MAKALAH
“ IMUNISASI DASAR DAN IMUNISASI ULANG”
Dosen Pegampu: Syahrianti, [Link], [Link]
Disusun Oleh : Kelompok 4
Oktavia Ramadani P00324022179
Dira Lorenza P00324022151
Iren Aulia P00324022149
Fadillah P00324022142
Imelda Pransiska P00324022140
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLTEKKES KEMENKES KENDARI
PRODI D-III KEBIDANAN
2024
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat ALLAH SWT, dan senantiasa
mengharapkan rahmat, taufik serta hidayah-Nya. Tak lupa Shalawat dan salam
bagi junjungan Nabi Besar kita yaitu Nabi Muhammad SAW. Alhamdulillah
penulis masih diberi kesehatan dan umur sampai saat ini sehingga dapat
menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Imunisasi Dasar dan Imunisasi
Ulang”.
Dalam penyusunan makalah ini penulis sadar bahwa masih banyak
terdapat kekurangan dan mungkin jauh dari sempurna seperti dalam pepatah “ Tak
Ada Gading Yang Tak Retak” begitupun dengan makalah ini oleh karena itu kritik
dan saran dari para pembaca, sangat penulis harapkan untuk perbaikan dimasa
yang akan datang.
Demikian lah kami buat makalah ini untuk pegangan buat kita semua,
Semoga Makalah ini bermanfaat bagi kita semua.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................... i
DAFTAR ISI......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................... 1
A. Latar Belakang........................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah....................................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan......................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN...................................................................................... 3
A. Konsep Imunisasi Dasar............................................................................. 3
B. Imunisasi Ulang.........................................................................................36
BAB III PENUTUP............................................................................................. 37
A. Kesimpulan................................................................................................ 37
B. Saran.......................................................................................................... 37
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... 38
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Imunisasi berasal dari kata imun, kebal atau resisten. Imunisasi adalah
suatu upaya untuk menimbulkan / meningkatkan kekebalan seseorang
secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga apabila suatu saat terpajan
dengan suatu penyakit hanya mengalami sakit ringan. Imunisasi sangat
diperlukan demi memberikan perlindungan, pencegahan, sekaligus
membangun kekebalan tubuh anak terhadap berbagai penyakit menular
maupun penyakit berbahaya yang dapat menimbulkan kecacatan tubuh,
bahkan kematian. World Health Organization (WHO) mengatakan
imunisasi sebagai alat yang terbukti untuk mengendalikan penyakit
menular yang mengancam jiwa dan dapat mencegah antara dua hingga tiga
juta kematian setiap tahun.
Anak-anak yang menerima vaksin terbukti terlindungi dari penyakit
menular yang dapat menyebabkan penyakit serius atau kecacatan dan
berakibat fatal. Namun saat ini di Indonesia masih ada anak-anak yang
belum mendapatkan imunisasi secara lengkap bahkan tidak pernah
mendapatkan imunisasi sedari lahir. Hal itu menyebabkan mereka mudah
tertular penyakit berbahaya karena tidak adanya kekebalan terhadap
penyakit tersebut.
Dalam program imunisasi di Indonesia, pemberian Imunisasi Dasar
Lengkap (IDL) pada bayi, merupakan suatu keharusan. Imunisasi dasar
merupakan salah satu upaya untuk menurunkan angka kesakitan dan
kematian pada bayi. Imunisasi Dasar Lengkap tercapai jika bayi telah
mendapat imunisasi Hepatitis B, BCG, DTP, Polio, dan campak sebelum
berusia satu tahun. Imunisasi BCG hanya dianjurkan bagi negara endemis.
Indonesia saat ini merupakan negara ke-3 tertinggi di dunia untuk penyakit
TBC, setelah India dan Tiongkok.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan konsep imunisasi dasar ?
2. Apa yang dimaksud dengan imunisasi ulang ?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui konsep imunisasi dasar
2. Mengetahui apa itu imunisasi ulang
BAB II
PEMBAHASAN
Konsep Imunisasi Dasar
A. Pengertian Imunisasi
Imunisasi adalah cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang terhadap
suatu penyakit, sehingga bila kelaktertularpenyakit tersebut ia tidak menjadi sakit
(Gde Ranuh dkk, 2011). Sedangkan menurut Marmi,[Link] (2012), imunisasi
adalah suatu proses untuk membuat sistem pertahanan tubuh kebal terhadap invasi
mikroorganisme (bakteri dan virus) yang dapat menyebabkan infeksi sebelum
mikroorganisme tersebut memiliki kesempatan unuk menyerang tubuh kita.
