MODUL V
PENGUKURAN DIMENSI PRODUK
5.1 Tujuan Praktikum
1. Tahu dan paham cara mengukur dimensi suatu produk sesuai dengan
spesifikasi gambar teknik
2. Tahu dan paham mana saja alat ukur yang paling cocok untuk digunakan.
5.2 Dasar Teori
Pengukuran adalah penentuan besaran, dimensi atau kapasitas, biasanya
terhadap suatu standar atau satuan ukur. Pengukuran jugadapat diartikan sebagai
pemberian angka terhadap suatu atribut atau karakteristik tertentu yang dimiliki
oleh seseorang, hal, atau objek tertentu menurut aturan atau formulasi yang jelas
dan disepakati.
Pengukuran dapat dilakukan pada apapun yang dibayangkan, tetapi dengan
tingkat kompleksitas yang berbeda. Misalnya untuk mengukur tinggi, maka
seseorang dapat mengukur dengan mudah karena objek yang diukur merupakan
objek kasatmata dengan satuan yang sudah disepakati secara internasional. Namun
hal ini akan berbeda jika objek yang diukur lebih abstrak seperti kecerdasan,
kematangan, kejujuran, kepribadian, dan lain sebagainya sehingga untuk
melakukan pengukuran diperlukan keterampilan dan keahlian tertentu.
Sifat dasar dari semua pengukuran fisik menunjukkan bahwa tidak mungkin
untuk melakukan pengukuran kuantitas fisik apa pun tanpa kesalahan. Oleh karena
itu, setiap kali nilai kuantitas fisik ditentukan melalui proses pengukuran, itu hanya
perkiraan terbaik dari nilai kuantitas fisik yang diperoleh dari data eksperimen yang
diberikan. Nilai estimasi mungkin sedikit kurang atau lebih dari nilai sebenarnya
dari kuantitas fisik. Dalam sebuah karya eksperimental, pada dasarnya ada empat
elemen utama yang terlibat. Dalam pengukuran objek dengan menggunakan
pengukuran linier menggunakan jangka sorong dan mikrometer, dalam pengukuran
diameter dalam dan kedalaman benda ukur diukur menggunakan jangka sorong,
dalam melakukan pengukuran, kesalahan pengukuran mungkin saja dapat terjadi.
Proses eksperimental mendapatkan satu atau lebih nilai yang bisa masuk akal
dikaitkan dengan kuantitas yang diukur.
5.2.1 Flens
Flens adalah suatu komponen untuk menggabungkan dua elemen antara
pipa dengan Equipment lain. Elemen antar pipa akan menjadi satu kesatuan yang
utuh dengan cara merekatkannya menggunakan baut.
5.2.2 Roda Gigi
Roda gigi adalah bagian dari mesin yang berputar untuk mentransmisikan
daya. Roda gigi memiliki gigi-gigi yang saling bersinggungan dengan gigi dari roda
gigi yang lain. Dua atau lebih roda gigi yang bersinggungan dan bekerja bersama-
sama disebut sebagai transmisi roda gigi, dan bisa menghasilkan keuntungan
mekanis melalui rasio jumlah gigi.
5.2.3 Minstar ukur
Mistr adalah batang tipis yang memiliki angka dan strip pada sisinya. Untuk
mengukur Panjang suatu benda, memiliki kecermatan hingga 0.05 mm.
5.2.4 Jangka sorong
Jangka sorong adalah digunakan untuk mengukuran ketebalan, kedalaman,
diameter luar dan dalam suatu benda, memiliki 2 skala, yakni utama dan nonius,
benda ukur diletakkan di antara pencapitnya, memiliki kecermatan hingga 0,02 mm
dan 0,05 mm.
5.2.5 Height Master
Height Master adalah alat yang khusus digunakan untuk mengukur
ketinggian suatu benda, cara membaca hasil ukur sama dengan pada jangka sorong,
memiliki kecermatan hingga 0,02 mm.
5.2.6 Triobor
Triobor adalah berupa batang silinder dengan 3 kaki yang bisa menyembul
keluar jika pegangan di putar, khusus digunakan untuk mengukur diameter dalam
lubang dengan hasil lebih presisi (kecermatan hingga 0,005 mm)
5.2.7 Mikrometer
Mikrometer adalah mikrometer yang khusus untuk mengukur kedalaman
lubang atau patter (profil) suatu permukaan, memiliki kecermatan hingga 0,01 mm.
Mikrometer lubang bisa diperpanjang dengann mengganti batang yang lebih
Panjang untuk mencapai jarak ukur yang diinginkan.
5.3 Alat dan Bahan
Gambar 5.3. 1 Jangka Sorong
(Sumber: Lab. Metrologi Industri Teknik Mesin UII)
Gambar 5.3. 2 Mistar
(Sumber: Lab. Metrologi Industri Teknik Mesin UII)
Gambar 5.3. 3 Height Master
(Sumber: Lab. Metrologi Industri Teknik Mesin UII)
Gambar 5.3. 4 Triobor
(Sumber: Lab. Metrologi Industri Teknik Mesin UII)
Gambar 5.3. 5 Mkrrometer
(Sumber: Lab. Metrologi Industri Teknik Mesin UII)
Gambar 5.3. 6 Vernier Depth
(Sumber: Lab. Metrologi Industri Teknik Mesin UII)
Gambar 5.3. 7 Flens
(Sumber: Lab. Metrologi Industri Teknik Mesin UII)
Gambar 5.3. 8 Roda Gigi
(Sumber: Lab. Metrologi Industri Teknik Mesin UII)
5.4 Langkah Kerja
Siapkan alat dan bahan
Persiapkan tempat untuk proses pengukuran
Periksa keberadaan alat sesuai dengan yang tercantum pada kartu alat.
