0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
58 tayangan21 halaman

Analisis Risiko Bunuh Diri dan Solusi

Diunggah oleh

Erika Dirga
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai RTF, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
58 tayangan21 halaman

Analisis Risiko Bunuh Diri dan Solusi

Diunggah oleh

Erika Dirga
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai RTF, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

RESIKO BUNUH DIRI

RAHMA ERLINDA FEBRIANA

NIM: 24650425

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONOROGO

2024
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Pendahuluan Oleh : Ericha Diah Pitaloka


Judul : Resiko Bunuh Diri

Telah disetujui dalam rangka Praktik Stase Keperawatan Jiwa Mahasiswa Profesi
Ners Alih Jenjang Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Ponorogo
pada tanggal 13 Juni-29 Juni 2024 di Puskesmas Siman

Penyusun

Ericha Diah Pitaloka

Pembimbing Lahan Pembimbing Institusi

Suci Kristiyani, [Link].,Ns Nurul Sri Wahyuni, [Link].,Ns.,[Link].


NIP. 19821030 201101 2 010 NIK. 19750107 199901 12
KONSEP TEORI
RISIKO BUNUH DIRI

A. Definisi
Bunuh diri merupakan tindakan yang secara sadar dilakukan oleh
pasien untuk mengakhiri kehidupannya. Menurut Hafizuddin (2021), bunuh
diri memiliki 4 pengertian, antara lain sebagai berikut.
1. Bunuh diri adalah membunuh diri sendiri secara intensional.
2. Bunuh diri dilakukan dengan intensi.
3. Bunuh diri dilakukan oleh diri sendiri kepada diri sendiri.
4. Bunuh diri bisa terjadi secara langsung (aktif) atau tidak langsung (pasif).
Misalnya, dengan tidak meminum obat yang menentukan kelangsungan
hidup atau secara sengaja berada di rel kereta api.
Menurut Zaini (2019), bunuh diri (suicide) adalah segala perbuatan
dengan tujuan untuk membinasakan dirinya sendiri dengan sengaja dan
dilakukan oleh seseorang yang tahu akan akibat yang mungkin pada waktu
singkat. Tanda dan gejalanya, yaitu sedih, marah, putus asa, tidak berdaya,
memberikan isyarat verbal maupun nonverbal.

B. Faktor Predisposisi
Secara universal, ketidakmampuan individu untuk menyelesaikan
masalah terbagi menjadi sebagai berikut (Townsend, 2018).
1. Faktor Genetik (Berdasarkan Penelitian)
a. 1-3 kali lebih banyak perilaku bunuh diri terjadi pada individu yang
menjadi kerabat tingkat pertama dari orang yang mengalami gangguan
mood/depresi yang pernah melakukan upaya bunuh diri.
b. Lebih sering terjadi pada kembar monozigot daripada kembar dizigot.
2. Faktor Biologis Lain
Biasanya penyakit kronis atau kondisi medis tertentu, misalnya stroke,
gangguan kerusakan kognitif (demensia), diabetes, kanker, HIV/AIDS
3. Faktor Psikososial dan Lingkungan
a. Teori Psikoanalitik/Psikodinamika: Teori Freud, yaitu bahwa kehi langan
objek berkaitan dengan agresi dari kemarahan, perasaan negatif terhadap
diri, dan terakhir depresi.
b. Teori Perilaku Kognitif: Teori Beck, yaitu pola kognitif negatif yang
berkembang dan memandang rendah diri sendiri.
c. Stresor Lingkungan: kehilangan anggota keluarga, penipuan, dan
kurangnya sistem pendukung sosial.

C. Jenis Bunuh Diri


Menurut Elder (2016), macam macam pembagian bunuh diri dan percobaan
bunuh diri adalah sebagai berikut.
1. Bunuh Diri Egoistik
Individu tidak mampu berinteraksi dengan masyarakat. Hal ini disebab kan
oleh kondisi kebudayaan atau karena masyarakat yang menjadikan individu
itu seolah olah tidak berkepribadian.
2. Bunuh Diri Altruistik
Individu cenderung bunuh diri karena identifikasi yang terlalu kuat dengan
suatu kelompok, individu merasa bahwa kelompok tersebut sangat
mengharapkannya.
3. Bunuh Diri Anomik
Hal ini terjadi apabila terdapat gangguan keseimbangan integrasi antara
individu dengan masyarakat, sehingga individu tersebut meninggalkan
norma-norma kelakuan yang biasa.
Individu kehilangan pegangan dan tujuan karena masyarakat dan
kelompoknya tidak dapat memberikan kepuasan kepadanya karena tidak ada
pengaturan dan pengawasan terhadap kebutuhannya.

