7
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Fasilitas
1. Pengertian Fasilitas
Menurut Putri Kiki (2019) Fasilitas adalah sarana dan prasarana
yang harus tersedia untuk melancarkan kegiatan pendidikan di sekolah.
Sarana adalah semua perangkat peralatan,bahan, dan perabot yang secara
langsung digunakan untuk proses pendidikan di sekolah, meliputi gedung,
ruang belajar (kelas), media belajar, meja dan kursi. Sedangkan prasarana
pendidikan adalah semua perangkat kelengkapan dasar yang secara tidak
langsung menunjang proses pendidikan, meliputi halaman sekolah, taman
sekolah, dan jalam menuju sekolah.
Menurut Alif Mamuaya (2013) fasiltas belajar adalah segala
sesuatu yang dapat mempermudah dan memperlancar pelaksanaan suatu
usaha dapat berupa benda-benda maupun uang.
Menurut Nur Halimah (2014) kelengkapan sarana dan prasarana
akan membantu guru dalam penyelengaraan proses pembelajaran, dengan
demikian sarana dan prasarana merupakan komponen penting yang dapat
memengaruhi proses pembelajaran.
Jadi berdasarkan penjelasan tersebut dapat diambil sebuah
kesimpulan bahwa fasilitas belajar adalah segala sesuatu baik berupa
benda bergerak atau tidak bergerak serta uang (pembiayaan) yang dapat
mempermudah, memperlancar, mengefektifkan serta mengefesienkan
penyelenggaraan kegiatan belajar guna mencapai tujuan belajar.
2. Fungsi Fasilitas Belajar
Fungsi fasilitas belajar membantu siswa dalam memahami apa yang
telah disampaikan guru dan mempermudah guru dalam kegiatan belajar
mengajar. Menurut Popi Sopiatin (2010) fungsi atau manfaat fasilitas atau
media belajar, yaitu:
7
8
a. Fasilitas belajar (media pembelajaran) yang ada akan menjadikan
pengajaran atau belajar lebih menarik perhatian siswa sehingga
dapat menumbuhkan motivasi belajar.
b. Materi pelajaran akan lebih mudah dipahami oleh siswa.
c. Fasilitas belajar (media pembelajaran) memungkinkan dilaksanakannya
metode belajar mengajar yang lebih bervariasi.
d. Siswa akan lebih banyak melakukan kegiatan belajar (belajar akan lebih
fokus kepada siswa).
e. Pemanfaatan sarana belajar dapat memperjelas pesan dan informasi
sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil
belajar.
f. Meningkatkan dan menggairahkan perhatian anak sehingga dapat
menimbulkan motivasi belajar, interaksi yang lebih langsung antara
siswa dan lingkungannya serta memungkinkan siswa untuk belajar
sendiri sesuai dengan kemampuan.
g. Memberikan persamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-
peristiwa lingkungan mereka, serta memungkinkan terjadinya interaksi
langsung dengan guru, masyarakat dan lingkungannya.
3. Jenis-jenis Fasilitas
Menurut Rosnaeni (2019) ditinjau dari jenisnya yaitu fasilitas
dapat dibedakan menjadi fasilitas fisik dan fasilitas non fisik. Fasilitas fisik
atau material yaitu segala sesuatu yang berwujud benda mati atau
dibendakan yang mempunyai peran untuk memudahkan suatu usaha,
seperti ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, ruang tata usaha,
perlengkaan sekolah, media pengajaran dan sebagainya.
Fasilitas non fisik yakni sesuatu yang bukan benda mati, atau
kurang dapat disebut benda atau dibendakan, yang mempunyai peranan
untuk memudahkan atau melancarkan suatu usaha seperti manusia, uang,
dan jasa. Fasilitas belajar dapat dikatakan lengkap apabila siswa memiliki
fasilitas yang dibutuhkan dalam belajar, jadi dalam penelitian ini
fasilitas yang di teliti yaitu data fasilitas fisik yang ada di SMPN 3
9
Sajingan Besar. Fasilitas belajar adalah sarana prasarana yang
memperlancar proses belajar mengajar siswa agar tujuan pendidikan dapat
berjalan efektif dan efesien. Menurut Popi Sopiatin (2010) ruang lingkup
fasilitas belajar sekolah meliputi:
a) Perencanaan pengadan lahan
Lahan adalah letak tanah tempat berdirinya bangunan atau gedung.
