0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan15 halaman

Pembelajaran PAUD Abad 21 dan Karakter Anak

Diunggah oleh

ridwanrasyid29
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan15 halaman

Pembelajaran PAUD Abad 21 dan Karakter Anak

Diunggah oleh

ridwanrasyid29
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

KEGIATAN BELAJAR 2:

MODEL DAN PENDEKATAN


PEMBELAJARAN ABAD 21

CAPAIAN, SUB CAPAIAN DAN POKOK MATERI

Mampu melaksanakan pembelajaran yang mendidik, bermakna dan transformatif


dengan menerapkan ragam model, pendekatan dan metode pembelajaran dengan ditopang
penerapan teknologi informasi dan komunikasi (teknologi digital) dan dengan sumber
belajar yang didukung hasil penelitian untuk membangun sikap (karakter Islam rahmatan
lil ‘aalamin dan berkepribadian muslim Indonesia yang tawassuth (moderat), tawaazun
(seimbng), dan tasaamuh), pengetahuan, dan keterampilan mahasiswa didik dalam
memecahkan masalah kehidupan sehari-hari secara kritis, humanis, inovatif, kreatif,
kolaboratif, dan komunikatif berdasarkan keilmuan bidang Pendidikan Islam Anak Usia
Dini;

Sub Capaian

Model dan Pendekatan Pembelajaran abad 21

Pokok-Pokok Materi

1. Pendekatan Pembelajaran Abad 21


2. Ciri-ciri Pembelajaran PAUD abad 21
3. Keterampilan abad 2
4. Implementasi Pembelajaran abad 21 pada pembelajaran PAUD

Uraian Materi

A. Pendekatan Pembelajaran Abad 21


Pembelajaran Abad 21 merupakan pembelajaran yang mengintegrasikan
kemampuan literasi, kecakapan pengetahuan, keterampilan dan sikap, serta penguasaan
terhadap teknologi. Literasi menjadi bagian terpenting dalam sebuah proses
pembelajaran, peserta didik yang dapat melaksanakan kegiatan literasi dengan maksimal
tentunya akan mendapatkan pengalaman belajar lebih dibanding dengan peserta didik
lainnya.

1
Proses pembelajaran akan dimulai dari suatu hal yang mudah menuju hal yang
sulit. Pembelajaran akan meletakkan dasar dan kompetensi, pengukuran kompetensi
dengan urutan LOTS (Lows Order Thinking Skills) atau keterampilan berpikir lebih
tinggi, menuju HOTS (Higher Order Thinking Skills) atau keterampilan berpikir lebih
tinggi. HOTS sangat diperlukan untuk mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi
tantangan global. Dengan evaluasi LOTS akan menjadi tangga bagi peserta didik untuk
meningkatkan kompetensi menuju seseorang yang memiliki pola pikir kritis sebagai
kecakapan yang dibutuhkan di Abad 21. Seseorang yang memiliki kemampuan berpikir
kritis, kreatif, kolaborasi dan mampu berkomunikasi dengan baik akan meningkat pula
karakternya, sehingga keilmuan dan kompetensi yang dikuasainya akan menjadikannya
memiliki sikap/karakter yang bertanggungjawab, bekerja keras, jujur dalam
kehidupannya. Seorang peserta didik yang mengalami proses pembelajaran dengan
melaksanakan aktivitas literasi pembelajaran dan guru memberikan penguatan karakter
dalam proses pembelajaran dengan urutan kompetensi dari LOTS menuju kompetensi
HOTS akan menghasilkan lulusan yang memiliki karakter dan kompetensi.

Oleh sebab itu proses pendidikan harus dapat mengembangkan karakter dan
kecakapan, baik yang terkait dengan pilar pendidikan maupun kecakapan yang
dibutuhkan di Abad 21, termasuk peningkatan profesi dan kompetensi guru, karakteristik
pembelajaran, dan karakteristik peserta didik, serta kecakapan hidup dalam berkarir.

Pembelajaran abad 21 juga mengarahkan peserta didik untuk mengalami pengalaman


belajar, yang sejalan dengan pilar pendidikan yang merupakan soko guru pendidikan.
UNESCO memberikan empat pilar pendidikan yang terdiri atas learning to know (belajar
untuk tahu), learning to do (belajar untuk melakukan), learning to be (belajar untuk
menjadi), dan lerning to live together (belajar untuk hidup bersama dengan yang lain).

