0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
66 tayangan81 halaman

Pengaruh Kompres Dingin pada Nyeri Pasien

Diunggah oleh

Anggarandas
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
66 tayangan81 halaman

Pengaruh Kompres Dingin pada Nyeri Pasien

Diunggah oleh

Anggarandas
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGARUH KOMPRES DINGIN TERHADAP SKALA

NYERI PADA PASIEN POST KATETERISASI JANTUNG


AKSES TRANSRADIALIS DI RUANG ICR ARIMBI
RUMAH SAKIT PERTAMINA PUSAT

Proposal ini diajukan sebagai salah satu syarat


untuk memperoleh gelar
Sarjana Keperawatan

Oleh
Nurlita Eko Kusuma Wardani
11222177

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PERTAMEDIKA
TAHUN 2023
PROPOSAL PENELITIAN

PENGARUH KOMPRES DINGIN TERHADAP SKALA NYERI


PADA PASIEN POST KATETERISASI JANTUNG AKSES
TRANSRADIALIS DI RUANG ICR ARIMBI RUMAH SAKIT
PERTAMINA PUSAT

Dibuat untuk memenuhi persyaratan penyelesaian


Tugas akhir pada Program Studi S1 Keperawatan
Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan

Oleh
Nurlita Eko Kusuma Wardani
11222177

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PERTAMEDIKA
TAHUN 2023

II
LEMBAR PERSETUJUAN

Proposal Penelitian dengan judul:

Pengaruh Kompres Dingin Terhadap Skala Nyeri Pada Pasien Post K


ateterisasi Jantung Akses Transradialis Di Ruang ICR Arimbi Rumah
Sakit Pertamina Pusat

Proposal penelitian ini telah diperiksa disetujui dan dipertahankan dihadapan Tim
Penguji Program Studi S1 Keperawatan
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan PERTAMEDIKA

Jakarta Selatan, Oktober 2023


Menyetujui,
Pembimbing Skripsi,

Ns. Alfonsa Reni Oktavia, [Link]., [Link]

Mengetahui,
Kepala Program Studi S1 Keperawatan

Wasijati, [Link]., [Link]., [Link].

III
LEMBAR PENGESAHAN

Proposal penelitian dengan judul “Pengaruh Kompres Dingin Terhadap


Skala Nyeri Pada Pasien Post Kateterisasi Jantung Akses
Transradialis Di Ruang ICR Arimbi Rumah Sakit Pertamina Pusat”, i
ni telah diujikan dan dinyatakan LULUS dalam ujian sidang proposal diha
dapan Tim Penguji pada tanggal Oktober 2023

Pembimbing,

Ns. Alfonsa Reni Oktavia, [Link]., [Link]

Penguji I,

Ns. Gaung Eka Ramadhan, [Link]., [Link]

IV
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadiran Allah SWT yang telah melimpahkan Rahm
at dan Karunianya sehingga peneliti dapat menyelesaikan proposal penelitian yan
g berjudul “Pengaruh Kompres Dingin Terhadap Skala Nyeri Pada Pasien Post Ka
teterisasi Jantung Akses Transradialis Di Ruang ICR Arimbi Rumah Sakit Pertami
na Pusat”
Proposal Penelitian ini dibuat untuk memenuhi tugas akhir mata ajar Skripsi pada
Program Studi S1 Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan PERTAMEDIKA.
Pada kesempatan ini peneliti ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada:
1. Drg. Mira Dyah Utami, MARS, selaku Direktur Utama PERTAMEDIKA/IHC
dan Pembina Yayasan Pendidikan PERTAMEDIKA.
2. Dr. Asep Saefudin., SH., MM., CHRP., CHRA, selaku Ketua Pengurus Yayasa
n Pendidikan PERTAMEDIKA.
3. Ns. Maryati, [Link]., [Link]., MARS, selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Keseh
atan PERTAMEDIKA.
4. Wasijati, [Link]., [Link]., [Link], selaku Pjs. Wakil Ketua I, pembimbing
akademik non regular 16A serta Kepala Program Studi S1 Keperawatan Sekol
ah Tinggi Ilmu Kesehatan PERTAMEDIKA .
5. Sri Sumartini, SE., MM, selaku Wakil Ketua II Sekolah Tinggi Ilmu Kesehata
n PERTAMEDIKA.
6. Ns. Achirman, SKM., [Link], selaku Wakil Ketua III Sekolah Tinggi Ilmu Ke
sehatan PERTAMEDIKA.
7. Ns. Alfonsa Reni Oktavia, [Link]., [Link], selaku Pembimbing Skripsi yang d
engan kesabaran dan kebaikannya telah membimbing penulis selama proses p
enelitian ini.
8. Ns. Gaung Eka Ramadhan, [Link]., [Link], selaku Penguji I yang telah bersedi
a menjadi penguji dalam proposal penelitian ini.
9. Dr. Neny Herawati, MKKK, selaku Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Perta
mina (RSPP).
10. Para dosen Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan PERTAMEDIKA.

V
11. Suamiku (Teddy Bertoni) yang tidak pernah lelah memberikan semangat juga
mendukung dalam hal materi dan non materi “ Love You so much” dan anak-a
nakku tercinta (Danish dan Gendhis) untuk suport doa dan dukungannya sela
ma ini (peluk Sayang selalu), sehingga proposal penelitian ini dapat selesai ses
uai dengan waktunya.
12. Orang tua saya (mama dan papa) yang tak pernah putus dengan Doanya,serta a
dik-adik saya yang selalu mendukung dan mendoakan saya dalam melakukan
penelitian ini, sehingga proposal penelitian ini dapat selesai sesuai dengan wa
ktunya.
13. Para responden atau keikutsertaan dan kerjasamanya, sehingga proposal peneli
tian ini dapat selesai sesuai dengan waktunya.
14. Teman-teman Angkatan Non Reguler XVI Program Studi S1 Keperawatan Se
kolah Tinggi Ilmu Kesehatan PERTAMEDIKA.
15. HOOD, supervisor Ruangan Arimbi Rumah Sakit Pertamina Pusat
16. Teman teman di Ruangan Arimbi yang membantu dan mensupport sehingga p
roposal penelitian ini dapat selesai sesuai dengan waktunya.
17. Semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu yang turut berpartisi
pasi sehingga selesainya penelitian ini.

Jakarta, Oktober 2023

(Nurlita Eko Kusuma Wardani)

VI
DAFTAR ISI

Lembar Persetujuan.......................................................................................... iii


Lembar Pengesahan.......................................................................................... iv
Kata Pengantar.................................................................................................. v
Daftar Isi .......................................................................................................... vii
BAB I PENDAHULUAN......................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah.......................................................... 1
B. Rumusan Masalah.................................................................... 6
C. Tujuan Penelitian..................................................................... 8
1. Tujuan Umum.................................................................... 8
2. Tujuan Khusus................................................................... 9
D. Manfaat Penelitian.................................................................. 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................. 10
A. Teori dan Konsep..................................................................... 10
B. Kerangka Teori Penelitian........................................................ 39
BAB III KERANGKA KONSEP,HIPOTESIS DAN DEFINISI
OPERASIONAL…………………………………………………………… .. 42
A. Kerangka Konsep..................................................................... 42
B. Hypothesis............................................................................... 43
C. Definisi Operational................................................................. 44
BAB IV METODE PENELITIAN............................................................... 47
A. Desain Penelitian..................................................................... 47
B. Populasi, Sample dan Teknik Pengambilan Sample................ 48
C. Tempat penelitian..................................................................... 50
D. Waktu....................................................................................... 51
E. Etika Penelitian........................................................................ 51
F. Alat Pengumpulan Data/Instrumen Penelitian......................... 52
G. Prosedur Pengumpulan Data.................................................... 53
H. Pengolahan Data...................................................................... 54
I. Teknik Analisis Data............................................................... 55
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………… . 60

VII
LAMPIRAN………………………………………………………………….63
GAMBAR…………………………………………………………………….68

VIII
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Penyakit jantung coroner (Coronary Artery Disease (CAD)) merupakan salah satu
penyakit yang banyak menyebabkan kematian didunia. World Health
Organization (WHO) tahun 2019. Melaporkan bahwa penyakit jantung adalah
penyebab utama kematian secara global. Diperkirakan 17,9 juta orang meninggal
karena penyakit kardiovaskular pada 2019, mewakili 32% dari semua kematian
global. Dari kematian tersebut, 85% disebabkan oleh serangan jantung dan stroke.
Lebih dari tiga perempat kematian akibat penyakit jantung terjadi di negara-
negara berpenghasilan rendah dan menengah. Dari 17 juta kematian karena
penyakit tidak menular pada tahun 2019 38% disebabkan oleh penyakit jantung. D
i Amerika Serikat penyakit kardiovaskuler menjadi penyebab kematian terbanyak
yakni sebesar 836.456 kematian dan 43,8% diantaranya disebabkan oleh penyakit
jantung koroner (AHA, 2018). Berdasarkan data 2016, sekitar 2,2 juta orang di As
ia Tenggara meninggal akibat penyakit jantung koroner (Databoks,2020).

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, angka kejadian
penyakit jantung dan pembuluh darah semakin meningkat dari tahun ke tahun. Set
idaknya 15 dari 1000 orang, atau sekitar 2.784.064 individu di Indonesia menderit
a penyakit jantung. Prevalensi jantung koroner berdasarkan terdiagnosis dokter di
DKI Jakarta yaitu 0,7 %. Prevalensi penyakit jantung berdasarkan diagnosis dokte
r pada Penduduk semua umur menurut karakteristik, Provinsi DKI Jakarta, yaitu 1,
9% atau 15.170 orang.

Penyakit jantung coroner dapat di tandai dengan gejala nyeri dada, berdebar – deb
ar, sesak nafas, pingsan (Nurhidayat. S, 2011). Penyakit jantung koroner dapat
menyebabkan komplikasi,yang paling sering terjadi antara lain: syok kardiogenik,
gagal, jantung kongestif, disfungsi otot papilaris, pericarditis akut, aneurisma
ventrikel,rupture miokard.( Wicaksono Saputro, 2019). Untuk mendeteksi

1
2

penyakit jantung koroner, ada beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilaku
kan, diantaranya EKG (elektrokardiografi), Ekokardiografi, Radioaktif isotop, An
giografi, Arterigrafi koroner (kateterisasi)(Setiati, 2014) .

Pemeriksaan penunjang untuk mengetahui gejala CAD yaitu dengan melakukan


Kateritasi jantung. Katerisasi jantung merupakan teknik intervensi dan diagnosa
hemodinamik yang paling banyak digunakan di dunia (Sinaga et al., 2022).
Katerisasi jantung adalah tindakan non ivasif atau non pembedahan dimana selang
kateter yang tipis (diameter sekitar 1,7 mm) dan panjang dimasukkan ke dalam
pembuluh darah, kemudian diarahkan menuju jantung. Salah satu jenis
kateterisasi jantung yang paling sering dilakukan adalah pemeriksaan aliran
pembuluh darah koroner jantung, atau dikenal dengan angiografi koroner
(Pramudita, 2022).

Adapun Indikasi dilakukan tindakan kateterisasi jantung secara umum menurut


Darliana (2017), adalah sebagai berikut: Memiliki gejala penyakit arteri koroner
meskipun telah mendapat terapi medis yang adekuat, penentuan prognosis pada
pasien dengan penyakit arteri koroner, nyeri dada stabil dengan perubahan
iskemik bermakna pada tes latihan, pasien dengan nyeri dada tanpa etiologi yang
jelas,Sindrom koroner tidak stabil (terutama dengan peningkatan Toponin T atau
I),pasca infark miokard non gelombang Q,pasca infark miokard gelombang Q
pada pasien risiko tinggi (ditentukan dengan tes latihan atau pemindaian perfusi
miokard),pasien dengan aritmia berlanjut atau berulang,gejala berulang pasca
Coronary Artery Bypass Graft (CABG) atau Percutaneus Coronary Intervention
(PCI),pasien yang menjalani pembedahan katup jantung,pasien gagal jantung
dengan etiologi yang tidak jelas, menentukan penyebab nyeri dada pada
kardiomiopati hipertropi.

Adapun kontra Indikasi dalam kateterisasi jantung relatif antara lain : penyakit
gagal jantung kongestif yang tidak terkontrol, tekanan darah tinggi, aritmia,
penyakit pembuluh darah serebral yang kurang dari satu bulan, infeksi/demam,
elektrolit tidak seimbang, perdarahan gastrointestinal, kehamilan, antikoagulasi
3

(perdarahan akut tidak terkontrol), pasien tidak kooperatif, keracunan obat (seperti
digitalis, phennothiazid), gagal ginjal. Sedangkan kontra indikasi mutlak (tidak
boleh dilakukan) apabila tidak cukup perlengkapan atau fasilitas ([Link]
Fadli,2023).
Adapun prosedur Tindakan Kateterisasi yaitu tindakan dilakukan di ruangan
khusus (laboratorium kateterisasi/Cathlab) & steril. Selama tindakan berlangsung
pasien tetap dalam keadaan sadar dan dapat berkomunikasi dengan dokter yang
melakukan [Link] akan dibius secara lokal di lipat paha atau pergelangan
tangan atau lipat siku sehingga pasien tidak akan merasakan nyeri. Sebuah selang
halus (kateter) “steril” dimasukan ke dalam pembuluh darah arteri koroner.
Kemudian, zat kontras akan diinjeksikan melalui kateter tersebut dan mengisi
arteri koroner. Sinar X-ray akan mengambil gambar saat arteri koroner berisi zat
kontras, sehingga kita dapat melihat adanya penyempitan atau sumbatan pada
arteri koroner tersebut( Dr. Hardjo Prawira, 2022). Kateterisasi jantung
merupakan yang tercepat (96- 99%) untuk mendeteksi kelainan kardiovaskular,
terutama penyakit jantung koroner (Spadaccio & Benedetto, 2018).

Tindakan invasif kateterisasi jantung ternyata menimbulkan beberapa komplikasi,


dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Zwaan, et al (2015) dengan mengumpulk
an angka kejadian rata-rata komplikasi pada akses radial paska tindakan kateterisa
si jantung diantaranya disfungsi ekstermitas atas 0,32%, iskemia ekstremitas atas 0,
21%, nyeri 7,65%, kejang pada arteri radial 0,5%, kejang hebat pada arteri radial
1,45%, oklusi arteri radialis dini 3,45%, oklusi arteri radialis yang agak lambat 3
34%, perdarahan minor akses radial 2,49%, perdarahan mayor akses radial 0,66%,
hematoma minor 3,22%, hematoma mayor 0,89%, perforasi 0,40%, pembedahan
0,49%, kompartemen sindrom 2,76%, pseudoaneurisma 0,01%, fistula arteri 0,21
% serta infeksi peradangan 0,89%.
Dari data tersebut keluhan nyeri merupakan komplikasi yang paling sering terjadi
pada pasien paska tindakan akses transradial. Penyebab timbulnya nyeri/ ketidakn
yamanan pada pasien post kateterisasi jantung antara lain: adanya luka bekas tinda
kan invasif, letak area yang dilakukan tindakan dan respon pasien yang berbeda da
lam merasakan nyeri. Nyeri merupakan perasaan tidak nyaman yang
4

subjektif dan hanya orang yang mengalaminya, yang mampu menjelaskan dan me
ngevaluasi perasaan nyeri tersebut (Setiadi &Irawandi D, 2020). Nyeri adalah pen
galaman yang sangat individual dan subjektif yang dapat memengaruhi semua ora
ng di semua usia, nyeri dapat berasal dari beberapa penyebab, antara lain proses p
enyakit, cedera, prosedur, dan intervensi pembedahan (Kyle & Carman, 2019) .
Menurut (Brunner & Suddarth, 2013) Salah satu tindakan keperawatan yang diper
lukan paska kateterisasi jantung diantaranya adalah mengevaluasi pasien mengena
i keluhan nyeri, ketidaknyamanan, kesemutan pada bagian yang dilakukan tindaka
n, Peran perawat diharapkan bisa melakukan intervensi dalam meminimalisis efek
fisik serta emosional dari prosedur medis yang dianggap menyakitkan, sehingga p
erawat dituntut untuk melakukan suatu metoda yang terintegrasi dalam mengontro
l nyeri.

