Diare adalah penyebab kematian paling umum di negara berkembang,
termasuk Indonesia. Diare adalah salah satu penyebab kematian anak tertinggi,
menyebabkan 1,7 juta kematian balita setiap tahun. Data menunjukkan bahwa di
seluruh dunia, diare menyebabkan sekitar 534.000 kematian balita di bawah usia
lima tahun. Pada tahun 2021, ada sekitar 1,22 miliar kasus diare pada anak di
seluruh dunia, dengan sekitar 3.350 kematian per hari. UNICEF mengklaim
bahwa dia bertanggung jawab atas 5% kematian di Asia Tenggara. Dengan 8.600
kematian akibat diare di bawah 5 tahun, Indonesia menempati urutan ke-12 dari
15 negara Asia Tenggara. Karena sistem kekebalan mereka kurang kuat selama
masa pertumbuhan, balita di bawah lima tahun berisiko mengalami diare. (Puhi
dkk., 2023)
Diare adalah salah satu penyakit potensial Kejadian Luar Biasa (KLB) yang
paling umum di Indonesia, yang semakin meningkat di seluruh dunia dan dapat
berakibat fatal pada anak di bawah usia lima tahun. Menurut Organisasi
Kesehatan Dunia, diare menyebabkan sekitar 1,7 miliar kematian setiap tahun
pada anak di bawah usia lima tahun. Perpustakaan kehati-hatian yang digunakan
diubah dengan teknik yang ditetapkan. Penelitian telah menunjukkan bahwa
beberapa faktor dapat menyebabkan bayi diare. Faktor lingkungan seperti udara,
faktor perilaku seperti pengetahuan ibu dan pemberian ASI eksklusif, dan faktor
pelayanan kesehatan seperti vaksinasi (Kemenkes RI, 2022).
Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 menunjukkan
prevalensi diare pada balita 9,8% (Balitbangkes, 2021). Data Profil Kesehatan
Indonesia 2020 menyatakan bahwa diare menjadi penyumbang kematian nomor
dua setelah pneumonia pada kelompok anak usia 29 hari – 11 bulan yaitu 9,8%
kematian, dan pada kelompok anak balita (12-59 bulan) sebesar 4,55%.
Berdasarkan data dari Indonesian Rotavirus Surveillance Network (IRSN),
Rotavirus sebagai penyebab utama diare cair akut balita diare yang di rawat inap.
Penyakit diare di Jawa Tengah pada tahun 2022 sebanyak 150.454 kasus.
Jumlah ini menurun dibandingkan dengan tahun 2021 yang mencapai 175.276
kasus. Kasus diare di Jawa Tengah paling banyak terjadi pada bayi dan anak
balita, yaitu sebanyak 65% dari total kasus. Hal ini disebabkan karena sistem
kekebalan tubuh bayi dan anak balita masih belum berkembang sempurna
sehingga lebih rentan terhadap infeksi (Dinkes Jawa Tengah, 2022).
Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, pada tahun 2021, angka kejadian
diare di Kabupaten Pati adalah 12,5 per 1.000 penduduk, dengan Kecamatan Pati
memiliki angka tertinggi 12,5 per 1.000 penduduk, dan Kecamatan Dukuhseti
memiliki angka terendah 11,5 per 1.000 penduduk. Menurut data Dinas Kesehatan
Kabupaten Pati pada tahun 2022 , angka kejadian diare di Kecamatan Pati adalah
12,5 per 1.000 penduduk. (Dinkes Kab. Pati, 2022).
Angka mortalitas kejadian diare pada bayi di Kabupaten Pati pada tahun
2022 adalah sebesar 0,19 per 1.000 kelahiran hidup, yang berarti bahwa 0,19 dari
1.000 bayi yang lahir di Kabupaten Pati karena meninggal diare. Angka mortalitas
kejadian diare pada bayi di Kabupaten Pati pada tahun 2021 adalah sebesar 0,21
per 1.000 kelahiran hidup, dan angka mortalitas kejadian diare pada bayi di
Kabupaten Pati pada tahun 2021 adalah sebesar 0,21 per 1.000 kelahiran hidup.
