MURABAHAH DALAM FIQIH MUAMALAH DAN
APLIKASINYA DALAM PERBANKAN SYARIAH
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
untuk Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S1)
Manajemen Perbankan Syariah
Disusun oleh :
Nama: MUHAMMAD MAHATIR
NPM: 2014570094
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
1441 H/2020 M
LEMBAR PERNYATAAN (ORISINALITAS)
Yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama : Muhammad Mahatir
NIM : 2014570094
Program Studi : Manajemen Perbankan Syariah
Fakultas : Agama Islam
Judul Skripsi : Murabahah dalam Fikih Muamalah dan Aplikasinya dalam
Perbankan Syariah
dengan ini menyatakan bahwa skripsi berjudul diatas secara keseluruhan adalah
hasil penelitian saya sendiri kecuali pada bagian-bagian yang menjadi sumber
rujukan. Apabila ternyata di kemudian hari terbukti skripsi saya merupakan hasil
plagiat atau penjiplakan terhadap karya orang lain, maka saya bersedia
mempertanggungjawabkan sekaligus menerima sanksi berdasarkan ketentuan
undang-undang dan aturan yang berlaku di Universitas Muhammadiyah Jakarta
ini.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan tidak ada
paksaan.
Rabu, 13 Jumadal Awal 1441 H
8 Januari 2019 M
Yang Menyatakan,
Muhammad Mahatir
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING
Skripsi yang berjudul “Murabahah dalam Fikih Muamalah dan
Aplikasinya dalam Perbankan Syariah” yang disusun oleh Muhammad
Mahatir, Nomor Pokok Mahasiswa: 2014570094 Program Studi Manajemen
Perbankan Syariah disetujui untuk diajukan pada Sidang Skripsi Fakultas Agama
Islam Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Jakarta, 8 Januari 2020
Pembimbing
Drs. Isa Anshori, M.A.
LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI
Skripsi yang berjudul: Murabahah dalam Fikih Muamalah dan Prakteknya
dalam Perbankan Syariah disusun oleh : Muhammad Mahatir Nomor Pokok
Mahasiswa : 2014570094. Telah diujikan pada hari/tanggal : 24 Juli 2020 telah
diterima dan disahkan dalam sidang Skripsi (munaqasyah) Fakultas Agama Islam
Universitas Muhammadiyah Jakarta untuk memenuhi persyaratan mencapai gelar
Sarjana Strata Satu (S1) Program Studi Manajemen Perbankan Syariah.
FAKULTAS AGAMA ISLAM
Dekan,
Dr. Sopa, [Link].
Nama Tanda Tangan Tanggal
Dr. Sopa, [Link]. ……………. …………….
Ketua
Drs. Tajudin, M.A. ……………. …………….
Sekretaris
Drs. Isa Ansori, M.A. ……………. …………….
Dosen Pembimbing
Rini Fatma Kartika, [Link]., M.H. ……………. …………….
Anggota Penguji I
Saomi Rizqiyanto, SE.I, [Link] ……………. …………….
Anggota Penguji II
FAKULTAS AGAMA ISLAM
Program Studi Manajemen Perbankan Syariah
Skripsi 8 Januari 2020
Muhammad Mahatir
2014570094
Murabahah Dalam Fikih Muamalah dan Prakteknya Dalam Perbankan Syariah.
XI+72 halaman
ABSTRAK
Salah satu kendala yang sering dijumpai dalam perbankan syariah adalah
ketidak seimbangan penggunaan akad pembiayaan yang ditawarkan kepada
nasabah oleh bank syariah, karena bank syariah lebih cenderung menawarkan
akad murabahah daripada akad musyarakah, mudharabah dll. Hal ini
mengakibatkan anggapan bahwasannya perbankan syariah tidak berani
mengambil resiko berlebih dan memilih cara aman dengan menggunakan
murabahah sebagai alat pembiayaan utama.
Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan mengumpulkan
berbagai informasi yang relevan baik dari kitab-kitab klasik sampai kontemporer
yang membahas terkait murabahah, dan juga jurnal-jurnal peneliti terdahulu yang
sangat membantu penulis dalam menelaah berbagai aspek murabahah dari konsep
muamalahnya hingga prakteknya dalam perbankan syariah.
Hasil penelitian mengenai murabahah dari mulai konsep fikih muamalah
hingga prakteknya menunjukkan bahwa terjadi perbedaan pandangan dari para
pakar mengenai murabahah didalam perbankan syariah, banyak yang
membolehkan, namun tidak sedikit pula yang mengharamkan dengan syarat-
syarat tertentu.
Kata Kunci: Murabahah, Perbankan Syariah
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur dipanjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah
melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini sesuai dengan waktu yang ditentukan.
Skripsi ini ditulis dalam upaya memenuhi salah satu tugas akhir dalam
memperoleh gelar Strata Satu (S1) pada Program Studi Manajemen Perbankan
Syariah Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Jakarta, tahun 2018.
Tidak sedikit kendala yang dihadapi penulis di dalam proses
penyelesaiannya, namun karena bimbingan, arahan dan bantuan dari berbagai
pihak baik moril maupun materil, sehingga kendala itu menjadi tidak terlalu
berarti. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, penulis menyampaikan banyak
terima kasih dan penghargaan kepada pihak-pihak berikut:
1. Prof. Dr. Syaiful Bakhri, S.H., M.H., Rektor Universitas Muhammadiyah
Jakarta.
2. Rini Fatma Kartika, [Link]., M.H., Dekan Fakultas Agama Islam Universitas
Muhammadiyah Jakarta.
3. Dina Febriani, SE, MM, Ketua Program Studi Manajemen Perbankan Syariah
Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Jakarta.
4. Drs. Isa Anshori, M.A., Dosen pembimbing Skripsi, yang telah
mengorbankan waktu, tenaga, dan pikirannya dalam proses bimbingan.
5. Seluruh dosen dan karyawan Fakultas Agama Islam Universitas
Muhammadiyah Jakarta, yang telah memberikan pelayanan akademik dan
pelayanan administrasi terbaik.
6. Kepada orang tua tercinta, Bapak Drs. H. Sugeng Riyadi dan Ibu Uliana
Ma’mur, [Link]., yang telah memberikan kasih sayang, dorongan moril dan
dukungan materil, sehingga memperlancar keberhasilan studi.
7. Kepada Mbak Eka, Mbak wi, Mas Imam yang tidak henti-hentinya
mengingatkan penulis agar semangat dalam mengerjakan skripsi ini.
8. Kepada pengurus DKM AT-TAQWA UMJ dan teman-teman QLC, yang
telah mensupport penulis baik moril maupun materil.
9. Kepada Keluarga MPS C 2014 dan kawan-kawan MPS angkatan 2014
semoga selalu terjaga silaturahmi kita sampai kapanpun.
10. Semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu yang telah
membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa dalam skripsi ini masih banyak kekurangan dan
keterbatasan, namun demikian diharapkan karya yang sederhana ini banyak
memberikan manfaat. Aamiin
Jakarta, 13 Jumadal Awal 1440
8 Januari 2020 M
Penulis
DAFTAR ISI
LEMBAR PERNYATAAN (ORISINALITAS) ................................................... i
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ....................................................... ii
LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI ..................................... iii
ABSTRAK ............................................................................................................ iv
KATA PENGANTAR .......................................................................................... v
DAFTAR ISI ......................................................................................................... vii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ viii
DAFTAR TABEL ................................................................................................. ix
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah ............................................................................ 1
B. Identifikasi, Pembatasan dan Perumusan Masalah ................................... 14
C. Tujuan Penelitian ...................................................................................... 15
D. Kegunaan Penelitian.................................................................................. 15
E. Sistematika Penulisan ............................................................................... 16
BAB II MURABAHAH ........................................................................................ 18
A. Pengertian Murabahah .............................................................................. 18
B. Jenis-jenis Murabahah ............................................................................... 24
C. Landasan Hukum ...................................................................................... 26
D. Rukun dan Syarat Murabahah ................................................................... 34
BAB III FIQIH MUAMALAH ............................................................................. 36
A. Pengertian Fiqih Muamalah ...................................................................... 36
B. Ruang Lingkup Fiqih Muamalah ............................................................. 40
C. Prinsip – Prinsip Hukum Fiqih Muamalah ............................................... 43
BAB IV KONSEPSI MURABAHAH DALAM FIQIH MUAMALAH DAN
APLIKASINYA DALAM PERBANKAN SYARIAH ........................................ 45
A. Aplikasi Murabahah dalam Bank Syariah di Indonesia ............................ 45
B. Penggunaan Pembiayaan Murabahah di Perbankan Syariah ................... 52
C. Persoalan –Persoalan Hukum dalam Murabahah ...................................... 59
BAB V PENUTUP ................................................................................................ 69
A. Kesimpulan ............................................................................................... 69
B. Saran .......................................................................................................... 69
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 71
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Skema Pembiayaan Murabahah dalam Perbankan Syariah ................ 50
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Jumlah Rekening Pembiayaan dan Dana Pihak Ketiga Bank Umum
Syariah dan Unit Usaha Syariah ........................................................................... 5
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya, produk yang ditawarkan perbankan syariah dapat
dibagi dalam tiga bagian besar, yaitu:
1. Penghimpunan Dana (funding);
2. Penyaluran Dana (financing); dan
3. Jasa (service).1
Menghimpun dana dari masyarakat melalui simpanan dalam
bentuk giro, tabungan, dan deposito yang menggunakan prinsip wadi'ah yad
al-dhamanah (titipan), dan mudharabah (investasi bagi hasil).
Kemudian menyalurkan kembali dana tersebut kepada masyarakat
umum dalam berbagai bentuk skema pembiayaan, seperti skema jual belial-
bai‟ (murabahah, salam, dan istishna), dan bagi hasil (musyarakah dan
mudharabah), serta produk pelengkap lainnya yaknifee based service,
seperti hiwalah (alih utang piutang), rahn (gadai), qardh (utang piutang),
wakalah (perwakilan, ageny), kafalah (garansi bank).2
Selain menjalankan fungsinya sebagai intermediaries (penghubung)
antara pihak yang membutuhkan dana (deficit unit) dengan pihak yang
kelebihan dana (surplus unit), bank syariah dapat juga melakukan beberapa
pelayanan jasa perbankan kepada nasabah dengan mendapat imbalan berupa
1
Adiwarman A Karim, Ibid., h. 97
2
Ah. Azharuddin Lathif, “Konsep dan Aplikasi Akad Murabahah dalam Perbankan
Syariah di Indonesia”, Ahkam, Vol. XII, No.2, 2012, h 69.
sewa atau keuntungan seperti sharf (jual beli valuta asing) dan ijarah
(sewa).3
Di antara berbagai produk perbankan syariah di atas,produk jual beli
murabahah di perbankan syariah pada saat ini masih mendominasi
dibandingkan dengan produk bank syariah yang lain.
Pembiayaan murabahah adalah pembiayaan yang diberikan
kepadanasabah atas dasar persetujuan kedua belah pihak tentang
hargadasarditambah dengan margin keuntungan yang telah ditetapkan.
Pengertian lain dari murabahah adalah jual beli barang pada harga
asaldengan tambahan keuntungan yang telah [Link] Murabahah
tersebut, para klien bank membeli suatu komoditimenurut rincian tertentu
dan menghendaki agar bank mengirimkannya kepadamereka berdasarkan
tambahan harga tertentu menurut persetujuan antarakedua belah pihak.4
Para ulama telah menjelaskan, secara rinci mengenai
pelarangantersebutnamun para ulama modern memberikan perbedaan antara
jual beli belum adabarang dengan jual beli tanpa kepemilikan barang.
Mereka berpendapat bahwajanji pemesanan bentuk membeli barang adalah
mengikat.
Terlebih lagi apabila nasabah pergi begitu saja. Hal ini
mengakibatkankerugian di pihak bank selaku pihak yang menyediakan
barang. Oleh karenaitu ulama kontemporer dan para ulama ekonom Islam
menetapkan bahwajanji antara pemesan dan pihak bank secara umum
3
Adiwarman A Karim, [Link]., h. 112
4
Mannan, Muhammad Abdul, Teori dan Praktek Ekonomi Islam (Yogyakarta: PT Bhakti
Wakaf, 1993) Cet 2, hal 167
mengikat.5
Disamping itu, atas jasa yang diberikan oleh pihak bank berhak
menarik fee (keuntungan) dari nasabah atau komisi sebagai keuntungan
pihak [Link] hal itu harus disepakati terlebih dahulu dengan pihak
pemesan mengenai besarnya komisi yang akan diterima oleh Bank.
