0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan11 halaman

Pendidikan PPKn untuk Generasi Muda Cerdas

Diunggah oleh

Ferda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan11 halaman

Pendidikan PPKn untuk Generasi Muda Cerdas

Diunggah oleh

Ferda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MEMBANGUN GENERASI MUDA SMART AND GOOD CITIZEN DI ERA

DIGITAL MELALUI PENDIDIKAN


Nama Lengkap
Universitas Terbuka

ABSTRAK
Masa depan suatu bangsa sangat ditentukan oleh generasi muda yang saat ini
sedang tumbuh. Generasi muda yang saat ini berusia 16-30 tahun banyak menyerap
berbagai macam ilmu yang diperoleh dari mana saja termasuk internet, pendidikan
formal, pendidikan informal, maupun teknologi informasi-komunikasi (TIK) yang
semakin maju. Oleh karena itu agar suatu bangsa mempunyai karakter smart and
good citizenship maka generasi muda perlu dibekali seperangkat pengetahuan dan
pembelajaran sebagai warganegara muda yang cerdas dan juga baik salah satunya
melalui pembelajaran PPKn. PPKn merupakan program pembelajaran yang bertujuan
untuk membentuk warga negara yang berfikir, bertindak, besikap, berkembang, dan
berinteraksi dengan cerdas, kritis, analistis, berpartisipasi aktif dan bertanggung
jawab terhadap diri, lingkungan masyarakat, berbangsa, dan bernegara dan
berkehidupan dunia yang dijiwai nilai-nilai agama, budaya, hukum, keilmuan serta
watak yang bersemangat, bergelora, dan mewujudkan sifat demokratis dalam negara
hukum Indonesia yang religious, adil, beradab dan bersatu, bermasyarakat yang
berkeadilan sosial berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Sehingga fokus dan target
utama dari pembelajaran PPKn adalah pembekalan pengetahuan, pembinaan sikap
perilaku, dan pelatihan keterampilan sebagai warga negara demokratis, taat hukum
dan taat asas dalam kehidupan masyarakat madani. Pemuda (saat ini) adalah
pemimpin masa depan, oleh karena itu pendidikan karakter bagi generasi muda
menjadi sangat penting dan harus terus menerus dilakukan oleh semua pihak demi
harapan dan masa depan bangsa Indonesia.
Kata kunci: Generasi muda, pembelajaran PPKn
PENDAHULUAN
Generasi muda adalah tulang punggung Bangsa dan Negara merupakan istilah
yang sering kita dengar sehari-hari. Perubahan yang terjadi dalam lingkungan sosial
saat ini memerlukan panutan dan contoh yang dapat membawa masyarakat kita ke
arah yang lebih baik. Terlebih lagi di era reformasi ini, generasi muda dituntut untuk
lebih berpartisipasi dalam membangun masyarakat Indonesia. Sebagaimana kita
ketahui, generasi muda adalah tonggak keberlangsungan masa depan Indonesia.
Budimansyah (2010: 2), menyatakan bahwa, penumbuhan terhadap generasi muda
menjadi warga negara yang baik menjadi perhatian utama, tidak ada tugas yang lebih
penting dari pengembangan warga negara yang bertanggungjawab, efktif dan
terdidik. Pendapat sangat factual dengan kondisi dan bangsa Indonesia saat ini.
Generasi bangsa saat ini membutuhkan penumbuhan dalam sikap dan
kepribadian guna menumbuhkan pribadi yang demokratis, bertanggungjawab, dan
toleran dengan diimbangi sikap dan akhlak yang mulia. Hal tersebut jelas bahwa
pendidikan dan penumbuhan generasi muda sangat penting dalam mewujudkan cita-
cita pendidikan guna menyiapkan generasi emas di masa yang akan datang. Untuk
merealisasikan hal tersebut maka dibuatkan kurikulum sebagai rancangan pendidikan.
Kurikulum merupakan pedoman dan racangan pelaksanaan pendidikan yang
dijadikan sebagai penuntun dan pegangan dalam pelaksanaan sistem pendidikan.
Dalam kurikulum 2013 telah mengarahkan semua mata pelajaran untuk mewujudkan
hal-hal tersebut.
