0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan8 halaman

Pemaafan dan Penerimaan Diri pada Anak Bercerai

Diunggah oleh

S Vaniiissa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan8 halaman

Pemaafan dan Penerimaan Diri pada Anak Bercerai

Diunggah oleh

S Vaniiissa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Proceding of Inter-Islamic University Conference on Psychology

Vol 1 No 1 (2021): Proceding of Inter-Islamic University Conference on Psychology


Articles

The Effects of Forgiveness and Self-


Acceptance on the Meaning of Life in Early
Adult Individuals with Divorced Parents:
Pengaruh Pemaafan dan Penerimaan Diri
terhadap Makna Hidup pada Individu
Dewasa Awal yang Memiliki Orang Tua
Bercerai
Farra Anisa Rahmania Universitas Islam Indonesia, Sleman
Kahfi Hizbullah Universitas Islam Indonesia, Sleman
Syarifah Na’imi Anisa Universitas Islam Indonesia, Sleman
Hepi Wahyuningsih Universitas Islam Indonesia, Sleman

The condition of an individual who has divorced parents will affect the meaning of his life. The
mean of individuals who live with divorced parents can be influenced by how individuals
forgive and accept their circumstances. This study aims to look at the relationship of
forgiveness, self-acceptance of the meaning of life in individuals who have divorced parents.
The sample of this study was 53 individuals with divorced parents. The researcher using a
scale of self-acceptance, a forgiveness scale, and a scale of the meaning of life. The research
hypotheses are: (1) there is an effect of self-acceptance on the meaning of life, (2) there is an
effect of forgiveness on the meaning of life, and (3) there is an effect of self-acceptance and
forgiveness simultaneously on the meaning of life. The results of this study are that there is an
effect of forgiveness on the meaning of life and simultaneously with self-acceptance it affects
the meaning of life of individuals who have divorced parents. This research is expected to be a
reference for scientific studies on individuals who have divorced parents.

Pendahuluan
Perceraian orang tua dapat dinilai sebagai salah satu peristiwa hidup yang paling menegangkan
hingga memunculkan trauma bagi kedua orang tua maupun anak. Bahkan hal tersebut dapat
mempengaruhi kualitas hubungan keluarga hingga dua dekade [2]. Perceraian di Indonesia setiap
tahunnya selalu meningkat, menurut Badan Pusat Statistik (2018) kasus perceraian di Indonesia
selalu meningkat setiap tahunnya dan pada tahun 2018 tercatat ada 408.202 kasus, atau meningkat
9% dari tahun sebelumnya. Dilansir dari [Link] [26] bahwa pada tahun 2019, angka
perceraian di Indonesia terkhusus untuk yang beragama Islam, mencapai 480.618 kasus,
sementara pada 2020, per Agustus 2020 telah terdapat 306.688. Hal ini dapat diartikan bahwa
jumlah perceraian di Indonesia rata-rata mencapai seperempat dari dua juta jumlah peristiwa
pernikahan dalam satu tahun sehingga dapat dikatakan bahwa peristiwa perceraian masih rentan
terjadi di Indonesia. Perceraian tentunya memiliki dampak terhadap anak. Penelitian sebelumnya
menunjukan bahwa anak yang tumbuh dewasa akan mengembangkan mekanisme koping yang
tidak sehat untuk mengurangi rasa sakit akibat perceraian orang tua atau melakukan self-harm
[17]. Kemudian juga ketika individu semakin dewasa akan mengalami kesulitan atau ketakutan
terkait pernikahan [21] dan memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mengalami perceraian juga
ketika menikah [3]. Dampak besar lainnya dari perceraian diantaranya dapat memicu tekanan,
stres bahkan depresi sehingga hal tersebut menimbulkan perubahan dari sisi psikologis maupun

Copyright © Author(s). This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution License (CC BY).
1/8
Proceding of Inter-Islamic University Conference on Psychology
Vol 1 No 1 (2021): Proceding of Inter-Islamic University Conference on Psychology
Articles

fisik [10], juga akan berdampak pada kepercayaan anak, memunculkan rasa tidak aman, dan
ketidakstabilan dalam diri (Pickhardt, 2011), selain itu juga munculnya masalah perilaku, dan
kemampuan sosial yang rendah (Fabricius & Luecken, 2007), serta konsep diri yang buruk (Culpin
et al., 2013).

