KATA PENGANTAR
Ungkapan puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami selaku penyusun Rencana Keselamatan
Konstruksi (RKK) dapat menyelesaikannya dengan baik. Dokumen ini berisi pentingnya
pekerja/pelaku konstruksi memiliki pemahaman mengenai Keselamatan Konstruksi. Rencana
Keselamatan Konstruksi ini bertujuan untuk untuk meningkatkan pengetahuan, keahlian,
keterampilan, dan sikap para pekerja/pelaku konstruksi di bidang Keselamatan Konstruksi,
agar memiliki kompetensi dasar dalam proses yang terjadi dalam pelaksanaan pekerjaan
konstruksi.
Dokumen ini adalah salah satu upaya untuk memberikan acuan terhadap Manajemen
Keselamatan Konstruksi. Kami menyadari bahwa dokumen ini masih banyak kekurangan
dan kelemahannya, baik pada isi, bahasa, maupun penyajiannya. Kami sangat mengharapkan
adanya tanggapan berupa kritik dan saran guna penyempurnaan dokumen ini. Semoga
dokumen ini bermanfaat khususnya bagi para pekerja/pelaku konstruksi.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua Pihak terkait atas bantuan dan
kerjasamanya yang baik. Semoga dokumen ini dapat memberikan manfaat bagi kelancaran
proses pelaksanaan pekerjaan konstruksi, sehingga keinginan untuk mewujudkan para
pekerja/pelaku konstruksi yang profesional dan memiliki kompetensi yang handal
dapat dicapai dengan baik.
Sumatera Selatan, 05 Nopember 2020
PT. GUNUNG MAS INDAH LESTARI
IBNU AKIL
Direktur
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
PENDAHULUAN
Latar Belakang
A. Kepemimpinan dan Partisipasi Pekerja dalam Keselamatan Konstruksi
A.1. Kepedulian pimpinan terhadap Isu eksternal dan internal
A.2. Komitmen Keselamatan Konstruksi
B. Perencanaan keselamatan konstruksi
B.1. Identifikasi bahaya, Penilaian risiko, Pengendalian dan Peluang
B.2. Rencana tindakan (sasaran & program)
B.3. Standar dan peraturan perundangan
C. Dukungan Keselamatan Konstruksi
C.1. Sumber Daya
C.2. Kompetensi
C.3. Kepedulian
C.4. Komunikasi
C.4.1. Protokol Pencegahan Covid-19
C.5. Informasi Terdokumentasi
D. Operasi Keselamatan Konstruksi
D.1. Perencanaan dan Pengendalian Operasi
D.2. Kesiapan dan Tanggapan Terhadap Kondisi Darurat
E. Evaluasi Kinerja Keselamatan Konstruksi
E.1. Pemantauan dan evaluasi
E.2. Tinjauan manajemen
E.3. Peningkatan kinerja keselamatan konstruksi
F. Protokol Pencegahan Covid - 19
F.1. Pencegahan Covid-19 di Proyek Konstruksi
F.2. Pembentukan Satgas Pencegahan COVID-19
F.3. Penyediaan Fasilitas Kesehatan di Lapangan
F.4. Pelaksanaan Pencegahan COVID-19 di Lapangan
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Penerapan Rencana Keselamatan Konstruksi (RKK) dan Sistem Manajemen Keselamatan
Konstruksi (SMKK) merupakan bagian dari sistem manajemen pelaksanaan Pekerjaan
Konstruksi dalam rangka menjamin terwujudnya Keselamatan Konstruksi. Keselamatan
Konstruksi diartikan segala kegiatan keteknikan untuk mendukung Pekerjaan Konstruksi
dalam mewujudkan pemenuhan standar keamanan, keselamatan, kesehatan dan keberlanjutan
yang menjamin keselamatan dan kesehatan tenaga kerja keselamatan publik, harta benda,
material, peralatan, konstruksi dan lingkungan. SMKK ini mengadopsi ISO 45001:2018
dengan beberapa penyesuaian, khususnya di sektor jasa konstruksi Indonesia pasca-terbitnya
Undang-Undang No. 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi. Undang-Undang No. 2
Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi, mengamanatkan pada pasal 3, bahwa tujuan
penyelenggaraan jasa konstruksi diantaranya memberikan arah pertumbuhan dan
perkembangan Jasa Konstruksi untuk mewujudkan struktur usaha yang kukuh, andal,
berdaya saing tinggi, dan hasil Jasa Konstruksi yang berkualitas.
A. Kepemimpinan dan Partisipasi Pekerja dalam Keselamatan Konstruksi
A.1. Kepedulian pimpinan terhadap Isu eksternal dan internal
Kepedulian pimpinan terhadap Isu eksternal dan internal:
1. Bertanggung jawab penuh terhadap pencegahan kecelakaan kerja, penyakit atau
kesehatan yang buruk akibat kerja, serta penyediaan tempat kerja dan
lingkungan yang aman, efisien dan produktif;
2. Memastikan bahwa kebijakan dan program keselamatan konstruksi yang
ditetapkan sesuai dengan visi dan misi Penyedia Jasa;
3. Memastikan ketersediaan sumber daya yang memadai untuk menerapkan RKK
dan SMKK;
4. Mengomunikasikan penerapan RKK dan SMKK kepada seluruh pekerja;
5. Memastikan bahwa RKK dan SMKK akan mencapai hasil sesuai dengan yang
direncanakan;
6. Memastikan bahwa setiap pekerja berpartisipasi dan berkontribusi terhadap
penerapan RKK dan SMKK secara berdaya guna dan berhasil guna;
7. Mempromosikan peningkatan/perbaikan RKK dan SMKK secara
berkesinambungan;
8. Mengembangkan, dan mempromosikan budaya kerja berkeselamatan dalam
organisasi;
9. Melindungi pekerja yang melaporkan terjadinya kecelakaan, bahaya dan
risiko kecelakaan konstruksi dari pemecatan dan/atau sanksi lain.
A.2. Komitmen Keselamatan Konstruksi
a. Komitmen Terhadap Keselamatan Kerja
Pemenuhan terhadap peraturan dan standar Keselamatan, Kesehatan Kerja dan
Lingkungan (K3L) menjadi prioritas bagi PT. GUNUNG MAS INDAH
LESTARI untuk melindungi segenap karyawan, aset, data, properti perusahaan
serta lingkungan.
Upaya-upaya keselamatan kerja yang dilaksanakan pada suatu lingkungan kerja
merupakan tanggung jawab manajemen perusahaan beserta seluruh karyawan.
Karyawan pada konteks ini tidak hanya terbatas pada personil dari perusahaan
yang bersangkutan namun juga personil dari luar perusahaan seperti
halnya tamu, karyawan kontraktor, pekerja/tukang atau pun pemasok.
Dalam lingkungan PT. GUNUNG MAS INDAH LESTARI, keselamatan
karyawan menempati urutan teratas. Oleh karena itu, PT. GUNUNG MAS
INDAH LESTARI mengupayakan yang terbaik bagi karyawan dan
menciptakan lingkungan kerja yang kondusif bagi keselamatannya. Perusahaan
memastikan bahwa seluruh karyawan menjalankan tugasnya sesuai dengan
prosedur standar keselamatan yang sesuai dengan peraturan Perusahaan. PT.
GUNUNG MAS INDAH LESTARI mengembangkan budaya keselamatan yang
mendukung dan melibatkan peran aktif seluruh karyawan, subkontraktor, serta
pihak lain yang melaksanakan aktivitasnya di area proyek.
PT. GUNUNG MAS INDAH LESTARI mewajibkan seluruh karyawan yang
berada di lokasi proyek konstruksi untuk menggunakan standar Alat Pangaman
Diri (APD) seperti helm pelindung kepala, safety shoes, body harnes, rompi/vest
dan lain-lain sesuai dengan tingkat resiko pekerjaan dan hal ini merupakan
kewajiban yang harus dipatuhi demi keselamatan karyawan itu sendiri.
PT. GUNUNG MAS INDAH LESTARI senantiasa mewajibkan seluruh
subkontraktor yang bekerja di lingkungan proyek untuk mematuhi aspek-aspek
K3L/HSE.
Seluruh persyaratan K3L selalu diinformasikan sejak awal tender agar
subkontraktor memperhitungkan komponen biayanya. Rencana kegiatan
proyek yang telah dibuat subkontraktor dipresentasikan serta didiskusikan guna
menyamakan persepsi mengenai standar K3L/HSE. Para pekerja subkontraktor
diberikan panduan awal untuk membentuk pola pikir serta perilaku kerja
yang diharapkan mampu menjamin keselamatan karyawan di area lingkungan
proyek.
b. Komitmen Terhadap Kesehatan Kerja
Perusahaan memandang bahwa usaha untuk melaksanakan perlindungan
kesehatan kerja merupakan poin penting dalam melindungi karyawan agar hidup
sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan, serta dampak buruk yang
diakibatkan oleh suatu pekerjaan yang terkait dengan proyek
pembangunan suatu gedung. Untuk melaksanakan hal tersebut, perusahaan
memperhatikan kesehatan karyawan dengan menciptakan lingkungan kerja
yang sehat, di antaranya dengan melakukan pengukuran dampak suatu kegiatan
terhadap manusia serta lingkungan. Tindakan pencegahan terhadap gangguan
kesehatan karyawan dilakukan perusahaan dengan cara melaksanakan medical
check up yang dilakukan rutin setiap tahun bagi seluruh karyawan. Untuk
pekerja/tukang yang bekerja di dalam proyek, pemeriksaan kesehatan dilakukan
dengan bekerja sama dengan BPJS atau tenaga kesehatan setempat. Selain
itu, tindakan pencegahan juga dilakukan dengan menyediakan pos P3K yang
diwajibkan pada setiap lingkungan proyek. Antisipasi juga dilakukan untuk
menjaga kesehatan karyawan dengan mewajibkan menggunakan standar Alat
Pengaman Diri (APD). Kemudian dalam jangka waktu satu bulan sekali, proyek-
proyek juga melaksanakan pengasapan (fogging) di lingkungan proyek
agar senantiasa menciptakan lingkungan kerja yang baik untuk kesehatan
karyawan.
Untuk karyawan yang mengalami penurunan kesehatan, perusahaan
mengantisipasi dengan menunjuk dokter kesehatan kerja. Karyawan yang
mengalami ganguan kesehatan tersebut akan didata yang selanjutnya akan
dianalisis penyebab penurunan kesehatan tersebut, apakah diakibatkan oleh
keadaan lingkungan kerja atau yang lainnya sehingga perusahaan dapat
mengambil langkah-langkah yang diperlukan sebagai tindakan antisipatif agar
dikemudian hari penurunan kesehatan karyawan dapat dicegah.
c. Komitmen Terhadap Lingkungan
Perusahaan telah berkomitmen untuk menerapkan standar Sistem Manajemen
Lingkungan ISO 14001. Sistem ini merupakan standarisasi internasional
untuk Sistem Manajemen Lingkungan (SML) yang secara luas digunakan di
dunia. Sistem ini mengkhususkan pada persyaratan atas formulasi dan
pemeliharaan dari SML melalui tiga komitmen dasar yang mendukung kebijakan
lingkungan, antara lain:
Kesesuaian SML dengan undang-undang yang berlaku;
Pencegahan polusi dan limbah, serta;
Perbaikan SML yang berkelanjutan.
PT. GUNUNG MAS INDAH LESTARI senantiasa menggunakan komitmen-
komitmen tersebut guna memberikan panduan perbaikan kinerja lingkungan
secara keseluruhan, seperti menekan pengaruh negatif terhadap kinerja
operasional perusahaan pada lingkungan yang mencakup tanah, air, suara serta
udara.
Komitmen terhadap perlindungan lingkungan ini ditanamkan Perusahaan
terhadap setiap karyawan dan dituangkan dalam kebijakan lingkungandari
PT. GUNUNG MAS INDAH LESTARI. Kebijakan lingkungan ini merupakan
arahan untuk melakukan penerapan, pemeliharaan, pengembangan, perbaikan
serta pengelolaan lingkungan hidup guna menekan kemungkinan dampak
negatif, mengembangkan dampak positif, serta memanfaatkan sumber daya alam
secara bijak yang merupakan komitmen manajemen terhadap lingkungan.
Terkait limbah yang dihasilkan proyek konstruksi, Perusahaan mengadopsi
sistem manajemen lingkungan ISO 14001 yang terdapat ketentuan serta
pedoman terkait penanganan limbah. Limbah yang dihasilkan dari proyek
ditampung pada tempat tertentu yang tersedia dan dilakukan proses
pemilahan antara limbah cair dan padat. Kemudian pembuangan dilakukan
dengan bekerja sama dengan pihak ketiga yang mengolah limbah terutama
limbah yang mengandung zat B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun).
d. Fakta Komitmen Keselamatan Konstruksi
PAKTA KOMITMEN KESELAMATAN KONSTRUKSI
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : IBNU AKIL
Jabatan : Direktur
Bertindak untuk : PT. GUNUNG MAS INDAH LESTARI
Dalam rangka pengadaan Pekerjaan Konstruksi PEMBANGUNAN GEDUNG KANTOR
BBWS CITARUM berkomitmen melaksanakan konstruksi berkeselamatan demi terciptanya
Zero Accident, dengan memastikan bahwa seluruh pelaksanaan konstruksi :
1. Memenuhi ketentuan Keselamatan Konstruksi;
2. Menggunakan tenaga kerja kompeten bersertifikat;
3. Menggunakan peralatan yang memenuhi standar kelaikan;
4. Menggunakan material yang memenuhi standar mutu;
5. Menggunakan teknologi yang memenuhi standar kelaikan;
6. Melaksanakan Standar Operasi dan Prosedur (SOP); dan
7. Memenuhi 9 (sembilan) komponen biaya penerapan SMKK.
Sumatera Selatan, 05 Nopember 2020
PT. GUNUNG MAS INDAH LESTARI
IBNU AKIL
Direktur
B. Perencanaan Keselamatan Konstruksi
B.1 Identifikasi bahaya, Penilaian risiko, Pengendalian dan Peluang
Perencanaan keselamatan konstruksi meliputi:
a. Identifikasi dan penetapan isu-isu eksternal dan internal;
Isu eksternal seperti :
1) Lingkungan budaya, sosial, politik, hukum, keuangan, teknologi, ekonomi
dan alam serta persaingan pasar, baik internasional, nasional, regional maupun
lokal;
2) Pengenalan pesaing, kontraktor, subkontraktor, pemasok, mitra dan
penyedia jasa baru, teknologi baru, undang-undang baru dan pekerjaan
baru;
3) Pengetahuan baru tentang produk dan pengaruhnya terhadap kesehatan dan
keselamatan;
4) Dorongan dan kecenderungan utama yang terkait dengan industri atau
sektor yang berdampak pada Penyedia Jasa;
5) Hubungan, persepsi, dan nilai pihak eksternal yang berkepentingan;
6) Perubahan terkait dengan hal-hal di atas;
Isu internal seperti :
1) Tata kelola, struktur organisasi, peran dan akuntabilitas;
2) Kebijakan, tujuan, dan strategi pencapaiannya;
3) Kemampuan dan pemahaman dalam hal sumber daya, pengetahuan, dan
kompetensi (seperti modal, waktu, sumber daya manusia, proses, sistem, dan
teknologi);
4) Sistem informasi, arus informasi dan proses pengambilan keputusan (baik
formal maupun informal);
5) Pengenalan produk, bahan, layanan, peralatan, perangkat lunak, tempat, dan
peralatan baru;
6) Hubungan persepsi dan nilai-nilai pekerja;
7) Budaya dalam organisasi;
8) Standar, pedoman dan model yang diadopsi oleh Penyedia Jasa;
9) Bentuk dan tingkat hubungan kontraktual, termasuk, misalnya, kegiatan
yang dialihdayakan;
10) Pengaturan waktu kerja;
11) Kondisi kerja; dan
12) Perubahan yang terkait dengan hal-hal di atas.
b. Identifikasi dan penetapan kebutuhan dan harapan pihak yang berkepentingan;
c. Identifikasi bahaya serta penilaian risiko dan peluang keselamatan kerja;
Identifikasi bahaya dilakukan dengan mempertimbangkan:
1) Peraturan dan prosedur kerja, faktor sosial (termasuk beban kerja, jam kerja,
pelecehan dan intimidasi), kepemimpinan dan budaya dalam organisasi;
2) Kegiatan rutin dan non-rutin, termasuk bahaya yang timbul dari:
a) Kondisi prasarana, peralatan, material, zat berbahaya dan kondisi fisik
tempat kerja;
b) Desain produk dan layanan, penelitian, pengembangan, pengujian,
produksi, perakitan, pengadaan, pemeliharaan dan pembuangan;
3) Faktor manusia;
4) Cara pelaksanaan pekerjaan.
5) Kejadian yang pernah terjadi pada periode sebelumnya, baik dari internal
maupun eksternal organisasi, termasuk keadaan darurat, dan penyebabnya;
6) Potensi keadaan darurat;
7) Faktor manusia, termasuk:
a) Orang yang memiliki akses ke tempat kerja dan/atau kegiatan pekerjaan
konstruksi, termasuk pekerja, pengunjung, dan orang lain;
b) Orang di sekitar tempat kerja yang dapat dipengaruhi oleh kegiatan
pekerjaan konstruksi;
c) Pekerja di lokasi yang tidak berada di bawah kendali
langsung organisasi;
8) Isu lainnya, meliputi:
a) Desain dari area kerja, proses, instalasi, mesin/peralatan, prosedur
operasi dan organisasi kerja, termasuk kesesuaiannya dengan
kebutuhan dan kemampuan pekerja yang terlibat;
b) Situasi yang terjadi di sekitar tempat kerja yang disebabkan oleh kegiatan
yang berhubungan dengan pekerjaan yang berada di bawah kendali
organisasi;
c) Situasi yang tidak di bawah kendali organisasi dan terjadi di
sekitar
tempat kerja yang dapat menyebabkan cedera dan penyakit/kesehatan
yang buruk bagi orang-orang di tempat kerja;
d) Perubahan yang terjadi atau perubahan yang diusulkan terkait
organisasi, operasi, proses, kegiatan dan SMKK;
e) Perubahan ilmu pengetahuan dan informasi tentang bahaya.
d. Penilaian Risiko dan Peluang Keselamatan Konstruksi
Penilaian risiko dan peluang Keselamatan Konstruksi meliputi:
1) Penilaian risiko bahaya yang telah teridentifikasi, dengan
mempertimbangkan keberhasilgunaan pengendalian yang ada;
2) Penentuan dan penilaian risiko lain yang terkait dengan penerapan,
pengoperasian dan pemeliharaan SMKK.
3) Penilaian peluang keselamatan konstruksi untuk meningkatkan kinerja
keselamatan konstruksi, dengan mempertimbangkan perubahan yang
direncanakan terkait organisasi, kebijakan, proses atau kegiatan dan:
4) Peluang untuk menyesuaikan pekerjaan, organisasi kerja dan lingkungan
kerja;
5) Peluang untuk menghilangkan bahaya dan mengurangi risiko keselamatan
kontruksi
e. Penilaian peluang lain guna peningkatan SMKK.
Metodologi dan kriteria untuk penilaian risiko keselamatan konstruksi harus
ditetapkan dengan memperhatikan:
1) Ruang lingkup, sifat dan jangka waktu untuk memastikan bahwa yang
dilakukan adalah lebih bersifat proaktif dari pada reaktif dan digunakan
dengan cara yang sistematis.
2) Kemungkinan terjadinya risiko dan peluang lain untuk Penyedia Jasa sebagai
akibat terjadinya risiko keselamatan konstruksi dan peluang keselamatan
konstruksi.
f. Perencanaan Pengendalian Risiko
Perencanaan pengendalian risiko meliputi:
1) Jenis tindakan pengendalian risiko:
a) Mengatasi risiko dan peluang;
b) Mematuhi peraturan perundang-undangan dan peraturan lainnya;
c) Mempersiapkan dan menanggapi situasi darurat.
2) Cara melaksanakan tindakan pengendalian risiko:
a) Mengintegrasikan dan menerapkan tindakan ke dalam penerapan
SMKK;
b) Mengevaluasi keberhasilgunaan tindakan.
Perencanaan tindakan dilakukan dengan mempertimbangkan:
1) Tingkatan pengendalian dan keluaran dari penerapan SMKK;
2) Praktek terbaik yang pernah dilakukan oleh organisasi lainnya;
3) Teknologi yang digunakan;
4) Kemampuan keuangan;
5) Kebutuhan operasional dan bisnis.
TABEL B.1 IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN RISIKO, PENGENDALIAN DAN PELUANG
Deskripsi Resiko Persyaratan Pnilaian Tingkat Resiko PenilaianSisa Resiko
IDENTFIKASI Memenuhi
No JENIS BAHAYA Pengendalian Awal Kemungkinan Keparahan Nilai Tinkat Pengendalian Lanjutan Kemungkinan Keparahan Nilai Tingkat Ket.
