0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan6 halaman

Fabel Anak: Gajah dan Semut

fabel

Diunggah oleh

truedicom official
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan6 halaman

Fabel Anak: Gajah dan Semut

fabel

Diunggah oleh

truedicom official
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

GAJAH DAN SEMUT

Penulis: Khusnia | sumber : [Link]

Gajah dikenal sebagai binatang yang besar. Suatu hari, kawanan gajah yang besar datang ke hutan untuk
mencari [Link] gajah ini mengganggu kawanan semut yang tinggal di sana. Banyak rumah semut
hancur karena diinjak gajah yang mencari makan.

"Pergilah dari sini, gajah! Ini daerah tempat kami tinggal," kata salah satu semut.

Mendengar ucapan itu, gajah hanya tertawa. Ia tak peduli dan menganggap semut adalah binatang kecil yang
tidak berbahaya. Kawanan semut merasa kesal dan berencana untuk mengusir gajah-gajah itu dari hutan
tempat mereka tinggal. Keesokan harinya, semut-semut mencoba bicara pada kawanan gajah dan meminta
mereka meninggalkan hutan.

Gajah menolak untuk meninggalkan hutan dan hal ini membuat kawanan semut semakin marah. Semut-
semut itu pun menyerang kawasan gajah dengan menggigit kulit dan masuk ke dalam telinga hingga gajah-
gajah terjatuh. Kawanan gajah akhirnya menyerah dan meninggalkan hutan. Mereka sadar bahwa semut-
semut itu tidak bisa diremehkan hanya karena memiliki badan kecil.

Dibalik kisah gajah dan semut ini, tersimpan pesan moral yang bisa diajarkan pada anak-anak. Bunda bisa
menjelaskan bahwa kita tidak boleh meremehkan orang lain dan merasa kuat karena memiliki tubuh besar.
KANCIL CERDIK DAN BUAYA
Penulis: Khusnia | sumber : [Link]

Dongeng ini menceritakan kisah kancil kelaparan yang bertemu buaya di tepi sungai. Kancil berteriak dan
mengganggu tidur buaya-buaya. "Hai kancil, diam kau! Kalau tidak, aku makan nanti kamu," kata salah satu
buaya.

Kancil mengatakan bahwa dia datang ke tepi sungai untuk menyampaikan pesan dari raja hutan. Ia
mengatakan bahwa raja hutan ingin memberikan hadiah pada mereka. Kancil lalu meminta buaya-buaya di
sungai berkumpul. Ia mulai menghitung buaya di sungai lalu kabur. Berkat kecerdikannya, dia berhasil lolos
dari buaya-buaya yang lapar.

Cerita kancil dan buaya ini mengajarkan kita tentang kecerdikan yang disalahgunakan. Bunda bisa
mengajarkan si kecil untuk tidak berbohong dan menyalahgunakan kecerdikan yang bias merugikan orang
lain.
BAU MULUT SANG RAJA HUTAN
Penulis: Khusnia | sumber : [Link]

Di sebuah hutan, Singa adalah penguasa hutan. semua binatang sangat menghormatinya. Ia adalah Raja yang
sangat bijak dan perkasa. Sehingga, tidak ada binatang yang berani kepadanya. Suatu hari, sang Raja hutan
mendapatkan sebuah kiriman daging dari hutan sebelah. daging tersebut sangat lezat dan Raja pun
melahapnya. Namun, setelah selesai makan. Ia merasa mulutnya sangat bau dan ternyata daging tersebut
dicampuri dengan petai. Sang Raja pun terdiam di dalam rumah dan tidak pergi kemana pun karena merasa
sangat malu. Namun, tidak lama kemudian. Ia pun mendapatkan sebuah ide dan ingin menguji seluruh
rakyatnya tentang bagaimana ia memimpin selama ini. Akhirnya, ia pun memanggil tiga binatang dari hutan
yaitu, Katak, Kuda, dan Kancil.

