0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan31 halaman

Pengkajian Risiko Jatuh di RTGD

m

Diunggah oleh

Dormauli Hutasoit
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan31 halaman

Pengkajian Risiko Jatuh di RTGD

m

Diunggah oleh

Dormauli Hutasoit
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGKAJIAN RISIKO JATUH

DI RTGD

No. :440/10/UPT
Dokumen D-K03/SOP-
SOP MUTU/II/202
3
No. Revisi :
Tanggal :7 Februari
Terbit 2023
Halaman :1–2
UPTD Leni Suryani Guning, SKM
PUSKESMAS NIP. 19670812 198803 2
BAKTIRAJA 002
1. Pengertian Pengkajian pasien resiko jatuh adalah sebuah proses untuk
menilai dan mengevaluasi pasien yang mempunyai resiko jatuh
2. Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk pengkajian
resiko jatuh di RTGD dan rawat inap
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Nomor 06 Tahun Tentang Kebijakan
Pelayanan Klinis Puskesmas Baktiraja
4. Referensi Peraturan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Nomor 11
tahun 2017 tentang keselamatan pasien
5. Langkah- a. Petugas jaga menggunakan panduan pengkajian resiko jatuh
Langkah pada pasien baru dengan resiko jatuh berupa :
 Morse fall scale untuk pasien jatuh ( 18-60 tahun)
 Humpty dumpy scale untuk pasien anak yang berusia
(12-18 tahun)
b. Petugas jaga memberi tanda resiko jatuh pada RM
c. Petugas jaga memberi penanda resiko tinggi jatuh berupa gelang
identifikasi berwarna kuning
 Dewasa : skor ≥ 51
 Anak: skor ≥ 12
d. Petugas jaga melakukan tatalaksana tindakan pencegahan jatuh
sesuai dengan kriteria Morse fall/ Humpty dumpty
e. Petugas jaga memberikan edukasi pada pasien dang keluarga
pasien dengan resiko jatuh untuk tidak mengubah posisi
pengaman bed tanpa seizin petugas
f. Petugas jaga melakukan pemantauan terhadap pasien dengan
resiko jatuh secara berkala sesuai kondisi pasien
6. Unit terkait Ruang Tindakan dan Gawat Darurat
7. Dokumen 1. Bukti pelaporan kasus KTD, KTC, KPC, KNC
Terkait 2. Bukti monitoring, bukti evaluasi, bukti analisis, bukti tindak
lanjut
8. Rekaman No Yang dirubah Isi Perubahan [Link]
Historis
diberlakuk
Perubahan
an
ALUR PELAYANAN RTGD

No. :440/11/UPT
Dokumen D-K03/SOP-
SOP MUTU/II/202
3
No. Revisi :
Tanggal :7 Februari
Terbit 2023
Halaman :1–2
UPTD Leni Suryani Guning, SKM
PUSKESMAS NIP. 19670812 198803 2
BAKTIRAJA 002
1. Pengertian Pelayanan RTGD adalah pelayanan yang diberikan oleh petugas RTGD
kepada pasien sebagai tindakan pertolongan pertama pada
kegawatdaruratan secara tepat, cepat, dan cermat.
2. Tujuan Sebagai pedoman tindakan pertolongan pertama pada kegawatdaruratan
pasien.
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Nomor 07 Tahun Tentang Kebijakan
Pelayanan Klinis Puskesmas Baktiraja
4. Referensi Peraturan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Nomor 43
tahun 2019 tentang Puskesmas.
5. Langkah- a. Pasien datang dan melakukan pendaftaran
Langkah b. Petugas melakukan pemeriksaan dan penilaian terhadap pasien
sesuai TRIASE dengan waktu <10 menit.
c. Apabila dalam penilaian, kasus bisa ditangani di Puskesmas,
petugas segera melakukan tindakan dengan sebelumnya
menginformasikan biaya tindakan dan meminta pasien atau
keluarga menandatangani informed consent.
d. Apabila dalam penilaian pasien tidak bisa ditangani di
Puskesmas, maka petugas merujuk pasien.
e. Jika pasien sudah ditangani, maka keluarga diarahkan
mengambil obat ke Farmasi.
f. Pasien umum melakukan pembayaran.
g. Petugas melakukan pencatatan dan pelaporan di catatan rekam
medis.

6. Unit terkait 1. Ruang Tindakan dan Gawat Darurat


2. Ruang Laboratorium
3. Ruang Farmasi
7. Dokumen Rekam medis
Terkait

8. Rekaman No Yang dirubah Isi Perubahan [Link]


Historis
diberlakuk
Perubahan
an
RUJUKAN PASIEN

No. :440/13/UPT
Dokumen D-K03/SOP-
SOP MUTU/II/202
3
No. Revisi :
Tanggal :7 Februari
Terbit 2023
Halaman :1
UPTD Leni Suryani Guning, SKM
PUSKESMAS NIP. 19670812 198803 2
BAKTIRAJA 002
1. Pengertian Rujukan pasien adalah suatu proses pengiriman pasien ke fasilitas pelayanan
kesehatan yang lebih tinggi untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
2. Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah – langkah untuk merujuk pasien yang tidak
bisa ditangani di UPTD Puskesmas Baktiraja karena keterbatasan SDM
maupun sarana yang ada.
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Nomor 06 Tahun Tentang Kebijakan
Pelayanan Klinis Puskesmas Baktiraja
4. Referensi Peraturan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Nomor 43
tahun 2019 tentang Puskesmas.
5. Langkah- Petugas / Perawat memanggil pasien masuk ke ruang periksa
Langkah etugas / Dokter melakukan anamnesa
Dokter melakukan pemeriksaan fisik
Dokter mengidentifikasi masalah kesehatan yang terjadi pada pasien
Dokter memberikan informasi kepada pasien mengenai kondisi kesehatan yang
dialami pasien
Dokter menjelaskan bahwa masalah kesehatan yang dihadapi pasien tidak mampu
ditangani di Puskesmas sehingga pasien harus segera dirujuk
Petugas / Dokter meminta tanda tangan informed consent persetujuan rujukan
kepada pasien / keluarga.
Petugas menganjurkan pasien / keluarga pasien untuk mempersiapkan diri
karena akan segera dilakukan tindakan rujukan
Petugas / Dokter menyiapkan dan membuat surat rujukan
Petugas / Dokter menulis resume klinis pasien dan tindakan yang telah dilakukan
di lembar rujukan pasien yang akan diberikan ke Rumah Sakit rujukan pada saat
mengirim pasien
Bila diperlukan, pasien didampingi oleh petugas yang kompeten / Perawat / Bidan
mendampingi pasien yang dirujuk dan memonitor keadaan pasien selama proses
rujukan berlangsung.
Petugas melakukan serah terima pasien beserta surat rujukan dan resume
klinisnya kepada petugas di Rumah Sakit rujukan setelah sampai di Rumah Sakit.
Petugas mendokumentasikan kegiatan
6. Unit terkait Ruang Tindakan dan Gawat Darurat
7. Dokumen Rekam medis
Terkait
Surat Rujukan

