2.2.
Demam Berdarah Dengue
2.2.1. Definisi
Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Hemorraghic Fever (DHF) adalah pen
yakit infeksi virus yang ditularkan oleh nyamuk betina ke manusia, terutama spesies Aedes a
egypti dan Aedes albopictus dengan spektrum klinis yang bervariasi. Virus ini tersebar luas u
mumnya di wilayah dengan iklim tropis dan subtropis dan penyebarannya terkait dengan fakt
or suhu, curah hujan, kelembapan dan urbanisasi (Schaefer, Panda, & Wolford, 2022; WHO,
2023).
2.2.2. Epidemiologi
Dengue merupakan permasalahan kesehatan global, terutama pada beberapa Negara
tropis maupun subtropis. Terdapat lebih dari 2,5 miliar orang (yaitu, lebih dari 40% populasi
dunia) sekarang berisiko terkena DBD. WHO memperkirakan ada lebih dari 100 juta infeksi
dengue di seluruh dunia setiap tahunnya. Diperkirakan 500.000 orang dengan DBD parah me
merlukan rawat inap setiap tahun, sebagian besar di antaranya adalah anak-anak, dimana sekit
ar 2,5% dari mereka berisiko untuk meninggal (WHO, 2014).
Dengue adalah penyakit virus nyamuk yang menyebar paling cepat di dunia. Dalam
50 tahun terakhir, insiden telah meningkat 30 kali lipat dengan perluasan geografis ke negara-
negara baru dan dari perkotaan ke pedesaan. Virus dengue dibawa oleh vektor nyamuk betina
Aedes aegypti dan Aedes albopictus, dimana kedua nyamuk ini juga termasuk vektor dalam h
al penyakit virus lainnya, seperti demam cikungunya, yellowfever, zika virus dan west nile vir
us (WHO, 2014).
Kejadian infeksi virus dengue mengalami kenaikan yang signifikan di seluruh dunia
dan diperkirakan melibatkan sekitar 390 juta orang setiap tahun, mulai dari individu yang asi
mtomatis sampai sekitar 96 juta orang yang mengalami gejala klinis. Terutama dalam dua de
kade terakhir, terjadi peningkatan kasus hingga 8 kali lipat. Studi prevalensi menyimpulkan b
ahwa sekitar 3,9 miliar orang di 129 negara berisiko terkena infeksi dengue, dengan sekitar 7
0% dari populasi yang terancam berada di wilayah Asia. Tahun 2019 dicatat sebagai tahun de
ngan jumlah kasus dengue tertinggi secara global (Menteri Kesehatan Republik Indonesia., 2
021).
Kasus infeksi dengue di Indonesia pada tahun 2019 meningkat menjadi 138.127 diba
nding tahun 2018 yang berjumlah 65.602 kasus. Angka kematian akibat infeksi dengue pada t
ahun 2019 juga meningkat dibandingkan tahun 2018, yaitu dari sebanyak 467 orang menjadi
919 orang (Menteri Kesehatan Republik Indonesia., 2021). Berdasarkan laporan dari petugas
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota di provinsi Kalimantan Timur pada tahun 2020, tercatat pe
ningkatan kasus DBD sebanyak 2.412 kasus konfirmasi dan tercatat 211 kematian akibat den
gue. Terdapat 5 Kabupaten/Kota dengan jumlah kasus DBD tertinggi, yakni Kota Balikpapan,
Kota Samarinda, Kabupaten Kutai Barat, Kota Bontang, dan Kabupaten Berau, dengan jumla
h kasus lebih dari 200 kasus. Daerah- daerah ini memiliki tingkat populasi yang padat dan mo
bilitas penduduk yang sangat tinggi. Selain itu, Kabupaten/Kota yang mengalami angka kema
tian yang signifikan akibat DBD juga memiliki tingkat kasus DBD yang tinggi (Dinas Keseha
tan Kalimantan Timur, 2021).
Kejadian infeksi dengue lebih tinggi pada anak dibandingkan dengan dewasa dan per
sentase yang memerlukan perawatan rumah sakit lebih tinggi pada anak Asia dibandingkan ra
s lainnya(Menteri Kesehatan Republik Indonesia., 2021).
2.2.3. Etiologi
DBD disebabkan oleh salah satu dari empat serotipe yang berbeda yaitu DEN-1, DEN-
2, DEN-3 dan DEN-4 dari virus RNA beruntai tunggal dari genus Flavivirus. Infeksi oleh sat
u serotipe menghasilkan kekebalan seumur hidup terhadap serotipe itu tetapi tidak pada seroti
pe lainnya (Schaefer et al., 2022).