Letak tanah untuk mendirikan sekolah mempunyai hubungan yang
signifikan dengan dampak pendidikan.
b) Bangunan sekolah
Bangunan sekolah adalah semuan ruangan yang di dirikan di atas
lahan yang digunakan untuk kepentingan pendidikan. Bangunan
sekolah meliputi ruang kelas, kantor, perpustakaan, ruang
laboratorium, usaha kehesatan sekolah, kantin, gudang dan kamar
mandi.
c) Perlengkapan sekolah
Perlengkapan sekolah terbagi menjadi dua yaitu benda-benda habis
pakai (kertas, kapur tulis, bahan untuk praktikum) dan benda-benda
tahan lama (kursi, meja, alat peraga atau media).
d) Media pengajaran
Media pengajaran merupakan alat bantu mengajar yang digunakan
dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan pengajaran yang
telah ditetapkan guru dan bersifat sebagai pelengkap.
e) Sarana perpustakaan
Perpustakaan adalah gedung ilmu yang dikelola oleh petugas
perpustakaan dimana sistem dan aturan pemakaian ditunjukkan untuk
memudahkan penemuan informasi yang diperlukan secara sistematis.
Jadi fasilitas belajar sekolah merupakan segala sesuatu yang
membantu memperlancar jalannya belajar.
10
4. Standar Sarana dan Prasarana Tingkat SMP
Berdasarkan peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik
Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 untuk kelengkapan sarana dan prasarana
pada tingkat SMP:
a. Ruang Kelas
Fungsi ruang kelas adalah tempat kegiatan pembelajaran teori,
praktek yang tidak memerlukan peralatan khusus, atau praktek dengan
alat khusus yang mudah hadir.
b. Ruang Perpustakaan
Ruang perpustakaan berfungsi sebagai tempat kegiatan peserta
didik dan guru memperoleh informasi dari berbagai jenis bahan pustaka
dengan membaca, mengamati, mendengar, dan sekaligus tempat tugas
mengelola perpustakaan.
c. Ruang Laboratorium IPA
Ruang laboratorium IPA berfungsi sebagai tempat
berlangsungnya kegiatan pembalajaran IPA secara praktek yang
memerlukan peralatan khusus.
d. Ruang Pimpinan
Ruang pimpinan berfungsi sebagai tempat melakukan kegiatan
pengelolaan sekolah, pertemuan dengan sejumlah kecil guru, orang tua
murid, unsur komite, tugas dinas pendidikan, atau tamu lainnya.
e. Ruang Guru
Ruang guru berfungsi sebagai tempat guru bekerja dan istirahat
serta menerima tamu, baik peserta didik maupun tamu lainnya.
f. Ruang Tata Usaha
Ruang tata usaha berfungsi sebagai tempat kerja petugas untuk
mengerjakan administrasi sekolah.
g. Tempat Beribadah
Tempat beribadah berfungsi sebagai tempat warga sekolah
melakukan ibadah yang diwajibkan oleh agama masing-masing pada
waktu sekolah.