Menyikapi hal tersebut, maka pada K-13 dikenal empat (4) Kompetensi Inti (KI) yang
meliputi KI-I sikap spiritual, KI-II sikap sosial, KI-III pengetahuan, KI-IV keterampilan.
Kompetensi Inti merupakan gambaran secara kategorial mengenai kompetensi dalam
aspek sikap, pengetrahuan, dan keterampilan yang harus dipelajari siswa untuk suatu
jenjang sekolah, kelas, dan mata pelajaran. Dalam konteks pengalaman belajar, KI-I dan
KI-II relevan dengan learning to be dan learning to live together, KI-III relevan dengan

2
learning to know, dan KI-IV relevan dengan learning to do. Tetapi untuk mencapai
Tujuan Pendidikan Nasinal, tidak cukup dengan emapt pilar tersebut, maka dalam
pendidikan di Indonesia ditambah dengan dengan pilar pendidikan “Belajar untuk
memperkuat keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia”.

Hal ini dikarenakan anak tumbuh dan berkembang di era revolusi industri, dengan adanya
internet, koneksi global akan membuat dunia semakin dekat dan menciut. Interaksi dan
pertukaran budaya menjadi semakin meningkat, sehingga anak harus kuat karakternya
menghadapi jaman yang serba terbuka dan memiliki keterampilan berpikir kritis (Critical
Thinking) menghadapi tantangan. Untuk menghadapi revolusi industri, sistem Pendidikan
Anak Usia Dini (PAUD) perlu dipersiapkan dengan memperhatikan aspek karakter
dengan cara menanamkan sistem nilai, dibekali dengan pengetahuan nilai-nilai budaya
sendiri sekaligus sikap menghargai perbedaan budaya dari negara lain (Carruthers, 2018).

Critical Thinking ini juga akan berguna bagi masa depan anak untuk memecahkan
masalah dalam setiap persoalan. Demi menjawab kebutuhan orangtua mengenai
pendidikan tambahan di luar sekolah serta mengajarkan anak mengenai latihan Critical
Thinking.

Kecakapan Berpikir Kritis dan Pemecahan Masalah (Critical Thinking and Problem
Solving Skill) menurut Beyer (1985) yaitu kemampuan (1) menentukan kredibilitas suatu
sumber, (2) membedakan antara yang relevan dari yang tidak relevan, (3) membedakan
fakta dari penilaian, (4) mengidentifikasi dan mengevaluasi asumsi yang tidak
terucapkan, (5) mengidentifikasi bias yang ada, (6) mengidentifikasi sudut pandang, dan
(7) mengevaluasi bukti yang ditawarkan untuk mendukung pengakuan.

Mereka merupakan Generation Next, New Silent Generation, Homelander, generasi


youtube, generasi net, dan sebagainya (Giunta, 2017). Generasi ini lebih banyak
menghabiskan waktu berinteraksi dengan media genre baru (new media) seperti
komputer, internet dan video games. Generasi ini besar kemungkinannya tidak sempat
menjalani kehidupan analog, namun langsung masuk dalam lingkungan digital.
Dibuktikan jarang dijumpai generasi ini masih mendengarkan siaran radio, memutar CD,
memutar kaset video, dan menonton televisi. Interaksi dengan media generasi
sebelumnya (old media) seperti televisi, media cetak, dan musik audio mulai berkurang

3
intensitasnya. Fenomena ini bukan hanya merubah “apa” yang dipelajari, namun merubah
cara “bagaimana” generasi ini mempelajarinya.