Dampak negatif secara psikologis yang ditimbulkan dari kondisi keluarga yang bercerai yaitu
perasaan malu, rendah diri, sensitif serta sulit menerima dirinya sendiri, dan menarik diri dari
lingkungan [25]. Bukan hanya secara psikologis, namun perceraian orang tua dapat meningkatnya
kenakalan pada anak ketika tumbuh dewasa. Kenakalan yang dimaksud salah satunya adalah
konsumsi minuman beralkohol dan merokok [19], bahkan melakukan pelanggaran norma hukum
dan kejahatan seperti mengonsumsi narkotika hingga terlibat hubungan seks di luar nikah [30].
Perceraian orang tua juga dapat dapat mempengaruhi makna hidup pada diri individu. Musifuddin
dan Aturrohmah [22] menyebutkan bahwa perceraian orang tua dapat membuat individu terkadang
kehilangan makna atau tujuan hidupnya serta cenderung merasa hampa dan merasa kurang
berarti. Kebermaknaan hidup seringkali didapatkan setelah melewati proses panjang dalam
kehidupannya. Meskipun pada peristiwa perceraian orang tua, anak akan membutuhkan proses
yang lama dalam menemukan makna hidupnya. Maryeni [20] menyebutkan bahwa 3 orang
responden penelitiannya yang merupakan remaja dengan orang tua bercerai, telah mencapai tahap
realisasi dari makna hidup. Indiwara dan Kasturi [16] menemukan bahwa meskipun perceraian
orang tua menjadi suatu masa lalu yang tidak menyenangkan, individu masih memiliki
kemungkinan untuk dapat belajar dari kesalahan dan mengambil hikmah, serta memiliki keinginan
untuk dapat menjadi pribadi yang lebih baik.

Bagi manusia, dapat merasa memiliki kehidupan yang bermakna merupakan suatu hal yang penting
(Steger, Frazier, Oishi & Kaler, 2006). Menurut Frankl [12] makna hidup merupakan suatu hal yang
bersifat personal, unik, dan dianggap penting sehingga memberikan nilai bagi individu itu sendiri.
Aspek dari kebermaknaan hidup menurut Steger, dkk (2004) ialah penemuan makna atau
kehadiran makna dan pencarian makna. Pencarian makna berkaitan dengan kesungguhan
seseorang dalam mencari makna hidup yang lebih besar, sedangkan penemuan atau kehadiran
makna berkaitan dengan persepsi individu mengenai arti kehidupan yang telah ditemukan.
Kehadiran makna hidup sangat penting untuk membantu seseorang merasa puas dalam hidupnya
(Steger dkk, 2004). Makna hidup yang dimiliki oleh setiap individu akan berbeda-beda meskipun
individu tersebut memiliki suatu kondisi atau keadaan hidup yang sama dengan orang lain [29].
Oleh karena itu, walaupun terdapat beberapa anak yang sama-sama memiliki orang tua yang
bercerai namun makna hidup yang dimiliki akan berbeda-beda. Kebermaknaan hidup dapat dicapai
saat individu melakukan penerimaan diri, hal ini sejalan dengan hasil penelitian Dumaris & Rahayu
[11] bahwa penerimaan diri berhubungan positif dengan kebermaknaan hidup. Selain itu penelitian
Zhou & Xu [40] menyatakan bahwa penerimaan diri secara positif dapat memprediksi
kebermaknaan hidup. Proses penerimaan diri pada individu yang memiliki orang tua bercerai tidak
mudah karena orang tua yang memutuskan bercerai menjadi sisi negatif atau kekurangan dalam
kehidupan individu tersebut tersebut [14]. Penerimaan diri oleh seseorang merupakan bentuk
penerimaan secara utuh menerima dirinya dengan adanya kelebihan ataupun kekurangan pada
dirinya untuk dapat mencapai suatu kebahagiaan [6]. Penerimaan diri juga merupakan sikap yang
mencerminkan perasaan positif terhadap kenyataan yang ada pada dirinya sehingga mampu
menerima kelemahan dan kelebihan yang dimiliki [9].

