Pembangunan Berbasis Aset Komunitas ABCD
Pembangunan Berbasis Aset Komunitas ABCD
Penulis:
Wawan Herry Setyawan, Mansur, Betty Rahayu, Siti Maryam,
Aslichah, Khoiruddin, Humaidah Muafiqie, Endah Marendah
Ratnaningtyas, Rika Nurhidayah, Moh. Yusuf Efendi.
Editor:
[Link] Herry Setyawan, [Link].
Yusuf Efendi, [Link].I, M.A
ISBN: 978-623-99691-2-7
Buy Online:
[Link]
Diterbitkan oleh
Buku ini terdiri dari 10 Bab yang meliputi berbagai aspek terkait
metode ABCD. Akhir kata, semoga buku ini dapat bermanfaat
sebesar-besarnya. Sebagai sebuah karya, tentu saja buku ini tidak
lepas dari kesalahan dan kekurangan. Oleh karena ini kritik dan saran
dapat disampaikan kepada penerbit sebagai bahan masukan dan
perbaikan buku ini ke depannya.
Editor
DAFTAR ISI
BAB I PENGANTAR 1
BAB 2 PRINSIP 7
BAB 3 RUANG LINGKUP 46
BAB 4 GAMBARAN CARA KERJA 77
BAB 5 METODE DAN ALAT DALAM MENEMUKAN DAN
MEMOBILISAI ASET 103
BAB 6 PELAKSANAAN 168
BAB 7 TEKNIK FASILITASI PARTISIPATIF 225
BAB 8 TIPS DALAM MEMFASILITASI MONITORING DAN
EVALUASI PARTISIPATIF 271
BAB 9 PENDEKATAN DALAM PENGEMBANGAN KOMUNITAS 301
BAB 10 PENUTUP 338
BAB 1
Pendahuluan Apa itu Metod ABCD
BAB 1 Pendahuluan
Pada pembahasan kali ini penulis yang berasal dari para
akademisi berkolaborasi dalam menyajikan buku tentang teori
konsep komunitas dengan pendekatan ABCD.
Daftar Pustaka
5
Biografi Penulis
Dr. Wawan Herry Setyawan, [Link].,
[Link]. Dosen Universitas Islam
Kadiri-Kediri. Penulis menyelesaikan
studi S1 idi Universitas Islam Kadiri
pada tahun 2005 di Fakultas
Pendidikan Bahasa Inggris. Penulis
melanjutkan lulus studi Magister
Pendidikan Bahasa Inggris di
Universitas Khatolik Widya Mandala
Surabaya pada tahun 2009. Penulis
juga telah menyelesaikan studi
program Doktor Teknologi Pendidikan
pada tahun 2019. Penulis selain mengajar pada fakultas
pendidikan bahasa Ingrris juga mendapat tugas dari kementrian
pendidikan sebagai pendamping yaitu Pelatih Ahli program
sekolah penggerak di 5 sekolah di Kabupaten Nganjuk.
Pengabdian kepada Masyarakat adalah bentuk nyata Tri Dharma
Perguruan Tinggi bagi seorang Akademisi sebagai Dosen di
Perguruan Tinggi. Memberikan pelayanan dalam dunia
Pendidikan Menjadi tantangan tersendiri bagi Penulis sekaligus
berharap dapat memberikan dampak kemajuan dalam dunia
pendidikan secara meluas bahwa pendidikan di Indonesia
menjadi makin lebih bermutu, berkualitas serta bermakna bagi
warga pendidikan yang terkait. Contact Person:
wawansetyawan@[Link] Call/Wa: 081234300123.
6
BAB 2
Prinsip ABCD
BAB 2 Prinsip ABCD
8
target komunitas. Keinginan tersebut akan memiliki kekuatan
besar apabila berfikir bagaimana cara mengoptimalisasi asetnya
(Drahos and Braithwaite, 2017).
9
kemudian mereka jeli dalam memanfaatkan lahan kosong di
wilayah desa yang mereka tinggali, yaitu berupa Kebun
Strawberry. Wisata Petik Strawberry mampu menambah
pemasukan anggota komunitas tersebut (Salahuddin, 2015;
Pushpha and Dananjaya, 2019).
10
dikembangkan di Desa Ponggok termasuk pengembangan
BUMDes yang memiliki 9 macam usaha. Sampai pada akhir
tahun 2017, BUMDes Desa Ponggok memiliki omset sebesar
14,2 miliar (Kasila and Kolopaking, 2018; Ismawati, 2020).
12
karena kadar oksigen yang diberikan terlalu kuat sementara
badan Ani kecil lemah dalam meresponnya berdampak pada
syaraf penglihatannya yang pada akhirnya menyebabkan
kebutaan pada kedua matanya. Ani kecil masih beruntung dan
dapat menyelesaikan pendidikannya hingga jenjang SMP.
Selesai pendidikan di SMP Ani kecil mengabdikan dirinya
sebagai guru ngaji untuk anak-anak yang lebih belia dari
usianya. Seiring dengan berlalunya waktu ia belajar menulis
huruf braille untuk sesama penyandang tunanetra. Kemampuan
tersebut terus diasah dan mulai banyak orderan menulis Bahasa
Arab menggunakan huruf braille seperti Buku Yasin, Tahlil dan
buku-buku agama lainnya. Keahlian tersebut terus
dikembangkan dan di usia dewasanya, Bu Ani terkenal sebagai
penulis Alquran braille di kalangan penyandang Tunanetra.
Berkat keahliannya inilah beliau hidup layak dan bermartabat,
karena memegang teguh keyakinannya bahwa apa yang
diberikan Tuhan adalah anugerah yang harus disyukuri.
Ketidakmampuan melihat seperti halnya orang kebanyakan
tidak menjadikannya patah arang yang hanya menunggu
dikasihani orang lain (Salahuddin, 2015).
13
Gambaran di atas menjadi cerminan nyata bahwa
perubahan hidup seseorang tidak ditentukan oleh kecerdasannya
melainkan sejauh mana keyakinannya terhadap pemberian
Tuhan kepadanya. Jika Bu Ani yang memiliki keterbatasan fisik
saja mampu berkontribusi dalam komunitas tunanetra dan
hidupnya lebih bermartabat, tentu kita yang memiliki fisik yang
sempurna harusnya bisa berkontribusi lebih terhadap orang-
orang di sekitar kita. Tuhan memberikan fasilitas fisik yang
sempurna agar bisa bermanfaat lebih terhadap sesamanya.
Apabila kita hidup di kalangan orang-orang yang memiliki
anugerah fisik yang sempurna berarti sesungguhnya kita, dan
orang-orang yang memiliki kesempurnaan fisik yang sama agar
dapat memberikan manfaat lebih kepada banyak orang yang ada
di komunitasnya, bahkan untuk banyak orang.
c. Partisipasi (Participation)
Kata “participation” diambil dari Bahasa Inggris yang
diadaptasi menjadi “partisipasi” yang artinya pengikutsertaan
atau pengambilan bagian. Partisipasi merupakan keterlibatan
emosi dan mental seseorang untuk mencapai tujuan dan ikut
bertanggung jawab di dalamnya. Keterlibatan tersebut bisa di
dalam kelompok ataupun perorangan dalam pembangunan ke
14
arah yang lebih baik. Baik berbentuk pernyataan ataupun berupa
masukan ide, tenaga, materi, waktu, keahlian, serta ikut
memanfaatkan dan menikmati hasilnya (Wilhite and Shank,
2009; Arafah and Winarso, 2020).
15
2. Partisipasi horizontal; adalah kondisi masyarakat
dimana posisi antar anggotanya saling berpartisipasi
dengan anggota masyarakat yang lain secara horizontal
atau setara, baik dalam melakukan usaha bersama
ataupun dalam rangka melakukan program dengan pihak
lain.
17
3. Partisipasi dalam pengambilan manfaat. Partisipasi
ini tidak lepas dari hasil penerapan yang telah
dicapai baik yang berkaitan dengan kuantitas dan
kualitas. Dari aspek kualitas dapat ditilik dari
outputnya, sedangkan dari aspek kuantitas dapat
dipilih dari prosentase keberhasilan kegiatan.
18
2. Partisipasi sebagai kontributor. Kontribusi berupa
informasi, sumber daya ataupun membantu
pekerjaan dan merupakan bentuk partisipasi
masyarakat. Di dalam merencanakan program
kegiatan tentu ada peran-peran masyarakat
walaupun kelihatannya sangat sedikit. Namun hal
tersebut menjadi kontribusi yang penting dalam
membangun aset.
19
dalam proyek atau program. Walaupun mereka tidak
terlibat dalam pengambilan keputusan program.
d. Kemitraan (Partnership)
Secara harfiah, partnership berarti kemitraan.
Kemitraan dimaknai sebagai hubungan yang dibangun
oleh beberapa individu atau kelompok yang didasari asas
kerjasama dan tanggung jawab yang sama dalam
mencapai target tertentu (Hidayani and Warsono, 2017).
21
tujuan bersama berdasarkan kesepakatan prinsip dan
peran masing-masing pihak (Epstein, 2010).
22
apabila di dalamnya telah terbentuk rasa memiliki (sense
of belonging) terhadap pembangunan di daerahnya (Nel,
2015).
23
Prinsip saling kesepahaman, artinya masing-masing
pihak harus saling memahami dan saling mengerti
antara mitra yang terlibat. Kesepahaman yang
dimaksud di dalam prinsip ini adalah tentang konsep
kemitraan yang sedang dibangun di dalam
komunitas.
25
menguntungkan terhadap pihak-pihak yang bermitra
dalam waktu panjang.
26
memiliki fokus, tepat sasaran dan berdaya guna
secara optimal.
2. Seleksi potensi-kekuatan
Setelah kedua pihak saling mengenal potensi
kekuatan masing-masing langkah berikutnya adalah
menyeleksi potensi kekuatan tersebut. Seleksi ini
berkaitan dengan kebutuhan dan konteks kemitraan
yang akan dilaksanakan. Jadi tidak semua potensi
kekuatan dilibatkan, karena akan menyebabkan
kontra-produktif.
5. Menumbuhkan kesepakatan
Kesepakatan yang dimaksud adalah dalam bentuk
kemitraan, tanggung jawab dan tujuan kemitraan,
penetapan rumusan kegiatan dan memadukan
sumber daya, potensi dan kelebihan yang tersedia di
masing-masing mitra kerja.
28
monitoring dan evaluasi (W. H. Setyawan, 2016).
Monitoring dilakukan sejak awal agar dihindari
terjadinya penyimpangan atau bahkan hal yang
berlawanan dengan kesepakatan awal, sehingga
sejak dini dapat diluruskan kembali. Sedangkan
evaluasi adalah kegiatan yang yang mengiringi
monitoring untuk memperbandingkan hasil yang
telah dicapai sesuai perencanaan dalam kemitraan
tersebut.
29
tindakan kebanyakan orang pada umumnya. Strategi dan
tindakan tersebut membawanya pada keberhasilan yang
melebihi orang lain pada umumnya. Realitas ini menunjukkan
bahwa mereka memiliki aset atau sumber daya sendiri untuk
mendapatkan perubahan yang diharapkan (Shoshana, 2012;
Salahuddin, 2015; Setyawan 2017).
Penyimpangan positif ini terjadi biasanya bermula dari
ketidaksampaian harapan masyarakat secara umum dari apa
yang telah dilakukannya secara berulang-ulang dalam
masyarakat. Ada ketidakpuasan segelintir orang melihat
ketidakberhasilan secara umum, sementara orang kebanyakan
menganggap telah berhasil walaupun tidak signifikan.
Penyimpangan positif akan menjadi realitas baru ketika
disosialisasikan kepada masyarakat secara umum (Kusyairy,
2010).
Konsep penyimpangan positif ini lahir dalam penelitian
gizi di Tahun 1970-an. Kemiskinan yang melanda masyarakat
berakibat buruknya gizi anak pada masa itu. Tapi ada beberapa
keluarga miskin justru memiliki anak bergizi baik. Penelitian ini
kemudian mengumpulkan informasi dan merekomendasikan
cara-cara yang telah dilakukan oleh keluarga miskin tadi sebagai
30
rujukan untuk merencanakan program peningkatan gizi
(Salahuddin, 2015).
Prinsip dalam penyimpangan positif (positive defiance)
merupakan pemberdayaan komunitas berbasis kekuatan yang
membutuhkan kesadaran dan perubahan sosial. Secara
implementatif positive defiance (PD) dilandaskan pada prinsip-
prinsip berikut (Shalahuddin, 2021; Dzulfikar, 2018):
31
5. Penyimpangan positif didasarkan bahwa lebih mudah
mengubah perilaku melalui cara berlatih atau mengalami
sendiri sesuatu yang baru tersebut daripada hanya
sekedar mengetahuinya saja
35
Astuti, R. and Fatmawati, F. (2021) ‘Strategi Komunikasi
Komunitas Peduli Jilbab dalam Sosialisasi Pemakaian
Jilbab Syar’i diKalangan Muslimah’, Alhadharah: Jurnal
Ilmu Dakwah, 20(1), p. 1. doi:
10.18592/alhadharah.v20i1.3851.
Balzer, D. W. (2012) ‘Positive deviance: empowering ecclesial
contextualization with theological praxis’.
Blickem, C. et al. (2018) ‘What is asset-based community
development and how might it improve the health of people
with long-term conditions? A realist synthesis’, Sage Open,
8(3), p. 2158244018787223.
Bollinger, A. S. and Smith, R. D. (2001) ‘Managing
organizational knowledge as a strategic asset’, Journal of
knowledge management.
Bosma, F. D. (2017) ‘Fenomena komunikasi komunitas kelas
inspirasi (studi fenomenologi’, Jom FISIP, 4(2), pp. 1–13.
Brake, L. (2012) ‘Half full and half empty’, Journal of Victorian
Culture, 17(2), pp. 222–229.
Cheban, Y. et al. (2020) ‘Mental resources for the self-
mobilization of rowing athletes’, Journal of Physical
Education and Sport, 20(3), pp. 1580–1589.
Coy, D. et al. (2021) ‘Rethinking community empowerment in
the energy transformation: A critical review of the
definitions, drivers and outcomes’, Energy Research &
Social Science, 72, p. 101871.
Drahos, P. and Braithwaite, J. (2017) Information feudalism:
36
Who owns the knowledge economy? Routledge.
Dzulfikar, A. (2018) ‘Pemberdayaan Komunitas Karang Taruna
dalam menciptakan Lingkungan Green And Clean di
Banyu Urip Kidul Vii Rt 07/Rw 03 Kecamatan Sawahan
Kelurahan Banyu Urip Kota Surabaya’. UIN Sunan Ampel
Surabaya.
Eliza, F. R., Ridwan, M. and Noerjoedianto, D. (2018) ‘Peran
Pemerintah Terhadap Program Pemberdayaan Komunitas
Adat Terpencil Suku Anak Dalam (SAD) Di Provinsi
Jambi Tahun 2018’, Jurnal Kesmas Jambi, 2(1), pp. 40–49.
doi: 10.22437/jkmj.v2i1.6538.
Epstein, J. L. (2010) ‘School/family/community partnerships:
Caring for the children we share’, Phi delta kappan, 92(3),
pp. 81–96.
Fahmi, S. C. (2020) ‘PEMBERDAYAAN EKONOMI
KOMUNITAS MUSLIM ( STUDI PADA MAJELIS TA ’
LIM AL- Silvina Choirotul Fahmi Institut Agama Islam
Negeri Ponorogo Luhur Prasetiyo Institut Agama Islam
Negeri Ponorogo’, 5.
Fathurokhmah, F. and Si, M. (2019) ‘KOMUNIKASI
KOMUNITAS VIRTUAL DAN GAYA HIDUP GLOBAL
KAUM REMAJA GAY DI MEDIA SOSIAL’, 23(1), pp.
40–52.
H Setyawan, W., . R., . N., Budiman, A., . H., Sumarno, A., &
Rais, P. (2018). Challenged Solving in Listening Through
T-Mobile Learning Model. International Journal of
Engineering & Technology, 7(4.15), 443.
[Link]
37
Haryono, D., Wisadirana, D. and Chawa, A. F. (2018) ‘Strategi
Pemberdayaan Komunitas Perempuan Miskin Berbasis
Agribisnis’, Advanced Optical Materials, 10(1), pp. 1–9.
Hasad, A. and Yulius, E. (2020) ‘Pengembangan Peran
Pemberdayaan Masyarakat Berbabis Komunitas’, Devosi,
1(2), pp. 28–31. doi: 10.33558/devosi.v1i2.2506.
Herry Setyawan, W., Budiman, A., Septa Wihara, D., Setyarini,
T., & Nurdyansyah, R. (2019). R., & Barid Nizarudin
Wajdi, M.(2019). The effect of an android-based
application on T-Mobile learning model to improve
students’ listening competence. Journal of Physics:
Conference Series, 1175(1).
[Link]
6596/1175/1/012217/pdf
Hermawan, Y. and Suryono, Y. (2016) ‘Partisipasi masyarakat
dalam penyelenggaraan program-program pusat kegiatan
belajar masyarakat Ngudi Kapinteran’, JPPM (Jurnal
Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat), 3(1), pp. 97–
108.
Hidayani, H. and Warsono, H. (2017) ‘Analisis Kemitraan
dalam Pengembangan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota
Semarang’, Journal Of Public Policy And Management
Review, 6(2), pp. 389–402.
Ismawati, N. R. (2020) ‘Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat
Melalui Badan Usaha Milik Desa (Bumdes)’, Lembaran
Masyarakat: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam, 6(1),
pp. 91–116.
Kasila, M. and Kolopaking, L. M. (2018) ‘Partisipasi pemuda
38
desa dalam perkembangan usaha Bumdes “Tirta Mandiri”’,
Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
[JSKPM], 2(1), pp. 43–58.
Ketut, N. et al. (2017) ‘Mempertahankan Solidaritas Kelompok
( Studi pada KUTU Vespa Region Bali )’, E-Jurnal
Medium, 1(1), pp. 1–10.
Kusumadewi, A. R. and Hastasari, C. (2020) ‘Pola Komunikasi
Komunitas Cosplay Di Yogyakarta’, Journal of Scientific
Communication (Jsc), 2(2), pp. 85–99. doi:
10.31506/jsc.v2i2.8277.
Kusyairy, U. (2010) ‘Efektivitas pelatihan penyimpangan positif
terhadap peningkaatn perilaku sehat penyimpang positif
terkait prevensi hepatitis A’. Universitas Gadjah Mada.
Mardiharto, A. Z. (2017) ‘COSPLAY Fungsi Komunitas Cosura
bagi Para Anggotanya’, AntroUnairdotNet, VI(3), pp. 311–
324.
Margayaningsih, D. I. (2018) ‘Peran Masyarakat Dalam
Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat di Desa’, Jurnal
Publiciana, 11(1), pp. 72–88.
Maryani, D. and Nainggolan, R. R. E. (2019) Pemberdayaan
Masyarakat. Deepublish.
Mikke Setiawati and Makkuraga Putra, A. (2021) ‘Pola
Komunikasi Komunitas di Media Sosial Dalam
Menciptakan Minat Entepreneur’, Communications, 3(1),
pp. 43–57. doi: 10.21009/communications.4.1.3.
Molanorouzi, K., Khoo, S. and Morris, T. (2015) ‘Motives for
39
adult participation in physical activity: type of activity, age,
and gender’, BMC public health, 15(1), pp. 1–12.
Nasdian, F. T. (2014) Pengembangan Masyarakat. Yayasan
Pustaka Obor Indonesia.
Nel, H. (2015) ‘An integration of the livelihoods and asset-based
community development approaches: A South African case
study’, Development Southern Africa, 32(4), pp. 511–525.
Nel, H. (2018) ‘Community leadership: A comparison between
asset-based community-led development (ABCD) and the
traditional needs-based approach’, Development Southern
Africa, 35(6), pp. 839–851.
Pellicano, E., Dinsmore, A. and Charman, T. (2014) ‘What
should autism research focus upon? Community views and
priorities from the United Kingdom’, Autism, 18(7), pp.
756–770.
Preece, J. (2016) ‘Negotiating service learning through
community engagement: Adaptive leadership, knowledge,
dialogue and power’, Education as Change, 20(1), pp. 1–
22.
Pushpha, A. A. G. and Dananjaya, I. G. A. N. (2019) ‘Strategi
Pengembangan Kebun Raya Eka Karya Bali Sebagai
Obyek Wisata Di Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti,
Kabupaten Tabanan’, dwijenAGRO, 9(2), pp. 67–75.
Rahman, K. (2016) ‘Pemberdayaan Partisipasi Masyarakat
Dalam Pembangunan Desa’, WEDANA: Jurnal Kajian
Pemerintahan, Politik dan Birokrasi, 2(2), pp. 189–199.
40
Reskiaddin, L. O. et al. (2020) ‘Tantangan Dan Hambatan
Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pengendalian Penyakit
Tidak Menular di Daerah Semi-Perkotaan : Sebuah
Evidence Based Practice di Padukuhan Samirono, Sleman
Yogyakarta’, Jurnal Kesmas Jambi, 4(2), pp. 43–49. doi:
10.22437/jkmj.v4i2.10569.
Revans, R. (2017) ABC of action learning. Routledge.
Sahlberg, P. (2010) ‘Rethinking accountability in a knowledge
society’, Journal of educational change, 11(1), pp. 45–61.
Salahuddin, N. (2015) ‘Panduan KKN ABCD UIN Sunan
Ampel Surabaya Asset Based Community-Driven
Development (ABCD)’. LP2M UIN Sunan Ampel
Surabaya.
Shalahuddin, Y., Rahman, F., & Setyawan, W. H. (2021).
Pemodelan Simulasi Untuk Praktikum Teknik Otomasi
Industri Berbasis Matlab/Simulink Di SMKN 1 Kediri.
Jurnal Pelayanan Dan Pengabdian Masyarakat (Pamas),
5(1), 15–26.
[Link]
Shoshana, A. (2012) ‘Governmentality, new population and
subjectivity’, Subjectivity, 5(4), pp. 396–415.
Siska Devi Ratna Sari S. Kom. I., M. S. (2020) Fungsi Aset
Komunitas Dalam Pemberdayaan Masyarakat Muslim.
Profitebel.
Setyawan, W. H. (2016). IMPLEMENTING THE DISTANCE
TRAINING FOR ENGLISH PRIMARY TEACHER IN
KEDIRI. Jurnal TEKPEN, 1(1).
41
[Link]
Setyawan, W. H. (2017). Pemanfaatan Teknologi Mobile
Learning dalam Pengembangan Profesionalisme Dosen.
Al-Ulum, 17(2), 389–414.
[Link]
Soleh, A.- (2019) ‘Pola Komunikasi Kelompok pada Komunitas
Pecinta Film Islami’, Anida (Aktualisasi Nuansa Ilmu
Dakwah), 19(1), pp. 17–34. doi:
10.15575/anida.v19i1.5037.
Srining Prapti, M., Trimeiningrum, E. and Irmawati, B. (2020)
‘Faktor Penghambat Dan Pemicu Menjadi Ecopreneur
Studi Pada Ikm Di Kota Semarang’.
Tandos, R. and Kalyanamitra, Y. (2021) ‘Strategi pemberdayaan
kader posyandu melalui pendampingan komunitas di
yayasan kalyanamitra’, 1(2), pp. 1–10.
Undang -Undang Republik Indonesia No.17 Tahun 2013 (2013).
Wilhite, B. and Shank, J. (2009) ‘In praise of sport: Promoting
sport participation as a mechanism of health among persons
with a disability’, Disability and Health Journal, 2(3), pp.
116–127.
Yeneabat, M. and Butterfield, A. K. (2012) ‘“We Can’t Eat a
Road:” Asset-Based Community Development and The
Gedam Sefer Community Partnership in Ethiopia’, Journal
of Community Practice, 20(1–2), pp. 134–153.
Zubaedi (2013) ‘BUKU PENGEMBANGAN MASYARAKAT
(1).pdf’, p. 270.
42
43
Biodata Penulis
44
Universitas Masyarakat) dengan judul penelitian “Pengentasan
Keterpurukan Anak-anak Pesisir Akibat Jerat Kekerasan Sosial
Melalui SANASIR Di Desa Baddurih Pamekasan”
Kritikan dan saran dikirimkan melalui e-mail:
elcmansur@[Link] atau via WA: 0812 3505 2403
45
BAB 3
Ruang Lingkup ABCD
BAB 3 Ruang Lingkup ABCD
Ruang lingkup merupakan batasan banyaknya subjek
yang tercakup dalam sebuah masalah. Secara umum memiliki
makna batasan. Dalam arti luas batasan ini bisa dalam bentuk
materi, subjek, dan atau lokasi.
Pendekatan berbasis aset adalah perpaduan antara
metode bertindak dan cara berpikir tentang pembangunan.
Pendekatan ini merupakan pergeseran yang penting sekaligus
radikal dari pandangan yang berlaku saat ini tentang
pembangunan serta menyentuh setiap aspek dalam cara kita
terlibat dalam pelaksanaan pembangunan. Pendekatan berbasis
aset fokus pada sejarah keberhasilan yang telah dicapai,
mengenali para pembaru atau orang-orang yang telah sukses dan
menghargai potensi melakukan mobilisasi serta mengaitkan
kekuatan dan aset yang ada. Maka diperlukan pembahasan
tentang ruang lingkup ABCD dalam pemberdayaan masyarakat
dan kedudukan ABCD dalam metode participatoris.
Secara konseptual pemberdayaan (emperworment)
berasal dari kata power (kekuasaan atau keberdayaan).
Pemberdayaan menunjuk pada kemampuan orang. Khususnya
46
kelompok rentan dan lemah sehingga mereka memiliki kekuatan
atau kemampuan dalam: (Rosmedi Dan Riza Risyanti, 2006)
1. Memenuhi kebutuhan dasarnya sehingga mereka memiliki
kebebasan (freedom), dalam arti bukan saja bebas
mengemukakan pendapat, melainkan bebas dari kelaparan,
bebas dari kebodohan, bebas dari kesakitan;
2. Menjangkau sumber-sumber produktif yang memungkinkan
mereka dapat meningkatkan pendapatannya dan
memperoleh barang-barang dan jasa-jasa yang mereka
perlukan;
3. Berpartisipasi dalam proses pembangunan dan keputusan-
keputusan yang mempengaruhi mereka.
47
1. Bidang politik
Pemberdayaan pada lingkup politik diorientasikan
agar masyarakat mempunyai bargaining position (daya
tawar) yang tinggi apabila berhadapan dengan pihak-
pihak terkait, baik pemerintah, kalangan LSM, maupun
kalangan swasta yang mempunyai agenda atau proyek di
wilayah masyarakat. Daya tawar ini sangat dibutuhkan
agar posisi masyarakat tidak menjadi sub ordinat
dihadapan stake holder yang lain. Pemberdayaan politik
masyarakat adalah sebuah proses pembaharuan negara
yang ditujukan untuk mengembalikan warga ke dalam
poros utama proses kehidupan bangsa dan negara, dan
juga menumbuhkan partisipasi politik dimasyarakat,
pada pencapaian hasil- hasil pembangunan negara.
Birokrasi yang berdaya dan tangguh adalah yang
memiliki ”quality of work life” yang tinggi dan
berorientasi kepada; (1) participation in decision
making, (2) career development program, (3) leadership
style, (4) the degrees of stress experienced by employees,
dan (5) the culture of the organisastion
Salah satu tujuan pemberdayaan masyarakat
adalah untuk mencapai keadilan sosial. Keadilan sosial
48
dengan memberikan ketentraman kepada masyarakat
yang lebih besar serta persamaan politik dan sosial
melalui upaya saling membantu dan belajar melalui
pengembangan langkah-langkah kecil guna tercapainya
tujuan yang lebih besar. (Payne, 1997). Kepedulian
sosial dan pemberdayaan masyarakat adalah salah satu
program yang dimainkan oleh beberapa partai politik.
