0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
50 tayangan350 halaman

Pembangunan Berbasis Aset Komunitas ABCD

Diunggah oleh

haryanto03
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
50 tayangan350 halaman

Pembangunan Berbasis Aset Komunitas ABCD

Diunggah oleh

haryanto03
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Wawan Herry Setyawan, Mansur, Betty Rahayu, Siti

Maryam, Aslichah, Khoiruddin, Humaidah Muafiqie, Endah


Marendah Ratnaningtyas, Rika Nurhidayah, Moh. Yusuf
Efendi.

Asset Based Community


Development
(ABCD)
Asset Based Community Development (ABCD)

Penulis:
Wawan Herry Setyawan, Mansur, Betty Rahayu, Siti Maryam,
Aslichah, Khoiruddin, Humaidah Muafiqie, Endah Marendah
Ratnaningtyas, Rika Nurhidayah, Moh. Yusuf Efendi.

Editor:
[Link] Herry Setyawan, [Link].
Yusuf Efendi, [Link].I, M.A

ISBN: 978-623-99691-2-7

Cover Image: [Link]


This cover has been designed using resources from
[Link]

Buy Online:
[Link]

Diterbitkan oleh

PT. Gaptek Media Pustaka


[Link]
Alamat: Jl. A. W. Syahrani No.47 Samarinda 75124,
Email: admin@[Link]

Cetakan pertama, Juni 2022

Hak Cipta dilindungi undang-undang pada penulis.


Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apa
pun, tanpa izin tertulis dari Penulis.
KATA PENGANTAR
Asset Based Community Development atau lebih dikenal dengan
sebutan ABCD adalah sebuah usaha yang memastikan bahwa
kegiatan pembangunan masyarakat selayaknya menempatkan posisi
manusia dengan segala potensi dan aset yang dimiliki berkembang
sesuai dengan kapasitasnya. Pendekatan ABCD digunakan sebagai
usaha perbaikan kualitas kehidupan manusia dengan pola
pembangunan yang menempatkan manusia menjadi pelaku utama.
Pendekatan ABCD adalah jenis pendekatan kritis yang masuk dalam
lingkup pengembangan masyarakat berbasis pada kekuatan dan aset
yang dimiliki oleh masyarakat.

Buku ini terdiri dari 10 Bab yang meliputi berbagai aspek terkait
metode ABCD. Akhir kata, semoga buku ini dapat bermanfaat
sebesar-besarnya. Sebagai sebuah karya, tentu saja buku ini tidak
lepas dari kesalahan dan kekurangan. Oleh karena ini kritik dan saran
dapat disampaikan kepada penerbit sebagai bahan masukan dan
perbaikan buku ini ke depannya.

Kediri, Maret 2022

Editor
DAFTAR ISI
BAB I PENGANTAR 1
BAB 2 PRINSIP 7
BAB 3 RUANG LINGKUP 46
BAB 4 GAMBARAN CARA KERJA 77
BAB 5 METODE DAN ALAT DALAM MENEMUKAN DAN
MEMOBILISAI ASET 103
BAB 6 PELAKSANAAN 168
BAB 7 TEKNIK FASILITASI PARTISIPATIF 225
BAB 8 TIPS DALAM MEMFASILITASI MONITORING DAN
EVALUASI PARTISIPATIF 271
BAB 9 PENDEKATAN DALAM PENGEMBANGAN KOMUNITAS 301
BAB 10 PENUTUP 338
BAB 1
Pendahuluan Apa itu Metod ABCD

BAB 1 Pendahuluan
Pada pembahasan kali ini penulis yang berasal dari para
akademisi berkolaborasi dalam menyajikan buku tentang teori
konsep komunitas dengan pendekatan ABCD.

a. Pengertian Metode ABCD


Asset-Based Community Development (ABCD)
merupakan metode pemberdayaan berkelanjutan yang
dilandaskan pada aset, kekuatan, dan potensi masyarakat.
Akibatnya, dalam hal ini masyarakatlah yang bertanggung
jawab atas pembangunan tersebut (Setyawan, 2018).
Masyarakat yang oleh pembangunan kapasitas, basis asosiasi,
dan kelembagaan sosial, dan tidak didasarkan pada aset yang ada
atau tidak dimulai dari masalah atau kebutuhan masyarakat.
Pendekatan ABCD menggunakan semua sumber daya,
keterampilan, dan pengalaman masyarakat sebagai pijakan
utama untuk meningkatkan kualitas hidup dalam berbagai aspek.
Metode ABCD didasarkan pada prinsip bahwa pengakuan
berdasarkan potensi, kekuatan, bakat, dan aset individu, serta
aset masyarakat umum, dapat menginspirasi perubahan positif
1
dengan berfokus pada kebutuhan dan masalah. Cara pandang
memandang gelas setengah penuh bukan berarti menafikan
permasalahan yang dihadapi masyarakat, tetapi menyatukan
energi setiap individu untuk terus berpartisipasi dalam cara yang
lebih berarti bagi pembangunan aset. (Ansori et al., 2021:122-
124).

b. Sejarah dan Perkembangan ABCD


Pendekatan ABCD ini berkembang di Amerika Utara
sebagai inovasi dari strategi pembangunan berbasis kebutuhan
masyarakat di perkotaan dan komunitas pedesaan. Yang
menarik perhatian dari pendekatan ABCD ini adalah adanya
beberapa kelompok aktivis yang kecewa terhadap pendekatan
berbasis kebutuhan yang begitu mengakar dalam layanan
pemerintah dan swasta (Ahmad, 2007).

Seiring menggunakan meningkatnya minat warga


melalui pendekatan ABCD (Hastuti & Setyawan, 2021).
pendekatan ini berkembang sejalan menggunakan perubahan-
perubahan yg terjadi pada pada forum-forum pembangunan
internasional menggunakan pendekatan berbasis aset antara lain
merupakan sustainable livelihood approach (pendekatan mata
pencaharian berkelanjutan) yg yg didirikan sang Department for
2
International development (DFID), Inggris & secara signifikan
jua dikembangkan sang United Nation Development Program
(UNDP) yg pada planning kerjanya waktu ini dipakai sang Ford
Foundation (FF) (Ansori et al., 2021:136-138).

c. Prinsip Metode ABCD


Metodologi ABCD dibangun atas empat prinsip utama

1. ABCD merupakan pendekatan yg yg serius dalam aset &


potensi warga daripada kasus & kebutuhan. Banyak
pendekatan yg dipakai sebelumnya yg diawali
menggunakan analisis kebutuhan atau serius dalam kasus
yg dihadapi warga , yg dalam gilirannya menunjuk pada
pelabelan warga atau individu yg kurang berfungsi.
Semakin disfungsional suatu komunitas maka makan poly
dana diinvestasikan & dikendalikan sang pihak eksternal
(Ahmad, 2007).
2. Pendekatan yg mengidentifikasi & memobilisasi aset,
keterampilan, & minat individu atau komunitas
3. Pendekatan yg pengembangannya digerakkan sang
komunitas. Prinsip ini merupakan membangunkan
komunitas menurut pada keluar. Penekanan digerakkannya
aset sang komunitas bukan ditunjukan sang kiprah
3
kepemimpinan forum eksternal melainkan sang internal
warga
4. Pendekatan ABCD pada pengembangan warga didorong
sang interaksi yg dibangun sang warga . Komunikasi &
jejaring sosial yg terjadi pada warga merupakan aset &
sebagai hak warga sendiri Konsep ini dipahami menjadi
kapital sosial lantaran menempatkan jaringan informan &
memakai kekuatan mereka menjadi upaya buat
memobilisasi aset (Setyawati et al., 2020).

Daftar Pustaka

Ahmad, M. (2007) ‘Asset Based Communities Development


(ABCD): Tipologi KKN Partisipatif UIN Sunan Kalijaga’,
Jurnal Aplikasi Llmu-Ilmu Agama, 8(2).
Ansori, M. et al. (2021) Pendekatan-Pendekatan University
Community Engagement. Surabaya: UIN SUNAN
AMPEL PRESS.
Hastuti, S. W. M., & Setyawan, W. (2021). Community Service
in Study Potential Technology of Education Tour and
Business Prospects of Traders in Tulungagung. Mitra
Mahajana: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2(2), 134–
144. [Link]
journal/[Link]/mahajana/article/view/952
H Setyawan, W. et al. (2018) ‘Challenged Solving in Listening
4
Through T-Mobile Learning Model’, International Journal
of Engineering & Technology, 7(4.15), p. 443. doi:
10.14419/ijet.v7i4.15.25253
Setyawan, W. H., & Nawangsari, T. (2021). Pengaruh E-Module
Speaking Berbasis Website Untuk Meningkatkan
Keterampilan Berbicara. Aksara: Jurnal Ilmu Pendidikan
Nonformal, 7(2), 339-346.
[Link]
346.2021
Setyawati, M. et al. (2020) ‘Modul Pelatihan Data Analyses
Workshop Pengembangan Literasi di Madrasah dengan
Pendekatan ABCD’. Kanzum Books.

5
Biografi Penulis
Dr. Wawan Herry Setyawan, [Link].,
[Link]. Dosen Universitas Islam
Kadiri-Kediri. Penulis menyelesaikan
studi S1 idi Universitas Islam Kadiri
pada tahun 2005 di Fakultas
Pendidikan Bahasa Inggris. Penulis
melanjutkan lulus studi Magister
Pendidikan Bahasa Inggris di
Universitas Khatolik Widya Mandala
Surabaya pada tahun 2009. Penulis
juga telah menyelesaikan studi
program Doktor Teknologi Pendidikan
pada tahun 2019. Penulis selain mengajar pada fakultas
pendidikan bahasa Ingrris juga mendapat tugas dari kementrian
pendidikan sebagai pendamping yaitu Pelatih Ahli program
sekolah penggerak di 5 sekolah di Kabupaten Nganjuk.
Pengabdian kepada Masyarakat adalah bentuk nyata Tri Dharma
Perguruan Tinggi bagi seorang Akademisi sebagai Dosen di
Perguruan Tinggi. Memberikan pelayanan dalam dunia
Pendidikan Menjadi tantangan tersendiri bagi Penulis sekaligus
berharap dapat memberikan dampak kemajuan dalam dunia
pendidikan secara meluas bahwa pendidikan di Indonesia
menjadi makin lebih bermutu, berkualitas serta bermakna bagi
warga pendidikan yang terkait. Contact Person:
wawansetyawan@[Link] Call/Wa: 081234300123.

6
BAB 2
Prinsip ABCD
BAB 2 Prinsip ABCD

a. Setengah Terisi Lebih Berarti (Half Full Half


Empty)
Dalam pengabdian masyarakat berbasis aset, modal
utamanya adalah merubah cara pandang komunitas terhadap
dirinya, yaitu berfokuslah pada apa yang dimilikinya, bukan
kepada apa yang menjadi kekurangannya (Blickem et al., 2018).
Inilah gambaran makna istilah gelas setengah terisi. Daripada
membahas sesuatu yang belum terisi atau kosong, alangkah
baiknya membahas sesuatu yang telah ada. Jadi fokus kepada
ada aset yang tersedia, karena itu lebih berarti.

Ketika kita memulai sesuatu dari apa yang telah kita


miliki, maka betapa banyaknya anugerah itu. Energi yang kita
dapatkan menjadi positif dan terasa ada tambahan anugerah
yang lain. Demikianlah prinsip bersyukur bekerja. Sebaliknya,
apabila kita berfokus kepada kekurangan atau kebutuhan, maka
energi negatif akan menguasai komunitas. Sebuah komunitas
akan mencari-cari cara bagaimana mengisi atau memenuhi
kebutuhan tersebut. Energi yang kita serap adalah hal-hal yang
mendatangkan kesempitan berfikir. Namun, apabila kita balik,
7
dan fokus hanya kepada aset yang telah ada, maka energi yang
datang adalah energi keluasan berpikir. Ungkapan yang muncul,
ketika lebih berfokus kepada kekurangan lahirlah kata-kata,
“Kami butuh pertolongan”, “kami tidak semaju yang
lain”, “usaha telah jalan, namun hasilnya masih nol”, dan
sebagainya (Brake, 2012).

Komunitas yang melihat kelebihan-kelebihan yang


dimilikinya akan berpikir bagaimana mengoptimalkan aset yang
telah ada. Dengan demikian, pemberdayaan akan lebih mudah
dilaksanakan berdasarkan adanya dorongan dari dalam
komunitas sendiri. Ibaratkan mendorong mobil, komunitas yang
berfokus kepada asetnya, mobil lebih mudah diarahkan ke mana
jalan hendak dituju. Disaat anggota komunitas menyadari aset-
aset yang dimilikinya mereka akan berpikir, apa kontribusi yang
akan diberikan. Sehingga komunitas akan memiliki kemandirian
dan tidak bergantung kepada pihak lain. Momentum seperti
inilah yang menjadi target dalam sebuah program pemberdayaan
masyarakat (Bollinger and Smith, 2001; Preece, 2016).

Setelah kesadaran memiliki aset muncul dalam


komunitas, maka akan lahir keinginan untuk menjadi lebih baik.
Keinginan itulah yang menjadi modal terbesar untuk mencapai

8
target komunitas. Keinginan tersebut akan memiliki kekuatan
besar apabila berfikir bagaimana cara mengoptimalisasi asetnya
(Drahos and Braithwaite, 2017).

Fungsi aset dalam metode ABCD adalah segalanya. Aset


dipandang bukan hanya sebagai modal sosial melainkan juga
sebagai cikal-bakal perubahan sosial. Perubahan sosial akan
mampu menjembatani komunitas dengan relasi pihak luar. Di
sinilah komunitas dituntut memiliki kepekaan terhadap aset-aset
lain di sekitar mereka (Nel, 2018).

Kisah sukses berikut, adalah contoh keberhasilan sebuah


komunitas yang mampu memanfaatkan aset yang dimiliki dan
kejelian mereka. Adalah komunitas Candikuning Tabanan Bali,
merupakan contoh sukses dalam memanfaatkan aset hutan liar
yang mengelilingi desanya. Semula, hutan liar tersebut dianggap
menjadi penghalang akses menuju desanya. Kemudian dijadikan
objek wisata alternatif, setelah hutan liar tersebut dikelola
sedemikian rupa sehingga menarik minat wisata asing dan
domestik. Bali kemudian tidak hanya menampilkan wisata
pantai dan laut saja, namun mampu menyuguhkan petualangan
satwa hutan dan area bersepeda yang ekstrem dan menarik.
Setelah komunitas mampu menampilkan pariwisata hutan,

9
kemudian mereka jeli dalam memanfaatkan lahan kosong di
wilayah desa yang mereka tinggali, yaitu berupa Kebun
Strawberry. Wisata Petik Strawberry mampu menambah
pemasukan anggota komunitas tersebut (Salahuddin, 2015;
Pushpha and Dananjaya, 2019).

Contoh lain dalam pengelolaan aset adalah seperti yang


diperlihatkan oleh Desa Ponggok Klaten Jawa Tengah. Desa
Ponggok sebelumnya dikenal dengan desa yang kumuh dan
masyarakat sekitar biasa membuang sampah di saluran air dan
sungai. Hal ini menyebabkan bau tak sedap dan sering terjadi
genangan air dikala musim penghujan. Melalui Kepala Desanya,
Bapak Junaedhi Mouyono yang kreatif, kemudian sampah-
sampah di saluran air dan sungai dibersihkan lalu dijadikan
tempat pembibitan dan pengembangbiakan ikan air tawar, yaitu
Ikan Nila Merah. Setelah berjalan beberapa waktu penghasilan
Ikan Nila Merah mencapai 4 ton per Minggu. Selain itu potensi
air yang melimpah dimanfaatkan untuk kolam renang dan selfie
di dalam air. Kalau sebelumnya Desa Ponggok jarang disinggahi
masyarakat, sekarang Desa Ponggok kedatangan wisatawan
14.000 orang per bulan. Dan dapat dipastikan jalanan macet
dikala hari Sabtu dan Minggu. Banyak aset lain yang juga

10
dikembangkan di Desa Ponggok termasuk pengembangan
BUMDes yang memiliki 9 macam usaha. Sampai pada akhir
tahun 2017, BUMDes Desa Ponggok memiliki omset sebesar
14,2 miliar (Kasila and Kolopaking, 2018; Ismawati, 2020).

Dua contoh di atas menggambarkan secara nyata


bagaimana kejelian melihat potensi aset yang kemudian
dikembangkan secara optimal sehingga mampu berbuah
pencapaian yang besar dan bukan hanya bermanfaat bagi
komunitas saja. Dengan demikian, apa saja yang termasuk
kategori asset? Banyak hal yang dimiliki komunitas berupa aset-
aset yang tidak disadarinya. Misalnya, aset fisik, sumber daya
alam, budaya, cerita hidup, pengalaman, pengetahuan, inovasi,
kemampuan individu, perkumpulan (PKK, kelompok tani,
institusi lokal) RT-RW, Kadus, Pamong, Lurah, Camat dan
semacamnya. Jadi, begitu banyak aset yang dapat dijumpai
dalam komunitas manapun, sehingga mustahil apabila ada
komunitas yang tidak memiliki aset sama sekali.

b. Semua Punya Potensi (Nobody Has Nothing)


Di dalam Alquran disebutkan bahwa manusia yang
cerdas adalah manusia yang menyadari aset yang dimiliki,
karena tidak satupun ciptaan tuhan yang sia-sia di muka bumi
11
ini (QS. Ali Imron 191). Makna yang bisa ditangkap dalam ayat
tersebut bahwa selalu ada manfaat dari apa yang Allah ciptakan.
Karena, di setiap sesuatu memiliki kelebihannya sendiri-sendiri.
Dalam konteks metode ABCD ada prinsip yang dikenal dengan
istilah Nobody has nothing (semua memiliki potensi). Manusia
terlahir memiliki potensinya masing-masing. Tidak ada satu pun
yang tidak memiliki potensi, walaupun sekedar tersenyum dan
memasak air. Dan dapat dipastikan bahwa semua potensi
tersebut bisa berkontribusi dalam kehidupan (Revans, 2017).

Tidak ada alasan lagi bagi setiap komunitas untuk tidak


berkontribusi terhadap perubahan ke arah yang lebih baik. Tidak
jarang terjadi, dengan keterbatasan fisik pun menjadi aset dalam
berkontribusi. Banyak kisah orang-orang sukses yang berhasil
justru karena mampu membalikkan keterbatasannya menjadi
sebuah kekuatan dan keberkahan (Sahlberg, 2010).

Tersebutlah Ibu Ani Indrawati (34 tahun). Ibu Ani adalah


warga Simo Pomahan Surabaya yang menyandang tunanetra.
Sebetulnya beliau lahir dalam kondisi normal, akan tetapi pada
usia 6 bulan Ani kecil mengalami sakit panas dan sesak nafas.
Oleh orang tuanya dibawa ke Rumah Sakit terdekat dan diberi
bantuan oksigen oleh dokter yang menanganinya. Mungkin

12
karena kadar oksigen yang diberikan terlalu kuat sementara
badan Ani kecil lemah dalam meresponnya berdampak pada
syaraf penglihatannya yang pada akhirnya menyebabkan
kebutaan pada kedua matanya. Ani kecil masih beruntung dan
dapat menyelesaikan pendidikannya hingga jenjang SMP.
Selesai pendidikan di SMP Ani kecil mengabdikan dirinya
sebagai guru ngaji untuk anak-anak yang lebih belia dari
usianya. Seiring dengan berlalunya waktu ia belajar menulis
huruf braille untuk sesama penyandang tunanetra. Kemampuan
tersebut terus diasah dan mulai banyak orderan menulis Bahasa
Arab menggunakan huruf braille seperti Buku Yasin, Tahlil dan
buku-buku agama lainnya. Keahlian tersebut terus
dikembangkan dan di usia dewasanya, Bu Ani terkenal sebagai
penulis Alquran braille di kalangan penyandang Tunanetra.
Berkat keahliannya inilah beliau hidup layak dan bermartabat,
karena memegang teguh keyakinannya bahwa apa yang
diberikan Tuhan adalah anugerah yang harus disyukuri.
Ketidakmampuan melihat seperti halnya orang kebanyakan
tidak menjadikannya patah arang yang hanya menunggu
dikasihani orang lain (Salahuddin, 2015).

13
Gambaran di atas menjadi cerminan nyata bahwa
perubahan hidup seseorang tidak ditentukan oleh kecerdasannya
melainkan sejauh mana keyakinannya terhadap pemberian
Tuhan kepadanya. Jika Bu Ani yang memiliki keterbatasan fisik
saja mampu berkontribusi dalam komunitas tunanetra dan
hidupnya lebih bermartabat, tentu kita yang memiliki fisik yang
sempurna harusnya bisa berkontribusi lebih terhadap orang-
orang di sekitar kita. Tuhan memberikan fasilitas fisik yang
sempurna agar bisa bermanfaat lebih terhadap sesamanya.
Apabila kita hidup di kalangan orang-orang yang memiliki
anugerah fisik yang sempurna berarti sesungguhnya kita, dan
orang-orang yang memiliki kesempurnaan fisik yang sama agar
dapat memberikan manfaat lebih kepada banyak orang yang ada
di komunitasnya, bahkan untuk banyak orang.

c. Partisipasi (Participation)
Kata “participation” diambil dari Bahasa Inggris yang
diadaptasi menjadi “partisipasi” yang artinya pengikutsertaan
atau pengambilan bagian. Partisipasi merupakan keterlibatan
emosi dan mental seseorang untuk mencapai tujuan dan ikut
bertanggung jawab di dalamnya. Keterlibatan tersebut bisa di
dalam kelompok ataupun perorangan dalam pembangunan ke
14
arah yang lebih baik. Baik berbentuk pernyataan ataupun berupa
masukan ide, tenaga, materi, waktu, keahlian, serta ikut
memanfaatkan dan menikmati hasilnya (Wilhite and Shank,
2009; Arafah and Winarso, 2020).

Dikatakan sebagai partisipasi pula, yaitu berupa


keputusan yang menyarankan anggota masyarakat ataupun
kelompok ikut terlibat dalam penyampaian pendapat, barang,
keterampilan, jasa dan bahan tertentu. Partisipasi bisa juga
berupa kesadaran terhadap masalah mereka sendiri, menentukan
pilihannya sendiri, merencanakan kegiatan dan mencarikan
solusi dari berbagai macam masalahnya (Pellicano, Dinsmore
and Charman, 2014).

Untuk itu perlu mengklasifikasikan macam-macam


partisipasi berdasarkan posisi pelaku, yakni ada dua macam
(Salahuddin, 2015; Abhari, Davidson and Xiao, 2019):

1. Partisipasi vertikal; adalah posisi tertentu dimana


masyarakat berada pada posisi atasan dan bawahan
dalam keterlibatannya mengambil keputusan, baik
dengan masyarakatnya sendiri ataupun program pihak
lain.

15
2. Partisipasi horizontal; adalah kondisi masyarakat
dimana posisi antar anggotanya saling berpartisipasi
dengan anggota masyarakat yang lain secara horizontal
atau setara, baik dalam melakukan usaha bersama
ataupun dalam rangka melakukan program dengan pihak
lain.

Dari segi bentuk keterlibatannya dalam kegiatan


partisipasi dibagi menjadi dua macam, yaitu (Salahuddin, 2015;
Hermawan and Suryono, 2016):

1. Partisipasi langsung. Adalah partisipasi personal


dalam kegiatan tertentu. Partisipasi seperti ini akan
terjadi apabila seseorang yang mengajukan
pendapatnya kemudian membahas pokok
permasalahannya, mengajukan keberatan terhadap
pendapat orang lain ataupun terhadap ucapannya
sendiri. Jadi keterlibatannya bisa diamati dan
dirasakan langsung oleh orang lain dalam waktu
yang bersamaan.

2. Partisipasi tidak langsung. Disebut partisipasi tidak


langsung karena keterlibatan seseorang melalui cara
mendelegasikan atau mewakilkan haknya kepada
16
orang lain, mungkin kepada anggota keluarganya
atau posisi wakil dalam organisasi.

Berdasarkan bentuk pelaksanaan dalam partisipasi,


dibagi menjadi 4 jenis (Salahuddin, 2015; Rahman, 2016):

1. Partisipasi dalam pengambilan keputusan.


Partisipasi dalam bentuk pengambilan keputusan
berkaitan dengan pilihan alternatif yang ditawarkan
kepada masyarakat yang berkaitan dengan gagasan
dan berkaitan dengan kepentingan bersama. Wujud
partisipasi dalam pengambilan keputusan, bisa
berupa sumbangan pemikiran kehadiran dalam
rapat, diskusi dan respon terhadap program yang
sedang dibahas.

2. Partisipasi dalam pelaksanaan, mencakup sumber


daya, dana, aktivitas administrasi, koordinasi dan
penjelasan program. Partisipasi dalam bentuk
pelaksanaan merupakan tindak lanjut dari rencana
yang telah diusulkan sebelumnya, baik yang
berkaitan dengan perencanaan, penerapan dan
target.

17
3. Partisipasi dalam pengambilan manfaat. Partisipasi
ini tidak lepas dari hasil penerapan yang telah
dicapai baik yang berkaitan dengan kuantitas dan
kualitas. Dari aspek kualitas dapat ditilik dari
outputnya, sedangkan dari aspek kuantitas dapat
dipilih dari prosentase keberhasilan kegiatan.

4. Partisipasi dalam evaluasi. Evaluasi ini berkaitan


dengan penerapan program yang telah direncanakan.
Partisipasi dalam evaluasi memiliki target untuk
ketercapaian program yang telah digagas
sebelumnya.

Tingkatan dalam partisipasi dapat diklasifikasikan dalam


beberapa level, mulai dari level terendah hingga level tertinggi
sebagaimana berikut ini (Salahuddin, 2015; Molanorouzi, Khoo
and Morris, 2015):

1. Partisipasi pasif. Masyarakat dikatakan


berpartisipasi pasif dengan cara diberitahu apa yang
sedang terjadi dan yang sudah terjadi. Masyarakat
mendapatkan manfaat, dan mereka berpartisipasi
selama ada manfaat yang tersedia.

18
2. Partisipasi sebagai kontributor. Kontribusi berupa
informasi, sumber daya ataupun membantu
pekerjaan dan merupakan bentuk partisipasi
masyarakat. Di dalam merencanakan program
kegiatan tentu ada peran-peran masyarakat
walaupun kelihatannya sangat sedikit. Namun hal
tersebut menjadi kontribusi yang penting dalam
membangun aset.

3. Partisipasi sebagai konsultan. Kadang masyarakat


perlu dimintai konsultasi mengenai masalah dan
solusinya yang terjadi dalam daerahnya sendiri.
Masyarakat tentu lebih mampu dan berpengalaman
dalam menyelesaikan problematika kesehariannya.
Dengan demikian, dalam menyelesaikan desain
sebuah proyek, para profesional dapat membuat
keputusan desainnya. Sedangkan dari anggota
masyarakat sangat menentukan di dalam desain
suatu proyek.

4. Partisipasi sebagai implementasi. Dalam


melaksanakan program kadang masyarakat perlu
membentuk kelompok sebagai bentuk partisipasinya

19
dalam proyek atau program. Walaupun mereka tidak
terlibat dalam pengambilan keputusan program.

5. Partisipasi dalam pengambilan keputusan.


Masyarakat dapat berpartisipasi secara aktif dalam
perencanaan program bersama dengan seorang
profesional pembangunan. Keterlibatan dalam
pengambilan keputusan dengan tenaga ahli
merupakan partisipasi yang dapat diperhitungkan.

6. Mobilisasi-diri. Masyarakat dalam berpartisipasi


dapat mengambil inisiatif mandiri di luar dari
institusi mereka. Masyarakat dapat melibatkan
dampingan dari seorang profesional pembangunan
atau tenaga ahli, namun mereka juga tetap dapat
memegang kontrol proses.

Dari ke-6 tingkatan partisipasi, level tertinggi adalah


mobilisasi-diri. Pada level ini menunjukkan kebudayaan sebuah
komunitas yang mampu mengontrol semua tahapan proses
pembangunan. Pada level ini pula dapat menggunakan slogan
pembangunan dari, oleh dan untuk komunitas dapat
dilaksanakan secara maksimal dalam tingkatan partisipasi
mobilisasi-diri. Harapannya, partisipasi bisa muncul dan
20
terbangun secara mandiri sebagaimana dalam level ini. Jika hal
ini terjadi menjadi ciri khas bahwa tingginya tingkat keberadaan
yang dimiliki oleh sebuah komunitas sebagaimana menjadi
target dalam pembangunan itu sendiri, yaitu mewujudkan
kesejahteraan dan keberdayaan komunitas secara nyata (Cheban
et al., 2020).

d. Kemitraan (Partnership)
Secara harfiah, partnership berarti kemitraan.
Kemitraan dimaknai sebagai hubungan yang dibangun
oleh beberapa individu atau kelompok yang didasari asas
kerjasama dan tanggung jawab yang sama dalam
mencapai target tertentu (Hidayani and Warsono, 2017).

Kemitraan dipahami dengan adanya interaksi dan


interelasi antara dua pihak atau lebih yang masing-
masing menjadi mitra atau partner. Kemitraan
merupakan perwujudan kerjasama yang saling
menguntungkan secara sukarela untuk mencapai tujuan
bersama. Kemitraan adalah upaya melibatkan berbagai
sektor kelompok masyarakat lembaga pemerintah
ataupun swasta dalam bekerjasama untuk mencapai

21
tujuan bersama berdasarkan kesepakatan prinsip dan
peran masing-masing pihak (Epstein, 2010).

Dengan demikian, kemitraan dapat dipahami


dengan adanya suatu kesepakatan seseorang, kelompok
ataupun organisasi dalam bekerjasama mencapai target
tertentu. Selain keterlibatan semua pihak dalam
melaksanakan tugas dan menanggung bersama apapun
resiko dan keuntungannya, dapat pula meninjau ulang
hubungan masing-masing dan memperbaiki kembali
kesepakatan bila suatu saat diperlukan.

Kemitraan merupakan prinsip utama dalam


pengembangan komunitas yang berbasis aset. Kemitraan
sangat dibutuhkan dalam mengoptimalkan posisi dan
peran komunitas dalam pembangunan yang
dilaksanakan. Dalam mewujudkan pembangunan yang
menjadi motor penggerak utamanya adalah masyarakat
itu sendiri. Apabila pembangunan dapat dilakukan oleh
komunitasnya sendiri sebagai pelaku utamanya maka
proses pembangunan menjadi lebih maksimal dan
berdampak empowerment secara masif dan terstruktur.
Idealisme seperti ini dapat terjadi di dalam masyarakat

22
apabila di dalamnya telah terbentuk rasa memiliki (sense
of belonging) terhadap pembangunan di daerahnya (Nel,
2015).

Untuk itu, perlu diuraikan prinsip-prinsip


partnership sebagai penggerak utama dalam proses
pemberdayaan masyarakat, yaitu (Salahuddin, 2015;
(Coy et al., 2021):

1. Prinsip Saling Percaya (Mutual Trust)

Prinsip saling percaya harus dibangun antar pihak-


pihak yang bermitra. Rasa saling percaya menjadi
pondasi yang kokoh dalam kemitraan. Indikasi
bahwa prinsip saling percaya telah terbangun dalam
kemitraan adalah terhindar dari prasangka-
prasangka buruk. Sekecil apapun prasangka buruk
akan mampu merobohkan kepercayaan yang telah
lama dibangun. Untuk itu, perlu upaya-upaya teknis
agar memperkecil bahkan membuang jauh-jauh
hinggapnya prasangka buruk dalam komunitas.

2. Prinsip Saling Kesepahaman (Mutual


Understanding)

23
Prinsip saling kesepahaman, artinya masing-masing
pihak harus saling memahami dan saling mengerti
antara mitra yang terlibat. Kesepahaman yang
dimaksud di dalam prinsip ini adalah tentang konsep
kemitraan yang sedang dibangun di dalam
komunitas.

3. Prinsip Saling Menghormati (Mutual Respect)

Masing-masing mitra harus saling menghormati


keberadaan partnernya. Saling menghormati di sini
juga dimaknai dalam menghormati posisi, peran dan
tanggung jawab masing-masing partner.

4. Prinsip Kesetaraan (Equity)

Masing-masing mitra harus menganggap sama dan


memposisikan setara diantara semua mitra yang
terlibat. Tidak boleh adanya partner yang merasa
lebih dominan sementara yang lain merasa di
bawahnya.

5. Prinsip Keterbukaan (Open)

Apapun kegiatan dan aktivitas yang dilakukan


dalam kemitraan harus diketahui oleh semua partner
24
yang terlibat dan tidak boleh ada yang ditutup-tutupi
oleh pihak yang lain terutama yang berkaitan dengan
kemitraan yang sedang dibangun.

6. Prinsip Bertanggung Jawab Bersama (Mutual


Responsibility)

Prinsip bertanggung jawab bersama di sini artinya


semua pihak harus terlibat dan memiliki tanggung
jawab yang sama terhadap keberhasilan dan
kemungkinan ketidakberhasilan.

7. Prinsip Saling Menguntungkan (Mutual Benefit)

Untuk mencapai tujuan, sikap saling


menguntungkan harus dibangun dari kemitraan yang
berdasarkan kemanfaatan bersama untuk semua
pihak. Keuntungan bersama tidak hanya berupa
manfaat dan benefit, melainkan juga keuntungan
berupa kebermanfaatan yang dirasakan bukan hanya
oleh pihak-pihak yang sedang bermitra melainkan
juga berorientasi kepada pemanfaatan bagi di luar
pihak-pihak. Kebermanfaatan yang dapat dirasakan
oleh banyak orang, akan berdampak saling

25
menguntungkan terhadap pihak-pihak yang bermitra
dalam waktu panjang.

Untuk membangun kemitraan yang kokoh perlu


langkah-langkah operasional sehingga dapat
diimplementasikan dalam pengembangan masyarakat
berbasis aset, yaitu (Yeneabat and Butterfield, 2012;
Salahuddin, 2015):
1. Pengenalan potensi-kekuatan
Langkah awal dalam hal mengenali potensi-
kekuatan adalah memahami konteks kemitraan yang
akan dilakukan bersama. Memahami konteks
kemitraan merupakan bagian inti dalam membangun
kemitraan. Dengan memahami konteks kemitraan
maka akan menjadi landasan dasar sebelum
melakukan atau sebelum melangkah lebih jauh dan
dilakukan sebelum kemitraan dibangun. Dengan
demikian, ketika langkah pertama saling memahami
potensi kekuatan mitra, maka pertanyaan kunci
berikutnya adalah kemitraan tersebut dibangun
dalam rangka memberdayakan potensi-kekuatan.
Sehingga bentuk kegiatan kemitraan yang dibangun

26
memiliki fokus, tepat sasaran dan berdaya guna
secara optimal.

2. Seleksi potensi-kekuatan
Setelah kedua pihak saling mengenal potensi
kekuatan masing-masing langkah berikutnya adalah
menyeleksi potensi kekuatan tersebut. Seleksi ini
berkaitan dengan kebutuhan dan konteks kemitraan
yang akan dilaksanakan. Jadi tidak semua potensi
kekuatan dilibatkan, karena akan menyebabkan
kontra-produktif.

3. Melakukan identifikasi calon mitra dan pelaku-


pelaku potensial
Pada langkah ketiga ini adalah mengidentifikasi
calon mitra mana yang potensinya sesuai dengan
konteks dan bisa diajak bergabung. Gunakan skala
prioritas dan perangkingan.

4. Melakukan identifikasi peran mitra dalam upaya


mencapai tujuan
Setelah diadakan identifikasi calon mitra, kemudian
langkah berikutnya melakukan identifikasi peran
mitra, yang berkaitan dengan tanggung jawab dan
27
hak masing-masing untuk mencapai tujuan
kemitraan.

5. Menumbuhkan kesepakatan
Kesepakatan yang dimaksud adalah dalam bentuk
kemitraan, tanggung jawab dan tujuan kemitraan,
penetapan rumusan kegiatan dan memadukan
sumber daya, potensi dan kelebihan yang tersedia di
masing-masing mitra kerja.

6. Menyusun rencana kerja


Rencana kerja berkaitan juga dengan jadwal
kegiatan dan pengaturan peran tugas dan tanggung
jawab.

7. Melaksanakan kegiatan terpadu


Kegiatan terpadu ini artinya sesuai dengan kegiatan
yang telah disepakati baik berupa bantuan teknis
laporan berkala, dan sebagainya.

8. Monitoring dan evaluasi (Monev)


Langkah-langkah tersebut yang telah disusun dan
dilaksanakan tidak akan memiliki dampak yang
signifikan tanpa adanya langkah berikutnya yaitu

28
monitoring dan evaluasi (W. H. Setyawan, 2016).
Monitoring dilakukan sejak awal agar dihindari
terjadinya penyimpangan atau bahkan hal yang
berlawanan dengan kesepakatan awal, sehingga
sejak dini dapat diluruskan kembali. Sedangkan
evaluasi adalah kegiatan yang yang mengiringi
monitoring untuk memperbandingkan hasil yang
telah dicapai sesuai perencanaan dalam kemitraan
tersebut.

e. Penyimpangan Positif (Positive Deviance)


Positive Defiance secara semantik berarti
“penyimpangan positif”. Sedangkan menurut terminologi adalah
pendekatan terhadap perubahan perilaku individu dan sosial
yang didasarkan pada realitas masyarakat tertentu yang tidak
semua orang melakukannya dalam menyelesaikan masalah
umum. Mereka melakukan strategi atau tindakan sukses yang
tidak umum sehingga mereka mendapatkan solusi yang lebih
baik dari kebanyakan orang pada umumnya. Praktik tersebut
bisa jadi berlawanan dengan kebiasaan komunitas yang terjadi.
Realitas tersebut terjadi karena mengindikasikan seringnya
mengalami pengecualian dalam kehidupan masyarakat daripada

29
tindakan kebanyakan orang pada umumnya. Strategi dan
tindakan tersebut membawanya pada keberhasilan yang
melebihi orang lain pada umumnya. Realitas ini menunjukkan
bahwa mereka memiliki aset atau sumber daya sendiri untuk
mendapatkan perubahan yang diharapkan (Shoshana, 2012;
Salahuddin, 2015; Setyawan 2017).
Penyimpangan positif ini terjadi biasanya bermula dari
ketidaksampaian harapan masyarakat secara umum dari apa
yang telah dilakukannya secara berulang-ulang dalam
masyarakat. Ada ketidakpuasan segelintir orang melihat
ketidakberhasilan secara umum, sementara orang kebanyakan
menganggap telah berhasil walaupun tidak signifikan.
Penyimpangan positif akan menjadi realitas baru ketika
disosialisasikan kepada masyarakat secara umum (Kusyairy,
2010).
Konsep penyimpangan positif ini lahir dalam penelitian
gizi di Tahun 1970-an. Kemiskinan yang melanda masyarakat
berakibat buruknya gizi anak pada masa itu. Tapi ada beberapa
keluarga miskin justru memiliki anak bergizi baik. Penelitian ini
kemudian mengumpulkan informasi dan merekomendasikan
cara-cara yang telah dilakukan oleh keluarga miskin tadi sebagai

30
rujukan untuk merencanakan program peningkatan gizi
(Salahuddin, 2015).
Prinsip dalam penyimpangan positif (positive defiance)
merupakan pemberdayaan komunitas berbasis kekuatan yang
membutuhkan kesadaran dan perubahan sosial. Secara
implementatif positive defiance (PD) dilandaskan pada prinsip-
prinsip berikut (Shalahuddin, 2021; Dzulfikar, 2018):

1. Pada dasarnya masyarakat memiliki solusi sendiri.


Merekalah ahlinya dalam memecahkan tantangan
mereka sendiri.

2. Komunitas dapat mengatur dirinya sendiri, dengan


memiliki sumber daya manusia dan aset sosial dalam
menyelesaikan masalah mereka.

3. Kecerdasan kolektif. Pengetahuan dan kecerdasan


tertentu tidak harus dimiliki oleh pihak eksternal saja
melainkan harus didistribusikan ke seluruh anggota
masyarakat.

4. Keberlanjutan melalui pendekatan penyimpangan positif


memungkinkan anggota masyarakat mencari dan
menemukan solusi dalam waktu jangka panjang.

31
5. Penyimpangan positif didasarkan bahwa lebih mudah
mengubah perilaku melalui cara berlatih atau mengalami
sendiri sesuatu yang baru tersebut daripada hanya
sekedar mengetahuinya saja

Diperlukan langkah-langkah operasional dalam


pendekatan Positive Deviance (PD) yang berdasarkan empat
langkah utama yaitu: mendefinisikan (devine), menentukan
(determine), menemukan (discover), dan desain
(design). Keempat hal tersebut dirinci dalam langkah-langkah
operasional berikut (Balzer, 2012; Salahuddin, 2015):

1. Mengajak masyarakat untuk melakukan perubahan.


Proses positive deviance dimulai dari langkah ajakan
kepada masyarakat untuk mengatasi masalah yang
terjadi. Ajakan ini merupakan langkah awal untuk
membentuk rasa memiliki terhadap proses yang akan
mereka lakukan.

2. Mendefinisikan potensi kekuatan. Langkah


mendefinisikan potensi kekuatan dilakukan dengan cara
memberikan kesempatan bagi mereka untuk
merefleksikan potensi kekuatan yang ada, sehingga
dapat menentukan tujuan yang ingin dicapai melalui
32
potensi kekuatan tersebut proses ini akan memberikan
peluang kepada otoritas kepentingan dalam konteks
masalah yang dihadapi.

3. Menentukan aktor positive deviance (individu atau


kelompok). Perlu dilakukan adanya observasi atau
pengumpulan data tentang siapa saja yang akan dijadikan
aktor atau pelaku positive deviance di tengah-tengah
mereka.

4. Menemukan perilaku yang tidak biasa. Tindakan ini


merupakan penyelidikan dalam positive deviance untuk
mendapatkan perilaku, sikap atau keyakinan yang
memiliki potensi positif deviance ini menjadi sukses.
Yang menjadi fokus dalam langkah ini terletak pada
strategi sukses positive deviance bukan pada ada
pelakunya sebagai pahlawan yang sukses. Artinya,
kesuksesan strategi tersebut menjadi “bukti sosial”
bahwa mereka mampu mengatasi masalahnya tanpa
bantuan dari luar komunitas.

5. Merancang program. Setelah strategi dapat


diidentifikasi sukses kemudian mereka menentukan
strategi dan desain seperti apa yang akan diadopsi untuk
33
membantu masyarakat lain dalam mempraktekkan
strategi yang tidak umum tadi. Rencana program tidak
hanya strategi terbaik, tetapi mendampingi masyarakat
bertindak menggunakan cara mereka sendiri ke dalam
“cara berfikir yang baru” tersebut melalui tindakan
nyata.

6. Monitoring dan evaluasi (monev). Pendekatan positive


deviance ini perlu dilakukan monitoring dan evaluasi
melalui proses partisipasi. Pemantauan dan penilaian
harus dilakukan dan diputuskan oleh masyarakat sendiri.
Proses ini tentu memerlukan alat-alat atau teknik-teknik
monev yang mereka buat sesuai kondisi dan situasi
komunitas. Monev ini dapat dilakukan secara fleksibel
sehingga memungkinkan melibatkan semua anggota
masyarakat termasuk yang buta huruf. Untuk itu, perlu
menggunakan alat-alat peraga yang sesuai (Herry
Setyawan et al., 2019).

Penyimpangan positif ini sangat dibutuhkan ketika


masyarakat membutuhkan dampak dan hasilnya secara optimal.
Untuk itu, perlu dilakukan terobosan-terobosan metode dan
teknik yang tepat sesuai dengan konteks lokal yang ada.
34
DAFTAR PUSTAKA
Abhari, K., Davidson, E. J. and Xiao, B. (2019) ‘Collaborative
innovation in the sharing economy: Profiling social product
development actors through classification modeling’,
Internet Research.
Adhimi, A. W. and Prasetyawan, Y. Y. (2019) ‘Peran Komunitas
Ruang Literasi Juwana Dalam Upaya Pemberdayaan
Masyarakat di Desa Langgen Kecamatan Juwana’, Jurnal
Ilmu Perpustakaan, 8(3), pp. 217–226.
Ahmad, M. (2007) ‘Asset Based Communities Development
(ABCD): Tipologi KKN Partisipatif UIN Sunan Kalijaga’,
Jurnal Aplikasi Llmu-Ilmu Agama, 8(2).
Annafi, M. fadli, Idi, A. and Fauzi, M. (2021) ‘P-ISSN 2656-
1549 and E-ISSN PERAN KOMUNITAS RELAWAN
ANAK SUMATERA SELATAN DALAM
MEMBENTUK KARAKTER PERCAYA DIRI ANAK
JALANAN (STUDI KASUS DI KECAMATAN
GANDUS KOTA PALEMBANG) Muhammad’, 3(1), pp.
186–200.
Ansori, M. et al. (2021) Pendekatan-Pendekatan University
Community Engagement. Surabaya: UIN SUNAN
AMPEL PRESS.
Arafah, Y. and Winarso, H. (2020) ‘Peningkatan dan Penguatan
Partisipasi Mayarakat dalam Konteks Smart City’, Tata
Loka, 22(1), pp. 27–40.