Ini karena dalam produk murabahah, prinsip kehati- hatian
(prudential) bank relatif bisa diterapkan dengan ketat dan standar sehingga
tingkat risiko kerugian sangat [Link] bank-bank syariah yang baru
pada umumnya portofolio pembiayaannya yang paling besar menggunakan
murabahah karena lebih aman.
Haltersebutdikarenakansebagian besar kredit dan pembiayaan yang
diberikan perbankan di Indonesia
[Link]
konvensional, PembiayaanMurabahah yang mudah dan sederhana
menjadikaniaprimadonabagiperbankansyariahuntukmemenuhikebutuhan-
kebutuhan pembiayaan konsumtif seperti pengadaan kendaraan bermotor,
pembelian rumah dan kebutuhan konsumen lainnya.6
Akibat hal tersebut menjadikan murabahah sebagai produk
pembiayaan yang utama digunakan, Porsi pembiayaan dengan akad
Murabahah saat ini berkontribusi paling besar dari total pembiayaan
5
Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah Dari Teori ke Praktek (Jakarta: Gema Insani,
2001), Cet 1, hal. 53
6
Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Buku Standar Produk Perbankan Syariah
Murabahah,Jakarta, 2016, h. 02
PerbankanSyariahIndonesiayaknisekitar60%,7Sedangkan di beberapa
negara Muslim seperti Bahrain Islamic Bank, Faysal Islamic Bank, Dubai
Islamic Bank, Bank Islam Malaysia, Kuwait Finance House, dan lain-lain,
di mana kalau dirata-ratakan, skema murabahah-nya mencapai 70 persen.8
7
Ibid.
8
Ah. Azharuddin Lathif, Op. Cit., h. 70
Berikut ini hasil statistik jumlah rekening pembiayaan di Perbankan Syariah menurut OJK dari tahun 2015-2018 :
Jenis Akad 2015 2016 2017 2018
Mudharabah 40.011 35.948 28.171 20.305
Musyarakah 56.273 61.351 67.754 78.042
Murabahah 3.334.417 4.096.459 4.693.889 4.532.425
Qardh 254.796 282.253 585.885 671.874
Istishna 3.524 4.153 5.065 6.072
Ijarah 57.544 35.766 21.360 30.978
Total 3,746,565 4,515,930 5,382,900 5,339,696
Sumber: SPS OJK (2018) Miliar Rupiah
Tabel 1 Jumlah Rekening Pembiayaan dan Dana Pihak Ketiga Bank Umum Syariah dan Unit
Usaha Syariah
Pada era awal berdirinya bank syariah beberapa ekonom muslim
menawarkan produk murabahah yang telah dimodifikasi Dengan
menambahkan janji antara pembeli dan penjual untuk melakukan transaksi
jual-beli murabahah bila barang yang dipesan telah dibeli oleh pihak bank.
Murabahah merupakan urat nadi produk investasi perbankan
syariah. Dr. Sulaiman Al Asyqar memperkirakan bahwa pada dekade tahun
80-an hampir 90% dari investasi bank-bank syariah dalam bentuk
pembiayaan murabahah.
Namun dari sisi kemajuan ekonomi, produk ini tidak memberikan
andil yang cukup berarti. Maka dari itu dalam muktamar ke-5 di Kuwait
pada tahun 1988 anggota Majma' Al Fiqh Al Islami (divisi fikih OKI)
merekomendasikan agar bank-bank syariah mengurangi pembiayaan
murabahah dan beralih ke pembiayaan mudharabah dan musyarakah dengan
mendirikan proyek-proyek industri yang jauh lebih dapat memajukan
ekonomi.
Berbagai kritik banyak dilontarkan dari para peneliti terkait dengan
dominasi murabahah dalam produk perbankan syariah, bahkan tidak sedikit
di antara mereka yang kemudian menjuluki bank syariah sebagai bank
murabahah. Di samping itu, praktik murabahah di perbankan syariah juga
telah banyak dilakukan berbagai modifikasi, bahkan untuk sebagian dinilai
menyimpang dari konsep dasar murabahah dalam fikih muamalat klasik.
Abdullah Saeed, ia menyebutkan bahwa problem-problem praktis
yang dihadapi perbankan Islam dalam menerapkan konsep bagi hasil
mengakibatkan penurunan terhadap penggunaannya, sehingga mekanisme-
mekanisme pembiayaan mirip bunga terus tumbuh. Ini berarti bahwa
diantara produk-produk pembiayaan yang diterapkan di perbankan Islam
terjadi kesenjangan antara yang satu dengan yang lain. Saeed menyebut
mekanisme mirip bunga ini adalah murabahah.9
Hal ini selanjutnya menunjukkan kegagalan Bank Syariah untuk
menjadi menjadi Bank PLS seperti yang dibayangkan para pencetusnya di
satu sisi dan di sisi lain menunjukkan ketidaklogisan dan ketidak
konsistenan Bank Islam akibat menerapkan produk murabahah dengan
menolak transaksi finansial yang menggunakan bunga. Hal inilah yang
membuat Saeed menduga adanya time value of money dalam pembiayaan
berbasis murabahah namun hal tersebut oleh praktisi perbankan Islam tidak
diakuinya karena kalau diakui akan mengarah kepada pengakuan adanya
bunga atau riba.
Skripsi ini akan mengulas berbagai model dan latar belakang serta
motif perubahan skema murabahah dalam fikih klasik ketika dipraktikan di
perbankan syariah, di samping menjelaskan penggunaan skema murabahah
untuk berbagai model pembiayaan di perbankan syariah.
Berangkat dari permasalahan tersebut maka penulis melakukan
penelitian yang berjudul “MURABAHAH DALAM FIQIH
MUAMALAH DAN APLIKASINYA DALAM PERBANKAN
SYARIAH”
9
Sofyan Sulaiman, Penyimpangan Akad Murbahah Pada Perbankan Syariah di
Indonesia,Iqtishadia, Jurnal Ekonomi Syariah, Vol. I, No. 02, 2016, h. 5
B. Identifikasi, Pembatasan dan Perumusan Masalah
1. Identifikasai Masalah
Dari uraian latar belakang masalah di atas, untuk lebih lanjut dalam
pembahasan ini dapat diketahui pokok masalah yang ada sebagai
berikut:
a. Produk pembiayaan murabahah dalam perbankan syariah saat ini
sangat mendominasi dibandingkan produk pembiayaan lainnya.
b. Terdapat beberapa kritik para cendikiawan Muslim, mengenai
Penerapan Murabahah dalam perbankan Syariah yang kurang
sesuai dengan prinsip Murabahah dalam Fikih Muamalah.
c. Timbulnya skema pembiayaan yang mirip dengan produk
pembiayaan berbasis Bunga, apabila tidak dilakukan pengawasan
yang ketat terhadap praktek Murabahah.
2. Pembatasan Masalah
Mengingat luasnya permasalahan yang tercakup dalam penelitian
ini, agar tidak terjadi perluasan materi dalam pembahasan, maka
masalah yang dibahas di batasi pada:
a. Konsep Murabahah dalam Fiqih Muamalah.
b. Aplikasi Murabahah dalam Perbankan Syariah.
3. Rumusan Masalah
Berdasarkan Pembatasan Masalah, maka rumusan masalah
adalah:Bagaimana Murabahah dalam Fikih Muamalah dan prakteknya
dalam perbankan Syariah?
C. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui Konsep Murabahah dalam Fikih muamalah dan
aplikasinya dalam perbankan Syariah.
D. Kegunaan Penelitian
Dengan ditulisnya proposal penelitian ini penulis berharap dapat
memberikan manfaat sekurang-kurangnya:
1. Kegunaan dari segi teoritis
Sebagai upaya untuk menambah dan memperluas wawasan serta
pengetahuan tentang konsep fiqih muamalah terhadap praktek
Murabahah di Perbankan Syariah. Sehingga dapat dijadikan informasi
bagi para pembaca dan menambah pengetahuan tentang perbankan
islam.
2. Kegunaan dari segi praktis
Bagi Lembaga Perbankan Syariah : hasil penelitian ini
diharapkan memberikan sumbangan pemikiran dan penilaian terhadap
Praktek Murabahah Di Perbankan Syariah.
Bagi penulis : penelitian ini merupakan kesempatan untuk
menerapkan teori-teori yang yang pernah di peroleh di bangku kuliah
khususnya perbankan syariah.
3. Bagi peneliti selanjutnya: semoga bisa bermanfaat dalam menambah
wawasan untuk pengembangan penelitian selanjutnya.
E. Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah dan memperoleh gambaran mengenai
pembahasan masalah yang sistematis dalam proposal ini, maka penulis
menyajikan kedalam lima bab yang saling berhubungan satu dengan yang
lain sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Dalam bab ini Terdiri dari Latar belakang masalah, Identifikasi
masalah, Pembatasan masalah, Rumusan masalah, Tujuan penelitian, dan
Manfaat penelitian.
BAB IIMURABAHAH
Dalam bab ini terdiri dari pengertian Murabahah, Jenis-jenis
Murabahah, Landasan Hukum, Rukun dan Syarat Murabahah, dan Tujuan
Murabahah.
BAB IIIFIKIH MUAMALAH
Dalam bab ini terdiri dari pengertian Fikih Muamalah, Ruang
Lingkup Fikih Muamalah, Prinsip-prinsip Fikih Muamalah, dan Manfaat
Pembiayaan Murabahah.
BAB IVPEMBAHASAN
Dalam bab ini penulis menjelaskan mengenai topik utama
Murabahah dalam Fikih Muamalah dan Aplikasinya dalam perbankan
syariah. Dengan menggunakan telaah Pustaka serta teknik analisis
[Link] analisis data yang digunakan adalah uji asumsi, sesuaikah
Murabahah dalam Fikih Muamalah dan Aplikasinya dalam Perbankan
Syariah.
BAB VPENUTUP
Dalam bab ini di buat kesimpulan dan saran dari semua
pembahasan yang di jelaskan pada bab-bab sebelumnya, serta saran-saran
yang dapat penulis sampaikan dalam penulisan skripsi ini.
BAB II
MURABAHAH
A. Pengertian Murabahah
1. Pengertian MurabahahSecara Bahasa
Kata murabahah berasal dari kata bahasa (Arab) rabaha,
yurabihu, murabahatan,yang berarti untung atau
menguntungkan,seperti ungkapan “tijaratun rabihah, wa baa‟u asy-
syai murabahatan” artinya perdagangan yang menguntungkan, dan
menjual sesuatu barang yang memberi [Link] murabahah
juga berasal dari kata ribhun atau rubhun yang berarti tumbuh,
berkembang, dan bertambah.10
2. Pengertian Murabahah Secara Istilah
Menurut para ahli hukum Islam(fuqaha),
pengertianmurabahahadalah “al-bai‟ bira‟sil maal waribhun
ma‟lum”artinya jual beli dengan harga pokokditambah keuntungan
yang diketahui. Ibn Jazi menggambarkan jenis transaksi ini “penjual
barang memberitahukan kepada pembeli harga barang dan keuntungan
yang akan diambil dari barang tersebut.11
Dewan Syariah Nasional menyebutkan bahwa yang
dimaksudmurabahah yaitu menjual suatu barang dengan menegaskan
10
Fathurrahman Djamil, Penerapan Hukum Perjanjian dalam Transaksi di Lembaga
Keuangan Syariah, (Jakarta: Sinar Grafika, 2012) h. 108
11
Ibid., h. 109
18
harga belinya kepada pembeli dan pembeli membayarnya dengan
harga
yang lebih sebagai laba.12Sedangkan menurut Bank Indonesia,
murabahah adalah akad jual beli antara Bank dengan [Link]
membeli barang yang diperlukan nasabah dan menjual kepada
nasabah yang bersangkutan sebesar harga pokok ditambah dengan
keuntungan yang disepakati.13
Murabahah masuk kategori jual beli muthlaq dan jual beli
amanah. Ia disebut jual beli muthlaq karena obyek akadnya adalah
barang („ayn) dan uang (dayn).Sedangkan ia termasuk kategori jual
beli amanah karena dalam proses transaksinya penjual diharuskan
dengan jujur menyampaikan harga perolehan (al-tsaman al-awwal)
dan keuntungan yang diambil ketika akad.14
Al-Murabahah adalah kontrak jual-beli atas barang tertentu.
