Analisis Risiko Bunuh Diri dan Solusi
Analisis Risiko Bunuh Diri dan Solusi
NIM: 24650425
2024
LEMBAR PENGESAHAN
Telah disetujui dalam rangka Praktik Stase Keperawatan Jiwa Mahasiswa Profesi
Ners Alih Jenjang Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Ponorogo
pada tanggal 13 Juni-29 Juni 2024 di Puskesmas Siman
Penyusun
A. Definisi
Bunuh diri merupakan tindakan yang secara sadar dilakukan oleh
pasien untuk mengakhiri kehidupannya. Menurut Hafizuddin (2021), bunuh
diri memiliki 4 pengertian, antara lain sebagai berikut.
1. Bunuh diri adalah membunuh diri sendiri secara intensional.
2. Bunuh diri dilakukan dengan intensi.
3. Bunuh diri dilakukan oleh diri sendiri kepada diri sendiri.
4. Bunuh diri bisa terjadi secara langsung (aktif) atau tidak langsung (pasif).
Misalnya, dengan tidak meminum obat yang menentukan kelangsungan
hidup atau secara sengaja berada di rel kereta api.
Menurut Zaini (2019), bunuh diri (suicide) adalah segala perbuatan
dengan tujuan untuk membinasakan dirinya sendiri dengan sengaja dan
dilakukan oleh seseorang yang tahu akan akibat yang mungkin pada waktu
singkat. Tanda dan gejalanya, yaitu sedih, marah, putus asa, tidak berdaya,
memberikan isyarat verbal maupun nonverbal.
B. Faktor Predisposisi
Secara universal, ketidakmampuan individu untuk menyelesaikan
masalah terbagi menjadi sebagai berikut (Townsend, 2018).
1. Faktor Genetik (Berdasarkan Penelitian)
a. 1-3 kali lebih banyak perilaku bunuh diri terjadi pada individu yang
menjadi kerabat tingkat pertama dari orang yang mengalami gangguan
mood/depresi yang pernah melakukan upaya bunuh diri.
b. Lebih sering terjadi pada kembar monozigot daripada kembar dizigot.
2. Faktor Biologis Lain
Biasanya penyakit kronis atau kondisi medis tertentu, misalnya stroke,
gangguan kerusakan kognitif (demensia), diabetes, kanker, HIV/AIDS
3. Faktor Psikososial dan Lingkungan
a. Teori Psikoanalitik/Psikodinamika: Teori Freud, yaitu bahwa kehi langan
objek berkaitan dengan agresi dari kemarahan, perasaan negatif terhadap
diri, dan terakhir depresi.
b. Teori Perilaku Kognitif: Teori Beck, yaitu pola kognitif negatif yang
berkembang dan memandang rendah diri sendiri.
c. Stresor Lingkungan: kehilangan anggota keluarga, penipuan, dan
kurangnya sistem pendukung sosial.
G. Rentang Respons
1. Peningkatan Diri
Seseorang dapat meningkatkan proteksi atau pertahanan diri secara wajar
terhadap situasional yang membutuhkan pertahanan diri.
2. Berisiko Destruktif
Seseorang memiliki kecenderungan atau berisiko mengalami perilaku
destruktif atau menyalahkan diri sendiri terhadap situasi yang seharusnya
dapat mempertahankan diri, seperti seseorang merasa patah semangat
bekerja ketika dirinya dianggap tidak loyal terhadap pimpinan padahal
sudah melakukan pekerjaan secara optimal.
3. Destruktif Diri Tak Langsung
Seseorang telah mengambil sikap yang kurang tepat (maladaptif) terhadap
situasi yang membutuhkan dirinya untuk mempertahankan dirinya.
4. Pencederaan Diri
Seseorang melakukan percobaan bunuh diri atau pencederaan diri akibat
hilangnya harapan terhadap situasi yang ada (Widyawati, 2020).
