PROPOSAL PENELITIAN
KOMUNIKASI ORGANISASI DALAM MEMBENTUK
PROFESIONALISME KINERJA PERANGKAT DESA DI DESA
HORODOPI KECAMATAN BENUA KABUPATEN KONAWE SELATAN
OLEH :
SAM IRAWAN
C1D120197
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2024
i
HALAMAN PENGESAHAN
Telah di periksa dan di setujui oleh Dosen Pembimbing I dan Pembimbing II
untuk di seminarkan panitia ujian seminar Proposal Penelitian pada Program Studi
Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Halu Oleo.
Judul : Komunikasi Organisasi Dalam Membentuk Profesionalisme
Kinerja Perangkat Desa di Desa Horodopi, Kec. Benua, Kab.
Konawe Selatan
Nama : Sam Irawan
NIM : C1D120197
Program Studi : Ilmu Komunikasi
Kendari, Januari 2024
Menyetujui
Pembimbing I Pembimbing II
Dr. Sirajuddin., [Link]., [Link] Irmawati, [Link]., [Link]
NIP. 19791102 200812 1 001 NIP. 19890305 20220 3 2001
Mengetahui
Ketua Jurusan Koordinator Prodi
Ilmu komunikasi Ilmu Komunikasi
La Iba, [Link], [Link] Dr. Harnina Ridwan, [Link], [Link]
NIP. 19790215 200801 1 009 NIP. 19760304 200604 2 010
ii
DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHAN .................................................................................... ii
DAFTAR ISI .............................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ...................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................. 6
1.3 Tujuan Penelitian .................................................................................................. 6
1.4 Manfaat Penelitian ................................................................................................ 6
1.4.1 Manfaat Teoritis.......................................................................................... 6
1.4.2 Manfaat Praktis ........................................................................................... 6
1.4.3 Manfaat Metodelogis .................................................................................. 7
1.5 Sistematika Penulisan .......................................................................................... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR ............................. 8
2.1 Kajian Teori ........................................................................................................... 8
2.1.1 Pengertian Komunikasi Organisasi ........................................................... 8
2.1.2 Bentuk-bentuk Komunikasi Organisasi .................................................... 9
2.1.3 Fungsi Komunikasi Dalam Organisasi .................................................... 14
2.1.4 Hambatan Komunikasi Dalam Organisasi .............................................. 16
2.2 Kinerja ................................................................................................................. 17
2.2.1 Pengertian Kinerja .................................................................................... 17
2.2.2 Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja ...................................................... 18
2.2.3 Tujuan Penilaian dalam kinerja ............................................................... 19
2.2.4 Indikator Dalam Mengukur Kinerja ........................................................ 20
2.3 Penelitian Terdahulu ........................................................................................... 25
2.4 Kerangka Pikir..................................................................................................... 25
BAB III METODE PENELITIAN ....................................................................... 31
3.1 Lokasi Penelitian ................................................................................................. 31
3.2 Populasi dan Sampel .......................................................................................... 31
3.2.1 Populasi ................................................................................................... 31
3.2.2 Sampel ...................................................................................................... 31
iii
3.3 Jenis dan Sumber data ...................................................................................... 32
3.3.1 Jenis Data Penelitian ................................................................................ 32
3.3.2 Sumber Data Penelitian ............................................................................ 32
3.5 Teknik Pengumpulan Data ................................................................................. 33
3.6 Uji Instrumen ....................................................................................................... 34
3.6.1 Uji Validitas .............................................................................................. 34
3.6.2 Uji Reliabilitas .......................................................................................... 34
3.7 Metode Analisis Data......................................................................................... 35
3.8 Desain Operasional Penelitian ......................................................................... 38
3.9 Konseptualisasi ................................................................................................. 40
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 42
LAMPIRAN
Instrumen Penelitian
iv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Komunikasi berperan penting dalam sebuah organisasi untuk membentuk
pengertian serta menyamakan pengalaman antara anggota organisasi. Ketika suatu
komunikasi berjalan dengan baik, maka organisasi itu sendiri dapat berjalan
dengan baik pula. Jika komunikasi tidak baik dalam suatu organisasi maka
organisasi tersebut akan berantakan.
Komunikasi organisasi merupakan proses menciptakan dan saling
menukar pesan dalam suatu jaringan hubungan yang saling tergantung satu sama
lain untuk mengatasi lingkungan yang tidak pasti atau yang selalu berubah-ubah.
Tujuan komunikasi dalam proses organisasi tidak lain dalam rangka membentuk
saling pengertian, pendek kata agar terjadi penyetaraan dalam kerangka referensi
(frame of reference), maupun bidang pengalaman. Meskipun mustahil
menyamakan ranah kognitif individu-individu dalam organisasi, tetapi melalui
kegiatan komunikasi yang terencana dan substansi isinya terdesain, minimal
terjadi proses penyebarluasan dimensi-dimensi organisasi pada setiap orang,
dimensi yang dimaksud misalnya, visi, misi, nilai dan strategi prospek
(Muhammad, 1995: 67).
Manusia adalah sumber daya yang memiliki nilai tertinggi bagi setiap
organisasi, karena dapat memberikan manfaat yang besar sekali bila penggunaan
tenaga manusia secara tepat guna. Sumber daya manusia yang dimiliki organisasi
memiliki berbagai karakteristik, termasuk kemampuan kerja, disiplin kerja dan
kinerja yang dimilikinya. Komponen tersebut sangat berkaitan dan berada dalam
1
diri pegawai yang melaksanakan tugas sehari-hari. Karyawan yang memiliki
kemampuan yang baik dan mempunyai sikap disiplin yang tinggi mengakibatkan
tercapainya suatu kinerja yang baik. Kinerja yang baik memberikan dampak yang
baik pula bagi organisasi.
Adanya karyawan dalam organisasi maka seluruh kegiatan serta pekerjaan
yang tersedia dalam instansi bisa dilakukan. Selanjutnya dengan itu pegawai yang
ada pada sebuah organisasi harus diberdayakan atau dapat dibina berdasarkan
dengan kemampuan yang dimilikinya. Komunikasi yang efektif akan menciptakan
kinerja karyawan dalam organisasi yang transparan dan juga sehat. Hal ini sangat
penting dan berguna dalam memusatkan kreativitas dan dedikasi para karyawan
kantor. Oleh sebab itu dalam sebuah organisasi dibutuhkan komunikasi yang
efektif (Slamet Bambang dkk, 2020).
Kinerja merupakan sebuah ukuran keberhasilan pelaksanaan sebuah
pekerjaan yang telah dicapai oleh setiap orang baik secara individu maupun
sebagai anggota kelompok di suatu organisasi atau instansi pemerintahan desa.
Kinerja aparatur desa memiliki peranan penting bagi organisasi, apabila kinerja
yang ditampilkan rendah maka akibatnya berdampak pada pemerintahan desa
dalam mencapai tujuan akan menjadi terhambat. Kinerja adalah hasil kerja
berkualitas tinggi dan kuantitas baik yang dilakukan karyawan dalam
melaksanakan tugasnya sesuai dengan tugas yang diberikan kepadanya. Setiap
organisasi baik swasta maupun pemerintah selalu berusaha untuk meningkatkan
kinerja pegawainya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi
tersebut (Arif, 2021).
2
Komunikasi organisasi dalam membentuk profesionalisme kinerja
perangkat desa, di sebuah pemerintahan desa yang bisa kita sebut sebagai kantor
desa. Setiap organisasi pasti memiliki komunikasi dalam berorganisasi, agar
organisasi tersebut dapat berjalan dengan baik, salah satunya yaitu sebuah
pemerintahan desa dimana Pemerintahan dilaksanakan kepala desa yang dibantu
oleh perangkat desa sebagai unsur penyelenggara pemerintahan desa. Dalam
kehidupan bermasyarakat pemerintahan desa sangat dibutuhkan untuk mengatur
masyarakat, mengayomi, serta memenuhi kebutuhan masyarakat karena sifat
hakikat dari pemerintahan desa memiliki sifat memaksa, monopoli, dan mencakup
keduanya. Dengan adanya pemerintahan desa, semua wilayah dan batasannya
dapat dikontrol dan diawasi serta dapat diatur dengan mudah (Sugiman, 2018).
Penyelenggaran pemerintahan desa yang baik dan ideal akan sangat
berpengaruh dalam keberlangsungan desa, apalagi juga telah dijelaskan tentang
kewenangan desa terkait anggaran dana desa dan pemberian pelayanan
masyarakat desa guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
Pemerintahan desa bisa digambarkan sebagai suatu organisasi pemerintahan,
organisasi ini memiliki fungsi dalam penyusunan kebijakan dan pengkoordinasian
dalam pelaksanaan tugas satuan kerja perangkat desa sehingga keberadaannya
memiliki peranan yang cukup penting dalam penyelenggaraan pemerintahan pada
suatu desa. Pemerintah desa merupakan subsistem dari sistem penyelenggaraan
pemerintah daerah, dalam upaya mewujudkan pemerintahan yang baik sangat
diperlukan unsur mendasar antara lain unsur profesionalisme dari pelaku dan
penyelenggara pemerintahan.
3
Pelayanan masyarakat menjadi suatu tolok ukur kinerja pemerintah.
Masyarakat dapat menilai langsung kinerja pemerintah berdasarkan kualitas
layanan publik yang diterima, karena kualitas layanan publik menjadi kepentingan
banyak orang dan dampaknya langsung dirasakan masyarakat dari semua
kalangan, dimana keberhasilan dalam membangun kinerja pelayanan publik
secara profesional, efektif, efisien dan akuntabel akan mengangkat citra positif
pemerintah di mata masyarakatnya (Sutopo, 2014). Dalam penyelenggaraan
pemerintahan, keberadaan pemerintah atau sering disebut birokrasi tidak lain
adalah sebagai pihak yang berkewajiban untuk memberikan pelayanan,
pembangunan dan pemberdayaan dalam rangka pemenuhan kebutuhan-kebutuhan
masyarakat.
