0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan12 halaman

Pembelajaran Tematik PAUD yang Efektif

Diunggah oleh

ridwanrasyid29
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan12 halaman

Pembelajaran Tematik PAUD yang Efektif

Diunggah oleh

ridwanrasyid29
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

KEGIATAN BELAJAR 1:

PEMBELAJARAN TEMATIK

CAPAIAN & SUB CAPAIAN PEMBELAJARAN

Mampu melaksanakan pembelajaran yang mendidik, bermakna dan transformatif


dengan menerapkan ragam model, pendekatan dan metode pembelajaran dengan ditopang
penerapan teknologi informasi dan komunikasi (teknologi digital) dan dengan sumber
belajar yang didukung hasil penelitian untuk membangun sikap (karakter Islam rahmatan
lil ‘aalamin dan berkepribadian muslim Indonesia yang tawassuth (moderat), tawaazun
(seimbang), dan tasaamuh), pengetahuan, dan keterampilan mahasiswa didik dalam
memecahkan masalah kehidupan sehari-hari secara kritis, humanis, inovatif, kreatif,
kolaboratif, dan komunikatif berdasarkan keilmuan bidang Pendidikan Islam Anak Usia
Dini.

Subcapaian Pembelajaran Mata Kegiatan

Mampu mengimplementasikan pembelajaran tematik

Pokok-Pokok Materi

1. Konsep Pembelajaran Tematik


2. Manfaat Pembelajaran Tematik
3. Prinsip-prinsip Pengembangan Tema
4. Pemilihan Tema dan Implementasi dalam Pembelajaran

Uraian Materi

A. Konsep Pembelajaran Tematik


Pembelajaran tematik berasal dari kata integrated teaching and learning atau
integrated curriculum approach yang konsepnya telah lama dikemukakan oleh Jhon
dewey sebagai usaha mengintegrasikan perkembangan dan pertumbuhan siswa dan
kemampuan perkembangannya (Beans, 1993 ; udin sa’ud dkk, 2006). Jacob (1993)
memandang pembelajaran tematik sebagai suatu pendekatan kurikulum interdisipliner

1
(integrated curriculum approach). Pembelajaran tematik merupakan suatu pendekatan
dalam pembelajaran pembelajaran suatu proses untuk mengaitkan dan memadukan materi
ajar dalam suatu mata pelajaran atau antar mata pelajaran dengan semua aspek
perkembangan anak, serta kebutuhan dan tuntutan lingkungan sosial keluarga. Definisi
lain tentang pendekatan tematik adalah pendekatan holistic, yang mengkombinasikan
aspek epistemology, social, psikologi, dan pendekatan pedagogic untuk mendidik anak,
yaitu menghubungkan antara otak dan raga, antara pribadi dan pribadi, antara individu
dan komunitas, dan antara domain-domain pengetahuan (Udin Sa’ud dkk, 2006 ).
Wolfinger ( 1994:133 ) mengemukakan dua istilah yang secara teoritis memiliki
hubungan yang sangat erat, yaitu integrated curriculum (kurikulum tematik) dan
intregated learning (pembelajaran tematik). Kurikulum tematik adalah kurikulum yang
menggabungkan sejumlah disiplin ilmu melalui pemaduan isi, ketrampilan, dan sikap.

Pembelajaran tematik diyakini sebagai salah satu pendekatan pembelajaran yang


efektif karena mampu mewadahi dan menyentuh secara terpadu dimensi afeksi, emosi,
fisik, dan akademik peserta didik di dalam kelas atau di lingkungan sekolah.

Premis utama pembelajaran tematik adalah bahwa peserta didik memerlukan


peluang-peluang tambahan (additional opportunities) untuk menggunakan talentanya,
menyediakan waktu bersama yang lain untuk secara cepat mengkonseptualisasi dan
mensintesis. Pembelajaran tematik sangat relevan untuk mengakomodasi perbedaan-
perbedaan kualitatif lingkungan belajar, dan diharapkan mampu menginspirasi peserta
didik untuk memperoleh pengalaman belajar. Pembelajaran tematik sifatnya memandu
peserta didik mencapai kemampuan berpikir tingkat tinggi HOTS (higher levels of
thinking) atau keterampilan berpikir dengan mengoptimasi kecerdasan ganda MTS
(multiple thinking skills), sebuah proses inovatif bagi pengembangan dimensi sikap,
keterampilan, dan pengetahuan yang dituntut dalam Kurikulum 2013.