Nyeri pada pasien kateterisasi jantung menjadi signifikan apabila tidak


mendapatkan penanganan yang memadai, dapat menyebabkan ketegangan,
gelisah, dan [Link] nyeri dapat dilakukan dengan dua cara
yaitu manajemen farmakologi dan manajemen nonfarmakologi. Manajemen
farmakologi merupakan manajemen kolaborasi antara dokter dengan perawat
yang menekankan pada pemberian obat yang mampu menghilangkan sensasi
nyeri, sedangkan manajemen nonfarmakologi merupakan manajemen untuk
menghilangkan nyeri dengan menggunakan teknik manajemen nyeri meliputi,
stimulus dan massage kutaneus, terapi dingin dan panas (pemberian kompres
dingin atau panas), stimulus saraf elektris transkutan, distraksi, imajinasi
terbimbing, hipnotis, dan teknik relasasi.(Mediarti, 2015).

Menurut penelitian Prasetya, Handian (2023 )pengaruh gel kompres es terhadap


pengurangan nyeri pada pasien pasca kateterisasi jantung dengan hasil terdapat
penurunan tingkat nyeri pada prosedur kateterisasi jantung pada kelompok
perlakuan ( pemberian es batu/kompres dingin )lebih tinggi dibandingkan dengan
kelompok kontrol,dengan hasil uji statistic p < 0,001.
5

Menurut Khodriyati, Dewi, Khoiriyati(2018) Efektifitas kombinasi terapi musik


dan tehnik relaksasi nafas dalam terhadap penurunan nyeri pasien post
Kateterisasi jantung dengan hasil Kombinasi terapi musik dan teknik relaksasi
nafas dalam efektif dalam menurunkan nyeri pada pasien post kateterisasi
jantung,dengan hasil uji statistik wilcoxon menunjukkan p value < 0.05.

Menurut penelitian Andy Kristiyan,et al (2019) dalam penelitian yang berjudul”Pe


ngaruh Kompres Dingin dalam Penurunan Nyeri Pasien Post Percutaneous Coron
ary Intervention (PCI): Literature review sistematika paling efektif adalah kompr
ess dingin terbukti efektif menurunkan nyeri sebelum dan setelah pelepasan katete
r pada tindakan PCI.

Kompres dingin adalah suatu metode dalam penggunaan suhu rendah setempat ya
ng dapat menimbulkan beberapa efek fisiologis. Terapi dingin diperkirakan meni
mbulkan efek analgetik dengan memperlambat kecepatan hantaran saraf sehingga
impuls nyeri yang mencapai otak lebih sedikit. Mekanisme lain yang bekerja adal
ah bahwa persepsi dingin menjadi dominan dan mengurangi persepsi nyeri. Komp
res dingin merupakan tindakan untuk menurunkan inflamasi dengan memberikan
energi dingin melalui proses konduksi, dimana energi tersebut dapat menyebabkan
vasokontriksi (penyempitan pembuluh darah) sehingga menambah pemasukkan o
ksigen, nutrisi dan leukosit darah yang menuju ke jaringan [Link] kompre
s dingin untuk pengobatan nyeri akut dan kronis dianggap sebagai intervensi kepe
rawatan nonfarmakologis. Pemberian kompres dingin banyak digunakan karena ef
ek fisiologisnya seperti vasokonstriksi pembuluh darah, memperlambat metabolis
me jaringan, peningkatan viskositas darah, dan sebagai anestesi lokal. Kompres di
ngin dapat mengurangi aliran darah dan permeabilitas kapiler dengan menyebabka
n vasokonstriksi arteriol, sehingga mengurangi perdarahan. Selain itu, mengurangi
kecepatan aliran darah dan meningkatkan viskositas dan koagulasi (Çürük et al., 2
017).

Data rekam medik RS Pusat Pertamina Jakarta pada tahun 2023 periode januari-se
ptember menunjukan jumlah pasien yang dirawat dengan diagnosa CAD
6

sebanyak 432 pasien. Salah satu Tindakan yang dilakukan pada pasien CAD adala
h Coronary Angiography (CAG) dan Percutaneous Coronary Intervention (PCI) at
au dikenal dengan kateterisasi jantung.

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti di Ruang Rawat inap pada
pasien post kateterisasi jantung jantung selama 3 bulan terakhir didapatkan data
112 pasien yang dirawat dengan post kateterisasi jantung di ruang ICR Arimbi
Rumah Sakit Pusat Pertamina. Dari 10 responden yang diwawancara oleh peneliti
didapat data pasien yang post kateterisasi melalui arteri radialis di ruang ICR Ari
mbi Rumah Sakit Pusat Pertamina mengatakan nyeri pada area luka dengan skala
nyeri 2-5 dengan menggunakan skala nyeri Numeric Rating Scale (NRS). Hal
tersebut menyebabkan rasa ketidaknyamanan.

Penatalaksanaan yang selama ini hanya diberikan terapi farmakologi untuk


mengurangi rasa sakit dengan obat analgetik,untuk terapi non farmakologi
kompres dingin belum pernah diberikan [Link] wawancara
dengan perawat tentang intervensi kompres dingin,belum pernah dilakukan
sebelumnya pada pasien post kateterisasi jantung di ruang ICR Arimbi RSPP dan
belum ada SOPnya. Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik untuk melaku
kan penelitian tentang “ Pengaruh Kompres Dingin Terhadap Skala Nyeri Pad
a Pasien Post Kateterisasi Jantung Akses Transradial Diruang ICR Arimbi R
umah Sakit Pertamina Pusat.”

B. Rumusan Masalah
Coronary Artery Disease (CAD) merupakan suatu gangguan fungsi jantung yang
disebabkan karena otot miokard kekurangan suplai darah akibat adanya penyempit
an arteri koroner dan tersumbatnya pembuluh darah jantung (AHA, 2017).Untuk
mendeteksi penyakit jantung koroner,ada beberapa pemeriksaan penunjang yang d
apat dilakukan,diantaranya EKG (elektrokardiografi),Ekokardiografi, Radioaktif i
sotop,Angiografi,Arterigrafi koroner (kateterisasi)(Setiati, 2014).
7

Pemeriksaan penunjang untuk mengetahui gejala CAD yaitu dengan melakukan K


ateritasi jantung. Katerisasi jantung merupakan teknik intervensi dan diagnosa he
modinamik yang paling banyak digunakan di dunia (Sinaga et al., 2022). Katerisa
si jantung adalah tindakan non ivasif atau non pembedahan dimana selang kateter
yang tipis (diameter sekitar 1,7 mm) dan panjang dimasukkan ke dalam pembuluh
darah, kemudian diarahkan menuju jantung. Salah satu jenis kateterisasi jantung y
ang paling sering dilakukan adalah pemeriksaan aliran pembuluh darah koroner ja
ntung, atau dikenal dengan angiografi koroner (Pramudita, 2022).

Tindakan invasif kateterisasi jantung ternyata menimbulkan beberapa komplikasi,


dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Zwaan, et al (2015) dengan mengumpulk
an angka kejadian rata-rata komplikasi pada akses radial paska tindakan kateterisa
si jantung diantaranya disfungsi dan iskemia ekstermitas atas , nyeri, kejang pada
arteri radial, oklusi arteri radialis dini dan yang agak lambat, perdarahan minor
dan mayor akses radial, hematoma minor dan mayor, perforasi, pembedahan, kom
partemen sindrom, pseudoaneurisma, fistula arteri serta infeksi peradangan.

Dari data tersebut keluhan nyeri merupakan komplikasi yang paling sering terjadi
pada pasien paska tindakan akses transradial. Penyebab timbulnya nyeri/ ketidakn
yamanan pada pasien post kateterisasi jantung antara lain: adanya luka bekas tinda
kan invasif, letak area yang dilakukan tindakan dan respon pasien yang berbeda da
lam merasakan nyeri (Setiadi &Irawandi D, 2020)

Menurut penelitian Prasetya, Handian (2023 )pengaruh gel kompres es terhadap


pengurangan nyeri pada pasien pasca kateterisasi jantung dengan hasil terdapat
penurunan tingkat nyeri pada prosedur kateterisasi jantung pada kelompok
perlakuan ( pemberian es batu/kompres dingin )lebih tinggi dibandingkan dengan
kelompok [Link] dingin adalah suatu metode dalam penggunaan suhu r
endah setempat yang dapat menimbulkan beberapa efek fisiologis. Terapi dingin d
iperkirakan menimbulkan efek analgetik dengan memperlambat kecepatan
8

hantaran saraf sehingga impuls nyeri yang mencapai otak lebih sedikit. Mekanism
e lain yang bekerja adalah bahwa persepsi dingin menjadi dominan dan menguran
gi persepsi nyeri. (Kristanto, A,2016).

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti di Ruang Rawat inap pada
pasien post kateterisasi jantung jantung selama 3 bulan terakhir didapatkan data
112 pasien yang dirawat dengan post kateterisasi jantung di ruang ICR Arimbi
Rumah Sakit Pusat Pertamina. Dari 10 responden yang diwawancara oleh peneliti
didapat data pasien yang post kateterisasi melalui arteri radialis di ruang ICR Ari
mbi Rumah Sakit Pusat Pertamina mengatakan nyeri pada area luka dengan skala
nyeri 2-5 dengan menggunakan skala nyeri Numeric Rating Scale (NRS).

Salah satu tindakan keperawatan yang diperlukan paska kateterisasi jantung dianta
ranya adalah mengevaluasi pasien mengenai keluhan nyeri, ketidaknyamanan, kes
emutan pada bagian yang dilakukan tindakan, Peran perawat diharapkan bisa mela
kukan intervensi dalam meminimalisis efek fisik serta emosional dari prosedur me
dis yang dianggap menyakitkan, sehingga perawat dituntut untuk melakukan suatu
metoda yang terintegrasi dalam mengontrol nyeri.

Manajemen nyeri nonfarmakologi salah satunya terapi relaksasi yaitu dengan pem
berian kompres dingin. Pemberian kompres dingin banyak digunakan karena efek
fisiologisnya seperti vasokonstriksi pembuluh darah, memperlambat metabolisme
jaringan, peningkatan viskositas darah, dan sebagai anestesi lokal.
Berdasarkan uraian diatas, dapat dirumuskan masalah yang menjadi pokok pemba
hasan dalam penelitian ini adalah “Apakah ada pengaruh kompres dingin terh
adap skala nyeri pada pasien post kateterisasi jantung akses transradial di
ruang ICR Arimbi Rumah Sakit Pertamina Pusat.”

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
9

Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada peng
aruh kompres dingin terhadap skala nyeri pada pasien post kateterisasi jant
ung akses transradialis di ruang ICR Arimbi Rumah Sakit Pertamina Pusat.

2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi gambaran karakteristik pasien (usia dan jenis kelamin)
kateterisasi jantung akses transradial di ruang ICR Arimbi Rumah Sakit
Pertamina Pusat.
b. Mengidentifikasi gambaran rata-rata skala nyeri pasien pre kateterisasi j
antung akses transradial sebelum di berikan kompres dingin di ruang
ICR Arimbi Rumah Sakit Pertamina Pusat.
c. Mengidentifikasi gambaran rata-rata skala nyeri pasien post kateterisasi j
antung akses transradial sesudah diberikan intervensi kompres dingin di r
uang ICR Arimbi Rumah Sakit Pertamina Pusat.
d. Menganalisa pengaruh kompres dingin terhadap skala nyeri pasien post k
ateterisassi jantung akses transradial yang belum dan sesudah dilakukan i
ntervensi kompres dingin di ruang ICR Arimbi Rumah Sakit Pertamina P
usat.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Pelayanan Keperawatan.
Diharapkan dapat menjadi referensi dalam meningkatkan pelayanan keperaw
atan dengan memberikan kompres dingin untuk mengurangi nyeri pada pasie
n post kateterisasi jantung.
2. Bagi perkembangan ilmu keperawatan.
Sebagai bahan acuan dalam melakukan penelitian-penelitian lebih lanjut. Has
il penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan tenta
ng terapi non farmakologi kompres dingin untuk meringankan/mengurangi ny
eri pada pasien post kateterisasi jantung
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori dan Konsep


1. Coronary Artery Disease (CAD)
a. Pengertian
Coronary Artery Disease (CAD) adalah penyempitan atau penyumbatan
arteri coroner yang menyalurkan darah ke otot jantung. Bila aliran darah
melambat, jantung tak mendapat cukup O2 dan zat nutrisi. Hal ini
biasanya mengakibatkan nyeri dada yang disebut angina. Bila satu atau
lebih dari arteri koroner tersumbat sama sekali, akibatnya adalah serangan
jantung dan kerusakan pada otot jantung (Antara et al., 2019).
Hal ini terjadi karena terbentuk plak akibat dari terkumpulnya kolesterol
dalam jangka waktu yang cukup lama. Proses ini disebut aterosklerosis.
Kondisi tersebut menyebabkan otot jantung melemah dan menimbulkan
komplikasi seperti gagal jantung dan gangguan irama jantung (Suyanti &
Rahayu, 2020).

b. Etiologi
Penyebab dari penyakit CAD ini ialah adanya sumbatan pada arteri
koroner, yang dapat menyebabkan serangan jantung iskemia miokardium
melalui tiga mekanisme: spasme vaskular hebat arteri koronaria,
pembentukan plak aterosklerotik dan tromboembolisme (Sherwood,
2014).
1) Spasme Vaskular, merupakan suatu konstriksi spastik abnormal yang
secara transien (sekejap/seketika) menyempitkan pembuluh
koronaria. Spasme ini terjadi jika oksigen yang tersedia untuk
pembuluh koronaria terlalu sedikit, sehingga endotel (lapisan 6
dalam pembuluh darah) menghasilkan platelet activating factor
(PAF). PAF memiliki efek utama yaitu menghasilkan trombosit.
PAF ini akan berdifusi ke otot polos vaskular di bawahnya dan
menyebabkan kontraksi, sehingga menimbulkan spasme vaskular.

10
11

2) Pembentukan Aterosklerosis. Aterosklerosis adalah penyakit


degeneratif progresif pada arteri yang menyebabkan oklusi
(sumbatan bertahap) pembuluh tersebut, sehingga mengurangi aliran
darah yang melaluinya. Aterosklerosis ditandai dengan plak-plak
yang terbentuk di bawah lapisan dalam pembuluh di dinding arteri,
di mana plak tersebut terdiri dari inti kaya lemak yang dilapisi oleh
pertumbuhan abnormal sel otot polos, ditutupi oleh tudung jaringan
ikat kaya collagen. Plak ini akan membentuk tonjolan ke dalam
lumen pembuluh arteri.
3) Tromboembolisme. Plak aterosklerotik yang membesar dapat pecah
dan membentuk bekuan abnormal yang disebut trombus. Trombus
dapat membesar secara bertahap hingga menutup total pembuluh
arteri di tempat itu, atau aliran darah yang melewatinya dapat
menyebabkan trombus terlepas. Bekuan darah yang mengapung
bebas ini disebut embolus, yang dapat menyebabkan sumbatan total
mendadak pada pembuluh yang lebih kecil.

