara variabel yang akan di teliti ( Notoatmodjo,2018 ).
Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang ingin di teliti oleh
peneliti sehingga dapat memperoleh informasi tentangnya dan kemudian sampai
pada suatu kesimpulan ( Sugiono, 2018 ).
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu : variabel independen (bebas) dan
variabel dependent (terikat). Dan kedua variabel tersebut dapat diuraikan dengan :
1. Variabel Independent
Menurut Sugiyono (2018), variabel independen merupakan variabel yang
mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya
Variabel dependent (terikat). Variable independen yang akan diteliti pada
penelitian ini yaitu kompres dingin.
2. Variable Dependent
Menurut Sugiyono (2018), variable dependent merupakan variable yang
dipengaruhi atau menjadi akibat karena adanya variable bebas. Variable
dependent yang akan diteliti pada penelitian ini yaitu skala nyeri.
Oleh karena itu peneliti membuat kerangka konsep yang digambarkan dalam
skema sebaga berikut:
44
45
Skema 3.1
Kerangka Konsep Penelitian
Karakteristik Responden
1. Umur
2. Jenis Kelamin
Keterangan :
Variable yang diteliti
Variable yang tidak diteliti
Variable yang dihubungkan
Variable yang tidak dihubungkan
B. Hypothesis
Sugiyono (2013) mengungkapkan hypothesis merupakan jawaban sementara terha
dap rumusan masalah penelitian yang di mana rumusan masalah ditanyakan ke dal
am bentuk pertanyaan. Terdapat 2 jenis hypothesis yaitu, hypothesis alternatif (H
a) dan hypothesis nol (Ho). Hypothesis alternatif menyatakan adanya perbedaan p
arameter dan statistik. Sedangkan, hypothesis nol adalah sebuah pernyataan yang
menunjukkan tidak ada perbedaan antara parameter dan statistik. Pada penelitian i
ni dijabarkan hypothesis sebagai berikut:
1. Ha (Hypothesis Alternative) :
Ada pengaruh kompres dingin terhadap skala nyeri pada akses radialis paska
kateterisasi jantung di Ruang ICR Arimbi RS Pusat Pertamina
2. Ho ( Hypothesis Nol) :
Tidak ada pengaruh kompres dingin terhadap Skala nyeri pada akses radialis
paska kateterisasi jantung di Ruang ICR Arimbi RS Pusat Pertamina
46
C. Definisi Operasional
Menurut Sugiyono (2017) Definisi Operasional merupakan penentuan konstrak at
au sifat yang akan dipelajari sehingga menjadi variabel yang dapat diukur.
Tabel 3.1
Definisi Operasional
Variabel Independent
Kompres Salah satu Peneliti 1) Stop Semua Nominal
dingin metode mengobserva wacth responden
si tehnik diberikan
dalam kompres 2) cold pack kompres
penggunaan dingin yang dingin cold
dengan pack
suhu rendah berukura
menggunaka
setempat n SOP pada n 10,5 x
yang dapat pasien paska
47
menimbulka kateterisasi 7 cm
n beberapa jantung yang 3) Kantong/
sudah
efek diruang ICR ice pack
[Link] dan masih 4) Underpad
tepasang
ngdapat
External
meredakan Deviced (TR
nyeri dan Band) pada
akses
merilekan radial,selama
otot dan 20 menit
memiliki
efek sedative
dan
meredakan
nyeri.
Variabel Responden
Umur Lama waktu Diisi pada Data Pasien/ 1. Dewasa Nominal
hidup pasien lembar lembar akhir
saat observasi observasi (36-45)
pengambilan oleh yang berisi 2. Lansia
data yang pasien/peneli Pertanyaan awal
dilakukan ti karakteristik (46-55)
yang pasien 3. Lansia
dihitung akhir
berdasarkan (56-65)
tahun Manula (>65)
DEPKES,200
9
Jenis Kondisi Diisi pada Data Pasien/ karakteristik Nominal
Kelamin perbedaan lembar lembar pasien
biologis observasi observasi 1. Laki-laki
antara laki- oleh yang berisi 2. Perempu
laki dan pasien/peneli pertanyaan an
perempuan. ti Sumber BPS,
perbedaan
48
biologis 2022
tersebut
dapat dilihat
dari alat
kelamin
serta
perbedaan
genetik.
BAB IV
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Desain penelitian menurut Moh. Pabundu Tika (2015) adalah suatu rencana
tentang cara mengumpulkan, mengolah, dan menganalisis data secara sistematis
dan terarah agar penelitian dapat dilaksanakan secara efisien dan efektif sesuai
dengan tujuan penelitian.
