PROPOSAL PENELITIAN
Penerapan kurikulum Merdeka Belajar Terhadap Hasil Belajar PKN Kelas
III SDN 191320 Raya Tongah
PENGUSUL :
ALEXANDER SAMOSIR
PRODI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN PENDIDIKAN
UNIVERSITAS EFARINA
2022
KATA PENGANTAR
Pertama sekali penulis tiada henti-hentinya memanjatkan puji dan syukur kehadirat
Tuhan yang Maha Esa, karena atas segala limpahan rahmat, hidayah, dan rihido-Nya lah
penulis daapat menyelesaikan laporan penelitian ini tepat pada [Link] ini
disusun sebagai pendukung proses belajar mengajar (perkualiahan) dan membuka wawasan
mahasiswa.
Dalam penulisan laporan penelitian ini saya tidak terlepas dari kesulitan dan
pengerjaannya, akan tetapi berkat bantuan dari berbagai pihak makakesulitandan masalah
tersebut dapat teratasi. Untuk itu, pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan terima
kasihyang sebesar- besarnya kepada :
1. Ibu Melisa Nur Asima Sidabutar, [Link] selaku rektor Universitas Efarina.
2. Meyana Marbun, SST., [Link] selaku Kepala LPPM
3. Rekan- rekan dosen, yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah
membantudi dalam penyusunan laporan penelitian ini.
Serta kepada seluruh pihak yang turut membantu, yang tidak dapat disebutkan satu
persatu yang telah membantu di dalam penyusunan laporan penelitian ini.
Akhir kata, saya menyadari bahwa laporan penelitian ini masih jauh dari kata
sempurna dan masih banyak terdapat kekurangan-kekurangan. Untuk itu saya mengharapkan
saran dan kritik yang bersifat membangun demi penyempurnaan laporan penelitian ini dan
semoga laporan penelitian ini bermanfaat bagi yang membacanya.
Simalungun, September 2022
Dosen Yang Membuat,
Alexander Sihombing, [Link]
I. Pendahuluan
Kurikulum adalah suatu sistem yang terpusat yang memiliki komponen
mengenaimata pelajaran dengan berbagai prosedur kerja yang telah ditata untuk mencapai
tujuan nasional maupun tujuan instansi, kurikulum di Indonesia sering mengalami
perubahandidasarkan pada kebutuhan yang sering berubah- ubah dan mengikuti
kemajuan teknologi, sudah sebelas kali kurikulum di Indonesia mengalami perubahan,
perubahanyang terjadi pun mengikuti pergantian Menteri Pendidikan yang menjabat,
bukansuatukeharusan untuk mengganti penerapan kurikulum yang berlangsung namun
fenomenayang terjadimenegaskan bahwa kurikulum berganti setelah penetapan Menteri
Pendidikan dilakukan.
Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang baru diterapkan dan menimbulkan
banyak persepsi dari berbagai pihak tentang penerapannya, pada tahun ajaran 2014/2015
untuk pertama kalinya diterapkan dua kurikulum yaitu KTSP 2006 dan kurikulum 2013
hal ini merupakan fenomena baru yang menegaskan ketidaksiapan kurikulum 2013
diterapkan secara nasional. Saat masa pendemi covid-19 terjadi perubahan yang sangat
besar bagi dunia Pendidikan karena peralihan dari pembelajaran langsung menjadi
pembelajaran jarak jauh yang berbasis digital mengakibatkan trasformasi pemikiran
yang baru pula tentang pentingnya teknologi di abad 21 memberipaksaan bagi guru
untuk memiliki pemahaman tentang teknologi dan penerapannya terhadap
pembelajaran. Proses pembelajaran yang beralih menjadi digitalisasi membuatsuatu
penyesuaian baru dengan kompunen Pendidikan yang berubah dari mata pelajaran
hingga proses penilaian, proses penyesuaian yang diimbangi dengan proses
pembelajaran dan penerapan kurikulum yang berubah begitu cepat mengakibatkan
spekulasi pikiran berupa kebingungan karena pelatihan dan ilmu pengetahuan yang baru
saja diterima dan diterapkan harus kembali berganti dengan skema baru, serta skema
baru yang harus diterapkan kepada para siswa.