Dengan imunisasi, tubuh kita akan terlindung dari infeksi begitu pula orang lain
karena tidak tertular dari kita.
B. Pengertian Vaksin
Vaksin adalah antigen berupa mikroorganisme yang sudah mati, masih
hidup tapi dilemahkan, masih utuh atau bagiannya, yang telah diolah berupa
toksin mikroorganisme yang telah diolah menjadi toksoid, protein rekombinan
yang jika diberikan kepada seseorang akan menimbulkan kekebalan spesifik
secara aktif terhadap penyakit infeksi tertentu.
C. Tujuan Imunisasi
Tujuan dari pemberian imunisasi adalah menurunkan angka kesakitan,
kematian serta kecacatan akibat Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi
(PD3I).
D. Sasaran Imunisasi
1. Bayi
Jenis Imunisasi Usia Pemberian Jumlah Pemberian Interval Minimal
Hepatitis B 0-7 hari 1 -
BCG 1 bulan 1 -
Polio / IPV 1-4 bulan 4 -
DPT-Hb-Hib 2-4 bulan 3 4 minggu
Campak 9 bulan 1 4 minggu
2. Anak batita [usia bawah 3 tahun]
Jenis Imunisasi Usia Pemberian Jumlah Pemberian
DPT-Hb-Hib 18 bulan 1
Campak 24 bulan 1
3. Anak Sekolah Dasar [SD] kelas 1 [sederajat]
Jenis Imunisasi Usia Pemberian Jumlah Pemberian
Campak Bulan Agustus Bulan Imunisasi Anak
DT Bulan November Sekolah [BIAS]
4. Anak Sekolah Dasar [SD] kelas 2 dan 3 atau [sederajat]
Jenis Imunisasi Usia Pemberian Jumlah Pemberian
TD Bulan November BIAS
E. Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi
F. Jenis Imunisasi
1. Imunisasi Wajib
Imunisasi wajib merupakan imunisasi yang diwajibkan oleh pemerintah
untuk seseorang sesuai dengan kebutuhannya dalam rangka melindungi
yang bersangkutan dan masyarakat sekitarnya dari penyakit menular
tertentu. Imunisasiwajib terdiri atas (a) imunisasi rutin, (b) imunisasi
tambahan, dan (c) imunisasi khusus.
a. Imunisasi Rutin
Imunisasi rutin merupakan kegiatan imunisasi yang dilaksanakan secara
terusmenerus sesuai jadwal. Imunisasi rutin terdiri atas imunisasi dasar dan
imunisasi lanjutan. Berikut akan diuraikan macam vaksin imunisasi rutin
meliputi deskripsi, indikasi,cara pemberian dan dosis, kontraindikasi, efek
samping serta penanganan efek samping.
1). Imunisasi dasar
a). Vaksin BCG
Deskripsi:
Vaksin BCG merupakan vaksin beku kering yang mengandung
Mycrobacterium bovis hidup yang dilemahkan (Bacillus Calmette
Guerin), strain paris.
Indikasi:
Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap tuberculosis
Cara pemberian dan dosis:
• Dosis pemberian: 0,05 ml, sebanyak 1 kali.
• Disuntikkan secara intrakutan di daerah lengan kanan atas (insertio
musculus deltoideus),dengan menggunakan ADS 0,05 ml.
Efek samping:
2–6 minggu setelah imunisasi BCG daerah bekas suntikan timbul bisul kecil
(papula) yang semakin membesar dan dapat terjadi ulserasi dalam waktu 2–
4 bulan, kemudian menyembuh perlahan dengan menimbulkan jaringan
parut dengan diameter 2–10 mm.
Penanganan efek samping:
• Apabila ulkus mengeluarkan cairan perlu dikompres dengan cairan
antiseptik
• Apabila cairan bertambah banyak atau koreng semakin membesar anjurkan
orangtua membawa bayi ke dokter.
2. Vaksin DPT-HB-HIB
Vaksin gratis di puskesmas
Deskripsi:
Vaksin DTP-HB-Hib digunakan untuk pencegahan terhadap difteri,
tetanus, pertusis (batuk rejan), hepatitis B, dan infeksi Haemophilus
influenzae tipe b secara simultan.
Cara pemberian dan dosis:
• Vaksin harus disuntikkan secara intramuskular pada anterolateral paha
atas.
• Satu dosis anak adalah 0,5 ml.
Kontra indikasi:
Kejang atau gejala kelainan otak pada bayi baru lahir atau kelainan saraf
serius.