11
h. Ruang Konseling
Ruang konseling berfungsi sebagai tempat peserta didik
mendapatkan layanan konseling dari konselor berkaitan dengan
pengembangan pribadi sosial, belajar, dan karir.
i. Ruang UKS
Ruang UKS berfungsi sebagai tempat untuk penanganan dini
peserta didik yang mengalami gangguan kesehatan di sekolah.
j. Ruang Organisasi Kesiswaan
Ruang organisasi kesiswaan berfungsi sebagai tempat melakukan
kegiatan kesekretariatan pengelolaan organisasi kesiswaan.
k. Jamban
Jamban berfungsi sebagai tempat buang air besar dan/atau kecil.
l. Gudang
Gudang berfungsi sebagai tempat menyimpan peralatan
pembelajaran di luar kelas, tempat menyimpan sementara peralatan
sekolah yang tidak/belum berfungsi di satuan pendidikan, dan tempat
menyimpan arsip sekolah yang telah lebih dari 5 tahun.
m. Ruang Sirkulasi
Ruang sirkulasi horizontal berfungsi sebagai tempat
penghubung antar ruang dalam bangunan sekolah dan sebagai tempat
berlangsungnya kegiatan bermain dan interaksi sosial peserta didik di
luar jam pembelajaran, terutama ada saat hujan ketika tidak
memungkinkan kegiatan-kegiatan tersebut berlangsung di halaman
sekolah.
n. Tempat Bermain/Berolahraga
Tempat bermain/berolahraga berfungsi sebagai area bermain,
berolahraga, pendidikan jasmani, upacara, dan kegiatan ekstrakurikuler
(Permendiknas Nomor 24 Tahun 2007).
5. Manajemen Fasilitas Belajar
Menurut Suryani (2017) fasilitas belajar yang ada perlu diatur dan
dikelola sebaik mungkin sehingga fasilitas belajar tersebut dapat
12
menciptakan kondisi belajar yang lebih baik. Manajemen fasilitas sekolah
sebagai proses kerja sama pendayagunaan semua perlengkapan pendidikan
secara efektif. Tujuan manajemen fasilitas sekolah adalah sebagai berikut:
sebagai upaya pengadaan sarana dan prasarana belajar yang dibutuhkan di
sekolah. Melalui pengadaan fasilitas ini sekolah memenuhi segala sesuatu
yang diperlukan atau menunjang proses pendidikan di sekolah.
Sebagai upaya dalam pemanfaatan atau pendayagunaan sarana dan
prasarana yang sudah ada di sekolah, sehingga fasilitas tersebut dapat
digunakan secara efektif dan efisien. Mengupayakan pemeliharaan fasilitas
sekolah, sehingga sarana dan prasarana tersebut selalu dalam kondisi siap
pakai apabila akan [Link] proses manajemen fasilitas sekolah,
perlu adanya suatu proses yang bertahap sehingga, manajemen dapat
berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
a. Perencanaan Kebutuhan
Merupakan suatu proses memikirkan dan menetapkan program
pengadaan fasilitas, baik yang berbentuk sarana dan prasarana
pendidikan di masa yang akan datang untuk mencapai tujuan tertentu.
Tujuan yang ingin dicapai dengan perencanaan pengadaan fasilitas
tersebut adalah untuk memenuhi kebutuhan perlengkapan sekolah.
b. Pengadaan
Pengadaan fasilitas pendidikan di SMP ada dasarnya merupakan
upaya merealisasikan rencana kebutuhan pengadaan perlengkapan
yang telah disusun sebelumnya.
c. Pendistribusian
Pendistribusian atau penyaluran fasilitas pendidikan merupakan
kegiatan pemindahan barang dan tanggung jawab dari seorang
penangung jawab penyimpanan kepada unit-unit atau orang-orang
yang membutuhkan barang itu.
Dalam prosesnya ada tiga hal yang harus diperhatikan, yaitu
ketepatan barang yang disampaikan, baik jumlah maupun jenisnya;
13
ketepatan sasaran penyampaiannya dan ketepatan kondisi barang yang
disalurkan.
d. Pemeliharaan
Merupakan suatu perawatan atau menjaga fasilitas pendidikan di
SMP secara teratur agar semua fasilitas pendidikan di SMP selalu enak
dipandang, mudah digunakan, dan tidak cepat rusak.