Bukan hanya penerimaan diri, penelitian yang dilakukan oleh Tongeren et al [36] menemukan
faktor lain yang dapat mempengaruhi makna hidup, yaitu pemaafan. Yalcin dan Malkoc [39] juga
menyebutkan bahwa memaafkan seseorang dalam hubungan interpersonal sangat penting, karena
dengan merasa puas dengan hubungan dengan memaafkan, seseorang lebih mungkin untuk
memiliki kebermaknaan hidup yang tinggi. Pada kasus perceraian umumnya anak akan sulit
menerima kenyataan dan keadaan yang berubah pada keluarganya dengan menyalahkan orang tua
terhadap rasa sakit yang timbul akibat perceraian. Pada kondisi tersebut anak perlu melakukan
pemaafan pada kedua orang tuanya begitu juga dengan mengarahkan anak untuk memaafkan
dirinya sendiri [32]. Pemaafan merupakan proses dimana seseorang bersedia untuk meninggalkan

Copyright © Author(s). This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution License (CC BY).
2/8
Proceding of Inter-Islamic University Conference on Psychology
Vol 1 No 1 (2021): Proceding of Inter-Islamic University Conference on Psychology
Articles

hal-hal yang tidak menyenangkan dari suatu hubungan interpersonal dengan menumbuhkan dan
mengembangkan perasaan, pikiran maupun hubungan yang lebih positif dengan orang tersebut
[23]. Pemaafan dapat berfungsi untuk kembali membangun komitmen dan kedekatan suatu
hubungan dengan lawan konfliknya setelah peristiwa yang menyakitkan dengan cara
menghilangkan motivasi negatif antar pribadi, mengurangi rasa dendam, keinginan untuk
menghindari dan membantu individu untuk lebih bijak dalam bersikap [38]. Tongeren, dkk [36]
menyebutkan bahwa proses untuk meningkatkan kembali kebermaknaan hidup, dapat dilakukan
dengan memperbaiki hubungan melalui adanya pemaafan. Worhington Yalçın, İ., & Malkoç [39]
menyebutkan bahwa sikap memaafkan dapat mempengaruhi kesehatan fisik, mental, relasi dan
spiritual, serta meningkatkan kesejahteraan subjektif seseorang. Oleh karena itu, pentingnya juga
peran pemaafan dalam menemukan makna hidup pada individu yang telah melewati peristiwa
perceraian orang tuanya.

Pemaafan dan penerimaan diri ditemukan dibeberapa penelitian di atas dapat menjadi dua faktor
yang mempengaruhi kebermaknaan hidup seseorang. Beberapa penelitian meneliti secara terpisah
pengaruh kedua faktor tersebut terhadap makna hidup, terutama pada individu dewasa awal yang
memiliki orang tua bercerai. Hal tersebut menjadikan peneliti ingin mengetahui pengaruh
pemaafan dan penerimaan diri terhadap makna hidup. Berdasarkan uraian tersebut maka hipotesis
yang diajukan dari penelitian ini penelitian meliputi: (1) ada pengaruh penerimaan diri terhadap
makna hidup, (2) ada pengaruh pemaafan terhadap makna hidup, dan (3) ada pengaruh
penerimaan diri dan pemaafan secara simultan terhadap makna hidup.

Metode Penelitian
Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini merupakan 53 orang, yaitu 18 laki-laki dan 35 perempuan. Subjek tersebut
memiliki rentang usia 18-29 tahun dengan orang tua yang telah bercerai. Tingkat pendidikan dari
subjek, yaitu SMA, D1, D3, S1, dan S2.

Pengambilan Data

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan skala untuk mengukur makna hidup, yaitu Meaning Life
Questionnaire (MLQ) Scale dari Steger, Frazier, Oishi, dan Kaler (2006) dengan aspek search for
meaning dan presence of meaning. Skala makna hidup tersebut telah diadaptasi ke dalam bahasa
Indonesia [11]. Kemudian, nilai reliabilitas alat ukur makna hidup dalam penelitian ini sebesar
0.879, artinya alat ukur tersebut memiliki reliabilitas yang tinggi. Pada skala penerimaan diri, yaitu
Unconditional Self Acceptance Questionnaire (USAQ) disusun dari aspek yang dikemukakan oleh
Chamberlain dan Haaga [8], yaitu individu menerima diri tanpa syarat, individu menyadari bahwa
manusia memiliki kelemahan, inidvidu menyadari adanya hal positif dan negatif dalam diri, dan
individu menyadari diri sebagai pribadi yang berharga. Skala penerimaan diri tersebut telah
diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia [27]. Kemudian, nilai reliabilitas alat ukur penerimaan diri
dalam penelitian ini sebesar 0.710, artinya alat ukur tersebut memiliki reliabilitas yang tinggi.