Untuk mencapai masyarakat yang sejahtera memerlukan terselenggaranya
pemerintahan yang baik (Good Governance) secara terus menerus. Upaya untuk
mewujudkan good governance memerlukan unsur profesionalisme dari aparatur
pemerintah dalam melaksanakan tugas pemerintahan. Terutama pada
permasalahan profesionalisme aparat desa dalam melaksanakan tugas
pemerintahan. Profesionalisme menurut Sedarmayanti dalam (Oroh et al., 2017)
Profesionalisme adalah pilar yang akan menempatkan birokrasi sebagai mesin
efektif bagi pemerintah dan sebagai parameter kecakapan aparatur dalam bekerja
secara baik dengan pengukuran profesionalisme yaitu kompetensi, efektivitas, dan
efisiensi serta bertanggung jawab.
Kinerja perangkat desa di Desa Horodopi, Kecamatan Benua, Kabupaten
Konawe Selatan, memiliki beberapa masalah yang terakit dengan profesionalisme
4
perangkat desa, mereka masih merasa tidak puas terhadap kinerja aparatur desa,
yang kurang efektif dalam memberikan pelayanan terhadap masyarakat, sehingga
masyarakat mengeluhkan kinerja karyawan yang dirasa kurang dalam
memberikan pelayanan prima, serta dalam pengurusan surat menyurat yang
kurang dipahami oleh perangkat desa. Kemudian, kurang disiplinnya para
aparatur pemerintahan desa dalam melaksanakan tugas, terlambat masuk jam
kantor dan lain sebagainya.
Dengan adanya fenomena yang terjadi di kantor desa tersebut, peneliti
tertarik untuk meneliti lebih lanjut mengenai hal tersebut. Karena dalam teori
hubungan manusiawi dari Elton Mayo yaitu manusia sebagai salah satu sumber
dalam suatu organisasi sehingga produktivitas atau kinerjanya dapat dipengaruhi
oleh berbagai faktor, dengan begitu salah satu faktor atau kondisi yang dapat
mempengaruhi kinerja karyawan atau aparatur desa di dalam suatu organisasi itu
sendiri adalah komunikasi organisasi. Karena itu para aparatur desa dalam suatu
organisasi pemerintahan desa tersebut memiliki moral dan sangat membutuhkan
interaksi satu sama lain di dalam melaksanakan tugasnya yaitu bisa arahan atau
informasi dari atasan atau karyawan lainnya. Maka dari itu dengan adanya
komunikasi dalam suatu organisasi produktivitas atau kinerja dari karyawan akan
meningkat ketika aparatur desa atau karyawan dapat berinteraksi atau
berkomunikasi dengan baik dengan karyawan lainnya
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk mengetahui
sejauh mana profesionalisme kinerja perangkat desa dalam mejalankan tugasnya
sebagai penyelenggara pemerintahan desa dalam mejalankan tugasnya. Maka
5
penulis mengangkat masalah ini dengan judul “Komunikasi Organisasi Dalam
Membentuk Profesionalisme Kinerja Perangkat Desa di Desa Horodopi,
Kecamatan Benua, Kabupaten Konawe Selatan”
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dituliskan oleh peneliti di atas,
maka dapat di rumuskan permasalahan penelitian ini adalah apakah terdapat
pengaruh komunikasi organisasi pemerintahan desa dalam meningkatkan
profesionalisme kinerja aparatur Desa Horodopi, Kecamatan Benua, Kabupaten
Konawe Selatan.
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dijelaskan diatas, maka tujuan
dari penelitian ini adalah untuk dapat mengetahui pengaruh komunikasi organisasi
pemerintahan desa dalam meningkatkan kinerja aparatur desa di Desa Horodopi,
Kecamatan Benua, Kabupaten Konawe Selatan.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan para
pembaca tentang komunikasi organisasi dalam membentuk profesionalisme
kinerja perangkat desa serta dapat diharapkan sebagai sarana pengembangan ilmu
pengetahuan secara teoritis.
1.4.2 Manfaat Praktis
a. Bagi dunia akademik
Sebagai sumbangsih pengetahuan bagi universitas selaku
lembaga/birokrasi pendidikan dalam mengembangkan ilmu
6
pengetahuan yang berkaitan dengan komunikasi organisasi dalam
membentuk profesionalisme kinerja perangkat desa.
b. Bagi peneliti
Dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan dan dapat
mengaplikasikan teori yang diperoleh selama kuliah dengan realita
dalam kehidupan bermasyarakat.
1.4.3 Manfaat Metodelogis
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai
sumbangsih atau pedoman bagi penelitian selanjutnya.
1.5 Sistematika Penulisan
- Bab I Pendahuluan
Menjelaskan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan
dan manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
- Bab II Tinjauan Pustaka Dan Kerangka Pikir
Menjelaskan konsep atau teori yang mendukung dalam penelitian ini.
- Bab III Metode Penelitian
Menjelaskan tentang lokasi penelitian, subjek dan informan
penelitian, teknik penentuan informan, jenis dan sumber data, teknik
pengumpulan data, teknik analisis data, desain penelitian, dan
konseptualisasi.
7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
2.1 Kajian Teori
2.1.1 Pengertian Komunikasi Organisasi
Dalam sebuah buku komunikasi organisasi karya dari R. Wayne Pace don
[Link] mendefinisikan komunikasi organisasi itu dapat dilihat dari dua sudut
pandang, yaitu definisi subjektif dan objektif komunikasi [Link] kedua
sudut pandang tersebut memiliki ciri khasnya masing-masing. pertama, pengertian
komunikasi organisasi dalam perspektif subjektif yaitu sebuah perilaku
pengoganisasian yang terjadi, dan bagaimana mereka yang telah terlibat dalam
proses perilaku pengorganisasian itu berinteraksi dan dapat memberi makna dari
apa yang telah terjadi. Maka dari itu pada perspektif ini dapat ditekankan adalah
sebuah proses penciptaan makna dari sebuah interaksi yang memelihara,
menciptakan dan mengubah suatu organisasi tersebut. kedua, pengertian
komunikasi organisasi juga dapat dilihat dalam perspektif objektif yaitu suatu
kegiatan penanganan pesan yang terkandung di dalam suatu batasan organisasi.
Maka dari itu pada perspektif ini lebih ditekankan yaitu pada komunikasi sebagai
suatu alat yang dapat memungkinkan orang beradaptasi dengan lingkungan
mereka (R. Wayne Pace, dkk 2006).
Kemudian jika R. Wayne memandang pengertian komunikasi organisasi
dalam dua perspektif , lain hal dengan Redding dan Sanborn yang dikutip oleh
Arni Muhammad dalam buku komunikasi organisasi. Menurut Redding dan
Sanborn komunikasi organisasi adalah suatu pengiriman dan penerimaan pesan
atau informasi dalam sebuah organisasi yang kompleks. Yang termasuk dalam
8
bidang ini adalah komunikasi internal, hubungan persatuan pengelola, hubungan
manusia, komunikasi upward, komunikasi downward dan lainnya.
Selanjutnya menurut Joseph Devito yang dikutip oleh Soleh Soemirat,
dkk dalam sebuah buku komunikasi organisasional menjelaskan bahwa
komunikasi organisasi adalah sebuah pengiriman pesan dan penerimaan pesan
baik dalam sebuah organisasi formal maupun informal. Komunikasi organisasi
(Organizational Communication) mencakup komunikasi yang telah terjadi di
dalam dan di antara lingkungan yang luas dan besar. Jenis komunikasi ini
memiliki variasi karena komunikasi itu sendiri meliputi komunikasi interpersonal
(percakapan antara atasan dan bawahan), kelompok kecil (kelompok kerja yang
mengerjakan laporan), komunikasi dengan media (memo internal, konferensi
jarak jauh dan e-mail) kemudian kesempatan berbicara di depan publikasi
(presentasi yang dilakukan oleh eksekutif dalam perusahaan).
2.1.2 Bentuk-bentuk Komunikasi Organisasi
Dalam komunikasi organisasi adanya bentuk-bentuk komunikasi yang
dilakukan individu atau kelompok dalam organisasi tersebut untuk dapat
menyampaikan informasi kepada rekan-rekan kerja dalam organisasi tersebut.
Adapun bentuk-bentuk komunikasi organisasi itu sendiri sebagai berikut :
1. Komunikasi Atasan Ke Bawahan (Downward communication)
Komunikasi dari atasan ke bawahan dalam sebuah organisasi
bahwasannya informasi atau pesan mengalir dari orang yang memiliki
jabatan lebih tinggi kepada mereka yang memiliki jabatan lebih rendah.
9
Ada lima jenis informasi yang dapat dikomunikasikan dari atasan
ke bawahan menurut (Katz & Kahn, 1966) yaitu : Informasi bagaimana
bawahan harus melakukan pekerjaannya, Informasi mengenai dasar
pemikiran untuk melakukan pekerjaan, Informasi mengenai kebijakan
dan praktik-praktik organisasi, Informasi mengenai kinerja karyawan,
kemudian menjadi Informasi untuk mengembangkan rasa memiliki tugas
dan tanggung jawab terhadap pekerjaan.
2. Komunikasi Bawahan Ke Atasan (Upward communication)
Komunikasi bawahan ke atasan dalam organisasi bahwasannya
informasi atau pesan mengalir pada tingkatan yang lebih rendah
(bawahan) ketingkat yang lebih tinggi (pimpinan). Semua pegawai dalam
sebuah organisasi bahwasannya setiap bawahan dapat dapat memiliki
alasan yang baik untuk meminta informasi atau memberikan informasi
kepada seseorang otoritas atau kedudukannya lebih tinggi dari pada dia.