H. Pengobatan
Semua kasus percobaan bunuh diri harus mendapat perhatian yang
serius. Pertolongan pertama dilakukan di rumah sakit, dilakukan pengobatan
terhadap luka ataupun keracunan. Bila luka atau keracunan sudah dapat diatasi
maka dilakukan evaluasi psikiatri. Untuk pasien depresi bisa diberikan terapi
elektrokonvulsi, obat-obatan berupa antidepresan, dan psikoterapi (Supinganto,
2021). Faktor yang memengaruhi prognosa, yaitu sebagai berikut.
1. Pasien: bila pasien dapat menyesuaikan diri dengan baik dan stres yang
menjadi faktor pencetus untuk percobaan bunuh diri cukup besar, maka
prognosanya lebih baik.
2. Lingkungan: bila lingkungan memberi dukungan, banyak orang yang
memperhatikan penderita, serta banyak hal yang dapat memberi arti dalam
kehidupan pasien, maka progonosanya akan lebih baik.
I. Pohon Masalah
A. Pengkajian
1. Identitas klien
Identitas klien meliputi ruangan rawat pasien saat ini, inisial nama pasien,
Pasien yang mengalami resiko bunuh diri masuk RSJ dengan berbagai
alasan, lakukan pengkajian terhadap perasaan pasien, yaitu: rasa putus asa,
tidak berdaya, sedih dan isyarat non verbal dan verbal ide bunuh diri
3. Faktor predisposisi
4. Pengkajian Fisik
mungkin terjadi seperti lemas, ada tidaknya selera makan, tinggi badan dan
5. Psikososial
a. Genogram
c. Gambaran diri
yang disukai.
d. Identitas diri
Status dan posisi klien sebelum klien dirawat, kepuasan klien terhadap
e. Fungsi peran
yang terjadi saat klien sakit dan dirawat, bagaimana perasaan klien akibat
perubahan tersebut.
f. Ideal diri
Harapan klien terhadap keadaan tubuh yang ideal, posisi, tugas, peran
g. Harga diri
Hubungan klien dengan orang lain sesuai dengan kondisi, dampak pada
klien dalam berhubungan dengan orang lain, harapan, identitas dan tidak
sesuai harapan, fungsi peran tidak sesuai harapan, ideal yang tidak sesuai
lain.
6. Status mental
a. Penampilan
Melihat penampilan klien dari ujung rambut sampai ujung kaki apakah
ada yang tidak rapi, pengguaan pakaian yang tidak sesuai, cara
b. Pembicaraan
menunjukan kegelisahan
terkontrol klien
4) Tremor: jari jari yang bergetar ketika klien menjulurkan tangan dan
merentangkan jari-jari
a. Makan
c. Mandi
d. Berpakaian / berhias
e. Pasien memakai pakaian dari RS, dan tidak ada penyimpangan dalam
g. Penggunaan Obat
8. Mekanisme koping
Berisi diagnosa medik serta terapi medik yang didapatkan oleh pasien.
