Pembelajaran PAUD Abad 21 dan Karakter Anak
Pembelajaran PAUD Abad 21 dan Karakter Anak
Sub Capaian
Pokok-Pokok Materi
Uraian Materi
1
Proses pembelajaran akan dimulai dari suatu hal yang mudah menuju hal yang
sulit. Pembelajaran akan meletakkan dasar dan kompetensi, pengukuran kompetensi
dengan urutan LOTS (Lows Order Thinking Skills) atau keterampilan berpikir lebih
tinggi, menuju HOTS (Higher Order Thinking Skills) atau keterampilan berpikir lebih
tinggi. HOTS sangat diperlukan untuk mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi
tantangan global. Dengan evaluasi LOTS akan menjadi tangga bagi peserta didik untuk
meningkatkan kompetensi menuju seseorang yang memiliki pola pikir kritis sebagai
kecakapan yang dibutuhkan di Abad 21. Seseorang yang memiliki kemampuan berpikir
kritis, kreatif, kolaborasi dan mampu berkomunikasi dengan baik akan meningkat pula
karakternya, sehingga keilmuan dan kompetensi yang dikuasainya akan menjadikannya
memiliki sikap/karakter yang bertanggungjawab, bekerja keras, jujur dalam
kehidupannya. Seorang peserta didik yang mengalami proses pembelajaran dengan
melaksanakan aktivitas literasi pembelajaran dan guru memberikan penguatan karakter
dalam proses pembelajaran dengan urutan kompetensi dari LOTS menuju kompetensi
HOTS akan menghasilkan lulusan yang memiliki karakter dan kompetensi.
Oleh sebab itu proses pendidikan harus dapat mengembangkan karakter dan
kecakapan, baik yang terkait dengan pilar pendidikan maupun kecakapan yang
dibutuhkan di Abad 21, termasuk peningkatan profesi dan kompetensi guru, karakteristik
pembelajaran, dan karakteristik peserta didik, serta kecakapan hidup dalam berkarir.
Menyikapi hal tersebut, maka pada K-13 dikenal empat (4) Kompetensi Inti (KI) yang
meliputi KI-I sikap spiritual, KI-II sikap sosial, KI-III pengetahuan, KI-IV keterampilan.
Kompetensi Inti merupakan gambaran secara kategorial mengenai kompetensi dalam
aspek sikap, pengetrahuan, dan keterampilan yang harus dipelajari siswa untuk suatu
jenjang sekolah, kelas, dan mata pelajaran. Dalam konteks pengalaman belajar, KI-I dan
KI-II relevan dengan learning to be dan learning to live together, KI-III relevan dengan
2
learning to know, dan KI-IV relevan dengan learning to do. Tetapi untuk mencapai
Tujuan Pendidikan Nasinal, tidak cukup dengan emapt pilar tersebut, maka dalam
pendidikan di Indonesia ditambah dengan dengan pilar pendidikan “Belajar untuk
memperkuat keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia”.
Hal ini dikarenakan anak tumbuh dan berkembang di era revolusi industri, dengan adanya
internet, koneksi global akan membuat dunia semakin dekat dan menciut. Interaksi dan
pertukaran budaya menjadi semakin meningkat, sehingga anak harus kuat karakternya
menghadapi jaman yang serba terbuka dan memiliki keterampilan berpikir kritis (Critical
Thinking) menghadapi tantangan. Untuk menghadapi revolusi industri, sistem Pendidikan
Anak Usia Dini (PAUD) perlu dipersiapkan dengan memperhatikan aspek karakter
dengan cara menanamkan sistem nilai, dibekali dengan pengetahuan nilai-nilai budaya
sendiri sekaligus sikap menghargai perbedaan budaya dari negara lain (Carruthers, 2018).
Critical Thinking ini juga akan berguna bagi masa depan anak untuk memecahkan
masalah dalam setiap persoalan. Demi menjawab kebutuhan orangtua mengenai
pendidikan tambahan di luar sekolah serta mengajarkan anak mengenai latihan Critical
Thinking.
Kecakapan Berpikir Kritis dan Pemecahan Masalah (Critical Thinking and Problem
Solving Skill) menurut Beyer (1985) yaitu kemampuan (1) menentukan kredibilitas suatu
sumber, (2) membedakan antara yang relevan dari yang tidak relevan, (3) membedakan
fakta dari penilaian, (4) mengidentifikasi dan mengevaluasi asumsi yang tidak
terucapkan, (5) mengidentifikasi bias yang ada, (6) mengidentifikasi sudut pandang, dan
(7) mengevaluasi bukti yang ditawarkan untuk mendukung pengakuan.
3
intensitasnya. Fenomena ini bukan hanya merubah “apa” yang dipelajari, namun merubah
cara “bagaimana” generasi ini mempelajarinya.