Penanaman sikap, kepribadian, dan tanggungjawab peserta didik telah diarahkan
dalam setiap mata pelajaran dari semua jenjang pendidikan. Salah satu mata pelajaran
yang sangat erat dengan aspek penanaman sikap dan kepribadian serta sikap
tanggungjawab adalah mata pelajaran PPKn. Selain itu, mata pelajaran Pendidikan
Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) yang dipersiapkan dalam menghadapi
persaingan hidup di masyarakat dan umunya persaingan global. Hal tersebut senada
dengan apa yang menjadi tujuan Pendidikan Kewarganegaraan menurut Badan
Standar Nasional Pendidikan (BSNP), yaitu sebagai berikut:
1. Berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu
kewarganegaraan.
2. Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, dan bertindak secara cerdas
dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
3. Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan
karakterkarakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama bangsa-bangsa
lainnya.
4. Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara lansung
dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.
Tujuan pembelajaran PPKn yang menitikberatkan pada aspek penanaman sikap
dan kepribadian peserta didik agar menjadi warga negara yang baik, yakni baik
kepada Tuhannya, baik kepada negaranya dan baik terhadap sesamanya dengan
mampu menunjukan salah satu sikap tanggungjawab sebagai warga negara (civic
responsibility) dan memiliki keterampilan warga negara yang baik (civic skill) dalam
bentuk keterampilan partisipasi dalam proses pengambilan keputusan (partisipation
skill).
Hal ini sesuai dengan pendapat Maftuh dan Sapriya (2005, hlm. 320),
menyatakan bahwa tujuan negara mengembangkan Pendidikan Kewarganegaraan
(PKn) adalah ...agar setiap warga negara menjadi warga negara yang baik (to be
good citizens), yakni warga yang memiliki kecerdasan (Civic Intelligence) baik
intelektual, emosional, sosial, maupun spiritual; memiliki rasa bangga dan tanggung
jawab (Civic Responsibility); dan mampu berpartisipasi dalam kehidupan
bermasyarakat dan bernegara (Participation skill) agar tumbuh rasa kebangsaan dan
cinta tanah air. Adapun penilaian mata pelajaran PPKn, yang terdiri dari penilaian
sikap sosial dan spiritual, penilaian pengetahun, dan penilaian kinerja atau
keterampilan, jenis-jenis penilaian tersebut akan mampu memicu terbentuknya
kepribadian dan sikap peserta didik yang sesuai dengan tuntutan dan tujuan PPKn
yakni menjadi warga Negara yang baik, yang memiliki kepribadian dan akhlak yang
baik, demokratis, dan tanggungjawab terutama bagi generasi muda.
PEMBAHASAN
Pengertian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan atau Civics menurut Stanley E. Dimond & Elmer F. Pliger adalah
studi yang berhubungan dengan tugas-tugas pemerintahan dan hak kewajiban
warganegara. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, dalam pengertian yang
luas adalah tugas yang penting di dalam semua masyarakat masa ini. Pendapat
tersebut diperkuat lagi oleh Budimansyah (2012:180) bahwa: Secara kurikuler,
PPKN dirancang sebagai subjek pembelajaran yang bertujuan agar peserta didik
mampu :
a) berfikir secara kritis, rasional, kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan;
b) berpartisipasi secara aktif dan bertanggungjawab, dan bertindak secara cerdas
dalam kegiatan masyarakat, berbangsa dan bemegara serta anti korupsi;
c) berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan
karakterkarakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-
bangsa lainnya;
d) berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung
atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.