8. Rekaman No Yang dirubah Isi Perubahan [Link]


Historis
diberlakuk
Perubahan
an
TRIASE

No. :440/15/UPT
Dokumen D-K03/SOP-
SOP MUTU/II/202
3
No. Revisi :
Tanggal :7 Februari
Terbit 2023
Halaman :1
UPTD Leni Suryani Guning, SKM
PUSKESMAS NIP. 19670812 198803 2
BAKTIRAJA 002
1. Pengertian Triase adalah memilah- milah pasien sesuai dengan tingkat kegawatannya
untuk menentukan prioritas tindakan.
2. Tujuan Sebagai acuan menentukan prioritas tindakan penanganan pasien sesuai
dengan tingkat kegawatan pasien
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Nomor 06 Tahun Tentang Kebijakan
Pelayanan Klinis Puskesmas Baktiraja
4. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan No. HK.02.02/MENKES/514/2015
Tentang Panduan Praktik bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Tingkat Pertama.
5. Langkah- 1. Petugas menerima pasien
Langkah 2. Petugas melakukan anamnesa dan pemeriksaan singkat dan cepat untuk
menentukan derajat kegawatannya.
3. Petugas mengidentifikasi penderita menurut kegawatannya;
a. Warna hijau adalah penderita tidak gawat dan tidak darurat.
b. Warna kuning adalah pasien yang memerlukan bantuan namun dengan
cidera dan tingkat yang kurang berat dan dipastikan akan mengalami
ancaman jiwa dalam waktu dekat.
c. Warna merah adalah penderita gawat darurat (pasien dengan kondisi
mengancam jiwa).
d. Warna hitam adalh untuk penderita yang sudah meninggal.
4. Petugas memberikan prioritas pelayanan kepada pasien dengan urutan
warna Merah, Kuning, Hijau, Hitam.
5. Petugas mendokumentasikan tindakan yang diberikan dalam rekam medis
6. Penilaian TRIASE dilakukan dalm waktu <10 menit.

6. Unit terkait Ruang Tindakan dan Gawat Darurat


7. Dokumen Rekam medis
Terkait

8. Rekaman No Yang dirubah Isi Perubahan [Link]


Historis
diberlakuk
Perubahan
an

PERAWATAN LUKA

No. :440/16/UPT
Dokumen D-K03/SOP-
SOP MUTU/II/202
3
No. Revisi :
Tanggal :7 Februari
Terbit 2023
Halaman :1
UPTD Leni Suryani Guning, SKM
PUSKESMAS NIP. 19670812 198803 2
BAKTIRAJA 002
1. Pengertian Membersihkan luka, mengobati luka dan menutup kembali luka dengan
tekhnik steril.
2. Tujuan 1. Mencegah masuknya kuman dan kotoran ke dalam luka
2. M e m b e r i p e n g o b a t a n p a d a l u k a
3. Memberikan rasa aman dan nyaman pada pasien
4. Mengevaluasi tingkat kesembuhan luka.

3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Nomor 06 Tahun Tentang Kebijakan


Pelayanan Klinis Puskesmas Baktiraja
4. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan No. HK.02.02/MENKES/514/2015
Tentang Panduan Praktik bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Tingkat Pertama.
5. Langkah- A. Tahap pra interaksi
Langkah 1. Cek catatan keperawatan
2. Siapkan alat-alat
3. Cuci tangan
B. Tahap orientasi
1. Berikan salam, panggil klien dengan namanya
2. Jelaskan tujuan, prosedur dan lamanya tindakan pada klien dan
keluarga.
C. Tahap kerja
1. Dekatkan alat-alat dengan Pasien
2. Menjaga privasi pasien.
3. Mengatur posisi pasien sesuai kebutuhan
4. Pasang perlak / pengalas di bawah daerah luka.
5. Membuka peralatan.
6. Memakai sarung tangan.
7. Basahi kasa dengan bethadin kemudian dengan menggunakan pinset,
bersihkan area sekitar luka bagian luar sampai bersih dari kotoran.
8. Gunakan teknik memutar searah jarum jam.
9. Basahi kasa dengan cairan NaCl 0,9 % kemudian dengan
menggunakan pinset bersihkan area luka bagian dalam. )gunakan
teknik usapan dari atas ke bawah.
10. Keringkan daerah luka dan Pastikan area daerah luka bersih dari
kotoran.
11. Beri obat luka sesuai kebutuhan jika perlu.
12. Pasang kasa steril pada area luka sampai tepi luka.
13. Fiksasi balutan menggunakan plester atau balutan verband sesuai
kebutuhan.
14. Mengatur posisi pasien seperti semula.
15. Alat-alat dibereskan.
16. Buka sarung tangan.
D. Tahap terminasi
1. Evaluasi hasil tindakan.
2. Catat tindakan.
6. Unit terkait Ruang Tindakan dan Gawat Darurat
7. Dokumen Rekam Medis
Terkait

8. Rekaman No Yang dirubah Isi Perubahan [Link]


Historis
diberlakuk
Perubahan
an
PEMASANGAN INFUS

No. :440/17/UPT
Dokumen D-K03/SOP-
SOP MUTU/II/202
3
No. Revisi :
Tanggal :7 Februari
Terbit 2023
Halaman :1
UPTD Leni Suryani Guning, SKM
PUSKESMAS NIP. 19670812 198803 2
BAKTIRAJA 002
1. Pengertian