35
Astuti, R. and Fatmawati, F. (2021) ‘Strategi Komunikasi
Komunitas Peduli Jilbab dalam Sosialisasi Pemakaian
Jilbab Syar’i diKalangan Muslimah’, Alhadharah: Jurnal
Ilmu Dakwah, 20(1), p. 1. doi:
10.18592/alhadharah.v20i1.3851.
Balzer, D. W. (2012) ‘Positive deviance: empowering ecclesial
contextualization with theological praxis’.
Blickem, C. et al. (2018) ‘What is asset-based community
development and how might it improve the health of people
with long-term conditions? A realist synthesis’, Sage Open,
8(3), p. 2158244018787223.
Bollinger, A. S. and Smith, R. D. (2001) ‘Managing
organizational knowledge as a strategic asset’, Journal of
knowledge management.
Bosma, F. D. (2017) ‘Fenomena komunikasi komunitas kelas
inspirasi (studi fenomenologi’, Jom FISIP, 4(2), pp. 1–13.
Brake, L. (2012) ‘Half full and half empty’, Journal of Victorian
Culture, 17(2), pp. 222–229.
Cheban, Y. et al. (2020) ‘Mental resources for the self-
mobilization of rowing athletes’, Journal of Physical
Education and Sport, 20(3), pp. 1580–1589.
Coy, D. et al. (2021) ‘Rethinking community empowerment in
the energy transformation: A critical review of the
definitions, drivers and outcomes’, Energy Research &
Social Science, 72, p. 101871.
Drahos, P. and Braithwaite, J. (2017) Information feudalism:

36
Who owns the knowledge economy? Routledge.
Dzulfikar, A. (2018) ‘Pemberdayaan Komunitas Karang Taruna
dalam menciptakan Lingkungan Green And Clean di
Banyu Urip Kidul Vii Rt 07/Rw 03 Kecamatan Sawahan
Kelurahan Banyu Urip Kota Surabaya’. UIN Sunan Ampel
Surabaya.
Eliza, F. R., Ridwan, M. and Noerjoedianto, D. (2018) ‘Peran
Pemerintah Terhadap Program Pemberdayaan Komunitas
Adat Terpencil Suku Anak Dalam (SAD) Di Provinsi
Jambi Tahun 2018’, Jurnal Kesmas Jambi, 2(1), pp. 40–49.
doi: 10.22437/jkmj.v2i1.6538.
Epstein, J. L. (2010) ‘School/family/community partnerships:
Caring for the children we share’, Phi delta kappan, 92(3),
pp. 81–96.
Fahmi, S. C. (2020) ‘PEMBERDAYAAN EKONOMI
KOMUNITAS MUSLIM ( STUDI PADA MAJELIS TA ’
LIM AL- Silvina Choirotul Fahmi Institut Agama Islam
Negeri Ponorogo Luhur Prasetiyo Institut Agama Islam
Negeri Ponorogo’, 5.
Fathurokhmah, F. and Si, M. (2019) ‘KOMUNIKASI
KOMUNITAS VIRTUAL DAN GAYA HIDUP GLOBAL
KAUM REMAJA GAY DI MEDIA SOSIAL’, 23(1), pp.
40–52.
H Setyawan, W., . R., . N., Budiman, A., . H., Sumarno, A., &
Rais, P. (2018). Challenged Solving in Listening Through
T-Mobile Learning Model. International Journal of
Engineering & Technology, 7(4.15), 443.
[Link]
37
Haryono, D., Wisadirana, D. and Chawa, A. F. (2018) ‘Strategi
Pemberdayaan Komunitas Perempuan Miskin Berbasis
Agribisnis’, Advanced Optical Materials, 10(1), pp. 1–9.
Hasad, A. and Yulius, E. (2020) ‘Pengembangan Peran
Pemberdayaan Masyarakat Berbabis Komunitas’, Devosi,
1(2), pp. 28–31. doi: 10.33558/devosi.v1i2.2506.
Herry Setyawan, W., Budiman, A., Septa Wihara, D., Setyarini,
T., & Nurdyansyah, R. (2019). R., & Barid Nizarudin
Wajdi, M.(2019). The effect of an android-based
application on T-Mobile learning model to improve
students’ listening competence. Journal of Physics:
Conference Series, 1175(1).
[Link]
6596/1175/1/012217/pdf
Hermawan, Y. and Suryono, Y. (2016) ‘Partisipasi masyarakat
dalam penyelenggaraan program-program pusat kegiatan
belajar masyarakat Ngudi Kapinteran’, JPPM (Jurnal
Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat), 3(1), pp. 97–
108.
Hidayani, H. and Warsono, H. (2017) ‘Analisis Kemitraan
dalam Pengembangan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota
Semarang’, Journal Of Public Policy And Management
Review, 6(2), pp. 389–402.
Ismawati, N. R. (2020) ‘Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat
Melalui Badan Usaha Milik Desa (Bumdes)’, Lembaran
Masyarakat: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam, 6(1),
pp. 91–116.
Kasila, M. and Kolopaking, L. M. (2018) ‘Partisipasi pemuda
38
desa dalam perkembangan usaha Bumdes “Tirta Mandiri”’,
Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
[JSKPM], 2(1), pp. 43–58.
Ketut, N. et al. (2017) ‘Mempertahankan Solidaritas Kelompok
( Studi pada KUTU Vespa Region Bali )’, E-Jurnal
Medium, 1(1), pp. 1–10.
Kusumadewi, A. R. and Hastasari, C. (2020) ‘Pola Komunikasi
Komunitas Cosplay Di Yogyakarta’, Journal of Scientific
Communication (Jsc), 2(2), pp. 85–99. doi:
10.31506/jsc.v2i2.8277.
Kusyairy, U. (2010) ‘Efektivitas pelatihan penyimpangan positif
terhadap peningkaatn perilaku sehat penyimpang positif
terkait prevensi hepatitis A’. Universitas Gadjah Mada.
Mardiharto, A. Z. (2017) ‘COSPLAY Fungsi Komunitas Cosura
bagi Para Anggotanya’, AntroUnairdotNet, VI(3), pp. 311–
324.
Margayaningsih, D. I. (2018) ‘Peran Masyarakat Dalam
Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat di Desa’, Jurnal
Publiciana, 11(1), pp. 72–88.
Maryani, D. and Nainggolan, R. R. E. (2019) Pemberdayaan
Masyarakat. Deepublish.
Mikke Setiawati and Makkuraga Putra, A. (2021) ‘Pola
Komunikasi Komunitas di Media Sosial Dalam
Menciptakan Minat Entepreneur’, Communications, 3(1),
pp. 43–57. doi: 10.21009/communications.4.1.3.
Molanorouzi, K., Khoo, S. and Morris, T. (2015) ‘Motives for

39
adult participation in physical activity: type of activity, age,
and gender’, BMC public health, 15(1), pp. 1–12.
Nasdian, F. T. (2014) Pengembangan Masyarakat. Yayasan
Pustaka Obor Indonesia.
Nel, H. (2015) ‘An integration of the livelihoods and asset-based
community development approaches: A South African case
study’, Development Southern Africa, 32(4), pp. 511–525.
Nel, H. (2018) ‘Community leadership: A comparison between
asset-based community-led development (ABCD) and the
traditional needs-based approach’, Development Southern
Africa, 35(6), pp. 839–851.
Pellicano, E., Dinsmore, A. and Charman, T. (2014) ‘What
should autism research focus upon? Community views and
priorities from the United Kingdom’, Autism, 18(7), pp.
756–770.
Preece, J. (2016) ‘Negotiating service learning through
community engagement: Adaptive leadership, knowledge,
dialogue and power’, Education as Change, 20(1), pp. 1–
22.
Pushpha, A. A. G. and Dananjaya, I. G. A. N. (2019) ‘Strategi
Pengembangan Kebun Raya Eka Karya Bali Sebagai
Obyek Wisata Di Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti,
Kabupaten Tabanan’, dwijenAGRO, 9(2), pp. 67–75.
Rahman, K. (2016) ‘Pemberdayaan Partisipasi Masyarakat
Dalam Pembangunan Desa’, WEDANA: Jurnal Kajian
Pemerintahan, Politik dan Birokrasi, 2(2), pp. 189–199.

40
Reskiaddin, L. O. et al. (2020) ‘Tantangan Dan Hambatan
Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pengendalian Penyakit
Tidak Menular di Daerah Semi-Perkotaan : Sebuah
Evidence Based Practice di Padukuhan Samirono, Sleman
Yogyakarta’, Jurnal Kesmas Jambi, 4(2), pp. 43–49. doi:
10.22437/jkmj.v4i2.10569.
Revans, R. (2017) ABC of action learning. Routledge.
Sahlberg, P. (2010) ‘Rethinking accountability in a knowledge
society’, Journal of educational change, 11(1), pp. 45–61.
Salahuddin, N. (2015) ‘Panduan KKN ABCD UIN Sunan
Ampel Surabaya Asset Based Community-Driven
Development (ABCD)’. LP2M UIN Sunan Ampel
Surabaya.
Shalahuddin, Y., Rahman, F., & Setyawan, W. H. (2021).
Pemodelan Simulasi Untuk Praktikum Teknik Otomasi
Industri Berbasis Matlab/Simulink Di SMKN 1 Kediri.
Jurnal Pelayanan Dan Pengabdian Masyarakat (Pamas),
5(1), 15–26.
[Link]
Shoshana, A. (2012) ‘Governmentality, new population and
subjectivity’, Subjectivity, 5(4), pp. 396–415.
Siska Devi Ratna Sari S. Kom. I., M. S. (2020) Fungsi Aset
Komunitas Dalam Pemberdayaan Masyarakat Muslim.
Profitebel.
Setyawan, W. H. (2016). IMPLEMENTING THE DISTANCE
TRAINING FOR ENGLISH PRIMARY TEACHER IN
KEDIRI. Jurnal TEKPEN, 1(1).
41
[Link]
Setyawan, W. H. (2017). Pemanfaatan Teknologi Mobile
Learning dalam Pengembangan Profesionalisme Dosen.
Al-Ulum, 17(2), 389–414.
[Link]
Soleh, A.- (2019) ‘Pola Komunikasi Kelompok pada Komunitas
Pecinta Film Islami’, Anida (Aktualisasi Nuansa Ilmu
Dakwah), 19(1), pp. 17–34. doi:
10.15575/anida.v19i1.5037.
Srining Prapti, M., Trimeiningrum, E. and Irmawati, B. (2020)
‘Faktor Penghambat Dan Pemicu Menjadi Ecopreneur
Studi Pada Ikm Di Kota Semarang’.
Tandos, R. and Kalyanamitra, Y. (2021) ‘Strategi pemberdayaan
kader posyandu melalui pendampingan komunitas di
yayasan kalyanamitra’, 1(2), pp. 1–10.
Undang -Undang Republik Indonesia No.17 Tahun 2013 (2013).
Wilhite, B. and Shank, J. (2009) ‘In praise of sport: Promoting
sport participation as a mechanism of health among persons
with a disability’, Disability and Health Journal, 2(3), pp.
116–127.
Yeneabat, M. and Butterfield, A. K. (2012) ‘“We Can’t Eat a
Road:” Asset-Based Community Development and The
Gedam Sefer Community Partnership in Ethiopia’, Journal
of Community Practice, 20(1–2), pp. 134–153.
Zubaedi (2013) ‘BUKU PENGEMBANGAN MASYARAKAT
(1).pdf’, p. 270.

42
43
Biodata Penulis

Mansur, M.H.I., CE., CHCS. lahir di


Pamekasan, 24 Pebruari 1974. Sejak tahun
2013 menjadi Dosen Tetap pada IAI
Miftahul Ulum Pamekasan Madura dan
menjadi Ketua Prodi Ekonomi Syariah pada
Perguruan tinggi yang sama (2016-2021).
Mengampu matakuliah Approach PAR &
ABCD. Menjadi Ketua Forum Program
Studi Ekonomi Syariah (FORSES) Kopertais IV Surabaya
(2017-2021). Asesor Kewirausahaan BNSP (2021). Ketua
UMKM Naik Kelas DPD Kab. Pamekasan (2021-2026). Mentor
pada Mercy Corps Indonesia (2021). Relawan Garda Transfumi
(Transformasi Formal Usaha Mikro) Deputi Bidang Usaha
Mikro Kementerian Koperasi dan UKM R.I. (2021-2022).
Direktur Community Development and Empowerment Center
(COMDEP Center) tahun 2021-sekarang.
Menerima Bantuan Shortcourse Pengabdian Berbasis Riset
Tahun Anggaran 2020 dari Kemenag R.I. dengan judul
Penelitian “Pendampingan Anak Pesisir Broken Home Melalui
Pendekatan Budaya Tradisional Ul-Daul Sebagai Upaya
Trauma Healing Kekerasan Rumah Tangga Di Desa Baddurih
Pademawu Pamekasan Madura”. Ditetapkan sebagai Nomine
Terpilih Penerima Bantuan Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi Islam (Diktis) Kemenag R.I. Tahun 2022, kluster
Pengabdian Masyarakat Berbasis Metodologi KUM (Kemitraan

44
Universitas Masyarakat) dengan judul penelitian “Pengentasan
Keterpurukan Anak-anak Pesisir Akibat Jerat Kekerasan Sosial
Melalui SANASIR Di Desa Baddurih Pamekasan”
Kritikan dan saran dikirimkan melalui e-mail:
elcmansur@[Link] atau via WA: 0812 3505 2403

45
BAB 3
Ruang Lingkup ABCD
BAB 3 Ruang Lingkup ABCD
Ruang lingkup merupakan batasan banyaknya subjek
yang tercakup dalam sebuah masalah. Secara umum memiliki
makna batasan. Dalam arti luas batasan ini bisa dalam bentuk
materi, subjek, dan atau lokasi.
Pendekatan berbasis aset adalah perpaduan antara
metode bertindak dan cara berpikir tentang pembangunan.
Pendekatan ini merupakan pergeseran yang penting sekaligus
radikal dari pandangan yang berlaku saat ini tentang
pembangunan serta menyentuh setiap aspek dalam cara kita
terlibat dalam pelaksanaan pembangunan. Pendekatan berbasis
aset fokus pada sejarah keberhasilan yang telah dicapai,
mengenali para pembaru atau orang-orang yang telah sukses dan
menghargai potensi melakukan mobilisasi serta mengaitkan
kekuatan dan aset yang ada. Maka diperlukan pembahasan
tentang ruang lingkup ABCD dalam pemberdayaan masyarakat
dan kedudukan ABCD dalam metode participatoris.
Secara konseptual pemberdayaan (emperworment)
berasal dari kata power (kekuasaan atau keberdayaan).
Pemberdayaan menunjuk pada kemampuan orang. Khususnya
46
kelompok rentan dan lemah sehingga mereka memiliki kekuatan
atau kemampuan dalam: (Rosmedi Dan Riza Risyanti, 2006)
1. Memenuhi kebutuhan dasarnya sehingga mereka memiliki
kebebasan (freedom), dalam arti bukan saja bebas
mengemukakan pendapat, melainkan bebas dari kelaparan,
bebas dari kebodohan, bebas dari kesakitan;
2. Menjangkau sumber-sumber produktif yang memungkinkan
mereka dapat meningkatkan pendapatannya dan
memperoleh barang-barang dan jasa-jasa yang mereka
perlukan;
3. Berpartisipasi dalam proses pembangunan dan keputusan-
keputusan yang mempengaruhi mereka.

a. Ruang Lingkup Asset Based Community


Development Dalam Pemberdayaan Masyarakat
Secara umum ruang lingkup
pemberdayaan didasarkan pada bidang- bidang yang sering
menjadi obyek dalam pemberdayaan masyarakat. (Ndraha,
2003) menentukan bahwa lingkup pemberdayaan
masyarakat terdiri dari 4 (empat) bidang yaitu bidang : (1)
politik; (2) ekonomi; (3) sosial budaya; dan (4) lingkungan.

47
1. Bidang politik
Pemberdayaan pada lingkup politik diorientasikan
agar masyarakat mempunyai bargaining position (daya
tawar) yang tinggi apabila berhadapan dengan pihak-
pihak terkait, baik pemerintah, kalangan LSM, maupun
kalangan swasta yang mempunyai agenda atau proyek di
wilayah masyarakat. Daya tawar ini sangat dibutuhkan
agar posisi masyarakat tidak menjadi sub ordinat
dihadapan stake holder yang lain. Pemberdayaan politik
masyarakat adalah sebuah proses pembaharuan negara
yang ditujukan untuk mengembalikan warga ke dalam
poros utama proses kehidupan bangsa dan negara, dan
juga menumbuhkan partisipasi politik dimasyarakat,
pada pencapaian hasil- hasil pembangunan negara.
Birokrasi yang berdaya dan tangguh adalah yang
memiliki ”quality of work life” yang tinggi dan
berorientasi kepada; (1) participation in decision
making, (2) career development program, (3) leadership
style, (4) the degrees of stress experienced by employees,
dan (5) the culture of the organisastion
Salah satu tujuan pemberdayaan masyarakat
adalah untuk mencapai keadilan sosial. Keadilan sosial
48
dengan memberikan ketentraman kepada masyarakat
yang lebih besar serta persamaan politik dan sosial
melalui upaya saling membantu dan belajar melalui
pengembangan langkah-langkah kecil guna tercapainya
tujuan yang lebih besar. (Payne, 1997). Kepedulian
sosial dan pemberdayaan masyarakat adalah salah satu
program yang dimainkan oleh beberapa partai politik.
Penempatan kekuasaan, penjagaan keutuhan hingga
sikap dalam pengambilan keputusan. Politik negara
dapat diibaratkan sebagai momentum arah angin bangsa
yang mau dibawa ke mana bangsa ini. Hal inilah yang
menyebabkan antara negara dengan politik menjadi hal
yang melekat. Sasaran pemberdayaan politik masyarakat
pada umumnya adalah kaum mayoritas yang jarang
tersentuh politik dalam arti sebenarnya, mereka biasaya
hanya dijadikan obyek sasaran politik tapi tidak banyak
berkiprah dalam politik, yaitu perempuan.
Dinas Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak Kabupaten pada tahun-tahun
menjelang Pemilu ramai-ramai melaksanakan kegiatan
pemberdayaan perempuan melalui peningkatan peran
dan partisipasi perempuan dalam bidang politik ini
49
bertujuan mempercepat peningkatan keterwakilan
perempuan dibidang legislatif dan eksekutif, selain itu
representasi perempuan dilegislatif akan memberikan
keseimbangan dalam mewarnai perumusan kebijakan
dan peraturan perundang-undangan, penganggaran, dan
pengawasan yang akan lebih berpihak pada kepentingan
kesejahteraan perempuan dan anak. Para pimpinan
partai-partai politik yang menjadi peserta Pemilu
diharapkan dapat memenuhi 30% keterwakilan
perempuan dilegislatif. Hal tersebut sesuai dengan
amanah Undang-Undang No. 7 tahun 2017 tentang
Pemilu, yang memerintahkan kepada partai politik untuk
mencalonkan sekurang-kurangnya 30% perempuan
calon legislatif.
2. Bidang Ekonomi
Pemberdayaan ekonomi adalah upaya untuk
mendorong, memotivasi dan membangkitkan kesadaran
masyarakat akan adanya potensi yang dimilikinya serta
upaya untuk mengembangkannya (Sulistiyan, 2017;
Setyawan, 2021). Pemberdayaan ekonomi
diperuntukkan sebagai upaya meningkatkan kemampuan
yang diperintah sebagai konsumen agar dapat berfungsi
50
sebagai penanggung dari dampak negative pertumbuhan,
pembayar resiko salah urus, pemikul beban
pembangunan, kegagalan program, dan akibat kerusakan
lingkungan.
Pemberdayaan pada lingkup ekonomi,
biasanya berhubungan dengan kemandirian dalam
penghidupan masyarakat. Dalam hal ini upaya-upaya
produktif yang dapat menjadi sumber pendapatan atau
menjadi gantungan hidup menjadi fokus dalam lingkup
pemberdayaan bidang ekonomi. Pada dasarnya,
pemberdayaan ekonomi ini difokuskan kepada sektor
kemajuan dan penyadaran masyarakat terhadap hal yang
ada di sekitar yang sekiranya bisa dimanfaatkan untuk
mencari penghasilan.
3. Bidang Sosial Budaya
Pemberdayaan pada lingkup sosial budaya
berhubungan dengan peningkatan kapasitas masyarakat,
baik yang bersifat individual maupun kolektif. Orientasi
pemberdayaan pada lingkup sosial budaya ini berkisar
pada penguatan solidaritas masyarakat, pengurangan
kerentanan terhadap konflik, serta penguatan solidaritas
sosial. Dalam lingkup ini termasuk juga kesadaran
51
masyarakat terhadap kondisi masyarakat yang plural,
baik secara etnik, kepercayaan/agama maupun status
sosialnya.
Kebudayaan lokal merupakan serangkaian ide-
ide, gagasan, nilai, norma, perlakuan dan benda-benda
yang merupakan hasil karya manusia yang hidup
berkembang dalam suatu ruang, geografis serta dinamika
yang mengirinya. Kebudayaan lokal itu sendiri
meruapakan suatu mozaik yang sangat beragam dan
mencerminkan kemerdekaan dalam berpikir,
berperilaku, dan berkreasi sesuai kebutuhan totalitas
lingkungan dinamika hidup.
Pemberdayaan sosial-budaya, bertujuan
meningkatkan kemampuan sumber daya manusia
melalui human investment guna meningkatkan nilai
manusia (human dignity), penggunaan (human
utilization), dan perlakuan yang adil terhadap manusia.
4. Bidang Lingkungan hidup
Pemberdayaan pada lingkup lingkungan
berfokus pada upaya-upaya perlindungan dan
pengelolaan lingkungan agar terjaga kelestariaannya.
Upaya-upaya ini ini hanya bisa dilakukan apabila
52
masyarakat memahami dan peduli terhadap kondisi
lingkungan dan keberlanjutannya. Pemahaman dan
kepedulian masyarakat ini hanya dapat tumbuh dan
berkembang melalui upaya-upaya pemberdayaan.
Pemberdayaan lingkungan, dimaksudkan
sebagai program perawatan dan pelestarian lingkungan,
agar pihak yang diperintah dan lingkungannya mampu
beradaptasi secara kondusif dan saling menguntungkan.

Apabila lingkup pemberdayaan masyarakat


didasarkan pada proses, dapat dikategorikan ke dalam 3
(tiga) hal, yakni:
1. Pra pemberdayaan, yang berupa menciptakan ruang
interaksi yang kondusif agar masyarakat merasa percaya
diri dan mampu untuk menjadi pelaku pembangunan;
2. Pelaksanaan pemberdayaan, yang menempatkan
masyarakat sebagai subyek pembangunan yang setara
dengan pemangku kepentingan lainnya; dan
3. Pasca pemberdayaan, dimaksudkan bahwa lingkup ini
memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk terus
berproses dalam pemberdayaan meskipun keterlibatan
pemangku kepentingan lain sudah berakhir, karena
53
keterbatasan waktu, penganggaran dan kegiatan. Dalam
konteks ini, pemangku kepentingan di luar masyarakat
secara institusional tetap terlibat dalam mendukung dan
memfasilitasi dalam proses-proses pemberdayaan
masyarakat yang terus menerus berlangsung.
Dalam kaitan ini, Moebyarto dalam (Setyawati,
2014), mengemukakan ciri-ciri pendekatan pengelolaan
sumberdaya lokal yang berbasis masyarakat sebagai analisis
lain mengenai ruang lingkup pemberdayaan masyarakat
yang diuraikan menjadi:
1. Keputusan dan inisiatip untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat setempat dibuat di tingkat lokal, oleh
masyarakat yang memiliki identitas yang diakui
peranannya sebagai partisipan dalam proses
pengambilan keputusan.
2. Fokus utama pengelolaan sumberdaya lokal adalah
memperkuat kemampuan masyarakat miskin dalam
mengarahkan asset-asset yang ada dalam mayarakat
setempat, untuk memenuhi kebutuhannya.
3. Toleransi yang besar terhadap adanya variasi. Oleh
karena itu mengakui makna pilihan individual, dan

54
mengakui proses pengambilan keputusan yang
desentralistis.
4. Budaya kelembagaannya ditandai oleh adanya
organisasi-organisasi yang otonom dan mandiri, yang
saling berinteraksi memberikan umpan balik
pelaksanaan untuk mengoreksi diri pada setiap jenjang
organisasi.
5. Adanya jaringan koalisi dan komunikasi antara pelaku
dan organisasi lokal yang otonom dan mandiri, yang
mencakup kelompok penerima manfaat, pemerintah
lokal, bank lokal dan sebagainya yang menjadi dasar
bagi semua kegiatan yang ditujukan untuk memperkuat
pengawasan dan penguasaan masyarakat atas berbagai
sumber yang ada, serta kemampuan masyarakat untuk
mengelola sumberdaya setempat.
Menurut (Ife, 2008) seorang pakar Community
Development, pemberdayaan memuat dua pengertian kunci
yakni: kekuasaaan dan kelompok lemah. Kekuasaan disini
diartikan bukan hanya menyangkut kekuasaan politik dalam
arti sempit, melaikan kekuasaan atau penguasaan klien atas
:

55
1. Pilihan-pilihan personal dan kesempatan-kesempatan
hidup: kemampuan dalam membuat keputusan-
keputusan mengenai gaya hidup, tempat tinggal,
pekerjaan
2. Pendefenisian kebutuhan: kemampuan menentukan
kebutuhan selaras dengan aspirasinya dan keinginanya
3. Ide atau gagasan, kemapuan menjangkau, menggunakan
dan mempengaruhi pranata-pranata masyarakat seperti
kesejahteraan sosial, pendidikan, kesehatan.
4. Lembaga-lembaga, kemampuan menjangkau,
menggunakan dan mempengaruhi pranata-pranata
masyarakat seperti kesejahteraan sosial, pendidikan,
kesehatan
5. Sumber-sumber, kemapuan memobilisasi sumber-
sumber formal, informal dan kemasyarakatan.
6. Aktivitas ekonomi : kemampuan memanfaatkan dan
mengelola mekanisme produksi, distribusi, dan
pertukaran barang serta jasa.
7. Reproduksi, kemampuan dalam kaitanya dengan proses
kelahiran, perawatan anak, pendidikan dan sosialisasi.
Dengan demikian pemberdayaan adalah sebuah
proses dan tujuan. Sebagai proses pemberdayan adalah
56
serangkaian kegiatan untuk memperkuat kekuasaan atau
keberdayaan kelompok lemah dalam masyarakat, termaksud
individu-individu yang mengalami masalah kemiskinan.
Sebagai tujuan, maka pemberdayaan menunjuk pada
keadaan atau hasil yang ingin dicapai oleh sebuah perubahan
sosial yaitu masyarakat yang berdaya, memiliki kekuasaan
atau mempunyai pengetahuan dan kemampuan dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya baik yang bersifat fisik,
ekonomi, maupun sosial, seperti memiliki kepercayaan diri,
mampu menyampaikan aspirasi, mempunyai mata
pencaharian dan mandiri dalam melaksanakan tugas-tugas
kehidupanya.
Program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan
pada dasarnya meliputi empat aspek, yaitu:
1. Fisik, seperti pembangunan prasarana fisik berupa
pemasangan pembangkit listrik dengan memanfaatkan
potensi energi setempat, pembagunan jalan, rumah
ibadah, dan sarana lainya yang dibutuhkan masyarakat
2. Sumber Daya Manusia, seperti pemberian beasiswa,
peningkatan pengetahuan siswa dibidang pendidikan dan
lain sebagainya.

57
3. Ekonomi seperti pengembangan usaha kecil dengan
memanfaatkan potensi sumber daya alam setempat.
4. Sosial budaya, seperti pelestarian budaya setempat,
peningkatan kesehatan masyarakat dan lain sebagainya.
Semangat utama pemberdayaan masyarakat
adalah proses penigkatan kekuasaan, atau penguatan
kemapuan para penerima [Link] tujuan utama
pemberdayaan masyarakat adalah membantu membangun
rasa percaya diri. Rasa percaya diri merupakan modal utama
masyarakat untuk berswadaya.
Suatu pemberdayaan pada intinya ditujukan untuk
membantu masyarakat dalam memperoleh daya untuk
mengambil keputusan dan menentukan tindakan yang akan
ia lakukan yang terkait dengan diri mereka, termaksud untuk
mengurangi efek hambatan pribadi dan sosial dalam
melakukan tindakan. Hal ini dilakukan melalui peningkatan
kemampuan dan rasa percaya diri untuk menggunakan daya
yang ia miliki, antara lain melalui daya dari lingkungannya.
Secara konseptual pemberdayaan berasal dari kata ‘power’
(kekuasaan) karenanya ide utama pemberdayaan
bersentuhan dengan konsep mengenai kekuasaan.
Kekuasaan seringkali dikaitkan dengan kemampuan kita
58
untuk membuat orang lain melakukan apa yang kita
inginkan, terlepas dari keinginan dan minat mereka.
Pemberdayaan adalah sebuah proses dengan mana orang
menjadi cukup kuat untuk berpartisapi dalam berbagai
kontrol dan mempengaruhi kejadian-kejadian serta lembaga
yang mempengaruhinya, pemberdayaan memperoleh
keterampilan, pengetahuan dan kekuasaan yang cukup untuk
mengetahui kehidupanya dan kehidupanya dan orang lain
yang menjadi perhatianya.
Ada berbagai macam bentuk pemberdayaan bila
dilihat dari tujuannya, pemberdayaan ekonomi,
pemberdayaan politik, pemberdayaan hukum,
pemberdayaan lingkungan, dan pemberdayaan sosial
budaya, berbagai macam bentuk pemberdayaan tersebut
berbeda-beda sesuai dengan bidang pembagunan, sehingga
bentuk pemberdayaan bidang yang satu dengan yang lain
belum tentu memiliki kesamaan dengan bentuk
pemberdayaan yang lainya, namun dari adanya berbagai
macam bentuk pemberdayaan tersebut dapat dipadukan dan
saling melengkapi guna menciptakan kesejahteraan
masyarakat. Dalam melaksanakan berbagai bentuk
pemberdayaan tersebut maka perlu adanya keterlibatan
59
berbagai lembaga yang ada, baik itu lembaga pemerintah
maupun non pemerintah.
Pemberdayaan masyarakat memang tidak terlepas
dari adanya keterlibatan lembaga, baik itu lembaga
pemerintah maupun lembaga non pemerintah, posisi
keterlibatan lembaga tersebut mempunyai peran sebagai
pelaku perubahan dalam upaya pemberdayaan masyarakat,
ada berbagai macam bentuk peran dan ketampilan yang
dimiliki oleh pelaku perubahan diantaranya peran dan
keterampilan fasilitatif, keterampilan edukasional,
keterampilan perwakilan, keterampilan teknis

b. Kedudukan Asset Based Community Development


Dalam Metode Participatoris
Model ABCD terdiri dari 4 elemen, yaitu:
Audience (peserta), Behavior (perilaku), Conditions
(kondisi), dan Degree (tingkatan). (Heinich, Robert,
Michael Molenda, James D. Russel,, 1982)
1. Audience (Peserta)
Identifikasi peserta merumuskan tujuan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dari peserta adalah,

60
siapa yang menjadi sasaran dari program pelatihan yang
akan disusun? Apa tingkatan pengetahuan mereka saat
ini? Jenis bahasa yang harus digunakan? Dan bagaimana
cara terbaik untuk memenuhi kebutuhan kelompok ini?.
Penyusunan program pelatihan memungkinkan untuk
melakukan survey terlebih dahulu terkait gambaran dari
peserta yang akan menjadi sasaran dari program
pelatihan. Contoh: Pustakawan mampu ….Staf
pengembangan sumber daya manusia mampu …
2. Behavior (Perilaku)
Perilaku pada bagian ini mengacu pada perilaku
yang harus ditunjukkan peserta. Dalam menentukan
perilaku harus se-spesifik mungkin dan menghindari
kata-kata yang sulit untuk diukur, seperti mengetahui,
memahami, dll. Kata kerja yang bisa digunakan, seperti
“mendemonstrasikan”, “mengidentifikasi”, dll. Untuk
menentukan kata kerja ini dapat mengacu pada
taksonomi bloom yang sudah dijelaskan pada tulisan
sebelumnya. Contoh: Pustakawan
mampu mendemonstrasikan penentuan tajuk
subjek ….Staf pengembangan sumber daya manusia

61
mampu melakukan analisis pengembangan kompetensi
pegawai …
3. Condition (Kondisi)
Kondisi pada bagian ini merujuk pada kondisi
di mana peserta diharapkan dapat mencapai perilaku
yang ditargetkan. Kondisi ini dapat diartikan sebagai
stimulus untuk peserta. Biasanya kondisi ini diberikan
dalam bentuk kata benda yang dapat membantu peserta
dalam mencapai perilaku yang ingin dicapai. Contoh:
Pustakawan mampu mendemonstrasikan penentuan
tajuk subjek dengan diberikan daftar tajuk subjek
perpustakaan nasional …. Staf pengembangan sumber
daya manusia mampu melakukan analisis
pengembangan kompetensi pegawai dengan diberikan
SOP dari masing-masing unit kerja …
4. Degree (Tingkatan)
Elemen terakhir ini digunakan untuk mengukur
capaian tujuan. Hal ini berkaitan dengan elemen kedua,
perilaku. Pada elemen kedua ditekankan bahwa
penentuan kata kerja harus spesifik dan terukur. Pada
elemen ini, lebih dijelaskan lagi standar pengukurannya.
Contoh: Pustakawan mampu mendemonstrasikan
62
penentuan tajuk subjek dengan diberikan daftar tajuk
subjek perpustakaan nasional selama 30 menit
Staf pengembangan sumber daya manusia
mampu melakukan analisis pengembangan kompetensi
pegawai dengan diberikan SOP dari masing-masing unit
kerja tanpa kesalahan. Idealnya dalam menerapkan
model tujuan pembelajaran diterapkan keempat elemen
di atas. Namun dalam praktiknya, tidak semua lembaga
pendidikan baik formal maupun non-formal
menggunakan keempat elemen tersebut. Salah satunya
penerapan pada pelatihan di lembaga pemerintahan.
Berdasarkan Peraturan Kepala Lembaga Administrasi
Negara Nomor 5 Tahun 2009 tentang Pedoman
Penulisan Modul Pendidikan dan Pelatihan, elemen
tujuan pembelajaran yang digunkaan minimal
meliputi Audience dan Behavior (A dan B). Hal ini juga
diterapkan pada Pusat Pendidikan dan Pelatihan
Perpustakaan Nasional RI. Dalam merumuskan tujuan
pembelajaran, elemen yang digunakan hanya
mencakup Audience dan Behavior.
Pendampingan menggunakan metode (ABCD)
Asset Based Community Development, mengutamakan
63
pemanfaatan aset dan potensi yang ada disekitar dan
dimiliki oleh pemuda atau komunitas masyarakat,
sedanghkan inti pelaksanaan metode participatory adalah
sebagai berikut: (Moh. Mashur Abadi, Agoes Kamaroellah,
2018)
1. Sebuah gerakan sosial dengan semangat pembebasan
diri dari belenggu ideologi dan relasi kuasa yang
menghambat manusia mencapai perkembangan harkat
dan martabat kemanusiannya;
2. Sebuah upaya dan proses yang memungkinkan
masyarakat memiliki kesempatan untuk menguasai
ilmu pengetahuan dan membangun kekuatan politik
melalui penelitian kritis, pendidikan pembebasan, dan
tindakan sosial-politik;
3. Proses masyarakat membangun kesadaran diri melalui
dialog dan refleksi kritis;
4. Riset sosial dengan prinsip:
1) Produksi pengetahuan oleh masyarakat
(selanjutnya disebut komunitas) mengenai agenda
kehidupan mereka sendiri,
2) Partisipasi dalam pengumpulan dan analisa data,
dan
64
3) Kontrol mereka terhadap penggunaan hasil riset.
5. Orientasi komunitas lebih pada proses perubahan relasi
sosial (Transformasi sosial)
Secara etimologi participatory dalam bahasa
metode ABCD adalah “participation” adalah pengambilan
bagian atau pengikutsertaan masyarakat, Partisipasi adalah
suatau keterlibatan mental atau emosi seseorang kepada
pencapaian tujuan dan ikut bertanggung jawab didalamnya.
Banyak ahli memberikan pengertian mengenai konsep
partisipasi. Partisipasi berarti peran serta seeorang atau
kelompok masyarakat dalam proses pembangunan baik
dalam bentuk pernyataan mampu dalam bentuk kegiatan
dengan memberi masukan pikiran,tenaga, waktu, keahlian,
modal dan atau materi, serta ikut memanfaatkan dan
menikmati hasil-hasil pembangunan.
Pengertian tentang partisipasi dapat juga berarti
bahwa pembuat keputusan menyarankan kelompok atau
masyarakat ikut terliubat dalam bentuk penyampaian saran
dan pendapat, barang, keterampian, bahan dan jasa.
Partisipasi dapat juga berarti bahwa kelompok mengenal
masalah mereka sendiri, mengkaji pilihan mereka, membuat
keputusan, dan memecahkan masalahnya. Bentuk
65
partisipasi dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa
ketentuan yang melingkupinya. Berdasarkan posisi dalam
partisipasi, partisipasi dibedakan menjadi dua yaitu:
1. Partisipasi vertikal; adalah suatu bentuk kondisi tertentu
dalam masyarakat yang terlibat didalamnya atau
mengambil bagian dalam suatu program pihak lain,
dalam hubungan mana masyarakat berada sebagai posisi
bawahan.
2. Partisipasi horizontal: adalah dimana masyarakatnya
tidak mustahil untuk mempunyai prakarsa dimana setiap
anggota/kelompok masyarakat berpasitipasi secara
horizontal antara satu dengan yang lainnya, baik dalam
melakukan usaha bersama, maupun dalam rangka
melakukan kegiatan dengan pihak lain.
Berdasarkan bentuk keterlibatan dalam aktifitas,
partisipasi dibedakan menjadi 2 (dua) macam yaitu:
1. Partisipasi langsung. Partisipasi yang terjadi apabila
individu menampilkan kegiatan tertentu dalam proses
partisipasi. Partisispasi ini terjadi apabila setiap orang
dapat mengajukan pandangan, membahas pokok
permasalahan, mengajukan keberatan terhadap
keinginan orang lain atau terhadap ucapannya.
66
2. Partisipasi tidak langsung. partisipasi yang terjadi
apabila individu mendelegasikan hak partisipasinya.
Berdasarkan macam pelaksanaan dalam
partisipasi, partisipasi dibagi empat jenis yaitu:
1. Partisipasi dalam pengambilan keputusan. Partisipasi ini
terutama berkaitan dengan alternatif dengan masyarakat
berkaitan dengan gagasan gagasan atau ide yang
menyangkut kepentingan bersama. Wujud patisipasi
dalam pengambilan keputusan ini antara lain seperti ikut
menyumbangkan gagasan atau pemikiran, kehadiran
dalam rapat, diskusi dan tanggapan atau penolakan
terhadap program yang ditawarkan.
2. Partisipasi dalam pelaksanaan meliputi menggerakkan
sumber daya dana, kegiatan administrasi, koordinasi dan
penjabaran program. Partisipasi dalam pelaksanan
merupakan kelanjutan dalam rencana yang telah digagas
sebelumnya baik yang berkaitan dengan perencanaan,
pelaksanaan maupun tujuan.
3. Partisipasi dalam pengambilan manfaat. Partisipasi
dalam pengambilan manfaat tidak lepas dari hasil
pelaksanaan yang telah dicapai baik yang berkaitan
dengan kualitas maupun kuantitas. Dari segi kualitas
67
dapat dilihat dari output, sedangkan dari segi kuantitas
dapat dilihat dari presentase keberhasilan program.
4. Partisipasi dalam evaluasi. Partisipasi dalam evaluasi ini
berkaitan dengan pelaksanaaan program yang sudah
direncanakan sebelumnya. Partisipasi dalam evaluasi ini
bertujuan untuk mengetahui ketercapaian program yang
sudah direncanakan sebelumnya.
Sedangkan level partisipasi dapat diklasifikasikan
ke dalam beberapa tingkatan mulai dari level yang terendah
sampai level yang tertinggi dalam partisipasi sebagaimana
berikut ini;
1. Partisipasi Pasif. Masyarakat diajak berpartisipasi
dengan diberi tahu apa yang sudah dan sedang terjadi.
Mereka mendapatkan manfaat. Mereka berpartisipasi
sepanjang ada manfaat yang tersedia.
2. Partisipasi Sebagai Kontributor. Masyarakat
berpartisipasi dengan memberikan informasi, sumber
daya atau membantu pekerjaan dalam proyek. Dalam
merencanakan proyek, peran masyarakat, kalaupun ada
sangat sedikit.
3. Partisipasi sebagai konsultan. Masyarakat berkonsultasi
mengenai masalah dan peluang dalam suatu daerah, dan
68
desain sebuah proyek. Profesional pembangunanlah
yang membuat keputusan mengenai desain.
4. Partisipasi sebagai implementasi. Masyarakat
berpartisipasi dengan membentuk kelompok untuk
melaksanakan suatu kegiatan dalam proyek atau
program. Mereka tidak terlibat dalam proses
pengambilan keputusan.
5. Partisipasi dalam pengambilan keputusan. Masyarakat
berpartisipasi secara aktif dalam analisis dan
perencanaan bersama dengan professional
pembangunan. Mereka terlibat dalam pengambilan
keputusan
6. Mobilisasi-diri. Masyarakat berpartisipasi dengan
mengambil inisiatif secara mandiri dari insitusi dari luar.
Mereka bisa melibatkan dampingan dari professional
pembangunan, tetapi mereka tetap memegang kontrol
dalam proses
Level keenam dari tingkatan partisipasi yaitu
mobilisasi diri merupakan level partisipasi tertinggi.
Partisipasi dalam level keenam ini menunjukkan
keberdayaan dari komunitas, dimana komunitas/masyarakat
yang mengontrol semua proses pembangunan. Sehingga
69
slogan pembangunan dari, oleh dan untuk rakyat dapat
diimplementasikan secara riil dan maksimal dalam level
partisipasi mobilisasi diri. Seharusnya partisipasi yang ada,
muncul dan terbangun dalam masyarakat adalah level
partisipasi mobilisasi diri ini. Hal ini akan menjadi penanda
tingginya tingkat keberdayaan yang dimiliki oleh
masyarakat sebagaimana tujuan dari pembangunan itu
sendiri, yaitu mewujudkan kesejahteraan dan keberdayaan
masyarakat secara hakiki.
Maka dilihat uraian di atas kedudukan Asset Based
Community Development Dalam Metode Participatoris,
adalah sangat penting dalam perencanaan tindakan aksi
untuk perubahan sosial.
1. Mengorganisir Gagasan.
Hasil-hasil FGD khususnya dalam pelaksanaan
teknik-teknik PRA akan dianalisis sebagai dasar untuk
melakukan perencanaan pemecahan masalah. Setelah
matrik ranking masalah ditetapkan bersama, maka
langkah selanjutnya adalah merencanakan bersama
upaya pemecahan masalah. Dalam tahap perencanaan
ini, ide dan gagasan dari partisipan diinventarisir

70
terlebih dahulu, untuk kemudian diputuskan bersama-
sama gagasan yang dipilih.
2. Mengorganisir Sumber Daya/Potensi
Gagasan pemecahan masalah yang telah
ditetapkan harus mempertimbangkan potensi dan
sumber daya yang dimiliki masyarakat. Komunitas
sebelumnya harus sudah menginventarisir siapa
memiliki potensi dan sumber daya apa. Begitu
seterusnya hingga keragaman sumber daya yang
dimiliki masyarakat dapat saling melengkapi guna
mendukung jalannya aksi perubahan sosial.
3. Menyusun Strategi Gerakan
Komunitas menyusun strategi gerakan untuk
memecahkan problem kemanusiaan yang telah
dirumuskan. Di dalamnya, komunitas menentukan
langkah-langkah sistematik, menentukan pihak yang
terlibat (stakeholders), dan merumuskan kemungkinan
keberhasilan dan kegagalan program yang direncanakan
serta mencari jalan keluar apabila terdapat kendala yang
menghalangi keberhasilan program. Penyusunan
strategi gerakan ini merupakan langkah penting untuk
pemecahan masalah. langkah mudah untuk menyusun
71
strategi ini adalah dengan teknik mengelola program
yang berbentuk Logical Framework Approach (LFA).

Daftar Pustaka
Hastuti, S. W. M., & Setyawan, W. (2021). Community Service
in Study Potential Technology of Education Tour and
Business Prospects of Traders in Tulungagung. Mitra
Mahajana: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2(2), 134–
144. [Link]
journal/[Link]/mahajana/article/view/952
Heinich, Robert, Michael Molenda, James D. Russel,. (1982).
Instructional Media: and the New Technology of
Instruction,. New York: Jonh Wily and Sons.
Ife, J. d. (2008). Community Development: Alternatif
Pengembangan Masyarakat di Era Globalisasi.
Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar.
Moh. Mashur Abadi, Agoes Kamaroellah. (2018). MATERI
PEMBEKALAN KPM PARTISIPATORIS 2018,
Pemberdayaan Masyarakat dengan Pendekatan ABCD
dan PAR. Madura: Lemlit, IAIN Madura.
Ndraha, T. (2003). Budaya Organisasi. Jakarta: Rineka Cipta.
Payne. (1997). Modern Social Work Theory. London:
Macmillan Press.
Rosmedi Dan Riza Risyanti. (2006). Pemberdayaan
Masyarakat. Sumedang: Alqaprit Jatinegoro.
Setyawan, W. H., & Nawangsari, T. (2021). Pengaruh E-Module
Speaking Berbasis Website Untuk Meningkatkan
72
Keterampilan Berbicara. Aksara: Jurnal Ilmu Pendidikan
Nonformal, 7(2), 339–346.
[Link]
346.2021
Setyawan, W. (2020). Qualified Lecturers Must Update By
Educational Technology. In Initiative of Thoughts from
Indonesia to the World of the Covid 19 era (pp. 175–181).
novateurpublication. [Link]
content/uploads/2020/09/28.-WAWAN-HERRY-
[Link]
Setyawati, E. Y. (2014). Pemberdayaan Masyarakat Sebagai
Upaya Peningkatan Perekonomian Masyarakat Pesisir
Berdasarkan Kearifan Lokal. Yogyakarta: Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atma Jaya,
Sulistiyan, A. T. (2017). Kemitraan dan Model-Model
Pemberdayaan. Yogyakarta: Gava Media.

73
BIODATA PENULIS

Betty Rahayu, dilahirkan di Jombang, 25


Maret 1964. Lulus S1 pada program studi
Manajemen di Universitas Darul ‘Ulum
Jombang. Lulus S2 pada program studi
Magister Ekonomi Pembangunan di
Universitas Darul ‘Ulum Jombang.
Pernah sebagai peserta bimtek Profesi
Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat, Pelatihan Penulisan
Karya Ilmiah Internasional, Pelatihan Online Submission &
Review, Pelatihan dan Klinik Penulisan Proposal Bagi Dosen
Pemula, Pelatihan Konsorsium Pengelola Jurnal Pengabdian,
Pelatihan Penilaian Jaminan Kredit, Pelatihan Analisa
Pembiayaan Bank Syariah, Pelatihan Pendamping UMKM,
Pelatihan Digital Export Management. Meniti karir sebagai
dosen di Universitas Darul ‘Ulum Jombang sejak tahun 2014
sampai sekarang. Mengampu mata kuliah Keuangan Usaha
Kecil, Manajemen Perbankan, Prinsip Akuntansi I dan II, dan
Aplikasi Komputer Statistik Bisnis. Aktif sebagai pembina di
berbagai Koperasi dan Kelompok UMKM di wilayah Jombang
dan sekitarnya.