Menurut Hemingway & Marmot (2015) ada beberapa faktor risiko yang
mengakibatkan terjadinya CAD yaitu :
1) Faktor yang tidak dapat dimodifikasi Faktor risiko biologis yang tida
k dapat diubah, yang meliputi:
a) Usia
Kerentanan terhadap aterosklerosis meningkat dengan bertamb
ahnya usia. Pada laki-laki biasanya risiko meningkat setelah u
mur 45 tahun sedangkan pada wanita umur 55 tahun.
b) Jenis Kelamin
Aterosklerosis 3 kali lebih sering terjadi pada pria dibanding w
anita. Wanita agaknya relatif lebih kebal terhadap penyakit ini
karena dilindungi oleh hormon estrogen, namun setelah menop
ause sama rentannya dengan pria.
c) Ras
Orang Amerika-Afrika lebih rentan terhadap aterosklerosis dib
anding orang kulit putih.
d) Riwayat Keluarga CAD
12

Riwayat keluarga yang ada menderita CAD, meningkatkan ke


mungkinan timbulnya aterosklerosis prematur.
2) Faktor yang dapat dimodifikasi Yaitu faktor risiko yang dapat dikont
rol dengan mengubah gaya hidup atau kebiasaan pribadi, yang melip
uti:
a) Hiperlipidemia Adalah peningkatan lipid serum, yang meliputi:
Kolesterol > 200 mg/dl, Trigliserida >200 mg/dl, LDL > 160 mg
/dl, HDL < 35 mg/dl.
b) Hipertensi Adalah peningkatan tekanan darah sistolik dan atau d
iastolik. Hipertensi terjadi jika tekanan darah melebihi 140/90 m
mHg. Peningkatan tekanan darah mengakibatkan bertambahnya
beban kerja jantung. Akibatnya timbul hipertrofi ventrikel sebag
ai kompensasi untuk meningkatkan kontraksi. Ventrikel semakin
lama tidak mampu lagi mengkompensasi tekanan darah yang ter
lalu tinggi hingga akhirnya terjadi dilatasi dan payah jantung. D
an jantung semakin terancam oleh aterosklerosis koroner.
c) Merokok.
Merokok akan melepaskan nikotin dan karbonmonoksida ke da
lam darah. Karbonmonoksida lebih besar daya ikatnya dengan
hemoglobin daripada dengan oksigen. Akibatnya suplai darah u
ntuk jantung berkurang karena telah didominasi oleh karbondio
ksida. Sedangkan nikotin yang ada dalam darah akan merangsa
ng pelepasan katekolamin. Katekolamin ini menyebabkan kons
triksi pembuluh darah sehingga suplai darah ke jantung berkura
ng. Merokok juga dapat meningkatkan adhesi trombosit yang
mengakibatkan terbentuknya thrombus.
d) Diabetes Mellitus Hiperglikemi menyebabkan peningkatan agre
gasi trombosit. Hal ini akan memicu terbentuknya trombus. Pasi
en Diabetes Mellitus juga berarti mengalami kelainan dalam me
tabolisme termasuk lemak karena terjadinya toleransi terhadap g
lukosa.
13

e) Obesitas Obesitas adalah jika berat badan lebih dari 30% berat b
adan standar. Obesitas akan meningkatkan kerja jantung dan ke
butuhan oksigen.
f) Inaktifitas Fisik
Inaktifitas fisik akan meningkatkan risiko aterosklerosis. Deng
an latihan fisik akan meningkatkan HDL dan aktivitas fibrinoli
sis.
g) Stres dan Pola Tingkah Laku
Stres akan merangsang Hiperaktivitas HPA yang dapat memper
cepat terjadinya CAD. Peningkatan kadar kortisol menyebabka
n ateroklerosis, hipertensi, dan kerusakan sel endotel pembuluh
darah dan merangsang kemotaksis (Januzzi dkk, 2014).

c. Klasifikasi
Penyakit jantung koroner menurut Chia et al., (2013) diklasifikasikan
menjadi 3, antara lain sebagai berikut:
1) Silent Ischaemeia (Asimtotik) Penderita tidak merasakan adanya tanda
penyakit.
2) Angina Pectoris Seseorang merasakan nyeri pada bagian dada daerah
sternum, substernal/dada sebelah kiri dan seringkali menjalar ke bagian
lengan sebelah kiri, rahang, punggung, leher, bahkan sampai ke lengan
kanan. Nyeri ini ditandai dengan adanya rasa tertekan benda berat dan
terasa panas. Durasinya sekitar 1-5 menit dan nyeri akan muncul saat
melakukan aktivitas dan berkurang dengan istirahat. Gambaran EKG dan
foto rontgen dada memperlihatkan bentuk jantung yang normal saat
istirahat. Jika hasil EKG menunjukkan depresi segmen ST, maka perlu
dilakukan exercise test.
3) Infark Miokard Akut Disebabkan karena jaringan otot jantung mati dan
kekurangan O2 dalam darah dalam beberapa waktu, ditandai dengan
nyeri dada sebelah kiri, menjalar ke lengan kiri. Nyeri timbul terus-
menerus dan berangsur lama, tidak mudah sembuh dengan hanya
beristirahat. Infark miokard akut berdasarkan EKG 12 sadapan dapat
14

4) diklasifikasikan menjadi STEMI (ST-segmen Elevasi Miokard Infark)


dan NSTEMI (Non ST segmen Elevasi Miokard Infark).

d. Patofisiologi
PJK biasanya disebabkan oleh aterosklerosis, sumbatan pada arteri coroner
oleh plak lemak dan fibrosa (LeMone, Burke, & Bauldoff, 2016). Plak
atheroma pembuluh darah coroner dapat pecah akibat perubahan komposisi
plak dan penipisan fibrosa yang menutupi plak tersebut. Kejadian ini akan
diikuti oleh proses agregasi trombosit dan aktivasi jalur koagulasi sehingga
terbentuk thrombus yang kaya trombosit (white thrombus). Thrombus ini
akan menyumbat lubang pembuluh darah coroner, baik secara total maupun
parsial; atau menjadi mikroemboli yang menyumbat pembuluh coroner
(PERKI, 2018).

Berkurangnya aliran darah coroner menyebabkan iskemia miokardium.


Ketika kebutuhan oksigen miokardium lebih besar dibanding yang dapat
disuplai oleh pembuluh yang tersumbat sebagian, sel miokardium menjadi
iskemik dan berpindah ke metabolisme anaerob. Metabolisme anaerob
menghasilkan asam laktat yang merangsang ujung saraf otot, menyebabkan
nyeri. Selain itu, penumpukan asam laktat mempengaruhi permeabilitas
membrane sel, yang melepaskan zat seperti histamin, kinin, enzim khusus
yang merangsang serabut saraf terminal diotot jantung dan mengirimkan
impuls nyeri ke system saraf pusat. Nyeri berkurang saat suplai oksigen
kembali dapat memenuhi kebutuhan miokardium (LeMone, Burke, &
Bauldoff, 2016).

Sementara, ketika suplai oksigen berhenti dalam waktu kurang lebih 20


menit menyebabkan miokardium mengalami nekrosis (infark miokard/IM)
(PERKI, 2018). Infark miokard tidak selalu disebabkan oleh oklusi total
pembuluh darah coroner. Sumbatan sub total yang disertai vasoknstrikasi
yang dinamis juga dapat menyebabkan terjadinya iskemia dan nekrosis
jaringan otot jantung (miokard). Selain nekrosis, iskemia juga menyebabkan
gangguan kontraktilitas miokardium (setelah iskemia hilang), serta distrimia
dan remodelling ventrikel (perubahan bentuk, ukuran, dan fungsi ventrikel).
15

Pada sebagian pasien, SKA terjadi karena sumbatan dinamis akibat spasme
local arteria coroner epikardial (angina prinsmetal). Penyempitan arteri
koronaria, tanpa spasme maupun thrombus, dapat diakibatkan oleh progresi
pembentukan plak atau restenosis setelah Percutant Coronary Intervention
atau intervensi coroner perkutan (IKP) (PERKI, 2018)

e. Manifestasi Klinik
Pasien yang sudah mengalami CAD bisa saja tidak timbul gejala apapun.
Semakin besar sumbatan yang ada di dalam pembuluh darah, maka aliran
darah yang dapat melewatinya semakin sedikit, dan kemungkinan untuk
timbulnya gejala semakin besar. Pasien biasanya baru mengetahui adanya
CAD setelah timbul gejala. Gejala-gejala yang dapat timbul akibat CAD
antara lain (Mediskus, 2017):
1) Nyeri dada
Gejala yang paling sering terjadi akibat CAD adalah adanya nyeri
dada atau biasa disebut dengan angina pectoris. Nyeri dada ini
dirasakan sebagai rasa tidak nyaman atau tertekan di daerah dada,
sesuai dengan lokasi otot jantung yang tidak mendapat pasokan
oksigen. Nyeri dapat menjalar ke daerah bahu, lengan, leher, rahang,
atau punggung. Keluhan akan dirasakan semakin memberat dengan
adanya aktivitas.
2) Sesak
Jika jantung tidak mampu memompakan darah keseluruh tubuh akibat
adanya gangguan pada kontraktilitas jantung, hal ini dapat
mengakibatkan penumpukan darah dijantung sehingga terjadi aliran
balik ke paru-paru hal ini menyebabkan timbulnya penumpukan cairan
di dalam paru-paru maka seseorang akan mengalami sesak nafas
3) Aritmia Adalah gangguan dalam irama jantung yang bisa menimbulkan
perubahan elektrofisiologi otot-otot jantung. perubahan elektrofisiologi
ini bermanifestasi sebagai bentuk potensial aksi yaitu rekaman grafik
aktivitas listrik sel misalnya perangsangan simpatis akan meningkatkan
kecepatan denyut jantung.
4) Mual muntah
16

Nyeri yang dirasakan pada pasien dengan penyakit jantung adalah di


dada dan di daerah perut khususnya ulu hari tergantung bagian jantung
mana yang bermasalah. Nyeri pada ulu hati bisa merangsang pusat
muntah. Area infark merangsang refleks vasofagal.
5) Keringat dingin
Pada fase awal infark miokard terjadi pelepasan ketekolamin yang
meningkatkan stimulasi simpatis sehingga terjadi vasokontriksi
pembuluh darah perifer sehingga kulit akan menjadi berkeringat, dingin
dan lembab.
6) Lemah dan tidak bertenaga
Dapat terjadi disebabkan karena jantung tidak mampu memompakan
darahnya keseluruh tubuh sehingga suplai oksigen kejaringan berkurang
sehingga seseorang merasakan kelemahan.

f. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang dapat dilakukan ialah pemeriksaan tekanan darah, tes
darah dan tes kadar gula/protein dalam air seni, dll. Pemeriksaan terkait
lainnya mencakup (AHA, 2016):
1) Electrocardiogram (EKG)
Pemeriksaan EKG pada saat latihan fisik dilakukan untuk mengkaji
respon jantung terhadap peningkatan beban kerja seperti latihan fisik.
Pemeriksaan dianggap positif PJK jika ditemukan iskemia miokard pada
EKG yakni adanya penurunan segmen ST, pasien mengalami nyeri
dada, atau pemeriksaan dihentikan jika terjadi keletihan berlebihan, atau
gejala lain sebelum perkiraan laju jantung maksimal dicapai Jika
pemeriksaan EKG awal tidak menunjukkan kelainan atau menunjukkan
kelainan yang non-diagnostik sementara angina
masih berlangsung, maka pemeriksaan diulang 10-20 menit kemudian.
Jika EKG ulangan tetap menunjukkan gambaran non diagnostik
sementara keluhan angina sangat sugestif SKA, maka pasien dipantau
selama 12-24 jam. EKG diulang setiap terjadi angina berulang atau
setidaknya 1 kali dalam 24 jam (PERKI, 2018).

2) Pemeriksaan laboratorium
17

a) Perubahan enzim jantung, isoenzim, troponin T dan troponin I


 CK-MB isoenzim yang ditemukan pada otot jantung meningkat
antara 4-6 jam, memuncak dalam 12-24 jam, kembali normal
dalam 48-72 jam.
 LDH meningkat dalam 14-24 jam, memuncak dalam 48-72 jam
dan kembali normal dalam 7-14 hari
 Troponin-T, merupakan pertanda baru untuk infark miokard
akut, mulai meningkat 3-12 jam, puncak selama 12 jam – 2 hari,
kembali normal 5 – 14 hari.
 Troponin-I mulai meningkat 3 - 12 jam, puncak selama 24 jam,
kembali normal 5 – 10 hari
b) Peningkatan lipid serum meliputi : Kolesterol >200 mg/dl.
Trigliserida >200 mg/dl, LDL >160mg/dl, HDL <35
3) Echokardiografi
Digunakan untuk mengkaji fraksi ejeksi (normalnya >55 % ), gerakan
segmen dinding, volume sistolik dan diastolik ventrikel, regurgitasi
katup mitral karena disfungsi otot papiler dan untuk mendeteksi adanya
thrombus mural, vegetasi katup, atau cairan pericardial.
4) Coronary Calcium Scoring (CCS) Kalsium di arteri koroner dianggap
sebagai konsekuensi aterosklerosis, namun keberadaan kalsium memiliki
korelasi yang rendah dengan stenosis lumen arteri koroner. Sehingga
angka kalsium skor nol tidak bisa disimpulkan tidak ada stenosis
koroner.
5) Coronary Computed Tomography Angiography (CCTA)
Pemberian kontras dapat memperlihatkan lumen dengan jelas, sehingga
penilaian stenosis lumen dapat dilakukan. Society of Cardiovascular
Computed Tomography (SCCT) mengelompokkan derajat stenosis
lumen menjadi enam.
6) Angiografi koroner /Coronary Angiography (Kateterisasi Jantung)
Angiografi koroner adalah salah satu pemeriksaan invasif untuk
menggambarkan keadaan arteri koroner jantung dengan cara
memasukkan kateter pembuluh darah ke dalam tubuh dan
menginjeksikan cairan kontras untuk memberikan gambaran pembuluh
18

darah koroner pada pencitraan sinar-X segera setelah kontras


diinjeksikan.
19

g. Penatalaksanaan Medis
Pengobatan yang dapat diberikan (AHA, 2016):
1) Terapi awal
Terapi awal yang dimaksud adalah Morfin, Oksigen, Nitrat, Aspirin
(disingkat MONA), yang tidak harus diberikan semua atau bersamaan.
Yang dimaksud dengan terapi awal adalah terapi yang diberikan pada
pasien dengan diagnosis kerja kemungkinan CAD atau CAD atas dasar
keluhan angina di ruang gawat darurat, sebelum ada hasil pemeriksaan
EKG dan/atau marka jantung.
a) Tirah baring.
b) Suplemen oksigen harus diberikan segera bagi mereka dengan
saturasi O2 arteri < 90 % atau yang mengalami distress respirasi.
Suplemen oksigen dapat diberikan pada semua pasien CAD dalam 6
jam pertama, tanpa mempertimbangkan saturasi O2 arteri.
c) Aspirin 160-320 mg diberikan segera pada semua pasien yang tidak
diketahui intoleransinya terhadap aspirin (Kelas I-A). Aspirin tidak
bersalut lebih terpilih mengingat absorpsi sublingual (di bawah
lidah) yang lebih cepat.
d) Penghambat reseptor ADP (adenosine diphosphate)
Dosis awal ticagrelor yang dianjurkan adalah 180 mg dilanjutkan
dengan dosis pemeliharaan 2 x 90 mg/hari kecuali pada pasien
STEMI yang direncanakan untuk reperfusi menggunakan agen
fibrinolitik atau dosis awal clopidogrel adalah 300 mg dilanjutkan
dengan dosis pemeliharaan 75 mg/hari (pada pasien yang
direncanakan untuk terapi reperfusi menggunakan agen fibrinolitik,
penghambat reseptor ADP yang dianjurkan adalah clopidogrel
e) Nitrogliserin (NTG) spray/tablet sublingual bagi pasien dengan
nyeri dada yang masih berlangsung saat tiba di ruang gawat darurat.
jika nyeri dada tidak hilang dengan satu kali pemberian, dapat
diulang setiap lima menit sampai maksimal tiga kali. Nitrogliserin
intravena diberikan pada pasien yang tidak responsif denganterapi
tiga dosis NTG sublingual. dalam keadaan tidak tersedia NTG,
isosorbid dinitrat (ISDN) dapat dipakai sebagai pengganti.
20