D. Psikodinamik Bunuh Diri


Terdapat hubungan yang erat antara suicide dan depresi. Individu yang
mengalami depresi mencoba melakukan bunuh diri untuk menghilangkan
depresinya. Namun, banyak orang yang melakukan bunuh diri tidak
memperlihatkan gejala-gejala klinik mengenai depresi.
Helbert Hendin dalam Ruswadi (2021) mengemukakan psikodina- mika
bunuh diri, yaitu sebagai berikut:
1. Kematian sebagai pelepasan pembalasan (Death as retuliotary
abandonment), artinya suicide merupakan usaha untuk mengurangi
preokupasi.
2. Kematian sebagai pembunuhan terkedik atau ke belakang (Death as
retroflexed murder), artinya bagi individu yang mengalami gangguan emosi
hebat, suicide dapat mengganti kemarahan atau kekerasan yang tidak
dapat direpresi.
3. Kematian sebagai penyatuan kembali (Death as reunion), artinya kematian
memiliki arti yang menyenangkan karena individu bersatu kembali dengan
orang yang telah meninggal.
4. Kematian sebagai hukuman buat diri sendiri (Death as self punishment),
artinya menghukum diri sendiri karena kegagalan dalam pekerjaan jarang
terjadi pada wanita, akan tetapi jika seorang ibu tidak mampu mencintai
maka keinginan untuk menghukum dirinya dapat terjadi.

E. Tanda-Tanda Bunuh Diri


Solomon dalam Maramis (2018) membagi besarnya risiko bunuh diri dengan
melihat adanya tanda-tanda tertentu yaitu sebagai berikut:
1. Tanda-Tanda Risiko Berat
a. Keinginan mati yang sungguh-sungguh, pernyataan yang berulang-ulang
bahwa individu ingin mati.
b. Adanya depresi dengan gejala rasa bersalah dan berdosa terutama
terhadap orang-orang yang sudah meninggal, rasa putus asa, ingin
dihukum berat, rasa cemas yang hebat, serta adanya gangguan tidur yang
berat.
c. Adanya psikosa terutama penderita psikosa impulsif, serta adanya
perasaan curiga, ketakutan, dan panik. Keadaan semakin berbahaya jika
penderita mendengar suara yang memerintahkan untuk membunuh
dirinya.
2. Tanda-Tanda Bahaya
a. Pernah melakukan percobaan bunuh diri.
b. Penyakit yang menahun, penderita dengan penyakit kronis berat dapat
melakukan bunuh diri karena depresi yang disebabkan penyakitnya
c. Ketergantungan obat dan alkohol karena mempunyai efek melemahkan
kontrol dan mengubah dorongan, sehingga memudahkan bunuh diri.
d. Hipokondriasis, keluhan fisik yang konstan dan bermacam-macam tanpa
sebab organis dapat menimbukan depresi yang berbahaya.
e. Kebangkrutan, individu tanpa uang, pekerjaan, terman, atau harapan
masa depan untuk mempunyai keluarga dan kedudukan sosial yang
tinggi.
f. Catatan bunuh diri, seseorang yang mempunyai riwayat catatan bunuh
diri dianggap sebagai tanda bahaya.

F. Psikopatologi Bunuh Diri


Semua perilaku bunuh diri adalah serius, apa pun tujuannya. Orang
yang siap bunuh diri adalah orang yang merencanakan kematiannya dengan
tindakan kekerasan, mempunyai rencana spesifik, dan mempunyai nilai untuk
melakukannya. Perilaku bunuh diri dapat dibagi empat, yaitu sebagai berikut
(Maramis, 2018).
1. Isyarat Bunuh Diri
Isyarat bunuh diri ditunjukkan dengan berperilaku secara tidak langsung
ingin bunuh diri. Pada kondisi ini pasien mungkin sudah memiliki ide untuk
mengakhiri hidupnya, namun tidak disertai dengan ancaman dan percobaan
bunuh diri.
2. Ancaman Bunuh Diri
Peningkatan verbal/nonverbal bahwa orang tersebut mempertimbang kan
untuk bunuh diri. Ancaman menunjukkan ambivalensi seseorang tentang
kematian, kurangnya respons positif dapat ditafsirkan seseorang sebagai
dukungan untuk melakukan bunuh diri. Secara aktif pasien telah
memikirkan rencana bunuh diri, namun tidak disertai dengan percobaan
bunuh diri.
3. Upaya Bunuh Diri
Semua tindakan yang diarahkan pada diri yang dilakukan oleh individu
yang dapat mengarah pada kematian jika tidak dicegah. Pada kondisi ini
pasien aktif mencoba bunuh diri dengan cara gantung diri, minum racun,
memotong urat nadi, atau menjatuhkan diri dari tempat yang tinggi.
4. Bunuh Diri
Bunuh diri mungkin terjadi setelah tanda peningkatan terlewatkan. Orang
yang melakukan percobaan bunuh diri dan yang tidak langsung.