e. Penginventarisasian
Inventarisasi fasilitas pendidikan merupakan pencatatan dan
penyusunan daftar barang milik negara secara sistematis, tertib, dan
teratur berdasarkan ketentuan atau pedoman yang berlaku. Menurut
Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor Kep.225/MK/4/1971 barang
milik negara adalah berupa semua barang yang berasal atau dibeli
dengan dana yang bersumber, baik secara keseluruhan atau
sebagiannya, dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (ABPN)
ataupun dana lainnya yang barang-barangnya di bawah penguasaan
pemerintah, baik pusat, provinsi, maupun daerah otonom, baik yang
berada di dalam maupun di luar negeri.
f. Penghapusan
Merupakan kegiatan meniadakan barang-barang milik negara
(bisa juga sebagai milik negara) yang jumlahnya berlebihan sehingga
tidak digunakan lagi, dan barang-barang yang kuno yang tidak sesuai
dengan situasi dari daftar inventarisasi dengan cara berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Apabila perlengkapan
tersebut tetap dibiarkan atau disimpan, antara biaya pemeliharaan dan
kegunaannya secara teknis dan ekonomis tidak seimbang.
6. Pentingnya Fasilitas Belajar
Kelengkapan fasilitas belajar dapat mempengaruhi proses belajar
siswa. Fasilitas belajar akan menumbuhkan motivasi belajar siswa.
Menggunakan fasilitas belajar akan mempermudah siswa mengikuti proses
pembelajaran yang dilakukan oleh guru, pencarian materi dengan
14
menggunakan sumber-sumber belajar yang disediakan oleh sekolah seperti
perpustakaan akan menumbuhkan rasa ingin tahu peserta didik dalam
memahami materi pelajaran sehingga akan memotivasi siswa untuk belajar
lebih giat. Wina (2016) bahwa terdapat beberapa keuntungan bagi sekolah
yang memiliki kelengkapan saran dan prasaran yaitu:
a. Kelengkapan sarana prasarana dapat menumbuhkan gairah dan
motivasi guru mengajar. Apabila mengajar dipandang sebagai proses
penyampaian materi, maka dibutuhkan sarana pembelajaran berupa
alat dan bahan yang dapat menyalurkan pesan secara efektif dan
efisien. Ketersediaan sarana yang lengkap, memungkinkan guru
memiliki berbagai pilihan yang dapat digunakan untuk melaksankan
fungsi mengajar mereka.
b. Kelengkapan sarana dan prasarana dapat memberikan berbagai pilihan
pada siswa untuk belajar.
Kelengkapan fasilitas belajar sangat dibutuhkan oleh semua sekolah.
Selain kelengkapan fasilitas, pemanfaatan fasilitas juga diperlukan
untuk efisien dan efektifitas fasilitas tersebut. Dorongan untuk
memanfaatkan saran dan prasarana membutuhkan peran guru dalam
memotivasi siswa untuk memanfaatkannya. Selain itu kelengkapan
fasilitas belajar akan mempermudah guru dalam mencari bahan materi
kepada siswa.
B. Penyelenggaraan Pendidikan SMP
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 2008
tentang wajib belajar dengan tujuan memberikan pendidikan bagi warga
negara Indonesia untuk mengembangkan potensi dirinya agar dapat hidup
mandiri di dalam masyarakat atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang
lebih tinggi. Dalam penyelenggaraannya wajib belajar diselenggarakan pada
jalur pendidikan formal, pendidikan non formal, dan pendidikan informal.
Pembangunan pada bidang pendidikan merupakan salah satu upaya mencetak
sumber daya manusia yang berkualitas, potensial dan produktif bagi
15
pembangunan,baik melalu pendidikan formal, pendidikan non formal dan
pendidikan informal.
Menurut Agung Iskandar (2012) meningkatkan mutu dunia pendidikan
mutlak diperlukan guna menghasilkan sumber daya manusia yang handal dan
mandiri, serta mampu dalam menghadapi perkembangan iptek. Untuk
menghasilkan penyelenggaraan pendidikan di daerah perbatasan yang
bermutu, jelas diperlukan perhatian dan analisisnya terhadap segenap
subsistem atau komponen pendidikan yang ada, di antaranya masukan siswa,
sarana-prasarana, ketenagaan, biaya pendidikan, kurikulum, dah hasil belajar.