Dalam transaksi jual-beli tersebut, penjual harus menyebutkan dengan
jelas barang yang diperjual-belikan dan tidak termasuk barang haram,
juga harga pembelian dan keuntungan yang diambil dan cara
pembayarannya harus disebutkan dengan jelas.
Ungkapan yang sering digunakan dalam transaksi murabahah
adalah:
12
Fatwa DSN No. 04/DSN-MUI/IV/2000.
13
Fathurrahman Djamil, Op. Cit., h. 109.
14
Enang Hidayat, Fiqih Jual Beli, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2015), h. 48.
a. Bila seorang penjual mengatakan: “Saya jual dengan harga beli
saya atau dengan harga perolehan saya disertai dengan keuntungan
sekian”,
b. Bila seorang penjual mengatakan: “Saya jual dengan biaya-biaya
yang telah saya keluarkan disertai dengan keuntungan sekian”,
c. bila seorang penjual mengatakan: “Saya jual dengan ra’sul maal
(harga pokok) disertai dengan keuntungan sekian.”
Ulama berbeda pendapat tentang lafaz ketiga ini, apakah ia sama
dengan ungkapan yang pertama atau kedua? Menurut As-Shawy,
ungkapan tersebut tergantung pada al-„urf (kebiasaan suatu tempat),
bila kebiasaan dalam perdagangan di tempat itu menunjukkan bahwa
yang dimaksud dengan harga pokok adalah harga beli saja dan tidak
termasuk biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memeroleh barang
tersebut maka ungkapan ketiga ini masuk kategori ungkapan yang
pertama. Adapun bila kebiasaan menunjukkan bahwa harga pokok
adalah harga beli ditambah dengan biaya-biaya yang dikeluarkan
untuk memperolehnya maka ia masuk kategori ungkapan yang
kedua.15
Transaksi jual beli murabahahseperti ini sebagaimana yang
disebutkan oleh ulama Malikiyah, adalah jual beli di mana pemilik
barang menyebutkan harga beli barang tersebut, kemudian ia
mengambil keuntungan dari pembeli secara sekaligus dengan
15
As-Shawy, dalam , Abdurrahman al-Jazeri, Fiqh ala Madzahibi al-Arba‟ah, juz 3,
(Beirut: Dar al-Fikr, 2005), h. 198-200.
mengatakan, “Saya membelinya dengan harga sepuluh dinar dan Anda
berikan keuntungan kepadaku sebesar satu dinar atau dua dinar.” Atau
merincinya dengan mengatakan, “Anda berikan keuntungan sebesar
satu dirham per satu [Link] bisa juga ditentukan dengan
ukuran tertentu maupun dengan menggunakan persentase.16Ulama
Hanafiyah mendefinisikannyadengan mengatakan, pemindahan
sesuatu yang dimiliki dengan akad awal dan harga awal disertai
tambahan keuntungan.
Menurut ulama Syafi’iyyah dan Hanabilah, murabahah adalah
jual beli dengan harga pokok atau harga perolehan penjual ditambah
keuntungan satu dirham pada setiap sepuluh [Link] semisalnya,
dengan syarat kedua belah pihak yang bertransaksi mengetahui harga
pokok.
Namun terjadi perbedaan pendapat pada mazhab Hanbali
terhadap hukum [Link] ulama Hanabilah membagi
murabahah dalam dua [Link], jika keuntungan diketahui dari
bentuk utuh dari harga awal, seperti,"saya menjual barang ini seharga
100 dirham dengan tambahan keuntungan 10 dirham" maka ini
menurut mereka adalah bentuk murabahah yang dibolehkan. Kedua,
jika keuntungan diambil dalam bentuk bagian bagian dari harga awal,
seperti, "harga awal dari barang ini adalah 100 dirham, kemudian saya
16
Ibnu Jazy, dalam, Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, juz 7, dalam
Aplikasi Elektronik, Pustaka Digital al-Maktabah al-Syamilah, 2005, h. 263.
menjualnya dengan mengambil keuntungan 1 dirham dari tiap 10
dirhamnya." Maka kebanyakan ulama Hanabilah memakruhkannya.17
Sedangkan Ibnu hazm mengatakan murabahah merupakan
bentuk jual beli yang batil. Karena menurutnya adanya penjelasan
mengenai keuntungan yang disebutkan tidak terdapat dalam kitab
Allah, yang ada adalah jual beli tanpa adanya syarat penyebutan
keuntungan. namun lanjutnya, hal ini dibolehkan (murabahah) jika
pada suatu Negeri tidak terjadi jual beli kecuali dengan cara
penyebutan modal dan tambahan keuntungan secara jelas.18
Murabahah sebagai alternatif atas transaksi finansial yang
berbasis bunga menjadi penting hanya ketika ditransaksikan
berdasarkan pembayaran yang ditunda (mu‟ajjal). Memang
persyaratan pembayaran dalam murābahah klasik tidak selalu
melibatkan tunda, dapat berbasis tunai ataupun tunda (mu‟ajjal).
Kebanyakan fuqaha dari pengikut Hanafi, Syafi’i, dan Hanbali
meyakini bahwa penjual dapat memberikan dua harga, yang satu
untuk transaksi tunai dan yang lainnya untuk transaksi kredit, tapi
salah satu dari kedua harga tersebut harus ditetapkan pada saat akad.
Walaupun Imam Malik melarangnya, namun sebagian pengikut
Mazhab Maliki memiliki pandangan berbeda dan membolehkannya.19
17
Muhammad Salah Muhammad as-Shawi, Musykilah al-Itstismar fi al-Bunuk al-
Islamiyah wa Kaifa „Alijaha al-Islam (Kairo: Dar al-Mujtma’: 1990), h. 201.
18
Muh. Salah, Ibid., h. 202
19
Sofyan Sulaiman, Ibid., h.
Imam Tirmidzi menjelaskan bahwa jika penjual mengatakan
bahwa ia menjual pakaian seharga 10 secara tunai dan seharaga 20
secara mu’ajjal, serta pembeli menerima salah satu dari kedua harga
tersebut; atau jika pembeli mengatakan ia membeli seharga 20 secara
kredit atau kedua pihak tersebut berpisah setelah menyelesaikan salah
satu harga, penjualannya akan sah. Syaukani juga menjelaskan hal
tersebut dan menyimpulkan bahwa jika pembeli dalam situasi yang
demikian mengatakan: “Saya menerima seharga 1.000 secara tunai”
atau “seharga 2.000 secara muajjal”, hal ini diperbolehkan. Begitu
juga Syah Waliyullah mengatakan bahwa jika kedua belah pihak
berpisah setelah sepakat dengan satu harga. Jual beli ini tidaklah
termasuk yang dimaksudkan dengan “dua penjualan dalam satu akad”.
Imam Syaukani mengatakan illah untuk pelarangan dua penjualan
disatu akad itu adalah ketidakpastian akan harga.20
Di samping jual beli murabahah, terdapat dua jenis jual beli
lainnya yang termasuk kedalam jual beli [Link], jual beli at-
tauliyah (bai‟ at-tauliyah), yaitu menjual dengan harga pokok atau
harga perolehan tanpa tambahan keuntungan. Kedua, jual beli al-
wadhi‟ah (bai‟ al-wadhi‟ah) yaitu menjual sama dengan harga pokok
atau harga perolehan, dengan mengurangi atau memberikan potongan
harga (diskon).
20
Ibid.
Ketiga jual beli diatas mempunyai [Link] bai‟ al-
murabahah adanya ketentuan menyebutkan harga [Link] bai‟ al-
tauliyah adanya ketentuan menyebutkan [Link]
dalam bai‟ al-wadhi‟ah ketentuan menyebutkan potongan harganya.21
B. Jenis-jenis Murabahah
Dalam aplikasinya, pembiayaan murabahah dapat dibedakan
menjadi duamacam, yaitu:
1. Murabahah Berdasarkan Pesanan
Murabahahdapat dilakukan berdasarkan pesanan atau tanpa
pesanan. Dalam murabahah berdasarkan pesanan, bank melakukan
pembelian barang setelah ada pemesanan dari nasabah, dan dapat
bersifat mengikat atau tidak mengikat nasabah untuk membeli barang
yang dipesannya (bank dapat meminta uang muka pembelian kepada
nasabah).22
Dalam kasus jual beli biasa, misalnya seseorang ingin membeli
barang tertentu dengan spesifikasi tertentu, maka si penjual akan
mencari dan membeli barang yang sesuai dengan spesifikasinya,
kemudian menjualnya kepada si pemesan. Contoh mudahnya,si Fulan
ingin membeli mobil dengan perlengkapan tertentu yang harus dicari,
dibeli dan dipasang pada mobil pesanannya oleh dealer mobil.
Transaksi murabahah melalui pesanan ini adalah sah dalam Fikih
21
Enang Hidayat, Ibid., h. 49.
22
Adiwarman A Karim, [Link]., h. 115.
Islam, antara lain dikatakan oleh Imam Muhammad Ibnul Hasan asy-
syaibani, Imam Syafi'i dan Imam Ja’far As-Shiddiq.
Dalam murabahah melalui pesanan ini, si penjual boleh meminta
pembayaran hamish ghadiah, yakni uang tanda jadi ketika ijab-kabul.
Hal ini sekadar untuk menunjukkan bukti keseriusan si pembeli. Bila
kemudian si penjual telah membeli dan memasang berbagai
perlengkapan di mobil pesanannya sedangkan si pembeli
membatalkannya Hamish Ghadiyah ini dapat digunakan untuk
menutup kerugian si dealer mobil. Bila jumlah Hamish Ghadiyah nya
lebih kecil dibandingkan jumlah kerusakan yang harus ditanggung
oleh si penjual, penjual dapat meminta kekurangannya. Sebaliknya
bila berlebih si pembeli berhak atas kelebihan itu.23
Dalam murabahah berdasarkan pesanan yang bersifat mengikat
pembeli tidak dapat membatalkan pesanan nya.
2. Murabahah Berdasarkan Tunai atau cicilan
Pembayaran murabahah dapat dilakukan secara tunai atau
cicilan. Dalam murabahah juga diperkenankan adanya perbedaan
dalam Harga barang untuk cara pembayaran yang berbeda. Murabahah
muajjal dicirikan dengan adanya penyerahan barang di awal akad dan
pembayaran kemudian (setelah awal akad), baik dalam bentuk
angsuran maupun dalam bentuk lump sum (sekaligus).
23
Ibid.
C. Landasan Hukum
Karena Murabahah adalah salah satu bentuk jual beli, mayoritas
ulama berpendapat bahwa dasar hukum murabahah ini sama seperti
dalam dasar hukum jual beli pada umumnya. Maka ayat Al-Qur’an dan
Hadits yang dijadikan dalil juga mengenai jual beli dan perdagangan
pada [Link] Landasan Hukum Murabahah yang digunakan
jumhur ulama adalah sebagai berikut:
1. Al Qur’an
Seperti yang kita ketahui bahwa sumber hukum atau rujukan utama
ummat Islam adalah bersumber daripada Al-Qur’an, diantara ayat
Qur’an yang menjadi landasan Murabahah yaitu:
a. Firman Allah QS. al-Nisa' [4]: 29:
“Hai orang-orang yang beriman, Janganlah kamu saling memakan
harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan
perniagaan yang berlaku dengan suka-sama suka di antara kamu”.24
b. Firman Allah QS. al-Baqarah [2]: 275:
24
Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Penafsir Al [Link] Quran dan
terjemahnya.(Madinah Munawwarah: Mujamma’ Fahd Li Thiba’at al-Mushaf asy-Syarif, 1433 H),
h. 122.
"..Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan
riba ..."25
c. Firman Allah QS. al-Ma’idah [5]: 1:
“Hai orang-orang yang beriman, Penuhilah akad-akad itu”26
d. Firman Allah QS. al-Baqarah [2]: 280:
"Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah
tangguh sampai dia berkelapangan"27
2. Al-Hadits
Kemudian landasan Hukum yang harus digunakan setelah Al-
Qur’an ialah Hadits. Karena Al-Qur’an belum cukup jelas dalam
menerangkan suatu permasalahan. Namun tampaknya juga tidak ada
satu Hadits pun yang secara spesifik membicarakan mengenai
murabahah. Hanya saja para ulama mengambil keumuman hadits
tentang jual beli berikut ini:
a. Hadis Nabi SAW.:
25
Ibid., h. 69.