Sedangkan menurut Ismaun (2016:126) bahwa untuk setiap jenjang pendidikan
diperlukan PPKn yang akan mengembangkan kecerdasan peserta didik melalui proses
pemahaman dan penghayatan serta pelatihan keterampilan intelektual maupun
opersional, sebagai bekal bagi pesenta didik untuk berperan dalam pemecahan
masalah yang ada di lingkungannya, bangsa dan negaranya dalam pergaulan antar
bangsa. Kemudian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan menurut Sapriya
(2018:2) bahwa: Dengan paradigma yang direvitalisasi Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan memiliki misi mengembangkan pendidikan demokrasi yang di
dalamnya mengemban tiga fungsi pokok, yakni mengembangkan kecerdasan warga
negara (civic intelegence), membina tanggungjawab warga negara (civic
responsibility) dan mendorong partisipasi warga negara (civic participation). Oleh
karena itu dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan harus
dilaksanakan secara efektif agar dapat mendorong masyarakat berpartisipasi dalam
lingkungan kehidupan sehingga dapat memberikan kontribusi perubahan dalam
masyarakat kearah yang lebih baik, apalagi menurut Djahin (1985 : 21) secara
sosiologis bahwa anak didik tersebut hidup dalam dunia nyata kehidupan
lingkungannya serta harus mampu hidup fungsional dan bermasyarakat (sociatable).
Berkenaan dengan pembelaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan yang
efektif menurut Winataputra (2017:40) adalah mengajar warga negara tentang
bagaimana berpartisipasi dan memberikan kontribusi terhadap perubahan dalam
masyarakat merupakan hal yang kritis bagi kelangsungan komitmen partisipasi warga
negara lebih [Link] sekolah lanjutan merupakan saat yang krusial dalam
pengembangan peran dan tanggung jawab warga negara.
Mata pelajaran PPKn terdiri dari tiga dimensi antara lain pengetahuan
Kewarganegaraan (civic Knowledge) yang mencakup bidang Politik, hukum, dan
moral. Dimensi ketrampilan Kewarganegaraan (Civic skill) meliputi ketrampilan,
partisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dimensi nilai-nilai
Kewarganegaraan (civic Values) mencakup antara lain percaya diri, komitmen,
penguasaan atas nilai religius, norma dan moral luhur, nilai keadilan, demokratis,
toleransi, kebebasan individual, kebebasan berbicara, kebebasan pers, kebebasan
berserikat dan berkumpul serta perlindungan terhadap minoritas. Dijelaskan pula
bahwa seorang warga negara perlu memiliki pengetahuan yang baik tentang
kewarganegaraan terlebih dahulu, terutama pengetahuan bidang politik, hukum, dan
moral dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Selanjutnya
seorang warga negara perlu memilki keterampilan secara intelektual dan partisipatif
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Pada akhirnya, hasil belajar berupa pengetahuan dan keterampilan itu akan
membentuk suatu watak atau karakter yang mapan, sehingga menjadi sikap dan
kebiasaan hidup sehari-hari yang mencerminkan warga negara yang baik, dengan
memperlihatkan sikap religius, toleran, jujur, adil, demokratis, menghargai
perbedaan, menghormati hukum, menghormati HAM, memiliki semangat
kebangsaan, rasa kesetiakawanan. Pengetahuan kewarganegaraan merupakan materi
substansi yang harus diketahui oleh warga negara berkaitan dengan politik, hukum,
moral dan pengembangan kecakapan. Oleh karena itu mata pelajaran PPKn
merupakan bidang kajian antar disiplin, menggunakan pendekatan isomeristik yang
tercermin dari ruang lingkup materi pengetahuan kewarganegaraan yang meliputi :
Persatuan dan kesatuan, Norma hukum dan peraturan, Hak asasi manusia, Kebutuhan
warganegara, Konstitusi Negara, Kekuasaan dan politik, Pancasila, dan Globalisasi.