2. Tujuan 1. Sebagai acuan untuk memberikan kebutuhan atau pengobatan melalui Infus
2. Sebagai cara untuk memasukan cairan
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Nomor 06 Tahun Tentang Kebijakan
Pelayanan Klinis Puskesmas Baktiraja
4. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan No. HK.02.02/MENKES/514/2015
Tentang Panduan Praktik bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Tingkat Pertama.
5. Langkah- 1. Baca instruksi dokter dan minta formulir persetujuan tindakan
Langkah medis (untuk perawat ) di ruang tindakan dan pelayanan 24 jam.
2. Jelaskan pada pasien atau keluarganya tentang tindakan yang akan
dilakukan.
3. Isi form persetujuan tindakan medik dan pasien diminta untuk
menandatanganinya.
4. Siapkan alat dan bahan
5. Cuci tangan
6. Pakai sarung tangan.
7. Tentukan daerah vena yang akan digunakan.
8. Bersihkan area dari bulu-bulu jika ada.
9. Pasang torniquet.
10. Disinfeksi daerah penusukan.
11. Tusukan jarum Abbocath dengan posisi 45° lubang jarum menghadap ke
atas dan setelah tampak darah pada pangkal abocath masukan kanule
perlahan lahan dan secara bersamaan jarum dikeluarkan dengan cara
mendorongnya sambil tangan yang lain menahan kanule tepat
ditempatnya.
12. Lepas torniquet.
13. Hubungkan kanule infuse dengan set infuse dan fiksasi kanule abocath
dengan membalut kain kasa steril.
14. Sesuaikan kecepatan aliran pemberian cairan (tetesan cairan) sesuai
indikasi atau sesuai instruksi dokter.
15. Buang jarum abocath kedalam Safety Box atau kotak atau plabotl.
16. Rapihkan alat-alat.
17. Lepas sarung tangan dan buang dalam sampah infeksius.
18. Cuci tangan petugas
19. Catat pada buku status dan buku register.
6. Unit terkait Ruang Tindakan dan Gawat Darurat
7. Dokumen Rekam Medis
Terkait

8. Rekaman No Yang dirubah Isi Perubahan [Link]


Historis
diberlakuk
Perubahan
an
PEMASANGAN NGT

No. :440/18/UPT
Dokumen D-K03/SOP-
SOP MUTU/II/202
3
No. Revisi :
Tanggal :7 Februari
Terbit 2023
Halaman :1
UPTD Leni Suryani Guning, SKM
PUSKESMAS NIP. 19670812 198803 2
BAKTIRAJA 002
1. Pengertian 1. Memasukkan NGT (Penduga lambung) melalui hidung ke dalam
lambung.
2. Memberi makanan dan obat-obatan.
3. Membilas/mengumbah lambung
2. Tujuan 1. Sebagai acuan untuk melakukan tindakan pemasang NGT
2. Membilas/mengumbah lambung
3. Memberi makanan dan obat-obatan.
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Nomor 06 Tahun Tentang Kebijakan
Pelayanan Klinis Puskesmas Baktiraja
4. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan No. HK.02.02/MENKES/514/2015
Tentang Panduan Praktik bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Tingkat Pertama.
5. Langkah- 1. Menjelaskan tujuan pemasangan NGT pada keluarga pasien
Langkah 2. Membawa alat-alat ke dekat pasien
3. Mengatur posisi pasien sesuai dengan keadaan pasien
4. Memasang perlak + pengalas pada daerah dada
5. Mencuci tangan dan memakai sarung tangan
6. Mengukur dan memberi tanda pada NGT yang akan dipasang lebih
kurang 40-45 cm (diukur mulai dahi s/d proxesus xypoideus)
7. Mengolesi NGT dengan aquaJelly sepajang 15 cm dari ujung NGT
8. Memasukkan NGT malalui lubang hidung dan pasien dianjurkan untuk
menelan
9. Jika pasien tidak sadar tekan lidah pasien dengan spatel) masukan NGT
sampai pada batas yang sudah ditentukan sambil perhatikan keadaan
umum pasien.
10. Cek posisi NGT (apakah masuk di lambung atau di paru-paru) dengan 3
cara
a. Aspirasi cairan lambung dengan spuit 10 cc jika cairan
bercampur isi lambung berarti sudah masuk kelambung
b. Memasukan ujung NGT (yang dihidung) kedalam air dalam kom
bila ada gelembung berarti NGT dalam paru-paru
c. Petugas memasukan gelembung udara melalui spuit bersamaan
dilakukan pengecekan perut dengan stetoskop untuk
mendengarkan gelembung udara dilambung.
11. Memasang corong (yang sudah dibilas dengan air hangat), kemudian
Memasukan obat-obatan/makanan.
12. Melepas corong, menutup NGT dengan spuit 10 cc.
13. Merapikan alat-alat dan pasien kemudian sarung tangan dilepas.
14. Mendokumentasikan
6. Unit terkait Ruang Tindakan dan Gawat Darurat
7. Dokumen Rekam Medis
Terkait

8. Rekaman No Yang dirubah Isi Perubahan [Link]


Historis
diberlakuk
Perubahan
an
PEMASANGAN KATETER
URINE

No. :440/19/UPT
Dokumen D-K03/SOP-
SOP MUTU/II/202
3
No. Revisi :
Tanggal :7 Februari
Terbit 2023
Halaman :1
UPTD Leni Suryani Guning, SKM
PUSKESMAS NIP. 19670812 198803 2
BAKTIRAJA 002
1. Pengertian Tata cara melakukan pemasangan kateter untuk mengeluarkan air kencing.

2. Tujuan Sebagai acuan pelaksanaan pemasangan kateter untuk mengeluarkan air


kencing.
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Nomor 06 Tahun Tentang Kebijakan
Pelayanan Klinis Puskesmas Baktiraja
4. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan No. HK.02.02/MENKES/514/2015
Tentang Panduan Praktik bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Tingkat Pertama.
5. Langkah- 1. Meberikan penjelasan kepada keluarga dan pasien
Langkah 2. Mendekatkan peralatan disamping penderita
3. Memasang perlak dan petugas mencuci tangan
4. Memakai sarung tangaN
5. Mengatur posisi pasien

PADA LAKI-LAKI
1. Mengolesi slang kateter dengan aqua jelly
2. Tangan kiri dengan kasa memegang penis sampai tegak ± 60O
3. Tangan kanan memasukkan ujung kateter dan mendorong secara pelan-
pelan sampai urine keluar

PADA WANITA
1. Jari tangan kiri dengan kapas cebok membuka labia
2. Tangan kanan memasukkan ujung kateter dan mendorong secara pelan-
pelan sampai urine keluar
3. Bila urine telah keluar, pangkal kateter dihubungkan dengan urine bak
kunci kateter dengan larutuan Aqua/NS (20-30cc)
4. Mengobservasi respon pasien
5. Menggantungkan urobag disisi tempat tidur pasien
6. Memfiksasi kateter dengan plester pada paha bagian atas klien dirapikan
7. Alat-alat dibersihkan dan dibereskan
8. Petugas cuci tangan
9. Mencatat kegiatan respon pasien pada catatan keperawatan
6. Unit terkait Ruang Tindakan dan Gawat Darurat
7. Dokumen Rekam Medis
Terkait