74
75
76
BAB IV
Gambaran Cara Kerja ABCD
BAB IV Gambaran Cara Kerja ABCD

Pendekatan ABCD digunakan sebagai upaya peningkatan


kualitas hidup manusia dengan pola pembangunan yang
menempatkan masyarakat sebagai aktor kunci di Indonesia.
Mengingat pola ini masih khas, maka diperlukan dukungan dari
berbagai pihak, terlebih lagi perguruan tinggi sebagai salah satu
lembaga pendidikan memiliki peran yang sangat strategis untuk
ikut serta dalam upaya tersebut. ABCD merupakan upaya untuk
memastikan bahwa kegiatan pembangunan harus menempatkan
manusia pada posisi untuk mengembangkan kemampuannya
sesuai dengan seluruh potensi dan aset yang dimilikinya
(Setyawan at. al., 2019). Lebih dari itu, perguruan tinggi dapat
berperan dalam mewujudkan bagaimana membentuk manusia
Indonesia yang memiliki minat dan aktivitas sebagai warga
negara.
ABCD digunakan sebagai pendekatan dalam pengabdian karena
orientasi pengabdian kepada masyarakat di PTKI adalah sebagai
upaya peningkatan kapasitas masyarakat agar memiliki daya
untuk mengenali dan memanfaatkan segala kekuatan dan aset
77
yang dimiliki untuk kebaikan bersama. Asset-Based Community
Development (ABCD) dianggap sebagai pendekatan yang tepat
untuk persoalan tersebut. Hal ini karena ABCD merupakan
sebuah pendekatan dalam pengembangan masyarakat yang
berada dalam aliran besar mengupayakan terwujudkan sebuah
tatanan kehidupan sosial dimana masyarakat menjadi pelaku dan
penentu upaya pembangunan di lingkungannya atau yang
seringkali disebut dengan Community-Driven Development
(CDD). Upaya pengembangan masyarakat harus dilaksanakan
dengan sejak dari awal menempatkan manusia untuk
mengetahui apa yang menjadi kekuatan yang dimiliki serta
segenap potensi dan aset yang dipunyai yang potensial untuk
dimanfaatkan. Hanya dengan mengetahui kekuatan dan aset,
diharapkan manusia mengetahui dan bersemangat untuk terlibat
sebagai aktor dan oleh karenanya memiliki inisiatif dalam segala
upaya perbaikan.

a. Appreciative Inquiry
Appreciative Inquiry dikembangakan pada tahun 1980-an oleh
David Cooperider, seorang professor di Weatherhead School of
Management di Case Western Reserve University. Appreciative

78
Inquiry adalah cara untuk melakukan perubahan organisasi
berdasarkan asumsi yang sedrhana yaitu bahwa setiap organisasi
memiliki sesuatu yang dapat bekerja dengan baik, sesuatu yang
menjadikan organisasi hidup, efektif dan berhasil, serta
menghubungkan organisasi tersebut dengan komunitas dan
stakeholdernya dengan cara yang sehat. Cara ini tidak
menganalisis akar masalah dan solusi tetapi lebih konsen pada
bagaimana memperbanyak hal-hal positif dalam organisasi.
Proses Appreciative Inquiry terdiri dari 4 tahap yaitu: 1)
Discovery, 2) Dream, 3) Design, 4) Destiny.
1. Tahap Discovery
Adalah proses pencarian yang mendalam tentang
hal- hal positif, hal-hal terbaik yang pernah dicapai, dan
pengalaman-pengalaman keberhasilan di masa lalu.
Proses ini dilakukan dengan wawancara appresiatif.
Beberapa contoh pertanyaan apresiatif yang dilakukan
pada tahap ini, antara lain:
• Ceritakan pengalaman terbaik yang pernah ada?
• Hal apa yang sangat bernilai dari diri anda?
• Hal-hal apa yang menjadi sumber kehidupan anda,
yang tanpa hal tersebut anda akan mati?
• Sebutkan 3 harapan yang anda miliki untuk
79
meningkatkan kekuatan dan efektifitas anda?
2. Dream
Pada tahap ini, berdasarkan informasi yang
diperoleh dari tahap sebelumnya, orang kemudian mulai
membayangkan masa depan yang diharapkan. Dalam
tahapan ini setiap orang mengeksplorasi harapan dan
impian mereka baik untuk diri mereka sendiri maupun
untuk organisasi. Inilah saatnya orang-orang
memikirkan hal-hal besar dan berpikir out of the box
serta membayangkan hasil-hasil yang ingin dicapai.
3. Design
Pada tahap ini, orang mulai merumuskan strategi,
proses dan sisitem, membuat keputusan dan
mengembangkan kolaborasi yang mendukung
terwujudnya perubahan yang diharapkan. Pada tahap ini
semua hal positif di masa lalu ditransformasikan menjadi
kekuatan mewujudkan perubahan yang diharapkan
(dream).
4. Destiny
Tahap destiny adalah tahap dimana setiap orang
dalam organisasi mengimplementasikan berbagai hal
yang sudah dirumuskan pada tahap design. Tahap ini
80
berlangsung ketika organsasi secara kontinyu
menjalankan perubahan, memantau perkembangannya,
dan mengembangkan dialog, pembelajaran dan inovasi-
inovasi baru.

Empat langkah-langkah dalam Appreciative Inquiry


1. Amatilah dan kenalilah hal-hal positif yang ada disekitar
masyarakat seperti lingkungan bersih, tanaman yang
subur, kehiduan warga yang rukun dan saling gotong
royong, kegiatan masjid yang rutin, banyaknya pemuda
desa yang aktif berorganisasi, infrastruktur desa yang
tertata rapi, sukses bercocok tanam dan mengelola
sumber daya alam dan seterusnya Azaria, S. (2016).
2. Buatlah pertanyaan yang mampu menyoroti hal-hal
positif yang telah kamu amati d masyarakat seperti: apa
yang membuat warga desa disini selalu rukun dan
guyub? Apa peran anda agar masyarakat di desa ini
menjadi rukun dan suka gotong royong? Upayakan
menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh warga
sekitar.
3. Datangi warga masyarakat, tokoh masyarakat, tokoh
agama atau kunjungi pertemuan dan perkumpulan warga
81
dan/atau tempat berkumpul warga, dan ajukanpertanyaan
apresiatif yang telah kamu buat. Dengarkan dengan
seksama dan tunjukkan respon positif dan ekspresi yang
apresiatif kepada mereka. Melalui Apreciative Inquiry
ini, dharapkan masyarakat menjadi tersadar akan
kekuatan-kekuatan yang mereka miliki yang
berkontribusi pada kesuksesan masa lalu. Dan temukan
kontribusi individu warga masyarakat yang berpengaruh
pada kesuksesan tersebut.
4. Ajaklah masyarakat untuk memimpikan masa depan
mereka. Fokuskan pada kekuatan-kekuatan yang sudah
dikenali dan diungkapkan, lalu gunakanlah temuan
kekuatan tersebut untuk menggerakkan mereka
melakukan perubahan.

Kata Kunci dalam Apprecciative Inquiry


• Komunitas sudah pernah mencapai sukses atau bahwa
mereka sudah melakukan hal seperti ini sebelumnya;
• Memiliki rasa bangga dan percaya terhadap upaya
mereka sendiri;
• Memilki contoh bagaimana mereka bisa melakukan
sesuatu yang lebih baik atau bagaimana mereka mampu
82
mengatasi kesulitan-kesulitan;
• Memiliki cerita sukses yang memberikan mereka
contoh baik serta menjadi inspirasi di masa depan;
• Mulai mengidentifikasi beberapa kekuatan dan
asetnya; serta,
• Melalui proses ini komunitas menemukan energy dan
kepercayaan diri untuk bisa bergerak ke masa depan
yang tidak diketahuinya dan bisa jadi melampaui apa
yang mereka bayangkan (Dahlan, 2016).

b. Pemetaan Komunitas (Community Map)


Community map adalah pendekatan atau cara untuk
memperluas akses ke pengetahuan lokal. Dengan kata lain
community map merupakan visualisasi pengetahuan dan
persepsi berbasis masyarakat mendorong pertukaran informasi
dan menyetarakan kesempatan bagi semua anggota masyarakat
untuk berpartisipasi dalam proses yang mempengaruhi
lingkungan dan kehidupan mereka. Dibawah ini merupakan
fungsi dari Community Map adalah sebagai berikut (Hastuti
2021):
• Memperbaiki dan meningkatkan keterlibatan publik

83
dalam pemetaan;
• Memberikan masyarakat dan anggotanya kesempatan
untuk mengevaluasi proposal desain dan perencanaan
dan memvisualisasikan dampak sebuah keputusan
tersebut terhadap masa depan komunitas;
• Mengumpulkan dan meningkatkan data geospasial;
• Meningkatkan pengetahuan komunitas tentang wilayah
komunitas.

Siapa saja yang terlibat dalam proses community map ini?


• Proses pemetaan ini melibatkan beberapa pihak antara
lain organisasi masyarakat, asosiasi warga, organisasi
nirlaba, institusi sipil lokal, dan monoritas atau
kelompok khusus;
• Tujuan dari pemetaan ini sesungguhnya adalah
komunitas belajar memahami dan mengidentifikasi
kekuatan yang sudah mereka miliki sebagai bagian dari
kelompok.
• Apa yang bisa dilakukan dengan baik sekarang dan
siapa di antara mereka yang memiliki keterampilan
atau sumber daya.
• Mereka ini kemudian dapat diundang untuk berbagi
84
kekuatan demi kebaikan seluruh kelompok atau
komunitas.

Apa Saja Asset yang Bisa Dipetakan?

• Asset personal atau manusia, keterampilan, bakat,


kemampuan, apa yang bisa anda lakukan dengan baik,
apa yang bisa anda ajarkan dengan orang lain.
(Kemampuan tangan, kepala dan hati).
• Asosiasi atau asset sosial, tiap organisasi yang diikuti
oleh anggota kelompok, kelompok-kelompok remaja
masjid seperti kelompok kaum muda, kelompok Ibu;
kelompok-kelompok budaya seperti kelompok tari atau
nyanyi; kelompok kerja PBB atau PBB atau Ornop
lain dalam komunitas atau yang memberikan pelatihan
bagi komunitas. Asosiasi mewakili modal sosial
komunitas dan penting bagi komunitas untuk
memahami kekayaan ini.
• Institusi, lembaga pemerintah atau perwakilannya yang
memiliki hubungan dengan komunitas, seperti komite
sekolah, komite untuk pelayanan kesehatan, mengurus
listrik, pelayanan air, atau untuk keperluan pertanian

85
dan peternakan.
• Aset alam. Tanah untuk kebun, ikan dan kerang, air,
sinar matahari, pohon dan semua hasilnya seperti kayu,
buah dan kulit kayu, bambu, material bangunann yang
bisa digunakan kembali, material untuk menenun,
material dari semak, sayuran dan sebagainya.
• Asset fisik, alat untuk bertani, menagkap ikan, alat
transportasi yang bisa dipinjam, rumah atau bangunan
yang bisa digunakan untuk pertemuan, pelatiahan atau
kerja, pipa, ledeng, kendaraan.
• Asset keuangan, mereka yang tahu bagiamana
menabung, tahu bagaimana menanam dan menjual
sayur di pasar, yang tahu bagaimana menghasilkan
uang. Produk- produk yang bisa dijual, menjalankan
usaha kecil, termasuk berkelompok untuk bekerja
menghasilkan uang, memperbaiki cara penjualan
sehingga bisa menambah penghasilan dan
menggunakannya dengan lebih bijak. Kemampuan
pembukuan untuk rumah tangga dan untuk kelompok
maupun usaha kecil.
• Asset spiritual dan kultural. Menemukan asset ini
denga cara memikirkan nilai atau gagasan terpenting
86
dalam hidup anda, apa yang paling membuat anda
bersemangat? Termasuk di dalamnya nilai- nilai
penganut Muslim, keinginan untuk berbagi, berkumpul
untuk berdoa dan mendukung satu sama lain. Atau
mungkin ada nilai-nilai budaya, seperti menghormati
saudara ipar atau menghormati berbagai perayaan dan
nilai-nilai harmoni dan kebersamaan. Cerita-cerita
tentang pahlawan masa lalu dan kejadian sukses masa
lalu juga termasuk di sini karena hal-hal tersebut
mewakili elemen sukses dan strategi untuk bergerak
maju.

Langkah-langkah Community Mapping


a. Ketua tim memperkenalkan diri kepada seluruh peserta
yang hadir;
b. Menjelaskan pengertian pemetaan, tujuan serta
manfaat kegiatan ini;
c. Menjelaskan unsur-unsur yang harus ada dalam
pembuatan peta wilayah melalui sumbang saran;
d. Setelah nara sumber lokal (NSL) paham, lalu peserta
& tim memulai pembuatan gambar peta wilayah. Untuk
memulai dialog bisa dibuka dengan: “kita sekarang ada
87
disini (sambil menunjuk dalam kertas yang akan
digambar), kalau kita mau ke (suatu tempat di
lingkungan RW setempat) dimana letak tempat.
tersebut berada, kalau digambarkan disini? dan dapat
meminta NSL untuk menggambar lokasinya.
e. Pemandu memfasilitasi jalannya dialog dan diskusi
selama proses, mislanya informasi/data apa saja yang
harus dimasukkan peta, bagaimana cara menggunakan
symbol-simbol dan cross check data;
f. Usahakan untuk mempresentasikan hasil mapping,
kepada peserta untuk menyempurnakan data apabila
waktunya mencukupi;
g. Review data dilakukan setelah pemetaan selesai,
pemandu meminta kepada seluruh peserta untuk
melakukan triangulasi data (check dan recheck data
yang sudah dikumpulkan).

c. Sirkulasi Keuangan (Leaky Bucket)


Perputaran ekonomi yang berupa kas, barang dan jasa
merupakan hal yang tidak terpisahkan dari warga atau
komunitas dalam kehidupan mereka sehari-hari. Seberapa jauh

88
tingkat dinaminitas dalam pengembangan ekonomi lokal mereka
dapat dilihat, seberapa banyak kekuatan ekonomi yang masuk
dan keluar. Untuk mengenali, mengembangkan dan memobilisir
asset-aset tersebut dalam ekonomi komunitas atau warga lokal
diperlukan sebuah analisa dan pemahaman yang cermat.
Salah satu pendekatan yang digunakan dalam
pendekatan ABCD (Asset Based Community Development)
adalah melalui Leacky Bucket. Leacky bucket atau biasa dikenal
dengan wadah bocor atau ember bocor merupakan salah satu
cara untuk mempermudah masyarakat, komunitas atas warga
dalam mengenali, mengidentifikasi dan menganlisa berbagai
bentuk aktivitas atau perputaran keluar dan masuknya ekonomi
lokal komunitas/warga. Lebih singkatnya, leacky bucket adalah
alat yang berguna untuk mempermudah warga atau komunitas
untuk mengenal berbagai perputaran asset ekonomi lokal yang
mereka miliki (Cunningham, 2012).
Hasilnya bisa dijadikan untuk meningkatkan kekuatan
secara kolektif dan membangunnya secara bersama. Pada sisi
lain leacky bucket juga merupakan kerangka kerja yang berguna
dalam mengenali berbagai asset komunitas atau warga, tetapi
juga dalam mengenali asset peluang ekonomi yang
memungkinkan dalam menggerakkan komunitas atau warga.
89
Adapun cara yang bisa dikembangkan adalah dengan cara
warga atau komunitas memvisualisasikan apa saja asset
ekonomi yang mereka milki dengan menggunakan alur kas,
barangmaupun jasa yang masuk dari sisi atas dan keluar dari
sisi bawah wadah ekonomi sebagai potensi yang dimiliki dalam
masyarakat.
Untuk melihat seberapa tingginya atau maksimalnya
ekonomi tingkat aktivitas warga komunitas dapat ditentukan
melalui banyaknya arus yang masuk di dalam wadah disertai
perputaran didalamnya yang sangat dinamis sehingga aliran
yang keluar atau bocor dari wadah menjadi sedikit dibanding
aliran yang masuk sebelumnya. Sebaliknya jika air yang masuk
dalam wadah dan tingkat perputarannya statis/tetap di dukung
oleh tingkat kebocorannya yang banyak maka aktivitas ekonomi
warga komunitas rendah atau lemah. Untuk mengatasi
kelemahannya maka aliran yang masuk dalam hal ini kas danbarag
dan jasa dapat dikembangkan melalui perputaran kas dalam
wadah sehingga aliran kas dan barang yang keluar sangat
minimum. Dengan demikian level posisi air tergantung pada,
seberapa banyak yang masuk, seberapa banyak yang keluar, dan
tingkat kedinamisan ekonomi komunitas.

90
Langkah-langkah memahami asset dengan Leaky Bucket
1. Warga atau komunitas diajak untuk bekerjasama di
tiap kelompok untuk menjaga kestabilan level air dalam
ember dalam waktu yang telah ditentukan terlebih
dahulu. Bagaimana wadah bocor tadi tetap berisi air.
Mempertahnkan isinya, bagian-bagian mana saja yang
bisa ditutupi untuk meminimalisir kebocoran tersebut.
Dan ini butuh kerjasama dan pikiran bersama untuk
mempertahankannya.

2. Warga atau komunitas diberi kesempatan untuk


mengemukakan berbagai pendapat dari mereka
mengenai apa yang telah mereka pelajari dari apa yang
telah mereka lakukan dengan wadah/ember bocor
mereka tersebut untuk tetap berisi air. Pengalaman dan
pelajaran apa yang bisa mereka dapatkan, dll.
3. Warga atau komunitas secara bersama bisa melakukan
visualisasi melalui wadah bocor tersebut dengan apayang
masuk dan keluar tersbeut sebagai perputaran ekonomi
mereka dan memahami tentang pentingnya alur kas
ekonomi dalam komunitas.
4. Dari hasil pemahaman bersama tersebut kemudian warga
91
atau komunitas diajak untuk melakukan role play dengan
memerankan berbagai peran yang ada dalam ekonomi
lokal komunitas dengan menggunakan alat bantu berupa
mainan uang, miniature dan papan kartun. Hal ini
dilakukan untuk menjelaskan peran efek perputaran
pengganda ekonomi mereka.
5. Setelah itu, secara bersama-sama mereka diajak untuk
memetakan satu persatu barang, jasa dan kas yang
mereka miliki memalui 3 alur kas yaitu alur kas masuk,
arus kas keluar dan arus perputaran kas dari
komunitasnya masing-masing secara cermat.
6. Dari hasil amatan dan analisa mereka warga diarahkan
dan di bimbing untuk memvisualisasikan 3 alur kas
tersebut dalam suatu bagian yang dikenal dengan leaky
bucket.
7. Langkah selanjutnya adalah warga/komunitas diminta
untuk menempel gambarnya di dinding dan peserta
menjelskan gambar leaky bucket-nya ke peserta yang
lain. Apa saja yang masuk, apa saja yang berkembang
dan apa saja yang keluar.
8. Hasil dari warga atau komunitas dari materi tersebut
kemudian didiskusikan lebih lanjut tentang manfaat efek
92
pengganda bagi ekonomi komunitas, serta pentingnya
penanganan perputaran alur ekonomi secara kreatif dan
inovatif untuk meningkatkan kemndirian komunitas dan
lain sebagainya.
Output Penggunaan Leaky Bucket
a. Mengenalkan konsep umum leaky bucket dan efek
pengembangan dan kreatifitas pada warga atau
komunitas;
b. Komunitas dapat memhami dampak efek pengembangan
dan kretivitas bagi ekonomi lokal komunitas yang
mereka miliki.
c. Komunitas dapat mengidentifikasi secara seksama
mengenai arus kas masuk ke mereka, kemudian alur
dinamitas perputaran ekonomi dalam komunitas serta
alur keluar pergerakan ekonomi mereka.
d. Komunitas dapat menggali kekuatan-kekuatan dalam
komunitas untuk menigkatkan efek pengembangan,
pemberdayaan atau peningkatan terhadap alur
perputaran ekonomi yang berkembang secara kreatif dan
inovatif.

93
d. Skala Prioritas (Low Hanging Fruit)
Setelah mengetahui potensi, kekuatan dan peluang yang
mereka miliki dengan menemukan informasi dengan santun,
pemetaan asset, penelusuran wilayah, pemetaan kelompok atau
institusi dan mereka sudah membangun mimpi yang indah maka
langkah berikutnya, adalah bagaimana mereka bisa melakukan
semua mimpi-mimpi mereka, karena keterbatasan ruang dan
waktu maka tidak mungkin semua mimpi mereka diwujudkan.
Skala prioritas adalah salah satu cara atau tindakan yang cukup
mudah untuk diambil dan dilakukan untuk menentukan
manakah salah satu mimpi mereka bisa direalisasikan dengan
menggunakan potensi masyarakat itu sendiri tanpa ada bantuan
dari pihak luar.
Hal yang harus diperhatikan dalam low hanging skala
prioritas adalah apa ukuran untuk sampai keputusan bahwa
mimpi itulah yang menjadi prioritas? Siapakah yang paling
berhak menentukan skala prioritas? Berikan kepercayaan dan
kesempatan kepada masyarakat untuk menentukan skala
prioritas sendiri. Setelah pilihan ditentukan oleh masyarakat,
maka langkah selanjutnya adalah design atau merencanakan
kegiatan.

94
Gambar 1: Ilustrasi skala prioritas

Bagaimana Cara Melakukan Skala Prioritas?

Langkah-lanhkah yang perlu diperhatikan dalam perencanaan


kegiatan adalah:
1. Melihat asset dan peluang yaitu dengan menampilkan
hasil dari inventarisasi asset dan pemetaan, sehingga
setiap orang dapat menilai asset dan peluang yang
dimiliki masyarakat, beberapa asset seperti:
• Aset sosial masyarakat mendaftar/mendata
organisasi/asosiasi, atau kelompok untuk
mengetahui secara riil asset yang di miliki oleh
mereka.
• Keahlian individual dan bakat, dengan mendata
keahlian dan bakat individu di masyarakat yang

95
akan bermanfaat untuk mengembangkan potensi di
daerahnya.
• Aset institusi, masyarakat mendaftar/ mendata
pelayanan pemerintahan dan swasta yang berada di
sekitar mereka untuk peluang mengembangkan
asset.
• Asset fisik, dengan melihat peta masyarakat
• Asset alam, peta masyarakat dan keadaannya yang
sebenarnya yang di miliki.
• Analisa ekonomi masyarakat, dianalisis dengan
menggunakan diagram pemasukan dan penegluaran
dengan menggunakan timba bocor (leaky bucket)
2. Identifikasi tujuan masyarakat/skala prioritas
masyarakat, berdasarkan asset dan peluang, tujuan apa
yang akan kita realisasikan di masyarakat, kelompok
masyarakat mampu mengidentifikasi skala prioritas/
sesuatu yang akan di kerjakan atau di capai dengan
kekuatan masyarakat tanpa ada bantuan dari luar.
3. Identifikasi asset masyarakat untuk mencapai tujuan,
pada poin ini, kelompok masyarakat dapat
mengidentifikasi asset yang di fokuskan atau di
prioritaskan untuk mencapai tujuan.
96
4. Meyakinkan kelompok-kelompok inti masyarakat untuk
melakukan kegiatan, kelompok inti masayarakat
membuat komitmen yang jelas dan keterlibatan dalam
kegiatan, di pilih salah satu leader yang akan memberi
contoh dan bertanggung jawab memotivasi dalam
merealisasikan mimpi banyak masyarakat. Jika set dan
kesmepatan yang mudah yang di fokuskan tercapai dan
sukses maka masyarakat akan mencoba kegiatan yang
lebih besar.

Gambar 2: Flow chart dalam melakukan skala prioritas

Flow chart melakukan Skala Prioritas

a. Mengajak masyarakat untuk memnentukan skala


prioritas setelah mengetahui asset, peta geografi, peta
masyarakat, peta institusi swasta dan pemerintah, daftar
kemampuan masyarakat dan keinginan- keinginan
97
masyarakat akan perubahan di sosialnya.
b. Menentukan skal prioritas dari sekian banyak skala
keinginan masyarakat yang ada yaitu 3 sampai 5
keinginan masyarakat untuk dapat di kembangkan.
c. Mempertimbangakn asset dan peluang serta kondisi
yang ada di masyarakat maka di adakan diskusi ke 2
untuk menentukan skala prioritas utama yang akan di
kerjakan masyarakat dengan melihat kondisi, fasilitas,
asset dan peluang yang ada.
d. Melakukan aksi dengan melihat asset yang ada untuk
melakukan yang paling mudah, asset yang ada saat ini
dimanfaatkan untuk melakukan aksi.
e. Hasil dari aksi akan dapat dilihat dan dievaluasi apakah
hasil yang ada dengan memanfaatkan asset dan peluang
yang ada sudah dapat di harapkan seperti harapan
masyarakat. Sehingga hal yang paling penting adalah
melihat dampak dan keberlanjutan dari hasil kerja keras
masyarakat bermanfaat untuk masyarakat sekitar.
Daftar Pustaka
Azaria, S. (2016). Penerapan Appreciative Inquiry di DMU
Universitas XYZ. INSAN Jurnal Psikologi dan Kesehatan
Mental, 1(2), 125-133.
[Link]
98
Cunningham, G. (2012) Community Economic Literacy and the"
leaky bucket". Citeseer.
Dahlan, J. (2016). Pemanfaatan Aset Komunitas Melalui
Pendekatan Appreciative Inquiry Dalam Penanggulangan
Kemiskinan di Kabupaten Bandung Barat. Peksos: Jurnal
Ilmiah Pekerjaan Sosial, 15(2).
[Link]
Hastuti, S. W. M., & Setyawan, W. (2021). Community
Service in Study Potential Technology of Education Tour
and Business Prospects of Traders in Tulungagung. Mitra
Mahajana: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2(2), 134–
144. [Link]
journal/[Link]/mahajana/article/view/952
Setyawan, W., Putri, K. and Mukani (2019) Sosiologi
Pendidikan Perspektif Islam Nusantara di Daerah
Pegunungan Kendeng Nganjuk. Available at:
[Link]
siologi_Pendidikan_Perspektif_Islam_Nusantara_di_Dae
rah_Pegunungan_Kendeng_Nganjuk.
Wirasta, W., & Setiarini, S. D. (2021). Penentuan Skala
Prioritas Pengembangan Smart Campus Menggunakan
Metode AHP. JURIKOM (Jurnal Riset Komputer), 8(6),
465–474.
[Link]
73

99
Biografi Penulis
Siti Maryam,
M. Pd I, lahir di desa
Karangbong Kec.
Pajarakan Probolinggo,
31 Desember 1979. Putri
bungsu dari Alm. Bapak
Satap dan Alm. Ibu
Fatimah ini, menempuh
jenjang pendidikannya
dari TK, SD, MI, SMP,
MAK dan Sarjana S-1 di
Pondok Pesantren Zainul
Hasan Genggong.
Kemudian melanjutkan Pendidikan Sarjana S-2 nya di
Universitas Darul Ulum Jombang yang lulus pada tahun 2014.
Saat ini penulis tercatat sebagai Mahasiswa Program Doktoral
PAI BSI Universitas negri Maulana Malik Ibrahim Malang
semester IV. Penulis aktif menjadi Dosen Tetap Prodi PAI di
Universitas Islam Zainul Hasan Genggong sejak tahun 2015
sampai sekarang.
Buku ini adalah buku kedua, setelah pada tahun 2020
menulis buku “Pendidikan Islam Multikultural dalam
Persepektif KH. Mohammad Hasan Mutawakkil Alallah, SH.,
MM (Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong).
Penulisan dalam bentuk artikel jurnal yang sudah terbit
antara lain 1. Pendidikan Agama Islam Dalam Persepektif Al Quran.
100
2. Internalisasi Nilai-nilai Agama Islam Dalam Pembentukan
Karakter Siswa Melalui Kegiatan ekstrakurikuler Keagamaan Di
SMAI Miftahul Ulum Jatiurip Krejengan. 3. Pengembangan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Bidang Study Fiqih Di
SMP Islam Ar-Rofi’iyyah Semampir Kraksaan.
Pengalaman pekerjaan diawali pada tahun 2007-
sekarang sebagai Penyelenggara TP. Anggrek Al Hasan
Pajarakan Kulon. Tahun 2008-2016 sebagai tenaga sukarelawan
di lembaga Sekolah Dasar Negeri Selogudig Wetan I Pajarakan.
Dari tahun 2015-2017 menjadi Fasilitator PKP SPM Dikdas
Region II Jatim. 2019-2020 sebagai Tenaga Inti Kabupaten
yang bertugas menjadi Fasilitator Pendampingan Program
EDM/ERKAM bagi Madrasah di Kabupaten Probolinggo.
Direktur CV. MM. Barokah Jaya (Konsultan Pendidikan) sejak
tahun 2019.
Pengalaman organisasi 1. Ketua PAC Fatayat NU
Pajarakan 2004-2014. 2. Ketua KPPG Kabupaten Probolinggo
2009-2014. 3. Ketua Pokja 1 PKK Kecamatan Pajarakan 2015-
2020. 4. Sekretaris Pengajian Al Hidayah Kabupaten
Probolinggo 2015-2020. 5. Bidang Pendidikan, GOW
Kabupaten Probolinggo 2015-2021. 6. Anggota FKDP
Kopertais IV Surabaya 2016-sekarang. 7. Ketua Litbang PC
Fatayat NU Kraksaan 2014-2024. 8. Wakil Ketua ASDANU
Pusat 2019-2024. 9. Sekretaris Forum LPPM Kopertais IV
2019-2024. 10. Wakil Bendahara I Assosiasi Dosen PTKIS
Indonesia DPW Jawa Timur 11. Ketua Al Hidayah Kabupaten

101
Probolinggo 2021-2026. 12. Wakil Sekretaris GOW Kabupaten
Probolinggo 2021-2026.
Pada tahun 2022 ini, selain buku Metode ABCD penulis
proses menyiapkan dua buku lainnya yang insyaallah akan terbit
pada tahun yang sama. 1. Pengembangan Bahan Ajar PAI
Menggunakan Metode Inkuiri. 2. Model dan Strategi
Pembelajaran. Demikian semoga karya tulis ilmiah ini menjadi
salah satu hazanah keilmuan yang bermanfaat bagi dinamisasi
ilmu pengetahuan yang terus berkembang seiring kemajuan
zaman.

102
BAB 5

Metode dan Alat Dalam Menemukan Dan Memobilisasi


Asset
BAB 5 METODE DAN ALAT DALAM MENEMUKAN
DAN MEMOBILISASI ASSET
Dalam prinsip ABCD, kemampuan masyarakat untuk
menemukan aset, kekuatan, dan potensi yang mereka miliki
perlu diarahkan, dimotivasi untuk melakukan perubahan
sekaligus menjadi pelaku utama perubahan tersebut. Untuk
prinip tersebut diperlukan suatu metode atau alat untuk
menemukan dan memobilisasi asset. Diantara metode atau alat
untuk menemukan dan memobilisasi asset adalah dengan
Penemuan Aprisiatif (Appreciative Inquiry), Pemetaan
komunitas (community mapping), Transect atau penelusuran
wialayah, Pemetaan Asosiasi dan Institusi, Pemetaan Aset
Individu (Individual Inventory Skill), Sirkulasi Keuangan
(Leaky Bucket), Skala Proiritas (Low Hanging Fruit),
Untuk hal tersebut dalam bab ini akan di bahas tentang:
penemuan apresiatif, penelusuran wilayah, pemetaan asset
komunitas, pemetaan asosiasi dan institusi, pemetaan asset
individu, pemetaan perputaran ekonomi komunitas dan matrik
scorrin.
103
a. Pendekatan Apresiatif
Pendekatan apresiatif merupakan sebuah pendekatan
kooperatif dan ko- evolusioner untuk memperoleh hal-hal
terbaik dalam diri manusia, organisasi, dan lingkungan di
sekitarnya. Ia mencakup suatu proses penemuan yang sistematik
tentang apa saja yang dapat memberikan sumbangan terbaik
bagi organisasi atau masyarakat dalam bidang ekonomi, ekologi,
dan hal-hal yang terkait dengan manusia, termasuk soal
kesehatan. Pendekatan ini merupakan jawaban yang berangkat
dari visi bersama dan bukan berangkat dari sekedar
permasalahan yang ada. (Cooperidder, L. David., Whitney,
Diana, 2005). Berangkat dari asumsi dasar organisasi
sebagaisebuah misteri, dilanjutkan menyusun apa yang didapat
dalam organisasi, dilanjutkan menentukan apa yang harus
dilakukan, dikembangkan ke dalam imajinasi untuk bermimpi
apa yang mungkin dilakua, dibuktikan dengan apresiasi
komunitas apa yang sudah ada.

104
Gambar 1. Pendekatan Pemecahan Masalah vs Pendekatan
Apresiatif
(BBPLK, 2014)

Pendekatan apresiatif dapat diterapkan pada bidang apa saja.


Prosesnya dikenal dengan istilah 4-D (discovery, dream, design,
dan destiny). Empat langkah tersebut tidak dilakukan pada ruang
hampa, melainkan dalam konteks yang nyata dan spesifik. Jadi
105
sebelum menjalankan 4-D, perlu dilakukan pemilihan topik
yang disukai (Definition), dalam hal ini penelusuran kebutuhan
pelatihan

b. Langlah dasar Appreciative Inquiri (AI)

Gambar 2: Langkah dasar Appreciative Inquiri (BBPLK, 2014)


I. Discovery
Temukan potensi terbaik. Masyarakat diajak untuk
menemukan potensi terbaik yang dimilikinya, meliputi modal
personal, modal sosial, dan modal kapital. Kelangkaan potensi
terbaik pada masyarakat, lazimnya bukan karena secara nominal
mereka tidak memiliki hal positif, melainkan karena mereka
(dan kita semua) gagal melihat potensi itu

106
Modal personal itu nilai-nilai unggul yang mereka miliki,
diantaranya semangat, tenaga muda, kreativitas, dan kegelisahan
terhadap pembaharuan. Modal sosial dapat berupa kegotong-
royongan, kohesi kelompok, kepedulian sosial. Modal kapital
adalah segala sumberdaya yang bisa dikapitalkan diantaranya
lahan, potensi produksi, dan bahan baku.
II. Dream
Bangun bersama cita-cita masyarakat. Cita-cita bersama
(shared vision) merupakan kesepakatan dari cita-cita setiap
individu. Kadang seseorang atau sebuah kelompok dapat gagal
menemukan visi. Kegagalan itu, pada umumnya akibat terlalu
fokus pada persoalan dan hambatan.
Perumusan impian (cita-cita, visi) ini amat penting, sebab inilah
yang akan menjadi tujuan dari masyarakat. Cita-cita dirumuskan
dengan
―SMART‖ singkatan dari specific, measureable, achievable,
realistic, time bond.
III. Design :
Rancang langkah strategik. Langkah strategik untuk
mencapai cita- cita itu perlu dirumuskan secara partisipasif dan
kolaboratif. Kolaborasi akan mengeliminasi kelemahan
individu, dan pada gilirannya akan ditransformasikan menjadi
107
keunggulan kolektif. Partisipasi dan kolaborasi juga akan
menjadi sebuah cara untuk dapat mengenali masyarakat.
Sungguh sulit jika harus menduga-duga aspirasi dan impian
suatu masyarakat apabila mereka tidak mengekspresikannya
lewat sebuah mekanisme partisipasif dan kolaboratif. Langkah
strategik adalah cara paling efektif dan rasional untuk bisa
merealisasikan cita-cita. Langkah strategik itu bisa terdiri dari
beberapa langkah operasional.
IV. Destiny
Membangun budaya masyarakat. Menjalankan langkah-
langkah operasional yang telah ditetapkan, tidak akan membuat
suatu masyarakat langsung sejahtera. Masyarakat juga perlu
menjalankan budaya yang adaptif dengan cita-citanya.
Salah satu budaya yang adaptif untuk segala keperluan apresiatif
adalah dialog. Dialog akan mengasah semangat menghargai
orang lain. Ketika suatu masyarakat sudah memberikan
penghargaan kepada orang lain, maka ketika itulah semua akan
memahami bahwa masyarakat itu merupakan calon pelopor
pembangunan.

c. Gambaran Proses apresiatif (4-D)


Pada gambar 2 di bawah ini digambarkan Proses apresiatif

108
(4-D), pada kotak bawah ditunjukkan muatan setiap unsur.
Sumberdaya yang tersedia, misalnya, bermakna status
kompetensi yang dimiliki oleh masyarakat (baik menyangkut
jenis kompetensi maupun sebaran lokasi geografik di lokasi).
Visi yang ingin dicapai adalah status kompetensi yang
dibutuhkan untuk melakukan proses pemberdayaan wilayah dan
masyarakat secara optimal sehingga terjadi peningkatan
kesejahteraan.
Langkah strategiknya dikelompokkan ke dalam dua
kategori: pembangunan dan pelatihan. Pembangunan adalah
gugus kegiatan yang dilakukan oleh unit teknis; sedangkan
pelatihan adalah paket pelatihan yang akan dikelola oleh instansi
terkait. Budaya organisasi yang harus dikelola agar proses
apresiatif berjalan lancar adalah menggalang koordinasi dan
kolaborasi dengan tujuan agar proses pembangunan dan
pelatihan itu berjalan sinergik.
Gambar 2. Proses Apresiatif Dalam Penelusuran Kebutuhan
(BBPLK, 2014)

109
Pengisian setiap unsur proses apresiatif tersebut dilakukan
melalui kegiatan riset cepat dan lokakarya; sedangkan
analisisnya dilakukan melalui proses diskusi sejawat (peer
review).
Kategorisasi riset cepat dan lokakarya sesungguhnya lebih
menunjukkan pada arah datangnya data dan posisi data bagi
masyarakat. Dalam kegiatan riset, kendali kegiatan ada di tangan
periset. Responden dan informan hanya berperan sebagai
pemasok data. Selanjutnya data itu diolah dan dianalisis dengan
menggunakan kecakapan profesional perisetnya.
Dalam lokakarya, masyarakat itu berperan sebagai pemasok dan
pemilik data. Di dalamnya sudah tercakup proses analisis dan

110
pengambilan kesimpulan yang dilakukan secara unik oleh
masyarakat. Ditinjau dari segi hakekat akuisisi dan pengolahan
data serta pengambilan kesimpulannya, keduanya memiliki nilai
kesahihan yang tinggi.
Memperhatikan diagram proses apresiatif di atas, pada bagian
visi itu muncul rumusan ―status kecakapan yang dibutuhkan‖.
Status itu diperoleh secara empirik dan bukan secara intuitif,
melalui proses apresiatif dalam konteks pemberdayaan wilayah
dan masyarakat.

d. Penelusuran Wilayah (Transect)


Transect adalah garis imajiner sepanjang suatu area
tertentu untuk menangkap keragaman sebanyak mungkin.
Dengan berjalan sepanjang garis itu dan mendokumentasikan
hasil pengamatan, penilaian terhadap berbagai aset dan peluang
dapat dilakukan. Misalnya, dengan berjalan dari atas bukit ke
lembah sungai dan di sisi lain, maka akan mungkin untuk
melihat berbagai macam vegetasi alami, penggunaan lahan,
jenis tanah, tanaman, kepemilikan lahan, dan lain sebagainya.
Penelusuran wilayah dilakukan berbarengan dengan pemetaan
komunitas (community mapping).

111
Transect merupakan teknik untuk memfasilitasi
masyarakat dalam pengamatan langsung lingkungan dan
keadaan sumber-sumberdaya dengan cara berjalan menelusuri
wilayah desa mengikuti suatu lintasan tertentu yang disepakati
(Mikkelsen dan Britha, 2011). Transek merupakan salah satu
teknik Participatory Rural Appraisal (PRA) yang digunakan
untuk melakukan pengamatan langsung terhadap lingkungan
dan sumberdaya masyarakat. Metode PRA merupakan
pendekatan dalam merumuskan perencanaan dan kebijakan di
wilayah pedesaan dengan cara melibatkan masyarakat seefektif
mungkin (Chambers, 1996).
Penerapan pendekatan PRA dengan harapan akan tercipta
suasana kerja yang kondusif, kolaboratif, adaptif dan partisipatif
dalam proses perencanaan pembangunan dan pengelolaan
sumber daya ada khususnya di wilayah pedesaan. PRA bisa
dikatakan sebagai pendekatan, metode atau teknik, karena di
dalamnya memang terdapat unsur-unsur tersebut. Di dalamnya
terdapat beberapa teknik- teknik identifikasi, pengukuran dan
pelibatan partisipatif masyarakat
Pemetaan wilayah secara akurat dalam bentuk informasi
geospasial juga menjadi sangat penting dilakukan. Penyediaan
data spasial tersebut tidak saja membantu mencegah konflik,
112
tetapi juga mampu memberikan kepastian hokum bagi eksistensi
wilayah sebuah desa (Diantha, 2001). Kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi di dalam perolehan dan pengelolaan
data spasial telah mampu melakukan pemetaan dengan akurat
dan dapat dipertanggungjawabkan (Sosrodarsono dan Takasaki,
1992).
1) Tujuan dan manfaat Transect
Tujuan dan manfaat transek yaitu untuk melihat dengan
jelas mengenai kondisi alam dan rumitnya sistem sumberdaya
dan pemeliharaannya yang terbatas yang dijalankan masyarakat
(Sanusi dan Hidayah, 2015).
Transek dalam berbagai kegiatan untuk memetakan
fasilitas dan potensi- potensi wilayah dengan memanfaatkan
peta citra satelit. Peta potensi yang dihasilkan nanti diharapkan
dapat membantu pemerintah pusat maupun daerah dalam
menjalankan program pembangunan wilayah.
Tujuan transect adalah memperoleh gambaran keadaan
sumber daya alam masyarakat beserta masalah-masalah,
perubahan-perubahan keadaan dan potensi-potensi yang ada.
Tetapi juga tergantung topic yang ingin diperoleh. Hasilnya
digambar dalam diagram transek atau gambaran irisan muka
bumi seperti contoh gambar di bawah ini.
113
Tabel 1, Contoh hasil penelurusan wilayah (transect)

114
Sumber (Nadhir Salahuddin, dkk, 2015).
2) Langkah-langkah Pembuatan Transect
(1) Penentuan lokasi
Adanya kesepakatan tentang lokasi-lokasi penting yang akan
dikunjungi serta topik-topik kajian yang akan dilakukan pada
lintasan penelusuran serta titik awal dan titik akhir (bisa
memanfaatkan hasil Pemetaan kondisi wilayah) denga
melakukan perjalanan dan mengamati keadaan, sesuai topik-
topik yang disepakatibuatlah catatan-catatan hasil diskusi di
setiap lokasi (tugas pencatat)
(2) Kesepakatan simbol
Adanya kesepakatan pembuatan simbol yang akan
dipergunakan. Dengan mencatat simbol dan artinya
penggambaran bagan transek berdasarkan hasil lintasan (dibuat
115
dengan bahan yang mudah diperbaiki / dihapus agar masih dapat
dibuat perbaikan) untuk memfasilitasi penggambaran,
masyarakat diarahkan untuk menganalisa mengenai:
• perkiraan ketinggian
• perkiraan jarak antara satu lokasi dengan lokasi
lain
• mengisi hasil diskusi tentang topik-topik dalam
bentuk bagan / matriks kalau gambar yang sudah
selesai
• mendiskusikan kembali hasil dan membuat
perbaikan jika diperlukan
• mendiskusikan permasalahan dan potensi
masing-masing lokasi
• menyimpulkan apa yang dibahas dalam diskusi
• mencatat dan mendokumentasikan semua hasil
diskusi
3) Jenis-jenis transek
Jenis-jenis transek meliputi
(1) Transek sumber daya umum
Adalah pengamatan sambil berjalan melalui daerah pemukiman
mayarakat yang bersangkutan guna mengamati dan
mendiskusikan berbagai keadaan. Keadaan-keadaan yang
116
diamati yaitu pengaturan letak perumahan dan kondisinya,
pengaturan halaman rumah, pengaturan air bersih untuk
keluarga, keadaan sarana MCK mandi-cuci-kakus, sarana umum
desa antara lain sekolah, toko/warung, tembok dan gapura desa,
tiang listrik, puskesmas, dan sebagainya, juga lokasi kebun dan
sumber daya pertanian secara garis besar.
Kajian transek ini terarah terutama pada aspek-aspek
umum pemukiman desa tersebut, terutama sarana-sarana yang
dimiliki desa, sedangkan keadaan sumber daya alam dan bukan
alam dibahas secara garis besarnya saja. Kajian ini akan sangat
membantu dalam mengenal desa secara umum dan beberapa
sapek lainnya dari wilayah pemukiman yang kurang
diperharikan.
(2) Transek sumber daya alam
Transek ini dilakukan untuk mengenal dan mengamati
secara lebih tajammengenai potensi sumberdaya alam serta
permasalahan- permasalahannya,terutama sumber daya
pertanian. Seringkali, lokasi kebun dan lahan pertanianlainnya
milik masyarakat berada di batas dan luar desa, sehingga transek
sumberdaya alam ini bisa sampai keluar desa.
Informasi-informasi yang bisanya muncul antara lain adalah :
a. Bentuk dan keadaan permukaan alam
117
(topografi) : termasuk ke dalamnyaadalah
kemiringan lahan, jenis tanah dan
kesuburannya, daerah tangkapan airdan sumber-
sumber air (sungai, mata air, sumur).
b. Pemanfaatan sumber daya tanah (tataguna
lahan): yaitu untuk wilayahpermukiman, kebun,
sawah, lading, hutan, bangunan, jalan, padang
gembala, dan sebagainya.
c. Pola usaha tani: mencakup jenis-jenis tanaman
penting (antara lain jenis- jenislocal) dan
kegunaanya (misalnya tanaman pangan,
tanaman obat, pakan ternak, dan sebagainya),
produktivitas lahan dan hasilnya dan
sebagainya.
d. Teknologi setempat dan cara pengelolaan
sumber daya alam: termasukteknologi
tradisional, misalnya penahan erosi dari batu,
kayu, atau pagar hidup; pohon penahan api;
pemeliharaan tanaman keras; system beternak;
penanamanberbagai jenis rumput untuk pakan
ternak, penahan air, penutup tanah;
systempengelolaan air, (konservasi air, kontrol
118
erosi, dan pengairan) dan beberapa hallainnya.
e. Pemilikan sumber daya alam : biasanya terdiri
dari milik perorangan, milikadat, milik
umum/desa, milik pemerintah (missal hutan)
Kajian lebih lanjut yang dilakukan antara lain adalah:
a. Kajian mata pencaharian yang memanfaatkan
sumber daya tersebut baik oleh pemilik maupun
bukan (missal, penduduk yang tidak memiliki
kebun mungkin menjadi pengumpul kayu bakar
dari hutan, menjadi buruh, dan lain sebagainya).
b. Kajian mengenai hal-hal lain yang
mempengaruhi pengelolaan sumber daya,seperti
perilaku berladang dan tata cara adat dalam
pengelolaan tanah,pengelolaan air, peraturan
memelihara ternak, upacara panen, dan
sebagainya
(3) Transek Topik Tertentu
Transek ini berfungsi untuk mengamati dan membahas
topik-topik khusus. Misalnya: transek yang dilakukan khusus
untuk mengamati sarana kesehatan dan kondisi kesehatan
lingkungan desa, transek wilayah persebaran hama, atau transek
khusus untuk mengamati sumber air dan system
119
pengelolaanaliran air serta irigasi, pendidikan dasar, dan
sebagainya.

e. Pemetaan Asset Komunitas (Community Mapping)


Pemetaan aset komunitas merupakan pendekatan atau cara
untuk memperluas akses ke pengetahuan lebih dalam pada asset
daerah/wilayah/lokal. Community mapping ini merupakan
visualisasi pengetahuan dan persepsi berbasis masyarakat
mendorong pertukaran informasi dan menyetarakan kesempatan
bagi semua anggota masyarakat untuk berpartisipasi dalam
proses mempengaruhi lingkungan dan kehidupan mereka. Salah
satu fungsi dari community mapping ini adalah memperbaiki
dan meningkatkan keterlibatan public dalam pemetaan dan
menigkatkan pengetahuan dan kemampuan komunitas tentang
wilayah. (Nadhir Salahuddin, dkk, 2015).
Dalam proses pemetaan wilayah melibatkan beberapa
pihak diantaranya tokoh masyarakat, asosiasi warga, organisasi
masyarakat, organisasi nirlaba, institusi sipil lokal, dan
minoritas atau kelompok khusus. dengan tujuan agar komunitas
dapat belajar memahami dan mengidentifikasi kekuatanyang
sudah mereka miliki sebagai bagian dari kelompok. Apa yang

120
dapat dilakukan dengan baik sekarang dan siapa di antara
mereka yang memiliki keterampilan atau sumber daya. Mereka
ini kemudian dapat diundang untuk berbagi kekuatan demi
kebaikan seluruh kelompok atau komunitas. Daftar lengkap aset
yang bisa dipetakan adalah: (Nadhir Salahuddin, dkk, 2015).
(1) Aset personal atau manusia; keterampilan, bakat,
kemampuan, apa yang bisa anda lakukan dengan baik,
apa yang bisa anda ajarkan pada orang lain.
(Kemampuan Tangan, Kepala dan Hati).
(2) Asosiasi atau aset sosial; tiap organisasi yang diikuti
oleh anggota kelompok, kelompok–kelompok remaja
masjid seperti kelompok Kaum Muda, Kelompok Ibu;
kelompok–kelompok budaya seperti Kelompok Tari
atau Nyanyi; Kelompok Kerja PBB atau Ornop lain
dalam komunitas atau yang memberikan pelatihan bagi
komunitas. Asosiasi mewakili modal sosial komunitas
dan penting bagi komunitas untuk memahami kekayaan
ini.
(3) Institusi; lembaga pemerintah atau pewakilannya yang
memiliki hubungan dengan komunitas. Seperti komite
sekolah, komite untuk pelayanan kesehatan, mengurus
listrik, pelayanan air, atau untuk keperluan pertanian dan
121
peternakan. Terkadang institusi – institusi ini terhubung
dengan Aset Sosial tetapi keduanya mewakili jenis aset
komunitas yang berbeda. Komite Sekolah, Komite
Posyandu dan koperasi yang dibentuk oleh pemerintah
termasuk dalam kategori ini.
(4) Aset Alam. Tanah untuk kebun, ikan dan kerang, air,
sinar matahari, pohon dan semua hasilnya seperti kayu,
buah dan kulit kayu, bambu, material bangunan yang
bisa digunakan kembali, material untuk
menenun, material dari semak, sayuran, dan sebagainya.
(5) Aset Fisik. Alat untuk bertani, menangkap ikan, alat
transportasi yang bisa dipinjam, rumah atau bangunan
yang bisa digunakan untuk pertemuan, pelatihan atau
kerja, pipa, ledeng, kendaraan.
(6) Aset Keuangan. Mereka yang tahu bagaimana
menabung, tahu bagaimana menanam dan menjual
sayur di pasar, yang tahu aabagaiman menghasilkan
uang. Produk–produk yang bisa dijual, menjalankan
usaha kecil, termasuk berkelompok untuk bekerja
menghasilkan uang. Memperbaiki cara penjualan
sehingga bisa menambah penghasilan dan
menggunakannya dengan lebih bijak. Kemampuan
122
pembukuan untuk rumah tangga dan untuk kelompok
maupun usaha kecil.
(7) Aset Spiritual dan Kultural. Fasilitator bisa menemukan
aset ini dengan memikirkan nilai atau gagasan terpenting
dalam hidup masyarakat – apa yang paling membuat
anda bersemangat? Termasuk di dalamnya nilai–nilai
penganut Muslim, keinginan untuk berbagi, berkumpul
untuk berdoa dan mendukung satu sama lain. Atau
mungkin ada nilai – nilai budaya, seperti menghormati
saudara ipar atau menghormati berbagai perayaan dan
nilai – nilai harmoni dan kebersamaan. Cerita– cerita
tentang pahlawan masa lalu dan kejadian sukses masa
lalu juga termasuk di sini karena hal– hal tersebut
mewakili elemen sukses dan strategi untuk bergerak
maju.
Sedangkan langkah-langkah yang dapat digunakan untuk
proses mapping adalah sebagai berikut:
(1) Ketua tim memperkenalkan diri kepada seluruh peserta
yang hadir
(2) Menjelaskan pengertian pemetaan, tujuan serta manfaat
kegiatan ini
(3) Menjelaskan unsur-unsur yang harus ada dalam
123
pembuatan peta wilayah melalui sumbang saran
(4) Setelah nara sumber lokal (NSL) paham, lalu peserta &
tim memulai pembuatan gambar peta wilayah. Untuk
memulai dialog bisa dibuka dengan: ―kita sekarang
ada disini (sambil menunjuk dalam kertas yangakan
digambar), kalau kita mau ke…..‖ (suatu tempat di
lingkungan RW setempat) dimana letak tempat tersebut
berada, kalau digambarkan disini? Dan dapat meminta
NSL untuk menggambar lokasinya‖.
(5) Fasilitator memfasilitasi jalannya dialog & diskusi
selama proses, misalnya informasi/data apa saja yang
harus dimasukkan peta, bagaimana cara menggunakan
simbol-simbol & cross check data
(6) Usahakan untuk mempresentasikan hasil mapping,
kepada peserta untuk menyempurnakan data apabila
waktunya mencukupi
(7) Review Data dilakukan setelah pemetaan selesai,
pemandu meminta kepada seluruh peserta untuk
melakukan triangulasi data (check & recheck data yang
sudah dikumpulkan).