Pada dasarnya, pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilakukan oleh
seluruh bagian Bangsa Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran,
keinginan, dan kemampuan setiap orang untuk hidup sehat sehingga masyarakat
memiliki tingkat kesehatan yang optimal. Meningkatkan pengetahuan, kesadaran,
dan keinginan untuk hidup sehat merupakan salah satu upaya yang dapat
dilakukan untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan tersebut. Imunisasi
adalah salah satu investasi negara untuk meningkatkan sumber daya kesehatan
manusia (Lisnawati, 2019).
Menurut WHO Position Paper tahun 2021, Organisasi Kesehatan Dunia
menyarankan untuk memasukkan imunisasi Rotavirus (RV) pada bayi ke dalam
program imunisasi nasional di semua negara, terutama di negara-negara dengan
tingkat kematian yang tinggi terkait Rotavirus Gastroenteritis (RVGE). Data
global hingga April 2020 menunjukkan bahwa 107 negara telah memasukkan RV
ke dalam Program Imunisasi Nasional (NIP), yang mencakup 39%, dan sekitar 77
juta anak (41%) masih hidup di seluruh dunia. Oleh karena itu, dalam
pengendalian penyakit diare yang menyeluruh, imunisasi RV harus dimasukkan.
Selain itu, rekomendasi ITAGI 2021 memberi pemberian imunisasi RV dapat
segera dilaksanakan pada tahun 2022 di Indonesia dan diperluas secara bertahap
(Kemenkes, 2023).
Imunisasi adalah suatu upaya untuk meningkatkan kekebalan seseorang
secara aktif terhadap suatu penyakit tertentu (Kemenkes RI, 2017). Imunisasi
dapat mencegah kematian setiap tahun di semua kelompok umur akibat difteri,
tetanus, pertusis, dan campak. Imunisasi dapat mencegah sekitar dua sampai 3 juta
kematian setiap tahun. Namun, sekitar 19,4 juta bayi di dunia masih melewatkan
imunisasi dasar lengkap. Cakupan imunisasi global terhenti diangka 86% tanpa
adanya perubahan yang signifikan selama beberapa tahun terakhir. Sekitar 60%
bayi tersebut berasal dari 10 negara, salah satunya Indonesia (WHO, 2019).
Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak
dengan memasukkan vaksin ke dalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk
mencegah terhadap penyakit tertentu. Vaksin adalah bahan yang dipakai untuk
merangsang pembentukan zat anti yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui
suntikan (misalnya BCG, DPT dan Campak) dan melalui mulut (misalnya vaksin
polio) (Nasution, E. Y., 2022).
Dalam program imunisasi nasional saat ini, Kementerian Kesehatan RI
memperkenalkan jenis antigen baru. Keempat jenis vaksin tersebut adalah vaksin
Pneumokokus Konyugasi (PCV) yang mencegah pneumonia (radang paru),
vaksin Human Papilloma Virus (HPV) yang mencegah kanker leher rahim, vaksin
Rotavirus (RV) yang mencegah diare berat, dan vaksin Inactivated Pollovyrus
(IPV) dosis kedua. Dengan mempertimbangkan angka morbiditas 9,8% dan
Imunisasi Rotavirus dimulai pada November 2022. Sasaran imunisasi RV adalah
bayi yang berusia dua, tiga, atau empat bulan, dengan interval minimal empat
minggu antara usia tersebut (Kemenkes, 2022).
Cakupan imunisasi Rotavirus di 21 kabupaten/kota pelaksana tahun 2022
masih belum merata. Beberapa kabupaten/kota memiliki cakupan yang tinggi,
seperti Sidoarjo (89%), Kota Denpasar (69%), dan Kota Makassar (51%). Namun,
ada juga kabupaten/kota yang memiliki cakupan yang rendah, seperti Banyumas
(13%), Tapin (5%), dan Halmahera Selatan (2%). Secara umum, cakupan
imunisasi Rotavirus di 21 kabupaten/kota pelaksana tahun 2022 adalah 42%.