8. Rekaman No Yang dirubah Isi Perubahan [Link]


Historis
diberlakuk
Perubahan
an

PENGGUNAAN SUCTION

No. :440/20/UPT
Dokumen D-K03/SOP-
SOP MUTU/II/202
3
No. Revisi :
Tanggal :7 Februari
Terbit 2023
Halaman :1
UPTD Leni Suryani Guning, SKM
PUSKESMAS NIP. 19670812 198803 2
BAKTIRAJA 002
1. Pengertian Tindakan menghisap lendir melalui hidung dan atau mulut

2. Tujuan Sebagai acuan penatalaksanaan tindakan penghisapan lendir, mengeluarkan


lendir, melonggarkan jalan nafas.
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Nomor 06 Tahun Tentang Kebijakan
Pelayanan Klinis Puskesmas Baktiraja
4. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan No. HK.02.02/MENKES/514/2015
Tentang Panduan Praktik bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Tingkat Pertama.
5. Langkah- PERSIAPAN ALAT :
Langkah  Perangkat penghisap lendir meliputi :
 Mesin penghisap lendir
 Selang penghisap lendir sesuai kebutuhan
 Air matang untuk pembilas dalam tempatnya (kom)
 Cairan desinfektan dalam tempatnya untuk merendam slang
 Pinset anatomi untuk memegang slang
 Spatel / sundip lidah yang dibungkus dengan kain kasa
 Sarung tangan
 Bak instrumen
 Kasa
 Bengkok
PERSIAPAN PASIEN :
 Bila pasien sadar, siapkan dengan posisi setengah duduk
 Bila pasien tidak sadar ;Posisi miring atau Kepala ekstensi agar
penghisap dapat berjalan lancar
PELAKSANAAN :
 jelasakan pada pasien/ keluarga dan minta inform concent
 Alat didekatkan pada pasien dan perawat cuci tangan
 Petugas memakai sarung tangan
 Pasien disiapkan sesuai dengan kondisi
 Selang dipasang pada mesin penghisap lendir
 Mesin penghisap lendir dihidupkan
 Sebelum menghisap lendir pada pasien, cobakan lebih dahulu untuk
air bersih yang tersedia
 Tekan lidah dengan spatel
 Hisap lendir pasien sampai selesai. Mesin/pesawat dimatikan
 Bersihkan mulut pasien kasa
 Membersihakan slang dengan air dalam kom
 Selang direndam dalam cairan desinfektan yang tersedia
 Perawat cuci tangan

10.
6. Unit terkait Ruang Tindakan dan Gawat Darurat
7. Dokumen Rekam Medis
Terkait

8. Rekaman No Yang dirubah Isi Perubahan [Link]


Historis
diberlakuk
Perubahan
an
NEBULAIZER

No. :440/20/UPT
Dokumen D-K03/SOP-
SOP MUTU/II/202
3
No. Revisi :
Tanggal :7 Februari
Terbit 2023
Halaman :1
UPTD Leni Suryani Guning, SKM
PUSKESMAS NIP. 19670812 198803 2
BAKTIRAJA 002
1. Pengertian Nebulaizer adalah suatu tindakan yang bertujuan untuk mengencerkan dahak
dan melonggarkan jalan nafas
2. Tujuan Sebagai acuan tindakan nebulaizer
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Nomor 06 Tahun Tentang Kebijakan
Pelayanan Klinis Puskesmas Baktiraja
4. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan No. HK.02.02/MENKES/514/2015
Tentang Panduan Praktik bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Tingkat Pertama.
5. Langkah- PERSIAPAN ALAT :
Langkah Tabung O2
Obat untuk bronchodilator antara lain : ventolin, dexamethasone
Masker oksigen
Nebulaizer

PERSIAPAN PASIEN :
Pasien/keluarga diberi penjelasan tentang hal-hal yang akan dilakukan
Pasien diatur sesuai kebutuhan

PELAKSANAAN :
Perawat cuci tangan
Mengisi ventolin pada nebulezer
Mengisi pada tempat humidifaier dengan bronchodilator misalnya : ventolin
(sabutamol) atau kadang diberi dexamethasone pada status asmatikus.
Memasang masker pada pasien
Nebulaizer dinyalakan
Observasi pasien
Selesai dilakukan tindakan pasien dirapikan
Alat-alat dibereskan dan dikembalikan
Perawat cuci tangan

6. Unit terkait Ruang Tindakan dan Gawat Darurat


7. Dokumen Rekam Medis
Terkait

8. Rekaman No Yang dirubah Isi Perubahan [Link]


Historis
diberlakuk
Perubahan
an

INJEKSI INTRAMUSKULAR

No. :440/21/UPT
Dokumen D-K03/SOP-
SOP MUTU/II/202
3
No. Revisi :
Tanggal :7 Februari
Terbit 2023
Halaman :1
UPTD Leni Suryani Guning, SKM
PUSKESMAS NIP. 19670812 198803 2
BAKTIRAJA 002
1. Pengertian Injeksi intramuskuler adalah suntikan kedalam otot
2. Tujuan Sebagai acuan tindakan suntikan kedalam otot

3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Nomor 06 Tahun Tentang Kebijakan


Pelayanan Klinis Puskesmas Baktiraja
4. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan No. HK.02.02/MENKES/514/2015
Tentang Panduan Praktik bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Tingkat Pertama.
5. Langkah-  Inform concent
Langkah  Baca daftar obat, larutkan obat yang dibutuhkan, isi spuit sesuai
dengan kebutuhan
 Cocockan nama obat dan nama pasien.
 Baca sekali lagi sebelum menyuntikan pada pasien.
 Atur posisi dan tentukan tempat yang akan disuntik.
 Desinfeksi lokasi yang akan disuntik.
 Jarum disuntikkan pada daerah yang akan disuntik dengan arah 90
derajat.
 Penghisap ditarik sedikit, bila ada darah obat jangan dimasukkan.
 Obat disemprotkan perlahan-lahan
 Setelah obat masuk seluruhnya jarum ditarik dengan cepat.
 Kulit ditekan dengan kapas alcohol sambil melakukan masase.
 Pasien dirapikan
Perhatian :
Penyuntikan harus tepat dan betul, bila salah akan dapat mengenai saraf.
6. Unit terkait Ruang Tindakan dan Gawat Darurat
Ruang Pemeriksaan Umum
7. Dokumen Rekam Medis
Terkait

8. Rekaman No Yang dirubah Isi Perubahan [Link]


Historis
diberlakuk
Perubahan
an

INJEKSI INTRAKUTAN

No. :440/22/UPT
Dokumen D-K03/SOP-
SOP MUTU/II/202
3
No. Revisi :
Tanggal :7 Februari
Terbit 2023
Halaman :1
UPTD Leni Suryani Guning, SKM
PUSKESMAS NIP. 19670812 198803 2
BAKTIRAJA 002
1. Pengertian Memasukkan obat kedalam jaringan kulit dengan memakai jarum suntik
Mendapatkan reaksi setempat
2. Tujuan Sebagai acuan untuk melakukan tindakan suntikan intracutan

