Semua orang memiliki kisahnya sendiri untuk mereka ceritakan
kepada orang terpercaya mereka. Sebagian dari mereka membencinya,
berusaha melupakannya, dan berharap bahwa hal tersebut tidak akan
pernah terjadi lagi. Sebagian lagi ingin terus mempertahankannya walau
mereka tahu hal itu akan terus membayangi mereka dan memiliki sedikit
kemungkinan untuk terulang lagi.
Banyak hal yang terjadi pada diri mereka dan seakan terus
mambaur dengan mereka. Seperti kisah romance yang akan membawa
seorang individu kepada dunia dimana mereka bayangkan dunia milik
mereka seorang. Hal itu bukan sesuatu yang salah. Setiap orang
berhak memilikinya. Yang salah adalah Ketika seseorang itu
membawanya terlalu berlebihan dan akan merugikan orang di
sekitarnya.
Semua itu adalah kerikil dan batu kehidupan.
#*#*#*#*#*#*#*
Namaku Gerrald Oliver dan orang lain biasa memanggilku Gero.
Aku baru saja menginjak SMA kelas 2 di sebuah sekolah di daerahku.
Di hari pertamaku masuk kelas baru, aku menjadi orang pertama yang
menginjakkan kaki di kelas. Itu bukan suatu hal yang membanggakan
karena alasanku bertentangan dengan kerajinanku.
Pagi itu terlihat sepi ketika aku memasuki kelas. Suasana kelas itu
terasa sejuk walaupun tidak ada pendingin ruangan yang menyala.
Terasa nonstalgia dengan suasana kelas beberapa bulan yang lalu saat
aku masih berada di kelas 1. Bayang bayang teman teman berlarian
kesana kemari dan bersenda gurau serta tertawa Bersama. Ocan yang
sedang menjahili selly yang sedang berdandan dan Meggy yang tertidur
selalu dalam keadaan apapun.
Terdengar berlebihan kalau aku mengatakan aku merindukan
masa itu. Mungkin kalian berpikir bahwa aku masih bisa bertemu
dengan mereka semua. Namun itu salah. Tidak hanya aku berganti
kelas, namun juga berganti sekolah karena aku mengikuti kemanapun
ayahku berada. Dengan suasana kelas dan orang baru, kupikir aku
tidak bisa semudah itu beradaptasi seperti sebelumnya.
Aku mengambil lokasi duduk di dekat jendela dan berada di pojok
belakang. Posisi terjauh dari tempat duduk guru berada. Mungkin, akan
banyak dari kalian yang berpikir bahwa alasan orang orang berebut
lokasi strategi itu agar segala aktivitas illegal apapaun yang mereka
tanpa sepengetahuan guru tidak terlihat. Itu benar untuk orang lain.
Namun, tidak denganku. Sedikitpun tidak pernah terselubung
dalam pikiranku tentang hal itu. Alasanku memilih lokasi strategis itu
adalah karena aku tidak suka terlihat mencolok. Prinsipku adalah lebih
baik diam dan tak terlihat namun terhindar dari segala masalah
daripada selalu terlihat dan mencari perhatian namun selalu di hinggapi
masalah. Aku tahu itu terlihat seperti aku takut menerima keselahan.
Aku hanya ingin berada di suasana yang nyaman, aman, dan damai
dimana tidak ada masalah apapun.
Sebagai akibatnya, aku menjadi seorang yang pendiam dan sulit
untuk bergaul. Itu memang kebiasaanku dari dulu dan alasanku memiliki
banyak teman sebelumnya adalah karena teman temanku berinisiatif
untuk mendekatiku dan akrab denganku. Terdengar egois dan aku pun
mengakuinya.
Aku meletakkan tasku di samping kursi dan duduk dengan posisi
tangan menyangga kepala menatap ke arah luar jendela. Di langit,
terlihat burung burung berterbangan kesana kemari bergerombol satu
sama lain seakan mereka tidak dapat terlepas. Lalu pepohonan hijau
yang daun dan rantingnya menari tertiup angin. Beberapa siswa terlihat
berjalan santai mendekat memegang tas mereka.