Penempatan kekuasaan, penjagaan keutuhan hingga
sikap dalam pengambilan keputusan. Politik negara
dapat diibaratkan sebagai momentum arah angin bangsa
yang mau dibawa ke mana bangsa ini. Hal inilah yang
menyebabkan antara negara dengan politik menjadi hal
yang melekat. Sasaran pemberdayaan politik masyarakat
pada umumnya adalah kaum mayoritas yang jarang
tersentuh politik dalam arti sebenarnya, mereka biasaya
hanya dijadikan obyek sasaran politik tapi tidak banyak
berkiprah dalam politik, yaitu perempuan.
Dinas Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak Kabupaten pada tahun-tahun
menjelang Pemilu ramai-ramai melaksanakan kegiatan
pemberdayaan perempuan melalui peningkatan peran
dan partisipasi perempuan dalam bidang politik ini
49
bertujuan mempercepat peningkatan keterwakilan
perempuan dibidang legislatif dan eksekutif, selain itu
representasi perempuan dilegislatif akan memberikan
keseimbangan dalam mewarnai perumusan kebijakan
dan peraturan perundang-undangan, penganggaran, dan
pengawasan yang akan lebih berpihak pada kepentingan
kesejahteraan perempuan dan anak. Para pimpinan
partai-partai politik yang menjadi peserta Pemilu
diharapkan dapat memenuhi 30% keterwakilan
perempuan dilegislatif. Hal tersebut sesuai dengan
amanah Undang-Undang No. 7 tahun 2017 tentang
Pemilu, yang memerintahkan kepada partai politik untuk
mencalonkan sekurang-kurangnya 30% perempuan
calon legislatif.
2. Bidang Ekonomi
Pemberdayaan ekonomi adalah upaya untuk
mendorong, memotivasi dan membangkitkan kesadaran
masyarakat akan adanya potensi yang dimilikinya serta
upaya untuk mengembangkannya (Sulistiyan, 2017;
Setyawan, 2021). Pemberdayaan ekonomi
diperuntukkan sebagai upaya meningkatkan kemampuan
yang diperintah sebagai konsumen agar dapat berfungsi
50
sebagai penanggung dari dampak negative pertumbuhan,
pembayar resiko salah urus, pemikul beban
pembangunan, kegagalan program, dan akibat kerusakan
lingkungan.
Pemberdayaan pada lingkup ekonomi,
biasanya berhubungan dengan kemandirian dalam
penghidupan masyarakat. Dalam hal ini upaya-upaya
produktif yang dapat menjadi sumber pendapatan atau
menjadi gantungan hidup menjadi fokus dalam lingkup
pemberdayaan bidang ekonomi. Pada dasarnya,
pemberdayaan ekonomi ini difokuskan kepada sektor
kemajuan dan penyadaran masyarakat terhadap hal yang
ada di sekitar yang sekiranya bisa dimanfaatkan untuk
mencari penghasilan.
3. Bidang Sosial Budaya
Pemberdayaan pada lingkup sosial budaya
berhubungan dengan peningkatan kapasitas masyarakat,
baik yang bersifat individual maupun kolektif. Orientasi
pemberdayaan pada lingkup sosial budaya ini berkisar
pada penguatan solidaritas masyarakat, pengurangan
kerentanan terhadap konflik, serta penguatan solidaritas
sosial. Dalam lingkup ini termasuk juga kesadaran
51
masyarakat terhadap kondisi masyarakat yang plural,
baik secara etnik, kepercayaan/agama maupun status
sosialnya.
Kebudayaan lokal merupakan serangkaian ide-
ide, gagasan, nilai, norma, perlakuan dan benda-benda
yang merupakan hasil karya manusia yang hidup
berkembang dalam suatu ruang, geografis serta dinamika
yang mengirinya. Kebudayaan lokal itu sendiri
meruapakan suatu mozaik yang sangat beragam dan
mencerminkan kemerdekaan dalam berpikir,
berperilaku, dan berkreasi sesuai kebutuhan totalitas
lingkungan dinamika hidup.
Pemberdayaan sosial-budaya, bertujuan
meningkatkan kemampuan sumber daya manusia
melalui human investment guna meningkatkan nilai
manusia (human dignity), penggunaan (human
utilization), dan perlakuan yang adil terhadap manusia.
4. Bidang Lingkungan hidup
Pemberdayaan pada lingkup lingkungan
berfokus pada upaya-upaya perlindungan dan
pengelolaan lingkungan agar terjaga kelestariaannya.
Upaya-upaya ini ini hanya bisa dilakukan apabila
52
masyarakat memahami dan peduli terhadap kondisi
lingkungan dan keberlanjutannya. Pemahaman dan
kepedulian masyarakat ini hanya dapat tumbuh dan
berkembang melalui upaya-upaya pemberdayaan.
Pemberdayaan lingkungan, dimaksudkan
sebagai program perawatan dan pelestarian lingkungan,
agar pihak yang diperintah dan lingkungannya mampu
beradaptasi secara kondusif dan saling menguntungkan.
54
mengakui proses pengambilan keputusan yang
desentralistis.
4. Budaya kelembagaannya ditandai oleh adanya
organisasi-organisasi yang otonom dan mandiri, yang
saling berinteraksi memberikan umpan balik
pelaksanaan untuk mengoreksi diri pada setiap jenjang
organisasi.
5. Adanya jaringan koalisi dan komunikasi antara pelaku
dan organisasi lokal yang otonom dan mandiri, yang
mencakup kelompok penerima manfaat, pemerintah
lokal, bank lokal dan sebagainya yang menjadi dasar
bagi semua kegiatan yang ditujukan untuk memperkuat
pengawasan dan penguasaan masyarakat atas berbagai
sumber yang ada, serta kemampuan masyarakat untuk
mengelola sumberdaya setempat.
Menurut (Ife, 2008) seorang pakar Community
Development, pemberdayaan memuat dua pengertian kunci
yakni: kekuasaaan dan kelompok lemah. Kekuasaan disini
diartikan bukan hanya menyangkut kekuasaan politik dalam
arti sempit, melaikan kekuasaan atau penguasaan klien atas
:
55
1. Pilihan-pilihan personal dan kesempatan-kesempatan
hidup: kemampuan dalam membuat keputusan-
keputusan mengenai gaya hidup, tempat tinggal,
pekerjaan
2. Pendefenisian kebutuhan: kemampuan menentukan
kebutuhan selaras dengan aspirasinya dan keinginanya
3. Ide atau gagasan, kemapuan menjangkau, menggunakan
dan mempengaruhi pranata-pranata masyarakat seperti
kesejahteraan sosial, pendidikan, kesehatan.
4. Lembaga-lembaga, kemampuan menjangkau,
menggunakan dan mempengaruhi pranata-pranata
masyarakat seperti kesejahteraan sosial, pendidikan,
kesehatan
5. Sumber-sumber, kemapuan memobilisasi sumber-
sumber formal, informal dan kemasyarakatan.
6. Aktivitas ekonomi : kemampuan memanfaatkan dan
mengelola mekanisme produksi, distribusi, dan
pertukaran barang serta jasa.
7. Reproduksi, kemampuan dalam kaitanya dengan proses
kelahiran, perawatan anak, pendidikan dan sosialisasi.
Dengan demikian pemberdayaan adalah sebuah
proses dan tujuan. Sebagai proses pemberdayan adalah
56
serangkaian kegiatan untuk memperkuat kekuasaan atau
keberdayaan kelompok lemah dalam masyarakat, termaksud
individu-individu yang mengalami masalah kemiskinan.
Sebagai tujuan, maka pemberdayaan menunjuk pada
keadaan atau hasil yang ingin dicapai oleh sebuah perubahan
sosial yaitu masyarakat yang berdaya, memiliki kekuasaan
atau mempunyai pengetahuan dan kemampuan dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya baik yang bersifat fisik,
ekonomi, maupun sosial, seperti memiliki kepercayaan diri,
mampu menyampaikan aspirasi, mempunyai mata
pencaharian dan mandiri dalam melaksanakan tugas-tugas
kehidupanya.
Program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan
pada dasarnya meliputi empat aspek, yaitu:
1. Fisik, seperti pembangunan prasarana fisik berupa
pemasangan pembangkit listrik dengan memanfaatkan
potensi energi setempat, pembagunan jalan, rumah
ibadah, dan sarana lainya yang dibutuhkan masyarakat
2. Sumber Daya Manusia, seperti pemberian beasiswa,
peningkatan pengetahuan siswa dibidang pendidikan dan
lain sebagainya.
57
3. Ekonomi seperti pengembangan usaha kecil dengan
memanfaatkan potensi sumber daya alam setempat.
4. Sosial budaya, seperti pelestarian budaya setempat,
peningkatan kesehatan masyarakat dan lain sebagainya.
Semangat utama pemberdayaan masyarakat
adalah proses penigkatan kekuasaan, atau penguatan
kemapuan para penerima [Link] tujuan utama
pemberdayaan masyarakat adalah membantu membangun
rasa percaya diri. Rasa percaya diri merupakan modal utama
masyarakat untuk berswadaya.
Suatu pemberdayaan pada intinya ditujukan untuk
membantu masyarakat dalam memperoleh daya untuk
mengambil keputusan dan menentukan tindakan yang akan
ia lakukan yang terkait dengan diri mereka, termaksud untuk
mengurangi efek hambatan pribadi dan sosial dalam
melakukan tindakan. Hal ini dilakukan melalui peningkatan
kemampuan dan rasa percaya diri untuk menggunakan daya
yang ia miliki, antara lain melalui daya dari lingkungannya.
Secara konseptual pemberdayaan berasal dari kata ‘power’
(kekuasaan) karenanya ide utama pemberdayaan
bersentuhan dengan konsep mengenai kekuasaan.
Kekuasaan seringkali dikaitkan dengan kemampuan kita
58
untuk membuat orang lain melakukan apa yang kita
inginkan, terlepas dari keinginan dan minat mereka.
Pemberdayaan adalah sebuah proses dengan mana orang
menjadi cukup kuat untuk berpartisapi dalam berbagai
kontrol dan mempengaruhi kejadian-kejadian serta lembaga
yang mempengaruhinya, pemberdayaan memperoleh
keterampilan, pengetahuan dan kekuasaan yang cukup untuk
mengetahui kehidupanya dan kehidupanya dan orang lain
yang menjadi perhatianya.
Ada berbagai macam bentuk pemberdayaan bila
dilihat dari tujuannya, pemberdayaan ekonomi,
pemberdayaan politik, pemberdayaan hukum,
pemberdayaan lingkungan, dan pemberdayaan sosial
budaya, berbagai macam bentuk pemberdayaan tersebut
berbeda-beda sesuai dengan bidang pembagunan, sehingga
bentuk pemberdayaan bidang yang satu dengan yang lain
belum tentu memiliki kesamaan dengan bentuk
pemberdayaan yang lainya, namun dari adanya berbagai
macam bentuk pemberdayaan tersebut dapat dipadukan dan
saling melengkapi guna menciptakan kesejahteraan
masyarakat. Dalam melaksanakan berbagai bentuk
pemberdayaan tersebut maka perlu adanya keterlibatan
59
berbagai lembaga yang ada, baik itu lembaga pemerintah
maupun non pemerintah.
Pemberdayaan masyarakat memang tidak terlepas
dari adanya keterlibatan lembaga, baik itu lembaga
pemerintah maupun lembaga non pemerintah, posisi
keterlibatan lembaga tersebut mempunyai peran sebagai
pelaku perubahan dalam upaya pemberdayaan masyarakat,
ada berbagai macam bentuk peran dan ketampilan yang
dimiliki oleh pelaku perubahan diantaranya peran dan
keterampilan fasilitatif, keterampilan edukasional,
keterampilan perwakilan, keterampilan teknis
60
siapa yang menjadi sasaran dari program pelatihan yang
akan disusun? Apa tingkatan pengetahuan mereka saat
ini? Jenis bahasa yang harus digunakan? Dan bagaimana
cara terbaik untuk memenuhi kebutuhan kelompok ini?.
Penyusunan program pelatihan memungkinkan untuk
melakukan survey terlebih dahulu terkait gambaran dari
peserta yang akan menjadi sasaran dari program
pelatihan. Contoh: Pustakawan mampu ….Staf
pengembangan sumber daya manusia mampu …
2. Behavior (Perilaku)
Perilaku pada bagian ini mengacu pada perilaku
yang harus ditunjukkan peserta. Dalam menentukan
perilaku harus se-spesifik mungkin dan menghindari
kata-kata yang sulit untuk diukur, seperti mengetahui,
memahami, dll. Kata kerja yang bisa digunakan, seperti
“mendemonstrasikan”, “mengidentifikasi”, dll. Untuk
menentukan kata kerja ini dapat mengacu pada
taksonomi bloom yang sudah dijelaskan pada tulisan
sebelumnya. Contoh: Pustakawan
mampu mendemonstrasikan penentuan tajuk
subjek ….Staf pengembangan sumber daya manusia
61
mampu melakukan analisis pengembangan kompetensi
pegawai …
3. Condition (Kondisi)
Kondisi pada bagian ini merujuk pada kondisi
di mana peserta diharapkan dapat mencapai perilaku
yang ditargetkan. Kondisi ini dapat diartikan sebagai
stimulus untuk peserta. Biasanya kondisi ini diberikan
dalam bentuk kata benda yang dapat membantu peserta
dalam mencapai perilaku yang ingin dicapai. Contoh:
Pustakawan mampu mendemonstrasikan penentuan
tajuk subjek dengan diberikan daftar tajuk subjek
perpustakaan nasional …. Staf pengembangan sumber
daya manusia mampu melakukan analisis
pengembangan kompetensi pegawai dengan diberikan
SOP dari masing-masing unit kerja …
4. Degree (Tingkatan)
Elemen terakhir ini digunakan untuk mengukur
capaian tujuan. Hal ini berkaitan dengan elemen kedua,
perilaku. Pada elemen kedua ditekankan bahwa
penentuan kata kerja harus spesifik dan terukur. Pada
elemen ini, lebih dijelaskan lagi standar pengukurannya.
Contoh: Pustakawan mampu mendemonstrasikan
62
penentuan tajuk subjek dengan diberikan daftar tajuk
subjek perpustakaan nasional selama 30 menit
Staf pengembangan sumber daya manusia
mampu melakukan analisis pengembangan kompetensi
pegawai dengan diberikan SOP dari masing-masing unit
kerja tanpa kesalahan. Idealnya dalam menerapkan
model tujuan pembelajaran diterapkan keempat elemen
di atas. Namun dalam praktiknya, tidak semua lembaga
pendidikan baik formal maupun non-formal
menggunakan keempat elemen tersebut. Salah satunya
penerapan pada pelatihan di lembaga pemerintahan.
Berdasarkan Peraturan Kepala Lembaga Administrasi
Negara Nomor 5 Tahun 2009 tentang Pedoman
Penulisan Modul Pendidikan dan Pelatihan, elemen
tujuan pembelajaran yang digunkaan minimal
meliputi Audience dan Behavior (A dan B). Hal ini juga
diterapkan pada Pusat Pendidikan dan Pelatihan
Perpustakaan Nasional RI. Dalam merumuskan tujuan
pembelajaran, elemen yang digunakan hanya
mencakup Audience dan Behavior.
Pendampingan menggunakan metode (ABCD)
Asset Based Community Development, mengutamakan
63
pemanfaatan aset dan potensi yang ada disekitar dan
dimiliki oleh pemuda atau komunitas masyarakat,
sedanghkan inti pelaksanaan metode participatory adalah
sebagai berikut: (Moh. Mashur Abadi, Agoes Kamaroellah,
2018)
1. Sebuah gerakan sosial dengan semangat pembebasan
diri dari belenggu ideologi dan relasi kuasa yang
menghambat manusia mencapai perkembangan harkat
dan martabat kemanusiannya;
2. Sebuah upaya dan proses yang memungkinkan
masyarakat memiliki kesempatan untuk menguasai
ilmu pengetahuan dan membangun kekuatan politik
melalui penelitian kritis, pendidikan pembebasan, dan
tindakan sosial-politik;
3. Proses masyarakat membangun kesadaran diri melalui
dialog dan refleksi kritis;
4. Riset sosial dengan prinsip:
1) Produksi pengetahuan oleh masyarakat
(selanjutnya disebut komunitas) mengenai agenda
kehidupan mereka sendiri,
2) Partisipasi dalam pengumpulan dan analisa data,
dan
64
3) Kontrol mereka terhadap penggunaan hasil riset.
5. Orientasi komunitas lebih pada proses perubahan relasi
sosial (Transformasi sosial)
Secara etimologi participatory dalam bahasa
metode ABCD adalah “participation” adalah pengambilan
bagian atau pengikutsertaan masyarakat, Partisipasi adalah
suatau keterlibatan mental atau emosi seseorang kepada
pencapaian tujuan dan ikut bertanggung jawab didalamnya.
Banyak ahli memberikan pengertian mengenai konsep
partisipasi. Partisipasi berarti peran serta seeorang atau
kelompok masyarakat dalam proses pembangunan baik
dalam bentuk pernyataan mampu dalam bentuk kegiatan
dengan memberi masukan pikiran,tenaga, waktu, keahlian,
modal dan atau materi, serta ikut memanfaatkan dan
menikmati hasil-hasil pembangunan.
Pengertian tentang partisipasi dapat juga berarti
bahwa pembuat keputusan menyarankan kelompok atau
masyarakat ikut terliubat dalam bentuk penyampaian saran
dan pendapat, barang, keterampian, bahan dan jasa.
Partisipasi dapat juga berarti bahwa kelompok mengenal
masalah mereka sendiri, mengkaji pilihan mereka, membuat
keputusan, dan memecahkan masalahnya. Bentuk
65
partisipasi dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa
ketentuan yang melingkupinya. Berdasarkan posisi dalam
partisipasi, partisipasi dibedakan menjadi dua yaitu:
1. Partisipasi vertikal; adalah suatu bentuk kondisi tertentu
dalam masyarakat yang terlibat didalamnya atau
mengambil bagian dalam suatu program pihak lain,
dalam hubungan mana masyarakat berada sebagai posisi
bawahan.
2. Partisipasi horizontal: adalah dimana masyarakatnya
tidak mustahil untuk mempunyai prakarsa dimana setiap
anggota/kelompok masyarakat berpasitipasi secara
horizontal antara satu dengan yang lainnya, baik dalam
melakukan usaha bersama, maupun dalam rangka
melakukan kegiatan dengan pihak lain.
Berdasarkan bentuk keterlibatan dalam aktifitas,
partisipasi dibedakan menjadi 2 (dua) macam yaitu:
1. Partisipasi langsung. Partisipasi yang terjadi apabila
individu menampilkan kegiatan tertentu dalam proses
partisipasi. Partisispasi ini terjadi apabila setiap orang
dapat mengajukan pandangan, membahas pokok
permasalahan, mengajukan keberatan terhadap
keinginan orang lain atau terhadap ucapannya.
66
2. Partisipasi tidak langsung. partisipasi yang terjadi
apabila individu mendelegasikan hak partisipasinya.
Berdasarkan macam pelaksanaan dalam
partisipasi, partisipasi dibagi empat jenis yaitu:
1. Partisipasi dalam pengambilan keputusan. Partisipasi ini
terutama berkaitan dengan alternatif dengan masyarakat
berkaitan dengan gagasan gagasan atau ide yang
menyangkut kepentingan bersama. Wujud patisipasi
dalam pengambilan keputusan ini antara lain seperti ikut
menyumbangkan gagasan atau pemikiran, kehadiran
dalam rapat, diskusi dan tanggapan atau penolakan
terhadap program yang ditawarkan.
2. Partisipasi dalam pelaksanaan meliputi menggerakkan
sumber daya dana, kegiatan administrasi, koordinasi dan
penjabaran program. Partisipasi dalam pelaksanan
merupakan kelanjutan dalam rencana yang telah digagas
sebelumnya baik yang berkaitan dengan perencanaan,
pelaksanaan maupun tujuan.
3. Partisipasi dalam pengambilan manfaat. Partisipasi
dalam pengambilan manfaat tidak lepas dari hasil
pelaksanaan yang telah dicapai baik yang berkaitan
dengan kualitas maupun kuantitas. Dari segi kualitas
67
dapat dilihat dari output, sedangkan dari segi kuantitas
dapat dilihat dari presentase keberhasilan program.
4. Partisipasi dalam evaluasi. Partisipasi dalam evaluasi ini
berkaitan dengan pelaksanaaan program yang sudah
direncanakan sebelumnya. Partisipasi dalam evaluasi ini
bertujuan untuk mengetahui ketercapaian program yang
sudah direncanakan sebelumnya.
Sedangkan level partisipasi dapat diklasifikasikan
ke dalam beberapa tingkatan mulai dari level yang terendah
sampai level yang tertinggi dalam partisipasi sebagaimana
berikut ini;
1. Partisipasi Pasif. Masyarakat diajak berpartisipasi
dengan diberi tahu apa yang sudah dan sedang terjadi.
Mereka mendapatkan manfaat. Mereka berpartisipasi
sepanjang ada manfaat yang tersedia.
2. Partisipasi Sebagai Kontributor. Masyarakat
berpartisipasi dengan memberikan informasi, sumber
daya atau membantu pekerjaan dalam proyek. Dalam
merencanakan proyek, peran masyarakat, kalaupun ada
sangat sedikit.
3. Partisipasi sebagai konsultan. Masyarakat berkonsultasi
mengenai masalah dan peluang dalam suatu daerah, dan
68
desain sebuah proyek. Profesional pembangunanlah
yang membuat keputusan mengenai desain.
4. Partisipasi sebagai implementasi. Masyarakat
berpartisipasi dengan membentuk kelompok untuk
melaksanakan suatu kegiatan dalam proyek atau
program. Mereka tidak terlibat dalam proses
pengambilan keputusan.
5. Partisipasi dalam pengambilan keputusan. Masyarakat
berpartisipasi secara aktif dalam analisis dan
perencanaan bersama dengan professional
pembangunan. Mereka terlibat dalam pengambilan
keputusan
6. Mobilisasi-diri. Masyarakat berpartisipasi dengan
mengambil inisiatif secara mandiri dari insitusi dari luar.
Mereka bisa melibatkan dampingan dari professional
pembangunan, tetapi mereka tetap memegang kontrol
dalam proses
Level keenam dari tingkatan partisipasi yaitu
mobilisasi diri merupakan level partisipasi tertinggi.
Partisipasi dalam level keenam ini menunjukkan
keberdayaan dari komunitas, dimana komunitas/masyarakat
yang mengontrol semua proses pembangunan. Sehingga
69
slogan pembangunan dari, oleh dan untuk rakyat dapat
diimplementasikan secara riil dan maksimal dalam level
partisipasi mobilisasi diri. Seharusnya partisipasi yang ada,
muncul dan terbangun dalam masyarakat adalah level
partisipasi mobilisasi diri ini. Hal ini akan menjadi penanda
tingginya tingkat keberdayaan yang dimiliki oleh
masyarakat sebagaimana tujuan dari pembangunan itu
sendiri, yaitu mewujudkan kesejahteraan dan keberdayaan
masyarakat secara hakiki.
Maka dilihat uraian di atas kedudukan Asset Based
Community Development Dalam Metode Participatoris,
adalah sangat penting dalam perencanaan tindakan aksi
untuk perubahan sosial.
1. Mengorganisir Gagasan.
Hasil-hasil FGD khususnya dalam pelaksanaan
teknik-teknik PRA akan dianalisis sebagai dasar untuk
melakukan perencanaan pemecahan masalah. Setelah
matrik ranking masalah ditetapkan bersama, maka
langkah selanjutnya adalah merencanakan bersama
upaya pemecahan masalah. Dalam tahap perencanaan
ini, ide dan gagasan dari partisipan diinventarisir
70
terlebih dahulu, untuk kemudian diputuskan bersama-
sama gagasan yang dipilih.
2. Mengorganisir Sumber Daya/Potensi
Gagasan pemecahan masalah yang telah
ditetapkan harus mempertimbangkan potensi dan
sumber daya yang dimiliki masyarakat. Komunitas
sebelumnya harus sudah menginventarisir siapa
memiliki potensi dan sumber daya apa. Begitu
seterusnya hingga keragaman sumber daya yang
dimiliki masyarakat dapat saling melengkapi guna
mendukung jalannya aksi perubahan sosial.
3. Menyusun Strategi Gerakan
Komunitas menyusun strategi gerakan untuk
memecahkan problem kemanusiaan yang telah
dirumuskan. Di dalamnya, komunitas menentukan
langkah-langkah sistematik, menentukan pihak yang
terlibat (stakeholders), dan merumuskan kemungkinan
keberhasilan dan kegagalan program yang direncanakan
serta mencari jalan keluar apabila terdapat kendala yang
menghalangi keberhasilan program. Penyusunan
strategi gerakan ini merupakan langkah penting untuk
pemecahan masalah. langkah mudah untuk menyusun
71
strategi ini adalah dengan teknik mengelola program
yang berbentuk Logical Framework Approach (LFA).
Daftar Pustaka
Hastuti, S. W. M., & Setyawan, W. (2021). Community Service
in Study Potential Technology of Education Tour and
Business Prospects of Traders in Tulungagung. Mitra
Mahajana: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2(2), 134–
144. [Link]
journal/[Link]/mahajana/article/view/952
Heinich, Robert, Michael Molenda, James D. Russel,. (1982).
Instructional Media: and the New Technology of
Instruction,. New York: Jonh Wily and Sons.
Ife, J. d. (2008). Community Development: Alternatif
Pengembangan Masyarakat di Era Globalisasi.
Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar.
Moh. Mashur Abadi, Agoes Kamaroellah. (2018). MATERI
PEMBEKALAN KPM PARTISIPATORIS 2018,
Pemberdayaan Masyarakat dengan Pendekatan ABCD
dan PAR. Madura: Lemlit, IAIN Madura.
Ndraha, T. (2003). Budaya Organisasi. Jakarta: Rineka Cipta.
Payne. (1997). Modern Social Work Theory. London:
Macmillan Press.
Rosmedi Dan Riza Risyanti. (2006). Pemberdayaan
Masyarakat. Sumedang: Alqaprit Jatinegoro.
Setyawan, W. H., & Nawangsari, T. (2021). Pengaruh E-Module
Speaking Berbasis Website Untuk Meningkatkan
72
Keterampilan Berbicara. Aksara: Jurnal Ilmu Pendidikan
Nonformal, 7(2), 339–346.
[Link]
346.2021
Setyawan, W. (2020). Qualified Lecturers Must Update By
Educational Technology. In Initiative of Thoughts from
Indonesia to the World of the Covid 19 era (pp. 175–181).
novateurpublication. [Link]
content/uploads/2020/09/28.-WAWAN-HERRY-
[Link]
Setyawati, E. Y. (2014). Pemberdayaan Masyarakat Sebagai
Upaya Peningkatan Perekonomian Masyarakat Pesisir
Berdasarkan Kearifan Lokal. Yogyakarta: Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atma Jaya,
Sulistiyan, A. T. (2017). Kemitraan dan Model-Model
Pemberdayaan. Yogyakarta: Gava Media.
73
BIODATA PENULIS
74
75
76
BAB IV
Gambaran Cara Kerja ABCD
BAB IV Gambaran Cara Kerja ABCD
a. Appreciative Inquiry
Appreciative Inquiry dikembangakan pada tahun 1980-an oleh
David Cooperider, seorang professor di Weatherhead School of
Management di Case Western Reserve University. Appreciative
78
Inquiry adalah cara untuk melakukan perubahan organisasi
berdasarkan asumsi yang sedrhana yaitu bahwa setiap organisasi
memiliki sesuatu yang dapat bekerja dengan baik, sesuatu yang
menjadikan organisasi hidup, efektif dan berhasil, serta
menghubungkan organisasi tersebut dengan komunitas dan
stakeholdernya dengan cara yang sehat. Cara ini tidak
menganalisis akar masalah dan solusi tetapi lebih konsen pada
bagaimana memperbanyak hal-hal positif dalam organisasi.
Proses Appreciative Inquiry terdiri dari 4 tahap yaitu: 1)
Discovery, 2) Dream, 3) Design, 4) Destiny.