UraianPekerjaan BAHAYA (Skenario Peraturan
(TipeKecelakaan) (F) (A) Resiko(FXA) Resiko(TR) (F) (A) Resiko(FXA) Resio(TR)
Bahaya
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
1 Pengangkutan Memastikan
Penempatan material
Bahan Tertimpa material kelengkapan
Kepela berdarah yang aman, memakai
Material dan alat Ya K3 dan tenaga kesehatan, n/a
luka berat/ringan APD (sepatu kerja, 3 1 3 3 n/a n/a n/a
menggunakan Memastikan kelengkapan
sarung tangan, masker
Tower Crane APD dan rambu,
dan helm,kotak P3K
Memerintahkan bekerja
dan pasang tanda
sesuai SOP
bahaya
2 Pengecoran Beton Mematuhi keselamatan
Redy Mix Tertimbun Material Pekerja mengalami dan kesehatan kerja, Bekerja sesuai RKK dan
K-350 Beton, Menghirup Debu / sesak napas, Kepala mentaati prosedur SOP, Memastikan
Kotoran, Terjatuh dari berdarah, Ya pengoprasian pemasangan rambu rambu, n/a
Ketinggian, Terkena Alat n/a n/a n/a
mengalami patah kendaraan, pasang 2 2 4 4 Memastikan kelaikan
Kerja tulang, tangan/Kaki rambu- rambu K3, kendaraan, Memasang
berdarah pemasangan penerangan dan rambu K3
penerangan yang
cukup, pasang rambu-
rambu K3
3 Pembesian Tertusuk dan Tangan berdarah, Penempatan material
Menyiapkan tempat
tertimpa besi, terbentur kepala berdarah, yang aman, memakai
Ya penyimpanan material yg n/a
material besi, terjepit, mengalami patah APD(sepatu kerja, 2 2 4 4 n/a n/a n/a
aman dan petugas pengatur
terjatuh dari ketinggian tulang/terkilir sarung tangan,masker
lalu lintas, Memastikan
dan helm), kotak P3K
kelengkapan APD dan
dan pasang tanda
rambu tanda bahaya
bahaya
4 Pemasangan Terjatuh dari ketinggian, Mengalami patah
Penempatan material
Instalasi Listrik tulang, Kepala
Tertimpa alat dari Ya yangaman, memaka Menyiapkan tempat n/a n/a n/a n/a
berdarah luka 3 3 9 6
ketinggian, Terjepit APD(sepatu kerja, penyimpanan material yg
ringan/berat,
Tang, Tersengat listrik, sarun tangan, masker aman, memasang pagar
Tangan berdarah
dan helm),kotak P3K pengaman, Memastikan
Terkena percikan api, luka ringan/berat,
dan pasan tanda kelengkapan APD dan
Tangan Tergores Terpental akibat
bahaya rambu
Tembaga Kabel, terkena sengatan
arus listrik,
Hubungan Arus
Kulit mengelupas/
Pendek/korsleting melepuh,
Kebocoran Pada Tangan berdarah
Sambungan Pipa, luka ringan/berat,
Jari Terjepit Pada Saat Terjadi kebakaran
Menyambung Pipa, akibat konsleting
Tangan Tergores Ujung listrik,
Pipa Terjadi banjir
dilokasi proyek,
Tangan pekerja
berdarah luka
ringan/berat,
Tangan pekerja
berdarah luka
ringan/berat
Sumatera Selatan, 05 Nopember 2020
Catatan : Tingkat risiko = Frekwensi x Kemungkinan PT. GUNUNG MAS INDAH LESTARI
PENILAIAN RISIKO K3: Akibat Nilai 1 : Jarang terjadi
Akibat/Keparahan Nilai 1 dan 2 : Risiko rendah Nilai 2 : Kadang-Kadang terjadi
Nilai 1 : Luka ringan Nilai 3 dan 4 : Risiko sedang Nilai 3 : Sering terjadi
Nilai 2 : Luka sedang Nilai 6 dan 9 : Risiko tinggi
Nilai 3 : Luka berat, cacat,
kematian Yovan Satria Aprilyan, ST
PJT PT. GUNUNG MAS INDAH LESTARI
MATRIK PENILAIAN RISIKO (AS/NZS 4360:2004)
Tabel-B1.1 : Peluang/Kemungkinan
TINGKATAN KRITERIA PENJELASAN
A Almost certain/Hampir pasti Suatu kejadian pasti akan terjadi pada semua kondisi/setiap kegiatan yang dilakukan
B Likely/Mungkin terjadi Suatu kejadian mungkin terjadi pada hampir semua kondisi
C Moderate/SedaNG Suatu kejadian akan terjadi pada beberapa kondisi tertentu
D Unlikely/Kecil Kemungkinannya Suatu kejadian mungkin terjadi pada beberapa kondisi tertentu, namun kecil kemungkinan
terjadi
E Rare/Jarang sekali Suatu insiden mungkin dapat terjadi pada suatu kondisi yang khusus/luar biasa/setelah
bertahun tahun
Tabel-B1.2 : Akibat TINGKATAN
TINGKATAN KRITERIA PENJELASAN
A Insignificant/Tidak signifikan Tidak ada cidera, kerugian materi sangat kecil
B Minor/minor Memerlukan perawatan P3K, kerugian materi sedang
C Moderate/Sedang Memerlukan perawatan medis dan mengakibatkan hilangnya hari kerja/hilangnya fungsi
anggota tubuh
D Major/ Mayor Cidera yang mengakibatkan cacat/ hilangnya fungsi tubuh secara total, tidak berjalannya
proses produksi,kerugian materi besar
E Catastrophe/Bencana Menyebabkan kematian, kerugian materi sangat besar
TINGKAT RISIKO
Tabel B1.3 -Tingkat Risiko : Tingkat Keparahan x Tingkat Kemungkinan
Tingkat Konswekensi
Tingkat Kemungkinan
1 2 3 4 5
5 10 15 15 25
5
(Sedang) (Sedang) (Tinggi) (Tinggi) (Tinggi)
4 8 12 16 20
4
(Rendah) (sedang) (Sedang) (Tinggi) (Tinggi)
3 6 9 12 15
3
(Rendah) (Sedang) (Sedang) (Sedang) (Tinggi)
2 4 6 8 10
2
(Rendah) (Rendah) (Sedang) (sedang) (Sedang)
1 2 3 4 5
1
(Rendah) (Rendah) (Rendah) (Rendah) (Sedang)
TABEL B1.4-MATRIK PENILAIAN RISIKO
AKIBAT
PELUANG 1 2 3 4 5
A S S T T T
B M S S T T
C R M S T T
D R R M S T
E R R M S S
Keterangan:
T : Tinggi, memerlukan perencanaan khusus di tingkat manajemen puncak, dan penanganan dengan segera/kondisi darurat.
S : Signifikan, memerlukan perhatian dari pihak manajemen dan mel akukan tindakan perbaikan secepat mungkin
M: Moderat, tidak melibatkan manajemen puncak, namun sebaiknya segera diambil tindakan penanganan/kondisi bukan darurat.
R : Rendah, risiko cukup ditangani dengan prosedur rutin yang berlaku.
B.2 Rencana tindakan (sasaran khusus & program khusus)
1. Penetapan Sasaran Keselamatan Konstruksi Sasaran Keselamatan Konstruksi pada
setiap fungsi dan tahapan pekerjaan konstruksi harus:
a. Konsisten dengan kebijakan keselamatan konstruksi;
b. Memiliki indikator kinerja yang dapat diukur;
c. Memperhitungkan:
1) Persyaratan yang diterapkan;
2) Hasil penilaian risiko dan peluang;
3) Hasil konsultasi dengan wakil pekerja, Ahli K3 Konstruksi, Panitia Pembina
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3), dan pihak lain yang terkait.
d. Dilakukan pemantauan;
e. Dikomunikasikan; dan
f. Dimutakhirkan bila perlu.
2. Program Pencapaian Sasaran Keselamatan Konstruksi
a. Perencanaan pencapaian sasaran Keselamatan Konstruksi meliputi:
1) Kegiatan yang akan dilakukan;
2) Sumber daya yang diperlukan;
3) Pihak yang bertanggung jawab;
4) Jangka waktu pelaksanaan;
5) Cara evaluasi hasil pencapaian, termasuk indikator pemantauan;
6) Cara mengintegrasikan pencapaian sasaran Keselamatan Konstruksi dengan
kegiatan bisnis Penyedia Jasa.
b. Dokumen Sasaran Keselamatan Konstruksi dan Perencanaan Pencapaian Sasaran
Keselamatan Konstruksi harus disimpan dan dipelihara sebagai
informasiterdokumentasi.
Tabel B2.1 Sasaran Khusus dan Program Khusus
Sasaran Program
No Pengendalian Resiko
Sumber Jadwal Bentuk Indikator Penanggung
Uraian Tolak Ukur Uraian Kegiatan
Daya Pelaksanaan Monitoring Pencapaian Jawab
Kotak P3K Tersedia dan Adanya kotak P3K dan Absen dan pemeriksaan Pelaksana
Kunjungan, Kunjungan,
Penempatan material yang aman, memakai APD APD terpakai oleh seluru setiap pekerja memakai Kelengkapan, Buku Cheklis, Setiap hari, Lapangan,
evaluasi, evaluasi,
1 (sepatu kerja, sarung tangan, masker dan helm) pekerja proyek, terpasangnya APD, rambu rambu pemeliharaan rambu K3, foto kegiatan, Minggu, Petugas K3,
koordinasi, koordinasi,
kotak P3K dan pasang tanda bahaya rambu tanda bahaya dengan terpasang, ada dokumentasi evaluasi, analisis dan petugas piket Bulan Manajer
analisis rutin analisis rutin
benar dan tepat kegiatan koordinasi Proyek
Pemahaman pekerja Absen dan
Terealisasinya manajemen
meningkat tentang SMK3, pemeriksaan
SMK3 oleh setiap pekerja Absen dan pemeriksaan Nihil Pelaksana
Mematuhi keselamatan dan kesehatan kerja, Pengoprasian kendaraan Kelengkapan, Kunjungan,
proyek, dijalakannya Kelengkapan, Setiap hari, Kecelakaan Lapangan,
mentaati prosedur pengoprasian kendaraan, lancar, Adanya kotak P3K pemeliharaan evaluasi,
2 prosedur pengoperasian pemeliharaan rambu K3, Minggu, dan Petugas K3,
pasang rambu-rambu K3, pemasangan penerangan dan setiap pekerja memakai rambu K3, koordinasi,
kendaraan dengan benar, evaluasi, analisis dan Bulan pekerjaan Manajer
yang cukup, pasang rambu- rambu K3 APD, rambu rambu evaluasi, analisis rutin
terpasangnya rambu K3 dan koordinasi lancar Proyek
terpasang ,ada dokumentasi analisis dan
penerangan optimal
kegiatan koordinasi
Tidak ada kesalahan
Terpakainya APD oleh Absen dan pemeriksaan Nihil Pelaksana
Penempatan material,Adanya Kunjungan,
Penempatan material yang aman, memakai APD setiap pekerja, terpasangnya Kelengkapan, Buku Cheklis, Setiap hari, Kecelakaan Lapangan,
kotak P3K dan setiap evaluasi,
3 (sepatu kerja,sarung tangan,masker dan helm), tanda bahaya, tersedianya pemeliharaan rambu K3, foto kegiatan, Minggu, dan Petugas K3,
pekerja memakai APD, koordinasi,
kotak P3K dan pasang tanda bahaya Kotak P3K, Terkondisikan evaluasi, analisis dan petugas piket Bulan pekerjaan Manajer
rambu rambu terpasang, ada analisis rutin
nya material dengan aman koordinasi lancar Proyek
dokumentasi kegiatan
Tidak ada kesalahan
Terpakainya APD 0leh setiap Penempatan material, Absen dan pemeriksaan Nihil Pelaksana
Kunjungan,
Penempatan material yang aman, memakai APD pekerja, terpasangnya tanda Adanya kotak P3K dan Kelengkapan, Buku Cheklis, Setiap hari, Kecelakaan Lapangan,
evaluasi,
4 (sepatu kerja,sarung tangan,masker dan helm), bahaya, tersedianya Kotak setiap pekerja memakai pemeliharaan rambu foto kegiatan, Minggu, dan Petugas K3,
koordinasi,
kotak P3K dan pasang tanda bahaya P3K, Terkondisikannya APD, rambu rambu K3,evaluasi, analisis dan petugas piket Bulan pekerjaan Manajer
analisis rutin
material dengan aman terpasang, ada dokumentasi koordinasi lancar Proyek
kegiatan
B.3. Standar dan peraturan perundangan
NO NOMOR PERATURAN PERIHAL
A Undang - Undang
1 UU No. 3 tahun 1969 Hygiene Dalam Perniagaan & Kantor-Kantor
2 UU No. 1 tahun 1970 Keselamatan Kerja
3 UU No. 3 tahun 1992 Jaminan Sosial Tenaga Kerja
4 UU RI No.:23 th 1992 Kesehatan
5 UU No. 18 tahun 1999 Jasa Konstruksi
6 UU No. 13 tahun 2003 Ketenagakerjaan
B NO. KEPRES
1 Peraturan Pernerintah No. 11 tahun 1975 Keselamatan kerja terhadap radiasi
2 Peraturan Pemerintah No.: 14 tahun 1993 Penyelenggaraan Program Kerja Jaminan social tenaga
3 Keputusan Presiden RI No. 22 tahun 1993 Penyakit yang timbul karena hubungan kerja
4 Peraturan pemerintah RI No. 29 th 2000 Penyelenggaraan jasa konstruksi
5 Peraturan pemerintah RI No. 29 th 2000 Penyelenggaraan jasa konstruksi
C PERATURAN MENTERI
1 Peraturan Menteri Perburuhan No.7 tahun 1964 Syarat Kesehatan, Kebersihan serta Penerangan dalamTempat Kerja
2 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.: [Link]/MEN/1976 Wajib Latihan Hyperkes Bagi Dokter Perusahaan
3 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.: Per.O3/MEN/1978 Ahli Keselamatan Kerja
4 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.: [Link]/MEN/1979 Kewajiban Latihan Hygiene Perusahaan Kesehatan Dan Keselamatan Kerja Bagi Paramedis Perusahaan
5 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.: [Link]/MEN/1980 Keselamatan dan Kesehatan kerja Pada Konstruksi Bangunan
6 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.: Per.04/MEN/1980 Syarat Syarat Pemasangan Dan Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan
7 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.: Per.02/MEN/1980 Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja Dalam Penyelenggaraan Keselamatan Kerja
8 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.: [Link]/MEN/1981 Kewajban Melapor Penyakit Akibat Kerja
9 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.: [Link]/MEN/1982 Bejana Bertekanan
10 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.: Per02/MEN/1982 Kwalifikasi Juru Las
11 Peraturan Menteri Tenaga Kerja Rl No.: Per. 03/M EN/1982 Pelayanan Kesehatan Dan Tenaga Kerja
12 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.: Per.02/MEN/1983 Instalasi Alarm Kebakaran Automatik
13 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.: Per.03/MEN/1985 Kesehatan Dan Keselamatan Kerja Pemakaian asbes
14 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.: Per.04/MEN/1985 Pesawat Tenaga Dan Produksi
15 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.: Per.05/MEN/1985 Pesawat Angkat Dan Angkut
16 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.: Per.04/MEN/1987 P2K3 serta tata cara penunjukan ahli keselamatan Kerja
17 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.: Per.01/MEN/1988 Kualifikasi dan syarat-syarat operator pesawat Uap
18 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.: Per.01/MEN/1989 Kualifikasi dan syarat-syarat operatot keran angkat
19 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.: Per.02/MEN/1989 Pengawasan instalasi penyalur petir
20 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.: Per.02/MEN/1992 Tata cara penunjukan kewajiban dan wewenang ahli keselamatan kerja
NO NOMOR PERATURAN PERIHAL
21 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.: Per.04/MEN/1991 Perusahaan jasa keselamatan & keehatan kerja
22 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.: Per.05/MEN/1996 Sistem Manajemen Keselamatan & Kesehatan kerja
23 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.: Per.01/MEN/1998 Penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan bagi tenaga kerja dng manfaat lebih baik daripada paket
24 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.: Per.03/MEN/1998 jaminan pemeliharaan kesehatan dasar Jaminan Sosial Tenaga Kerja
25 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.: Per.03/MEN/1999 Tatacara pelaporan & pemeriksaan kecelakaan
26 Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.: Per.04/MEN/1998 Syarat-syarat keselamatan & kesehatan kerja lift untuk pengangkutan orang dan barang
D PERATURAN PEMERINTAH DAERAH (PERDA) Disesuaikan dengan lokasi pengguna yang berkepentingan.
NO NOMOR PERATURAN PERIHAL
A Undang - Undang
1 Undang-undang RI Nomor. 23 tahun 1997 Pengelolaan Lingkungan Hidup
2 Undang-undang RI No. 1 Tahun 1970 Keselamatan Kerja
3 Undang-undang Uap Tahun 1930 Undang-undang Uap Tahun 1930
NO KEPRES
1 Peraturan Pemerintah RI Nomor. 82 Tahun 2001 Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air
2 Peraturan Pemerintah RI Nomor 74 tahun 2001 Pengelolaan Bahan Berbahaya Beracun
3 Peraturan Pemerintah RI Nomor 18 Tahun 1999 dan Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
Peraturan Pemerintah RI Nomor 85 Tahun 1999
4 Keputusan Presiden RI Nomor 92 tahun 1998 Pengesahan Montreal tentang zat-zat yang merusak lapisan ozon
C DOKUMEN PENDUKUNG
1 Kep. MENLH No. 86/2002 Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup
2 Surat [Link] Perindustrian Nomor : 250/M/SK/10/1994 Pedoman Teknis Penyusunan Pengendalian Dampak Terhadap Lingkungan Hidup Pada Sektor Industri
3 [Link] Kesehatan RI Nomor : Syarat- syarat dan Pengawasan Kualitas Air
416/MENKES/PER/IX/1990
4 S.E Menteri Tenaga Kerja Nomor : SE. 01 /MEN/1997 Nilai Ambang Batas Faktor Kimia di Udara Lingkungan Kerja
5 [Link] Kesehatan Nomor : 1405/Menkes/SK/XI/2002 Persyaratan dan Tata Cara Penyelenggaraan Kesehatan Lingkungan Kerja Industri
6 Kep. Men Lingkungan Hidup No. 13/MENLH/3/1995 Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak
7 [Link] Perindustrian dan Perdagangan RI Larangan memproduksi dan memperdagangkan bahan perusak lapisan ozon serta memproduksi dan
memperdagangkan barang baru yang menggunakan bahan perusak lapisan ozon
8 [Link] Perindustrian dan Perdagangan RI Nomor Perubahan [Link] Perindustrian dan Perdagangan Nomor 110/MPP/Kep. /1/1998 tentang larangan
790/MPP/Kep/12/2002 memproduksi dan memperdagangkan bahan perusak lapisan ozon serta memproduksi dan
memperdagangkan barang baru yang menggunakan bahan perusak lapisan ozon
9 [Link] Tenaga Kerja Nomor : Kep-51/MEN/1999 Nilai Ambang Batas Faktor Fisika ditempat kerja
10 [Link] Lingkungan Hidup No. Kep-48/MENLH/11/1996 Baku Tingkat Kebisingan
11 [Link] Lingkungan Hidup No. Kep.49/MENLH/11/1996 Baku Tingkat Getaran
12 [Link] Tenaga Kerja RI. Nomor Kep. 187/MEN/1999 Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya ditempat Kerja
13 [Link] Tenaga Kerja No. 2 Tahun 1970 Pembentukan Panitia Pembinaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja ditempat kerja
14 [Link] Tenaga Kerja RI Nomor. Per. 05/MEN/1996 Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
15 [Link] Tenaga Kerja No. 65/Men/1969 Penyelenggaraan kursus/latihan kader-kader Keselamatan Kerja
16 [Link] Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor. Kewajiban latihan Higiene Perusahaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja bagi tenaga paramedis
01/MEN/1979 perusahaan
17 [Link] Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor. Syarat-syarat pemasangan dan pemeliharaan alat pemadam api ringan
Per-04/Men/1980
18 Permenaker No. Per.05/MEN/1985 Pesawat Angkat dan Angkut
19 [Link] Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Per. Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja Dalam Penyelenggaraan K3
02/Men/1980
20 [Link] Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Per Bejana Tekanan
01/MEN/1982
21 [Link] Tenaga Kerja No. Per. 02/MEN/1989 Pengawasan Instalasi Penyalur Petir
22 [Link] Tenaga Kerja Nomor : Per. 01/MEN/1988 Kwalifikasi dan syarat-syarat operator pesawat uap
23 [Link] Tenaga Kerja No. Per. 02/MEN/1983 Instalasi Alarm Kebakaran Otomatis
24 [Link] Tenaga Kerja Nomor : Per. 03/MEN1985 Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pemakaian Asbes
25 [Link] Tenaga Kerja RI Nomor: Kep. 333/MEN/1989 Diagnosis dan Pelaporan Penyakit Akibat Kerja
26 [Link] Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI Nomor: Kep. Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor : SNI 04-0225-2000 mengenai persyaratan
75/MEN/2002 umum instalasi listrik 2000 ditempat kerja
27 Kep. MENKES. No. 907/MENKES/SK/VII/2002 Syarat-syarat dan pengawasan kualitas air minum
28 Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor. 115 tahun 2001 Pembuatan Sumur Resapan di Propinsi DKI Jakarta
C. Dukungan Keselamatan Konstruksi
C.1. Sumber Daya
C.1.1 Peralatan
a. Surat Ijin Kelaikan Operasi (SILO) Memuat Surat Ijin Kelaikan Operasi
(SILO) pesawat angkat & angkut (alat berat) yang digunakan pada
Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi.
b. Sertifikat kelaikan peralatan konstruksi lainnya Memuat sertifikat
kelaikan peralatan konstruksi lainnya yang digunakan pada Pelaksanaan
Pekerjaan Konstruksi.
c. Daftar Peralatan Utama Memuat daftar peralatan utama yang akan
digunakan pada pelaksanaan pekerjaan konstruksi sekurang-kurangya
terdiri dari jenis peralatan, merk & tipe peralatan, kapasitas peralatan,
jumlah peralatan, kondisi peralatan, lokasi peralatan, dan status
kepemilikan peralatan yang dibuktikan dengan surat kepemilikan
maupun surat perjanjian. Daftar peralatan utama ditandatangani oleh
Kepala Pelaksana Pekerjaan Konstruksi.
C.1.2 Material
a. Lembar Data Keselamatan Bahan (LDKB) Memuat Informasi terkait
dengan pengendalian Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) berupa
Lembar Data Keselamatan Bahan (LDKB) dari pemasok.
b. Daftar Material Impor Memuat daftar material impor yang akan
digunakan pada pelaksanaan pekerjaan konstruksi sekurang-kurangya
terdiri dari jenis material, jumlah material, negara asal, dan jadwal
pengiriman barang. Daftar material impor ditandatangani oleh Kepala
Pelaksana Pekerjaan Konstruksi.
C.1.3 Biaya
C.2. Kompetensi
a. Daftar Personil Memuat daftar personil yang ikut dalam Pelaksanaan
Pekerjaan Konstruksi. Kebutuhan personil disesuaikan dengan ketentuan
yang sebagai berikut:
1) Ahli K3 Konstruksi/Petugas Keselamatan Konstruksi:
1. Penanggung Jawab Keselamatan Konstruksi memiliki sertifikat:
-225-
Ahli Utama K3 Konstruksi untuk Pelaksanaan Pekerjaan
sesuaindengan ketentuan batang tubuh;
Ahli Madya K3 Konstruksi untuk Pelaksanaan Pekerjaan
sesuai dengan ketentuan batang tubuh;
Ahli Muda K3 Konstruksi untuk Pelaksanaan Pekerjaan
sesuai dengan ketentuan batang tubuh;
Petugas Keselamatan Konstruksi untuk Pelaksanaan
Pekerjaan Konstruksi risiko kecil.
