MAKALAH ASKEB NEONATUS DAN BAYI
MTBS & DDST
Dosen
Dosen pengampuh : Hj. Syahrianti S. Si. T, [Link]
Disusun Oleh :
1. Mutmaina (P00324022150)
2. Syeren Fadila (P00324022154)
3. bella Nur Islamiah (P00324022157)
4. Ade Amalia Syavira (P00324022160)
KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLTEKKES KEMENKES KENDARI
PRODI JURUSAN D-III KEBIDANAN
2023/2024
KATA PENGANTAN
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik
dan Hinayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul
“MTBS & DDST” ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini
dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca.
Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami miliki sangat
kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-
masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULIAN
1.1 Latar belakang
1.2 Rumus masalah
1.3 Tujuan
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian MTBS
2.2 Sasaran manajemen terpau balita
2.3 Pelaksanaan manajemen terpadu balita sakit (MTBS)
2.4 Tatalaksana Kasus dengan MBTS
2.5 Tenaga kesehatan yang melakukan MBTS
2.6 Cakupan pelayanan kesehatan anak balita sakit yang dilayani dengan MTBS
2.7 Faktor MBTS
2.8 Pengertian DDST
2.9 Manfaat
2.1.1 Sektor pengembangan yang di nilai
BAB III
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Anak merupakan seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas tahun), termasuk anak
yang masih di dalam kandungan. Setiap anak sebagai Warga Negara Indonesia memiliki hak yang
dijamin oleh Negara melalui Pasal 28 B ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi
setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta hak atas
perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
Anak dinilai belum mampu untuk mendapatkan haknya secara mandiri, sehingga perlu
adanya perlindungan hak anak di bidang kesehatan. Perlindungan hak anak didasarkan pada
Deklarası Hak Anak yang disahkan oleh PBB pada tahun 1959 disebutkan bahwa terdapat dua
jenis perlindungan anak yaitu bersifat non yuridis meliputi bidang sosial, kesehatan dan
pendidikan Kemudian perlindungan hak anak yang bersifat yuridis terdapat pada berbagai
ketentuan hukum, antara lain: Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
terdapat pada Pasal 131 ayat (1) berbunyi: upaya pemeliharaan kesehatan bayi dan anak harus
ditujukan untuk mempersiapkan generasi yang akan datang yang sehat, cerdas, dan berkualitas
serta untuk menurunkan angka kematian bayi dan balita. Upaya pemeliharaan kesehatan bayi
dan anak diselenggarakan melalui penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan
merupakan sebuah kegiatan yang diberikan kepada individu maupun masyarakat oleh
Pemerintah dengan tujuan untuk mencegah dan menyembuhkan penyakit individu maupun
masyarakat.
2. Rumus Masalah
1. apa yang dimaksud dengan MTBS dan DDST?
2. apa saja faktornya?
3. Tujuan
1. mengetahui apa itu MTBS dan DDST?
2. Mengetahi apa saja faktornya?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian MTBS
Merupakan suatu pendekatan keterpaduan dalam tatalaksana balita sakit yang datang
berobat ke fasilitas rawat jalan pelayanan kesehatan dasar. Meliputi upaya kuratif terhadap
penyakit pneumonia, diare, campak, malaria, infeksi telinga, malnutrisi dan upaya promotif dan
preventif yang meliputi imunisasi dan pemberian vitamin A dan konseling pemberian makan.
Tujuan utama tatalaksana ini untuk menurunkan angka kematian bayi dan anak balita dan
menekan morbiditas karena penyakit tersebut (Kemenkes RI, 2014) Dalam menangani balita
sakit, tenaga kesehatan (perawat,bidan/desa) yang berada di pelayanan dasar dilatih untuk
menerapkan pendekatan MTBS secara aktif dan terstruktur, meliputi : 1. Melakukan penilaian
adanya tanda-tanda atau gejala penyakit dengan cara tanya, lihat,dengar,raba, 2. Membuat
klasifikasi dan menentukan tindakan serta pengobatan anak, 3. Memberikan konseling dan
tindak lanjut pada saat kunjungan ulang.