26
Ibid., h. 156.
27
Ibid., h. 70.
Dari Abu Sa'id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda,
"Sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan suka sama suka."(HR.
al-Baihaqi dan Ibnu Majah, dan dinilai shahih oleh Ibnu
Hibban).28
b. Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah:
“Nabi bersabda, „Ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli
tidak secara tunai, muqaradhah (mudharabah), dan mencampur
gandum dengan jewawut untuk keperluan rumah tangga, bukan
untuk dijual.‟” (HR. Ibnu Majah dari Shuhaib).29
28
Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah Fiqh Muamalah, (Jakarta: Desember,2016), h. 142
29
Ibid., h. 143
c. Hadis Nabi riwayat Tirmidzi:
“Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali
perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan
yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat
mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau
menghalalkan yang haram” (HR. Tirmidzi dari „Amr bin „Auf).30
d. Hadis Nabi riwayat jama'ah:
"Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang
mampu adalah suatu kezaliman ..."31
e. Hadis Nabi riwayat Nasa'i, Abu Dawud, Ibu Majah, dan Ahmad:
"Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang
mampu menghalalkan harga diri dan pemberian sanksi
kepadanya."32
f. Hadis Nabi riwayat `Abd al-Raziq dari Zaid bin Aslam:
30
Ibid.
31
Ibid.
32
Fatwa DSN No. 04/DSN-MUI/IV/2000.
"Rasulullah SAW. ditanya tentang 'urban (uang muka) dalam jual
beli, maka beliau menghalalkannya."33
3. Ijma’
Ijma' Mayoritas ulama tentang kebolehan jual beli dengan cara
Murabahah (Ibnu Rusyd, Bidayah al-Mujtahid, juz 2, hal. 161; lihat
pula al-Kasani, Bada’i as-Sana’i, juz 5 Hal. 220-222).34
4. Kaidah Fikih
“ Pada dasarnya, semua bentuk muamalah ialah boleh”35
Di samping landasan hukum diatas, secara maslahah kebutuhan.
keberadaan model jual beli murabahah sangat dibutuhkan masyarakat,
karena ada sebagian mereka ketika akan membeli barang tidak
mengetahui kualitasnya, maka ia membutuhkan pertolongan kepada
yang mengetahuinya, kemudian pihak yang dimintai pertolongan
tersebut membelikan barang yang dikehendaki dan menjualnya dengan
33
Ibid.
34
Ibid.
35
Yusuf Al Qardhawi, “7 Kaedah Fiqih Muamalat”, Terj. Fedrian Hasmand, (Jakarta:
Pustaka al- Kautsar, 2014), h. 9.
keharusan menyebutkan harga perolehan (harga beli) barang dengan
ditambah keuntungan (ribh).
5. Fatwa DSN-MUI
a. Fatwa DSN No. 04/DSN-MUI/IV/2000: Tentang Murabahah;
b. Fatwa DSN No. 10/DSN-MUI/IV/2000: Tentang Wakalah;
c. Fatwa DSN No. 13/DSN-MUI/IX/2000: Tentang Uang Muka
dalam Murabahah;
d. Fatwa DSN No. 16/DSN-MUI/IX/2000: Tentang Diskon dalam
Murabahah;
e. Fatwa DSN No. 17/DSN-MUI/IV/2000: Sanksi Atas Nasabah
Yang Mampu Menunda-nunda Pembayaran;
f. Fatwa DSN No. 23/DSN-MUI/III/2003: Tentang Potongan
Pelunasan dalam Murabahah;
g. Fatwa DSN No. 43/DSN-MUI/VIII/2004: Ganti Rugi (Ta'awidh);
h. Fatwa DSN No. 45/DSN-MUI/II/2005: Line Facility;
i. Fatwa DSN No. 46/DSN-MUI/II/2005: Tentang Potongan Tagihan
Murabahah;
j. Fatwa DSN No. 47/DSN-MUI/II/2005: Tentang Penyelesaian
Piutang Murabahah Bagi Nasabah Tidak Mampu Bayar;
k. Fatwa DSN No. 48/DSN-MUI/II/2005: Tentang Penjadwalan
Kembali Tagihan Murabahah;
l. Fatwa DSN No. 49/DSN-MUI/II/: Tentang Konversi Akad
Murabahah;
6. Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
UU No. 21 Tahun 2011: Otoritas Jasa Keuangan;
7. UU Perbankan Syariah
UU No. 21 Tahun 2008: Perbankan Syariah;
8. Peraturan Bank Indonesia (PBI)
a. PBI No. 7/6/PBI/2005: Transparansi Informasi Produk Perbankan
Bank dan Penggunaan Data Pribadi Nasabah Beserta
Perubahannya;
b. PBI 9/19/PBI/2007: tentang Pelaksanaan Prinsip Syariah dalam
Kegiatan Penghimpunan Dana dan Penyaluran Dana serta
Pelayanan Jasa Bank Syariah;
c. PBI No. 10/16/PBI/2008: Perubahan Atas Peraturan Bank
Indonesia Nomor 9/19/PBI/2007 Tentang Pelaksanaan Prinsip
Syariah Dalam Kegiatan Penghimpunan Dana Dan Penyaluran
Dana Serta Pelayanan Jasa Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah;
d. PBI No. 10/17/PBI/2008: Produk Bank Syariah dan Unit Usaha
Syariah;
e. PBI No. 13/13/PBI/2011: Perubahan Atas Peraturan Bank
Indonesia No. 8/21/PBI/2006 jo No. 9/9/PBI/2007 jo No.
10/24/PBI/2008 Tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum
Yang Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah;
f. PBI No. 13/23/PBI/2011: Penilaian Kualitas Aktiva Bagi Bank
Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah;
9. Surat Edaran Bank Indonesia (SEBI)
a. SEBI No. 10/31/DPbS tanggal 8 Oktober 2008: Produk Bank
Syariah dan Unit Usaha Syariah;
b. SEBI No. 10/14/DPbS tanggal 17 Maret 2008: Pelaksanaan Prinsip
c. Syariah dalam Kegiatan Penghimpunan Dana dan Penyaluran Dana
serta Pelayanan Jasa Bank Umum Syariah/Unit Usaha Syaria;
d. SEBI No. 10/13/DPNP tanggal 6 Maret 2012: Penyelesaian
Pengaduan Nasabah;
e. SEBI No. 15/40/DKMP tanggal 24 September 2013: Penerapan
Manajemen Risiko pada Bank yang Melakukan Kredit atau
Pembiayaan Pemilikan Properti, Kredit atau Pembiayaan Konsumsi
Beragun Properti, dan Kredit atau Pembiayaan Kendaraan
Bermotor;
10. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK)
11. Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia (PAPSI):
a. Kodifikasi Produk Perbankan Syariah: Penghimpunan Dana,
Penyaluran Dana dan Pelayanan Jasa;
b. Perma No. 2 Tahun 2008: Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah;
c. PAPSI: Tentang Murabahah;36
36
Otoritas Jasa Keuangan, Ibid., h. 13-16.
D. Rukun dan Syarat Murabahah
a. Rukun
Adapun rukun murabahah adalah sama dengan rukun jual beli pada
umumnya, yaitu adanya penjual (al-bai‟), pembeli (al-musytari‟),
barang yang dibeli (al-mabi‟), harga (al-tsaman), dan shighat (ijab-
qabul).
b. Syarat
Bagi jumhur ulama, murabahah adalah salah satu jenis jual beli
yang dihalalkan oleh syara. Oleh sebab itu, secara umum ia tunduk
kepada dan rukun dan syarat jual beli. Walaupun begitu, terdapat
beberapa syarat khusus untuk jual beli murabahah ini, yaitu:
a. Penjual hendaknya menyatakan modal yang sebenarmya bagi
barang yang hendak dijual;
b. Pembeli setuju dengan keuntungan yang ditetapkan oleh penjual
sebagai imbalan dari dari harga perolehan/harga beli barang, yang
selanjutnya menjadi harga jual barang secara murabahah;
c. Sekiranya ada ketidakjelasan /ketidakcocokan masalah harga jual
barang, maka pihak pembeli boleh membatalkan akad yang telah
dijalankan, sehingga bubarlah jual beli;
d. Barang yang dijual secara murabahah bukan barang ribawi;37
e. Jual beli murabahah harus dilakukan atas barang yang telah
dimiliki (hak kepemilikan telah berada ditangan si penjual).
37
Fathurrahman Djamil, Ibid., h. 112.
Artinya, keuntungan dan resiko barang tersebut ada pada penjual
sebagai konsekuensi dari kepemilikan yang timbul dari akad yang
sah. Ketentuan ini sesuai dengan kaidah, bahwa keuntungan yang
terkait dengan risiko dapat mengambil keuntungan.38
38
Mardani, Ibid., h. 137
BAB III
FIKIH MUAMALAH
A. Pengertian Fikih Muamalah
1. Pengertian Fikih
Secara etimologi (bahasa), fikih mempunyai arti al-fahmu
(paham), AllahSWT berfirman:
Mereka berkata, “Wahai Syuaib! Kami tidak banyak mengerti tentang
apa yang engkau katakan itu" (Q.S. Hud: 91)39
Maka mengapa orang-orang itu (orang-orang munafik) hampir-
hampir tidak memahami pembicaraan (sedikit pun)?”(Q.S. An-Nisa:
78)40
Didalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari :
"Aku mendengar Nabi SAW bersabda: Barang siapa yang
dikehendaki Allah menjadi orang yang baik di sisi-Nya, niscaya
39
Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Penafsir Al [Link] Quran dan
terjemahnya.(Madinah Munawwarah: Mujamma’ Fahd Li Thiba’at al-Mushaf asy-Syarif, 1433 H),
h. 122.
40
Ibid., h. 90.
36
diberikan kepada-Nya pemahaman (yang mendalam) dalam
pengetahuan agama" 41
Secaraterminologi (istilah), fikih adalah “al „ilmu bil ahkam asy
syar‟iyyah al „amaliyyah al muktasab min adillatiha at
tafshiliyyah”artinya adalah ilmu dengan hukum-hukum syariah yang
bersifat amaliyah yang digali dari dalil-dalil yang terperinci.42
Atau pada mulanya berarti pengetahuan keagamaan yang
mencakup seluruh ajaran agama, baik berupa akidah, akhlak, maupun
amaliah (ibadah), yakni sama dengan arti syariah Islamiyah
2. Pengertian Muamalah
Dari segi bahasa, "muamalah" berasal dari kata aamala
yuaamilu, muamalat yang berarti perlakuan atau tindakan terhadap
orang lain, hubungan kepentingan. Kata-kata semacam ini adalah kata
kerja aktif yang harus mempunyai dua buah pelaku, yang satu
terhadap yang lain saling melakukan pekerjaan secara aktif, sehingga
kedua pelaku tersebut saling menderita dari satu terhadap yang
lainnya.
Menurut Louis Ma’luf, pengertian muamalah adalah hukum-
hukum syara yang berkaitan dengan urusan dunia, dan kehidupan
manusia, seperti jual beli, perdagangan, dan lain sebagainya.43
Sedangkan menurut Ahmad Ibrahim Bek, menyatakan
muamalah adalah peraturan-peraturan mengenai tiap yang
41
Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-
Ju’fi al-Bukhari, Shahih Bukhori, dalam Aplikasi Ensklopedia hadits-kitab 9 imam, No. hadits 69.
42
KMI Darussalam Gontor ,Ushul Fiqh, (Ponorogo: Darussalam Press, 2011), h. 2.
43
Rachmat Syafei, Fiqih Muamalah, Bandung, CV PUSTAKA SETIA, 2001.
berhubungan dengan urusan dunia, seperti perdagangan dan semua
mengenai kebendaan, perkawinan, thalak, sanksi-sanksi, peradilan dan
yang berhubungan dengan manajemen perkantoran, baik umum
ataupun khusus, yang telah ditetapkan dasar-dasarnya secara umum
atau global dan terperinci untuk dijadikan petunjuk bagi manusia
dalam bertukar manfaat di antara mereka.
Muamalah merupakan salah satu bagian dari hukum Islam, hal
ini sesuai dengan uraian yang diungkapkan bahwa muamalah
merupakan bagian dari hukum Islam, yaitu hal yang mengatur
hubungan antarmanusia dalam masyarakat berkenaan dengan
kebendaan dan kewajiban.