124
f. Pemetaan Asosiasi dan Institusi (Mapping of
Associations and Institutions)
Institusi adalah norma atau aturan mengenai suatu aktivitas
masyarakat yang khusus yang sifatnya meningkat dan relatif
lama serta memiliki ciri-ciri tertentu yaitu simbol, nilai, aturan
main, dan tujuan. Institusi dapat dibedakan menjadi institusi
formal dan institusi non-formal dan yang mendasari
terbentuknya lembaga-lembaga sosial atau suatu grup yang ada
dalam komunitas masyarakat karena suatu tujuan yang sama
dengan struktur organisasi yang jelas dan biasanya sebagai salah
satu faktor utama dalam proses pengembangan komunitas
masyarakat karena faktor-faktor ; berdasarkan kesamaan
keyakinan kesadaran akan kondisi yang sama, berdasarkan
kesamaan issue, adanya relasi sosial, dan orientasi pada tujuan
yang telah ditentukan, berdasarkan kesamaan kompetensi
/keahlian. Dengan model keanggotaan asosiasi representasi,
profesional, sosial—budaya dan pribadi (diri sendiri). Contoh:
asosiasi guru, asosasi dokter, perkumpulan wasit, asosiasi
pedagang kaki lima, asosiasi pedagang batik, ikatan insinyur,
ikatan dosen indonesia dan sebaginya.
Institusi dapat dibedakan menjadi institusi formal dan
institusi non-formal. Institusi formal dapat berupa institusi
125
pemerintah (pemerintahan desa beserta perangkat kelembagaan
dibawahnya) dan institusi swasta (organisasi sosial
kemasyarakatan, lembaga pendidikan swasta dan lain
sebagainya).
Sedangkan institusi non formal berupa sekumpulan orang
di warung yang hadir secara konsisten, jamaah pengajian,
kelompok lainnya. Di beberapa desa, contoh asosaiasi-asosiasi
yang dibentuk di desa yaitu komunitas tahlilan, PPK, Karang
Taruna, klup sepak bola, HIPPA (himpunan petani pengambil
air), dan GAPOKTAN (Gabunagan Kelompok Tani ).
Setelah mengidentifikasi asosiasi dan institusi yang ada,
maka komunitas dapat merumuskan peran asosiasi dan institusi
tersebut di dalam pengembangan komunitas. Dengan melihat
peranan asosiasi/institusi di dalam komunitas, maka program
pengembangan masyarakat dapat dimulai dengan
mengidentifikasi kekuatan kolektif yang sudah ada untuk
menginisiasi perubahan dikomunitasnya. Semakin besarnya
peranan asosiasi, maka percepatan pengembangan masyarakat.
Dengan melihat peranan asosiasi/intitusi dari dalam
komunitas, maka program pengembangan masyarakat dapat
dimulai dengan mengidentifikasi kekuatan kolektif yang sudah
ada untuk menginisiasai perubahan di komunitasnya. Semakin
126
besarnya peranan asaiosi, maka percepatan pengembangan
masyarakat

g. Pemetaan Asset Individu (Individual Inventory


Skill)
Individu adalah penggerak terpenting dari setiap
pembangunan. Pemetaan aset individu dapat berfokus hanya
pada potensi individu, bukan pada masalah yang harus dihadapi
oleh individu tersebut. Pemetaan aset individu sangat penting
untuk meyakinkan bahwa setiap orang baik laki-laki ataupun
perempuan memiliki peran dan potensi yang bisa
dikembangkan. Impian dan imajinasi merupakan aset bagi setiap
individu.
Pemetaan aset individu adalah kegiatan menginventaris
pengetahuan (knowledge), kecerdasan rasa (empathy) dan
keterampilan (skill) individu yang dimiliki setiap warga dalam
suatu komunitas. Secara umum, inventarisasi aset perorangan
dapat dilakukan berdasarkan tiga kelompok yang berhubungan
dengan hati, tangan dan kepala. Proses pemetaan aset individu
dapat dilakukan dengan mengunjungi setiap rumah tangga yang
ada dalam suatu komunitas. Selain itu, identifikasi juga dapat

127
dilakukan dengan hanya mengumpulkan sejumlah/sebagian
warga dari suatu komunitas yang dianggap paling mengetahui
warga yang ada dalam suatu komunitas. Pendekatan atau cara
mana yang akan dipilih sangat tergantung kepada besaran warga
dalam suatu komunitas.
Hasil pemetaan aset perorangan yang disusun berdasarkan
kategori tertentu dijadikan sebagai direktori aset perorangan
yang bertujuan untuk memudahkan pencarian aset yang
dibutuhkan dalam pengembangan suatu komunitas. Pendekatan
lain dalam pengelompokkan aset suatu skill perorangan dapat
dilihat dari segi:
(1) Skill yang berhubungan dengan kemasyarakatan.
Misalnya skill dalam memimpin suatu masyarakat, skill
berkomunikasi dengan berbagai kelompok masyarakat
seperti kelompok remaja, kelompok usia lanjut, dsb.
(2) Skill yang berhubungan dengan kewirausahaan.
Misalnya keterampilan dalam mengolaj suatu usaha,
keterampilan permasaran, keterampilan yang
berhubunan dengan negosiasi dengan pihak supplier.
(3) Skill yang berhubungan dengan seni dan budaya.
Misalnya keterampilan yang berhubungan dengan
kerajinan tangan, menari, bermain teater, dan bermain
128
musik.
Metode/alat yang dapat digunakan untuk melakukan
pemetaan individual asset antara lain kuisioner, interview dan
focus group discussion. Manfaat dari Pemetaan Individual Aset
antara lain:
(1) Membantu membangun landasan untuk memberdayakan
masyarakatdan untuk saling ketergantungan dalam
masyarakat
(2) Membantu membangun hubungan dengan masyarakat
(3) Membantu warga mengidentifikasi keterampilan dan
bakat mereka sendiri
Pada sebuah desa di Bojonegoro misalnya, pemetaan
individual aset ini biasanya dikaitkan dengan keragaman

129
pekerjaan warganya. Contoh paparan data berikut:

Tabel 2, Pemetaan Aset Individual (Nadhir Salahuddin, dkk,


2015)
Pemetaan individual asset desa panjang sendiri adalah
peternak kambing, peternak sapi, peternak lele, peternak
ayam, selep padi, pembuatan krupuk, pembuatan tahu,
pembuatan tempe dan kripik pisang. Hampir mayoritas warga
Desa Panjang Bojonegoro sendiri memiliki keterampilan
individu yang dapat menambah pemasukan ekonomi untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari. Keterampilan individu
tersebut adalah keterampilan dalam membuat kerajinan tikar
yang berbahan baku pandan berduri. Keterampilan tersebut
130
merupakan keterampilan yang secara turun-temurun dari para
orang tua, sehingga dengan otomatis para generasi setelahnya
mampu untuk memproduksi tikar tersebut dengan sendirinya.
Dalam memproduksi tikar warga hanya
menjadikannya sebagai usaha sampingan, yang mana hanya
dikerjakan atau diproduksi ketika ada waktu luang, seperti
halnya sepulang dari sawah. Kerja sampingan yang dilakukan
masyarakat Desa Panjang sendiri sebagai pengrajin tikar yang
mana pekerjaan ini hanya dilakukan oleh perempuan. Pekerjaan
ini hanya dilakukan secara individual (home industry).
Dengan berbagai macam pemetaan skill, dapat
disimpulkan bahwa dalam suatu komunitas setiap warga
memiliki potensi untuk berkontribusi kepada kemajuan
komunitasnya. Dalam proses pengembangan masyarakat,
perpaduan kemampuan individual akan membawa perubahan
yang signifikan. Sesungguhnya, potensi itu ada di diri etiap
manusia namun mungkin komunitas belum menyadari potrensi
tersebut sebagai sebuah asset yangbisa dikembangkan.
Gambar 3.
Simbol dari Skill Individu
Sumber: (Cunningham, Gord [Link]., 2012)

131
h. Pemetaan Perputaran Ekonomi Komunitas
(Community Economic Cycle Mapping)
1) Pengertian, Tujuan dan Fungsi Community
Economic Cycle Mapping
Perputaran ekonomi yang berupa kas, barang dan jasa
merupakan hal yang tidak terpisahkan dari warga atau
komunitas dalam kehidupan mereka sehari-hari. Beberapa jauh
tingkat dinaminitas dalam pengembangan ekonomi lokal mereka
dapat dilihat, seberapa banyak kekuatan ekonomi yang masuk
dan keluar. Untuk mengenali, mengembangkan dan memobilisir
aset-aset tersebut dalam ekonomi komunitas atau warga lokal
diperlukan sebuah analisa dan pemahaman yang cermat. Salah
satu pendekatan yang digunakan dalam pendekatan ABCD
[Asset Based Community Development] adalah melalui Leacky
Bucket.
Ini sangat penting bagi masyarakat untuk memahami
132
konsep leaky bucket dan efek pengganda serta peran laki-laki
dan perempuan sebagai pelaku ekonomi sehingga peserta
mendapatkan inovasi dan kreativitas dalam meningkatkan alur
perputaran ekonomi. Pemetaan aset memberikan gambaran
kepada masyarakat potensi yang dapat dimanfaatkan untuk
peningkatan kesejahteraan komunitas terutama dari segi
ekonomi masyarakat.
Tujuan memahami konsep leaky bucket/wadah ekonomi
dan peran laki- laki dan perempuan sebagai pelaku ekonomi
sebagai potensi yang dimiliki dalam masyarakat adalah
(1) Mengenalkan konsep umum leaky bucket dan efek
pengganda
(2) Memahami dampak efek pengganda bagi ekonomi
komunitas
(3) Mengidentifikasi arus masuk, alur perputaran
ekonomi dalam komunitas dan alur keluar
(4) Menggali kekuatan-kekuatan dan peran laki-laki dan
perempuan sebagai pelaku ekonomi dalam komunitas
untuk meningkatkan efek pengganda dan alur
perputaran ekonomi yang kreatif.
Dengan mengenali potensi ekonomi yang dimiliki oleh
komunitas maka fasilitator dan asyarakat dapat bersama-sama
133
merencanakan skala prioritas.
Leacky Bucket atau bisa dikenal dengan wadah bocor atau
ember bocor merupakan salah satu cara untuk mempermudah
masyarakat, komunitas atas warga dalam mengenali,
mengidentifikasi dan menganalisa berbagai bentuk aktivitas atau
perputaran keluar dan masuknya ekonomi lokal
komunitas/warga. Lebih singkatnya, leaky bucket adalah alat
yang berguna untuk mempermudah warga atau komunitas untuk
mengenal berbagai perputaran aset ekonomi lokal yang mereka
miliki. Hasilnya bisa dijadikan untuk meningkatkan kekuatan
secara kolektif dan membangunnya secara bersama.
Pada sisi yang lain, leaky bucket juga merupakan kerangka
kerja yang berguna dalam mengenali berbagai aset komunitas
atau warga, tetap juga dalam mengenali aset peluang ekonomi
yang memungkinkan dalam menggerakkan komunitas atau
warga. Adapun cara yang bisa dikembangkan adalah dengan
cara warga atau komunitas menvisualisasikan apa saja aset
ekonomi yang mereka miliki dengan menggunakan alur kas,
barang maupun jasa yang masuk dari sisi atas dan keluar dari sisi
bawah wadah ekonomi sebagai potensi yang dimiliki
masyarakat. Berikut ini ilustrasi gambar arus perputaran masuk
dan keluar serta alur dinamika didalamnya.
134
Proses dari aktivitas ini dapat dilakukan dengan mengajak
warga atau komunitas untuk memvisualisasikan dinamika
ekonomi mereka ke dalam wadah yang bocor yang diisi dengan
air. Wadah ini terdiri dari alur air yang masuk yang merupakan
barang dan kas, kemudian alur air tersebut beraktifitas
didalamnya dalam hal ini dalam wadah yang biasa disebut
dengan perputaran barang, jasa dan kas warga tersebut,
kemudian air yang bocor dari wadah merupakan alur keluarnya
barang, jasa dan kas dari warga atau komunitas tersebut.
Untuk melihat seberapa tingginya atau maksimalnya
ekonomi tingkat aktivitas warga komunitas dapat ditentukan
melalui banyaknya arus yang masuk di dalam wadah di sertai
perputaran didalamnya yang sangat dinamis sehingga aliran
yang keluar atau bocor dari wadah menjadi sedikit dibanding
aliran yang masuk sebelumnya. Sebaliknya jika air yang masuk
dalam wadah dan tingkat perputarannya statis/tetap didukung
oleh tingkat kebocorannya yang banyak maka aktivitas ekonomi
warga komunitas rendah atau lemah. Untuk mengatasi
kelemahanya maka aliran yang masuk dalam hal ini kas dan
barang dan jasa dapat dikembangkan melaui perputaran kas
dalam wadah sehingga aliran kas dan barang yang keluar sangat
minimum. Dengan demikian level posisi air tergantung pada;
135
(1) Seberapa banyak yang masuk,
(2) Seberapa yang keluar,
(3) Tingkat kedinamisan ekonomi.
Pada sisi yang lain, leaky bucket juga merupakan kerangka
kerja yang berguna dalam mengenali berbagai asset komunias
atau warga, teapi juga dalam mengenali asset peluang ekonomi
yang memungkinkan dalam mengerakkan komunitas atau
warga. Adapun cara yang bisa kembangkan adalah dengan cara
warga atau komunitas menvisiualisasikan apa saja aset ekonomi
yang mereka miliki dengan menggunakan alur kas, barang
maupun jasa yang masuk dari sisi atas dan keluar dari sisi bawah
wadah ekonomi sebagai potensi yang dimiliki dalam
masyarakat. Berikut ini ilustrasi gambar arus perputaran masuk
dan keluar serta alur dinamika di dalamnya.

136
Gambar 4: Ilustrasi Leaky Bucket
Dari gambar diatas, bisa diterjemahkan bahwa leaky
bucket merupakan salah cara yang digunakan untuk membantu
warga komunitas dalam memahmi berbagai dinamika ekonomi
lokal mereka miliki, dengan melihat aktivitas dasar-dasar
ekonomi. Proses dari aktivitas ini dapat dilakukan dengan
mengajak warga aau komunitas untuk memfisualisasikan
dinamika ekonomi mereka ke dalam wadah yang bocor yang
di isi dengan air. Wadah ini terdiri dari alur air yang masuk
yang merupakan barang dan kas, kemudian alur air tersebut
beraktifitas di dalamnya dalam hal ini dalam wadah yang
biasa disebut dengan perputaran barang, jasa dan kas warga
tersebut, kemudian air yang bocor dari wadah merupakan
alur keluarnya barang, jasa dan kas dari warga atau komunitas
tersebut.

2) Tahapan aktifitas Community Economic Cycle


Mapping
Beberapa tahapan aktifitas bersama yang bisa dilakukan dalam
memahami leaky bucket bersama komunitas atau warga adalah
sebagai berikut (Mohammad Kosim, dkk, 2018):
(1) Warga atau komunitas diajak untuk bekerjasama di
137
tiap kelompok untuk menjaga kestabilan level air
dalam ember dalam waktu yang telah ditentukan
terlebih dahulu. Bagaimana wadah bocor tadi tetap
berisi air/ mempertahankan isinya, bagian-bagian
mana saja yang bisa ditutupi untuk meminimalisir
kebocoran tersebut. Dan ini butuh kerjasama dan
pikiran bersama untuk mempertahankannya.
(2) Warga atau komunitas diberi kesempatan untuk
mengemukakan berbagai pendapat dari mereka
mengenai apa yang telah mereka lakukan dengan
wadah/ember bocor mereka tersebut untuk tetap
berisi air. Pengalaman dan pelajaran apa yang bisa
mereka dapatkan, dan lain-lain..
(3) Warga atau komunitas secara bersama bisa
melakukan visualisasi melalui wadah bocor tersebut
dengan apa yang masuk dan keluar tersebut sebagai
perputaran ekonomi mereka dan memahami tentang
pentingnya alur kas ekonomi dalam komunitas.
(4) Dari hasil pemahaman bersama tersebut kemudian
warga atau komunitas diajak untuk melakukan
roleplay dengan memerankan berbagai peran yang
ada dalam ekonomi lokal komunitas dengan
138
menggunakan alat bantu berupa mainan uang,
miniatur dan papan kartun. Hal ini dilakukan untuk
menjelaskan peran efek perputaran pengganda
ekonomi mereka.
(5) Setelah itu, secara bersama-sama mereka diajak
untuk memetakan satu persatu barang, jasa dan kas
yang mereka miliki melalui 3 alur kas yaitu alur kas
masuk, alur kas keluar dan alur kas perputaran dari
komunitasnya masing-masing secara cermat.
(6) Dari hasil amatan dan analisa mereka warga
diarahkan dan dibimbing untuk memvisualisasikan 3
alur kas tersebur dalam suatu bagan yang dikenal
dengan leaky bucket.
(7) Langkah selanjutnya adalah, warga/komunitas
diminta untuk menempel gambarnya di dinding dan
peserta menjelaskan gambar leaky bucket-nya ke
peserta yang lain. Apa saja yang masuk, apa saja yang
berkembang dan apa saja yang keluar.
(8) Hasil dari warga atau komunitas dari materi tersebut
kemudian didiskusikan lebih lanjut tentang manfaat
efek pengganda bagi ekonomi komunitas, serta
pentingnya penanganan perputaran alur ekonomi
139
secara kreatif dan inovatif untuk meningkatkan
kemandirian komunitas dan lain sebagainya.
3) Skala Prioritas Community Economic Cycle Mapping
Skala prioritas adalah salah satu cara atau tindakan yang cukup
mudah untuk diambil dan dilakukan untuk menentukan
manakah salah satu mimpi mereka bisa direalisasikan dengan
menggunakan potensi masyarakat itu sendiri tanpa ada bantuan
dari pihak luar.
Skala Prioritas Community Economic Cycle Mapping
bertujuan untuk membantu masyarakat untuk menjaga cita-cita
dan mewujudkan hal–hal yang ingin dicapai (mencapai visi
komunitas). Dengan mengenali potensi ekonomi yang dimiliki
oleh komunitas maka fasilitator secara bersama-sama dengan
komunitas mitranya dapat merencanakan skala prioritas
kegiatan.
Hal yang harus diperhatikan dalam skala prioritas adalah
• Ukuran prioritas untuk tercapainya
mimpi/visi/tujuan komunitas
• Menentukan individu/kelompok kecil yang
mewakili sebagai penentu prioritas karena metode
ABCD ini berbasis masyarakat, maka pemberian
kepercayaan dan kesempatan kepada masyarakat
140
adalah hal yang sangat penting.
• Mendesign atau merencanakan kegiatan.
4) Langkah Prioritas Community Economic Cycle
Mapping
Langkah-langkah yang perlu di perhatikan dalam perencanaan
kegiatan adalah.
(1) Melihat aset dan peluang yaitu dengan menampilkan
hasil dari inventarisasi aset dan pemetaan, sehingga
setiap orang dapat menilai aset dan peluang yang
di miliki masyarakat, beberapa aset seperti:
• Aset Sosial, masyarakat mendaftar/mendata
organisasi/asosiasi, atau kelompok untuk
mengetahui secara riil aset yang di miliki
oleh mereka
• Keahlian Individual dan bakat, dengan mendata
keahlian dan bakat individu di masyarakat yang
akan bermanfaat untuk mengembangkan
potensi di daerahnya.
• Aset institusi, masyarakat mendaftar /mendata
pelayanan pemerintahan dan swasta yang
berada di sekitar merekan untuk peluang

141
mengembangkan aset
• Aset fisik, dengan melihat peta masyarakat
• Aset alam, peta masyarakat dan keadaannya
yang sebenarnya yang di miliki
• Analisa ekonomi masyarakat, di analisis dengan
menggunakan diagram pemasukan dan
pengeluaran dengan menggunakan timba bojor.
2) Identifikasi tujuan masyarakat/ skala prioritas
masyarakat, Berdasarkan aset dan peluang, tujuan
apa yang akan kita realisasikan di masyarakat,
kelompok masyarakat mampu mengidentifikasi
skala prioritas/ sesuatu yang akan di kerjakan atau
di capai dengan ke kekuatan masyarakat tanpa ada
bantuan dari luar.
3) Identifikasi aset masyarakat untuk mencapai tujuan,
pada poin ini, kelompok masyarakat dapat
mengidentifikasi aset yang di focuskan atau di
prioritaskan untuk mencapai tujuan.
4) Menyakinkan kelompok-kelompok inti masyarakat
untuk melakukan kegiatan. Kelompok inti
masyarakat membuat komitmen yang jelas dan

142
keterlibatanya dalam kegiatan, di pilih salah satu
leader yang akan memberi contoh dan bertanggung
jawab memotivasi dalam merealisasikan mimpi
banyak masyarakat. Jika aset dan kesempatan yang
mudah yang di fokuskan tercapai dan sukses maka
masyarakat akan mencoba kegiatan yang lebih
besar.
5) Melakukan aksi dengan melihat aset yang ada untuk
melakukan yang paling mudah, aset yang ada saat
ini di manfaatkan untuk melakukan aksi. Hasil dari
aksi akan dapat di lihat dan di evaluasi apakah hasil
yang ada dengan memanfaatkan aset dan peluang
yang ada sudah dapat di harapkan seperti harap
masyarakat. Sehingga hal yang paling penting
adalah melihat dampak dan keberlanjutanya dari
hasil kerja keras masyarakat bermanfaatan untuk
masyarakat sekitar.

i. Matrik Scorring
1) Pengertian, Fungsi Dan Tujuan Matrik Scorring
Matrik Scorring merupakan metode matriks keputusan ,

143
juga disebut metode Pugh atau pemilihan konsep Pugh,
ditemukan oleh Stuart Pugh, (S. Pugh dalam Hubka, V. (ed.),
1981) adalah teknik kualitatif yang digunakan untuk
menentukan peringkat opsi multi-dimensi dari kumpulan opsi.
Ini sering digunakan dalam rekayasa untuk membuat keputusan
desain tetapi juga dapat digunakan untuk menentukan peringkat
opsi investasi, opsi vendor, opsi produk, atau kumpulan entitas
multidimensi lainnya.
Sebuah matrik scorring mengevaluasi dan
memprioritaskan daftar pilihan dan merupakan alat pengambilan
keputusan. Tim pertama-tama membuat daftar kriteria berbobot
dan kemudian mengevaluasi setiap opsi terhadap kriteria
tersebut.
Sebuah matrik scorring dasar terdiri dari menetapkan
seperangkat kriteria dan sekelompok calon desain potensial.
Salah satunya adalah calon referensi desain. Desain lainnya
kemudian dibandingkan dengan desain referensi ini dan diberi
peringkat sebagai lebih baik, lebih buruk, atau sama berdasarkan
masing- masing kriteria. Jumlah kemunculan "lebih baik" dan
"lebih buruk" untuk setiap desain kemudian ditampilkan, tetapi
tidak diringkas.
Matriks keputusan berbobot beroperasi dengan cara yang
144
sama seperti matriks keputusan dasar tetapi memperkenalkan
konsep pembobotan kriteria dalam urutan kepentingan. Semakin
penting kriteria, semakin tinggi bobot yang harus diberikan.
Keuntungan dari matrik scorring adalah mendorong
refleksi diri di antara anggota tim desain untuk menganalisis
setiap kandidat dengan bias yang diminimalkan (untuk anggota
tim dapat bias terhadap desain tertentu, seperti mereka sendiri).
Keuntungan lain dari metode ini adalah bahwa studi sensitivitas
dapat dilakukan. Contohnya adalah untuk melihat seberapa
banyak pendapat Anda harus berubah agar alternatif
berperingkat lebih rendah mengungguli alternatif yang bersaing.
Namun, ada beberapa kelemahan penting dari metode
matrik scorring:
• Daftar opsi kriteria bersifat arbitrer. Tidak ada cara
untuk mengetahui apriori jika daftarnya lengkap;
kemungkinan ada kriteria penting yang hilang.
• Sebaliknya, ada kemungkinan bahwa kriteria yang
kurang penting dimasukkan, menyebabkan
pengambil keputusan menjadi terganggu dan bias
dalam pilihan pilihan mereka.
• Metode penilaian, bahkan dengan pembobotan,
cenderung menyamakan semua persyaratan. Tetapi
145
beberapa persyaratan "harus dimiliki". Jika kriteria
minor cukup terdaftar, mungkin saja mereka
menambahkan dan memilih opsi yang tidak
memenuhi persyaratan "harus dimiliki".
• Nilai yang diberikan untuk setiap opsi adalah
tebakan, tidak didasarkan pada pengukuran
kuantitatif apa pun. Faktanya, seluruh matriks
keputusan dapat menciptakan kesan ilmiah,
meskipun tidak memerlukan pengukuran kuantitatif
apa pun.
Penggunaan Matrik Scorring yaitu
• Ketika daftar pilihan harus dipersempit menjadi
satu pilihan
• Ketika keputusan harus dibuat berdasarkan
beberapa kriteria
• Setelah daftar opsi dikurangi menjadi jumlah yang
dapat dikelola dengan pengurangan daftar
Situasi khas adalah:
• Ketika satu peluang atau masalah perbaikan harus
dipilih untuk dikerjakan
• Ketika hanya satu solusi atau pendekatan
pemecahan masalah yang dapat diterapkan
146
• Ketika hanya satu produk baru yang dapat
dikembangkan
2) Struktur Matrik Scorring
Struktur keyakinan adalah penilaian terdistribusi dengan
keyakinan. Ini digunakan dalam pendekatan penalaran bukti
(ER) untuk analisis keputusan multi-kriteria untuk mewakili
kinerja opsi alternatif pada suatu kriteria. Misalnya, kualitas si
A dapat dinilai ―sangat baik‖ dengan tingkat kepercayaan yang
tinggi (misalnya 0,6) karena nilai sosialnya tinggi,. Pada saat
yang sama, kualitas dapat dinilai hanya ―baik‖ dengan
tingkat kepercayaan yang lebih rendah (misalnya 0,4 atau
kurang) karena cara berfikir dan pengalamannya masih dapat
ditingkatkan. Penilaian seperti itu dapat dimodelkan dengan
struktur keyakinan: Si (sosial)={(sangat baik, 0,6), (baik, 0,4)},
di mana Sis ingkatan dari penilaian sosial pada kriteria ke - i
(kualitas). Dalam struktur keyakinan, ―sangat baik‖ dan
―baik‖ adalah standar penilaian, sedangkan ―0,6‖ dan ―0,4‖
adalah derajat keyakinan.
3) Prosedur Matriks Keputusan
(1) Lakukan brainstorming kriteria evaluasi yang sesuai
dengan situasi. Jika memungkinkan, libatkan
pelanggan dalam proses ini.
147
(2) Diskusikan dan perbaiki daftar kriteria. Identifikasi
kriteria apa saja yang harus disertakan dan apa saja
yang tidak boleh disertakan. Kurangi daftar kriteria
menjadi yang menurut tim paling penting. Alat
seperti pengurangan daftar dan multivoting mungkin
berguna.
(3) Tetapkan bobot relatif untuk setiap kriteria,
berdasarkan seberapa penting kriteria itu bagi
situasi. Ini dapat dilakukan dengan dua cara:
a) Dengan mendistribusikan 10 poin di antara
kriteria, berdasarkan diskusi tim dan konsensus.
b) Dengan masing-masing anggota memberikan
bobot, maka angka untuk setiap kriteria untuk
pembobotan tim komposit.
(4) Gambarlah matriks berbentuk L. Tulis kriteria dan
bobotnya sebagai label di sepanjang satu sisi dan
daftar opsi di sepanjang sisi lainnya. Biasanya, grup
dengan item yang lebih sedikit menempati tepi
vertikal.
(5) Evaluasi setiap pilihan berdasarkan kriteria. Ada tiga
cara untuk melakukannya
Metode 1: Menetapkan skala penilaian untuk
148
setiap kriteria. Beberapa opsi adalah:
1. 1, 2, 3 (1 = sedikit, 2 = cukup, 3 = banyak)
2. 1, 2, 3 (1 = rendah, 2 = sedang, 3 = tinggi)
3. 1, 2, 3, 4, 5 (1 = sedikit hingga 5 = hebat)
4. 1, 4, 9 (1 = rendah, 4 = sedang, 9 = tinggi)
Penting agar skala penilaian Anda konsisten.
Tentukan kriteria Anda dan tetapkan skalanya
sehingga skala tertinggi (5 atau 3) selalu merupakan
peringkat yang cenderung membuat Anda memilih
opsi itu: dampak terbesar pada pelanggan,
kepentingan terbesar, kesulitan terkecil, kemungkinan
sukses terbesar.
Metode 2: Untuk setiap kriteria, urutkan semua opsi
menurut seberapa baik masing-masing memenuhi
kriteria. Beri nomor dengan 1 sebagai opsi yang
paling tidak diinginkan menurut kriteria itu.
Metode 3: (Matriks Pugh): Menetapkan garis dasar,
yang mungkin merupakan salah satu alternatif atau
produk atau layanan saat ini. Untuk setiap kriteria,
beri nilai satu sama lain alternatif dibandingkan
dengan baseline, menggunakan skor lebih buruk (- 1),
sama (0), atau lebih baik (+1). Skala penilaian yang
149
lebih halus dapat digunakan, seperti 2, 1, 0, -1, -2
untuk skala lima poin atau 3, 2, 1, 0, -1, -2, -3 untuk
skala tujuh poin. Sekali lagi, pastikan bahwa angka
positif mencerminkan peringkat yang diinginkan.
(6) Kalikan peringkat setiap opsi dengan bobotnya.
Tambahkan poin untuk setiap opsi. Pilihan dengan
skor tertinggi belum tentu menjadi pilihan, tetapi
skor relatif dapat menghasilkan diskusi yang
bermakna dan memimpin tim menuju konsensus
4) Contoh Matrik Scorring
Gambar 1 menunjukkan Matrik Scorring yang digunakan
oleh tim layanan pelanggan di restoran Parisian Experience
untuk memutuskan aspek mana dari keseluruhan masalah
"waktu tunggu yang lama" yang harus ditangani terlebih dahulu.
Masalah yang mereka identifikasi adalah pelanggan menunggu
tuan rumah, pelayan, makanan, dan cek (Setyawan, 2017).
Kriteria yang mereka identifikasi adalah "Kesakitan
pelanggan" (seberapa besar pengaruh negatif ini terhadap
pelanggan?), "Kemudahan untuk diselesaikan", "Efek pada
sistem lain", dan "Kecepatan untuk diselesaikan". Awalnya,
kriteria "Kemudahan untuk dipecahkan" ditulis sebagai
"Kesulitan untuk dipecahkan", tetapi kata-kata itu membalikkan
150
skala penilaian. Dengan kata-kata saat ini, peringkat tinggi pada
setiap kriteria mendefinisikan keadaan yang akan mendorong
pemilihan masalah: rasa sakit pelanggan yang tinggi, sangat
mudah dipecahkan, efek tinggi pada sistem lain, dan solusi cepat
(H. Setyawan, 2016).
Tabel 3 contoh Matrik Scorring (Tague, 2005)

151
"Sakit pelanggan" telah dibobot dengan 5 poin,
menunjukkan bahwa tim menganggapnya sebagai kriteria yang
paling penting, dibandingkan dengan 1 atau 2 poin untuk yang
152
lain. Tim memilih skala penilaian tinggi = 3, sedang = 2, dan
rendah = 1 dan menggunakannya untuk masalah tersebut.
"Pelanggan menunggu makanan." Dalam contoh ini, rasa sakit
pelanggan sedang (2), karena suasana restorannya bagus.
Masalah ini tidak akan mudah untuk dipecahkan (kemudahan
rendah = 1), karena melibatkan pelayan dan staf dapur. Efek
pada sistem lain adalah sedang (2), karena pelayan harus
melakukan beberapa perjalanan ke dapur. Masalah akan
memakan waktu cukup lama untuk diselesaikan (kecepatan
rendah = 1), karena dapurnya sempit dan tidak fleksibel.
Setiap peringkat dikalikan dengan bobot untuk kriteria
tersebut. Misalnya, "Pelanggan sakit" (bobot 5) untuk
"Pelanggan menunggu tuan rumah" memiliki tarif tinggi (3)
untuk skor 15. Skor ditambahkan di seluruh baris untuk
mendapatkan total untuk setiap masalah. "Pelanggan menunggu
tuan rumah" memiliki skor tertinggi pada 28. Karena skor
tertinggi berikutnya adalah 18, masalah tuan rumah mungkin
harus ditangani terlebih dahulu (Herry Setyawan et al., 2019).
5) Pertimbangan Matrik Scorring
Dalam memebrikan memberikan pertimbangan matsik scorring
diperlukan beberapa bahan untuk dipertimbangkan dalam
pengambilan keputusan, antara lain:
153
(1) Buatlah daftar opsi yang sangat panjang pertama-

tama dapat dipersingkat dengan alat seperti


pengurangan daftar atau multivoting .
a) Kriteria yang sering digunakan termasuk dalam
kategori umum efektivitas, kelayakan,
kemampuan, biaya, waktu yang dibutuhkan, dan
dukungan atau antusiasme (tim dan orang lain).
Kriteria lain yang umum digunakan meliputi:
o Untuk memilih masalah atau peluang
peningkatan:
• Dalam kendali tim

• Pengembalian keuangan

• Sumber daya yang dibutuhkan (misalnya,

uang, orang)
• Rasa sakit pelanggan yang disebabkan oleh

masalah
• Urgensi masalah

• Minat atau dukungan tim

• Efek pada sistem lain

• Minat atau dukungan manajemen

• Kesulitan memecahkan

• Waktu yang dibutuhkan untuk


154
menyelesaikan
o Untuk memilih solusi:
• Akar penyebab diatasi dengan solusi ini

• Tingkat penyelesaian masalah

• Biaya untuk menerapkan ( misalnya, uang,

waktu)
• Pengembalian investasi; ketersediaan
sumber daya (misalnya : orang, waktu)
• Kemudahan implementasi

• Waktu sampai solusi diimplementasikan

sepenuhnya
• Biaya pemeliharaan ( misalnya, uang,

waktu)
• Kemudahan perawatan

• Mendukung atau menentang solusi

• Antusiasme oleh anggota tim

• Kontrol tim atas solusi

• Faktor keselamatan, kesehatan, atau


lingkungan
• Faktor pelatihan

• Efek potensial pada sistem lain

• Efek potensial pada pelanggan atau


155
pemasok

156
• Nilai untuk pelanggan

• Potensi masalah selama implementasi

• Potensi konsekuensi negatif

(2) Pertimbangan tambahan

o Sementara matriks keputusan dapat digunakan


untuk membandingkan pendapat, lebih baik
digunakan untuk meringkas data yang telah
dikumpulkan tentang berbagai kriteria bila
memungkinkan.
o Sub-tim dapat dibentuk untuk mengumpulkan
data tentang berbagai kriteria.
o Beberapa kriteria untuk memilih masalah atau
peluang perbaikan memerlukan tebakan tentang
solusi akhir. Misalnya: mengevaluasi sumber
daya yang dibutuhkan, pengembalian, kesulitan
untuk memecahkan, dan waktu yang dibutuhkan
untuk memecahkan. Oleh karena itu, penilaian
Anda terhadap opsi hanya akan sebaik asumsi
Anda tentang solusi.
o Sangat penting bahwa skala kriteria kelas atas (5
atau 3) selalu merupakan akhir yang ingin Anda
pilih. Kriteria seperti biaya, penggunaan sumber
157
daya dan kesulitan dapat menyebabkan
kebingungan (misalnya, biaya rendah sangat
diinginkan).
o Hindari penyusunan ulang kriteria "biaya
rendah" alih-alih "biaya"; "kemudahan"
bukannya "kesulitan". Atau, di judul kolom
matriks, tulis apa yang menghasilkan
peringkat rendah dan tinggi. Sebagai contoh:
Tebel 4 contoh penyusunan scorring kreteria
Kepentingan Biaya Kesulitan

rendah = 1 tinggi = tinggi =


tinggi = 5 1 rendah = 5 1 rendah = 5
o Jika individu dalam tim memberikan penilaian
yang berbeda untuk kriteria yang sama,
diskusikan sampai tim mencapai konsensus.
Jangan merata-ratakan peringkat atau memilih
yang paling populer.
o Dalam beberapa versi alat ini, jumlah skor tidak
berbobot juga dihitung dan kedua total dipelajari
untuk panduan menuju keputusan.
o Ketika alat ini digunakan untuk memilih

158
rencana, solusi, atau produk baru, hasil dapat
digunakan untuk meningkatkan pilihan. Sebuah
opsi yang memiliki peringkat tinggi secara
keseluruhan tetapi memiliki skor rendah pada
kriteria A dan B dapat dimodifikasi dengan ide-
ide dari opsi yang mendapat skor baik pada A
dan B. Penggabungan dan peningkatan ini dapat
dilakukan untuk setiap opsi, dan kemudian
matriks keputusan digunakan lagi untuk
mengevaluasi pilihan baru.

159
DAFTAR PUSTAKA

(Pe-PP) Bappenas. (2007). Panduan Untuk Fasilitator


Infomobilisasi. Teknik Fasilitasi Partisipatif
Pendampingan Masyarakat. Jakarta: UNDP.

Aditya, R. (2010, September 8). Dipetik Januari 8, 2022, dari


Pengertian Teori Pendampingan :
[Link]
[Link]
Anwar (1995) dalam Masnawati. (2015). Metode Jalur
(transect) Lurus. Taduloko: Fakultas Matematika dan
Pengetahuan Alam Universitas Taduloko.

Aris Slamet Widodo, Hasanah Safriyani, Sutrisno. (2018).


Teknik Fasilitasi dalam Pemberdayaan Masyarakat.
Yogyakarta: Lembaga Penelitian, Publikasi dan
Pengabdian Masyarakat Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta.

B. Peters, M. Gonsamo, & S. Molla. (2011). Capturing


Unpredictable and Intangible Change:Evaluating an
Asset-Based Community Development (ABCD) Approach
in Ethiopia (Coady . Ethopia: Coady Occasional Paper.

BBPLK. (2014). Petunjuk Pelaksanaan Penelusuran Kebutuhan


Pelatihan (TNA) Apresiatif. Jakarta: Balai Besar
Pengembangan Latihan Ketransmigrasian Jakarta.

BPKB. (2001). Pendampingan. Surabaya: BKKBN Jawa Timur.

160
Budiman, A., & Samani, M. (2021). The Development of Direct-
Contextual Learning: A New Model on Higher Education.
International Journal of Higher Education, 10(2), 15–26.
[Link]
Caiden, G. E. (1991). Administrative Reforms Comes Of Ages.
New York: Walter The Gruyter.

Chambers, R. (1996). Participatory Rural Appraisal:


Memahami Desa Secara Partisipatif. Yogyakarta (ID):
Kanisius.

Cooperidder, L. David.,Whitney, Diana. (2005). Appreciative


Inquiry: A Positive Revolution in Change. San Fransisco:
Berrett-Koehler Publishers.

Cunningham, Gord [Link]. (2012). Mobilizing Assets for


Community-Driven Development. Participant Manual,
Coady International Institute.

Cunningham, Gord [Link]. (2012). Mobilizing Assets for


Community-Driven Development, Participant Manual.
Coady International Institute.

DEPTAN. (2004). Rencana Setrategis Badan Penelitian dan


Pengembangan Pertanian 2005-2006. Jakarta: Badan
Penelitian dan Perkembangan Pertanian.

Diantha, I. (2001). Eksistensi Desa menurut UU Nomor:


22/1999.

Djatmiko, D. E. (2006). Memaknai Kembali Tugas Pokok dan

161
Fungsi Fasilitator. Eonogiri Jateng: webadmin P2KP.

Dureau, C. (2013). Pembaru dan kekuatan lokal untuk


pembangunan. Australian Community Developmentand
Civil Society Strengthening Scheme (ACCESS) Tahap II
(hal. 96-97). Australia: -.

Haneberg, L. (2005). Organization Development Basics.


Alexandra: ASTD Press.

Heria Windasuri, Hyacintha Susanti, dan Business Growth


Team. (2017). Excellent Service: The Secrets of Building
a Service Organization. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama.

Herry Setyawan, W., Budiman, A., Septa Wihara, D., Setyarini,


T., & Nurdyansyah, R. (2019). R., & Barid Nizarudin
Wajdi, M.(2019). The effect of an android-based
application on T-Mobile learning model to improve
students’ listening competence. Journal of Physics:
Conference Series, 1175(1).
[Link]
6596/1175/1/012217/pdf

Hunter et Al. (2018). Pengertian Fasilitasi. Dipetik Januari 6,


2022, dari
[Link]
n_fasilitasi.html KEMENSOS RI. (2020). Teknik
Fasilitasi. Jakarta: LSPS.

H Setyawan, W., . R., . N., Budiman, A., . H., Sumarno, A., &
Rais, P. (2018). Challenged Solving in Listening Through
162
T-Mobile Learning Model. International Journal of
Engineering & Technology, 7(4.15), 443.
[Link]
Mikkelsen dan Britha. (2011). Metode Penelitian Partisipatoris
dan Upaya Pemberdayaan. Jakarta: Yayasan Pustaka
Obor Indonesia.