Pada skala pemaafan, yaitu hasil adaptasi dan modifikasi Heartland Forgiveness Scale berdasarkan
aspek yang dikemukakan Thompson [35], yaitu pemaafan pada diri sendiri, pemaafan pada orang
lain, dan pemaafan pada situasi. Skala pemaafan tersebut telah diadaptasi ke dalam bahasa
Indonesia [1]. Kemudian, nilai reliabilitas alat ukur pemaafan dalam penelitian ini sebesar 0.888,
artinya alat ukur tersebut memiliki reliabilitas yang tinggi.

Analisis Data

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menguji variabel dan mengolah skor data
yang bersifat numerik yang diperoleh dari partisipan [13]. Analisis data dalam penelitian ini

Copyright © Author(s). This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution License (CC BY).
3/8
Proceding of Inter-Islamic University Conference on Psychology
Vol 1 No 1 (2021): Proceding of Inter-Islamic University Conference on Psychology
Articles

menggunakan metode analisis regresi berganda. Metode tersebut digunakan setelah mengetahui
hasil uji normalitas yang menunjukkan bahwa sebaran data normal. Analisis regresi berganda
digunakan untuk melihat korelasi lebih dari dua variabel.

Hasil dan Pembahasan


Makna Hidup Penerimaan Diri Pemaafan
Kategori Total % Total % Total

Sangat Rendah 10 18.9 11 20.8 11

Rendah 11 20.8 10 18.9 22

Sedang 14 26.4 13 24.5 10

Tinggi 8 15.1 11 20.8 10

Sangat Tinggi 10 18.9 8 15.1 11

Total 53 100 53 100 53

Table 1. Kategorisasi Subjek

Peneliti menemukan hasil yang menjelaskan sebaran persentase pada masing-masing variabel.
Pada Table 1 diketahui bahwa kategorisasi subjek terkait makna hidup memiliki persentase 18.9%
pada kategori sangat rendah, 20.8% pada kategori rendah, 26.4% pada kategori sedang, 15.1%
pada kategori tinggi, dan 18.9% pada kategori sangat tinggi. Kemudian, Table 1 menjelaskan
bahwa kategorisasi subjek terkait penerimaan diri memiliki persentase 20.8% pada kategori sangat
rendah, 18.9% pada kategori rendah, 24.5% pada kategori sedang, 20.8% pada kategori tinggi, dan
15.1% pada kategori sangat tinggi. Sementara itu, pada Table 1 juga diketahui bahwa kategorisasi
subjek terkait pemaafan memiliki persentase 20.8% pada kategori sangat rendah, 41.5% pada
kategori rendah, 18.9% pada kategori sedang, 18.9% pada kategori tinggi, dan 20.8% pada
kategori sangat tinggi. Berdasarkan beberapa tabel tersebut peneliti dapat mengetahui sebaran
persentase pada setiap kategori di masing-masing variabel.

Kemudian, pada penelitian ini, peneliti melakukan beberapa uji asumsi, sebelum melakukan uji
hipotesis menggunakan analisis regresi berganda. Uji asumsi yang dilakukan adalah uji normalitas,
linearitas. heteroskedastisitas, dan multikolinearitas [18] Hasil uji asumsi dari penelitian ini
menunjukkan bahwa ketiga variabel penelitian, yaitu penerimaan diri, pemaafan, dan makna hidup
berdistribusi normal, dengan p > 0.05, yaitu 0.2. Uji normalitas tersebut berfungsi untuk menguji
apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual mempunya distrubusi normal
sehingga apabila terjadi pelanggaran asumsi tersebut maka uji statistic menjadi tidak valid untuk
jumlah sampel kecil [18]. Pada uji linearitas, peneliti menemukan bahwa makna hidup dan

Copyright © Author(s). This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution License (CC BY).
4/8
Proceding of Inter-Islamic University Conference on Psychology
Vol 1 No 1 (2021): Proceding of Inter-Islamic University Conference on Psychology
Articles

penerimaan diri tidak memiliki hubungan linear yang signifikan dengan p > 0.05, yaitu 0.402. Akan
tetapi, pada makna hidup dan pemaafan memiliki hubungan linear yang signifikan dengan p <0.05
yaitu 0.000.