2.2 sasaran Manajemen terpadu bayi sakit (MTBS)
Adapun sasaran MTBS adalah anak umur 0-5 tahun dan dibagi menjadi dua kelompok sasaran
yaitu kelompok usia 1 hari- 2 bulan dan kelompok usia 2 bulan- 5 tahun (Vera, 2015 ; Depkes RI,
2008) .
2.3 Pelaksanaan Menajemen Terpadu Balita Sakit Di Puskesmas
Hal-hal yang dilaksanakan oleh petugas kesehatan dalam menangani balita sakit sesuai
dengan Protap MTBS, meliputi :
1. Melakukan Anamnesa Wawancara terhadap orang tua bayi dan balita mengenai keluhan
utama, lamanya sakit, pengobatan yang telah diberikan dan riwayat penyakit lainnya
2. Pemeriksaan
a. Untuk bayi umur 1 hari- 2 bulan Mengajari Pemeriksaan yang dilakukan meliputi :
Pemeriksaan kemungkinan kejang, gangguan nafas, suhu tubuh, adanya infeksi, ikterus,
gangguan pencernaan, BB dan status imunisasi
b. Untuk bayi 2 bulan- 5 tahun Pemeriksaan yang dilakukan adalah : keadaan umum,
respirasi, derajat dehidrasi, suhu, pemeriksaan telinga, diare, status gizi, anemia,
imunisasi dan vitamin A, dan keluhan lain.
c. Menentukan klasifikasi, tindakan, penyuluhan/ konseling pada ibu dan konsultasi
dokter. ( Depkes RI, 2008).
3. Pengobatan untuk balita sakit yang mendapatkan terapi rawat jalan, maka petugas
kesehatan dapat mengajari ibu cara pememberian obat oral dirumah, obat-obat yang
diberikan sesuai dengan diagnosa pasien seperti (antibiotik oral, antimalaria oral,
parasetamol, vitamin A, zat besi, dan obat cacingan). Sedangkan anak dengan tanda
bahaya umum mempunyai masalah serius perlu dirujuk segera. (Yulia Astuti, 2014)
2.4 penatalaksanaan kasus dengan MTBS
1
Menentukan perlunya rujukan segera
Balita dengan sakit tanda bahaya umum
Balita sakit tampa bahaya umum
tidak di rujuk Ya, dirujuk
4 2
Menentukan tindakan Menentukan tindakan dan
dan pengobatan pengobatan pra rujukan
untuk anak yang tidak
membutuhkan
rujukan segera
merujuk
2.5 Tenaga Kesehatan Yang Melaksanakan MTBS
Tenaga kesehatan pelaksana Manajemen Terpadu Balita Sakit di unit rawat jalan tingkat dasar
adalah Paramedis (bidan, perawat) dan dokter, bukan untuk rawat inap dan bukan untuk kader.
Adapun peran dokter dalam MTBS, yaitu :
1. Melakukan SOP pelayanan balita dengan form MTBS
2. Membimbing paramedis (bidan,perawat) dalam melakukan SOP pelayanan balita dengan
form MTBS
3. Menerima rujukan internal dari Poli KIA
4. Memberikan contoh kepada semua petugas kesehatan dalam penerapan pelayanan
kuratif yang tidak meninggalkan upaya promotif dan preventif.
5. Menselaraskan integrasi antara program dan pelayanan kuratif (UKM& UKP) di puskesmas
(Yulia Astuti, 2014).
4.6 Cakupan pelayanan kesehtan anak balita sakit yang dilayani dengan MTBS
Cakupan MTBS adalah cakupan anak balita (umur 12-59 bulan) yang berobat ke
puskesmas dan mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar (MTBS) di suatu wilayah kerja
pada kurun waktu tertentu. Hal ini dapat diukur dengan rumus berikut : Rumus yang digunakan
adalah :
% Cakupan MTBS = Ʃ BS x 100%
Ʃ total
Ʃ BS = Jumlah anak balita sakit yang memperoleh pelayanan sesuai tatalaksana MTBS di
Puskesmas disuatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu
Ʃ total = Jumlah seluruh anak balita sakit yang berkunjung ke Puskesmas disuatu Wilayah
kerja dalam 1 tahun Jumlah anak balita sakit diperoleh dari kunjungan balita sakit
yang datang ke puskesmas (register rawat jalan di puskesmas).