2.2.4. Transmisi
Infeksi virus dengue ditularkan lewat gigitan vektor nyamuk Aedes aegipty dan Aedes
albopictus. Transmisi virus tergantung dari 2 faktor yaitu faktor biotik diantaranya faktor viru
s, vektor nyamuk dan host; dan faktor abiotik yaitu suhu lingkungan, curah hujan dan kelemb
aban. Faktor-faktor tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:
0. Faktor Biotik
● Virus Dengue
Virus dengue termasuk genus Flavivirus dari family Flaviviridae. Berdasarkan geno
m yang dimiliki, virus ini termasuk RNA rantai tunggal. Virus
ini terdiri atas protein struktural (protein C, protein M, protein E) dan juga protein non struktu
ral (NS1, NS2a, NS2b, NS3, NS4a, NS4b, and NS5). Dalam hal ini, protein struktural berpera
n dalam pembentukan virus sedangkan protein non- struktural membantureplikasi virus dan f
ungsi lainnya didalam tubuh inang. Virus dengue memiliki 4 jenis serotipe yakni DEN-1, DE
N-2, DEN-3, DEN-4. Keempat jenis serotipe virus dengue dapat ditemukan di Indonesia dan
dilaporkan bahwa serotipe DEN-3 merupakan serotipe yang paling dominan serta berhubunga
n dengan kasus berat (Hadinegoro, Moedjito, & Chairulfatah, 2014).
● Vektor Nyamuk
Saat ini, Aedes aegipty merupakan spesies yang paling banyak ditemukan di berbaga
i belahan dunia antara 45 lintang utara dan 35 lintang selatan. Nyamuk ini adalah nyamuk do
o o
mestik dengan afinitas tinggi untuk menggigit manusia (antropofilik), dan dapat menggigit le
bih dari 1 individu (multiple-bite) untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya. Sehingga nyamuk i
ni menjadi vektor yang sangat potensial untuk menularkan virus dengue dari satu individu ke
individu lainnya. Nyamuk yang menggigit manusia adalah nyamuk betina (Hadinegoro et al.,
2014).
● Host
Ketika nyamuk menghisap darah manusia yang sedang dalam fase viremia, virus aka
n masuk dalam tubuh nyamuk, yaitu sekitar 2 hari sebelum timbulnya demam sampai 5-7 hari
fase demam. Selanjutnya, nyamuk akan menularkan virus ke manusia lain. Rentannya tertular
penyakit pada individu dipengaruhi oleh status imunitas dan faktor genetik pada tiap host.
a. Faktor Abiotik
Faktor abiotik yang mempengaruhi transmisi dengue yaitu suhu lingkungan, curah h
ujan dan kelembaban. Perubahan iklim global dilaporkan menyebabkan nyamuk mengalami d
ehidrasi sehingga nyamuk lebih sering mengigit manusia untuk bertahan hidup. Sedangkan, p
eningkatan curah hujan, terutama saat peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan dil
aporkan berpengaruh terhadap peningkatan kasus penyakit dengue.
2.2.5. Siklus Penularan
Nyamuk Aedes betina umumnya terjangkit virus dengue saat menghisap darah dari s
eseorang dalam fase demam akut (viraemia), yakni dari 2 hari sebelum panas muncul hingga
5 hari setelahnya. Nyamuk bisa menyebarkan virus setelah 8- 12 hari menghisap darah pende
rita viremia (periode inkubasi ekstrinsik), dan tetap bisa menularkan virus sepanjang hidupny
a. Setelah masa inkubasi ekstrinsik, virus akan menyebar ke kelenjar ludah nyamuk. Nyamuk
ini dapat menularkan virus saat menggigit orang lain dan mengeluarkan ludahnya ke dalam lu
ka gigitan. Setelah inkubasi di tubuh manusia selama 3-14 hari (rata-rata 4-7 hari), gejala pen
yakit muncul secara tiba-tiba, termasuk demam, pusing, nyeri otot, hilangnya nafsu makan, d
an tanda lainnya (Kemenkes RI, 2017).
Biasanya, viremia muncul sebelum atau saat gejala awal penyakit muncul, dan berla
ngsung sekitar 5 hari. Selama periode ini, penderita sangat mudah menularkan virus kepada n
yamuk vektor. Nyamuk memiliki peran penting dalam siklus penularan virus ini, terutama jik
a penderita tidak terlindungi dari gigitan nyamuk. Ini mengindikasikan bahwa virus dapat me
nyebar secara vertikal dari nyamuk betina yang terinfeksi ke generasi berikutnya (Kemenkes
RI, 2017).
Gambar 2. 6 Siklus Penularan (Kemenkes RI, 2017)