0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan11 halaman

Pendidikan Kewarganegaraan untuk Generasi Muda

Diunggah oleh

Ferda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan11 halaman

Pendidikan Kewarganegaraan untuk Generasi Muda

Diunggah oleh

Ferda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN GENERASI MUDA SEBAGAI

SMART AND GOOD CITIZEN DI ERA DISRUPSI


Nama lengkap
Universitas Terbuka

ABSTRAK
Peran pendidikan dalam menjadikan generasi bangsa smart and good citizen di
era disrupsi pada generasi muda Indonesia sebagai salah satu bentuk
pengimplementasian pendidikan kewarganegaraan. Pendekatan kualitatif dengan
metode studi kasus dilakukan pada penelitian ini. Teknik pengumpulan data
dilakukan dengan observasi dan wawancara. Informan dalam kegiatan ini yaitu para
generasi muda, baik yang menjadi mahasiswa ataupun yang telah bekerja. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa generasi muda saat ini telah menjadi smart and good
citizen, walaupun beberapa dari mereka masih belum menjadi smart and good citizen.
Implementasi generasi muda sebagai smart and good citizen dilakukan dengan
menjadi warga negara yang paham akan hak dan kewajibannya. Pada era disrupsi,
implementasi menjadi smart and good citizen banyak dilakukan di berbagai media
sosial. Smart and good citizen mengantarkan para generasi muda menjadi warga
negara pintar dan bijak dalam memanfaatkan teknologi. Menjadi smart and good
citizen dicapai dengan mempelajari pendidikan kewarganegaraan dengan baik dan
sungguh-sungguh.
Kata kunci: Pendidikan Kewarganegaraan, Smart and Good Citizen, Era Disrupsi,
Generasi Muda