Informasi ini dapat berupa komentar, pendapat atau permohonan yang
ditujukan kepada mereka yang otoritas kedudukannya lebih tinggi, lebih
besar atau lebih luas. Dengan demikian dapat disimpulkan mengenai
alasan penting mengapa komunikasi ke atas dilakukan yaitu :
a. Aliran informasi dari bawahan ke atasan dapat memberikan informasi
berharga untuk membuat keputusan yang mengarahkan mereka agar
dapat mengembangkan organisasi tersebut (Sharma, 1979).
b. Komunikasi ke atas memberitahukan kepada atasan kapan bawahan
siap menerima informasi dari atasan dan seberapa baik bawahan
10
menerima apa yang dikatakan kepada mereka (Planty & Machver,
1952).
c. Komunikasi ke atas dapat memungkinkan bahkan mendorong omelan
dan keluh kesah dapat muncul ke permukaan sehingga pengawas tahu
apa yang mengganggu mereka yang paling dekat dengan operasi-
operasi sebenarnya (Canboy, 1976).
d. Komunikasi ke atas dapat menumbuhkan apresiasi dan loyalitas
organisasi dengan memberikan kesempatan kepada pegawai untuk
mengajukan pertanyaan dan menyumbang gagasan serta saran-saran
mengenai operasi organisasi (Planty & Machver, 1952).
e. Komunikasi ke atas dapat mengizinkan pengawas untuk menentukan
apakah bawahan memahami apa yang diharapkan dari aliran
informasi ke bawah (Planty & Machver, 1952).
f. Komunikasi ke atas dapat membantu pegawai mengatasi masalah
pekerjaan mereka dan memperkuat keterlibatan mereka dengan
pekerjaan mereka dan dengan organisasi tersebut (Harriman, 1974).
Komunikasi organisasi dari bawahan keatasan juga penting
untuk dilakukan untuk mendapatkan saling pengertian, bukan hanya
atasan yang dapat menyampaikan apa yang harus dikomunikasikan
dengan adanya komunikasikan atau memerintah bawahannya dalam
bekerja namun, seorang bawahan juga dapat mengkomunikasikan
beberapa hal kepada atasannya, demikian komunikasi yang dapat
dilakukan bawahan ke atasannya seperti: Dapat memberitahukan apa
11
yang dilakukan bawahan terhadap pekerjaan mereka, prestasi, kemajuan
dan rencana-rencana untuk waktu mendatang, dapat menjelaskan
persoalan-persoalan kerja yang belum dipecahkan bawahan yang
mungkin memerlukan beberapa bantuan dari atasan, dapat memberikan
saran atau gagasan untuk perbaikan dalam dalam unit-unit yang ada di
organisasi tersebut, dan dapat mengungkapkan bagaimana pikiran dan
perasaan bawahan tentang pekerjaan mereka, rekan kerja mereka, dan
organisasi.
3. Komunikasi Horizontal (Horizontal communication)
Komunikasi horizontal ini terdiri dari penyampaian informasi yang
dilakukan antara rekan-rekan sejawat dalam unit kerja dengan posisi
yang sama. Unit kerja itu sendiri meliputi individu-individu yang
ditempatkan pada tingkat otoritas atau kedudukan yang sama dalam
organisasi dan memiliki alasan yang sama. Contohnya dalam sebuah
universitas, unit kerjanya dapat berupa jurusan. Jurusan ilmu komunikasi,
jurusan perilaku organisasi, dan jurusan ilmu pengajaran semuanya
meliputi dosen-dosen yang dipimpin oleh ketua jurusan. Kemudian
komunikasi antara dosen-dosen inilah yang dimaksud dengan komunikasi
horizontal. Dengan adanya penjelasan mengenai komunikasi horizontal
diatas maka tujuan dari komunikasi horizontal ialah agar dapat
mengkoordinasikan penugasan kerja, Berbagi informasi mengenai
penugasan dan rencana kegiatan, Agar dapat memecahkan masalah,
kemudian agar dapat memperoleh pemahaman bersama serta agar dapat
12
mendamaikan, berunding, dan menengahi perbedaan dan tentunya dapat
menumbuhkan dukungan antarpersona
4. Komunikasi Lintas Saluran (Interline communication)
Komunikasi lintas saluran adalah komunikasi yang melewati batas-
batas fungsional dengan individu yang tidak menduduki posisi atasan
maupun bawahan mereka. Contohnya, bagian-bagian seperti teknik,
akunting, peneliti, dan personalia mengumpulkan data, laporan, rencana
persiapan, kegiatan koordinasi, dan memberi nasihat kepada manajer
mengenai pekerjaan pegawai di semua bagian organisasi. Contoh tersebut
menjelaskan bahwa mereka melintasi jalur fungsional dan berkomunikasi
dengan orang-orang yang diawasi dan yang mengawasi tetapi bukan
atasan maupun bawahan mereka.
Spesialis staf biasanya paling aktif dalam komunikasi lintas saluran
ini, karena biasanya terdapat beberapa tanggung jawab mereka yang
muncul pada rantai otoritas dan jaringan yang berhubungan dengan
jabatan. Karena banyak terdapat komunikasi lintas saluran yang
dilakukan oleh spesialis staf dan orang-orang lainnya yang perlu
berhubungan dalam rantairantai perintah yang lain, diperlukan kebijakan
organisasi untuk membimbing komunikasi lintas saluran.
Fayol (1916-1940) mengemukakan bahwa komunikasi lintas
saluran merupakan suatu hal yang pantas, bahkan perlu, terutama pada
pegawai tingkat lebih rendah dalam suatu saluran. Contohnya, Pegawai A
dapat menghemat waktu dan menyimpan sumber daya dengan
13
berkomunikasi langsung kepada pegawai E (melalui jembatan). Karena
ada kemungkinan dapat mengganggu saluran otoritas dan dapat
kehilangan kendali atas aliran informasi, dengan begitu ada dua kondisi
yang harus dipenuhi dalam menggunakan jembatan fayol yaitu :
a. Setiap pegawai yang ingin berkomunikasi melintasi saluran harus
meminta izin terlebih dahulu dari atasan langsung, pegawai harus
mendapat izin terlebih dahulu dari penyelia. Dalam beberapa kasus,
izin ini dapat diberikan dalam bentuk pernyataan kebijakan umum,
yang menunjukkan keadaan yang membenarkan komunikasi lintas
saluran
b. Setiap pegawai yang terlibat dalam komunikasi lintas saluran harus
memberitahukan hasil-hasil pertemuannya kepada penyelianya.
2.1.3 Fungsi Komunikasi Dalam Organisasi
Dalam sebuah organisasi pasti memiliki tujuan dan fungsi agar organisasi
tersebut dapat mencapai tujuannya termasuk komunikasi dalam organisasi itu
sendiri, komunikasi dalam organisasi sangat penting untuk dilakukan untuk dapat
saling pengertian satu sama lain dalam suatu organisasi. Dengan demikian
komunikasi dalam organisasi itu memiliki 4 fungsi. Adapun empat fungsi
komunikasi dalam organisasi yaitu :
Pertama, komunikasi sebagai fungsi informatif, organisasi sebagai suatu
sistem pemrosesan informasi (informasi-processing system). Artinya seluruh
anggota berharap dalam organisasi dapat memperoleh informasi yang lebih baik,
lebih banyak dan tepat waktu. Informasi yang didapat tersebut memungkinkan
14
setiap anggota-anggota organisasi dapat melaksanakan pekerjaan dan tanggung
jawabnya secara lebih pasti, dengan begitu informasi pada dasarnya dapat
dibutuhkan oleh semua orang yang memiliki perbedaan kedudukan di dalam
organisasi tersebut.
Kedua, Komunikasi sebagai fungsi regulasi dalam organisasi. Fungsi
regulasi berkaitan dengan peraturan-peraturan yang berlaku dalam sebuah
organisasi. Ada dua hal yang berpengaruh terhadap fungsi ini yaitu: Atasan atau
orang-orang yang berada dalam ruang lingkup manajemen ialah mereka yang
memiliki kewenangan atas semua informasi yang telah disampaikan. Selain itu
atasan juga memiliki kewenangan untuk dapat memberikan instruksi atau
perintah, sehingga dalam suatu struktur organisasi yang memungkinkan mereka
dapat ditempatkan pada lapisan atas supaya perintah-perintahnya dilaksanakan
dengan baik. Namun dengan itu, sikap bawahan untuk dapat menjalankan perintah
banyak bergantung pada: Keabsahan seorang pemimpin dalam penyampaian
perintah, Kekuatan seorang pemimpin dalam memberi sanksi, Kepercayaan
bawahannya terhadap atasan sebagai seorang pemimpin dan diri sendiri, Tingkat
kredibilitas pesan yang diterima oleh bawahan berkaitan dengan sebuah pesan.
Pesan regulatif pada dasarnya berorientasi pada kerja. Maksudnya, bawahan
memerlukan kepastian atas peraturan-peraturan mengenai pekerjaan yang boleh
dan tidak boleh dilaksanakan.
Ketiga, komunikasi memiliki fungsi persuasif dalam sebuah organisasi.
Fungsi persuasif ini untuk mengatur sebuah organisasi, kewenangan dan
kekuasaan tidak akan selalu mendapatkan hasil yang sesuai dengan yang
15
diharapkan. Dengan begitu seorang pemimpin akan lebih suka untuk
mempersuasif atau mempengaruhi bawahannya
Keempat, komunikasi memiliki fungsi integratif dalam suatu organisasi,
dalam sebuah organisasi akan berusaha menyediakan saluran yang akan
memungkinkan para karyawan dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya
dengan baik. Dengan begitu ada saluran komunikasi formal seperti penerbitan
khusus dalam suatu organisasi tersebut (newsletter) dan sebuah laporan kemajuan
organisasi, seperti saluran komunikasi informal yaitu perbincangan antar pribadi
selama masa istirahat kerja, kegiatan darmawisata ataupun kegiatan pertandingan
olahraga. Adanya pelaksanaan aktivitas ini akan dapat menumbuhkan keinginan
agar dapat berpartisipasi lebih besar dalam diri karyawan terhadap organisasi
tersebut (Burhan Bungin, 2007).