Jumlah anak balita sakit yang mendapat pelayanan standar diperoleh dari format
pencatatan dan pelaporan MTBS. (Kemenkes RI, 2010).
2.7 faktor MTBS
Berdasarkan Kemenkes RI (2011) keberhasilan penerapan MTBS di Puskesmas tidak terlepas dari
adanya pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tenaga kesehatan dalam
melakukan MTBS, monitoring pasca pelatihan serta bimbingan teknis bagi perawat dan bidan yang
dilakukan oleh kepala puskesmas atau Dinas kesehatan setempat, dan kelengkapan sarana dan
prasarana pendukung dalam pelaksanaan MTBS termasuk ketersediaan obat-obatan di puskesmas.
Bila dihubungkan dengan Teori Lawrence Green (1980), didapatkan sebagai berikut :
1. Faktor Predisposisi (Predisposing factors) Faktor predisposisi merupakan faktor yang
mempermudah terjadinya perubahan perilaku seseorang dalam hal ini orang yang dimaksud bisa
juga dilihat dari segi tenaga kesehatan, Faktor ini terwujud dalam umur, pengetahuan, sikap,
keyakinan, dan sebagainya. Dalam hal ini yang dibahas pada faktor Predisposisi dalam
pelaksanaan Manajemen Terpadu Balita Sakit di puskesmas adalah pengetahuan dan pelatihan.
( Husni, 2012)
a. Pengetahuan Menurut Notoatmojo (2009), Pengetahuan yang dimiliki seseorang merupakan
pemicu awal dari tingkah laku termasuk tingkah laku dalam bekerja. Pengetahuan sangat di
perlukan dalam rangka perubahan pola pikir dan perilaku. Pengetahuan yang baik tentang
suatu pekerjaan akan membuat seseorang menguasai bidang pekerjaannya. Pengetahuan
seseorang terhadap objek mempunyai intensitas/ tingkatan yang berbeda-beda dan secara
garis besar dapat dibagi 6 tingkatan pengetahuan yaitu : diawali dengan proses Tahu (know),
kemudian memahami (comprehension) secara benar tentang suatu objek , setelah itu
dilakukan aplikasi (application) prinsip yang diketahui pada situasi yang lain, dilanjutkan dengan
kemampuan Analisis (analysis) terhadap suatu objek dan melakukan sintesis (synthesis), adalah
untuk menghubungkan secara logis pengetahuan yang dimiliki menjadi bagian-bagian di dalam
suatu bentuk keseluruhan yang baru dan terakhir dilakukan evalusi (evaluation) yaitu
kemampuan untuk melakukan penilian terhadap suatu materi atau objek.
Cara menilai pengetahuan menurut Arikunto (2006), pengetahuan seseorang dapat
diketahui dan diinterpretasikan dengan skala kaulitatif, yaitu :
a) Tingkat pengetahuan baik bila nilai 76-100%
b) Tingkat pengetahuan cukup baik bila nilai 56-75%
c) Tingkat pengetahun kurang bila nilai < 56%.
Sedangkan Menurut [Link] (2012) membagi pengetahuan seseorang kedalam 2
kategori, yaitu :
a) Tingkat pengetahuan baik bila nilai > 60%
b) Tingkat pengetahun kurang bila nilai < 60%
Pengetahuan Tenaga kesehatan Tentang MTBS merupakan hal-hal yang harus diketahui
oleh seorang tenaga kesehatan dalam melaksanakan MTBS di puskesmas meliputi :
1) Penilaian dan klasifikasi anak sakit umur 2 bulan-5 tahun yaitu : Kemampuan tenaga
kesehatan dalam melakukan anamnesa pada ibu masalah yang dihadapi anaknya,
memeriksa tanda bahaya umum dan menanyakan kepada ibu empat keluhan
utama,memeriksa dan mengklasifikasikan status gizi dan anemia,memeriksa status imunisasi
anak dan pemberian vitamin A serta menilai keluhan lain yang dihadapi anak.
2) Menentukan Tindakan dan Pengobatan Hal-hal yang harus dipahami petugas kesehatan
adalah kapan harus menentukan rujukan segera, menentukan tindakan dan pengobatan pra
rujukan maupun untuk anak yang tidak memerlukan rujukan, memilih obat yang sesuai dan
menentukan dosis dan jadwal pemberian pemberian, dll.