Mohammad Kosim, dkk. (2018). Materi Pembekalan KPM


Partisipatoris, Pemberdyaan Masyarakt Dengan
Pendekatan ABCD dan PAR. Madura: Universitas Negeri
Madura.

Nadhir Salahuddin, dkk. (2015). Panduan KKN ABCD Uin


Sunan Ampel Surabaya. Surabaya: LP2M UIN SUNAN
AMPEL.

S. Pugh dalam Hubka, V. (ed.). (1981). Concept selection: a


method that works. Review of design methodology, (hal.
497 – 506). Rome. Zürich: Proceedings international
conference on engineering design.

Sanusi dan Hidayah. (2015). Pengkajian potensi desa


denganpendekatan partisipatif di Desa Mawai Indah
Kecamatan Batu Ampar Kabupaten Kutai Timur. Jurnal
Agrifor, 14 (2): 185- 196.

Setyawan, W. (2017). THE IMPLEMENTATION OF AJEL


APPROACH TO ENGLISH TEACHING IN
DECENTRALIZED BASIC EDUCATION PROJECT
SCHOOL: A CASE STUDY AT SDN KURUNGREJO
III PRAMBON NGANJUK. Jurnal Pikir: Jurnal Studi

163
Pendidikan Dan Hukum Islam, 3(2), 46–62.
[Link]
[Link]/[Link]/pikir/article/view/22

Setyawan, W. H. (2016). IMPLEMENTING THE DISTANCE


TRAINING FOR ENGLISH PRIMARY TEACHER IN
KEDIRI. Jurnal TEKPEN, 1(1).
[Link]
Sosrodarsono dan Takasaki. (1992). Pengukuran Topografi dan
Teknik [Link] (ID): Pradnya Paramita.

Stavros, J. & Hinrichs, G. (2009). The thin book of SOAR:


Building strengths-based strategy. Bend: Thinbook
Publishing.

Stream. (2021, September 8). Panduan Kerja Lebih Baik


(Better-Practice. Dipetik Desember 29, 2021, dari
[Link]/publications/livelihoods-gender-
social/stream/bpg/ts/indonesia/[Link]:
[Link]

Tague, N. R. (2005). The Quality Toolbox, Second Edition. New


york, American: ASQ. Thamrin, J. (1996). Dehumanisasi
Anak Marginal Beragai Pengalaman Pemberdayaan.
Bandung: Yayasan AKATIGA.

Wikipedia. (2017, Januari 29). Heliotropik. Dipetik Desember


29, 2021, dari wikipedia:
[Link]

Wikipedia. (2020, Oktober 31). Dipetik Januari


164
3, 2022, dari [Link]

165
BIODATA PENULIS

Aslichah, lahir di Jombang, 13 Agustus


1965. Lulus S1 pada program studi Ilmu
Sosial Univ [Link] Surabaya. Lulus
S2 Magister program studi Ilmu Adm
Niaga Univ Brawijaya Malang. Meniti
karir sebagai dosen di Universitas Darul
‗Ulum Jombang sejak 02 Pebruari 2003 di
Program Studi Manajemen Fakultas [Link] mata
kuliah Perpajakan, Prinsip Manajemen dan Seminar MSDM
pada jenjang S1. Aktif sebagai pembina di berbagai Koperasi
dan Kelompok UMKM di wilayah Jombang dan sekitarnya..
Aktif menulis di berbagai jurnal
Nasional maupun Internasional. Artikel yang berjudul Peran
kepemimpinan iklim sekolah dan budaya mutu terhadap kinerja
Guru Madarasah Sanawiyah Tebuireng Jombang, Peran Gaya
kepemimpinan terhadap kinerja guru di madarasah Aliyah
Tambak Beras Jombang Analisis factor yang dipertimbangkan
pasien dalam mempersepsikan mutu pelayanan di RSIA
Muslimat Jombang. Pengaruh Modal Usaha Dan Penjualan
Terhadap Laba Usaha Pada Perusahaan Penggilingan Padi,
166
Population, Unemployment and Poverty: A Population Analysis
in East Java Indonesia. Aktif sebagai sebagai kepala Koperasi
di RSAB Jombang, dan saat ini menjabat sebagai Ketua PJM
Gugus Fakultas Ekonomi Universitas Darul ‗Ulum Jombang.

167
BAB 6
Pelaksanaan
(ABCD)
BAB 6 Pelaksanaan (ABCD)
Proses yang dimiliki dalam model pengembangan
masyarakat berbasis aset atau yang lebih dikenal ABCD ini,
mempunyai beberapa langkah-langkah dalam
pelaksanaanya yaitu persiapan, pelaksanaan, analisis, dan
pemanfaatan hasil (Outcome).

a. Persiapan
Persiapan adalah suatu tindakan untuk
melengkapi kegiatan. Sedangkan persiapan dalam
konteks model pelaksanaan Asset Based Community
Development (ABCD) yang dilakukan oleh fasilitator
adalah melakukan problem identification (Identifikasi
masalah). Identifikasi masalah dilakukan dengan
menggali asset yang dimiliki oleh masyarakat dengan
berbagai cara
a. Inkulturasi
Adalah tahap awal penggalian asset dengan
pendekatan terhadap kultur. Fasilitator berupaya

168
memahami problem dengan model melibatkan diri
dan menyatu dengan masyarakat. Inkulturasi
dilakukan untuk :
• Membangun komunikasi sosial
Masyarakat mengetahui keberadaan fasilitator
dengan cara melakukan silaturrahmi, perkenalan
melalui tokoh masyarakat, perorangan atau
kelompok.
• Memahami tradisi, nilai, peran dan fungsi
lembaga, tokoh-tokoh kunci, dan karakter
masyarakat.
Ada hubungan batin, rasa kepercayaan (trust)
masyarakat terhadap fasilitator dengan cara
fasilitator melibatkan diri dalam berbagai
kegiatan sosial, ekonomi, keagamaan, budaya,
politik, hukum dan apapun yag dianggap penting
oleh masyarakat terhadap kehadiran fasilitator.
• Meeting of mind.

169
Fasilitator dapat mnfasilitasi kebutuhan
masyarakat dan membentuk core group, guna
memperkuat ketahanan sipil.
• Trust building
Fasilitator secara bertahap dan berlahan
membangun rasa kepercayaan terhadap
kehadiran fasilitator dan memotifasi diri
masyarakat sendiri; bahwa masyarakat mampu
untuk bertindak dan berbuat lebih baik dari saat
ini untuk mewujudkan mimpi.
b. Deal building atau membangun ksepakatan
Adalah tahap awal setelah fasilitator
mendapatkan trust building. Trust building
merupakan modal utama terhadap terwujudnya deal
building. tujuan deal building adalah

• Untuk membentuk core group, komunitas te


rtentu yang diinginkan masyarakat
• Sebagai proses belajar bersama
• Untuk pemanfaatan media belajar
• Komitemen terhadap proses/program
Kesepakatan adalah opini yang disetujui dari
170
beberapa idea sebagai hasil dari diskusi antara satu
atau beberapa kelompok dari masyarakat untuk
mendapatkan kondisi yang lebih baik atau
memperbaiki situasi. Membanguan kesepahaman
adalah sebuah cara mencapai sebuah keputusan
bersama yang dapat diterima oleh semua orang yagn
terlibat yang berbeda pandangan dan pendapat pada
masalah tertentu pada suatu subjek. (Stream, 2021).
Pada proses membangun kesepakatan, banyak
“stakeholder” dilibatkan pada skema
pengembangan untuk mendukung masyarakat. Akan
banyak perbedaan dalam pendapat dan pandangan
membangun kesepahaman. Perbedaan ini bisa
mengenai tujuan, perubahan perilaku dan aktivitas
pada skema yang seharusnya, dan siapa yang akan
dibantu dan bagaimana cara bekerja organisasi.
Proses pembangunan kesepakatan untuk
menjamin bahwa suara semua orang sudah didengar.
Pada proses ini, setiap anggota “kelompok” tahu
siapa anggota kelompok lainnya tapi setiap anggota
kelompok bekerja secara terpisah. Pada bagian
pertama ini, pembuat kebijakan diminta untuk
171
memberikan pendapat mereka pada perubahan
kebijakan. Ini membetuk beberapa pandangan dan
menentang pandangan antara kelompok.

172
Dalam rapat seorang moderator
menggabungkan tanggapan dan mengembalikannya
kepada partisipan. Kemudian diberikan tanggapan
dari setiap orang yagn terlibat pada proses tapi tidak
diberi tahu pendapat apa dan datang dari siapa.
Masyarakat mampu untuk menyetujui atau tidak dan
untuk mengubah pandangan mereka sendiri, secara
tidak disebutkan.
Semua partisipan pada proses diperlukan
untuk menerima tanggapan yagn dikumpulkan dari
moderator dan mendukungnya. Juga mereka harus
mengubah pandangan yang berhubungan dengan
kemunculan kesepakatan baru; atau dapat
menolaknya dan memberikan pendapat kenapa
orang lain harus mengubah pandangan kelompk
masyarakat. Pada masalah ini, pembuat kebijakan
diminta untuk memilih dari beberapa prioritas
perubahan yang diajukan oleh partisipan dan
menghasilkan prioritas rekomendasi untuk pembuat
kebijakan.
Ada 8 langkah untuk melakukan deal building
atau membangun ksepakatan.
173
1) Melakukan konsultasi dengan masyarakat
2) Menggabungkan masalah dan maksud yang
diinginkan masyarakat
3) Mengurutkan prioritas ingin dicapai oleh
masyarakat
4) Menyimpulkan urutan prioritas dari pembuat
kebijakan
5) Menyampaiakn urutan prioritas yang
disimpulkan terbaru untuk diskusi akhir oleh
pembuat kebijakanan dan masyarakatr
6) Mengubah rekomendasi yang diidentifikasi menjadi
kebijakan
7) Perubahan pada Kebijakan menuju penetapan
kebijakan
8) Pelaksanaan penetapan kebijakan
c. Understanding building atau membangun kesepahaman
Adalah tahap awal setelah fasilitator
membentuk core group sebagai fungsi untuk
menjalankan proses/program dengan mengetahui
visi, misi, tujuan serta tugas masing-masing personal
dalam oraganisasi. Dengan berdasar :
1) Asset bassed minded (Pikiran berbasis aset)
Ada beberap langka membangun asset bassed
minded ini diataranya
174
• Mulailah dengan kegiatan yang bersifat
diagnostik dengan memberikan informasi
tentang apa yang masyarakat ketahui dan
dapat lakukan. Cara sederhana untuk
merancang aktivitas diagnostik yang
berfokus pada apa yang dapat dilakukan
masyarakat adalah dengan menyelaraskan
kemampuan dengan keterampilan atau
konsep yang ada dengan

175
mengelompokkan asset yang dimiliki
masyarakat; ada ahli bangunan, ahli
kontruksi kayu, mebel, handcraf, ahli pidato,
dai dan lain sebagainya mereka di
kelompokkan dan bisa jadi 1 orang memiliki
beberapa ptofesi.
• Menyediakan jalur kegiatan yang berbeda
sehingga masyarakat memiliki kesempatan
untuk memenuhi harapan yang tinggi. Waktu
selalu berharga, dan itu terasa lebih berharga
karena kegiatan berlangsung di lingkungan
terbatas dan terfokus pada keahlian dan
kemampuan mereka.
• Memberikan umpan balik kepada
masyarakat yang dapat mengidentifikasi apa
yang mereka lakukan dan strategi untuk
menggunakan kekuatan mereka untuk
mengatasi bidang kebutuhan. Tertanam
dalam setiap kegiatan adalah momen
penilaian normatif. Ini adalah bukti nyata
atau dapat diamati dari kegiatan masyarakat.
Dalam pendekatan minded berbasis aset,
176
mereka digunakan untuk memberi
masyarakat umpan balik yang mencakup tiga
informasi penting. Kekuatan masyarakat,
kebutuhan masyarakat dalam mewujudkan
mimpi.
2) Inside – out (dari dalam keluar)
Membangun pikiran yang bermakna dan
berkelanjutan dengan bersumber dari dalam diri
masyarakat dan masyarakat merasa yakin dapat
menapak masa depan saat mereka bisa
memanfaatkan kesuksesan masa lalunya. Impian
masyarakat untuk menjadi yang lebih baik, tidak
terlepas dari kesuksesan di masa lampau yang
ingin masyarakat ulang kembali. Dengan
melakukan perubahan untuk meraih masa
depannya.
Fasilitator menggugah/memotivasi
masyarakat agar dapat bangkat untuk lebih baik
dengan cara mereset ulang cara berfikir
masyaraat tentang kejayaan masa lampau yang
didapat oleh masyarakat pada masa lalu dan
mencarikan ide-ide terbaharukan untuk kejayaan
177
yang akan datang dengan menyelaraskan pada
impian-impian yang diharapkan masyarakat.
3) Community driven development (Pembangunan
yang digerakkan masyarakat)
Memiliki makna yang beragam
tergantung pada organisasi yang menggunakan
istilah tersebut. Bank Dunia misalnya,
menggunakan istilah tersebut untuk
mendeskripsikan salah satu dari programnya
senilai hampir
$2 miliar setiap tahunnya yang ditunjukkan
untuk membantu kelompok masyarakat miskin
di pedesaan dan perkotaan mengidentifikasi
prioritas

178
kebutuhan mereka dan kemudian bekerja sama
dengan pemerintah lokal untuk pelaksaan
program tersebut. Masyarakat memiliki
wewenang tertentu untuk membuat keputusan
prioritas program pembangunan sekaligus
bertanggungjawab untuk kelangsungan program
tersebut meskipun hal-hal mengenai rancangan,
uang dan para tenaga ahli datang dari luar
masyarakat. (Cunningham, Gord [Link]., 2012).
Arti lain dari pembangunan yang
digerakkan oleh masyarakat (community driven
development) adalah proses dimana sekelompok
orang (dalam kegiatan bersama, organisasi,
desa, atau kampung di perkotaan) termotivasi
oleh sebuah masalah atau peluang, memobilisasi
diri mereka untuk berbuat tanpa diarahkan oleh
lembaga luar, dengan mengandalkan sumber
daya mereka sendiri dan tetap mereka memiliki
kontrol sekalipun nanti ada keterlibatan dari
pihak luar dalam situasi ini, anggota masyarakat
cenderung untuk berbuat dalam tugasnya
sebagai warga.
179
Oleh karena demikian akan menjadi
sebuah keharusan bahwa pergerakan komunitas
dipastikan secara bersama dan terkoordinir
dengan baik oleh komunitas itu sendiri, sehingga
tidak “disetir” oleh lembaga/pihak luar yang
belum tentu dapat memahami dengan baik
potensi komunitas itu dan untuk menghindari
peluang-peluang pragmatis bahwa komunitas
hanya dijadikan “alat” untuk mencapai tujuan
pihak-pihak tertentu tersebut.
Tujuan Community driven development
(CDD) secara khusus adalah memungkinkan
masyarakat untuk mengatasi hambatan dan
tantangan yang mereka hadapi bermodalkan
kekuatan dan potensi di dalam diri mereka
sendiri dan potensi komunitas secara bersama-
sama, yang sifatnya berkelanjutan.
Mengatasi tantangan dan hambatan
untuk mencapai tujuan bersama dalam
kesejateraan masyarakat dapat pula dilakukan
dengan lebih adil dan lebih efisien dalam
penggunaan sumber daya. Hal ini dapat dicapai
180
dengan pelaksanaan CDD antara lain:
• Membangun lingkungan kelembagaan
(institusi) yang memungkinkan munculnya
dinamika dalam organisasi berbasis
masyarakat.
• Mengembangkan infrastruktur masyarakat.
• Mendorong ekonomi lokal di level masyarakat.

181
• Meragamkan sumber dukungan eksternal
untuk CBO (Community Based
Organization) atau organisasi berbasis
masyarakat (OBM).
Understanding building atau membangun
kesepahaman dapat secara lancar mencapai sasaran
apabila menggunakan prinsip heliotropik.
Heliotropik (bahasa Inggris: Heliotropism) adalah
sifat bagian-bagian tumbuhan seperti bunga atau
daun yang tumbuh ke arah matahari. Bunga
heliotropik melacak gerakan Matahari dari barat ke
timur. (Wikipedia, 2017).
Prinsip heliotropik merupakan appreciative
inguiry yaitu kegiatan yang mencoba
mentransformasikan budaya komunitas yang
tadinya melihaa dirinya dengan cara negatif menjadi
mampu mengapresiasi kapsasitas dirinya untuk
mewujudkan perubahan positif. Appreciative
inguiry mangadopsi dari pendapat Elliot (1999)
bahwa selayaknya sumber energi masyarakat
tumbuh ke arah apa yang memberi mereka sumber
kehidupan.
182
f. Pelaksanaan
Pelaksanaan Metode ABCD berawal dari strategi
pengembangan organisasi yang kemudian dilihat sebagai
cara untuk memperkuat dan memotivasi komunitas
dengan pendekatan Appreciative Inquiry (AI)
Pendekatan ini menggunakan teknik wawancara
dan berdiskusi yang fokus pada kekuatan dan
pengalaman “puncak” masa lalu sebagai motivator untuk
mengambil tindakan. Cara ini merupakan yang terbaik
untuk menghasilkan pengembangan organisasi dengan
menyelidiki capaian terbaik yang pernah diperoleh
(Dureau, 2013). Pendekatan ini berupaya untuk
menggali cerita tentang kesuksesan di masa lampau dan
mereka yang melakukan hal-hal terbaik saat itu. Dengan
berfokus pada apa yang terbaik hingga sekarang,
dibutuhkan analisis kekuatan dan aset yang ada dengan
melalui pendekatan berbasis kekuatan (Saptaria &
Setyawan, 2021).
Kemudian setelah menemukan kekuatan dan aset
yang ada, maka selanjutnya membayangkan apa yang

183
paling diinginkan dengan menetapkan tujuan yang ingin
dicapai bersama dan bersamasama menjadi pencipta
masa depan dengan rancangan tujuan yang bersifat
transformatif dan terbuka untuk berbagai cara yang
memungkinkan kemudian memberdayakan komunitas
untuk melakukannya sendiri. Ketika banyak energi
positif yang bangkit dari komunitas, maka akan muncul
harapan dan inisiatif yang berorientasi pada tindakan
yang dipimpin oleh komunitas

184
itu sendiri, sehingga cara ini dapat dijalankan karena
bersifat fleksibel, terbuka dan tidak dibatasi waktu.
Appreciative inquiry (AI) merupakan
penelusuran kedepan secara bersama dan kooperatif
untuk menemukan yang terbaik dari diri seseorang,
organisasinya, dan dunia di sekelilingnya. AI meliputi
penemuan tentang apa yang membentuk kehidupan
dalam sebuah sistem tatanan hidup yang paling efektif
secara konstruktif dengan kemampuan ekologi, ekonomi
dan sebagai manusia. Intervensi AI fokus pada kecepatan
berimajinasi dan berinovasi, bukan pada kritikan
ataupun diagnosis berbelit yang biasa digunakan dalam
organisasi. Dalam menghubungkan energi dari pusat
positif ke perubahan yang tidak pernah diduga
sebelumnya, yaitu dengan memadukan model discovery
(menemukan), dream (mimpi), design (merancang), dan
destiny (memastikan). Siklus AI bisa dilihat dalam
diagram ini:

185
Siklus Appreciative Inquiry. Sumber:
Pembaru dan Kekuatan
Lokal untuk
Pembangunan
(Dureau, 2013)

Dari diagram di atas memaparkan lima langkah


kunci dalam appreciative inquiry, yakni sebagai berikut:
186
d. Define (Menentukan)
Kelompok pemimpin sebaiknya menentukan
„pilihan topik‟ yang bertujuan sebagai proses awal
dalam pencarian atau mendeskripsikan perubahan

187
yang diinginkan. Misalnya menentukan topik seputar
kondisi sanitasi lingkungan dan menginginkan
sarana sanitasi yang layak untuk tiap rumah tangga
seperti jamban keluarga, tempat sampah, air bersih,
dan sebagainya.
Langkah-langkah dalam define (menentu)
dilakukan dengan tahapan sebagimana dalam
diagaram gambar berikut :

• Langkah pertama : melihat asset dan peluang


Pada pelaksanaan difene ini fasilitator seharusnya
dapat melihat asset/menggali asset pada
masyarakat dan peluang yang ada untuk
mnenimbulkan kembali mimpi
• Langkah kedua : mengidentifikasi tujuan proyek

188
Setelah fasilitator melihat atau menemukan asset
dan peluang pada diri masyakart maka fasilitator
bersama-sama masyarakat mengidentifikasi tujuan
proyek. Proyek apa yang sebaiknya di gagas untuk
mewujudkan mimpi masyarakat
• Langkah ketiga adalah identifikasi aset masyarakat
untuk mencapai tujuan
• Langkah keempat adalah meyakinkan kelompok
inti masyarakat untuk melakukan kegiatan.
e. Discover (Menemukan)
Apa yang telah sangat dihargai dari masa
lalu perlu diidentifikasi sebagai titik awal proses
perubahan. Proses menemukenali kesuksesan
dilakukan lewat proses percakapan atau wawancara
dan harus menjadi penemuan personal tentang apa
yang menjadi kontribusi individu yang memberi
hidup pada sebuah kegiatan atau usaha. Pada tahap
discovery, kita mulai memindahkan tanggung jawab
untuk perubahan kepada para individu yang
berkepentingan dengan perubahan tersebut yaitu
entitas lokal. Kita juga mulai membangun rasa
bangga lewat proses menemukan kesuksesan masa
189
lalu dan dengan rendah hati tetapi jujur mengakui
setiap kontribusi unik atau sejarah
kesuksesan/kemampuan

190
bertahan. Tantangan bagi fasilitator adalah
mengembangkan serangkaian pertanyaan yang
inklusif tepat mendorong peserta mampu
menceritakan pengalaman sukses serta peran
mereka dalam kesuksesan tersebut.
Dalam hal discovery, dilakukan dengan
menemukan aset. Secara ringkas dapat tampilkan
dalam gambar diagram berikut>

Discovery dengan visualisasi asset bersumber


pada :
1. Individual asset, adalah asset yang ada pada
setiap individu masyarakat dilaklukan cara
interview bertujuan agar terjadi pemetaan skill
individu. Diharapkan ditemukan kemampuan-
191
kemampuan pribadi pada masyarakat pada
berbagai macam kemampuan provesi, seperti
ahli pertukangan, mekanik, guru dan
sebagainya.
2. Social asset, adalah asset yang bersumber dari
kelompok masyarakat yang sudah membentuk
kelompok atau akan di kelompokkan dari
individual asset yang kebanyakan merupakan
asset dalam dan merupakan asset yang
bersumber kearifan lokal. Seperti kelompk
petani, kelompok pembuat gerabah, kelompok
pembuat emas, kelompok pembuat handycraf
dan sebagainya.
3. Natural asset, yaitu asset masyarakat yang
bersumber karena musim atau waktu. Waktu
panen padi atau musim membuat batu bata,
musim cocok tanam jagung, kacang dan alian
sebagainya. Natural asset didasarka pada musim
atau ditentukan wktu /time line.
4. Pysical asset,yaitu asset yang dibentuk dari
komunitas masyaarkat searah dengan
berjalannya waktu. Asset ini timbul karena tidak
192
disengaja timbul karena kebutuhan yang
mendadak, asset yang terbentuk karena kondisi
masyarakat dan adanya daya dorong dari
pemerintah atau pihak lain seperti terbentuknya
gerakan anti Covid-19 karena pemerhati
kesehatan masyarkat,

193
gerakan anti narkoba karena pemerhati kesehatan dan moral
masyarakat, dan seterusnya.
5. Financial Asset, yaitu aset tak wujud yang
memiliki nilai karena adanya klaim kontrak,
dalam bentuk deposito bank, obligasi,
reksadana, sertifikat deposito dan saham. Aset
keuangan biasanya lebih likuid daripada aset
wujud, seperti tanah atau real estat (lahan
yasan), dan diperdagangkan di pasar keuangan.
Menurut International Financial
Reporting Standards (IFRS), aset keuangan
memiliki beberapa definisi:

• Uang tunai atau setara dengan uang tunai;


• Instrumen ekuitas lembaga lain;
• Hak kontrak untuk menerima uang tunai
atau aset keuangan lainnya dari lembaga lain
atau bertukar aset keuangan atau kewajiban
keuangan dengan lembaga lain sesuai syarat
yang bisa menguntungkan lembaga tersebut;
• Kontrak yang akan atau bisa diselesaikan
dengan instrumen ekuitas lembaga dan

194
bukan merupakan non-derivatif yang karena
itu lembaga tersebut wajib atau mungkin
diwajibkan menerima sejumlah instrumen
ekuitas lembaga, atau derivatif yang akan
atau bisa diselesaikan dengan cara selain
pertukaran uang tunai atau aset keuangan
lainnya dalam jumlah tetap dengan
instrumen ekuitas lemabga dalam jumlah
tetap. (Wikipedia, 2020)
Contoh Financial Asset dalam konsep Customer
Service adalah apa yang disebut The Leaky Bucket yang
mengibaratkan bisnis dan pemasukan sebagai ember dan air.
Bisnis apapun mempunyai potensi penurunan
omset/pemasukan, seperti jumlah air di dalam ember yang
bocor (berlubang) yang akan berkurang jika kebocoran
bertambah banyak, bertambah besar, dan tidak segera
ditambal. Penyebabnya lubang-lubang di ember bisa berasal
dari internal dan eksternal. (Heria Windasuri, Hyacintha
Susanti, dan Business Growth Team, 2017).
Begitu juga asset yang dimiliki masyarakat ada niilai
tukar positif dan negatifnya, untung dan ruginya. Setiap yang
dimiliki masyarakat ada nilai keseimbangan neraca untung
195
rugi, maka tugas seorang fasilitator untuk

196
mengarahkan bagaimana asset financy ini dapat
menguntungkan masyarakat..
f. Dream (Impian)
Dengan cara kreatif dan secara kolektif
melihat masa depan yang mungkin terwujud, apa
yang sangat dihargai dikaitkan dengan apa yang
paling diinginkan. Seperti apa masa depan yang
dibayangkan oleh semua pihak? Jawaban bisa
berupa harapan atau impian. Sebuah mimpi atau visi
bersama terhadap masa depan yang bisa terdiri dari
gambar, tindakan, kata-kata, lagu, dan foto. Pada
tahap ini, masalah yang ada didefinisikan ulang
menjadi harapan untuk masa depan dan cara untuk
maju sebagai peluang dan aspirasi.
Dalam konsep sosial dream dapat dilakuan
dengan linking and mobilizing, seperti diagram
hambar di bawah ini :

197
Menggubungkan antara aset lokal dengan
impian/visi komunitas, siapapun (dari masyarakat)
dapat masuk dan bergabung dalam unit organisasi
dari masyarakat yang punya hobi, gereget, keahlian,
kemampuan, gairah untuk melakukan aksi
mewujudkan mimpi. Dari sini kita dapat memetik
buah dari sebuah pohon mimpi yaitu denga
mengidentifikasi semua melalui asset komunitas
dengan prioritas.
Ada 2 katagori prioritas dalam mewujudkan
dream, yaitu
1. Low hanging fruit (buah yang menggantung
rendah) artinya prioritas visi, misi dan tujuan

198
yang mudah untuk dicapai dengan
mengidentifikasi kesempatan apa yang dapat
dengan mudah diraih dengan hanya melihat
semua asset.
2. High hanging fruit (buah yang menggantung
tinggi) merupakan tujuan jangka panjang yang
membutuhkan waktu lebih dalam pencapaiannya.

199
Design (Merancang)

Proses di mana seluruh komunitas


(kelompok) terlibat dalam proses belajar tentang
kekuatan atau aset yang dimiliki agar bisa mulai
memanfaatkannya dalam cara yang konstruktif,
inklusif dan kolaboratif untuk mencapai aspirasi dan
tujuan seperti yang sudah ditetapkan bersama.
Untuk design sebaiknya fasilitator
melakukan pemilahan komunitas menjadi sub
komunitas. Pada Individual asset, seperti ada sarjana
pertanian, sarjana ekonomi, tukang kayu, tukang
sayur dapat diberikan design untuk emmebuat
kompos. Pada Social asset pada komunitas asosiasi
petai padi, asosiasi petambak bandeng, asossiasi
petani tembakau, Anshor, NU, Muhammadiyah,
Fatayat, Muslimat, Aisiyah danlain sebagainya.
Natural asset, yaitu komunitas masyarakat yang
berada pada seling musim atau tempat seperti
masyarakat pinggir pantai, masyarakat kaki gunung,
masyarakat pinggir sungai, masyarakat bukit
gunung, masyarakat bawah jembatan dan lain

200
sebagainya. Pysical asset, kepunyaan masyarakat
pada balai desa, puskesmas, jalan raya, jalan yang
lebih dekat dengan kecamatan, sekolah, masjid,
gereja, pos keamanan/pos kamtib, pos jagasawa,
balai pertemuan dan rigasi air yang baik, dan
sebagainya. Financial Asset, adanya jaminan
keuangan yang memadai dari hulu ke hilir, adanya
tabungan masyarakat di tabungan desa, tabungan
simpan pinjan di kooperasi desa atu BUMDES.
Dalam design ada beberapa yang harus di
prioritaskan dalam langkah kedepan :
1. Low hanging fruit (buah yang menggantung
rendah) artinya prioritas jangka pendek yang
diperioritaskan untuk menu kesuksesan bidang
(contoh) pertanian, maka dalam langkah
memaksimalkan hasil pertanian adalah:
• Menggerakkan beberapa asosiasi komunitas
• Memetakan deversitas tanaman dan ternak
• Sistem pengolahan sampah terpadu
• Pembuatan pupuk kompos
• Penggantian jenis tanaman setelah panen

201
• Pembersihan sungai
Rencana asset yang akan didayagunakan
adalah
• Tanah desa/masyarakat
• Peralatan pertanian

202
• Tenaga kerja
• Kearifan lokal
• Sungai
• Air terjun kecil di sungai
• Ahli dibidang kompos
2. High hanging fruit (buah yang menggantung
tinggi) merupakan prioritas jangka panjang
yang membutuhkan waktu lebih dalam
pencapaiannya. Kita buat program eduwisata
desa, maka langka yang ditempuah adalah
• Penanaman biodiversitas jagung, padi, buah-
buahan, dll
• Penanaman spesies tanaman langka
• Perencanaan tempat parkir
• Perencanaan akses jalan dengan dinas terkait
• Pengembangan BUMDES
Asset yang akan didayagunakan adalah
• Pemuda desa yang lulusan agribisnis, arsitek,
biologi atau pertanian
• Spesies tanaman langkah asli desa Destiny
(Lakukan)
Serangkaian tindakan inspiratif yang

203
mendukung proses belajar terus menerus dan
inovasi tentang “apa yang akan terjadi”. Hal ini
merupakan fase akhir yang secara khusus fokus
pada cara-cara personal dan organisasi untuk
melangkah maju. Dalam banyak kasus, apreciative
inquiry menjadi kerangka kerja bagi kepemimpinan
dan pengembangan organisasi yang terus menerus.
Destiny merupakan rangkaian akhir dalam
mewujudkan mimpi dengan cara gotong royong,
bersama-sama menggapai visi, misi dan tujuan
komunitas. Fasilitaor berusaha agar kelompok inti
masyarakat membuat komitmen yang jelas dan
keterlibatnnya dalam kegiatan, dengan adanya
pemimpin berkredibilitas akan membawa ide yang
banyak diikuti masyarkat.
Jika aset dan kesempatan yang mudah yang
difokuskan tercapai dan sukses maka masyarakat
akan mencoba proyek lain yang lebih besar dengan
ide yang lebih cemerlang.

204
g. Analisis
Agar tahapan dalam perencanaan dapat
maksimal, diperlukan sebuah analisis harapan, dalam hal
ini yang (menurut penulis cocok) adalah analisis SOAR
(strengths, opportunities, aspirations, results) yang
didengungkan oelh Stavros, J. & Hinrichs, yang berasal
dari pendekatan Appreciative Inquiry (AI), diharapkan
dari faktor-faktor strategis yang menggambarkan
bagaimana kekuatan dan peluang eksternal yang yang
dihadapi masyarakat komunitas dapat disesuaikan
dengan aspirasi dan hasil terukur yang dimilikinya.
• Strength
Secara bahasa berarti kekuatan. Yang mana
dalam kekuatan ini, kita mengukur dari kekuatan
yang ada pada diri kita masing-masing. Kita di
tuntut untuk mengidentifikasi kekuatan apa yang
ada pada diri kita, yang nantinya itu akan dijadikan
modal awal kita untuk melanjutkan ke jenjang
selanjutnya. Kekuatan kita merupakan asset terbesar
dalam diri kita. Jadi perlu kemaksimalan dalam
mengorganisir asset yang kita miliki.

205
• Opurtunity
Sebuah peluang dari apa yang itu bisa
memungkinkan untuk bisa kita aplikasikan. Kata
peluang yang bermakna suatu momentum dimana
kita mampu untuk memanfaatkan apa dari
kesempatan yang ada didepan kita.
• Aspirations
Aspirasi merupakan suatu langkah
bagaimanakah masa depan yang kita inginkan. Jadi
ini merupakan suatu bentuk gambaran mengenai apa
yang kita harapkan, inginkan untuk meraih masa
depan
• Result
Result merupakan suatu hasil. Yakni suatu
bentuk kinerjaatau action yang kita lakukan dan itu
membuahkan suatu hasil. Hasil sendiri tentu ada
bentuknya, bukti dsb. Maka kemudian, dari hasil-
hasil yang tersebut kita dapat diukur dan
membuktikan tentang apa yang ada pada diri kita
masing-masing.
Model SOAR mengubah analisis SWOT, yang
sudah sangat mapan, dalam hal faktor-faktor
206
kekurangan (weakness) internal organisasi serta
ancaman (threats) eksternal yang dihadapinya
ke dalam faktor- faktor aspirasi (aspiration)
yang dimiliki perusahaan serta hasil (results) terukur
yang ingin dicapai. Model analisis ini beranggapan
bahwa faktor kekurangan dan ancaman dapat
memunculkan perasaan negatif bagi para anggota
organisasi, sehingga menurunkan motivasi mereka
untuk berbuat yang terbaik. Dalam kerangka kerja
SOAR, sebanyak mungkin stakeholder dilibatkan, yang
didasarkan pada integritas para anggotanya. Masalah
integritas menjadi sangat penting karena para
stakeholder harus menyadari asumsi-asumsi yang
menjadi dasar penggerak bagi para pemimpin organisasi
1) Tahapan Analisis

207
Analisis SOAR bagi perencanaan strategis

208
dimulai dengan initiate (keputusan untuk memilih
SOAR kemudian dilanjutkan dengan penyelidikan
(inquiry) yang menggunakan pertanyaan positif
guna mempelajari nilai- nilai inti, visi, kekuatan,
dan peluang potensial. Dalam fase ini pandangan-
pandangan dari tiap anggota organisasi dihargai.
Penyelidikan juga dilakukan guna memahami secara
utuh nilai-nilai yang dimiliki oleh para anggota
organisasi serta hal-hal terbaik yang pernah terjadi
di masa lalu.
Kemudian anggota organisasi dibawa masuk
ke dalam fase imajinasi, memanfaatkan waktu untuk
“bermimpi” dan merancang masa depan yang
diharapkan. Dalam fase ini, nilai-nilai diperkuat,
visi dan misi diciptakan. Sasaran jangka panjang dan
alternatif strategis dan rekomendasi diumumkan.

209
Fase selanjutnya adalah inovasi, yaitu
dimulainya perancangan sasaran jangka pendek,
rencana taktikal dan fungsional, program, sistem,
dan struktur yang terintegrasi untuk mencapai
tujuan masa depan yang diharapkan

h. Matrix SOAR
Matrix Analisis SOAR dibagi menjadi 4 kondisi
sebagai berikut :

Matrik SOAR berfungsi untuk menyusun


faktor-faktor strategis yang menggambarkan
bagaimana kekuatan dan peluang eksternal yang
dihadapi kominitas dapat disesuaikan dengan
aspirasi dan hasil terukur yang dimilikinya (Sari &

210
Setiawan, 2021).
Penjelasan matrix SOAR:
• Strategi SA : strategi ini dibuat dengan
memanfaatkan seluruh kekuatan untuk mencapai
aspirasi yang diharapkan
• Strategi OA : strategi ini dibuat untuk
mengetahui dan memenuhi
aspirasi dari setiap stakeholder yang beriorientasi
kepada peluang yang ada
• Strategi SO : strategi ini dibuat untuk
mewujudkan kekuatan untuk
mencapai Hasil yang terukur
• Strategi OR : Strategi ini beriorientasi kepada
Peluang untuk mencapai Result yang sudah
terukur

211
(Stavros, J. & Hinrichs, G, 2009)

i. Pemanfaatan Hasil
Manfaat sebuah metode dapat diketahui setalah
adanya monitoring dan evaluasi. Pada tahap ini
merupakan tahap terakhir dari sebuah kegiatan yang
menggunakan metode ABCD, karena dalam tahap ini
sudah diketahui sejauh mana metode ABCD membawa

212
dampak perubahan terhadap komunitas masyarakat.
Monitoring diperlukan karena untuk mengetahui
tentang seberapa besar anggota organisasi atau
komunitas mampu menemukan dan memobilisasi secara
produktif aset mereka mendekati tujuan bersama. Empat
pertanyaan kunci Monitoring dan Evaluasi dalam
pendekatan berbasis aset adalah (Dureau, 2013):
1) Apakah komunitas sudah bisa menghargai dan
menggunakan pola pemberian hidup dari sukses
mereka di masa lampau?
2) Apakah komunitas sudah bisa menemukenali dan
secara efektif memobilisasi aset sendiri yang ada dan
yang potensial (keterampilan, kemampuan, sistem
operasi dan sumber daya?)
3) Apakah komunitas sudah mampu mengartikulasi dan
bekerja menuju pada masa depan yang diinginkan
atau gambaran suksesnya?
4) Apakah kejelasan visi komunitas dan penggunaan
aset dengan tujuan yang pasti telah mampu
memengaruhi penggunaan sumber daya luar
(pemerintah) secara tepat dan memadai untuk
mencapai tujuan bersama?
213
Setelah beberapa pertanyaan diatas
terjawab maka perlu ada beberapa pertanyaan
lanjutan yaitu: (B. Peters, M. Gonsamo, & S.
Molla, 2011)
1) Bagaimana cara memonitor dan mengevaluasi
pendekatan berbasis aset untuk pengembangan
masyarakat?
2) Perubahan apa yang ingin dilihat masyarakat ketika
komunitas menggunakan pendekatan berbasis aset
ketimbang pendekatan lain?
3) Bagaimana masyarakat akan tahu bahwa pendekatan ini
telah berhasil?
4) Bagaimana cara membantu anggota masyarakat
memantau dan mengevaluasi perubahan yang
terjadi dalam komunitasnya sebagai hasil dari kerja
kerasnya?
5) Bagaimana cara akan memastikan bahwa metode
monitoring dan evaluasi yang digunakan akan
membantu orang membuat keputusan yang lebih
baik mengenai perubahan di masa depan?
6) Bagaimana cara dapat membantu mereka
(komunitas masyarakat) memutuskan informasi apa
214
yang akan dikumpulan?
Ringkasan singkat keterlaksanaan program kerja
dapat dirumuskan dalam tabel yang hasilnya harus
disampaikan kepada komunitas agar warga bisa
mendesain dan merencanakan lagi langkah kedepan
sebagai tindak lanjut upaya pencapaian mimpi
komunitas tersebut. Dalam kegiatan (contoh) KKN,
tahap ini merupakan tahap terakhir yang harus dilalui
sehingga setelah program KKN usai, komunitas sudah
memiliki arah pandangan program kerja kedepan untuk
mewujudkan mimpi mereka.
Pemanfaatan hasil Metode ABCD dalam
aplikasinya adalah pada refleksi kegiatan itu sendiri
setelah diadakan evaluasi dan monitoring. Pada (contoh)
KKN yang diadakan oleh intitusi perguruan tinggi,
pemanfaatan hasil ada pada ;
1) Masyarakat/komunitas/pemerintah
 Adanya peningkatan hasil berupa
kesejahateraan pada masyarakat/
komunitas/pemerintah dibidang yang targetkan;
agama, sosial, ekonomi, budaya, seni,
kesehatan, kreativitas dan optimaslisasi peran.
215
 Pemberian bantuan pemikiran dan tenaga dalam
pemecahan masalah pembangunan daerah
setempat.
 Pola pikir dalam merencanakan, merumuskan,
melaksanakan berbagai program pembangunan,
khususnya dipedesaan yang kemungkinan
masih dianggap baru bagi masyarakat setempat.

216
 Tumbuhnya dorongan potensi dan inovasi di
kalangan anggota masyarakat setempat dalam
upaya memenuhi kebutuhan lewat pemanfaatan
ilmu dan teknologi.
2) Dosen
 Adanya pemanfaatan untuk karya ilmiah
pengabdian mayarakat,
 Adanya pemanfaatan untuk karya ilmiah penelitian
 Adanya pemanfaatan untuk Hak Cipta Produk;
HAKI, ISBN
 Mendapatkan pendanaan pada penelititian dan
pengabdian pada mayarakat dari pemerintah
atau instansi.
 Berperan sebagai aktor tokoh utama terhadap
keberhasilan mewujudkan mimpi mahasiswa
dan masyarakat karena dosen bertugas mulai
dari orientasi dan pengamatan wilayah,
memperlancar proses pendekatan sosial ke
masyarakat, menjadi penghubung antara
mahasiswa dengan Tim Pelaksana, pemerintah
dan masyarakat, membangun timbulnya
kreatifitas, menampung permasalahan dan

217
hambatan yang dihadapi, memantau,
mengendalikan, mengarahkan dan mengawasi
kegiatan, membimbing pembuatan laporan, dan
melakukan evaluasi.
3) Mahasiswa
 Mahasiswa dapat memenfaatkan metode ini
untuk bekal pengalaman hidup di masyarakat,
 memenuhi target SKS yang diinginkan oleh
Lembaga,
 membentuk sikap dan rasa cinta, kepedulian
sosial, dan tanggung jawab mahasiswa
terhadap kemajuan masyarakat.
 Memberikan keterampilan kepada mahasiswa
untuk melaksanakan program- program
pengembangan dan pembangunan.
 Membina mahasiswa
agar menjadi seorang in
ovator, motivator, dan
problem solver.
4) dan Lembaga institusi
 Institusi/lembaga dapat manfaat sebgai
pelaksana tridharma perguruan tinggi, sebagai

218
corong pembangunan di masyarakat,
 Melalui mahasiswa/ dosen pembimbing,
diperoleh umpan-balik sebagai pengayaan
materi kuliah, penyempurnaan kurikulum, dan
sumber inspirasi bagi suatu rancangan bentuk
pengabdian kepada masyarakat yang lain atau
penelitian.

219
 Diperolehnya bahan masukan bagi peningkatan
atau perluasan kerjasama dengan pemerintahan
setempat, termasuk dengan instansi vertikal
yang terkait.

DAFTAR PUSTAKA

B. Peters, M. Gonsamo, & S. Molla. (2011). Capturing


Unpredictable and Intangible Change:Evaluating an
Asset-Based Community Development (ABCD) Approach
in Ethiopia (Coady . Ethopia: Coady Occasional Paper.
Cunningham, Gord [Link]. (2012). Mobilizing Assets for
Community-Driven Development. Participant Manual,
Coady International Institute.
Dureau, C. (2013). Pembaru dan kekuatan lokal untuk
pembangunan. Australian Community Developmentand
Civil Society Strengthening Scheme (ACCESS) Tahap II
(hal. 96-97). Australia: -.
Harianto, G. P., Rusijono, R., Masitoh, S., & Setyawan, W. H.
(2020). Collaborative-Cooperative Learning Model to
Improve Theology Students’characters: Is it Effective?
Jurnal Cakrawala Pendidikan, 39(2).
[Link]
Heria Windasuri, Hyacintha Susanti, dan Business Growth
Team. (2017). Excellent Service: The Secrets of Building a
Service Organization. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
220
Utama.
Sari, H. P., & Setiawan, W. H. (2021). Peningkatan Teknologi
Pendidik Pesantren Anak Sholeh melalui MEMRiSE:
Coaching & Training. Prima Abdika: Jurnal Pengabdian
Masyarakat, 1(3), 81–90. [Link]
[Link]/[Link]/abdika/article/view/1123
Saptaria, L., & Setyawan, W. H. (2021). Desain Pembelajaran
Technopreneurship Untuk Meningkatkan Motivasi
Berwirausaha Mahasiswa Uniska Kediri. Prima Magistra:
Jurnal Ilmiah Kependidikan, 2(1), 77–89.
[Link]
Stavros, J. & Hinrichs, G. (2009). The thin book of SOAR:
Building strengths-based strategy. Bend: Thinbook
Publishing.
Stream. (2021, September 8). Panduan Kerja Lebih Baik
(Better-Practice. Dipetik Desember 29, 2021, dari
[Link]/publications/livelihoods-gender-
social/stream/bpg/ts/indonesia/[Link]:
[Link]
Wikipedia. (2017, Januari 29). Heliotropik. Dipetik Desember
29, 2021, dari wikipedia:
[Link]
Wikipedia. (2020, Oktober 31). Dipetik Januari 3, 2022, dari
[Link]

221
222
Khoiruddin, dilahirkan di Lamongan, 08
Agustus 1971. Lulus S1 pada program
studi Ilmu Sosiologi di Universitas Darul
‘Ulum Jombang. Lulus S2 pada program
studi Magister Ekonomi Pembangunan di
Universitas Darul ‘Ulum Jombang.
Pernah sebagai peserta Pelatihan
Manajemen Perguruan Tinggi, Pelatihan
Kearsipan Nasional Perguruan Tinggi, Pelatihan Kearsipan
Modern Nasional Perguruan Tinggi, Pelatihan dan Assesor
Audit Mutu Internal Perguruna Tinggi dansebagai Assesor
Manajemen Perkantoran Modern di LSP ABP MODERN.
Meniti karir sebagai dosen di Universitas Darul ‘Ulum Jombang
sejak tahun 2017 sampai sekarang. Mengampu mata kuliah
Sistem Ekonomi, dan Aplikasi Komputer Ekonometrika. Aktif
sebagai penulis dan redaktur jurnal di lingkungan Univeritas
Darul ‘Ulum. Aktif sebagai pembina di berbagai Koperasi dan
Kelompok UMKM di wilayah Jombang dan sekitarnya. Aktif
sebagai pembicara ke tata usahaan dan kearsipan di berbagai
lembaga di wilayah Kabupaten Jombang. Aktif menulis di
berbagai media massa elektronik seperti warta transparansi.
Pernah menjabat sebagai Kepala Biro Akademik dan saat ini
223
menjabat sebagai Kepala Biro Administrasi Umum Universitas
Darul ‘Ulum Jombang.