Dalam suasana santai dan damai itu tiba tiba saja pintu ruang
kelas terbuka. Seorang perempuan memunculkan kepala untuk melihat
apa atau siapa yang berada di dalam kelas. Lalu pandangannya terhenti
ketika melihatku. Mata kami saling bertatap dan saling berpaling
beberapa detik kemudian. Ia lalu berjalan perlahan masuk ke kelas
menampakkan seluruh tubuhnya.
Seragamnya terlihat sama dengan milikku dan membawa tas yang
ia pegang di tangan kirinya. Lalu rambutnya yang hitam legam terurai
dengan kacamata menempel di matanya dan bibirnya yang tippis serta
hidungnya yang mancung. Lalu posturnya yang tidak terlalu tinggi
dengan tubuh yang ramping. Sepertinya tidak ada sesuatu yang spesial
dari penampilannya. Namun, ketika aku melihatnya, jantungku berdetak
lebih cepat. Aku merasa pernah memiliki chemistry dengan perempuan
ini sebelumnya.
Ia duduk di depanku dan meletakkan tasnya di samping kursi juga.
Setelah itu tidak ada hal yang terjadi, kelas sunyi kembali dan semua
orang kembali ke aktivitas masing masing. Tanpa sadar aku membuka
mulut,
“apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”
Aku yang tidak suka mencari masalah tiba tiba saja mencari
masalah dengannya. Kupikir begitu, namun ternyata dia menoleh ke
arahku dengan elegan dan rambut melayang tertiup angin sepoy pagi
itu.
“kupikir tidak. Aku baru pertama kali melihatmu,”
Setelah itu aku baru tersadar bahwa aku menanyakan sesuatu
yang tidak selayaknya kutanyakan. Aku menatapnya sejenak untuk
melihat apakah dia marah denganku. Ternyata tidak, wajahnya terlihat
lebih jelas dari sebelumnya.
“maafkan aku karena mengatakan sesuatu yang tidak sopan,”
Menurutku kata maaf adalah hal yang tepat untuk menghindari
suatu masalah lalu berpaling.
“kamu tidak perlu meminta maaf. Itu bukan sesuatu hal yang buruk
untuk mengingat seseorang. Namaku Kirana Putri dan kamu bisa
memanggilku kirana,”
Sekarang aku mengetahui namanya adalah Kirana. Aku berusaha
mengingat apakah aku memang pernah bertemu dengan seseorang
yang memiliki wajah dan nama yang sama dengannya. Hanya
wajahnya, namun namanya berbeda.
“namaku Gerald Oliver dan kamu bisa memanggilku Gero,”
Kami berjabat tangan dan terasa kehangatan tangannya mengalir
di tanganku.
“kamu adalah kenalan pertamaku. Jujur saja aku sedikit gugup,”
Kami mengalami hal yang sama yaitu kegugupan. Perbedaannya
adalah dia lebih berani mengutarakannya sedangkan aku lebih memilih
memendamnya. Dilihat dari bagaimana dia berbicara dan bagaimana
dia bereaksi, ia adalah seorang yang pendiam dan juga susah bergaul
sepertiku. Aku mengingat bahwa seseorang yang pernah kutemi dulu
juga memiliki sifat yang sama persis.
Semakin aku berusaha meninggalkan pemikiran itu, semakin rasa
penasaran hinggap karena kami berpisah tanpa meninggalkan sepatah
katapun saat itu. Tiba tiba saja ia menghilang sesaat setelah lulus dari
jenjang Sekolah Menengah Pertama.
“kalau begitu aku adalah teman pertamamu,”
Karina menatap erat kearah mataku terkejut mendengar kalimat
yang kuucapkan.
“Teman?”
“Iya,”
Aku mengangguk lalu tersenyum padanya. Ia terlihat memalingkan
wajah sejenak seakan menyembunyikan sesuatu di wajahnya. Ini
adalah salah satu perubahan mendadak dalam diriku. Pertama kalinya
aku mencoba berkomunikasi dan berteman seseorang tanpa orang itu
mendorong atau memulaiya terlebih dahulu.
Diriku yang awalnya selalu menyendiri dan memilih diam ketika
Bersama orang orang yang masih terasa asing bagiku. Sekarang
memiliki inisiatif untuk memulai percakapan terlebih dahulu. Mungkin
bagi orang lain hal itu adalah biasa, namun bagiku hal itu adalah
kemajuan besar.