Dan perlu diketahui bagaimana kondisi dari komponen-komponen tersebut,
kemudian dianalisis sejauh mana pengaruh komponen tersebut berpengaruh
terhadap hasil belajar yang ada di wilayah perbatasan.
Prinsip-prinsip penyelenggaraan pendidikan nasional di Indonesia
sendiri diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional BAB III pasal 4 yang menyebutkan bahwa prinsip
penyelenggaraan pendidikan antara lain adalah sebagai berikut:
1. Pendidikan diselenggarakan secara demokratis berkeadilan serta tidak
diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai
keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa.
2. Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu kesatuan yang sistemik dengan
terbuka dan multimakna.
3. Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan
pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
4. Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladan, membangun
kemauan dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses
pembelajaran.
5. Pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca,
menulis dan berhitung bagi segenap masyarakat.
6. Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen
masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian
mutu layanan pendidikan.
16
Jenjang pendidikan dasar merupakan jenjang terbawah dari sistem
pendidikan nasional, seperti yang ditetapkan dalam undang-undang Nomor
20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pendidikan dasar
diselenggarakan untuk mengembangkan sikap dan kemampuan serta
memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk
hidup dalam masyarakat serta mempersiapkan peserta didik yang memenuhi
persyaratan untuk mengikuti pendidikan tingkat menengah. Pendidikan dasar
adalah pendidikan umum yang lamanya hanya 9 tahun diselenggarakan
selama 6 tahun di SD/MI dan 3 tahun di SMP/MTS. Program wajib belajar
pendidikan dasar 9 tahun merupakan perwujudan pendidikan daar untuk usia
6-15 tahun.
Menurut Udin [Link] (2017) bentuk satuan pendidikan dasar formal
yang menyelenggarakan program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun
tersebut sebagai berikut:
1. SD/SMP Biasa, yang diselenggarakan oleh pemeritah atau masyarakat
dalam situasi yang normal.
2. SD/SMP Kecil, yang diselenggarakan di daerah yang berpenduduk sedikit
dan memenuhi persyaratan yang berlaku.
3. SD/SMP Pamong, untuk memberikan pelayanan pendidikan bagi anak
putus SD/SMP yang tidak dapat datang secara teratur untuk belajar di
sekolah.
4. SD/SMP Terpadu, yang menyelenggarakan pendidikan untuk anak yang
menyandang kelainan fisik dan mental bersama anak normal dengan
menggunakan kurikulum yang berlaku di sekolah.
5. MI/MTS, yaitu berciri khas agama islam yang di selenggarakan oleh
pemerintah atau masyarakat di bawah bimbingan Departemen Agama.
Menurut Udin [Link] (2017) untuk mendukung keberhasilan
penyelengaraan pendidikan dasar yang bermutu di masa depan, pemerintah
telah dan sedang melaksanakan berbagai strategi penuntasan wajib belajar
pendidikan dasar, antara lain:
1. Pemantapan prioritas pendidikan dasar 9 tahun
17
2. Pemberian beasiswa dengan sasaran yang strategis
3. Pemberian inisiatif kepada guru yang bertugas di wilayah terpencil
4. Peningkatan keterlibatan masyarakat untuk menunjang pendidikan untuk
semua.
C. Perbatasan Indonesia-Malaysia
Perbatasan antara Indonesia dan Malaysia mencakup perbatasan darat
dan perbatasan maritim. Rupita (2019) sebagian besar kawasan perbatasan di
Indonesia merupakan kawasan tertinggal dengan sarana dan prasarana,
ekonomi, dan pendidikan yang sangat terbatas. Daerah perbatasan
memerlukan sentuhan penyelenggaraan pendidikan bermutu agar mampu
berdaya dalam rangka meningkatkan kualitas SDM-nya. Melalui peningkatan
kualitas SDM ini menjadi pintu masuk guna meningkatkan taraf dan
kesejahteraan hidup masyarakat di daerah perbatasan Kecamatan Sajingan
Besar yang berwawasan dan berkarakter kebangsaan. Dengan kata lain bahwa
kualitas SDM masyarakat di perbatasan Kecamatan Sajingan Besar menjadi
titik dalam melihat kesejahteraan dan keberdayaan masyarakat di wilayah
perbatasan.