Bila sesuai dengan yang tercantum pada kartu alat tersebut, isi kartu pemakaian alat
yang sudah disediakan.
Bersihkan perlatan dengan menggunakan wash bensin
Tuliskan data alat ukur pada lembar kerja
1. Mengamati ketinggian
Pengukuran dengan Mistar
Pelajari cara menggunkan mistar
Pelajari fungsi mistar
Pelajari gambar benda ukur A dan B
Periksa kedudukan nol dari mistar
Ukur jarak t1, t2, t3, dan t4
Tuliskam hasil pembacaan pengukuran pada lembar kerja
Pengukuran dengan Jangka sorong
Pelajari cara penggunaan jangka sorong
Pelajari fungsi jangka sorong
Pelajari gambar benda ukur A gambar 1 dan B gambar 2
Periksa kedudukan nol dari jangka sorong
Ukur jarak t1, t2, t3, dan t4
Tuliskam hasil pembacaan pengukuran pada lembar kerja
Pengukuran dengan High master
Pelajari cara penggunaan High master
Pelajari fungsi High master
Pelajari gambar benda ukur A gambar 1 dan B gambar 2
Periksa kedudukan nol dari High master
Ukur jarak t1, t2, t3, dan t4
Tuliskam hasil pembacaan pengukuran pada lembar kerja
Pengukuran dengan Vernier Depth
Pelajari cara penggunaan Vernier Depth
Pelajari fungsi Vernier Depth
Pelajari gambar benda ukur A gambar 1 dan B gambar 2
Periksa kedudukan nol dari Vernier Depth
Ukur jarak t1, t2, t3, dan t4
Tuliskam hasil pembacaan pengukuran pada lembar kerja
Pengukuran dengan Mikrometer
Pelajari cara penggunaan Mikrometer
Pelajari fungsi Mikrometer
Pelajari gambar benda ukur A gambar 1 dan B gambar 2
Periksa kedudukan nol dari Mikrometer
Ukur jarak t1, t2, t3, dan t4
Tuliskam hasil pembacaan pengukuran pada lembar kerja
2.5 Analisis Data
2.5.1 Tabel Analisis
[Link] Tabel Hasil Pengamatan Ketinggian
Pengamat Ukur A Pengukur Ukur
Alat Ukur Pengamat
t1 t2 t3 t4 t1 t2 t3 t4
1 46 5 48 99 20,2 10,5 20,9 60,4
Mistar
2 46 5 48 99 20,2 10,5 20,9 60,5
Jangka 1 45 8,1 49 102,1 21,84 13,9 27,14 63,72
Sorong 2 45 8,1 49 102,1 21,84 13,9 27,14 63,72
Height 1 46,34 8,88 48,78 104 22,24 14,64 27,52 64,4
Master 2 46,34 8,88 48,78 104 22,24 14,64 27,52 64,4
Vernier 1 49,62 6,48 49 105,1 - - - 62,14
Depth 2 49,62 6,48 49 105,1 - - - 62,14
1 - 6,77 - - - - - -
Mikrometer
2 - 6,77 - - - - - -
[Link] Tabel Hasil Pengukuran Diameter Lubang
Jangka Sorong Triobor
BENDA Lubang
1 2 1 2
A A 15,3 15,3 - -
B 15,55 15,55 - -
C 15,65 15,65 - -
D 15,1 15,1 - -
E 15,2 15,2 - -
B A 10,98 10,98 - -
B 10,94 10,94 - -
C 10,78 10,78 - -
D 10,38 10,38 - -
E 10,86 10,86 - -
F 10,82 10,82 - -
G 10,74 10,74 - -
H 10,5 10,5 - -
I 30,22 30,22 30,85 30,85
[Link] Tabel Hasil Pengukuran Kedalaaman Lubang
Jangka Sorong Mikrometer Kedalaman
Lubang
1 2 1 2
F 9,4 9,4 - -
G 9,4 9,4 - -
H 9,3 9,3 - -
I 9,4 9,4 - -
J 9,55 9,55 - -
K 9,5 9,5 - -
2.5.2 Pembahasan
Pembahasannya adalah heigt master yang dipakai titik nolnya tidak sejajar
dengan kedataran height master, titik nol height master bukan di paling bawah
melaikan 2 cm ke atas, Dari hasil pengamatan bahwasanya masing-masing Vernier
Depth, mempunyai dampak titik nol yang tidak sejajr dengan meja height master
atau penampang height master.
5.6 Kesimpulan
1. Pengukuran sudut dibagi 2 yaitu pengukuran sudut langsung dan
pengukuran sudut tidak langsung.
2. Pada busur pengukuran sudut terbatas, dibandingkan bevel
protractor.
3. Height master tidak bisa digunakan untuk mengukur sudut secara
langsung
5.7 Daftar Pustaka
1. Gulo, Sederhana. 2013. Teori dasar metrology industry. Universitas Gadjah
Mada. Yogyakarta
2. Dep. Dik. Bud. Dir. Dikmenjur,” Teknik Pengukuran, (Metrologi Industri
)”, 1980
3. Malik, M. Eng. Adam, Iskandar, M.T. 2007. Diktat Praktikum Metrologi
Industri