Menurut Sugiyono (2018) data kuantitatif merupakan metode penelitian yang berl
andaskan positivistic (data konkrit), data penelitian berupa angka-angka yang aka
n diukur menggunakan statistik sebagai alat uji penghitungan, berkaitan dengan m
asalah yang diteliti untuk menghasilkan suatu kesimpulan.
Diharapkan dalam penelitian ini, dapat menjelaskan suatu konsep penelitian yang
bermanfaat untuk menguraikan dan mengendalikan setiap fenomena yang ada, hal
ini dikarenakan penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui pengaruh yang
dimiliki antara (variabel independent) kompres dingin (cold pack) terhadap
(variabel dependen) yaitu skala nyeri pada akses radialis paska kateterisasi
jantung.
49
50
Adapun pola penelitian desain one grup pretest and posttest design menurut sugiy
ono (2013), sebagai berikut :
O1 X O2
Keterangan
O1 = Nilai Pretest (sebelum diberi perlakuan)
X = Perlakuan (Treatment)
O2 = Nilai Posttest (setelah diberi perlakuan)
2. Sample
Sampel adalah bagian dari total dan karakteristik yang dimiliki oleh suatu
populasi tersebut, dengan kata lain sampel merupakan metode dalam suatu
penelitian yang dilakukan dengan cara mengambil sebagian atas setiap
populasi yang hendak akan di teliti (Sugiyono, 2018).
Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, maka besar sampel yang dijadikan p
enelitian oleh penulis sebanyak 112 pasien, dengan menghitung ukuran samp
51
Keterangan:
n = Ukuran sampel/jumlah responden
N = Ukuran populasi
E = Presentase kelonggaran ketelitian kesalahan pengambilan sampel yang m
asih bisa ditolerir;
e=0,2
Dalam rumus Slovin ada ketentuan sebagai berikut:
Nilai e = 0,1 (10%) untuk populasi dalam jumlah besar
Nilai e = 0,2 (20%) untuk populasi dalam jumlah kecil
Jadi rentang sampel yang dapat diambil dari teknik Solvin adalah antara 10-2
0 % dari populasi penelitian. Jumlah populasi dalam penelitian ini adalah seb
anyak 112 pasien, sehingga presentase kelonggaran yang digunakan adalah
10% dan hasil perhitungan dapat dibulatkan untuk mencapai kesesuaian. Mak
a untuk mengetahui sampel penelitian, dengan perhitungan sebagai berikut:
112
𝑛= 2
1+ 112(0.1)
112
𝑛= = 52,8
2 ,12
𝑛 = 53
Berdasarkan perhitungan diatas sampel yang mejadi responden dalam peneliti
an ini di sesuaikan menjadi sebanyak 53 pasien jantung yang dilakukan
kateterisasi jantung (Coronary Angiography / PCI) pada akses radialis
dengan diagnose CAD di ICR Arimbi RS Pusat Pertamina
3. Teknik Pengambilan Sample
52
Teknik sampling yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah mengguna
kan Consecutive Sampling. Consecutive Sampling yaitu pemilihan sampel de
ngan menetapkan subyek yang memenuhi kriteria penelitian dimasukkan dala
m penelitian sampai kurun waktu tertentu, sehingga jumlah responden dapat t
erpenuhi (Nursalam, 2015). Pertimbangan yang dilakukan oleh peneliti adala
h dengan menentukan kriteria sampel yang meliputi kriteria inklusi, dimana k
riteria tersebut menentukan dapat atau tidaknya sampel tersebut digunakan da
lam penelitian.
a) Kriteria inklusi dari penelitian ini di antaranya yaitu:
1) Pasien yang bersedia menjadi responden penelitian yang sebelumnya
telah menandatangani format inform concent.
2) Pasien dengan tingkat kesadaran composmentis serta tidak dalam
pengaruh terapi farmakologi seperti antinyeri setelah tindakan.
3) Pasien paska kateterisasi jantung dengan akses radial
4) Pasien paska kateterisasi jantung akses radial yang masih terpasang
External Devices dengan jenis alat yang sama
b) Kriteria ekslusi dalam penelitian ini di antaranya yaitu:
1) Pasien yang tiba-tiba mengalami penuruanan kesadaran
2) Pasien paska kateterisasi jantung dengan akses Femoral
3) Pasien yang mengalami kekambuhan gangguan sensasi saraf seperti
neuropaty, cryglobulinemia, paroxysmal cold hemoglobinuria ,serta
kasus lain yang di antaranya raynaud’s syndrome, vasculiti.
C. Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di Ruang ICR Arimbi RS Pusat Pertamina yang
berlokasi di Jalan Kyai Maja No. 43, Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Pemilihan
lokasi penelitian ini karena berdasarkan survei pendahuluan diperoleh data 10
pasien mengatakan nyeri pada area luka dengan skala nyeri 2-5 dengan
menggunakan skala nyeri Numeric Rating Scale (NRS). Alasan lain dipilihnya
tempat tersebut karena belum pernah dilakukan penelitian tentang pengaruh
pemberian kompres dingin (cold pack) terhadap intensitas nyeri pada akses
radialis paska kateterisasi jantung di Ruang ICR Arimbi RS Pertamina Jakarta.
53
D. Waktu Penelitian
Waktu akan dilakukan penelitian mulai dari penyusunan proposal penelitian
sampai dengan hasil penelitian dimulai dari September 2023- Januari 2024.
E. Etika Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan mempertimbangkan etika saat dilakukan penelitia
n, ada 3 prinsip dalam etika penelitian menurut (Nursalam, 2020) yaitu :
1. Prinsip Manfaat
a. Bebas dari kesakitan Peneliti melakukan penjelasan terhadap responden d
engan penelitian ini dilakukan tanpa menyebabkan rasa sakit pada respon
den dan menjelaskan bahwa tidak ada tindakan yang membahayakan resp
onden.
b. Bebas dari eksploitasi Peneliti menjelaskan bahwa penelitian ini dari data
yang telah diberikan tidak untuk menjadi keuntungan secara pribadi dikar
enakan penelitian dilakukan sebagai kepentingan akademik.
c. Risiko (benefits ratio) Peneliti memastikan melakukan penelitian sesuai p
rosedur dengan mendapatkan hasil yang baik semaksimal mungkin bagi r
esponden dengan mengurangi resiko yang merugikan karena responden h
anya dapat mengisi kuesioner yang telah disediakan.
2. Prinsip menghargai hak asasi manusia (respect human dignity)
a. Hak untuk berpartisipasi sebagai responden (right to self determination)
Peneliti memberikan kebebasan responden untuk memilih apakah mereka
ingin menjadi responden atau tidak.
b. Hak untuk mendapatkan jaminan dari perlakuan yang diberikan (right to f
ull disclosure) Jika ada yang tidak beres dengan responden maka peneliti
akan memberikan penjelasan yang jelas dan menerima tanggung jawab.
c. Informed consent Peneliti harus menjelaskan semua terkait penelitian yan
g dilakukan agar responden mengetahui segala sesuatu tentang penelitian.
Peneliti juga menjelaskan jika responden memiliki hak untuk setuju atau
menolak sebagi responden, penelitian ini jelas dilakukan tanpa paksaan.
54
1. Prosedur Administrasi
Adapun prosedur administrasi yang harus dipenuhi oleh peneliti sebagai
berikut:
a. Peneliti mengajukan surat izin studi pendahuluan melakukan penelitian
pada STIKES Pertamedika setelah proposal penelitian disetujui
pembimbing
b. Setelah surat permohonan penelitian dikeluarkan oleh Ketua STIKES
Pertamedika, peneliti mengajukan surat tersebut ke Direktur Rumah Sakit
Pusat Pertamina
c. Setelah izin penelitian telah dikeluarkan dari Rumah Sakit Pusat
Pertamina, peneliti melakukan pengambilan data untuk peneliti
2. Prosedur Teknis
a. Setelah mendapatkan izin penelitian, peneliti mendatangi Ka.
Ruangan/Supervisor Ruangan ICR Arimbi Rumah Sakit Pusat
Pertamina, untuk menjelaskan maksud dan tujuan penelitian
b. Peneliti dalam hal ini menggunakan asisten penelitian dengan kriteria
Pendidikan minimal S1 Keperawatan dan dilanjutkan dengan persamaan
persepsi tentang maksud dan tujuan penelitian dan prosedurnya.
c. Peneliti memilih sampel sesuai kriteria inklusi
d. Peneliti menjelaskan maksud dan tujuan penelitian kepada responden
terpilih
e. Responden yang bersedia diberikan inform consend untuk mengisinya
f. Peneliti melakukan penelitian dengan melakukan observasi nyeri
sebelum dilakukan intervensi kompres dingin (cold pack)
g. Peneliti memberikan intervensi pemberian kompres dingin (cold pack)
selama 20 menit diberikan sebanyak satu kali
h. Peneliti melakukan observasi nyeri setelah dilakukan Tindakan intervensi
i. Setelah dilakukan intervensi, peneliti memberitahukan bahwa penelitian
telah selesai. Dan repsonden mendapatkan souvenir sebagai ucapan
terima kasih.