G. Rentang Respons

Peningkatan Berisiko Perilaku destruktif Pencederaan Bunuh


diri destruktif diri tak langsung diri diri

Gambar Rentang Respons RBD


(Stuart dan Sudden dalam Sharma, 2017)

1. Peningkatan Diri
Seseorang dapat meningkatkan proteksi atau pertahanan diri secara wajar
terhadap situasional yang membutuhkan pertahanan diri.
2. Berisiko Destruktif
Seseorang memiliki kecenderungan atau berisiko mengalami perilaku
destruktif atau menyalahkan diri sendiri terhadap situasi yang seharusnya
dapat mempertahankan diri, seperti seseorang merasa patah semangat
bekerja ketika dirinya dianggap tidak loyal terhadap pimpinan padahal
sudah melakukan pekerjaan secara optimal.
3. Destruktif Diri Tak Langsung
Seseorang telah mengambil sikap yang kurang tepat (maladaptif) terhadap
situasi yang membutuhkan dirinya untuk mempertahankan dirinya.
4. Pencederaan Diri
Seseorang melakukan percobaan bunuh diri atau pencederaan diri akibat
hilangnya harapan terhadap situasi yang ada (Widyawati, 2020).
H. Pengobatan
Semua kasus percobaan bunuh diri harus mendapat perhatian yang
serius. Pertolongan pertama dilakukan di rumah sakit, dilakukan pengobatan
terhadap luka ataupun keracunan. Bila luka atau keracunan sudah dapat diatasi
maka dilakukan evaluasi psikiatri. Untuk pasien depresi bisa diberikan terapi
elektrokonvulsi, obat-obatan berupa antidepresan, dan psikoterapi (Supinganto,
2021). Faktor yang memengaruhi prognosa, yaitu sebagai berikut.
1. Pasien: bila pasien dapat menyesuaikan diri dengan baik dan stres yang
menjadi faktor pencetus untuk percobaan bunuh diri cukup besar, maka
prognosanya lebih baik.
2. Lingkungan: bila lingkungan memberi dukungan, banyak orang yang
memperhatikan penderita, serta banyak hal yang dapat memberi arti dalam
kehidupan pasien, maka progonosanya akan lebih baik.

I. Pohon Masalah

Risiko mencederai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan

Risiko bunuh diri

Gangguan interaksi sosial (menarik diri)

Harga diri rendah


KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
RISIKO BUNUH DIRI

A. Pengkajian

1. Identitas klien

Identitas klien meliputi ruangan rawat pasien saat ini, inisial nama pasien,

umur, pekerjaan, pendidikan, tanggal rawat, tanggal pengkajian, nomor RM,

status dan informasi.

2. Alasan masuk RSJ

Pasien yang mengalami resiko bunuh diri masuk RSJ dengan berbagai

alasan, lakukan pengkajian terhadap perasaan pasien, yaitu: rasa putus asa,

tidak berdaya, sedih dan isyarat non verbal dan verbal ide bunuh diri

3. Faktor predisposisi

Pasien dengan resiko bunuh diri biasanya memiliki riwayat pengobatan

yang cenderung tidak berhasil, pengalaman masa lalu yang tidak

menyenangkan, adanya riwayat keluarga yang mengalami gangguan jiwa

dan lain sebagainya.

4. Pengkajian Fisik

Melakukan pengkajian yang meliputi TTV pasien, keluhan fisik yang

mungkin terjadi seperti lemas, ada tidaknya selera makan, tinggi badan dan

berat badan pasien.