‘’ Hai Katak, apakah kau tahu mengapa. Aku panggil kesini?’’ Tanya sang Raja. Katak pun hanya
menggelengkan kepalanya. ‘’ Mendekatlah. Ada hal yang ingin aku tanyakan.’’ Ujar sang Raja. ‘’ Apakah
mulutku bau? Bisik Raja kepada Katak. Bau yang keluar dari mulut Raja tidak dapat Katak sembunyikan
dan dengan jujur namun takut. ‘’ Benar sekali Tuanku.’’ Ujar Katak ketakutan.

Mendengar hal tersebut membuat sang Raja sangat marah dan menganggap Katak tidak sopan. Raja pun
memanggil Kuda dan menanyakan hal yang sama. Namun, Kuda karena ketakutan menjawab tidak bau dan
murkalah sang Raja. Raja sangat marah karena Kuda sudah berbohong. Kuda pun dimarahi oleh sang Raja.

Akhirnya, tibalah giliran Kancil dan memberikan pertanyaan yang sama. Kancil memang mencium bau yang
tidak sedap dari mulut sang Raja. Namun, ia sangat bimbang jika menjawab ia dan tidak karena jawabnya
pasti akan disalahkan. Tidak beberapa lama kemudian, ia mendapatkan sebuah ide. ‘’ Maaf Raja, kebetulan
hari ini saya sedang pilek sehingga tidak dapat mencium bau apapun.’’ Jawab Kancil berbohong. Sementara,
sang Raja hutan hanya tertawa mendengar jawaban Kancil dan tidak jadi memarahinya.

‘’ Kancil, kamu memang sangat cerdik. Jawaban mu itu sudah lolos dari kemarahanku. Sebagai hadiahnya
aku akan memberikan sayuran dari kebunku. Ambillah sepuasnya.’’ Ujar sang Raja Singa. Kancil pun
senang mendengar jawaban sang Raja dan pulang dengan membawa sayuran yang sangat banyak. Ia pun
tidak lupa membagikan sayuran tersebut kepada dua temannya Katak dan Kuda.
KELINCI SOMBONG DAN KURA-KURA
Penulis: Khusnia | sumber : [Link]

Dongeng ini menceritakan Kelinci yang sombong. Ia selalu membanggakan dirinya yang bisa berlari cepat.
Suatu hari, kelinci bertemu dengan kura-kura. Ia kaget karena kura-kura begitu lambat dalam berjalan. Ia
pun mulai menyombongkan diri dan mengolok-olok kura-kura.

Kura-kura berusaha tidak memedulikan ucapan kelinci. "Setiap hewan bergerak dengan langkahnya sendiri.
Saya mungkin lambat, tetapi saya bisa pergi kemana saka yang saya mau. Saya bahkan bisa mencapai tujuan
lebih cepat dari pada kamu," kata si kura-kura. Kelinci tidak percaya dengan perkataan kura-kura. Dia pun
menantang kura-kura lomba lari. Keduanya pun setuju untuk lomba lari.

Saat lomba, kelinci berlari kencang, memimpin, dan meninggalkan kura-kura jauh di belakang. Ia yakin bisa
menang, sehingga berhenti lari dan beristirahat sejenak. Tanpa disadari, kelinci justru tertidur lelap dan tak
mengetahui bahwa kura-kura sudah membalapnya.

Saat dia bangun, kelinci begitu kaget karena kura-kura sudah sampai di garis finish. Si kelinci menghela
napas, sementara kura-kura tersenyum ke arahnya. Dongeng kura-kura dan kelinci ini memiliki pesan moral
agar anak tak menganggap remeh orang lain. Kita juga bisa mengajarkan mereka untuk tidak sombong dan
selalu rendah hati.