3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Nomor 06 Tahun Tentang Kebijakan


Pelayanan Klinis Puskesmas Baktiraja
4. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan No. HK.02.02/MENKES/514/2015
Tentang Panduan Praktik bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Tingkat Pertama.
5. Langkah- 1. Memberitahukan/menjelaskan tindakan pada pasien/keluarga pasien
Langkah 2. Mencuci tangan.
3. Membawa alat kepada pasien
4. Menyiapkan lingkungan
5. Mengatur posisi pasien
6. Menentukan dan menghapus hamakan/ disinfektan lokasi suntikan.
7. Menusukkan jarum suntik dengan sudut 15O-20O
8. Memasukkan obat berlahan-lahan sampai terjadi gelembung putih dalam
kulit kemudian jarum dicabut
9. Merapikan pasien dan alat
10. Mendokumentasikan hasil tindakan

6. Unit terkait Ruang Tindakan dan Gawat Darurat


Ruang Pemeriksaan Umum
7. Dokumen Rekam Medis
Terkait

8. Rekaman No Yang dirubah Isi Perubahan [Link]


Historis
diberlakuk
Perubahan
an

VISUM

No. :440/23/UPT
Dokumen D-K03/SOP-
SOP MUTU/II/202
3
No. Revisi :
Tanggal :7 Februari
Terbit 2023
Halaman :1
UPTD Leni Suryani Guning, SKM
PUSKESMAS NIP. 19670812 198803 2
BAKTIRAJA 002
1. Pengertian Melayani perrnintaan pembuatan visum et repertum.
2. Tujuan Sebagai acuan membuat visum setelah melakukan pemeriksaan pasien atau
jenazah.
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Nomor 06 Tahun Tentang Kebijakan
Pelayanan Klinis Puskesmas Baktiraja
4. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan No. HK.02.02/MENKES/514/2015
Tentang Panduan Praktik bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Tingkat Pertama.
5. Langkah- 1. RTGD UPTD Puskesmas Baktiraja melayani Visum hidup,
Langkah 2. Permintaan Visum diajukan secara resmi dan tertulis oleh Kepolisian
kepada Puskesmas.
3. Pengajuan permintaan Visum disampaikan di RTGD dalam waktu 2 x 24
jam sejak kejadian oleh petugas kepolisian
4. Petugas meneliti surat permintaan Visum, setelah meneliti kebenaran
surat, petugas menulis tanggal, jam penerimaan, nama dan tanda
tangan.
5. Apabila penderita/ korban sudah masuk ruangan maka surat
permintaan Visum ada di RTGD.
6. Visum dibuat berdasarkan pemeriksaan penderita pada saat
permintaan Visum Et repertum.
7. Bila penderita / korban sudah meninggal maka petugas UGD
memeriksa kondisi secara umum.
8. Penderita yang sudah meninggal dirujuk ke RRSA
9. Visum hidup dibuat dan ditanda tangani oleh Dokter yang memeriksa /
menangani penderita pada saat visum diterima.
10. Visum bisa diambil oleh petugas kepolisian dalam waktu 2 X 24 jam.
11. petugas menandatangani penerimaan laporan visum

catatan : dokumentasi visum (menggunakan kamera khusus visum kemudian


disimpan dikomputer UGD)

6. Unit terkait Ruang Tindakan dan Gawat Darurat


Ruang Pemeriksaan Umum
7. Dokumen Rekam Medis
Terkait

8. Rekaman No Yang dirubah Isi Perubahan [Link]


Historis
diberlakuk
Perubahan
an

PEMELIHARAAN ALKES

No. :440/23/UPT
Dokumen D-K03/SOP-
SOP MUTU/II/202
3
No. Revisi :
Tanggal :7 Februari
Terbit 2023
Halaman :1
UPTD Leni Suryani Guning, SKM
PUSKESMAS NIP. 19670812 198803 2
BAKTIRAJA 002
1. Pengertian Melaksanakan pemeliharaan alat-alat keperawatan dan alat–alat kedokteran
dengan cara membersihkan, mendesinfektan, menyeterilkan dan
menyimpannya.
2. Tujuan Sebagai acuan untuk pemeliharaan alat medis dan keperawatan.

3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Nomor 06 Tahun Tentang Kebijakan


Pelayanan Klinis Puskesmas Baktiraja
4. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan No. HK.02.02/MENKES/514/2015
Tentang Panduan Praktik bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Tingkat Pertama.
5. Langkah- A. Pemeliharaan Peralatan dari Logam
Langkah 1. Membersihkan dan desinfektan :
 Memakai sarung tangan
 Membersihkan alat dari kotoran yang melekat dibawah air kran
mengalir
 Dikeringkan (setelah kering dimasukan kesteroilisator)
2. Menyeterilkan dan Penyimpanan Alat Logam
 Memakai panas kering (sterilisator)
 Menyusun alat-alat ke dalam bak instrumen dalam keadaan
bersih/kering
 Membungkus bak instrumen berisi alat dengan kain
 Memasukkan alat ke dalam autoclave (sentral) selama 30 menit untuk
yang dibungkus, 20 menit untuk yang tidak dibungkus.
 Mengangkat alat dari sterilisator dan menyimpan dalam tempatnya
B. Pemeliharaan Tensi Meter
1. Mengunci air raksa setelah pemakaian alat.
2. Menggulung kain beserta manset dan disusun / dimasukkan ke dalam
bak tensimeter.
3. Menutup tensimeter dan menyimpan pada tempatnya.
4. Kain manset dicuci bila kotor atau satu kali seminggu.
5. Perhatikan kaca pengukur harus tetap dalam keadaan bersih dan
mudah di baca.
C. Membersihkan Dan Mendesinfeksi Serta Menyimpan Pispot
1. Membawa pispot yang kotor ke dalam spoel hoek.
2. Memakai sarung tangan.
3. Membuang tissue bekas pakai keranjang ke keranjang sampah, dengan
memakai korentang spoel hoek
4. Membuang kotoran ke bak septik tank, kemudian mengalirkan air kran
supaya kotoran masuk tangki septik tank. Membilas alat dari kotoran
yang masuk, melekat dengan mempergunakan sikat bertangkai
5. larutan desinfektan sampai semua permukaan pispot terendam.
6. Membersihkan pispot dengan cara menyikat memakai air sabun/
detergen.
7. Membilas pispot di bawah air mengalir
8. Merendam pispot di bak /ember tempat perendam yang berisi
(bayclin)
9. Mengeringkan pot dengan kain lap.
10. Menyimpan pot pada tempatnya.
D. Membersihkan Dan Mendesinfeksi Serta Menyimpan Urinal
1. Membawa urinal ke kamar spoel hoek.
2. Memakai sarung tangan.
3. Membuang urinal ke bak septik tank.
4. Membilas urinal dengan air.
5. Merendam urinal dalam bak/ ember yang berisi larutan desinfektan
sampai semua permukaan urinal terendam (konsentrasi sama dengan
perendaman pispot)
6. Memberihkan dengan cara menyikat memakai sabun/detergen
7. Membilas urinal dibawah air mengalir
8. Mengeringkan urinal dan menggantungkannya ditempatnya
6. Unit terkait Ruang Tindakan dan Gawat Darurat
Ruang Pemeriksaan Umum
Ruang KIA/KB
7. Dokumen Rekam Medis
Terkait
8. Rekaman No Yang dirubah Isi Perubahan [Link]
Historis
diberlakuk
Perubahan
an