f) Morfin sulfat 1-5 mg intravena, dapat diulang setiap 10-30 menit,


bagi pasien yang tidak responsif dengan terapi tiga dosis NTG
sublingual.
g) Penyekat Beta (Beta Bloker) Keuntungan utama terapi penyekat beta
terletak pada efeknya terhadap reseptor beta-1 yang mengakibatkan
turunnya konsumsi oksigen miokardium. Terapi hendaknya tidak
diberikan pada pasien dengan gangguan konduksi atrio ventrikler
yang signifikan, asma bronkiale, dan disfungsi akut ventrikel kiri.
Pada kebanyakan kasus, preparat oral cukup memadai dibandingkan
injeksi. Penyekat beta direkomendasikan bagi pasien UAP atau
NSTEMI, terutama jika terdapat hipertensi dan/atau takikardia, dan
selama tidak terdapat kontra indikasi.
h) Calcium channel blockers (CCBs) Nifedipin dan amlodipin
mempunyai efek vasodilator arteri dengan sedikit atau tanpa efek
pada SA Node atau AV Node. Sebaliknya verapamil dan diltiazem
mempunyai efek terhadap SA. Node dan AV Node yang menonjol
dan sekaligus efek dilatasi arteri.
i) Antikoagulan Fondaparinuks secara keseluruhan memiliki profil
keamanan berbanding risiko yang paling baik. Dosis yang diberikan
adalah 2,5 mg setiap hari secara subkutan. Enoksaparin (1 mg/kg
dua kali sehari) disarankan untuk pasien dengan risiko perdarahan
rendah apabila fondaparinuks tidak tersedia. Heparin tidak terfraksi
(UFH) dengan target aPTT 50- 70 detik atau heparin berat molekul
rendah (LMWH) lainnya (dengan dosis yang direkomendasikan)
diindaksikan apabila fondaparinuks atau enoksaparin tidak tersedia
j) Inhibitor ACE dan Penghambat Reseptor Angiotensin Inhibitor
angiotensin converting enzyme (ACE) berguna dalam mengurangi
remodeling dan menurunkan angka kematian penderita
pascainfarkmiokard yang disertai gangguan fungsi sistolik jantung,
dengan atau tanpa gagal jantung klinis.
k) Statin Tanpa melihat nilai awal kolesterol LDL dan tanpa
mempertimbangkan modifikasi diet, inhibitor
hydroxymethylglutary-coenzyme A reductase (statin) harus
diberikan pada semua penderita UAP/NSTEMI, termasuk mereka
21

l) yang telah menjalani terapi revaskularisasi, jika tidak terdapat


indikasi kontra.
2) Terapi Invasif Percutaneous Coronary Intervention (PCI).
Tindakan Percutaneous Coronary Intervention (PCI) merupakan
prosedur invasif dimana balon atau kateter yang dibantu stent
digunakan untuk mempelebar atau membuka arteri koroner yang
menyempit (PERKI,2016). Seperti prosedur kateterisasi jantung, bius
lokal atau anantesi pada kulit digunakan pada tindakan PCI. Tindakan
ini bisa dilakukan lewat pembuluh darah di selangkangan atau
pergelangan tangan. Kateter disambungkan ke dalam pembulih darah di
paha atau dilengan. Dibandingkan dengan kateter yang digunakan
kateterisasi jantung, kateter yang digunakan pada tindakan PCI memiliki
diameter lumen yang lebih besar. Untuk mengakses arteri koroner yang
sempit, perawat memerlukan bantuan dengan guide wire yang sangat
kecil, sepanjang 0,0014 inci. Setelah guide wire melewati area yang
sempit, balon kemudian di pompa (digembungkan). Jika arteri darah
sudah terbuka , stent (gorong-gorong) biasanya untuk mempertahankan
keterbukaannya (Haryanto, 2018).

2. Kateterisasi Jantung
a. Pengertian
Para ahli memberikan pengertian tentang kateterisasi jantung. Beberapa
pengertian kateterisasi jantung menurut beberapa ahli antara lain sebagai
berikut:
1) Katerisasi jantung merupakan teknik intervensi dan diagnosa hemodinam
ik yang paling banyak digunakan di dunia (Sinaga et al., 2022).
2) Katerisasi jantung adalah tindakan non ivasif atau non pembedahan dima
na selang kateter yang tipis (diameter sekitar 1,7 mm) dan panjang dimas
ukkan ke dalam pembuluh darah, kemudian diarahkan menuju jantung. S
alah satu jenis kateterisasi jantung yang paling sering dilakukan adalah p
emeriksaan aliran pembuluh darah koroner jantung, atau dikenal dengan
angiografi koroner (Pramudita, 2022).
22

3) Coronary angiography merupakan pemeriksaan khusus dengan sinar x


pada jantung dan pembuluh darah, dilakukan untuk menemukan letak
sumbatan pada arteri koroner (Kasron, 2012).
4) Percutaneous Coronary Intervention (PCI) adalah pelaksanaan sumbatan
arteri koronaria. Prosedur intervensi dengan menggunakan kateter untuk
melebarkan atau membuka pembuluh darah koroner yang menyempit
dengan balon atau stent. Proses penyempitan pembuluh 25 darah koroner
ini dapat disebabkan oleh proses aterosklerosis atau thrombosis
(Haryanto, 2018). PCI merupakan tindakan penyisipan kateter ke dalam
tubuh melalui tusukan kecil di kulit, biasanya ke dalam arteri, saat
koroner diidentifikasi bahwa arteri koroner perlu untuk dilebarkan, dan
intervensi yang berkaitan dengan teknik untuk memperbaiki pembuluh
darah melalui pembukaan kateter balon, dapat dikembangkan dengan
pemasangan stent atau alat lain yang khusus untuk mengobati arteri yang
sakit, alat khusus ini dapat berupa angioplasty, atherectomy, dan
rotablation (Widyastuti, 2012).

b. Jenis-Jenis
Pembagian PCI berdasarkan onset, sebagai berikut : (Harselia S, 2018)
1) Primary Percutaneous Coronary Intervention adalah tindakan
angiosplasthy (dengan atau tanpa stent) yang dilakukan pada Akut
koroner Infark dengan Onset gejala kurang dari 12 Jam pada lumen
koroner yang mengalami penyumbatan tanpa di dahului pemberian
fibronilitik atau obat lain yang dapat melarutkan bekuan darah,
Keterlambatan door to needle atau door to balloon tiap 30 menit akan
meningkatkan risiko relative 1 tahun sebanyak 7.5%. Sehingga segala
usaha harus dilakukan untuk mempercepat reperfusi.
2) Early Percutaneous Coronary Intervention adalah tidakan yang
dilakukan pada Akut koroner Infark dengan Onset gejala lebih dari 12
Jam
3) Rescue Percutaneous Coronary Intervention adalah tindakan yang
dilakukan pada Akut koroner Infark dengan Onset gejala kurang dari 12
Jam setelah mengalami kegagalan terapi Fibrinolitik
23

4) Percutaneous Coronary Intervention Elektif adalah tindakan yang


dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan mengurangi
gejala dari penyakit arteri koroner pada penderita yang sudah stabil atau
tidak muncul gejala.

c. Indikasi.
Indikasi kateterisasi jantung menurut Darliana (2017), adalah sebagai berikut:
1) Memiliki gejala penyakit arteri koroner meskipun telah mendapat terapi
medis yang adekuat
2) Penentuan prognosis pada pasien dengan penyakit arteri koroner Nyeri d
ada stabil dengan perubahan iskemik bermakna pada tes latihan
3) Pasien dengan nyeri dada tanpa etiologi yang jelas
4) Sindrom koroner tidak stabil (terutama dengan peningkatan Toponin T at
au I
5) Pasca infark miokard non gelombang Q
6) Pasca infark miokard gelombang Q pada pasien risiko tinggi (ditentukan
dengan tes latihan atau pemindaian perfusi miokard)
7) Pasien dengan aritmia berlanjut atau berulang
8) Gejala berulang pasca Coronary Artery Bypass Graft (CABG) atau Perc
utaneus Coronary Intervention (PCI)
9) Pasien yang menjalani pembedahan katup jantung
10) Pasien gagal jantung dengan etiologi yang tidak jelas
11) Menentukan penyebab nyeri dada pada kardiomiopati hipertropi

d. Kontra Indikasi.
Kontra Indikasi kateterisasi jantung/ angiografi koroner antara lain :
1. Bleeding disorder/ koagulopati ialah kondisi di mana kemampuan darah
koagulasi/menggumpal untuk membentuk trombus atau bekuan.
2. CHF/gagal Jantung kongestif
3. Hipertensi
4. CVA/Cerebrovaskuler
5. Aritmia
6. Gastroinstestinal disertai perdarahan
7. Penderita dengan kehamilan
24

8. Penderita tidak kooperatif


9. Infeksi
10. CKD
11. Alergi memakai kontras ( Handayani,2018 )

e. Komplikasi.
Hal-hal yang kemungkinan bisa terjadi akibat tindakan kateterisasi jantung
menurut American College of Cardiology dalam (Handayani,2018) :
1) Komplikasi vaskular mayor antara lain: tromboemboli, meninggal akibat
komplikasi vaskular, invasif vaskular, perdarahan vaskular mayor,
turunnya hemoglobin (HB) > 3g akibat perdarahan akses vaskular,
retroperineal mengalami perdarahan, penyempitan/sumbatan vaskular,
nadi tidak teraba.
2) Komplikasi vaskular minor: Hematoma/pembengkakan 10 cm,
arteriovenous fistule, pseudoaneurysm, komplikasi jarang seperti: ruptur
pembuluh darah, kateter melilit, kateter putus, perforasi arteria koroner,
nyeri daerah tusukan.

3. Akses Radialis
a. Pengertian arteri radial
Arteri radial adalah arteri besar yang memberikan darah ke tangan, lengan
bawah, dan bagian dari lengan pengguna. Ini juga membantu kepala dan
leher dengan cabang yang sangat kecil di beberapa tempat. Arteri radial
adalah salah satu dari tiga arteri yang terletak di permukaan bawah lengan
Anda di dekat garis tengahnya. Ini disebut "radial" karena berjalan sejajar
dengan Anda radius tulang. (Health Literacy, 2021)
b. Fungsi arteri radial
Terutama, arteri radial memasok darah ke siku, otot lengan bawah lateral,
saraf radial, terowongan utama tulang dan sendi, ibu jari, dan jari. Karena
letaknya lebih dekat ke permukaan kulit, arteri radialis dapat digunakan
untuk mengukur bisul di pergelangan tangan. Selain itu, darah yang diambil
dari arteri ini digunakan untuk tes gas darah arteri (ABG), yang menentukan
tingkat oksigen. Tes ini sering dilakukan sebagai bagian dari prosedur
perawatan intensif.
25

c. Keuntungan Akses Trans-Radial


Umumnya pada prosedur trans-radial kurang ditemukan komplikasi vaskular
pada daerah akses Ambulasi dini, kenyamanan dan kepuasan pasien selama
prosedur, serta biaya yang relatif rendah juga menyebabkan prosedur ini
menjadi pilihan pasien. Adanya pasokan darah ganda dapat meminimali-sasi
iskemia antebraki. Selain itu, penekanan arteri radialis lebih mudah
dilakukan, dan peluang terjadinya cedera saraf kecil. Prosedur transradial
juga menjadi pilihan pada adanya oklusi berat arteri aortailiaka dan pasien
dengan kesulitan posisi baring (obes, low back pain, dan gagal jantung).
d. Pemantauan ketat Area puncture di arteri radialis:
1) Pelepasan dilakukan 4-6 jam setelah tindakan PCI
2) Bila klien mengeluh kebas atau baal, kempiskan 2-3 cc udara dengan
spuit khusus TR band sampai keluhan baal berkurang, dan observasi
perdarahan
3) Bila masih terdapat perdarahan kembangkan lagi ballon TR band dan
observasi 1 jam kemudian. Bila tidak terjadi perdarahan kempiskan
ballon dan buka TR band dan tutup dengan kassa steril diatas luka insisi
dan tekan dengan kuat
4) Observasi tanda tanda vital (tekanan darah, denyut nadi, pernapasan,
saturasi oksigen), pulsasi arteri perifer, dan keluhan klien selama aff
sheath)
5) Bila darah sudah tidak keluar, luka pungsi ditutup dengan kasa steril dan
verban elastis lalu diberi bantal steril
6) 6 jam post aff sheath klien baru diperbolehkan mobilisasi
7) Observasi daerah distal ekstremitas dan keadaan umum klien post aff
sheath (tekanan darah, nadi, irama ekg/perubahan gelombang
EKG,saturasi O2, pernapasan, nilai ureum dan kreatinin) dari adanya
komplikasi berupa perdarahan/hematoma, thrombosis, Fistula
arteriovenosus (Rahman, 2018).
e. Komplikasi Pada Akses Trans-Radial
Laporan mengenai tehnik dan pengalaman melakukan prosedur trans-radial
telah cukup banyak dipublikasikan, tetapi pembahasan mengenai komplikasi
yang spesifik serta penanganannya masih kurang. Tindakan puncture, insersi
sheath, dan manipulasi kateter dapat menyebabkan cedera arteri radialis serta
26

komplikasi transradial lainnya. Komplikasi akan lebih sering ditemukan bila


terdapat varian pada arteri radialis dan atau aksis vaskular yang lebih
proksimal. Umumnya komplikasi yang terjadi akibat akses transradial sangat
jarang dan lebih mudah ditangani daripada akibat akses transfemoral.
Komplikasi yang dilaporkan antara lain edema lokal, hematoma, perdarahan
kembali (ringan sampai berat), gangguan hemostasis, spasme arteri radialis,
compartment syndrome, oklusi arteri radialis (RAO), diseksi arteri atau
perforasi, pseudo-aneurisma, fistula arterio-venosa, dan Nyeri pada area
puncture paska aff sheath.

4. Teori Nyeri
a. Pengertian
Nyeri adalah penyakit yang ditandai dengan sensasi tidak menyenangkan ya
ng hanya dapat dijelaskan secara akurat oleh orang yang mengalaminya, kare
na pengalaman rasa sakit dan ketidaknyamanan setiap orang berbeda (Alimu
l, 2015). Nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak nyama
n yang terjadi sebagai akibat dari kerusakan jaringan , atau kerusakan jaringa
n yang ada atau yang akan datang (Aydede, 2017).