2.1.4 Hambatan Komunikasi Dalam Organisasi
Dalam sebuah organisasi yang baik pastinya memiliki komunikasi atau
interaksi yang baik pula, namun tidak dapat dipungkiri setiap komunikasi baik
dalam sebuah organisasi maupun individu pasti memiliki hambatan-hambatan
dalam penyampaian pesan yang terkandung dalam komunikasi tersebut, dengan
begitu adapun hambatan-hambatan komunikasi dalam organisasi menurut Hafied
Cangra yaitu:
Pertama, Gangguan Teknis, Ini dapat terjadi jika kesalahan akan suatu alat
yang digunakan dalam berkomunikasi mengalami gangguan, sehingga informasi
yang disampaikan sulit untuk dapat diterima dan dipahami oleh komunikan atau
yang penerima pesan tersebut.
16
Kedua, Gangguan Simatik, gangguan ini komunikasi yang disebabkan
karena terdapatnya kesalahan pada bahasa yang digunakan. Gangguan ini dapat
disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:
a) Terlalu banyak menggunakan kata-kata dengan bahasa asing sehingga
dapat membuat bingung komunikan
b) Menggunakan struktur bahasan yang tidak semestinya, sehingga dapat
membingungkan komunikan.
c) Adanya latar budaya dari orang yang berkomunikasi yang dapat
menyebabkan salah persepsi terhadap simbol, bahasa yang digunakan.
Ketiga, Gangguan Psikologis, gangguan ini terjadi adanya gangguan yang
disebabkan adanya persoalan-persoalan dalam diri individu itu sendiri.
Keempat, Rintangan Fisik atau Organic, gangguan ini disebabkan dengan
adanya kondisi geografis, seperti jarak sosial antara peserta komunikan, contoh
senior dan junior.
Kelima, Rintangan Kerangka Berpikir, yaitu disebabkan karena adanya
perbedaan persepsi antara komunikator dan komunikan terhadap khalayak yang
terlibat dalam komunikasi, hal ini dapat disebabkan karena adanya latar belakang
pengalaman dan pendidikan yang berbeda.
2.2 Kinerja
2.2.1 Pengertian Kinerja
Kinerja dapat diartikan sebagai hasil kerja atau prestasi kerja. Kinerja
dapatdikatakan sebagai hasil dari pekerjaan yang memiliki hubungan yang kuat
dengan tujuan, strategi dari organisasi atau kelompok, kepuasan pada konsumen
17
dan dapat memberikan kontribusi pada ekonomi nantinya. Kinerja juga dapat
diartikan sebuah pencapaian kerja dalam mencapai atau mewujudkan tujuan,
sasaran, visi, misi dalam organisasi tersebut melalui strategi-strategi. Kinerja
menunjukan adanya hasil atau kemampuan dari karyawan dalam melaksanakan
tugas dan tanggung jawabnya (Wibowo, 2016). Menurut Mangkunegara kinerja
ialah suatu hasil kerja secara kuantitas maupun kualitas baik yang telah dicapai
oleh karyawan dalam menyelesaikan tugas dan tanggung jawab yang telah
diberikan.
2.2.2 Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja
Kinerja karyawan dapat dikatakan baik atau tidaknya dapat dilihat dari apa
yang mempengaruhi kinerja seseorang itu sebagai karyawan, maka dari itu ada
tiga faktor yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan dalam suatu organisasi
yaitu :
1. Faktor Kemampuan, yaitu faktor yang mencerminkan talenta dan
keterampilan karyawan, yang dapat meliputi intelegensi, keterampilan
interpersonal dan pengetahuan pekerjaan
2. Faktor Motivasi, faktor ini dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal
(seperti penghargaan dan hukuman) tetapi pada dasarnya merupakan suatu
dorongan internal untuk karyawan dalam menyelesaikan tugasnya
3. Faktor Situasi atau sistem, yaitu meliputi sejumlah karakteristik atau situasi
dalam organisasi itu sendiri yang dapat mempengaruhi kinerja para
karyawan baik positif maupun negatif.
18
2.2.3 Tujuan Penilaian dalam kinerja
Kerja seorang karyawan nantinya pasti akan dinilai yaitu sejauh mana
karyawan dapat memberikan kualitas yang maksimal dan kontribusinya untuk
organisasi itu sendiri. Penilaian kinerja dapat membantu organisasi untuk
mengetahui perencanaan sumber daya manusia demi kepentingan peningkatan
kinerja karyawan di masa datang. Penilaian kinerja menyangkut kredibilitas
karyawan dan sebagai tolak ukur dalam memperbaiki sistem kerja nantinya.
Menurut Attwood dan Dimmock dalam Sedarmayanti (2010:264), mengatakan
bahwa penilaian kinerja tersebut dapat bertujuan sebagai berikut :
1. Dapat membantu meningkatkan kinerja karyawan.
2. Dapat menetapkan sasaran bagi kinerja karyawan.
3. Dapat menyepakati rencana untuk dapat mengembangkan karyawan
dimasa yang akan datang.
4. Dapat menilai kebutuhan pengembangan dan pelatihan.
5. Dapat menilai potensi di masa depan untuk dapat kenaikan pangkat.
6. Dapat memberi umpan balik kepada para karyawan mengenai kinerja
mereka.
7. Dapat memberi konsultasi kepada para karyawan mengenai peluang
karir.
8. Dapat menentukan taraf kinerja karyawan untuk peninjauan gaji.
9. Dapat mendorong pimpinan untuk dapat berfikir cermat mengenai
kinerja staf atau karyawannya.
19
2.2.4 Indikator Dalam Mengukur Kinerja
Menurut Sedarmayanti (2014 : 5) indikator Good Government Governance
adalah : Partisipasi (participation), Transparansi (transparency), Akuntabilitas
(accountability), Efektivitas (effectiveness), Penegakan Hukum (law
enforcement). Berikut ini adalah penjelasan dari Cara pengukuran atau indikator
diatas :
1. Partisipasi (participation) adalah setiap orang baik laki-laki maupun
perempuan harus memiliki hak suara yang sama dalam proses
pengmbilan keputusan, baik secara langsung maupun melalui Lembaga
Perwakilan sesuai dengan kepentingan dan aspirasinya
2. Transparansi (transparency) adalah harus dibangun dalam kerangka
kebebasan aliran informasi berbagai proses, kelembagaan, informasi
harus dapat di akses secara bebas oleh meraka yang membutuhkan dan
informasi harus dapat disediakan secara memadai dan mudah
dimengerti sehingga dapat digunakan alat monitoring dan evaluasi.
3. Akuntabilitas (accountability) adalah para pengambil keputusan dalam
organisasi sektor pelayanan dan warga negara memiliki
pertanggungjawaban kepada publik sebagaimana halnya stakeholder
pertanggungjawaban tersebut berbeda-beda. Tergantung pada jenis
keputusan organisasi itu bersifat internal atau eksternal.
4. Efektivitas (effectiveness) adalah proses dan lembaga yang
menghasilkan sesuai dengan apa yang telah digariskan dengan
menggunakan sumber-sumber yang tersedia dengan sebaik mungkin.
20
5. Penegakan hukum (law enforcement) adalah hukum harus adil dan
dilaksanakan tanpa pandang bulu, terutama hukum hak azasi manusia
dan dalam bentuk merugikan Negara.
2.2.5 Pengertian Profesionalisme
Profesional dikatakan sebagai sesuatu yang bersangkutan dengan profesi,
memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankanya, dan mengharuskan adanya
pembayaran untuk menjalankanya, dan mengharuskanya adanya pembayaran
untuk melakukanya. Profesional diartikan pula sebagai usaha untuk menjalankan
salah satu profesi berdasarkan keahlian dan keterampilan yang dimiliki seseorang
dan berdasarkan profesi itulah seseorang mendapatkan suatu imbalan pembayaran
berdsarkan standart profesinya. Pekerjaan yang bersifat profesional adalah
pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang khusus dipersiapkan
untuk itu dan bukan pekerjaan yang dikerjakan oleh mereka yang karena tidak
memperoleh pekerjaan lain.
Oxford Dictionary menjelaskan profesional adalah orang yang melakukan
sesuatu dengan memperoleh pembayaran, sedangkan yang lain tanpa pembayaran.
Seseorang akan menjadi profesional bila ia memiliki pengetahuan dan
keterampulan bekerja dalam bidangnya. Kecakapan dan keahlian seseorang
profesional bukan sekedar hasil pembiasaan atau latihan rutin yang terkondisi.
Tetapi perlu didasari wawasan yang mantap, memiliki wawasan sosial yang luas,
bermotiwasi dan beruasaha untuk bekarya.
Menurut sanuni [Link] profesional menunjukan pada dua hal. Pertama,
orang yang manyandang suatu profesi, misalnya “dia seorang profesional”.
21
Kedua, penampilan seseorang dalam melakukan pekerjaanyayang sesuai dengan
profesinya. Pengertian kedua ini, profesional dikontraskan dengan “non-
profesional” atau “amatir”
2.2.6 Profesionalisme Kinerja
Profesionalisme kinerja dapat diartikan sebagai suatu kemampuan dan
keterampilan seseorang dalam melakukan pekerjaan menurut bidang dan
tingkatan masing-masing. Profesionalisme menyangkut kecocokan (fitness),
antara kemampuan yang dimiliki oleh birokrasi (bereaucratic-competence) dengan
kebutuhan tugas (task-reguerement), terpenuhi kecoocokan antara kemampuan
dengan kebutuhan tugas merupakan syarat terbentuknya aparatur yang
profesional. Artinya keahlian dan kemampuan aparat merefleksikan arah dan
tujuan yang ingin dicapai oleh sebuah organisasi (kurniawan, 2005:74).