Menurut pendapat para ahli politik, pengertian perbatasan dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu boundaries dan frontier. Perbatasan disebut
frointer karena posisinya yang terletak di depan (front) atau di belakang
(hinterland) dari suatu negara. Sedangkan boundary digunakan karena
fungsinya yang mengikat atau membatasi negara. Semua yang terdapat di
dalamnya terikat menjadi satu dengan yang lain. Maka pengembangan
wilayah perbatasan Indonesia merupakan prioritas penting terhadap
pembangunan nasional untuk menjamin keutuhan wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI).
Sajingan lebih mendekati pada kondisi yang ada di Jagoi Babang dari
segi arus lintas batas manusia dan barang. Menurut Tirtosudarmo Riwanto
(2012) Masyarakat yang ada di sekitar Sajingan adalah masyarakat Melayu
yang telah memiliki jalur tradisional lintas batas ke negeri jiran di Serawak
18
sejak lama. Bahkan hubungan kultural antara masyarakat Melayu di Sambas
secara umum dan masyarakat Melayu di Kuching sebagai ibu kota Serawak
telah terjadi sejak masa pra kolonial. Hubungan kerabatan yang dekat antara
masyarakat di kedua wilayah tersebut dapat ditelusuri melalui silsilah
kekerabatan keluarga Keraton Sambas yang merupakan family dari keluarga
Kerajaan Brunei yang dalam perjalanan menggunakan jalur pantai melalui
Kuching. Daerah Sajingan kemudian menjadi jalur alternatif darat yang
menghubungkan masyarakat Melayu di Sambas dan masyarakat Melayu di
Kuching melalui Sungai Aruk. Jalur darat Sajingan ini memberikan
kemudahan yang sangat berarti bagi masyarakat Sambas.
Sajingan baru saja memiliki pintu resmi lintas batas yaitu ketika PLB
dibuka untuk jalur resmi di tahun 2012. Sajingan dengan demikian bernasib
lebih baik dari Jagoi Babang yang sampai saat ini belum menjadi pintu resmi.
Perhatian pembangunan di Sajingan masih tergolong rendah dengan bukti-
bukti fisik yang dapat disaksikan saat ini. Jalan yang menghubungkan antara
Kota Sambas sebagai ibukota Kabupaten Sambas dan Sajingan telah tersedia
walaupun dengan kondisi yang masih sederhana. Sarana listrik pun sudah
tersedia sehingga pengembangan sektor lain seperti perdagangan dapat
berjalan. Bahkan, walaupun Sajingan menjadi daerah perbatasan yang saat ini
memiliki kondisi yang hampir sama dengan Badau dari sisi pembangunan
sarana fisik, namun ia memiliki persoalan nasionalisme yang lebih
[Link] pendapat para ahli tentang fasilitas pendidikan maka pada
penelitian ini peneliti menetapkan fasilitas yang akan dikaji meliputi 14
standar 14 standar sarana dan prasarana tingkat SMP yaitu: ruang kelas, ruang
perpustakaan, ruang lab IPA, ruang pimpinan, ruang guru, ruang TU, ruang
beribadah, ruang konseling, ruang UKS, ruang OSIS, jamban, gudang, ruang
sirkulasi, dan tempat bermain/berolahraga (Permendiknas Nomor 24 Tahun
2007).