H. Pengolahan Data
56
Pengolahan data merupakan suatu proses dalam memperoleh data ringkasan atau
angka ringkasan dengan menggunakan cara-cara atau rumus-rumus tertentu.
Pengolahan data bertujuan untuk mengubah data mentah (raw data) dari hasil
pengukuran menjadi informasi yang akhirnya dapat digunakan untuk menjawab
tujuan penelitian (Hastono, 2022)
Keterangan :
S : nilai skewnes
N : jumlah kasus
K : nilai kurtosis
Varibel yang dilakukan uji normalitas adalah data pre dan post test skala
nyeri
58
2. Univariat
Analisis Univariat Adalah analisis yang dilakukan pada setiap variabel.
Analisa univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan
karakteristik setiap variabel penelitian. (Notoadmodjo, 2012).
Analisis Univariat dilakukan untuk mendeskripsikan tiap variable dengan
menampilkan distribusi frekuensi untuk melihat distribusi responden,
menurut berbagai variabel yang diteliti, variabel dependen maupun variabel
independent
a. Rumus distribusi frekuensi:
Keterangan :
X = frekuensi relatif dari suatu kelas
f = frekuensi suatu kelas
n = banyak sampel
(Hidayat, 2013)
Keterangan:
X : Mean atau Rata-rata
Ʃ : Jumlah
Xn : Variabel ke n
n : Banyaknya data atau sampel
Keterangan:
Med = Median
X1 = Nilai tengah pertama dimana median terletak
X2 = Nilai tengah kedua dimana median terletak
d. Standar Deviasi
Varians merupakan jumlah kuadrat semua deviasi nilai-nilai individual te
rhadap rata – rata kelompok. Dan standar deviasi adalah akar kuadrat dar
i varians dan menunjukkan standar penyimpangan data terhadap nilai rat
a – ratanya. Rumus standar deviasi adalah sebagai berikut:
Keterangan:
S = Standar deviasi
N = Jumlah data
Xi = Nilai X ke I sampai ke-n
60
ẋ = Nilai rata-rata x
Uji mean , median dan standart deviasi pada penelitian ini menjelaskan
atau mendeksripsikan variabel dependen yang meliputi rata-rata skala
nyeri pre dan post intervesi kompres dingin.
3. Bivariat
Kegunaan analisa bivariat adalah untuk mengetahui hubungan yang
signifikan antara dua variabel, perbedaan yang signifikan antara dua atau
lebih kelompok sampel (Arikunto, S., 2019)
Analisa bivariat merupakan analisa untuk mengenali dua variabel yang sering
digunakan untuk mengetahui hubungan, pengaruh x dan y antar variabel
lainnya dan mencari perbedaan variabel x dan y (Donsu, 2016).
a. Uji Parametrik
Menurut Sugiyono (2015), Uji t-paired merupakan salah satu metode pen
gujian yang digunakan untuk mengkaji keefektifan perlakuan, ditandai a
danya perbedaan rata-rata sesudah diberikan perlakuan.
Rumus uji t-paired
Keterangan :
t = Nilai t hitung
D = Rata-rata pengukuran sampel 1 dan 2
SD = Standar deviasi pengukuran sampel 1 dan 2
N = Jumlah sampel
61
Keterangan :
N = banyak data yang berubah setelah diberi perlakuan
T = jumlah rangking dari nilai selisih yang positif / negative
1) Jika Sig. > nilai α maka Ho diterima dan Ha ditolak
2) Jika Sig.< nilai α maka Ho ditolak dan Ha diterima
DAFTAR PUSTAKA
America Heath Association (AHA) (2016) Ejection Fraction Hearth Failure Meas
urement
Andy Kristiyan. Et. All (2019). Pengaruh Kompres Dingin Dalam Penurunan Nye
ri Pasien Post Percutaneus Coronary Intervetion (PCI) : Literatur Rivew. Htt
ps// ejurnal 2. Undip ac. Id/index. Php/huhs. Diakses 2 Oktober 2023.
A. Potter & Perry, A.G. (2013). Buku Ajar Fundaman Keperawatan Konsep dan P
raktik EGL. Jakarta.