Kesenjangan digital tidak lagi sekedar ditentukan faktor ekonomi seperti kepemilikan
handphone, namun lebih disebabkan perbedaan tingkat literasi lintas antara generasi guru
dan generasi peserta didik, hal ini terlihat dari karakteristik generasi anak sekarang, yaitu:
4
B. Ciri-ciri Pembelajaran PAUD abad 21
Melihat karakter anak jaman sekarang, yang lahir di era revolusi industri, maka
pembelajaran abad 21 memiliki ciri- ciri, sebagai berikut :
Pertama, guru bukanlah satu-satunya sumber belajar. Anak belajar dari banyak sumber
belajar. Sebelum abad 21, anak dikatakan belajar jika menggunakan buku. Pada abad 21,
tidak. Setiap sesuatu yang bisa digunakan untuk belajar, itulah sumber belajar. Berupa
buku, audio, visual, internet, dan lain-lain.
Kedua, belajar tidak harus di kelas. Abad 21 dikenal dengan era disrupsi. Sebuah masa
yang menggilas manual dengan digital. Sesuatu yang rumit menjadi lebih sederhana dan
mudah. Bentuk fisik digantikan digital. Sehingga belajarnya tidak lagi butuh kelas.
Melainkan ruang tak terbatas waktu. Bisa dilakukan dimana saja sesukanya.
Ketiga, anak dapat belajar terlebih dulu sebelum diajar oleh guru. Sebelum abad 21, anak
menunggu perintah guru untuk belajar. Sehingga jika guru tidak memerintah, maka tidak
belajar. Abad 21, anak bebas untuk memulai belajar. Mereka diperkenankan seluas-
luasnya untuk memperkaya pengetahuannya. Semakin anak banyak tahu dengan caranya
belajar sendiri, maka semakin bagus.
Keempat, proses belajar mengajar berubah dari teaching and learning menjadi learning
and tutoring. Sebelum abad 21, guru bertindak sebagai pengajar kepada anak secara
kelompok besar. Pada abad 21, guru bertindak sebagai pengajar kepada anak secara
individual. Dia bisa disebut sebagai pamong yang memfasilitasi pembelajaran kepada per
individu. Inilah yang disebut tutor.
Kelima, guru berperan sebagai tutor. Abad 21 pembelajaran secara kolaboratif. Baik itu
antara anak dengan anak dan guru dengan anak. Dalam pembelajaran tersebut ada yang
dikenal dengan cooperative teaching learning. Sehingga terbentuklah kelompok-
kelompok pembelajaran. Untuk inilah, guru mendampingi mereka, istilahnya tutor.
Mendampingi, memfasilitasi, dan menguatkan pembelajaran.
5
Keterampilan Abad 21
peserta didik sulit menghindarkan diri dari dampak teknologi, dimana pertumbuhan
penggunaan perangkat teknologi tentu akan meningkat. Anak perlu diarahkan untuk
mengambil manfaat maksimal dari TIK untuk pembelajaran tanpa memasung kebebasan
namun justeru memberikan saluran ke arah yang positif. Teknologi di satu sisi
memberikan dampak negatif apabila salah dalam memanfaatkan, sementara di satu sisi
dapat meningkatkan mutu pembelajaran. Banyak kasus peserta didik yang mengalami
kecanduan game sehingga mengalami gangguan kejiwaan yang merugikan
perkembangan peserta didik. Di sinilah peran penting guru dalam membantu peserta didik
dalam menghadapi pembelajaran abad 21. Guru abad 21 harus canggih, berempati,
mampu memahami peserta didik, selalu tampil mempesona dan menjadi mitra belajar
yang dekat bagi peserta didik.
Adapun keterampilan penting abad 21 yang menjadi orientasi pembelajaran anak usia
dini, sebagai berikut:
1. Berpikir kritis dan penyelesaian masalah (critical thinking and problem solving).
6
sumber daya alam, namun berusaha menciptakan ekonomi kreatif berbasis
pengetahuan dan warisan budaya.
Keragaman budaya di Indonesia sangat penting dipahami oleh peserta didik selain
pengenalan keragaman budaya lintas negara. Peserta didik harus memiliki sikap
toleransi dan mengakui eksistensi dan keunikan dari setiap suku dan daerah yang
ada di Indonesia. Peserta didik sering berinteraksi dan berkomunikasi mealui
media sosial dengan orang dari berbagai latar belakang budaya dan adat istiadat
yang berbeda. Pemahaman kebiasaan, adat istiadat, bahasa, keunikan lintas
budaya adalah pengetahuan sangat penting dalam melakukan komunikasi dan
interaksi agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dan terpelihara rasa persatuan
dan kesatuan nasional.