PENDAHULUAN
Kemajuan teknologi tidak akan pernah hilang dan akan terus berkembang,
begitupun dengan kepribadian manusia. Semakin canggihnya teknologi maka
semakin pintarnya manusia dan semakin hebat pula kepribadiannya. Kemajuan
teknologi melahirkan adanya sebuah era baru. Era disrupsi menjadi era yang kini
tengah dijalani oleh seluruh manusia. Perubahan pada era disrupsi dapat dilihat dari
teknologi komunikasi yang terus ber-gerak dengan cepat dan menjadi lebih sempurna
(Sidiq, 2019).
Menurut Anoegrajekti (2019) disrupsi merupakan bentuk perubahan yang dapat
mengganggu kondisi masyarakat yang telah memiliki kemapanan. Fenomena disrupsi
ini dalam menciptakan pola tatanan kehidupan baru yang lebih dikuasai teknologi
mampu mengacak-acak pola tatanan kehidupan lama (Indriyani, 2020).
Menurut Kasali (2017), disrupsi mencerminkan makna fenomena perubahan hari
esok (the future change) dan tidak hanya bermakna fenomena perubahan hari ini
(today change). Era disrupsi melahirkan pola interaksi baru yang lebih kreatif,
inovatif, dan massif (Malatuny, 2020). Dengan begitu, manusia saat ini dituntut untuk
bisa lebih berkreasi dan berinovasi dari sebelumnya. Kreatif dan inovatif ini tidaklah
hanya ditujukan untuk hal-hal positif, faktanya kreatifitas dan pikiran yang inovatif
mampu membentuk suatu kejahatan baru.
Seperti yang di-ungkapkan oleh Fukuyama (2000), menyatakan bahwa disrupsi
ini merupakan sebuah bentuk gangguan terhadap tata sosial. Dalam bukunya, The
Great Disruption (2000) Francais Fukuyama menyampaikan bahwa disrupsi
menyebabkan kriminalitas terjadi di masyarakat, perubahan pandangan keluarga
mengenai jumlah anak, dan menurunnya kepercaya-an masyarakat menjadi pemicu
muncul-nya disrupsi sebagai perubahan besar dalam tatanan kehidupan atau tatanan
sosial. Dengan begitu, diperlukan adanya pendidikan karakter yang mampu mengatasi
berbagai permasalahan yang timbul dalam era disrupsi ini. Pendidikan
kewarganegaraan merupakan salah satu bidang pendidikan yang memiliki peran
penting, mengingat posisinya dalam pembahasan kurikulum pendidikan nasional
(Asyafiq, 2016).
Kehadirannya yang di mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi,
dapat dikatakan sebagai salah satu upaya yang strategis dalam membangun karakter
Indoneisa yang telah menjadi negara multikultur (Hartini, 2020). Adanya pendidikan
kewarganegaraan ini akan membentuk karakter warga negara yang smart and good
sesuai dengan nilai-nilai kebangsaan Indonesia yaitu Pancasila dan juga UUD 1945.
Bangsa Indonesia memiliki cita-cita yang tertuang dalam pembukaan UndangUndang
Dasar 1945, yaitu “mencerdaskan kehidupan bangsa”, mengacu pada citacita inilah
konsep pendidikan kewarganegaraan dirancang sesuai dengan tujuan pendidikan
nasional dan tidak bertentangan dengan dasar negara Pancasila (Febriansyah, 2017).
Sesuai dengan tujuan yang tercantum dalam Depdiknas, yaitu pendidikan
kewarganegaraan dituju-kan untuk mempersiapkan para generasi muda dapat menjadi
warga negara yang baik, kritis dan kreatif, memiliki kecapkapan ilmu pengetahuan
dan nilai-nilai luhur yang dapat digunakan untuk berperan aktif dan penuh kesadaran
me-ngikuti kegiatan kemasyarakatan (Setiawan, 2019). Dari sinilah, dapat pula dilihat
bahwa pendidikan kewarganegaraan dapat membentuk smart and good citizen.
Namun, dalam pelaksanaannya di era disrupsi ini diperlukan stimulus baru (Syam,
2019). Sangat penting dan sangat dibutuhkan menjadi smart and good citizen di era
disrupsi seperti ini untuk menghindari ber-bagai ancaman kejahatan. Kini di
Indonesia telah banyak yang menjadi smart and good citizen namun tentu terdapat
pula warga negara yang sebaliknya dan hal ini terlihat dari berbagai komentar buruk
atau ujaran kebencian di media sosial dan penyebaran informasi palsu. Generasi
muda pun harus ikut serta menjadi smart and good citizen di era disrupsi ini.
Pada era disrupsi ini generasi muda atau generasi milennial lah yang banyak
memegang peranan. Perubahan yang terjadi saat ini memerlukan suatu contoh dan
panutan yang dapat membawa masyarakat ke arah yang lebih baik lagi, dan generasi
muda lah yang mampu mem-bawa arah kebaikan itu, karena generasi muda adalah
tonggak keberlangsungan masa depan Indonesia (Ikhtiarti, dkk., 2019). Penanaman
menjadi warga negara yang baik pada generasi muda menjadi perhatian utama,
pengembangan menjadi warga negara yang bertanggungjawab, efektif, dan terdidik
menjadi tugas paling penting menurut Budimansyah (2010).
Menjadi smart and good citizen dapat diimplementasikan melalui media sosial
yang sangat dikuasai oleh generasi muda saat ini. Media sosial memiliki peluang
yang sangat dahsyat di era disrupsi, gagasan-gagasan yang diunggah di media sosial
tidak hanya bergema di media sosial itu saja, tetapi juga mampu membawa konkret
terhadap kehidupan nyata secara faktual (Mu’ammar, 2019). Mengimplementasikan
