0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan5 halaman

Asuhan Keperawatan Pasien Thyroidectomy

Diunggah oleh

Arsi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan5 halaman

Asuhan Keperawatan Pasien Thyroidectomy

Diunggah oleh

Arsi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

B.

Konsep Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian

a. Identifikasi pasien.
b. Kaji keluhan utama pasien. Pada klien pre operasi mengeluh terdapat
pembesaran pada leher. Kesulitan menelan dan bernapas. Pada post operasi
thyroidectomy keluhan yang dirasakan pada umumnya adalah nyeri akibat
luka operasi.
c. Riwayat penyakit sekarang. Biasanya didahului oleh adanya
pembesaran nodul pada leher yang semakin membesar sehingga
mengakibatkan terganggunya pernafasan karena penekanan trakhea
eusofagus sehingga perlu dilakukan operasi.
d. Riwayat penyakit dahulu. Perlu ditanyakan riwayat penyakit dahulu yang
berhubungan dengan penyakit gondok, sebelumnya pernah menderita
penyakit gondok.
e. Riwayat kesehatan keluarga. Ada anggota keluarga yang menderita sama
dengan klien saat ini.
f. Riwayat psikososial. Akibat dari bekas luka operasi akan
meninggalkan bekas atau sikatrik sehingga ada kemungkinan klien merasa
malu dengan orang lain.
g. Pemeriksaan fisik. Pada umumnya keadaan penderita lemah dan
kesadarannya composmentis dengan tanda-tanda vital yang meliputi tensi,
nadi, pernafasan dan suhu yang berubah. Pada klien dengan pre operasi
terdapat pembesaran kelenjar tiroid. Pada post operasi thyroidectomy
biasanya didapatkan adanya luka operasi yang sudah ditutup dengan kasa
steril yang direkatkan dengan hypafik serta terpasang drain. Drain perlu
diobservasi dalam dua sampai tiga hari. Biasanya pernafasan lebih sesak
akibat dari penumpukan sekret efek dari anestesi, atau karena adanya darah
dalam jalan nafas. Pada pemeriksaan reflek hasilnya positif tetapi dari nyeri
akan didapatkan ekspresi wajah yang tegang dan gelisah karena menahan
sakit.

2. Diagnosa Keperawatan
1) Kecemasan berhubungan dengan krisis situasional (prosedur operasi).
2) Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisiologis.
3) Risiko infeksi.
4) Ketidakefektivan bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi
trakea, pembengkakan, perdarahan dan spasme laringeal.