Pembelajaran tematik merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan peserta


didik, baik secara individual maupun kelompok, aktif
menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip keilmuan secara holistik,
bermakna, dan autentik. Pembelajaran terpadu berorientasi pada praktik pembelajaran

2
yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan peserta didik pada pendidikan anak
usia dini (PAUD) dan pendidikan dasar (SD/MI).

Pembelajaran tematik dikemas dalam bentuk tema-tema berdasarkan muatan


beberapa mata pelajaran yang dipadukan atau diintegrasikan. Tema merupakan wadah
atau wahana untuk mengenalkan berbagai konsep materi kepada anak didik secara
menyeluruh. Tematik diberikan dengan maksud menyatukan konten kurikulum dalam
unit-unit atau satuan-satuan yang utuh, sehingga membuat pembelajaran sarat akan nilai,
bermakna dan mudah dipahami oleh peserta didik.

Pembelajaran tematik PAUD merupakan pembelajaran tepadu yang


menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat
memberikan pengalaman bermakna kepada siswapeserta didik. Tema adalah pokok
pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan.

Pembelajaran tematik bertujuan untuk memberikan pemahaman terhadap materi


pelajaran lebih mendalam, bermakna dan berkesan kepada peserta didik, mengkaitkan
berbagai mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa, memberi kesempatan
kepadapeserta didik untuk menjadi pelaku utama dalam proses pembelajaran (student
center), aktivitas belajar yang menyenangkan serta media yang bervariasi. Sehingga
pelajaran yang diberikan terhadap peserta didik dapat memberikan hasil belajar yang baik
dan sesuai dengan yang diharapkan.

Pelaksanaan pembelajaran tematik berawal dari tema yang telah


dipilih/dikembangkan oleh guru yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Jika
dibandingkan dengan pembelajaran konvensional pembelajaran tematik ini tampak lebih
menekankan pada tema sebagai pemersatu berbagai mata pelajaran yang lebih
diutamakan pada makna belajar, dan keterkaitan berbagai konsep mata pelajaran.
Keterlibatan peserta didik dalam belajar lebih diprioritaskan dan pembelajaran yang
bertujuan mengaktifkan peserta didik, memberikan pengalaman langsung serta tidak
tampak adanya pemisahan antar mata pelajaran satu dengan lainnya.

3
Diharapkan dalam pembelajaran tepadu yang menggunakan tema untuk
mengaitkan beberapa mata pelajaran dapat memberikan pengalaman bermakna dan
adanya perubahan perilaku kepada peserta didik melalui kegiatan belajar.

Adapun belajar itu sendiri menurut teori Behaviorisme yang agak radikal adalah
perubahan perilaku yang terjadi melalui proses stimulus respon yang bersifat mekanis.
Oleh karena itu, lingkungan yang sistematis teratur, dan terencana dapat memberikan
pengaruh (stimulus) yang baik sehingga manusia bereaksi terhadap stimulus tersebut dan
memberikan respon yang sesuai (Semiawan, 2002: 3).

Johan H. Pestalozzi (Santoso, 2002: 11) mengemukakan metodenya yang


merupakan perpaduan yang serasi antara nature dan pendidikan yang praktis, yaitu
membimbing anak dengan perlahan dan dengan usaha anak sendiri. Pestalozzi yakin
bahwa segala bentuk pendidikan adalah berdasarkan pengaruh panca indera dan melalui
pengalaman potensi-potensi yang dimilikinya dapat dikembangkan.

Cara belajar yang terbaik adalah melalui berbagai pengalaman dengan


menghitung, mengukur, merasakan, dan menyentuhnya. Pandangan lain dikemukakan
oleh Froebel, pencetus kindergarten (Santoso, 2002:12) yang menganggap bahwa
pengenalan diperoleh melalui pengalamannya, dengan demikian kegiatan bermain yang
tidak terstrukturbagi anak usia dini akan sangat berbahaya.