diri sebagai smart and good citizen merupakan suatu bentuk pengimplementasian
pendidikan kewarganegaraan.
PEMBAHASAN
Generasi muda dijadikan sebagai tonggak keberlangsungan masa depan
Indonesia (Budimansyah, 2010). Namun, pengetahuan mengenai smart and good
citizen di kalangan generasi muda nyatanya belum begitu terkenal. Smart and good
citizen artinya yaitu warga negara yang cerdas dan baik. Smart and good citizen ini
merupakan hasil akhir yang diharapkan ketika ketiga komponen utaman pendidikan
kewarganegaraan yang dilaksanakan dengan baik. Ketiga komponen pendidikan
kewarganegaraan tersebut adalah civic knowledge (pengetahuan kewarganegaraan),
civic skills (keterampilan kewarganegaraan) dan civic dispositions (sikap
kewarganegaraan) (Arliman, 2020).
Beberapa generasi muda di Kota Bandung ini masih memiliki pengetahuan yang
minim mengenai smart and good citizen padahal mereka telah mempelajari
pendidikan kewarganegaraan di sekolah. Namun, tidak sedikit pula terdapat generasi
muda yang mengetahui smart and good citizen dan hubungannya dengan pendidikan
kewarganegaraan. Bagi generasi muda yang tidak mengetahui smart and good citizen
ternyata mereka menyadari bahwa dirinya belum mengimplementasikan nilai-nilai
pendidikan kewarganegaraan dengan optimal dan juga merasa bahwa dirinya belum
menjadi warga negara yang baik. Permasalahan seperti itulah yang menjadi kasus
bagi bangsa Indonesia yang harus segera diselesaikan. Dengan adanya kesadaran
pada masing-masing individu bahwa mereka belum menjadi warga negara yang baik
maka mudah bagi generasi muda lainnya untuk meningkatkan atau menstimulus
kembali kesadaran-kesadaran generasi muda dalam menjadi smart and good citizen di
kehidupan sehari-harinya.
Pemenuhan kebutuhan informasi dan gaya interaksi generasi muda bergerak
mengikuti kecanggihan teknologi (Malatuny, dkk., 2020). Hal ini ditandai dengan
intensitas yang tinggi penggunaan jaringan internet. Dengan memanfaatkan jaringan
internet ini, setiap generasi muda dapat mencari informasi mengenai smart and good
citizen yang dihubungkan dengan pendidikan kewarganegaraan. Dengan meng-akses
jaringan internet juga, para generasi dapat membantu meningkatkan kesadaran
generasi muda lainnya untuk menjadi smart and good citizen. Hal ini dapat dilakukan
melalui berbagai media sosial, seperti Whatsapp, Instagram, Youtube, Twitter,
Tiktok. Kondisi pemenuhan kebutuhan informasi dan gaya interaksi yang kini
dilakukan melalui kecanggihan teknologi merupakan ciri dari adanya era disrupsi.
Pada era disrupsi perubahan yang terjadi dalam kehidupan sangatlah besar dan
bersifat mendasar dengan sangat cepat tanpa bisa ditahan lajunya (Hapsari, 2019).
Era disrupsi memberikan manfaat berupa kemudahankemudahan dalam
kehidupan seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Pencarian informasi dan
interaksi antar manusia menjadi lebih efektif. Namun, dibalik kemanfaatannya cukup
besar, era disrupsi pun memberikan dampak negatif pada manusia, dampak negatif
inilah yang dapat menjadikan generasi muda tidak menjadi smart and good citizen
dan dapat membuat lunturnya nilai-nilai kewarganegaraan mereka yang selama ini
dipelajari.
Generasi muda saat ini atau dapat disebut sebagai generasi Z memiliki
karakteristik produktif dalam memanfaatkan internet dan media sosial dan dikenal
sebagai generasi yang mandiri dan pintar, karena mereka tidak perlu menunggu
orangtua untuk mengajari hal-hal baru dan atau membuat keputusan, mereka mampu
untuk belajar sendiri (Fitriyani,2018). Dari pengertian tersebut sangatlah relevan
dengan karakteristik generasi muda di lapangan. Generasi muda di Kota Bandung
memiliki kemandirian dan kepintaran yang cukup tinggi, mereka mampu
memanfaatkan teknologi untuk mencari berbagai informasi. Generasi muda saat ini
nyatanya telah mampu mengidentifikasi perilaku warga negara yang kurang baik dan
mereka pun telah mampu memikirkan upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi
atau menjadikan warga negara yang kurang baik menjadi baik dan juga pintar.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, para generasi muda berpendapat bahwa
smart and good citizen itu merupakan warga negara yang (1) memahami akan hak
dan kewajiban, dalam hal ini warga negara memahami konsep benar dan salah, baik
dan buruk serta konsep sesuatu yang harus dilakukan dan tidak harus dilakukan. Hak
dan kewajiban dapat berkaitan dengan hak dan kewajiban pada negara artinya disini
manusia berkedudukan sebagai warga negara. Terdapat pula hak asasi manusia, disini
manusia berkedudukan sebagai makhluk sosial. Hak dan kewajiban warga Negara
sebenarnya mencakup hak asasi manusia pula, sehingga pelaksanaannya haruslah
dilakukan dengan baik. Dalam pelaksana-annya maka diperlukan adanya sikap
tolerasi, saling menghargai dan menghormati satu sama lain. (2) Mengetahui dan