Menurut International Association for the Study of Pain (IASP), nyeri adalah
fenomena rumit yang tidak hanya mencakup respons fisik atau mental, tetapi
juga emosi emosional individu. Penderitaan seseorang atau individu dapat m
enjadi penyebab utama untuk mencari perawatan medis, dan juga dapat menj
adi alasan individu untuk mencari bantuan medis. Kenyamanan individu dipe
rlukan, dan itu harus menyenangkan. Sakit merupakan kebutuhan penderitan
ya. Nyeri adalah keadaan tidak nyaman yang disebabkan oleh kerusakan jari
ngan yang terjadi dari suatu daerah tertentu (Siti Cholifah, et al 2020). Sehin
gga dari pernyataan diatas, nyeri adalah suatu stimulus yang tidak menyenan
gkan dan sangat kompleks yang dapat diamati secara verbal maupun nonverb
al.

b. Klasifikasi Nyeri
Nyeri dapat diklasifikasikan berdasarkan durasinya dibedakan menjadi nyeri
akut dan nyeri kronis.
27

1) Nyeri Akut
Nyeri akut biasanya datang tiba-tiba dan umumnya berkaitan dengan ce
dera spesifik. Nyeri merupakan respon biologis terhadap suatu cedera ja
ringan dan menjadi suatu tanda bila ada kerusakan jaringan, seperti nyer
i pasca operasi. Jika nyeri terjadi bukan karena penyakit sistematik, nyer
i akut biasanya sembuh setelah kerusakan jaringan diperbaikinyeri akut
umumnya terjadi kurang dari enam bulan atau kurang dari satu bulan (d
e Boer, 2018).
2) Nyeri Kronik
Nyeri kronik yaitu nyeri yang menetap sepanjang suatu periode waktu, k
onstan atau intermiten. Nyeri akut berlangsung diluar penyembuhan yan
g diperkirakan dan sering tidak dapat dikaitkan dengan penyebab atau ce
dera spesifik yang menyebabkan nyeri terus menerus atau nyeri berulan
g dalam beberapa bulan atau tahun. Beberapa peneliti menggunakan dur
asi dari 6 bulan untuk menunjuk nyeri sebagai kronis (de Boer, 2018).

c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nyeri


1) Budaya
Keyakinan dan nilai-nilai budaya mempengaruhi cara individu mengatas
i nyeri. Individu mempelajari apa yang diharapkan dan apa yang
diterima oleh kebudayaan mereka. Hal ini meliputi bagaimana be
reaksi terhadap nyeri (Kozier et al., 2018).
2) Jenis kelamin
Jenis kelamin merupakan perbedaan yang telah dikodratkan Tuhan.
Perbedaan antara laki laki dengan perempuan tidak hanya dalam faktor
biologis, tetapi aspek sosial kultural juga membentuk berbagai karakter
sifat gender. Karakter jenis kelamin dan hubungannya dengan sifat
keterpaparan dan tingkat kerentanan memegang peranan tersendiri
(contoh: laki-laki tidak pantas mengeluh nyeri, wanita boleh mengeluh
nyeri) (Syamsuhidayat, 2008). Jenis kelamin dengan respon nyeri laki-
laki dan perempuan berbeda. Hal ini terjadi karena laki-laki lebih siap
untuk menerima efek, komplikasi dari nyeri sedangkan perempuan suka
mengeluhkan sakitnya dan menangis (Adha, 2014).
28

3) Usia /Umur
Menurut (Potter et al., 2013) usia adalah variabel penting yang mempen
garuhi nyeri terutama pada anak dan orang dewasa. Perbedaan perkemb
angan yang ditemukan antara kedua kelompok umur ini dapat mempeng
aruhi bagaimana anak dan orang dewasa bereaksi terhadap nyeri. Seoran
g perawat harus menggunakan teknik komunikasi yang sederhana dan te
pat untuk membantu anak dalam membantu anak dalam memahami dan
mendeskripsikan nyeri. Perawat dapat menunjukkan serangkaian gamba
r yang melukiskan deskripsi wajah yang berbeda, seperti tersenyum, me
ngerutkan dahi atau menangis. Anak-anak dapat menunjukkan gambar y
ang paling tepat untuk menggambarkan perasaan mereka.
4) Pola Koping
Ketika seseorang mengalami nyeri dan menjalani perawatan di rumah sa
kit adalah hal yang sangat tak tertahankan. Secara terusmenerus klien ke
hilangan kontrol dan tidak mampu untuk mengontrol lingkungan termas
uk nyeri. Klien sering menemukan jalan untuk mengatasi efek nyeri bai
k fisik maupun psikologis. Penting untuk mengerti sumber koping indivi
du selama nyeri. Sumber-sumber koping ini seperti berkomunikasi deng
an keluarga, latihan dan bernyanyi dapat digunakan sebagai rencana unt
uk mensupport klien dan menurunkan nyeri klien (Potter et al., 2013).
5) Ansietas
Meskipun pada umumnya diyakini bahwa ansietas akan meningkatkan n
yeri, mungkin tidak seluruhnya benar dalam semua keadaaan. Riset tida
k memperlihatkan suatu hubungan yang konsisten antara ansietas dan ny
eri juga tidak memperlihatkan bahwa pelatihan pengurangan stres praop
eratif menurunkan nyeri saat pascaoperatif. Namun, ansietas yang releva
n atau berhubungan dengan nyeri dapat meningkatkan persepsi pasien te
rhadap nyeri. Ansietas yang tidak berhubungan dengan nyeri dapat men
distraksi pasien dan secara aktual dapat menurunkan persepsi nyeri. Sec
ara umum, cara yang efektif untuk menghilangkan nyeri adalah dengan
mengarahkan pengobatan nyeri ketimbang ansietas (Potter et al., 2013).
29

6) Lingkungan dan dukungan keluarga


Faktor lain yang juga mempengaruhi respon terhadap nyeri adalah keha
diran dari orang terdekat. Orang-orang yang sedang dalam keadaan nyer
i sering bergantung pada keluarga untuk mensupport, membantu atau m
elindungi. Ketidakhadiran keluarga atau teman terdekat mungkin akan
membuat nyeri semakin bertambah. Kehadiran orangtua merupakan hal
khusus yang penting untuk anak-anak dalam menghadapi nyeri (Potter e
t al., 2013).
7) Pengalaman sebelumnya
Ketika seseorang mengalami nyeri dan menjalani perawatan di rumah sa
kit adalah hal yang sangat tak tertahankan. Secara terus menerus klien k
ehilangan kontrol dan tidak mampu untuk mengontrol lingkungan terma
suk nyeri. Klien sering menemukan jalan untuk mengatasi efek nyeri bai
k fisik maupun psikologis. Penting untuk mengerti sumber koping indivi
du selama nyeri. Sumber-sumber koping ini seperti berkomunikasi deng
an keluarga, latihan dan bernyanyi dapat digunakan sebagai rencana unt
uk mensupport klien dan menurunkan nyeri klien (Potter et al., 2013).

d. Tanda dan gejala nyeri


Tanda dan gejala nyeri ada bermacam–macam perilaku yang tercermin dari
pasien. Secara umum orang yang mengalami nyeri akan didapatkan respon
psikologis berupa :
1) Suara: Menangis, merintih, menarik/menghembuskan nafas
2) Ekspresi wajah: Meringiu mulut
3) Menggigit lidah, mengatupkan gigi, dahi berkerut, tertutup
rapat/membuka mata atau mulut, menggigit bibir
4) Pergerakan tubuh: Kegelisahan, mondar – mandir, gerakan menggosok
atau berirama, bergerak melindungi bagian tubuh, immobilisasi, otot
tegang.
5) Interaksi sosial: Menghindari percakapan dan kontak sosial, berfokus
aktivitas untuk mengurangi nyeri, disorientasi waktu (Mohamad, 2012)
30

e. Proses Terjadinya Nyeri

Menurut Andarmoyo (2013)ada beberapa tahapan nyeri, yaitu :


1) Stimulasi
Persepsi nyeri reseptor, diantarkan oleh neuron khusus yang bertindak s
ebagai reseptor pendeteksi stimulus, penguat dan penghantar menuju sis
tem saraf [Link] khusus tersebut dinamakan [Link]
tiga kategori reseptor nyeri yaitu nosiseptor mekanisme yang berespons
terhadap kerusakan mekanisme, nosiseptor termal yang berespons terha
dap suhu yang berlebihan terutama panas dan nosiseptor polimodal yang
berespons setara terhadap semua jenis rangsangan yang merusak, termas
uk iritasi zat kimia yang dikeluarkan dari jaringan yang berbeda.
2) Transduksi
Transduksi merupakan proses ketika suatu stimuli nyeri (noxious stimul
i) diubah menjadi suatu aktivitas listrik yang akan diterima ujung-ujung
saraf.
31

3) Transmisi
Transmisi merupakan proses penerusan impuls nyeri dari nociceptor sar
af perifer melewati cornu dorsalis dan corda spinalis menuju korteks se
rebri.
4) Modulasi
Modulasi adalah proses pengendalian internal oleh sistem saraf, dapat m
eningkatkan atau mengurangi penerusan impuls nyeri.
5) Persepsi
Persepsi adalah hasil rekonstruksi susunan saraf pusat tentang impuls ny
eri yang diterima.

f. Penilaian Respon Intensitas Nyeri


Penilaian intensitas nyeri dapat dilakukan dengan menggunakan skala
sebagai berikut (Sulistyo, 2016)
1. Skala Deskriptif
Skala deskriptif merupakan alat pengukuran tingkat keparahan nyeri
yang lebih objektif. Skala pendeskritif verbal (Verbal Descriptor Scale)
merupakan sebuah garis yang terdiri dari tiga sampai disepanjang garis.
Pendeskripsi ini dirangking dari “tidak terasa nyeri” sampai “nyeri yang
tidak tertahankan”. Perawat menunjukkan klien skala tersebut dan
meminta klien untuk memilih intensitas nyeri terbaru yang ia rasakan.

2) Wong-Baker Faces Pain Rating Scale


Skala dengan enam gambar wajah dengan ekspresi yang berbeda,
dimulai dari senyuman sampai menangis karena kesakitan. Skala ini
berguna pada pasien dengan gangguan komunikasi, seperti anak-anak,
32

orang tua, pasien yang kebingungan atau pada pasien yang tidak
mengerti dengan bahasa lokal setempat.

3) Numerical Rating Scale (NRS )


Pasien ditanyakan tentang derajat nyeri yang dirasakan dengan
menunjukkan angka 0 -5 atau 0 - 10, dimana angka 0 menunjukkan
tidak ada nyeri, angka 1-3 menunjukkan nyeri ringan, angka 4 - 6
menunjukkan nyeri sedang dan 7 - 10 menunjukkan nyeri berat.

4) Visual Analogue Scale (VAS)


VAS merupakan suatu garis lurus yang menggambarkan skala nyeri
terus [Link] ini menjadikan klien bebas untuk memilih tingkat
nyeri yang [Link] sebagai pengukur keparahan tingkat nyeri
yang lebih sensitif karena klien dapat menentukan setiap titik dari
rangkaian yang tersedia tanpa dipaksa untuk memilih satu(Sulistyo, 201
6). Penjelasan tentang intensitas nyeri sebagai berikut: Skala nyeri pada
skala 0 berarti tidak terjadi nyeri, skala nyeri pada skala 1-3 seperti
gatal, tersetrum, nyut-nyutan, melilit, terpukul, perih, [Link] nyeri
4-6 digambarkan seperti kram, kaku, tertekan, sulit bergerak, terbakar,
[Link] 7-9 merupakan skala sangat nyeri tetapi masih
dapat dikontrol oleh klien, sedangkan skala 10 merupakan skala nyeri
yang sangat berat dan tidak dapat [Link] kiri pada VAS
menunjukkan “tidak ada rasa nyeri”, sedangkan ujung kanan
menandakan “nyeri yang paling berat”.
33

g. Penatalaksanaan Nyeri
Penatalaksanaan nyeri adalah cara meringankan nyeri atau mengurangi nyeri
sampai tingkat kenyamanan yang dapat diterima klien.
Penatalaksanaan nyeri meliputi dua tipe dasar intervensi keperawatan: interv
ensi farmakologi dan nonfarmakologi. Penatalaksanaan keperawatan pada ny
eri terdiri dari tindakan keperawatan mandiri dan kolaborasi. Pada umumnya,
tindakan non-invasif mungkin dilakukan sebagai fungsi keperawatan mandir
i dan pemberian obat analgesik memerlukan program dokter.
1) Pengelolaan Nyeri Secara Farmakologis
Teknik farmakologi adalah cara yang paling efektif untuk menghilangka
n nyeri dengan pemberian obat-obatan pereda nyeri terutama untuk nyer
i yang sangat hebat yang berlangsung selama berjam-jam ataubahkan be
rhari-hari. Metode yang paling umum digunakan untuk mengatasi nyeri
adalah analgesi. Menurut (Potter et al., 2013) ada tiga jenis analgesik ya
kni:
a) Non-narkotik dan anti inflamasi nonsteroid (NSAID): menghilangka
n nyeri ringan dan sedang. NSAID dapat sangat berguna bagi pasien
yang rentan terhadap efek pendepresi pernafasan.
b) Analgesik narkotik atau opiad: analgesik ini umumnya diresepkan u
ntuk nyeri yang sedang sampai berat, seperti nyeri pasca operasi. Ef
ek samping dari opiad ini dapat menyebabkan depresi pernafasan, se
dasi, konstipasi, mual muntah. c. Obat tambahan atau ajuvant (koana
lgesik): ajuvant seperti sedative, anti cemas, dan relaksan otot
34

c) meningkatkan control nyeri atau menghilangkan gejala lain terkait d


engan nyeri seperti depresi dan mual.

2) Penalaksanaan nyeri secara nonfamakologis


Manajemen Nyeri non-Farmakologi ada beberapa tindakan non
farmakologi yang dapat dilakukan secara mandiri oleh perawat, yaitu:
a) Stimulasi dan Masase
Kutaneus Masase merupakan stimulasi kutaneus tubuh secara
umum yang dipusatkan pada punggung dan tubuh. Masase dapat
mengurangi nyeri karena membuat pasien lebih nyaman akibat
relaksasi otot.
b) Transcutaneus Electric Nerve Stimulation (TENS)
TENS dapat digunakan untuk nyeri akut dan nyeri kronis. TENS
dipasang di kulit menghasilkan sensasi kesemutan, menggetar, atau
mendengung pada area nyeri. Unit TENS dijalankan menggunakan
baterai dan dipasangi elektroda.
c) Distraksi
Pasien akan dialihkan fokus perhatiannya agar tidak
memperhatikan sensasi nyeri. Individu yang tidak menghiraukan
nyeri akan lebih tidak terganggu dan tahan menghadapi rasa nyeri.
Penelitian Fadli (2017) memaparkan bahwa ada pengaruh distraksi
pendengaran terhadap intensitas nyeri pada klien fraktur. Terdapat
penurunan skor nyeri setelah diberikan terapi distraksi
pendengaran.
d) Teknik Relaksasi
Relaksasi dapat berupa napas dalam dengan cara menarik dan
menghembuskan napas secara teratur. Teknik ini dapat menurunkan
ketegangan otot yang menunjang rasa nyeri. Penelitian Aini (2018)
menunjukkan ada pengaruh teknik relaksasi napas dalam terhadap
penurunan nyeri pada pasien fraktur.
e) Imajinasi Terbimbing
Pasien akan dibimbing dan diarahkan untuk menggunakan
imajinasi yang positif. Dikombinasi dengan relaksasi dan
35

menggunakan suatu gambaran kenyamanan dapat mengalihkan


perhatian terhadap nyeri.
36

f) Terapi Musik
Pengaruh signifikan pemberian musik instrumental terhadap
penurunan skala nyeri pasien pra operasi fraktur. Musik
instrumental dapat memberikan ketenangan pada pasien. Pemberian
musik dapat mengalihkan perhatian pasien dan menurunkan tingkat
nyeri yang dialami.
g) Kompres Dingin dan Hangat
Kompres dingin menurunkan produksi prostaglandin sehingga
reseptor nyeri lebih tahan terhadap rangsang nyeri dan menghambat
proses inflamasi. Kompres hangat berdampak pada peningkatan
aliran darah sehingga menurunkan nyeri dan mempercepat
penyembuhan. Kedua kompres ini digunakan secara hati-hati agar
tidak terjadi cedera. (Faisol,2022)

5. Teori Terapi Kompres dingin


a. Definisi kompres dingin
Kompres dingin adalah suatu metode dalam penggunaan suhu rendah
setempat yang dapat menimbulkan beberapa efek fisiologis. Terapi dingin
menimbulkan efek analgetik dengan memperlambat kecepatan hantaran saraf
sehingga impuls nyeri yang mencapai otak lebih sedikit. Mekanisme lain
yang bekerja adalah bahwa persepsi (Kristanto, A, 2016)