1. Tahap Discovery
Adalah proses pencarian yang mendalam tentang
hal- hal positif, hal-hal terbaik yang pernah dicapai, dan
pengalaman-pengalaman keberhasilan di masa lalu.
Proses ini dilakukan dengan wawancara appresiatif.
Beberapa contoh pertanyaan apresiatif yang dilakukan
pada tahap ini, antara lain:
• Ceritakan pengalaman terbaik yang pernah ada?
• Hal apa yang sangat bernilai dari diri anda?
• Hal-hal apa yang menjadi sumber kehidupan anda,
yang tanpa hal tersebut anda akan mati?
• Sebutkan 3 harapan yang anda miliki untuk
79
meningkatkan kekuatan dan efektifitas anda?
2. Dream
Pada tahap ini, berdasarkan informasi yang
diperoleh dari tahap sebelumnya, orang kemudian mulai
membayangkan masa depan yang diharapkan. Dalam
tahapan ini setiap orang mengeksplorasi harapan dan
impian mereka baik untuk diri mereka sendiri maupun
untuk organisasi. Inilah saatnya orang-orang
memikirkan hal-hal besar dan berpikir out of the box
serta membayangkan hasil-hasil yang ingin dicapai.
3. Design
Pada tahap ini, orang mulai merumuskan strategi,
proses dan sisitem, membuat keputusan dan
mengembangkan kolaborasi yang mendukung
terwujudnya perubahan yang diharapkan. Pada tahap ini
semua hal positif di masa lalu ditransformasikan menjadi
kekuatan mewujudkan perubahan yang diharapkan
(dream).
4. Destiny
Tahap destiny adalah tahap dimana setiap orang
dalam organisasi mengimplementasikan berbagai hal
yang sudah dirumuskan pada tahap design. Tahap ini
80
berlangsung ketika organsasi secara kontinyu
menjalankan perubahan, memantau perkembangannya,
dan mengembangkan dialog, pembelajaran dan inovasi-
inovasi baru.
83
dalam pemetaan;
• Memberikan masyarakat dan anggotanya kesempatan
untuk mengevaluasi proposal desain dan perencanaan
dan memvisualisasikan dampak sebuah keputusan
tersebut terhadap masa depan komunitas;
• Mengumpulkan dan meningkatkan data geospasial;
• Meningkatkan pengetahuan komunitas tentang wilayah
komunitas.
85
dan peternakan.
• Aset alam. Tanah untuk kebun, ikan dan kerang, air,
sinar matahari, pohon dan semua hasilnya seperti kayu,
buah dan kulit kayu, bambu, material bangunann yang
bisa digunakan kembali, material untuk menenun,
material dari semak, sayuran dan sebagainya.
• Asset fisik, alat untuk bertani, menagkap ikan, alat
transportasi yang bisa dipinjam, rumah atau bangunan
yang bisa digunakan untuk pertemuan, pelatiahan atau
kerja, pipa, ledeng, kendaraan.
• Asset keuangan, mereka yang tahu bagiamana
menabung, tahu bagaimana menanam dan menjual
sayur di pasar, yang tahu bagaimana menghasilkan
uang. Produk- produk yang bisa dijual, menjalankan
usaha kecil, termasuk berkelompok untuk bekerja
menghasilkan uang, memperbaiki cara penjualan
sehingga bisa menambah penghasilan dan
menggunakannya dengan lebih bijak. Kemampuan
pembukuan untuk rumah tangga dan untuk kelompok
maupun usaha kecil.
• Asset spiritual dan kultural. Menemukan asset ini
denga cara memikirkan nilai atau gagasan terpenting
86
dalam hidup anda, apa yang paling membuat anda
bersemangat? Termasuk di dalamnya nilai- nilai
penganut Muslim, keinginan untuk berbagi, berkumpul
untuk berdoa dan mendukung satu sama lain. Atau
mungkin ada nilai-nilai budaya, seperti menghormati
saudara ipar atau menghormati berbagai perayaan dan
nilai-nilai harmoni dan kebersamaan. Cerita-cerita
tentang pahlawan masa lalu dan kejadian sukses masa
lalu juga termasuk di sini karena hal-hal tersebut
mewakili elemen sukses dan strategi untuk bergerak
maju.
88
tingkat dinaminitas dalam pengembangan ekonomi lokal mereka
dapat dilihat, seberapa banyak kekuatan ekonomi yang masuk
dan keluar. Untuk mengenali, mengembangkan dan memobilisir
asset-aset tersebut dalam ekonomi komunitas atau warga lokal
diperlukan sebuah analisa dan pemahaman yang cermat.
Salah satu pendekatan yang digunakan dalam
pendekatan ABCD (Asset Based Community Development)
adalah melalui Leacky Bucket. Leacky bucket atau biasa dikenal
dengan wadah bocor atau ember bocor merupakan salah satu
cara untuk mempermudah masyarakat, komunitas atas warga
dalam mengenali, mengidentifikasi dan menganlisa berbagai
bentuk aktivitas atau perputaran keluar dan masuknya ekonomi
lokal komunitas/warga. Lebih singkatnya, leacky bucket adalah
alat yang berguna untuk mempermudah warga atau komunitas
untuk mengenal berbagai perputaran asset ekonomi lokal yang
mereka miliki (Cunningham, 2012).
Hasilnya bisa dijadikan untuk meningkatkan kekuatan
secara kolektif dan membangunnya secara bersama. Pada sisi
lain leacky bucket juga merupakan kerangka kerja yang berguna
dalam mengenali berbagai asset komunitas atau warga, tetapi
juga dalam mengenali asset peluang ekonomi yang
memungkinkan dalam menggerakkan komunitas atau warga.
89
Adapun cara yang bisa dikembangkan adalah dengan cara
warga atau komunitas memvisualisasikan apa saja asset
ekonomi yang mereka milki dengan menggunakan alur kas,
barangmaupun jasa yang masuk dari sisi atas dan keluar dari
sisi bawah wadah ekonomi sebagai potensi yang dimiliki dalam
masyarakat.
Untuk melihat seberapa tingginya atau maksimalnya
ekonomi tingkat aktivitas warga komunitas dapat ditentukan
melalui banyaknya arus yang masuk di dalam wadah disertai
perputaran didalamnya yang sangat dinamis sehingga aliran
yang keluar atau bocor dari wadah menjadi sedikit dibanding
aliran yang masuk sebelumnya. Sebaliknya jika air yang masuk
dalam wadah dan tingkat perputarannya statis/tetap di dukung
oleh tingkat kebocorannya yang banyak maka aktivitas ekonomi
warga komunitas rendah atau lemah. Untuk mengatasi
kelemahannya maka aliran yang masuk dalam hal ini kas danbarag
dan jasa dapat dikembangkan melalui perputaran kas dalam
wadah sehingga aliran kas dan barang yang keluar sangat
minimum. Dengan demikian level posisi air tergantung pada,
seberapa banyak yang masuk, seberapa banyak yang keluar, dan
tingkat kedinamisan ekonomi komunitas.
90
Langkah-langkah memahami asset dengan Leaky Bucket
1. Warga atau komunitas diajak untuk bekerjasama di
tiap kelompok untuk menjaga kestabilan level air dalam
ember dalam waktu yang telah ditentukan terlebih
dahulu. Bagaimana wadah bocor tadi tetap berisi air.
Mempertahnkan isinya, bagian-bagian mana saja yang
bisa ditutupi untuk meminimalisir kebocoran tersebut.
Dan ini butuh kerjasama dan pikiran bersama untuk
mempertahankannya.
93
d. Skala Prioritas (Low Hanging Fruit)
Setelah mengetahui potensi, kekuatan dan peluang yang
mereka miliki dengan menemukan informasi dengan santun,
pemetaan asset, penelusuran wilayah, pemetaan kelompok atau
institusi dan mereka sudah membangun mimpi yang indah maka
langkah berikutnya, adalah bagaimana mereka bisa melakukan
semua mimpi-mimpi mereka, karena keterbatasan ruang dan
waktu maka tidak mungkin semua mimpi mereka diwujudkan.
Skala prioritas adalah salah satu cara atau tindakan yang cukup
mudah untuk diambil dan dilakukan untuk menentukan
manakah salah satu mimpi mereka bisa direalisasikan dengan
menggunakan potensi masyarakat itu sendiri tanpa ada bantuan
dari pihak luar.
Hal yang harus diperhatikan dalam low hanging skala
prioritas adalah apa ukuran untuk sampai keputusan bahwa
mimpi itulah yang menjadi prioritas? Siapakah yang paling
berhak menentukan skala prioritas? Berikan kepercayaan dan
kesempatan kepada masyarakat untuk menentukan skala
prioritas sendiri. Setelah pilihan ditentukan oleh masyarakat,
maka langkah selanjutnya adalah design atau merencanakan
kegiatan.
94
Gambar 1: Ilustrasi skala prioritas
95
akan bermanfaat untuk mengembangkan potensi di
daerahnya.
• Aset institusi, masyarakat mendaftar/ mendata
pelayanan pemerintahan dan swasta yang berada di
sekitar mereka untuk peluang mengembangkan
asset.
• Asset fisik, dengan melihat peta masyarakat
• Asset alam, peta masyarakat dan keadaannya yang
sebenarnya yang di miliki.
• Analisa ekonomi masyarakat, dianalisis dengan
menggunakan diagram pemasukan dan penegluaran
dengan menggunakan timba bocor (leaky bucket)
2. Identifikasi tujuan masyarakat/skala prioritas
masyarakat, berdasarkan asset dan peluang, tujuan apa
yang akan kita realisasikan di masyarakat, kelompok
masyarakat mampu mengidentifikasi skala prioritas/
sesuatu yang akan di kerjakan atau di capai dengan
kekuatan masyarakat tanpa ada bantuan dari luar.
3. Identifikasi asset masyarakat untuk mencapai tujuan,
pada poin ini, kelompok masyarakat dapat
mengidentifikasi asset yang di fokuskan atau di
prioritaskan untuk mencapai tujuan.
96
4. Meyakinkan kelompok-kelompok inti masyarakat untuk
melakukan kegiatan, kelompok inti masayarakat
membuat komitmen yang jelas dan keterlibatan dalam
kegiatan, di pilih salah satu leader yang akan memberi
contoh dan bertanggung jawab memotivasi dalam
merealisasikan mimpi banyak masyarakat. Jika set dan
kesmepatan yang mudah yang di fokuskan tercapai dan
sukses maka masyarakat akan mencoba kegiatan yang
lebih besar.
99
Biografi Penulis
Siti Maryam,
M. Pd I, lahir di desa
Karangbong Kec.
Pajarakan Probolinggo,
31 Desember 1979. Putri
bungsu dari Alm. Bapak
Satap dan Alm. Ibu
Fatimah ini, menempuh
jenjang pendidikannya
dari TK, SD, MI, SMP,
MAK dan Sarjana S-1 di
Pondok Pesantren Zainul
Hasan Genggong.
Kemudian melanjutkan Pendidikan Sarjana S-2 nya di
Universitas Darul Ulum Jombang yang lulus pada tahun 2014.
Saat ini penulis tercatat sebagai Mahasiswa Program Doktoral
PAI BSI Universitas negri Maulana Malik Ibrahim Malang
semester IV. Penulis aktif menjadi Dosen Tetap Prodi PAI di
Universitas Islam Zainul Hasan Genggong sejak tahun 2015
sampai sekarang.
Buku ini adalah buku kedua, setelah pada tahun 2020
menulis buku “Pendidikan Islam Multikultural dalam
Persepektif KH. Mohammad Hasan Mutawakkil Alallah, SH.,
MM (Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong).
Penulisan dalam bentuk artikel jurnal yang sudah terbit
antara lain 1. Pendidikan Agama Islam Dalam Persepektif Al Quran.
100
2. Internalisasi Nilai-nilai Agama Islam Dalam Pembentukan
Karakter Siswa Melalui Kegiatan ekstrakurikuler Keagamaan Di
SMAI Miftahul Ulum Jatiurip Krejengan. 3. Pengembangan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Bidang Study Fiqih Di
SMP Islam Ar-Rofi’iyyah Semampir Kraksaan.
Pengalaman pekerjaan diawali pada tahun 2007-
sekarang sebagai Penyelenggara TP. Anggrek Al Hasan
Pajarakan Kulon. Tahun 2008-2016 sebagai tenaga sukarelawan
di lembaga Sekolah Dasar Negeri Selogudig Wetan I Pajarakan.
Dari tahun 2015-2017 menjadi Fasilitator PKP SPM Dikdas
Region II Jatim. 2019-2020 sebagai Tenaga Inti Kabupaten
yang bertugas menjadi Fasilitator Pendampingan Program
EDM/ERKAM bagi Madrasah di Kabupaten Probolinggo.
Direktur CV. MM. Barokah Jaya (Konsultan Pendidikan) sejak
tahun 2019.
Pengalaman organisasi 1. Ketua PAC Fatayat NU
Pajarakan 2004-2014. 2. Ketua KPPG Kabupaten Probolinggo
2009-2014. 3. Ketua Pokja 1 PKK Kecamatan Pajarakan 2015-
2020. 4. Sekretaris Pengajian Al Hidayah Kabupaten
Probolinggo 2015-2020. 5. Bidang Pendidikan, GOW
Kabupaten Probolinggo 2015-2021. 6. Anggota FKDP
Kopertais IV Surabaya 2016-sekarang. 7. Ketua Litbang PC
Fatayat NU Kraksaan 2014-2024. 8. Wakil Ketua ASDANU
Pusat 2019-2024. 9. Sekretaris Forum LPPM Kopertais IV
2019-2024. 10. Wakil Bendahara I Assosiasi Dosen PTKIS
Indonesia DPW Jawa Timur 11. Ketua Al Hidayah Kabupaten
101
Probolinggo 2021-2026. 12. Wakil Sekretaris GOW Kabupaten
Probolinggo 2021-2026.
Pada tahun 2022 ini, selain buku Metode ABCD penulis
proses menyiapkan dua buku lainnya yang insyaallah akan terbit
pada tahun yang sama. 1. Pengembangan Bahan Ajar PAI
Menggunakan Metode Inkuiri. 2. Model dan Strategi
Pembelajaran. Demikian semoga karya tulis ilmiah ini menjadi
salah satu hazanah keilmuan yang bermanfaat bagi dinamisasi
ilmu pengetahuan yang terus berkembang seiring kemajuan
zaman.
102
BAB 5
104
Gambar 1. Pendekatan Pemecahan Masalah vs Pendekatan
Apresiatif
(BBPLK, 2014)
106
Modal personal itu nilai-nilai unggul yang mereka miliki,
diantaranya semangat, tenaga muda, kreativitas, dan kegelisahan
terhadap pembaharuan. Modal sosial dapat berupa kegotong-
royongan, kohesi kelompok, kepedulian sosial. Modal kapital
adalah segala sumberdaya yang bisa dikapitalkan diantaranya
lahan, potensi produksi, dan bahan baku.
II. Dream
Bangun bersama cita-cita masyarakat. Cita-cita bersama
(shared vision) merupakan kesepakatan dari cita-cita setiap
individu. Kadang seseorang atau sebuah kelompok dapat gagal
menemukan visi. Kegagalan itu, pada umumnya akibat terlalu
fokus pada persoalan dan hambatan.
Perumusan impian (cita-cita, visi) ini amat penting, sebab inilah
yang akan menjadi tujuan dari masyarakat. Cita-cita dirumuskan
dengan
―SMART‖ singkatan dari specific, measureable, achievable,
realistic, time bond.
III. Design :
Rancang langkah strategik. Langkah strategik untuk
mencapai cita- cita itu perlu dirumuskan secara partisipasif dan
kolaboratif. Kolaborasi akan mengeliminasi kelemahan
individu, dan pada gilirannya akan ditransformasikan menjadi
107
keunggulan kolektif. Partisipasi dan kolaborasi juga akan
menjadi sebuah cara untuk dapat mengenali masyarakat.
Sungguh sulit jika harus menduga-duga aspirasi dan impian
suatu masyarakat apabila mereka tidak mengekspresikannya
lewat sebuah mekanisme partisipasif dan kolaboratif. Langkah
strategik adalah cara paling efektif dan rasional untuk bisa
merealisasikan cita-cita. Langkah strategik itu bisa terdiri dari
beberapa langkah operasional.
IV. Destiny
Membangun budaya masyarakat. Menjalankan langkah-
langkah operasional yang telah ditetapkan, tidak akan membuat
suatu masyarakat langsung sejahtera. Masyarakat juga perlu
menjalankan budaya yang adaptif dengan cita-citanya.
Salah satu budaya yang adaptif untuk segala keperluan apresiatif
adalah dialog. Dialog akan mengasah semangat menghargai
orang lain. Ketika suatu masyarakat sudah memberikan
penghargaan kepada orang lain, maka ketika itulah semua akan
memahami bahwa masyarakat itu merupakan calon pelopor
pembangunan.
108
(4-D), pada kotak bawah ditunjukkan muatan setiap unsur.
Sumberdaya yang tersedia, misalnya, bermakna status
kompetensi yang dimiliki oleh masyarakat (baik menyangkut
jenis kompetensi maupun sebaran lokasi geografik di lokasi).
Visi yang ingin dicapai adalah status kompetensi yang
dibutuhkan untuk melakukan proses pemberdayaan wilayah dan
masyarakat secara optimal sehingga terjadi peningkatan
kesejahteraan.
Langkah strategiknya dikelompokkan ke dalam dua
kategori: pembangunan dan pelatihan. Pembangunan adalah
gugus kegiatan yang dilakukan oleh unit teknis; sedangkan
pelatihan adalah paket pelatihan yang akan dikelola oleh instansi
terkait. Budaya organisasi yang harus dikelola agar proses
apresiatif berjalan lancar adalah menggalang koordinasi dan
kolaborasi dengan tujuan agar proses pembangunan dan
pelatihan itu berjalan sinergik.
Gambar 2. Proses Apresiatif Dalam Penelusuran Kebutuhan
(BBPLK, 2014)
109
Pengisian setiap unsur proses apresiatif tersebut dilakukan
melalui kegiatan riset cepat dan lokakarya; sedangkan
analisisnya dilakukan melalui proses diskusi sejawat (peer
review).
Kategorisasi riset cepat dan lokakarya sesungguhnya lebih
menunjukkan pada arah datangnya data dan posisi data bagi
masyarakat. Dalam kegiatan riset, kendali kegiatan ada di tangan
periset. Responden dan informan hanya berperan sebagai
pemasok data. Selanjutnya data itu diolah dan dianalisis dengan
menggunakan kecakapan profesional perisetnya.
Dalam lokakarya, masyarakat itu berperan sebagai pemasok dan
pemilik data. Di dalamnya sudah tercakup proses analisis dan
110
pengambilan kesimpulan yang dilakukan secara unik oleh
masyarakat. Ditinjau dari segi hakekat akuisisi dan pengolahan
data serta pengambilan kesimpulannya, keduanya memiliki nilai
kesahihan yang tinggi.
Memperhatikan diagram proses apresiatif di atas, pada bagian
visi itu muncul rumusan ―status kecakapan yang dibutuhkan‖.
Status itu diperoleh secara empirik dan bukan secara intuitif,
melalui proses apresiatif dalam konteks pemberdayaan wilayah
dan masyarakat.
111
Transect merupakan teknik untuk memfasilitasi
masyarakat dalam pengamatan langsung lingkungan dan
keadaan sumber-sumberdaya dengan cara berjalan menelusuri
wilayah desa mengikuti suatu lintasan tertentu yang disepakati
(Mikkelsen dan Britha, 2011). Transek merupakan salah satu
teknik Participatory Rural Appraisal (PRA) yang digunakan
untuk melakukan pengamatan langsung terhadap lingkungan
dan sumberdaya masyarakat. Metode PRA merupakan
pendekatan dalam merumuskan perencanaan dan kebijakan di
wilayah pedesaan dengan cara melibatkan masyarakat seefektif
mungkin (Chambers, 1996).
Penerapan pendekatan PRA dengan harapan akan tercipta
suasana kerja yang kondusif, kolaboratif, adaptif dan partisipatif
dalam proses perencanaan pembangunan dan pengelolaan
sumber daya ada khususnya di wilayah pedesaan. PRA bisa
dikatakan sebagai pendekatan, metode atau teknik, karena di
dalamnya memang terdapat unsur-unsur tersebut. Di dalamnya
terdapat beberapa teknik- teknik identifikasi, pengukuran dan
pelibatan partisipatif masyarakat
Pemetaan wilayah secara akurat dalam bentuk informasi
geospasial juga menjadi sangat penting dilakukan. Penyediaan
data spasial tersebut tidak saja membantu mencegah konflik,
112
tetapi juga mampu memberikan kepastian hokum bagi eksistensi
wilayah sebuah desa (Diantha, 2001). Kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi di dalam perolehan dan pengelolaan
data spasial telah mampu melakukan pemetaan dengan akurat
dan dapat dipertanggungjawabkan (Sosrodarsono dan Takasaki,
1992).
1) Tujuan dan manfaat Transect
Tujuan dan manfaat transek yaitu untuk melihat dengan
jelas mengenai kondisi alam dan rumitnya sistem sumberdaya
dan pemeliharaannya yang terbatas yang dijalankan masyarakat
(Sanusi dan Hidayah, 2015).
Transek dalam berbagai kegiatan untuk memetakan
fasilitas dan potensi- potensi wilayah dengan memanfaatkan
peta citra satelit. Peta potensi yang dihasilkan nanti diharapkan
dapat membantu pemerintah pusat maupun daerah dalam
menjalankan program pembangunan wilayah.
Tujuan transect adalah memperoleh gambaran keadaan
sumber daya alam masyarakat beserta masalah-masalah,
perubahan-perubahan keadaan dan potensi-potensi yang ada.
Tetapi juga tergantung topic yang ingin diperoleh. Hasilnya
digambar dalam diagram transek atau gambaran irisan muka
bumi seperti contoh gambar di bawah ini.
113
Tabel 1, Contoh hasil penelurusan wilayah (transect)
114
Sumber (Nadhir Salahuddin, dkk, 2015).
2) Langkah-langkah Pembuatan Transect
(1) Penentuan lokasi
Adanya kesepakatan tentang lokasi-lokasi penting yang akan
dikunjungi serta topik-topik kajian yang akan dilakukan pada
lintasan penelusuran serta titik awal dan titik akhir (bisa
memanfaatkan hasil Pemetaan kondisi wilayah) denga
melakukan perjalanan dan mengamati keadaan, sesuai topik-
topik yang disepakatibuatlah catatan-catatan hasil diskusi di
setiap lokasi (tugas pencatat)
(2) Kesepakatan simbol
Adanya kesepakatan pembuatan simbol yang akan
dipergunakan. Dengan mencatat simbol dan artinya
penggambaran bagan transek berdasarkan hasil lintasan (dibuat
115
dengan bahan yang mudah diperbaiki / dihapus agar masih dapat
dibuat perbaikan) untuk memfasilitasi penggambaran,
masyarakat diarahkan untuk menganalisa mengenai:
• perkiraan ketinggian
• perkiraan jarak antara satu lokasi dengan lokasi
lain
• mengisi hasil diskusi tentang topik-topik dalam
bentuk bagan / matriks kalau gambar yang sudah
selesai
• mendiskusikan kembali hasil dan membuat
perbaikan jika diperlukan
• mendiskusikan permasalahan dan potensi
masing-masing lokasi
• menyimpulkan apa yang dibahas dalam diskusi
• mencatat dan mendokumentasikan semua hasil
diskusi
3) Jenis-jenis transek
Jenis-jenis transek meliputi
(1) Transek sumber daya umum
Adalah pengamatan sambil berjalan melalui daerah pemukiman
mayarakat yang bersangkutan guna mengamati dan
mendiskusikan berbagai keadaan. Keadaan-keadaan yang
116
diamati yaitu pengaturan letak perumahan dan kondisinya,
pengaturan halaman rumah, pengaturan air bersih untuk
keluarga, keadaan sarana MCK mandi-cuci-kakus, sarana umum
desa antara lain sekolah, toko/warung, tembok dan gapura desa,
tiang listrik, puskesmas, dan sebagainya, juga lokasi kebun dan
sumber daya pertanian secara garis besar.
Kajian transek ini terarah terutama pada aspek-aspek
umum pemukiman desa tersebut, terutama sarana-sarana yang
dimiliki desa, sedangkan keadaan sumber daya alam dan bukan
alam dibahas secara garis besarnya saja. Kajian ini akan sangat
membantu dalam mengenal desa secara umum dan beberapa
sapek lainnya dari wilayah pemukiman yang kurang
diperharikan.
(2) Transek sumber daya alam
Transek ini dilakukan untuk mengenal dan mengamati
secara lebih tajammengenai potensi sumberdaya alam serta
permasalahan- permasalahannya,terutama sumber daya
pertanian. Seringkali, lokasi kebun dan lahan pertanianlainnya
milik masyarakat berada di batas dan luar desa, sehingga transek
sumberdaya alam ini bisa sampai keluar desa.
Informasi-informasi yang bisanya muncul antara lain adalah :
a. Bentuk dan keadaan permukaan alam
117
(topografi) : termasuk ke dalamnyaadalah
kemiringan lahan, jenis tanah dan
kesuburannya, daerah tangkapan airdan sumber-
sumber air (sungai, mata air, sumur).
b. Pemanfaatan sumber daya tanah (tataguna
lahan): yaitu untuk wilayahpermukiman, kebun,
sawah, lading, hutan, bangunan, jalan, padang
gembala, dan sebagainya.
c. Pola usaha tani: mencakup jenis-jenis tanaman
penting (antara lain jenis- jenislocal) dan
kegunaanya (misalnya tanaman pangan,
tanaman obat, pakan ternak, dan sebagainya),
produktivitas lahan dan hasilnya dan
sebagainya.
d. Teknologi setempat dan cara pengelolaan
sumber daya alam: termasukteknologi
tradisional, misalnya penahan erosi dari batu,
kayu, atau pagar hidup; pohon penahan api;
pemeliharaan tanaman keras; system beternak;
penanamanberbagai jenis rumput untuk pakan
ternak, penahan air, penutup tanah;
systempengelolaan air, (konservasi air, kontrol
118
erosi, dan pengairan) dan beberapa hallainnya.
e. Pemilikan sumber daya alam : biasanya terdiri
dari milik perorangan, milikadat, milik
umum/desa, milik pemerintah (missal hutan)
Kajian lebih lanjut yang dilakukan antara lain adalah:
a. Kajian mata pencaharian yang memanfaatkan
sumber daya tersebut baik oleh pemilik maupun
bukan (missal, penduduk yang tidak memiliki
kebun mungkin menjadi pengumpul kayu bakar
dari hutan, menjadi buruh, dan lain sebagainya).
b. Kajian mengenai hal-hal lain yang
mempengaruhi pengelolaan sumber daya,seperti
perilaku berladang dan tata cara adat dalam
pengelolaan tanah,pengelolaan air, peraturan
memelihara ternak, upacara panen, dan
sebagainya
(3) Transek Topik Tertentu
Transek ini berfungsi untuk mengamati dan membahas
topik-topik khusus. Misalnya: transek yang dilakukan khusus
untuk mengamati sarana kesehatan dan kondisi kesehatan
lingkungan desa, transek wilayah persebaran hama, atau transek
khusus untuk mengamati sumber air dan system
119
pengelolaanaliran air serta irigasi, pendidikan dasar, dan
sebagainya.
120
dapat dilakukan dengan baik sekarang dan siapa di antara
mereka yang memiliki keterampilan atau sumber daya. Mereka
ini kemudian dapat diundang untuk berbagi kekuatan demi
kebaikan seluruh kelompok atau komunitas. Daftar lengkap aset
yang bisa dipetakan adalah: (Nadhir Salahuddin, dkk, 2015).
(1) Aset personal atau manusia; keterampilan, bakat,
kemampuan, apa yang bisa anda lakukan dengan baik,
apa yang bisa anda ajarkan pada orang lain.
(Kemampuan Tangan, Kepala dan Hati).