3) Pengetahuan tenaga kesehatan tentang cara memberi konseling yang baik kepada ibu
tentang cara pemberian obat oral dan pemberian cairan dirumah, cara mengobati infeksi
lokal dirumah serta jadwal kunjungan ulang.
4) Pengetahuan tenaga kesehatan tentang manajemen terpadu bayi muda umur kurang dari 2
bulan
5) Pengetahuan tenaga kesehatan tentang memberi pelayanan tindak lanjut Hal-hal yang harus
diketahui adalah menentukan status kunjungan anak, menilai tanda-tanda sesuai dengan
formulir MTBS, memilih tindakan dan pengobatan berdasarkan tanda-tanda yang ada
termasuk bila ada masalah baru pada anak balita (Kemenkes RI, 2014)
Dalam penelitian ini pengetahuan tenaga kesehatan dinilai dari kemampuan tenaga
kesehatan menjawab pertanyaan yang diberikan yang berhubungan dengan pelaksanaan MTBS
di Puskesmas, Pelaksanaan MTBS dinilai dari catatan medis jumlah balita sakit yang berkunjung
ke puskesmas yang mendapatkan pelayanan Manajemen Terpadu Balita Sakit sesuai standar
([Link], 2014). Menurut Agita.M (2010) ada hubungan antara pengetahuan petugas
dengan implementasi MTBS di puskesmas kota semarang, sedangkan menurut Fera (2010)
menyatakan bahawa tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan kinerja petugas MTBS di
Kota Madiun, menurut Tri Handayani (2012) tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan
kinerja petugas MTBS di puskesmas kabupaten Kulon Progo.
b. Sikap Sikap adalah determinan perilaku, karena mereka berkaitan dengan persepsi,
kepribadian, dan motivasi. Sebuah sikap merupakan keadaan sikap mental yang dipelajari dan
diorganisasi menurut pengalaman, dan yang menyebabkan timbulnya pengaruh khusus atas
reaksi seseorang terhadap orang-orang, objek-objek dan situasi-situasi dengan siapa dia
berhubungan (Linggasari, 2008). Terdapat tiga komponen sikap, sehubungan dengan faktor-
faktor lingkungan kerja, sebagai berikut :
1) Afeksi (affect) yang merupakan komponen emosional atau perasaan.
2) Kognisi adalah keyakinan evaluative dari seseorang. Dimanifestasi dalam bentuk impresi atau
kesan baik dan buruk yang dimiliki terhadap suatu objek.
3) Perilaku, yaitu sebuah sikap berhubungan dengan kecendrungan seseorang untuk bertindak
terhadap seseorang atau hal tertentu. (Winardi, 2004).
2. Faktor Pemungkin (Enabling Factors) Faktor pemungkin yang dimaksud adalah faktor yang
memungkinkan seseorang untuk bertindak. Faktor pemungkin dapat terwujud dari adanya sarana
dan prasarana atau fasilitas yang mendukung pelaksanaan suatu program kesehatan. Misalnya
seorang tenaga kesehatan dalam melaksanakan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) sangat
dipengaruhi dengan kelengkapan sarana dan prasarana penunjang, seperti kelengkapan obat-
obatan di puskesmas dan ketersediaan serta kondisi alat yang digunakan untuk melaksanakan
pelayanan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS).
4.8 pengertian DDST
Denver Development Screening Test (DDST) adalah sebuah metode pengkajian yang digunakan
secara luas untuk menilai kemajuan perkembangan anak usia 0-6 tahun. 20 Denver II bukan
merupakan tes diagnostik atau tes IQ; bukan peramal kemampuan adaptif atau intelektual anak di
masa mendatang; tidak dibuat untuk menghasilkan diagnosis seperti ketidakmampuan belajar
(learning disability), kesukaran belajar (learning disorder) atau gangguan emosional; dan tidak untuk
substitusi evaluasi diagnostik atau pemeriksaan fisik. Denver II lebih ditujukan untuk skrining,
dengan cara membandingkan kemmapuan perkembangan seorang anak dengan anak lain yang
seumur.