5. Psikososial

a. Genogram

Genogram menggambarkan klien dengan keluarga, dilihat dari pola

komunikasi, pengambilan keputusan dan pola asuh


b. Konsep diri

Tanyakan kepada klien tentang presepsi klien terhadap keyakinan,

kepercayaan dan pikiran yang membuat klien mengetahui tentang dirinya

dan mempengaruhi hubungannya dengan orang lain.

c. Gambaran diri

Tanyakan presepsi klien terhadap tubuhnya, bagaimana tubuh yang

disukai, reaksiklien terhadapbagian tubuh yang tidak disukai dan bagian

yang disukai.

d. Identitas diri

Status dan posisi klien sebelum klien dirawat, kepuasan klien terhadap

status dan posisinya, kepuasan klien sebagai laki-laki atau perempuan,

keunikan yang dimiliki sesuai dengan jenis kelaminnya dan posisinya.

e. Fungsi peran

Tugas atau peran klien dalam keluarga, pekerjaan, kelompok masyarakat,

kemampuan klien dalam melaksanakan fungsi atau perannya, perubahan

yang terjadi saat klien sakit dan dirawat, bagaimana perasaan klien akibat

perubahan tersebut.

f. Ideal diri

Harapan klien terhadap keadaan tubuh yang ideal, posisi, tugas, peran

dalam keluarga, pekerjaan atau sekolah, harapan klien terhadap

lingkungan, harapan klien terhadap penyakitnya, bagaimana jika

kenyataan tidak sesuai dengan harapannya.

g. Harga diri
Hubungan klien dengan orang lain sesuai dengan kondisi, dampak pada

klien dalam berhubungan dengan orang lain, harapan, identitas dan tidak

sesuai harapan, fungsi peran tidak sesuai harapan, ideal yang tidak sesuai

harapan, penilaian klien terhadap pandangan atau penghargaan orang

lain.

6. Status mental

a. Penampilan

Melihat penampilan klien dari ujung rambut sampai ujung kaki apakah

ada yang tidak rapi, pengguaan pakaian yang tidak sesuai, cara

berpakaian yang tidak seperti biasanya, kemampuan klien dalam

berpakaian , dampak ketidak mampuan berpenampilan baik atau

berpakaian terhadap status psikologis pasien

b. Pembicaraan

Amati pembicaraan klien apakah cepat, keras, terburu-buru, gagap,

sering terhenti, atau bloking, apatis, lambat, membisu, menghindar, tidak

mampu memulai pembicaraan.

1) Aktivitas motorik Lesu, tegang, gelisah Agitasi: gerakan motorik yang

menunjukan kegelisahan

2) Tik: gerakan-gerakan kecil otot muka yang tidak terkontrol

3) Grimasem: gerakan otot muka yang berubah-ubah yang tidak

terkontrol klien

4) Tremor: jari jari yang bergetar ketika klien menjulurkan tangan dan

merentangkan jari-jari

5) Kompulsif: kegiatan yang dilakukan berulang ulang


6) Alam perasaan

7) Sedih, putus asa, gembira yang berlebihan

8) Ketakutan: objek yang diikuti sudah jelas

7. Kebutuhan pesiapan pulang

a. Makan

Pasien makan 3x sehari sesuai jadwal di Bangsal dengan menu nasi,

sayur, lauk dan [Link] selalu menghabiskan [Link] terlihat

membersihkan alat makannya secara mandiri.

b. BAB / BAK Pasien bisa BAK dan BAB sendiri di toilet.

c. Mandi

Pasien masih di ingatkan mengenai kebersihan diri. Pasien mengatakan

mandi 2 kali sehari dengan menggunakan sabun, membersihkan gigi

dengan menggunakan sikat gigi dan pasta [Link] mengatakan setiap

hari keramas dengan menggunakan shampo.

d. Berpakaian / berhias

e. Pasien memakai pakaian dari RS, dan tidak ada penyimpangan dalam

berpakaian maupun berhias.

f. Istirahat dan tidur

g. Penggunaan Obat

h. Pemeliharaan kesehatan Kuku pasien terlihat kotor, pasien mengatakan

tidak pernah cuci tangan sebelum makan.

8. Mekanisme koping

Koping maladaptif yang cenderung dimiliki pasien yaitu dengan berusaha

mencederai diri atau orang lain.