Angka ini masih belum mencapai target cakupan nasional sebesar 80%
(Kemenkes, 2023).
Diare telah dikaitkan dengan vaksinasi Rotavirus. Anak yang terkena
Rotavirus memiliki risiko 1,66 kali lebih besar untuk mengalami diare
dibandingkan anak yang tidak terkena. Vaksinasi meningkatkan perlindungan dan
mengurangi risiko diare sebanyak 0,49 kali dibandingkan anak yang tidak tinggi.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa antibodi IgA serum merupakan indikator
penting yang dapat membantu Anda menghindari diare rotavirus. Infeksi
Rotavirus pertama juga dapat menciptakan kekebalan terhadap infeksi Rotavirus
berulang, terlepas dari strainnya. Ini berarti bahwa vaksinasi Rotavirus dapat
mengurangi jumlah dan intensitas diare yang disebabkan oleh infeksi Rotavirus
berikutnya. (Widiantari dkk., 2022).
Ada pengaruh pengetahuan dan motivasi dengan kelengkapan imunisasi
dasar bayi. Tidak ada pengaruh pekerjaan, pendidikan, sikap dengan kelengkapan
imunisasi dasar bayi. Faktor yang paling berpengaruh adalah motivasi, berarti
bahwa ibu yang mempunyai motivasi baik memiliki kemungkinan 20, 091 lebih
besar untuk melakukan imunisasi dasar bayi secara lengkap dibandingkan dengan
ibu yang memiliki motivasi tidak baik (Rakhmawati dkk., 2020).
Pengetahuan memainkan peran penting dalam membentuk tindakan
seseorang; seperti yang ditunjukkan oleh pengalaman dan penelitian, perilaku
yang didasarkan pada pengetahuan akan bertahan lebih lama daripada perilaku
yang tidak didasarkan pada pengetahuan. Ada hubungan antara tingkat
pengetahuan ibu tentang kelengkapan imunisasi dasar bayi dan bagaimana ibu
memberikan imunisasi kepada bayinya. Hal ini sesuai dengan teori bahwa
tindakan seseorang didasarkan pada apa yang mereka ketahui. (Adiwiharyanto
dkk., 2022).
Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka makin mudah dalam
menerima informasi, sehingga semakin banyak pula pengetahuan yang dimiliki.
Sebaliknya, pendidikan yang kurang akan menghambat pengembangan sikap
seseorang terhadap nilai-nilai yang baru dikenal. Pendidikan merupakan salah satu
faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang karena semakin tinggi
tingkat pendidikan seseorang maka semakin banyak pula pengetahuan yang
dimiliki terhadap imunisasi (Kurni Menga dkk., 2019).
Capaian program imunisasi yang masih sangat rendah dapat dihubungkan
berbagai aspek yang berkenaan dengan sistem kesehatan seperti akses terhadap
fasilitas kesehatan, pengetahuan tenaga kesehatan, Supply dari vaksin, dan harga
vaksin. Selain itu, capaian imunisasi juga menunjukkan nilai yang lebih tinggi
pada rumah tangga dengan KRT yang tamat pendidikan lebih tinggi dan rumah
tangga dengan status ekonomi lebih baik (Profil Kesehatan Ibu dan Anak, 2022).
Hampir seluruh balita di Jawa Tengah telah mendapatkan imunisasi. Masih
ada sekitar 1 dari 100 balita yang belum mendapatkan imunisasi. Jika dilihat
berdasarkan tempat tinggal, persentase balita di daerah perkotaan yang pernah
diberi imunisasi lebih tinggi dibandingkan dengan balita di daerah perdesaan.