Masalah keperawatan yang muncul pada pasien dengan resiko bunuh diri
adalah:
DS : Ada ide bunuh diri, isyarat bunuh diri dan pernah melakukan
orang
c) Harga diri
diri
B. Analisa Data
Masalah Keperawatan Data yang Perlu Dikaji
Resiko Bunuh Diri Data subjektif:
1. Mengungkapkan keinginan bunuh diri
2. Mengungkapkan keinginan untuk mati
3. Mengungkapkan rasa bersalah dan
keputusasaan
4. Ada riwayat berulang percobaan bunuh
diri sebelumnya dari keluarga
5. Berbicara tentang kematian, menanyakan
tentang dosis obat yang mematikan
6. Mengungkapkan adanyanya konflik
interpersonal
7. Mengungkapkan telah menjadi korban
perilaku kekerasan saat kecil
Data objektif:
1. Impulsif
2. Menunjukkan perilaku yang
mencurigakan(biasaya menjadi sangat
patuh)
3. Ada riwayat penyakit mental (depresi,
psikosis, dan penyalahgunaan alkohol)
4. Ada riwayat penyakit fisik (penyakit
kronis atau penyakit terminal)
5. Pengangguran (tidak bekerja, kehilangan
pekerjaan, atau kegagalanü dalam karier)
Perencanaan
Dx Keperawatan
Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi
Dx 1 : TUM : Pasien tidak Pasien menunjukan 1. Bina hubungan saling percaya dengan
mencederai dirinya sendiri atau tanda-tanda percaya mengemukakan prinsip komunikasi terapeutik:
Resiko Bunuh Diri : tidak melakukan bunuh diri kepada perawat melalui: a. Mengucapkan salam terapeutik. Sapa pasien
Ancaman/Percobaan a. Ekspresi wajah dengan ramah baik verbal maupun non
Bunuh Diri TUK : cerah,tersenyum verbal
1. Paien b. Mau berkenalan b. Berjabat tangan dengan pasien
dapatmembinahubungans c. Ada kontak mata c. Perkenalkan diri dengan sopan
aling percaya d. Bersedia d. Tanyakan nama lengkap pasien dan nama
menceritakan panggilan yang disukai pasien.
perasaannya e. Jelaskan tujuan pertemuan.
e. Bersedia f. Membuat kontrak, topic, waktu dan tempat
mengungkapkan setiap kali bertemu pasieng.
masalah g. Tunjukan sikap empati dan menerima pasien
apa adanya.
h. Beri perhatian kepada pasien dan perhatian
kebutuhan dasar pasien.
2. Pasien tetap aman dan Kriteria Evaluasi: a. Menemani pasien terus-menerus sampai dia dapat
terlindungi Pasien tetap aman, dipindahkan ke tempat yang aman
terlindungi dan selamat. b. Menjauhkan semua benda-benda yang berbahaya
atau berpotensi membahayakan pasien (misalnya:
pisau, silet, kaca, gelas, ikat pinggang)
c. Mendapatkan orang yang dapat dengan segera
membawa pasien kerumah sakit untuk pengkajian
lebih lanjut dan kemungkinan perawat
d. Memeriksa apakah pasien benar-benar telah
meminum obatnya, jika pasien mendapatkan obat
e. Dengan lembut menjelaskan kepada pasien
bahwaanda (perawat) akan melindungi pasien
sampai tidak ada keinginan bunuh diri
Dx 2 : TUK : Kriteria Evaluasi : 1. Mendiskusikan cara mengatasi keinginan bunuh
1. Pasien mendapatkan Pasien tetap dalam diri, yaitu dengan meminta bantuan dari keluarga
Resiko Bunuh Diri :
perlindungan dari keadaan aman dan atau teman
Isyarat Bunuh Diri
lingkungannya selamat
2. Pasien dapat meningkatkan Kriteria Evaluasi : a. Memberi kesempatan pasien untuk
harga dirinya Pasien mampu mengungkapkan perasaannya
meningkatkan harga b. Berikan pujian bila pasien dapat mengatakan
dirinya. perasaan positif.
c. Meyakinkan pasien bahwa dirinya penting.
d. Merencanakan aktifitas yang pasien dapat lakukan
3. Meningkatkan kemampuan Kriteria Evaluasi : a. Mendiskusikan dengan cara menyelesaikan
pasien dalam memecahkan Pasien mampu masalahnya
masalah menggunakan cara b. Mendiskusikan dengan pasien yang eefektifitas
penyelesaian yang baik. tiap-tiap cara penyelesaian masalah tersebut.
c. Mendiskusikan dengan cara menyelesaikan
masalah yang lebih baik
4. Meningkatkan kemampuan Kriteria Evaluasi : a. Mendiskusikan dengan pasien tentang harapan
menyusun rencana masa Pasien mampu menyusun pasien.
depan. rencana masa depan b. Mendiskusikan cara-cara mencapai masa depan.
c. Melatih pasien langkah-langkah kegiatan
mencapai masa depan.
d. Mendiskusikan dengan pasien efektifitas masing-
masing kegiatan mencapai masa depan.