9. Masalah psikososial dan lingkungan

Pengkajian masalah pasien yang mencakup pelayanan kesehatan,

pendidikan, dukungan kelompok lingkungan, ekonomi dan perumahan. Hal

ini penting dilakukan karena pasien cenderung tidak memiliki kemampuan

dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

10. Kurang pengetahuan tentang penyakit jiwa/ faktor presipitasi/ koping

penyakit fisik/ obat-obatan.

11. Aspek medik

Berisi diagnosa medik serta terapi medik yang didapatkan oleh pasien.

Masalah keperawatan yang muncul pada pasien dengan resiko bunuh diri

adalah:

a) Resiko bunuh diri

DO : Pernyataan tidak ada gunanya hidup, ingin mati saja

DS : Ada ide bunuh diri, isyarat bunuh diri dan pernah melakukan

upaya-upaya bunuh diri.

b) Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan

DS : Mengatakan ingin membuat orang lain cedera atau dirinya

sendiri cedera, mengatakan hal-hal yang mengancam

DO : Memperlihatkan tanda-tanda permusuhan, menyerang orang-

orang

c) Harga diri

DS : Mengatakan tidak bahagia, putus asa, tidak memiliki harapan,

merasa malu dan tidak berguna


DO : Pasien tampak gelisah, sedih, cemas, tidak dapat mengontrol

diri

B. Analisa Data
Masalah Keperawatan Data yang Perlu Dikaji
Resiko Bunuh Diri Data subjektif:
1. Mengungkapkan keinginan bunuh diri
2. Mengungkapkan keinginan untuk mati
3. Mengungkapkan rasa bersalah dan
keputusasaan
4. Ada riwayat berulang percobaan bunuh
diri sebelumnya dari keluarga
5. Berbicara tentang kematian, menanyakan
tentang dosis obat yang mematikan
6. Mengungkapkan adanyanya konflik
interpersonal
7. Mengungkapkan telah menjadi korban
perilaku kekerasan saat kecil

Data objektif:
1. Impulsif
2. Menunjukkan perilaku yang
mencurigakan(biasaya menjadi sangat
patuh)
3. Ada riwayat penyakit mental (depresi,
psikosis, dan penyalahgunaan alkohol)
4. Ada riwayat penyakit fisik (penyakit
kronis atau penyakit terminal)
5. Pengangguran (tidak bekerja, kehilangan
pekerjaan, atau kegagalanü dalam karier)

C. Daftar Masalah Keperawatan


1. Resiko Bunuh Diri
2. Isolasi Sosial
3. Harga Diri Rendah
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
KLIEN DENGAN RESIKO BUNUH DIRI

Perencanaan
Dx Keperawatan
Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi

Dx 1 : TUM : Pasien tidak Pasien menunjukan 1. Bina hubungan saling percaya dengan
mencederai dirinya sendiri atau tanda-tanda percaya mengemukakan prinsip komunikasi terapeutik:
Resiko Bunuh Diri : tidak melakukan bunuh diri kepada perawat melalui: a. Mengucapkan salam terapeutik. Sapa pasien
Ancaman/Percobaan a. Ekspresi wajah dengan ramah baik verbal maupun non
Bunuh Diri TUK : cerah,tersenyum verbal
1. Paien b. Mau berkenalan b. Berjabat tangan dengan pasien
dapatmembinahubungans c. Ada kontak mata c. Perkenalkan diri dengan sopan
aling percaya d. Bersedia d. Tanyakan nama lengkap pasien dan nama
menceritakan panggilan yang disukai pasien.
perasaannya e. Jelaskan tujuan pertemuan.
e. Bersedia f. Membuat kontrak, topic, waktu dan tempat
mengungkapkan setiap kali bertemu pasieng.
masalah g. Tunjukan sikap empati dan menerima pasien
apa adanya.
h. Beri perhatian kepada pasien dan perhatian
kebutuhan dasar pasien.
2. Pasien tetap aman dan Kriteria Evaluasi: a. Menemani pasien terus-menerus sampai dia dapat
terlindungi Pasien tetap aman, dipindahkan ke tempat yang aman
terlindungi dan selamat. b. Menjauhkan semua benda-benda yang berbahaya
atau berpotensi membahayakan pasien (misalnya:
pisau, silet, kaca, gelas, ikat pinggang)
c. Mendapatkan orang yang dapat dengan segera
membawa pasien kerumah sakit untuk pengkajian
lebih lanjut dan kemungkinan perawat
d. Memeriksa apakah pasien benar-benar telah
meminum obatnya, jika pasien mendapatkan obat
e. Dengan lembut menjelaskan kepada pasien
bahwaanda (perawat) akan melindungi pasien
sampai tidak ada keinginan bunuh diri
Dx 2 : TUK : Kriteria Evaluasi : 1. Mendiskusikan cara mengatasi keinginan bunuh
1. Pasien mendapatkan Pasien tetap dalam diri, yaitu dengan meminta bantuan dari keluarga
Resiko Bunuh Diri :
perlindungan dari keadaan aman dan atau teman
Isyarat Bunuh Diri
lingkungannya selamat
2. Pasien dapat meningkatkan Kriteria Evaluasi : a. Memberi kesempatan pasien untuk
harga dirinya Pasien mampu mengungkapkan perasaannya
meningkatkan harga b. Berikan pujian bila pasien dapat mengatakan
dirinya. perasaan positif.
c. Meyakinkan pasien bahwa dirinya penting.
d. Merencanakan aktifitas yang pasien dapat lakukan
3. Meningkatkan kemampuan Kriteria Evaluasi : a. Mendiskusikan dengan cara menyelesaikan
pasien dalam memecahkan Pasien mampu masalahnya
masalah menggunakan cara b. Mendiskusikan dengan pasien yang eefektifitas
penyelesaian yang baik. tiap-tiap cara penyelesaian masalah tersebut.
c. Mendiskusikan dengan cara menyelesaikan
masalah yang lebih baik
4. Meningkatkan kemampuan Kriteria Evaluasi : a. Mendiskusikan dengan pasien tentang harapan
menyusun rencana masa Pasien mampu menyusun pasien.
depan. rencana masa depan b. Mendiskusikan cara-cara mencapai masa depan.
c. Melatih pasien langkah-langkah kegiatan
mencapai masa depan.
d. Mendiskusikan dengan pasien efektifitas masing-
masing kegiatan mencapai masa depan.
5. Meningkatkan pengetahuan Kriteria Evaluasi : a. Mengajarkan keluarga tentang tanda dan gejala
dan kesiapan keluarga Keluarga mengetahui bunuh diri yang muncul pada pasien dan tanda dan
tandadan gejala bunuh gejala yang umumnya muncul pada pasien
dalam merawat pasien diri setra perawatannya beresiko bunuh diri.
dengan resiko bunuh diri. terhadap anggota b. Mengajarkan cara melindungi pasien dari perilaku
keluarga dengan resiko bunuh diri, seperti :
bunuh diri. 1) Mendiskusikan cara yang dapat dilakukan
jika pasien memperlihatkan tanda dan gejala
bunuh diri
2) Memberikan tempat aman
3) Menjauhkan barang-barang yang berpotensi
digunakan untuk bunuh diri
4) Senantiasa melakukan pengawasan
c. Mengajarkan keluarga tentang hal-hal yang dapat
dilakukan apabila pasien melakukan percobaan
bunuh diri, yaitu:
1) Mencari bantuan pada tetangga sekitar atau
pemuka masyarakat.
2) Segara membawa pasien ke rumah sakit atau
puskesmas untuk mendapatkan penanganan
medis.
d. Membantu keluarga mencari rujukan fasilitas
kesehatan yang tersedia bagi pasien dengan cara:
1) Memberikan informasi tentang nomor telefon
darurat tenaga kesehatan
2) Menganjurkan keluarga untuk mengantarkan
pasien berobat/control secara teratur
3) Menganjurkan pasien membantu pasien
meminum obat sesuai prinsip 5 benar.
Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan

A. Proses Keperawatan

1. Kondisi Klien

Sedih, marah, putus asa, tidak berdaya, memberikan isyarat verbal maupun non

verbal

2. Diagnosa Keperawatan

Resiko Bunuh Diri

3. Tujuan

a. Pasien mendapat perlindungan dari lingkungannya

b. Pasien dapat mengungkapkan perasaanya

c. Pasien dapat meningkatkan harga dirinya

d. Pasien dapat menggunakan cara penyelesaian masalah yang baik

4. Tindakan Keperawatan

a. Mendiskusikan tentang cara mengatasi keinginan bunuh diri, yaitu dengan

meminta bantuan dari keluarga atau teman.

b. Meningkatkan harga diri pasien, dengan cara:

1) Memberi kesempatan pasien mengungkapkan perasaannya.