Menurut Siagian, (2009:63) Profesionalisme adalah “Keandalan dan
keahlian dalam pelaksanaan tugas sehingga terlaksana dengan mutu tinggi, waktu
yang tepat, cermat, dan dengan prosedur yang mudah dipahami dan diikuti oleh
pelanggan”.
Profesionalisme pegawai sangat ditentukan oleh tingkatan kemampuan
pegawai yang tercermin melalui perilakunya sehari-hari dalam organisasi. Tingkat
kemampuan pegawai yang tinggi akan lebih cepat mengarah kepada pencapaian
tujuan organisasi yang telah di rencanakan sebelumnya, sebaiknya apabila tingkat
kemampuan pegawai rendah kecenderungan tujuan organisasi yang akan dicapai
akan lambat bahkan menyimpang dari rencana semula.
22
Berdasarkan pendapat sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa
Profesionalisme adalah kemampuan aparatur dalam menyelenggarakan tugas dan
memberikan pelayanan kepada masyarakat secara efektif serta mampu secara
cepat dan tepat menanggapi aspirasi masyarakat dan perubahan lainnya sehingga
dapat memuaskan masyarakat.
2.2.7 Faktor Yang Menghambat Sikap Profesionalisme Kinerja
Menurut Siagian, (2000:164) Faktor yang menghambat terciptanya
aparatur yang professional antara lain lebih disebabkan :Profesionalisme aparatur
sering terbentur dengan tidak adanya iklim yang kondusif dalam dunia birokrasi
untuk menanggapi aspirasi masyarakat dan tidak adanya ketersediaan pemimpin
untuk memberdayakan bawahan. Pendapat tersebut meyakini bahwa system kerja
birokrasi public yang berdasarkan juklak dan juknis membuat aparat menjadi
tidak responsif serta juga karena tidak berperannya pemimpin sebagai pengarah
(katalisator) dan pemberdaya bagi bawahan.
2.2.8 Indikator Profesionalisme Kinerja
Menurut Sondang P. Siagian (2009:163) Indikator Profesionalisme adalah
sebagai berikut :
a. Kemampuan
Kemampuan adalah kecakapan atau potensi menguasai suatu keahlian
yang merupakan bawaan sejak lahir atau merupakan hasil latihan atau
praktik dan digunakan untuk mengerjakan sesuatu yang diwujudkan
melalui tindakannya.
23
b. Kualitas
Kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan
produk, layanan, manusia, proses, lingkungan yang memenuhi atau
melebihi harapan.
c. Sarana dan prasarana
Sarana dan prasarana adalah merupakan seperangkat alat yang digunakan
dalam suatu proses kegiatan baik alat tersebut adalah merupakan peralatan
pembantu maupun peralatan utama, yang keduanya berfungsi untuk
mewujudkan tujuan yang hendak dicapai.
d. Jumlah SDM
Jumlah SDM suatu potensi yang ada dalam diri seseorang yang dapat
berguna untuk menyokong suatu organisasi atau perusahaan sesuai dengan
keterampilan atau kemampuan yang dimiliki.
e. Teknologi informasi
Teknologi informasi seperangkat alat yang membantu anda bekerja dengan
informasi dan melaksanakan tugas-tugas yang berhubungan dengan
pemrosesan informasi.
f. Keandalan
Keandalan adalah konsistensi dari serangkaian pengukuran atau
serangkaian alat ukur. Hal tersebut bisa berupa pengukuran dari alat ukur
yang sama (tes dengan tes ulang) akan memberikan hasil yang sama.
24
2.3 Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu ini menjadi salah satu acuan untuk melakukan
penelitian yang akan dilakukan, sebagai referensi untuk memperkaya bahan kajian
penelitian yang akan dilakukan. Berikut beberapa penelitian terdahulu yang
berkaitan dengan penelitian yang pernah dilakukan :
Tabel 3.1 Penelitian Terdahulu
No Nama, Tahun, dan
Judul Penelitian Hasil Penelitian Persamaan Perbedaan
1 Diana Azwina, Komunikasi Persamaan Adapun
(2020) organisasi pada PT. pada penelitian perbedaan pada
Universitas Gapa Citramandiri ini yaitu penelitian ini
Pamulang, sudah baik, hal ini terletak pada yaitu terletak
Pengaruh dapat diukur tujuan pada metode
Komunikasi berdasarkan nilai penelitian yang penelitian yang
Organisasi rata – rata hasil bertujuan digunakan adalah
Terhadap kuesioner variabel untuk kuantitatif
Kinerja komunikasi mengetahui asosiatif. Metode
Karyawan PT. organisasi sebesar pengaruh pengumpulan data
Gapa Citra 4,17 yang berada komunikasi dilakukan melalui
Mandiri, Radio pada interval skala organisasi studi kepustakaan
Dalam-Jakarta 3,40 – 4,19. terhadap serta studi
Selatan kinerja lapangan dengan
karyawan cara observasi
dan penyebaran
kuesioner.
2 Agung Suprojo Pentingnya Terdapat Perbedaan pada
(2013), komunikasi dalam persamaan penelitian ini
Universitas setiap pelaksanaan pada terletak pada
Tribhuwana berbagai kegiatan peneliitian ini teknik penarikan
Tunggadewi, atau kerja suatu yaitu sampel yang
Peran organisasi, menggunakan dimana teknik
komunikasi menjadikannya metode penarikan sampel
organisasi pada sebagai penentu penelitian pada penelitian
pemerintah desa dalam mengukur kualitatif yang ini menggunakan
landungsari keefektifan dan mencoba teknik snowball
dalam efisiensi dari mendeskripsik atau teknik
menunjang organisasi tersebut. an peran penentuan sampel
pelayanan Yang menunjukan komunikasi yang mula-mula
administrasi apakah organisasi pada jumlahnya kecil,
kepada tersebut telah pemerintah kemudian
masyarakat berhasil mencapai desa menjadi besar
25
suatu target yang seperti bola salju
telah ditentukan dan yang
disepakati terlebih menggelinding
dahulu, khususnya di
sini pada
pelaksanaan
pelayanan
administrasi kepada
[Link]
sering terjadi suatu
organisasi kurang
mampu
menunjukkan
produktifitasnya,
dalam artian masih
lemahnya kinerja
organisasi tersebut
dalam pencapaian
suatu target atau
hasil yang telah
disepakati terlebih
dahulu.
3 Dwi Indah Hasil penelitian ini Persamaan Perbedaan pada
Sulistiani menunjukkan bahwa penelitian ini penelitian ini
(2023), UIN komunikasi yaitu bertujuan terletak pada
Sultan Syarif organisasi untuk metode penelitian
Kasim Riau, pemerintahan desa mengetahui yang digunakan.
Pengaruh (X) berpengaruh bagaimana Adapun metode
Komunikasi signifikan secara pengaruh penelitian yang
Organisasi simultan dalam komunkasi digunakan yaitu
Pemerintahan meningkatkan organisasi menggunakan
Desa Dalam kinerja aparatur desa pemerintahan metode penelitian
meningkatkan (Y) dengan nilai desa dalam kuantitatif dengan
kinerja Aparatur korelasi 0,776 jika di meningkatkan tipe deskriptif dan
Desa Kulim presentasekan kinerja teknik
Jaya Kabupaten sebesar 77,6% aparatur desa. pengambilan data
Indragiri Hulu sedangkan nilai melalui
signifikasi 0,000, penyebaran
karena nilai kuesioner.
signifikasi 0,000 <
0,05, maka
pernyataan Ha
diterima dan H0
ditolak dengan nilai r
hitung > t tabel atau
8,882 ≥ 0,279 ,
26
dengan nilai
signifikasi 0,000 dan
tergolong kuat
pengaruhnya dengan
nilai 0,776 atau
77,6% yang berada
pada interval 0,60 –
0,799. Sedangkan
0,224 atau 22,4%
dipengaruhi oleh
faktor lainnya. Kata
Kunci: Pengaruh,
Komunikasi
Organisasi, Kinerja,
Aparatur Desa
4 Slamet Hasil penelitian ini Persamaan Perbedaan pada
Bambang Riono menunjukkan pada penelitian penelitian ini
(2020), bahwa komunikasi ini yaitu untuk yaitu terletak
Universitas organisasi, budaya mengetahui pada variabel
Muhadi organisasi dan dan peneltian yang
Setiabudi komitmen menganalisis digunakan. Pada
(UMUS) organisasi pada pengaruh penelitian ini
Brebes, penelitian ini komunikasi menggunakan
Pengaruh berpengaruh organisasi budaya organisasi
Komunikasi signifikan terhadap pada kerja dan komitmen
Organisasi, kinerja pegawai. pegawai organisasi sebagai
Budaya Berdasarkan hasil varibel penelitian.
Organisasi dan koefisien
Komitmen determinasi
Organisasi diperoleh nilai R
Terhadap sebesar 0,722. Hal
Kinerja Pegawai itu berarti bahwa
Di Rumah Sakit variable komunikasi
dr. Soeselo organisasi, budaya
Kabupaten organisasi dan
Tegal komitmen
organisasi memiliki
pengaruh sebesar
72,2% terhadap
kinerja pegawai,
sedangkan 17,8%
dipengaruhi oleh
variabel lainnyadi
luar penelitian ini.
5 Fidderman Gori Hasil penelitian Persamaan Perbedaan pada
(2020), menunjukkan bahwa pada penelitian penelitian ini
27
Universitas pola dan proses ini terletak terletak pada
Darma Agung, komunikasi yang pada rumusan masalah
pola komunikasi digunakan adalah penggunaan yang dimana
organisasi dalam pola saluran total metode rumusan masalah
meningkatkan yakni memberikan penelitian yang dalam penelitian
kinerja kepala kebebasan untuk digunakan ini yaitu
desa marao menyampaikan yaitu dengan agaimana pola
kecamatan informasi baik dari menggunakan dan proses
ulunoyo Kepala Desa pendekatan komunikasi
kabupaten nias ataupun perangkat metode organisasi antara
selatan desa begitu juga deskriptif Kepala Desa
[Link] kualitatif. Marao dengan
faktor perangkat desa
penghambatnya dalam
adalah meningkatkan
miscomunication kinerja
yang terjadi antara pemerintah desa,
Kepala Desa dan faktor apa
dengan perangkat saja yang
desa dan begitu juga menjadi
dengan sebaliknya, penghambat
hambatan semantik dalam proses
dan hambatan fisik komunikasi
organisasi
tersebut.