Pemberian kompres dingin pada area puncture merupakan salah satu


intervensi dalam menangani nyeri yang bersifat komplementer untuk
mengurangi nyeri. Pemberian intervensi kompres dingin dengan
menggunakan cold pack selama 20 menit sebelum dan setelah pelepasan
kateter jantung pada tindakan kateterisasi jantung di ruangan tindakan
Angiografi dapat menurunkan nyeri karena cold pack dapat menghambat
perjalanan sel saraf yang berukuran kecil dalam menghantarkan rangsang
nyeri (Kristiyan, dkk, 2019)

b. Manfaat kompres dingin


1) Mengurangi rasa sakit/nyeri
37

2) Mengurangi bengkak
3) Mengurangi perdarahan
4) Fisiologi kompres dingin

c. Fisiologi kompres dingin


Kompres dingin adalah salah satu metode dalam penggunaan suhu rendah
setempat yang dapat menimbulkan beberapa efek fisiologis. Diperkirakan
bahwa terapi dingin menimbulkan efek analgesic dengan memperlambat
kecepatan hantaran saraf sehingga implus nyeri yang mencapai otak lebih
sedikit. Penatalaksanaan nyeri dengan memberikan kompres dingin dapat
meredakan nyeri dan merilekan otot dan memiliki efek sedative dan
meredakan nyeri. Kompres dingin dapat membuat area menjadi mati rasa,
nemperlambat kecepatan hantaran saraf sehingga memperlambat hantaran
implus nyeri, (Yuspina, 2018)

d. Cara kerja melaksanakan terapi kompres dingin menurut Aprillia Yesie


(2014)
1) Cuci tangan
2) Nilai skala nyeri paska aff sheath radial
3) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
4) Siapkan dan ambil cold pack
5) Letakkan pada area puncture
6) Angkat cold pack setelah 20 menit
7) Mengkaji perubahan yang terjadi selama kompres dilakukan pada menit
ke 20
8) Mencatat hasil pengkajian pada lembar observasi.
9) Cuci tangan

6. Penelitian Terkait
Beberapa penelitian terkait dengan penelitian ini meliputi antara lain:
a) Bayındır , et al (2017) dalam penelitian berjudul “Effect of Ice Bag
Application to Femoral Region on Pain on Patients Undergoing
Percutaneous Coronary Intervention”. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui efektivitas pengurangan nyeri dengan aplikasi ice bag pada
38

b) daerah femoralis pada pasien yang menjalani PCI. Metode yang digunakan
adalah randomized controlled trial with measures and two group design.
Populasi penelitian ini berjumlah 104 pasien, masing-masing 52 orang dalam
kelompok ekperimen dan 52 orang pada kelompok kontrol. Dengan
menggunakan Uji Shapiro-Wilks yaitu untuk menentukan apakah data
terdistribusi secara normal. Karena distribusinya tidak normal, maka
digunakan uji nonparametrik. Kategorikal variabel dibandingkan dengan uji
Chi-square dan perbandingan antar kelompok variabel numerik dilakukan
dengan uji Mann-Whitney U. Perbandingan pengukuran berulang
pengukuran berulang dilakukan dengan menggunakan uji Wilcoxon dan
analisis Friedman untuk dua dan tiga pengukuran, masing-masing. Analisis
post hoc dilakukan pada skor NRS antara kelompok dan antara masing-
masing dari tiga titik [Link] deskriptif ditampilkan sebagai rata-rata,
standar deviasi, median (25%-75%), dan nilai persentase. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa aplikasi ice bag ke daerah femoralis 49 efektif
mengurangi rasa nyeri yang disebabkan oleh pelepasan sheath femoralis pada
pasien yang menjalani PCI, dengan perbedaan yang signifikan secara statistik
dengan v-value (p<0,001).
c) Andy Kristiyan,et al (2019) dalam penelitian yang berjudul”Pengaruh Kompr
es Dingin dalam Penurunan Nyeri Pasien Post Percutaneous Coronary Interv
ention (PCI): Literature [Link] ini bertujuan untuk mengetahui Pe
mberian kompres dingin dapat menurunkan nyeri karena dapat menghambat
perjalanan saraf berdiameter kecil dalam menghantarkan rangsang nyeri
Dengan menggunakan Pencarian melalui Sciencedirect, PubMed, dan EBSC
O dilakukan menggunakan advanced search dengan kata kunci “ice bag”, “pa
in”, dan “percutaneous coronary intervention”. Pencarian melalui google sch
olar dengan kata kunci “effectiveness ice bag on pain inpatients percutaneous
coronary intervention (PCI)”. Didapatkan tiga artikel dengan sebuah Random
ized Control Trials (RCTs) dan dua artikel dengan desain penelitian control tr
ial. Kriteria inklusi yaitu studi primer berupa RCTs dan Non Randomized Co
ntrol Trials atau Control Trials, full text, dan dalam bahasa Inggris. Subjek da
lam artikel menjalani prosedur PCI atau prosedur kateterisasi. Intervensi yan
g digunakan merupakan terapi kompres dingin dengan ice bag. Outcome arti
kel harus mengukur tingkat nyeri
39

d) responden setelah dilakukan intervensi, outcome sekundernya adalah mengu


kur kejadian hematom. Pencarian dibatasi pada tahun 2009-2019. Dilakukan
pada tiga artikel control trial menunjukkan bahwa pelaksanaan kompres dingi
n selama 20 menit sebelum dan setelah pelepasan kateter pada tindakan PCI s
ignifikan dalam menurunkan nyeri (p < 0,05)
e) Valikhani, M et al. (2020) dalam penelitian yang berjudul “The effect of
simultan Sand-ice bag Application on Hemorrhage and Hematoma after
Percutaneous Coronary Intervention”. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh penggunaan kantong es pada hematoma dan
perdarahan setelah PCI. Populasi dipilih melalui metode convenience
sampling, dengan jumlah 60 pasien dengan kelompok intervensi dan
kelompok kontrol di RS imam reza di Masyhad. Dengan kriteria inklusi
berusia di atas 18 tahun, International Rasio Normalisasi Internasional (INR)
˂ 1.8, indeks massa tubuh (BMI) = 18-30, tidak ada kecanduan, tidak
menusuk lebih dari satu kali untuk memasukkan kateter, waspada, jangan
minum Integrin (eptifibatide) selama prosedur berlangsung. Kriteria eksklusi
termasuk mengkonsumsi antikoagulan atau trombolitik atau obat penenang
obat-obatan, disforia, perubahan tekanan darah secara tiba-tiba dan
melakukan CPR. Subyek ditugaskan secara acak ke dalam kelompok kontrol
dan intervensi. Karena yang serupa serupa tidak ditemukan, ukuran sampel
ditentukan dengan melakukan studi percontohan pada sepuluh orang di setiap
kelompok. Ukuran sampel diestimasi dengan mempertimbangkan kesalahan
pertama (0,05 alpha) dan tipe kedua (0,20 beta) dan rumus untuk
membandingkan rata-rata dari dua populasi dalam variabel perdarahan dan
hematoma. Variabel ini dianggap sebagai estimasi ukuran sampel tertinggi
terkait dengan jumlah perdarahan (27 di setiap kelompok). Yang pasti,
setidaknya 30 subjek dipertimbangkan untuk setiap kelompok. Hasil
penelitian ini, kantong es secara aplikasi simultan dapat mengurangi
perdarahan pasca PCI, dibuktikan dengan v-value (p<0,05)
f) Wicaksono, G. et al. (2020) dalam penelitian yang berjudul “Effectiveness of
cold compress with ice gel on pan intensity among Patienta with Post
Percutaneous Coronary Intervention (PCI). Penelitian ini bertujuan mengkaji
pengaruh kompres dingin den es gel terhadap intesitas nyeri pada pasien
dengan akses sheath femoralis paska PCI. Penelitian ini 48 menggunakan
40

g) post test eksperimental dengan kelompok kontrol. Populasi dalam penelitian


ini adalah seluruh pasien paska PCI yang masih terpasang sheath dan sedang
menjalani perawatan di ruang preoperative RS Kardinah Kota Tegal dengan
kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 30 orang yang dibagi menjadi 2,
masing-masing 15 orang. lam penelitian ini, peneliti mengumpulkan data
dengan cara observasi, identifikasi, wawancara, dan pengisian lembar
observasi. Data yang terkumpul di analisis melalui program statistik dan
dilanjutkan dengan uji beda parametrik dan non parametrik (Paired t-test,
Independent t-test, dan Mann Withney). Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa kompres dingin dengan es gel efektif mengurangi intensitas nyeri
pada pasien aff sheath femoral dengan paska PCI. Hal ini ditunjukkan
dengan perbedaan signifikan p-value 0,000 (<0,05) bahwa nyeri kelompok
intervensi menurun dari 4,53 menjadi 2,40(p=0,000) dengan nilai delta rata-
rata dari -2,13.
h) Kurt, Y. Kasikci, M. ( 2019) dalam penelitian berjudul “The effect of the
application of cold on hematoma, ecchymosis, and pain at the catheter site in
patients undergoing percutaneous coronary intervention”. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi dingin terhadap hematoma,
ekimosis dan nyeri pada pasien yang menjalani PCI. penelitian ini
menggunakan Quasi experiment dengan control group. Populasi pada
penelitian ini sebanyak 200 orang di unit perawatan jantung di Hospital of
the university of Health Sciences, dengan 100 orang pada kelompok
eksperimen dan 100 orang pada kelompok [Link] ini
menggunakan Quasi experiment dengan control group. karakteristik pasien
dianalisis dengan menggunakan uji chisquared untuk membandingkan data
deskriptif antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, independent
samples t-test digunakan untuk menentukan korelasi antara data yang
terdistribusi normaldata, dan uji ManneWhitney U digunakan untuk
menentukan korelasi antara data numerik yang tidak berdistribusi normal. Uji
Mann-Whitney digunakan untuk membandingkan hematoma, ekimosis, dan
hasil pengukuran nyeri pada kelompok, sedangkan Uji Friedman (menit ke-
15, ke-4, ke-48, dan ke-72) diulang tindakan berulang dan uji Wilcoxon rank
sum W-test sebagai posttest digunakan. Hasilnya dievaluasi pada interval
kepercayaan 95% dan signifikansi pada tingkat P <0.05. Hasil penelitian ini
41

i) menunjukkan bahwa penerapan dingin mengurangi pembentukan hematoma,


ekimosis dan nyeri luka puncture pada pasien setelah PCI dibandingkan
dengan kelompok kontrol. Ditunjukkan dengan perbedaan signifikan p-value
(p<0,001)

B. Kerangka Teori Penelitian


Berdasarkan teori yang ada, maka untuk menggambarkan kerangka pikir dari
berdasarkan permasalahan dan tujuan dari penelitian ini, maka dapat dijelaskan dalam
kerangka teori sebagai berikut:
42

2.1 Skema
Kerangka Teori

 Penyebab dari penyakit CAD ini ialah CAD(Penyakit jantung kor


adanya sumbatan pada arteri koroner, oner )
yang dapat menyebabkan serangan
jantung iskemia miokardium melalui
tiga mekanisme: spasme vaskular
Pemeriksaan Penunjang : Komplikasi kateterisasi:
hebat arteri koronaria, pembentukan
Elektrokardiogram tromboemboli,meninggal
plak aterosklerotik dan
(EKG),Pemeriksaan akibat komplikasi vaskular,
tromboembolisme.
laboratorium,Echokardiografi,Co invasif vaskular, perdarahan
 Klasifikasi :Silent Ischaemeia
ronary Calcium Scoring (CCS) vaskular mayor, turunnya
(Asimtotik),Angina Pectoris, infark
Kalsium di arteri koroner
Miokard Akut hemoglobin (HB) > 3g
Coronary Computed
 Manifestasi Klinik : nyeri dada, sesak, akibat perdarahan akses
Tomography Angiography
aritmi, Mual muntah, Keringat dingin, vaskular, retroperineal
(CCTA),Coronary Angiography
Lemah dan tidak bertenaga mengalami perdarahan,
penyempitan/sumbatan
Kateterisasi jantung vaskular, nadi tidak
( Angiografi koroner/PCI ) [Link]/pembengk
akan 10 cm, arteriovenous
fistule, pseudoaneurysm,
komplikasi jarang seperti:
Faktor yang mempengaruhi ruptur pembuluh darah,
Nyeri : Umur/usia, budaya, Penatalaksanaan kateter melilit, kateter putus,
jenis kelamin, pola koping, perforasi arteria koroner,
Nyeri
lingkungan dan dukungan nyeri daerah tusukan.
keluarga, ansietas, pengalaman
sebelumnya
Farmakologis :
 Analgesik
 Narkotik
Non Farmakologis :
Massage Cutaneous
Terapi Kompres Mekanisme Terapi Kompres dingin
Hangat menimbulkan efek analgesic membuat
Terapi Kompres area menjadi mati rasa dengan
Dingin memperlambat kecepatan hantaran
Relaksasi nafas saraf sehingga implus nyeri yang
dalam mencapai otak lebih sedikit, sehingga
TENS meredakan nyeri dan merilekan otot
Distraksi dan memiliki efek sedative dan
Imajinasi Terbimbing meredakan nyeri
Hipnoterapi

Penurunan skala nyeri


43

Sumber : Yuspina (2018), Taylor (2011), Kristanto, A, (2016), Potter et al.,


2013),(Sherwood, 2014).
BAB III
KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS
DAN DEFINISI OPERASIONAL

A. Kerangka Konsep
Kerangka konsep merupakan suatu cara yang digunakan untuk menjelaskan
hubungan atau kaitan antara variabel yang akan di teliti ( Notoatmodjo,2018 ).
Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang ingin di teliti oleh
peneliti sehingga dapat memperoleh informasi tentangnya dan kemudian sampai
pada suatu kesimpulan ( Sugiono, 2018 ).
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu : variabel independen (bebas) dan
variabel dependent (terikat). Dan kedua variabel tersebut dapat diuraikan dengan :
1. Variabel Independent
Menurut Sugiyono (2018), variabel independen merupakan variabel yang
mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya
Variabel dependent (terikat). Variable independen yang akan diteliti pada
penelitian ini yaitu kompres dingin.
2. Variable Dependent
Menurut Sugiyono (2018), variable dependent merupakan variable yang
dipengaruhi atau menjadi akibat karena adanya variable bebas. Variable
dependent yang akan diteliti pada penelitian ini yaitu skala nyeri.

Oleh karena itu peneliti membuat kerangka konsep yang digambarkan dalam
skema sebaga berikut:

44
45

Skema 3.1
Kerangka Konsep Penelitian

Variable Variable Dependent


Independent
Skala nyeri
Kompres Dingin

Karakteristik Responden
1. Umur
2. Jenis Kelamin

Keterangan :
Variable yang diteliti
Variable yang tidak diteliti
Variable yang dihubungkan
Variable yang tidak dihubungkan

B. Hypothesis
Sugiyono (2013) mengungkapkan hypothesis merupakan jawaban sementara terha
dap rumusan masalah penelitian yang di mana rumusan masalah ditanyakan ke dal
am bentuk pertanyaan. Terdapat 2 jenis hypothesis yaitu, hypothesis alternatif (H
a) dan hypothesis nol (Ho). Hypothesis alternatif menyatakan adanya perbedaan p
arameter dan statistik. Sedangkan, hypothesis nol adalah sebuah pernyataan yang
menunjukkan tidak ada perbedaan antara parameter dan statistik. Pada penelitian i
ni dijabarkan hypothesis sebagai berikut:
1. Ha (Hypothesis Alternative) :
Ada pengaruh kompres dingin terhadap skala nyeri pada akses radialis paska
kateterisasi jantung di Ruang ICR Arimbi RS Pusat Pertamina
2. Ho ( Hypothesis Nol) :
Tidak ada pengaruh kompres dingin terhadap Skala nyeri pada akses radialis
paska kateterisasi jantung di Ruang ICR Arimbi RS Pusat Pertamina
46

C. Definisi Operasional
Menurut Sugiyono (2017) Definisi Operasional merupakan penentuan konstrak at
au sifat yang akan dipelajari sehingga menjadi variabel yang dapat diukur.