2. Jumlah Anggota Unit Keselamatan Konstruksi berdasarkan
tingkat risiko Keselamatan Konstruksi sesuai dengan Tabel 14.
2) Petugas Medis Dibutuhkan petugas medis untuk pekerjaan konstruksi
yang memiliki risiko besar dan akses terbatas menuju fasilitas
kesehatan.
3) Petugas P3K bersertifikat sesuai dengan peraturan yang berlaku.
4) Petugas peran kebakaran sesuai dengan peraturan yang berlaku.
5) Pemberi aba-aba (flagman) Setiap melakukan pekerjaan pengangkatan
atau pekerjaan yang berhubungan dengan lalu lintas dibutuhkan 1 orang
personil pemberi aba-aba (flagman)
6) Petugas Keamanan (security) sesuai dengan kebutuhan pengendalian
risiko keamanan.
7) Supervisor perancah/ Teknisi perancah (scafolder)
8) Tukang las (welder) Memiliki sertifikat tukang las (welder) berdasarkan
jenis pekerjaan.
9) Juru Ikat (Rigger) Setiap melakukan pekerjaan pengangkatan
dibutuhkan 1 orang personil Juru Ikat (rigger) bersertifikat.
10) Operator Terdapat bukti Surat Izin Operator (SIO) berdasarkan
peralatan yang dioperasikan.
11) Kepala tukang (mandor) Terdapat bukti sertifikat kepala tukang
(mandor) sesuai jenis pekerjaan dan kebutuhan.
b. Sertifikat Personil
C.3. Kepedulian
a. Prosedur dan/atau petunjuk kerja peningkatan kepedulian Keselamatan
Konstruksi. Memuat prosedur dan/atau petunjuk kerja peningkatan
kepedulian Keselamatan Konstruksi berdasarkan tingkat risiko yang
ditandatangani oleh Kepala Pelaksana Pekerjaan Konstruksi dan Ahli Teknik
Terkait. Prosedur dan/atau petunjuk kerja peningkatan kepedulian
Keselamatan Konstruksi sekurang-kurangnya berisi:
1) Terdapat jadwal pelatihan dan sosialisasi SMKK kepada para pekerja yang
ditandatangani oleh Kepala Pelaksana Pekerjaan Konstruksi dan Penanggung
Jawab Keselamatan Konstruksi.
2) Terdapat komitmen untuk mencegah perilaku tidak selamat dalam
rangka pencegahan kecelakaan.
3) Terdapat program pembinaan budaya Keselamatan Konstruksi yang
ditandatangani oleh Kepala Pelaksana Pekerjaan Konstruksi dan Penanggung
Jawab Keselamatan Konstruksi untuk seluruh tingkatan termasuk pekerja.
b. Analisis kebutuhan pelatihan dan sosialisasi SMKK Memuat analisis
kebutuhan pelatihan dan sosialisasi SMKK.
c. Pelatihan Memuat jenis pelatihan yang akan dilaksanakan selama
pelaksanaan pekerjaan konstruksi.
C.4. Komunikasi
Program komunikasi disampaikan secara lisan sekurang-kurangnya melalui safety
talk yang terdiri dari safety morning, toolbox meeting/safety briefing, HSE meeting,
safety induction dan secara tertulis melalui sarana seperti spanduk,rambu, banner,
billboard, sticker, pamflet, majalah dinding, papan pengumuman,dll.
a. Prosedur dan/atau petunjuk kerja induksi Keselamatan Konstruksi (safety induction)
Memuat prosedur dan/atau petunjuk kerja Induksi Keselamatan Konstruksi (safety
induction) yang ditandatangani oleh Penanggung Jawab Keselamatan Konstruksi dan
Kepala Pelaksana Pekerjaan Konstruksi. Induksi Keselamatan Konstruksi
(construction safety induction) dilakukan untuk pekerja baru/pekerja yang dipindah
tugaskan, tamu, pemasok, dan pihak-pihak terkait pada pelaksanaan pekerjaan yang
akan masuk ke dalam area Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi.
Untuk pekerja baru/pekerja yang dipindah tugaskan dijelaskan mengenai
komitmen dan kebijakan keselamatan konstruksi, risiko dan bahaya yang
dihadapi dalam melakukan pekerjaan, pengendalian risiko yang dapat
dilakukan serta program penerapan SMKK pada Pelaksanaan Pekerjaan
Konstruksi.
Untuk tamu, pemasok, dan pihak-pihak terkait dijelaskan mengenai peraturan
Keselamatan Konstruksi yang berlaku di loaksi pekerjaan, prosedur evakuasi
dalam keadaan darurat, dan menjelaskan area-area yang berbahaya.
b. Prosedur dan/atau petunjuk kerja pertemuan pagi hari (safety morning) Memuat
prosedur dan/atau petunjuk kerja pertemuan pagi hari (safety morning) yang
ditandatangani oleh Penanggung Jawab Keselamatan Konstruksi dan Kepala
Pelaksana Pekerjaan Konstruksi. Pertemuan pagi hari (safety morning) diikuti oleh
seluruh pekerja setiap pagi sebelum pekerjaandimulai untuk menyampaikan masalah-
masalah tentang Keselamatan Konstruksi secara umum pada pelaksanaan konstruksi
hari itu.
c. Prosedur dan/atau petunjuk kerja pertemuan kelompok kerja (toolbox meeting)
Memuat prosedur dan/atau petunjuk kerja pertemuan kelompok kerja (toolbox
meeting) yang ditandatangani oleh Penanggung Jawab Keselamatan Konstruksi dan
Kepala Pelaksana Pekerjaan Konstruksi. Pertemuan kelompok kerja (toolbox meeting)
diikuti oleh kelompok pekerja sebelum pekerjaan dimulai untuk menyampaikan
masalahmasalah tentangKeselamatan Konstruksi secara khusus pada pelaksanaan
konstruksi yangakan dilakukan.
d. Prosedur dan/atau petunjuk kerja Rapat Keselamatan Konstruksi
(construction safety meeting) Memuat prosedur dan/atau petunjuk kerjaRapat
Keselamatan Konstruksi (construction safety meeting) yang ditandatangani oleh
Penanggung Jawab Keselamatan Konstruksi dan Kepala Pelaksana Pekerjaan
Konstruksi. Rapat Keselamatan Konstruksi (constructionsafety meeting) dipimpin
oleh Penanggung Jawab Keselamatan Konstruksi dan/atau Kepala Pelaksana
Pekerjaan Konstruksi dan diikuti oleh seluruh Kepala Unit Kerja.
e. Prosedur dan/atau petunjuk kerja penerapan informasi bahayabahaya Memuat
prosedur dan/atau petunjuk kerja penerapan informasi bahaya-bahaya sesuai tingkat
risiko atas pekerjaan yang dilaksanakan yang ditandatangani oleh Penanggung Jawab
Keselamatan Konstruksi dan Kepala Pelaksana Pekerjaan Konstruksi.
f. Jadwal Program Komunikasi Memuat jadwal program komunikasi sekurang
kurangnya sesuai dengan ketentuan pada poin a – poin e.
C.5. Informasi Terdokumentasi
a. Seluruh pekerjaan harus memiliki informasi terkait dengan pengendalian pekerjaan
baik berupa prosedur, petunjuk kerja, petunjuk teknis operasi, dan lain-lain yang
terdokumentasi.
b. Memuat prosedur dan/atau petunjuk kerja pengendalian dokumen atas semua
dokumen yang dimiliki dan ditandatangani oleh Kepala Pelaksana Pekerjaan
Konstruksi.
D. Operasi Keselamatan Konstruksi
D.1 Perencanaan dan Pengendalian Operasi
D.1.1 Struktur Organisasi Pelaksana Pekerjaan Konstruksi
a. Struktur Organisasi Pelaksana Pekerjaan Konstruksi Memuat bagan struktur organisasi
Pelaksana Pekerjaan Konstruksi beserta tugas dan tanggung jawabnya. Dalam struktur
organisasi Pelaksana Pekerjaan Konstruksi harus memiliki Unit Keselamatan
Konstruksi yang berada langsung di bawah Kepala Pelaksana Pekerjaan
Konstruksi.
Struktur Organisasi Pelaksana Pekerjaan Konstruksi
b. Struktur Organisasi Unit Keselamatan Konstruksi
Memuat bagan struktur organisasi Unit Keselamatan Konstruksi beserta tugas dan
tanggung jawabnya. Unit Keselamatan Konstruksi yang sekurang-kurangnya terdiri
dari unit kesiagaan tanggap darurat, Pengawas Pekerjaan terkait alat berat, tim
keamanan, serta hubungan masyarakat terkait dampak sosial dan lingkungan.
D.1.3 Analisis Keselamatan Pekerjaan (Job Safety Analysis)
Keterangan : Uraian langkah kerja tidak lebih dari 10 item
Dalam hal peninjauan kondisi dan tindakan harus melihat, mempertimbangkan unsur-unsur yang terkait bahan/material, orang, cara/metode/prosedur,
alat, lingkungan.
Analisis Keselamatan Pekerjaan (Job Safety Analysis)
Nama Pekerja : No :
Nama Paket Pekerjaan : PEMBANGUNAN GEDUNG KANTOR BBWS CITARUM Pengawas Pekerjaan :
Tanggal Pekerjaan : Departemen :
Alat Pelindung Diri yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan:
Helm/Safety Helmet Rompi Keselamatan/Safety Vest Pelindung Wajah/Face Shield lain-lain / Others
Sepatu/Safety Shoes Pelindung di ketinggian/Full Body Harness Penutup Telinga/Ear Mufs lain-lain / Others
Sarung Tangan/Safety Gloves Kacamata Pengaman/Safety Glasses Penyumbat Telinga/Ear Plug
Masker Pernafasan/Respiratory Baju kerja Las/Appron lain-lain
Urutan Langkah Pekerjaan Identifikasi Bahaya Pengendalian Penanggung Jawab
Pengangkutan Bahan Tertimpa material - Menggunakan Metode yang benar Pimpinan Teknik Pelaksana K3, Unit
Material menggunakan dan alat - Menyusun instruksi kerja pelatihan/HRD, Inspektom K3/ petugas
Tower Crane - Melakukan pelatihan kerja pengawas pelaksanaan
- Pengunaan APD yang sesuai
- Mengikuti Protokol sesuai anjuran
Pemerintah
Pengecoran Beton Redy Mix Tertimbun Material Beton, Menghirup Debu - Menggunakan Metode yang benar Pimpinan Teknik Pelaksana K3, Unit
K-350 / Kotoran, Terjatuh dari Ketinggian, Terkena - Menyusun instruksi kerja pelatihan/HRD, Inspektom K3/ petugas
Alat Kerja - Melakukan pelatihan kerja pengawas pelaksanaan
- Pengunaan APD yang sesuai
- Mengikuti Protokol sesuai anjuran
Pemerintah
Pembesian Tertusuk dan tertimpa besi, terbentur - Menggunakan Metode yang benar Pimpinan Teknik Pelaksana K3, Unit
material besi, terjepit, terjatuh dari - Menyusun instruksi kerja pelatihan/HRD, Inspektom K3/ petugas
ketinggian. - Melakukan pelatihan kerja pengawas pelaksanaan
- Pengunaan APD yang sesuai
- Mengikuti Protokol sesuai anjuran
Pemerintah
Pemasangan Instalasi Listrik Terjatuh dari ketinggian, Tertimpa alat dari - Menggunakan Metode yang benar Pimpinan Teknik Pelaksana K3, Unit
ketinggian, Terjepit Tang, Tersengat listrik, - Menyusun instruksi kerja pelatihan/HRD, Inspektom K3/ petugas
- Melakukan pelatihan kerja pengawas pelaksanaan
Terkena percikan api, Tangan Tergores
- Pengunaan APD yang sesuai
Tembaga Kabel, Hubungan Arus
- Mengikuti Protokol sesuai anjuran
Pendek/korsleting Kebocoran Pada Pemerintah
Sambungan Pipa, Jari Terjepit Pada Saat
Menyambung Pipa, Tangan Tergores Ujung
Pipa.
Ditinjau Ulang :
[TTD]
( Yovan Satria Aprilyan, ST ) ( Surya Lestari, ST ) (……………………………….)
PJT PT. GUNUNG MAS INDAH LESTARI Ahli K3 Konstruksi Ahli Teknik Terkait
Anggota Tim:
[TTD] [TTD] [TTD] [TTD]
(…….....…......…………………..) (……………………............……..) (…......………………………..) (……………….........…………..)
Pengawas
Kehadiran Diskusi Keterangan
No Nama
(Ceklist) Menyetujui/Tidak Menyetujui
1
2
3
4
5
Keterangan:
- Untuk pekerjan yang memerlukan perpanjangan waktu dengan kasus yang sama dengan hasil identifikasi dan pengendalian yang sam a, maka dapat diperpanjang satu
kali perpanjangan.
- Ahli Teknik terkait merupakan Ahli Teknik sesuai bidangnya/ Penanggungjawab Proses.
- Pengendalian bersifat teknis, perlengkapan APK, APD, harus berdasarkan standar dan/atau Peraturan perundangan sesuai dengan tingkat risiko hasil identifikasi
bahaya.
D.1.4 Pengelolaan Keamanan Lingkungan Kerja
Melakukan kegiatan mendukung keandalan bangunan serta mendukungterciptanya tempat,
suasana, kegiatan, dan aset kerja yang aman dari gangguan huru-hara dan anarkisme,
tindak kriminal, termasuk tindak terorisme di dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi
melalui cara :
a. Pengelolaan Pendukung Keandalan Bangunan
Mutu bahan
Material/bahan yang akan digunakan pada Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi
harus melalui tahapan inspeksi yang dilakukan oleh Petugas yang
berwenang dan mendapat persetujuan oleh Pengawas Pekerjaan.
Metode pekerjaan konstruksi
- Memuat prosedur dan/atau petunjuk kerja sesuai dengan
tahapan pekerjaan konstruksi yang ditandatangani oleh Penanggung Jawab
Teknik.
- Memuat Analisis Keselamatan Pekerjaan (AKP/JSA) yang
Ditanda tangani oleh Ahli Teknik terkait dan Penanggung Jawab
Keselamatan Konstruksi.
I z i n kerja (Permit to Work/PTW)
- Memuat prosedur dan/atau petunjuk kerja sistem permohonan izin
kerja/PTW berdasarkan persyaratan Keselamatan Konstruksi sesuai
dengan tahapan Pekerjaan Konstruksi yang ditandatangani oleh
Penanggung Jawab Keselamatan Konstruksi dan Kepala Pelaksana
Pekerjaan Konstruksi. Izin kerja harus dilengkapi dengan dokumen
sebagai berikut:
Analisis keselamatan pekerjaan (AKP)/Job Safety Analysis (JSA) yang
ditandatangani oleh Ahli Teknik terkait dan Penanggung Jawab
Keselamatan Konstruksi.
Prosedur dan/atau petunjuk kerja sistem keamanan bekerja
berdasarkan persyaratan Keselamatan Konstruksi sesuai lingkup
pekerjaan dalam tahapan pekerjaan yang ditandatangani oleh
Penanggung Jawab teknik.
Prosedur dan/atau petunjuk kerja sistem keamanan bekerja
berdasarkan persyaratan Keselamatan Konstruksi sesuai lingkup
pekerjaan dalam tahapan pekerjaan yang ditandatangani oleh
Penanggung Jawab teknik.
- Memuat formulir izin kerja yang sekurang-kurangnya terdiri dari 3
lembar rangkap untuk didokumentasikan oleh masing-masing unit terkait.
Lembar asli (pertama) disimpan sebagai bagian dari informasi
terdokumentasi oleh Pengguna Jasa, lembar kedua disimpan oleh Penyedia
Jasa, lembar ketiga disimpan oleh Pengawas Pekerjaan. Formulir izin kerja
dibagi sesuai dengan lingkup pekerjaan dalam tahapan Pekerjaan
Konstruksi yang ditandatangani oleh Unit Keselamatan Konstruksi
diantaranya adalah sebagai berikut:
• Analisis keselamatan pekerjaan (AKP)/Job Safety Analysis (JSA) yang
ditandatangani oleh Ahli Teknik terkait dan Penanggung Jawab
Keselamatan Konstruksi.
Prosedur dan/atau petunjuk kerja sistem keamanan bekerja
berdasarkan persyaratan Keselamatan Konstruksi sesuai lingkup
pekerjaan dalam tahapan pekerjaan yang ditandatangani oleh
Penanggung Jawab teknik.
Lembar periksa yang telah ditandatangani oleh petugas yang
berwenang sesuai hasil inspeksi yang telah dilakukan.
- Memuat formulir izin kerja yang sekurang-kurangnya terdiri dari 3
lembar rangkap untuk didokumentasikan oleh masing-masing unit terkait.
Lembar asli (pertama) disimpan sebagai bagian dari informasi
terdokumentasi oleh Pengguna Jasa, lembar kedua disimpan oleh Penyedia
Jasa, lembar ketiga disimpan oleh Pengawas Pekerjaan. Formulir izin kerja
dibagi sesuai dengan lingkup pekerjaan dalam tahapan Pekerjaan
Konstruksi yang ditandatangani oleh Unit Keselamatan Konstruksi
diantaranya adalah sebagai berikut:
pekerjaan p anas (hot work) yaitu selu ruh p ekerjaan yang
berpotensi menghasilkan sumber api;
pekerjaan galian (excavation) yaitu untuk pekerjaan galian yang akan
dilakukan;
pekerjaan pengangkatan (lifting) yaitu untuk pekerjaan yang
menggunakan alat angkat;
pekerjaan di ruang terbatas (confined space) yaitu untuk pekerjaan di
dalam ruangan yang mungkin ventilasinya secara alami kurang meng
andung gas mudah terbakar dan/atau mengandung gas beracun;
pekerjaan menyelam (diving) yaitu untuk pekerjaan di bawah
permukaan air;
pekerjaan dingin (cold work) yaitu seluruh pekerjaan lain yang tidak
tercakup pada pekerjaan di atas;
pekerjaan di malam hari (working at night) yaitu jika terdapat
pekerjaan yang dilakukan melebihi jam kerja normal;
pekerjaan di ketinggian;
pekerjaan menggunakan perancah;
pekerjaan dengan menggunakan radiography (x-ray);
pekerjaan bertegangan listrik (electrical work); dan/atau
pekerjaan penggalian atau kedalaman (excavation work).
b. Pengelolaan Pendukung Keandalan Bangunan
1) Pengamanan Lingkungan Kerja
Prosedur dan/atau petunjuk kerja pengamanan lingkungan Memuat prosedur
dan/atau petunjuk kerja pengamanan lingkungan yang ditandatangani oleh Ahli
Teknik terkait dan Kepala Pelaksana Pekerjaan Konstruksi/Wakil Manajemen yang
sekurang-kurangnya mencakup:
a) Petugas keamanan dengan jumlah sesuai dengan kebutuhan pada pengendalian
risiko keamanan.
b) CCTV yang digunakan untuk pekerjaan dengan tingkat risiko besar. CCTV
ditempatkan pada lokasi yang telah teridentifikasi memilki risiko bahaya
besar dan berpotensi terhadap tindakan kriminal.
c) Pagar pengaman yang digunakan pada lokasi yang berbatasan langsung dengan
masyarakat sekitar dan berpotensi terjadinya kecelakaan.
d) Tanda pengenal (ID Card) yang digunakan untuk seluruh pekerja, tamu,
pemasok, dan pihak-pihak terkait pada pelaksanaan pekerjaan yang masuk ke
dalam area pekerjaan konstruksi.
2) Manajemen keselamatan lalu lintas (Traffic Management)
Memuat prosedur dan/atau petunjuk kerja dalam melakukan manajemen
keselamatan lalu lintas (traffic management) pada lokasi pekerjaan yang
berdampak pada kelancaran lalu lintas pengguna jalan yang ditandatangani oleh
Penanggung Jawab Keselamatan Konstruksi dan Kepala Pelaksana Pekerjaan
Konstruksi.
3) Izin Keluar/Masuk Barang
a) Memuat prosedur dan/atau petunjuk kerja sistem permohonan izin
keluar/masuk barang yang ditandatangani oleh Ahli Teknik terkait dan
Kepala Pelaksana Pekerjaan Konstruksi/Wakil Manajemen.
b) Memuat formulir izin keluar/masuk barang yang ditandatangani oleh
Penanggung Jawab Keselamatan Konstruksi dan Kepala Pelaksana Pekerjaan
Konstruksi.
D.1.5 Pengelolaan Keselamatan Kerja
Melakukan kegiatan untuk menghilangkan/mengurangi bahaya atas risikopekerjaan
melalui cara:
a. Mutu Peralatan
Prosedur/petunjuk kerja penggunaan peralatan Memuat prosedur/petunjuk kerja
penggunaan pesawat angkat & angkut (alat berat) dan peralatan konstruksi lainnya
yang ditandatangani oleh Penanggung Jawab Peralatan dan Kepala Pelaksana
Pekerjaan Konstruksi. Seluruh alat berat dan perkakas yang akan digunakan di area
Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi harus lolos tahapan inspeksi yang dilakukan
oleh Penanggung Jawab Keselamatan Konstruksi dan memiliki sticker “Laik
Operasi”.
b. Prosedur dan/atau petunjuk kerja sistem keamanan bekerja
1) Memuat prosedur dan /atau petunjuk kerja sistem keamanan bekerja
berdasarkan program kerja yang ditandatangani oleh Penanggung Jawab
Keselamatan Konstruksi.
2) Memuat prosedur dan/atau petunjuk kerja penggunaan Alat Pelindung Diri
(APD) yang ditandatangani oleh Penanggung Jawab Keselamatan Konstruksi.
[Contoh Prosedur/Instruksi Kerja]
Penyedia Jasa membuat prosedur dan Instruksi Kerja, antara lain:
1. Prosedur induksi Keselamatan Konstruksi
2. Prosedur identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan peluang
3. Prosedur pengukuran kinerja Keselamatan Konstruksi
4. Prosedur inspeksi Keselamatan Konstruksi
5. Prosedur komunikasi
6. Prosedur tinjauan manajemen
7. Prosedur pemenuhan peraturan perundangan Keselamatan Konstruksi
8. Instruksi Kerja bekerja di ketinggian
9. Instruksi Kerja pemasangan perancah
10. Instruksi Kerja Alat Pelindung Kerja (APK)
11. Instruksi Kerja Alat Pelindung Diri (APD)
[Contoh Instruksi Kerja]
MOBILISASI
1. Tidak diperkenankan mengerjakan pekerjaan mobilisasi sebelum mendapat ijin dari
pihak yang berwenang.