(2) Asosiasi atau aset sosial; tiap organisasi yang diikuti
oleh anggota kelompok, kelompok–kelompok remaja
masjid seperti kelompok Kaum Muda, Kelompok Ibu;
kelompok–kelompok budaya seperti Kelompok Tari
atau Nyanyi; Kelompok Kerja PBB atau Ornop lain
dalam komunitas atau yang memberikan pelatihan bagi
komunitas. Asosiasi mewakili modal sosial komunitas
dan penting bagi komunitas untuk memahami kekayaan
ini.
(3) Institusi; lembaga pemerintah atau pewakilannya yang
memiliki hubungan dengan komunitas. Seperti komite
sekolah, komite untuk pelayanan kesehatan, mengurus
listrik, pelayanan air, atau untuk keperluan pertanian dan
121
peternakan. Terkadang institusi – institusi ini terhubung
dengan Aset Sosial tetapi keduanya mewakili jenis aset
komunitas yang berbeda. Komite Sekolah, Komite
Posyandu dan koperasi yang dibentuk oleh pemerintah
termasuk dalam kategori ini.
(4) Aset Alam. Tanah untuk kebun, ikan dan kerang, air,
sinar matahari, pohon dan semua hasilnya seperti kayu,
buah dan kulit kayu, bambu, material bangunan yang
bisa digunakan kembali, material untuk
menenun, material dari semak, sayuran, dan sebagainya.
(5) Aset Fisik. Alat untuk bertani, menangkap ikan, alat
transportasi yang bisa dipinjam, rumah atau bangunan
yang bisa digunakan untuk pertemuan, pelatihan atau
kerja, pipa, ledeng, kendaraan.
(6) Aset Keuangan. Mereka yang tahu bagaimana
menabung, tahu bagaimana menanam dan menjual
sayur di pasar, yang tahu aabagaiman menghasilkan
uang. Produk–produk yang bisa dijual, menjalankan
usaha kecil, termasuk berkelompok untuk bekerja
menghasilkan uang. Memperbaiki cara penjualan
sehingga bisa menambah penghasilan dan
menggunakannya dengan lebih bijak. Kemampuan
122
pembukuan untuk rumah tangga dan untuk kelompok
maupun usaha kecil.
(7) Aset Spiritual dan Kultural. Fasilitator bisa menemukan
aset ini dengan memikirkan nilai atau gagasan terpenting
dalam hidup masyarakat – apa yang paling membuat
anda bersemangat? Termasuk di dalamnya nilai–nilai
penganut Muslim, keinginan untuk berbagi, berkumpul
untuk berdoa dan mendukung satu sama lain. Atau
mungkin ada nilai – nilai budaya, seperti menghormati
saudara ipar atau menghormati berbagai perayaan dan
nilai – nilai harmoni dan kebersamaan. Cerita– cerita
tentang pahlawan masa lalu dan kejadian sukses masa
lalu juga termasuk di sini karena hal– hal tersebut
mewakili elemen sukses dan strategi untuk bergerak
maju.
Sedangkan langkah-langkah yang dapat digunakan untuk
proses mapping adalah sebagai berikut:
(1) Ketua tim memperkenalkan diri kepada seluruh peserta
yang hadir
(2) Menjelaskan pengertian pemetaan, tujuan serta manfaat
kegiatan ini
(3) Menjelaskan unsur-unsur yang harus ada dalam
123
pembuatan peta wilayah melalui sumbang saran
(4) Setelah nara sumber lokal (NSL) paham, lalu peserta &
tim memulai pembuatan gambar peta wilayah. Untuk
memulai dialog bisa dibuka dengan: ―kita sekarang
ada disini (sambil menunjuk dalam kertas yangakan
digambar), kalau kita mau ke…..‖ (suatu tempat di
lingkungan RW setempat) dimana letak tempat tersebut
berada, kalau digambarkan disini? Dan dapat meminta
NSL untuk menggambar lokasinya‖.
(5) Fasilitator memfasilitasi jalannya dialog & diskusi
selama proses, misalnya informasi/data apa saja yang
harus dimasukkan peta, bagaimana cara menggunakan
simbol-simbol & cross check data
(6) Usahakan untuk mempresentasikan hasil mapping,
kepada peserta untuk menyempurnakan data apabila
waktunya mencukupi
(7) Review Data dilakukan setelah pemetaan selesai,
pemandu meminta kepada seluruh peserta untuk
melakukan triangulasi data (check & recheck data yang
sudah dikumpulkan).
124
f. Pemetaan Asosiasi dan Institusi (Mapping of
Associations and Institutions)
Institusi adalah norma atau aturan mengenai suatu aktivitas
masyarakat yang khusus yang sifatnya meningkat dan relatif
lama serta memiliki ciri-ciri tertentu yaitu simbol, nilai, aturan
main, dan tujuan. Institusi dapat dibedakan menjadi institusi
formal dan institusi non-formal dan yang mendasari
terbentuknya lembaga-lembaga sosial atau suatu grup yang ada
dalam komunitas masyarakat karena suatu tujuan yang sama
dengan struktur organisasi yang jelas dan biasanya sebagai salah
satu faktor utama dalam proses pengembangan komunitas
masyarakat karena faktor-faktor ; berdasarkan kesamaan
keyakinan kesadaran akan kondisi yang sama, berdasarkan
kesamaan issue, adanya relasi sosial, dan orientasi pada tujuan
yang telah ditentukan, berdasarkan kesamaan kompetensi
/keahlian. Dengan model keanggotaan asosiasi representasi,
profesional, sosial—budaya dan pribadi (diri sendiri). Contoh:
asosiasi guru, asosasi dokter, perkumpulan wasit, asosiasi
pedagang kaki lima, asosiasi pedagang batik, ikatan insinyur,
ikatan dosen indonesia dan sebaginya.
Institusi dapat dibedakan menjadi institusi formal dan
institusi non-formal. Institusi formal dapat berupa institusi
125
pemerintah (pemerintahan desa beserta perangkat kelembagaan
dibawahnya) dan institusi swasta (organisasi sosial
kemasyarakatan, lembaga pendidikan swasta dan lain
sebagainya).
Sedangkan institusi non formal berupa sekumpulan orang
di warung yang hadir secara konsisten, jamaah pengajian,
kelompok lainnya. Di beberapa desa, contoh asosaiasi-asosiasi
yang dibentuk di desa yaitu komunitas tahlilan, PPK, Karang
Taruna, klup sepak bola, HIPPA (himpunan petani pengambil
air), dan GAPOKTAN (Gabunagan Kelompok Tani ).
Setelah mengidentifikasi asosiasi dan institusi yang ada,
maka komunitas dapat merumuskan peran asosiasi dan institusi
tersebut di dalam pengembangan komunitas. Dengan melihat
peranan asosiasi/institusi di dalam komunitas, maka program
pengembangan masyarakat dapat dimulai dengan
mengidentifikasi kekuatan kolektif yang sudah ada untuk
menginisiasi perubahan dikomunitasnya. Semakin besarnya
peranan asosiasi, maka percepatan pengembangan masyarakat.
Dengan melihat peranan asosiasi/intitusi dari dalam
komunitas, maka program pengembangan masyarakat dapat
dimulai dengan mengidentifikasi kekuatan kolektif yang sudah
ada untuk menginisiasai perubahan di komunitasnya. Semakin
126
besarnya peranan asaiosi, maka percepatan pengembangan
masyarakat
127
dilakukan dengan hanya mengumpulkan sejumlah/sebagian
warga dari suatu komunitas yang dianggap paling mengetahui
warga yang ada dalam suatu komunitas. Pendekatan atau cara
mana yang akan dipilih sangat tergantung kepada besaran warga
dalam suatu komunitas.
Hasil pemetaan aset perorangan yang disusun berdasarkan
kategori tertentu dijadikan sebagai direktori aset perorangan
yang bertujuan untuk memudahkan pencarian aset yang
dibutuhkan dalam pengembangan suatu komunitas. Pendekatan
lain dalam pengelompokkan aset suatu skill perorangan dapat
dilihat dari segi:
(1) Skill yang berhubungan dengan kemasyarakatan.
Misalnya skill dalam memimpin suatu masyarakat, skill
berkomunikasi dengan berbagai kelompok masyarakat
seperti kelompok remaja, kelompok usia lanjut, dsb.
(2) Skill yang berhubungan dengan kewirausahaan.
Misalnya keterampilan dalam mengolaj suatu usaha,
keterampilan permasaran, keterampilan yang
berhubunan dengan negosiasi dengan pihak supplier.
(3) Skill yang berhubungan dengan seni dan budaya.
Misalnya keterampilan yang berhubungan dengan
kerajinan tangan, menari, bermain teater, dan bermain
128
musik.
Metode/alat yang dapat digunakan untuk melakukan
pemetaan individual asset antara lain kuisioner, interview dan
focus group discussion. Manfaat dari Pemetaan Individual Aset
antara lain:
(1) Membantu membangun landasan untuk memberdayakan
masyarakatdan untuk saling ketergantungan dalam
masyarakat
(2) Membantu membangun hubungan dengan masyarakat
(3) Membantu warga mengidentifikasi keterampilan dan
bakat mereka sendiri
Pada sebuah desa di Bojonegoro misalnya, pemetaan
individual aset ini biasanya dikaitkan dengan keragaman
129
pekerjaan warganya. Contoh paparan data berikut:
131
h. Pemetaan Perputaran Ekonomi Komunitas
(Community Economic Cycle Mapping)
1) Pengertian, Tujuan dan Fungsi Community
Economic Cycle Mapping
Perputaran ekonomi yang berupa kas, barang dan jasa
merupakan hal yang tidak terpisahkan dari warga atau
komunitas dalam kehidupan mereka sehari-hari. Beberapa jauh
tingkat dinaminitas dalam pengembangan ekonomi lokal mereka
dapat dilihat, seberapa banyak kekuatan ekonomi yang masuk
dan keluar. Untuk mengenali, mengembangkan dan memobilisir
aset-aset tersebut dalam ekonomi komunitas atau warga lokal
diperlukan sebuah analisa dan pemahaman yang cermat. Salah
satu pendekatan yang digunakan dalam pendekatan ABCD
[Asset Based Community Development] adalah melalui Leacky
Bucket.
Ini sangat penting bagi masyarakat untuk memahami
132
konsep leaky bucket dan efek pengganda serta peran laki-laki
dan perempuan sebagai pelaku ekonomi sehingga peserta
mendapatkan inovasi dan kreativitas dalam meningkatkan alur
perputaran ekonomi. Pemetaan aset memberikan gambaran
kepada masyarakat potensi yang dapat dimanfaatkan untuk
peningkatan kesejahteraan komunitas terutama dari segi
ekonomi masyarakat.
Tujuan memahami konsep leaky bucket/wadah ekonomi
dan peran laki- laki dan perempuan sebagai pelaku ekonomi
sebagai potensi yang dimiliki dalam masyarakat adalah
(1) Mengenalkan konsep umum leaky bucket dan efek
pengganda
(2) Memahami dampak efek pengganda bagi ekonomi
komunitas
(3) Mengidentifikasi arus masuk, alur perputaran
ekonomi dalam komunitas dan alur keluar
(4) Menggali kekuatan-kekuatan dan peran laki-laki dan
perempuan sebagai pelaku ekonomi dalam komunitas
untuk meningkatkan efek pengganda dan alur
perputaran ekonomi yang kreatif.
Dengan mengenali potensi ekonomi yang dimiliki oleh
komunitas maka fasilitator dan asyarakat dapat bersama-sama
133
merencanakan skala prioritas.
Leacky Bucket atau bisa dikenal dengan wadah bocor atau
ember bocor merupakan salah satu cara untuk mempermudah
masyarakat, komunitas atas warga dalam mengenali,
mengidentifikasi dan menganalisa berbagai bentuk aktivitas atau
perputaran keluar dan masuknya ekonomi lokal
komunitas/warga. Lebih singkatnya, leaky bucket adalah alat
yang berguna untuk mempermudah warga atau komunitas untuk
mengenal berbagai perputaran aset ekonomi lokal yang mereka
miliki. Hasilnya bisa dijadikan untuk meningkatkan kekuatan
secara kolektif dan membangunnya secara bersama.
Pada sisi yang lain, leaky bucket juga merupakan kerangka
kerja yang berguna dalam mengenali berbagai aset komunitas
atau warga, tetap juga dalam mengenali aset peluang ekonomi
yang memungkinkan dalam menggerakkan komunitas atau
warga. Adapun cara yang bisa dikembangkan adalah dengan
cara warga atau komunitas menvisualisasikan apa saja aset
ekonomi yang mereka miliki dengan menggunakan alur kas,
barang maupun jasa yang masuk dari sisi atas dan keluar dari sisi
bawah wadah ekonomi sebagai potensi yang dimiliki
masyarakat. Berikut ini ilustrasi gambar arus perputaran masuk
dan keluar serta alur dinamika didalamnya.
134
Proses dari aktivitas ini dapat dilakukan dengan mengajak
warga atau komunitas untuk memvisualisasikan dinamika
ekonomi mereka ke dalam wadah yang bocor yang diisi dengan
air. Wadah ini terdiri dari alur air yang masuk yang merupakan
barang dan kas, kemudian alur air tersebut beraktifitas
didalamnya dalam hal ini dalam wadah yang biasa disebut
dengan perputaran barang, jasa dan kas warga tersebut,
kemudian air yang bocor dari wadah merupakan alur keluarnya
barang, jasa dan kas dari warga atau komunitas tersebut.
Untuk melihat seberapa tingginya atau maksimalnya
ekonomi tingkat aktivitas warga komunitas dapat ditentukan
melalui banyaknya arus yang masuk di dalam wadah di sertai
perputaran didalamnya yang sangat dinamis sehingga aliran
yang keluar atau bocor dari wadah menjadi sedikit dibanding
aliran yang masuk sebelumnya. Sebaliknya jika air yang masuk
dalam wadah dan tingkat perputarannya statis/tetap didukung
oleh tingkat kebocorannya yang banyak maka aktivitas ekonomi
warga komunitas rendah atau lemah. Untuk mengatasi
kelemahanya maka aliran yang masuk dalam hal ini kas dan
barang dan jasa dapat dikembangkan melaui perputaran kas
dalam wadah sehingga aliran kas dan barang yang keluar sangat
minimum. Dengan demikian level posisi air tergantung pada;
135
(1) Seberapa banyak yang masuk,
(2) Seberapa yang keluar,
(3) Tingkat kedinamisan ekonomi.
Pada sisi yang lain, leaky bucket juga merupakan kerangka
kerja yang berguna dalam mengenali berbagai asset komunias
atau warga, teapi juga dalam mengenali asset peluang ekonomi
yang memungkinkan dalam mengerakkan komunitas atau
warga. Adapun cara yang bisa kembangkan adalah dengan cara
warga atau komunitas menvisiualisasikan apa saja aset ekonomi
yang mereka miliki dengan menggunakan alur kas, barang
maupun jasa yang masuk dari sisi atas dan keluar dari sisi bawah
wadah ekonomi sebagai potensi yang dimiliki dalam
masyarakat. Berikut ini ilustrasi gambar arus perputaran masuk
dan keluar serta alur dinamika di dalamnya.
136
Gambar 4: Ilustrasi Leaky Bucket
Dari gambar diatas, bisa diterjemahkan bahwa leaky
bucket merupakan salah cara yang digunakan untuk membantu
warga komunitas dalam memahmi berbagai dinamika ekonomi
lokal mereka miliki, dengan melihat aktivitas dasar-dasar
ekonomi. Proses dari aktivitas ini dapat dilakukan dengan
mengajak warga aau komunitas untuk memfisualisasikan
dinamika ekonomi mereka ke dalam wadah yang bocor yang
di isi dengan air. Wadah ini terdiri dari alur air yang masuk
yang merupakan barang dan kas, kemudian alur air tersebut
beraktifitas di dalamnya dalam hal ini dalam wadah yang
biasa disebut dengan perputaran barang, jasa dan kas warga
tersebut, kemudian air yang bocor dari wadah merupakan
alur keluarnya barang, jasa dan kas dari warga atau komunitas
tersebut.
141
mengembangkan aset
• Aset fisik, dengan melihat peta masyarakat
• Aset alam, peta masyarakat dan keadaannya
yang sebenarnya yang di miliki
• Analisa ekonomi masyarakat, di analisis dengan
menggunakan diagram pemasukan dan
pengeluaran dengan menggunakan timba bojor.
2) Identifikasi tujuan masyarakat/ skala prioritas
masyarakat, Berdasarkan aset dan peluang, tujuan
apa yang akan kita realisasikan di masyarakat,
kelompok masyarakat mampu mengidentifikasi
skala prioritas/ sesuatu yang akan di kerjakan atau
di capai dengan ke kekuatan masyarakat tanpa ada
bantuan dari luar.
3) Identifikasi aset masyarakat untuk mencapai tujuan,
pada poin ini, kelompok masyarakat dapat
mengidentifikasi aset yang di focuskan atau di
prioritaskan untuk mencapai tujuan.
4) Menyakinkan kelompok-kelompok inti masyarakat
untuk melakukan kegiatan. Kelompok inti
masyarakat membuat komitmen yang jelas dan
142
keterlibatanya dalam kegiatan, di pilih salah satu
leader yang akan memberi contoh dan bertanggung
jawab memotivasi dalam merealisasikan mimpi
banyak masyarakat. Jika aset dan kesempatan yang
mudah yang di fokuskan tercapai dan sukses maka
masyarakat akan mencoba kegiatan yang lebih
besar.
5) Melakukan aksi dengan melihat aset yang ada untuk
melakukan yang paling mudah, aset yang ada saat
ini di manfaatkan untuk melakukan aksi. Hasil dari
aksi akan dapat di lihat dan di evaluasi apakah hasil
yang ada dengan memanfaatkan aset dan peluang
yang ada sudah dapat di harapkan seperti harap
masyarakat. Sehingga hal yang paling penting
adalah melihat dampak dan keberlanjutanya dari
hasil kerja keras masyarakat bermanfaatan untuk
masyarakat sekitar.
i. Matrik Scorring
1) Pengertian, Fungsi Dan Tujuan Matrik Scorring
Matrik Scorring merupakan metode matriks keputusan ,
143
juga disebut metode Pugh atau pemilihan konsep Pugh,
ditemukan oleh Stuart Pugh, (S. Pugh dalam Hubka, V. (ed.),
1981) adalah teknik kualitatif yang digunakan untuk
menentukan peringkat opsi multi-dimensi dari kumpulan opsi.
Ini sering digunakan dalam rekayasa untuk membuat keputusan
desain tetapi juga dapat digunakan untuk menentukan peringkat
opsi investasi, opsi vendor, opsi produk, atau kumpulan entitas
multidimensi lainnya.
Sebuah matrik scorring mengevaluasi dan
memprioritaskan daftar pilihan dan merupakan alat pengambilan
keputusan. Tim pertama-tama membuat daftar kriteria berbobot
dan kemudian mengevaluasi setiap opsi terhadap kriteria
tersebut.
Sebuah matrik scorring dasar terdiri dari menetapkan
seperangkat kriteria dan sekelompok calon desain potensial.
Salah satunya adalah calon referensi desain. Desain lainnya
kemudian dibandingkan dengan desain referensi ini dan diberi
peringkat sebagai lebih baik, lebih buruk, atau sama berdasarkan
masing- masing kriteria. Jumlah kemunculan "lebih baik" dan
"lebih buruk" untuk setiap desain kemudian ditampilkan, tetapi
tidak diringkas.
Matriks keputusan berbobot beroperasi dengan cara yang
144
sama seperti matriks keputusan dasar tetapi memperkenalkan
konsep pembobotan kriteria dalam urutan kepentingan. Semakin
penting kriteria, semakin tinggi bobot yang harus diberikan.
Keuntungan dari matrik scorring adalah mendorong
refleksi diri di antara anggota tim desain untuk menganalisis
setiap kandidat dengan bias yang diminimalkan (untuk anggota
tim dapat bias terhadap desain tertentu, seperti mereka sendiri).
Keuntungan lain dari metode ini adalah bahwa studi sensitivitas
dapat dilakukan. Contohnya adalah untuk melihat seberapa
banyak pendapat Anda harus berubah agar alternatif
berperingkat lebih rendah mengungguli alternatif yang bersaing.
Namun, ada beberapa kelemahan penting dari metode
matrik scorring:
• Daftar opsi kriteria bersifat arbitrer. Tidak ada cara
untuk mengetahui apriori jika daftarnya lengkap;
kemungkinan ada kriteria penting yang hilang.
• Sebaliknya, ada kemungkinan bahwa kriteria yang
kurang penting dimasukkan, menyebabkan
pengambil keputusan menjadi terganggu dan bias
dalam pilihan pilihan mereka.
• Metode penilaian, bahkan dengan pembobotan,
cenderung menyamakan semua persyaratan. Tetapi
145
beberapa persyaratan "harus dimiliki". Jika kriteria
minor cukup terdaftar, mungkin saja mereka
menambahkan dan memilih opsi yang tidak
memenuhi persyaratan "harus dimiliki".
• Nilai yang diberikan untuk setiap opsi adalah
tebakan, tidak didasarkan pada pengukuran
kuantitatif apa pun. Faktanya, seluruh matriks
keputusan dapat menciptakan kesan ilmiah,
meskipun tidak memerlukan pengukuran kuantitatif
apa pun.
Penggunaan Matrik Scorring yaitu
• Ketika daftar pilihan harus dipersempit menjadi
satu pilihan
• Ketika keputusan harus dibuat berdasarkan
beberapa kriteria
• Setelah daftar opsi dikurangi menjadi jumlah yang
dapat dikelola dengan pengurangan daftar
Situasi khas adalah:
• Ketika satu peluang atau masalah perbaikan harus
dipilih untuk dikerjakan
• Ketika hanya satu solusi atau pendekatan
pemecahan masalah yang dapat diterapkan
146
• Ketika hanya satu produk baru yang dapat
dikembangkan
2) Struktur Matrik Scorring
Struktur keyakinan adalah penilaian terdistribusi dengan
keyakinan. Ini digunakan dalam pendekatan penalaran bukti
(ER) untuk analisis keputusan multi-kriteria untuk mewakili
kinerja opsi alternatif pada suatu kriteria. Misalnya, kualitas si
A dapat dinilai ―sangat baik‖ dengan tingkat kepercayaan yang
tinggi (misalnya 0,6) karena nilai sosialnya tinggi,. Pada saat
yang sama, kualitas dapat dinilai hanya ―baik‖ dengan
tingkat kepercayaan yang lebih rendah (misalnya 0,4 atau
kurang) karena cara berfikir dan pengalamannya masih dapat
ditingkatkan. Penilaian seperti itu dapat dimodelkan dengan
struktur keyakinan: Si (sosial)={(sangat baik, 0,6), (baik, 0,4)},
di mana Sis ingkatan dari penilaian sosial pada kriteria ke - i
(kualitas). Dalam struktur keyakinan, ―sangat baik‖ dan
―baik‖ adalah standar penilaian, sedangkan ―0,6‖ dan ―0,4‖
adalah derajat keyakinan.
3) Prosedur Matriks Keputusan
(1) Lakukan brainstorming kriteria evaluasi yang sesuai
dengan situasi. Jika memungkinkan, libatkan
pelanggan dalam proses ini.
147
(2) Diskusikan dan perbaiki daftar kriteria. Identifikasi
kriteria apa saja yang harus disertakan dan apa saja
yang tidak boleh disertakan. Kurangi daftar kriteria
menjadi yang menurut tim paling penting. Alat
seperti pengurangan daftar dan multivoting mungkin
berguna.
(3) Tetapkan bobot relatif untuk setiap kriteria,
berdasarkan seberapa penting kriteria itu bagi
situasi. Ini dapat dilakukan dengan dua cara:
a) Dengan mendistribusikan 10 poin di antara
kriteria, berdasarkan diskusi tim dan konsensus.
b) Dengan masing-masing anggota memberikan
bobot, maka angka untuk setiap kriteria untuk
pembobotan tim komposit.
(4) Gambarlah matriks berbentuk L. Tulis kriteria dan
bobotnya sebagai label di sepanjang satu sisi dan
daftar opsi di sepanjang sisi lainnya. Biasanya, grup
dengan item yang lebih sedikit menempati tepi
vertikal.
(5) Evaluasi setiap pilihan berdasarkan kriteria. Ada tiga
cara untuk melakukannya
Metode 1: Menetapkan skala penilaian untuk
148
setiap kriteria. Beberapa opsi adalah:
1. 1, 2, 3 (1 = sedikit, 2 = cukup, 3 = banyak)
2. 1, 2, 3 (1 = rendah, 2 = sedang, 3 = tinggi)
3. 1, 2, 3, 4, 5 (1 = sedikit hingga 5 = hebat)
4. 1, 4, 9 (1 = rendah, 4 = sedang, 9 = tinggi)
Penting agar skala penilaian Anda konsisten.
Tentukan kriteria Anda dan tetapkan skalanya
sehingga skala tertinggi (5 atau 3) selalu merupakan
peringkat yang cenderung membuat Anda memilih
opsi itu: dampak terbesar pada pelanggan,
kepentingan terbesar, kesulitan terkecil, kemungkinan
sukses terbesar.
Metode 2: Untuk setiap kriteria, urutkan semua opsi
menurut seberapa baik masing-masing memenuhi
kriteria. Beri nomor dengan 1 sebagai opsi yang
paling tidak diinginkan menurut kriteria itu.
Metode 3: (Matriks Pugh): Menetapkan garis dasar,
yang mungkin merupakan salah satu alternatif atau
produk atau layanan saat ini. Untuk setiap kriteria,
beri nilai satu sama lain alternatif dibandingkan
dengan baseline, menggunakan skor lebih buruk (- 1),
sama (0), atau lebih baik (+1). Skala penilaian yang
149
lebih halus dapat digunakan, seperti 2, 1, 0, -1, -2
untuk skala lima poin atau 3, 2, 1, 0, -1, -2, -3 untuk
skala tujuh poin. Sekali lagi, pastikan bahwa angka
positif mencerminkan peringkat yang diinginkan.
(6) Kalikan peringkat setiap opsi dengan bobotnya.
Tambahkan poin untuk setiap opsi. Pilihan dengan
skor tertinggi belum tentu menjadi pilihan, tetapi
skor relatif dapat menghasilkan diskusi yang
bermakna dan memimpin tim menuju konsensus
4) Contoh Matrik Scorring
Gambar 1 menunjukkan Matrik Scorring yang digunakan
oleh tim layanan pelanggan di restoran Parisian Experience
untuk memutuskan aspek mana dari keseluruhan masalah
"waktu tunggu yang lama" yang harus ditangani terlebih dahulu.
Masalah yang mereka identifikasi adalah pelanggan menunggu
tuan rumah, pelayan, makanan, dan cek (Setyawan, 2017).
Kriteria yang mereka identifikasi adalah "Kesakitan
pelanggan" (seberapa besar pengaruh negatif ini terhadap
pelanggan?), "Kemudahan untuk diselesaikan", "Efek pada
sistem lain", dan "Kecepatan untuk diselesaikan". Awalnya,
kriteria "Kemudahan untuk dipecahkan" ditulis sebagai
"Kesulitan untuk dipecahkan", tetapi kata-kata itu membalikkan
150
skala penilaian. Dengan kata-kata saat ini, peringkat tinggi pada
setiap kriteria mendefinisikan keadaan yang akan mendorong
pemilihan masalah: rasa sakit pelanggan yang tinggi, sangat
mudah dipecahkan, efek tinggi pada sistem lain, dan solusi cepat
(H. Setyawan, 2016).
Tabel 3 contoh Matrik Scorring (Tague, 2005)
151
"Sakit pelanggan" telah dibobot dengan 5 poin,
menunjukkan bahwa tim menganggapnya sebagai kriteria yang
paling penting, dibandingkan dengan 1 atau 2 poin untuk yang
152
lain. Tim memilih skala penilaian tinggi = 3, sedang = 2, dan
rendah = 1 dan menggunakannya untuk masalah tersebut.
"Pelanggan menunggu makanan." Dalam contoh ini, rasa sakit
pelanggan sedang (2), karena suasana restorannya bagus.