2.4 Kerangka Pikir
Kerangka pikir merupakan gambaran alur penelitian yang akan
dilakukan nantinya, yang pada dasarnya merupakan gambaran dari kinerja
teori dalam memberikan alternatif solusi atau saran dari serangkaian
masalah.
Adapun alur pada penlitian ini, yaitu dalam komunikasi organisasi
perlu menggunakan strategi komunikasi dalam membentuk
profesionalisme kinerja perangkat desa untuk mengetahui kinerja dan
kualitas pelayanan yang diberikan oleh perangkat desa kepada masyarakat
di Desa Horodopi, Kec. Benua, Kab. Konawe Selatan.
28
Berdasarkan uraian diatas dapat dilihat gambaran alur penelitian
yang akan dilakukan nantinya pada kerangka pikir dibawah :
Bagan Kerangka Pikir 2.1
Komunikasi Organisasi Dalam
Membentuk Profesionalisme Kinerja
Perangkat Desa
Pemerintah Desa
Faktor – Faktor
Komunikasi Organisasi (X)
Komunikasi Atasan Ke
Bawahan (Downward Profesionalisme Kinerja
Aparatur Desa (Y) :
communication)
Partisipasi (Participation)
Komunikasi Bawahan Ke
Transparansi (Transparency)
Atasan (Upward)
Akuntabilitas (Accountability)
Komunikasi Horizontal
Efektivitas (Effectiveness)
(Horizontal communication)
Penegakan Hukum (Law
2.5 Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah jawaban sementara dari permasalahan yang ada. Menguji
hipotesis bukanlah membenarkan atau menyalahkan hasil penelitian. Namun,
menguji hipotesis itu untuk menolak atau menerima jawaban hasil dari
permasalahan penelitian tersebut.
Berdasarkan kajian empirik, kerangka pikir penelitian dan teori yang telah
dinyatakan sebelumnya, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah :
29
Ha : Adanya Pengaruh Signifikan Antara Komunikasi Organisasi
Pemerintahan Desa Dalam Meningkatkan Profesionalisme Kinerja
Aparatur Desa Horodopi, Kecamatan Benua, Kabupaten Koanwe
Selatan
H0 : Tidak Adanya Pengaruh Signifikan Antara Komunikasi Organisasi
Pemerintahan Desa Dalam Meningkatkan Profesionalisme Kinerja
Aparatur Desa Horodopi, Kecamatan Benua, Kabupaten Koanwe
Selatan
30
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini akan di lakukan di kantor Desa Horodopi, Kecamatan
Benua, Kabupaten Konawe Selatan.
3.2 Populasi dan Sampel
3.2.1 Populasi
Populasi adalah totalitas semua nilai, baik kuantitatif ataupun kualitatif dari
pada karakteristik tertentu mengenai sekumpulan obyek yang lengkap dan jelas.
Kemudian untuk menjadikan patokan populasi apabila subjek kurang dari 100,
lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi.
Selanjutnya jika subjeknya besar dapat diambil antara 10% sampai 15% atau 20%.
Maka dari itu populasi dalam penelitian ini adalah seluruh aparatur desa
dalam pemerintahan desa horodopi yang berjumlah 15 orang. Hal ini dapat dilihat
dari jumlah aparatur kantor desa itu sendiri berjumlah 7 orang termasuk kepala
desa dan bawahannya, Kemudian ada RT Horoodopi berjumlah 4 orang, dan RW
berjumlah 4 orang.
3.2.2 Sampel
Sampel merupakan sebagian dari seluruh jumlah populasi yang diambil
dari populasi dengan cara sedemikian rupa sehingga dapat dianggap mewakili
seluruh anggota populasi. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini
menggunakan sampel jenuh, Menurut Sugiyono (2019: 85) Sampling jenuh adalah
teknik penentuan sampel jika semua anggota dari populasi dijadikan sampel.
31
Dengan demikian karena populasi dari pemerintahan desa horodopi tidak
lebih dari 100 orang atau kurang dari 100 maka semua populasi akan dijadikan
sampel sehingga dalam penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel
jenuh. Sebagaimana hal yang disampaikan oleh Ridwan (2013:119) bahwasannya
jika subjek penelitian kurang dari 100, maka sampel diambil keseluruhan dari
populasi. Dengan begitu sampel dalam penelitian ini berjumlah 15 orang
pemerintahan desa horodopi.
3.3 Jenis dan Sumber data
3.3.1 Jenis Data Penelitian
Data adalah segala sesuatu yang diketahui atau dianggap mempunyai sifat
bisa memberikan gambaran tentang suatu keadaan atau persoalan (Supranto,
2001). Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan
pendekatan kuantitatif.
Data kuantitatif, yaitu data yang dapat dinyatakan dalam bentuk angka-
angka yang dapat dihitung. Dalam penelitian ini yang termasuk dalam data
kuantitatif adalah jumlah perangkat desa dan tanggapan responden yang diukur
dengan menggunakan skala likert.
3.3.2 Sumber Data Penelitian
1. Data Primer
Data yang di peroleh dengan melakukan pendataan langsung ke
lapangan menggunakan pedoman kuesioner, observasi dan dokumentasi.
2. Data Sekunder
Data sekunder, diperoleh dari sebuah buku, internet, artikel dan
penelitian terdahulu yang sudah di lakukan demi kepentingan teori
32
mengenai komunikasi organisasi dalam membentuk profesionalisme kinerja
perangkat desa.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulkan data merupakan prosedur yang sistematik dan
standar untuk memperoleh data yang diperlukan. Dalam penelitian ini, peneliti
menggunakan metode pengumpulan data antara lain sebagai berikut :
a. Kuesioner
Kuesioner ialah data yang nantinya harus diisi oleh responden
penelitian ini. Yang biasa disebut dengan angket. Tujuan penyebaran
kuesioner ini ialah mencari berbagai informasi mengenai masalah dari dalam
penelitian ini yang dirasakan oleh responden.
b. Metode Observasi
Observasi merupakan suatu kegiatan mendapatkan informasi yang
diperlukan untuk menyajikan gambaran rill suatu peristiwa atau kejadian
untuk menjawab pertanyaan penelitian, untuk membantu mengerti perilaku
manusia, dan untuk evaluasi yaitu melakukan pengukuran terhadap aspek
tertentu melakukan umpan balik terhadap terhadap pengukuran tesebut.
c. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan metode pengumpulan data kualitatif
sejumlah besar fakta dan data tersimpan dalam bahan yang terbentuk
dokumentasi. Dokumentasi juga kajian dari bahan dokumenter yang tertulis
dapat berupa buku teks, surat kabar, surat, film, naskah, artikel, dan lain-lain
33
3.5 Uji Instrumen
3.5.1 Uji Validitas
Uji validitas ini dilakukan untuk dapat mengetahui apakah terdapat
kesamaan antara data yang sudah terkumpul dengan data yang aktual yang terjadi
pada objek yang diteliti. Menurut Sugiyono (2016:121) bahwasannya hasil
penelitian yang valid apabila terdapat kesamaan antara data yang telah terkumpul
dengan data yang sesungguhnya terjadi dalam objek penelitian tersebut. Uji
validitas dapat diperoleh dari cara mengkorelasi setiap skor indikator dengan skor
total, skor indikator variabel. Hasil korelasi dapat dibandingkan dengan nilai kritis
pada taraf signifikan 0,05, kemudian pengukuran dapat dikatakan valid jika
pengukuran tujuan tepat berdasarkan fakta. Untuk dapat menguji instrumen
penelitian, rumus yang digunakan dalam penelitian ini ialah Koefisien Korelasi
Product Moment :
𝑛∑𝑥i𝑥𝑡 − (∑𝑥i)(∑𝑥𝑡)
𝑟=
√{𝑛∑𝑥i2 − (∑𝑥i)2}{𝑛∑𝑥i2 − (∑𝑥𝑡)2}
Keterangan :
r = Nilai Koefisien Korelasi
n = Jumlah Sampel (responden)
xi = Skor Setiap Butir Pertanyaan
xt = Skor Total Butir Pertanyaan
Selanjutnya, nilai rhitung dibandingkan dengan rtabel pada tingkat alfa (taraf
kesalahan) 5% dengan kriteria keputusan :
a. Apabila rhitung ≥ rtabel (α = 5%) maka alat ukur valid.
b. Apabila rhitung < rtabel (α – 5%) maka alat ukur tidak valid
34
3.5.2 Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas instrumen dimaksudkan untuk mengetahui tingkat
kehandalan suatu alat ukur yang digunakan dalam mengukur variabel yang
akan diukur. Dengan kata lain uji reliabilitas dalam penelitian ini adalah
sehubungan dengan pertanyaan apakah alat ukur (instrument) yang digunakan
dalam mengukur kualitas jasa, harga dan kepuasan pelanggan dapat
digunakan oleh peneliti lain secara berulang-ulang dengan hasil pengukuran
yang sama pada tingkat kepercayaan (significance level) sebesar α = 0,05.
Untuk menghasilkan indeks atau angka koefisien reliabilitas akan digunakan
program SPSS versi 21. Suatu instrument dikatakan reliabel jika nilai alpha
cronbach sebesar ≥ 0,6 (Malhotra 2012:317).