3. Pengertian Fikih Muamalah menurut istilah dibagi menjadi dua
yaitu:
a. Pengertian Fikih Muamalah Dalam Arti Luas
Di antara definisi fikih muamalah yang dikemukakan oleh para
ulama (pakar) adalah seperti keterangan berikut ini:
1) Menurut Wahbah Zuhaily : Pembahasan fikih muamalah
sangat luas, mulai dari hukum pernikahan, transaksi jual beli,
hukum pidana, hukum perdata, hukum perundang-undangan,
hukum kenegaraan, keuangan, ekonomi, hingga akhlak dan
etika.
2) Ad Dimyati : Mendifinisikan fikih muamalah sebagai “At-
tahshil ad dunyawi liyakuuna sababan lil ukhrawi”, yang
artinya aktivitas untuk menghasilkan duniawi yang
menyebabkan keberhasilan masalah ukhrawi.44
3) Muhammad Yusuf Musa : Mengartikan fikih muamalah
sebagai peraturan-peraturan Allah yang diikuti dan ditaati
dalam hidup bermasyarakat untuk menjaga kepentingan
manusia.45
Dari pengertian diatas, dapat diketahui bahwa fikih
muamalah adalah aturan-aturan (hukum) Allah yang ditujukan
untuk mengatur kehidupan manusia dalam urusan keduniaan atau
urusan yang berkaitan dengan sosial [Link]
pengertian ini, manusia, kapanpun, dan dimanapun harus senantiasa
mengikuti aturan yang telah ditetapkan Allah swt, sekalipun dalam
perkara yang bersifat duniawi, sebab segala aktivitas manusia akan
dimintai pertanggungjawabannya kelak diakhirat
4. Pengertian Fikih Muamalah Dalam Arti Sempit
Sedangkan pengertian muamalah dalam arti sempit (khas),
didefinisikan oleh para ulama sebagai berikut:
44
Al Dimyati, dalam: I‟anat al Thalibin, Toha Putra,h. 2
45
Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, (Jakarta: Rajawali Pers, 2016), h. 2.
a. Menurut Hudlari Beik :
muamalah adalah semua akad yang membolehkan manusia saling
menukar manfaat.46
b. Menurut Idris Ahmad: fiqih muamalah adalah aturan-aturan Allah
yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lain dalam
usahanya untuk mendapatkan alat-alat keperluan jasmaninya
dengan cara yang paling baik.
c. Menurut Rasyid Ridha: Muamalah adalah tukar-menukar barang
atau sesuatu yang bermanfaat dengan cara-cara yang telah
ditentukan.47
Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa fiqih muamalah
dalam arti sempit terkonsentrasi pada sikap patuh pada aturan-aturan
Allah yang telah ditetapkan berkaitan dengan interaksi dan perilaku
manusia lainnya dalam upaya memperoleh, mengatur, mengelola, dan
mengembangkan harta benda.
C. Ruang Lingkup Fiqih Muamalah
Dalam ruang lingkupnya Fiqih Muamalah dibagi menjadi 2 yaitu
Al-Muamalah Al-Adabiyah dan Al-Muamalah Al-Madaniyah.
46
Ibid.
47
Ibid.
a. Al-Muamalah Al-Adabiyah
Yaitu muamalah yang ditinjau dari segi cara tukar menukar
benda yang bersumber dari panca indera manusia, yang unsur
penegaknya adalah hak-hak dan kewajiban-kewajiban. Ruang lingkup
Fikih muamalah yang bersifat adabiyah mencangkup beberapa hal
berikut ini:
1) Ijab Qabul
2) Saling meridhai
3) Tidak ada keterpaksaan dari salah satu pihak
4) Hak dan kewajiban
5) Kejujuran pedagang
6) Penipuan
7) Pemalsuan
8) Penimbunan
9) Segala sesuatu yang bersumber dari indera manusia yang
adakaitannya dengan peredaran harta dalam hidup bermasyarakat.48
b. Al-Muamalah Al-Madiyah
Yaitu muamalah yang mengkaji objeknya sehingga sebagian
para ulama berpendapat bahwa muamalahal-madiyah adalah
muamalah yang bersifat kebendaan karena objek fiqh muamalah
adalah benda yang halal, haram, dan syubhat untuk diperjual
[Link]-benda yang memudharatkan, benda-benda yang
48
Ibid., h. 4.
mendatangkan kemaslahatan bagi manusia, dan beberapa segi lainnya.
Beberapa hal yang termasuk ke dalam ruang lingkup muamalah yang
bersifat Madiyah adalah sebagai berikut:
1) Jual beli (al-Bai‟ al-Tijarah) merupakan tindakan atau
transaksi yang telah disyari’atkan dalam arti telah ada
hukumnya yang jelas dalam islam.
2) Gadai (ar-Rahn) yaitu menjadikan suatu benda yang
mempunyai nilai harta dalam pandangan syara‟ untuk
kepercayaan suatu hutang, sehingga memungkinkan
mengambil seluruh atau sebagaian hutang dari benda itu.
3) Jaminan dan tanggungan (Kafalah dan Dhaman) diartikan
menanggung atau penanggungan terhadap sesuatu, yaitu akad
yang mengandung perjanjian dari seseorang di mana padanya
ada hak yang wajib dipenuhi terhadap orang lain, dan
berserikat bersama orang lain itu dalam hal tanggung jawab
terhadap hak tersebut dalam menghadapi penagih (utang).
Sedangkan dhaman berarti menanggung hutang orang yang
berhutang.
4) Pemindahan hutang (Hiwalah) berarti pengalihan,
pemindahan. Pemindahan hak atau kewajiban yang dilakukan
seseorang (pihak pertama) kepada pihak kedua untuk menuntut
pembayaran hutang dari atau membayar hutang kepada pihak
ketiga. Karena pihak ketiga berhutang kepada pihak pertama.
Baik pemindahan (pengalihan) itu dimaksudkan sebagai ganti
pembayaran maupun tidak.
5) Jatuh bangkrut (Taflis)adalah seseorang yang mempunyai
hutang, seluruh kekayaannya habis.
6) Perseroan atau perkongsian (al-Syirkah) dibangun atas prinsip
perwakilan dan kepercayaan, karena masing-masing pihak
yang telah menanamkan modalnya dalam bentuk saham
kepada perseroan, berarti telah memberikan kepercayaan
kepada perseroan untuk mengelola saham tersebut.
7) Masalah-masalah seperti bunga bank, asuransi, kredit, dan
masalah-masalah baru lainnya.
D. Prinsip-Prinsip Hukum Fikih Muamalah
Dalam mengatur hubungan antar manusia dengan manusia lain
yang sasarannya adalah harta benda fikih muamalah mempunyai
prinsip-prinsip untuk dijadikan acuan dan pedoman untuk mengatur
kegiatan muamalah. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:49
a. Muamalah adalah Urusan Duniawi maksudnya adalah urusan
muamalah berbeda dengan ibadah di mana dalam ibadah semua
perbuatan dilarang kecuali yang diperintahkan sedangkan dalam
muamalah semua boleh dilakukan kecuali yang dilarang, oleh
karena itu semua bentuk transaksi dan akad muamalah boleh
49
Ahmad Wardi Muslich, Fiqh Muamalat, (Jakarta: Amzah, 2010) hal. 3-6
dilakukan oleh manusia asal tidak bertentangan dengan ketentuan
syara’.
b. Mumalah Harus Didasarkan kepada Persetujuan dan Kerelaan
Kedua Belah Pihak artinya dasar dari bermuamalah adalah
kerelaan dari kedua belah pihak bagaimana pun bentuk akad dan
transaksi muamalah selama kedua belah pihak rela dan sepakat
serta tidak melanggar ketentuaan syara’ itu diperbolehkan.
c. Adat Kebiasaan Dijadikan Dasar Hukum maksudnya dalam
bermuamalah setiap daerah atau kelompok mempunyai kebiasaan
yang dilakukan secara turun temurun dan bertahun-tahun yang
selanjutnya menjadi adat kebiasaan dalam bermuamalah jika adat
dan kebiasaan itu tidak bertentangan dengan syara’ dan diakui oleh
masyarakat maka hal itu sah dijadikan sebagai dasar hukum.
d. Tidak Boleh Merugikan Orang Lain dan Diri Sendiri maksudnya
tujuan bermuamalah adalah mencari keuntungan yang tidak
merugikan orang lain, maka dari itu dalam bermuamalah haruslah
sama-sama menguntungkan kedua belah pihak yang terlibat.
BAB IV
KONSEPSI MURABAHAH DALAM FIKIH MUAMALAH DAN
APLIKASINYA DALAM PERBANKAN SYARIAH
A. Aplikasi Murabahah dalam Bank Syariah di Indonesia
Pengertian murabahah dalam praktik adalah apa yang diistilahkan
dengan bai’ al-murabahah liamir bisy-syira, yaitu permintaan seseorang
atau pembeli terhadap orang lain untuk membelikan barang dengan ciri-
ciri yang ditentukan.
Contoh Murabahah lil Aamir bisysyiraa':
Sebuah rumah sakit membutuhkan alat-alat kesehatan. Pihak rumah
sakit mendatangi lembaga keuangan syariah untuk mendapatkan
pembiayaan yang sesuai dengan syariah. Lembaga keuangan syariah
tidak memberikan uang, akan tetapi berjanji untuk membeli alat-alat
kesehatan yang dibutuhkan dan menjualnya ke pihak rumah sakit.
Setelah alat-alat kesehatan dimiliki dan diterima LKS maka dijual ke
pihak rumah sakit dengan bentuk murabahah, yakni; pihak pertama
menjual alat-alat kesehatan ini dengan harga pokok sebanyak 700
juta rupiah umpamanya, ditambah laba 30%, dalam bentuk jual-beli
kredit yang akan dilunasi selama 2 tahun, sebanyak 8 kali
pembayaran. akan Kemudian alat-alat kesehatan tersebut diserah
terimakan ke pihak rumah sakit.50
50
Erwandi Tarmizi, ibid., h. 396.
45
Untuk singkatnya bentuk ini dinamakan Murabahah
Permintaan/Pesanan Pembeli (MPP).MPP ini merupakan dasar
kesepakatan dari terjadinya transaksi jual beli barang dan
permintaan/pesanan tersebut dianggap bersifat lazim (pasti/mengikat) bagi
pemesan. Sedangkan besarnya keuntungan, harga jual, penyerahan barang,
dan cara pembayaran dalam MPP ini ditentukan atas kesepakatan para
pihak.51
Dalam jual beli MPP ini ada 3 (tiga) pihak yang terlibat, yaitu A, B,
dan C. A meminta kepada B untuk membelikan barang-barang tersebut
tetapi berjanji untuk membelikannya dari pihak lain, yaitu C. B adalah
sebagai perantara dan penjual, dan dalam perjanjian MPP hubungan
hukum terjadi antara A dan B. Bentuk perjanjian murabahah ini diartikan
sebagai menjual suatu komoditi dengan harga yang ditentukan penjual (B)
ditambah dengan keuntungan (untuk B) dan dibeli oleh A.
Menurut Yusuf al-Qardhawi, dalam MPP ini ada dua unsur utama
yang perlu dipahami, yaitu adanya wa‟ad (janji), artinya janji untuk
membelikan barang yang diminta pembeli dan janji penjual untuk meminta
keuntungan dari barang tersebut. Disamping itu, disepakati pula oleh
pembeli dan penjual bahwa janji ini besifat mengikat (iltizam) yang
kemudian akan dilakukan pembayaran dengan cara ditangguhkan
(muajjal). Berdasarkan penjelasan tersebut, unsur-unsur MPP bila
diterapkan dalam perbankan syariah adalah sebagai berikut:
51
Syubair, ibid., h. 264.
1) Pembeli menentukan barang yang dikehendaki disertai
karakteristiknya.
2) Pihak bank mencari barang yang sesuai dengan permintaan pembeli
kepada pemasok/penyedia barang baik atas inisiatifnya atau atas
rekomendasi dari pembeli.
3) Pihak bank membeli barang dari pemasok/penyedia barang secara
tunai sehingga barang tersebut menjadi milik bank.
4) Setelah bank mendapatkan informasi barang yang dibutuhkan berikut
harganya, kemudian menentukan harga jual kepada pembeli berikut
syarat-syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi oleh pembeli.