Masalah ini tidak akan mudah untuk dipecahkan (kemudahan
rendah = 1), karena melibatkan pelayan dan staf dapur. Efek
pada sistem lain adalah sedang (2), karena pelayan harus
melakukan beberapa perjalanan ke dapur. Masalah akan
memakan waktu cukup lama untuk diselesaikan (kecepatan
rendah = 1), karena dapurnya sempit dan tidak fleksibel.
Setiap peringkat dikalikan dengan bobot untuk kriteria
tersebut. Misalnya, "Pelanggan sakit" (bobot 5) untuk
"Pelanggan menunggu tuan rumah" memiliki tarif tinggi (3)
untuk skor 15. Skor ditambahkan di seluruh baris untuk
mendapatkan total untuk setiap masalah. "Pelanggan menunggu
tuan rumah" memiliki skor tertinggi pada 28. Karena skor
tertinggi berikutnya adalah 18, masalah tuan rumah mungkin
harus ditangani terlebih dahulu (Herry Setyawan et al., 2019).
5) Pertimbangan Matrik Scorring
Dalam memebrikan memberikan pertimbangan matsik scorring
diperlukan beberapa bahan untuk dipertimbangkan dalam
pengambilan keputusan, antara lain:
153
(1) Buatlah daftar opsi yang sangat panjang pertama-
• Pengembalian keuangan
uang, orang)
• Rasa sakit pelanggan yang disebabkan oleh
masalah
• Urgensi masalah
• Kesulitan memecahkan
waktu)
• Pengembalian investasi; ketersediaan
sumber daya (misalnya : orang, waktu)
• Kemudahan implementasi
sepenuhnya
• Biaya pemeliharaan ( misalnya, uang,
waktu)
• Kemudahan perawatan
156
• Nilai untuk pelanggan
158
rencana, solusi, atau produk baru, hasil dapat
digunakan untuk meningkatkan pilihan. Sebuah
opsi yang memiliki peringkat tinggi secara
keseluruhan tetapi memiliki skor rendah pada
kriteria A dan B dapat dimodifikasi dengan ide-
ide dari opsi yang mendapat skor baik pada A
dan B. Penggabungan dan peningkatan ini dapat
dilakukan untuk setiap opsi, dan kemudian
matriks keputusan digunakan lagi untuk
mengevaluasi pilihan baru.
159
DAFTAR PUSTAKA
160
Budiman, A., & Samani, M. (2021). The Development of Direct-
Contextual Learning: A New Model on Higher Education.
International Journal of Higher Education, 10(2), 15–26.
[Link]
Caiden, G. E. (1991). Administrative Reforms Comes Of Ages.
New York: Walter The Gruyter.
161
Fungsi Fasilitator. Eonogiri Jateng: webadmin P2KP.
H Setyawan, W., . R., . N., Budiman, A., . H., Sumarno, A., &
Rais, P. (2018). Challenged Solving in Listening Through
162
T-Mobile Learning Model. International Journal of
Engineering & Technology, 7(4.15), 443.
[Link]
Mikkelsen dan Britha. (2011). Metode Penelitian Partisipatoris
dan Upaya Pemberdayaan. Jakarta: Yayasan Pustaka
Obor Indonesia.
163
Pendidikan Dan Hukum Islam, 3(2), 46–62.
[Link]
[Link]/[Link]/pikir/article/view/22
165
BIODATA PENULIS
167
BAB 6
Pelaksanaan
(ABCD)
BAB 6 Pelaksanaan (ABCD)
Proses yang dimiliki dalam model pengembangan
masyarakat berbasis aset atau yang lebih dikenal ABCD ini,
mempunyai beberapa langkah-langkah dalam
pelaksanaanya yaitu persiapan, pelaksanaan, analisis, dan
pemanfaatan hasil (Outcome).
a. Persiapan
Persiapan adalah suatu tindakan untuk
melengkapi kegiatan. Sedangkan persiapan dalam
konteks model pelaksanaan Asset Based Community
Development (ABCD) yang dilakukan oleh fasilitator
adalah melakukan problem identification (Identifikasi
masalah). Identifikasi masalah dilakukan dengan
menggali asset yang dimiliki oleh masyarakat dengan
berbagai cara
a. Inkulturasi
Adalah tahap awal penggalian asset dengan
pendekatan terhadap kultur. Fasilitator berupaya
168
memahami problem dengan model melibatkan diri
dan menyatu dengan masyarakat. Inkulturasi
dilakukan untuk :
• Membangun komunikasi sosial
Masyarakat mengetahui keberadaan fasilitator
dengan cara melakukan silaturrahmi, perkenalan
melalui tokoh masyarakat, perorangan atau
kelompok.
• Memahami tradisi, nilai, peran dan fungsi
lembaga, tokoh-tokoh kunci, dan karakter
masyarakat.
Ada hubungan batin, rasa kepercayaan (trust)
masyarakat terhadap fasilitator dengan cara
fasilitator melibatkan diri dalam berbagai
kegiatan sosial, ekonomi, keagamaan, budaya,
politik, hukum dan apapun yag dianggap penting
oleh masyarakat terhadap kehadiran fasilitator.
• Meeting of mind.
169
Fasilitator dapat mnfasilitasi kebutuhan
masyarakat dan membentuk core group, guna
memperkuat ketahanan sipil.
• Trust building
Fasilitator secara bertahap dan berlahan
membangun rasa kepercayaan terhadap
kehadiran fasilitator dan memotifasi diri
masyarakat sendiri; bahwa masyarakat mampu
untuk bertindak dan berbuat lebih baik dari saat
ini untuk mewujudkan mimpi.
b. Deal building atau membangun ksepakatan
Adalah tahap awal setelah fasilitator
mendapatkan trust building. Trust building
merupakan modal utama terhadap terwujudnya deal
building. tujuan deal building adalah
172
Dalam rapat seorang moderator
menggabungkan tanggapan dan mengembalikannya
kepada partisipan. Kemudian diberikan tanggapan
dari setiap orang yagn terlibat pada proses tapi tidak
diberi tahu pendapat apa dan datang dari siapa.
Masyarakat mampu untuk menyetujui atau tidak dan
untuk mengubah pandangan mereka sendiri, secara
tidak disebutkan.
Semua partisipan pada proses diperlukan
untuk menerima tanggapan yagn dikumpulkan dari
moderator dan mendukungnya. Juga mereka harus
mengubah pandangan yang berhubungan dengan
kemunculan kesepakatan baru; atau dapat
menolaknya dan memberikan pendapat kenapa
orang lain harus mengubah pandangan kelompk
masyarakat. Pada masalah ini, pembuat kebijakan
diminta untuk memilih dari beberapa prioritas
perubahan yang diajukan oleh partisipan dan
menghasilkan prioritas rekomendasi untuk pembuat
kebijakan.
Ada 8 langkah untuk melakukan deal building
atau membangun ksepakatan.
173
1) Melakukan konsultasi dengan masyarakat
2) Menggabungkan masalah dan maksud yang
diinginkan masyarakat
3) Mengurutkan prioritas ingin dicapai oleh
masyarakat
4) Menyimpulkan urutan prioritas dari pembuat
kebijakan
5) Menyampaiakn urutan prioritas yang
disimpulkan terbaru untuk diskusi akhir oleh
pembuat kebijakanan dan masyarakatr
6) Mengubah rekomendasi yang diidentifikasi menjadi
kebijakan
7) Perubahan pada Kebijakan menuju penetapan
kebijakan
8) Pelaksanaan penetapan kebijakan
c. Understanding building atau membangun kesepahaman
Adalah tahap awal setelah fasilitator
membentuk core group sebagai fungsi untuk
menjalankan proses/program dengan mengetahui
visi, misi, tujuan serta tugas masing-masing personal
dalam oraganisasi. Dengan berdasar :
1) Asset bassed minded (Pikiran berbasis aset)
Ada beberap langka membangun asset bassed
minded ini diataranya
174
• Mulailah dengan kegiatan yang bersifat
diagnostik dengan memberikan informasi
tentang apa yang masyarakat ketahui dan
dapat lakukan. Cara sederhana untuk
merancang aktivitas diagnostik yang
berfokus pada apa yang dapat dilakukan
masyarakat adalah dengan menyelaraskan
kemampuan dengan keterampilan atau
konsep yang ada dengan
175
mengelompokkan asset yang dimiliki
masyarakat; ada ahli bangunan, ahli
kontruksi kayu, mebel, handcraf, ahli pidato,
dai dan lain sebagainya mereka di
kelompokkan dan bisa jadi 1 orang memiliki
beberapa ptofesi.
• Menyediakan jalur kegiatan yang berbeda
sehingga masyarakat memiliki kesempatan
untuk memenuhi harapan yang tinggi. Waktu
selalu berharga, dan itu terasa lebih berharga
karena kegiatan berlangsung di lingkungan
terbatas dan terfokus pada keahlian dan
kemampuan mereka.
• Memberikan umpan balik kepada
masyarakat yang dapat mengidentifikasi apa
yang mereka lakukan dan strategi untuk
menggunakan kekuatan mereka untuk
mengatasi bidang kebutuhan. Tertanam
dalam setiap kegiatan adalah momen
penilaian normatif. Ini adalah bukti nyata
atau dapat diamati dari kegiatan masyarakat.
Dalam pendekatan minded berbasis aset,
176
mereka digunakan untuk memberi
masyarakat umpan balik yang mencakup tiga
informasi penting. Kekuatan masyarakat,
kebutuhan masyarakat dalam mewujudkan
mimpi.
2) Inside – out (dari dalam keluar)
Membangun pikiran yang bermakna dan
berkelanjutan dengan bersumber dari dalam diri
masyarakat dan masyarakat merasa yakin dapat
menapak masa depan saat mereka bisa
memanfaatkan kesuksesan masa lalunya. Impian
masyarakat untuk menjadi yang lebih baik, tidak
terlepas dari kesuksesan di masa lampau yang
ingin masyarakat ulang kembali. Dengan
melakukan perubahan untuk meraih masa
depannya.
Fasilitator menggugah/memotivasi
masyarakat agar dapat bangkat untuk lebih baik
dengan cara mereset ulang cara berfikir
masyaraat tentang kejayaan masa lampau yang
didapat oleh masyarakat pada masa lalu dan
mencarikan ide-ide terbaharukan untuk kejayaan
177
yang akan datang dengan menyelaraskan pada
impian-impian yang diharapkan masyarakat.
3) Community driven development (Pembangunan
yang digerakkan masyarakat)
Memiliki makna yang beragam
tergantung pada organisasi yang menggunakan
istilah tersebut. Bank Dunia misalnya,
menggunakan istilah tersebut untuk
mendeskripsikan salah satu dari programnya
senilai hampir
$2 miliar setiap tahunnya yang ditunjukkan
untuk membantu kelompok masyarakat miskin
di pedesaan dan perkotaan mengidentifikasi
prioritas
178
kebutuhan mereka dan kemudian bekerja sama
dengan pemerintah lokal untuk pelaksaan
program tersebut. Masyarakat memiliki
wewenang tertentu untuk membuat keputusan
prioritas program pembangunan sekaligus
bertanggungjawab untuk kelangsungan program
tersebut meskipun hal-hal mengenai rancangan,
uang dan para tenaga ahli datang dari luar
masyarakat. (Cunningham, Gord [Link]., 2012).
Arti lain dari pembangunan yang
digerakkan oleh masyarakat (community driven
development) adalah proses dimana sekelompok
orang (dalam kegiatan bersama, organisasi,
desa, atau kampung di perkotaan) termotivasi
oleh sebuah masalah atau peluang, memobilisasi
diri mereka untuk berbuat tanpa diarahkan oleh
lembaga luar, dengan mengandalkan sumber
daya mereka sendiri dan tetap mereka memiliki
kontrol sekalipun nanti ada keterlibatan dari
pihak luar dalam situasi ini, anggota masyarakat
cenderung untuk berbuat dalam tugasnya
sebagai warga.
179
Oleh karena demikian akan menjadi
sebuah keharusan bahwa pergerakan komunitas
dipastikan secara bersama dan terkoordinir
dengan baik oleh komunitas itu sendiri, sehingga
tidak “disetir” oleh lembaga/pihak luar yang
belum tentu dapat memahami dengan baik
potensi komunitas itu dan untuk menghindari
peluang-peluang pragmatis bahwa komunitas
hanya dijadikan “alat” untuk mencapai tujuan
pihak-pihak tertentu tersebut.
Tujuan Community driven development
(CDD) secara khusus adalah memungkinkan
masyarakat untuk mengatasi hambatan dan
tantangan yang mereka hadapi bermodalkan
kekuatan dan potensi di dalam diri mereka
sendiri dan potensi komunitas secara bersama-
sama, yang sifatnya berkelanjutan.
Mengatasi tantangan dan hambatan
untuk mencapai tujuan bersama dalam
kesejateraan masyarakat dapat pula dilakukan
dengan lebih adil dan lebih efisien dalam
penggunaan sumber daya. Hal ini dapat dicapai
180
dengan pelaksanaan CDD antara lain:
• Membangun lingkungan kelembagaan
(institusi) yang memungkinkan munculnya
dinamika dalam organisasi berbasis
masyarakat.
• Mengembangkan infrastruktur masyarakat.
• Mendorong ekonomi lokal di level masyarakat.
181
• Meragamkan sumber dukungan eksternal
untuk CBO (Community Based
Organization) atau organisasi berbasis
masyarakat (OBM).
Understanding building atau membangun
kesepahaman dapat secara lancar mencapai sasaran
apabila menggunakan prinsip heliotropik.
Heliotropik (bahasa Inggris: Heliotropism) adalah
sifat bagian-bagian tumbuhan seperti bunga atau
daun yang tumbuh ke arah matahari. Bunga
heliotropik melacak gerakan Matahari dari barat ke
timur. (Wikipedia, 2017).
Prinsip heliotropik merupakan appreciative
inguiry yaitu kegiatan yang mencoba
mentransformasikan budaya komunitas yang
tadinya melihaa dirinya dengan cara negatif menjadi
mampu mengapresiasi kapsasitas dirinya untuk
mewujudkan perubahan positif. Appreciative
inguiry mangadopsi dari pendapat Elliot (1999)
bahwa selayaknya sumber energi masyarakat
tumbuh ke arah apa yang memberi mereka sumber
kehidupan.
182
f. Pelaksanaan
Pelaksanaan Metode ABCD berawal dari strategi
pengembangan organisasi yang kemudian dilihat sebagai
cara untuk memperkuat dan memotivasi komunitas
dengan pendekatan Appreciative Inquiry (AI)
Pendekatan ini menggunakan teknik wawancara
dan berdiskusi yang fokus pada kekuatan dan
pengalaman “puncak” masa lalu sebagai motivator untuk
mengambil tindakan. Cara ini merupakan yang terbaik
untuk menghasilkan pengembangan organisasi dengan
menyelidiki capaian terbaik yang pernah diperoleh
(Dureau, 2013). Pendekatan ini berupaya untuk
menggali cerita tentang kesuksesan di masa lampau dan
mereka yang melakukan hal-hal terbaik saat itu. Dengan
berfokus pada apa yang terbaik hingga sekarang,
dibutuhkan analisis kekuatan dan aset yang ada dengan
melalui pendekatan berbasis kekuatan (Saptaria &
Setyawan, 2021).
Kemudian setelah menemukan kekuatan dan aset
yang ada, maka selanjutnya membayangkan apa yang
183
paling diinginkan dengan menetapkan tujuan yang ingin
dicapai bersama dan bersamasama menjadi pencipta
masa depan dengan rancangan tujuan yang bersifat
transformatif dan terbuka untuk berbagai cara yang
memungkinkan kemudian memberdayakan komunitas
untuk melakukannya sendiri. Ketika banyak energi
positif yang bangkit dari komunitas, maka akan muncul
harapan dan inisiatif yang berorientasi pada tindakan
yang dipimpin oleh komunitas
184
itu sendiri, sehingga cara ini dapat dijalankan karena
bersifat fleksibel, terbuka dan tidak dibatasi waktu.
Appreciative inquiry (AI) merupakan
penelusuran kedepan secara bersama dan kooperatif
untuk menemukan yang terbaik dari diri seseorang,
organisasinya, dan dunia di sekelilingnya. AI meliputi
penemuan tentang apa yang membentuk kehidupan
dalam sebuah sistem tatanan hidup yang paling efektif
secara konstruktif dengan kemampuan ekologi, ekonomi
dan sebagai manusia. Intervensi AI fokus pada kecepatan
berimajinasi dan berinovasi, bukan pada kritikan
ataupun diagnosis berbelit yang biasa digunakan dalam
organisasi. Dalam menghubungkan energi dari pusat
positif ke perubahan yang tidak pernah diduga
sebelumnya, yaitu dengan memadukan model discovery
(menemukan), dream (mimpi), design (merancang), dan
destiny (memastikan). Siklus AI bisa dilihat dalam
diagram ini:
185
Siklus Appreciative Inquiry. Sumber:
Pembaru dan Kekuatan
Lokal untuk
Pembangunan
(Dureau, 2013)
187
yang diinginkan. Misalnya menentukan topik seputar
kondisi sanitasi lingkungan dan menginginkan
sarana sanitasi yang layak untuk tiap rumah tangga
seperti jamban keluarga, tempat sampah, air bersih,
dan sebagainya.
Langkah-langkah dalam define (menentu)
dilakukan dengan tahapan sebagimana dalam
diagaram gambar berikut :
188
Setelah fasilitator melihat atau menemukan asset
dan peluang pada diri masyakart maka fasilitator
bersama-sama masyarakat mengidentifikasi tujuan
proyek. Proyek apa yang sebaiknya di gagas untuk
mewujudkan mimpi masyarakat
• Langkah ketiga adalah identifikasi aset masyarakat
untuk mencapai tujuan
• Langkah keempat adalah meyakinkan kelompok
inti masyarakat untuk melakukan kegiatan.
e. Discover (Menemukan)
Apa yang telah sangat dihargai dari masa
lalu perlu diidentifikasi sebagai titik awal proses
perubahan. Proses menemukenali kesuksesan
dilakukan lewat proses percakapan atau wawancara
dan harus menjadi penemuan personal tentang apa
yang menjadi kontribusi individu yang memberi
hidup pada sebuah kegiatan atau usaha. Pada tahap
discovery, kita mulai memindahkan tanggung jawab
untuk perubahan kepada para individu yang
berkepentingan dengan perubahan tersebut yaitu
entitas lokal. Kita juga mulai membangun rasa
bangga lewat proses menemukan kesuksesan masa
189
lalu dan dengan rendah hati tetapi jujur mengakui
setiap kontribusi unik atau sejarah
kesuksesan/kemampuan
190
bertahan. Tantangan bagi fasilitator adalah
mengembangkan serangkaian pertanyaan yang
inklusif tepat mendorong peserta mampu
menceritakan pengalaman sukses serta peran
mereka dalam kesuksesan tersebut.
Dalam hal discovery, dilakukan dengan
menemukan aset. Secara ringkas dapat tampilkan
dalam gambar diagram berikut>
193
gerakan anti narkoba karena pemerhati kesehatan dan moral
masyarakat, dan seterusnya.
5. Financial Asset, yaitu aset tak wujud yang
memiliki nilai karena adanya klaim kontrak,
dalam bentuk deposito bank, obligasi,
reksadana, sertifikat deposito dan saham. Aset
keuangan biasanya lebih likuid daripada aset
wujud, seperti tanah atau real estat (lahan
yasan), dan diperdagangkan di pasar keuangan.
Menurut International Financial
Reporting Standards (IFRS), aset keuangan
memiliki beberapa definisi:
194
bukan merupakan non-derivatif yang karena
itu lembaga tersebut wajib atau mungkin
diwajibkan menerima sejumlah instrumen
ekuitas lembaga, atau derivatif yang akan
atau bisa diselesaikan dengan cara selain
pertukaran uang tunai atau aset keuangan
lainnya dalam jumlah tetap dengan
instrumen ekuitas lemabga dalam jumlah
tetap. (Wikipedia, 2020)
Contoh Financial Asset dalam konsep Customer
Service adalah apa yang disebut The Leaky Bucket yang
mengibaratkan bisnis dan pemasukan sebagai ember dan air.
Bisnis apapun mempunyai potensi penurunan
omset/pemasukan, seperti jumlah air di dalam ember yang
bocor (berlubang) yang akan berkurang jika kebocoran
bertambah banyak, bertambah besar, dan tidak segera
ditambal. Penyebabnya lubang-lubang di ember bisa berasal
dari internal dan eksternal. (Heria Windasuri, Hyacintha
Susanti, dan Business Growth Team, 2017).
Begitu juga asset yang dimiliki masyarakat ada niilai
tukar positif dan negatifnya, untung dan ruginya. Setiap yang
dimiliki masyarakat ada nilai keseimbangan neraca untung
195
rugi, maka tugas seorang fasilitator untuk
196
mengarahkan bagaimana asset financy ini dapat
menguntungkan masyarakat..
f. Dream (Impian)
Dengan cara kreatif dan secara kolektif
melihat masa depan yang mungkin terwujud, apa
yang sangat dihargai dikaitkan dengan apa yang
paling diinginkan. Seperti apa masa depan yang
dibayangkan oleh semua pihak? Jawaban bisa
berupa harapan atau impian. Sebuah mimpi atau visi
bersama terhadap masa depan yang bisa terdiri dari
gambar, tindakan, kata-kata, lagu, dan foto. Pada
tahap ini, masalah yang ada didefinisikan ulang
menjadi harapan untuk masa depan dan cara untuk
maju sebagai peluang dan aspirasi.
Dalam konsep sosial dream dapat dilakuan
dengan linking and mobilizing, seperti diagram
hambar di bawah ini :
197
Menggubungkan antara aset lokal dengan
impian/visi komunitas, siapapun (dari masyarakat)
dapat masuk dan bergabung dalam unit organisasi
dari masyarakat yang punya hobi, gereget, keahlian,
kemampuan, gairah untuk melakukan aksi
mewujudkan mimpi. Dari sini kita dapat memetik
buah dari sebuah pohon mimpi yaitu denga
mengidentifikasi semua melalui asset komunitas
dengan prioritas.
Ada 2 katagori prioritas dalam mewujudkan
dream, yaitu
1. Low hanging fruit (buah yang menggantung
rendah) artinya prioritas visi, misi dan tujuan
198
yang mudah untuk dicapai dengan
mengidentifikasi kesempatan apa yang dapat
dengan mudah diraih dengan hanya melihat
semua asset.
2. High hanging fruit (buah yang menggantung
tinggi) merupakan tujuan jangka panjang yang
membutuhkan waktu lebih dalam pencapaiannya.
199
Design (Merancang)
200
sebagainya. Pysical asset, kepunyaan masyarakat
pada balai desa, puskesmas, jalan raya, jalan yang
lebih dekat dengan kecamatan, sekolah, masjid,
gereja, pos keamanan/pos kamtib, pos jagasawa,
balai pertemuan dan rigasi air yang baik, dan
sebagainya. Financial Asset, adanya jaminan
keuangan yang memadai dari hulu ke hilir, adanya
tabungan masyarakat di tabungan desa, tabungan
simpan pinjan di kooperasi desa atu BUMDES.
Dalam design ada beberapa yang harus di
prioritaskan dalam langkah kedepan :
1. Low hanging fruit (buah yang menggantung
rendah) artinya prioritas jangka pendek yang
diperioritaskan untuk menu kesuksesan bidang
(contoh) pertanian, maka dalam langkah
memaksimalkan hasil pertanian adalah:
• Menggerakkan beberapa asosiasi komunitas
• Memetakan deversitas tanaman dan ternak
• Sistem pengolahan sampah terpadu
• Pembuatan pupuk kompos
• Penggantian jenis tanaman setelah panen
201
• Pembersihan sungai
Rencana asset yang akan didayagunakan
adalah
• Tanah desa/masyarakat
• Peralatan pertanian
202
• Tenaga kerja
• Kearifan lokal
• Sungai
• Air terjun kecil di sungai
• Ahli dibidang kompos
2. High hanging fruit (buah yang menggantung
tinggi) merupakan prioritas jangka panjang
yang membutuhkan waktu lebih dalam
pencapaiannya. Kita buat program eduwisata
desa, maka langka yang ditempuah adalah
• Penanaman biodiversitas jagung, padi, buah-
buahan, dll
• Penanaman spesies tanaman langka
• Perencanaan tempat parkir
• Perencanaan akses jalan dengan dinas terkait
• Pengembangan BUMDES
Asset yang akan didayagunakan adalah
• Pemuda desa yang lulusan agribisnis, arsitek,
biologi atau pertanian
• Spesies tanaman langkah asli desa Destiny
(Lakukan)
Serangkaian tindakan inspiratif yang
203
mendukung proses belajar terus menerus dan
inovasi tentang “apa yang akan terjadi”. Hal ini
merupakan fase akhir yang secara khusus fokus
pada cara-cara personal dan organisasi untuk
melangkah maju. Dalam banyak kasus, apreciative
inquiry menjadi kerangka kerja bagi kepemimpinan
dan pengembangan organisasi yang terus menerus.
Destiny merupakan rangkaian akhir dalam
mewujudkan mimpi dengan cara gotong royong,
bersama-sama menggapai visi, misi dan tujuan
komunitas. Fasilitaor berusaha agar kelompok inti
masyarakat membuat komitmen yang jelas dan
keterlibatnnya dalam kegiatan, dengan adanya
pemimpin berkredibilitas akan membawa ide yang
banyak diikuti masyarkat.
Jika aset dan kesempatan yang mudah yang
difokuskan tercapai dan sukses maka masyarakat
akan mencoba proyek lain yang lebih besar dengan
ide yang lebih cemerlang.
204
g. Analisis
Agar tahapan dalam perencanaan dapat
maksimal, diperlukan sebuah analisis harapan, dalam hal
ini yang (menurut penulis cocok) adalah analisis SOAR
(strengths, opportunities, aspirations, results) yang
didengungkan oelh Stavros, J. & Hinrichs, yang berasal
dari pendekatan Appreciative Inquiry (AI), diharapkan
dari faktor-faktor strategis yang menggambarkan
bagaimana kekuatan dan peluang eksternal yang yang
dihadapi masyarakat komunitas dapat disesuaikan
dengan aspirasi dan hasil terukur yang dimilikinya.
• Strength
Secara bahasa berarti kekuatan. Yang mana
dalam kekuatan ini, kita mengukur dari kekuatan
yang ada pada diri kita masing-masing. Kita di
tuntut untuk mengidentifikasi kekuatan apa yang
ada pada diri kita, yang nantinya itu akan dijadikan
modal awal kita untuk melanjutkan ke jenjang
selanjutnya. Kekuatan kita merupakan asset terbesar
dalam diri kita. Jadi perlu kemaksimalan dalam
mengorganisir asset yang kita miliki.
205
• Opurtunity
Sebuah peluang dari apa yang itu bisa
memungkinkan untuk bisa kita aplikasikan. Kata
peluang yang bermakna suatu momentum dimana
kita mampu untuk memanfaatkan apa dari
kesempatan yang ada didepan kita.
• Aspirations
Aspirasi merupakan suatu langkah
bagaimanakah masa depan yang kita inginkan. Jadi
ini merupakan suatu bentuk gambaran mengenai apa
yang kita harapkan, inginkan untuk meraih masa
depan
• Result
Result merupakan suatu hasil. Yakni suatu
bentuk kinerjaatau action yang kita lakukan dan itu
membuahkan suatu hasil. Hasil sendiri tentu ada
bentuknya, bukti dsb. Maka kemudian, dari hasil-
hasil yang tersebut kita dapat diukur dan
membuktikan tentang apa yang ada pada diri kita
masing-masing.