KONTRIBUSI PPKN DALAM MEMBENTUK GENERASI MUDA


Belajar merupakan suatu proses yang berlangsung di dalam diri seseorang yang
akan membawa perubahan pada tingkah lakunya, baik tingkah laku dalam berpikir,
bersikap maupun berbuat (Gulo dalam Pebriyenni, 2012:23). Pada dasarnya belajar
merupakan tahapan perubahan perilaku yang relatif positif dan mantap sebagai hasil
interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif (Syah, 2016).
Perubahan perilaku itu juga termasuk dari belajar tentang Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan (PPKn ) atau Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
(PPPKn).
Belajar PPKn pada dasarnya adalah belajar tentang keindonesiaan. Belajar untuk
menjadi manusia yang berkepribadian Indonesia, membangun rasa kebangsaan, dan
mencintai tanah air Indonesia. Karena itu, seorang sarjana atau profesional sebagai
bagian dari masyarakat Indonesia yang terdidik perlu memahami tentang Indonesia,
memiliki kepribadian Indonesia, memiliki rasa kebangsaan Indonesia, dan mencintai
tanah air Indonesia. Warga negara inilah yang disebut warga negara yang baik dan
terdidik (smart and good citizen) dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara yang demokratis.
Hal itu berarti PPKn bersifat penting dalam pengembangan kemampuan utuh
sarjana atau profesional. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12
Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi tercantum bahwa program sarjana merupakan
jenjang pendidikan akademik bagi lulusan pendidikan menengah atau sederajat
sehingga mampu mengamalkan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui penalaran
ilmiah. Lulusan program sarjana diharapkan akan menjadi intelektual dan/atau
ilmuwan yang berbudaya, mampu memasuki dan/atau menciptakan lapangan kerja,
serta mampu mengembangkan diri menjadi profesional. Namun, agar memperoleh
input (mahasiswa) yang memadai bagi perguruan tinggi, perlu pula proses
pembelajaran yang optimal pada tingkat pendidikan menengah atau sederajat. Untuk
itu diperlukan pembelajaran yang bermakna. Pembelajaran pada hakikatnya adalah
proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungan, sehingga terjadi perubahan
perilaku ke arah yang lebih baik.
Tugas guru adalah mengkoordinasikan lingkungan belajar agar menunjang
terjadinya perubahan perilaku bagi siswa/mahasiswa. Secara umum, lingkungan
sekolah yang baik dapat meningkatkan karakter siswa (Dupper, 2010:18;
Wuryandani, Fathurrohan & Ambarwati, 2016:213). Karena itu, iklim sekolah yang
positif perlu diciptakan dengan memperhatikan:
1) keadaan fisik sekolah yang menarik,
2) sekolah memiliki upaya untuk membangun dan memelihara hubungan yang
peduli, saling menghormati, mendukung dan kolaborasi antara anggota staf
sekolah, siswa dan keluarga,
3) siswa berpartisipasi dalam pengambilan keputusan,
4) siswa menganggap aturan sekolah sebagai hal yang jelas, adil dan tidak terlalu
keras,
5) sekolah aman bagi siswa, keluarga dan guru,
6) tersedia layanan belajar,
7) sekolah memiliki tingkat akademik dan perilaku yang tinggi, dan memberikan
dukungan untuk mencapai tujuan,
8) memiliki upaya untuk mengembangkan kemampuan sosial dan emosional semua
siswa,
9) guru sebagai model dalam memelihara sikap, dan
10) memandang orangtua dan anggota masyarakat sebagai sumber daya yang
berharga dan mereka didorong untuk terlibat aktif di sekolah Pembelajaran juga
dapat diartiskan sebagai usaha sadar pendidik untuk membantu peserta didik agar
mereka dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan minatnya.
Searah dengan perubahan pendidikan ke masa depan dan dinamika internal
bangsa Indonesia, program pembelajaran PPKn harus mampu mencapai tujuan:
1) Mengembangkan sikap dan perilaku kewarganegaraan yang mengapresiasi nilai-
nilai moral-etika dan religius.
2) Menjadi warga negara yang cerdas berkarakter, menjunjung tinggi nilai
kemanusiaan.
3) Menumbuhkembangkan jiwa dan semangat nasionalisme dan cinta pada tanah
air.
4) Mengembangkan sikap demokratik berkeadaban dan bertanggung jawab, serta
mengembangkan kemampuan kompetitif bangsa di era globalisasi.
5) Menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan.
Generasi muda Indonesia haruslah insan yang tidak hanya berkompeten dalam
dunia ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), tetapi juga generasi yang memiliki
kekuatan iman dan takwa (IMTAK) serta berperilaku moral yang luhur. Ketika
aspek-aspek tersebut terpenuhi maka akan muncul generasi masa depan yang peduli
terhadap kemajuan Indonesia, mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan dan santun
dalam bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Karakter dan nilai-nilai yang sudah
menyerap kedalam diri dan diaplikasikan kedalam lingkungan masyarakat juga dapat
berdampak pada perilaku yang tidak melanggar norma dan nilai agama, hukum, dan
budaya.
Teknologi informasi yang berkembang dengan cepat saat ini telah membawa
dampak bagi kehidupan manusia, salah satunya adalah adanya trend kehidupan yang
semakin dinamis, terutama dari segi penerapan nilai dan budaya. Kondisi ini
memunculkan kecenderungan permasalahan baru yang semakin beragam dan multi
dimensional. Berdampak menguntungkan apabila mampu memanfaatkannya untuk
meningkatkan taraf dan kualitas hidup. Namun juga dapat berdampak merugikan
apabila terperdaya dengan pemanfaatan untuk kepentingan yang negatif, seperti
misalnya yang berimplikasi secara langsung pada perubahan kehidupan dan karakter
generasi muda.
Terkait dengan globalisasi dan pesatnya perkembangan teknologi informasi,
muncul persoalan yang terkait dengan karakter para pemuda pada masa kini.
Perilaku pemuda yang cenderung individualis dan kurang mendasarkan perilakunya
pada nilai-nilai budaya bangsa menjadi sorotan tajam dalam masyarakat. Disadari
atau tidak bahwa teknologi informasi juga turut menyebarkan pola budaya barat
(westernisasi), yang ternyata dengan sangat mudah digandrungi oleh kebanyakan
generasi muda.