5) Pihak pembeli memenuhi ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat yang
ditentukan oleh bank berikut tata cara pembayaranya.
6) Pembeli menandatangani akad murabahah dengan bank atas
barang/objek yang telah disepakati dengan harga jual bank yang terdiri
dari harga pokok dan margin keuntungan,
Kontrak murabahah telah digunakan secara luas oleh banyak bank
Islam dan lembaga keuangan Islam sebagai sebuah mode pembiayaan
pada beragam operasi pembiayaan, seperti pembiayaan rumah,
pembiayaan kendaraan bermotor, pembiayaan pribadi, dan pembiayaan
dagang. Namun konsep yang digunakan dalam pembiayaan Bank Syariah
adalah jenis murabahah denganpesanan, atau yang lebih dikenal dalam
dunia internasional dengan sebutan MPO (Murabahah to the Purchase
Orderer), bukan murabahah biasa.52
Dalam teknis perbankan, murabahah merupakan salah satu bentuk
produk pembiayaan, yaitu melalui akad jual-beli antara bank selaku
penyedia barang (penjual) dengan nasabah yang memesan untuk membeli
barang. Bank memperoleh keuntungan jual-beli yang disepakati bersama.
Rukun dan syarat murabahah adalah sama dengan rukun dan syarat dalam
fikih, sedangkan syarat lain seperti barang, harga dan cara pembayaran
adalah sesuai dengan kesepakatan nasabah dengan bank yang
bersangkutan. Harga jual bank adalah harga beli dari supplier ditambah
keuntungan yang disepakati bersama. Jadi, nasabah mengetahui
keuntungan yang diambil oleh bank. Selama akad belum berakhir,maka
harga jual-beli tidak boleh berubah. Apabila terjadi perubahan, maka akad
tersebut menjadi batal.53
Cara pembayaran dan jangka waktunya disepakati bersama; dapat
secara tunai ataupun secara angsuran. Murabahah dengan pembayaran
secara angsuran ini disebut juga bai' bi tsaman ajil. Dalam prakteknya,
nasabah yang memesan untuk membeli barang menunjuk supplier yang
diketahuinya menyediakan barang dengan spesifikasi dan harga yang
sesuai dengan keinginannya. Atas dasar itu, bank melakukan pembelian
secara tunai dari supplier yang dikehendaki oleh nasabahnya, kemudian
menjualnya secara tangguh kepada nasabah yang bersangkutan.
52
Internasional Shari’ah Research Academy for Islamic Finance (ISRA), Sistem
Keuangan Islam: Prinsip & Operasi, Terj. Ellys T, (Jakarta: Rajawali Pers, 2015) h. 246.
53
Pada awalnya, murabahah tidak berhubungan dengan pembiayaan.
Lalu, para ahli dan ulama perbankan syariah memadukan konsep
murabahah dengan beberapa konsep lain sehingga membentuk konsep
pembiayaan dengan akad murabahah. Secara konsep terdapat perbedaan
yang jelas antara pembiayaan berbasis murabahah yang diterapkan oleh
bank syariah dan kredit yang dijalankan oleh bank konvensional. Beberapa
hal tersebut diantaranya:
Bank Syariah
1. Menjual barang pada nasabah;
2. Hutang nasabah sebesar harga jual tetap selama jangka waktu
Murabahah;
3. Ada analisa supplier;
4. Margin berdasarkan manfaat atau value added bisnis tersebut;
Bank Konvensional
1. Memberi kredit (uang) pada nasabah;
2. Hutang nasabah sebesar kredit dan bunga (berubah-ubah);
3. Tak ada analisa supplier;
4. Bunga berdasarkan rate pasar yang berlaku;
Mekanisme pembiayaan murabahah mempunyai beberapa ciri atau
elemen [Link] paling utama dan membedakan pembiayaan
murabahah dengan kredit konvensional adalah adanya wujud barang
sebagai underlying asset of transaction dimana barang harus tetap dalam
tanggungan bank selama transaksi antara bank dan nasabah belum
selesai.54
Berikut Skema Pembiayaan Murabahahdalam perbankan syariah:
Gambar 1 Skema Pembiayaan Murabahah dalam perbankan syariah
Keterangan Skema:
1. Bank Syariah dan Developer mengadakan Perjanjian Kerja Sama
(MoU) pemilikan rumah. Bank akan menyediakan fasilitas
pembiayaan pemilikan rumah bagi calon pembeli rumah
Developer.
54
OJK, Op. Cit., h. 8-9.
2. Pembeli atau calon nasabah bermaksud membeli rumah di lokasi
milik Developer dan mengajukan Pembiayaan Pemilikan Rumah
kepada Bank. Calon Nasabah melengkapi persyaratan
permohonan pembiayaan sesuai kriteria yang dipersyaratkan.
Jika persyaratan lengkap, Bank selanjutnya melakukan analisa
kelayakan pembiayaan terhadap calon nasabah.
3. Apabila calon nasabah layak dibiayai, maka Bank akan
mengeluarkan Surat Persetujuan kepada calon nasabah (surat
penawaran). Calon Nasabah melakukan negosiasi dengan Bank.
Jika terjadi kesepakatan, calon nasabah menandatangani surat
penawaran dan berjanji (wa‟ad) untuk melakukan transaksi
murabahah dangan Bank.
4. Bank melakukan transaksi rumah (berdasarkan Perjanjian Kerja
Sama) dengan Developer sesuai spesifikasi rumah yang diminta
oleh calon nasabah, secara prinsip (fiqh) rumah menjadi milik
Bank (dokumentasi rumah dibuat atas nama Nasabah). Dalam hal
Developer belum memiliki Perjanjian Kerja Sama, Bank dapat
mewakilkan atau memberi kuasa (wakalah) kepada Nasabah
untuk melakukan transaksi/pemesanan rumah secara langsung ke
Developer yang dipilih nasabah.
5. Nasabah dan Bank melakukan Perjanjian Pembiayaan Pemilikan
Rumah Berdasarkan Prinsip Murabahah.
6. Bank dapat memberi kuasa/mewakilkan kepada Developer untuk
menyerahkan rumah kepada nasabah (berdasarkan Perjanjian
Kerja Sama).
7. Developer menyerahkan rumah kepada nasabah.
8. Nasabah membayar secara taqsith (angsuran) atau ta‟jil (tempo)
ke Bank sesuai jadwal angsuran yang disepakati.55
B. Penggunaan Pembiayaan Murabahah di Perbankan Syariah
Para ulama telah menjelaskan, secara rinci mengenai
pelarangantersebutnamun para ulama modern memberikan perbedaan antara
jual beli belum adabarang dengan jual beli tanpa kepemilikan barang.
Mereka berpendapat bahwajanji pemesanan bentuk membeli barang adalah
mengikat.
Terlebih lagi apabila nasabah pergi begitu saja. Hal ini
mengakibatkankerugian di pihak bank selaku pihak yang menyediakan
barang. Oleh karenaitu ulama kontemporer dan para ulama ekonom Islam
menetapkan bahwajanji antara pemesan dan pihak bank secara umum
mengikat.56
Disamping itu, atas jasa yang diberikan oleh pihak bank berhak
menarik fee (keuntungan) dari nasabah atau komisi sebagai keuntungan
pihak bank. Namun hal itu harus disepakati terlebih dahulu dengan pihak
pemesan mengenai besarnya komisi yang akan diterima oleh Bank.
55
Fathurrahman Djamil, Ibid., h. 131.
56
Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah Dari Teori ke Praktek (Jakarta: Gema
Insani, 2001), Cet 1, hal. 53
Ini karena dalam produk murabahah, prinsip kehati- hatian
(prudential) bank relatif bisa diterapkan dengan ketat dan standar sehingga
tingkat risiko kerugian sangat [Link] bank-bank syariah yang baru
pada umumnya portofolio pembiayaannya yang paling besar menggunakan
murabahah karena lebih aman.
Dalam Lembaga Keuangan Syariah (Lembaga Keuangan
Syariah), khususnya perbankan syariah, bai’ al-murabahah diterapkan
sebagai produk pembiayaan untuk membiayai pembelian barang-barang
konsumen, kebutuhan modal kerja, dan kebutuhan investasi. Pembiayaan
dalam bentuk konsumen seperti pembelian kendaraan, rumah, dan barang-
barang multiguna (barang elektronik, perlengkapan rumah tangga,
renovasi rumah dan barang-barang kebutuhan konsumer lainnya).
Misalnya, pembiayaan modal kerja untuk membeli bahan baku kayu untuk
produksi mabel, proyek pembangunan rumah, kerajinan tangan, dan
barang-barang produksi lainnya. Begitu juga pembiayaan barang yang
berfungsi menjadi asset, seperti membeli mesin-mesin dan peralatan untuk
peningkatan dan pembaruan teknologi.
Mekanisme penerapan murabahah di LKS, didasarkan pada
asumsi bahwa nasabah membutuhkan barang/objek tertentu, tetapi
kemampuan finansial tidak cukup untuk melakukan pembayaran secara
[Link] itulah maka nasabah berhubungan dengan LKS. Namun
karena LKS pada umumnya tidak memiliki inventory terhadap
barang/objek yang dibutuhkan nasabah, maka LKS melakukan pembelian
atas barang yang diinginkan nasabah kepada pihak lainnya seperti kepada
supplier/pemasok, dealer, developer, atau penyedia barang lainnya.
Dengan demikian, LKS bertindak selaku penjual disatu sisi, dan disisi lain
bertindak selaku pembeli, yang kemudian akan menjualnya kembali
kepada nasabah pemesan dengan harga jual ynag disepakati.
Pada saat harga jual disepakati, maka pihak LKS menyerahkan
barang yang dipesan tersebut sesuai dengan kuantitas, kualitas, tempat, dan
waktu [Link] aktiva/barang yang telah dibeli LKS (sebagai
penjual) mengalami penurunan nilai sebelum diserahkan kepada pembeli,
maka penurunan nilai tersebut menjadi beban LKS, dan LKS mengganti
barang tersebut atau mengurangi nilai jual sesuai dengan kesepakatan.
Pada saat sudah terjadi serah terima barang antara LKS dan
nasabah debitur, maka kewajiban nasabah adalah melakukan pembayaran
sesuai kesepakatan, baik secara angsuran atau di akhir secara
[Link] nasabah ingirn mempercepat cicilan atau ingin
melunasi piutangnya sebelum jatuh tempo maka boleh saja nasabah
mengajukannya kepada LKS, dan atas tindakan nasabah melakukan
pembayaran lebih cepat dari waktu yang disepakati ter [Link] dapat
memberikan potongan pelunasan dari kewajiban pembayaran tersebut
sesuai kebijakan dan [Link] karena diserahkan kepada
kebijakan dan pertimbangan LKS, maka berkaitan dengan potongan
pelunasan dalam murabahah tidak perlu dimasukkan dalam akad."Dengan
memperhatikan mekanisme murabahah tersebut, jelas sekali bahwa LKS
sebagai penjual harus memiliki barang dan diserahkan barang tersebut
kepada [Link] hal tersebut tidak dilakukan, maka secara
konsepsional transaksi tersebut tidak sesuai dengan kriteria dari transaksi
murabahah.
Oleh karena itu, Chapra menjelaskan perbedaan transaksi
murabahah dengan instrumen berdasarkan bunga sebagai berikut: Pertama,
cara-cara murabahah lebih merupakan transaksi penjualan daripada
transaksi pinjaman dapat rbun langsung dan pemberian pinjaman. Kedua,
syariah tidak membolehkan orang untuk menjual atau menyewakan apa
yang tidak dimilikinya, penyedia jasa keuangan mengambil risiko begitu ia
memperoleh kepemilikan dan barang-barang untuk dijual atau disewakan.
Ketiga, yang dinyatakan dalam kasus transaksi penjualan adalah harga
bukan suku bunga, dan begitu harga ditetapkan maka tidak dapat diubah
jika terdapat penundaan pembayaran karena kondisi-kondisi yang tidak
dapat diramalkan.
