0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
34 tayangan7 halaman

Pengukuran Kebulatan dengan Dial Indicator

Pengukuran Kebulatan

Diunggah oleh

cpsqd6v5fb
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
34 tayangan7 halaman

Pengukuran Kebulatan dengan Dial Indicator

Pengukuran Kebulatan

Diunggah oleh

cpsqd6v5fb
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MODUL III

PENGUKURAN KEBULATAN

3.1 Tujuan Praktikum


1. Mengetahui cara / teknik mengukur kebulatan.
2. Mampu menganalisis kebulatan.

3.2 Dasar Teori


Kebulatan dan diameter adalah merupakan dua karakter geometris yang
berbeda, meskipun demikian mereka saling berkaitan. Ketidakbulatan akan
mempengaruhi hasil pengukuran diameter, sebaliknya pengukuran diameter tidak
selalu akan menunjukkan ketidakbulatan. Kebulatan (roundness) adalah kondisi
pada suatu permukaan dengan penampang berbentuk lingkaran (silinder, konis dan
bola), dimana semua titik –titik dari permukaan yang dipotong oleh bidang apapun
tegak lurus terhadap sumbu (silinder dan konis) atau yang melaluipusat (bola)
mempunyai jarak yang sama dari titik pusat (Rhohman et al., 2019).

Dial indicator atau yang sering disebut dengan Dial Gauge ialah alat ukur
yang digunakan untuk mengukur dan memeriksa kerataan atau kesejajaran pada
permukaan benda dengan skala pengukuran yang sangat kecil (Maros & Juniar,
2016), penggunaanya sangat penting dalam dunia pemesinan seperti pengukuran
kerataan permukaan benda atau ke bulatan suatu poros, bentuknya menyerupai jam
analog dengan menjukan sekala utama dan sekala nonius dan memiliki batang
penunjuk yang dapat di tekan yang bersentuhan langsung pada permukaan benda,
yang istimewa dari alat ini adalah tingkat simpangannya yang sangat kecil bias
mencapai 0.0002 mm.

Dial Indicator ini merupakan suatu alat ukur yang tidak dapat berdiri sendiri,
alat ini memiliki alat bantunya sendiri yang disebut sebagai Magnetic Base ataupun
dial stand. Fungsi dari magnetic base ini adalah sebagai pemegang dial indicator.
dan berfungsi untuk mengatur tinggi, rendah serta kemiringan pada benda yang
akan diukur.
3.3 Alat dan Bahan

Gambar 3.3. 1 Dial Indicator


(Sumber: Lab. Metrologi Industri Teknik Mesin UII)

Gambar 3.3. 2 V-Block


(Sumber: Lab. Metrologi Industri Teknik Mesin UII)
Gambar 3.3. 3 Busur
(Sumber: Lab. Metrologi Industri Teknik Mesin UII)

Gambar 3.3. 4 Dial Stand


(Sumber: Lab. Metrologi Industri Teknik Mesin UII)
3.4 Langkah Kerja
 Mempersiapkan jam ukur, dail stand, dan v-block.
 Memasang jam ukur pada dield stand
 Memberi tanda garis pada benda ukur 1 (ring pejal A) dari nomor satu
sampai 12 searah jarum jam
 Meletakkan benda ukur 1 pada v-block
 Mengatur posisi sensor jam ukur hingga menyentuh permukaan benda ukur
pada posisi garis sebelah kanan nomor 1
 Memasang stopper di belakang benda ukur yang ditumpulkan pada kolom
dial stand agar pengukuran bias segaris
 Mengatur ketinggian jam ukur ± setengah dari daerah maksimum jam ukur,
sehingga mencukupi untuk penyimpangan kekiri dan kekanan dengan
menaikkandan menurunkan lengan pemegang jam ukur, kemudian set nol
 Memutar benda ukur searah jarum jam ke posisi garis kanan nomor 2.
 Melakukan proses pengukuran untuk posisi berikutnya hingga posisi nomor
12
3.5 Analisis Data

3.5.1 Hasil Pengukuran Kebulatan Benda A dengan Metode V-Block dan Jam Ukur

CW CCW
NO
Pengamat 1 Pengamat 2 Rata-Rata Pengamat 1 Pengamat 2 Rata-Rata
1 0 0 0 0 0 0
2 0 0 0 0 0 0
3 0 0 0 0 0 0
4 0 0 0 0 0 0
5 0 0 0 0 0 0
6 0 0 0 0 0 0
7 0 0 0 0 0 0
8 0 0 0 0 0 0
9 0 0 0 0 0 0
10 0 0 0 0 0 0
11 0 0 0 0 0 0
12 0 0 0 0 0 0

3.5.2 Hasil Pengukuran Kebulatan Benda B dengan Metode V-Block dan Jam Ukur

CW CCW
NO
Pengamat 1 Pengamat 2 Rata-Rata Pengamat 1 Pengamat 2 Rata-Rata
1 0 0 0 0 0 0
2 0,07 0,07 0,07 0,04 0,06 0,05
3 0,01 0,01 0,01 0,12 0,04 0,08
4 0,03 0,03 0,03 0,08 0,11 0,095
5 0,08 0,09 0,085 0 0,12 0,06
6 0,11 0,12 0,115 0,07 0,08 0,075
7 0,08 0,09 0,085 0,03 0 0,015
8 0,03 0 0,015 0,09 0,02 0,085
9 0,08 0,08 0,08 0,12 0,08 0,07
10 0,01 0,01 0,01 0,1 0,11 0,09
11 0,07 0,05 0,015 0,04 0,09 0,075
12 0,11 0,12 0,17 0 0,09 0,045
3.6 Kesimpulan
Pada praktikum kali ini dapat disimpulkan bahwa hasil yang di dapat pada
ring B memiliki kebulatan yang tidak sempurna. Hasil hasil dari praktikum kali ini
dapat digunakan mengevaluasi tingkat presisi dari objek yang digunakan.
Berdasarkan tingkat kebulatan objek menggunakan dial indicator, ring A memiliiki
kebulatan yang sempurna. Sedangkan ring B memiliki bentuk yang kurang
sempurna atau tidak bulat sempurna.
3.7 Daftar Pustaka
1. Rhohman et al. 2019. Kebulatan dan diameter.
2. Maros, H., & Juniar, S. 2016. Makalah dial indikator. 1–23.
3. Modul Praktikum Metrologi Industri Universitas Islam Indonesia. 2023

Anda mungkin juga menyukai