Kesenjangan digital tidak lagi sekedar ditentukan faktor ekonomi seperti kepemilikan
handphone, namun lebih disebabkan perbedaan tingkat literasi lintas antara generasi guru
dan generasi peserta didik, hal ini terlihat dari karakteristik generasi anak sekarang, yaitu:

1. Anak menyukai kebebasan dalam belajar (self directed learning) mulai


dari mendiagnosa kebutuhan belajar, menentukan tujuan belajar,
mengidentifikasi sumber belajar, memilih strategi belajar, dan
mengevaluasi hasil belajarnya sendiri.
2. Anak suka mempelajari hal-hal baru yang praktis sehingga mudah beralih
fokus belajarnya meskipun memiliki kecukupan waktu untuk
mempelajarinya.
3. Merasa nyaman dengan lingkungan yang terhubung dengan jaringan
internet karena memenuhi hasrat berselancar, berkreasi, berkolaborasi,
dan membantu berbagi informasi sebagai bentuk partisipasi.
4. Anak lebih suka berkomunikasi dengan gambar images, ikon, dan simbol-
simbol daripada teks. Mereka tidak betah berlama-lama untuk
mendengarkan ceramah guru, sehingga lebih tertarik bereksplorasi
daripada mendengarkan penjelasan guru.
5. Memiliki rentang perhatian pendek (short attention span) atau dengan kata
lain sulit untuk berkonsentrasi dalam jangka waktu lama. Anak terbiasa
bersentuhan dengan teknologi tinggi dengan aksesibilitas cepat misalnya
smartphone. Rentang perhatian manusia semakin pendek ada di kisaran 8
detik (Glum, 2015).
6. Berinteraksi secara kompleks dengan media seperti smartphone, televisi,
laptop, desktop, dan iPod. Hal ini bias terlihat dari fenomena seorang
peserta didik mengetik dengan laptop sambil melacak informasi lewat
smartphone sekaligus menonton televisi?
7. Anak lebih suka membangun eksistensi di media sosial daripada di
lingkungan nyata dan cenderung memilih menggunakan aplikasi seperti
Snapchat, Secret dan Whisper daripada whatsapp.

4
B. Ciri-ciri Pembelajaran PAUD abad 21

Melihat karakter anak jaman sekarang, yang lahir di era revolusi industri, maka
pembelajaran abad 21 memiliki ciri- ciri, sebagai berikut :

Pertama, guru bukanlah satu-satunya sumber belajar. Anak belajar dari banyak sumber
belajar. Sebelum abad 21, anak dikatakan belajar jika menggunakan buku. Pada abad 21,
tidak. Setiap sesuatu yang bisa digunakan untuk belajar, itulah sumber belajar. Berupa
buku, audio, visual, internet, dan lain-lain.

Kedua, belajar tidak harus di kelas. Abad 21 dikenal dengan era disrupsi. Sebuah masa
yang menggilas manual dengan digital. Sesuatu yang rumit menjadi lebih sederhana dan
mudah. Bentuk fisik digantikan digital. Sehingga belajarnya tidak lagi butuh kelas.
Melainkan ruang tak terbatas waktu. Bisa dilakukan dimana saja sesukanya.

Ketiga, anak dapat belajar terlebih dulu sebelum diajar oleh guru. Sebelum abad 21, anak
menunggu perintah guru untuk belajar. Sehingga jika guru tidak memerintah, maka tidak
belajar. Abad 21, anak bebas untuk memulai belajar. Mereka diperkenankan seluas-
luasnya untuk memperkaya pengetahuannya. Semakin anak banyak tahu dengan caranya
belajar sendiri, maka semakin bagus.

Keempat, proses belajar mengajar berubah dari teaching and learning menjadi learning
and tutoring. Sebelum abad 21, guru bertindak sebagai pengajar kepada anak secara
kelompok besar. Pada abad 21, guru bertindak sebagai pengajar kepada anak secara
individual. Dia bisa disebut sebagai pamong yang memfasilitasi pembelajaran kepada per
individu. Inilah yang disebut tutor.

Kelima, guru berperan sebagai tutor. Abad 21 pembelajaran secara kolaboratif. Baik itu
antara anak dengan anak dan guru dengan anak. Dalam pembelajaran tersebut ada yang
dikenal dengan cooperative teaching learning. Sehingga terbentuklah kelompok-
kelompok pembelajaran. Untuk inilah, guru mendampingi mereka, istilahnya tutor.
Mendampingi, memfasilitasi, dan menguatkan pembelajaran.