Berawal dari pembelajaran jarak jauh atau saat pandemic covid 19, pemerintah
membentuk suatu modul pembelajaran di satuan Pendidikan SD sampai SMA/SMK yang
merupakan penyederhanaan dari kurikulum 2013, dari gagasan tersebut maka terbentuk
dan direalisasikan menjadi kurikulum merdeka belajar atau kurikulum prototipe yang
penerapannya telah berlangsung dengan membentuk berbagai platfrom digital dan
program sekolah penggerak yang telah berlangsung pada tahun ajaran2021/2022
melibatkan kurang lebih 2.500 satuan pendidikan di 34 Provinsi dan 110 Kabupaten/ Kota.
Sedangkan pada tahun ajaran 2022/2023, diproyeksikan sebanyak 10.000 satuan
pendidikan pada 34 provinsi dan 250 Kabupaten/ Kota yang dilibatkan untuk mengikuti
program sekolah penggerak (Eri Sutrisno, 2021). Program pengerak bertujuan untuk
menyatukan informasi secara nasional dengan akses teknologi serta membentuk guru
pembelajar yang didukung oleh fasilitator dan praktisi Pendidikan. Penerapan kurikulum
merdeka belajar terjadi secara bertahap dan tidak mengharuskansekolah untuk langsung
menerapkannya melainkan memberikan kebebasan bagi sekolah untuk menerapkan atau
tidak menerapkan kurikulum merdeka jika keadaan sekolah dari aspek guru, tenaga
pendidik, sarana, dan prasarana belum siap.
Penerapan kurikulum merdeka belajar serta proses pengajarannya melibatkan
digitalisasi sehinggauntuk daya akses terhitung cepat menyebar dan merata secara nasional
serta kemudahan bagi peserta didik untuk mengakses materi ajar pada tautan digital yang telah
disiapkan serta peserta didik dapat berkembang dan mengalami pemaknaan proses
pembelajaran karena proses pembelajaran yang berlangsung tidak lagi terburu-buru untuk
menghabiskan materi ajar melainkan memberikan hak kepada peserta didik untuk
mengembangkan pikiran lebih mendalam pada materi ajar yang disajikan oleh guru, maka
dari pemaparan tersebut diharapkan penerapan kurikulum merdeka belajar
dapatmeningkatkan hasil belajar matamatika siswa sekolah dasar.
II. Tinjauan Pustaka
Merdeka merupakan suatu yang memberikan simbol tentang suatu yang bebas dan
tidak terikat, sehingga merdeka belajar dapat diartikan suatu kebebasan bagi anak didikuntuk
belajar dan memperoleh apa yang menjadi minat dan bakatnya serta kemampuanyang
ingin dimiliki serta dikembangkan berdasarkan kemauannya. Merdeka belajar memiliki
prinsip yang serupa dengan aliran humanistik yang mengartikan bahwa anak didik sebagai
subjek pembelajaran yang dapat berkembang karena memiliki potensi fitria dari dalam
dirinya serta proses pembelajaran yang didasari oleh rasa kemaupan untuk memperoleh
hasil belajar yang ingin dicapai.
Kurikulum merdeka belajar tidak hanya memberikan kebebasan kepada anak didik
dalam pengembangan potensi, tetapi memberikan kebebasan kepada satuan
Pendidikanuntuk mengelolah kurikulum berbasis otonomi daerah serta memberikan
kebebasan bagi guru untuk merancang pembelajaran, rencana pelaksanaan pembelajaran
yang selama ini dikeluhkan karena susunan yang rinci dan kaku serta mewajibkan guru
untuk mengikuti tahapan pembelajaran yang telah dibuat mengakibatkan guru
menghabiskanwaktu lebih banyak untuk urusan administrasi, dengan penerapan kurikulum
merdeka belajar segala rancangan dan rencana pembelajaran dibuat lebih ringkas dengan
memuat kompunen yang penting sehingga guru memiliki banyak waktu untuk melakukan
evaluasi pembelajaran.
Kurikulum merdeka belajar yang kini telah diimplementasikan memiliki ciri khas
program yaitu program sekolah pengerak yang terdiri dari guru penggerak, praktisi,
danfasilitator. Guru penggerak merupakan program untuk menciptakan guru pamong
bagisetiap sekolah untuk mengimplementasikan nilai-nilai dari penerapan kurikulum
merdeka belajar serta sebagai informan (narasumber) dalam memberikan pelatihan yang
diperolehnya ke sekolah asal untuk memberdayakan guru lain. Guru pengerak menciptakan
guru yang visioner, kreatif, dan kritis agar dapat memberdayakan siswanya dalam
mengeksplor berbagai bahan pelajaran.