Peneliti melakukan diagnosis collinearity, dan menemukan bahwa pemaafan dan penerimaan diri
memiliki nilai Tolerance > 0.10 dan nilai VIF < 10.00 maka dapat diartikan bahwa tidak terjadi
multikolinieritas pada data penelitian tersebut. Uji multikolinieritas bertujuan untuk mengetahui
apakah model regresi memiliki korelasi yang tinggi antar variabel independen [18]. Peneliti juga
menemukan bahwa nilai Sig. antara pemaafan dan penerimaan dirip > 0.005 maka dapat
disimpulkan bahwa tidak terjadi gejala heteroskedastisitas pada data tersebut. Akan tetapi, pada
penerimaan diri p < 0.005 maka dapat disimpulkan bahwa terjadi gejala heteroskedastisitas
sehingga dapat diartikan bahwa data tersebut tidak memiliki varian yang sama. Selanjutnya,
peneliti melakukan uji hipotesis dengan menggunakan analisis regresi berganda. Pada penelitian
ini, terdapat tiga hipotesis penelitian, meliputi a) H1 yaitu terdapat pengaruh penerimaan diri
terhadap makna hidup, b) H2 yaitu terdapat pengaruh pemaafan terhadap makna hidup, dan c) H3
yaitu terdapat pengaruh penerimaan diri dan pemaafan secara simultan terhadap makna hidup.

ANOVA
t Sig. F Sig. R Square
Penerimaan Diri -3.061 .004 20.548 .000 .451
Pemaafan 6.301 .000 20.548 .000 .451
Table 2. Pengaruh Penerimaan Diri dan Pemaafan terhadap Makna Hidup

Pada pengujian hipotesis pada Tabel 2. dimana hipotesis pertama (H1), Sig. untuk pengaruh
penerimaan diri terhadap makna hidup adalah sebesar 0.004 < 0.05 dan nilai t hitung -3.061 < t
tabel 2.021, sehingga dapat disimpulkan bahwa H1 diterima, yaitu terdapat pengaruh variabel
penerimaan diri terhadap makna hidup. Kemudian, pada pengujian hipotesis kedua (H2), Sig. untuk
pengaruh pemaafan terhadap makna hidup adalah sebesar 0.000 < 0.05 dan nilai t hitung 6.301 > t
tabel 2.021, sehingga dapat disimpulkan bahwa H2 diterima, yaitu terdapat pengaruh variabel
pemaafan terhadap makna hidup. Selanjutnya, pada Tabel 2. pengujian hipotesis ketiga (H3)
diketahui nilai signifikansi untuk pengaruh pemaafan dan penerimaan diri secara simultan
terhadap makna hidup adalah sebesar 0.000 < 0.05 dan nilai F hitung 20.548 > F tabel 3.18
sehingga dapat disimpulkan bahwa H3 di terima, yang artinya terdapat pengaruh penerimaan diri
dan pemaafan secara simultan terhadap makna hidup. Pada Tabel 2. diketahui bahwa berdasarkan
nilai R square sebesar 0.451, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh variabel
penerimaan diri dan pemaafan secara simultan terhadap makna hidup sebesar 45.1%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh positif yang signifikan antara pemaafan dan
makna hidup individu dewasa awal dengan orang tua yang bercerai. Hal ini menunjukkan bahwa
seseorang yang telah mampu memaafkan dapat memiliki makna hidup meskipun dalam keadaan
memiliki orang tua yang telah bercerai. Pada kasus perceraian, umumnya anak akan menyalahkan
orang tua terhadap rasa sakit yang timbul akibat perceraian. Namun, menurut [32] pada kasus
tertentu, anak juga menyalahkan diri sendiri dan bahkan menganggap dirinya sebagai bagian
penyebab perceraian. Pada dasarnya, anak tidak hanya perlu melakukan pemaafan pada kedua
orang tuanya, namun yang jauh lebih penting adalahmemaafkan dirinya sendiri. Melalui pemaafan,
seseorang akan mampu mengurangi pikiran, perasaan dan perilaku negatif dalam diri dengan
mengubah sudut pandangnya menjadi lebih positif baik secara kognitif, emosional maupun perilaku
terkait pengalaman tidak menyenangkan di masa lalu maupun masalah serupa yang terjadi saat ini
[35], sehingga seseorang akan merasa lebih bermakna menjalani hidupnya [7].