5
Keterampilan Abad 21

peserta didik sulit menghindarkan diri dari dampak teknologi, dimana pertumbuhan
penggunaan perangkat teknologi tentu akan meningkat. Anak perlu diarahkan untuk
mengambil manfaat maksimal dari TIK untuk pembelajaran tanpa memasung kebebasan
namun justeru memberikan saluran ke arah yang positif. Teknologi di satu sisi
memberikan dampak negatif apabila salah dalam memanfaatkan, sementara di satu sisi
dapat meningkatkan mutu pembelajaran. Banyak kasus peserta didik yang mengalami
kecanduan game sehingga mengalami gangguan kejiwaan yang merugikan
perkembangan peserta didik. Di sinilah peran penting guru dalam membantu peserta didik
dalam menghadapi pembelajaran abad 21. Guru abad 21 harus canggih, berempati,
mampu memahami peserta didik, selalu tampil mempesona dan menjadi mitra belajar
yang dekat bagi peserta didik.

Adapun keterampilan penting abad 21 yang menjadi orientasi pembelajaran anak usia
dini, sebagai berikut:

1. Berpikir kritis dan penyelesaian masalah (critical thinking and problem solving).

Berpikir kritis merupakan keterampilan yang diperlukan peserta didik untuk


menghadapi kompleksitas dan ambiguitas informasi yang besar. Peserta didik
perlu dibiasakan untuk berpikir analitis, membandingkan berbagai kondisi, dan
menarik kesimpulan untuk dapat menyelesaikan masalah. Hal ini penting sebagai
negara berkembang yang masih mengalami euforia teknologi untuk
menghindarkan peserta didik dari salah penggunaan informasi, mudah termakan
berita hoax, dan kurang bertindak teliti. Hal ini dapat melatih budaya untuk kritis
dan teliti sejak dini.

2. Kreatifitas dan inovasi (creativity and innovation).

Kreatifitas dan inovasi merupakan kunci pertumbuhan bagi negara berkembang.


Kurikulum 2013 memiliki tujuan mempersiapkan manusia Indonesia agar
memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi yang beriman, produktif, kreatif,
inovatif dan afektif. Kreatifitas akan melahirkan daya tahan hidup dan
menciptakan nilai tambah sehingga mengurangi kebiasaan untuk mengeksploitasi

6
sumber daya alam, namun berusaha menciptakan ekonomi kreatif berbasis
pengetahuan dan warisan budaya.

3. Pemahaman lintas budaya (cross-cultural understanding).

Keragaman budaya di Indonesia sangat penting dipahami oleh peserta didik selain
pengenalan keragaman budaya lintas negara. Peserta didik harus memiliki sikap
toleransi dan mengakui eksistensi dan keunikan dari setiap suku dan daerah yang
ada di Indonesia. Peserta didik sering berinteraksi dan berkomunikasi mealui
media sosial dengan orang dari berbagai latar belakang budaya dan adat istiadat
yang berbeda. Pemahaman kebiasaan, adat istiadat, bahasa, keunikan lintas
budaya adalah pengetahuan sangat penting dalam melakukan komunikasi dan
interaksi agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dan terpelihara rasa persatuan
dan kesatuan nasional.

4. Komunikasi, literasi informasi dan media (media literacy, information, and


communication skill).
Keterampilan komunikasi dimaksudkan agar peserta didik dapat menjalin
hubungan dan menyampaikan gagasan dengan baik secara lisan, tulisan maupun
non verbal. Literasi informasi dimaksudkan agar peserta didik dapat
mempergunakan informasi secara efektif yakni memahami kapan informasi
diperlukan, bagaimana cara mengidentifikasi, bagaimana cara menentukan
kredibilitas dan kualitas informasi. Literasi media dimaksudkan agar peserta didik
mampu memahami, menganalisis, dan adanya dekonstruksi pencitraan media, ada
kesadaran cara media dibuat dan diakses sehingga tidak menelan mentah-mentah
berita dari media.

5. Komputer dan literasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (computing and


ICT literacy)

Literasi TIK mengandung kemampuan untuk memformulasikan pengetahuan,


mengekpresikan diri secara kreatif dan tepat, serta menciptakan dan menghasilkan
informasi bukan sekedar memahami informasi. Melek TIK memiliki cakupan
lebih luas dari melek komputer bukan hanya menguasai aplikasi komputer

7
kontemporer namun termasuk konsep dasar (foundational concept) berupa
prinsip-prinsip dasar dan ide-ide berkenaan dengan komputer, jaringan informasi
dan kemampuan intelektual (intellectual capabilities) berupa kemampuan untuk
menerapkan teknologi informasi dalam situasi komplek dan berbeda.