3.6 Metode Analisis Data
Analisis data adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja
dengan data, menemukan pola, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat
dikelola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari dan
memutuskan apa yang diceritakan orang lain. Teknik analisis data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah teknik deskriptif kuantitatif dengan
membuat gambaran yang dilakukan dengan cara :
a. Analisis Data Deskriptif (Kuantitatif)
Statistik deskriptif ialah kegiatan perhitungan statistik yang
dimulai dari pengumpulan data, penyusunan data, mengolah data,
menyajikan dan menganalisis data angka, tujuannya dapat memberikan
gambaran tentang suatu peristiwa, keadaan atau gejala. Setelah semua data
35
terkumpul melalui angket, kemudian data tersebut diolah dan dari masing-
masing alternative jawaban dicari persentase jawabannya dalam item
pertanyaan masing-masing variabelnya.
𝑭
𝑷= × 𝟏𝟎𝟎%
𝑵
Keterangan :
P = Angka Persentase
F = Frekuensi Yang Dicari
N = Number Of Case (Jumlah Frekuensi/Banyak Individu)
Kemudian setiap jawaban dari angket yang telah disebarkan akan
mendapat penilaian menggunakan skala likert. Skala likert itu sendiri
adalah suatu series butir (butir soal) yang mana responden hanya
memberikan persetujuannya atau tidak setujunya terdapat dalam butiran
soal tersebut. Skala ini dapat mengukur sikap individu terhadap variabel
yang diteliti. Adapun alternatif jawaban dalam skala likert ini untuk dapat
memudahkan responden menjawab, sebagai berikut :
Tabel 3.1 Skala Likert
Sangat Tidak Cukup
Setuju Sangat Setuju
Tidak Setuju Setuju Setuju
(STS) (TS) (CS) (S) (SS)
1 2 3 4 5
Setelah hasil penelitian atau data di dapat menggunakan kuesioner,
maka penulis mengklasifikasikan hasil tersebut dengan nilai sebagai
berikut:
36
Tabel 3.2 Interval Koefisien
Tingkat Hubungan Interval
Sangat Tidak Baik 0,00 - 0,199
Tidak Baik 0,20 - 0,399
Cukup Baik 0,40 - 0,599
Baik 0,60 - 0,799
Sangat Baik 0,80 – 1,000
b. Analisis Linear Sederhana
Data yang sudah dikategorikan kemudian akan dimasukkan
kedalam rumus regresi linier sederhana karena dalam penelitian ini hanya
terdapat 2 variabel yaitu variabel X dan Y. Rumus ini digunakan untuk
mencari hubungan variabel prediktor terhadap kriterianya. Rumus regresi
linier sederhana ialah sebagai berikut:
Y = a + bX
Keterangan :
Y = Subjek dalam variabel dependen yang diprediksikan
a = harga konstan (ketika harga X=0)
b = koefisien regresi
X = nilai variabel independen
c. Uji Hipotesis
Ha : Adanya Pengaruh Signifikan Antara Komunikasi Organisasi
Pemerintahan Desa Dalam Meningkatkan Profesionalisme Kinerja
Aparatur Desa Horodopi, Kecamatan Benua, Kabupaten Koanwe
Selatan
37
H0 : Tidak Adanya Pengaruh Signifikan Antara Komunikasi Organisasi
Pemerintahan Desa Dalam Meningkatkan Profesionalisme Kinerja
Aparatur Desa Horodopi, Kecamatan Benua, Kabupaten Koanwe
Selatan
Kriteria pengujian hipotesisnya adalah sebagai berikut :
Jika rhitung > rtabel, maka Ha diterima dan H0 ditolak
Jika rtabel < rhitung, maka Ha diterima dan H0 ditolak
3.7 Desain Operasional Penelitian
Desain penelitian adalah kerangka kerja yang digunakan untuk
melaksanakan penelitian yang dilakukan. Desain penelitian merupakan dasar
dalam melakukan penelitian. Oleh sebab itu desain penelitian dalam penelitian ini
sebagai berikut :
Tabel 3.3 Matriks Desain Operasional Penelitian
No. Unit Analisis Struktur Kerangka Teknik Pengumpulan
Analisis Data
1. komunikasi organisasi Kinerja dapat diartikan 1. Observasi
dalam membentuk sebagai hasil kerja atau 2. Wawancara
profesionalisme prestasi kerja. Kinerja 3. Dokumentasi
kinerja perangkat desa dapat dikatakan
sebagai hasil dari
pekerjaan yang
memiliki hubungan
yang kuat dengan
38
tujuan, strategi dari
organisasi atau
kelompok, kepuasan
pada konsumen dan
dapat memberikan
kontribusi pada
ekonomi nantinya.
Kinerja juga dapat
diartikan sebuah
pencapaian kerja
dalam mencapai atau
mewujudkan tujuan,
sasaran, visi, misi
dalam organisasi
tersebut melalui
strategi-strategi.
Kinerja menunjukan
adanya hasil atau
kemampuan dari
karyawan dalam
melaksanakan tugas
dan tanggung
jawabnya
39
Kualitas Pelayanan
dapat diartikan sebagai
berfokus pada
memenuhi kebutuhan
dan persyaratan, serta
pada ketepatan waktu
untuk memenuhi
harapan pelanggan.
Kualitas Pelayanan
berlaku untuk semua
jenis layanan yang
disediakan oleh
perusahaan saat klien
berada di perusahaan.
3.8 Konseptualisasi
1. Komunikasi organisasi dapat dilihat dari dua sudut pandang, yaitu
definisi subjektif dan objektif komunikasi [Link] kedua
sudut pandang tersebut memiliki ciri khasnya masing-masing.
pertama, pengertian komunikasi organisasi dalam perspektif
subjektif yaitu sebuah perilaku pengoganisasian yang terjadi, dan
bagaimana mereka yang telah terlibat dalam proses perilaku
pengorganisasian itu berinteraksi dan dapat memberi makna dari apa
40
yang telah terjadi. Maka dari itu pada perspektif ini dapat ditekankan
adalah sebuah proses penciptaan makna dari sebuah interaksi yang
memelihara, menciptakan dan mengubah suatu organisasi tersebut.
kedua, pengertian komunikasi organisasi juga dapat dilihat dalam
perspektif objektif yaitu suatu kegiatan penanganan pesan yang
terkandung di dalam suatu batasan organisasi. Maka dari itu pada
perspektif ini lebih ditekankan yaitu pada komunikasi sebagai suatu
alat yang dapat memungkinkan orang beradaptasi dengan lingkungan
mereka
2. Kinerja dapat diartikan sebagai hasil kerja atau prestasi kerja.
Kinerja dapat dikatakan sebagai hasil dari pekerjaan yang memiliki
hubungan yang kuat dengan tujuan, strategi dari organisasi atau
kelompok, kepuasan pada konsumen dan dapat memberikan
kontribusi pada ekonomi nantinya. Kinerja juga dapat diartikan
sebuah pencapaian kerja dalam mencapai atau mewujudkan tujuan,
sasaran, visi, misi dalam organisasi tersebut melalui strategi-strategi.
Kinerja menunjukan adanya hasil atau kemampuan dari karyawan
dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya
3. Kualitas Pelayanan dapat diartikan sebagai berfokus pada memenuhi
kebutuhan dan persyaratan, serta pada ketepatan waktu untuk
memenuhi harapan pelanggan. Kualitas Pelayanan berlaku untuk
semua jenis layanan yang disediakan oleh perusahaan saat klien
berada di perusahaan.
41
DAFTAR PUSTAKA
Adamy Marbawi. (2016). Manajemen Sumber Daya Manusia Teori, Praktik
dan Penelitian (Universitas Malikussaleh: Unimal Press)
Agustinnur Sopian. (2019). Pengaruh Komunikasi Organisasi Terhadap
Kinerja Pegawai (Indralaya: Universitas Brawijaya)
Aini Muhammad. (2000). Komunikasi Organisasi, (Jakarta: Bumi Aksara).
Ananda, Imam Wahyu. (2021). Pola Komunikasi Organisasi Himpunan
Mahasiswa Bener Meriah (Himabem) Di Kota Medan Dalam
Meningkatkan Solidaritas Keanggotaan (Medan: Universitas
Muhammadiyah Sumatera Barat).
Aprianti. (2016). Pengertian Organisasi. Organisasi, 84, 14.
[Link] [Link]
Arfia Kurnia Putri, D. (2021). Pengaruh Kompetensi Aparatur Desa,
Pemanfaatan Teknologi Informasi, Dan Pengawasan Terhadap
Akuntabilitas Pengelolaan Dana Desa Di Kecamatan Jenangan
Kabupaten Ponorogo. hlm. 14.
Arif, M., & Indrawijaya, S. (2021). Kompetensi Dan Komunikasi Organisasi
Terhadap Kinerja Pegawai Yang Dimediasi Oleh Motivasi Kerja (Studi
Pada Dinas Penanaman Modal Dan Perizinan Terpadu Satu Pintu
(DpmPtsp) Provinsi Jambi). Jurnal Manajemen Terapan Dan Keuangan,
10(02), 316.
Asrori. (2014). Kapasitas Perangkat Desa Dalam Penyelenggaraan
Pemerintahan Desa di Kabupaten Kudus. (Jakarta : Badan Penelitian dan
Pengembangan Kemendagri), cet. ke-1, hal. 112
Azwina, D., & Yusuf, S. (2020). Pengaruh Komunikasi Organisasi Terhadap
Kinerja Karyawan Pada Pt. Gapa Citramandiri, Radio Dalam – Jakarta
Selatan
Bonarja Purba Dkk. (2020). ilmu Komunikasi: Sebuah pengantar ( Yayasan
Kita Menulis).
Burhan Bungin. (2007). Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma dan
Diskursus Teknologi Komunikasi di masyarakat, (Jakarta:Kencana)
Deddy Mulyana. (2005). Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, (Bandung:
Remaja Rosdakarya).