Dengan begitu jelas mekanisme transaksi murabahah di LKS, maka
produk ini termasuk produk yanng populer. Hal ini juga didasari oleh
pertimbangan bahwa:
1. Murabahah sebagai bentuk investasi pembiayaan berjangka pendek
bila dibandingkan dengan profit and loss sharing (PL.S) adalah lebih
mudah;
2. Keuntungan dalam murabahah dapat ditentukan secara pasti yang
merupakan jaminan bagi LKS dalam memberikan return kepada
penyimpan dana dan juga dapat melakukan perbandingan dengan
tingkat bunga yangada di bank konvensionl;
3. Murabahah terhindar dari ketidakmenentuan yang melekat pada
earning of businessbila dibandingkan dilkukan dengan sistem PLS;
4. dalam murabahah LKS tidak diperkenankan mencampuri kegiatan
nasabah karena LKS bukan mitra, tetapi hubungannya dalam
murabahah lebih kepada penjual dan pembeli atau pemberi dan
penerima pembiayaan.
Walau demikian, patut juga dipertimbangkan pendapat dari Muhammad
Taqi Usmani yang menyatakan:
murabahah pada mulanya bukan merupakan suatu cara atau mode
pembiayaan (mode of financing), melainkan sekadar suatu sale on cost
plusbasis Na tertunda (the concept of deferred payment), maka murabahah
telah digunakan sebagai suatu cara pembiayaan dalam hal nasabah
bermaksud untuk membeli. amun setelah adanya konsep pembayaran tas
baranga
Chapt, M. Umer, The future of Economics An Syariah
Perspective, hlm. 267 17S M. Thgi [Link] Introduction to Islamic
Financing. (Pakistan: Maktaba Ma M. TaqiU Quran, 20 Wahbah Ouran,
2002), him.95 122 enerapan Hnkum Perjanjian dalam Transaksi .
Suatu komoditas dengan cara menyicil pembayaran harganya.
Meskipun dukdemikian, menurut Muhammad Taqi Usmani ada 2 (dua) hal
penting yang harus diperhatikan (two essential point) dalam penggunaan
murabahah se- bagai model pembiayaan. Pertama, murabahah jangan
diterima sebagai suatu mode pembiayan Islam yang ideal atau sebaga
instrumen universal untuk an semua jenis pembiayaan (inancing). Kedua,
murabahah hendaknya hanya diterima sebagai langkah peralihan menuju
suatu sistem pembiayaan erukeperlua ideal dalam bentuk musyarakah atau
mudharabah. Murabahah hen daknya hanya digunakan terbatas kepada
hal-hal di mana musyarakah atau mudharabah tidak dapat digunakan
sebagai cara bagi bank untuk memberikan fasilitas pembiayaan kepada
nasabahnya.
Umumnya murabahah diadopsi untuk memberikan pembiayaan
jangka pendek kepada para nasabah guna pembelian barang meskipun
mungkin si nasabah tidak memiliki uang untuk membayar. Murabahah,
sebagaimana yang digunakan dalam perbankan syariah, prinsipnya
didasarkan pada dua elemen pokok: harga beli serta biaya yang terkait, dan
kesepakatan atas mark-up (laba). Ciri dasar kontrak murabahah (sebagai
jual beli dengan pembayaran tunda) adalah:
(i) pembeli harus memiliki pengetahuan tentang biaya-biaya terkait dan
harga asli barang, batas laba (mark-up) harus ditetapkan dalam bentuk
persentase dari total harga plus biaya-biayanya;
(ii) apa yang dijual adalah barang atau komoditas, dan dibayar dengan
uang;
(iii) apa yang diperjualbelikan harus ada dan dimiliki oleh penjual, dan
penjual harus mampu menyerahkan barang itu kepada pembeli;, dan
(iv) pembayarannya ditangguhkan. Murabahah seperti yang dipahami di
sini, digunakan dalam setiap pembiayaan di mana ada barang yang bisa
diidentifikasi untuk dijual.
1. Perbandingan antara Pembiayaan Berbasis Murabahah dan
Bunga Tetap
Tujuan perbandingan ringkas di sini adalah untuk melihat
apakah ada perbedaan yang signifikan antara pembiayaan dengan
murabahah dengan pembiayaan lewat bunga tetap untuk tujuan-tujuan
yang sama. Perbandingan difokuskan pada aspek aspek berikut harga
pembiayaan, risiko dalam pembiayaan murabahah, keamanan
hubungan antara bank dan pembelı, dan penyelesaian utang.
Dinyatakan bahwa ketika bank konvensional meminjamkan uang,
misalnya untuk pembelian barang-barang tertentu, bunga yang dikenakan
pada pinjaman dikaitkan dengan pokok pinjaman dan jatuh tempo
[Link] menegaskan pula bahwa jika pinjaman adalah untuk
tujuan semacam itu, maka bukan urusan bank konvensional mengenai
berapa harga barang-barang itu bagi si [Link] utama yang menjadi
perhatian bank konvensional adalah mem peroleh suku bunga yang sedang
berlaku bagi pengeluaran pengeluaran yang emisal dalam hal risiko dan
jatuh temponya (Mohammed, 10-12). Tanggung jawab nasabahlah, setelah
memperoleh pinjaman dengan suku bunga tertentu untuk membeli barang-
barang yang diperlukannya, berapa pun harganya Dikatakan, metode
murabahah memastikan bahwa si nasabah mengetahui total
C. Persoalan-Persoalan Hukum dalam Murabahah
Beberapa persoalan yang berkaitan dengan aspek hukum yang sering
muncul dalam transaksi murabahah antara lain berkaitan dengan
penyerahan [Link], jaminan, dan pajak.
1. Penyerahan Barang
Penyerahan benda yang diperjualbelikan dalam hukum Islam
merupakan [Link] jual beli dinilai tidak memenuhi syarat (fasid)
dan dapat dibatalkan apabila benda yang menjadi objek akad tidak
[Link] yang tidak dibarengi dengan penyerahan objek akad
dinilai sebagai gharar. Hal ini termasuk transaksi yang dilarang
berdasarkan hadis Rasulullah saw.
2. Risiko Atas Barang dan Pembayaran
Dalam pembiayaan bentuk bai'al-murabahah, LKS menghadapi
berbagai risiko antara lain berkaitan dengan barang dan pembayaran.
Berkaitan dengan risiko atas barang adalah adanya kerusakan atas barang
sebagai objek [Link] kerusakan yang timbul terhadap objek
pertukaran merupakan tang- gung jawab para pihak yang melakukan
perusakan terhadap objek tersebut dan akad dapat diteruskan atau
dibatalkan sesuai dengan tingkat risiko ya timbul dan atas kesepakatan dari
para pihak yang berakad tersebut.
Apabila kerusakan objek pertukaran itu terjadi sebelum
diserahkan kepada apabila kerusakan tersebut oleh pembeli, maka pembeli
bertanggung jawab untuk mengganti benda tersebut atau membayar
harganya. Adapun apabila kerusakan tersebut setelah diserahkan kepada
pembeli dan kerusakan tersebut bukan oleh penjual, maka pertukaran telah
terjadi, sedangkan apabila ke rusakan tersebut oleh penjual, maka penjual
harus mengganti benda itu atau pembeli membatalkan akadnya.
Dalam pertimbangan fuqaha, prinsip keadilan harus ditegakkan
pada saat terjadi kerusakan atau risiko, Selama objek belum diserahkan
pada pembeli. maka risiko yang timbul atas objek tersebut merupakan
beban penjual, yang masih sebagai pemilik sah dari benda tersebut, sampai
saat benda tersebut secara sah diserahkan kepada pembeli, yang berarti
kepemilikannya pun telah beralih atau pindah kepada pembeli. Dengan
diserahkannya benda tersebut kepada pembeli, maka barulah risiko atas
benda tersebut berpindah atau beralih dari penjual kepada pembeli.
Sebagai perbandingan, tampaknya pembahasan para fuqaha
tersebut juga sejalan dengan perundang-undangan yang ada, seperti dalam
KUH Perdata. Menurut Prof. Subekti,57 dengan mengacu pada Pasal 1474,
Pasal 1475, dan Pasal 1454 KUH Perdata, bahwa penjual mempunyai
kewajiban utama, yaitu menyerahkan barangnya dan menanggungnya.
Penyerahan ialah suatu pemindahan barang yang telah dijual ke dalam
kekuasaan dan kepunyaan si pembeli. Bahwa apa yang telah ditetapkan
untuk perjanjian tukar-menukar, harus dipandang sebagai asas yang
berlaku pada umumnya dalam perjanjian timbal balik, yaitu risiko
mengenai suatu barang itu dipikulkan kepada pemiliknya.
57
Subekti, Hukum Perjanjian, (Jakarta: Intermasa, 2002), hlm. 60-62
Adapun risiko berkaitan dengan pembayaran, yaitu nasabah tidak
melakukan pembayaran baik sebagian atau sepenuhnya sesuai dengan
jadwal pembayaran. Syariah menghindari risiko ini antara lain dengan
adanya agunan,penanggungan (jaminan pihak ketiga), dan syarat
perjanjian yang menyatakan bahwa semua hasil barang murabahah yang
dijual kepada pihak ketiga (baik tunai maupun angsuran) harus atas
sepengetahuan bank hingga kewajiban pembayaran kepada bank dibayar
secara penuh. Jika tidak melakukan pembayaran dikarenakan faktor di luar
kemampuan pengawasan nasabah, bank syariah secara moral berkewajiban
untuk melakukan penjadwalan ulang (rescheduling) bahkan me-
restructuring piutang tersebut,58 dan sebaliknya, jika nasabah sudah
memiliki kemampuan untuk membayar pada waktunya tetapi dia tidak
melakukan , maka bank dapat menjalankan konsep denda untuk
dibebankan kepada nasabah. Jumlah denda yang diberikan tergantung pada
"tingkat normal return" pada dana bank yang diinvestasikan, sesuai
diberikan tergantung dengan biaya dana (cost of fund) dari sejumlah
modal.
3. Agunan
Mengambil agunan untuk menjamin utang, menururt Alquran dan
Sunnah, pada dasarnya bukan suatu yang tercela. Alquran menyuruh
muslim untuk menuliskan kewajiban, dan jika perlu, mengambil agunan
untuk utang tersebut. Nabi dalam beberapa kesempatan mempersilahkan
58
Fatwa DSN-MUI No. 48/DSN-MUI/II/2005 tentang Penjadwalan Kembali Tagihan
Murabahah dan Fatwa DSN-MUI No. 49/DSN-MUI/II/2005 tentang Konversi Akad Murabahah.
kreditornya untuk mengambil agunan untuk utangnya. Agunan adalah
suatu cara untuk menjamin hak-hak kreditor/pemberi fasilitas agar tidak
dilanggar dan menghindari memakan harta orang lain secara tidak benar.
Hal ini juga ditegaskan dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional
berikut: "Jaminan dalam murabahah dibolehkan agar nasabah serius
dengan pesanannya. Bank dapat meminta nasabah untuk menyediakan
jaminan yang dapat dipegang."59
4. Pajak
a. Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
Berdasarkan surat Dirjen Pajak kepada salah satu Unit Usaha
Svarial Bank Swasta Nasional dikemukakan bahwa transaksi
murabahah dilakukan oleh bank syariah termasuk dalam pengertian
penyerahan barang kena pajak yang terutang Pajak Pertambahan Nilai
(PPN), " Dasar pertimbangan Dirjen Pajak tersebut sebagaimana
tertuang dalam isi surat tersebut antara lain sebagai berikut.
1) Meskipun transaksi murabahah merupakan salah satu kegiatan
usaha yang dapat dilakukan oleh bank syariah, namun mengingat
prinsip yang mendasari transaksi tersebut adalah jual beli, maka
dari sisi Undang- Undang Pajak Pertambahan Nilai yang saat ini
berlaku, transaksi tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai jasa
perbankan, melainkan merupakan kegiatan perdagangan.
59
Fatwa DSN No.03/DSN-MUI/IV/2000 tentang Murabahah.
2) Oleh karena itu, penyerahan Barang Kena Pajak dalam rangka
transaksi murabahah, baik oleh pemasok/produsen kepada bank
maupun oleh bank kepada nasabah, sepanjang pihak yang
melakukan penyerahan adalah Pengusaha Kena Pajak yang
terutang Pajak Pertambahan Nilai.
3) Apabila barang yang diserahkan/diperjualbelikan dalam transaksi
murabahah adalah bukan Barang Kena Pajak, maka atas
penyerahan barang tersebut tidak dikenakan Pajak Pertambahan
Nilai.