Peserta didik penting pula dilatih untuk melek data dan pemograman agar mampu
belajar memecahkan persoalan dalam kehidupan sehari-hari dengan pemikiran
logis melalui pemanfaatan dan penciptaan program, misalnya belajar coding sejak
sekolah menengah. Tentu berbagai keterampilan disesuaikan dengan jenjang
kemampuan dan tingkat perkembangan peserta didik anak usia dini.

6. Karir dan kehidupan (life and career skill)

Peserta didik akan berkarya dan berkarir di masyarakat dimana dunia kerja
memerlukan orang-orang yang mandiri, suka mengambil inisiatif, pandai
mengelola waktu, dan berjiwa kepemimpinan. Peserta didik perlu memahami
tentang pengembangan karir dan bagaimana karir seharusnya diperoleh melalui
kerja keras dan sikap jujur. Misalnya pemahaman pentingnya sikap profesional,
menghargai kerja keras, disiplin, amanah, dan menghindari praktek-praktek
kolusi, koneksi, dan nepotisme. Hal ini juga penting dibiasakan dari sejak usia
dini agar terlatih skill mereka.

Keenam jenis keterampilan tersebut perlu dijadikan orientasi pembelajaran abad


21. Keenam keterampilan di atas sesungguhnya bisa dikelompokkan menjadi tiga
katagori, yaitu;

1) Keterampilan belajar dan inovasi meliputi berpikir kritis dan pemecahan


masalah, komunikasi dan kolaborasi, serta kreatifitas dan inovasi
2) Literasi digital meliputi literasi informasi, literasi media, dan literasi TIK,
dan
3) Keterampilan dalam karir dan kehidupan meliputi sikap luwes dan mampu
beradaptasi, inisiatif dan mengarahkan diri, mampu berinteraksi dalam
lintas sosial budaya, produktif dan akuntabel.

8
Pada abad 21 ini, penting anak usia dini diajarkan karakter yang merupakan keterampilan
yang berupa soft skill sebagai hal yang perlu dimiliki, yaitu:

1. Kepemimpinan. Keterampilan kepemimpinan di setiap anak yang akan


menjadikan mereka pemimpin yang lebih baik dan efektif di masa depan.
Dengan penerapan 7 Habit, sekolah heandaknya menciptakan lingkungan
yang mengedepankan kemampuan kepemimpinan. Ini adalah tentang
memiliki visi di mana anak ingin dan bekerja untuk mencapai visi itu. Dari
usia dini, anak memahami dengan jelas tujuan mereka dan bagaimana bekerja
menuju tujuan mereka.
2. Tanggung Jawab. Semua yang pemikiran, pilihan, dan reaksi mereka akan
memiliki dampak yang besar bagi masyarakat. Hal ini tergambar di kegiatan
mereka sehari-hari, misalnya, anak bertanggung jawab atas pembelajaran
mereka sendiri. Selain itu, Quality Tools oleh David Langford membantu
mereka dalam mengetahui apa yang perlu ditingkatkan.
3. Pemecahan Masalah. Semakin baik anak dalam memecahkan masalah,
semakin mudah hidup anak. Dengan demikian, keterampilan ini harus terus
dikembangkan dengan mendorong anak untuk fokus pada solusi untuk
masalah daripada masalah itu sendiri. Sejalan dengan 7 Habits,
anak berorientasi ke arah solusi win-win yang mendukung kedua belah pihak.
4. Pemikiran Analitik. Pemikiran analitik adalah alat berpikir yang akan
membantu anak untuk memahami inti dari setiap masalah. Komponen
pemikiran visual yang kritis ini memberi seseorang kemampuan untuk
memecahkan masalah dengan cepat dan efektif. Siswa diharapkan belajar
memecahkan masalah kompleks menjadi elemen yang dapat dikelola.
Anak kemudian mengumpulkan informasi yang relevan untuk memecahkan
masalah.
5. Kemampuan Beradaptasi. Untuk menghadapi dunia yang berkembang dengan
cepat, anak dipersiapkan untuk menjadi fleksibel dan memiliki kemampuan
untuk segera beradaptasi dengan kondisi apa pun. Anak dibantu untuk
menjadi individu yang sangat ulet dan bekerja secara efektif dalam iklim