D. Pendidikan di Perbatasan
Kondisi ini merupakan kondisi umum di setiap perbatasan Kalbar
dengan Malaysia. Fasilitas pendidikan di perbatasan Kalbar masih sangat
19
tertinggal dibandingkan dengan negara tetangga itu. Sarana pendidikan di
Malaysia tersedia dengan baik dan digunakan secara gratis. Fenomena yang
terjadi di beberapa daerah perbatasan adalah banyak anak Indonesia lebih
memilih untuk bersekolah ke Malaysia karena fasilitasnya lebih baik
(Superman,2013). Kenyataan yang terjadi di Indonesia saat ini di bidang
pendidikan selain kualitas yang masih rendah juga pemerataan yang belum
terwujud sampai ke pelosok negeri. Secara umum, daerah perbatasan masih
sangat kekurangan guru. Guru-guru yang berpendidikan tinggi umumnya
pendatang dan kurang memahami budaya setempat serta tidak menetap dalam
waktu yang lama.
Dalam bidang pendidikan kawasan perbatasan sangat memerlukan lebih
banyak perhatian dan sentuhan, letak geografisnya sangat jauh dari ibu kota
provinsi dan kabupaten, menjadi alasan mengapa pendidikan di sana kurang
perhatian dan sentuhan. Alasan lain adalah belum ada akses jalan darat yang
memadai, saluran komunikasi melalui telepon seluler maupun kabel tidak
tersedia dan belum terjangkau aliran listrik.
Potret buram pendidikan di wilayah perbatasan tersebut bukanlah
sesuatu yang baru. Beranda terdepan Indonesia menjadi pagar dalam menjaga
kedaulatan bangsa sekaligus gudang terbelakang dalam pembangunan
nasional termasuk bidang pendidikan. Pendidikan perbatasan sangat
berbanding balik dengan apa yang terjadi di kota-kota besar, dan negara
tetangga yang lokasinya memang tidak begitu jauh dan sangat terlihat jelas.
Di Malaysia misalnya sekolah-sekolah dibangun dengan baik, terkadang
dilengkapi asrama siswa. Guru-guru yang dikirim bertugas mengajar adalah
guru muda yang cakap mengajar dan diberi gaji yang layak dan pantas.
Ketimpangan pendidikan dengan negara tetangga merupakan faktor
utama penyebab mengapa anak-anak usia sekolah lebih memilih untuk
menimba ilmu di negara tetangga. Ketersediaan fasilitas pendidikan yang
memadai tenaga-tenaga guru yang berkualitas, biaya pendidikan yang gratis
termasuk seragam dan buku-buku penunjang sampai jaminan kerja bagi anak-
anak Indonesia yang berprestasi menjadi daya tarik magnet bagi mereka yang
20
berharap untuk memperoleh kehidupan yang lebih layak. Potret umum siswa
di perbatasan memang sangat memperhatikan. Namun, nasib para gurunya
tidak kalah memperhatikan terutama para guru honorer yang kebanyakan
honor komite. Berikut ini beberapa masalah yang menyebabkan rendahnya
kualitas pendidikan di daerah perbatasan:
1. Kurangnya tenaga pendidikan dan kependidikan
Pembelajaran merupakan titik sentral sebuah proses pendidikan dan
keberadaan guru merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan
pendidikan. Di daerah perbatasan sendiri, seringkali jumlah tenaga
pengajar tetap hanya 1-2 orang saja sehingga dibutuhkan tenaga honorer
atau kontrak untuk mencukupi kebutuhan guru yang kurang tersebut.
Seringkali mereka hanya bertahan selama beberapa tahun saja, setelah itu
kemudian mengajukan pindah sekolah.
2. Rendahnya kesejahteraan guru
Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat
rendahnya kualitas pendidikan Indonesia. Keterbatasan anggaran
seringkali hanya dapat diterima dengan lapang dada oleh guru di daerah
perbatasan. Adanya keterbatasan anggaran tersebut berimbas tidak semua
guru di perbatasan mendapatkan tunjangan khusus.