224
BAB 7
Teknik Fasilitasi Partisipatif Metode ABCD
BAB 7 Teknik Fasilitasi Partisipatif Metode ABCD

Metode atau teknik fasilitasi partisipatif ABCD


disusun untuk memberikan pemahaman yang lebih praktis
terkait konsep dan praktik fasilitasi terhadap masyarakat. Di
Bab 7 ini akan dujelaskan tentang arti dan tujuan fasilitasi,
pentingnya fasilitasi partisipatif dan peran fasilitator dalam
fasiliotasi partisipatif

a. Arti dan Tujuan Fasilitasi

Fasilitasi (dari kata Facile, Bahasa Perancis dan


Facilis, Bahasa Latin) artinya mempermudah (to facilitate =
to make easy). Beberapa definisi mengetakan bahwa
fasilitasi atau mempermudah adalah pembebasan dari
kesulitan dan hambatan, membuat suatu hal menjadi lebih
mudah, mengurangi pekerjaan, membantu. Fasilitasi adalah
tentang proses, bagaimana anda melakukan sesuatu,
ketimbang isinya, apa yang Anda lakukan. Fasilitator adalah
pemandu proses, seseorang yang membuat sebuah proses
lebih mudah atau lebih yakin untuk menggunakannya
(Hunter et Al., 2018).

Fasilitasi adalah segala suatu yang menjadi sarana

225
pendukung di berbagai aktivitas agar tujuan kegiatan dapat
lebih mudah tercapai. Pola pendukungan dan bantuan dalam
konteks pemberdayaan masyarakat dikenal dengan istilah
“pendampingan”. Secara harfiah pengertian ini merujuk
pada upaya memberikan kemudahan, kepada siapa saja
untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Biasanya
tindakan ini diikuti dengan pengadaan personil, tenaga
pendamping, relawan atau pihak lain yang berperan
memberikan penerangan, bimbingan, terapi psikologis, dan
penyadaran agar masyarakat yang tidak tahu menjadi tahu
dan sadar untuk berubah.

Dalam situasi kritis, peran pendampingan tidak


hanya memberikan kemudahan terhadap berbagai akses
bantuan saja tetapi secara proaktif melakukan intervensi
langsung kepada masyarakat. Di sisi inilah fasilitator
mencoba mengambil peran sebagai perantara atau katarsis
untuk mempercepat proses belajar dan peningkatan
kesejahteraan.

Dalam konteks pembangunan masyarakat (civil


society) kegiatan fasilitasi dilakukan oleh tenaga khusus
yang bertugas ;

Pertama, membina kelompok masyarakat yang


terkena krisis sehingga menjadi suatu kebersamaan tujuan
dan kegiatan yang berorientasi pada upaya perbaikan
kehidupan;

226
Kedua, sebagai pemandu atau fasilitator,
penghubung dan penggerak (dinamisator) dalam
pembentukan kelompok masyarakat dan pembimbing
pengembangan kegiatan kelompok. Dalam upaya
mewujudkan otonomi dan kemandirian masyarakat perlu
bimbingan atau pendampingan. Fasilitator biasanya identik
dengan tugas pendampingan tersebut. Ketiga mempermudah
penggalian potensi, masalah, gagasan dalam rangka
pemecahan masalah. Keempat tererciptanya kemandirian
bentuk kegiatan masyatakat dalam mengatasi permasalahan
yang dihadapi dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki.
Kelima memberikan pengetahuan dan kelayakan dalam
mengelola asset socity; kegiatan perekonomian,
sosial, budaya, sehingga diharapkan akan
meningkatkan kualitas produk dan produktifitasnya.

Ketujuh, menjembatani masyarakat dalam rangka


mengenalkan produk mereka kepada masyarakat lain.
a. Fasilitasi dan Pendampingan
Fasilitasi seringkali digunakan secara bersamaan
dengan pendampingan yang merujuk pada bentuk
dukungan tenaga dan metodologi dalam berbagai
program pembangunan dan pengentasan kemiskinan.
Fasilitasi menjadi inti dari kegiatan pendampingan
yang dilakukan oleh tenaga khusus untuk membantu
masyarkat dalam berbagai sektor pembangunan.
Kegiatan pendampingan dilakukan dalam upaya
mendorong partisipasi dan kemandirian masyarakat.

227
Istilah pendampingan berasal dari kata kerja
“mendampingi” yaitu suatu kegiatan menolong yang
karena sesuatu sebab butuh didampingi. Sebelum itu
istilah yang banyak dipakai adalah “Pembinaan”.
Ketika istilah pembinaan ini dipakai terkesan ada
tingkatan yaitu ada pembina dan ada yang dibina,
pembinaan adalah orang atau lembaga yang
melakukan pembinaan. Kesan lain yang muncul
adalah pembina adalah pihak yang aktif sedangkan
yang dibina pasif atau pembina adalah sebagai subyek
dan yang dibina adalah obyek. Oleh karena itu ketika
istilah pendampingan dimunculkan, langsung
mendapat sambutan positif dikalangan praktisi
pengembangan masyarakat. Karena kata
pendampingan menunjukkan kesejajaran (tidak ada
yang satu lebih dari yang lain), yang aktif justru yang
didampingi sekaligus sebagai subyek utama,
pendampingan lebih bersifat membantu saja.
Pendampingan merupakan aktivitas yang selalu
dilakukan oleh kelompok-kelompok sosial seperti
pengajaran, pengarahan atau pembinaan dalam
kelompok dan bisa menguasai, mengendalikan serta
mengontrol orang-orang yang mereka dampingi.
Karena dalam pendampingan lebih pada pendekatan
kebersamaan, kesejajaran, atau kesederajatan
kedudukan. (BPKB, 2001).
Pendampingan yang dimaksud dalam tulisann
ini adalah model atau cara (suatu set peraturan) dalam
228
suatu aktivitas yang dilakukan dan dapat bermakna
pembinaan, pengajaran, pengarahan dan
mengembangkan diberbagai potensi yang dimiliki
oleh para pekerja rumah tangga dengan menempatkan
tenaga pendamping sebagai fasilitator, komunikator
dan dinamisator sehingga pekerja rumah tangga
mampu mencapai kualitas kehidupan yang lebih baik.
Kegiatan pendampingan menjadi salah satu
bagian dalam proses pemberdayaan masyarakat.
Dalam pendampingan dibutuhkan tenaga yang
memiliki kemampuan untuk mentransfer pengetahuan.
Sikap dan perilaku tertentu kepada masyarakat.
Disamping itu, perlu dukungan dan sarana
pengembangan diri dalam bentuk latihan bagi para
pendamping.
Di Indonesia, kegiatan pendampingan dilakukan
melalui:
i. Pendampingan lokal yang terdiri dari
tokoh masyarakat, kader PKK, aparat
desa, pemuda, Kader Pembangunan
Desa (KPD) dan pihak lain yang peduli
terhadap masalah kemiskinan, seperti
perguruan tinggi, organisasi masyarakat
dan lembaga swadaya masyarakat.
ii. Pendamping teknis yang dipilih dari
tenaga penyuluh departemen teknis,
diantaranya; Departemen Kehutanan,
Departemen Pertanian (Penyuluhan

229
Pertanian Lapangan atau PPL), dan
penyuluhan pertanian spesialis atau
PPS, Departemen Sosial, Petugas Sosial
Kecamatan atau PSK dan Karang
Taruna, Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Sarjana Penggerak
Pembangunan Pedesaan atau SP3) dan
lainnya.
iii. Pendamping khusus disediakan bagi
masyarakat miskin di desa tertinggal
dengan pembinaan khusus. Pendamping
ini diprogramkan malalui program
khusus seperti; Konsultan Pendamping
untuk Proyek P3DT Swakelola dengan
koordinasi Bappenas, Bangda, dan
PMD. Penanganan masalah pengungsi,
seperti pengadaan tenaga lapangan atau
relawan untuk penanganan konflik,
bimbingan khusus pengungsi.
Tujuan pendampingan adalah pemberdayaan.
Pemberdayaan berarti mengembangkan kekuatan atau
kemampuan (daya), potensi, sumber daya manusia
yang ada pada diri manusia agar mampu membela
dirinya sendiri. Didalam kegiatan pendampingan perlu
memiliki tujuan dan sasaran yang jelas dan dapat
dilihat dari hasilnya.
Banyak cara melakukan pendampingan dan
salah satunya melalui kunjungan ke lapangan, tujuan
230
kunjungan kelapangan ini adalah membina hubungan
kedekatan dengan masyarakat, kedekatan dapat
menimbulkan kepercayaan antara pendamping dengan
yang didampingi. (Thamrin, 1996).
Menurut (DEPTAN, 2004), tujuan dari
pendampingan antara lain:
a) Memperkuat dan memperluas kelembagaan
yang sedang dijalankan
dimasyarakat.
b) Menumbuhkan dan menciptakan strategi agar
berjalan dengan lancar dan tercapai tujuan yang
dijalankan.
c) Meningkatkan peran serta aparat maupun t
okoh masyarakat dalam
melaksanakan program pendampingan.
2) Metode Fasilitasi
Didalam proses pelaksanaan
fasilitasi/pendampingan harus memiliki metode
fasilitasi/pendampingan sesuai dengan keadaan
masyarakat didampinngi. Metode
fasilitasi/pendampingan ini merupakan proses
kegiatan agar terjadinya fasilitasi/pendampingan,
metode fasilitasi/pendampingan yang biasa digunakan
dalam kegitan pendampingan yaitu : (Aditya, 2010)
a) Konsultasi

231
Konsultasi adalah upaya pembantuan yang diberikan
pendamping terhadap masyarakat dengan cara memberikan
jawaban, solusi dan pemecahan masalah yang dibutuhkan oleh
masyarakat.
b) Pembelajaran
Pembelajaran adalah alih pengetahuan dan sistem nilai
yang dimiliki oleh pendamping kepada masyarakat dalam
proses yang disengaja.
c) Konseling
Konseling adalah membantu menggali semua masalah
dan potensi yang dimiliki dan membuka alternatif-alternatif
solusi untuk mendorong masyarakat mengambil keputusan
berdasarkan pertimbangan yang ada dan harus berani
bertanggung jawab bagi kehidupan masyarakat.
3) Prinsip-Prinsip Fasilitasi
a) Prinsip keswadayaan masyarakat/ Partisipasi
Masyarakat
Yakni dengan memberi motivasi dan
mendorong untuk berusaha atas dasar kemauan dan
kemampuan mereka sendiri serta tidak selalu
tergantung pada bantuan luar.
Partisipasi masyarakat dalam pemberdayaan
dipahami sebagai upaya membangun ikatan atau
hubungan yang menekankan pada tiga aspek;
(1) Partisipasi diarahkan pada fungsi kemandirian,
termasuk sumber-sumber, tenaga serta
manajemen lokal.
(2) Penekanan pada penyatuan masyarakat sebagai
232
suatu kesatuan; terlihat dari adanya
pembentukan organisasi lokal termasuk di
dalamnya lembaga adat yang
bertanggungjawab atas masalah sosial
kemasyarakatan.
(3) Keyakinan umum mengenai situasi dan arah
perubahan sosial serta masalah-masalah yang
ditimbulkannya. Aspek khusus dalam
perubahan sosial yang menjadi pemikiran
pokok berbagai program pembangunan
masyarakat, yaitu adanya ketimpangan baik di
dalam maupun di antara komunitas tersebut.
Melalui strategi “pengembangan
masyarakat” diharapkan pemberdayaan masyarakat
adat dapat berlangsung secara dinamis sesuai
dengan kondisi sosio budaya, politik dan ekonomi
masyarakat yang bersangkutan serta hubungan
dengan komunitas lainnya. Pendampingan sosial
tidak saja berkaitan dengan terpenuhinya
kebutuhan dasar. Pengembangan sumber daya
manusia, atau penguatan kelembagaan tetapi juga
berkaitan dengan pengembangan kapasitas
masyarakat untuk melepaskan diri dari belenggu
perbedaan rasial, ketidakseimbangan kelas dan
gender, serta menghapuskan penindasan mayoritas.
b) Prinsip berkelompok.
Kelompok tumbuh dari, oleh dan untuk
kepentingan masyarakat. Melalui kerja-kerja yang
233
dilakukan secara berkelompok, apa yang
diinginkan akan lebih mudah untuk diwujudkan.
Selain itu sebuah kelompok dapat menjadi basis
kekuatan (posisi tawar), baik untuk membangun
jaringan, maupun untuk bernegosiasi.
c) Prinsip kerja jaringan.

234
Selain menjalani dengan anggota kelompok
sendiri, kerja sama juga dikembangkan antar
kelompok dan mitra kerja lainnya. Kerjasama itu
diwujudkan dalam sebuah jaringan yang
mempertemukan berbagai kepentingan antar
kelompok. Jaringan kerja yang besar dan solid
dengan sendirinya memberikan kekuatan pada
masyarakat.
d) Prinsip keberlanjutan.
Kegiatan penumbuhan inisiatif,
pengembangan diorientasikan pada terciptanya
sistem dan mekanisme yang akan mendukung
dalam pemberdayaan masyarakat secara
berkelanjutan. Berbagai kegiatan yang dilakukan
merupakan kegiatan yang berpotensi untuk
berlanjut dikemudian hari.
e) Prinsip belajar menemukan sendiri.
Kelompok dalam masyarakat tumbuh dan
berkembang atas dasar kemauan dan kemampuan
mereka untuk belajar menemukan sendiri, apa yang
mereka butuhkan dan apa yang akan mereka
kembangkan. Termasuk untuk mengubah
penghidupan dan kehidupannya.
f) Berbasis Nilai dan Moral
Pendampingan tidak hanya dipandang
sebagai upaya pemenuhan kebutuhan dasar hidup
yang bersifat material seperti penyediaan lapangan
kerja, pemenuhan pangan, pendapatan,
235
infrastruktur dan fasilitas sosial lainnya.
Pendamping harus dipandang sebagai upaya
meningkatkan kapasitas intelektual, keterampilan
dan “sikap” atau nilai yang dijunjung tinggi.
Pendampingan dilakukan melalui
pendekatan “manusiawi” dan beradab untuk
mencapai tujuan pembangunan. Artinya, dapat saja
sekelompok orang telah terbangun dalam arti
berada pada standar hidup layak, tetapi dengan
cara-cara yang “tak pantas” dilihat dari perspektif
peningkatan kapasitas masyarakat. Jadi jelas bahwa
pemberdayaan merupakan cara-cara yang beradab
dalam membangun masyarakat.
g) Penguatan Jejaring Sosial
Dalam konteks pendampingan sosial,
aspirasi dan partisipasi masyarakat dapat diperkuat
melalui interaksi dan komunikasi saling
menguntungkan dalam bentuk jejaring
(nerworking). Peningkatan kapasitas suatu
kelompok sulit berhasil jika tidak melibatkan
komunitas lain yang memiliki kepentingan dan
hubungan yang sama. Pengembangan jejaring perlu
dilandasi pada pemahaman terhadap sistem relasi
antar pelaku berbasis komunitas dan lokalitas
dengan asumsi bahwa pelaku memiliki pemahaman
yang sama tentang pengembangan jejaring. Dengan
kata lain, perlu dibangun pemahaman bersama
antarpelaku seperti LSM, Perguruaan Tinggi,
236
Ormas, Bank, Lembaga Sosial, Pemerintah dan
Lembaga Internasional untuk membangun jejaring
sosial.
Proses jejaring membutuhkan implementasi
prinsip-prinsip kesetaraan, bersifat informal,
partisipatif, komitmen yang kuat, sinergisitas dan
upaya membangun kekuatan untuk membantu
masyarakat memecahkan permasalahan dan
menemukan solusi dalam upaya meningkatkan
kesejahteraan (Setyawan et al., 2018).
Kegiatan usaha produktif berbasis
komunitas dan lokalitas diharapkan dapat
melibatkan pelaku atau lembaga lain, seperti
organisasi pemerintah. Keberhasilan jejaring
sebagai media untuk perumusan kebijakan menjadi
sangat penting tetapi ini semua tergantung kepada
komitmen semua pelaku dalam jejaring tersebut.
Peranan pemerintah lokal lebih bersifat
sebagai fasilitator bukan hanya sebagai donatur.
Pemerintah lokal perlu mengalokasikan dana untuk
masyarakat lapisan bawah atau pengusaha kecil di
kawasan ini. Dalam hal ini penguatan kelembagaan
merupakan hal penting dalam pemberdayaan
masyarakat.

b. Pentingnya Fasilitasi Partisipatif


Membangun komunikasi dialogis dan diskusi
237
dalam proses pembelajaran, berbeda dengan mengobrol
dan berbincang tanpa arah. Partisipasi tanpa keterampilan
akan menjadi jargon belaka karena tidak dapat dijalankan
di dalam kenyataan. Keahlian memfasilitasi seringkali
disebut juga sebagai „seni memfasilitasi‟ karena
sebenarnya tidak persis sama seperti jenis
keterampilan lainnya. Ada perpaduan antara penguasaan
teknik dengan unsur-unsur kreativitas, improvisasi,
hubungan antar manusia (human relationship), dan juga
keunikan atau karakteristik setiap fasilitator. Maka
disinilah pentingnya metode, cara, teknik sebuah fasilitasi
partisipasitif yang baik.
Pada intinya, pembelajaran partisipatif maupun
proses komunikasi multiarah, membangun sebuah dialog
di antara anggota masyarakat atau peserta belajar dalam
sebuah hubungan kesetaraan. Tidak ada salah satu pihak
yang dianggap menjadi sumber kebenaran atau memiliki
otoritas terhadap menentukan baik dan benarnya suatu
pemikiran yang digali dari realita kehidupan (Karyoto et
al., 2020). Karena itu, beberapa konsep penting yang
perlu dikenal bahwa dalam menggunakan komunikasi
sebagai pendekatan adalah:
(1) Persepsi (Citra Diri dan Citra Pihak Lain), yaitu
tafsiran dari apa yang kita lihat, dengar, cicipi, cium,
baui, dan raba, dengan pancaindera kita. Contoh
• Ibu: “Aduh, duren ini bau sekali. Membuat saya
mual ”
• Ikra: “Wah, duren ini wangiiii, membuat ngiler....

238
(2) Sikap-nilai, yaitu kecenderungan untuk bereaksi
positif atau negatif terhadap sesuatu yang didasari
oleh nilai-nilai dan pengalaman seseorang. Sikap
merupakan gabungan antara pemikiran, perasaan, dan
anggapan seseorang terhadap suatu hal.
• Seorang ibu mengomeli gaya pakaian anak
remajanya (celana melorot dan kemeja ketat):
“Kenapa pakaian anak-anak jaman sekarang kok
tidak sopan. ”
• Anak: “Ibu sih ketinggalan jaman...
(3) Sikap-perilaku;

239
• Ayah beranggapan menjadi petani seperti dirinya
berarti menjadiorang miskin. Ayah bekerja keras
untuk mengirimkan anaknya sekolah sampai
perguruan tinggi.
• Ibu beranggapan anak perempuan tidak prioritas
bersekolah tinggi. Ibu kurang mendukung anak
perempuannya masuk perguruan tinggi.
(4) Pendapat (Opini). yaitu gagasan yang muncul sebagai
hasil pemikiran subyektif seseorang. Pendapat
merupakan sikap seseorang dalam bentuk kata-kata.
Contoh
• Ayah: “Anak kita terlalu tergantung pada orang tua
dan kurangmandiri...”
• Ibu: “Kita punya anak yang baik, manis dan
penurut....
Beberapa istilah ini digunakan bagi seorang
fasilitator komunikasi untuk memahami cara membangun
komunikasi yang efektif dan positif.

240
Komunikasi Partisipatif (Komunikasi Multi-
Arah) ((Pe-PP) Bappenas, 2007)
Dari sinilah harus diketahui tentang menjadi
fasilitator yang baik. (Aris Slamet Widodo,
Hasanah Safriyani, Sutrisno., 2018)
(1) Sikap Fasilitator
Sikap-sikap yang harus dimiliki oleh seorang
fasilitator meliputi
a) Empati: Ikut merasakan dan menghargai
pengalaman dan perasaan peserta. Tidak
meremehkan peserta dengan hadir sepenuh hati
dan sepenuh tubuh.
b) Peka terhadap situasi pertemuan, fasilitator
241
mengetahui kapan peserta merasa bersemangat,
bosan, mengantuk, tahu kapan harus bicara,
berhenti dan bertanya.
c) Tidak hanya memikirkan target penyampaian
materi (hasil), melainkan proses belajar para
peserta.
d) Percaya diri, fasilitator yakin mampu mengajak
peserta belajar bersama. Tidak malu meskipun
harus berhadapan dengan peserta yang berbeda
usia, kelas sosial, ekonomi, pendidikan, dan lain-
lain.
e) Jujur, terbuka, apa adanya saat merespon peserta
f) Tidak menunjukkan sikap dibuat-buat atau
berpura-pura.
g) Ramah, semangat, dan luwes Mampu membuat
suasana hangat, akrab, dan peserta merasa
diperhatikan
h) Hormat terhadap peserta secara sederajat

242
i) Menghargai pengetahuan, pengalaman, tradisi
dan kepercayaan yang dianut peserta.
j) Tidak menonjolkan diri sendiri, menggurui, atau
merasa paling ahli
k) Tidak terpancing untuk menjawab setiap
pertanyaan.
l) Obyektif adalah sikap untuk berada pada posisi
netral atau tidak memihak

2. Kewaspadaan fasilitator terhadap pasrtisipan


Seorang fasilitator harus mewaspadai hal-
hal berikut ini:
a) Waspada terhadap tanda-tanda kebingungan
peserta. Peserta saling bertanya pada orang di
sebelahnya, wajah bingung atau frustasi dan
sikap menolak, dan sebagainya).
b) Biarkan kelompok bekerja sendiri, jangan
melakukan pekerjaan kelompok.
c) Berkeliling dari kelompok ke kelompok; tetapi
jangan menjadi bagian dari satu kelompok saja
karena anda akan mempengaruhi kelompok itu.
d) Berikan waktu pada setiap kelompok memahami
tugas yang diberikan dan konsep-konsep
pendukungnya.
e) Bahas kembali bagian-bagian pertemuan yang
membingungkan kalau ada peserta yang
kelihatannya mengalami kesulitan.
f) Jangan menganggap diri anda seorang ahli.

243
Ingatkan kelompok dan diri sendiri bahwa anda
adalah fasilitator. Penting selalu diingat akan
keahlian dan pengalaman yang peserta miliki.
Biasakan melibatkan audien/peserta dengan
mengajukan pertanyaan pada peserta lain,
misalnya: “Pertanyaan bagus, dari Ibu Ari.
Bagaimana menurut Ibu Citra?”; “Pertanyaan
yang bagus. Apa ada yang mau menanggapi?
g) Sering-seringlah bertanya: “Apakah ada
pertanyaan?”
h) Bersikap fleksibel dan gunakan penilaian anda
sendiri tentang perhatian, energi dan pemahaman
kelompok kemudian sesuaikan dengan waktu
seperlunya. Perubahan tidak berarti rencana yang
buruk, tetapi anda mendengar, menyimak dan
menyesuaikan rencana dengan situasi.
i) Jangan lupa waktu istirahat 15-20 menit. Kondisi
ini perlu menjadi perhatian agar peserta enjoy
dan tidak kelelahan dalam megikuti kegiatan.
Seorang fasilitator harus mampu mengenai dan
memahami apabila ada resistensi/penolakan dari
peserta agar dapat mengelola pertemuan dengan
baik.

j. Pentingnya Partisipasi, ditinjau dari Kebijakan dan


Konsep .
Partisipasi berkaitan dengan bagimana publik
244
berperan secara optimal dalam siklus kebijakan
publik, baik dalam proses pembuatan kebijakan,
pelaksanaan kebijakan, dan evaluasi kebijakan.
Keterlibatan publik dalam setiap tahapan kebijakan
bisa menjadi ukuran tentang tingkat kepatuhan
negara kepada amanat rakyat yang berdaulat
atasnya.
Hal ini relevan dengan ungkapan (Caiden,
1991) yang merumuskan bahwa ruang lingkup
studi public policy itu meliputi antara lain:
1) Adanya partisipasi masyarakat (public participation),

245
2) Adanya kerangka kerja policy (policy framework),
3) Adanya strategi-strategi policy (policy strategies),
4) Adanya kejelasan tentang kepentingan masyarakat
(public interest),
5) Adanya pelembagaan lebih lanjut dari kemampuan
public policy,
6) Adanya isi policy dan evaluasinya.
Kemurnian partisipasi merupakan wujud
kemandirian beraktivitas berdasarkan ekspresi
komitmen yang utuh dalam merefleksikan
rasionalisme pandangan dan peran setiap orang
dalam dinamika kehidupannya, yang berupa
seperangkat sikap dasar (sikap hidup) otonom
untuk mengambil sikap bertanggung jawab
terhadap apa yang diperbuat atau diputuskan
bersama. Kemurnian partisipasi merupakan
refleksi manusiawi, di mana orang bebas dari rasa
takut, baik karena adanya tekanan atau paksaan
dalam mengambil sikap dan menentukan arah
pemikirannya. Hakikatnya merupakan kebebasan
berperanan untuk memfungsikan hak dan
kewajiban individualnya sebagai pengembangan
diri, sehingga karakter dan kepribadian seseorang
(warga negara) tumbuh secara alami, baik sebagai
moral, intelektual maupun sosial yang pada

246
gilirannya mengarah pada terciptanya kedewasaan
dan kematangan dalam bersikap dan bertindak.
Hal ini sejalan dengan UU No. 32/2004 yang
menyatakan bahwa peran serta atau partisipasi
masyarakat merupakan salah satu prinsip otonomi
daerah, dan Daerah Kabupaten/ Kota harus
mampu meningkatkan partisipasi masyarakat.
Partisipasi tersebut diwujudkan dalam bentuk hak-
hak, seperti hak menyampaikan pendapat, hak
memperoleh informasi dan pelayanan yang sama
serta adil. Konsep tentang partisipasi “seharusnya”
digunakan secara luas dalam pembahasan yang
terkait dengan pembangunan. Kemudian
berkembang ke bidang-bidang yang terkait dengan
hak -hak warga dan pemerintahan yang
demokratis.
Partisipasi dapat dibagi dalam tiga bidang,
yaitu bidang politik, pembangunan, dan bidang
sosial. Karena partisipasi pembangunan
merupakan keikutsertaan masyarakat dalam
proses penyelenggaraan pembangunan yang
dimaksudkan untuk mengoptimalkan keterkaitan,
kualitas, dan keberlanjutan proyek pembangunan.
Partisipasi dalam kaitan ini dilihat sebagai
247
keikutsertaan masyarakat dalam proses konsultasi
dan pengambilan keputusan disemua tingkat
proyek, mulai dari proses analisis kebutuhan
pembangunan, proses perencanaan, pelaksanaan,
monitoring, dan evaluasi proyek pembangunan.

k. Peran Fasilitator dalam Fasiliotasi Partisipatif


1. Peran Fasilitator
Fasilitator bertugas membangun kesadaran kritis
masyarakat agar masyarakat mampu menanggulangi
kemiskinan secara terorganisasi dan sistematis,
termasuk mendorong peran serta dan keterlibatan
seluruh komponen masyarakat termasuk masyarakat
miskin dan perempuan melalui serangkaian kegiatan
pembelajaran dalam siklus kegiatan.
Fasilitator bertugas melakukan transformasi
pengetahuan dan ketrampilan guna memperkuat dan
mengembangkan kemampuan relawan/kader-kader
masyarakat sebagai agen pemberdayaan masyarakat,
serta memperkuat dan mengembangkan kapasitas
masyarakat sebagai kelompok dinamik, mengenali
peluang usaha atau mengembangkan usaha yang ada,
menyusun proposol usaha, dan pengelolaan keuangan
secara sederhana.
Untuk dapat menjalankan tugas pokok tersebut
di atas, fasilitator memiliki tiga fungsi utama. Yakni,
248
fasilitasi, berupa sekumpulan kegiatan yang pada
intinya membuat sesuatu berjalan dengan baik dan
dilakukan dengan penuh kesadaran. Mediasi, yang
pada intinya menjembatani beberapa pihak untuk
dapat bekerjasama secara sinergik. (Djatmiko, 2006)
Dalam bekerja sebagai fasilitator infomobilisasi
(FI), pembelajaran dilakukan dalam berbagai bentuk
kegiatan: pertemuan atau musyawarah desa,
pengkajian bersama masyarakat (MDS), rapat internal
tim telecenter, rapat persiapan kegiatan, monitoring
kegiatan, evaluasi program, dan sebagainya. Kegiatan
memfasilitasi yang merupakan tugas paling rutin FI
adalah pendampingan atau pembelajaran bersama
kelompok. Apa pun kegiatannya, proses fasilitasi yang
dikembangkan FI selalu berorientasi pada proses
pembelajaran yang bertumpu pada peserta.
Seorang FI bukanlah penyuluh atau juru
penerang (jupen) yang merupakan petugas penyampai
informasi dari lembaga formal (pemerintah).
Fasilitator adalah orang yang bertugas mengelola
proses dialog. Fasilitator ada untuk mendukung
kegiatan belajar agar peserta bisa mencapai tujuan
belajarnya. Fasilitator mendorong peserta untuk
percaya diri dalam menyampaikan pengalaman dan
pikirannya, mengajak peserta dominan untuk
mendengarkan. Fasilitator memperkenalkan teknik-
teknik komunikasi untuk mendorong partisipasi.
Fasilitator menggunakan media yang cocok dengan
249
kebutuhan peserta dan membantu proses
belajar/komunikasi menjadi lebih efektif.
Peran fasilitator ini harus dikurangi secara
bertahap dan diserahkan kepada peserta. Hanya
dengan mengurangi „dominasi‟ fasilitator, proses
pembelajaran bisa diambil alih oleh peserta sehingga
pembelajaran bisa berjalan sebagai inisiatif sendiri.
Tugas FI adalah membantu peserta dalam
pembelajaran bersama/kelompok untuk menjadikan
belajar sebagai kebutuhan sehingga peserta belajar
akan melakukannya sendiri meskipun sudah tidak
difasilitasi lagi. Bagi orang yang melihat belajar
sebagai bagian penting dari proses kehidupannya,
belajar akan menjadi kegiatan selama hidup berjalan
(long-life learning). Sedangkan dalam kacamata
komunikasi, tugas utama FI adalah memperkuat
interaksi sosial yang lebih setara dan dialogis.
Menjadikan ikatan sosial dan kebersamaan sebagai
kebutuhan individu: dan sebaliknya penghargaan
terhadap individu sebagai basis kehidupan komunitas.
Empat fungsi utama pendamping atau fasilitator
kegiatan pemberdayaan masyarakat yaitu; (Haneberg,
2005) (a) nara sumber, (b) pelatih, (c) mediator, dan
(d) penggerak.
Fasilitator sebagai nara sumber (resource
person) karena keahliannya berperan sebagai sumber
informasi sekaligus mengelola, menganalisis dan
mendesiminasikan dalam berbagai cara atau
250
pendekatan yang dianggap efektif. Fasilitator sebagai
pelatih (trainer) melakukan tugas pembimbingan,
konsultasi dan penyampaian materi untuk peningkatan
kapasitas dan perubahan perilaku pembelajar.
Tugas fasilitator sebagai pelatih sangat menonjol
dalam setiap kegiatan training, lokakarya, seminar dan
diskusi. Penguasaan terhadap pola perubahan perilaku
baik pengetahuan keterampilan dan sikap menjadi
penting untuk menentukan proses (metodologi) dan
hasil dari suatu pembelajaran. Peran mediator
dilakukan ketika terjadi ketegangan dan konflik antar
kelompok yang berlawanan. Peran mediasi akan
dilakukan oleh fasilitator untuk menjembatani
perbedaan dan mengoptimalisasikan berbagai sumber
daya yang mendukung terciptanya perdamaian.
Fasilitator sebagai penggerak lebih berperan sebagai
pihak yang memberikan dorongan atau motivasi kerja
kepada kelompok untuk berpartisipasi dalam
pembangunan.
Secara khusus fungsi tersebut tergambar dalam
aspek kegiatan sebagai berikut:
a) Menggali potensi dan kebutuhan
Upaya pemberdayaan dilakukan melaui proses
analisis awal terhadap situasi dan kondisi masyarakat
melalui observasi mendalam. Informasi yang
dikumpulkan mencerminkan kondisi nyata tentang
jenis kebutuhan dan bentuk dukungan yang
diperlukan. Fasilitator akan banyak melibatkan
251
berbagai elemen masyarakat dalam menyusum
rencana, menetapkan instrumen dan langkah-langkah
pengumpulan data. Kegiatan ini dilakukan agar
masyarakat secara mandiri mengenal potensi dan
kebutuhan nyata yang dihadapinya. Dalam proses ini,
sebaiknya fasilitataor melibatkan peran aktif tokoh
masyarakat, pimpinan agama, organisasi kepemudaan,
unit usaha dan lembaga terkait lainnya. Menggali
potensi baik sumber daya manusia dan sumber daya
alam dapat dilakukan melalui observasi langsung atau
berdialog dengan masyarakat setempat serta
pemanfaatan data sekunder seperti demografi desa,
statistik, status kesehatan dan rencana tata ruang.
b) Memecahkan Masalah
Fasilitasi dilakukan untuk memberikan
kemudahan belajar kepada masyarakat untuk
meningkatkan kapasitas berfikir ilmiah dan
kemampuan mengantisipasi perubahan. Fasilitator
bukan sebagai penentu keputusan atas persoalan yang
dipilih, tetapi lebih pada upaya membantu secara
sistematis proses belajar masyarakat untuk
menentukan sendiri kebutuhan dan memecahkan
masalah yang dihadapinya . Masyarakat diposisikan
sebagai subjek sekaligus objek dari proses
penyelesaian masalah. Fasilitator berperan
memberikan kesempatan yang luas agar masyarakat
secara mandiri menentukan keputusan. Hindari
dominasi fasilitator dalam mengambil solusi,
252
melainkan sebagai penyeimbang dan pengarah saja,
agar solusi yang diambul efektif. Apabila dalam
implementasi program terjadi berbagai masalah,
sebaiknya fasilitator selalu melibatkan masyarakat
melalui musyawarah serta koordinasi dengan pihak
terkait. Posisikan diri sebagai pihak yang
mempermudah masyarakat menemukan sendiri
jawabanya.

253
c) Memposisikan Peran dan Tindakan
Bagaimana memposisikan masyarakat agar
mampu mengambil peran dan tindakan sesuai dengan
fungsi dan kedudukannya ? Pertanyaan ini sangat
mendasar, ketika suatu komunitas tidak mampu
melindungi dirinya akibat kelemahannya. Dalam
situasi ini, fasilitator akan lebih dominan memimpin
dan berada di garis depan. Masyarakat membutuhkan
instruksi, arahan, aturan dan bimbingan secara
langsung. Namun demikian, fasilitator tetap
memberikan peran yang cukup kepada masyarakat
untuk menentukan keputusan penting dan pola tindak
yang diperlukan. Pada saat masyarakat mulai
menunjukan peningkatan kapasitas dan mampu
mengelolanya, maka fasilitator akan mengambil posisi
sebagai mitra atau pendamping untuk mempermudah
kerja masyarakat. Hal ini dapat dilakukan dengan
memberikan kemudahan terhadap akses informasi,
melatih peran, pembagian tugas yang jelas dalam
setiap kegiatan, menempatkan orang sesuai dengan
keahlian. Posisi ini akan berubah sesuai kebutuhan dan
kondisi masyarakat yang didampinginya.
d) Mengajak masyarakat untuk berfikir
Fasilitasi merupakan proses belajar masyarakat
untuk menentukan pilihan dan tindakan terukur
terhadap perubahan yang dihadapinya. Landasan
filosofis fasilitasi adalah perubahan paradigma dan
proses berfikir logis (logical framework) dan
254
terstruktur sebagai bentuk respon terhadap
lingkungan. Oleh karena itu, fasilitasi dilakukan untuk
membantu individu, kelompok atau organisasi agar
menggunakan daya nalar dalam mencapai tujuan.
Fasilitasi merupakan suatu proses membangun
masyarakat kritis dan rasional atau dengan
menggunakan tesis Paulo Freire bahwa pemberdayaan
adalah strategi pembebasan dari keterbelengguan.
Masyarakat memahami berbagai fenomena hidup
dengan mengajak masyarkat untuk “berfikir”:
menggunakan daya nalar dan kreativitas untuk
memecahkan masalah dan menyusun perencanaan ke
depan. Mengajak masyarakat berfikir tentang potensi,
kebutuhan dan masalah yang dihadapinya merupakan
agenda penting dalam kegiatan fasilitasi. Ajaklah
masyarakat untuk melakukan pemetaan konsep, situasi
dan kondisi secara kritis menggunakan informasi dan
sumber lain kemudian diwujudkan dalam bentuk
tindakan atau kegiatan nyata.
e) Memberikan kepercayaan
Kepercayaan merupakan salah satu kunci
keberhasilan fasilitasi dan menjadi indikator penting
dalam proses pemberdayaan. Sebuah tatanan
masyarakat madani (civil society) dibangun diatas
pilar transparansi, dimana masyarakat dengan mudah
mengakses dan memutuskan berbagai kebijakan
menyangkut nasib hidupnya. Tranparansi pelaku
pembangunan dan distribusi kewenangan antar
255
pemerintah, legislatif, dan grassroot harus jelas dan
terbuka.
Keterlibatan masyarakat dengan institusi yang
ada dalam perencanaan, melaksanakan sekaligus
mengontrol berbagai keputusan yang telah dibuat
mencerminkan bentuk komunikasi dan interaksi
stakeholders yang dibangun atas dasar kepercayaan.
Membangun kepercayaan kepada masyarakat tidak
sebatas sosialisasi strategi program saja, tetapi harus
melibatkan peran aktif masyarakat sebagai pelaku
utama. Fasilitasi dilakukan untuk menempatkan
masyarakat sebagai pelaku sekaligus objek
pembangunan. Fasilitator hendaknya memberikan
kepercayaan kepada masyarakat untuk mengambil
peran dan melaksanakan program sesuai dengan
kemampuannya. Pada dasarnya bantuan merupakan
stimulan untuk merangsang pertumbuhan dan rasa
percaya diri bahwa masyarakat mampu memecahkan
permasalahan yang dihadapi.
f) Kemandirian dan Pengambilan Keputusan
Salah satu indikator keberhasilan dari kegiatan
fasilitasi yaitu menumbuhkan kemandirian (otonomi)
dalam membimbing dan mengarahkan pada upaya
pencapaian tujuan. Kemandirian menjadi salah satu
paradigma pembangunan yang mengilhami upaya
pelimpahan wewenang dari pusat ke daerah Proses ini
perlu didukung oleh institusi lokal dan masyarakat
sipil yang kuat, sehingga tidak berakibat pada
256
penyalahgunaan wewenang pemerintahan lokal tetapi
lebih meningkatkan keterlibatan institusi masyarakat
dalam menentukan kebijakan di daerahnya. Artinya
masyarakat diberikan ruang cukup untuk menentukan
pilihan atas sejumlah alternatif dan menetapkan visi
dirinya ke depan. Keputusan sepenuhnya di tangan
masyarakat sendiri sebagai perencana, pelaksana,
pengawas dan evaluator. Kemampuan masyarakat
dalam mengambil keputusan harus terus
dikembangkan. Fasilitasi harus mampu mengurangi
bentuk intervensi yang tidak perlu yang dapat
menghambat kemandirian masyarakat, sehingga
masyarakat benar-benar tahu dan ikut menentukan
jenis kebijakan yang dianggap tepat tentang dirinya
sendiri (Hastuti & Setyawan, 2021).
g) Membangun Jaringan Kerja
Fasilitasi yang dilakukan oleh pendamping baik
dikalangan pemerintah, LSM atau institusi lain harus
menyentuh aspek penguatan jaringan dari tingkat
institusi nasional hingga masyarakat. Penguatan
jaringan sangat penting dalam membangun
kebersamaan, keberlanjutan dan kesiapan masyarakat
mengantisipasi perubahan. Jaringan yang dibangun
harus mengacu pada optimalisasi program, dimana
keterlibatan organisasi masyarakat, LSM, pemerintah,
dan institusi lain berjalan secara sinergis. Berikan
peran yang luas kepada masyarakat untuk dapat
menjalin hubungan kemitraan dengan pihak terkait.
257
Tugas pengembangan jaringan bukan saja menjadi
tanggung jawab fasilitator melainkan masyarakat
sendiri. Jaringan yang dibangun oleh masyarakat
sendiri akan lebih optimal dan memiliki nilai strategis
dalam proses pemberdayaan.

h) Keterampilan Fasilitator
Keterampilan fasilitator merupakan serangkaian
kemampuan yang harus dikuasai oleh fasilitator
sebelum terjun ke masyarakat. Keterampilan fasilitator
meliputi (KEMENSOS RI, 2020):

1) Bertanya.
Tugas utama fasilitator adalah bertanya,
memancing pengalaman peserta, bukan mengajari.
Pertanyaan yang baik akan membuat peserta belajar
dari pengalamannya dan menemukan solusi sendiri
tanpa merasa digurui dengan cara:
(1) Gunakan pertanyaan yang menggali
pengalaman peserta didasari rasa ingin tahu;
(2) Gunakan jenis pertanyaan terbuka (pertanyaan
yang yang jawabannya berupa cerita),
misalnya, “Bisa diceritakan, Bu, apa yang
dilakukan putranya kalau sedang;
(3) Awali dengan pertanyaan mudah yang dapat
dijawab langsung berdasarkan keseharian.
Biasanya menggunakan kata tanya apa atau
bagaimana;
258
(4) Pertanyaan sensitif, fasilitator dapat
mengggunakan pertanyaan orang ketiga agar
peserta tidak merasa dihakimi atau malu.
Contohnya, “Menurut Ibu, mengapa ada orang
yang tidak pernah marah pada anaknya?”; dan
(5) Saat peserta terlihat pesimis di tengah diskusi,
gunakan pertanyaan untuk mengajak peserta
mengingat keberhasilan di masa lalu.

2) Mendengar aktif
Fasilitator tidak hanya berkomunikasi satu arah,
melainkan lebih banyak menjadi pendengar. Menjadi
pendengar aktif dapat dilakukan dengan cara:
(1) Simak perkataan peserta. Tanggapi
pembicaraan dengan ekspresi wajah yang
sesuai (senyum, prihatin, dan lainnya);
(2) Beri tanggapan berupa pertanyaan untuk
menggali pengalaman peserta. Contoh: “Oya?,
contohnya bagaimana, Bu?”;
(3) Konfirmasi pendapat peserta dengan
menyatakannya kembali. Jangan terburu-buru
menyimpulkan. Tanyakan apakah pernyataan
kita betul;
(4) Jangan memotong pembicaraan, kecuali jika
topik sudah jauh melenceng. Ajak peserta
kembali ke topik dengan sopan. Misalnya:
“Wah, menarik sekali, Pak. Mungkin kita
lanjutkan kembali nanti, sementara ini kita
259
kembali ke topik awal, Pak.”

3) Komunikasi
Hal utama yang dilakukan fasilitator adalah
menjalin komunikasi yang baik. Komunikasi dalam
memfasilitasi dapat dilakukan dengan cara:
(1) Bicara atau bertanya dengan bahasa sederhana
tapi jelas;
(2) Gunakan kalimat singkat dan langsung ke
tujuan. Misalnya: “Bapak, putra Anda yang
SMP itu masih sering ngajak ngobrol?”; dan
(3) Perkenalkan diri dan hafalkan nama peserta.
Supaya bisa menghafal, gunakan saat
memanggil dan ulangi dalam kalimat.
Misalnya, “Ibu Bapak, ada yang akan
menanggapi pertanyaan ini? Ya, Ibu Asih
kan?” (sambil mendekati ibu tersebut untuk
memberikan kesempatan menanggapi.

4) Bahasa tubuh
Bahasa tubuh adalah bentuk komunikasi non
verbal. Komunikasi non verbal meliputi:
(1) Tatap mata peserta. Jangan bicara sambil
melihat lantai, langit-langit, atau kertas
catatan;
(2) Bergerak secukupnya, misalnya tangan
menunjuk pada poster. Jangan gugup,
misalnya tangan memainkan spidol, kaki
260
melangkah ke depan ke belakang seperti tanpa
tujuan; dan
(3) Usahakan setara atau melebur dengan peserta,
misalnya duduk sama rendah ketika peserta
sedang duduk di lantai berdiskusi dan
mengerjakan tugas kelompok

5) Mengarahkan orang
Fasilitator mengarahkan lalu lintas informasi
agar peserta mengalami proses pembelajaran yang
baik. Mengarahkan orang dapat dilakukan dengan:
(1) Pelajari hal yang akan disampaikan agar
pembicaraan tidak melenceng dari topic;
(2) Dorong semua peserta untuk berpartisipasi
dalam menjawab pertanyaan atau diskusi,
terutama peserta yang pendiam. Jangan
membiarkan hanya satu atau dua peserta yang
mendominasi; dan
(3) Gunakan jeda, canda, dan pujian untuk
mendorong peserta nyaman berbicara. Jangan
mengkritik, mendebat, atau membela diri. Jika
diperlukan mendebat atau menyanggah
pendapat peserta, upayakan peserta lain juga
melakukan.

l. Teknik Membangun Partisipasi Peserta


1) Teknik Fasilitasi Dasar: 5W + 1 H
261
Berikut ini adalah panduan praktis
untuk mengembangkan teknik memfasilitasi
proses pembelajaran agar peserta
berpartisipasi aktif. Teknik membangun
proses ini sebenarnya sederhana, dan biasa
disebut teknik 5W + 1H (what, who, when,
where, why, and how atau apa, siapa,
dimana, mengapa, dan bagaimana). Teknik
dasar ini apabila digunakan secara tepat, akan
menolong peserta untuk secara bertahap
terlibat dalam kegiatan pembelajaran secara
partisipatif. Berikut ini adalah langkah-
langkah penggunaan teknik dasar 5W + 1 H
dalam memfasilitasi sesuai dengan daur
pembelajaran di atas.
2) Menceritakan/Menguraikan
a. Fasilitator mengajukan pertanyaan APA
(WHAT) terlebih dahulu, sehingga masyarakat
bisa menceritakan pengalamannya.
b. Kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan-
pertanyaan yang bersifat menceritakan lainnya,,
misalnya: KAPAN (WHEN) hal itu terjadi?
DIMANA (WHERE) hal itu terjadi? SIAPA
(WHO/WHOM) yang terlibat?
3) Menjelaskan dan Menganalisis

262
a) Apabila diskusi mulai hidup dengan cerita-
cerita peserta, fasilitator bisa melontarkan
pertanyaan tentang proses: BAGAIMANA
KEJADIAN ITU TERJADI? Ceritakan
prosesnya secara runtut.