Nah, Sobat, segitu dulu nih materi mengenai cerita fabel. Ternyata mudah, bukan? Selain materi cerita fabel,
kalian juga bisa belajar tentang materi-materi Bahasa Indonesia yang lebih lengkap melalui aplikasi Aku
Pintar di fitur Belajar Pintar mata pelajaran Bahasa Indonesia. Sampai bertemu di pembahasan berikutnya,
Sobat Pintar!
Belalang Sembah
Sumber: [Link]

Suatu hari di sebuah kebun anggur, tinggalah keluarga Semut yang jumlah anggotanya sangat banyak.
Semut ini membangun sarangnya dari daun-daun yang direkatkan menggunakan cairan, seperti lem yang
mereka keluarkan dari mulut. Para Semut melihat bahwa musim gugur akan segera berlalu dan musim
dingin yang cukup panjang akan segera datang. Ketika musim dingin makanan akan sangat sulit didapatkan
maka para Semut itu segera mencari berbagai makanan untuk mereka kumpulkan sebagai bahan persediaan
ketika musim dingin tiba.

Berbeda halnya dengan seekor Belalang Sembah, Belalang Sembah memiliki mata yang besar dan tangan
yang panjang. Mereka sering hidup di pohon-pohon seperti halnya para Semut. Ketika musim dingin akan
tiba, Belalang Sembah hanya berlatih menari setiap hari.

Sang Belalang lupa bahwa dia harus mengumpulkan makanan untuk persiapannya menghadapi musim
dingin.

Suatu hari sang Belalang Sembah menari di dekat sarang Semut. Dia menari dengan sangat anggun. Gerakan
tangan dan badannya yang pelan dan lembut membuat tariannya terlihat sangat mengagumkan. Para Semut
melihat sang Belalang Sembah menari, tetapi mereka tidak menghiraukan tarian indahnya itu karena mereka
memiliki tugas yang sangat penting.

Sang Belalang yang sedang menari melihat para Semut berjalan dengan membawa makanan untuk dibawa
ke sarangnya. Sang Belalang Sembah heran dengan apa yang dilakukan Semut lalu dia bertanya kepada
salah satu Semut tentara yang sedang berjaga di dekat para Semut pekerja.

“Kenapa kalian membawa makanan yang sangat banyak itu masuk ke sarang kalian?” sang Semut
menjawab, “Kami melakukannya agar kami tidak kelaparan saat musim dingin tiba.” Lalu sang Belalang
kaget, “Musim dingin?” kata sang Belalang Sembah dengan kagetnya, “tenang aja masih lama, lebih baik
kita bersenang-senang saja dulu,” kata sang Belalang. Semut tak menghiraukan Belalang. Semut tetap tekun
mengumpulkan makanan.

Musim dingin tiba. Belalang belum sempat mengumpulkan makanan karena sibuk menari. Belalang
kelaparan dan lari ke rumah Semut. Ia meminta makanan kepada Semut. Semut awalnya tidak mau
memberikan makanannya karena takut kehabisan. Akan tetapi, melihat belalang lemas kelaparan, Semut
tidak tega dan memberikan makanannya kepada Belalang. Belalang pun kembali bugar dan dia berjanji
untuk dapat mengelola waktu dengan baik sehingga tidak berakibat buruk. Masa depan adalah milik setiap
orang. Maka setiap orang perlu menyiapkan masa depannya dengan berusaha. Bukan hanya menikmati
kesenangan di masa sekarang tanpa memikirkan masa depan.
Kuda Berkulit Harimau

Sumber: [Link]

Seekor Kuda sedang berjalan dari sebuah ladang gandum menuju sebuah hutan yang lebat. Kuda itu telah
puas memakan gandum yang ada di ladang itu. Dia tampak gembira karena tidak ada petani gandum yang
menjaga ladangnya.