9
ambiguitas dan mengubah prioritas, memungkinkan tantangan dan peluang
baru untuk melampaui zona nyaman mereka.
6. Komunikasi. Anak didorong untuk memilik kemampuan komunikasi yang
baik, baik lisan maupun tulisan. Anak dibantu untuk memiliki kemampuan
untuk berkomunikasi dengan jelas dan efektif karena dipercaya bahwa
komunikasi yang baik akan menumbuhkan pemahaman yang lebih baik,
membangun kepercayaan dan rasa hormat, serta menyelesaikan perbedaan.
7. Inisiatif. Anak harus tahu target untuk setiap mata pelajaran dan bertanggung
jawab dalam pencapaiannya. Mereka dapat mendefinisikan, memprioritaskan
dan menyelesaikan tugas tanpa pengawasan langsung dari guru dan menjadi
independen.
8. Pengarahan Diri. Anak dapat menunjukkan komitmen untuk belajar sebagai
proses seumur hidup. Mereka menunjukkan inisiatif untuk perbaikan dan
untuk melampaui keterampilan dasar untuk mendapatkan keahlian juga
merefleksikan secara kritis pengalaman masa lalu sebagai referensi untuk
kemajuan di masa depan.
9. Kreatifitas. Anak harus mampu menguraikan, menyaring, menganalisis, dan
mengevaluasi ide-ide mereka sendiri untuk meningkatkan dan
memaksimalkan upaya-upaya kreatif. Mereka memahami bahwa kreativitas
dan inovasi adalah proses jangka panjang yang bermula dari keberhasilan
kecil dan kesalahan yang sering terjadi.
10. Keterampilan Lintas Budaya. Penting anak tahu kapan waktu yang tepat untuk
mendengarkan dan kapan berbicara. Mereka mampu melakukan sendiri
dengan cara yang baik dan profesional.
11. Kerjasama. Mencapai sesuatu dengan kemapuan sendiri merupakan hal yang
sangat luar biasa. Karena ketika anak bekerja bersama, mereka dapat lebih
baik lagi. Kerja tim akan membantu anak untuk mengetahui minat bersama,
tanggung jawab, dan menyediakan ikatan yang sangat penting untuk
menciptakan tim yang sukses.

Implementasi Pembelajaran abad 21 pada Pembelajaran PAUD

10
Paradigma pembelajaran abad 21 menekankan kepada kemampuan anak untuk berpikir
kritis, mampu menghubungkan ilmu dengan dunia nyata, menguasai teknologi informasi
komunikasi, dan berkolaborasi. Pencapaian ketrampilan tersebut dapat dicapai dengan
penerapan metode pembelajaran yang sesuai dari sisi penguasaan materi dan ketrampilan.

Kemampuan berpikir kritis siswa dibangun melalui pembelajaran yang menerapkan


taksonomi pembelajaran sebagaimana disampaikan oleh Benyamin Bloom tahun 1956
yang telah direvisi pada tahun 2001. Bloom membagi tujuan pendidikan menjadi tiga
ranah yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Tujuan pendidikan mengalami
penyempurnaan pada tahun 2001 (Anderson dan Krathwohl, 2001). Taksonomi
pembelajaran dikelompokan dalam dimensi pengetahuan dan dimensi proses kognitif.

Dimensi proses pengetahuan terdiri empat bagian yaitu faktual, konseptual, prosedural,
dan metakognitif. Krathwohl (2002), Anderson & Krathwohl (2001) menyebutkan bahwa
pengetahuan faktual menekankan pada pengetahuan faktual, yaitu pengetahuan yang
berupa potongan-potongan informasi yang terpisah-pisah atau unsur dasar yang ada
dalam suatu disiplin ilmu tertentu, yang mencakup pengetahuan tentang terminologi dan
pengetahuan tentang bagian detail. Pengetahuan faktual menyajikan fakta-fakta yang
muncul dalam pengetahuan. Pengetahuan konseptual, yaitu pengetahuan yang
menunjukkan saling keterkaitan antara unsur-unsur dasar dalam struktur yang lebih besar
dan semuanya berfungsi sama-sama, yang mencakup skema, model pemikiran dan teori.
Pengetahuan prosedural, yaitu pengetahuan tentang bagaimana mengerjakan sesuatu,
baik yang bersifat rutin maupun yang baru, dan Pengetahuan metakognitif, yaitu
mencakup pengetahuan tentang kognisi secara umum dan pengetahuan tentang diri
sendiri.