EKG

No. :440/24/UPT
Dokumen D-K03/SOP-
SOP MUTU/II/202
3
No. Revisi :
Tanggal :7 Februari
Terbit 2023
Halaman :1
UPTD Leni Suryani Guning, SKM
PUSKESMAS NIP. 19670812 198803 2
BAKTIRAJA 002
1. Pengertian Merekam irama jantung dengan alat elektrokardiografi.
2. Tujuan Untuk menegakkan diagnosa

3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Nomor 06 Tahun Tentang Kebijakan


Pelayanan Klinis Puskesmas Baktiraja
4. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan No. HK.02.02/MENKES/514/2015
Tentang Panduan Praktik bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Tingkat Pertama.
5. Langkah- 1. Memberi penjelasan mengenai tindakan dan tujuannya
Langkah 2. Inform consent
3. Atur posisi pasien tidur terlentang datar
4. Pasien diminta untuk melepaskan segala aksesoris berbahan logam
5. Petuga mencuci tangan
6. Pertahankan privasi pasien
7. Buka dan longgarkan pakaian atas pasien
8. Dengan menggunakan kapas alcohol, bersihkan daerah dada,
pergelangan tangan, pergelangan kaki, di lokasi pemasangan elektrod,
lalu oleskan jelly.
9. Pasang manset elektroda pada kedua lengan dan kedua tungkai. Warna
merah pada tangan kanan, warna kuning pada tangan kiri, warna hitam
pada kaki kanan, dan warna hijau pada kaki kiri.
10. Memasang elektroda dada untuk merekam pericardial lead
o V1: interkosta ke-4 pada garis sternum kanan
o V2: interkosta ke-4 pada garis sternum kiri
o V3: pertengahan V2 dan V4
o V4: pada mid clavicula kiri
o Pada axila sebelah kiri depan
o Pada intercostal ke-5 mid axial
11. Nyalakan mesin EKG dan isi identitas
12. Anjurkan pasien agar tidak melakukan pergerakan
13. Buat rekaman secara berurutan sesuai dengan pemilihan lead
14. Bersihkan kembali bekas area pemasangan elektroda dengan tissue/
kasa
15. Buang sampah pada bengkok
16. Pasien dirapikan, dan alat- alat dibersihkandan dibereskan
6. Unit terkait Ruang Tindakan dan Gawat Darurat
Ruang Pemeriksaan Umum
Ruang KIA/KB
7. Dokumen Rekam Medis
Terkait

8. Rekaman No Yang dirubah Isi Perubahan [Link]


Historis
diberlakuk
Perubahan
an
BANTUAN HIDUP DASAR

No. :440/25/UPT
Dokumen D-K03/SOP-
SOP MUTU/II/202
3
No. Revisi :
Tanggal :7 Februari
Terbit 2023
Halaman :1
UPTD Leni Suryani Guning, SKM
PUSKESMAS NIP. 19670812 198803 2
BAKTIRAJA 002
1. Pengertian Pertolongan pertama yang dilakukan pada korban hentijantung atau henti
nafas.
2. Tujuan Untuk mengurangi angka kematian dan kesakitan akibat henti jantung dan
henti nafas.
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Nomor 06 Tahun Tentang Kebijakan
Pelayanan Klinis Puskesmas Baktiraja
4. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan No. HK.02.02/MENKES/514/2015
Tentang Panduan Praktik bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Tingkat Pertama.
5. Langkah- [Link] memastikan korban tidak sadar dan tidak berespon
Langkah [Link] mengguncang bahu pasien dengan lembut
[Link] bertanya “apakah anda baik baiksaja?”
[Link] ada respon maka penolong :
a. Tidak mengubah posisi korban
b. Penolong memerikas hal yang tidak beres pada pasien
c. Penolong mengulagi pemeriksaan bekala
[Link] memastikan keamanan penolong dan keamanan lingkungan
sebelum menolong
[Link] korban tidak berespon Penolong memininta bantuan sekitar dengan
TERIAK MINTA BANTUAN : orang disekitar, pengunjung, karyawan
Puskesmas, perawat, bidan dokter dan lain lain
[Link] menilai pernafasan dengan cara : lihat, dengar, rasakan
a. Angkat dagu + tengadah kepala
b. Lihat, dengar dan rasakan pernafasan dalam waktu < 10 detik
c. Pastikan korban bernafas NORMAL atau TIDAK NORMAL
d. “gasping” (megap-megap) = tidak normal
[Link] pasien tidak bernafas normal/henti nafas lanjutkan dengan langkah 6
[Link] atau orang disekitar memanggil Tim medik
[Link] melakukan kompresi jantung 30 x, dengan cara :
[Link] dada dari pakaian
[Link] pangkal telapak tangan yang satu di tengah dada
[Link] pangkal telapak tangan lainnya di atas tangan yang satu
[Link] kompresi 5 cm dan tidal lebih dari 6 cm
[Link] 100 x/menit, teratur
[Link] kesempatan dada mengembang penuh dengan sendirinya
[Link] tidak boleh terputus, kecuali untuk memberi nafas buatan atau
memindahkan pasien (tidak boleh berhenti > 10 detik)
[Link] memberi nafas buatan 2x + kompresi jantung 30 x (30:2), dengan
cara:
[Link] tiupan melalui mulut korban sambil melihat naiknya
permukaan dada
b.1 tiupan nafas = 1 detik
[Link] kesempatan udara keluar dan lihat turunnya permukaan dada
[Link] Jangan menghentikan 30 : 2 sampai datang tim medik
[Link] Hidup Dasar dihentikan bila
[Link] denyut jantung dan nafas spontan (pasien bergerak spontan)
[Link] alih pertolongan oleh tim medik
[Link] terancam keselamatannya
[Link] perintah jangan diresusitasi oleh tim medik / dokter
6. Unit terkait Ruang Tindakan dan Gawat Darurat
Ruang Pemeriksaan Umum
Ruang KIA/KB
7. Dokumen Rekam Medis
Terkait