Model SOAR mengubah analisis SWOT, yang
sudah sangat mapan, dalam hal faktor-faktor
206
kekurangan (weakness) internal organisasi serta
ancaman (threats) eksternal yang dihadapinya
ke dalam faktor- faktor aspirasi (aspiration)
yang dimiliki perusahaan serta hasil (results) terukur
yang ingin dicapai. Model analisis ini beranggapan
bahwa faktor kekurangan dan ancaman dapat
memunculkan perasaan negatif bagi para anggota
organisasi, sehingga menurunkan motivasi mereka
untuk berbuat yang terbaik. Dalam kerangka kerja
SOAR, sebanyak mungkin stakeholder dilibatkan, yang
didasarkan pada integritas para anggotanya. Masalah
integritas menjadi sangat penting karena para
stakeholder harus menyadari asumsi-asumsi yang
menjadi dasar penggerak bagi para pemimpin organisasi
1) Tahapan Analisis
207
Analisis SOAR bagi perencanaan strategis
208
dimulai dengan initiate (keputusan untuk memilih
SOAR kemudian dilanjutkan dengan penyelidikan
(inquiry) yang menggunakan pertanyaan positif
guna mempelajari nilai- nilai inti, visi, kekuatan,
dan peluang potensial. Dalam fase ini pandangan-
pandangan dari tiap anggota organisasi dihargai.
Penyelidikan juga dilakukan guna memahami secara
utuh nilai-nilai yang dimiliki oleh para anggota
organisasi serta hal-hal terbaik yang pernah terjadi
di masa lalu.
Kemudian anggota organisasi dibawa masuk
ke dalam fase imajinasi, memanfaatkan waktu untuk
“bermimpi” dan merancang masa depan yang
diharapkan. Dalam fase ini, nilai-nilai diperkuat,
visi dan misi diciptakan. Sasaran jangka panjang dan
alternatif strategis dan rekomendasi diumumkan.
209
Fase selanjutnya adalah inovasi, yaitu
dimulainya perancangan sasaran jangka pendek,
rencana taktikal dan fungsional, program, sistem,
dan struktur yang terintegrasi untuk mencapai
tujuan masa depan yang diharapkan
h. Matrix SOAR
Matrix Analisis SOAR dibagi menjadi 4 kondisi
sebagai berikut :
210
Setiawan, 2021).
Penjelasan matrix SOAR:
• Strategi SA : strategi ini dibuat dengan
memanfaatkan seluruh kekuatan untuk mencapai
aspirasi yang diharapkan
• Strategi OA : strategi ini dibuat untuk
mengetahui dan memenuhi
aspirasi dari setiap stakeholder yang beriorientasi
kepada peluang yang ada
• Strategi SO : strategi ini dibuat untuk
mewujudkan kekuatan untuk
mencapai Hasil yang terukur
• Strategi OR : Strategi ini beriorientasi kepada
Peluang untuk mencapai Result yang sudah
terukur
211
(Stavros, J. & Hinrichs, G, 2009)
i. Pemanfaatan Hasil
Manfaat sebuah metode dapat diketahui setalah
adanya monitoring dan evaluasi. Pada tahap ini
merupakan tahap terakhir dari sebuah kegiatan yang
menggunakan metode ABCD, karena dalam tahap ini
sudah diketahui sejauh mana metode ABCD membawa
212
dampak perubahan terhadap komunitas masyarakat.
Monitoring diperlukan karena untuk mengetahui
tentang seberapa besar anggota organisasi atau
komunitas mampu menemukan dan memobilisasi secara
produktif aset mereka mendekati tujuan bersama. Empat
pertanyaan kunci Monitoring dan Evaluasi dalam
pendekatan berbasis aset adalah (Dureau, 2013):
1) Apakah komunitas sudah bisa menghargai dan
menggunakan pola pemberian hidup dari sukses
mereka di masa lampau?
2) Apakah komunitas sudah bisa menemukenali dan
secara efektif memobilisasi aset sendiri yang ada dan
yang potensial (keterampilan, kemampuan, sistem
operasi dan sumber daya?)
3) Apakah komunitas sudah mampu mengartikulasi dan
bekerja menuju pada masa depan yang diinginkan
atau gambaran suksesnya?
4) Apakah kejelasan visi komunitas dan penggunaan
aset dengan tujuan yang pasti telah mampu
memengaruhi penggunaan sumber daya luar
(pemerintah) secara tepat dan memadai untuk
mencapai tujuan bersama?
213
Setelah beberapa pertanyaan diatas
terjawab maka perlu ada beberapa pertanyaan
lanjutan yaitu: (B. Peters, M. Gonsamo, & S.
Molla, 2011)
1) Bagaimana cara memonitor dan mengevaluasi
pendekatan berbasis aset untuk pengembangan
masyarakat?
2) Perubahan apa yang ingin dilihat masyarakat ketika
komunitas menggunakan pendekatan berbasis aset
ketimbang pendekatan lain?
3) Bagaimana masyarakat akan tahu bahwa pendekatan ini
telah berhasil?
4) Bagaimana cara membantu anggota masyarakat
memantau dan mengevaluasi perubahan yang
terjadi dalam komunitasnya sebagai hasil dari kerja
kerasnya?
5) Bagaimana cara akan memastikan bahwa metode
monitoring dan evaluasi yang digunakan akan
membantu orang membuat keputusan yang lebih
baik mengenai perubahan di masa depan?
6) Bagaimana cara dapat membantu mereka
(komunitas masyarakat) memutuskan informasi apa
214
yang akan dikumpulan?
Ringkasan singkat keterlaksanaan program kerja
dapat dirumuskan dalam tabel yang hasilnya harus
disampaikan kepada komunitas agar warga bisa
mendesain dan merencanakan lagi langkah kedepan
sebagai tindak lanjut upaya pencapaian mimpi
komunitas tersebut. Dalam kegiatan (contoh) KKN,
tahap ini merupakan tahap terakhir yang harus dilalui
sehingga setelah program KKN usai, komunitas sudah
memiliki arah pandangan program kerja kedepan untuk
mewujudkan mimpi mereka.
Pemanfaatan hasil Metode ABCD dalam
aplikasinya adalah pada refleksi kegiatan itu sendiri
setelah diadakan evaluasi dan monitoring. Pada (contoh)
KKN yang diadakan oleh intitusi perguruan tinggi,
pemanfaatan hasil ada pada ;
1) Masyarakat/komunitas/pemerintah
Adanya peningkatan hasil berupa
kesejahateraan pada masyarakat/
komunitas/pemerintah dibidang yang targetkan;
agama, sosial, ekonomi, budaya, seni,
kesehatan, kreativitas dan optimaslisasi peran.
215
Pemberian bantuan pemikiran dan tenaga dalam
pemecahan masalah pembangunan daerah
setempat.
Pola pikir dalam merencanakan, merumuskan,
melaksanakan berbagai program pembangunan,
khususnya dipedesaan yang kemungkinan
masih dianggap baru bagi masyarakat setempat.
216
Tumbuhnya dorongan potensi dan inovasi di
kalangan anggota masyarakat setempat dalam
upaya memenuhi kebutuhan lewat pemanfaatan
ilmu dan teknologi.
2) Dosen
Adanya pemanfaatan untuk karya ilmiah
pengabdian mayarakat,
Adanya pemanfaatan untuk karya ilmiah penelitian
Adanya pemanfaatan untuk Hak Cipta Produk;
HAKI, ISBN
Mendapatkan pendanaan pada penelititian dan
pengabdian pada mayarakat dari pemerintah
atau instansi.
Berperan sebagai aktor tokoh utama terhadap
keberhasilan mewujudkan mimpi mahasiswa
dan masyarakat karena dosen bertugas mulai
dari orientasi dan pengamatan wilayah,
memperlancar proses pendekatan sosial ke
masyarakat, menjadi penghubung antara
mahasiswa dengan Tim Pelaksana, pemerintah
dan masyarakat, membangun timbulnya
kreatifitas, menampung permasalahan dan
217
hambatan yang dihadapi, memantau,
mengendalikan, mengarahkan dan mengawasi
kegiatan, membimbing pembuatan laporan, dan
melakukan evaluasi.
3) Mahasiswa
Mahasiswa dapat memenfaatkan metode ini
untuk bekal pengalaman hidup di masyarakat,
memenuhi target SKS yang diinginkan oleh
Lembaga,
membentuk sikap dan rasa cinta, kepedulian
sosial, dan tanggung jawab mahasiswa
terhadap kemajuan masyarakat.
Memberikan keterampilan kepada mahasiswa
untuk melaksanakan program- program
pengembangan dan pembangunan.
Membina mahasiswa
agar menjadi seorang in
ovator, motivator, dan
problem solver.
4) dan Lembaga institusi
Institusi/lembaga dapat manfaat sebgai
pelaksana tridharma perguruan tinggi, sebagai
218
corong pembangunan di masyarakat,
Melalui mahasiswa/ dosen pembimbing,
diperoleh umpan-balik sebagai pengayaan
materi kuliah, penyempurnaan kurikulum, dan
sumber inspirasi bagi suatu rancangan bentuk
pengabdian kepada masyarakat yang lain atau
penelitian.
219
Diperolehnya bahan masukan bagi peningkatan
atau perluasan kerjasama dengan pemerintahan
setempat, termasuk dengan instansi vertikal
yang terkait.
DAFTAR PUSTAKA
221
222
Khoiruddin, dilahirkan di Lamongan, 08
Agustus 1971. Lulus S1 pada program
studi Ilmu Sosiologi di Universitas Darul
‘Ulum Jombang. Lulus S2 pada program
studi Magister Ekonomi Pembangunan di
Universitas Darul ‘Ulum Jombang.
Pernah sebagai peserta Pelatihan
Manajemen Perguruan Tinggi, Pelatihan
Kearsipan Nasional Perguruan Tinggi, Pelatihan Kearsipan
Modern Nasional Perguruan Tinggi, Pelatihan dan Assesor
Audit Mutu Internal Perguruna Tinggi dansebagai Assesor
Manajemen Perkantoran Modern di LSP ABP MODERN.
Meniti karir sebagai dosen di Universitas Darul ‘Ulum Jombang
sejak tahun 2017 sampai sekarang. Mengampu mata kuliah
Sistem Ekonomi, dan Aplikasi Komputer Ekonometrika. Aktif
sebagai penulis dan redaktur jurnal di lingkungan Univeritas
Darul ‘Ulum. Aktif sebagai pembina di berbagai Koperasi dan
Kelompok UMKM di wilayah Jombang dan sekitarnya. Aktif
sebagai pembicara ke tata usahaan dan kearsipan di berbagai
lembaga di wilayah Kabupaten Jombang. Aktif menulis di
berbagai media massa elektronik seperti warta transparansi.
Pernah menjabat sebagai Kepala Biro Akademik dan saat ini
223
menjabat sebagai Kepala Biro Administrasi Umum Universitas
Darul ‘Ulum Jombang.
224
BAB 7
Teknik Fasilitasi Partisipatif Metode ABCD
BAB 7 Teknik Fasilitasi Partisipatif Metode ABCD
225
pendukung di berbagai aktivitas agar tujuan kegiatan dapat
lebih mudah tercapai. Pola pendukungan dan bantuan dalam
konteks pemberdayaan masyarakat dikenal dengan istilah
“pendampingan”. Secara harfiah pengertian ini merujuk
pada upaya memberikan kemudahan, kepada siapa saja
untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Biasanya
tindakan ini diikuti dengan pengadaan personil, tenaga
pendamping, relawan atau pihak lain yang berperan
memberikan penerangan, bimbingan, terapi psikologis, dan
penyadaran agar masyarakat yang tidak tahu menjadi tahu
dan sadar untuk berubah.
226
Kedua, sebagai pemandu atau fasilitator,
penghubung dan penggerak (dinamisator) dalam
pembentukan kelompok masyarakat dan pembimbing
pengembangan kegiatan kelompok. Dalam upaya
mewujudkan otonomi dan kemandirian masyarakat perlu
bimbingan atau pendampingan. Fasilitator biasanya identik
dengan tugas pendampingan tersebut. Ketiga mempermudah
penggalian potensi, masalah, gagasan dalam rangka
pemecahan masalah. Keempat tererciptanya kemandirian
bentuk kegiatan masyatakat dalam mengatasi permasalahan
yang dihadapi dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki.
Kelima memberikan pengetahuan dan kelayakan dalam
mengelola asset socity; kegiatan perekonomian,
sosial, budaya, sehingga diharapkan akan
meningkatkan kualitas produk dan produktifitasnya.
227
Istilah pendampingan berasal dari kata kerja
“mendampingi” yaitu suatu kegiatan menolong yang
karena sesuatu sebab butuh didampingi. Sebelum itu
istilah yang banyak dipakai adalah “Pembinaan”.
Ketika istilah pembinaan ini dipakai terkesan ada
tingkatan yaitu ada pembina dan ada yang dibina,
pembinaan adalah orang atau lembaga yang
melakukan pembinaan. Kesan lain yang muncul
adalah pembina adalah pihak yang aktif sedangkan
yang dibina pasif atau pembina adalah sebagai subyek
dan yang dibina adalah obyek. Oleh karena itu ketika
istilah pendampingan dimunculkan, langsung
mendapat sambutan positif dikalangan praktisi
pengembangan masyarakat. Karena kata
pendampingan menunjukkan kesejajaran (tidak ada
yang satu lebih dari yang lain), yang aktif justru yang
didampingi sekaligus sebagai subyek utama,
pendampingan lebih bersifat membantu saja.
Pendampingan merupakan aktivitas yang selalu
dilakukan oleh kelompok-kelompok sosial seperti
pengajaran, pengarahan atau pembinaan dalam
kelompok dan bisa menguasai, mengendalikan serta
mengontrol orang-orang yang mereka dampingi.
Karena dalam pendampingan lebih pada pendekatan
kebersamaan, kesejajaran, atau kesederajatan
kedudukan. (BPKB, 2001).
Pendampingan yang dimaksud dalam tulisann
ini adalah model atau cara (suatu set peraturan) dalam
228
suatu aktivitas yang dilakukan dan dapat bermakna
pembinaan, pengajaran, pengarahan dan
mengembangkan diberbagai potensi yang dimiliki
oleh para pekerja rumah tangga dengan menempatkan
tenaga pendamping sebagai fasilitator, komunikator
dan dinamisator sehingga pekerja rumah tangga
mampu mencapai kualitas kehidupan yang lebih baik.
Kegiatan pendampingan menjadi salah satu
bagian dalam proses pemberdayaan masyarakat.
Dalam pendampingan dibutuhkan tenaga yang
memiliki kemampuan untuk mentransfer pengetahuan.
Sikap dan perilaku tertentu kepada masyarakat.
Disamping itu, perlu dukungan dan sarana
pengembangan diri dalam bentuk latihan bagi para
pendamping.
Di Indonesia, kegiatan pendampingan dilakukan
melalui:
i. Pendampingan lokal yang terdiri dari
tokoh masyarakat, kader PKK, aparat
desa, pemuda, Kader Pembangunan
Desa (KPD) dan pihak lain yang peduli
terhadap masalah kemiskinan, seperti
perguruan tinggi, organisasi masyarakat
dan lembaga swadaya masyarakat.
ii. Pendamping teknis yang dipilih dari
tenaga penyuluh departemen teknis,
diantaranya; Departemen Kehutanan,
Departemen Pertanian (Penyuluhan
229
Pertanian Lapangan atau PPL), dan
penyuluhan pertanian spesialis atau
PPS, Departemen Sosial, Petugas Sosial
Kecamatan atau PSK dan Karang
Taruna, Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Sarjana Penggerak
Pembangunan Pedesaan atau SP3) dan
lainnya.
iii. Pendamping khusus disediakan bagi
masyarakat miskin di desa tertinggal
dengan pembinaan khusus. Pendamping
ini diprogramkan malalui program
khusus seperti; Konsultan Pendamping
untuk Proyek P3DT Swakelola dengan
koordinasi Bappenas, Bangda, dan
PMD. Penanganan masalah pengungsi,
seperti pengadaan tenaga lapangan atau
relawan untuk penanganan konflik,
bimbingan khusus pengungsi.
Tujuan pendampingan adalah pemberdayaan.
Pemberdayaan berarti mengembangkan kekuatan atau
kemampuan (daya), potensi, sumber daya manusia
yang ada pada diri manusia agar mampu membela
dirinya sendiri. Didalam kegiatan pendampingan perlu
memiliki tujuan dan sasaran yang jelas dan dapat
dilihat dari hasilnya.
Banyak cara melakukan pendampingan dan
salah satunya melalui kunjungan ke lapangan, tujuan
230
kunjungan kelapangan ini adalah membina hubungan
kedekatan dengan masyarakat, kedekatan dapat
menimbulkan kepercayaan antara pendamping dengan
yang didampingi. (Thamrin, 1996).
Menurut (DEPTAN, 2004), tujuan dari
pendampingan antara lain:
a) Memperkuat dan memperluas kelembagaan
yang sedang dijalankan
dimasyarakat.
b) Menumbuhkan dan menciptakan strategi agar
berjalan dengan lancar dan tercapai tujuan yang
dijalankan.
c) Meningkatkan peran serta aparat maupun t
okoh masyarakat dalam
melaksanakan program pendampingan.
2) Metode Fasilitasi
Didalam proses pelaksanaan
fasilitasi/pendampingan harus memiliki metode
fasilitasi/pendampingan sesuai dengan keadaan
masyarakat didampinngi. Metode
fasilitasi/pendampingan ini merupakan proses
kegiatan agar terjadinya fasilitasi/pendampingan,
metode fasilitasi/pendampingan yang biasa digunakan
dalam kegitan pendampingan yaitu : (Aditya, 2010)
a) Konsultasi
231
Konsultasi adalah upaya pembantuan yang diberikan
pendamping terhadap masyarakat dengan cara memberikan
jawaban, solusi dan pemecahan masalah yang dibutuhkan oleh
masyarakat.
b) Pembelajaran
Pembelajaran adalah alih pengetahuan dan sistem nilai
yang dimiliki oleh pendamping kepada masyarakat dalam
proses yang disengaja.
c) Konseling
Konseling adalah membantu menggali semua masalah
dan potensi yang dimiliki dan membuka alternatif-alternatif
solusi untuk mendorong masyarakat mengambil keputusan
berdasarkan pertimbangan yang ada dan harus berani
bertanggung jawab bagi kehidupan masyarakat.
3) Prinsip-Prinsip Fasilitasi
a) Prinsip keswadayaan masyarakat/ Partisipasi
Masyarakat
Yakni dengan memberi motivasi dan
mendorong untuk berusaha atas dasar kemauan dan
kemampuan mereka sendiri serta tidak selalu
tergantung pada bantuan luar.
Partisipasi masyarakat dalam pemberdayaan
dipahami sebagai upaya membangun ikatan atau
hubungan yang menekankan pada tiga aspek;
(1) Partisipasi diarahkan pada fungsi kemandirian,
termasuk sumber-sumber, tenaga serta
manajemen lokal.
(2) Penekanan pada penyatuan masyarakat sebagai
232
suatu kesatuan; terlihat dari adanya
pembentukan organisasi lokal termasuk di
dalamnya lembaga adat yang
bertanggungjawab atas masalah sosial
kemasyarakatan.
(3) Keyakinan umum mengenai situasi dan arah
perubahan sosial serta masalah-masalah yang
ditimbulkannya. Aspek khusus dalam
perubahan sosial yang menjadi pemikiran
pokok berbagai program pembangunan
masyarakat, yaitu adanya ketimpangan baik di
dalam maupun di antara komunitas tersebut.
Melalui strategi “pengembangan
masyarakat” diharapkan pemberdayaan masyarakat
adat dapat berlangsung secara dinamis sesuai
dengan kondisi sosio budaya, politik dan ekonomi
masyarakat yang bersangkutan serta hubungan
dengan komunitas lainnya. Pendampingan sosial
tidak saja berkaitan dengan terpenuhinya
kebutuhan dasar. Pengembangan sumber daya
manusia, atau penguatan kelembagaan tetapi juga
berkaitan dengan pengembangan kapasitas
masyarakat untuk melepaskan diri dari belenggu
perbedaan rasial, ketidakseimbangan kelas dan
gender, serta menghapuskan penindasan mayoritas.
b) Prinsip berkelompok.
Kelompok tumbuh dari, oleh dan untuk
kepentingan masyarakat. Melalui kerja-kerja yang
233
dilakukan secara berkelompok, apa yang
diinginkan akan lebih mudah untuk diwujudkan.
Selain itu sebuah kelompok dapat menjadi basis
kekuatan (posisi tawar), baik untuk membangun
jaringan, maupun untuk bernegosiasi.
c) Prinsip kerja jaringan.
234
Selain menjalani dengan anggota kelompok
sendiri, kerja sama juga dikembangkan antar
kelompok dan mitra kerja lainnya. Kerjasama itu
diwujudkan dalam sebuah jaringan yang
mempertemukan berbagai kepentingan antar
kelompok. Jaringan kerja yang besar dan solid
dengan sendirinya memberikan kekuatan pada
masyarakat.
d) Prinsip keberlanjutan.
Kegiatan penumbuhan inisiatif,
pengembangan diorientasikan pada terciptanya
sistem dan mekanisme yang akan mendukung
dalam pemberdayaan masyarakat secara
berkelanjutan. Berbagai kegiatan yang dilakukan
merupakan kegiatan yang berpotensi untuk
berlanjut dikemudian hari.
e) Prinsip belajar menemukan sendiri.
Kelompok dalam masyarakat tumbuh dan
berkembang atas dasar kemauan dan kemampuan
mereka untuk belajar menemukan sendiri, apa yang
mereka butuhkan dan apa yang akan mereka
kembangkan. Termasuk untuk mengubah
penghidupan dan kehidupannya.
f) Berbasis Nilai dan Moral
Pendampingan tidak hanya dipandang
sebagai upaya pemenuhan kebutuhan dasar hidup
yang bersifat material seperti penyediaan lapangan
kerja, pemenuhan pangan, pendapatan,
235
infrastruktur dan fasilitas sosial lainnya.
Pendamping harus dipandang sebagai upaya
meningkatkan kapasitas intelektual, keterampilan
dan “sikap” atau nilai yang dijunjung tinggi.
Pendampingan dilakukan melalui
pendekatan “manusiawi” dan beradab untuk
mencapai tujuan pembangunan. Artinya, dapat saja
sekelompok orang telah terbangun dalam arti
berada pada standar hidup layak, tetapi dengan
cara-cara yang “tak pantas” dilihat dari perspektif
peningkatan kapasitas masyarakat. Jadi jelas bahwa
pemberdayaan merupakan cara-cara yang beradab
dalam membangun masyarakat.
g) Penguatan Jejaring Sosial
Dalam konteks pendampingan sosial,
aspirasi dan partisipasi masyarakat dapat diperkuat
melalui interaksi dan komunikasi saling
menguntungkan dalam bentuk jejaring
(nerworking). Peningkatan kapasitas suatu
kelompok sulit berhasil jika tidak melibatkan
komunitas lain yang memiliki kepentingan dan
hubungan yang sama. Pengembangan jejaring perlu
dilandasi pada pemahaman terhadap sistem relasi
antar pelaku berbasis komunitas dan lokalitas
dengan asumsi bahwa pelaku memiliki pemahaman
yang sama tentang pengembangan jejaring. Dengan
kata lain, perlu dibangun pemahaman bersama
antarpelaku seperti LSM, Perguruaan Tinggi,
236
Ormas, Bank, Lembaga Sosial, Pemerintah dan
Lembaga Internasional untuk membangun jejaring
sosial.
Proses jejaring membutuhkan implementasi
prinsip-prinsip kesetaraan, bersifat informal,
partisipatif, komitmen yang kuat, sinergisitas dan
upaya membangun kekuatan untuk membantu
masyarakat memecahkan permasalahan dan
menemukan solusi dalam upaya meningkatkan
kesejahteraan (Setyawan et al., 2018).
Kegiatan usaha produktif berbasis
komunitas dan lokalitas diharapkan dapat
melibatkan pelaku atau lembaga lain, seperti
organisasi pemerintah. Keberhasilan jejaring
sebagai media untuk perumusan kebijakan menjadi
sangat penting tetapi ini semua tergantung kepada
komitmen semua pelaku dalam jejaring tersebut.
Peranan pemerintah lokal lebih bersifat
sebagai fasilitator bukan hanya sebagai donatur.
Pemerintah lokal perlu mengalokasikan dana untuk
masyarakat lapisan bawah atau pengusaha kecil di
kawasan ini. Dalam hal ini penguatan kelembagaan
merupakan hal penting dalam pemberdayaan
masyarakat.
238
(2) Sikap-nilai, yaitu kecenderungan untuk bereaksi
positif atau negatif terhadap sesuatu yang didasari
oleh nilai-nilai dan pengalaman seseorang. Sikap
merupakan gabungan antara pemikiran, perasaan, dan
anggapan seseorang terhadap suatu hal.
• Seorang ibu mengomeli gaya pakaian anak
remajanya (celana melorot dan kemeja ketat):
“Kenapa pakaian anak-anak jaman sekarang kok
tidak sopan. ”
• Anak: “Ibu sih ketinggalan jaman...
(3) Sikap-perilaku;
239
• Ayah beranggapan menjadi petani seperti dirinya
berarti menjadiorang miskin. Ayah bekerja keras
untuk mengirimkan anaknya sekolah sampai
perguruan tinggi.
• Ibu beranggapan anak perempuan tidak prioritas
bersekolah tinggi. Ibu kurang mendukung anak
perempuannya masuk perguruan tinggi.
(4) Pendapat (Opini). yaitu gagasan yang muncul sebagai
hasil pemikiran subyektif seseorang. Pendapat
merupakan sikap seseorang dalam bentuk kata-kata.
Contoh
• Ayah: “Anak kita terlalu tergantung pada orang tua
dan kurangmandiri...”
• Ibu: “Kita punya anak yang baik, manis dan
penurut....
Beberapa istilah ini digunakan bagi seorang
fasilitator komunikasi untuk memahami cara membangun
komunikasi yang efektif dan positif.
240
Komunikasi Partisipatif (Komunikasi Multi-
Arah) ((Pe-PP) Bappenas, 2007)
Dari sinilah harus diketahui tentang menjadi
fasilitator yang baik. (Aris Slamet Widodo,
Hasanah Safriyani, Sutrisno., 2018)
(1) Sikap Fasilitator
Sikap-sikap yang harus dimiliki oleh seorang
fasilitator meliputi
a) Empati: Ikut merasakan dan menghargai
pengalaman dan perasaan peserta. Tidak
meremehkan peserta dengan hadir sepenuh hati
dan sepenuh tubuh.
b) Peka terhadap situasi pertemuan, fasilitator
241
mengetahui kapan peserta merasa bersemangat,
bosan, mengantuk, tahu kapan harus bicara,
berhenti dan bertanya.
c) Tidak hanya memikirkan target penyampaian
materi (hasil), melainkan proses belajar para
peserta.
d) Percaya diri, fasilitator yakin mampu mengajak
peserta belajar bersama. Tidak malu meskipun
harus berhadapan dengan peserta yang berbeda
usia, kelas sosial, ekonomi, pendidikan, dan lain-
lain.
e) Jujur, terbuka, apa adanya saat merespon peserta
f) Tidak menunjukkan sikap dibuat-buat atau
berpura-pura.
g) Ramah, semangat, dan luwes Mampu membuat
suasana hangat, akrab, dan peserta merasa
diperhatikan
h) Hormat terhadap peserta secara sederajat
242
i) Menghargai pengetahuan, pengalaman, tradisi
dan kepercayaan yang dianut peserta.
j) Tidak menonjolkan diri sendiri, menggurui, atau
merasa paling ahli
k) Tidak terpancing untuk menjawab setiap
pertanyaan.
l) Obyektif adalah sikap untuk berada pada posisi
netral atau tidak memihak
243
Ingatkan kelompok dan diri sendiri bahwa anda
adalah fasilitator. Penting selalu diingat akan
keahlian dan pengalaman yang peserta miliki.
Biasakan melibatkan audien/peserta dengan
mengajukan pertanyaan pada peserta lain,
misalnya: “Pertanyaan bagus, dari Ibu Ari.
Bagaimana menurut Ibu Citra?”; “Pertanyaan
yang bagus. Apa ada yang mau menanggapi?
g) Sering-seringlah bertanya: “Apakah ada
pertanyaan?”
h) Bersikap fleksibel dan gunakan penilaian anda
sendiri tentang perhatian, energi dan pemahaman
kelompok kemudian sesuaikan dengan waktu
seperlunya. Perubahan tidak berarti rencana yang
buruk, tetapi anda mendengar, menyimak dan
menyesuaikan rencana dengan situasi.
i) Jangan lupa waktu istirahat 15-20 menit. Kondisi
ini perlu menjadi perhatian agar peserta enjoy
dan tidak kelelahan dalam megikuti kegiatan.