Semua kegiatan/kurikulum dirancang atau dilakukan dengan bermain. Prinsipnya


adalah otoaktivitas, kebebasan atau suasana merdeka, serta pengamatan dan peragaan.
Montessori berpendapat bahwa semua bentuk pendidikan adalah pendidikan diri sendiri,
anak memiliki bawaan, kemampuanan, perkembangannya masing-masing. Jadi anak
membutuhkan perhatian secara individual. Masa ini ditandai oleh suatu keadaan dimana
suatu potensi menunjukkan kepekaan untuk berkembang. Pendidikan harus memberikan
arahan atau stimulasi yang berguna bagi anak. Disamping itu anak memperoleh
kebebasan dan selalu senang sehingga dapat berkembang dan tumbuh.

Montessori berpendapat bahwa anak usia 2 sampai 6 tahun boleh diajarkan membaca dan
menulis (Santoso, 2002: 16). Beberapa pandangan para ahli seperti

4
Pestalozzi, Froebel, Montessori (Soegeng, 2002), Piaget (Hoorn, 1993), Vigotsky
(Mustafa, 2000) mengemukakan bahwa belajar yang sesuai dengan taraf perkembangan
anak akan membantu dalam mengembangkan dirinya dalam aspek kognitif, linguistik,
dan sosial emosionalnya. Berbagai teori tentang belajar terkait dengan penekanan
terhadap pengaruh lingkungan dan pengaruh potensi yang dibawa sejak lahir. Potensi itu
biasanya merupakan kemungkinan kemampuan umum. Pendapat lain mengatakan bahwa
anak-anak belajar melalui kegiatan yang dilakukannya. Pandangan Piaget, Montessori,
dan ahli-ahli perkembangan anak serta para peneliti lainnya telah memperlihatkan bahwa
belajar adalah suatu proses yang kompleks sebagai hasil dari interaksi pemikiran anak-
anak sendiri dengan pengalaman mereka dengan dunia luarnya.

Teori perkembangan yang diajukan Piaget telah memberikan sumbangan besar bagi
upaya pendidikan dan pengajaran. Sedikitnya, tahapan yang dikemukakannya telah
memberikan gambaran umum tentang kecenderungan anak-anak usia dini ( Mustafa,
2002: 2). Pengetahuan bukan sesuatu yang diberikan kepada anak sebagai pemikiran
mereka adalah ruang kosong yang harus diisi. Anak-anak mendapatkan pengetahuan
tentang dunia fisik dan sosial dimana mereka mengalami dalam interaksinya dengan
objek dan manusia. Anak-anak tidak membutuhkan penekanan untuk belajar, mereka
termotivasi dengan sendirinya melalui keinginannya untuk mengerti dunianya
(Bredekamp, 1987:51). Informasi pembelajaran dalam konteks yang bermakna tidak
hanya penting bagi pemahaman anak dan konsep perkembangan tetapi penting juga untuk
menstimulasi motivasi anak sehingga mereka lebih suka bertahan dengan tugas-tugas dan
memotivasinya untuk belajar lebih banyak lagi (Bredekamp,1987).

Implementasi pembelajaran tematik menuntut kemampuan guru dalam


mentransformasikan materi pembelajaran di kelas. Karena itu guru harus memahami
materi apa yang diajarkan dan bagaimana mengaplikasikannya dalam lingkungan belajar
di kelas. Oleh karena itu, pembelajaran ini bersifat ramah otak, guru harus mampu
mengidentifikasi elemen-elemen lingkungan yang mungkin relevan dan dapat dioptimasi
ketika berinteraksi dengan peserta didik selama proses pembelajaran.

Banyak aspek yang mempengaruhi keberhasilan belajar, salah satu aspek adalah
kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran dan penentuan model yang digunakan.

5
Model pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas
bertujuan agar semua potensi yang dimiliki siswa dapat berkembang sesuai dengan tujuan
pembelajaran yang akan dicapai. Guru harus mampu memilih secara tepat model
pembelajaran yang relevan dengan tujuan yang akan dicapai dan materi yang dipelajari.
Guru hanya menjadi fasilitator dalam proses belajar yang dilaksanakan siswa.