7
kontemporer namun termasuk konsep dasar (foundational concept) berupa
prinsip-prinsip dasar dan ide-ide berkenaan dengan komputer, jaringan informasi
dan kemampuan intelektual (intellectual capabilities) berupa kemampuan untuk
menerapkan teknologi informasi dalam situasi komplek dan berbeda.
Peserta didik penting pula dilatih untuk melek data dan pemograman agar mampu
belajar memecahkan persoalan dalam kehidupan sehari-hari dengan pemikiran
logis melalui pemanfaatan dan penciptaan program, misalnya belajar coding sejak
sekolah menengah. Tentu berbagai keterampilan disesuaikan dengan jenjang
kemampuan dan tingkat perkembangan peserta didik anak usia dini.
Peserta didik akan berkarya dan berkarir di masyarakat dimana dunia kerja
memerlukan orang-orang yang mandiri, suka mengambil inisiatif, pandai
mengelola waktu, dan berjiwa kepemimpinan. Peserta didik perlu memahami
tentang pengembangan karir dan bagaimana karir seharusnya diperoleh melalui
kerja keras dan sikap jujur. Misalnya pemahaman pentingnya sikap profesional,
menghargai kerja keras, disiplin, amanah, dan menghindari praktek-praktek
kolusi, koneksi, dan nepotisme. Hal ini juga penting dibiasakan dari sejak usia
dini agar terlatih skill mereka.
8
Pada abad 21 ini, penting anak usia dini diajarkan karakter yang merupakan keterampilan
yang berupa soft skill sebagai hal yang perlu dimiliki, yaitu:
9
ambiguitas dan mengubah prioritas, memungkinkan tantangan dan peluang
baru untuk melampaui zona nyaman mereka.
6. Komunikasi. Anak didorong untuk memilik kemampuan komunikasi yang
baik, baik lisan maupun tulisan. Anak dibantu untuk memiliki kemampuan
untuk berkomunikasi dengan jelas dan efektif karena dipercaya bahwa
komunikasi yang baik akan menumbuhkan pemahaman yang lebih baik,
membangun kepercayaan dan rasa hormat, serta menyelesaikan perbedaan.
7. Inisiatif. Anak harus tahu target untuk setiap mata pelajaran dan bertanggung
jawab dalam pencapaiannya. Mereka dapat mendefinisikan, memprioritaskan
dan menyelesaikan tugas tanpa pengawasan langsung dari guru dan menjadi
independen.
8. Pengarahan Diri. Anak dapat menunjukkan komitmen untuk belajar sebagai
proses seumur hidup. Mereka menunjukkan inisiatif untuk perbaikan dan
untuk melampaui keterampilan dasar untuk mendapatkan keahlian juga
merefleksikan secara kritis pengalaman masa lalu sebagai referensi untuk
kemajuan di masa depan.
9. Kreatifitas. Anak harus mampu menguraikan, menyaring, menganalisis, dan
mengevaluasi ide-ide mereka sendiri untuk meningkatkan dan
memaksimalkan upaya-upaya kreatif. Mereka memahami bahwa kreativitas
dan inovasi adalah proses jangka panjang yang bermula dari keberhasilan
kecil dan kesalahan yang sering terjadi.
10. Keterampilan Lintas Budaya. Penting anak tahu kapan waktu yang tepat untuk
mendengarkan dan kapan berbicara. Mereka mampu melakukan sendiri
dengan cara yang baik dan profesional.
11. Kerjasama. Mencapai sesuatu dengan kemapuan sendiri merupakan hal yang
sangat luar biasa. Karena ketika anak bekerja bersama, mereka dapat lebih
baik lagi. Kerja tim akan membantu anak untuk mengetahui minat bersama,
tanggung jawab, dan menyediakan ikatan yang sangat penting untuk
menciptakan tim yang sukses.
10
Paradigma pembelajaran abad 21 menekankan kepada kemampuan anak untuk berpikir
kritis, mampu menghubungkan ilmu dengan dunia nyata, menguasai teknologi informasi
komunikasi, dan berkolaborasi. Pencapaian ketrampilan tersebut dapat dicapai dengan
penerapan metode pembelajaran yang sesuai dari sisi penguasaan materi dan ketrampilan.
Dimensi proses pengetahuan terdiri empat bagian yaitu faktual, konseptual, prosedural,
dan metakognitif. Krathwohl (2002), Anderson & Krathwohl (2001) menyebutkan bahwa
pengetahuan faktual menekankan pada pengetahuan faktual, yaitu pengetahuan yang
berupa potongan-potongan informasi yang terpisah-pisah atau unsur dasar yang ada
dalam suatu disiplin ilmu tertentu, yang mencakup pengetahuan tentang terminologi dan
pengetahuan tentang bagian detail. Pengetahuan faktual menyajikan fakta-fakta yang
muncul dalam pengetahuan. Pengetahuan konseptual, yaitu pengetahuan yang
menunjukkan saling keterkaitan antara unsur-unsur dasar dalam struktur yang lebih besar
dan semuanya berfungsi sama-sama, yang mencakup skema, model pemikiran dan teori.