Seorang fasilitator harus mampu mengenai dan
memahami apabila ada resistensi/penolakan dari
peserta agar dapat mengelola pertemuan dengan
baik.
245
2) Adanya kerangka kerja policy (policy framework),
3) Adanya strategi-strategi policy (policy strategies),
4) Adanya kejelasan tentang kepentingan masyarakat
(public interest),
5) Adanya pelembagaan lebih lanjut dari kemampuan
public policy,
6) Adanya isi policy dan evaluasinya.
Kemurnian partisipasi merupakan wujud
kemandirian beraktivitas berdasarkan ekspresi
komitmen yang utuh dalam merefleksikan
rasionalisme pandangan dan peran setiap orang
dalam dinamika kehidupannya, yang berupa
seperangkat sikap dasar (sikap hidup) otonom
untuk mengambil sikap bertanggung jawab
terhadap apa yang diperbuat atau diputuskan
bersama. Kemurnian partisipasi merupakan
refleksi manusiawi, di mana orang bebas dari rasa
takut, baik karena adanya tekanan atau paksaan
dalam mengambil sikap dan menentukan arah
pemikirannya. Hakikatnya merupakan kebebasan
berperanan untuk memfungsikan hak dan
kewajiban individualnya sebagai pengembangan
diri, sehingga karakter dan kepribadian seseorang
(warga negara) tumbuh secara alami, baik sebagai
moral, intelektual maupun sosial yang pada
246
gilirannya mengarah pada terciptanya kedewasaan
dan kematangan dalam bersikap dan bertindak.
Hal ini sejalan dengan UU No. 32/2004 yang
menyatakan bahwa peran serta atau partisipasi
masyarakat merupakan salah satu prinsip otonomi
daerah, dan Daerah Kabupaten/ Kota harus
mampu meningkatkan partisipasi masyarakat.
Partisipasi tersebut diwujudkan dalam bentuk hak-
hak, seperti hak menyampaikan pendapat, hak
memperoleh informasi dan pelayanan yang sama
serta adil. Konsep tentang partisipasi “seharusnya”
digunakan secara luas dalam pembahasan yang
terkait dengan pembangunan. Kemudian
berkembang ke bidang-bidang yang terkait dengan
hak -hak warga dan pemerintahan yang
demokratis.
Partisipasi dapat dibagi dalam tiga bidang,
yaitu bidang politik, pembangunan, dan bidang
sosial. Karena partisipasi pembangunan
merupakan keikutsertaan masyarakat dalam
proses penyelenggaraan pembangunan yang
dimaksudkan untuk mengoptimalkan keterkaitan,
kualitas, dan keberlanjutan proyek pembangunan.
Partisipasi dalam kaitan ini dilihat sebagai
247
keikutsertaan masyarakat dalam proses konsultasi
dan pengambilan keputusan disemua tingkat
proyek, mulai dari proses analisis kebutuhan
pembangunan, proses perencanaan, pelaksanaan,
monitoring, dan evaluasi proyek pembangunan.
253
c) Memposisikan Peran dan Tindakan
Bagaimana memposisikan masyarakat agar
mampu mengambil peran dan tindakan sesuai dengan
fungsi dan kedudukannya ? Pertanyaan ini sangat
mendasar, ketika suatu komunitas tidak mampu
melindungi dirinya akibat kelemahannya. Dalam
situasi ini, fasilitator akan lebih dominan memimpin
dan berada di garis depan. Masyarakat membutuhkan
instruksi, arahan, aturan dan bimbingan secara
langsung. Namun demikian, fasilitator tetap
memberikan peran yang cukup kepada masyarakat
untuk menentukan keputusan penting dan pola tindak
yang diperlukan. Pada saat masyarakat mulai
menunjukan peningkatan kapasitas dan mampu
mengelolanya, maka fasilitator akan mengambil posisi
sebagai mitra atau pendamping untuk mempermudah
kerja masyarakat. Hal ini dapat dilakukan dengan
memberikan kemudahan terhadap akses informasi,
melatih peran, pembagian tugas yang jelas dalam
setiap kegiatan, menempatkan orang sesuai dengan
keahlian. Posisi ini akan berubah sesuai kebutuhan dan
kondisi masyarakat yang didampinginya.
d) Mengajak masyarakat untuk berfikir
Fasilitasi merupakan proses belajar masyarakat
untuk menentukan pilihan dan tindakan terukur
terhadap perubahan yang dihadapinya. Landasan
filosofis fasilitasi adalah perubahan paradigma dan
proses berfikir logis (logical framework) dan
254
terstruktur sebagai bentuk respon terhadap
lingkungan. Oleh karena itu, fasilitasi dilakukan untuk
membantu individu, kelompok atau organisasi agar
menggunakan daya nalar dalam mencapai tujuan.
Fasilitasi merupakan suatu proses membangun
masyarakat kritis dan rasional atau dengan
menggunakan tesis Paulo Freire bahwa pemberdayaan
adalah strategi pembebasan dari keterbelengguan.
Masyarakat memahami berbagai fenomena hidup
dengan mengajak masyarkat untuk “berfikir”:
menggunakan daya nalar dan kreativitas untuk
memecahkan masalah dan menyusun perencanaan ke
depan. Mengajak masyarakat berfikir tentang potensi,
kebutuhan dan masalah yang dihadapinya merupakan
agenda penting dalam kegiatan fasilitasi. Ajaklah
masyarakat untuk melakukan pemetaan konsep, situasi
dan kondisi secara kritis menggunakan informasi dan
sumber lain kemudian diwujudkan dalam bentuk
tindakan atau kegiatan nyata.
e) Memberikan kepercayaan
Kepercayaan merupakan salah satu kunci
keberhasilan fasilitasi dan menjadi indikator penting
dalam proses pemberdayaan. Sebuah tatanan
masyarakat madani (civil society) dibangun diatas
pilar transparansi, dimana masyarakat dengan mudah
mengakses dan memutuskan berbagai kebijakan
menyangkut nasib hidupnya. Tranparansi pelaku
pembangunan dan distribusi kewenangan antar
255
pemerintah, legislatif, dan grassroot harus jelas dan
terbuka.
Keterlibatan masyarakat dengan institusi yang
ada dalam perencanaan, melaksanakan sekaligus
mengontrol berbagai keputusan yang telah dibuat
mencerminkan bentuk komunikasi dan interaksi
stakeholders yang dibangun atas dasar kepercayaan.
Membangun kepercayaan kepada masyarakat tidak
sebatas sosialisasi strategi program saja, tetapi harus
melibatkan peran aktif masyarakat sebagai pelaku
utama. Fasilitasi dilakukan untuk menempatkan
masyarakat sebagai pelaku sekaligus objek
pembangunan. Fasilitator hendaknya memberikan
kepercayaan kepada masyarakat untuk mengambil
peran dan melaksanakan program sesuai dengan
kemampuannya. Pada dasarnya bantuan merupakan
stimulan untuk merangsang pertumbuhan dan rasa
percaya diri bahwa masyarakat mampu memecahkan
permasalahan yang dihadapi.
f) Kemandirian dan Pengambilan Keputusan
Salah satu indikator keberhasilan dari kegiatan
fasilitasi yaitu menumbuhkan kemandirian (otonomi)
dalam membimbing dan mengarahkan pada upaya
pencapaian tujuan. Kemandirian menjadi salah satu
paradigma pembangunan yang mengilhami upaya
pelimpahan wewenang dari pusat ke daerah Proses ini
perlu didukung oleh institusi lokal dan masyarakat
sipil yang kuat, sehingga tidak berakibat pada
256
penyalahgunaan wewenang pemerintahan lokal tetapi
lebih meningkatkan keterlibatan institusi masyarakat
dalam menentukan kebijakan di daerahnya. Artinya
masyarakat diberikan ruang cukup untuk menentukan
pilihan atas sejumlah alternatif dan menetapkan visi
dirinya ke depan. Keputusan sepenuhnya di tangan
masyarakat sendiri sebagai perencana, pelaksana,
pengawas dan evaluator. Kemampuan masyarakat
dalam mengambil keputusan harus terus
dikembangkan. Fasilitasi harus mampu mengurangi
bentuk intervensi yang tidak perlu yang dapat
menghambat kemandirian masyarakat, sehingga
masyarakat benar-benar tahu dan ikut menentukan
jenis kebijakan yang dianggap tepat tentang dirinya
sendiri (Hastuti & Setyawan, 2021).
g) Membangun Jaringan Kerja
Fasilitasi yang dilakukan oleh pendamping baik
dikalangan pemerintah, LSM atau institusi lain harus
menyentuh aspek penguatan jaringan dari tingkat
institusi nasional hingga masyarakat. Penguatan
jaringan sangat penting dalam membangun
kebersamaan, keberlanjutan dan kesiapan masyarakat
mengantisipasi perubahan. Jaringan yang dibangun
harus mengacu pada optimalisasi program, dimana
keterlibatan organisasi masyarakat, LSM, pemerintah,
dan institusi lain berjalan secara sinergis. Berikan
peran yang luas kepada masyarakat untuk dapat
menjalin hubungan kemitraan dengan pihak terkait.
257
Tugas pengembangan jaringan bukan saja menjadi
tanggung jawab fasilitator melainkan masyarakat
sendiri. Jaringan yang dibangun oleh masyarakat
sendiri akan lebih optimal dan memiliki nilai strategis
dalam proses pemberdayaan.
h) Keterampilan Fasilitator
Keterampilan fasilitator merupakan serangkaian
kemampuan yang harus dikuasai oleh fasilitator
sebelum terjun ke masyarakat. Keterampilan fasilitator
meliputi (KEMENSOS RI, 2020):
1) Bertanya.
Tugas utama fasilitator adalah bertanya,
memancing pengalaman peserta, bukan mengajari.
Pertanyaan yang baik akan membuat peserta belajar
dari pengalamannya dan menemukan solusi sendiri
tanpa merasa digurui dengan cara:
(1) Gunakan pertanyaan yang menggali
pengalaman peserta didasari rasa ingin tahu;
(2) Gunakan jenis pertanyaan terbuka (pertanyaan
yang yang jawabannya berupa cerita),
misalnya, “Bisa diceritakan, Bu, apa yang
dilakukan putranya kalau sedang;
(3) Awali dengan pertanyaan mudah yang dapat
dijawab langsung berdasarkan keseharian.
Biasanya menggunakan kata tanya apa atau
bagaimana;
258
(4) Pertanyaan sensitif, fasilitator dapat
mengggunakan pertanyaan orang ketiga agar
peserta tidak merasa dihakimi atau malu.
Contohnya, “Menurut Ibu, mengapa ada orang
yang tidak pernah marah pada anaknya?”; dan
(5) Saat peserta terlihat pesimis di tengah diskusi,
gunakan pertanyaan untuk mengajak peserta
mengingat keberhasilan di masa lalu.
2) Mendengar aktif
Fasilitator tidak hanya berkomunikasi satu arah,
melainkan lebih banyak menjadi pendengar. Menjadi
pendengar aktif dapat dilakukan dengan cara:
(1) Simak perkataan peserta. Tanggapi
pembicaraan dengan ekspresi wajah yang
sesuai (senyum, prihatin, dan lainnya);
(2) Beri tanggapan berupa pertanyaan untuk
menggali pengalaman peserta. Contoh: “Oya?,
contohnya bagaimana, Bu?”;
(3) Konfirmasi pendapat peserta dengan
menyatakannya kembali. Jangan terburu-buru
menyimpulkan. Tanyakan apakah pernyataan
kita betul;
(4) Jangan memotong pembicaraan, kecuali jika
topik sudah jauh melenceng. Ajak peserta
kembali ke topik dengan sopan. Misalnya:
“Wah, menarik sekali, Pak. Mungkin kita
lanjutkan kembali nanti, sementara ini kita
259
kembali ke topik awal, Pak.”
3) Komunikasi
Hal utama yang dilakukan fasilitator adalah
menjalin komunikasi yang baik. Komunikasi dalam
memfasilitasi dapat dilakukan dengan cara:
(1) Bicara atau bertanya dengan bahasa sederhana
tapi jelas;
(2) Gunakan kalimat singkat dan langsung ke
tujuan. Misalnya: “Bapak, putra Anda yang
SMP itu masih sering ngajak ngobrol?”; dan
(3) Perkenalkan diri dan hafalkan nama peserta.
Supaya bisa menghafal, gunakan saat
memanggil dan ulangi dalam kalimat.
Misalnya, “Ibu Bapak, ada yang akan
menanggapi pertanyaan ini? Ya, Ibu Asih
kan?” (sambil mendekati ibu tersebut untuk
memberikan kesempatan menanggapi.
4) Bahasa tubuh
Bahasa tubuh adalah bentuk komunikasi non
verbal. Komunikasi non verbal meliputi:
(1) Tatap mata peserta. Jangan bicara sambil
melihat lantai, langit-langit, atau kertas
catatan;
(2) Bergerak secukupnya, misalnya tangan
menunjuk pada poster. Jangan gugup,
misalnya tangan memainkan spidol, kaki
260
melangkah ke depan ke belakang seperti tanpa
tujuan; dan
(3) Usahakan setara atau melebur dengan peserta,
misalnya duduk sama rendah ketika peserta
sedang duduk di lantai berdiskusi dan
mengerjakan tugas kelompok
5) Mengarahkan orang
Fasilitator mengarahkan lalu lintas informasi
agar peserta mengalami proses pembelajaran yang
baik. Mengarahkan orang dapat dilakukan dengan:
(1) Pelajari hal yang akan disampaikan agar
pembicaraan tidak melenceng dari topic;
(2) Dorong semua peserta untuk berpartisipasi
dalam menjawab pertanyaan atau diskusi,
terutama peserta yang pendiam. Jangan
membiarkan hanya satu atau dua peserta yang
mendominasi; dan
(3) Gunakan jeda, canda, dan pujian untuk
mendorong peserta nyaman berbicara. Jangan
mengkritik, mendebat, atau membela diri. Jika
diperlukan mendebat atau menyanggah
pendapat peserta, upayakan peserta lain juga
melakukan.
262
a) Apabila diskusi mulai hidup dengan cerita-
cerita peserta, fasilitator bisa melontarkan
pertanyaan tentang proses: BAGAIMANA
KEJADIAN ITU TERJADI? Ceritakan
prosesnya secara runtut.
263
b) Setelah itu dilanjutkan dengan pertanyaan
analitis: MENGAPA hal itu terjadi menurut
Anda? Apakah Bapak/Ibu yang lain setuju
tentang penyebabnya itu? Apakah akibatnya?
Ceritakan alur sebabakibatnya secara jelas.
c) Fasilitator bisa mengembangkan berbagai
cerita kejadian yang sama untuk
membandingkan suatu peristiwa dengan
melontarkan pertanyaan: apakah ada peserta
lain yang mengalami kejadian sama?
KAPAN? DIMANA? SIAPA?
BAGAIMANA? MENGAPA? Sama seperti
di atas, merupakan pertanyaan untuk
menceritakan.
m. Menarik Kesimpulan
Meskipun kita sedang membahas suatu topik,
biasanya akan selalu banyak aspek menarik
yang terkait dengan topik tersebut dan
menjadi diskusi yang berkembang (meluas).
Fasilitator mengajak peserta mempersempit
pembahasan pada beberapa hal paling
penting/menarik dari topik tersebut dengan
melontarkan pertanyaan: APA HAL-HAL
PENTING/MENARIK yang muncul dari
peristiwa/kejadian di atas? (Uraikan setiap
264
hal menarik dalam beberapa kalimat lugas
dan jelas).
DAFTAR PUSTAKA
265
Caiden, G. E. (1991). Administrative Reforms Comes Of
Ages. New York: Walter The Gruyter.
267
H Setyawan, W., . R., . N., Budiman, A., . H., Sumarno, A.,
& Rais, P. (2018). Challenged Solving in Listening
Through T-Mobile Learning Model. International
Journal of Engineering & Technology, 7(4.15), 443.
[Link]
268
BIODATA PENULIS
270
BAB 8
271
kegiatan, untuk mengetahui hasil atau capaian akhir dari
kegiatan atau program. Hasil evaluasi bermanfaat bagi rencana
pelaksanaan program yang sama diwaktu dan tempat lainnya.
273
diantaranya adalah keleluasaan, kesediaan dan kepercayaan,
kemampuan dari kedua belah pihak, serta alat atau metode untuk
interaksi yang menjadi sarana dimana proses partisipasi
berlangsung.
275
b. Memberikan pemahaman fakto-faktor
produksi yang dibutuhkan.
c. Memberikan pemahaman yang lebih
banyak dan ragam (multidemensi) atas
dampak.
d. Meningkatkan kredibilitas atas hasil evaluasi.
1. Kepemilikan
Keterlibatan anggota masyarakat, rekanan, dan staf
antar proyek didalam mendesain dan melakukan
monitoring dan evaluasi akan membantu mendorong
tumbuhnya rasa kepemilikan yang lebih besar
tanggungjawab terhadap proyek dan pemberian informasi.
Sebagai hasil, data yang diperoleh bisa lebih akurat dan
partisipan lebih percaya terhadap hasilnya.
276
kehandala informasi dapat divalidasi dengan melakukan
cek silang dengan informasi yang lain.
3. Konsensus
Ketika para staf proyek sebagai tim melakukan review
tujuan proyek dan stakeholder, mengidentifikasi
kebutuhan informasi kunci, dan desain sistem evaluasi dan
monitoring – dimana akan membutuhkan waktu beberapa
bulan, membantu membangun konsensus yang kuat
diantara rekanan proyek tentang kemana proyek tersebut
diarahkan.
5. Pengetahuan Lokal
Keterlibatan masyarakat dalam mendesain sistem
MEP, identifikasi indikator, pengumpulan dan analisa
data, pengetahuan bernilai yang bersumber dalam proses
learning by doing di masyarakat, kebiasaan dan institusi
lokal menjadi termanfaatkan.
277
6. Efektifitas Biaya
278
4. Untuk melihat apakah penggunaan biaya program
cukup realistis dari aspek usaha alternatif dan bidang
persemaian dengan bentuk kegiatan yang telah
direncanakan.
Berikut tahapan dalam kegiatan monitoring dan evaluasi
partisipatif:
a. Waktu Pelaksanaan
Waktu pelaksanaan kegiatan monitoring dan
evaluasi partisipatif ini bisa dilakukan pada awal
program, pertengahan program, akhir program dan
insidental.
b. Tempat Pelaksanaan
Tempat untuk melakukan kegiatan monitoring
dan evaluasi partisipatif bisa dilakukan luar ruangan
yang tempatnya berdekatan dengan kegiatan
program atau di dalam ruangan seperti di gedung
yang memiliki ruangan luas yang dapat menampung
anggota masyarakat atau kelompok MDK yang
dapat menampung peserta kegiatan atau masyarakat
penerima program.
c. Pelaku Yang Melaksanakan
Pelaku yang melaksanakan kegiatan monitoring
dan evaluasi partisipatif adalah masyarakat dan
279
kelompok MDK yang menerima program MDK
yang dipandu fasilitator pendamping MDK. Selain
itu, pelaku lain yang melaksanakan kegiatan
monitoring dan evaluasi partisipatif yaitu para
stakeholder yang menjadi pembuat kebijakan MDK
antara lain Balai Besar Konservasi Sumber Daya
Alam Jawa Barat, Taman Nasional Gunung Gede
Pangrango dan Consultan Firm.
d. Teknik Pelaksanaan
Instrumen/alat yang dipersiapkan pada kegiatan
monitoring dan evaluasi partisipatif instrumen/alat
yang dibutuhkan antara lain:
1) Kerta Plano
2) Kertas Metaplan
3) Spidol (Boldmarker)
4) Kertas Metaplan
5) Masterplan MDK
6) Bisnis Plan MDK
7) Rehabilitasi Plan MDK
8) Instrument Monitoring dan Evaluasi Partisipatif
9) Lakban
281
cepat sebelum program terlanjur berjalan tidak
pada jalurnya. Dengan demikian informasi hasil
M&E bermanfaat dalam memperbaiki jalannya
implementasi program.
283
Tahap 5 Mentukan Sumber Informasi dan Desain Alat
Mengumpulkan Data
Tahap 6 Rencanan Analisa Data dan Penggunaan Hasil
Tahap 7 Meyempurnakan dan Menguji Sistem
Monitoring dan Evaluasi
Tahap 8 Melakukan Review Proyek dan Evaluasi
Eksternal
b. Kegiatan
284
Pada tahap satu ada beberapa kegiatan yang
dilakukan:
285
telah disetujui tim merupakan hal yang mendasar dalam
menentukan apa yang di monitoring dan evaluasi.
a. Definisi dan Konsep
Ada beberapa definisi dan konsep yang perlu
dipahami dan dipakai dalam proyek, diantaranya:
286
kegiatan.
287
(3) Mean of verification (MOV);
(4) Assumptions
b. Kegiatan:
Pada tahap 2 ada beberapa kegiatan yang dilakukan:
i. Klarifikasi stakeholder proyek, kepentingan dan
keterkaitan mereka
ii. Pengembangan diagram pohon tujuan proyek
atau diagram sejenisnya ataumendemonstrasikan
bagaimana tujuan proyek tersebut bisa tercapai.
iii. Menentukan pendekatan: memutuskan apakah
langkah pertama membangunkerangka logika atau
langsung dari giagram pohon ke kertas kerja MEP.
288
Kebutuhan Dakam Monev kebutuhan
Informasi informasi berkaitan dengan
(Informatio informasi yang dibutuhkan oleh
n Needs)
rekana proyek guna membantu
merka menentukan/ melihat
perkembangan, effektifitas dan
dampak proyek.
Pertanyaan Pertanyaan Monev melibatkan
Monev pernyataan kebutuhan informasi
(M&E yang terdapat didalam form
Questions)
pertanyaan dalam rangka
membantu memperjelas informasi
yang dibutuhkan.
b. Kegiatan:
Pada tahap 3 ada beberapa kegiatan yang dilakukan:
i. Menentukan informasi yang dibutuhkan dan
membuat evaluasi pertanyaan pada level sasaran,
tujuan, keluaran, dan kegiatan dalam konsultasi
dengan rekanan proyek, dan direkam dalam
kertaskegiatan dalam konsultasi dengan rekanan
proyek, dan direkam dalam kertas kerja MEP.
ii. Melanjutka langkah ke kertas kerja perencaaan
MEP, dan menungakannya dalam diagram pohon
tujuan, dan mengisi pertanyaan evaluasi di kolom
pertama.
289
4. Tahap Empat Membangun Indikator Kunci
a. Definisi dan Konsep:
b. Kegiatan:
i. Curah gagasan untuk menyusun daftar pertanyaam
untuk masing-masing pertanyaan evaluasi atau
tujuan proyek, merengking pertanyaan-pertanyaan
tersebut dan memiliki indikator kunci untuk
masing-masing pertanyaan atau tujuan.
ii. Merevaluasi indikator-indikator tersebut secara
berkala.
b. Kegiatan:
Pada tahap 5 ada beberapa kegiatan yang dilakukan:
i. Mengidentifikasi sumber informasi (Means
Verification/MoV) danmerekam didalam kerangka
logis atau kertas kerja perencaaan.
ii. Mengidentifikasi kebutuhan data dasar dan
merekan dalam kertas kerja(kolom 4)
iii. Menentukan frekuensi mengambilan data dan
merekam dalam kertas kerja(kolom 7)
iv. Menentukan siapa yang membutuhkan data
tersebut dan merekamnya dalam kertas kerja
291
(kolom 11 dan 12)
v. Menentukan siapa yang akan mencari data dan
merekamnya di kertas kerjaperencaaan (kolom 5)
vi. Menyusun atau menetukan alat dan metode
untuk perolehan data dan merekamnya didalam
kertas kerja perencaaan (kolom 6)
vii. Menentukan ukuran sample utnk perolehan data
dasar dan monitoringberjalan.
viii. Mengidentifikasikan informasi tambahan yang
dibutuhkanuntuk mendapatkan data dan
merekamnya dalama kertas (kolom 5)
ix. Memutuskan bagaimana dan dimana data tersebut
disimpan.
292
Penyajian Proses dimana data yang telah
dianalisa dapat diakses oleh
(Presentation)
pihak-pihak yang membutuhkan
untukpengambilan keputusan
b. Kegiatan:
Pada tahap 6 ada beberapa kegiatan yang dilakukan:
i. Merencanakan tingkat keseringan analisa data itu
dilakukan dan merekamnya dalam kertas kerja
perencanaan (kolom 9)
ii. Mengidentifikasi siapa yang akan terlibat dalam
analisa data dan merekamnya dalam kertas kerja
perencaaan (kolom 10)
iii. Menentukan bagaimana data akan dipresentasikan,
didiskusikan, dan digunakan untuk pengambilan
keputusan internal proyek dan merekamnya dalam
kertas kerja (kolom 11)
iv. Menentukan bagaimana informasi akan disebarkan
kepada pihak terkait, dan direkam dalam kertas
kerja perencanaan (kolom 12)
293
7. Tahap Tujuh Meyempurnakan dan Menguji Sistem
Monitoring dan Evaluasi
a. Definisi dan Konsep
b. Kegiatan:
Pada tahap 7 ada beberapa kegiatan yang dilakukan:
i. Melengkapi dan menuliskan perencanaan MEP.
ii. Memastikan bahwa staf proyek dan rekanan
dalam sistem MEP telahmendapatkan pelatihan
yang cukup.
iii. Menyusun dan merevisi alat mengumpul data
apabila diperlukan.
iv. Mereview dan merekam ulang sisitem pelaporan
proyek.
v. Mengumpulkan data dasar yang telah
diidentifikasikan oleh rekanan proyek.
vi. Mengumpulkan data monitoring yang telah
294
diidentifikasikan oleh rekananproyek.
vii. Rekanan proyek seharusnya mendiskusikan hasil
dan mengembangkan dalam tindak lanjut dalam
manajemen keputusan.
viii. Desiminasi hasil kepada pihak yang
berkepentingan.
ix. Melakukan uji sistem MEP dalam periode
percobaan.
x. Melakukan revisi dan menyesuikan atas sistem
MEP dan monitoring dan evaluasi yang sedang
berjalan.
b. Kegiatan:
Pada tahap 8 ada beberapa kegiatan yang dilakukan:
i. Menentukan tujuan evaluasi dan kepada siapa
evaluasi ini ditujukan
ii. Mengembangkan Kerangka Acuan Kerja
iii. Menseleksi tim evaluasi
296
1. Observasi
Observasi ialah kunjungan ke tempat kegiatan secara
langsung, sehigga semua kegiatan yang sedang
berlangsung atau obyek yang ada diobservasi dan dapat
dilihat. Semua kegiatan dan obyek yang ada serta
kondisi penunjang yang ada mendapat perhatian secara
langsung.
297
DAFTAR PUSTAKA
[Link]
3311676e9de40e/tahu-itu wajib- ayo-simak-
monitoring-evaluasi-partisipatif-mep
[Link]
299
PENULIS
300
BAB 9
Pendekatan dalam Pengembangan Komunitas
BAB 9 Pendekatan dalam Pengembangan Komunitas
301
atau keterampilan untuk dapat mengolah kekurangan dan
keterbelakangan masyarakata dengan harapan membangun
diri mereka sendiri agar lebih maju dan sejahtera (Adhimi
and Prasetyawan, 2019).
Pengertian pemberdayaan (empowerment) tersebut
menekankan pada aspek pendelegasian kekuasaan, memberi
wewenang, atau pengalihan kekuasaan kepada individu atau
masyarakat sehingga mampu mengatur diri dan
lingkungannya sesuai dengan keinginan, potensi, dan
kemampuan yang dimilikinya. Pemberdayaan tidak sekedar
memberikan kewenangan atau kekuasaan kepada pihak yang
lemah saja. Pemberdayaan mengandung makna proses
pendidikan dalam meningkatkan kualitas individu,
kelompok, atau masyarakat sehingga mampu berdaya,
memiliki daya saing, serta mampu hidup mandiri
(Margayaningsih, 2018).