Ada sepuluh elemen yang terkait dengan hal ini dan perlu ditingkatkan oleh guru, yaitu

1. Mereduksi tingkat kealpaan atau bernilai tambah berpikir reflektif.


2. Memberkaya sensori pengalaman di bidang sikap, keterampilan, dan
pengetahuan.
3. Menyajikan isi atau substansi pembelajaran yang bermakna.
4. Lingkungan yang memperkaya pembelajaran.
5. Bergerak memacu pembelajaran (Movement to Enhance Learning).
6. Membuka pilihan-pilihan.
7. Optimasi waktu secara tepat.
8. Kolaborasi.
9. Umpan balik segera.
10. Ketuntasan atau aplikasi
B. Manfaat Pembelajaran Tematik
Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan tema, akan diperoleh beberapa manfaat
yaitu:

1) Dengan menggabungkan beberapa kompetensi dasar dan indikator serta isi


pembelajaran akan terjadi penghematan, karena tumpang tindih materi dapat
dikurangi bahkan dihilangkan
2) Peserta didik mampu melihat hubungan-hubungan yang bermakna sebab
isi/materi pembelajaran lebih berperan sebagai sarana atau alat, bukan tujuan
akhir
3) Pembelajaran menjadi utuh sehinggapeserta didik akan mendapat pengertian
mengenai proses dan materi yang tidak terpecah-pecah
4) Dengan adanya pemaduan antar mata pelajaran maka penguasaan konsep akan
semakin baik dan meningkat

6
Tema dalam pembelajaran tematik memiliki manfaat antara lain,

1) Peserta didik lebih mudah memusatkan perhatian pada satu tema atau topik
tertentu,
2) Peserta didik dapat mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai
kompetensi mata pelajaran dalam tema yang sama,
3) Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan,
4) Kompetensi berbahasa bisa dikembangkan lebih baik dengan mengaitkan mata
pelajaran lain dan pengalaman pribadi siswa,
5) Peserta didik lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi
disajikan dalam konteks tema yang jelas,
6) Peserta didik lebih bergairah belajar karena mereka bisa berkomunikasi dalam
situasi yang nyata,
7) Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara
terpadu dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam 2 atau 3 kali.
Pemilihan tema dalam pembelajaran tematik dapat berasal dari guru dan peserta didik.
Pada umumnya guru memilih tema dasar danpeserta didik menentukan unit temanya.
Tema juga dapat dipilih berdasarkan pertimbangan konsensus antar peserta didik.

Selain itu, ada beberapa manfaat yang lain yang dirasakan oleh peserta didik, yaitu

1. Suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan. Suasana kelas


memungkinkan semua orang yang ada di dalamnya memiliki rasa mau
menanggung resiko bersama. Misalnya, menanggapi pertanyaan-pertanyaan
yang tidak semestinya atau tidak benar tanpa harus menyinggung
perasaanpeserta didik. Memastikan bahwa semua jadwal terprediksi, dan
menjamin peserta didik merasa aman selama berada di kelas maupun di luar
kelas. Keterampilan hidup dikenali, didiskusikan dan dipraktikkan olehpeserta
didik dengan interaksi yang tepat dan dengan perasaan yang menyenangkan
dalam komunitas ruang kelas.
2. Menggunakan kelompok untuk bekerjasama, berkolaborasi, belajar
berkelompok, dan memecahkan konflik sehingga mendorong peserta didik
untuk memecahkan masalah sosial dengan saling menghargai.