memahami nilai-nilai luhur bangsa yaitu Pancasila, dalam hal ini sebagai smart and
good citizen berarti haruslah mengetahui dan memahami akan makna pada setiap sila
Pancasila yang menjadi nilai-nilai luhur bangsa. Selain itu, perlu juga melakukan
penghayatan dan penanaman dalam diri agar nilai-nilai luhur Pancasila ini melekat
pada sanubari warga negara sehingga dalam menjalankan kegiatan sehari-harinya
dapat sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Segala bentuk kegiatan yang didasari
dengan nilai-nilai luhur Pancasila akan memberikan pengaruh positif yang besar pada
seluruh aspek kehidupan. (3) Mampu menegakan hukum, dalam hal ini sebagai smart
and good citizen harus memiliki kemampuan untuk mengkritisi segala kebijakan atau
peraturan yang ada sebelum menjalankan atau menaatinya dengan baik. Untuk
menegakkan hukum, diperlukan adanya penegakkan keadilan, karena hukum dan
keadilan memiliki keterkaitan yang sangat erat. Hukum yang tidak berjalan seperti
semestinya merupakan hukum yang tidak menjunjung keadilan dan kebenaran. (4)
Mampu menjaga ketahanan nasional, dalam hal ini smart and good citizen mampu
menjaga kesatuan dan keutuhan bangsa. Menjadi smart and good citizen tidaklah
menjadi individu yang senang memecah belah persatuan bangsa dengan segala
tindakannya, namun haruslah menjadi warga negara yang senantiasa selalu
berpartisipasi menjaga dan membela negaranya. (5) Memiliki ide-ide kreatif dan
inovatif serta selektif, dalam hal smart and good citizen memiliki cara berpikir yang
kreatif dan inovatif dalam memandang sesuatu. Sebagai smart and good citizen
artinya mampu secara aktif menyalurkan ide-ide kreatif dan inovatifnya untuk
memajukan, mencerdaskan dan mengembangkan bangsa. Smart and good citizen pun
dituntut untuk selektif dalam menerima berbagai informasi dan budaya dari luar.
Selektif dalam menerima informasi dapat menjaga keutuhan bangsa, karena tidak
jarang terdapat informasi yang palsu dan budaya luar yang tidak sesuai dengan jati
diri bangsa, sehingga mampu memecah belah kesatuan dan keutuhan bangsa.
Adapula warga negara yang tidak pintar dan tidak baik di era disrupsi ini menurut
para generasi muda yaitu warga negara yang senantiasa mudah mempercayai dan
menyebarluaskan informasi palsu atau hoax, bahkan terdapat warga negara yang
membuat sendiri informasi palsu tersebut. Kemunculan hoax di berbagai media sosial
yang sulit untuk dihentikan dan mampu membuat masyarakat resah dan mampu
memecahkan kesatuan bangsa (Malatuny, 2020).
Pada intinya warga negara yang tidak pintar dan tidak baik merupakan warga
negara yang tidak paham akan kewajibannya sebagai warga negara dan tidak paham
akan nilai-nilai luhur Pancasila. Para warga negara yang tidak pintar dan tidak baik
ini dapat dipastikan merupakan bagian dari warga negara yang tidak memahami dan
tidak meng-implementasikan pendidikan kewarga-negaraan. Dari banyaknya materi
pembahasan dalam pendidikan kewarganegaraan, dari hasil penelitian generasi muda
di Kota Bandung ini lebih banyak mengimplementasikan materi hak asasi manusia,
penegakan hukum, ketahanan nasional, demokrasi dan membangun bangsa.
Pengimplementasian ini tentunya membuktikan bahwa generasi muda di Kota
Bandung telah menjadi smart and good citizen.
Pada era disrupsi saat ini, pengimplementasian pendidikan kewarganegaraan
yang dilakukan oleh generasi muda sebagai smart and good citizen, lebih banyak
dilakukan di media sosial. Dengan adanya media sosial, maka interaksi dalam
berbangsa dan bernegara menjadi sangat luas, kebebasan berekpresi dan berpendapat
pun menjadi sangat bebas. Implementasi pendidikan kewarganegaraan yang
dilakukan generasi muda di di era disrupsi ini diantaranya. (1) Menjalankan HAM
dengan baik. Dalam hal ini generasi muda telah dapat menghargai dan menghormati
pendapat orang lain, hal ini dilakukan dengan tidak memberikan komentar negatif
pada unggahan orang lain di media sosial, hal ini pun dilakukan di lingkungan nyata
seperti di kelas saat pembelajaran, di sebuah organisasi atau saat sedang berkumpul
dengan teman-teman dekat mereka. Tidak sedikit dari generasi muda yang
mengeluarkan pendapat-pendapatnya terkait dengan isu-isu kewarga-negaraan,
kebangsaan dan kenegaraan saat ini serta melakukan diskusi untuk mencari solusi
akan isu-isu tersebut. Hal ini membuktikan bahwa generasi muda saat ini telah
menjadi smart and good citizen. Selain itu, generasi muda pun telah menjalankan
toleransi. Dengan adanya media sosial membuat generasi muda lebih mudah
mengetahui suku, agama, ras, dan antargolongan yang lain, hingga sebagai smart and
good citizen, generasi muda selalu menghargai setiap perbedaan yang ada.
Menghargai perbedaan ini biasa dilakukan dengan tidak rasis, tidak melakukan tindak
kekerasan, tidak melakukan tindakan yang semena-mena, menjunjung tinggi
keadilan, saling menghargai, meng-hormati dan tolong menolong satu sama lain, serta