Dalam lembar Denver II terdapat 125 gugus tugas (kemampuan) perkembangan. Setiap tugas
digambarkan dalam bentuk kotak persegi panjang horizontal yang berurutan menurut umur.6 Tes ini
mudah dan cepat (15-20 menit) dapat diandalkan dan menunjukkan validitas yang tinggi. Dari
beberapa penelitian yang pernah dilakukan ternyata DDST secara efektif dapat mengidentifikasikan
antara 85-100% bayi dan anak–anak prasekolah yang mengalami keterlambatan perkembangan, dan
pada “follow-up” selanjutnya ternyata 89% dan kelompok DDST abnormal mengalami kegagalan di
sekolah 5-6 tahun kemudian.
Tetapi dari penelitian Borowitz (1986) menunjukkan bahwa DDST tidak dapat
mengidentifikasikan lebih separoh anak dengan kelainan bicara. Frankenburg melakukan revisi dan
restandarisasi kembali DDST dan juga tugas perkembangan pada sektor bahasa ditambah, yang
kemudian hasil revisi dari DDST tersebut dinamakan Denver II.
4.9 Manfaat Denver II
Manfaat pengkajian perkembangan dengan menggunakan DDST bergantung pada usia anak.
Pada bayi baru lahir, tes ini dapat mendeteksi berbagai masalah neurologis, salah satunya serebral
palsi. Pada bayi, tes ini sering kali dapat memberikan jaminan kepada orang tua atau bermanfaat
dalam mengidentifikasi berbagai problema dini yang mengancam mereka. Pada anak, tes ini dapat
membantu meringankan permasalahan akademik dan sosial.20 Denver II dapat digunakan untuk
berbagai tujuan, antara lain :
1) Menilai tingkat perkembangan anak sesuai dengan usianya.
2) Menilai tingkat perkembangan anak yang tampak sehat.
3) Menilai tingkat perkembangan anak yang tidak menunjukkan gejala, kemungkinan adanya
kelainan perkembangan.
4) Memastikan anak yang diduga mengalami kelainan perkembangan.
5) Memantau anak yang berisiko mengalami kelainan perkembangan.
Sebelum menerapkan Denver II, terlebih dahulu harus memahami apa yang hendak diukur
melalui tes tersebut. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terakait tes Denver II :
a) Denver II bukan merupakan tes IQ dan bukan alat peramal kemampuan adaptif atau
intelektual (perkembangan) pada masa yang akan datang.
b) Denver II tidak digunakan untuk menetapkan diagnosis, seperti kesukaran belajar, gangguan
bahasa, gangguan emosional dan sebagainya.
c) Denver II diarahkan untuk membandingkan kemampuan perkembangan anak dengan anak
lain yang seusia, bukan sebagai pengganti evaluasi diagnostik atau pemeriksaan fisik.
2.1.1 Sektor Perkembangan Yang Dinilai
Denver II terdiri atas 125 item tugas perkembangan yang sesuai dengan usia anak, mulai dari
usia 0-6 tahun. Item tersebut terbagi menjadi 4 sektor, yaitu20 : a) Sektor Personal Sosial, yaitu
penyesuaian diri di masyarakat dan kebutuhan pribadi. b) Sektor Motorik Halus – Adaptif, yaitu
koordinasi matatangan, kemampuan memainkan dan menggunakan bendabenda kecil serta
pemecahan masalah.
BAB III
PENUTUP
3.1 kesimpulan
MTBS adalah salah satu pendekatan pelayanan terhadap balita sakit yang
dikembangkan oleh WHO. Dengan MBTS dapat ditangani secara lengkap kondisi kesehatan
balita pada tingkat pelayanan kesehatan dasar, yang memfokuskan secara intergratif aspek
kuratif, preventif, dan ptromotif termaksut pemberian nasehat kepada ibu sebagai bagian
dari pemberdayaan masyarakat.
DDST adalah salah satu metode screening terhadap kelainan perkembangan anak, Denver
Devlopment Screening Test (DDST) juga merupakan metode pengkajian yang digunakan
secara luas untuk menilai kemajuan perkembangan anak usia 0-6 tahun.
DAFTAR PUSTAKA
Kemenkes RI,2010 Manajemen Terpadu Balita Sakit (M T B S)