7
3. Mengoptimasi lingkungan belajar sebagai kunci dalam menciptakan kelas
yang ramah otak (brain-friendly classroom). Aktivitas belajar melibatkan
subjek belajar secara langsung, mengoptimasi semua sumber belajar, dan
memberi peluangpeserta didik untuk mengesplorasi materi secara lebih luas.
4. Pesera didik secara cepat dan tepat waktu mampu memproses informasi.
Proses itu tidak hanya menyentuh dimensi kuantitas, namun juga kualitas
dalam mengeksplorasi konsep-konsep baru dan membantu siswa siap
mengembangkan pengetahuan.
5. Proses pembelajaran di kelas memungkinkan peserta didik berada dalam
format ramah otak.
6. Materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru dapat diaplikasikan
langsung oleh siswa dalam konteks kehidupannya sehari-hari.
7. Peserta didik yang relatif mengalami keterlambatan untuk menuntaskan
program belajar memungkinkan mengejar ketertinggalanya dengan dibantu
oleh guru melalui pemberian bimbingan khusus dan penerapan prinsip belajar
tuntas.
8. Program pembelajaran yang bersifat ramah otak memungkinkan guru untuk
mewujudkan ketuntasan belajar dengan menerapkan variasi cara penilaian.
Pembelajaran dengan tema diharapkan akan memberikan banyak keuntungan,
diantaranya:

1. Peserta didik mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu,


2. Peserta didik mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan
berbagai kompetensi dasar antar matapelajaran dalam tema yang sama;
3. Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan;
4. Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan
matapelajaran lain dengan pengalaman pribadipeserta didik;
5. Peserta didik mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena
materi disajikan dalam konteks tema yang jelas;
6. Peserta didik lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam
situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata
pelajaran sekaligus mempelajari matapelajaran lain;

8
7. Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara
tematik dapat dipersiapkaan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga
pertemuan,
Selain itu, manfaat pembelajaran tematik adalah: 1) Dengan menggabungkan beberapa
kompetensi dasar dan indikator serta isi mata pelajaran akan terjadi penghematan, karena
tumpang tindih materi dapat dikurangi bahkan dihilangkan, 2) peserta didik mampu
melihat hubungan-hubungan yang bermakna sebab isi/materi pembelajaran lebih
berperan sebagai sarana atau alat, bukan tujuan akhir, 3) Pembelajaran menjadi utuh
sehingga peserta didik akan mendapat pengertian mengenai proses dan materi yang tidak
terpecah-pecah, 4) Dengan adanya pemaduan antar materi maka penguasaan konsep akan
semakin baik dan meningkat.

C. Prinsip-prinsip Pengembangan Tema


Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan oleh guru dalam memilih tema yang akan
diajarkan pada anak usia dini antara lain:

1. Kedekatan, artinya tema yang hendaknya dipilih dimulai dari tema yang
terdekat dengan kehidupan anak, dekat dimaksud dapat dekat secara fisik atau
dekat secara emosi atau minat anak (Direktorat PAUD, 2018: 4). Tema yang
digunakan dalam pembelajaran harus dimulai dari tema yang dekat dengan
kehidupan anak, masing-masing lembaga PAUD tentu memiliki kondisi yang
berbeda-beda, oleh karena itu tema yang dipilih bisa yang sesuai dengan lokasi
lembaga atau kondisi lembaga.
2. Kesederhanaan. Tema yang dipilih yang sudah dikenal oleh anak agar anak
dapat menggali lebih banyak pengalamannya (Direktorat PAUD, 2018, 4).
Pemilihan tema untuk anak usia dini tidak perlu yang muluk-muluk tetapi
tema-tema yang sudah dikenal dan dekat dengan keseharian anak. Pendidik
tidak harus memilih tema yang malah menyusahakn pendidik dalam mencari
materi dan kegiatan yang akan dilakukan anak dalam mendalami tema.
Prinsip kesederhanaan berarti pemilihan atau pengembangan tema