Pengetahuan prosedural, yaitu pengetahuan tentang bagaimana mengerjakan sesuatu,
baik yang bersifat rutin maupun yang baru, dan Pengetahuan metakognitif, yaitu
mencakup pengetahuan tentang kognisi secara umum dan pengetahuan tentang diri
sendiri.
Dimensi poses pengetahuan terbagi dalam tiga yaitu kognitif, afektif dan psikomotor
(Anderson & Krathwohl, 2001:67-68) ranah kognitif terbagi dalam enam tingkat yaitu:
11
3. menerapkan (apply): melaksanakan atau menggunakan prosedur melalui
pelaksana, atau menerapkan;
4. menganalisis (analyze): breaking materi menjadi bagian-
bagian penyusunnya, menentukan bagaimana bagian-
bagian berhubungan satu sama lain dan yang secara
keseluruhan struktur atau tujuan melalui membedakan,
mengorganisasikan, dan menghubungkan;
5. evaluasi (evaluate): membuat penilaian berdasarkan kriteria dan standar
melalui memeriksa dan mengkritisi; dan
6. menciptakan (create): menempatkan elemen bersama-sama untuk
membentuk suatu kesatuan yang utuh atau fungsional, reorganisasi elemen
ke pola baru atau struktur melalui menghasilkan, perencanaan, atau
menghasilkan.
Proses pembelajaran yang mampu mengakomodir kemampuan berpikir kritis anak tidak
dapat dilakukan dengan proses pembelajaran satu arah. Pembelajaran satu arah, atau
berpusat pada guru, akan membelenggu kekritisan siswa dalam mensikapi suatu materi
ajar. Anak menerima materi dari satu sumber, dengan kecenderungan menerima dan tidak
dapat mengkritisi. Kemampuan berpikir kritis dibangun dengan mendalami materi dari
sisi yang berbeda dan menyeluruh.
Kemampuan menghubungkan ilmu dengan dunia nyata dilakukan dengan mengajak anak
melihat kehidupan dalam dunia nyata. Memaknai setiap materi ajar terhadap penerapan
dalam kehidupan penting untuk mendorong motivasi belajar anak. Secara khusus pada
dunia pendidikan dasar yang relatif masih berpikir konkrit, kemampuan guru
menghubungkan setiap materi ajar dengan kehidupan nyata akan meningkatkan
penguasaan materi oleh anak. Menghubungkan materi dengan praktik sehari-hari dan
kegunaannya dapat meningkatkan pengembangan potensi anak.
Penguasaan teknologi informasi komunikasi menjadi hal yang harus dilakukan oleh
semua guru pada semua materi pelajaran. Penguasaan TIK yang terjadi bukan dalam
tataran pengetahuan, namun praktik pemanfaatnyanya. Metode pembelajaran yang dapat
mengakomodir hal ini terkait dengan pemanfaatan sumber belajar yang variatif. Mulai
dari sumber belajar konvensional sampai pemanfaatan sumber belajar digital. Anak
12
memanfaatkan sumber-sumber digital, baik yang offline maupun online. Membuat
produk berbasis TIK, baik audio maupun audiovisual.
Beers menegaskan bahwa strategi pembelajaran yang dapat memfasilitasi anak dalam
mencapai kecakapan abad 21 harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
13
Pembelajaran berbasis projek atau masalah, menghubungkan anak dengan masalah yang
dihadapai dan yang dijumpai dalam kehidupam sehari-hari. Bertitik tolak dari masalah
yang diinventarisis, dan diakhiri dengan strategi pemecahan masalah tersebut, anak
secara berkesinambungan mempelajari materi ajar dan kompetensi dengan terstruktur.
Pada pembelajaran berbasis projek, pemecahan masalah dituangkan dalam produk nyata
yang dihasilkan sebagai sebuah karya penciptaan siswa. Pada pembelajaran berbasis
masalah/projek pembelajaran juga fokus pada penyelidikan/inkuiri dan inventigasi yang
dilakukan oleh anak.
Sebagai akhir dari sebuah proses pembelajaran, penilaian formatif menunjukan sebuah
pengendalian proses. Melalui penilaian formatif, dan didukung dengan penilaian oleh diri
sendiri, anak terpantau tingkat penguasaan kompetensinya, mampu mendiagnose
kesulitan belajar, dan berguna dalam melakukan penempatan pada saat pembelajaran
didesain dalam kelompok.
14
nilai, berbasis perkembangan penalaran moral, analisis nilai, dan project citizen yang
dapat dikembangkan guna pembentukan karakter baik (good character) setiap anak
didik.
15