8. Rekaman No Yang dirubah Isi Perubahan [Link]


Historis
diberlakuk
Perubahan
an
SYOK ANAFILAKTIK

No. :440/26/UPT
Dokumen D-K03/SOP-
SOP MUTU/II/202
3
No. Revisi :
Tanggal :7 Februari
Terbit 2023
Halaman :1
UPTD Leni Suryani Guning, SKM
PUSKESMAS NIP. 19670812 198803 2
BAKTIRAJA 002
1. Pengertian Suatu reaksi hipersensitivitas yang berlebihan terhadap masuknya protein/
zat asing ke dalam tubuh.
2. Tujuan Sebagai acuan dalam penatalaksanaan syok anafilaktik di Puskesmas.

3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Nomor 06 Tahun Tentang Kebijakan


Pelayanan Klinis Puskesmas Baktiraja
4. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan No. HK.02.02/MENKES/514/2015
Tentang Panduan Praktik bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Tingkat Pertama.
5. Langkah- a. Hentikan pemberian obat/ antigen penyebab.
Langkah b. Baringkan penderita dengan posisi tungkai lebih tinggi dari kepala
(trendelenburg).
c. Berikan Oksigen 3-5 L/menit.
d. Pasang infus dengan cairan plasma expander (Dextran). Jika cairan
tersebut tidak tersedia, Ringer Laktat (RL) atau NaCl fisiologis dapat
diberikan sebagai cairan pengganti sampai tekanan darah kembali optimal
dan stabil.
e. Adrenalin : 0,3-0,5 ml dari larutan 1 : 1000 IM, dapat diulangi 5-10 menit.
Jika tidak respo, diberikan Adrenalin 0,1-0,2 ml dilarutkan dalam 10 ml
larutan NaCl fisiologis diberikan secara IV perlahan-lahan.
f. Aminofilin : 250 mg diberikan perlahan-lahan selama 10 menit IV,
dilanjutkan 250 mg lagi melalui drip infus bila dianggap perlu, diberikan
apabila bronkospasme belum hilang dengan pemberian adrenalin.
g. Antihistamin : Difenhidramin HCl 5-20 mg IV
h. Kortikosteroid : Deksametason 5-10 mg IV, Hidrokortison 100-250mg IV.
i. Resusitasi Kardio Pulmoner (RKP), seandainya terjadi henti jantung
(cardiac arrest).
j. Jika syok sudah teratasi, penderita diawasi / diobservasi selama kurang
lebih 4 jam
k. Penderita yang tidak membaik dirujuk ke RS terdekat dengan pengawasan
tenaga medis.
Setiap tindakan dicatat dalam rekam medis pasien.
6. Unit terkait Ruang Tindakan dan Gawat Darurat
Ruang Pemeriksaan Umum
Ruang KIA/KB
7. Dokumen Rekam Medis
Terkait

8. Rekaman No Yang dirubah Isi Perubahan [Link]


Historis
diberlakuk
Perubahan
an
PEMELIHARAAN PERALATAN

MEDIK DAN NON MEDIK


No. :440/29/UPT
Dokumen D-K03/SOP-
SOP MUTU/II/202
3
No. Revisi :
Tanggal :7 Februari
Terbit 2023
Halaman :1–2
UPTD Leni Suryani Guning, SKM
PUSKESMAS NIP. 19670812 198803 2
BAKTIRAJA 002
1. Pengertian Peralatan Medik adalah peralatan yang digunakan untuk menunjang
pelayanan medik.
Peralatan non medik adalah peralatan yang digunakan untuk menunjang
Kegiatan Puskesmas.
2. Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah dalam memelihara peralatan medik
dan non medik agar dapat dipergunakan secara optimal.
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Nomor 06 Tahun Tentang Kebijakan
Pelayanan Klinis Puskesmas Baktiraja
4. Referensi Peraturan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Nomor 11
tahun 2017 tentang keselamatan pasien
5. Langkah- a. Pelaksanaan, pemeliharaan / perawatan alat dilakukan enam bulan sekali.
Langkah b. Pelaksanaan, pemeliharaan peralatan mencakup :
1. Pembersihan peralatan dari kotoran dan debu.
2. Pengecekan fungsi tiap bagian alat sesuai buku pedoman pemeliharaan
alat.
3. Penkalibrasian alat sesuai buku pedoman pemeliharaan alat.
c. Mencatat pada kartu pemeliharaan dan kartu catatan pemeliharaan.
d. Setelah selesai Puskesmas menandatangani kartu catatan pemeliharaan
alat.
g. Selanjutnya kartu catatan pemeliharaan alat diserahkan
6. Unit terkait Ruang Tindakan dan Gawat Darurat
7. Dokumen 1. Kartu Pemeliharaan
Terkait 2. Kartu Catatan Pemeliharaan
3. Pedoman Pemeliharaan Alat (Maintenance Manual).

8. Rekaman No Yang dirubah Isi Perubahan [Link]


Historis
diberlakuk
Perubahan
an

PENDAFTARAN PASIEN RTGD

No. :440/31/UPT
Dokumen D-K03/SOP-
SOP MUTU/II/202
3
No. Revisi :
Tanggal :7 Februari
Terbit 2023
Halaman :1–2
UPTD Leni Suryani Guning, SKM
PUSKESMAS NIP. 19670812 198803 2
BAKTIRAJA 002
1. Pengertian Proses pelayanan pendaftaran bagi masyarakat/pasien yang memerlukan
pelayanan kesehatan gawat darurat di UGD Puskesmas Labuhan Lombok
2. Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah pendaftaran pasien di RTGD

3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Nomor 06 Tahun Tentang Kebijakan