Karina lalu menoleh ke arahku kembali. Warna wajahnya memerah
yang membuatku bingung. Apa yang terjadi pada wajahnya dalam
waktu singkat itu. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu namun selalu
tertahan di bibirnya tanpa bisa terucap.
Ketika ia mencoba berbicara lagi, satu per satu orang mulai
bermunculan membuat kami mengurungkan niat untuk mengobrol lebih
jauh dan akhirnya memalingkan wajah menuju aktivitas seperti semula.
Itu menjadi momen awal yang merubah hidupku. Setelah kelas mulai
terisi penuh oleh siswa, guru pun datang dan pelajaran pertama di kelas
baru pagi itu pun dimulai.
Aku hanya berharap saat itu bahwa percakapan itu bukan terakhir
kalinya.
#*#*#*#*#*#*
Jam menunjukkan pukul 14.30 ketika pelajaran selesai dan aku
merapikan buku pelajaran serta alat tulisku. Aku sedikit melirik ke arah
karina yang saat itu terlihat terburu buru menata perlengkapannya dan
bergegas pergi dari ruang kelas itu.
Mengapa ia terburu buru, padahal aku ingin mengajaknya
mengobrol setelah jam pelajaran selesai, batinku.
Namun, biarlah. Mungkin ia memiliki urusan yang penting. Aku
memutuskan untuk langsung pulang ke rumah karena aku sudah tidak
memiliki hal untuk dilakukan di sekolah.
Aku berjalan menuju parkiran yang berada di belakang sekolahku.
Setelah mencari beberapa menit akhirnya aku menemukan keberadaan
motorku. Motor itu adalah vespa keluaran lama yang sebelumnya di
pakai oleh almarhum kakekku. Sebelum meninggal, ia mewasiatkan
motor bersejarah ini kepadaku dan aku masih merawatnya sampai
sekarang.
Setelah helm terpasang dan mesin motor selesai dinyalakan, aku
melaju perlahan karena memang motor ini tidak boleh dibawa terlalu
cepat. Setelah melewati gerbang sekolah aku lebih melaju lagi dan
kebetulan sekali aku melihat kirana sedang menaiki sebuah mobil
berwarna hitam. Di mobil itu aku terlihat seorang lelaki paruh baya
dengan pakaian serba hitam dan kacamata hitam berada di tempat
sopir.
Aku menduga bahwa lelaki itu adalah supir pribadi Kirana.
Sepertinya memang Kirana berasal dari keluarga berada. aku mulai
berpikiran yang tidak tidak.
Aku tidak boleh terlalu frontal saat berteman dengannya. Biasanya
orang yang memiliki ekonomi tinggi akan memiliki banyak masalah,
begitu pemikiranku kala itu.
Aku masih terlalu egois untuk berpikiran luas dan masih
memikirkan diriku sendiri. Dalam pikiranku saat di SMA dulu adalah
yang penting aku tidak dapat masalah.
aku melanjutkan perjalanan dan meningalkan Kirana yang akan
pergi dari tempat itu juga.
Selang beberapa menit mengarungi kota metropolitan yang penuh
sesak itu, akhirnya aku tiba di rumah. Rumahku tidak terlalu besar
namun tidak terlalu kecil juga. Rumah ini adalah peninggalan orang
tuaku. Aku hidup berdua bersama adikku yang berada di kelas 1 SMA.
Jujur saja aku sangat kagum dengan adikku karena di usianya
yang terbilang masih cukup muda, ia sudah bisa mengerjakan Sebagian
pekerjaan yang harusnya di kerjakan oleh seorang ibu rumah tangga
seperti memasak, menyuci dengan mesin cuci, lalu membersihkan
rumah.
Tentu saja aku ikut membantunya karena akulah yang
mengajarkannya. Namun saat ini harus ku akui ia sangat hebat. Ketika
aku tiba dirumah seperti saat ini, ku lihat lantai sudah bersih dan dia
sedang memasakkan makanan untukku.
“Aku pulang,”
Aku membuka pintu dan melihat adikku memegang sendok sayur
dan memakai celemek di perutnya.
“selamat datang, kakak. Aku sedang menyiapkan sup ayam
kesukaanmu,”
Ia selalu tau apa yang kusukai dan itu yang membuatku sangat
menyayanginya. Sangat di sayangkan bahwa dia tidak sempat melihat
wajah orang tuanya saat ia lahir.