2. Seluruh mobilisasi harus diberi tanda – tanda.
3. Setiap mobilisasi harus disediakan sebuah tanda.
4. Semua Mobilisasi harus diperiksa ulang/ kembali apabila pada saat pekerjaan berhenti
sebelum dilanjutkan pekerjaan kembali.
c. Pengendalian Subkontraktor dan Pemasok Memuat uraian pengendalian subpenyedia
jasa dan pemasok dalam mendukung pelaksanaan kontrak sesuai dengan kontrak yang
telah disetujui dan menjelaskan hubungan koordinasi antara subpenyedia
jasa/pemasok dengan penyedia jasa dalam rangka pengelolaan keselamatan kerja.
Penyedia Jasa harus memastikan bahwa di dalam kontrak antara Penyedia Jasa dan
Subkontraktor serta Pemasok telah menganggarkan Biaya Penerapan SMKK.
D.1.6 Pengelolaan Kesehatan Kerja
Melakukan kegiatan untuk untuk memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya bagi
tenaga kerja konstruksi dan masyarakat di sekitar lokasi penyelenggaraan jasa konstruksi
dengan melakukan pencegahan gangguan kesehatan dan penyakit akibat melalui cara:
a. Pemeriksaan Kesehatan
Memuat prosedur dan/atau petunjuk kerja pengelolaan kesehatan kerja mencakup:
1) Pemeriksaan kesehatan berkala, pemeriksaan kesehatan khusus, pencegahan
penyakit menular dan penyakit akibat kerja yang ditandatangani oleh Ahli terkait
dan Kepala Pelaksana Pekerjaan Konstruksi /Wakil Manajemen. Prosedur dan/atau
petunjuk kerja pengelolaan kesehatan kerja sekurang- kurangnya mencakup:
a) Pemeriksaan kesehatan bagi seluruh pekerja dilakukan sebelum atau
beberapa saat setelah memasuki masa kerja pertama kali dan secara berkala
sekurang-kurangnya sekalidalam setahun.
b) Terdapat klinik yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana
kesehatan yang dibutuhkan untuk pekerjaan konstrasi menuju fasilitas
kesehatan.
c) Data yang diperoleh dari pemeriksaan kesehatan harus dicatat dan disimpan
untuk referensi.
d) Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K)
(1) Terdapat peralatan P3K dengan jumlah 1 kotak P3K untuk setiap 25
pekerja dan ditempatkan di area yang mudah dilihat dan dijangkau.
(2) Terdapat peralatan P3K dengan jumlah 1 kotak P3K untuk setiap 25
pekerja dan ditempatkan di area yang mudah dilihat dan dijangkau.
(3) Isi kotak P3K harus diperiksa secara teratur dan harus dijaga supaya tetap
berisi (tidak boleh kosong).
e) Pemberantasan penyakit menular dan berbahaya
Dilakukan identifikasi bahaya kesehatan dengan melakukan tindakan
pencegahan di antaranya:
(1) Demam berdarah dengan melakukan kegiatan Fogging yang
berkoordinasi dengan puskesmas terdekat.
(2) HIV/AIDS dengan melakukan tindakan pencegahan melalui sosialisasi
sesuai peraturan yang ada.
(3) Penyakit epidemik lainnya.
f) Peningkatan kesegaran jasmani untuk menjamin kebugaran pekerja.
g) Perlindungan sosial tenaga kerja
Seluruh pekerja memiliki BPJS Ketenagakerjaan dan Kesehatan;
D.1.7 Pengelolaan Lingkungan Kerja
a. Pengukuran Kondisi Lingkungan
Prosedur dan/atau petunjuk kerja pengelolaan lingkungan kerja Memuat prosedur
dan/atau petunjuk kerja pengelolaan lingkungan kerja terkait pencegahan
pencemaran (terhadap air, tanah, dan udara) yang ditandatangani oleh
Penanggung Jawab Keselamatan konstruksi dan Kepala Pelaksana Pekerjaan
Konstruksi /Wakil Manajemen. Pengukuran kondisi lingkungan sekurang-kurangnya
terdiri atas :
b. Tata Graha (House keeping)
Prosedur dan/atau petunjuk kerja pengelolaan tata graham
(housekeeping) Memuat prosedur dan/atau petunjuk kerja pengelolaan Tata Graha
(Housekeeping) terkait Program 5R (Ringkas, Rapih, Resik, Rawat, Rajin) yang
ditandatangani oleh Penanggung Jawab Keselamatan Konstruksi dan Kepala
Pelaksana Pekerjaan Konstruksi /Wakil Manajemen. Program tata graha
(housekeeping) yang dilakukan sekurang-kurangnya satu kali sehari di akhir
pelaksanaan pekerjaan.
c. Pengolahan Sampah dan Limbah Prosedur dan/atau petunjuk kerjapengelolaan
sampah/limbah Memuat prosedur dan/atau petunjuk kerja pengelolaan sampah/limbah
yang ditandatangani oleh Penanggung Jawab Keselamatan Konstruksi dansekurang-
kurangnya mencakup:
- Terdapat tempat sampah yang dipisahkan berdasarkan jenis sampah
yaitu sampah organik, sampah anorganik, sampah B3 sekurang-kurangnya 1
tempat sampah di setiap area pekerjaan.
- Terdapat tempat penampungan sampah sementara berdasarkan jenis sampah
yaitu sampah organik, sampah anorganik dan sampah B3.
D.2 Kesiapan dan Tanggapan Terhadap Kondisi Darurat
D.2.1 Daftar Induk Prosedur dan/atau Instruksi Kerja Memuat daftar induk prosedur
dan/atau instruksi kerja yang ditandatangani oleh Ahli Teknik terkait dan Kepala
Pelaksana Pekerjaan Konstruksi /Wakil Manajemen. Seluruh pekerjaan konstruksi
dan penerapan SMKK pada pelaksanaan pekerjaan konstruksi harus memiliki
prosedur dan/atau petunjuk kerja yang telah ditandatangani. Prosedur dan/atau
instruksi kerja sekurang-kurangnya memuat dokumen sebagai berikut :
Tabel 16 Contoh Daftar Induk Prosedur dan/atau Instruksi Kerja
D.2.2 Kesiap-siagaan dan Tanggap Terhadap Kondisi Darurat
a. Prosedur dan/atau petunjuk kerja tanggap darurat
Memuat prosedur dan/atau petunjuk kerja tanggap darurat sesuai dengan sifat dan
klasifikasi Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi yang dikerjakan yang ditandatangani
oleh Ahli Teknik terkait dan Penanggung Jawab Keselamatan Konstruksi.
b. Prosedur dan/atau petunjuk kerja penyelidikan insiden
Memuat prosedur dan/atau petunjuk kerja penyelidikan insiden (kecelakaan, kejadian
berbahaya, dan penyakit akibat kerja) yang ditandatangani oleh Penanggung Jawab
Keselamatan dan Konstruksi Kepala Pelaksana Pekerjaan Konstruksi.
[Link] KINERJA KESELAMATAN KONSTRUKSI
E.1 Pemantauan dan Evaluasi
E.1.1 Inspeksi dan Audit
a. Inspeksi
Prosedur dan/atau petunjuk kerja inspeksi
Memuat prosedur dan/atau petunjuk kerja inspeksi yang ditandatangani oleh ahli
teknik terkait atau Penanggung Jawab Keselamatan Konstruksi dan Wakil
Manajemen.
L e m b a r Periksa
Memuat format lembar periksa lingkup pekerjaan, pesawat angkat & angkut ( alat
berat ), perkakas, bahan/material, lingkungan , kesehatan, keamanan, dan lain-lain.
Lembar periksa ditandatangani pada satu periode waktu tertentu (harian, mingguan,
bulanan). Inspeksi terdiri dariberbagai macam bentuk lembar periksa sekurang-
kurangnya mencakup:
- Lingkup pekerjaan ditandatangani oleh ahli teknik terkait, Penanggung Jawab
Keselamatan Konstruksi.
- Pesawat angkat & angkut (alat berat) ditandatangani oleh ahli teknik terkait,
Penanggung Jawab Keselamatan Konstruksi.
- Perkakas ditandatangani oleh ahli teknik terkait,Penanggung Jawab
Keselamatan Konstruksi.
- Bahan/material ditandatangani oleh ahli teknik terkait, Penanggung Jawab
Keselamatan Konstruksi dan disetujui oleh Pengawas Pekerjaan.
- Lingkungan (housekeeping, pencemaran, hygine) ditandatangani oleh ahli
terkait, Penanggung Jawab Keselamatan Konstruksi.
- Kesehatan ditandatangani oleh ahli terkait, Penanggung Jawab Keselamatan
konstruksi.
- Keamanan/security ditandatangani oleh ahli terkait, Penanggung Jawab
keselamatan Konstruksi.
Lembar Penghentian Pekerjaan (Stop Working Form)
Apabila pada saat pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi ditemukan hal yang
membahayakan setiap personil dapat menyerukan untuk menghentikan
[Link] Tertinggi Penyedia Jasa memberikan kewenangan kepada
Pimpinan Unit Keselamatan Konstruksi dan/atau Pimpinan Tertinggi Pekerjaan
Konstruksi dan/atau Ahli K3 Konstruksi dan/atau Petugas Keselamatan Konstruksi
untuk melakukan verifikasi penghentian pekerjaan. Dalam melakukan verifikasi
pihak berwenang mengisi lembar penghentian pekerjaan ditandatangani oleh
pihak-pihak yang ditunjuk oleh Pimpinan Tertinggi Penyedia Jasa.
[Link] Keselamatan Konstruksi
Memuat prosedur dan/atau petunjuk kerja Patroli Keselamatan Konstruksi yang
disusun oleh Penyedia Jasa ditandatangani oleh ahli terkait atau Penanggung
Jawab Keselamatan Konstruksi dan Wakil Manajemen. Patroli Keselamatan
Konstruksi dilakukan oleh seluruh
Pimpinan Perusahaan (Penyedia Jasa, Pengawas Pekerjaan, Sub Kontraktor) dan
Pengguna Jasa.
c. Audit
Memuat prosedur dan/atau petunjuk kerja audit internal yang ditandatangani
oleh ahli terkait atau Penanggung Jawab Keselamatan Konstruksi dan Wakil M ana
jemen. Audit internal dilakukan dan ditetapkan secara berkala oleh Pelaksana
Pekerjaan Konstruksi dengan melibatkan auditor independen. Audit internal
dilakukan sekurang- kurangnya 1 kali dalam 1 Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi
dan/atau untuk pekerjaan konstruksi tahun jamak mengikuti peraturan
perundangan yang berlaku.
d. Jadwal Inspeksi dan Audit
Memuat jadwal pelaksanaan inspeksi, patrol keselamatan konstruksi dan audit.
E.2 Tinjauan Manajemen
Memuat prosedur dan/atau petunjuk kerja terkait pelaksanaan tinjauan manajemen yang
ditandatangani oleh ahli teknik terkait atau Penanggung Jawab Keselamatan Konstruksi dan
Wakil Manajemen. Prosedur dan/atau petunjuk kerja terkait pelaksanaan tinjauan manajemen
memuat program yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja keselamatan konstruksi.
Tinjauan manajemen dilakukan sekurang-kurangnya berdasarkan hasil audit atau
kecelakaan kerja pada pekerjaan konstruksi yang menyebabkan fatality.
E.3 Peningkatan Kinerja Keselamatan Konstruksi
Memuat format tindakan perbaikan untuk pelaksanaan pekerjaan konstruksi pada kontrak
tahun jamak. Penyedia Jasa memastikan program peningkatan kinerja keselamatan
konstruksi berdasarkan hasil Tinjauan Manajemen ditindaklanjuti pada pekerjaan konstruksi
yang akan datang
F. PENCEGAHAN COVID-19
F.1. Pencegahan Covid-19 di Proyek Konstruksi
a. Protokol ini dimaksudkan sebagai panduan umum bagi Pemilik/ Pengguna/
Penyelenggara bersama Konsultan, Kontraktor, Subkontraktor, Vendor/ Supplier dan
Fabrikator, Mandor para pekerja dalam mencegah wabah COVID-19 di proyek
konsruksi.
b. Protokol ini merupakan bagian dari keseluruhan kebijakan untuk mewujudkan
keselamatan dan kesehatan kerja, keselamatan public dan keselamatan lingkungan
dalam setiap tahapan penyelenggaraan konstruksi.
c. Protokol ini berlaku di proyek konstruksi yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan/
atau Pemerintah Daerah dan/ atau BUMN maupun investasi swasta dan/ atau
gabungan. Masing-masing pihak pemangku amanah di proyek konstruksi dapat
menindak lanjuti implementasi dari protocol ini sesuai dengan kebijakan perusahaan
masing-masing.
F.2. Pembentukan Satgas Pencegahan COVID-19
a. Pemilik/ Pengguna/ Penyelenggara bersama Konsultan Pengawas dan/ atau
Kontraktor wajib membentuk Satuan Tugas Pencegahan COVID-19 .
b. Satuan Tugas tersebut berjumlah paling sedikit 5 (lima orang terdiri dari Ketua
merangkap anggota dan 4 (empat) Anggota yang mewakili Pemilik/Pengguna/
Penyelenggara, Konsultan, Kontraktor dan Subkontraktor.
c. Satuan Tugas tersebut memiliki tugas, tanggung jawab dan kewenangan melakukan :
(i) Sosialisasi, (ii) Edukasi, (iii) Promosi Teknik dan (iv) Metode Pencegahan
COVID-19 serta (v) Pemeriksaan (examination) potensi terinfeksi kepada semua
orang baik para , manajer, insinyur, arsitek, karyawan/ staf mandor, pekerja dan tamu
proyek.
F.3. Penyediaan Fasilitas Kesehatan di Lapangan
a. Kontraktor wajib menyediakan ruang klinik di lapangan dilengkapi dengan sarana
kesehatan yang memadai, seperti tabung oksigen, pengukur suhu badan (termoscan)
pengukuran tekanan darah, obat-obat dan petugas medis.
b. Kontraktor wajib memiliki kerja sama operasional perlindungan kesehatan dan
pecegahan COVID-19 dengan rumah sakit dan/ atau pusat kesehatan masyarakat
terdekat dengan lapangan proyek untuk tindakan darurat (emergency).
c. Kontraktor wajib menyediakan fasilitas pengukur suhu badan (termoscan), pencuci
tangan dengan sabun disinfektan (hand sanitizer) tissue, masker di kantor dan
lapangan proyek bagi para manajer, insinyur, arsitek, karyawan/ staf, mandor pekerja
dan tamu.
F.4. Pelaksanaan Pencegahan COVID-19 di Lapangan
a. Satuan tugas memasang poster (fiyers) baik digital maupun fisik tentang himbauan/
anjuran pencegahan COVID-19 seperti mencuci tangan memakai masker, untuk
disebarluaskan atau dipasang di tempat-tempat strategis di lapangan proyek.
b. Satuan tugas bernama Petugas Medis harus menyampaikan penjelasan anjuran,
kampanye, promosi Teknik pencegahan COVID-19 dalam setiap kegiatan penyuluhan
K3 pagi hari (safety morning talk).
c. Satuan tugas melarang seseorang yang sakit dengan indikasi suhu ≥ 38 derajat celcius
(seluruh manager, karyawan/ staf, mandor, pekerja dan tamu proyek dating ke lokasi
proyek.
d. Petugas medis melaksanakan pengukuran suhu tubuh kepada seluruh pekerja dan
petugas keamanan setiap pagi, siang dan sore.
Apabila ditemukan manager, insinyur, karyawan/ staf, mandor dan pekerja dilapangan
proyek terpapar virus COVID-19, petugas medis dibantu petugas keamanan proyek
melakukan evaluasi dan penyemprotan disinfektan pada tempat, fasilitas, pegangan dan
peralatan kerja.
Sumatera Selatan, 05 Nopember 2020
PT. GUNUNG MAS INDAH LESTARI
IBNU AKIL
Direktur
Strategi Pengelolaan dan Rencana
Pelaksanaan
terhadap Lingkungan, Sosial, Kesehatan dan
Keselamatan Kerja
(SPRP-LSK3)
DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Uraian Pekerjaan
1.2 Pembiayaan
1.3 Organisasi Kerja Penyedia Jasa
1.4 Tujuan Strategi Pengelolaan dan Rencana Pelaksanaan (SRPR)
1.5 Kerangka Kerja Hukum
1.5.1 Peraturan Pemerintah Indonesia
1.5.2 Kebijakan Safeguard Bank Indonesia
BAB II. PERENCANAAN
2.1 Rencana Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas (RMKL)
2.1.1 Pengendalian Lalu Lintas
2.1.2 Pengendalian Pada Zona Kerja
2.1.3 Bahan dan Perlengkapan
2.1.4 Pemeliharaan Lalu Lintas
2.2 Rencana Kerja Pengelolaan dan Pemantau Lingkungan (RKPPL)
2.3 Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K)
2.4 Rencana Pengelolaan Pekerja
2.5 Rencana Untuk Memperoleh Persetujuan/Perizinan
2.6 Rencana Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Masyarakat Terdampak
2.8 Rencana Manajemen Resiko Lingkungan dan Sosial Yang Mungkin Timbul
BAB III. MONITORING DAN EVALUASI
3.1 Monitoring dan Evaluasi
BAB I
PENDAHUL
UAN
1.1 Uraian Pekerjaan
Kegiatan Pembangunan gedung kantor Balai Besar Wilayah Sungai Citarum
dipandang perlu dilaksanakan sehubungan dengan musibah kebakaran sehingga
menghanguskan seluruh ruangan Gedung utama sehingga membuat efektivitas
pelaksanan pekerjaan terhambat. Uraian pekerjaan dalam Pembangunan Gedung
Kantor Balai Besar Wilayah Sungai Citarum meliputi :
Nama paket pekerjaan : PEMBANGUNAN GEDUNG KANTOR BBWS CITARUM
Uraian Singkat Pekerjaan :
1. Pekerjaan Persiapan
2. Pekerjaan Tanah
3. pekerjaan Struktur
4. pekerjaan Arsitektur
5. Pekerjaan Interior
6. Pekerjaan Elektrikal dan Mekanikal
7. Pekerjaan Lain-lain
Pekerjaan ini dibiayai dengan dari sumber pendanaan APBN Kontrak Tahun Jamak
Tahun Anggaran 2020-2021. Dengan Jangka waktu Pelaksanaan Pekerjaan : 396
(Tiga ratus sembilan puluh enam) hari kalender.
1.2 Pembiayaan
Pembiayaan untuk kegiatan Penyelenggaraan Sistem manajemen Keselamatan
Konstruksi (SMKK) yang tertuang dalam dokumen lelang antara lain :
1. Pelaksaan K3
Adapun persyaratan dan ketentuan spesifikasi yang tertulis dalam spektek dan dokumen
lelang menjadi acuan dalam pengadaan dan pelaksanaan yang dilakukan oleh penyedia
jasa. Apabila tidak tertuang dalam dokumen, maka penyedia jasa mengikuti keputusan
dari direksi teknis dan PPK untuk ketentuan spesifikasi dalam pengadaan maupun
pelaksanaan K3.
1.3 Organisasi kerja Penyedia Jasa
Tujuan Strategi Pengelolaan dan Rencana Pelaksanaan (SRPR) untuk Mengelola
Risiko Lingkungan, Sosial, Kesehatan dan keselamatan Kerja (LKS3)
Tujuan dari Pengelolaan Lingkungan dan Sosial ini adalah untuk memastikan bahwa
seluruh komponen akan dilaksanakan secara berkelanjutan dengan mengelola aspek
lingkungan dan sosial. Dengan memperjelas prinsip-prinsip pengelolaan lingkungan
dan sosial pada paket pekerjaan Rehabilitasi Bendungan Pacal dan menjadi panduan
dalam :
1. Persiapan penyusunan rencana pengelolaan lingkungan
2. Rencana Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas (RMKL)
3. Rencana kerja Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RKPPL)
4. Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K)
Rencana Pengelolaan Pekerja, Termasuk Larangan Penggunaan Pekerja Dibawah Umur,
dan
5. Pekerja Paksa sesuai dengan peraturan Undang-Undang Indonesia
Rencana Pengelolaan Pekerja, termasuk rencana perekrutan, pengelolaan basecamps,
asuransi
6. pekerja, hak-hak dan kewajiban pekerja, skema perekrutan, dan lain-lain
7. Rencana Untuk Memperoleh Persetujuan/Perizinan Relevan
8. Rencana Manajemen Keselamatan dan Kesehatan masyarakat terdampak.
9. Mekanisme Penanganan
[Link] manajemen Resiko Lingkungan dan Sosial
1.4 Kerangka Kerja Hukum
Untuk melakukan penilaian lingkungan dan sosial akan mengikuti Peraturan Pemerintah
Indonesia dan kebijakan Bank Dunia.
1.4.1. Peraturan Pemerintah Indonesia
Peraturan berikut menjadi dasar untuk keseluruhan pendekatan Strategi Pengelolaan
dan Rencana Pelaksanaan (SRPR) untuk mengelola risiko Lingkungan, Sosial,
Kesehatan dan Keselamatan Kerja (LSK3) sebagai berikut:
Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup
Peraturan Pemerintah (PP) No 27 Tahun 2012 Tentang Izin Lingkungan Hidup
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup (Permen LH) No. 13 Tahun 2010 tentang
Upaya pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL-UPL)
dan Surat
Pernyataan jaminan Pelaksanaan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup
(SPPL)
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup (Permen LH) No. 05 Tahun 2012 tentang
Jenis
Kegiatan yang diperlukan AMDAL
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup (Permen LH) No. 16 Tahun 2012 tentang
pedoman
Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup (Permen LH) No. 17 Tahun 2012 tentang
Pedoman
Partisipasi Masyarakat dalam Proses Penilaian Ligkungan dan Izin Lingkungan
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup (Permen LH) No. 08 Tahun 2013 tentang
Tata Cara
Pemeriksaan dan Pemeriksaan Dokumen Lingkungan dan Izin Lingkungan yang
dikeluarkan
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 10/PRT/M/2008 tentang jenis Rencana
Bisnis dan/atau Kegiatan yang bekerja dalam Pekerjaan Umum yang memerlukan
dokumen
Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL-UPL)
Peraturan Pemerintah (PP) No.6 tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman
Keputusan Menteri Pertanian No. 887/Kpts/OT.210/9/1997 tentang Pengelolaan
Hama
UU No.2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Umum Tanah
Peraturan Presiden No.71 tahun 2012 tentang Pembebasan Lahan untuk
Kepentingan
Umum
Peratiran Presiden Nomor 40 Tahun 2014 tentang Perubahan Perpres No.71 Tahun
2012
tentang Pembebasan Lahan untuk Kepentingan Umum
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial
Peraturan Presiden No. 56 Tahun 2017 tentang Penanganan Dampak Sosial
Masyarakat
Peraturan Menteri Sosial No. 10 Tahun 2014 tentang Konseling Sosial
Peraturan Pemerintah No. 2 Tahun 2015 tentang Penanganan Konsflik Sosial
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 Tentang konservasi
Sumber Daya Alam dan Ekosistem
Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 52 tahun 2014 tentang Pedoman Pengakuan
dan Perlindungan Masyarakat Adat.