Dimensi poses pengetahuan terbagi dalam tiga yaitu kognitif, afektif dan psikomotor
(Anderson & Krathwohl, 2001:67-68) ranah kognitif terbagi dalam enam tingkat yaitu:

1. mengingat (remember) : mengambil, mengakui, dan mengingat pengetah


uan yang relevan dari memori jangka panjang;
2. memahami (understand): membangun makna dari lisan, pesan tertulis, dan
grafis melalui menafsirkan, mencontohkan, mengklasifikasi, meringkas,
menyimpulkan, membandingkan, dan menjelaskan;

11
3. menerapkan (apply): melaksanakan atau menggunakan prosedur melalui
pelaksana, atau menerapkan;
4. menganalisis (analyze): breaking materi menjadi bagian-
bagian penyusunnya, menentukan bagaimana bagian-
bagian berhubungan satu sama lain dan yang secara
keseluruhan struktur atau tujuan melalui membedakan,
mengorganisasikan, dan menghubungkan;
5. evaluasi (evaluate): membuat penilaian berdasarkan kriteria dan standar
melalui memeriksa dan mengkritisi; dan
6. menciptakan (create): menempatkan elemen bersama-sama untuk
membentuk suatu kesatuan yang utuh atau fungsional, reorganisasi elemen
ke pola baru atau struktur melalui menghasilkan, perencanaan, atau
menghasilkan.
Proses pembelajaran yang mampu mengakomodir kemampuan berpikir kritis anak tidak
dapat dilakukan dengan proses pembelajaran satu arah. Pembelajaran satu arah, atau
berpusat pada guru, akan membelenggu kekritisan siswa dalam mensikapi suatu materi
ajar. Anak menerima materi dari satu sumber, dengan kecenderungan menerima dan tidak
dapat mengkritisi. Kemampuan berpikir kritis dibangun dengan mendalami materi dari
sisi yang berbeda dan menyeluruh.

Kemampuan menghubungkan ilmu dengan dunia nyata dilakukan dengan mengajak anak
melihat kehidupan dalam dunia nyata. Memaknai setiap materi ajar terhadap penerapan
dalam kehidupan penting untuk mendorong motivasi belajar anak. Secara khusus pada
dunia pendidikan dasar yang relatif masih berpikir konkrit, kemampuan guru
menghubungkan setiap materi ajar dengan kehidupan nyata akan meningkatkan
penguasaan materi oleh anak. Menghubungkan materi dengan praktik sehari-hari dan
kegunaannya dapat meningkatkan pengembangan potensi anak.

Penguasaan teknologi informasi komunikasi menjadi hal yang harus dilakukan oleh
semua guru pada semua materi pelajaran. Penguasaan TIK yang terjadi bukan dalam
tataran pengetahuan, namun praktik pemanfaatnyanya. Metode pembelajaran yang dapat
mengakomodir hal ini terkait dengan pemanfaatan sumber belajar yang variatif. Mulai
dari sumber belajar konvensional sampai pemanfaatan sumber belajar digital. Anak

12
memanfaatkan sumber-sumber digital, baik yang offline maupun online. Membuat
produk berbasis TIK, baik audio maupun audiovisual.

Kecakapan berkolaborasi menunjukkan sikap penerimaan terhadap orang lain, berbagi


dengan orang lain, dan bersama-sama dengan orang lain mencapai tujuan bersama.
Paradigma pembelajaran kolaboratif memfasilitasi anak berada dalam peran masing-
masing, melaksanakannya, dan bertanggungjawab. Sikap individualistik, mau menang
sendiri, dan bekerja sendiri akan mengurangi kemampuan anak dalam menyiapkan diri
menyongsong masa depannya. Setiap kompetensi yang ada pada masing-masing
dikolaborasikan, sehingga dapat meningkatkan kompetensi dan pencapaian hasil.