Brunner & Suddarth (2013) Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah Edisi 8 Volu
me 2 Jakarta EGL.
62
63
Dr. Hardjo Prawira (2020) Artikel Melakukan Kateterisasi Jantung. Pahami Prose
dur dan Risiko Berikut Ini. Eme Health Care diakses 8 Oktober 2023.
Dr. Rizal Fadli (2023) Artikel Ini Tujuan dan Indikasi Melakukan Kateterisasi Jant
ung. Hallodoc Diakses 8 Oktober 2023.
Faisal (2022). Manajemen Nyeri. Kemkes dibuka 16 Oktober 2022, dari [Link]
[Link]/view-artikel/1052/manajemen -nyeri.
Hastono, Sutanto S.P (2022). Analisis Data Pada Bidang Kesehatan. Depok. Rajag
raindo.
Hidayah, (2014) Metode Penelitian Keperawatan dan Tehnik Analisis Data Jakarta
: Penerbit Salemba Medika
Lemone, M. Karen & Bauldoff. (2016). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah E
disi 5, Volume 1. Jakarta : EGC.
Niluh E, dkk (2016) Gambaran Penyakit Jantung Koroner Pada Gagal Jantung Ya
ng Mengalami Rawat Inap di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandow.
S. Cholifah, et al (2020) Buku Ajar Mata Kuliah Keterampilan Dasar Klinik Kebi
danan 1
Kepada Yth,
Di tempat.
Dengan Hormat,
NIM : 11222177
Dengan ini saya memberikan jaminan kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi
maupun masalah-masalah lainnya. Semua informasi yang telah dikumpulkan
dijamin kerahasiaanya oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan
dilaporkan pada hasil riset. Atas bantuan dan kerjasamanya saya ucapkan terima
kasih.
65
66
LAMPIRAN 2
LEMBAR INFORMED CONSENT
Jakarta, 2023
(.………………………….)
(……………………………..)
* Coret yang tidak perlu
67
LAMPIRAN 3
LEMBAR OBSERVASI
[Link] Observasi :
(diisi oleh peneliti)
Tanggal Pengisian :
IDENTITAS
a. Nama (Inisial) :
b. Umur : Tahun
c. Jenis kelamin : Laki - laki / Perempuan
LAMPIRAN 4
LEMBAR SOP KOMPRES DINGIN
Pengertian
Kompres adalah metode pemeliharaan suhu tubuh dengan menggunakan cairan atau al
at yang dapat menimbulkan dingin pada bagian tubuh yang memerlukan
Tujuan
Pemberian kompres dingin bertujuan untuk meningkatkan vasokonstriksi,mengurangi
edema, mengurangi nyeri, mengurangi atau menghentikan perdarahan.
Alat :
Cold Pack
Alas pembungkus
Plester/Micropore
Alas/underpad
Pre Interaksi
1. Menyiapkan alat
2. Perawat mencuci tangan
Interaksi
Orientasi
1. Menyampaikan salam
2. Memperkenalkan diri dengan pasien dan keluarga
3. Menanyakan nama dan tanggal lahir pasien
4. Menjelaskan maksud dan tujuan
5. Menjelaskan prosedur tindakan
6. Memberikan kesempatan pasien dan keluarga bertanya
7. Mendekatkan alat
8. Mencuci tangan
Langkah-langkah/ Kerja
1. Cuci tangan
2. Sebelum di letakkan pada sekitar akses tusukan kateter, pastikan terlebih
dahulu cold pack dibalut alas pembungkus.
3. Kaji nyeri pada pasien paska tindakan kateterisasi jantung pasien masih
70
terpasang External Deviced pada area radialis dengan menggunakan alat ukur
nyeri NRS yang dilakukan oleh peneliti
4. Pasang alas/underpad
5. Letakkan cold pack pada area puncture radialis, dan diamkan selama 20 menit
6. Kaji ulang skala nyeri setelah 20 menit diberikan cold pack oleh asisten peneliti
pada menit ke- 20
7. Catat hasil pengukuran pada lembar observasi
8. Data yang telah didapatkan baik pre test atau post test akan diolah sesuai dengan
tujuan penelitian.
9. Cuci tangan
Terminasi
1. Mengevaluasi skala nyeri pasien
2. Mengucapkan salam
3. Mencuci tangan
Post Interaksi
1. Mendokumentasikan hasil pemeriksaan
2. Membereskan alat-alat
3. Mencuci tangan
GAMBAR
71