Pemberdayaan juga memiliki makna dorongan atau
motivasi, bimbingan, atau pendampingan dalam
meningkatkan kemampuan individu atau masyarakat untuk
mampu mandiri. Upaya tersebut merupakan sebuah tahapan
dari proses pemberdayaan dalam mengubah perilaku.
Perubahan perilaku yang dimaksud meliputi perubahan
302
pengetahuan, sikap dan tindakan. Perubahan perilaku lama
menuju perilaku baru yang lebih baik, dengan tujuan
meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraannya.
2. Definisi Komunitas
Komunitas didefinisikan sebagai suatu kesatuan hidup
manusia yang mendiami suatu wilayah yang nyata serta
berinteraksi menurut suatu system adat istiadat yang terikat
oleh suatu rasa komunitas (Eliza, Ridwan and
Noerjoedianto, 2018). Secara umum defenisi dari komunitas
merupakan sekumpulan atau beberapa orang yang bertemu,
yang kemudian membentuk suatu organisasi yang
didalamnya terdapat kepentingan bersama (Mardiharto,
2017). Secara lebih sederhana penulis mengidentikan
komunitas dengan masyarakat. Masyarakat akan bertemu
dan berinteraksi sesuai adat yang berkembang dan telah
disepakati bersama.
3. Fungsi Komunitas
Menurut (Undang -Undang Republik Indonesia No.17
Tahun 2013, 2013) dijelaskan terkait fungsi dari komunitas,
yaitu sebagai penyalur kegiatan sesuai dengan kepentingan
303
anggota atau tujuan organisasi, wadah pembinaan dan
pengembangan anggota untuk mewujudkan tujuan
organisasi, sebagi penyalur aspirasi masyarakat,
pemberdayaan masyarakat, pemenuhan pelayanana sosial,
partisipasi masyarakat untuk memelihara, menjaga, dan
memperkuat perasatuan dan kesatuan bangsa, serta sebagai
pemelihara dan pelestarian norma, nilaim dan etika dalam
kehidupan bermasyarkat, berbangsa, dan bernegara.
4. Peran Komunitas
Peran Komunitas atau peran masyarakat adalah
keikutsertaan individu, keluarga dan kelompok masyarakat
dalam setiap kegiatan yang ada. Peran masyarakat ini
bertujuan untuk (1) menumbuhkan dan meningkatkan rasa
tanggung jawab; (2) mengembangkan kemampuan untuk bisa
menyadari akan pentingnya sebuah kegiatan; (3)
menumbuhkan rasa pentingnya partisipasi masyarakat pada
kegiatan tersebut.
Sedangkan Margayaningsih, 2018 menetapkan bahwa
tujuan peran masyarakat adalah untuk (1) meningkatkan
peran, kemandirian, dan kerjasama dengan lembaga-lembaga
non pemerintah yang memiliki visi yang sesuai; (2)
304
meningkatkan kuantitas jejaring kelembagaan dan organisasi
non pemerintah dan masyarakat; (3) memperkuat peran aktif
masyarakat dalam setiap tahap dan proses pembangunan
melalui peningkatan jaringan kemitraan dengan masyarakat.
5. Pemberdayaan Komunitas
Pemberdayaan komunitas atau pemberdayaan
masyarakat tidak terjadi begitu saja. Pemberdayaan
masyarakat akan dianggap berhasil apabila ada partisipasi
masyarakat sampai masyarakat merasa berdaya guna.
Pemberdayaan masyarakat tidak cukup hanya dengan
adanya partisipasi dari ilmu pengetahuan saja, akan terapi
diperlukan sumber daya manusia yang harus dibangun
supaya bisa menyesuaikan antara pengetahuan, sikap dan
pikiran dan tindakannya.
Pemberdayaan masyarakat di Indonesia telah terjadi
sejak lama. Banyak kegiatan yang dimulai dari lembaga-
lembaga yang telah ada dan berkembang di masyarakat,
misalnya Syarikat Tolong Menolong (STM) yang
berkembang di sebagian besar daerah di pulau sumatera.
Contoh dari kegiatan pemberdayaan masyarakat yang ;ain
305
misalnya pelatihan kader kesehatan masyarakat, karang
taruna, pengelolaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
(UMKM). Masyarakat dapat dibantu untuk berdaya menjadi
produsen sekaligus memasarkan secara berkelompok.
Masyarakat perlu mendapatkan akses untuk
memperbaharui ilmu pengetahuannya melalui berbagai
media yang difasilitasi oleh perangkat desa maupun program
pemerintah yang lainnya. Salah satu kegiatan yang dapat
dijadikan sarana untuk pemberdayaan masyarakat adalah
pengabdian masyarakat yang biasa dilakukan dosen.
Masyarakat dapat dijadikan mitra untuk banyak kegiatan
yang bersifat mutualisme atau saling menguntungkan.
306
Gambar. Pemberdayaan Masyarakat melalui Pengabdian
Masyarakat Desa Mitra
Tujuan pemberdayaan masyarakat menurut
Margayaningsih (2018) antara lain:
1. Melahirkan individu-individu yang mandiri dalam
masyarakat;
2. Menciptakan lingkungan yang memiliki etos kerja
yang baik sehingga mampu menciptakan kondisi kerja
yang sehatdan saling menguntungkan;
3. Menciptakan masyarakat yang memiliki kesadaran
tinggi akan potensi diri dan lingkungan disekitarnya
dengan baik;
4. Melatih masyarakat untuk melakukan perencanaan
dan pertanggung jawaban atas tindakan mereka dalam
memenuhi kebutuhan mereka;
5. Menambah kemampuan berpikir dan bernegosiasi atau
mencari solusi terhadap permasalahan-permasalahan
yang mungkin ditemui dalam lingkungannya;
307
6. Memperkecil angka kemiskinan dengan cara
meningkatkan potensi dan kemampuan dasar yang
dimiliki masyarkat.
310
meningkatkan taraf hidup dengan sebesar mungkin
bergantung pada inisitaif penduduk sendiri, serta
pembentukan pelayanan teknis dan bentuk-bentuk pelayanan
yang dapat mendorong timbulnya inisiatif, sifat berswadaya,
dan kegotongroyongan, sehingga proses pembangunan
berjalan efektif (Nasdian, 2014).
Potensi adalah daya, kekuatan, kesanggupan dan
kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dapat
dikembangkan. Potensi diri merupakan segenap kemampuan
dasar yang dimiliki seseorang secara terpendam. Potensi diri
berpeluang dikembangkan untuk mencapai tujuan tertentu
bila dilatih dan ditunjang dengan sarana yang baik. potensi
fisik, potensi mental intelektual, potensi mental spiritual
potensi sosial emosional dan potensi ketangguhan.
Potensi juga diartikan sebagai kemampuan dasar
manusia yang terpendam di dalam dirinya dan menunggu
menjadi suatu manfaat atau nyata dalam kehidupan diri.
Pengembangan potensi adalah suatu cara untuk
mengembangkan kemampuan dasar yang dimiliki.
Kemampuan dasar ini adakalanya masih terpendam didalam
dirinya. Potensi menunggu berkebang dan menjadi suatu
manfaat atau nyata dalam kehidupan diri manusia dan
311
memiliki kemungkinan untuk dikembangkan jika dilatih dan
ditunjang dengan baik
Menurut Fahmi, 2020, pola pengembangan komunitas
yang dapat dilakukan 3 tahap, yang pertama usaha untuk
penyadaran potensi yang dimiliki, bahwa dapat di
kembangkan dengan cara pemberian motivasi dan arahan
kepada masyarakat. Kedua, adalah pengutan kapasitas
dengan pemberian daya atau kuasa. Masyarakat setidaknya
sudah memiliki kemampuan dan potensi yang dapat digali.
Peningkatan kapasitas dapat diberikan melalui pelatihan,
workshop, atau konsultas secara individual.
Pelaksanaan pelatihan dilihat dari konsep pelatihan
sebagai proses pemberdayaan merupakan sebuah proses
secara kolektif sebagai media intervensi pengetahuan dan
keterampilan yang digunakan untuk meningkatkan kesadaran
dan perubahan sikap untuk memecahkan masalah. Ketiga,
pendayaan. Pendayaan adalah pemberian daya dan kekuatan
kepada target yang disesuaikan dengan kualitas kecakapan
yang dimiliki masyarakat. Masyarakat diberikan daya dengan
memberikan kesempatan sesuai dengan potensinya masing-
masing
312
Sedangkan menurut Moris dan binstock dalam Nasdian
(2014) memperkenalkan tiga perencanaan dan aksi
pengembangan masyarakat, perencanaan atau aksi ini
dilaksanakan melalui ;
1. Modifikasi pola sikap dan perilaku dengan
pendidikan
2. Megubah kondisi social dengan mengubah kebijakan
– kebijakan organisasi formal
3. Reformasi peraturan dan sistem fungsional suatu
masyarakat
314
pendamping dari luar dapat membantu mereka
mengembangkan sebuah system.
4) Mobilisasi sumber, merupakan sebuah metode untuk
menghimpun sumber-sumber individual melalui
tabungan regular dan sumbangan sukarela dengan
tujuan menciptakan modal [Link] ini didasari
pandangan bahwa setiap orang memiliki sumbernya
sendiri yang, jika dihimpun, dapat meningkatkan
kehidupan sosial ekonomi secara substansial.
5) Pembangunan dan pengembangan jaringan,
pengorganisasian kelompok-kelompok swadaya
masyarakat perlu disertai dengan peningkatan
kemampuan para anggotanya membangun dan
mempertahankan jaringan dengan berbagai sistem
sosial di sekitarnya. Jaringan ini sangat penting dalam
menyediakan dan mengembangkan berbagai akses
terhadap sumber dan kesempatan bagi peningkatan
keberdayaan masyarakat.
315
c. Faktor Penghambat Potensi Komunitas
Implementasi setiap kegiatan di masyarakat tidak selalu
mulus. Hambatan baik yang bersifat internal maupun
bersifat ekternal sering muncul. Beberapa hambatan yang
sering dihadapi di lapangan antara lain kurangnya kesadaran,
pengetahuan, pengenalan konsep diri masyarakat khususnya
kader dalam melakukan kegiatan yang berhubungan dengan
pemberdayaan masyarakat (Reskiaddin et al., 2020). Oleh
karena itu telah ditegaskan di awal bahwa penting sekali
untuk melibatkan masyarakat mulai dari tahap perencanaan.
Hal ini diasumsikan dapat mengurangi atau mencegah
hambatan-hambatan yang mungkin muncul pada saat
kegiatan berlangsung.
Sebenarnya ada hal yang tidak kalah penting untuk
mengurangi hambatan yaitu dukungan stake holder.
Dukungan stake holder sangat bermakna siginifikan
terhadap kegiatan pemberdayaan. Masyarakat akan lebih
termotivasi untuk berpartisipasi apabila stake holder
memberikan dukungan penih.
Upaya pemberdayaan masyarakat perlu didasari
pemahaman bahwa munculnya ketidakberdayaan
masyarakat akibat masyarakat tidak memiliki kekuatan
316
(powerless). Faktor lain yang menyebabkan
ketidakberdayaan (powerless) adalah faktor ketimpangan,
ketimpangan yang sering terjadi di masyarakat ;
a. Ketimpangan struktural yang terjadi diantara
kelompok primer, seperti perbedaan kelas seperti
orang kaya dengan yan gmiskin, buruh dengan
majikan, ketidaksetaraan gender, perbedaan ras
maupn perbedaan etnis yang tercermin pada
perbedaan antara masyarakat local dengan pendatang
dan antara kaum mayoritas dengan minoritas
b. Ketimpangan berkelompok akibat perbedaan usia,
kalangan tua dengan muda, keterbatasan fisik, mental
dan intelektual, masalah lesbian, gay, biseksual, dan
transgender (LGBT), isolasi geografis dan social
(ketertinggalan dan keterbelakangan)
c. Ketimpangan personal akibat faktor kematian,
kehilangan orang-orang yang dicintai, personal
pribadi dan keluarga (Zubaedi, 2013)
318
Banyak pelaku komunitas yang masih memiliki
kurangnya kesadaran dalam aspek yang berhubungan
dengan bisnis ramah lingkungan. Kurangnya
kesadaran akan potensi pasar dan peluang yang
mungkin ada untuk bisnis ramah lingkungan
membuat para ecopreneur kesulitan dalam
memasarkan produk atau jasa mereka.
d. Limited public funding (terbatasnya pendanaan
publik)
Peran pendanaan publik dalam mempromosikan
kegiatan yang berkelanjutan cukup terbatas. Masalah
keuangan adalah masalah yang berkelanjutan bagi
pelaku komunitas baru maupun komunitas lama,
terutama untuk pelaku komunitas yang berkomitmen
untuk komunitas yang berkelanjutan atau jangka
panjang. Pemerintah harus memiliki skema
pendanaan untuk usaha baru dan tegas harus membuat
penyisihan ekstra untuk proyek, terutama sejak
mereka membantu mengurangi keseluruhan biaya
perlindungan lingkungan dan pembersihan
masyarakat.
319
Haryono, Wisadirana and Chawa, (2018) memiliki
pendapat yang juga berbeda dengan beberapa pendapat yang
sudah dipaparkan seebelumnya. Penulis menganalisa dan
membuat narasi ulang pendapat Haryono dan kawan-kawan,
bahwa faktor-faktor penghambat pengembangan potensi
adalah sebagai berikut;
a. Hubungan antar masyarakat dianggap masih kurang
b. Ilmu pengetahuan yang terus berkembang
c. Sikap masyarakat yang masih mempertahankan
konsep tradisional
d. Adanya kepentingan-kepentingan yang telah
tertanam dengan kuat
e. Rasa takut terjadinya kegoyahan pada integrasi
kebudayaan,
f. Prasangka negatif terhadap hal-hal baru atau asing,
g. Hambatan ideologis
h. Nilai pasrah kepada nasib
320
pengembangan potensi komunitas dalam penelitiannya
berhubungan dengan :
a. Pengelolaan sumber daya manusia yang kurang
memadai
b. Kurangnya dana
c. Kurangnya pemahaman didalam komunitas gerakan
pemuda
321
prasarana kegiatan dapat dipenuhi dan disesuaikan
dengan kebutuhan.
323
2) Jaringan Rantai adalah pola komuniksi yang terjadi
hanya pada anggota kelompok yang berada di
sampingnya.
3) Jaringan Y adalah pola komunikasi yang terjadi
serupa dengan jaringan rantai. Setiap anggota hanya
bisa berkomunikasi dengan satu orang anggota saja.
4) Jaringan lingkaran, komunikasi dengan anggota
komunikasi dapat dilakukan dengan dua orang
dikanan dan kirinya namun tidak dapat
berkomunikasi terbuka unutk setiap anggota
kelompok didalamnya (Mikke Setiawati and
Makkuraga Putra, 2021).
326
a. Anggota-anggota kelompok merasa terikat dengan
kelompok
b. Nasib anggota-anggota kelompok saling bergantung,
sehingga hasil setiap orang terkait dalam cara
tertentu dengan hasil yang lain
Riswandi mengatakan dalam (Soleh, 2019), bahwa ada
empat faktor situasional yang mempengaruhi efektifitas
komunikasi kelompok, diantaranya ukuran kelompok,
jaringan komunikasi, peran yang dimainkan oleh anggota
kelompok agar dapat membantu menyelesaikan tugas
kelompok, memelihara hubungan emosional dengan baik,
atau hanya mementingkan kepentingan individu saja.
Setiap peristiwa yang dialami akan menjadi sebuah
pengalaman bagi individu. Pengalaman yang diperoleh
mengandung suatu informasi atau pesan tertentu. Informasi
ini akan diolah menjadi pengetahuan. Dengan demikian
berbagai peristiwa yang dialami dapat menambah
pengetahuan individu. Suatu peristiwa yang mengandung
unsur komunikasi akan menjadi pengalaman komunikasi
tersendiri bagi individu, dan pengalaman komunikasi yang
dianggap penting akan menjadi pengalaman yang paling
327
diingat dan memiliki dampak khusus bagi individu tersebut
(Bosma, 2017).
Pengalaman yang dijadikan landasan bagi individu
untuk melakukan tindakan, adalah pengalaman yang
melekat pada suatu fenomena. Hal ini ditegaskan oleh
pernyataan yang menyebutkan, bahwa people is retrieving
a memory of a prior experience of phenomena (Bosma,
2017). Sementara Lori Kendall, menyatakan adanya ruang
lingkup komunitas pada dunia internet (Fathurokhmah and
Si, 2019). Terdapat empat factor yang muncul sebagai
karakter komunitas virtual, yaitu konteksnya eksternal,
struktur yang tidak tetap, tujuan kelompok atau minat yang
sama, dan karakteristik partisipannya. Jadi, selama keempat
hal tersebut ada dalam interaksi mereka dan berlangsung
terus-menerus, komunitas yang sifatnya virtualpun akan
terwujud.
328
DAFTAR PUSTAKA
330
Dzulfikar, A. (2018) ‘Pemberdayaan Komunitas Karang Taruna
dalam menciptakan Lingkungan Green And Clean di
Banyu Urip Kidul Vii Rt 07/Rw 03 Kecamatan Sawahan
Kelurahan Banyu Urip Kota Surabaya’. UIN Sunan Ampel
Surabaya.
Eliza, F. R., Ridwan, M. and Noerjoedianto, D. (2018) ‘Peran
Pemerintah Terhadap Program Pemberdayaan Komunitas
Adat Terpencil Suku Anak Dalam (SAD) Di Provinsi
Jambi Tahun 2018’, Jurnal Kesmas Jambi, 2(1), pp. 40–49.
doi: 10.22437/jkmj.v2i1.6538.
Epstein, J. L. (2010) ‘School/family/community partnerships:
Caring for the children we share’, Phi delta kappan, 92(3),
pp. 81–96.
Fahmi, S. C. (2020) ‘PEMBERDAYAAN EKONOMI
KOMUNITAS MUSLIM ( STUDI PADA MAJELIS TA ’
LIM AL- Silvina Choirotul Fahmi Institut Agama Islam
Negeri Ponorogo Luhur Prasetiyo Institut Agama Islam
Negeri Ponorogo’, 5.
Fathurokhmah, F. and Si, M. (2019) ‘KOMUNIKASI
KOMUNITAS VIRTUAL DAN GAYA HIDUP GLOBAL
KAUM REMAJA GAY DI MEDIA SOSIAL’, 23(1), pp.
40–52.
Haryono, D., Wisadirana, D. and Chawa, A. F. (2018) ‘Strategi
Pemberdayaan Komunitas Perempuan Miskin Berbasis
Agribisnis’, Advanced Optical Materials, 10(1), pp. 1–9.
Hasad, A. and Yulius, E. (2020) ‘Pengembangan Peran
Pemberdayaan Masyarakat Berbabis Komunitas’, Devosi,
1(2), pp. 28–31. doi: 10.33558/devosi.v1i2.2506.
331
Hermawan, Y. and Suryono, Y. (2016) ‘Partisipasi masyarakat
dalam penyelenggaraan program-program pusat kegiatan
belajar masyarakat Ngudi Kapinteran’, JPPM (Jurnal
Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat), 3(1), pp. 97–
108.
Herry Setyawan, W., Budiman, A., Septa Wihara, D., Setyarini,
T., & Nurdyansyah, R. (2019). R., & Barid Nizarudin
Wajdi, M.(2019). The effect of an android-based
application on T-Mobile learning model to improve
students’ listening competence. Journal of Physics:
Conference Series, 1175(1).
[Link]
6596/1175/1/012217/pdf
Hidayani, H. and Warsono, H. (2017) ‘Analisis Kemitraan
dalam Pengembangan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota
Semarang’, Journal Of Public Policy And Management
Review, 6(2), pp. 389–402.
Ismawati, N. R. (2020) ‘Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat
Melalui Badan Usaha Milik Desa (Bumdes)’, Lembaran
Masyarakat: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam, 6(1),
pp. 91–116.
Kasila, M. and Kolopaking, L. M. (2018) ‘Partisipasi pemuda
desa dalam perkembangan usaha Bumdes “Tirta Mandiri”’,
Jurnal Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
[JSKPM], 2(1), pp. 43–58.
Ketut, N. et al. (2017) ‘Mempertahankan Solidaritas Kelompok
( Studi pada KUTU Vespa Region Bali )’, E-Jurnal
Medium, 1(1), pp. 1–10.
332
Kusumadewi, A. R. and Hastasari, C. (2020) ‘Pola Komunikasi
Komunitas Cosplay Di Yogyakarta’, Journal of Scientific
Communication (Jsc), 2(2), pp. 85–99. doi:
10.31506/jsc.v2i2.8277.
Kusyairy, U. (2010) ‘Efektivitas pelatihan penyimpangan positif
terhadap peningkaatn perilaku sehat penyimpang positif
terkait prevensi hepatitis A’. Universitas Gadjah Mada.
Mardiharto, A. Z. (2017) ‘COSPLAY Fungsi Komunitas Cosura
bagi Para Anggotanya’, AntroUnairdotNet, VI(3), pp. 311–
324.
Margayaningsih, D. I. (2018) ‘Peran Masyarakat Dalam
Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat di Desa’, Jurnal
Publiciana, 11(1), pp. 72–88.
Maryani, D. and Nainggolan, R. R. E. (2019) Pemberdayaan
Masyarakat. Deepublish.
Mikke Setiawati and Makkuraga Putra, A. (2021) ‘Pola
Komunikasi Komunitas di Media Sosial Dalam
Menciptakan Minat Entepreneur’, Communications, 3(1),
pp. 43–57. doi: 10.21009/communications.4.1.3.
Molanorouzi, K., Khoo, S. and Morris, T. (2015) ‘Motives for
adult participation in physical activity: type of activity, age,
and gender’, BMC public health, 15(1), pp. 1–12.
Nasdian, F. T. (2014) Pengembangan Masyarakat. Yayasan
Pustaka Obor Indonesia.
Nel, H. (2015) ‘An integration of the livelihoods and asset-based
community development approaches: A South African case
study’, Development Southern Africa, 32(4), pp. 511–525.
333
Nel, H. (2018) ‘Community leadership: A comparison between
asset-based community-led development (ABCD) and the
traditional needs-based approach’, Development Southern
Africa, 35(6), pp. 839–851.
Pellicano, E., Dinsmore, A. and Charman, T. (2014) ‘What
should autism research focus upon? Community views and
priorities from the United Kingdom’, Autism, 18(7), pp.
756–770.
Preece, J. (2016) ‘Negotiating service learning through
community engagement: Adaptive leadership, knowledge,
dialogue and power’, Education as Change, 20(1), pp. 1–
22.
Pushpha, A. A. G. and Dananjaya, I. G. A. N. (2019) ‘Strategi
Pengembangan Kebun Raya Eka Karya Bali Sebagai
Obyek Wisata Di Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti,
Kabupaten Tabanan’, dwijenAGRO, 9(2), pp. 67–75.
Rahman, K. (2016) ‘Pemberdayaan Partisipasi Masyarakat
Dalam Pembangunan Desa’, WEDANA: Jurnal Kajian
Pemerintahan, Politik dan Birokrasi, 2(2), pp. 189–199.
Reskiaddin, L. O. et al. (2020) ‘Tantangan Dan Hambatan
Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pengendalian Penyakit
Tidak Menular di Daerah Semi-Perkotaan : Sebuah
Evidence Based Practice di Padukuhan Samirono, Sleman
Yogyakarta’, Jurnal Kesmas Jambi, 4(2), pp. 43–49. doi:
10.22437/jkmj.v4i2.10569.
Revans, R. (2017) ABC of action learning. Routledge.
Sahlberg, P. (2010) ‘Rethinking accountability in a knowledge
334
society’, Journal of educational change, 11(1), pp. 45–61.
Salahuddin, N. (2015) ‘Panduan KKN ABCD UIN Sunan
Ampel Surabaya Asset Based Community-Driven
Development (ABCD)’. LP2M UIN Sunan Ampel
Surabaya.
Shalahuddin, Y., Rahman, F., & Setyawan, W. H. (2021).
Pemodelan Simulasi Untuk Praktikum Teknik Otomasi
Industri Berbasis Matlab/Simulink Di SMKN 1 Kediri.
Jurnal Pelayanan Dan Pengabdian Masyarakat (Pamas),
5(1), 15–26.
[Link]
Setyawan, W. H. (2016). IMPLEMENTING THE DISTANCE
TRAINING FOR ENGLISH PRIMARY TEACHER IN
KEDIRI. Jurnal TEKPEN, 1(1).
[Link]
Shoshana, A. (2012) ‘Governmentality, new population and
subjectivity’, Subjectivity, 5(4), pp. 396–415.
Siska Devi Ratna Sari S. Kom. I., M. S. (2020) Fungsi Aset
Komunitas Dalam Pemberdayaan Masyarakat Muslim.
Profitebel.
Soleh, A.- (2019) ‘Pola Komunikasi Kelompok pada Komunitas
Pecinta Film Islami’, Anida (Aktualisasi Nuansa Ilmu
Dakwah), 19(1), pp. 17–34. doi:
10.15575/anida.v19i1.5037.
Srining Prapti, M., Trimeiningrum, E. and Irmawati, B. (2020)
‘Faktor Penghambat Dan Pemicu Menjadi Ecopreneur
Studi Pada Ikm Di Kota Semarang’.
335
Tandos, R. and Kalyanamitra, Y. (2021) ‘Strategi pemberdayaan
kader posyandu melalui pendampingan komunitas di
yayasan kalyanamitra’, 1(2), pp. 1–10.
Undang -Undang Republik Indonesia No.17 Tahun 2013 (2013).
Wilhite, B. and Shank, J. (2009) ‘In praise of sport: Promoting
sport participation as a mechanism of health among persons
with a disability’, Disability and Health Journal, 2(3), pp.
116–127.
Yeneabat, M. and Butterfield, A. K. (2012) ‘“We Can’t Eat a
Road:” Asset-Based Community Development and The
Gedam Sefer Community Partnership in Ethiopia’, Journal
of Community Practice, 20(1–2), pp. 134–153.
Zubaedi (2013) ‘BUKU PENGEMBANGAN MASYARAKAT
(1).pdf’, p. 270.
336
BIODATA PENULIS
Dr. Rika Nurhidayah, [Link]. [Link]
merupakan dosen di Fakultas Keperawatan
USU departemen Keperawatan Dasar.
Menyelesaikan pendidikan sarjana
keperawatan di Universiras Padjadjaran,
Bandung dan menyelesaikan program
magister dan doktor di Universitas Negeri
Medan
337
METODE ABCD
BAB 10
PENUTUP
BAB 10 PENUTUP
Asset Based Community Development atau lebih dikenal
dengan sebutan ABCD adalah sebuah usaha yang memastikan
bahwa kegiatan pembangunan masyarakat selayaknya
menempatkan posisi manusia dengan segala potensi dan aset
yang dimiliki berkembang sesuai dengan kapasitasnya.
Pendekatan ABCD digunakan sebagai usaha perbaikan kualitas
kehidupan manusia dengan pola pembangunan yang
menempatkan manusia menjadi pelaku utama. Pendekatan
ABCD adalah jenis pendekatan kritis yang masuk dalam lingkup
pengembangan masyarakat berbasis pada kekuatan dan aset
yang dimiliki oleh masyarakat. Selain itu, ABCD juga
merupakan pendekatan yang sangat menekankan kepada
kemandirian masyarakat dan terbangunnya sebuah tatanan
dimana warga yang aktif menjadi pelaku dan penentu
pembangunan. Di Indonesia sendiri, Pendekatan ABCD mulai
digunakan pada awal tahun 2013. Hal ini terbukti dengan
banyaknya perguruan tinggi yang melaksanakan kegiatan
pemberdayaan masyarakat melalui program Kuliah Kerja Nyata
338
METODE ABCD
339
METODE ABCD
Community Development.
342
METODE ABCD
BIODATA PENULIS
343
METODE ABCD
344