Pemaafan dapat merubah persepsi, emosi, asosiasi mental, dan pemahaman akan makna dari
peristiwa yang telah dialaminya [32]. Pemaafan dapat menjadi salah satu cara untuk memfasilitasi
penyembuhan luka dalam diri seseorang dan antarpribadi yang bermusuhan dan menyakiti.
Pemaafan memiliki hubungan yang lebih kuat dengan makna dan tujuan hidup, spiritualitas

Copyright © Author(s). This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution License (CC BY).
5/8
Proceding of Inter-Islamic University Conference on Psychology
Vol 1 No 1 (2021): Proceding of Inter-Islamic University Conference on Psychology
Articles

danmoralitas dibandingkan dengan kesejahteraan [24]. Faktor yang dapat mempengaruhi


pemaafan adalah tipe kepribadian, religiusitas, kualitas hubungan dengan orang tua serta rasa
empati yang dimiliki oleh anak dari keluarga broken home [28]. Toussaint dan Webb [37]
menyatakan bahwa memaafkan mampu memperbaiki kesehatan kesehatan mental maupun
kesehatan secara spiritual. Kemudian, penerimaan diri juga berpengaruh secara signifikan
terhadap makna hidup individu yang memiliki orangtua bercerai. Hal ini sejalan dengan penelitian
sebelumnya oleh Satyaningtyas & Abdullah (2005) yang menyatakan bahwa penerimaan diri
memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap makna hidup. Menurut Bastaman [4]
penerimaan diri merupakan tahap awal agar individu dapat mengembangkan diri dari penghayatan
hidup tidak bermakna menjadi bermakna dan merupakan tahap paling penting. Selain itu, da Silva
dkk, (2018) menyampaikan bahwa dengan penerimaan diri seseorang akan lebih memperkecil
peluangnya terkena stres dan menyadari kelebihan yang masih ada dalam diri. Individu dengan
orang tua bercerai yang memiliki penerimaan diri akan berusaha menerima keadaanya dan
berfokus terhadap potensi positif yang dimiliki tanpa harus berlarut-larut dalam kesedihan.

Individu yang mampu menerima dirinya maka individu tersebut akan mampu memandang diri
secara realistis tanpa malu akan keadaanya, mengenali kelemahan dirinya tanpa harus
menyalahkan dirinya, dan menerima potensi dirinya tanpa menyalahkan dirinya atas kondisi yang
berada di luar kendali individu tersebut (Nurviana dkk, 2011). Oleh karena itu, dapat dikatakan
bahwa yang mempengaruhi kebermaknaan hidup salah satunya adalah rasa penerimaan dirinya.
Hal ini mengartikan bahwa semakin tinggi seseorang menerima kekurangan pada dirinya akan
meningkatkan kebermaknaan hidup dalam dirinya [31]. Semakin baik penerimaan diri maka
individu akan memiliki tingkat kesadaran yang lebih tinggi dalam memandang dan memahami
keadaan dirinya (Sari, 2002). Selain itu, Hurlock [15] juga mengemukakan bahwa ketika seseorang
menerima dirinya maka ia akan memiliki kemampuan menerima segala hal yang ada pada diri
sendiri baik kekurangan maupun kelebihan yang dimiliki, sehingga apabila terjadi peristiwa yang
kurang menyenangkan maka individu tersebut akan mampu berpikir logis tentang baik buruknya
masalah yang terjadi tanpa menimbulkan perasaan, permusuhan, perasaan rendah diri, malu, dan
rasa tidak aman.

Selain itu, penerimaan diri dan pemaafan secara simultan dapat mempengaruhi bagaimana makna
hidup dari individu yang memiliki orang tua bercerai. Jika proses penerimaan diri dan pemaafan
dilakukan secara bersamaan maka individu tersebut akan merasakan makna hidup yang lebih baik.
Terdapat penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa pemaafan dapat mempengaruhi makna
hidup [34], begitu juga dengan penerimaan diri yang dapat mempengaruhi makna hidup [11].
Berdasarkan hal tersebut, dalam penelitian ini menemukan hasil bahwa apabila pemaafan dan
penerimaan diri dapat dilakukan secara bersamaan maka individu yang memiliki orang tua yang
bercerai dapat lebih mudah untuk memaknai hidupnya.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa
pemaafan dan penerimaan diri memiliki pengaruh yang signifikan terhadap makna hidup pada
individu dewasa awal dengan orang tua bercerai. Begitu juga jika dilihat pengaruhnya secara
simultan, penerimaan diri dan pemaafan dapat secara simultan mempengaruhi makna hidup
individu dewasa awal yang memiliki orang tua bercerai. Saran untuk penelitian selanjutnya adalah
untuk meneliti lebih dalam faktor apa saja yang lebih besar dalam mempengaruhi makna hidup
individu dengan orang tua yang bercerai. Selain itu juga jumlah partisipan dalam penelitian
selanjutnya diharapkan akan lebih banyak daripada penelitian sebelumnya.