Undang-Undang Republik Indonesia No.11 Tahun 2010 tentang Warisan Budaya
Peraturan Presiden No.37 Tahun 2010 tentang Bendungan
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan No.27/PRT/M/2015 tentang
bendungan
NO JUDUL SAFEGUARD KEGIATAN YANG DILAKUKAN
OP masyarakat bahwa penilaian dilakukan terhadap
kemungkinan dampak sosial dari proyek, terutama karena
memerlukan perolehan tanah, relokasi orang, kehilangan aset
produktif atau akses terhadap layanan, baik selama tahap
konstruksi dan operasional dari kegiatan proyek. Kebijakan ini
dimaksudkan untuk memastikan bahwa kegiatan pemukiman
kembali harus dipahami dan dijalankan sebagai program
pembangunan berkelanjutan, menyediakan sumber investasi
yang memadai untuk memungkinkan orang- orang yang
terkena dampak untuk mendapatkan
keuntungan proyek, memastikan bahwa orang-orang yang
terkena dampak diberi konsultasi yang berarti dan disediakan,
OP/BP
Pemindahan/pemukiman
4.12
Kembali Secara Paksa jika memungkinkan, kesempatan untuk
berpartisipasi dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan
pemukiman kembali dan proyek. Tujuan dasarnya adalah
untuk memastikan bahwa orang-orang yang terkena dampak
diberi saran dan sumber daya untuk memperbaiki
penghidupan dan standar hidup mereka, atau setidaknya
mengembalikannya secara riil, ke tingkat pra-proyek.
Untuk menjamin kualitas dan keamanan dalam perancangan
OP/BP 4.37
dan pembangunan bendungan baru dan rehabilitasi
Keamanan bendungan bendungan yang ada, dan dalam melaksanakan kegiatan yang
mungkin terkena dampak bendungan yang ada.
BAB II
PERENCANAAN
2.1 RENCANA MANAJEMEN DAN KESELAMATAN LALU LINTAS (RMKL)
Pekerjaan ini meliputi penyediaan pelengkapan sekaligus pelaayanan
pengendalian lalu lintas pada saat kegiatan proyek. Hal ini untuk melindungi
para pekerja maupun pengguna jalan yang melintas melalui daerah
[Link] ini dilakukan semenjak mulai tahap mobilisasi,
peralatan, bahan, dan tenaga.
2.1.1 Pengendalian Lalu Lintas
Semua pekerja harus minimal berumur 18 tahun dan melengkapi diri
dengan baju reflektif dan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai
kebutuhan. Demikian juga bilamana pekerjaan dilakukan pada malam
hari. Kontraktor harus menyiapkan lampu penerang dan pengendalian
keselamatan lalu lintas sistem refleksif yang aman bagi pengguna
jalan.
2.1.2 Pengendalian Pada Zona Kerja
Pekerjaan ini meliputi semua lokasi yang berhubungan langsung
maupun tidak langsung dengan aktivitas proyek termasuk jalur
mobilisasi, lokasi pengambilan material atau quarry, dan produksi
beton. Sedangkan untuk perlengkapannya, dibutuhkan seperti lampu
sinyal berkedip, system reflektif, rambu segitiga dan perlengkapan
lain yang diperlukan selama proses mobilisasi dilakukan. Pemasangan
rambu-rambu sebagai peringatan bagi pengguna jalan agar berhati-
hati saat melintas daerah kerja.
2.1.3 Bahan dan Perlengakapan
1. Rambu Panah Berkedip
Rambu ini dipasang pada lokasi zona kerja
maupun daerah kerja, yang berfungsi baik
sebagai pemberitahuan untuk pengalian
jalan maupun peringatan, pada titik-titik
lokasi yang dianggap rawan kecelakaan.
2. Rambu Suar Portable
Rambu ini di letakan pada ujung tiap
segmen pada awal dan akhir lokasi
pekerjaan, dan befungsi untuk peringatan
bagi para pengguna jalan untuk supaya
berhati – hati saat memasuki daerah kerja.
3. Rambu Peringatan Konstruksi
Rambu ini dirancang baik secara tetap
maupun portable atau dapat dipndah-pindah
pada setiap segmen yang membutuhkan
penanda lalu lintas. Rambu-rambu ini juga
berfungsi sebagai pemberitahu kepada
pengguna jalan serta dibuat agar efektif dan
efisien dalam fungsinya sebagai peringatan
kepada pengguna jalan untuk berhati-hati
4. Rambu Pengalihan
Rambu ini harus terlihat pada jarak 150 m
sebelum memasuki daerah konstruksi atau
sebelum daerah yang dianggap rawan
kecelakaan. Untuk jalur jalan yang padat
akan menambah tenaga bantu khusus
sebagai pengarah lalu lintas, dapat
digunakan dari aparat kepolisian lalu lintas
maupun security dari penyedia jasa. Rambu
pengalihan jalan bersifat tetap pada titik-titik
jalur pengalihan selama pekerjaan
berlangsung.
5. Rambu Penanda
Digunakan untuk peringatan jarak jauh yang
mampu memberikan peringatan kepada
pengguna jalan secara sekilas tanpa
mengganggu aktivitas mengemudi. Rambu
ini berfungsi sebagai intimidasi kepada para
pengguna jalan dan angkutan proyek agar
waspada dan berhati-hati saat melewati
daerah tersebut.
6. Penghalang Lalu Lintas
Penghalang lalu lintas atau barikade dibuat
dengan bahan pvc yang dilapisi dengan cat
warna merah dan putih sebagai simbol
perlindungan area kerja maupun sebagai
pembagi jalur jalan. Barikade digunakan
untuk memandu lalu lintas agar tidak
melewati pekerjaan yang telah selesai
dikerjakan seperti perkerasan jalan atau
lokasi peralihan
2.1.4 Pemeliharaan Lalu Lintas
Pekerjaan ini dilakukan selama rentang waktu pelaksnaan pekerjaan baik
dilokasi zona kerja maupun di lokasi daerah kerja. Perbaikan maupun
penggantian semua peralatan maupun perlengkapan harus dilakukan untuk
menjamin pengendalian lalu lintas selama periode pelaksanaan pekerjaan dapat
terjaga dan terpelihara.
Koordinator manajemen keselamatan lalu lintas yang di tunjuk harus senantiasa
memastikan setiap peralatan dan perlengkapan disemua sector pekerjaan di
implementasikan dengan baik dan benar. Bilamana manajemen keselamatan lalu
lintas tidak di terapkan sesuai rencana atau ketentuan-ketentuan yang disepakati,
baik itu bersifat diabaikan maupun pengurangan peralatan dan perlengkapan,
maka pihak direksi pekerjaan dapat memotong biaya operasional manajemen
keselamatan lalu lintas dan semua resiko yang berhubungan dengan
pengendalian lalu lintas menjadi tanggung jawab penyedia jasa selama masa
pekerjaan berlangsung.
2.2 RENCANA KERJA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN
(RKKPL)
Penyusunan Rencana Kerja pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan RKPPL untuk
melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup. Perlu disusun suatu rencana kerja
penanganan dampak lingkungan pada tahap konstruksi yang berupa penyusunan
Rencana Kerja Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan RKPPL, Dasar Penyusunan
RKPPL mengacu pada ketentuan Dokumen Kontrak. Pemantauan lingkungan
dimaksudkan untuk memastikan bahwa pengelolaan lingkungan telah dilaksanakan
dengan semestinya dan meningkatkan kesadaran para pemrakarsa kegiatan untuk
melaksanakan pengelolaan lingkungan secara benar, bersungguh-sungguh dan
bertanggung jawab serta mengetahui berbagai kendala dan permasalahan terhadap
efektifitas dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan. Laporan pemantauan ini akan
tercakup dalam persyaratan laporan proyek yang disiapkan oleh seluruh manajemen
proyek dan tim konsultan dengan salinan lengkap diserahkan ke Bank Dunia.
2.3 RENCANA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA KONSTRUKSI
(RK3K)
syarat kesehatan, kebersihan, serta penerangan dalam tempat kerja memberikan Semua
kecelakaan kerja harus dilaporkan pada petugas yang ditunjuk oleh departemen tenaga
kerja. Hukum keselamatan kerja mengatur tentang daftar pekerjaan yang mengharuskan
pemeriksaan kesehatan pekerja/buruh sebelum pekerja. Pemeriksaan kesehatan rutin
juga harus dilaksanakan. Perusahaan dengan 100 pekerja atau lebih dan memiliki resiko
tinggi, harus perwakilan pekerja/buruh harus setuju pada manajemen sistem
keselamatan dan kesehatan kerja. Juga harus dijelaskan kepada semua pekerja, supplier,
dan pelanggan. Kementrian melakukan pemeriksaan dan evaluasi secara rutin.
Peraturan Menteri Tentang Kerja No. 7 Tahun 1964 tentang persyaratan khusus untuk
tempat kerja.
a. Larangan Penggunaan Pekerja Dibawah Umur dan/atau pekerja paksa
Berdasarkan pasal 68 dan pasal 69 UU No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan
(UKK), pada prinsipnya pengusaha (Pemberi Kerja) dilarang mempekerjakan anak.
Namun pengecualian-pengecualian tertentu untuk mempekerjakan anak, yakn i:
1. Untuk anak yang berumur antara 13 s/d 15 tahun hanya dapat dipekerjakan untuk
pekerjaan ringan sepanjang tidak mengganggu perkembangan kesehatan, fisik,
dan mental serta hubungan sosial (si anak). Untuk mempekerjakan anak pada
pekerjaan [ekerjaan yang ringan tersebut, harus memenuhi beberapa syarat,
sebegai berikut :
1) Ada izin tertulis dari orang tua/walinya
2) Dibuat perjanjian kerja antara pemberi kerja dengan orang tua/wali si anak,
sehingga jelas hubungan kerjanya
3) Waktu kerjanya maksimal 3 jam perhari
4) Hanya boleh dikerjakan pada siang hari sepanjang tidak mengganggu waktu
sekolah
5) Harus dijaga keselamatan dan kesehatan kerjanya (K3)
6) Upahnya dibayar sesuai dengan ketentuan yang berlaku
2. Untuk anak yang berumur antara 15 s/d 18 tahun sudah dapat dipekerjakan secara
normal/umum akan tetapi tidak boleh dieksploitasi untuk bekerja pada pekerjaan-
pekerjaan yang membahayakan (The Worst Form) baik ancaman/bahaya bagi
kesehatan maupun keselamatan, bahkan moral si anak. Pada usia ini anak sudah
dianggap cakap (Bekwaam) untuk Melakukan hubungan kerja tanpa kuasa/wali
(Pasal 2 Ayat 3 Kepmenakertrans No Kep-235/Men/2003 dan Konvensi ILO
No.138 serta Konvensi ILO No. 182)
2.4 RENCANA PENGELOLAAN PEKERJA
Perekrutan tenaga kerja adalah suatu proses mencari tenaga kerja dengan mendorong
serta memberikan suatu penghargaan untuk melamar pekerjaan pada perusahaan.
Perekrutan ini dilakukan dengan memilih tenaga kerja yang telah berpengalam dan
terampil di bidangnya.
1. Perekrutan
a. Perjanjian Kerja
Seperti diatur oleh undang-undang ketenagakerjaan, yaitu bab 1 pada pasal
definisi umum no.14. Perjanjian kerja adalah perjanjian yang dibuat antara
pekerja/karyawan dan pengusaha atau majikan. Perjanjian yang dibuat antara
pekerja/karyawan dan pengusaha atau majikan. Perjanjian tersebut berisi
persyaratan kerja, hak dan kewajiban dari kedua belah pihak. Perjanjian kerja
tidak dibuat dengan batas waktu, kecuali jenis pekerjaan yang terkait adalah
sementara/musiman. Jika perjanjian berlaku untuk waktu tertentu, durasi tidak
dapat lebih dari 2 tahun. Perjanjian jenis ini hanya dapat diperpanjang sebanyak
satu kali, untuk periode tidak lebih dari 1 tahun.
b. Masa Percobaan
Masa Percobaan dilakukan tidak boleh lebih dari 3 bulan, guna menganalisa dan
mengevaluasi hasil kinerja tenaga kerja.
c. Jam Kerja
Pada umumnya,jam kerja di Indonesia adalah sebagai berikut : 40 jam/minggu, ini
berarti 7 jam/hari selama 6 hari dalam seminggu, atau 8 jam/hari selama 5 hari
seminggu.
d. Lembur
Lembur maksimal selama 3 jam sehari atau 14 jam dalam seminggu, lembur harus
dilakukan dengan persetujuan dari karyawan. Maka dari itu, karyawan memiliki
hak untuk menerima upah lembur, dan karyawan yang bekerja selama hari libur
juga harus menerima upah lembur.
e. Upah Minimum
Upah minimum tergantung pada tiap-tiap daerah (kota atau provinsi). Perusahaan
harus mematuhi standar upah minimum yang berlaku. Perusahaan tidak
berkewajiban untuk membayar jika pada hari tertentu karyawan tidak dapat
bekerja.
2. Pengelolaan Basecamps
Pembuatan jadwal berkala untuk kebersihan dan kerapian basecamp menjadi
tanggung jawab penyedia jasa. Melakukan pengecekan baik kondisi maupun
peralatan yang ada pada lokasi. Melalui pelaporan dan pemantauan kondisi lewat
lembar monitoring harian sebagai bukti untuk monitoring kelengkapan dan peralatan
yang ada pada Basecamp serta kondisinya.
3. Asuransi Pekerja, Hak-hak dan Kewajiban
Mendapatkan Jaminan Kecelakaan kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM) yang
ditanggung oleh kontraktor dan besarnya ditetapkan berdasarkan nilai kontrak yang
dipergunakan sebagai dasar Perhitungan iuran termasuk Pajak Pertambahan Nilai
(PPN) sebesar 10%. Hak pekerja dalam melakukan pekerjaan, mereka berhak
mendapat alat perlindungan diri sesuai dengan lokasi dan resiko dari pekerjaan yang
akan mereka lakukan. Fasilitas kesehatan yang berada di lokasi dan resiko dari
pekerjaan yanh akan mereka lakukan. Fasilitas kesehatan yang berada di lokasi
pekerjaan serta klinik kesehatan yang bertugas untuk memberikan pertolongan
pertama pada kecelakaan serta himbauan untuk bekerja secara hati-hati baik dari
metode pekerjaan dan penggunaan alat. Sedangkan kewajiban tenaga kerja yaitu
wajib dan patuh pada peraturan perusahaan dengan menggunakan alat pelindung diri
setiap Melakukan pekerjaan. Menggunakan peralatan sesuai fungsinya dan
mematuhi rambu-rambu yang tertera dilokasi pekerjaan.
2.5 RENCANA UNTUK MEMPEROLEH PERSETUJUAN/PERIZINAN
Melakukan perizinan kepada kepala desa untuk izin akses ke lokasi serta penggunaan
jalan apabila digunakan sebagai jalan akses dengan ketentuan dan persyaratan harus
menjaga dan mengembalikan ke kondisi semula apabila jalan desa digunakana sebagai
jalan akses. Sedangkan untuk Borrow Pit mengajukan ijin lokasi yang akan dijadikan
borrow pit, apabila borrow pit merupakan asset dari pemerintah maka perizinan
melalui direksi.
2.6 RENCANA MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN
MASYARAKAT TERDAMPAK
1. Strategi Pendekatan dan Sosialisasi dengan Masyarakat Terdampak
Memberikan Penyuluhan dan sosialisasi tentang pekerjaan yang akan dikerjakan
serta metode pekerjaan yang akan dikerjakan. Memberikan gambaran mengenai
kemungkinan dampak pekerjaan yang akan dikerjakan. Memberikan gambaran
mengenai kemungkinan dampak yang terjadi baik personal maupun kelompok.
Melakukan tindakan pencegahan serta penanganan untuk meminimalisir dampak
yang terjadi
2. Penyuluhan Mengenai HIV/AIDS dan Penyakit Seksual Menular
Memberikan arahan dan peraturan untuk tenaga kerja agar patuh dan taat pada
peraturan perusahaan selama masa pekerjaan konstruksi berlangsung. Pemberian
sanksi kepada tanaga kerja yang melanggar serta melimpahkan pada hukum yang
berlak. Memberikan arahan kepada masyarakat untuk saling menjaga dan mematuhi
hukum adat setempat maupun hukum yang berlaku.
3. Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender (Gender Based Violence/GBV )
Memberikan perlindungan kepada tenaga kerja wanita yang ikut bekerja dengan
memberikan perlindungan dan porsi kerja sesuai dengan kemampuannya. Jaminan
keselamatan serta perlakuan yang setara tanpa membedakan Ras maupun Gender.
Serta tidak membedakan ras maupun gender pada masyakarat sekitar yang ingin ikut
serta dalam pelaksanaan pekerjaan dengan ketentuan kemampuan yang berlaku.
4. Kekerasan Terhadap Anak (Violence Against Children/VAC)
Penggunaan tenaga kerja dibawah umur dengan syarat perizinan orang tua/wali serta
persyaratan sesuai dengan undang-undang yang berlaku sebagai bentuk partisipasi
dalam pemajuan pembangunan di wilayah pekerjaan yang terdampak. Memberikan
arahan serta perlindungan terhadap anak dengan tidak melakukan eksploitas yang
bertentangan dengan undang-undang.
5. Dermarkasi Lokasi dan Akses Warga yang memiliki risiko Kesehatan dan
Keselamatan
Melakukan pencegahan dan penanganan untuk lokasi jalan akses yang memiliki
dampak polusi serta dapat mengganggu kesehatan masyarakat. Penanganan dengan
Melakukan pembasahan dan pembersihan jalan akses setelah jam kerja selesai,
dengan tujuan untuk mengurangi dampak polusi dan membersihkan tumpukan sisa
material yang berserakan di jalan.
6. Manajemen Polusi dan Limbah
Untuk bahan limbah sisa pekerjaan yang tidak dapat digunakan dan mungkin dapat
menimbulkan limbah bagi lingkungan sekitar, dilakukan pengumpulan dan
pemindahan oleh penyedia jasa ke lokasi yang telah ditentukan oleh direksi. Serta
limbah yang kiranya dapat mengganggu dan memerlukan perlakuan khusus
dilakukan dengan arahan dan persetujuan dari direksi.
2.7 MEKANISME PENANGANAN KELUH BAGI PEKERJA KONSTRUKSI DAN
MASYAKARATYANG TERDAMPAR
a. Langkah Mekanisme Penanganan
Adapun tahapan yang akan dilaksanakan untuk penanganan pada masyarakat
terdampak sebagai berikut :
Pengaduan Masyarakat
Terdampak Melalui Pelaksana Ahli Lingkungan dan K3
Persetujuan Rt/Rw dan
Disahakan Oleh
Umumkan Hasil
Inventarisasi Aset dan Identifikasi
Inventarisasi dan Tim Penanggulangan
Dampak
Identifikasi
Negosiasi dan Solusi Monitoring dan Evaluasi
b. Hak Masyarakat Terdampak
Mengajukan pemebenahan untuk aset yang terdampak saat pelaksanaan pekerjaan.
Pemberian santunan kepada masyarakat terdampak dengan cara negosiasi dan sesuai
dengan adat setempat maupun hukum yang berlaku sesuai besaran yang terdampak
kepada masyarakat atau golongan
2.2 RENCANA MANAJEMEN RESIKO LINGKUNGAN DAN SOSIAL YANG MUNGKIN TIMBUL AKIBAT PELAKSANAAN PEKERJAAN
KEGIATAN ASPEK MASALAH LINGKUNGAN DAN SOSIAL TINGKAT
DAMPAK
- Polusi Udara- Debu yang terdampak pada sistem pernapasan manusia
Transportasi Bahan dan dari kehilangan material saat pengangkutan
Resiko Sedang
Peralatan - Polusi Kebisingan-Dampak dari pergerakan kendaraan
Pekerjaan Persiapan
- Dampak lalu lintas-Gangguan lalu lintas sementara
Transportasi Tenaga Kerja - Kecemburuan sosial antar pekerja dengan masyarakat setempat Resiko Kecil
- Polusi udara-Debu yang terdampak saat proses penggalian dari material
Pekerjaan Galian Tanah Resiko Kecil
galian yang beterbangan
Pekerjaan Tanah
- Penempatan sisa galian pada lahan masyarakat sekitar yang bersinggungan
Penempatan Sisa Galian Resiko Kecil
dengan lokasi pekerjaan
- Polusi udara-Debu yang terdampak pada system pernafasan manusia dari
kegiatan pembongkaran
Pekerjaan Pembongkaran - Polusi Kesisingan-dampak dari kegiatan pembongkaran Resiko Sedang
Pekerjaan Struktur - Polusi Air-Potensi tambahan sedimen atau material lain yang mengendap di
dalam perairan selama kegiatan pembongkaran
Penempatan Puing - Polusi udara-padasaat pengangkutan dan penempatan Resiko Kecil
- Polusi udara-Debu dari mobilisasi material yang mengganggu pernapasan
Pekerjaan Arsitektur masyarakat yang dilalui
Pekerjaan Pengecoran Resiko Kecil
- Polusi kebisingan-dampak dari kegiatan pengecoran maupun saat
mobilisasi material.
Pemotongan Besi dan - Polusi kebisingan-dampak dari kegiatan pembesian maupun saat mobilisasi
Perangkaian material.