Dinas Kesehatan menghimbau agar masyarakat untuk membawa bayinya ke
fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan imunisasi Rotavirus. Imunisasi
Rotavirus merupakan imunisasi yang penting bagi bayi untuk mencegah diare
yang disebabkan Rotavirus (Dinkes Jawa Tengah, 2023).
Cakupan Imunisasi Rotavirus di Jawa Tengah pada tahun 2022 adalah
40,9%. Angka ini masih belum mencapai target cakupan nasional sebesar 80%
Jawa Tengah menempati urutan ke-11. Berdasarkan data tersebut, cakupan
Imunisasi Rotavirus di Jawa Tengah masih belum merata. Beberapa
kabupaten/kota memiliki cakupan yang tinggi, seperti Kota Semarang (79,2%),
Kabupaten Banyumas (97,9%), dan Kabupaten Wonosobo (98,5%). Namun, ada
juga kabupaten/kota yang memiliki cakupan yang rendah, seperti Kabupaten
Cilacap (33,5%) dan Kabupaten Wonogiri (42,4%) (BPS, 2023).
Cakupan Imunisasi Rotavirus di Kabupaten Pati pada tahun 2023 adalah
28,4%. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Pati, Kabupaten Pati
menempati urutan ke-25 dalam capaian cakupan imunisasi rotavirus 2023 di Jawa
Tengah. Angka ini masih belum mencapai target cakupan nasional sebesar 80%.
Berdasarkan data tersebut, cakupan Imunisasi Rotavirus di kabupaten pati masih
belum merata. Beberapa kecamatan memiliki cakupan yang tinggi, Kecamatan
Kayen (42,7%). Namun ada juga kecamatan yang memiliki cakupan yang rendah,
seperti Kecamatan Dukuhseti (38,9%) dan Kecamatan Juwana (38%). Sasaran
pemberian Imunisasi Rotavirus sendiri di wilayah Kabupaten Pati adalah bayi
yang lahir mulai dari tanggal 16 Mei 2023. Imunisasi Rotavirus di wilayah
Kabupaten Pati saat ini sudah tersedia di Puskesmas (Dinkes Pati, 2023).
Di Kabupaten Pati, tingkat imunisasi yang rendah disebabkan oleh
kurangnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang manfaat imunisasi
Rotavirus. Jam layanan imunisasi yang tidak sesuai dengan waktu yang dimiliki
orang tua juga menjadi penyebabnya. Upaya: Tenaga kesehatan sendiri dapat
melakukan hal-hal untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pasien
dengan memberikan penyuluhan di posyandu. Melakukan pemantauan dan
evaluasi rutin untuk mengetahui seberapa efektif upaya yang dilakukan.
Diharapkan dengan upaya ini, cakupan imunisasi rotavirus di Kabupaten Pati akan
meningkat secara signifikan, menghindari anak-anak dari penyakit diare
Rotavirus. (Dinkes Pati, 2023)
Masyarakat menghadapi masalah dengan tingkat imunisasi Rotavirus,
sehingga perlu dilakukan penelitian tentang faktor-faktor yang berkontribusi pada
rendahnya tingkat imunisasi. Pengetahuan ibu, sikap ibu, pendidikan ibu, sarana
atau tenaga kesehatan, dan dukungan keluarga merupakan beberapa faktor yang
mempengaruhi meliputi imunisasi Rotavirus (Naibaho & Ernawati, 2021). Selain
itu, kebijakan pemerintah dan peran tenaga kesehatan dalam memberi tahu orang
tentang imunisasi Rotavirus akan meningkatkan kesadaran masyarakat.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
mengenai Hubungan Tingkat Pendidikan dan Tingkat Pengetahuan Ibu terhadap
Sikap Pemberian Imunisasi Rotavirus, karena rendahnya angka cakupan capaian
imunisasi Rotavirus. Kecamatan Juwana merupakan kecamatan yang memiliki
urbanisasi yang tinggi dan akses yang mudah ke layanan kesehatan, tetapi
memiliki angka cakupan imunisasi Rotavirus bayi terendah di Kabupaten Pati