4) Dalam hal dalam transaksi-transaksi di atas bank meminta nasabah
untuk menyediakan Barang Kena Pajak tertentu sebagai jaminan
atau agunan, maka penyerahkan Barang Kena Pajak dimaksud oleh
nasabah kepada pihak bank bukan merupakan penyerahan Barang
Kena Pajak yang terutang Pajak Pertambahan Nilai.
Sedangkan menurut Bank Indonesia, murabahah merupakan bentuk
pembiayaan dengan prinsip jual beli yang merupakan salah satu jasa
dariperbankan Syariah. Menurut Bank Indonesia, dengan mengacu
kepada Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2000 tentang Perubahan
Kedua Atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak
Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang,
dan berdasarkan Per- aturan. Pemerintah Nomor 144 Tahun 2000
tentang Jenis Barang dan Jasa yang Tidak Dikenakan Pajak
Pertambahan Nilai, serta Surat Edaran Dirjen Pajak No. SE-
15/PJ.5/1990 tanggal 19-7-1990, yang menyatakan bahwa jasa bank
yang tidak dapat dilakukan oleh perusahaan selain Bank, dikecualikan
dari pengenaan pajak (PPN). Berdasarkan ketentuan-ketentuan
perpajakan tersebut, dapat disimpulkan antara lain bahwa:
1) Transaksi jual beli barang merupakan Objek Kena Pajak
(OKP) berupa Pajak Pertambahan Nilai (PPN);
2) Kegiatan usaha yang dilakukan oleh perbankan merupakan
kegiatan usaha jasa yang tidak dikenakan pajak, sepanjang
kegiatan tersebut tidak dapat dilakukan oleh badan lain
selain Bank;
3) Kegiatan bank yang dapat dilakukan pula oleh badan lain
bukan bank, tetap menjadi objek pajak terutang PPN, seperti
kegiatan yang dilakukan bank untuk jasa penitipan (Safe
Custody) dan penyewaan SDB (Safe Defosit Box),
pembelian kendaraan operasional, pencetakan formulir, dan
sebagainya.
Namun, kini setelah adanya Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 42 Tahun 2009 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-
Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai
Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (UU
No. 42 Tahun 2009), yang mulai berlaku pada April 2010, bahwa
transaksi murabahah tidak dikenakan PPN. Bunyi dari ketentuan
tersebut antara lain sebagai berikut.
[Link] 1A ayat (1) huruf h UU No. 42 Tahun 2009:
Yang termasuk dalam pengertian penyerahan Barang Kena
Pajak adalah penyerahan Barang Kena Pajak oleh
Pengusaha Kena Pajak dalam rangka perjanjian pembiayaan
yang dilakukan berdasarkan prinsip syariah, yang
penyerahannya dianggap langsung dari Pengusaha Kena
Pajak kepada pihak yang membutuhkan Barang Kena Pajak.
[Link] Pasal 1A ayat (1) huruf h UU No, 42 Tahun 2009
Contoh: Dalam transaksi murabahah, bank syariah bertindak
sebagi penyedia dana untuk membeli sebuah kendaraan
bermotor dari Peng usaha Kena Pajak A atas pesanan nasabah
bank syariah (Tuan B), Meskipun berdasarkan prinsip syariah,
bank syariah harus membeli dahulu kendaraan bermotor
tersebut dan kemudian menjualnu pada Tuan B, berdasarkan
undang-undang ini, penyerahan kendar an bermotor tersebut
dianggap dilakukan langsung oleh Pengusaha Kena Pajak A
kepada Tuan B.
[Link] 4A ayat (3) huruf d UU No. 42 Tahun 2009:
Jenis jasa yang tidak dikenai Pajak Pertambahan Nilai
adalah tertentu dalam kelompok jasa sebagai berikut: d. jasa
keuangan:
[Link] Pasal 4A huruf d UU No. 42 Tahun 2009:
Jasa keuangan meliputi:
1) Jasa menghimpun dana dari masyarakat berupa giro,
deposito berjangka, sertifikat deposito, tabungan,
dan/atau bentuk lain yang dipersamakan dengan itu;
2) Jasa menempatkan dana, meminjam dana, atau
meminjamkan dana kepada pihak lain dengan
menggunakan surat, sarana telekomunikasi maupun
dengan wesel unjuk, cek, atau sarana lainnya;
3) Jasa pembiayaan, termasuk pembiayaan berdasarkan
prinsip syariah, berupa sewa guna usaha dengan hak opsi,
anjak piutang, usaha kartu kredit, dan/atau pembiayaan
konsumen;
4) Jasa penyaluran pinjaman atas dasar hukum gadai,
termasuk gadai syariah dan fidusia; dan
5) Jasa penjaminan.
Berdasarkan UU No. 42 Tahun 2009 tersebut, dapat
disimpulkan bahwa bank syariah sebagai pengusaha kena pajak,
dalam rangka perjanjian pembiayaan yang dilakukan
berdasarkan prinsip syariah (antara lam Tabahah), penyerahan
barang kena pajak (seperti rumah atau kendaraan) dianggap
langsung dari Pengusaha Kena Pajak (seperti pemasok atau
dealer) kepada pihak yang membutuhkan Barang Kena Pajak
(Nasabah Penerima Pembiayaan). Dengan demikian,
berdasarkan prinsip syariah, bank syariah harus membeli dahulu
kendaraan bermotor tersebut dan ke- udian menjualnya kepada
Nasabah, berdasarkan UU No. 42 Tahun 2009 el penyerahan
kendaraan bermotor tersebut dianggap dilakukan lang- ing oleh
Pengusaha Kena Pajak (pemasok atau dealer) kepada nasabah.
Mengingat UU No. 42 Tahun 2009 ini berlaku mulai April
2010, bagai- mana dengan kewajiban PPN sebelum April 2010
tersebut, apakah bank-bank syariah masih terkena kewajiban
PPN tersebut? Mengingat UU No. 42 Tahun 2009 tersebut tidak
berlaku surut, maka demi hukum, bank-bank syariah tetap
dikenai kewajiban PPN tersebut. Akan tetapi, kemudian terdapat
Peraturan Menteri Keuangan No. 251/PMK.011/2010 tertanggal
28 Desember 2010 tentang PPN Ditanggung Pemerintah Atas
Transaksi Murabahah Perbankan Syariah Tahun Anggaran 2010,
yang menyatakan bahwa "atas transaksi murabahah yang
dilakukan sebelum 1 April 2010... ditanggung oleh Pemerintah."
Berdasarkan PMK tersebut, Pagu anggaran yang dialokasikan
untuk keperluan tersebut sebesar Rp328 miliar yang dapat
diberikan kepada wajib pajak bank syariah yang telah membayar
Surat Ketetapan Pajak atas transaksi murabahah. Bagi wajib
pajak bank syariah yang telah membayar surat ketetapan pajak
atas transaksi murabahah, dapat diberikan pengemba-lian pajak
sesuai dengan ketentuan perpajakan yang berlaku (Pasal 1 dan
Pasal 2 PMK).
b. Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan
(BPHTB)
Di samping ketentuan PPN di atas, sebenarnya bank syariah
dalam menjalankan transaksi murabahah, apabila objek murabahah
tersebut adalah barang tetap berupa tanah dan/atau bangunan, yang
kemudian transaksi tersebut dicatat dalam akuntansi sebagai
persediaan/milik bank, maka secara yuridis atas perolehan barang
60
tetap tersebut bank dikenakan BPHTB sebesar 5%. Yang
dimaksud dengan BPHTB adalah pajak yangdikenakan atas
perolehan hak atas tanah dan atau bangunan. Perolehan hak atas
tanah dan atau bangunan adalah perbuatan atau peristiwa hukum
yang mengakibatkan diperolehnya hak atas tanah dan atau
bangunan oleh orang pribadi atau badan.61 Walaupun selama ini
sepengetahuan penulis ketentuan tersebut tidak pernah dijalankan,
namun hal tersebut merupakan ketentuan publik yang mengikat
orang atau badan hukum Indonesia, maka agar tidak ada yang
mempermasalahkan dari segi yuridis di kemudian hari, tampaknya
ketentuan BPHTB ini perlu juga dikecualikan dari transaksi
murabahah sebagaimana ketentuan PPN.
60
UU No. 20 Tahun 2000 jo. UU No. 21 Tahun 1997 tentang BPHTB (Pasal 3, ayat (1)
PP No.3 Tahun 1994 jo. Surat Edaran Dirjen Pajak No. SE-04/PJ.33/1994 tgl 10 Mei 1994).
61
UU No 21 Tahun 1997 tentang BPHTB jo. Pasal 1 UU No. 20 Tahun 2000.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan mengenai Murabahah tersebut, dapat
disimpulkan bahwa pembiayaan murabahah merupakan pembiayaan utam
dalam perbankan [Link] hal tersebut sangat menjadi perhatian
penulis, terutama dari sisi syariahnya.
Maka penulis menyimpulkan bahwa konsep murabahah dalam
fikih muamalah sudah disepakati jumhur ulama atas [Link]
dalam prakteknya, meskipun banyak ulama yang membolehkan dan
melegalkan dari pihak DSN [Link] pula yang mengharamkan,
dikarenakan prakteknya yang lebih kurang mirip dengan pinjam
meminjam pada umumnya, hanya saja pihak bank yang membelikan
barangnya, bahkan tidak sedikit nasabah sendiri yang membelikan barang
tersebut, dengan berlandaskan akad wakalah.
Maka tinggal kita ingin memilih yang mana yang lebih kita yakini
kehalalannya.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian di atas, maka penulis
mengajukan beberapa saran sebagai berikut:
1. Para nasabah agar lebih hati-hati dalam melakukan akad, tidak
langsung percaya dengan embel-embel syariah suatu Bank. Perlu
berkonsultasi dengan para ahli jika ingin mencari tahu bagaimna
praktek idealnya.
2. Dalam melegalkan suatu akad, harus sangat memperhitungkan aspek
kehati-hatian bukan hanya hati-hati agar bank tidak rugi, namun hati-
hati dalam menghalalkan suatu produk.
3. Untuk peneliti selanjutnya, agar hendaknya meninjau langsung
praktek yang terjadi di beberapa bank syariah.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Muhammad Husain, Studi Dasar-Dasar Pemikiran Islam, Terjemah,
(Bogor: Pustaka Thariqul Izzah, 2017), [Link]-9.
Anshori, Isa, Studi Eksploratif Tafsir Al Mishbah kaitannya dengan ayat-ayat
zakat sebagai instrumental ekonomi Islam.( UMJ: 2016) hlm.2
Antonio, Muhammad Syafii, Bank Syariah Dari Teori Ke Praktek, (Depok: Gema
Insani, 2001), cet. Ke- 23.
Arifin, Zainul, Dasar-dasar Manajemen Bank Syariah, (Tangerang Selatan:
Pustaka Alvabet, 2009), cet. Ke-9, h. 24-25
Karim,Adiwarman A. Shalah, As Shawi, et al, Fikih Ekonomi Keuangan Islam,
(Jakarta: Darul Haq, 2004)
Manan,Abdul,Hukum Ekonomi Syariah: Dalam Perspektif Kewenangan
Peradilan Agama, (Jakarta:Kencana Prenada Media Group)
Nurhayati, Sri, Akuntansi Syariah di Indonesia, (Jakarta:Salemba Empat, 2012)
Pradja, Juhaya S,Manajemen Pemasaran Bank Syariah, (Bandung:Pustaka Setia,
2013)
Rosihon, Mujib, dkk,Yayasan Penyelenggara Penerjemah al-Qur’an, Al-
Qur‟anWISDOM, (Bandung: Al- Mizan Publishing House, 2014), [Link]-1.
Saeed, Abdullah, penerjemah ArifMaftuhin, Menyoal Bank Syariah, (Jakarta:
Paramadina, 2004)
Sjahdeini, Sutan Remi,Perbankan Syariah Produk-produk dan Aspek Hukumnya,
(Jakarta:Prenamedia Group, 2014)
Triono, DwiCondro,EkonomiPasarSyariah, (Yogyakarta: Irtikaz 2017), h.26-28
Wangsawidjadja, Pembiayaan Bank Syariah, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Utama, 2012)
Yaya, Rizal Aji Erlangga Martawireja, Ahim Abdurahim, Akuntansi Perbankan
Syariah Teori dan Praktik Kontemporer, (Jakarta: Salemba Empat, 2014)
[Link]
[Link]
[Link]