Pekerjaan Interior Resiko Sedang
- Polusi tanah-dampak dari sisa potongan yang tidak terbuang dapat
Sisa Potongan
mencemari tanah dan merusak tanaman
BAB III
MONITORING DAN EVALUASI
Penyelenggaraan PEMBANGUNAN GEDUNBG BBWS CITARUM akan dipantau dan
dievaluasi secara berkala dalam Penerapan Strategi Pengelolaan dan Rencana Pelaksanaan
(SPRP). Status dan dampak kepada lingkungan maupun sosial harus tercakup dalam laporan
sehingga dapat termonitor dengan baik. Monitoring dan Evaluasi akan terpusat oleh indikator-
indikator utama yang dirincikan dalam dokumen lelang dan persetujuan dari direksi.
1. Pemantauan Kinerja
Pertemuan-pertemuan publik dengan masyarakat sekitar proyek yang terdampak dan telah
ditindaklanjuti baik secara inventarisasi lokasi terdampak maupun asset yang terdampak
maupun dampak yang berimbas pada sosial masyarakat, baik secara kesehatan maupun
moral.
2. Pemantauan Dampak
Pemantauan dimaksudkan untuk memberikan penilaian obyektif pada dampak yang terjadi
serta kesesuaian penanganan dampak yang terjadi.
3. Audit Penyelesaian
Tidak hanya merekan pencapaian akhir, akan tetapi juga menarik pemantauan dampak untuk
menentukan apakah sudah menekan atau menghilangkan dampak yang terasa pada
masyarakat sekitar proyek.
Sumatera Selatan, 05 Nopember 2020
PT. GUNUNG MAS INDAH LESTARI
IBNU AKIL
Direktur
KODE ETIK PERUSAHAAN
KODE ETIK PERUSAHAAN
DAFTAR ISI ................................................................................................................... 62
I. KATA SAMBUTAN MANAJEMEN KSO .......................................................... 63
II. PENDAHULUAN ........................................................................................................ 64
A. LATAR BELAKANG ............................................................................................ 64
B. TUJUAN ................................................................................................................ 64
C. VISI DAN MISI ...................................................................................................... 64
III. NILAI DAN DASAR K3 PERUSAHAAN .................................................................. 65
A. NILAI - NILAI PERUSAHAAN ............................................................................ 65
B. FAKTOR PENUNJANG K3 .................................................................................. 65
C. MANFAAT BUDAYA K3 DI TEMPAT KERJA ................................................. 65
D. KESETARAAN GENDER DAN KESEMPATAN KERJA ................................. 66
IV. RENCANA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DAN
LINGKUNGAN (RK3L) ............................................................................................. 66
A. KOMITMEN ATAS KEBIJAKAN K3L DAN SASARAN TARGET K3L ......... 66
B. SASARAN DAN PROGRAM K3L ...................................................................... 67
C. IMPLEMENTASI ................................................................................................... 67
V. PEDOMAN PERILAKU PERUSAHAAN .................................................................. 68
VI. PETUNJUK PELAKSANAAN DAN PELAPORAN ................................................. 70
A. SOSIALISASI ........................................................................................................ 70
B. KOMITMEN DAN TANGGUNG JAWAB .......................................................... 71
C. PELANGGARAN .................................................................................................. 71
D. MEKANISME PELAPORAN PELANGGARAN ................................................ 71
E. PENANGANAN PELANGGARAN ...................................................................... 71
F. SANKSI ................................................................................................................. 72
VII. PENUTUP .................................................................................................................... 72
I. KATA SAMBUTAN MANAJEMEN
Sebagai manajeman PT. GUNUNG MAS INDAH LESTARI, kami menjunjung dengan
baik Kode Etik Perusahaan demi kebaikan seluruh karyawan baik dari golongan staff,
pengawas, pekerja, sampai dengan tingkatan Direksi dan Dewan Komisaris Perusahaan.
Semua karyawan tetap, paruh waktu, ataupun karyawan kontrak memiliki kewajiban hingga
Direksi sekalipun wajib untuk mengikuti Kode Etik dan mematuhi semua kebijakan dan
prosedur Perusahaan, serta semua undang-undang, aturan dan peraturan yang berlaku di
negara. Kode Etik Perusahaan ini kami terapkan demi tercapainya satu kesatuan perusahaan
yang baik dan besar dari sekarang sampai kedepanya. Peran masing- masing individu dalam
perusahaan sangatlah penting, dimana untuk menjaga hubungan yang harmonis antar
karyawan, baik antar sesama karyawan sampai dengan pihak luar harus senantiasa menaati
Kode Etik Perusahaan yang berlaku tanpa pandang perbedaan.
Dan sebagai bagian dari pengelolaan perusahaan yang baik, kami percaya bahwa penerapan
Kode Etik Perusahaan yang menyeluruh dan berkesinambungan akan memberikan pondasi
yang kuat dan akan semakin meningkatkan kepercayaan diri untuk menghadapi tantangan
dalam kondisi apapun.
II. PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kode Etik berfungsi sebagai panduan agar kita bertindak secara etis dan sesuai dengan
hukum yang berlaku saat kita melakukan pekerjaan di manapun dan kapanpun. Kode
ini menjelaskan standar-standar yang perlu kita patuhi dalam menjalankan nilai-nilai
Perusahaan, begitu juga dengan Undang-Undang, peraturan, dan kebijakan tertentu
yang terkait.
Istilah K3 atau Keselamatan dan kesehatan kerja saat ini sudah sangat nyaring
terdengar apalagi dikalang para pekerja suatu industry ataupun pabrik, dengan adanya
slogan “zero accident” maka istilah K3 semakin akarab dengan telinga masyarakat.
Akan tetapi, tidak bayak orang yang mengetahui apa itu K3 dan hanya mendengar
sepintas mengenai istilah K3 ini.
Di Indonesia, pemerintah membantu dengan memberlakukan peraturan dan
perundangan. Undang-undang yang memberikan perlindungan terhadap tenaga kerja
adalah Undang-undang No.1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja dan Permenaker
[Link].03/Men/1982 tentang Pelayanan Kesehatan Kerja. Atas dasar inilah maka
peran tenaga kesehatan kerja sangat diperlukan sebagai salah satu upaya untuk
melaksanakan Undang-
undang tersebut di atas. Tenaga Kesehatan yang bekerja di perusahaan merupakan
Ahli Kesehatan Kerja (occuptional health specialist) yang bekerja dalam komunitas
pekerja dan menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang berhubungan dengan tempat
kerja dan berfokus pada keselamatan kerja, serta menggunakan prinsip-prinsip
pencegahan dan pengendalian efek yang merugikan selama interaksi pekerja dengan
tempat kerja. Tenaga kesehatan yang bekerja di perusahaan selain harus mahir dan
mempunyai pengetahuan yang cukup tentang penyakit-penyakit akibat kerja,
mengetahui cara-cara pencegahan, diagnosis dini dan usaha-usaha lain dalam
memberantas penyakit akibat kerja, mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan
hubungan kerja yang kurang baik, berkurangnya gairah kerja, serta hal-hal lain, juga
harus mempunyai etika tenaga kesehatan dalam tugas mereka.
B. TUJUAN
Program keselamatan dan kesehatan kerja bertujuan untuk memberikan iklim yang
kondusi bagi para pekerja untuk berprestasi, setiap kejadian baik kecelakaan dan
penyakit kerja yang ringan maupun fatal harus dipertanggungjawabkan oleh pihak-
pihak yang bersangkuta.
Tujuan dari dibuatnya program keselamatan dan kesehatan kerja adalah untuk
mengurangi biaya perusahaan apabila timbul kecelakaan kerja dan penyakit akibat
hubungan kerja. Beberapatujuan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
adalah :
1 Mencegah kerugian fisik dan finansial baik dari pihak karyawan dan perusahaan.
2 Pencegah terjadinya gangguan terhadap produktivitas perusahaan.
3 Penghemat biaya premi asuransi.
4 Penghindari tuntutan hukum dan sebagai tanggung jawab sosial perusahaan kepada
karyawannya
C. VISI DAN MISI
Sebagai perusahaan yang bergerak dibidang konstruksi, kami selalu mengedepankan
kesejahteraan karyawan perusahaan (berbagai posisi jabatan) demi hubungan yang baik
didalam perusahaan. Hubungan baik dalam perusahaan inilah yang menjadikan kami
senantiasa memberiakn layanan jasa konstruksi yang baik kepada pelanggan kami baik
Pemerintah maupun Swasta. Pemaparan dan Penerapan Kode Etik Perusahaan harus
tepat sasaran guna membawa perusahaan pada visi dan misi lebih efisien dan optimal
baik dalam lingkungan perusahaan maupun diluar perusahaan.
● VISI
Untuk menjadi Perusahaan Konstruksi yang terpercaya dalam Infrastruktur Sumber
Daya Air, Tenaga Air, Bangunan dengan Rekayasa yang Efektif dan Efisien,
Manajemen Proyek dan Strategi Kerjasama.
● MISI
Menyediakan Jasa Konstruksi Profesional yang berfokus pada Infrastruktur
Sumber Daya Air, Pembangkit Listrik Tenaga Air dan Bangunan dengan metode,
teknologi, sumber daya, dan sistem yang terpercaya, efektif, dan memberi kepuasan
stakeholder.
III. NILAI DAN DASAR K3 PERUSAHAAN
A. NILAI - NILAI PERUSAHAAN
● Kedisiplinan
Berusaha mendisiplinkan diri dengan menaati peraturan yang kita buat sendiri.
Membuat jadwal kegiatan dalam sehari/seminggu/sebulan atau dalam kurun waktu
tertentu akan membantu dalam melatih disiplin. Dengan begitu, kita akan berusaha
bertindak/melakukan kegiatan sesuai jadwal dan membuat hidup teratur tanpa
adanya waktu yang terbuang sia- sia.
● Kejujuran
Kejujuran merupakan kunci untuk mendapatkan kepercayaan dari orang lain.
Sekali tidak jujur, selamanya orang tidak akan percaya pada kita. Maka kejujuran
perlu ditanamkan pada setiap profesi.
● Kemandirian
Terdapat waktu dimana kita akan menerima banyak tuntutan untuk mandiri, baik
itu di kehidupan kerja maupun kehidupan diluar kerja. Dalam kondisi seperti itu,
kita harus bisa mengerjakan sesuatu masalah dengan sendiri, tidak bergantung pada
orang lain, agar tidak mempersulit masalah yang sudah ada. Kemandirian bukan
berarti melatih kita untuk individual dan egois, tetapi lebih menekankan pada
penggalian seluruh potensi yang dimiliki agar mampu menyelesaikan setiap
masalah.
● Keberanian mengambil resiko
Segala sesuatu yang dilakukan pasti ada resikonya. Orang yang tidak pernah
berhadapan dengan resiko berarti ia tidak pernah melakukan apa-apa. Sebaliknya,
orang yang banyak menghadapi resiko berarti ia melalukan banyak hal. Tetapi bila
sudah niat dan sungguh- sungguh, apapun resikonya akan dijalani dengan ikhlas
dan lapang dada. Di balik setiap resiko, suatu saat pasti ada manfaatnya yang bisa
dipetik.
B. FAKTOR PENUNJANG K3
● Komitmen Manajemen Terhadap Keselamatan Kerja
● Peraturan dan Prosedur Keselamatan Kerja
● Komunikasi
● Keterlibatan Pekerja dalam Keselamatan Kerja
● Lingkungan Sosial Pekerja
● Perilaku Keselamatan Kerja
● Kepemimpinan Keselamatan (Safety Leadership)
C. MANFAAT BUDAYA K3 DI TEMPAT KERJA
Budaya keselamatan yang baik dapat membentuk perilaku pekerja terhadap
keselamatan kerja yang diwujudkan melalui perilaku aman dalam melakukan
pekerjaan.
Manfaat budaya keselamatan di tempat kerja adalah :
● Meminimalkan kemungkinan kecelakaan akibat kesalahan/ kelalaian yang
dilakukan individu
● Meningkatkan kesadaran akan bahaya melakukan kesalahan/ kelalaian
● Mendorong pekerja untuk menjalani setiap prosedur aman dalam semua tahap
pekerjaan
● Mendorong pekerja untuk melaporkan kesalahan / kekurangan sekecil apapun yang
terjadi untuk menghindari terjadinya kecelakaan
D. KESETARAAN GENDER DAN KESEMPATAN KERJA
Salah satu pemenuhan tanggung jawab terkait ketenagakerjaan adalah penjaminan atas
hak seluruh karyawan dapat diperlakukan secara adil dan setara tanpa ada kebijakan
intenal yang membedakan hak karyawan berdasarkan diskriminasi suku, agama, ras,
golongan maupun terkait dengan gender. Prinsip kesetaraan ini ditegakkan antara lain
melalui pemberian kesempatan kerja bagi setiap gender secara adil, memberikan hak
cuti kepada karyawan yang mengambil cuti melahirkan serta memberikan kesempatan
yang sama bagi setiap karyawan untuk mengembangkan diri serta memperoleh
peningkatan karir.
IV. RENCANA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DAN LINGKUNGAN
(RK3L)
A. KOMITMEN ATAS KEBIJAKAN K3L DAN SASARAN TARGET K3L
1 KEBIJAKAN/POLICY
PT. GUNUNG MAS INDAH LESTARI telah menyusun dan menetapkan
kebijakan terkait K3L untuk lingkungan kerjanya. Selanjutnya, kebijakan tersebut
akan dikomunikasikan serta dipelihara sesuai dengan ruang lingkup kerja.
Kebijakan tersebut merupakan bukti nyata terhadap komitmen manajemen PT.
GUNUNG MAS INDAH LESTARI dalam merencanakan tujuan K3L pada
operasi bisnisnya.
Sosialisasi kebijakan K3L dilaksanakan dalam kegiatan yang bersifat komunikatif
seperti tool box meeting, safety induction, safety talk, dan lainnya yang diikuti
oleh manajemen, pelaksana pekerjaan, hingga tenaga kerja di lapangan serta di
sosialisasikan melalui papan informasi yang berada di site ke seluruh pekerja
harian. Kebijakan K3L, yang telah di tandatangani oleh Direktur Utama dan di
komunikasikan, selanjutnya dapat untuk dipahami dan dijalankan dengan
kepatuhan oleh seluruh karyawan dan para mitra Penyedia jasa yang terlibat.
2 KEBIJAKAN K3L PERUSAHAAN
Kebijakan K3L Perusahaan menjadi dasar dari Sistem Manajemen Keselamatan,
Kesehatan Kerja dan Lingkungan. Kebijakan K3L menggambarkan bagaimana
komitmen manajemen dalam hal Keselamatan dan Kesehatan Kerja para karyawan
serta lainnya, dan juga dalam upaya perlindungan terhadap lingkungan atas setiap
pelaksanaan kegiatan-kegiatan perusahaan.
Kebijakan tersebut diamanatkan kepada para manajemen lini untuk menjadi
wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam setiap pelaksanaan kegiatan
perusahaan serta dikomunikasikan dan dipelihara di lingkungan kerja yang terkait.
Hal tersebut mencerminkan keinginan manajemen serta bersungguh-sungguh
dalam :
● Melindungi karyawannya dari kecelakaan kerja maupun dampak yang
diakibatkan dari aktivitas kerja tersebut.
● Menekan seminimal mungkin angka kecelakaan kerja.
● Menekan dampak lingkungan yang diakibatkan oleh aktivitas proyek dari
perusahaan.
● Melindungi peralatan dari kerusakan yang serius.
● Menaikkan citra perusahaan dan meningkatkan moral karyawan.
● Memenuhi harapan pelanggan di dalam penerapan aspek K3L.
3 KEBIJAKAN K3L PROYEK
Kebijakan K3L untuk project ini dibuat, ditetapkan dan dikomunikasikan kepada
semua personil yang terlibat. Kebijakan tersebut mencakup :
Setiap aktifitas pekerjaan wajib dilakukan identifikasi bahaya kecelakaan kerja,
penilaian
● dan pengendalian resiko (membuat JSA) yang telah disetujui baik dari
manajemen (Project Manager) dan Tim HSE Project.
● Melakukan peninjauan terhadap kejadian berbahaya yang berakibat kecelakaan
kerja dengan mengimplemenntasikan JSA.
● Melakukan peninjauan terhadap kesehatan kerja.
Penilaian efisiensi dan efektifitas, sejak perencanaan dan implementasi dan
pemantauan, dengan cara peninjauan dan dijadikan agenda rapat K3L periode
mingguan dan atau bulanan.
● Melakukan Penilaian Kinerja Manajemen terhadap Upaya pengendalian
potensi bahaya, periode Mingguan dan Bulanan.
● Komitmen dalam pencegahan kecelakaan kerja dan akibat penyakit.
● Komitmen terhadap persyaratan dan perundang-undangan yang berlaku.
● Memastikan ketersediaan sumber daya sesuai dengan kebutuhan proyek.
● Melaksanakan perbaikan-perbaikan sebagai bentuk perbaikan
berkesinambungan di dalam aspek penerapan K3L.
Komitmen terhadap pelarangan penggunaan alkohol dan obat-obatan, pelarangan
● Penggunaan senjata di dalam area kerja maupun tindakan-tindakan yang dapat
merugikan perusahaan.
Setiap kegiatan sosialisasi melibatkan pekerja secara proaktif dengan bersama
dalam pengendalian potensi bahaya, seperti aktifitas: Proses Safety Induction
– Training – JSA – Toolbox meeting – House Keeping dan lain-lainnya
● Setiap pekerjaan yang dilaksanakan harus berdasarkan Ijin Kerja / Work
Permit yang telah disetujui.
B. SASARAN DAN PROGRAM K3L
Sasaran K3L merupakan tujuan atau cita-cita yang terukur dari suatu proyek atau
proses bisnis terhadap resiko K3L yang di ingin dicapai. Terdapat syarat-syarat yang
menjadi acuan dalam menyusun sasaran dan program K3L agar sasaran K3L dapat
tercapai, antara lain yaitu :
● Terukur, dapat diterapkan dan sesuai dengan kebijakan K3L Perusahaan.
● Terdapat penanggung jawab terhadap program yang di susun. Ditinjau secara
berkala yang direncanakan menurut jangka waktu tertentu dan disesuaikan
● seperlunya untuk menjamin tercapainya sasaran/tujuan/target K3. Mengacu pada
pemenuhan peraturan perundang-undangan terkait resiko K3 (termasuk pada.
● Pilihan teknologi, pendanaan, persyaratan bisnis dan operasional serta pandangan
pihak ke tiga yang berhubungan dengan aktivitas operasional organisasi proyek).
C. IMPLEMENTASI
A Safety Induction
Seluruh orang, baik itu pekerja, tamu atau subcontractor sebelum memasuki area
kerja harus mendapatkan safety induction untuk memberikan informasi yang
cukup kepada mereka apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan di
lokasi kerja, project overview,policy, emergency respon, serta bahaya dan
risikonya, APD, dan sikap kerja aman. Setiap orang mungkin memerlukan katagori
penjelasan informasi yang berbeda.
B Komunikasi, Partisipasi dan Konsultasi
Perusahaan memastikan bahwa komunikasi dua arah antara line management, line
supervisor, pekerja dan subcontractor selalu terbuka dan terpelihara untuk
meningkatkan pola kerja, efisiensi, keselamatan dan kesehatan kerja atau apapun
yang berhubungan dalam rangka menciptakan tempat kerja yang aman. Hal ini
diharapkan dapat merangsang respon yang positif dari semua orang. Dan
memastikan semua data mengenai keselamatan dan kesehatan kerja (laporan
bulanan dan data statistik kecelakaan, minute of meeting, corrective action request,
data pelatihan, dll) dipelihara dan disimpan dengan baik. Komunikasi dilakukan
secara internal maupun eksternal sesuai dengan jadwal yang telah dijadwalkan.
C Toolbox meeting / Safety Talk
Toolbox meeting (+/-15 min.) akan dilakukan setiap hari oleh masing-masing
group dan dipimpin oleh pelaksana atau leader masing-masing. Kegiatan ini akan
memberikan kesempatan kepada pelaksana atau leader dan pekerjanya untuk
saling bertukar informasi secara teratur. Dalam pertemuan ini tidak hanya
membicarakan masalah keselamatan dan kesehatan kerja, tapi para pelaksana atau
leader harus menjelaskan kepada mereka mengenai pekerjaan yang harus
dilakukan pada hari itu, diskusi dari pertemuan ini akan di catatkan pada
attendance list atau absen dari pekerja yang mengikutinya.
D HSE Weekly Meeting
Aktifitas ini akan dilakukan 1 kali setiap minggu dan di arahkan oleh HSE personil
dengan perwakilan HSE sub contractor dan dihadiri oleh perwakilan manajemen
dan owner/customer dan membahas tukar pikiran secara teratur, rencana pekerjaan
disetiap area, membahas hasil inspeksi dan membahas mengenai unsafe action dan
unsafe condition di area kerja. HSE Meeting akan dilaksanakan secara situasional
jika terjadi kejadian-kejadian tertentu yang membutuhkan perhatian khusus seperti
kecelakaan.
E Meeting P2K3
Meeting P2K3 dapat disebut sebagai management review meeting wajib
dilaksanakan sekurang kurangnya sekali dalam sebulan, hal ini merujuk kepada
Kepmenaker No.155/MEN/1984 Pasal 6 yang mengatakan rapat P2K3 wajib
dilaksanakan minimal 1 kali tiap satu bulan.
Project manager dan Line management harus melakukan Management Review.
Pertemuan ini akan meninjau pelaksanaan standard cara kerja yang aman dan
rencana strategis lainnya dalam rangka program pencegahan kecelakaan dan
penyakit akibat kerja.
F Evaluasi Resiko
Dalam Manajemen Risiko K3L yang meliputi proses identifikasi bahaya pada
Kesehatan, Keselamatan Kerja dan Lingkungan untuk menilai risiko, menentukan
tindakan untuk menghilangkan, memantau dan mengurangi Risiko secara terus
menerus.
● Identifikasi dan Daftar Bahaya
● Penilaian Resiko
● Job Safety Analysis (JSA) / Analisa Keselamatan Kerja
● Pengendalian Resiko
● HSE Promotion dan Preventif
V. PEDOMAN PERILAKU PERUSAHAAN
Selain etika, yang tidak kalah pentingnya adalah pertanggungjawaban sosial perusahaan
terhadap perilaku. Etika sangat berpengaruh terhadap tingkah laku individual. Tanggung
jawab sosial mencoba menjembatani komitmen individu dan kelompok dalam suatu
lingkungan sosial, seperti pelanggan, perusahaan lain, karyawan, dan investor. Tanggung
jawab sosial menyeimbangkan komitmen-komitmen yang berbeda.