3. Perencanaan & Intervensi Keperawatan


Diagnosa Tujuan Intervensi
Keperawata
n
Kecemasan Setelah dilakukan asuha 1. Gunakan
berhubungan keperawatan ... x ....... pendekatan yang
dengan krisis jam tingkat kecemasan menenangkan
situasional pasien dapat menurun, 2. Jelaskan semua
dengan kriteria hasil : tindakan dan apa
a. Tidak yang akan dirasakan
mengatakan terjadi selama Tindakan
kecemasan. 3. Berikan informasi yang
b. Tidak aktual tentang
terjadi gangguan diagnosa, tindakan dan
tidur. prognosis
4. Dorong secara tepat
kepda keluarga untuk
mendampingi pasien
5. Dukung perilaku pasien
secara tepat
6. Dengarkan pasien
dengan penuh
perhatian
7. Ciptakan suasana
saling percaya
dengan pasien
8. Dorong pasien untuk
mengungkapkan
perasaan, persepsi dan
ketakutan
9. Anjurkan pasien untuk
menggunakan teknik
relaksasi
10. Kaji tanda-tanda
cemas secara verbal
dan nonverbal
Nyeri akut Setelah dilakuka 1. Lakukan pengkajian
berhubungan asuhan nyeri secara
keperawatan .... x 24 komprehensif termasuk
dengan agen
jam pasien dapat lokasi , karakteristik,
injuri fisiologis. durasi, frekuensi,
menurunkan nyeri
dengan kriteria hasil : kualitas, intensitas dan
a. Tidak faktor pencetus nyeri
melaporkan nyeri 2. Kontrol lingkungan
b. Tidak yang dapat
menunjukan mempengaruhi nyeri
ekspresi nyeri (misal : suhu ruangan,
c. Tidak mengerang pencahayaan , dan
dan menangis kebisingan)
d. Tidak meringis 3. Observasi reaksi
e. Tidak nonverbal dari nyeri
menggosok area 4. Ajarkan teknik
nyeri nonfarmakologis (misal
: hipnosis,
relaksasi, akupresur,
pijatan, sensasi
dingin/panas,
distraksi, terapi
bermain, terapi
aktivitas, terapi
musik, ) baik
sebelum, setelah,
bahkan selama terjadi
nyeri bila
memungkinkan
5. Berikan medikasi untuk
mengurangi nyeri
6. Tingkatkan istirahat
7. Dorong pasien
untuk mengungkapkan
pengalaman nyerinya
8. Berikan infoirmasi
tentang nyeri,
termasuk penyebab
nyeri, berapa lam akan
terjadi, antisipasi
ketidaknyamanan dari
prosedur
9. Turunkan faktor –
faktor yang dapat
mencetuskan atau
meningkatkan nyeri
Risiko infeksi. Setelah dilakukan .... 1. Bersihkan lingkungan
x 24 setelah dipakai pasien
jam klien tidak terjadi lain.
peningkatan infeksi 2. Batasi jumlah
dengan kriteria hasil: pengunjung
a. Tidak ada 3. Ajarkan teknik cuci
tangan pada pasien
kemerahan dan keluarga
b. Tidak ada 4. Cuci tangan sebelum
discharge yang dan setelah melakukan
berbau busuk tindakan di tempat
c. Tidak ada pasien
sputum purulent 5. Terapkan universal
d. Tidak ada demam precaution
e. Ada nafsu makan 6. Pakai sarung tangan
steril sesuai indikasi
7. Pertahankan
lingkungan aseptik
selama pemasangan
alat (tindakan invasif)
8. Pastikan
menggunakan teknik
perawatan luka secara
tepat
9. Dorong pasien untuk
meningkatkan
pemasukan nutrisi
[Link] antibiotik bila
perlu
[Link] kepada pasien
dan keluarga tanda dan
gejala infeksi
Ketidakefektivan Setelah dilakukan 1. Posisikan pasien
bersihan jalan asuhan untuk memaksimalkan
keperawatan ….. x 24 ventilasi
nafas 2. Auskultasi suara nafas,
jam pasien tidak
berhubungan terjadi penurunan catat bila ada suara
dengan obstruksi kehilangan darah tambahan.
trakea, dengan kriteria hasil: 3. Monitor respirasi dan
a. Mendemonstrasikan status O2
pembengkakan, 4. Berikan bronkodilator
batuk efektif
perdarahan dan dan suara nafas bila perlu
spasme laringeal. yang bersih, 5. Keluarkan sekret
tidak ada dengan batuk atau
sianosis dan suction
dyspneu (mampu 6. Identifikasi pasien
mengeluarkan perlunya pemasangan
sputum, mampu alat jalan nafas buatan
bernafas dengan 7. Lakukan fisioterapi
mudah, tidak ada dada jika perlu
pursed lips)
b. Menunjukkan
jalan nafas yang
paten (klien tidak
merasa tercekik,
irama nafas,
frekuensi
pernafasan dalam
rentang normal,
tidak ada suara
nafas abnormal)

4. Evaluasi
Memeriksa kembali hasil pengkajian awal dan intervensi awal untuk
mengidentifikasi masalah dan rencana keperawatan klien termasuk
strategi keperawatan.
Evaluasi/ kesimpulan akhir didasarkan pada pengkajian awal, catatan
perkembangan, data yang telah direvisi dan data klien yang terbaru.
Evaluasi menghasilkan informasi/ data yang baru. Informasi baru ini
dibandingkan dengan informasi awal dan keputusan yang telah dibuat tentang
tujuan yang telah dicapai.

Anda mungkin juga menyukai