263
b) Setelah itu dilanjutkan dengan pertanyaan
analitis: MENGAPA hal itu terjadi menurut
Anda? Apakah Bapak/Ibu yang lain setuju
tentang penyebabnya itu? Apakah akibatnya?
Ceritakan alur sebabakibatnya secara jelas.
c) Fasilitator bisa mengembangkan berbagai
cerita kejadian yang sama untuk
membandingkan suatu peristiwa dengan
melontarkan pertanyaan: apakah ada peserta
lain yang mengalami kejadian sama?
KAPAN? DIMANA? SIAPA?
BAGAIMANA? MENGAPA? Sama seperti
di atas, merupakan pertanyaan untuk
menceritakan.

m. Menarik Kesimpulan
Meskipun kita sedang membahas suatu topik,
biasanya akan selalu banyak aspek menarik
yang terkait dengan topik tersebut dan
menjadi diskusi yang berkembang (meluas).
Fasilitator mengajak peserta mempersempit
pembahasan pada beberapa hal paling
penting/menarik dari topik tersebut dengan
melontarkan pertanyaan: APA HAL-HAL
PENTING/MENARIK yang muncul dari
peristiwa/kejadian di atas? (Uraikan setiap

264
hal menarik dalam beberapa kalimat lugas
dan jelas).

DAFTAR PUSTAKA

(Pe-PP) Bappenas. (2007). Panduan Untuk Fasilitator


Infomobilisasi. Teknik Fasilitasi Partisipatif
Pendampingan Masyarakat. Jakarta: UNDP.

Aditya, R. (2010, September 8). Dipetik Januari 8, 2022, dari


Pengertian Teori Pendampingan :
[Link] -
[Link]

Aris Slamet Widodo, Hasanah Safriyani, Sutrisno. (2018).


Teknik Fasilitasi dalam Pemberdayaan Masyarakat.
Yogyakarta: Lembaga Penelitian, Publikasi dan
Pengabdian Masyarakat Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta.

B. Peters, M. Gonsamo, & S. Molla. (2011). Capturing


Unpredictable and Intangible Change:Evaluating an
Asset-Based Community Development (ABCD)
Approach in Ethiopia (Coady . Ethopia: Coady
Occasional Paper.

BPKB. (2001). Pendampingan. Surabaya: BKKBN Jawa


Timur .

265
Caiden, G. E. (1991). Administrative Reforms Comes Of
Ages. New York: Walter The Gruyter.

Cunningham, Gord [Link]. (2012). Mobilizing Assets for


Community-Driven Development. Participant
Manual, Coady International Institute.

DEPTAN. (2004). Rencana Setrategis Badan Penelitian dan


Pengembangan Pertanian 2005-2006. Jakarta:
Badan Penelitian dan Perkembangan Pertanian.

Djatmiko, D. E. (2006). Memaknai Kembali Tugas Pokok dan


Fungsi [Link] Jateng: webadmin P2KP.

Dureau, C. (2013). Pembaru dan kekuatan lokal untuk


pembangunan. Australian Community
Developmentand Civil Society Strengthening Scheme
(ACCESS) Tahap II (hal. 96-97). Australia: -
.Haneberg, L. (2005). Organization Development
Basics. Alexandra: ASTD Press.

Hastuti, S. W. M., & Setyawan, W. (2021). Community


Service in Study Potential Technology of Education
Tour and Business Prospects of Traders in
Tulungagung. Mitra Mahajana: Jurnal Pengabdian
Masyarakat, 2(2), 134–144.
[Link]
journal/[Link]/mahajana/article/view/952
266
Heria Windasuri, Hyacintha Susanti, dan Business Growth
Team. (2017). Excellent Service: The Secrets of
Building a Service Organization. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama.

Hunter et Al. (2018). Pengertian Fasilitasi. Dipetik Januari


6, 2022, dari
[Link]
gertian_fasilitasi.html

Karyoto, N., Sisbiantoro, D., Setyawan, W. H., & Huda, M.


(2020). Effectiveness Legal Formal of Education Culture
Heritage at Van Den Bosch Fort in Indonesian. B-SPACE
2019: Proceedings of the First Brawijaya International
Conference on Social and Political Sciences, BSPACE, 26-
28 November, 2019, Malang, East Java, Indonesia, 434.
[Link]
dq=Effectiveness+Legal+Formal+of+Education+Culture+
Heritage+at+Van+Den+Bosch+Fort+in+Indonesian&lr=&
hl=id&source=gbs_navlinks_s
KEMENSOS RI. (2020). Teknik Fasilitasi. Jakarta: LSPS.

Stavros, J. & Hinrichs, G. (2009). The thin book of SOAR:


Building strengths-based strategy. Bend: Thinbook
Publishing.

Stream. (2021, September 8). Panduan Kerja Lebih Baik


(Better-Practice. Dipetik Desember 29, 2021, dari
[Link]/publications/livelihoods-gender-
social/stream/bpg/ts/indonesia/[Link]:
[Link]

267
H Setyawan, W., . R., . N., Budiman, A., . H., Sumarno, A.,
& Rais, P. (2018). Challenged Solving in Listening
Through T-Mobile Learning Model. International
Journal of Engineering & Technology, 7(4.15), 443.
[Link]

Thamrin, J. (1996). Dehumanisasi Anak Marginal Beragai


Pengalaman Pemberdayaan. Bandung: Yayasan
AKATIGA.

Wikipedia. (2017, Januari 29). Heliotropik. Dipetik


Desember 29, 2021, dari wikipedia:
[Link]

Wikipedia. (2020, Oktober 31). Dipetik Januari 3, 2022, dari


[Link]

268
BIODATA PENULIS

Humaidah Muafiqie, Lahir


di Kediri, 30 Oktober 1961.
Lulus S1 pada program
studi Ilmu Ekonomi dan
Studi Pembangunan pada
tahun 1988 di Universitas
Darul
„Ulum Jombang. Lulus S2 pada program studi
Magister Ekonomi Pembangunan pada tahun 2001 di
Universitas Darul „Ulum Jombang. Lulus S3 pada
program studi Ilmu Ekonomi pada tahun 2016 di
Universitas Merdeka Malang. Meniti karir sebagai
dosen di Universitas Darul „Ulum Jombang sejak
tahun 01 Nopember 1989 sampai sekarang. Jabatan
fungsional yang diperoleh adalah Lektor Kepala IV-a
pada tahun 2013. Mengampu mata kuliah Teori
Ekonomi Makro, Kebijakan Ekonomi Publik, dan
Prinsip-Prinsip Ekonomi pada jenjang S1 dan S2 di
Fakultas Ekonomi. Aktif sebagai pembina di berbagai
Koperasi dan Kelompok UMKM di wilayah Jombang dan
sekitarnya. Aktif menulis di berbagai jurnal Nasional
maupun Internasional. Artikel yang berjudul Expenditure
269
Analysis on Government and Income Distribution in East
Java dan Empowerment, Service Quality, Job Satisfaction
and Performance of Beef Cattle Breeders telah dimuat di
International Conference on Life, Innovation, Change, and
Knowledge (ICLICK). Menulis bersama pada bidang sosial
pendidikan pada Journal of Education and Practice :
Education and Local Elite Authority: The Study of
Traditional Local Elite Strategies in Maintaining Authority
of Muslim Communities in Rural Java Pernah menjabat
sebagai Wakil Dekan I di Fakultas Ekonomi dan saat ini
menjabat sebagai Wakil Direktur II di program Pascasarjana
Universitas Darul „Ulum Jombang.

270
BAB 8

TIPS DALAM MEMFASILITASI MONITORING DAN


EVALUASI PARTISIPATIF

BAB 8 Tips Dalam Memfasilitasi Monitoring dan luasif

a. Pengertian Monitoring dan Evaluasi Partisipatif


Kegiatan monitoring lebih berpunpun (terfokus) pada
kegiatan yang sedang dilaksanakan. Monitoring dilakukan
dengan cara menggali untuk mendapatkan informasi secara
regular berdasarkan indikator tertentu, dengan maksud
mengetahui apakah kegiatan yang sedang berlangsung sesuai
dengan perencanaan dan prosedur yang telah disepakati.
Indikator monitoring mencakup esensi aktivitas dan target yang
ditetapkan pada perencanaan program. Apabila monitoring
dilakukan dengan baik akan bermanfaat dalam memastikan
pelaksanaan kegiatan tetap pada jalurnya (sesuai pedoman dan
perencanaan program). Juga memberikan informasi kepada
pengelola program apabila terjadi hambatan dan penyimpangan,
serta sebagai masukan dalam melakukan evaluasi.

Secara prinsip, monitoring dilakukan sementara kegiatan


sedang berlangsung guna memastikan kesesuain proses dan
capaian sesuai rencana atau tidak. Bila ditemukan
penyimpangan atau kelambanan maka segera dibenahi sehingga
kegiatan dapat berjalan sesuai rencana dan targetnya (Bito et al.,
2021). Jadi, hasil monitoring menjadi input bagi kepentingan
proses selanjutnya. Sementara evaluasi dilakukan pada akhir

271
kegiatan, untuk mengetahui hasil atau capaian akhir dari
kegiatan atau program. Hasil evaluasi bermanfaat bagi rencana
pelaksanaan program yang sama diwaktu dan tempat lainnya.

Seperti terlihat pada gambar Siklus Majamen Monev,


fungsi monitoring dan evaluasi merupakan satu diantara tiga
komponen penting lainnya dalam system manajelemen program,
yaitu perencanaan, pelaksanaan dan tindakan korektif (melalui
umpan balik). Sebagai siklus, dia berlangsung secara intens
kearah pencapaian target-target antara dan akhirnya tujuan
program.

b. Partisipasi Publik dalam Proses Implementasi


Program Pembangunan

Masyarakat merupakan aktor penting dalam


pembangunan karena menjadi objek sekaligus subyek
pembangunan. Pelaku pembangunan perlu dilibatkan dalam
seluruh proses pembangunan mulai dari identifikasi kebutuhan
serta analisis masalah, perencanaan, pelaksanaan, monitoring
serta evaluasi (Chambers, 1992). Tingkat partisipasi masyarakat
merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk menilai
keberhasilan pembangunan wilayah. Menurut Riyadi (2000),
produktivitas, efisiensi dan partisipasi masyarakat adalah
indikator keberhasilan yang terkait erat dengan faktor-faktor
yang menjadi ciri suatu wilayah dan membedakannya dengan
wilayah lainnya. Indikator produktivitas diukur dari
perkembangan kinerja suatu institusi beserta aparatnya,
sedangkan efisiensi terkait dengan meningkatnya kemampuan
272
teknologi/sistem dan kualitas SDM dalam pelaksanaan
pembangunan dan partisipasi masyarakat merupakan indikator
yang menjamin bagi kesinambungan pelaksanaan program di
suatu wilayah.
Ada beberapa indikator yang dapat digunakan untuk
mengukur tingkat keterbukaan ruang partisipasiyaitu seberapa
luas ruang partisipasi yang disediakan untuk diakses warga,
seberapa kuat warga diberi hak suara untuk mengungkapkan
berbagai ide dan gagasan, berapa banyak pilihan yang bisa
ditawarkan dan dinegosiasikan, serta seberapa besar publik
dapat mempengaruhi berbagai keputusan. Merujuk pada Buku
Monograph, on Politics & Government yang diterbitkan oleh
Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisipol UGM dan Program S2
Politik Lokal dan Otonomi Daerah, setidaknya ada tiga derajad
partisipasi publik dilihat dari tingkat keleluasaan yang dibuka
oleh pemerintah yaitu:
(1) Informatif, dimana pemerintah hanya sekedar
mensosialisasikan dan menginformasikan apa saja yang menjadi
rencana dalam proses kebijakan;
(2) Konsultatif, apabila pemerintah daerah sudah
menyediakan ruang dan melembagakan keterlibatan warga
dalam proses kebijakan. Masyarakat sudah dilibatkan dan
memberi umpan balik atau tanggapan terhadap usulan, rumusan
dan implementasi kebijakan; serta
(3) Ruang kewargaan, dimana partispasi publik tidak
hanya terlembagakan namun juga sudah mampu mempengaruhi
seluruh proses kebijakan yang ada. Lebih lanjut, ada beberapa
syarat yang harus dipenuhi agar partisipasi dapat berjalan

273
diantaranya adalah keleluasaan, kesediaan dan kepercayaan,
kemampuan dari kedua belah pihak, serta alat atau metode untuk
interaksi yang menjadi sarana dimana proses partisipasi
berlangsung.

c. Tujuan Monitoring dan Evaluasi Partisipatif

Tujuan monitoring dan evaluasi partisipatif MEP adalah:


1. Membangun kapasitas manajemen
Membangun kapasitas manajemen dapat dilakukan
dengan:
a. Meningkatkan kapasitas evaluasi (kemampuan
membandingan masalah dan kemampuan
memecahkan masalah) melalui keterlibatan dalam
evaluasi.
b. Meningkatkan kapasitas organisasi manajemen
dan administratif melalui akuisisi pengetahuan
dan informasi guna peningkatan kinerja proyek.
c. Memperkuat ikatan dengan institusi terkait
melalui kerjasama keterlibatandalam evaluasi.
2. Meningkatkan kinerja manajemen proyek dan kontrol
kualitas.
3. Mendorong rasa kepemilikan dan membangun kapital
sosial.
a. Meningkatkan rasa kepemilikan dari pihak
stakeholder melalui keterlibatandalam evaluasi.
274
b. Meningkatkan keberlanjutan proyek melalui
dorongan rasa kepemilikan.
c. Membangun rasa memiliki atas proses pemecahan
masalah, rekomendasi dan aksi.
4. Meningkatkan efektifitas timbal balik.
Peningkatan effektifitas timbal balik dapat ditujukan
untuk dua pihak:
a. Pihak Pelaksana
• Hasil evaluasi partisipatif dapat memberikan
masukan untuk formulasi dan revisi
perencanaan yang akan lebih mencerminkan
opini stekaholder yang lebih luas.
• Pelajaran bagi proyek yang lain.
b. Pihak Penerima
• Mendorong timbal balik berupa hasil
evaluasi secara cepat melalui
keterlibatanan dalam evaluasi.
• Mendorong terbangun akses terhadap
informasi yang berkaitan dengan proyek.
• Pemanfaatan hasil evaluasi oleh
masyarakat.
5. Meningkatkan akuntabilitas.
a. Memberikan pemahaman atas keragam
keperluan dan prioritas dari pihak
stakeholder.

275
b. Memberikan pemahaman fakto-faktor
produksi yang dibutuhkan.
c. Memberikan pemahaman yang lebih
banyak dan ragam (multidemensi) atas
dampak.
d. Meningkatkan kredibilitas atas hasil evaluasi.

d. Keunggulan Monitoring dan Evaluasi Melalui


Pendekatan Partisipatori:

1. Kepemilikan
Keterlibatan anggota masyarakat, rekanan, dan staf
antar proyek didalam mendesain dan melakukan
monitoring dan evaluasi akan membantu mendorong
tumbuhnya rasa kepemilikan yang lebih besar
tanggungjawab terhadap proyek dan pemberian informasi.
Sebagai hasil, data yang diperoleh bisa lebih akurat dan
partisipan lebih percaya terhadap hasilnya.

2. Informasi Terkini, Dipercaya, dan Valid


Keterlibatan stakeholder dalam perolehan dan analisa
data akan memproduksiinformasi yang up to date (on the
spot) dibandingkan dengan survey formal dimana
membutuhkan waktu berminggu-minggu bahkan sampai
berbulan-bulan untuk tabulasi dan analisa data Setyawan,
2017. Meskipun alat pengumpulan data secarapartisipatori
tidak disajikan sebagaimana informasi yang statitikal,

276
kehandala informasi dapat divalidasi dengan melakukan
cek silang dengan informasi yang lain.

3. Konsensus
Ketika para staf proyek sebagai tim melakukan review
tujuan proyek dan stakeholder, mengidentifikasi
kebutuhan informasi kunci, dan desain sistem evaluasi dan
monitoring – dimana akan membutuhkan waktu beberapa
bulan, membantu membangun konsensus yang kuat
diantara rekanan proyek tentang kemana proyek tersebut
diarahkan.

4. Ketrampilan dan Keyakinan


Mereka yang terlibat dalam MEP akan lebih baik
kesiapannya dan lebih yakin didalam membuat keputusan
melalui akuisisi pengetahuan dan ketrampilan baru.
Anggota masyarakat akan memiliki wawasan didalam
mengatur pendapatan dan pembiayaan. Staf proyek akan
belajar dari pengetahuan dan proses yang berbeda dari
yang dipahami saat ini. Semua partisipan akan
memperoleh pemahaman atas data dan interprestasinya.

5. Pengetahuan Lokal
Keterlibatan masyarakat dalam mendesain sistem
MEP, identifikasi indikator, pengumpulan dan analisa
data, pengetahuan bernilai yang bersumber dalam proses
learning by doing di masyarakat, kebiasaan dan institusi
lokal menjadi termanfaatkan.
277
6. Efektifitas Biaya

Pada awalnya keterlibatan masyarakat dalam sistem


monitoring dan evaluasi akan membutuhkan dana, waktu
dan kesabaran. Namun investasi tersebut akan terbayarkan
melalui perolehan data, yang dianalisa dan digunakan
secara rutin dan secara sistematis sebagai bagian aktifitas
proyek yang sedang berjalan dengan upaya dan biaya yang
minim.

e. Instrument Monitoring dan Evaluasi Partisipatif


Adapun maksud dari penyusunan panduan monitoring
dan evaluasi partisipatif ini merupakan pedoman untuk
mengevaluasi kegiatan model desa konservasi yang dilakukan
secara partisipatif oleh kelompok MDK di desa masing-masing
terkait program yang telah dilakukan kelompok (Saptaria &
Setyawan, 2021). Sedangkan tujuan dari panduan monitoring
dan evaluasi partisipatif ini yaitu:

1. Mengukur kemajuan program Model Desa Konservasi


di aspek sosial, ekonomi dan konservasi sesuai dengan
tujuan program MDK.
2. Mengembangkan pengawasan/monitoring dari setiap
aktivitas kegiatan dibidang kelembagaan MDK, usaha
kelompok dan rehabilitasi agar berjalan efektif.
3. Melihat apakah upaya yang dilakukan kelompok MDK
di desa sudah efektif sesuai dengan program yang
tertuang di masterplan MDK.

278
4. Untuk melihat apakah penggunaan biaya program
cukup realistis dari aspek usaha alternatif dan bidang
persemaian dengan bentuk kegiatan yang telah
direncanakan.
Berikut tahapan dalam kegiatan monitoring dan evaluasi
partisipatif:
a. Waktu Pelaksanaan
Waktu pelaksanaan kegiatan monitoring dan
evaluasi partisipatif ini bisa dilakukan pada awal
program, pertengahan program, akhir program dan
insidental.

b. Tempat Pelaksanaan
Tempat untuk melakukan kegiatan monitoring
dan evaluasi partisipatif bisa dilakukan luar ruangan
yang tempatnya berdekatan dengan kegiatan
program atau di dalam ruangan seperti di gedung
yang memiliki ruangan luas yang dapat menampung
anggota masyarakat atau kelompok MDK yang
dapat menampung peserta kegiatan atau masyarakat
penerima program.
c. Pelaku Yang Melaksanakan
Pelaku yang melaksanakan kegiatan monitoring
dan evaluasi partisipatif adalah masyarakat dan
279
kelompok MDK yang menerima program MDK
yang dipandu fasilitator pendamping MDK. Selain
itu, pelaku lain yang melaksanakan kegiatan
monitoring dan evaluasi partisipatif yaitu para
stakeholder yang menjadi pembuat kebijakan MDK
antara lain Balai Besar Konservasi Sumber Daya
Alam Jawa Barat, Taman Nasional Gunung Gede
Pangrango dan Consultan Firm.
d. Teknik Pelaksanaan
Instrumen/alat yang dipersiapkan pada kegiatan
monitoring dan evaluasi partisipatif instrumen/alat
yang dibutuhkan antara lain:
1) Kerta Plano
2) Kertas Metaplan
3) Spidol (Boldmarker)
4) Kertas Metaplan
5) Masterplan MDK
6) Bisnis Plan MDK
7) Rehabilitasi Plan MDK
8) Instrument Monitoring dan Evaluasi Partisipatif
9) Lakban

f. Manfaat Monitoring dan Evaluasi Partisipatif


Secara umum manfaat dari penerapan sistem monitoring
dan evaluasi dalam suatu program adalah sebagai berikut:
1. Monitoring dan Evaluasi (M&E) sebagai alat untuk
mendukung perencanaan:
280
a. Penerapan sistem M&E yang disertai dengan
pemilihan dan penggunaan indikator akan
memperjelas tujuan serta arah kegiatan untuk
pencapaian tujuan tersebut.
b. Pemilihan indikator program yang melibatkan
berbagai pihak secara partisipatif tidak saja
berguna untuk mendapatkan indikator yang tepat
tetapi juga akan mendorong pemilik proyek dan
berbagai pihak yang berkepentingan untuk
mendukung suksesnya program.

2. Monitoring dan Evaluasi (M&E) sebagai alat untuk


mengetahui kemajuan program:
a. Adanya sistem M&E yang berfungsi dengan baik
memungkinkan pelaksana program mengetahui
kemajuan serta hambatan atau hal-hal yang tidak
diduga yang secara potensial dapat menghambat
jalannya program secara dini. Hal terakhir
bermanfaat bagi pelaksana program untuk
melakukan tindakan secara tepat waktu dalam
mengatasi masalah.
b. Informasi hasil M&E dapat memberikan umpan
balik kepada pelaksana program tentang hasil
capaian program, dalam arti sesuai atau tidak
sesuai dengan yang diharapkan.
c. Bilamana hasil program belum sesuai dengan
harapan maka pelaksana program dapat melakukan
tindakan penyesuaian atau koreksi secara tepat dan

281
cepat sebelum program terlanjur berjalan tidak
pada jalurnya. Dengan demikian informasi hasil
M&E bermanfaat dalam memperbaiki jalannya
implementasi program.

3. Monitoring dan Evaluasi (M&E) sebagai alat


akuntabilitas program dan advokasi:
a. M&E tidak hanya memantau aktivitas program
tetapi juga hasil dari aktivitas tersebut. Informasi
pemantauan terhadap luaran dan hasil (output dan
outcome) program yang dipublikasikan dan dapat
diakses oleh pemangku kepentingan akan
meningkatkan akuntabilitas program.
b. Informasi hasil M&E dapat dipakai sebagai bahan
masukan untuk advokasi program kepada para
pemangku kepentingan.
c. Informasi tersebut akan memicu dialog dan
pembelajaran serta memacu keikutsertaan.

 Manfaat monitoring dan evaluasi partisipatif (MEP)


antara lain:
1. Mengetahui proses dan hasil terhadap penyelenggaraan
program/proyek.
2. Perencanaan dan melaksanaan rencana proyek dengan
lebih baik di masa mendatang.
3. Hasil monitoring dan evaluasi dapat digunakan sebagai
bahan untuk melaksanakan perbaikan program/proyek
di masa yang akan datang.
282
4. Membantu organisasi untuk membuat keputusan sesuai
dengan framework visi dan misi organisasi.

 Ada beberapa prinsip monitoring dan evaluasi


partisipatif (MEP) yang dijadikan dasar sebagai
pelaksanaan MEP antara lain:
1. Penerima danpelaku program/proyek sendiri yang
melakukan evaluasi sedangkan pihak luar hanya
sebagai fasilitator.
2. Penyelenggara membangun kemampuan dalam
melakukan analisa dan pemecahan masalah.
3. Proses membangun komitmen dalam melaksanakan
tindakan perbaikan sebagai hasil rekomendasi.

g. Delapan Tahap Monitoring dan Evaluasi


Partisipatori
Operasionalisasi monitoring dan evaluasi partisipatif
dilakukan melalui 8 tahapan dimana masing-masing tahapan
memiliki kegiatan-kegiatan tersendiri. Delapan kegiatan
tersebut adalah:

Tahap 1 Perencanaan Evaluasi dan Monitoring


Partisipatif
Tahap 2 Klarifikasi Tujuan dan Stakeholder
Tahap 3 • Menentukan Informasi Dibutuhkan dan
Pengembangan Kuesioner
• Monitoring dan Evaluasi
Tahap 4 Membangun Indikator Kunci

283
Tahap 5 Mentukan Sumber Informasi dan Desain Alat
Mengumpulkan Data
Tahap 6 Rencanan Analisa Data dan Penggunaan Hasil
Tahap 7 Meyempurnakan dan Menguji Sistem
Monitoring dan Evaluasi
Tahap 8 Melakukan Review Proyek dan Evaluasi
Eksternal

1. Tahap Satu Perencanaan Evaluasi dan Monitoring


Partisipatif
Pertama dan paling penting salam membangun
sisitem monitoring dan evaluasi partisipatoris aalah
perencanaan. Perencaaan MEP dapat terbantu dengan
kerta kerja MEP dalam mengumpulkan data dan
penggunaannya.

a. Definisi dan Konsep


Kertas kerja perencanaan MEP: Kertas kerja
perencaaan MEP dapat membantu mengarahkan
proses perencanaan terhadap analisa data
terkolektsi dan penggunaanya. Kertas kerja
tersbeut juga berguna dalam membangun
kerangka kerja logis.

b. Kegiatan

284
Pada tahap satu ada beberapa kegiatan yang
dilakukan:

i. Mengambil kesepakatan untuk menetapkan


system evaluasi dan monitoringpartisipatoris
dan menentukan tujuannya,
ii. Membentuk tim MEP,
iii. Meorganisasikan lokakarya atau serangkaian
pertemuan untuk perencanaanSerangkain tugas
yang seharusnya dicapai dalam pertemuan
perencanaan:
Tugas 1: Kompilasi latar belakang informasi
kunci dan isu dalam pertemuanperencanaan
Tugas 2: Melakukan serangkain lokakarya:
• Melengkapi pohon tujuan atau kerangka
logika proyek
• Melengkapi kertas kerja MEP
• Membantu narasi untuk menjelaskan
MEP
Tugas 3: Menentukan kebutuhan pelatihan dan
melatih staf proyek dan rekanan
2. Tahap Dua Klarifikasi Tujuan dan Stakeholder
Ketika telah menetapkan menggunanan sistem MEP
maka tahap berikutnya dalah melakukan perbaikan
terhadap tujuan organsasi, dan karifikasi serta
pendifinisian ulang apabila diperlukan. Memiliki visi
yang jelas tetap apa yang ingin dicapai dan hal tersebut

285
telah disetujui tim merupakan hal yang mendasar dalam
menentukan apa yang di monitoring dan evaluasi.
a. Definisi dan Konsep
Ada beberapa definisi dan konsep yang perlu
dipahami dan dipakai dalam proyek, diantaranya:

Hipotesis “Sebuah harapan yang belum


dikonfermasi terhadap hubungan
antara dua atau lebih variabel”.
Asumsi Kondisi eksternal dimana proyek tidak
memilikinya, dapat menentukannya
atau mempengaruhinya, tetapi
memberikan penaruh terhadap
pencapain tujuanproyek.
Sasaran Pernyataan umum tentang arah
(Goal) keluaran proyek secara jangka
panjang. Hal ini memberikan
gambaran situasi dan konsisi masa
depan yang seharusnya terjadi.
Tujuan Pernyataan yang lebih spesifik dan
(Purpose) terukur dari dampak program yang
diharapkan. Tujuan memberikan
gambaran tentang bagaimana masalah
atau situasi akan dirubah selama
periode tertentu, sebagai hasil keluaran
program.
Keluaran Menggambarkan hasil program.
(Output) Keluaran seharusnya dinyatakan
dengan kalimat yang jelas,
kata-kata yang berorientasi pada

286
kegiatan.

Kegiatan Tugas tertentu yang dilakukan


(Activity) untuk mencapai tujuan.
Rekanan Organizasi atau kelompok yang secara
Proyek langsung bertanggung jawab atas
(Project perencanaan, pelaksanaan dan
Partner) pembiayaan kegiatan proyek.
Stakeholder/ Orang-orang yang memiliki
Kelompok kepentingan terhadap proyek. Bisa
Kepentingan stakeholder tingkat primer dan
sekunder. Stakeholder Primer adalah
stakeholder yang terdiri dari komunitas
masyarakat, staf proyek, pemerintahan
lokal dan NGO. Stakeholder Sekunder
adalah orang-orang dari pihak donor
arau pemerintahan pusat.
Pohon Alur diagran yang
Tujuan mengilustrasikan dan menggambarkan
Proyek hubungan beberapa level tujuan.
(Project
Objective
Tree)
Kerangka Sebuag alat perencanaan proyek yang
Kerja Logis dapat menjabarkan dalam penggunaan
(Logical monitoring dan evaluasi/ logframe
Framework terdiri dari 4 (empat) bagian:
Matrix/Log (1) Jenjang tujuan (hiararchy of
frame/ZOP) objective),
(2) Objectively verifaibel indicator
(OVI),

287
(3) Mean of verification (MOV);
(4) Assumptions

Jenjang Jenjang tujuan memiliki 4 tingkatan


Tujuan tujuan:
(hiararchy (1) Goal,
of objective) (2) Purpose,
(3) Output,
(4) Activities

b. Kegiatan:
Pada tahap 2 ada beberapa kegiatan yang dilakukan:
i. Klarifikasi stakeholder proyek, kepentingan dan
keterkaitan mereka
ii. Pengembangan diagram pohon tujuan proyek
atau diagram sejenisnya ataumendemonstrasikan
bagaimana tujuan proyek tersebut bisa tercapai.
iii. Menentukan pendekatan: memutuskan apakah
langkah pertama membangunkerangka logika atau
langsung dari giagram pohon ke kertas kerja MEP.

3. Tahap Tiga Menentukan Informasi Dibutuhkan Dan


PengembanganKuesioner Monitoring Dan Evaluasi
a. Definisi dan Konsep:

288
Kebutuhan Dakam Monev kebutuhan
Informasi informasi berkaitan dengan
(Informatio informasi yang dibutuhkan oleh
n Needs)
rekana proyek guna membantu
merka menentukan/ melihat
perkembangan, effektifitas dan
dampak proyek.
Pertanyaan Pertanyaan Monev melibatkan
Monev pernyataan kebutuhan informasi
(M&E yang terdapat didalam form
Questions)
pertanyaan dalam rangka
membantu memperjelas informasi
yang dibutuhkan.

b. Kegiatan:
Pada tahap 3 ada beberapa kegiatan yang dilakukan:
i. Menentukan informasi yang dibutuhkan dan
membuat evaluasi pertanyaan pada level sasaran,
tujuan, keluaran, dan kegiatan dalam konsultasi
dengan rekanan proyek, dan direkam dalam
kertaskegiatan dalam konsultasi dengan rekanan
proyek, dan direkam dalam kertas kerja MEP.
ii. Melanjutka langkah ke kertas kerja perencaaan
MEP, dan menungakannya dalam diagram pohon
tujuan, dan mengisi pertanyaan evaluasi di kolom
pertama.

289
4. Tahap Empat Membangun Indikator Kunci
a. Definisi dan Konsep:

Indikator Sebuah tanda yang dapat membantu


mengukur perubahan, dapat
memberi ukuran secara tidak
langsung terhadap sesuatu dimana
sulit untuk diukur secara langsung.
Indikator Indikator yang dapat secara langsung
Langsung mengukur item dalam pertanyaan
Indikator Indikator yang dapat mengukur
Tidak sesuatu yang secara langsung sulit
Langsung diukur

b. Kegiatan:
i. Curah gagasan untuk menyusun daftar pertanyaam
untuk masing-masing pertanyaan evaluasi atau
tujuan proyek, merengking pertanyaan-pertanyaan
tersebut dan memiliki indikator kunci untuk
masing-masing pertanyaan atau tujuan.
ii. Merevaluasi indikator-indikator tersebut secara
berkala.

5. Tahap Lima Menentukan Sumber Informasi dan Desain


Alat Mengumpulkan Data
a. Definisi dan Konsep:
290
Data Data adalah informasi yang
dikumpulkan untuk tujuan
tertentu.
Baseline Data Informasi yang dikumpulkan
sebelum kegiatan proyek
dimulai guna mendapatkan
informasi dasar yang akan
dipakai sebagai pembanding
dalam evaluasi berikutnya.
Sources of Sumber informasi yang bs
Information/ memberikan informasi
Means of yang dibutuhkan guna
Verification
pengukuran indikator.

b. Kegiatan:
Pada tahap 5 ada beberapa kegiatan yang dilakukan:
i. Mengidentifikasi sumber informasi (Means
Verification/MoV) danmerekam didalam kerangka
logis atau kertas kerja perencaaan.
ii. Mengidentifikasi kebutuhan data dasar dan
merekan dalam kertas kerja(kolom 4)
iii. Menentukan frekuensi mengambilan data dan
merekam dalam kertas kerja(kolom 7)
iv. Menentukan siapa yang membutuhkan data
tersebut dan merekamnya dalam kertas kerja

291
(kolom 11 dan 12)
v. Menentukan siapa yang akan mencari data dan
merekamnya di kertas kerjaperencaaan (kolom 5)
vi. Menyusun atau menetukan alat dan metode
untuk perolehan data dan merekamnya didalam
kertas kerja perencaaan (kolom 6)
vii. Menentukan ukuran sample utnk perolehan data
dasar dan monitoringberjalan.
viii. Mengidentifikasikan informasi tambahan yang
dibutuhkanuntuk mendapatkan data dan
merekamnya dalama kertas (kolom 5)
ix. Memutuskan bagaimana dan dimana data tersebut
disimpan.

6. Tahap Enam Rencanan Analisa Data dan Penggunaan


Hasil
a. Definisi dan Konsep

Analiasa Data Analisa data meliputi studi dan


uji informasi (angka, kata,
gambar) oleh kelompok,
terintegrasi, talling, sorting,
comparing, dan constrasting
dalam rangka untuk memahami
secara keseluruhan.

292
Penyajian Proses dimana data yang telah
dianalisa dapat diakses oleh
(Presentation)
pihak-pihak yang membutuhkan
untukpengambilan keputusan

b. Kegiatan:
Pada tahap 6 ada beberapa kegiatan yang dilakukan:
i. Merencanakan tingkat keseringan analisa data itu
dilakukan dan merekamnya dalam kertas kerja
perencanaan (kolom 9)
ii. Mengidentifikasi siapa yang akan terlibat dalam
analisa data dan merekamnya dalam kertas kerja
perencaaan (kolom 10)
iii. Menentukan bagaimana data akan dipresentasikan,
didiskusikan, dan digunakan untuk pengambilan
keputusan internal proyek dan merekamnya dalam
kertas kerja (kolom 11)
iv. Menentukan bagaimana informasi akan disebarkan
kepada pihak terkait, dan direkam dalam kertas
kerja perencanaan (kolom 12)

293
7. Tahap Tujuh Meyempurnakan dan Menguji Sistem
Monitoring dan Evaluasi
a. Definisi dan Konsep

Uji Coba Mengetahui tingkat kelayakan


Sistem MEP sisitem MEP,
mengidentifikasikan masalah-
masalah potensial melalui
pelaksanaan sistem selama
periode tertentu.

b. Kegiatan:
Pada tahap 7 ada beberapa kegiatan yang dilakukan:
i. Melengkapi dan menuliskan perencanaan MEP.
ii. Memastikan bahwa staf proyek dan rekanan
dalam sistem MEP telahmendapatkan pelatihan
yang cukup.
iii. Menyusun dan merevisi alat mengumpul data
apabila diperlukan.
iv. Mereview dan merekam ulang sisitem pelaporan
proyek.
v. Mengumpulkan data dasar yang telah
diidentifikasikan oleh rekanan proyek.
vi. Mengumpulkan data monitoring yang telah
294
diidentifikasikan oleh rekananproyek.
vii. Rekanan proyek seharusnya mendiskusikan hasil
dan mengembangkan dalam tindak lanjut dalam
manajemen keputusan.
viii. Desiminasi hasil kepada pihak yang
berkepentingan.
ix. Melakukan uji sistem MEP dalam periode
percobaan.
x. Melakukan revisi dan menyesuikan atas sistem
MEP dan monitoring dan evaluasi yang sedang
berjalan.

8. Tahap Delapan Melakukan Review Proyek dan Evaluasi


Eksternal
a. Definisi dan Konsep

Evaluasi Proses Digunakan untuk “mengatur”


(Process or atau mempartajampekerjaaan
Formative saat proyek sedang berjalan
Evaluation) dan untuk meningkatkan
kinerja
Evaluasi Penilaian secara periodik
Dampak untuk melihat tingkat
(Impact effisiensi dan relevansi
Evaluation) proyek termasuk dampak
dari tujuan proyek.
295
Evaluasi Secara langsung melibatkan
Partisipatori stakeholder tingkatkomunitas
(Participatory dalam perencaaan dan
Evaluation) pelaksanaan evaluasi.
Evaluasi Pihak Evaluasi yang dilakukan oleh
Luar (External pihak ketiga
Evaluation)

b. Kegiatan:
Pada tahap 8 ada beberapa kegiatan yang dilakukan:
i. Menentukan tujuan evaluasi dan kepada siapa
evaluasi ini ditujukan
ii. Mengembangkan Kerangka Acuan Kerja
iii. Menseleksi tim evaluasi

iv. Mempersiapakanlaporan evaluasi dan


mendesiminasi hasil temuan evaluasi atas proses
evaluasi.

h. Teknik Monitoring dan Evaluasi Partisipatif


Teknik dalam pelaksanaan monitoring dapat dilakukan
dengan melalui kegiatan observasi langsung atas proses,
wawancara kepada sumber/pelaku utama, dan kegiatan diskusi
terbatas melalaui forum group discussion untuk memperoleh
klarifikasi pelaksanaan program.

296
1. Observasi
Observasi ialah kunjungan ke tempat kegiatan secara
langsung, sehigga semua kegiatan yang sedang
berlangsung atau obyek yang ada diobservasi dan dapat
dilihat. Semua kegiatan dan obyek yang ada serta
kondisi penunjang yang ada mendapat perhatian secara
langsung.

2. Wawancara dan Angket


Wawancara adalah cara yang dilakukan bila
monitoring ditujukan pada seseorang. Instrumen
wawancara adalah pedoman wawancara. Wawancara itu
ada dua macam, yaitu wawancara langsung dan
wawancara tidak langsung (Herry Setyawan et al.,
2019).

3. Forum Group Discussion (FGD)


Forum Group Discussion (FGD) adalah proses
menyamakan persepsi melalaui urun rembug terhadap
sebuah permasalahan atau substansi tertentu sehingga
diperoleh satu kesamaam (frame) dalam melihat dan
mensikapi hal-hal yang dimaksud.

297
DAFTAR PUSTAKA

Bito, G. S., Fredy, F., & Setyawan, W. H. (2021).


Ethnomathematics: Design of Sabuk Tradisional
(Keru) Bajawa as A Learning Media For Elementary
School. ELEMENTARY: Islamic Teacher Journal,
9(1).
[Link]
y.v9i1.9835

Chambers, Robert. (1992). Rural Appraisal: Rapid, Relaxed


and Participatory. Institute Development Studies
Discussion Paper 311.

Herry Setyawan, W., Budiman, A., Septa Wihara, D.,


Setyarini, T., & Nurdyansyah, R. (2019). R., & Barid
Nizarudin Wajdi, M.(2019). The effect of an
android-based application on T-Mobile learning
model to improve students’ listening competence.
Journal of Physics: Conference Series, 1175(1).
[Link]
6596/1175/1/012217/pdf

Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisipol UGM dan Program S2


Politik Lokal dan Otonomi Daerah. Menuju
Bekerjanya Tata Pemerintahan Lokal yang Baik
(Partisipasi, Transparansi, dan Akuntabilitas),
Monograph, on Politics & Government Vol 3 No. I.
2009 (1-84).

Riyadi, Dedi M. Masykur. (2000). Pembangunan Daerah


Melalui Pengembangan Wilayah. Bahan paparan
298
disampaikan pada Acara Diseminasi dan Diskusi
Program-program Pengembangan Wilayah dan
Pengembangan Ekonomi Masyarakat di Daerah,
Hotel Novotel, Bogor, 15-16 Mei 2000.
Saptaria, L., & Setyawan, W. H. (2021). Desain
Pembelajaran Technopreneurship Untuk
Meningkatkan Motivasi Berwirausaha Mahasiswa
Uniska Kediri. Prima Magistra: Jurnal Ilmiah
Kependidikan, 2(1), 77–89.
[Link]
0
Setyawan, W. (2017). THE IMPLEMENTATION OF AJEL
APPROACH TO ENGLISH TEACHING IN
DECENTRALIZED BASIC EDUCATION
PROJECT SCHOOL: A CASE STUDY AT SDN
KURUNGREJO III PRAMBON NGANJUK. Jurnal
Pikir: Jurnal Studi Pendidikan Dan Hukum Islam,
3(2), 46–62. [Link]
[Link]/[Link]/pikir/article/view/22

[Link]
3311676e9de40e/tahu-itu wajib- ayo-simak-
monitoring-evaluasi-partisipatif-mep
[Link]

299
PENULIS

Endah Marendah Ratnaningtyas, lahir


di Yogyakarta pada 14 November 1972
dan sekarang menetap di Yogyakarta.
Menyelesaikan pendidikan dasar di SD
Negeri 13 Pagi Rawamangun, Jakarta
Timur, pada lulus tahun 1984, dan
melanjutkan pendidikan di SMP Negeri
109 Jakarta Timur lulus tahun 1987, dan
SMA Negeri 48 Jakarta Timur lulus pada
tahun 1990. Kemudian mlanjutkan Strata
1 di Intitut Manajemen Koperasi Indonesia (IKOPIN) Bandung,
lulus tahun 1994, tahun 1997 melanjutkan studi Strata dua di
Universitas Borobudur Jakarta, mengambil konsentrasi magister
manajemen dan lulus tahun 2000.
Sekarang, tengah menempuh studi strata tiga (S3) sejak 2017,
dan sedang dalam proses desertasi di Universitas Teknologi
Yogyakarta (UTY) konsentrasi strategik manajemen. Saat ini
sebagai dosen tetap di Universitas Mahakarya Asia,
(UNMAHA) Yogyakarta. Juga sebagai dosen LB di Universitas
Proklamasi 45 Yogyakarta. Juga bergabung di LSP Talenta
sebagai Assesor dan Trainer. Juga sebagai konsultan SDM dan
Pemasaran juga Pendamping dan Fasilitator Nasional di beberapa
Koperasi, UKM, dan lembaga-lembaga keuangan mikro.
Penulis bisa dihubungi melalui
E-mail : ratnaningtyasendah9@[Link]

300
BAB 9
Pendekatan dalam Pengembangan Komunitas
BAB 9 Pendekatan dalam Pengembangan Komunitas

a. Peran dan Fungsi Komunitas dalam Pemberdayaan


Sebelum membahas tentang peran dan fungsi komunitas,
maka akan dipaparkan terlebih dahulu tentang definisi dari
pemberdayaan dan komunitas.
1. Definisi Pemberdayaan
Pemberdayaan didefinisikan sebagai upaya yang
dilakukan agar objek menjadi berdaya dan mempunyai
tenaga/kekuatan. Secara harfiah kata ‘daya’ merupakan kata
dasar dan diberi awalan “ber”, yang berarti mempunyai daya
(Maryani and Nainggolan, 2019). Pemberdayaan
Masyarakat dimaknai juga sebagai berdaya atau
empowerment yang artinya membantu klien atau masyarakat
untuk memperoleh daya agar dapat mengambil keputusan
dan menentukan tindakan yang akan dilakukan terkait diri
mereka.
Pemberdayaan merupakan suatu upaya yang dilakukan
untuk memperbaiki kualitas hidup sumber daya manusia
(SDM) dengan membuat masyarakat memiliki kreaifitas

301
atau keterampilan untuk dapat mengolah kekurangan dan
keterbelakangan masyarakata dengan harapan membangun
diri mereka sendiri agar lebih maju dan sejahtera (Adhimi
and Prasetyawan, 2019).
Pengertian pemberdayaan (empowerment) tersebut
menekankan pada aspek pendelegasian kekuasaan, memberi
wewenang, atau pengalihan kekuasaan kepada individu atau
masyarakat sehingga mampu mengatur diri dan
lingkungannya sesuai dengan keinginan, potensi, dan
kemampuan yang dimilikinya. Pemberdayaan tidak sekedar
memberikan kewenangan atau kekuasaan kepada pihak yang
lemah saja. Pemberdayaan mengandung makna proses
pendidikan dalam meningkatkan kualitas individu,
kelompok, atau masyarakat sehingga mampu berdaya,
memiliki daya saing, serta mampu hidup mandiri
(Margayaningsih, 2018).
Pemberdayaan juga memiliki makna dorongan atau
motivasi, bimbingan, atau pendampingan dalam
meningkatkan kemampuan individu atau masyarakat untuk
mampu mandiri. Upaya tersebut merupakan sebuah tahapan
dari proses pemberdayaan dalam mengubah perilaku.
Perubahan perilaku yang dimaksud meliputi perubahan
302
pengetahuan, sikap dan tindakan. Perubahan perilaku lama
menuju perilaku baru yang lebih baik, dengan tujuan
meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraannya.

2. Definisi Komunitas
Komunitas didefinisikan sebagai suatu kesatuan hidup
manusia yang mendiami suatu wilayah yang nyata serta
berinteraksi menurut suatu system adat istiadat yang terikat
oleh suatu rasa komunitas (Eliza, Ridwan and
Noerjoedianto, 2018). Secara umum defenisi dari komunitas
merupakan sekumpulan atau beberapa orang yang bertemu,
yang kemudian membentuk suatu organisasi yang
didalamnya terdapat kepentingan bersama (Mardiharto,
2017). Secara lebih sederhana penulis mengidentikan
komunitas dengan masyarakat. Masyarakat akan bertemu
dan berinteraksi sesuai adat yang berkembang dan telah
disepakati bersama.

3. Fungsi Komunitas
Menurut (Undang -Undang Republik Indonesia No.17
Tahun 2013, 2013) dijelaskan terkait fungsi dari komunitas,
yaitu sebagai penyalur kegiatan sesuai dengan kepentingan
303
anggota atau tujuan organisasi, wadah pembinaan dan
pengembangan anggota untuk mewujudkan tujuan
organisasi, sebagi penyalur aspirasi masyarakat,
pemberdayaan masyarakat, pemenuhan pelayanana sosial,
partisipasi masyarakat untuk memelihara, menjaga, dan
memperkuat perasatuan dan kesatuan bangsa, serta sebagai
pemelihara dan pelestarian norma, nilaim dan etika dalam
kehidupan bermasyarkat, berbangsa, dan bernegara.

4. Peran Komunitas
Peran Komunitas atau peran masyarakat adalah
keikutsertaan individu, keluarga dan kelompok masyarakat
dalam setiap kegiatan yang ada. Peran masyarakat ini
bertujuan untuk (1) menumbuhkan dan meningkatkan rasa
tanggung jawab; (2) mengembangkan kemampuan untuk bisa
menyadari akan pentingnya sebuah kegiatan; (3)
menumbuhkan rasa pentingnya partisipasi masyarakat pada
kegiatan tersebut.
Sedangkan Margayaningsih, 2018 menetapkan bahwa
tujuan peran masyarakat adalah untuk (1) meningkatkan
peran, kemandirian, dan kerjasama dengan lembaga-lembaga
non pemerintah yang memiliki visi yang sesuai; (2)
304
meningkatkan kuantitas jejaring kelembagaan dan organisasi
non pemerintah dan masyarakat; (3) memperkuat peran aktif
masyarakat dalam setiap tahap dan proses pembangunan
melalui peningkatan jaringan kemitraan dengan masyarakat.