1 Perilaku terhadap karyawan
Menghormati hak karyawan perusahaan serta senantiasa mengikutsertakan karyawan
dalam
● Menetapkan kebijakan pengelolaan Karyawan secara konsisten sesuai ketentuan dan
peraturan perundang‐undangan yang berlaku.
● Memposisikan karyawan sebagai aset berharga perusahaan yang memiliki
keunggulan berbeda pada masing-masing karyawan Memberikan tunjangan, fasilitas
dan remunerasi lainnya kepada karyawan yang kebijakannya diatur dalam peraturan
perusahaan
● Menghargai kreativitas, inovasi dan inisiatif Karyawan yang memberikan nilai
tambah terhadap Perusahaan.
● Perusahaan mendukung adanya pengembangan diri karyawan untuk memperluas
kompetensi dan wawasannya melalui pelatihan, seminar, sosialisasi peraturan, dan
lainnya.
● Memberikan bimbingan konseling terhadap karyawan untuk mencegah adanya
tindakan kekerasan berbasis Gender (Gender Based Violence/GBC) dan Kekerasan
Terhadap Anak (Violence Against Children/VAC) baik dalam lingkungan
perusahaan, keluarga maupun lingkungan/masyarakat sekitar.
2 Perilaku terhadap pelanggan
● Menjaga kualitas produk dan jasa yang prima, sesuai dengan standar nasional dan
internasional demi kepuasan pelanggan
● Hal terpenting dalam persaingan adalah memberikan hak untuk memilih barang dan
jasa yang mereka perlukan.
● Tanggung jawab sosial perusahaan adalah tidak mengganggu persaingan dan
mengabaikan undang-undang antimonopoli (antitrust).
● Memberikan informasi secara jelas atas produk dan jasa yang dihasilkan serta
menyediakan sarana komunikasi bagi Pelanggan.
● Memperhatikan kebutuhan dan kepentingan pelanggan serta berusaha semaksimal
mungkin untuk memenuhinya.
● Mengedepankan standar layanan yang profesional dengan prinsip-prinsip tepat
jumlah, tepat waktu, tepat informasi dan tepat sasaran.
3 Perilaku terhadap subkontraktor
● Memberikan perlakuan yang sama terhadap seluruh subkontraktor.
● Proses pengadaan barang dan jasa di Perusahaan harus bebas Korupsi, Kolusi dan
Nepotisme (KKN). Memberikan instruksi/pedoman pelaksanaan kerja serta K3
perusahaan untuk diterapkan dalam proses pengerjaan proyek di lapangan,
● Hubungan usaha dengan subkontraktor adalah dengan bekerjasama dengan yang
telah memenuhi kualifikasi/standar yang ditetapkan dan secara konsisten mampu
memenuhi standar kualitas, biaya dan profesionalitas yang diharapkan oleh
perusahaan kami.
● Membangun komunikasi secara intensif dengan subkontraktor untuk mencari solusi
yang terbaik dalam rangka peningkatan kinerja di lapangan terhadap proyek berjalan.
● Menerapkan standar etika kerja yang sama kepada setiap subkontraktor dalam batas-
batas toleransi yang diperbolehkan oleh hukum.
● Memberikan sosialisai terhadap subkontraktor untuk mencegah adanya tindakan
kekerasan berbasis Gender (Gender Based Violence/GBC) dan Kekerasan Terhadap
Anak (Violence Against Children/VAC) baik dalam lingkungan perusahaan serta
lingkungan sekitar lokasi proyek.
4 Perilaku terhadap pemasok
● Memberikan perlakuan yang sama terhadap seluruh pemasok.
● Proses pengadaan barang dan jasa di Perusahaan harus bebas Korupsi, Kolusi dan
Nepotisme (KKN). Memberikan instruksi/pedoman pelaksanaan kerja serta K3
perusahaan untuk diterapkan dalam proses pengiriman barang di lapangan
● Hubungan usaha dengan pemasok adalah dengan bekerjasama dengan pemasok telah
memenuhi kualifikasi/standar yang ditetapkan dan secara konsisten mampu
memenuhi standar kualitas, biaya dan profesionalitas yang diharapkan oleh
perusahaan kami.
● Membangun komunikasi secara intensif dengan pemasok untuk mencari solusi yang
terbaik dalam rangka peningkatan kinerja di pasokan barang di lapangan.
● Menerapkan standar etika kerja yang sama kepada setiap pemasok dalam batas-batas
toleransi yang diperbolehkan oleh hukum.
● Memberikan sosialisai terhadap pemasok untuk mencegah adanya tindakan
kekerasan berbasis Gender (Gender Based Violence/GBC) dan Kekerasan Terhadap
Anak (Violence Against Children/VAC) baik dalam lingkungan perusahaan serta
lingkungan sekitar lokasi proyek.
5 Perilaku terhadap Masyarakat Sekitar
● Selalu menghormati aturan atau hukum adat yang berlaku di masyarakat sekitar.
● Menjadikan masyarakat sekitar lokasi proyek perusahaan sebagai mitra kerja dalam
mencapai
● keberhasilan guna memberikan pekerjaan yang layak.
● Aktif menjalin komunikasi yang baik serta aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan
● Melarang karyawan memberikan janji-janji kepada masyarakat di luar
kewenangannya.
● Tidak melakukan tindakan-tindakan yang mengarah kepada diskriminasi masyarakat
berdasar suku, agama, ras dan antar golongan.
6 Perilaku terhadap Lingkungan
● Ramah lingkunga dengan memerhatikan, melestarikan, dan menjaga lingkungan,
yaitu tidak membuang limbah yang mencemari lingkungan, berusaha mendaur ulang
limbah yang merusak lingkungan, dan menjalin komunikasi dengan kelompok
masyarakat yang ada di lingkungan sekitarnya.
● Mematuhi segala peraturan dan undang-undang terkait isu Iingkungan.
● Menjaga kelestarian atas berbagai keanekaragaman flora dan fauna yang ada di
sekitar lokasi kerja. Menyerahkan penemuan tak terduga atas warisan budaya
(Chance find procedure for cultural herigae) kepada pemerintah daerah terlebih
dahulu untuk ditindaklanjuti.
7 Perilaku terhadap Hukum, Ketentuan dan Peraturan Lain
● Mematuhi ketentuan Pemerintah Pusat dan/atau Daerah seperti peraturan
perundangan yang berkaitan dengan usaha Perusahaan.
● Membina hubungan yang sehat, harmonis dan konstruktif dengan Regulator dan
instansi terkait lainnya baik dari Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah.
● Jujur dan transparan dalam berhubungan dengan semua instansi dan pejabat
Pemerintah Pusat dan/atau daerah.
● Mengedepankan penyelesaian melalui jalur musyawarah untuk mencapai mufakat
dalam setiap perselisihan dengan pihak lain, menempuh jalur hukum bila
musyawarah tersebut tidak membuahkan hasil, dan menghormati hasil dari proses
hukum tersebut.
● Tidak melakukan pembayaran untuk tujuan dan/atau dengan cara yang melanggar
hukum serta terlibat dalam kegiatan yang bertentangan dengan hukum.
● Mendukung proses penegakan hukum dengan memberikan informasi yang lengkap
dan relevan kepada penegak hukum.
VI. PETUNJUK PELAKSANAAN DAN PELAPORAN
A. SOSIALISASI
Sosialisasi merupakan tahapan penting dalam penerapan Code of Conduct (COC).
Pelaksanaan sosialisasi dilakukan oleh Tim K3 Perusahaan yang dikoordinasikan oleh
unit SDM. Perusahaan bertanggung jawab terhadap sosialisasi COC agar berjalan
efektif dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
● Membangun komitmen bagi seluruh pihak-pihak yang berkepentingan dengan
Perusahaan.
● Mewujudkan kesadaran dari pihak-pihak terkait untuk melaksanakan COC ini.
● Memberikan kesadaraan kepada Karyawan bahwa COC merupakan bagian tak
terpisahkan dari praktik bisnis dan penilaian kinerja seluruh Karyawan Perusahaan.
● Melengkapi peraturan Perseroan dengan sanksi atas pelanggaran yang terjadi dan
membangun sistem untuk memantau penerapan Pedoman Etika dan Perilaku.
● Jika diperlukan pelatihan terhadap peneratan COC yang berkaitan dengan K3 di
proyek maka akan dilaksanakan pelatihan dengan Jasa Pelatihan K3 yang
berkompeten.
B. KOMITMEN DAN TANGGUNG JAWAB
Perusahaan dan pihak-pihak yang berkepentingan harus memiliki komitmen untuk
sadar diri dengan COC yang ada berdasar sistem nilai dan budaya kerja di Perusahaan.
Demi pencegahan adanya tindakan kekerasan berbasis Gender (Gender Based
Violence/GBC) dan Kekerasan Terhadap Anak (Violence Against Children/VAC) serta
isu global baik dalam lingkungan perusahaan serta lingkungan sekitar lokasi proyek.
Komitmen dan Tanggung Jawab tersebut adalah :
● Seluruh Insan Perusahaan wajib menandatangani Pakta Integritas yang merupakan
komitmen Insan.
● Perusahaan untuk melaksanakan COC dan berlaku untuk penerapan keseharian.
● Direksi bertanggung jawab atas terlaksananya Pakta Integritas bagi seluruh Insan
Perusahaan sesuai
● dengan unit kerja masing-masing untuk keberhasilakn penerapannya.
● Senantiasa berkomitmen dan bertanggung jawab ata apa yang telah dilakukan demi
terwujudnya kesejahteraan bersama seluruh pihak.
● Untuk pihak-pihak yeng berkepentingan lainnya diluar/selain karyawan perusahaan
pun ikut
menandatangani Pakta Integritas guna tercapainya keberhasilan dalam penerapan
COC di tempat kerja dan/atau lokasi proyek.
C. PELANGGARAN
Pelanggaran COC merupakan tindakan tidak disiplin dan akan ditangani oleh Direktur
Pengembangan Usaha. Setiap Insan Perusahaan yang mengetahui terjadinya
pelanggaran atas setiap fakta yang menyimpang terhadap COC wajib melaporkan
kepada Atasan Langsung dan Direktur SDM.
D. MEKANISME PELAPORAN PELANGGARAN
Pelaksanaan COC merupakan komitmen dan tanggung jawab seluruh Insan Perusahaan.
Apabila terjadi pelanggaran atau penyimpangan maka Insan Perusahaan wajib
melaporkan pelanggaran tersebut melalui atasan langsung; direktur SDM; Kotak
Pengaduan/Whistle Blowing System, email, telepon atau media lainnya yang
ditentukan oleh Perusahaan.
● Segenap Insan Perusahaan dan pihak eksternal Perusahaan (Pelanggan, Mitra Usaha
dan
● Masyarakat) dapat melaporkan kesalahan pelanggaran COC dan Perusahaan wajib
menindaklanjuti pelaporan yang berpotensi merugikan secara materiil dan dapat
merusak citra Perusahaan yang antara lain disebabkan oleh penyimpangan,
manipulasi dan lain sebagainya.
● Pengungkapan harus dilakukan dengan itikad baik dan bukan merupakan suatu
keluhan pribadi ataupun didasari kehendak buruk/fitnah.
● Pelapor wajib mencantumkan identitasnya dengan jelas pada laporan yang dibuat,
disertai dengan bukti pendukung yang relevan. Penerima laporan wajib
merahasiakan identitas pelapor.
● Perusahaan wajib menindaklanjuti setiap laporan yang diterima sesuai prosedur dan
mekanisme yang berlaku.
● Perusahaan juga akan menyediakan perlindungan hukum sebagaimana ketentuan
peraturan
● perundangan yang berlaku.
E. PENANGANAN PELANGGARAN
Direktur SDM atau Pejabat Penanganan Pelanggaran Pedoman dan Etika berdasarkan
hasil penyelidikannya akan membuat keputusan tentang ada/tidaknya pelanggaran
terhadap Pedoman Etika dan Perilaku serta memberikan sanksi. Pihak-pihak yang
dinyatakan melanggar Pedoman diperkenankan untuk mengajukan pertimbangan
kembali atas keputusan tersebut.
F. SANKSI
● Perusahaan memberikan sanksi tegas dan konsisten kepada Insan Perusahaan yang
melakukan pelanggaran COC sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam
Perusahaan.
● Sanksi bagi Karyawan yang melakukan pelanggaran diputuskan oleh Atasan
Langsung atau Direksi sesuai dengan tingkat kesalahannya setelah mendapat
laporan atas pelanggaran yang dilakukan oleh Karyawan yang bersangkutan.
● Direksi memberikan arahan atas tindakan pembinaan, sanksi disiplin dan/atau
tindakan lainnya serta pencegahan yang harus dilaksanakan oleh Atasan Langsung
di lingkungan masing‐masing.
● Sanksi bagi Direksi yang melakukan pelanggaran diputuskan oleh Dewan
Komisaris.
● Sanksi bagi Dewan Komisaris yang melakukan pelanggaran diputuskan oleh
Pemegang Saham.
● Bila Mitra Kerja atau Pemangku Kepentingan lain yang melakukan pelanggaran,
maka akan dikenakan ketentuan sebagaimana yang tertuang dalam kontrak. Apabila
terkait dengan tindak pidana dapat diteruskan kepada pihak yang berwajib.
● Jika kondisi yang ada melibatkan pelanggaran hukum, permasalahan dapat
diteruskan kepada pihak yang berwajib.
VII. PENUTUP
Pedoman Etika dan Perilaku ini didasarkan kepada semangat untuk menerapkan prinsip-
prinsip Good Corporate Governance (GCG) dan Nilai-Nilai Dasar/Budaya Perusahaan dan
telah melalui kesepakatan bersama dalam pelaksanaannya atas nama PT. GUNUNG MAS
INDAH LESTARI Setiap Manajemen dan Karyawan perusahaan wajib memahami
Pedoman Etika dan Perilaku serta menjalankannya dalam kegiatan operasional sehari-hari.
Kami akan selalu mengkaji Pedoman Etika dan Perilaku ini secara berkesinambungan dan
melakukan evaluasi atas pelaksanaannya.
Sumatera Selatan, 05 Nopember 2020
PT. GUNUNG MAS INDAH LESTARI
IBNU AKIL
Direktur
11. BENTUK PERNYATAAN KINERJA TERKAIT LINGKUNGAN, SOSIAL,
KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
PERNYATAAN KINERJA TERKAIT LINGKUNGAN, SOSIAL, KESELAMATAN DAN
KESEHATAN KERJA
Nama Peserta : PT. GUNUNG MAS INDAH LESTARI
Tanggal : 05 Nopember 2020
Nomor dan judul Paket : 01/DOKPIL/[Link]/X/2020
PEMBANGUNAN GEDUNG KANTOR BBWS CITARUM
PERNYATAAN KINERJA TERKAIT LINGKUNGAN, SOSIAL,
KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
√ Tidak ada penangguhan atau penghentian kontrak : Pengguna Jasa
tidak menangguhkan atau menghentikan kontrak dan / atau mencairkan
Jaminan Pelaksanaan pada pelaksanaan kontrak pekerjaan karena alasan
yang berkaitan dengan kinerja Lingkungan, Sosial, Kesehatan, atau
Keselamatan Kerja (ESHS) sejak tanggal yang ditentukan dalam Bagian V,
Kriteria Kualifikasi, dan Persyaratan.
/ Penangguhan atau penghentian kontrak : Kontrak berikut telah /sedang
ditangguhkan atau dihentikan dan / atau dicairkan Jaminan Pelaksanaan
oleh Pengguna Jasa untuk alasan terkait Kinerja Lingkungan, Sosial,
Kesehatan, atau Keselamatan Kerja (LSK3) sejak tanggal yang ditentukan
dalam Bagian V, Kriteria Kualifikasi, dan Persyaratan. Detail dijelaskan di
bawah ini :
Bagian kontrak yang
Total Nilai
Tahun ditangguhkan atau di Identifikasi kontrak
kontrak
hentikan
- - - -
Jaminan Pelaksanaan Dicairkan Oleh Pengguna Jasa Karena Kegagalan Penyedia Jasa Terkait
Kinerja Lingkungan, Sosial, Kesehatan dan Keselamatan
Tahun Identifikasi kontrak Nilai kontrak
Identifikasi Kontrak :
Nama Pengguna Jasa :
Alamat Pengguna Jasa :
Alasan Pencairan Jaminan
Pelaksanaan :
Sumatera Selatan, 05 Nopember 2020
PT. GUNUNG MAS INDAH LESTARI
IBNU AKIL
Direktur
MATRIX LSK3
A. PENILAIAN MATRIKS RISIKO
Penilaian standar sesuai dengan indikator yang ditentukan yang bertujuan untuk identifikasi
kecelakaan yang terjadi pada saat pelaksanaan konstruksi.
Tabel 1. Nilai Tingkat Kemungkinan
Likelihood/Probability Rating Deskripsi
Frequent 5 Selalu terjadi
Probable 4 Sering terjadi
Occasional 3 Kadang-kadang dapat terjadi
Unlikely 2 Mungkin dapat terjadi
Imporbable 1 Sangat jarang terjadi
Tabel 2. Nilai Tingkat Keparahan
Severity Rating Deskripsi
Meninggal dunia, cacat permanen / serius,
Catastrophic 5 kerusakan linglungan yang parag,
kebocoran B#, kerugian finansial yang
sangat besar, biaya pengobatan > 50 juta.
Hilang hari kerja, cacat permanen / sebagian,
kerusakan lingkungan yang sedang, kerugian
Major 4
finansial yang besar, biaya
pengobatan < 50 juta.
Membutuhkan perawatan medis,
terganggunya pekerjaan, kerugian finansial
Moderate / Serious 3
cukup besar, perlu bantuan pihak luar,
biaya pengobatan < 10 juta.
Penaganan P3K tidak terlalu memerlukan
Minor 2
bantuan dari luar, biaya finansial sedang,
biaya pengobatan < 1 juta.
Tidak mengganggu proses pekeraan, tidak
Negligible 1
ada cidera/luka, kerugian finansial kecil,
biaya pengobatan < 100 ribu.
Tabel 3. Skala Tngkatan Risiko
Risk Rank Deskripsi
17-25 Extreme High Risk- Risiko Sangat Tinggi
10-16 High Risk- Risiko Tinggi
5-9 Medium Risk- Risiko Sedang
1-4 Low Risk - Risiko Rendah
Tabel 3. Skala Tngkatan Risiko
Lampiran Matrik LKS3 Pada Laporan Kemajuan Pekerjaan PEMBANGUNAN GEDUNG KANTOR BBWS CITARUM
DAMPAK TERHADAP LINGKUNGAN
Nomor : Kode Kegiatan :
Hari : Petugas :
Tanggal :
Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup
Institusi
Pengelolaan
Bentuk Lokasi Periode Bentuk Lokasi Periode
Nilai Nilai Jenis Skala dan
Sumber Kegiatan Pengelolaan Pengelolaan Pemantauan Pemantauan Pemantauan Pemantauan Ket.
Tingkat Keparaha Dampak r Pemantauan
Lingkungan Lingkungan Lingkungan Lingkungan Lingkungan Lingkungan
Kemungkina n Risik Lingkungan
Hidup Hidup Hidup Hidup Hidup Hidup
n o Hidup
[Link] PERSIAPAN
Item Pekerjaan yang Jenis Berapa Metode yang Lokasi Jangka waktu Evaluasi Lokasi yang Jangka Waktu Pemberi
dikerjakan dampak besar digunakan pekerjaan penanganan Penerapan terdampak Evaluasi arahan dan
yang dampak dalam yang Metode penanggung
terjadi yang penanganan terdampak jawab teknis
dirasakan
II. PEKERJAAN TANAH
Item Pekerjaan yang Jenis Berapa Metode yang Lokasi Jangka waktu Evaluasi Lokasi yang Jangka Waktu Pemberi
dikerjakan dampak besar digunakan pekerjaan penanganan Penerapan terdampak Evaluasi arahan dan
yang dampak dalam yang Metode penanggung
terjadi yang penanganan terdampak jawab teknis
dirasakan
III. PEKERJAAN STRUKTUR
Item Pekerjaan yang Jenis Berapa Metode yang Lokasi Jangka waktu Evaluasi Lokasi yang Jangka Waktu Pemberi
dikerjakan dampak besar digunakan pekerjaan penanganan Penerapan terdampak Evaluasi arahan dan
yang dampak dalam yang Metode penanggung
terjadi yang penanganan terdampak jawab teknis
dirasakan
Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup
Institusi
Bentuk Lokasi Periode Bentuk Lokasi Periode
Pengelolaan
Pengelolaan Pengelolaan Pemantauan Pemantauan Pemantauan Pemantauan
Nilai Nilai Jenis Skala dan
Sumber Kegiatan Lingkungan Lingkungan Lingkungan Lingkungan Lingkungan Lingkungan Ket.
Tingkat Keparaha Dampak r Pemantauan
Hidup Hidup Hidup Hidup Hidup Hidup
Kemungkina n Risik Lingkungan
n o Hidup
IV. PEKERJAAN ARSITEKTUR
Item Pekerjaan yang Jenis Berapa Metode yang Lokasi Jangka waktu Evaluasi Lokasi yang Jangka Waktu Pemberi
dikerjakan dampak besar digunakan pekerjaan penanganan Penerapan terdampak Evaluasi arahan dan
yang dampak dalam yang Metode penanggung
terjadi yang penanganan terdampak jawab teknis
dirasakan
IV. PEKERJAAN INTERIOR
Item Pekerjaan yang Item PekerjaanItem PekerjaanItem Item Item Pekerjaan Item PekerjaanItem Pekerjaan Item Pekerjaan Item Pekerjaan Item Pekerjaan Item Pekerjaan Item
dikerjakan yang yang Pekerjaan Pekerjaan yang yang yang yang yang yang yang Pekerjaan
dikerjakan yang yang dikerjakan dikerjakan dikerjakan dikerjakan dikerjakan dikerjakan dikerjakan yang
dikerjakan dikerjakan dikerjakan dikerjaka
n
IV. PEKERJAAN ELEKTRIKAL MEKANIKAL
Item Pekerjaan yang Item PekerjaanItem PekerjaanItem Item Item Pekerjaan Item PekerjaanItem Pekerjaan Item Pekerjaan Item Pekerjaan Item Pekerjaan Item Pekerjaan Item
dikerjakan yang yang Pekerjaan Pekerjaan yang yang yang yang yang yang yang Pekerjaan
dikerjakan yang yang dikerjakan dikerjakan dikerjakan dikerjakan dikerjakan dikerjakan dikerjakan yang
dikerjakan dikerjakan dikerjakan dikerjaka
n
IV. PEKERJAAN LAIN-LAIN
Item Pekerjaan yang Item PekerjaanItem PekerjaanItem Item Item Pekerjaan Item PekerjaanItem Pekerjaan Item Pekerjaan Item Pekerjaan Item Pekerjaan Item Pekerjaan Item
dikerjakan yang yang Pekerjaan Pekerjaan yang yang yang yang yang yang yang Pekerjaan
dikerjakan yang yang dikerjakan dikerjakan dikerjakan dikerjakan dikerjakan dikerjakan dikerjakan yang
dikerjakan dikerjakan dikerjakan dikerjaka
n
DIPERIKSA DISETUJUI DIBUAT
(…..................................) (....................................) (...................................)