References
1. Afifah, F. A. (2018). Hubungan Antara Pemaafan dengan Kebahagiaan pada Remaja yang
Tinggal di Panti Asuhan. Skripsi, tidak diterbitkan. Universitas Islam Indonesia.

Copyright © Author(s). This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution License (CC BY).
6/8
Proceding of Inter-Islamic University Conference on Psychology
Vol 1 No 1 (2021): Proceding of Inter-Islamic University Conference on Psychology
Articles

2. Ahrons, C. R. (2007). Family ties after divorce: Long-term implications for children. Family
Process, 46(1), 53–65. [Link]
3. Amato, P. (1996). Explaining the intergenerational transmission of divorce. Journal of
Marriage and Family, 58, 628–640. [Link]
4. Bastaman, H. D. (1996). Meraih Hidup Bermakna Kisah Pribadi dengan Pengalaman Tragis.
Jakarta: Paramadina.
5. Bernard, M. E. (2013). Introduction to The Strength of Self-Acceptance: Theory, Theology
and Therapy. The Strength of Self-Acceptance. Theory, Practice and Research. New York:
Springer.
6. Bishop, A. J.. Randall, G. K., & Merten, M. J. (2014). Consideration of forgiveness to enhance
the health status of older male prisoners confronting spiritual, social, or emotional
vulnerability. Journal of Applied Gerontology, 33(8), 998–1017. DOI:
10.1177/0733464812456632.
7. Chamberlain, J. M., & Haaga, D. A. F. (2001). Unconditional self-acceptance and
psychological health. Journal of Rational Emotive & Cognitive Behavior Therapy, 19,
163–176. [Link]
8. Chaplin. J. P. (1999). Kamus Lengkap Psikologi. Penerjemah: Kartini Kartono. Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada.
9. Dagun, S. M. (1990). Psikologi Keluarga (Peranan Ayah dalam Keluarga). Jakarta: Rineka
Cipta.
10. Delinda, D. T. (2018). Perilaku Prososial dan Kebermaknaan Hidup pada Mahasiswa Jurusan
Psikologi Universitas Islam Indonesia. Skripsi, tidak diterbitkan. Universitas Islam
Indonesia.
11. Dumaris, S., & Rahayu, A. (2019). Penerimaan diri dan resiliensi hubungannya dengan
kebermaknaan hidup remaja yang tinggal di panti asuhan. IKRAITH-HUMANIORA: Jurnal
Sosial dan Humaniora, 3(1), 71-77.
12. Frankl, V. E. (2004). Mencari Makna Hidup: Man's Search for Meaning. Bandung: Penerbit
Nuansa.
13. Gravetter, F. J., & Forzano, L. B. (2011). Research Methods for the Behavioral Sciences 4th
ed. United States: Wadsworth, Cengage Learning.
14. Hadyani, I. A., & Indriana, Y. (2017). Proses penerimaan diri terhadap perceraian orang tua.
Jurnal Empati, 7(3), 303-312.
15. Hurlock, E. B. (2010). Psikologi Perkembangan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka.
16. Indiwara, A. P., & Kasturi, T. (2019). Kebermaknaan Hidup Anak Korban Perceraian.
Skripsi, tidak diterbitkan. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
17. Jackson, L. J., & Fife, S. T. (2018). The impact of parental divorce: The relationship between
social support and confidence levels in young adults. Journal of Divorce & Remarriage,
59(2), 123-140. [Link]
18. Janie, D. N. A. (2012). Statistik Deskriptif & Regresi Linear Berganda dengan SPSS.
Semarang: Semarang University Press.
19. Kristjansson, A. L., Sigfusdottir, I. D., Allegrante, J. P., & Helgason, A. R. (2009). Parental
divorce and adolescent cigarette smoking and alcohol use: assessing the importance of
family conflict. Acta Paediatrica, 98(3), 537-542.
[Link]
20. Maryeni, E. (2017) Makna Hidup pada Remaja Akhir Korban Perceraian. Skripsi, tidak
diterbitkan. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
21. Morrison, S. C., Fife, S. T., & Hertlein, K. M. (2017). Mechanisms behind prolonged effects
of parental divorce: A phenomenological study. Journal of Divorce & Remarriage, 58(1),
44–63. [Link]
22. Musifuddin, M., & Aturrohmah, A. (2019). Penggunaan logo-pro untuk meningkatkan makna
hidup siswa broken home SMPN 1 Suralaga. JKP (Jurnal Konseling Pendidikan), 3(1), 30-39.
23. Nashori, F. (2014). Psikologi Pemaafan. Yogyakarta: Safiria Insania Press.
24. Nashriyati, R. N., & Arjanggi, R. (2016). Peran pemaafan dan rasa syukur terhadap
kesejahteraan spiritual pada santri remaja pondok pesantren. Proyeksi: Jurnal Psikologi,
11(1), 77-92.