5. Pemberdayaan Komunitas
Pemberdayaan komunitas atau pemberdayaan
masyarakat tidak terjadi begitu saja. Pemberdayaan
masyarakat akan dianggap berhasil apabila ada partisipasi
masyarakat sampai masyarakat merasa berdaya guna.
Pemberdayaan masyarakat tidak cukup hanya dengan
adanya partisipasi dari ilmu pengetahuan saja, akan terapi
diperlukan sumber daya manusia yang harus dibangun
supaya bisa menyesuaikan antara pengetahuan, sikap dan
pikiran dan tindakannya.
Pemberdayaan masyarakat di Indonesia telah terjadi
sejak lama. Banyak kegiatan yang dimulai dari lembaga-
lembaga yang telah ada dan berkembang di masyarakat,
misalnya Syarikat Tolong Menolong (STM) yang
berkembang di sebagian besar daerah di pulau sumatera.
Contoh dari kegiatan pemberdayaan masyarakat yang ;ain
305
misalnya pelatihan kader kesehatan masyarakat, karang
taruna, pengelolaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
(UMKM). Masyarakat dapat dibantu untuk berdaya menjadi
produsen sekaligus memasarkan secara berkelompok.
Masyarakat perlu mendapatkan akses untuk
memperbaharui ilmu pengetahuannya melalui berbagai
media yang difasilitasi oleh perangkat desa maupun program
pemerintah yang lainnya. Salah satu kegiatan yang dapat
dijadikan sarana untuk pemberdayaan masyarakat adalah
pengabdian masyarakat yang biasa dilakukan dosen.
Masyarakat dapat dijadikan mitra untuk banyak kegiatan
yang bersifat mutualisme atau saling menguntungkan.

306
Gambar. Pemberdayaan Masyarakat melalui Pengabdian
Masyarakat Desa Mitra
Tujuan pemberdayaan masyarakat menurut
Margayaningsih (2018) antara lain:
1. Melahirkan individu-individu yang mandiri dalam
masyarakat;
2. Menciptakan lingkungan yang memiliki etos kerja
yang baik sehingga mampu menciptakan kondisi kerja
yang sehatdan saling menguntungkan;
3. Menciptakan masyarakat yang memiliki kesadaran
tinggi akan potensi diri dan lingkungan disekitarnya
dengan baik;
4. Melatih masyarakat untuk melakukan perencanaan
dan pertanggung jawaban atas tindakan mereka dalam
memenuhi kebutuhan mereka;
5. Menambah kemampuan berpikir dan bernegosiasi atau
mencari solusi terhadap permasalahan-permasalahan
yang mungkin ditemui dalam lingkungannya;

307
6. Memperkecil angka kemiskinan dengan cara
meningkatkan potensi dan kemampuan dasar yang
dimiliki masyarkat.

Ada tiga hal yang menjadi alasan bahwa partisipasi


masyarakat itu penting, diantaranya yang pertama adalah
partisipasi masyarakat sebagai media untuk mendapatkan
informasi terkait kondisi, kebutuhan dan perilaku
masyarakat. Tanpa partisipasi masyarakat program dan
kegiatan sulit untuk berhasil. Kedua, masyarakat merasa
lebih percaya diri ketika diikutsertakan mulai dari proses
perencanaan atau persiapan. Hal bertujuan agar masyarakat
lebih mengetahui dan memahami kegiatan yang akan diikuti,
sehingga tumbuh rasa memiliki dan serius untuk mengikuti
kegiatan tersebut. Ketiga, sebagai perwujudan hak
demokrasi. Masyarakat berhak urun rembug memberi
masukan untuk menentukan jenis kegiatan yang akan
dilaksakan.
Menurut Hasad and Yulius, 2020 implementasi
pemberdayaan masyarakat perlu didukung oleh sejumlah
langkah dan tindakan yang diantaranya adalah reorientasi,
gerakan sosial, institusi lokal dan pengembangan kapasitas.
308
Pemberdayaan adalah sebuah program dan proses.
Pemberdayaan sebagai sebuah program yang dimaksud
adalah kegiatan pemberdayaan dilakukan dengan adanya
tahap-tahapan yang dilakukan dalam angka waktu tertentu
misalnya dalam kurun waktu 1, 2, ataupun 5 tahun.
Sedangkan pemberdayaan sebagai sebuah proses bermakna
bahwa upaya tidaklah berhenti pada satu titik tertentu, tetapi
berkesinambungan.
Peran masyarakat adalah kegiatan-kegiatan yang
dilakukan di tingkat masyarakat untuk menjamin
ketersediaan dan pengelolaan sumberdaya yang terbatas
seperti air, perawatan kesehatan dan pendidikan (Hastuti &
Setyawan, 2021). Peran masyarakat dalam pemberdayaan
komunitas adalah dapat meningkatkan kemampuan
pemberdayaan setiap individu yang terlibat baik secara
langsung maupun tidak langsung. Adapun tujuan
dilakukannya pemberdayaan komunitas adalah dapat
menjaga kearifan lokal dan dapat meningkatkan kemandirian
masyarakat (Siska Devi Ratna Sari S. Kom. I., 2020). Bahwa
ada beberapa penerapan peran yang harus dilakukan dalam
membentuk karakter percaya diri anak yaitu selalu
menghargai apa yang mereka usahakan, selalu mendukung
309
kegiatan belajar yang mereka ikuti, mengawasi anak
dalam menyelesaikan masalah, membiarkan anak bersikap
seusianya, mendoorong ke ingintahuannya, memberikan
anak pengetahuan yang baru, dan jangan pernah terlalu
mengkritisi apa yang anak lakukan, dan menjadikan
kesalahan sebagai bahan pembelajaran untuk kedepannya,
dengan hal tersebut dapat meningkatkan kepercayaan diri
(Annafi, Idi and Fauzi, 2021).

b. Pola Pengembangan Potensi Komunitas


Pengertian pola pemberdayaan adalah pola atau ragam
yang digunakan untuk proses menuju berdaya yang diberikan
dari pihak yang memiliki daya ke pihak yang kurang berdaya
(Fahmi, 2020). Komunitas merupakan suatu unit atau
kesatuan sosial yang terorganisasikan dalam kelompok-
kelompok yang memiliki kepentingan bersama, baik yang
bersifat fungsional maupun teritorial.
Aktivitas anggotanya sebuah komunitas ditandai dengan
adanya keterlibatan langsung anggota komunitas dalam suatu
kegiatan, dimana semua usaha swadaya masyarakat
diintegrasikan dengan usaha-usaha pemerintah setempat untu

310
meningkatkan taraf hidup dengan sebesar mungkin
bergantung pada inisitaif penduduk sendiri, serta
pembentukan pelayanan teknis dan bentuk-bentuk pelayanan
yang dapat mendorong timbulnya inisiatif, sifat berswadaya,
dan kegotongroyongan, sehingga proses pembangunan
berjalan efektif (Nasdian, 2014).
Potensi adalah daya, kekuatan, kesanggupan dan
kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dapat
dikembangkan. Potensi diri merupakan segenap kemampuan
dasar yang dimiliki seseorang secara terpendam. Potensi diri
berpeluang dikembangkan untuk mencapai tujuan tertentu
bila dilatih dan ditunjang dengan sarana yang baik. potensi
fisik, potensi mental intelektual, potensi mental spiritual
potensi sosial emosional dan potensi ketangguhan.
Potensi juga diartikan sebagai kemampuan dasar
manusia yang terpendam di dalam dirinya dan menunggu
menjadi suatu manfaat atau nyata dalam kehidupan diri.
Pengembangan potensi adalah suatu cara untuk
mengembangkan kemampuan dasar yang dimiliki.
Kemampuan dasar ini adakalanya masih terpendam didalam
dirinya. Potensi menunggu berkebang dan menjadi suatu
manfaat atau nyata dalam kehidupan diri manusia dan
311
memiliki kemungkinan untuk dikembangkan jika dilatih dan
ditunjang dengan baik
Menurut Fahmi, 2020, pola pengembangan komunitas
yang dapat dilakukan 3 tahap, yang pertama usaha untuk
penyadaran potensi yang dimiliki, bahwa dapat di
kembangkan dengan cara pemberian motivasi dan arahan
kepada masyarakat. Kedua, adalah pengutan kapasitas
dengan pemberian daya atau kuasa. Masyarakat setidaknya
sudah memiliki kemampuan dan potensi yang dapat digali.
Peningkatan kapasitas dapat diberikan melalui pelatihan,
workshop, atau konsultas secara individual.
Pelaksanaan pelatihan dilihat dari konsep pelatihan
sebagai proses pemberdayaan merupakan sebuah proses
secara kolektif sebagai media intervensi pengetahuan dan
keterampilan yang digunakan untuk meningkatkan kesadaran
dan perubahan sikap untuk memecahkan masalah. Ketiga,
pendayaan. Pendayaan adalah pemberian daya dan kekuatan
kepada target yang disesuaikan dengan kualitas kecakapan
yang dimiliki masyarakat. Masyarakat diberikan daya dengan
memberikan kesempatan sesuai dengan potensinya masing-
masing

312
Sedangkan menurut Moris dan binstock dalam Nasdian
(2014) memperkenalkan tiga perencanaan dan aksi
pengembangan masyarakat, perencanaan atau aksi ini
dilaksanakan melalui ;
1. Modifikasi pola sikap dan perilaku dengan
pendidikan
2. Megubah kondisi social dengan mengubah kebijakan
– kebijakan organisasi formal
3. Reformasi peraturan dan sistem fungsional suatu
masyarakat

Pendapat lain dari Sumodniningrat Tandos and


Kalyanamitra (2021) menyampaikan bahwa strategi dalam
pengembangan atau pemberdayaan masyarakat dapat
dilakukan dengan pendampingan komunitas. Terdapat lima
strategi pemberdayaan masyarakat yang dapat dilakukan
dalam melakukan pendampingan yaitu:
1) Motivasi, rumah tangga miskin atau keluarga pra
sejahtera perlu didorong untuk membentuk kelompok
yang merupakan mekanisme kelembagaan penting
untuk mengorganisir dan melaksanakan kegiatan
pemberdayaan masyarakat. Kelompok ini kemudian
313
dimotivasi untuk terlibat dalam peningkatan
pendapatan dengan menggunakan sumber-sumber
dan kemampuan-kemampuan mereka sendiri.
2) Peningkatan kesadaran dan pelatihan kemampuan,
peningkatan kesadaran masyarakat dapat dicapai
melalui pendidikan dasar, pemasyarakatan imunisasi
dan sanitasi. Sedangkan keterampilan-keterampilan
vokasional bisa dikembangkan melalui cara-cara
partisipatif. Pengetahuan lokal yang biasanya
diperoleh melalui pengalaman yang dapat
dikombinasikan dengan pengetahuan dari luar.
Pelatihan semacam ini dapat membantumasyarakat
miskin untuk menciptakan mata pencaharian sendiri
atau membantu meningkatkan keahlian mereka untuk
mencari pekerjaan di luar wilayahnya.
3) Manajemen diri, kelompok masyarakat harus mampu
memilih pemimpin mereka sendiri dan mengatur
kegiatan mereka sendiri, seperti melaksanakan
pertemuan-pertemuan, melakukan pencatatan dan
pelaporan, resolusi konflik dan manajemen
kepemilikan masyarakat. Pada tahap awal,

314
pendamping dari luar dapat membantu mereka
mengembangkan sebuah system.
4) Mobilisasi sumber, merupakan sebuah metode untuk
menghimpun sumber-sumber individual melalui
tabungan regular dan sumbangan sukarela dengan
tujuan menciptakan modal [Link] ini didasari
pandangan bahwa setiap orang memiliki sumbernya
sendiri yang, jika dihimpun, dapat meningkatkan
kehidupan sosial ekonomi secara substansial.
5) Pembangunan dan pengembangan jaringan,
pengorganisasian kelompok-kelompok swadaya
masyarakat perlu disertai dengan peningkatan
kemampuan para anggotanya membangun dan
mempertahankan jaringan dengan berbagai sistem
sosial di sekitarnya. Jaringan ini sangat penting dalam
menyediakan dan mengembangkan berbagai akses
terhadap sumber dan kesempatan bagi peningkatan
keberdayaan masyarakat.

315
c. Faktor Penghambat Potensi Komunitas
Implementasi setiap kegiatan di masyarakat tidak selalu
mulus. Hambatan baik yang bersifat internal maupun
bersifat ekternal sering muncul. Beberapa hambatan yang
sering dihadapi di lapangan antara lain kurangnya kesadaran,
pengetahuan, pengenalan konsep diri masyarakat khususnya
kader dalam melakukan kegiatan yang berhubungan dengan
pemberdayaan masyarakat (Reskiaddin et al., 2020). Oleh
karena itu telah ditegaskan di awal bahwa penting sekali
untuk melibatkan masyarakat mulai dari tahap perencanaan.
Hal ini diasumsikan dapat mengurangi atau mencegah
hambatan-hambatan yang mungkin muncul pada saat
kegiatan berlangsung.
Sebenarnya ada hal yang tidak kalah penting untuk
mengurangi hambatan yaitu dukungan stake holder.
Dukungan stake holder sangat bermakna siginifikan
terhadap kegiatan pemberdayaan. Masyarakat akan lebih
termotivasi untuk berpartisipasi apabila stake holder
memberikan dukungan penih.
Upaya pemberdayaan masyarakat perlu didasari
pemahaman bahwa munculnya ketidakberdayaan
masyarakat akibat masyarakat tidak memiliki kekuatan
316
(powerless). Faktor lain yang menyebabkan
ketidakberdayaan (powerless) adalah faktor ketimpangan,
ketimpangan yang sering terjadi di masyarakat ;
a. Ketimpangan struktural yang terjadi diantara
kelompok primer, seperti perbedaan kelas seperti
orang kaya dengan yan gmiskin, buruh dengan
majikan, ketidaksetaraan gender, perbedaan ras
maupn perbedaan etnis yang tercermin pada
perbedaan antara masyarakat local dengan pendatang
dan antara kaum mayoritas dengan minoritas
b. Ketimpangan berkelompok akibat perbedaan usia,
kalangan tua dengan muda, keterbatasan fisik, mental
dan intelektual, masalah lesbian, gay, biseksual, dan
transgender (LGBT), isolasi geografis dan social
(ketertinggalan dan keterbelakangan)
c. Ketimpangan personal akibat faktor kematian,
kehilangan orang-orang yang dicintai, personal
pribadi dan keluarga (Zubaedi, 2013)

Pendapat berbeda dari Srining Prapti, Trimeiningrum


dan Irmawati (2020), yang menjabarkan faktor penghambat
untuk pengembangan komunitas adalah sebagai berikut ;
317
a. Lack of information (kurangnya informasi).
Beberapa pelaku pemberdayaan di komunitas
dan pelaku di kelompok start-up adakalnya
mengeluhkan kurangnya informasi. Penyediaan
informasi secara langsung kepada para pendiri bisnis
yang akan menjalankan bisnis hijau akan dapat
membantu dalam penerapan bisnis yang
berkelanjutan.
b. Limited knowledge and willingness to share
information (keterbatasan pengetahuan dan
kemampuan untuk membagi informasi yang terbatas).
Tingkat pengetahuan yang dimiliki masyarakat
atau komunitas tentang masalah ekologi atau
lingkungan, dan kesediaan mereka untuk memberikan
informasi dengan para konsumen dirasa sangat
terbatas. Hal ini sangat dibutuhkan dalam
menciptakan bisnis yang berwawasan lingkungan
bagi mereka yang menjalankannya.

c. Lack of awareness (kurangnya kesadaran)

318
Banyak pelaku komunitas yang masih memiliki
kurangnya kesadaran dalam aspek yang berhubungan
dengan bisnis ramah lingkungan. Kurangnya
kesadaran akan potensi pasar dan peluang yang
mungkin ada untuk bisnis ramah lingkungan
membuat para ecopreneur kesulitan dalam
memasarkan produk atau jasa mereka.
d. Limited public funding (terbatasnya pendanaan
publik)
Peran pendanaan publik dalam mempromosikan
kegiatan yang berkelanjutan cukup terbatas. Masalah
keuangan adalah masalah yang berkelanjutan bagi
pelaku komunitas baru maupun komunitas lama,
terutama untuk pelaku komunitas yang berkomitmen
untuk komunitas yang berkelanjutan atau jangka
panjang. Pemerintah harus memiliki skema
pendanaan untuk usaha baru dan tegas harus membuat
penyisihan ekstra untuk proyek, terutama sejak
mereka membantu mengurangi keseluruhan biaya
perlindungan lingkungan dan pembersihan
masyarakat.

319
Haryono, Wisadirana and Chawa, (2018) memiliki
pendapat yang juga berbeda dengan beberapa pendapat yang
sudah dipaparkan seebelumnya. Penulis menganalisa dan
membuat narasi ulang pendapat Haryono dan kawan-kawan,
bahwa faktor-faktor penghambat pengembangan potensi
adalah sebagai berikut;
a. Hubungan antar masyarakat dianggap masih kurang
b. Ilmu pengetahuan yang terus berkembang
c. Sikap masyarakat yang masih mempertahankan
konsep tradisional
d. Adanya kepentingan-kepentingan yang telah
tertanam dengan kuat
e. Rasa takut terjadinya kegoyahan pada integrasi
kebudayaan,
f. Prasangka negatif terhadap hal-hal baru atau asing,
g. Hambatan ideologis
h. Nilai pasrah kepada nasib

Pendapat lain dari Utami (2018) yang mendekati


pendapat Srining Prapti dan kawan-kawan yang
memamparkan bahwa faktor penghambat untuk

320
pengembangan potensi komunitas dalam penelitiannya
berhubungan dengan :
a. Pengelolaan sumber daya manusia yang kurang
memadai
b. Kurangnya dana
c. Kurangnya pemahaman didalam komunitas gerakan
pemuda

Begitu juga Margayaningsih (2018), yang menjadi faktor


penghambat dalam proses pengembangan potensi adalah :
1. Anggaran, suatu rencana yang disusun dengan
sistematis yang meliputi semua aktivitas perusahaan
yang dinyatakan dalam unit atau kesatuan maneter
yang berlaku untuk jangka waktu tertentu
2. Sarana dan Prasarana, yang dimaksud dengan sarana
adalah sesuatu yang dapat digunakan dan
dimanfaatkan dalam pelaksanaan kegiatan. Sarana
dan prasarana kegiatan masyarakat dalam kegiatan
pemberdayaan tergantung pada situasi dan kegiatan
yang akan dilaksanakan. Pada dasarnya masyarakat
di desa sangatlah sederhana sehingga sarana dan

321
prasarana kegiatan dapat dipenuhi dan disesuaikan
dengan kebutuhan.

Berdasarkan paparan dari banyak pendapat di atas, dapat


ditarik benang merah bahwa masalah dana atau anggaran
menjadi salah satu faktor yang dapat menghambat
pengembangan potensi masyarakat. Memang tidak dapat
dipungkiri bahwa setiap kegiatan pasti membutuhkan dana
sekecil apapun. Oleh karena itu dibutuhkan juga adanya
peran serta aktif masyarakat untuk melaksanakan kegiatan
yang dapat mengjasilkan dana juga. Sehingga kegiatan
pengembangan potensi komunitas tidak terputus hanya
karena tidak ada dana. Agar tidak memberatkan dana juga
dapat dikumpukan secara rutin melalui kegiatan bersama
misalnya “galibu” (gerakan lima ribu) yang dikumpulkan
setiap bulan atau gerakan “serbu” (seminggu seribu) yang
dikumpukan melalui ketua dasa wisma masing-masing.
Faktor kedua yang sering dianggap menjadi penghambat
pengembangan potensi komunitas seperti telah dijelaskan
banyak pendapat di atas adalah masalah pengetahuan
masyarakat yang masih minim termasuk didalamnya
kurangnya paparan terhadap informasi. Kondisi ini bisa
322
disebabkan banyak alasan. Pertama bisa karena aksesnya
terhadap informasi memang kurang atau adanya faktor
internal dari komunitas sendiri untuk tidak menerima
perubahan, baik karena prasangka negatif, benturan budaya
atau masalah lainnya. Masalah sarana dan prasarana menurut
penulis memang termasuk dalam hambatan dalam
pengembangan potensi komunitas, namun hal ini masih
dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan.

A. Membangun Komunikasi dalam Komunitas


Komunikasi dalam sebuah organisasi ibarat rantai yang
akan menyambungkan antara satu bagian dengan bagian
lainnya. Tanpa komunikasi tidak dapat terjamin kerjasama,
karena banyak hal-hal yang harus disampaikan melalui
komunikasi sebagai medianya. Ada berbagai jenis model
atau pola komunikasi, antara lain:
1) Jaringan Roda adalah pola komunikasi yang berpusat
hanya pada pimpinan saja.

323
2) Jaringan Rantai adalah pola komuniksi yang terjadi
hanya pada anggota kelompok yang berada di
sampingnya.
3) Jaringan Y adalah pola komunikasi yang terjadi
serupa dengan jaringan rantai. Setiap anggota hanya
bisa berkomunikasi dengan satu orang anggota saja.
4) Jaringan lingkaran, komunikasi dengan anggota
komunikasi dapat dilakukan dengan dua orang
dikanan dan kirinya namun tidak dapat
berkomunikasi terbuka unutk setiap anggota
kelompok didalamnya (Mikke Setiawati and
Makkuraga Putra, 2021).

Dalam membangun komunikasi dibutuhkan adanya


strategi komunikasi. Strategi komunikasi dapat dimaknai
sebagai sebuah rancangan atau rumusan yang dibuat untuk
mengartikulasikan, menjelaskan, mempromosikan dan
mengubah tingkah laku manusia melalui transfer ide-ide
baru. Dengan kata lain, strategi komunikasi bertujuan untuk
mengubah tingkah laku manusia yang awalnya tidak tahu
menjadi tahu, yang awalnya tidak setuju menjadi setuju, dan
begitu pula sebaliknya (Astuti and Fatmawati, 2021).
324
Sentral komunikasi terdiri dari tiga tujuan utama yaitu:
(1) Mengamankan pemahaman
(2) Membentuk penerimaan
(3) Memotivasi tindakan
Tujuan pertama adalah untuk mengamankan
pemahaman (to secure understanding), dan memastikan
komunikan mengerti pesan yang diterimanya (Herry
Setyawan et al., 2019). Jika sudah dimengerti dan dapat
diterima, maka penerimaannya itu harus dibina (to establish
acceptance), dan dimotivasikan (to motivate action) (Astuti
and Fatmawati, 2021).
Menurut wood dalam (Kusumadewi and Hastasari,
2020), terdiri dari tiga model yaitu model linear, interaktif
dan transaksional. Komunikasi kelompok dalam komunitas
mendefinisikan komunikasi kelompok adalah komunikasi
yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu
kelompok kecil seperti dalam rapat dan pertemuan.
Komunikasi kelompok berfungsi untuk menjelaskan
bagaimana interaksi setiap individu dengan kelompok dalam
menciptakan kesepahaman, seperti halnya berbagi
informasi, pemecahan masalah sehingga semua anggota
kelompok dapat menumbuhkan karakteristik pribadi lainnya
325
dengan akurat, sehingga kekerabatan, persaudaraan dalam
kelompok dapat terjaga. Pola komunikasi merupakan
pengembangan dari struktur jaringan komunikasi. Dengan
jaringan komunikasi dapat diketahui bentuk hubungan atau
koneksi orang-orang tertentu, keterbukaan satu kelompok
dengan kelompok lainnya dan orang-orang yang memegang
peranan utama dalam kelompok (Ketut et al., 2017).
Apabila dalam suatu komunitas, komunikasi yang terjadi
dan terjalin antara sesama anggota berjalan dengan baik,
komunikasi kelompok dalam komunitas dapat membentuk
konsep diri anggotnya serta konsep diri juga mengarah
kepada konsep diri positif yaitu meningkatkan rasa
kepedulian, meningkatkan rasa percaya diri akan
kemampuan diri yang dimiliki, memiliki banyak teman,
menjadi lebih menghargai orang lain dan meningkatkan
kemampuan berkomunkasi dengan baik (Soleh, 2019).
Komunikasi kelompok atau komunitas, memiliki tujuan
dan oraganisasi (meskipun konteks yang dihadirkan tidak
selalu bersifat formal) dan melibatkan interaksi diantara
anggota-anggotanya. Jadi, ada dua tanda kelompok secara
psikologis, yaitu :

326
a. Anggota-anggota kelompok merasa terikat dengan
kelompok
b. Nasib anggota-anggota kelompok saling bergantung,
sehingga hasil setiap orang terkait dalam cara
tertentu dengan hasil yang lain
Riswandi mengatakan dalam (Soleh, 2019), bahwa ada
empat faktor situasional yang mempengaruhi efektifitas
komunikasi kelompok, diantaranya ukuran kelompok,
jaringan komunikasi, peran yang dimainkan oleh anggota
kelompok agar dapat membantu menyelesaikan tugas
kelompok, memelihara hubungan emosional dengan baik,
atau hanya mementingkan kepentingan individu saja.
Setiap peristiwa yang dialami akan menjadi sebuah
pengalaman bagi individu. Pengalaman yang diperoleh
mengandung suatu informasi atau pesan tertentu. Informasi
ini akan diolah menjadi pengetahuan. Dengan demikian
berbagai peristiwa yang dialami dapat menambah
pengetahuan individu. Suatu peristiwa yang mengandung
unsur komunikasi akan menjadi pengalaman komunikasi
tersendiri bagi individu, dan pengalaman komunikasi yang
dianggap penting akan menjadi pengalaman yang paling

327
diingat dan memiliki dampak khusus bagi individu tersebut
(Bosma, 2017).
Pengalaman yang dijadikan landasan bagi individu
untuk melakukan tindakan, adalah pengalaman yang
melekat pada suatu fenomena. Hal ini ditegaskan oleh
pernyataan yang menyebutkan, bahwa people is retrieving
a memory of a prior experience of phenomena (Bosma,
2017). Sementara Lori Kendall, menyatakan adanya ruang
lingkup komunitas pada dunia internet (Fathurokhmah and
Si, 2019). Terdapat empat factor yang muncul sebagai
karakter komunitas virtual, yaitu konteksnya eksternal,
struktur yang tidak tetap, tujuan kelompok atau minat yang
sama, dan karakteristik partisipannya. Jadi, selama keempat
hal tersebut ada dalam interaksi mereka dan berlangsung
terus-menerus, komunitas yang sifatnya virtualpun akan
terwujud.

328
DAFTAR PUSTAKA

Abhari, K., Davidson, E. J. and Xiao, B. (2019) ‘Collaborative


innovation in the sharing economy: Profiling social product
development actors through classification modeling’,
Internet Research.
Adhimi, A. W. and Prasetyawan, Y. Y. (2019) ‘Peran Komunitas
Ruang Literasi Juwana Dalam Upaya Pemberdayaan
Masyarakat di Desa Langgen Kecamatan Juwana’, Jurnal
Ilmu Perpustakaan, 8(3), pp. 217–226.
Ahmad, M. (2007) ‘Asset Based Communities Development
(ABCD): Tipologi KKN Partisipatif UIN Sunan Kalijaga’,
Jurnal Aplikasi Llmu-Ilmu Agama, 8(2).
Annafi, M. fadli, Idi, A. and Fauzi, M. (2021) ‘P-ISSN 2656-
1549 and E-ISSN PERAN KOMUNITAS RELAWAN
ANAK SUMATERA SELATAN DALAM
MEMBENTUK KARAKTER PERCAYA DIRI ANAK
JALANAN (STUDI KASUS DI KECAMATAN
GANDUS KOTA PALEMBANG) Muhammad’, 3(1), pp.
186–200.
Ansori, M. et al. (2021) Pendekatan-Pendekatan University
Community Engagement. Surabaya: UIN SUNAN
AMPEL PRESS.
Arafah, Y. and Winarso, H. (2020) ‘Peningkatan dan Penguatan
Partisipasi Mayarakat dalam Konteks Smart City’, Tata
Loka, 22(1), pp. 27–40.
Astuti, R. and Fatmawati, F. (2021) ‘Strategi Komunikasi
329
Komunitas Peduli Jilbab dalam Sosialisasi Pemakaian
Jilbab Syar’i diKalangan Muslimah’, Alhadharah: Jurnal
Ilmu Dakwah, 20(1), p. 1. doi:
10.18592/alhadharah.v20i1.3851.
Balzer, D. W. (2012) ‘Positive deviance: empowering ecclesial
contextualization with theological praxis’.
Blickem, C. et al. (2018) ‘What is asset-based community
development and how might it improve the health of people
with long-term conditions? A realist synthesis’, Sage Open,
8(3), p. 2158244018787223.
Bollinger, A. S. and Smith, R. D. (2001) ‘Managing
organizational knowledge as a strategic asset’, Journal of
knowledge management.
Bosma, F. D. (2017) ‘Fenomena komunikasi komunitas kelas
inspirasi (studi fenomenologi’, Jom FISIP, 4(2), pp. 1–13.
Brake, L. (2012) ‘Half full and half empty’, Journal of Victorian
Culture, 17(2), pp. 222–229.
Cheban, Y. et al. (2020) ‘Mental resources for the self-
mobilization of rowing athletes’, Journal of Physical
Education and Sport, 20(3), pp. 1580–1589.
Coy, D. et al. (2021) ‘Rethinking community empowerment in
the energy transformation: A critical review of the
definitions, drivers and outcomes’, Energy Research &
Social Science, 72, p. 101871.
Drahos, P. and Braithwaite, J. (2017) Information feudalism:
Who owns the knowledge economy? Routledge.

330
Dzulfikar, A. (2018) ‘Pemberdayaan Komunitas Karang Taruna
dalam menciptakan Lingkungan Green And Clean di
Banyu Urip Kidul Vii Rt 07/Rw 03 Kecamatan Sawahan
Kelurahan Banyu Urip Kota Surabaya’. UIN Sunan Ampel
Surabaya.
Eliza, F. R., Ridwan, M. and Noerjoedianto, D. (2018) ‘Peran
Pemerintah Terhadap Program Pemberdayaan Komunitas
Adat Terpencil Suku Anak Dalam (SAD) Di Provinsi
Jambi Tahun 2018’, Jurnal Kesmas Jambi, 2(1), pp. 40–49.
doi: 10.22437/jkmj.v2i1.6538.
Epstein, J. L. (2010) ‘School/family/community partnerships:
Caring for the children we share’, Phi delta kappan, 92(3),
pp. 81–96.
Fahmi, S. C. (2020) ‘PEMBERDAYAAN EKONOMI
KOMUNITAS MUSLIM ( STUDI PADA MAJELIS TA ’
LIM AL- Silvina Choirotul Fahmi Institut Agama Islam
Negeri Ponorogo Luhur Prasetiyo Institut Agama Islam
Negeri Ponorogo’, 5.
Fathurokhmah, F. and Si, M. (2019) ‘KOMUNIKASI
KOMUNITAS VIRTUAL DAN GAYA HIDUP GLOBAL
KAUM REMAJA GAY DI MEDIA SOSIAL’, 23(1), pp.
40–52.
Haryono, D., Wisadirana, D. and Chawa, A. F. (2018) ‘Strategi
Pemberdayaan Komunitas Perempuan Miskin Berbasis
Agribisnis’, Advanced Optical Materials, 10(1), pp. 1–9.
Hasad, A. and Yulius, E. (2020) ‘Pengembangan Peran
Pemberdayaan Masyarakat Berbabis Komunitas’, Devosi,
1(2), pp. 28–31. doi: 10.33558/devosi.v1i2.2506.
331
Hermawan, Y. and Suryono, Y. (2016) ‘Partisipasi masyarakat
dalam penyelenggaraan program-program pusat kegiatan
belajar masyarakat Ngudi Kapinteran’, JPPM (Jurnal
Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat), 3(1), pp. 97–
108.
Herry Setyawan, W., Budiman, A., Septa Wihara, D., Setyarini,
T., & Nurdyansyah, R. (2019). R., & Barid Nizarudin
Wajdi, M.(2019). The effect of an android-based
application on T-Mobile learning model to improve
students’ listening competence. Journal of Physics:
Conference Series, 1175(1).
[Link]
6596/1175/1/012217/pdf
Hidayani, H. and Warsono, H. (2017) ‘Analisis Kemitraan
dalam Pengembangan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota
Semarang’, Journal Of Public Policy And Management
Review, 6(2), pp. 389–402.
Ismawati, N. R. (2020) ‘Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat
Melalui Badan Usaha Milik Desa (Bumdes)’, Lembaran
Masyarakat: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam, 6(1),
pp. 91–116.
Kasila, M. and Kolopaking, L. M. (2018) ‘Partisipasi pemuda
desa dalam perkembangan usaha Bumdes “Tirta Mandiri”’,
Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
[JSKPM], 2(1), pp. 43–58.
Ketut, N. et al. (2017) ‘Mempertahankan Solidaritas Kelompok
( Studi pada KUTU Vespa Region Bali )’, E-Jurnal
Medium, 1(1), pp. 1–10.

332
Kusumadewi, A. R. and Hastasari, C. (2020) ‘Pola Komunikasi
Komunitas Cosplay Di Yogyakarta’, Journal of Scientific
Communication (Jsc), 2(2), pp. 85–99. doi:
10.31506/jsc.v2i2.8277.
Kusyairy, U. (2010) ‘Efektivitas pelatihan penyimpangan positif
terhadap peningkaatn perilaku sehat penyimpang positif
terkait prevensi hepatitis A’. Universitas Gadjah Mada.
Mardiharto, A. Z. (2017) ‘COSPLAY Fungsi Komunitas Cosura
bagi Para Anggotanya’, AntroUnairdotNet, VI(3), pp. 311–
324.
Margayaningsih, D. I. (2018) ‘Peran Masyarakat Dalam
Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat di Desa’, Jurnal
Publiciana, 11(1), pp. 72–88.
Maryani, D. and Nainggolan, R. R. E. (2019) Pemberdayaan
Masyarakat. Deepublish.
Mikke Setiawati and Makkuraga Putra, A. (2021) ‘Pola
Komunikasi Komunitas di Media Sosial Dalam
Menciptakan Minat Entepreneur’, Communications, 3(1),
pp. 43–57. doi: 10.21009/communications.4.1.3.
Molanorouzi, K., Khoo, S. and Morris, T. (2015) ‘Motives for
adult participation in physical activity: type of activity, age,
and gender’, BMC public health, 15(1), pp. 1–12.
Nasdian, F. T. (2014) Pengembangan Masyarakat. Yayasan
Pustaka Obor Indonesia.
Nel, H. (2015) ‘An integration of the livelihoods and asset-based
community development approaches: A South African case
study’, Development Southern Africa, 32(4), pp. 511–525.
333
Nel, H. (2018) ‘Community leadership: A comparison between
asset-based community-led development (ABCD) and the
traditional needs-based approach’, Development Southern
Africa, 35(6), pp. 839–851.
Pellicano, E., Dinsmore, A. and Charman, T. (2014) ‘What
should autism research focus upon? Community views and
priorities from the United Kingdom’, Autism, 18(7), pp.
756–770.
Preece, J. (2016) ‘Negotiating service learning through
community engagement: Adaptive leadership, knowledge,
dialogue and power’, Education as Change, 20(1), pp. 1–
22.
Pushpha, A. A. G. and Dananjaya, I. G. A. N. (2019) ‘Strategi
Pengembangan Kebun Raya Eka Karya Bali Sebagai
Obyek Wisata Di Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti,
Kabupaten Tabanan’, dwijenAGRO, 9(2), pp. 67–75.
Rahman, K. (2016) ‘Pemberdayaan Partisipasi Masyarakat
Dalam Pembangunan Desa’, WEDANA: Jurnal Kajian
Pemerintahan, Politik dan Birokrasi, 2(2), pp. 189–199.
Reskiaddin, L. O. et al. (2020) ‘Tantangan Dan Hambatan
Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pengendalian Penyakit
Tidak Menular di Daerah Semi-Perkotaan : Sebuah
Evidence Based Practice di Padukuhan Samirono, Sleman
Yogyakarta’, Jurnal Kesmas Jambi, 4(2), pp. 43–49. doi:
10.22437/jkmj.v4i2.10569.
Revans, R. (2017) ABC of action learning. Routledge.
Sahlberg, P. (2010) ‘Rethinking accountability in a knowledge
334
society’, Journal of educational change, 11(1), pp. 45–61.
Salahuddin, N. (2015) ‘Panduan KKN ABCD UIN Sunan
Ampel Surabaya Asset Based Community-Driven
Development (ABCD)’. LP2M UIN Sunan Ampel
Surabaya.
Shalahuddin, Y., Rahman, F., & Setyawan, W. H. (2021).
Pemodelan Simulasi Untuk Praktikum Teknik Otomasi
Industri Berbasis Matlab/Simulink Di SMKN 1 Kediri.
Jurnal Pelayanan Dan Pengabdian Masyarakat (Pamas),
5(1), 15–26.
[Link]
Setyawan, W. H. (2016). IMPLEMENTING THE DISTANCE
TRAINING FOR ENGLISH PRIMARY TEACHER IN
KEDIRI. Jurnal TEKPEN, 1(1).
[Link]
Shoshana, A. (2012) ‘Governmentality, new population and
subjectivity’, Subjectivity, 5(4), pp. 396–415.
Siska Devi Ratna Sari S. Kom. I., M. S. (2020) Fungsi Aset
Komunitas Dalam Pemberdayaan Masyarakat Muslim.
Profitebel.
Soleh, A.- (2019) ‘Pola Komunikasi Kelompok pada Komunitas
Pecinta Film Islami’, Anida (Aktualisasi Nuansa Ilmu
Dakwah), 19(1), pp. 17–34. doi:
10.15575/anida.v19i1.5037.
Srining Prapti, M., Trimeiningrum, E. and Irmawati, B. (2020)
‘Faktor Penghambat Dan Pemicu Menjadi Ecopreneur
Studi Pada Ikm Di Kota Semarang’.
335
Tandos, R. and Kalyanamitra, Y. (2021) ‘Strategi pemberdayaan
kader posyandu melalui pendampingan komunitas di
yayasan kalyanamitra’, 1(2), pp. 1–10.
Undang -Undang Republik Indonesia No.17 Tahun 2013 (2013).
Wilhite, B. and Shank, J. (2009) ‘In praise of sport: Promoting
sport participation as a mechanism of health among persons
with a disability’, Disability and Health Journal, 2(3), pp.
116–127.
Yeneabat, M. and Butterfield, A. K. (2012) ‘“We Can’t Eat a
Road:” Asset-Based Community Development and The
Gedam Sefer Community Partnership in Ethiopia’, Journal
of Community Practice, 20(1–2), pp. 134–153.
Zubaedi (2013) ‘BUKU PENGEMBANGAN MASYARAKAT
(1).pdf’, p. 270.

336
BIODATA PENULIS
Dr. Rika Nurhidayah, [Link]. [Link]
merupakan dosen di Fakultas Keperawatan
USU departemen Keperawatan Dasar.
Menyelesaikan pendidikan sarjana
keperawatan di Universiras Padjadjaran,
Bandung dan menyelesaikan program
magister dan doktor di Universitas Negeri
Medan

337
METODE ABCD

BAB 10
PENUTUP
BAB 10 PENUTUP
Asset Based Community Development atau lebih dikenal
dengan sebutan ABCD adalah sebuah usaha yang memastikan
bahwa kegiatan pembangunan masyarakat selayaknya
menempatkan posisi manusia dengan segala potensi dan aset
yang dimiliki berkembang sesuai dengan kapasitasnya.
Pendekatan ABCD digunakan sebagai usaha perbaikan kualitas
kehidupan manusia dengan pola pembangunan yang
menempatkan manusia menjadi pelaku utama. Pendekatan
ABCD adalah jenis pendekatan kritis yang masuk dalam lingkup
pengembangan masyarakat berbasis pada kekuatan dan aset
yang dimiliki oleh masyarakat. Selain itu, ABCD juga
merupakan pendekatan yang sangat menekankan kepada
kemandirian masyarakat dan terbangunnya sebuah tatanan
dimana warga yang aktif menjadi pelaku dan penentu
pembangunan. Di Indonesia sendiri, Pendekatan ABCD mulai
digunakan pada awal tahun 2013. Hal ini terbukti dengan
banyaknya perguruan tinggi yang melaksanakan kegiatan
pemberdayaan masyarakat melalui program Kuliah Kerja Nyata

338
METODE ABCD

(KKN) yang tidak hanya menggunakan satu pendekatan saja.


Mengingat pola ini masih menjadi rintisan maka dukungan
berbagai pihak sangat dibutuhkan, terlebih lagi dukungan yang
berasal dari Perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta
sebagai salah satu lembaga pendidikan yang memiliki peran
sangat strategis untuk ikut serta dalam mengimplementasikan
pendekatan ABCD ini. Lebih dari itu, perguruan tinggi juga
dapat berperan dalam mewujudkan bagaimana terbentuknya
manusia Indonesia yang memiliki kepedulian dan keaktifan
sebagai warga negara.

Dalam menerapkan pendekatan ABCD ini, fasilitator


hendaknya memperhatikan beberapa hal penting yang menjadi
bagian dari pendekatan ini. Adapun bagian penting yang
dimaksud mulai dari prinsip-prinsip, ruang lingkup, gambaran
cara kerja ABCD serta alat yang digunakan dalam menemukan
dan memobilisasi aset masyarakat. Setelah fasilitator
pemberdayaan masyarakat menguasai bagian – bagian tersebut,
maka fasilitator baru bisa melaksanakan kegiatan pemberdayaan
masyarakat menggunakan pendekatan ABCD.

339
METODE ABCD

Prinsip – prinsip dalam pendekatan Asset Based


Community Development dalam buku ini dijelaskan dalam bab
2 dengan pembahasan di dalamnya meliputi Setengah Terisi
lebih Berarti (Half Full Half Empty), Semua Punya Potensi
(Nobody Has Nothing), Partisipasi (Participation), Kemitraan
(Partnership), Penyimpangan Positif (Positive Deviance).
Masing – masing prinsip tersebut sudah dijelaskan dalam bab
dua secara sederhana, tersendiri dan sedikit menggunakan
bahasa teknis dengan tujuan agar mudah untuk difahami.

Ruang lingkup Asset Based Community Development


dalam buku ini dijelaskan dalam bab 3 yang isinya membahas
tentang ruang lingkup asset based community development
dalam pemberdayaan masyarakat dan kedudukan asset based
community development dalam metode participatoris. Alasan
yang mendasari penulis dalam pemberian ruang lingkup dan
kedudukan ABCD dalam buku metode ABCD ini adalah penulis
menganggap bahwa pendekatan berbasis aset adalah perpaduan
antara metode bertindak dan cara berpikir tentang
pembangunan. Pendekatan ini merupakan pergeseran yang
penting sekaligus radikal dari pandangan yang berlaku saat ini
tentang pembangunan serta menyentuh setiap aspek dalam cara
340
METODE ABCD

kita terlibat dalam pelaksanaan pembangunan. Pendekatan


berbasis aset fokus pada sejarah keberhasilan yang telah dicapai,
mengenali para pembaru atau orang-orang yang telah sukses dan
menghargai potensi melakukan mobilisasi serta mengaitkan
kekuatan dan aset yang ada. Maka diperlukan pembahasan
tentang ruang lingkup ABCD dalam pemberdayaan masyarakat
dan kedudukan ABCD dalam metode participatoris.
Gambaran cara kerja Asset Based Community
Development dalam buku ini, dijelaskan pada bab 4 yang di
dalamnya membahas tentang penyusunan tahapan kegiatan
ABCD yang meliputi Appreciative Inquiry, Community map,
Sirkulasi Keuangan (Leaky Bucket), dan Skala Prioritas (Low
Hanging Fruit), yang bertujuan untuk mengetahui aset yang
dimiliki oleh masyarakat.
Untuk dapat memahami tentang gambaran cara kerja
Asset Based Community Development, maka penulis
memberikan keterangan lebih lanjut lagi dalam bab 5 yang di
dalamnya membahas lebih lsnjut tentang penemuan

apresiatif, penelusuran wilayah, pemetaan asset

komunitas, pemetaan asosiasi dan institusi, pemetaan

asset individu, pemetaan perputaran ekonomi komunitas


341
METODE ABCD

dan matrik scorrin.

Selanjutnya, melalui buku metode Asset Based

Community Development ini, penulis menambahkan


pembahasan tentang teknik fasilitasi partisipatif, tips dalam
memfasilitasi monitoring dan evaluasi partisipatif, tantangan
dalam penerapan asset based community development, dan
pendekatan dalam pengembangan komunitas agar nantinya
memberikan kemudahan bagi fasilitator pemberdayaan
masyarakat dalam menerapkan pendekatan Asset Based

Community Development.

342
METODE ABCD

BIODATA PENULIS

Moh. Yusuf efendi, [Link].I., M.A lahir di


Bojonegoro, tanggal 06 Januari 1989.
Pendidikan dasar hingga sekolah
menengah atas ditempuhnya di daerah
kelahirannya. Mendapatkan gelar Strata
Satu Jurusan Pendidikan Agama Islam di
Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Giri
Bojonegoro tahun 2011, dan Gelar
Megister Agama dengan konsentrasi
pendidikan agama islam diperolehnya dari
Universitas Islam Lamongan Tahun 2015.

Menjadi Dosen Tetap di Universitas Nahdlatul ulama Sunan


Giri Bojonegoro sejak tahun 2016. Mata Kuliah yang dibinanya
yaitu Pendidikan Agama Islam, Participatory Action Research,
Teori Pembelajaran, Interpreneurship, Filsafat Ilmu Dan Etika.
Kegiatan penelitian yang pernah dilakukanya adalah Pemetaan
Tingkat Religiusitas Daerah Melalui Kegiatan Keagamaan
Menggunakan Sistem Informasi Geografis Di Kecamatan
Temayang yang didanai oleh kemenristek dikti pada tahun 2018.
Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukanya yaitu
Membangun Kepedulian Masyarakat Melalui Festival
Permainan Tradisional Guna Meningkatkan Rasa Cinta Akan
Budaya Daerah Berbasis Participatory Action Research yang
didanai oleh internal kampus pada tahun 2019. Buku yang
pernah ditulis 1) Abdimas Untuk Negeri Implementasi Kinerja

343
METODE ABCD

Dosen dalam Bentuk Pengabdian di Masyarakat, 2)


Pengembangan Sumber Daya Manusia Perguruan Tinggi:
Sebuah Konsep, Fakta dan Gagasan, 3) metode pemberdayaan
masyarakat.

344

Anda mungkin juga menyukai