9
diselaraskan dengan perkembangan anak. Tema yang dipilih juga
memungkinkan untuk dapat dipelajari oleh anak secara optimal.
3. Kemenarikan. Tema yang dipilih harus mampu menarik minat belajar anak-
anak (Direktorat PAUD, 2018: 4). Suatu tema dikatakan menarik tidak selalu
tema yang aneh tetapi tema sekitar anak juga bisa menarik jika guru dapat
memilih aktifitas yang sesuai dengan perkembangan anak. Untuk lebih
memberikan kemenarikan minat belajar anak dan kebermaknaan suatu tema,
guru dapat merumuskan tema dalam bentuk kalimat yang in spiratif, baik
dalam rumusan satu kata tunggal, frase, maupun dalam ben tuk kalimat.
Dalam memilih tema yang menarik bagi anak, guru dapat melakukan
pengamatan terhadap hal-hal yang dekat dengan anak baik secara fisik
maupun pengalaman anak.
4. Daya Dukung. Artinya pemilihan tema disesuaikan dengan kemampuan guru
memahami tema dan ketersediaan sarana prasarana pembelajaran yang ada di
lingkungan sekitarnya (Direktorat PAUD, 2018:5). Pembahasan tema harus
didukung ketersediaan sumber belajar, misalnya buku-buku terkait tema, alat
permainan edukatif, dan narasumber (petani,nelayan, dan lain-lain).
5. Keinsidentalan. Artinya pemilihan tema tidak selalu baku yang direncanakan
di awal tahun, tetapi juga dapat menyisipkan kejadian luar biasa yang dialami
anak (Direktorat PAUD, 2018: 5). Tema untuk anak usia dini tidak bersifat
kaku.

Majid (2014:89) menjelaskan beberapa prinsip yang berkenaan dengan pembelajaran


tematik sebagai berikut:

a. Pembelajaran tematik integratif memiliki satu tema yang aktual, dekat


dengan dunia anak dan ada dalam kehidupan sehari-hari.
b. Pembelajaran tematik integratif perlu memilih materi beberapa pelajaran
yang mungkin saling terkait.
c. Pembelajaran tematik integratif tidak boleh bertentangan dengan tujuan
kurikulum yang berlaku tetapi sebaliknya pembelajaran tematik integratif

10
harus mendukung pencapaian tujuan utuh kegiatan pembelajaran yang
termuat dalam kurikulum.
d. Materi pembelajaran yang dapat dipadukan dalam satu tema selalu
mempertimbangkan karakteristik peserta didik seperti minat, kemampuan,
kebutuhan dan pengetahuan awal.
e. Materi pelajaran yang dipadukan tidak perlu dipaksakan
Adapun prinsip yang lain dari pemilihan pembelajaran tematik yaitu,

1) Bersifat kontekstual atau terintegrasi dengan lingkungan. Pembelajaran


yang dilakukan perlu dikemas dalam suatu format keterkaitan, maksudnya
pembahasan suatu topik dikaitkan dengan kondisi yang dihadapi siswa
atau ketika siswa menemukan masalah dan memecahkan masalah yang
nyata dihadapi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari dikaitkan
dengan topik yang dibahas.
2) Bentuk belajar harus dirancang agar peserta didik bekerja secara sungguh-
sungguh untuk menemukan tema pembelajaran yang riil sekaligus
mengaplikasikannya. Dalam melakukan pembelajaran tematik peserta
didik didorong untuk mampu menemukan tema-tema yang benar-benar
sesuai dengan kondisi mereka, bahkan dialamipeserta didik.
3) Efisiensi Pembelajaran tematik memiliki nilai efisiensi antara lain dalam
segi waktu, beban materi, metode, penggunaan sumber belajar yang
otentik sehingga dapat mencapai ketuntasan kompetensi secara tepat.
D. Pemilihan Tema dan Implementasi dalam Pembelajaran
Mengutip langkah pengembangan tema yang ditulis oleh Yuliani Nurani (2004: 262-268)
maka berikut ini dipaparkan langkah-langkah pengembangan tema berdasarkan
kebutuhan:

1) Tentukan tema besar yang akan menjadi fokus utama untuk satu tahun;
2) Buatlah model keterpaduan tema satu tahun dengan menggunakan prinsip
dari tema yang terdekat dengan anak, konkret, dan sederhana;
3) Jumlah subtema yang dikembangkan tergantung kebutuhan dan keluasan
cakrawala pengetahuan yang dimiliki oleh guru;

11
4) Kemudian setiap subtema dijabarkan lagi sehingga setiap subtema
memiliki cabang pengetahuan yang membangunnya;
5) Kembangkan semua subtema yang telah ditentukan pada butir 3 sangat
dianjurkan saat mengembangkan tema dilakukan melalui curah pendapat
(brainstorming) dengan rekan sejawat atau ahli materi (pakar).

12

Anda mungkin juga menyukai