Ayah dan ibu meninggal dalam kecelakaan mobil. Adikku sudah
berumur 4 tahun saat itu. Usiaku baru 5 tahun saat itu dan aku
menangis histeris ketika mengetahui orang tuaku telah tiada.
Mulai saat itu aku bertekad untuk selalu melindungi adikku.
“katanya kamu mau jalan sama pacarmu,”
Aku menaruh tas di sofa dan duduk. Aku mengambil kaleng wafer
yang berada di meja sofa. Ngemil adalah salah satu aktivitas yang
wajib.
“nanti aja dah. Kakak juga belum ada makanan masa langsung ku
tinggal,”
Aku tertawa. Sebenarnya itu adalah hal yang tidak perlu. Aku yakin
dia punya alasan lain.
“Dini, kakak kan bisa nyari atau buat makanan sendiri,”
“enggak ah. Biar tuntas semua dulu baru pulang. Nanti takutnya
kakak makan yang aneh aneh atau gak sehat,”
Namanya adalah Andini Felicia. Adikku ini dari dulu sangat
perhatian sama kakaknya dan begitu pula aku. Dini seperti tau apa yang
akan aku lakukan jika tidak ada yang mengawasi. Ia paling tidak suka
aku makan mie instan.
“nanti pacarmu nunggu gimana,” aku sedikit menggodanya dan dia
malah tertawa.
“engga bakal lah. Ntar kumarahin balik,”
Enak banget ya cewe, batinku.
Aku menghidupkan TV dan mencari saluran yang bagus. Adikku
selesai memasak makanan favorite ku, omelet, dan menaruhnya di
meja makan. Sementara, ia mengambil tas dan seragamku dan
membawanya ke kamarku. Sejak kapan ia menjadi pembantu seperti
itu. Aku tidak pernah menyuruhnya demikian.
“Eh aku bawa sendiri aja,”
“Udah kakak duduk aja di meja makan trus tu makanan buatanku
dimakan. Aku sekalian mau siap siap berangkat,”
Dia berjalan menuju lantai dua tempat kamar kami berada. seluruh
kamar berada di lantai dua sedangkan untuk kamar mandi, dapur, dan
ruangan lainnya berada di lantai satu. Kamarku bersebelahan dengan
kamar Dini.
Dalam beberapa menit saja makanan di meja makan habis karena
masakan Dini selalu tidak mengecewakan. Apalagi omeletnya yang luar
biasa enak. Saat aku akan beranjak ke kamarku, Dini terlihat turun dari
tangga dan sudah mengenakan pakaian yang cantik untuk bertemu
dengan pacarnya. Jarang sekali aku dapat melihat adikku secantik ini
walau sebenarnya ia cantik alami walau tanpa make up dan apapun itu.
Sebagai seorang kakak, sebenarnya aku merasa was was saat dia
pergi keluar, apalagi hanya dengan pacarnya. Dia adalah keluargaku
satu satunya dan aku tidak akan rela jika terjadi sesuatu dengannya di
luar sana.
“Kak, aku keluar dulu ya. Nanti kalo kakak butuh apa apa telpon aja
tapi pake WA. Jangan pake telpon biasa soalnya aku engga ada pulsa,”
Ia menyalami tanganku dan tersenyum. Adikku memang memiliki
budi pekerti yang baik karena semenjak orang tuaku meninggal, aku
selalu menanamkan hal baik padanya.
“Iya. Hati hati ya di luar. Jangan macem macem, nanti kalo kakak
denger dari orang lain kamu kenapa kenapa, pacar kamu yang kakak
panggil,”
“Oke,”
Ia berjalan perlahan meninggalkan rumah, sementara aku berlari
ke kamar dan mengganti pakaian dengan cepat. Kalian seharusnya
tahu apa yang akan kulakukan. Tidak mungkin aku akan berdiam dan
bersantai sementara adikku diluar sana dengan lelaki yang bahkan
adikku belum kenal seutuhnya. Setelah adikku berangkat menggunakan
ojek online yang dia pesan, aku langsung melesat mengikutinya dari
belakang menggunakan motor andalanku.
Aku mengikutinya menuju Plaza di kota.