42
Diana Azwina dan Shahnaz Yusuf, (2020) Fakultas Ekonomi Universitas
Pamulang. Jurnal Disrupsi Bisnis, 3(1), 29.
Eriyanto. (2011). Analisis Isi, (Jakarta: Kencana)
Eva, L. S., & Boge, T. (2017). Pengaruh Komunikasi, Motivasi Dan Kerjasama
Tim Terhadap Peningkatan Kinerja Karyawan, Jurusan Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Merdeka Malang. Jurnal
Manajemen & Kewirausahaan, 5(1), 49.
Evi Zahara. (2018). Peranan Komunikasi Organisasi Pimpinan Organisasi.
Peranan Komunikasi Organisasi Bagi Pimpinan Organisasi, 1829–
7463(April), 1.
Hafied Cangra. (2002). Pengantar Ilmu Komunikasi, (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada).
Hugiono dan Poerwantana. (2000). Pengantar Ilmu Sejarah (Jakarta: PT Bina
Aksara).
Indriyanti. (2019). Pola Komunikasi Organisasi Di Kantor Kecamatan Tallo
Kota Makassar (Makassar : Universitas Muhammadiyah Makassar)
Jamil Supriha tiningrum, “Guru Profesional (Pedoman Kerja, Kualifikasi, & Kopetensi
Guru)”
Juliansyah Noor. (2011). Metode Penelitian Skripsi, Tesis, dan Karya Ilmiah,
(Jakarta:Kencana Prenada Group)
Kryantono Rachmat. (2014). Teknik Praktis Riset Komunikasi, (Jakarta:
Prenada Media)
Kurniawan, Agung. (2005). Transformasi Pelayanan Publik. Yogyakarta:
Pembaharuan
Lestari, S. P., & Samodro, C. A. (2018). Pengaruh Komunikasi Organisasi
Atasan Bawahan Terhadap Kinerja Karyawan Koperasi Bmt Fosilatama.
Jurnal Egaliter, 1(2), 75–112.
Mahmudah Lilis. (2021). Analisis Pelayanan Pengurusan Surat Keterangan
Ganti Rugi (SKGR) Di kantor Kepala Desa Kulim Jaya Kecamatan
Lubuk Batu Jaya Kabupaten Indragiri Hulu (Pekanbaru : UIN Suska
Riau)
Malik Adam. (2018). Pengantar Statistik Pendidikan (Yogyakarta:Cv Budi
Utama)
Oktavia, F. (2016). Upaya Komunikasi Interpersonal Kepala Desa Borneo
Sejahtera Dengan Masyarakat Desa Long Lunuk. Ilmu Komunikasi, 4(1),
241.
43
Onong Uchjana Effendy. (2004). Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, (Jakarta:
Remaja Rosdakarya).
Poppy Ruliana. (2014). Komunikasi Organisasi Teori dan Studi Kasus (Jakarta:
Raja Grafindo Persada).
[Link] Pace Don F Falues. (2010). Komunikasi Organisasi, (Bandung:
Remaja Rosdakarya).
Rahman, M. A., & Prasetya, A. (2018). Pengaruh Kepemimpinan dan
Komunikasi Organisasi terhadap Kinerja Karyawan. Jurnal Administrasi
Bisnis (JAB), 63(1), 83.
Rahmanita Ginting. (2022). Pengantar Ilmu Komunikasi (Bandung: Media
Sains Indonesia).
Richard West, Lynn H. Turner. (2013). Pengantar Teori Komunikasi: Analisis
dan Aplikasi, (Jakarta: Salemba Humanika).
Ridwan. (2013). Dasar-Dasar Statistik (Bandung:Alfabeta).
Rina Handayani. (2020). Alumni Fakultas Ekonomi Universitas
Muhammadiyah Sumatera Utara. Kumpulan Jurnal Dosen Universitas
Muhammadiyah Sumatera Utara, 2(1), 419
Safari, T., Zulkarnaen, W., & Nurhanipah, H. (2021). Pengaruh Komunikasi
Organisasi Terhadap Kepuasan Kerja Karyawan Di Pd. Bpr Lpk Garut
Kota Cabang Bayongbong. JIMEA | Jurnal Ilmiah MEA ( Manajemen ,
Ekonomi,DanAkuntansi),5(1),1339–1351.
Sanjaya Wina. (2013). Penelitian Pendidikan: Jenis, Metode dan Prosedur
Edisi Pertama (Jakarta: PT. Fajar Interpratama Mandiri)
Saripuddin, J., & Handayani, R. (2017). Pengaruh Disiplin Dan Motivasi
Terhadap Kinerja Karyawan Pada Pt . Kemasindo Cepat Nusantara
Medan Jasman Saripuddin. Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.
Siagian P. Sondang. 2000. Peran Staf Dalam Manajemen, Jakarta : Bumi Aksara
Slamet Bambang Riono, M. S. dan S. N. U. (2020). Pengaruh Komunikasi
Organisasi, Budaya Organisasi, dan Komitmen Organisasi terhadap
Kinerja Pegawai di Rumah Sakit dr. Soeselo Kabupaten Tegal. Syntax
Idea, 2(4).
Soleh Soemirat, dkk. (2018), Komunikasi Organisasional, (Jakarta: Universitas
Terbuka).
44
Sondang P. Siagian. 2009. Kiat Meningkatkan Produktivitas Kerja. Jakarta: PT.
Rineka Cipta.
Sudijono Anas. (2008). Pengantar Statistik Pendidikan (Jakarta:Raja Grafindo
Persada).
Sugiman. (2018). Bina Mulia Hukum. Pemerintahan Desa, Fakultas Hukum
Universitas Suryadarma, 7(1), 83.
Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D
(Bandung: Alfabeta).
Syaiful Sagala, Kemampuan Profesional Guru Dan Tenaga Kependidikan
Syofian Siregar. (2013). Metode penelitian Kuantitatif. Dilengkapi dengan
Perbandingan Perhitungan Manual & SPSS (Jakarta:Kencana Prenada
Media Group).
Udin Syaefudin, Pengembangan Profesi Guru, (Bandung: Alfabeta, 2017), 6
Wibowo. (2016). Manajemen Kinerja Edisi Kelima (Jakarta: Raja Grafindo
Persada).
Winarno Surakmad. (1982). Pengantar Penelitian Dasar (Bandung: Teknik
Tarsito).
Wiratna, Sujarweni & Endrayanto. (2012) Poly, Statistika Untuk Penelitian,
(Yogyakarta:Graha Ilmu).
Yusuf Muri. (2014). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan Penelitian
Gabungan (Jakarta:Kencana)
45
LAMPIRAN
46
LAMPIRAN PEDOMAN WAWANCARA
I. Identitas Informan
Nama :
Usia :
Jabatan :
Jenis Kelamin :
Pendidikan :
II. Wawancara
Pertanyaan yang diajukan kemungkinan dapat berkembang sesuai dengan
jawaban yang diberikan responden nantinya. Adapun responden yang akan
diwawancarai yaitu seluruh aparatur desa dalam pemerintahan desa horodopi yang
berjumlah 15 orang. Berikut lampiran wawancara kepada responden :
A. Partisipasi
1. Bagaimana partisipasi masyarakat dalam tahap perencanaan yang diawali
dengan Musrengbangdes ?
2. Bagaimana partisipasi yang diberikan masyarakat terhadap pengelolaan
Dana Desa Tahun 2023 ?
3. Apakah masyarakat terlibat secara aktif dalam mengikuti Musrengbangdes ?
4. Apakah setiap adanya rapat evaluasi baik dari kegiatan fisik maupun
nonfisik juga selalu melibatkan masyarakat ?
B. Transparansi
1. Bagaimana peran aparat pemerintah Desa Horodopi dalam menerapkan
prinsip transparansi dalam pembangunan desa di Tahun 2023 ?
47
2. Bagaimana prosedur pengelolaan Dana Desa Tahun 2023 yang dilakukan
aparat pemerintah Desa Horodopi yang menjamin adanya sistem
keterbukaan kepada publik dari seluruh kegiatan yang telah dilakukan ?
3. Bagaimana aparat pemerintah Desa Horodopi dalam memberikan
informasi mengenai tanggungjawab pemerintah terkait pelaksanaan
pembangunan desa ?
4. Apakah kepala desa sebagai peranan penting dalam desa memiliki hak
untuk menentukan skala prioritas atas penggunaan Dana Desa Tahun
2023?
C. Akuntabilitas
1. Bagaimana peran aparat pemerintah Desa Horodopi dalam menerapkan
prinsip akuntabilitas dalam pengelolaan Dana Desa Tahun 2023 ?
2. Bagaimana perwujudan kewajiban aparat pemerintah desa untuk
mempertanggungjawabkan pengelolaan Dana Desa di Desa Horodopi
Tahun 2023 dalam pencapaian tujuan yang telah ditentukan ?
3. Bagaimana pelaksanaan pengelolaan Dana Desa di Desa Horodopi Tahun
2023 sesuai dengan sistem dan prosedur yang melandasinya ?
4. Bagaimana cara mengatasi dan menghadapi jika terdapat kesulitan dalam
pengelolaan Dana Desa Tahun 2023 ?
D. Efektivitas
1. Bagaimana tahapan pengelolaan Dana Desa yang terdapat di Desa
Horodopi Tahun 2023 terutama dalam pembangunan desa ?
48
2. Bagaimana sistem dan prosedur perencanaan pengelolaan Dana Desa di
Desa Horodopi Tahun 2023 ?
3. Bagaimana sistem dan prosedur pelaksanaan pengelolaan Dana Desa di
Desa Horodopi Tahun 2023 ?
4. Bagaimana sistem dan prosedur penatausahaan dalam pengelolaan Dana
Desa di Desa Horodopi Tahun 2023 ?
5. Bagaimana sistem dan prosedur aparat pemerintah desa dalam
pertanggungjawaban pengelolaan Dana Desa di Desa Horodopi Tahun
2023 ?
49