PENUTUP
Peran pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dalam
menumbuhkan Generasi Muda Smart And Good Citizenship, Pembelajaran
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan sangat dibutuhkan untuk menumbuhkan
sikap warganegara yang diharapkan bangsa. Revolusi industri 4.0 banyak membawa
perubahan dalam kehidupan manusia. Revolusi industri 4.0 secara fundamental telah
mengubah cara beraktivitas manusia dan memberikan pengaruh yang besar terhadap
prilaku dan kebiasaan warganegara khusunya pemuda. Oleh karena itu pentingnya
pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk membangun
generasi muda smart and good citizenship. Pemuda adalah pemimpin masa depan,
oleh karena itu untuk mempersiapkan generasi muda yang smart and good
citizenship merupakan tanggungjawab kita bersama. Salah satu yang dapat dilakukan
adalah melalui proses pembelajaran terutama melalui pembelajaran PPKn, upaya ini
bertujuan mempersiapkan generasi muda untuk menghadapi tantangan revolusi
industri 4.0 demi harapan dan masa depan bangsa indonesia.

DAFTAR PUSTAKA
Budimansyah, D dan Suryadi, K. (2010). PKn dan Masyarakat Multikultural.
Bandung. Universitas Pendidikan Indonesia.
Budimansyah, D. 2012. Dimensi-dimensi Praktik Pendidikan Karakter. Bandung:
Widya Aksara.
Dupper, D.R. 2010. A New Model of School Discipline Engaging Students and
Preventing Behavior Problems. New York: Oxford University Press.
Gulo, W. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Grasindo.
Jones, Keith. 2019. Planning for Mathematics Learning. New York: Routledge.
Kavaliauskiene, Galane. 2011. “Life Long Learning Strategis: Socialiniu
Mokslu [Link].” Societal Studie, Vol 3(4), p. 1253-1267.
Lickona, T. 1994. Educating for Character. New York: Routledge.
Roziqin, Muhammad Zainur. 2017. Moral Pendidikan di Era Global: Pergeseran Pola
Interaksi GuruMurid di Era Global. Malang: Averroes Press.
Syah, Muhibbin. 2018. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung:
Remaja pers. Rosdakarya. The Qualification and Curriculum
Winataputra, Udin S. 2018. “Memantapkan Paradigma Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan (PPKn ) sebagai Wahana Pendidikan Kebangsaan.”
Prosiding AP3KnI, Prodi PPPKn FIS Universitas Manado, ISBN 978-602-
71575-0-7.
Wuryandani, Wuri, Fathurrohan dan Unik Ambarwati. 2016. “Implementasi
Pendidikan Karakter Kemandirian di Muhammadiyah Boarding School.”
Jurnal Cakrawala Pendidikan, No. 2 Juni 2016.

Anda mungkin juga menyukai