3. Minimnya kualitas sarana fisik
Kualitas sarana fisik pendidikan adalah salah satu parameter
penunjang proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah dan menjadi
penentu keberhasilan pendidikan. Tetapi perhatian terhadap kualitas sarana
fisik pendidikan sampai saat ini masih jauh dari yang diharapkan terlebih
lagi bagi sekolah-sekolah yang berada di daerah perbatasan.
4. Kurangnya kesempatan pemerataan pendidikan
UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional
menyebutkan bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin
pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan
efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai
dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga
21
perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan
berkesinambungan agar terbentuk manusia Indonesia seutuhnya, tertanam,
ada setia diri manusia Indonesia insan yang paripurna jasmani dan rohani.
Seharusnya sistem pendidikan nasional harus mampu menyediakan
kesempatan pemerataan pendidikan bagi segenap warga negara, termasuk
masyarakat di daerah perbatasan.
5. Budaya pendidikan masih rendah
Di daerah perbatasan, kesadaran akan pentingnya arti pendidikan
masih sangat kurang. Mereka lebih memilih bekerja daripada melanjutkan
pendidikan. Kondisi usia anak yang tidak lagi berada ada usia sekolah ini
juga menjadi penghambat terhadap upaya-upaya pemerintah dalam
menyukseskan Program Belajar 9 Tahun. Dampak negatif adalah bahwa
lulusan sekolah dasar atau yang putus sekolah dasar, lebih tertarik untuk
pergi ke Malaysia untuk menjadi buruh kasar di sekitar informal, baik
scara ilegal maupun legal. Dengan bekerja, mereka memperoleh
penghasilan secara langsung. Mereka lebih tertarik dengan kegiatan atau
kerjaan yang berkaitan langsung secara ekonomi dari ada pergi ke sekolah
atau melanjutkan pendidikan pada tingkat yang lebih tinggi.
E. Penelitian Relevan
Penulis telah menelaah beberapa hasil kajian penelitiaan, sebelum
melakukan penelitian terhadap masalah yang didapatkan, yaiyu penelitian
tentang fasilitas penyelenggaraan pendidikan sekolah SMPN 3 perbatasan
Indonesia-Malaysia di Kecamatan Sajingan Besar Kabupaten Sambas. Seperti
terhadap pada tabel 2.1.
Tabel 2.1 Hasil Penelitian Relevan
No Nama Peneliti Judul Hasil Perbedaan Persamaan
Penelitian
1 Moni Erlina Ketersediaan Hasil Perbedaan dalam Persamaannya
Program Studi dan penelitian ini penelitian ini mengetahui
22
Pendidikan Pemanfaatan adalah tentang adalah tidak ketersediaan
Geografi STKIP Sarana standar sarana adanya dan
PGRI Sumatera Prasarana prasarana manajemen pemanfaatan
Barat 2016 Pendidikan di pendidikan di sarana prasarana sarana
SMPN 1 Asam SMPN 1 Asam di sekolah prasarana
Jujuhan Jujuhan masih sekolah di
Kabupaten belum sesuai SMPN
Dharmasraya dengan
lampiran
pelaksanaan
Permendiknas
Tahun 2007
2 Rika Arianti Manajemen Hasil Perbedaan dalam Persamaan
Skripsi Fakultas Sarana penelitian ini penelitian ini dalam
Tarbiyah dan Prasarana adalah dalam adalah kurang penelitian ini
Keguruan Dalam Proses manajemen pemanfaatan manajemen
Universitas Pembelajaran sarana manajemen sarana
Islam Negeri di SMP Sunan prasarana sarana prasarana prasarana
Sunan Ampel Giri Menganti dalam proses dalam proses dalam proses
Surabaya 2019 Gresik pembelajaran pembelajaran pembelajaran
di SMP Sunan harus di SMP.
Giri Meganti diperhatikan
berjalan dalam pemakaian
dengan baik serta penggunaan
dan sekolah perlengkapan
sudah mampu perabot sekolah
menjalankan
sesuai Standar
Nasional
Pendidikan