menerapkan tata krama sosial. Semua hal yang dilakukan oleh generasi muda disini
merupakan cakupan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. (2) Melakukan
penegakan hukum. Para generasi muda ini telah berusaha melakukan berbagai
tindakan yang menegakkan hukum, mereka senantiasa menaati segala peraturan yang
ada. Generasi muda saat ini telah banyak yang senantiasa memberikan contoh yang
baik sebagai warga negara agar dapat ditiru oleh warga negara lainnya. Ketika
terdapat kebijakan baru dari pemerintah, sebelum generasi muda menjalankan
kebijakan tersebut dengan baik, mereka pun senantiasa akan mengkritisi dan
memahami terlebih dahulu kebijakan-kebijakan yang ada. Kemudian, jika menurut
mereka terdapat suatu kesalahan dalam kebijakan tersebut mereka akan senantiasa
menyalurkan aspiranya demi terciptanya suatu hukum yang benar. Hal ini pun telah
terbukti ketika terdapat aksi demo mengenai UU Cipta Kerja pada tahun lalu. Dapat
dilihat dalam aksi demo ini seluruh generasi muda melakukan tindakan untuk
menegakkan hukum baik secara langsung di lapangan ataupun melalui dunia maya di
media sosial. Di dunia maya pun generasi muda melakukan tindakan yang sesuai
dengan hukum UU ITE yang berlaku. Generasi muda saat ini telah banyak yang
memahami bagaimana cara menggunakan media sosial atau jejaring internet dengan
baik. Telah banyak generasi muda yang tidak mudah termakan oleh informasi palsu
atau hoax, mereka mampu selektif dalam memilih informasi dan mampu mengkritisi
terlebih dahulu informasi-informasi yang baru. Di media sosial pun, mereka tidak
pernah memberikan komentar-komentar negatif ataupun mengirimkan unggahan-
unggahan negatif, generasi muda saat ini senantiasa mengunggah unggahan yang
positif yang dapat membangun karakter warga negara yang pintar dan baik. Dengan
teknologi ini pun, mereka memanfaatkan teknologi untuk mempelajari dan
memperluas wawasan. (3) Menjaga ketahanan nasional. Di era disrupsi seperti ini,
tindakan generasi muda untuk menjaga ketahanan nasional yaitu dengan tidak mudah
mempercayai dan tidak menyebarluaskan informasi palsu atau hoax. Seperti yang
telah disinggung pada poin sebelumnya bahwa generasi muda saat ini senantiasa
mengkritisi atau menggali lebih dalam terlebih dahulu terkait informasi-informasi
yang baru ia terima. Selain itu, untuk menjaga ketahanan nasional generasi muda
mampu bersikap terbuka terhadap hal baru namun juga bersikap selektif dalam
menerima hal baru tersebut. Selektif disini berupa memilih dan memilah hal-hal baru
yang sesuai dengan nilai-nilai budaya Indonesia. Dukungan yang generasi muda
berikan untuk bangsa Indonesia ini yaitu berupa mendukung usaha-usaha produk
lokal demi menjaga eksistensi budaya Indonesia. Generasi muda pun senantiasa
menjaga kesatuan dan keutuhan bangsa dengan melakukan hak dan kewajibannya
sebagai warga negara dengan baik. (4) Menjunjung tinggi demokrasi. Bukti bahwa
generasi muda menjunjung tinggi demokrasi ini dapat terlihat dari banyak para
generasi muda yang berkumpul untuk melakukan diskusi atau musyawarah demi
terciptanya suatu keputusan akan sesuatu. Sebelum melakukan sesuatu, generasi
muda saat ini senantiasa meminta pendapat orang lain terlebih dahulu dan hal ini
terjadi baik di dunia nyata ataupun di dunia maya. Telah dibahas pula pada
sebelumnya bahwa, generasi muda saat ini memiliki jiwa menghargai dan
menghormati pendapat orang lain sehingga generasi muda saat dapat dikatakan
sebagai smart and good citizen yang mampu menjunjung tinggi nilai demokrasi. (5)
Memiliki pemikiran atau sikap kreatif dan inovatif. Sesuai dengan tuntusan era
disrupsi yaitu setiap manusia diharuskan memiliki pemikiran atau sikap yang kreatif
dan inovatif. Kini banyak generasi muda yang memiliki pemikiran ataupun sikap
kreatif dan inovatif untuk membangun bangsa. Hal ini terbukti dengan banyaknya
usaha-usaha kecil menengah yang unik dan munculnya teknologiteknologi sederhana
baru yang berguna bagi masyarakat luas.
Dalam membangun karakter warga negara sendiri pun, generasi muda memiliki
cara yang kreatif dan inovatif yaitu dengan me-nyosialisasikan suatu
pengetahuanpengetahuan kewarganegaraan dengan mediamedia yang menarik dan
adanya sejumlah aplikasi yang mengedukasi. Generasi muda saat ini dapat dikatakan
sebagai smart and good citizen yang memahami dan melaksanakan hak serta
kewajibannya sebagai warga negara sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Walaupun
telah banyak generasi muda yang menjadi smart and good citizen, namun masih pula
terdapat generasi muda yang belum menjadi smart and good citizen. Disinilah tugas
utama generasi muda di era disrupsi untuk mampu berkomitmen dalam menjadi smart
and good citizen sepanjang hayatnya dan mampu membantu bangsa meningkatkan
kesadaran generasi muda lainnya untuk menjadi smart and good citizen dengan
memanfaatkan pendidikan kewarganegaraan.