DAMPAK TERHADAP SOSIAL
Nomor : Kode Kegiatan :
Hari : Petugas :
Tanggal :
Pembiayaan Institusi
Sumber Nilai Nilai Jenis Tujuan Metode Lokasi Institusi
Skalar Risiko Parameter Waktu dan dan Penerima
Kegiatan Tingkat Keparaha Dampak Pemantauan Pemantauan Pemantauan Pengawas
Periode Pelaksanaan Laporan
Kemungkinan n
I. PEKERJAAN PERSIAPAN
Jenis Jenis Besaran Dampak yang Survey Metode Titik lokasi Waktu yang Sumber Dana Pengawas Pemberi
Pekerjaan dampak dampak yang ditimbulkan Lokasi yang Penanganan yang diperlukan dalam dan Kebijakan
yang dirasakan Terkena Yang akan terdampak pemantauan Penanggung
dialami Dampak diterapkan Jawab
II. PEKERJAAN TANAH
Jenis Jenis Besaran Dampak yang Survey Metode Titik lokasi Waktu yang Sumber Dana Pengawas Pemberi
Pekerjaan dampak dampak yang ditimbulkan Lokasi yang Penanganan yang diperlukan dalam dan Kebijakan
yang dirasakan Terkena Yang akan terdampak pemantauan Penanggung
dialami Dampak diterapkan Jawab
III. PEKERJAAN STRUKTUR
Jenis Jenis Besaran Dampak yang Survey Metode Titik lokasi Waktu yang Sumber Dana Pengawas Pemberi
Pekerjaan dampak dampak yang ditimbulkan Lokasi yang Penanganan yang diperlukan dalam dan Kebijakan
yang dirasakan Terkena Yang akan terdampak pemantauan Penanggung
dialami Dampak diterapkan Jawab
Pembiayaan Institusi
Sumber Nilai Nilai Jenis Tujuan Metode Lokasi Institusi
Skalar Risiko Parameter Waktu dan dan Penerima
Kegiatan Tingkat Keparaha Dampak Pemantauan Pemantauan Pemantauan Pengawas
Periode Pelaksanaan Laporan
Kemungkinan n
IV. PEKERJAAN ARSITEKTUR
Jenis Jenis Besaran Dampak yang Survey Metode Titik lokasi Waktu yang Sumber Dana Pengawas Pemberi
Pekerjaan dampak dampak yang ditimbulkan Lokasi yang Penanganan yang diperlukan dalam dan Kebijakan
yang dirasakan Terkena Yang akan terdampak pemantauan Penanggung
dialami Dampak diterapkan Jawab
V. PEKERJAAN INTERIOR
Jenis Jenis Besaran Dampak yang Survey Metode Titik lokasi Waktu yang Sumber Dana Pengawas Pemberi
Pekerjaan dampak dampak yang ditimbulkan Lokasi yang Penanganan yang diperlukan dalam dan Kebijakan
yang dirasakan Terkena Yang akan terdampak pemantauan Penanggung
dialami Dampak diterapkan Jawab
V. PEKERJAAN ELEKTRIKAL MEKANIKAL
Jenis Jenis Besaran Dampak yang Survey Metode Titik lokasi Waktu yang Sumber Dana Pengawas Pemberi
Pekerjaan dampak dampak yang ditimbulkan Lokasi yang Penanganan yang diperlukan dalam dan Kebijakan
yang dirasakan Terkena Yang akan terdampak pemantauan Penanggung
dialami Dampak diterapkan Jawab
V. PEKERJAAN LAIN-LAIN
Jenis Jenis Besaran Dampak yang Survey Metode Titik lokasi Waktu yang Sumber Dana Pengawas Pemberi
Pekerjaan dampak dampak yang ditimbulkan Lokasi yang Penanganan yang diperlukan dalam dan Kebijakan
yang dirasakan Terkena Yang akan terdampak pemantauan Penanggung
dialami Dampak diterapkan Jawab
DIPERIKSA DISETUJUI DIBUAT
(…..................................) (....................................) (...................................)
INTERAKSI DENGAN PEMBUAT PERATURAN
Nomor : Kode Kegiatan :
Hari : Petugas K3 :
Tanggal :
SUMBER IDENTIFIKASI DAMPAK PENAGGULANGAN HASIL IDENTIFIKASI KETERANGA
KEGIATAN N
1. PEKERJAAN.............................
Jenis Pekerjaan Identikasi Permasalahan Besar Dampak Metode Pencegahan Yang Hasil Identifikasi Setelah
Yang Diraakan Dilakukan Penerapan Pencegahan Yang
Dilakukan
DIPERIKSA DISETUJUI DIBUAT
(…..................................) (....................................) (...................................)
Lampiran Format Surat Pernyataan Ijin Penggunaan Lahan
Saya, yang bertandatangan di bawah ini :
Nama :
No. KTP :
Pekerjaan :
Alamat :
Sebagai pemilik sah dari lahan berdasarkan bukti sah kepemilikan No. .............................,
Tanggal ….......... Atau bukti sah lainnya berupa ….......................................... (jelaskan),
dengan ini menyatakan bahwa Saya setuju memberikan ijin lahan saya untuk digunakan oleh
….................................. (jelaskan)......untuk dapat digunakan pada konstruksi
…................................... Shingga dapat bermanfaat bagi kepentingan umum.
Lokasi Lahan :
Ukuran Lahan yang disumbangkan :
Ukuran sisa lahan :
Guna sisa lahan :
Status Kepemilikan lahan :
(mohon jelaskan batasan lahan dan status kepemilikan lahan serta peta bidang lahan dengan
tanda- tanda orientasi yang jelas).
Pernyataan ini dibuat tanpa ada tekanan dari siapapun.
Tempat, tanggal perjanjian ini ditandatangani
Pihak Pemberi Ijin Pengguna
Materai 6.000,- Materai 6.000,-
( ...................................... ) ( ...................................... )
Pemilik Lahan Penyewa
Lampiran : Peta lahan yang disumbangkan dan foto
Catatan : Salinan asli dari surat ini untuk disimpan oleh pemberi sumbangan lahan dan oleh
forum masyarakatsebagai bagian dari proposal. Salinan dari surat ini harus disimpan di kantor
kelurahan/desa.
INTERAKSI DENGAN PEMBUAT PERATURAN
Nomor : Kode Kegiatan :
Hari :
Tanggal :
Disetujui, Diperiksa, Dibuat,
Direksi Teknis Konsultan Supervisi Penyedia Jasa
PENGAWASAN TERHADAP KESEHATAN DAN KESELAMATAN
KERJA
Nomor : Kode Kegiatan :
Hari : Petugas :
Tanggal : Jumlah Kerja :
Disetujui, Diperiksa, Dibuat,
Direksi Teknis Konsultan Supervisi Penyedia Jasa
AKOMODASI PEKERJA
Nomor : Kode Kegiatan :
Hari : Petugas :
Tanggal : Jumlah Kerja :
Disetujui, Diperiksa, Dibuat,
Direksi Teknis Konsultan Supervisi Penyedia Jasa
PERMASALAHAN PEKERJA MENCAKUP KESEHATAN, SOSIAL,
DAN TINDAK KEKERASAN
Nomor : Kode Kegiatan :
Hari : Petugas :
Tanggal : Jumlah Kerja :
Disetujui, Diperiksa, Dibuat,
Direksi Teknis Konsultan Supervisi Penyedia Jasa
LALU LINTAS KENDARAAN DAN PERALATAN
Nomor : Kode Kegiatan :
Hari : Petugas :
Tanggal : Jumlah Kerja :
Disetujui, Diperiksa, Dibuat,
Direksi Teknis Konsultan Supervisi Penyedia Jasa
MITIGASI DAN MASALAH LINGKUNGAN DAN SOSIAL
Nomor : Kode Kegiatan :
Hari : Petugas :
Tanggal : Jumlah Kerja :
Disetujui, Diperiksa, Dibuat,
Direksi Teknis Konsultan Supervisi Penyedia Jasa
10. BENTUK MATRIK LSK3 PADA LAPORAN KEMAJUAN PEKERJAAN
Lingkungan, Sosial, Kesehatan dan Keselamatan Kerja (LSK3) Matrik untuk Laporan
Kemajuan
Matrik untuk pelaporan [harian/mingguan/bulanan] dibuat oleh kami kontraktor yang
kemudian diperiksa oleh Pengawas pekerjaan meliputi :
a. Insiden terhadap lingkungan atau ketidaksesuaian dengan persyaratan kontrak,
termasuk kontaminasi, pencemaran atau kerusakan terhadap tanah atau sumber daya
air.
b. Insiden Kesehatan dan Keselamatan Kerja, kecelakaan, korban jiwa dan korban
cedera yang memerlukan perawatan;
c. Interaksi dengan pembuat peraturan: identifikasi instansi terkait, tanggal, subjek,
hasil (laporkan negatif jika tidak ada);
d. Status semua izin dan perjanjian :
● izin kerja: jumlah yang diperlukan, jumlah yang diterima, tindakan yang diambil
untuk yang tidak diterima;
● status izin dan persetujuan, sebagaimana diperlukan, disesuaikan dengan jenis
pekerjaan :
- Daftar lokasi / fasilitas dengan izin yang diperlukan (pertambangan, AMP &
batching plan), tanggal pengajuan, tanggal dikeluarkan (tindakan untuk
menindaklanjuti jika tidak dikeluarkan), tanggal diserahkan kepada SE (atau
yang setara), status area (menunggu izin, bekerja, ditinggalkan tanpa
reklamasi, rencana dekomisioning sedang dilaksanakan, dll.);
- Daftar lokasi dengan perjanjian dengan pemilik lahan (lokasi untuk
penumpukan dan pembuangan, base camp), tanggal perjanjian, tanggal
diserahkan kepada SE (atau yang setara);
- Daftar lokasi dengan perjanjian dengan pemerintahan desa untuk penggunaan
jalan akses bagi kendaraan yang mengangkut peralatan, material dan tenaga
kerja;
- Daftar lokasi dengan perjanjian dengan masyarakat terkait dengan kerusakan
atau gangguan terhadap fasilitas umum, saluran irigasi, saluran drainase yang
terganggu selama masa konstruksi
- Mengidentifikasi kegiatan utama yang dilakukan di setiap lokasi bulan ini dan
focus utama perlindungan terhadap lingkungan dan sosial (pembukaan lahan,
penandaan batas, pengupasan lapisan tanah, pemulihan lahan, penanganan
debu, suara, manajemen lalu lintas, rencana dekomisioning, pelaksanaan
dekomisioning);
- Catatan: Penanganan masalah sosial (termasuk lingkungan) di quarry biasanya
dilakukan oleh kontraktor. Tugas Pemilik pekerjaan adalah untuk memastikan
bahwa penanganan sosial (kompensasi, relokasi dll) di quarry mengikuti
ESMP.
[Catatan untuk Pokja: Pokja perlu menyesuaikan jenis izin/persetujuan dan
menyesuaikan dengan lingkup pekerjaan fisik yang akan dilakukan, karena
contoh daftar perijinan diatas adalah untuk kegiatan konstruksi jalan]
e. Pengawasan terhadap Kesehatan dan Keselamatan Kerja:
i. Petugas keamanan: jumlah hari bekerja, jumlah inspeksi penuh & inspeksi
parsial, laporan untuk konstruksi / manajemen proyek;
ii. jumlah pekerja, jam kerja, matrik penggunaan APD (persentase pekerja
dengan peralatan perlindungan pribadi lengkap (APD), sebagian, dll.),
pelanggaran pekerja yang diamati (berdasarkan jenis pelanggaran, APD atau
sebaliknya), peringatan yang diberikan, peringatan berulang diberikan,
tindak lanjut yang diambil (jika ada);
f. Akomodasi pekerja :
- jumlah tenaga kerja pendatang, jumlah tenaga kerja setempat;
- tindakan yang diambil untuk merekomendasikan / memerlukan perbaikan
kondisi, atau untuk memperbaiki kondisi.
- tanggal pemeriksaan terakhir, dan terutama pemeriksaan terhadap
kesesuaian akomodasi terhadap hukum nasional dan lokal serta kewajaran,
termasuk air bersih, sanitasi, ruang, dll;
g. HIV/AIDS: penyedia layanan kesehatan, informasi dan / atau pelatihan,
lokasi klinik, jumlah penyakit tidak aman atau perawatan penyakit dan
diagnosis (tidak ada nama yang disebutkan);
h. gender (untuk tenaga kerja pendatang dan pekerja setempat, secara terpisah):
jumlah pekerja wanita, persentase tenaga kerja, isu-isu gender yang diangkat
dan ditangani (keluhan referensi silang atau bagian lain yang diperlukan);
i. Pengawasan dan upaya pencegahan terkait Kekerasan Berbasis Gender
(Gender Based Violence/GBV) maupun Kekerasan Terhadap Anak
(Violence against Children/VAC), antara lain pencegahan terhadap: i.
Pelecehan Seksual (misalnya melarang penggunaan Bahasa atau perilaku
yang tidak pantas, melecehkan, kasar, pornoaksi, provokatif, merendahkan
atau tidak pantas, khususnya terhadap wanita dan anak-anak); ii. Kekerasan
atau pemaksaan (misalnya pelarangan segala bentuk kegiatan seks komersial
termasuk didalamnya imbalan secara seksual, atau bentuk perilaku lain yang
memalukan, merendahkan atau ada unsur pemaksaan); iii. Perlindungan
terhadap anak- anak (termasuk larangan terhadap pelecehan, menodai, atau
perilaku menyimpang terhadap anak-anak, membatasi interaksi dengan anak-
anak, dan memastikan keselamatan anakanak disekitar lokasi kerja).
Sosialisasi prosedur aduan formal dan informal terhadap tindak kekerasan
terhadap anak-anak dan wanita, pelecehan seksual, penyebaran informasi
atau selebaran pelarangan tindak kekerasan dan pelecehan seksual di lokasi
kerja, pengaduan yang diterima dan pengaduan yang ditangani serta sanksi
yang dijatuhkan kepada pelaku tindak kekerasan maupun pelecehan.
j. Pelatihan :
- jumlah pekerja baru, jumlah pekerja yang mendapat pelatihan, tanggal
pelatihan;
- jumlah dan tanggal toolbox talks (pembicaraan terkait K3 rencana dan
review), jumlah pekerja yang menerima pelatihan Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3), pelatihan lingkungan dan sosial;
- jumlah dan tanggal penyuluhan HIV / AIDS maupun GBV dan VAC,
jumlah pekerja yang menerima pelatihan (bulan ini dan di masa lalu);
pertanyaan yang sama untuk sensitivitas gender, pelatihan flaglady /
flagman.
k. Pengawasan terhadap lingkungan dan sosial :
- Ahli Lingkungan Hidup (CTC/DSC): hari kerja, lokasipemeriksaan dan
jumlah pemeriksaan/kunjungan(ruas jalan, basecamp, akomodasi, quarry,
borrow pit, lokasi yang tercemar/rusak, rawa, perlintasan hutan, dll.),
menyoroti kegiatan/temuan (termasuk pelanggaran terhadap lingkungan
dan/atau sosial, tindakan yang diambil), laporan kepada Ahli
lingkungan/sosial/ Pengawas Pekerjaan /GS;
- Ahli Sosial (CTC/DSC): hari kerja, jumlah pemeriksaan/kunjungan ke
lokasi(berdasarkan lokasi: ruas jalan, basecamp, akomodasi, quarry,
borrow pit, lokasi yang tercemar/rusak, klinik, dll.), menyoroti kegiatan
(termasuk pelanggaran persyaratan lingkungan dan/atau sosial yang
diamati, tindakan yang diambil, awareness campaign/penyuluhan), laporan
kepada ahli lingkungan dan/atau ahli sosial/ Pengawas Pekerjaan/ GS; dan
[Catatan: Pokja perlu menyesuaikan dengan lingkup pekerjaan fisik yang
akan dilakukan, karena contoh ini adalah untuk kegiatan konstruksi jalan]
- Wakil Pengamat Masyarakat: hari kerja (jam buka pusat komunitas),
jumlah orang yang bertemu, menyoroti kegiatan (masalah yang diangkat,
dll.), melaporkan kepada ahli lingkungan/ sosial/ Pengawas Pekerjaan/
GS.
l. Keluhan: daftar keluhan bulan ini dan keluhan yang belum terselesaikan
berdasarkan tanggal yang diterima, yang mengajukan keluhan (pelapor),
bagaimana diterima, kepada siapa yang dirujuk untuk tindak lanjut, resolusi
dan tanggal (jika selesai), resolusi data dilaporkan kepada pelapor, tindak
lanjut apa pun yang diperlukan (referensi silang dengan bagian lain sesuai
kebutuhan):
- Keluhan pekerja;
- Keluhan masyarakat
- Keluhan terkait tindak kekerasan berbasis gender (GBV) dan kekerasan
terhadap anak (VAC)
m. Lalu lintas dan kendaraan / peralatan:
- kecelakaan lalu lintas yang melibatkan kendaraan & peralatan proyek:
berikan tanggal, lokasi, kerusakan, penyebab, tindak lanjut;
- kecelakaan yang melibatkan kendaraan atau properti non-proyek (juga
dilaporkan dalam metrik segera): memberikan tanggal, lokasi, kerusakan,
penyebab, tindak lanjut;
- kondisi keseluruhan kendaraan / peralatan (penilaian subjektif oleh
pencinta lingkungan); perbaikan dan pemeliharaan non-rutin diperlukan
untuk meningkatkan keselamatan dan / atau kinerja lingkungan (untuk
mengendalikan asap, dll.).
n. Mitigasi dan masalah lingkungan dan sosial (apa yang telah dilakukan):
- debu: jumlah mobil tanki penyiram yang bekerja, jumlah penyiraman /
hari, jumlah keluhan, peringatan yang diberikan oleh
pemerhatilingkungan, tindakan yang diambil untuk menyelesaikan;
highlights dari pengendalian debu di quarry (penutup, semprotan, status
operasional); % dari truk pengangkut material dengan penutup, tindakan
yang diambil untuk kendaraan yang tidak tertutup;
- pengendalian erosi: kontrol yang dilaksanakan pada tiap lokasi, status
pelintasan air, inspeksi dan hasil lingkungan hidup, tindakan yang diambil
untuk menyelesaikan masalah, perbaikan darurat yang diperlukan untuk
mengendalikan erosi / sedimentasi;
- quarry, lokasi penumpukan, lokasi pembuangan, AMP, batching plant:
identifikasi kegiatan utama yang dilakukan bulan ini di masing-masing
tempat, dan menyoroti perlindungan lingkungan dan sosial: pembukaan
lahan, penandaan batas, pengupasan lapisan tanah, manajemen lalu lintas,
perencanaan dekomisioning, pelaksanaan dekomisioning;
- peledakan: jumlah ledakan (dan lokasi), status pelaksanaan rencana
peledakan (termasuk pemberitahuan, evakuasi, dll.), insiden kerusakan
atau keluhan di luar lokasi (rujuk silang bagian lain sesuai kebutuhan);
- pembersihan tumpahan, jika ada: bahan tumpah, lokasi, jumlah, tindakan
yang diambil, pembuangan material (laporkan semua tumpahan yang
menghasilkan air atau kontaminasi tanah;
- pengelolaan limbah: jenis dan jumlah yang dihasilkan dan dikelola,
termasuk jumlah yang diambil di luar lokasi (dan oleh siapa) atau
digunakan kembali / didaur ulang / dibuang di tempat;
- rincian penanaman pohon dan mitigasi lainnya yang diperlukan dilakukan
bulan ini;
- perincian tentang mitigasi perlindungan air dan rawa diperlukan dilakukan
bulan ini;
- mitigasi atau pemulihan terhadap resiko kecelakaan bagi warga, gangguan
atau kerusakan terhadap jalan akses yang dilalui kendaraan proyek
pengangkutan peralatan, material dan tenaga kerja;
- mitigasi gangguan suara terhadap lingkungan pemukiman;
- mitigasi atau pemulihan terhadap gangguan atau kerusakan terhadap
fasilitas umum, saluran irigasi, drainase.
o. Kepatuhan terhadap peraturan, persyaratan perizinan dan komitmen terhadap
lingkungan dan sosial:
- status kepatuhan untuk kondisi semua persyaratan/perizinan yang relevan,
untuk Pekerjaan, termasuk kuari, dll.): pernyataan kepatuhan atau daftar
masalah dan tindakan yang diambil (atau diambil) untuk mencapai
kepatuhan;
- status kepatuhan persyaratan terhadap dokumen terkait lingkungan dan
sosial: pernyataan kepatuhan atau daftar masalah dan tindakan yang
diambil (atau diambil) untuk mencapai kepatuhan ;
- isu-isu lain yang belum terselesaikan dari bulan-bulan sebelumnya yang
berkaitan dengan lingkungan dan sosial: pelanggaran lanjutan, kegagalan
peralatan lanjutan, terus kurangnya penutup kendaraan, tumpahan tidak
ditangani, masalah kompensasi atau peledakan terus, dll. Referensi silang
bagian lain yang diperlukan.
Sumatera Selatan, 05 Nopember 2020
PT. GUNUNG MAS INDAH LESTARI
IBNU AKIL
Direktur