Tabel 3.1
Definisi Operasional

Variabel Definisi Cara ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala


penelitian Operasional Ukur
Variabel Dependent
skala suatu stimul Peneliti 1) Lembar skala nyeri Numeric
nyeri us yang tidak mengobserva observasi pada pre dan
menyenangk si skala nyeri Numeric post test by
an dan sanga pada pre dan rating mean or
t kompleks y post test scale median
ang dapat dia intervensi 2) Stop dengan
mati secara v kompress wacth mengunakan
erbal maupu dingin 3) Pulpen NRS
n nonverbal. dengan
menggunaka
n lembar
observasi
Numeric
Rating Scale

Variabel Independent
Kompres Salah satu Peneliti 1) Stop Semua Nominal
dingin metode mengobserva wacth responden
si tehnik diberikan
dalam kompres 2) cold pack kompres
penggunaan dingin yang dingin cold
dengan pack
suhu rendah berukura
menggunaka
setempat n SOP pada n 10,5 x
yang dapat pasien paska
47

menimbulka kateterisasi 7 cm
n beberapa jantung yang 3) Kantong/
sudah
efek diruang ICR ice pack
[Link] dan masih 4) Underpad
tepasang
ngdapat
External
meredakan Deviced (TR
nyeri dan Band) pada
akses
merilekan radial,selama
otot dan 20 menit
memiliki
efek sedative
dan
meredakan
nyeri.

Variabel Responden
Umur Lama waktu Diisi pada Data Pasien/ 1. Dewasa Nominal
hidup pasien lembar lembar akhir
saat observasi observasi (36-45)
pengambilan oleh yang berisi 2. Lansia
data yang pasien/peneli Pertanyaan awal
dilakukan ti karakteristik (46-55)
yang pasien 3. Lansia
dihitung akhir
berdasarkan (56-65)
tahun Manula (>65)

DEPKES,200
9
Jenis Kondisi Diisi pada Data Pasien/ karakteristik Nominal
Kelamin perbedaan lembar lembar pasien
biologis observasi observasi 1. Laki-laki
antara laki- oleh yang berisi 2. Perempu
laki dan pasien/peneli pertanyaan an
perempuan. ti Sumber BPS,
perbedaan
48

biologis 2022
tersebut
dapat dilihat
dari alat
kelamin
serta
perbedaan
genetik.
BAB IV
METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Desain penelitian menurut Moh. Pabundu Tika (2015) adalah suatu rencana
tentang cara mengumpulkan, mengolah, dan menganalisis data secara sistematis
dan terarah agar penelitian dapat dilaksanakan secara efisien dan efektif sesuai
dengan tujuan penelitian.

Menurut Sugiyono (2018) data kuantitatif merupakan metode penelitian yang berl
andaskan positivistic (data konkrit), data penelitian berupa angka-angka yang aka
n diukur menggunakan statistik sebagai alat uji penghitungan, berkaitan dengan m
asalah yang diteliti untuk menghasilkan suatu kesimpulan.

Metodelogi yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode


kuantitatif dengan design penelitian Pre-Eksperimental Design dengan jenis OneG
roup Pretest-Posttest Design. Dikatakan pre-experimental design karena metode t
ersebut sering disebut juga dengan istilah “quasi eksperiment” desain ini belum m
erupakan eksperimen sungguh-sungguh. (Sugiyono, 2014), mengatakan bahwa Pr
e-experimental design ialah rancangan yang meliputi hanya satu kelompok atau
kelas yang diberikan pra dan pasca uji. Rancangan one grup pretest and posttest d
esign ini, dilakukan terhadap satu kelompok tanpa adanya kelompok control atau
pembanding.

Diharapkan dalam penelitian ini, dapat menjelaskan suatu konsep penelitian yang
bermanfaat untuk menguraikan dan mengendalikan setiap fenomena yang ada, hal
ini dikarenakan penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui pengaruh yang
dimiliki antara (variabel independent) kompres dingin (cold pack) terhadap
(variabel dependen) yaitu skala nyeri pada akses radialis paska kateterisasi
jantung.

49
50

Adapun pola penelitian desain one grup pretest and posttest design menurut sugiy
ono (2013), sebagai berikut :

O1 X O2
Keterangan
O1 = Nilai Pretest (sebelum diberi perlakuan)
X = Perlakuan (Treatment)
O2 = Nilai Posttest (setelah diberi perlakuan)

B. Populasi, Sample dan Teknik Pengambilan Sample


1. Populasi
Populasi adalah ruang lingkup atau besaran karakteristik dari seluruh objek
yang diteliti. Populasi sebagai wilayah generalisasi yang terdiri atas
objek/subjek yang memiliki mutu serta ciri tertentu yang diresmikan oleh
seorang peneliti guna dipergunakan untuk dipelajari sehingga kemudian akan
ditarik kesimpulan untuk hasil akhirnya. Penentuan populasi harus dimulai
dengan penentuan secara jelas mengenai populasi yang menjadi sasaran
penelitiannya yang disebut populasi sasaran yaitu populasi yang akan
menjadi cakupan kesimpulan penelitian (Sugiyono, 2018).
Populasi yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah pasien jantung yang
dilakukan kateterisasi jantung (Coronary Angiography / PCI) pada akses
radialis dengan diagnose CAD di ICR Arimbi RS Pusat Pertamina dengan
jumlah pasien selama 3 bulan terakhir sebanyak 112 pasien.

2. Sample
Sampel adalah bagian dari total dan karakteristik yang dimiliki oleh suatu
populasi tersebut, dengan kata lain sampel merupakan metode dalam suatu
penelitian yang dilakukan dengan cara mengambil sebagian atas setiap
populasi yang hendak akan di teliti (Sugiyono, 2018).
Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, maka besar sampel yang dijadikan p
enelitian oleh penulis sebanyak 112 pasien, dengan menghitung ukuran samp
51

el yang dilakukan dengan menggunakan teknik Slovin menurut Sugiyono (20


15). Adapun penelitian ini menggunakan Rumus Slovin karena dalam penarik
an sampel, jumlahnya harus representative agar hasil penelitian dapat digener
alisasikan dan perhitungannya pun tidak memerlukan tabel jumlah sampel, na
mun dapat dilakukan dengan rumus dan perhitungan sederhana. Rumus Slovi
n untuk menentukan sampel adalah sebagai berikut:

Keterangan:
n = Ukuran sampel/jumlah responden
N = Ukuran populasi
E = Presentase kelonggaran ketelitian kesalahan pengambilan sampel yang m
asih bisa ditolerir;
e=0,2
Dalam rumus Slovin ada ketentuan sebagai berikut:
Nilai e = 0,1 (10%) untuk populasi dalam jumlah besar
Nilai e = 0,2 (20%) untuk populasi dalam jumlah kecil
Jadi rentang sampel yang dapat diambil dari teknik Solvin adalah antara 10-2
0 % dari populasi penelitian. Jumlah populasi dalam penelitian ini adalah seb
anyak 112 pasien, sehingga presentase kelonggaran yang digunakan adalah
10% dan hasil perhitungan dapat dibulatkan untuk mencapai kesesuaian. Mak
a untuk mengetahui sampel penelitian, dengan perhitungan sebagai berikut:
112
𝑛= 2
1+ 112(0.1)
112
𝑛= = 52,8
2 ,12
𝑛 = 53
Berdasarkan perhitungan diatas sampel yang mejadi responden dalam peneliti
an ini di sesuaikan menjadi sebanyak 53 pasien jantung yang dilakukan
kateterisasi jantung (Coronary Angiography / PCI) pada akses radialis
dengan diagnose CAD di ICR Arimbi RS Pusat Pertamina
3. Teknik Pengambilan Sample
52

Teknik sampling yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah mengguna
kan Consecutive Sampling. Consecutive Sampling yaitu pemilihan sampel de
ngan menetapkan subyek yang memenuhi kriteria penelitian dimasukkan dala
m penelitian sampai kurun waktu tertentu, sehingga jumlah responden dapat t
erpenuhi (Nursalam, 2015). Pertimbangan yang dilakukan oleh peneliti adala
h dengan menentukan kriteria sampel yang meliputi kriteria inklusi, dimana k
riteria tersebut menentukan dapat atau tidaknya sampel tersebut digunakan da
lam penelitian.
a) Kriteria inklusi dari penelitian ini di antaranya yaitu:
1) Pasien yang bersedia menjadi responden penelitian yang sebelumnya
telah menandatangani format inform concent.
2) Pasien dengan tingkat kesadaran composmentis serta tidak dalam
pengaruh terapi farmakologi seperti antinyeri setelah tindakan.
3) Pasien paska kateterisasi jantung dengan akses radial
4) Pasien paska kateterisasi jantung akses radial yang masih terpasang
External Devices dengan jenis alat yang sama
b) Kriteria ekslusi dalam penelitian ini di antaranya yaitu:
1) Pasien yang tiba-tiba mengalami penuruanan kesadaran
2) Pasien paska kateterisasi jantung dengan akses Femoral
3) Pasien yang mengalami kekambuhan gangguan sensasi saraf seperti
neuropaty, cryglobulinemia, paroxysmal cold hemoglobinuria ,serta
kasus lain yang di antaranya raynaud’s syndrome, vasculiti.

C. Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di Ruang ICR Arimbi RS Pusat Pertamina yang
berlokasi di Jalan Kyai Maja No. 43, Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Pemilihan
lokasi penelitian ini karena berdasarkan survei pendahuluan diperoleh data 10
pasien mengatakan nyeri pada area luka dengan skala nyeri 2-5 dengan
menggunakan skala nyeri Numeric Rating Scale (NRS). Alasan lain dipilihnya
tempat tersebut karena belum pernah dilakukan penelitian tentang pengaruh
pemberian kompres dingin (cold pack) terhadap intensitas nyeri pada akses
radialis paska kateterisasi jantung di Ruang ICR Arimbi RS Pertamina Jakarta.
53

D. Waktu Penelitian
Waktu akan dilakukan penelitian mulai dari penyusunan proposal penelitian
sampai dengan hasil penelitian dimulai dari September 2023- Januari 2024.

E. Etika Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan mempertimbangkan etika saat dilakukan penelitia
n, ada 3 prinsip dalam etika penelitian menurut (Nursalam, 2020) yaitu :
1. Prinsip Manfaat
a. Bebas dari kesakitan Peneliti melakukan penjelasan terhadap responden d
engan penelitian ini dilakukan tanpa menyebabkan rasa sakit pada respon
den dan menjelaskan bahwa tidak ada tindakan yang membahayakan resp
onden.
b. Bebas dari eksploitasi Peneliti menjelaskan bahwa penelitian ini dari data
yang telah diberikan tidak untuk menjadi keuntungan secara pribadi dikar
enakan penelitian dilakukan sebagai kepentingan akademik.
c. Risiko (benefits ratio) Peneliti memastikan melakukan penelitian sesuai p
rosedur dengan mendapatkan hasil yang baik semaksimal mungkin bagi r
esponden dengan mengurangi resiko yang merugikan karena responden h
anya dapat mengisi kuesioner yang telah disediakan.
2. Prinsip menghargai hak asasi manusia (respect human dignity)
a. Hak untuk berpartisipasi sebagai responden (right to self determination)
Peneliti memberikan kebebasan responden untuk memilih apakah mereka
ingin menjadi responden atau tidak.
b. Hak untuk mendapatkan jaminan dari perlakuan yang diberikan (right to f
ull disclosure) Jika ada yang tidak beres dengan responden maka peneliti
akan memberikan penjelasan yang jelas dan menerima tanggung jawab.
c. Informed consent Peneliti harus menjelaskan semua terkait penelitian yan
g dilakukan agar responden mengetahui segala sesuatu tentang penelitian.
Peneliti juga menjelaskan jika responden memiliki hak untuk setuju atau
menolak sebagi responden, penelitian ini jelas dilakukan tanpa paksaan.
54

Pada informed consent dicantumkan bahwa data digunakan untuk penge


mbangan ilmu.
3. Prinsip atas keadilan (right to justice)
a. Hak untuk mendapatkan yang adil (right in fair treatment) Peneliti harus
memperlakukan dengan baik sebelum, selama, dan setelah responden ber
partisipasi dalan penelitian ini .
b. Hak dijaga kerahasiaan (right to privacy) Penelitian menjelaskan bahwa
menjamin dalam kerahasiaan data atau informasi yang telah diberikan res
ponden, dengan menjaga kerahasiaan responden dengan menganti nama
dengan inisial atau huruf awal nama responden.

F. Alat Pengumpulan Data/Instrumen Penelitian


Menurut Brunce dan Grove menjelaskan bahwa pengumpulan data merupakan
proses pendekatan kepada subjek dan proses pengumpulan karakteristik subjek
yang diperlukan dalam suatu penelitian. Langkah-langkah dalam pengumpulan
data bergantung pada rancangan penelitian dan teknik instrumen yang digunakan
(Nursalam, 2015).
Instrument penelitian ini terdiri dari :
1. Lembar Persetujan responden
Bentuk persetujuan antara peneliti dengan responden. penelitian dilakukan de
ngan memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden.
2. Lembar informed consent
Bentuk persetujuan yang diberikan oleh peneliti kepada responden, setelah
diberikan informasi tentang prosedur tindakan yang akan diberikan.
3. Lembar Observasi Skala nyeri
Bentuk pencatatan dari hasil Observasi/pengamatan peneliti terhadap reaksi
nyeri saat responden sebelum dan sesudah diberikan intervensi.
4. Lembar SOP Kompres Dingin
panduan yang bertujuan memastikan suatu tindakan keperawatan pemberian
kompres dingin berjalan dengan baik.

G. Prosedur Pengumpulan Data


55

1. Prosedur Administrasi
Adapun prosedur administrasi yang harus dipenuhi oleh peneliti sebagai
berikut:
a. Peneliti mengajukan surat izin studi pendahuluan melakukan penelitian
pada STIKES Pertamedika setelah proposal penelitian disetujui
pembimbing
b. Setelah surat permohonan penelitian dikeluarkan oleh Ketua STIKES
Pertamedika, peneliti mengajukan surat tersebut ke Direktur Rumah Sakit
Pusat Pertamina
c. Setelah izin penelitian telah dikeluarkan dari Rumah Sakit Pusat
Pertamina, peneliti melakukan pengambilan data untuk peneliti

2. Prosedur Teknis
a. Setelah mendapatkan izin penelitian, peneliti mendatangi Ka.
Ruangan/Supervisor Ruangan ICR Arimbi Rumah Sakit Pusat
Pertamina, untuk menjelaskan maksud dan tujuan penelitian
b. Peneliti dalam hal ini menggunakan asisten penelitian dengan kriteria
Pendidikan minimal S1 Keperawatan dan dilanjutkan dengan persamaan
persepsi tentang maksud dan tujuan penelitian dan prosedurnya.
c. Peneliti memilih sampel sesuai kriteria inklusi
d. Peneliti menjelaskan maksud dan tujuan penelitian kepada responden
terpilih
e. Responden yang bersedia diberikan inform consend untuk mengisinya
f. Peneliti melakukan penelitian dengan melakukan observasi nyeri
sebelum dilakukan intervensi kompres dingin (cold pack)
g. Peneliti memberikan intervensi pemberian kompres dingin (cold pack)
selama 20 menit diberikan sebanyak satu kali
h. Peneliti melakukan observasi nyeri setelah dilakukan Tindakan intervensi
i. Setelah dilakukan intervensi, peneliti memberitahukan bahwa penelitian
telah selesai. Dan repsonden mendapatkan souvenir sebagai ucapan
terima kasih.
H. Pengolahan Data
56

Pengolahan data merupakan suatu proses dalam memperoleh data ringkasan atau
angka ringkasan dengan menggunakan cara-cara atau rumus-rumus tertentu.
Pengolahan data bertujuan untuk mengubah data mentah (raw data) dari hasil
pengukuran menjadi informasi yang akhirnya dapat digunakan untuk menjawab
tujuan penelitian (Hastono, 2022)

Prosedur Pengolahan data yang akan digunakan dalam penelitian ini


menggunakan perhitungan computerization program SPSS (Statistical Product
and Service Solution) karena program ini memiliki kemampuan analisis statistik
yang cukup tinggi serta sistem manajemen data pada lingkungan grafis
menggunakan menu-menu dekriptif dan kotak-kotak dialog sederhana, sehingga
mudah dipahami cara pengoperasiannya (Sugiyono, 2018).