Copyright © Author(s). This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution License (CC BY).
7/8
Proceding of Inter-Islamic University Conference on Psychology
Vol 1 No 1 (2021): Proceding of Inter-Islamic University Conference on Psychology
Articles

25. Papalia, D. E., Olds, S. W., & Feldman, R. D. (2009). Human Development. Perkembangan
Manusia. Ed. 10. Buku I. Jakarta: Salemba Humanika.
26. Prihatin, I. U. (2020). Kemenag Sebut Angka Perceraian Mencapai 306.688 per Agustus
2020. [Link]. [Link]
[Link]
27. Rohma, N. A. (2019). Hubungan Penerimaan Diri pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di
Poli Penyakit Dalam Rumah Sakit Tingkat III Baladhika Husada Jember. Skripsi, tidak
diterbitkan. Universitas Jember.
28. Safitri, A. M. (2017). Proses dan faktor yang mempengaruhi perilaku memaafkan pada
remaja broken home. PSIKOBORNEO, 5(1), 152-161.
29. Salikhova, N. R. (2014). Correlation of meaningfulness of life to psychological time in
personality. Asian Social Science, 10(19), 291–295. [Link]
30. Saripuddin, M. (2009). Hubungan Kenakalan Remaja dengan Fungsi Sosial Keluarga.
Jakarta: EGC.
31. Setyaningtyas, R., & Abdullah, S. M. (2005). Penerimaan diri dan kebermaknaan hidup
penyandang cacat fisik. Jurnal Psiko-Buana, 3(2), 1-13.
32. Setyawan, I. (2007). Membangun Pemaafan pada Anak Korban Perceraian. Proceeding
Konferensi Nasional 1 IPK-HIMPSI: Stress Management dalam Berbagai Setting Kehidupan.
Diakses dari [Link]
33. Snyder, C. R., & Lopez, S. J. (2003). Introduction of a New Model of Forgiveness:
Measurement & Intervention. U.S: University of Kansas.
34. Steven, Y., & Sukmaningrum, E. (2018). Pemaafan pada istri dewasa muda yang suaminya
pernah berselingkuh. Jurnal Psikologi Ulayat: Indonesian Journal of Indigenous Psychology,
5(1), 1-27. [Link]
35. Thompson, L. Y., Snyder, C. R, Hoffman, L., Michael, S. T., Rasmussen, H. N., Billings, L.
S,...Roberts, D. E. (2005). Dispositional forgiveness of self, other, and situation. Journal of
Personality, 73 (2), 313-359
36. Tongeren, V. D. R., Green, J. D., Hook, J. N., Davis, D. E., Davis, J. L., & Ramos, M. (2015).
Forgiveness increases meaning in life. Social Psychological and Personality Science, 6(1),
47-55.
37. Toussaint, L., & Webb, J. R. (2005). Gender differences in the relationship between empathy
and forgiveness. The Journal of Social Psychology, 145(6), 673–685.
[Link]
38. Tsang, J. A., McCullough, M. E., & Fincham, F. D. (2006). The longitudinal association
between forgiveness and relationship closeness and commitment. Journal of Social and
Clinical Psychology, 25(4), 448-472. [Link]
39. Yalçın, İ., & Malkoç, A. (2014). The relationship between meaning in life and subjective well-
being: Forgiveness and hope as mediators. Journal of Happiness Studies, 16(4), 915–929.
40. Zhou, Y., & Xu, W. (2018). Short report: the mediator effect of meaning in life in the
relationship between self-acceptance and psychological wellbeing among gastrointestinal
cancer patients. Journal Psychology, Health, & Medicine, 24(6), 725-731.
[Link]

Copyright © Author(s). This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution License (CC BY).
8/8

Powered by TCPDF ([Link])

Anda mungkin juga menyukai