Beers menegaskan bahwa strategi pembelajaran yang dapat memfasilitasi anak dalam
mencapai kecakapan abad 21 harus memenuhi kriteria sebagai berikut :

1. kesempatan dan aktivitas belajar yang variatif;


2. menggunakan pemanfaatan teknologi untuk mencapai tujuan pembelajaran;
pembelajaran berbasis projek atau masalah;
3. keterhubungan antar kurikulum (cross-curricular connections);
4. fokus pada penyelidikan/inkuiri dan inventigasi yang dilakukan oleh anak;
5. lingkungan pembelajaran kolaboratif;
6. visualisasi tingkat tinggi dan menggunakan media visual untuk meningkatkan
pemahaman;
7. menggunakan penilaian formatif termasuk penilaian diri sendiri.
8. Kesempatan dan aktivitas belajar yang variatif tidak monoton.
Metode pembelajaran disesuaikan dengan kompetensi yang hendak dicapai. Penguasaan
satu kompetensi ditempuh dengan berbagai macam metode yang dapat mengakomodir
gaya belajar siswa auditori, visual, dan kenestetik secara seimbang. Dengan demikian
masing-masing anak mendapatkan kesempatan belajar yang sama.

Pemanfaatan teknologi, khususnya tekonologi informasi komunikasi, memfasilitasi anak


mengikuti perkembangan teknologi, dan mendapatkan berbagai macam sumber dan
media pembelajaran. Sumber belajar yang semakin variatif memungkinkan siswa
mengekplorasi materi ajar dengan berbagai macam pendekatan sesuai dengan gaya dan
minat belajar anak.

13
Pembelajaran berbasis projek atau masalah, menghubungkan anak dengan masalah yang
dihadapai dan yang dijumpai dalam kehidupam sehari-hari. Bertitik tolak dari masalah
yang diinventarisis, dan diakhiri dengan strategi pemecahan masalah tersebut, anak
secara berkesinambungan mempelajari materi ajar dan kompetensi dengan terstruktur.
Pada pembelajaran berbasis projek, pemecahan masalah dituangkan dalam produk nyata
yang dihasilkan sebagai sebuah karya penciptaan siswa. Pada pembelajaran berbasis
masalah/projek pembelajaran juga fokus pada penyelidikan/inkuiri dan inventigasi yang
dilakukan oleh anak.

Keterhubungan antar kurikulum (cross-curricular connections), atau kurikulum


terintegrasi memungkinkan anak menghubungkan antar materi dan kompetensi
pembelajaran, dengan demikian pembelajaran dapat lebih bermakna, dan teridentifikasi
manfaat mempelajari sesuatu. Pembelajaran ini didukung lingkungan pembelajaran
kolaboratif, dapat memaksimalkan potensi anak. Didukung dengan visualisasi tingkat
tinggi dan penggunaan media visual dapat meningkatkan pemahaman siswa.

Sebagai akhir dari sebuah proses pembelajaran, penilaian formatif menunjukan sebuah
pengendalian proses. Melalui penilaian formatif, dan didukung dengan penilaian oleh diri
sendiri, anak terpantau tingkat penguasaan kompetensinya, mampu mendiagnose
kesulitan belajar, dan berguna dalam melakukan penempatan pada saat pembelajaran
didesain dalam kelompok.

Pandangan tersebut memperjelas bahwa proses pembelajaran untuk menyiapkan anak


memiliki kecakapan abad 21 menuntut kesiapan guru dalam merencanakan,
melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran. Guru memegang peran sentral sebagai
fasilitator pembelajaran. Anak difasilitasi berproses menguasai materi ajar dengan
berbagai sumber belajar yang dipersiapkan. Guru bertugas mengawal proses berlangsung
dalam kerangka penguasaan kompetensi, meskipun pembelajaran berpusat pada anak.

Dalam prakteknya, terdapat beberapa penggunaan model dan pendekatan pembelajaran


pendidikan karakter pada abad 21 pada umumnya yaitu pendekatan keteladanan,
pendekatan berbasis kelas, pendekatan kegiatan ko kurikuler dan ekstrakurikuler,
pendekatan kultur kelembagaan dan kultur akademik, pendekatan berbasis komunitas,
dan dukungan kebijakan pendidikan yang relevan serta model pembelajaran penanaman

14
nilai, berbasis perkembangan penalaran moral, analisis nilai, dan project citizen yang
dapat dikembangkan guna pembentukan karakter baik (good character) setiap anak
didik.

15

Anda mungkin juga menyukai