Pengolahan data menurut Sutanto (2022) meliputi beberapa kegiatan yang di


antaranya:
1. Editing
Editing merupakan kegiatan untuk melakukan pengecekan atau pengoreksian
data yang telah terkumpul, tujuannya untuk menghilangkan kesalahan-
kesalahan yang terdapat pada pencatatan di lapangan dan bersifat koreksi.
2. Coding
Coding merupakan kegiatan mengubah data berbentuk huruf menjadi data
berbentung angka. Kegunaan dari coding adalah untuk mempermudah pada
saat analisis data dan juga mempercepat pada saat entry data.
3. Processing
Setelah semua data terkumpul dengan benar, serta sudah melewati
pengkodean, maka Langkah selanjutnya adalah memproses data agar data
yang sudah di-entry dapat dianalisis. Pemrosesan data dilakukan dengan cara
meng entry data dari lembar observasi ke paket program computer. Paket
program computer yang digunakan adalah Program statistic
4. Cleaning
Cleaning merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang sudah dientry.
Cara men-cleaning data :
57

a. Mengetahui Missing data dengan melakukan list (distribusi frekuensi)


dari variabel yang ada
b. Mengetahui variasi data yaitu untuk mengetahui apakah data yang
dientry benar atau salah. Cara mendeteksi dengan mengeluarkan
distribusi frekuensi masing-masing variabel
c. Mengetahui konsistensi data yaitu untuk mendeteksi adanya ketidak
konsistenan data dengan menghubungkan dua variable

I. Teknik Analisis Data


Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji normalitas, analisa
univariat dan analisa bivariat. Untuk melakukan pengujian hipotesis, analisa data
yang dilakukan antara lain:
1. Uji Normalitas
Normalitas adalah suatu distribusi yang menunjukkan sebaran data yang
seimbang sebagian besar data berada pada nilai di tengah kurva normal
(Jiwantoro, 2017).
Uji normalitas data dilakukan untuk mengetahui data berdistribusi normal
atau tidak. Uji normalitas yang digunakan adalah rasio skewness yaitu nilai s
kewness dibagi dengan standar eror skewness dan rasio kurtosis yaitu nilai ku
rtosis dibagi dengan standar eror kurtosis. Kriteria pengambilan keputusanny
a adalah jika rasio skewness dan kurtosis berada di antara -2 hingga +2 maka
data berdistribusi normal.
Rumus :

Keterangan :
S : nilai skewnes
N : jumlah kasus
K : nilai kurtosis
Varibel yang dilakukan uji normalitas adalah data pre dan post test skala
nyeri
58

2. Univariat
Analisis Univariat Adalah analisis yang dilakukan pada setiap variabel.
Analisa univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan
karakteristik setiap variabel penelitian. (Notoadmodjo, 2012).
Analisis Univariat dilakukan untuk mendeskripsikan tiap variable dengan
menampilkan distribusi frekuensi untuk melihat distribusi responden,
menurut berbagai variabel yang diteliti, variabel dependen maupun variabel
independent
a. Rumus distribusi frekuensi:

Keterangan :
X = frekuensi relatif dari suatu kelas
f = frekuensi suatu kelas
n = banyak sampel
(Hidayat, 2013)

Pada analisis penelitian ini hanya menghasilkan data katagorik yaitu


distribusi frekuensi dengan ukuran persentase dari tiap variabel. Analisis
univariat pada penelitian ini menjelaskan atau mendeksripsikan
karakteristik responden yang meliputi usia dan jenis kelamin.

b. Nilai Rata-Rata (Mean)


Mean atau rata-rata adalah nilai yang mewakili himpunan atau sekelomp
ok data. Mean didapat dengan menjumlahkan seluruh data individu dala
m kelompok, kemudian dibagi dengan jumlah individu yang ada dalam k
elompok. Rumus untuk menghitung mean sebagai berikut.
59

Keterangan:
X : Mean atau Rata-rata
Ʃ : Jumlah
Xn : Variabel ke n
n : Banyaknya data atau sampel

c. Nilai Tengah (Median)


Median adalah salah satu Teknik penjelasan kelompok yang didasarkan a
tas nilai tengah dari kelompok data yang telah disusun urutannya dari ya
ng terkecil sampai yang terbesar atau yang sebaliknya dari yang terbesar
sampai yang terkecil.

Keterangan:
Med = Median
X1 = Nilai tengah pertama dimana median terletak
X2 = Nilai tengah kedua dimana median terletak

d. Standar Deviasi
Varians merupakan jumlah kuadrat semua deviasi nilai-nilai individual te
rhadap rata – rata kelompok. Dan standar deviasi adalah akar kuadrat dar
i varians dan menunjukkan standar penyimpangan data terhadap nilai rat
a – ratanya. Rumus standar deviasi adalah sebagai berikut:

Keterangan:
S = Standar deviasi
N = Jumlah data
Xi = Nilai X ke I sampai ke-n
60

ẋ = Nilai rata-rata x

Uji mean , median dan standart deviasi pada penelitian ini menjelaskan
atau mendeksripsikan variabel dependen yang meliputi rata-rata skala
nyeri pre dan post intervesi kompres dingin.

3. Bivariat
Kegunaan analisa bivariat adalah untuk mengetahui hubungan yang
signifikan antara dua variabel, perbedaan yang signifikan antara dua atau
lebih kelompok sampel (Arikunto, S., 2019)
Analisa bivariat merupakan analisa untuk mengenali dua variabel yang sering
digunakan untuk mengetahui hubungan, pengaruh x dan y antar variabel
lainnya dan mencari perbedaan variabel x dan y (Donsu, 2016).

Analisa bivariat dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya


pengaruh kompres dingin terhadap skala nyeri.

a. Uji Parametrik
Menurut Sugiyono (2015), Uji t-paired merupakan salah satu metode pen
gujian yang digunakan untuk mengkaji keefektifan perlakuan, ditandai a
danya perbedaan rata-rata sesudah diberikan perlakuan.
Rumus uji t-paired

Keterangan :
t = Nilai t hitung
D = Rata-rata pengukuran sampel 1 dan 2
SD = Standar deviasi pengukuran sampel 1 dan 2
N = Jumlah sampel
61

b. Uji non parametrik


Uji Wilcoxon Signed Ranks Test adalah uji non-parametrik yang digunak
an ketika membandingkan dua sample yang berhubungan untuk melihat
perbedaan diantara sample berpasangan tersebut. Uji Wilcoxon
digunakan untuk menganalisis hasil-hasil pengamatan yang berpasangan
dari dua data apakah terdapat perbedaan atau tidak. Uji ini merupakan
alternatif penganti dari Uji t-paired. Jika data tidak berdistribusi normal.

Rumus Wilcoxon test

Keterangan :
N = banyak data yang berubah setelah diberi perlakuan
T = jumlah rangking dari nilai selisih yang positif / negative
1) Jika Sig. > nilai α maka Ho diterima dan Ha ditolak
2) Jika Sig.< nilai α maka Ho ditolak dan Ha diterima
DAFTAR PUSTAKA

AHA, 2018, 13 April. Coronary Artery Disease. [Link] / Conditi


ons / More / My Heart and Start New / Coronary – Artery – Disease – Coron
ary – Heart – Disease – UCM – 43416 – Article Jsp# Wense Cgwjiu. Diakse
s pada 28 September 2023.

America Heath Association (AHA) (2016) Ejection Fraction Hearth Failure Meas
urement

Andarmoyo, S. (2013). Konsep dan Proses Keperawatan Nyeri. Ar-RUZZ Medika.

Andy Kristiyan. Et. All (2019). Pengaruh Kompres Dingin Dalam Penurunan Nye
ri Pasien Post Percutaneus Coronary Intervetion (PCI) : Literatur Rivew. Htt
ps// ejurnal 2. Undip ac. Id/index. Php/huhs. Diakses 2 Oktober 2023.

Arkunto. 2019. Prosedur Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta.

A. Potter & Perry, A.G. (2013). Buku Ajar Fundaman Keperawatan Konsep dan P
raktik EGL. Jakarta.

Brunner & Suddarth (2013) Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah Edisi 8 Volu
me 2 Jakarta EGL.

Databoks (2020). Tingkat Kematian Penyakit di Asia Tenggara. [Link] T


[Link]/datapublish/2020/02/18/Jutaan – Jiwa – Meninggal – Akibat –
Penyakit – Jantung – Koroner. Diakses pada 2 Oktober 2023.

Donsu, Jenita Poli. 2016. Metodologi Penelitian Keperawatan. Yogyakarta : Pusta


ka Baru

62
63

Dr. Hardjo Prawira (2020) Artikel Melakukan Kateterisasi Jantung. Pahami Prose
dur dan Risiko Berikut Ini. Eme Health Care diakses 8 Oktober 2023.

Dr. Rizal Fadli (2023) Artikel Ini Tujuan dan Indikasi Melakukan Kateterisasi Jant
ung. Hallodoc Diakses 8 Oktober 2023.

Faisal (2022). Manajemen Nyeri. Kemkes dibuka 16 Oktober 2022, dari [Link]
[Link]/view-artikel/1052/manajemen -nyeri.

Hastono, Sutanto S.P (2022). Analisis Data Pada Bidang Kesehatan. Depok. Rajag
raindo.

Hidayah, (2014) Metode Penelitian Keperawatan dan Tehnik Analisis Data Jakarta
: Penerbit Salemba Medika

Lemone, M. Karen & Bauldoff. (2016). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah E
disi 5, Volume 1. Jakarta : EGC.

Niluh E, dkk (2016) Gambaran Penyakit Jantung Koroner Pada Gagal Jantung Ya
ng Mengalami Rawat Inap di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandow.

Nursalam (2015). Metodologi Penelitian dan Ilmu Keperawatan. Pendekatan Prakt


is. (P. Lestari, Ed) (4 th ed). Jakarta Selemba Medika.

Nursalam (2020). Metode Penelitian Ilmu Keperawatan Edisi 5. Jakarta : Salemba


Medika.

Perki (2018) Pedoman Laboratorium Keteterisasi Jantung dan Pembuluh Darah. P


erki.

Rikesdas (2018). Hasil Utama Riskedas 2018. https:/kesmas. [Link]/assets/


upload/dir-519d4id8cd98f00/files/Hasil – Riskesdas – 2018 – [Link].
64

Sastroasmoro (2014). Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis Jakarta : Sagung


Seti87.

Setiadi & Irawanti, D. (2023). Keperawatan Dasar Indonesia Pustaka.

Sugiyono 2013. Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D (Bandun


g : Alfabeta)

Sugiyono (2016). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan Kombinasi (Mixed


Methods). Bandung, Alfabeta.

Sugiyono (2018). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D Bandung :


Alfabeta

S. Cholifah, et al (2020) Buku Ajar Mata Kuliah Keterampilan Dasar Klinik Kebi
danan 1

Wicaksono Saputra (2019) Asuhan Keperawatan Pasien Penyakit Jantung Koroner


dengan Ketidakefektifan Manajemen Kesehatan di Wilayah Kerja Puskesma
s Sukoharjo Ponorogo: Kementerian Kesehatan RI Politeknik Kesehatan Ke
menkes Malang Jurusan Keperawatan Prodi [Link] Keperawatan.

WHO (2019) Cardiovascular Diseases. World Health Organization. Https://www.


[Link]/health-topic/cardiovascular-diases/. Diakses pada 28 September 202
3.
LAMPIRAN 1
LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

Kepada Yth,

Calon Responden Penelitian

Di tempat.

Dengan Hormat,

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Nurlita Eko Kusuma Wardani

NIM : 11222177

Adalah mahasiswa di program studi Ilmu Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu


Kesehatan PERTAMEDIKA, mohon bantuan Bapak/Ibu/Saudara/i untuk mengisi
kuesioner ini dan meminta kesediannya untuk memberikan jawaban atas
pertanyaan mengenai “ Pengaruh Kompres Dingin Terhadap Skala Nyeri Pada Pas
ien Post Kateterisasi Jantung Akses Transradialis Di Ruang ICR Arimbi Rumah S
akit Pertamina Pusat”.

Dengan ini saya memberikan jaminan kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi
maupun masalah-masalah lainnya. Semua informasi yang telah dikumpulkan
dijamin kerahasiaanya oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan
dilaporkan pada hasil riset. Atas bantuan dan kerjasamanya saya ucapkan terima
kasih.

Jakarta, Oktober 2023 Yang Menyatakan


Peneliti,

Nurlita Eko Kusuma Wardani (...................................…)

65
66

LAMPIRAN 2
LEMBAR INFORMED CONSENT

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama :
Jenis kelamin :
Umur :
Alamat :
Telp :
Menyatakan dengan sesungguhnya dari saya/………….saya dari :
Nama :
Jenis Kelamin :
Umur :
Dengan ini menyatakan SETUJU/MENOLAK untuk dilakukan tindakan
permberian kompres dingin.
Dari penjelasan yang diberikan saya telah mengerti reaksi yang kemungkinan
akan timbul setelah diberikan tindakan tersebut,seperti iritasi( merah ) pada kulit.

Jakarta, 2023

Pelaksana yang membuat pernyataan,

(.………………………….)
(……………………………..)
* Coret yang tidak perlu
67

LAMPIRAN 3

LEMBAR OBSERVASI PENILAIAN SKALA NYERI

No Nama Insial Nyeri Pre Intervensi Nyeri Post Intervensi


68

LEMBAR OBSERVASI

[Link] Observasi :
(diisi oleh peneliti)
Tanggal Pengisian :
IDENTITAS
a. Nama (Inisial) :
b. Umur : Tahun
c. Jenis kelamin : Laki - laki / Perempuan

SKALA NYERI PRE INTERVENSI

SKALA NYERI POST INTERVENSI


69

LAMPIRAN 4
LEMBAR SOP KOMPRES DINGIN

SPO Pemberian kompres dingin menggunakan Cold Pack

Pengertian
Kompres adalah metode pemeliharaan suhu tubuh dengan menggunakan cairan atau al
at yang dapat menimbulkan dingin pada bagian tubuh yang memerlukan
Tujuan
Pemberian kompres dingin bertujuan untuk meningkatkan vasokonstriksi,mengurangi
edema, mengurangi nyeri, mengurangi atau menghentikan perdarahan.
Alat :
 Cold Pack
 Alas pembungkus
 Plester/Micropore
 Alas/underpad
Pre Interaksi
1. Menyiapkan alat
2. Perawat mencuci tangan
Interaksi
Orientasi
1. Menyampaikan salam
2. Memperkenalkan diri dengan pasien dan keluarga
3. Menanyakan nama dan tanggal lahir pasien
4. Menjelaskan maksud dan tujuan
5. Menjelaskan prosedur tindakan
6. Memberikan kesempatan pasien dan keluarga bertanya
7. Mendekatkan alat
8. Mencuci tangan
Langkah-langkah/ Kerja
1. Cuci tangan
2. Sebelum di letakkan pada sekitar akses tusukan kateter, pastikan terlebih
dahulu cold pack dibalut alas pembungkus.
3. Kaji nyeri pada pasien paska tindakan kateterisasi jantung pasien masih
70

terpasang External Deviced pada area radialis dengan menggunakan alat ukur
nyeri NRS yang dilakukan oleh peneliti
4. Pasang alas/underpad
5. Letakkan cold pack pada area puncture radialis, dan diamkan selama 20 menit
6. Kaji ulang skala nyeri setelah 20 menit diberikan cold pack oleh asisten peneliti
pada menit ke- 20
7. Catat hasil pengukuran pada lembar observasi
8. Data yang telah didapatkan baik pre test atau post test akan diolah sesuai dengan
tujuan penelitian.
9. Cuci tangan
Terminasi
1. Mengevaluasi skala nyeri pasien
2. Mengucapkan salam
3. Mencuci tangan

Post Interaksi
1. Mendokumentasikan hasil pemeriksaan
2. Membereskan alat-alat
3. Mencuci tangan
GAMBAR

71

Anda mungkin juga menyukai