5. Meningkatkan pengetahuan Kriteria Evaluasi : a. Mengajarkan keluarga tentang tanda dan gejala
dan kesiapan keluarga Keluarga mengetahui bunuh diri yang muncul pada pasien dan tanda dan
tandadan gejala bunuh gejala yang umumnya muncul pada pasien
dalam merawat pasien diri setra perawatannya beresiko bunuh diri.
dengan resiko bunuh diri. terhadap anggota b. Mengajarkan cara melindungi pasien dari perilaku
keluarga dengan resiko bunuh diri, seperti :
bunuh diri. 1) Mendiskusikan cara yang dapat dilakukan
jika pasien memperlihatkan tanda dan gejala
bunuh diri
2) Memberikan tempat aman
3) Menjauhkan barang-barang yang berpotensi
digunakan untuk bunuh diri
4) Senantiasa melakukan pengawasan
c. Mengajarkan keluarga tentang hal-hal yang dapat
dilakukan apabila pasien melakukan percobaan
bunuh diri, yaitu:
1) Mencari bantuan pada tetangga sekitar atau
pemuka masyarakat.
2) Segara membawa pasien ke rumah sakit atau
puskesmas untuk mendapatkan penanganan
medis.
d. Membantu keluarga mencari rujukan fasilitas
kesehatan yang tersedia bagi pasien dengan cara:
1) Memberikan informasi tentang nomor telefon
darurat tenaga kesehatan
2) Menganjurkan keluarga untuk mengantarkan
pasien berobat/control secara teratur
3) Menganjurkan pasien membantu pasien
meminum obat sesuai prinsip 5 benar.
Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
Sedih, marah, putus asa, tidak berdaya, memberikan isyarat verbal maupun non
verbal
2. Diagnosa Keperawatan
3. Tujuan
4. Tindakan Keperawatan
penyelesaian masalah
baik
saya mahasiswa Keperawatan Profesi Ners yang bertugas di ruang ini, saya
dinas pagi dari jam 7 pagi – 3 siang .” ”Bagaimana perasaan A hari ini? ” ”
Bagaimana kalau kita bercakap – cakap tentang apa yang A rasakan selama ini.
Kerja ”Bagaimana perasaan A setelah ini terjadi? Apakah dengan bencana ini
kepercayaan diri? Apakah A merasa tidak berharga atau bahkan lebih rendah
dari pada orang lain? Apakah A merasa bersalah atau mempersalahkan diri
berniat unutuk menyakiti diri sendiri? Ingin bunuh diri atau berharap A mati?
segera karena ada keinginan untuk mengakhiri hidup. Saya perlu memeriksa
seluruh isi kamar A ini untuk memastikan tidak ada benda – benda yang
untuk mengakhiri hidup A, saya tidak akan membiarkan A sendiri” “Apa yang
A lakukan jika keinginan bunuh diri muncul?” “Kalau keninginan itu muncul,
ruangan ini dan juga keluarga atau teman yang sedang besuk. Jadi A jangan
sendirian ya, katakan kepada teman perawat, keluarga atau teman jika ada
masalah.”
mengatasi perasaan ingin bunuh diri?” “Coba A sebutkan lagi cara tersebut!”
“Saya akan menemani A terus sampapi keinginan bunuh diri hilang.” (jangan
meninggalkan pasien).
dan ngobrolnya? “bagaimana kalau besok kita bertemu lagi disini pukul 09.00
WIB ? “ Kalau kamu setuju, besok kita ketemu lagi” Trimakasih atas waktunya
DAFTAR PUSTAKA