Pelayanan Klinis Puskesmas Baktiraja
4. Referensi Permenkes RI Nomor 269/MENKES/PER/III/2008 Tentang Rekam Medis
Manajemen Rekam Medik, 2006, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Surya Global
Yogyakarta
5. Langkah- Pasien gawat darurat pada jam kerja melakukan :
Langkah 1. Pasien masuk ke ruangan UGD dan dilayani secara langsung, kemudian
salah seorang keluarga pasien mendaftarkan pasien ke Petugas
Administrasi di loket pendaftaran.
Petugas Melakukan :
Jika pasien Baru
1. Petugas menanyakan kartu identitas pasien
(KTP/SIM/BPJS/KIS/Jamkesmas dll)
2. Petugas membagi peserta BPJS yang menunjukkan kartu kepesertaan
akan di lakukan pengecekan dan pendaftaran di aplikasi P-CARE
3. Jika kartu kepesertaan tidak aktif maka pasien di kategorikan pasien
umum
4. Petugas menanyakan Ruang Pemeriksaan/layanan kesehatan yang ingin
dituju oleh pasien
5. Petugas membuat Kartu Berobat/Kunjungan;
 tulis Nama Kepala Keluarga
 tulis Umur Kepala Keluarga
 tulis Alamat Pasien
 tulis Nomor Indeks/ Rekam Medik
6. Petugas membuat status rekam medis;
 tulis nomor indeks/rekam medic
 tulis nama Kepala Keluarga
 tulis nama pasien
 tulis usia pasien
 tulis alamat
 tulis pekerjaan
 tulis Golongan Kunjungan dll
7. Petugas menulis hari, tanggal, dan jam pelayanan pada rekam medis
8. Petugas memasukkan data pasien baru ke komputer atau Buku Register
9. Petugas menyerahkan kembali kartu tanda pengenal pasien
10. Bagi pasien peserta BPJS tidak di kenakan biaya retribusi
11. Petugas menulis registrasi pasien dalam buku register kunjungan
Jika Pasien Lama
1. Petugas menanyakan kartu identitas pasien
(KTP/SIM/BPJS/KIS/jamkesmas dll)
2. Petugas mengambil kartu status pasien pada rak penyimpanan
3. Petugas menulis tanggal pelayanan di kartu status pasien
4. Petugas menyerahkan kembali kartu tanda pengenal pasien
5. Bagi pasien peserta BPJS tidak dikenakan biaya retribusi
6. Petugas menulis registrasi pasien dalam buku register kunjungan.
Pasien gawat darurat diluar jam kerja
Oleh petugas UGD melakukan :

1. Pasien masuk ke ruangan UGD dan dilayani secara langsung, kemudian


salah seorang keluarga pasien mendaftarkan pasien ke Petugas UGD.
2. Tunjukkan Kartu Tanda Pengenal (KTP/SIM/Askes/BPJS/Jamkesmas
dll)

Petugas Melakukan :
Jika pasien Baru
1. Petugas menanyakan kartu identitas pasien
(KTP/SIM/BPJS/KIS/Jamkesmas dll)
2. Bagi peserta BPJS yang menunjukkan kartu kepesertaan akan di
lakukan pengecekan dan pendaftaran di aplikasi P-CARE
3. Jika kartu kepesertaan tidak aktif maka pasien di kategorikan pasien
umum
4. Petugas menanyakan keluhan utama pasien untuk menentukan
penanganan dan layanan yang akan diberikan
5. Petugas membuat Kartu Berobat/Kunjungan;
 tulis Nama Kepala Keluarga
 tulis Umur pasien
 tulis Alamat Pasien
 tulis Nomor Indeks/ Rekam Medik
6. Petugas membuat status rekam medis;
 tulis nomor indeks/rekam medic
 tulis nama Kepala Keluarga
 tulis nama pasien
 tulis usia pasien
 tulis alamat
 tulis pekerjaan
 tulis Golongan Kunjungan dll
7. Petugas menulis hari, tanggal, dan jam pelayanan pada rekam medis
8. Petugas memasukkan data pasien baru ke komputer Komputer atau
buku register
9. Petugas menyerahkan kembali kartu tanda pengenal pasien
10. Bagi pasien peserta BPJS tidak di kenakan biaya retribusi
11. Petugas menulis registrasi pasien dalam buku register kunjungan

Jika Pasien Lama


1. Petugas menanyakan kartu identitas pasien
(KTP/SIM/BPJS/KIS/jamkesmas dll)
2. Petugas menulis tanggal pelayanan di kartu status pasien
3. Petugas menyerahkan kembali kartu tanda pengenal pasien
4. Petugas membagi pasien peserta BPJS tidak dikenakan biaya retribusi
5. Petugas menulis registrasi pasien dalam buku register kunjungan.
6. Petugas memverifikasi pendaftaran oleh petugas loket besok pagi
6. Unit terkait Ruang Tindakan dan Gawat Darurat
Ruang Rekam Medis
7. Dokumen Rekam Medis
Terkait

8. Rekaman No Yang dirubah Isi Perubahan [Link]


Historis
diberlakuk
Perubahan
an
SKRINING PASIEN

No. :440/29/UPT
Dokumen D-K03/SOP-
SOP MUTU/II/202
3
No. Revisi :
Tanggal :7 Februari
Terbit 2023
Halaman :1–2
UPTD Leni Suryani Guning, SKM
PUSKESMAS NIP. 19670812 198803 2
BAKTIRAJA 002
1. Pengertian Suatu proses kegiatan yang digunakan untuk melakukan skrining pada setiap
kontak pertama dengan pasien sehingga akan diketahui kebutuhan
permasalahan kesehatannya.
2. Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk mencari dan mengetahui
masalah kesehatan pasien dan dapat menentukan perawatan selanjutnya.
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas Nomor 06 Tahun Tentang Kebijakan
Pelayanan Klinis Puskesmas Baktiraja
4. Referensi Peraturan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Nomor 11
tahun 2017 tentang keselamatan pasien
5. Langkah- A. Pasien datang di pendaftaran
Langkah 1. Lakukan proses pendaftaran / penerimaan pasien
2. Lakukan pemeriksaan secara visual / pengamatan dan pemeriksaan
fisik keadaan pasien
3. Bila didapatkan penderita dalam keadaan gawat, penderita
dialihkan ke IGD untuk proses triase oleh tenaga keperawatan
4. Apabila tidak didapatkan proses kegawatan pasien diarahkan ke
poli rawat jalan
B. Pelayanan di RTGD
1. Lakukan triage oleh Petugas
2. Asuhan keperawatan dilakukan oleh tenaga keperawatan
3. Lakukan pemeriksaan oleh dokter sesuai dengan tingkat
kegawatannya
4. Lakukan pemeriksaan penunjang sesuai kebutuhan / masalah
penderita
5. Putuskan suatu diagnose
6. Lakukan konsultasi apabila diperlukan dengan dokter spesialis
7. Tetapkan pasien boleh pulang, rawat inap, atau dilakukan rujukan
6. Unit terkait Ruang Tindakan dan Gawat Darurat
7. Dokumen Rekam Medis
Terkait Buku Register

8. Rekaman No Yang dirubah Isi Perubahan [Link]


Historis
diberlakuk
Perubahan
an

Anda mungkin juga menyukai