DAFTAR PUSTAKA
Anoegrajekti, N. (2019). Dinamika Literasi Budaya pada Era Disrupsi. In Seminar
Nasional Literasi (Vol. 4, No. 1).
Asyafiq, S. (2016). Berbagai Pendekatan Dalam Pendidikan Nilai dan Pendidikan
Kewarganegaraan. Jurnal Dimensi Pendidikan Dan Pembelajaran, 4(1), 29–
37.
Budimansyah, D dan Suryadi, K. (2010). PKn dan Masyarakat Multikultural.
Bandung. Universitas Pendidikan Indonesia.
Febriansyah, F. I. (2017). Ideology of Pancasila as Legal Ideas (Rechtsidee) for
Indonesia Nation. International Conference on Islamic Education (ICIE), 1(1).
Fukyama, F. (2000). The Great Disruption: Human Nature and Reconstitution of
Social Order. Profile Books.
Hapsari, D. (2019). Tantangan Perpustakaan Perguruan Tinggi di Era Disrupsi.
Pustakaloka, 11(1), 151–160.
Kasali, R. (2017). Disruption. Gramedia Pustaka Utama.
Malatuny, Y. G., Labobar, J., & Labobar, B. (2020). Literasi Media: Preferensi
Warga Negara Muda di Era Disrupsi. Journal of Moral and Civic Education,
4(1), 42-51.
Mu’ammar, M. A. (2019). Literasi di Era Disrupsi. Rahardjo, M. (2017). Studi Kasus
Dalam Penelitian Kualitatif: Konsep dan Prosedurnya. Malang: Universitas
Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.
Syam, A. R. (2019). Guru dan Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam
di Era Revolusi Industri 4.0. Tadris: Jurnal Pendidikan Islam, 14(1), 1.

Anda mungkin juga menyukai