Ketika dia menuju hutan lebat, di tengah jalan Kuda itu melihat sesuatu, “Itu seperti kulit Harimau,” gumam
Kuda itu. Kuda itu lalu mendekatinya dan ternyata memang benar apa yang dilihatnya adalah kulit Harimau
yang tak sengaja ditinggalkan oleh para pemburu Harimau. Kuda itu mencoba memakai kulit Harimau itu,
“Wah, kebetulan sekali, kulit Harimau ini sangat pas di tubuhku. Apa yang akan kulakukan dengannya, ya?”

Terlintaslah di benak Kuda itu untuk menakuti binatang-binatang hutan yang melewati dirinya. “Aku harus
segera bersembunyi. Tempat itu harus gelap dan sering dilalui oleh binatang hutan. Di mana ya?” tanya
Kuda dalam hati sambil mencari tempat yang cocok. Akhirnya, dia menemukan semak-semak yang cukup
gelap untuk bersembunyi, lalu masuk ke dalamnya dengan menggunakan kulit Harimau. Tak lama
kemudian, beberapa Domba gunung berjalan ke arahnya. Kuda itu menggumam bahwa Domba-domba itu
cocok dijadikan sasaran empuk kejahilannya.

Ketika Domba-domba itu melewatinya, Kuda itu meloncat ke arah mereka sehingga sontak Domba-domba
itu kalang-kabut melarikan diri. Mereka takut dengan kulit Harimau yang dikenakan Kuda itu. “Tolong, ada
Harimau! Lari, cepat lari!” teriak salah satu Domba. Kuda itu tertawa terbahak-bahak melihat Domba-
domba itu pontang-panting berlari.

Setelah itu, Kuda segera kembali bersembunyi di dalam semak-semak. Dia menunggu hewan lain datang
melewati semak-semak itu. “Ah, ada Tapir menuju kemari, tapi lambat betul geraknya. Biarlah, aku jadi bisa
lebih lama bersiap-siap melompat!” kata Kuda itu dalam hati. Tibalah saat Kuda itu meloncat ke arah Tapir
itu, ia terkejut dan lari tunggang-langgang menjauhi Kuda yang memakai kulit Harimau itu. Kuda itu
kembali ke semak-semak sambil bersorak penuh kemenangan di dalam hatinya.

Kali ini, Kuda itu menunggu lebih lama dari biasanya, tetapi hal itu tidak membuatnya bosan. Tiba-tiba,
seekor Kucing Hutan berlari sambil membawa seekor Tikus di mulutnya. Kucing itu tidak melewati semak-
semak, Kucing Hutan itu duduk menyantap Tikus yang ia tangkap di dekat pohon besar.

“Ah, ternyata Kucing itu tidak melewati semak-semak ini. Biarlah aku membuatnya kaget di sana,” kata
Kuda itu dalam hati. Kuda itu pun keluar dari semak-semak dan berjalan hati-hati mendekati Kucing Hutan.
Saat jaraknya sudah sangat dekat dengan Kucing Hutan, Kuda itu mengaum seperti halnya seekor Harimau,
tetapi dia tidak sadar bahwa bukannya mengaum, dia malah meringkik. Mendengar suara itu, Kucing Hutan
menoleh ke belakang dan melihat seekor Kuda berkulit Harimau. Sesaat, Kucing Hutan itu siap-siap
mengambil langkah seribu, tetapi ia malah tertawa terbahak-bahak sembari berkata, “Saat aku melihatmu
memakai kulit Harimau itu, aku pasti akan lari ketakutan, tapi rupanya suaramu itu ringkikan Kuda, jadi aku
tidak takut, hahaha!” Kucing Hutan itu juga berkata kepada Kuda bahwa sampai kapan pun, suara
ringkiknya tidak akan bisa berubah jadi auman.

“Kuda Berkulit Harimau” itu melambangkan bahwa sepandai-pandainya orang berpura-pura, suatu saat akan
terbongkar juga kepura-puraannya itu. Kejujuran merupakan sikap yang paling indah di dunia ini.

Anda mungkin juga menyukai