Program merdeka belajar memiliki empat pokok kebijakan menurut
(kemendikbud 2019) yaitu: Ujian sekolah berstandar nasional (USBN) berbasis asesmen
oleh sekolah, ujian nasional diubah menjadi asesmen kompetensi minimum dan survey
karakter, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), dan peraturan penerimaan peserta
didikan (PPDP) zonasi dilaksanakan secara fleksibel. Dari keempat kebijakan yang
telah ditetapkan mulai dari USBN yang berbasis asesmen yang memberikan hak
sepenuhnya kepada sekolah sebagai tim penilai terhadap perkembangan anak didiknya
bebentuk portofolio, asesmen kompetensi minimum dan survey karakter yanag menjadi
tolok ukur kelulusan anak didik sehingga soal yang bersekala nasional yang selama ini
diterapkan di ganti menjadi asesmen yang dinilai oleh pihak sekolah berupa kemampuan
literasi, numerik, dan karakter anak didik, RPP yang di rancang lebih fleksibel dan efesien
menciptakan RPP yang hanya selembar dan memberikan waktu lebih lama untuk
memberikan evaluasi pada siswa ataupun dalam proses belajar mengajar yang
dilaksanakan oleh guru. Kurikulum merdeka belajar merupakan kurikulum yang
membangun pemahaman tentang pemanfaatan teknologi diera digitalisasi, meskipun
Pendidikan karakter yang diutamakan sebagai hasil daripenerapan kurikulum merdeka
belajar bukanlah hal baru melainkan Pendidikan karakter telah lama diterapkan hanya
saja tidak dispesifikkan kedalam satu sudutpandang seperti karakter Pancasila.
Hasil belajar merupakan kemampuan yang diterima anak didik berdasarkan hasil dari
pengelolahan kemampuannya yang berlangsung dalam sebuah kegiatan mental, hasil
belajar menjadi salah satu nilai kepuasan yang didapatkan anak didik dari suatu usaha
yang mereka lakukan, pada kurikulum merdeka belajar hasil belajar lebih mengedepankan
kekuatan karakter sebagai nilai yang dikembangkan, karakter yang menjadi fokus diantara
adalah memiliki karakter sebagai pelajar Pancasila menurut Nadiem Makariem
(Kemendikbud, 2021). Belajar merupakan kegiatan yang berlangsung langkah demi langkah
dan merupakan hasil dari usaha yang secara sadar dilakukan untuk menerima
pengetahuan dan menyiapkan diri sebagai pendengar serta pelaku dalam aktivitas
pembelajaran. Hasil belajar PKn merupakan hasil dari pengelolahan kemampuan
karakter yang bernilai ke masyarakat, beragamcara ini yang menjadi tantangan bagi
anak didik untuk mengembangkan kemampuan norma dan moral dalam memecahkan
suatu permasalahan, sehingga Pkn bukan hanyapengetahuan tentang manusia dan
masyarakat.
II. Metode Penelitian
a. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan
karena variabel bebas dalam penelitian ini tidak bisa dikontrol dan dimanipulasi, dimana
varibel bebas dalam penelitian ini adalah penerapan kurikulum merdeka. Populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh siswa di SDn 191320 RAYA TONGAH yang berjumlah 400
orang siswa dan sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas IIISDn 191320 RAYA
TONGAH yang berjumlah 33 orang siswa, pengambilan sampeldalam penelitian ini
dilakukan dengan Teknik random sampling yang memungkinkan seluruh jejang kelas
menjadi sampel penelitian, berdasarkan hasil undi terpilihlah kelasIII SDn 191320
RAYA TONGAH menjadi sampel penelitian.
b. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah
pengambilandata berupa hasil dokumentasi wali kelas III SDn 191320 RAYA
TONGAH, berupa pengambilan data primerhasil ujian tengah semester pada semester
ganjil dan genap tahun ajaran 2022/2023, dimana pada semester ganjil tahun 2022
diberlakukan penerapan kurikulum 2013 dan pada semester genap tahun 2022
diberlakukan kurikulum merdeka belajar. Teknik analisis data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah Teknik analisis deskriftifberupa hasil wawancara dengan wali kelas
III SDn 191320 RAYA TONGAH tentang tanggapan siswa pengenai perubahan
kurikulum yang digunakan pada tahun ajaran 2022/2023 dan Teknik analisis inferensial
yang digunakan adalah uji t, uji t yang digunakan adalah paired sampel t-test. Teknik uji t
yang dilakukan menggunakan pengolah data statistical package for social scince
(SPSS) versi 22 for windows yang terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat berupa uji
normalitas. Uji normalitas dijabarkan pada tabel 1 berikut ini:
Tabel 1 hasil uji normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardize
d
Residual
N 33
Normal Parametersa,b Mean .0000000
Std. Deviation 7.48156818
Most Extreme Absolute .166
Differences
Positive .089
Negative -.166
Test Statistic .166
Asymp. Sig. (2-tailed) .022c
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.
Data dinyatakan normal apabila nilai Sig.(2-tailed) > 0.05 maka nilai yang diperoleh adalah
0,22 > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal dan memenuhi
syarat untuk uji paired sampel t-tes
IV. Daftar Pustaka
Adi, N. N. S., Oka, D. N., & Wati, N. M. S. (2021). Dampak positif dan negatif
Pembelajaran Jarak Jauh di masa pandemi COVID-19. Jurnal Imiah
Pendidikan Dan Pembelajaran, 5(1), 40.
[Link]
Bonal, X., & González, S. (2020). The impact of lockdown on the learning gap: family and
school divisions in times of crisis. International Review of Education, 66(5–6),
635– 655. [Link]
Dian, Lestari.2018. Analisis penerapan kurikulum 2013 dalam meningkatkan kualitas
pembelajaran ekonomi di SMA negeri sekolta Palembang. Jurnal. Vol 2 (no
1). 69-70.
Eri Sutrisno. (2021). Mengenal dan Menjadi Sekolah Penggerak. [Link]
Faiz, A., & Faridah. (2022). Program Guru Penggerak sebagai Sumber
[Link] : Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran, 14(1), 82–88.
Faiz, A., Parhan, M., & Ananda, R. (2022). Paradigma baru dalam Kurikulum
[Link]: JURNAL ILMU PENDIDIKAN ,4(1), 1544–1550.
[Link]
Kurniawan, Noviana.2017. Penerapan Kurikulum 2013 Dalam Meningkatkan
Keterampilan, Proses, Dan Pengetahuan. Jurnal. Vol 6 (no
2). 390-391
[Link]
dalam- [Link]
Muin, abdul.2012. Meningkatkan hasil belajar matematika siswa dengan
pembelajaranmenggunakan aplikasi moodle. Jurnal vop 7(1). 7476.
[Link]
Munir (2009). Pembelajaran Jarak Jauh Berbasis Teknologi Informasi danKomunikasi.
Cet.I Bandung:Alfabeta.
Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.
Jakarta: Kencana Prenada Media. 2009. Kurikulum Dan Pembelajaran. Jakarta:
Kencana Prenada Media Group
Sajaya, Wina. 2008. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Prenada Media Grup
Sugiyono. (2015). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan
R&D). [Link]-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, Konsideran Menimbang., (2003).
Kemendikbud. (2019). Empat pokok kebijakan merdeka belajar.
[Link].
ANGGARAN BIAYA PROPOSAL PENELITIAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
A. Bahan Habis Pakai dan Peralatan Penunjang
No Keterangan Rincian Harga Satuan Jumlah
Konsumsi Peserta 50 box kue Rp. 20.000 Rp.1.000.000
Honor penyuluh 1 Rp. 300.000 Rp. 300.000
Honor anggota 3 Rp. 200.000 Rp. 600.000
Transport 4 Rp 100.000 Rp. 400.000
Total A Rp. 2.300.000
B. Dokumentasi & Pelaporan
Kesekretariatan (Print, Rp. 50.000 Rp. 500.000
Fotokopi dan jilid)
Spanduk 1 buah Rp. 100.000 Rp . 100.000
Tali Kasih 20 orang Rp. 100.000 Rp. 2.000.000
Biaya lain-lain Rp. 100.000 Rp. 100.000
Total (B) Rp. 2.700.000
Total Biaya (A + B) Rp. 5.000.000
Pematang Siantar, September 2022
Alexander Samosir, [Link].,[Link]