2) Berikan pujian bila pasien dapat mengatakan perasaan yang positif.

3) Meyakinkan pasien bahwa dirinya penting

4) Membicarakan tentang keadaan yang sepatutnya disyukuri oleh pasien

5) Merencanakan aktifitas yang dapat pasien lakukan


c. Meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah, dengan cara:

1) Mendiskusikan dengan pasien cara menyelesaikan masalahnya

2) Mendiskusikan dengan pasien efektifitas masing-masing cara

penyelesaian masalah

3) Mendiskusikan dengan pasien cara menyelesaikan masalah yang lebih

baik

B. Strategi Komunikasi dan Pelaksanaan (latihan fase orientasi, kerja dan

terminasi setiap SP)

SP 1: Percakapan untuk melindungi pasien dari percobaan bunuh diri Melindungi

pasien dari percobaan bunuh diri.

 Orientasi: “Selamat pagi Pak, kenalkan saya ..............., biasa di pangil.........,

saya mahasiswa Keperawatan Profesi Ners yang bertugas di ruang ini, saya

dinas pagi dari jam 7 pagi – 3 siang .” ”Bagaimana perasaan A hari ini? ” ”

Bagaimana kalau kita bercakap – cakap tentang apa yang A rasakan selama ini.

Dimana dan berapa lama kita bicara?”

 Kerja ”Bagaimana perasaan A setelah ini terjadi? Apakah dengan bencana ini

A paling merasa menderita di dunia ini? Apakah A pernah kehilangan

kepercayaan diri? Apakah A merasa tidak berharga atau bahkan lebih rendah

dari pada orang lain? Apakah A merasa bersalah atau mempersalahkan diri

sendiri? Apakah A sering mengalami kesulitan berkonsentrasi? Apakah A

berniat unutuk menyakiti diri sendiri? Ingin bunuh diri atau berharap A mati?

Apakah A pernah mencoba bunuh diri? Apa sebabnya, bagaimana caranya?


Apa yang A rasakan?” ”Baiklah, tampaknya A membutuhkan pertolongan

segera karena ada keinginan untuk mengakhiri hidup. Saya perlu memeriksa

seluruh isi kamar A ini untuk memastikan tidak ada benda – benda yang

membahayakan A)” “Karena A tampaknya mash memilikikeinginan yang kuat

untuk mengakhiri hidup A, saya tidak akan membiarkan A sendiri” “Apa yang

A lakukan jika keinginan bunuh diri muncul?” “Kalau keninginan itu muncul,

maka akan mengatasinya A harus langsung minta bantuan kepada perawat di

ruangan ini dan juga keluarga atau teman yang sedang besuk. Jadi A jangan

sendirian ya, katakan kepada teman perawat, keluarga atau teman jika ada

dorongan untuk mengakhiri kehidupan.” “Saya percaya A dapat mengatasi

masalah.”

 Terminasi: “Bagaimana perasaan A sekarang setelah mengetahui cara

mengatasi perasaan ingin bunuh diri?” “Coba A sebutkan lagi cara tersebut!”

“Saya akan menemani A terus sampapi keinginan bunuh diri hilang.” (jangan

meninggalkan pasien).

Kontrak Waktu pertemuan ke 2 “bagaimana kalau besok kita lanjutkan cerita

dan ngobrolnya? “bagaimana kalau besok kita bertemu lagi disini pukul 09.00

WIB ? “ Kalau kamu setuju, besok kita ketemu lagi” Trimakasih atas waktunya
DAFTAR PUSTAKA

Elder, R. 2016. Psychiatric and Mental Health Nursing. Elsevier.


Hafizuddin, D.T. M. 2021. Mental Nursing Care on Mr. A With Hearing
Hallucination Problems. 1-38. [Link]
Maramis, W. 2018. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Airlangga University Press.
Ruswadi, I. 2021. Keperawatan Jiwa Panduan Praktis untuk Mahasiswa
Keperawatan. In Adab.
Sharma. 2017. Potter and Perry's Fundamentals of Nursing: Second South Asia
Edition. Elsevier Health Sciences.
Townsend, M. 2018. Psychiatric Mental Health Nursing. Library of Congress.
Supinganto, A. 2021. Keperawatan Jiwa Dasar. Yayasan Kita Menulis.
Zaini, M. 2019. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Masalah Psikososial dan
Gangguan Jiwa, Deepublish.

Anda mungkin juga menyukai