Efek samping:
Reaksi lokal sementara seperti bengkak, nyeri dan kemerahan pada lokasi
suntikan disertai demam dapat timbul dalam sejumlah besar kasus.
Kadang-kadang reaksi berat seperti demam tinggi, irritabilitas (rewel),
dan menangis dengan nada tinggi dapat terjadi dalam 24 jam
setelahpemberian.
Penanganan efek samping:
• Orang tua dianjurkan untuk memberikan minum lebih banyak (ASI atau
sari buah).
• Jika demam pakaikan pakaian yang tipis.
• Bekas suntikan yang nyeri dapat dikompres air dingin.
• Jika demam berikan paracetamol 15 mg/kgBB setiap 3–4 jam
(maksimal 6 kali dalam 24jam).
• Bayi boleh mandi atau cukup diseka dengan air hangat.
• Jika reaksi memberat dan menetap bawa bayi ke dokter.
3. Vaksin Hepatitis B
Deskripsi:
Adalah vaksin virus recombinan yang telah diinaktivasikan dan bersifat
noninfecious, berasal dari HBsAg.
Cara pemberian dan dosis:
• Dosis 0,5 ml atau 1(buah) HB PID, secara intra-muskuler, sebaiknya
pada anterolateral paha.
• Pemberian sebanyak 3 dosis.
• Dosis pertama usia 0–7 hari, dosis berikutnya interval minimum 4
minggu (1 bulan).
Kontra indikasi:
Penderita infeksi berat yang disertai kejang.
Efek Samping:
Reaksi lokal seperti rasa sakit, kemerahan dan pembengkakan di sekitar
tempat penyuntikan. Reaksi yang terjadi bersifat ringan dan biasanya
hilang setelah 2 hari.
Penanganan Efek samping:
• Orang tua dianjurkan untuk memberikan minum lebih banyak (ASI atau
sari buah).
• Jika demam pakaikan pakaian yang tipis.
• Bekas suntikan yang nyeri dapat dikompres air dingin.
• Jika demam berikan paracetamol 15 mg/kgBB setiap 3–4 jam
(maksimal 6 kali dalam 24 jam).
• Bayi boleh mandi atau cukup diseka dengan air hangat
4. Vaksin Polio
1. Vaksin Polio Oral ( Oral Polio Vaccine (OPV)
Deskripsi:
Vaksin Polio Trivalent yang terdiri dari suspensi viruspoliomyelitis tipe 1,2,
dan 3 (strain Sabin) yang sudahdilemahkan.
Indikasi:
Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap poliomielitis
Cara pemberian dan dosis:
Secara oral (melalui mulut), 1 dosis (dua tetes) sebanyak 4 kali (dosis)
pemberian, dengan interval setiap dosis minimal 4 minggu.
Kontra indikasi:
Pada individu yang menderita “immune deficiency” tidak ada efek yang
berbahaya yang timbul akibat pemberian polio pada anak yang sedang sakit.
Efek Samping:
Sangat jarang terjadi reaksi sesudah imunisasi polio oral. Setelah mendapat
vaksin polio ora lbayi boleh makan minum seperti bisa. Apabila muntah
dalam 30 menit segera diberi dosis ulang.
Penanganan efek samping:
Orang tua tidak perlu melakukan tindakan apapun.
2. Vaksin PolioInactive Polio Vaccine (IPV)
Deskripsi:
Bentuk suspensi injeksi.
Indikasi:
Untuk pencegahan poliomyelitispada bayi dan anak immun
ocompromised, kontak dilingkungan keluarga dan pada individu
dimana vaksin polio oral menjadi kontra indikasi.
Cara pemberian dan dosis:
• Disuntikkan secara intra muskular atau subkutan dalam, dengan
dosis pemberian 0,5 ml.
• Dari usia 2 bulan, 3 suntikan berturut-turut 0,5 ml harus diberikan
pada interval satu atau dua bulan.
• IPV dapat diberikan setelah usia bayi 6, 10, dan 14, sesuai dengan
rekomendasi dari WHO.
• Bagi orang dewasa yang belum di imunisasi diberikan 2 suntikan
berturut-turut dengan interval satu atau dua bulan.
Kontra indikasi:
• Sedang menderita demam, penyakit akut atau penyakit kronis
progresif.
• Hipersensitif pada saat pemberian vaksin ini sebelumnya.
• Penyakit demam akibat infeksi akut: tunggu sampai sembuh.
• Alergi terhadap Streptomycin.
Efek samping:
Reaksi lokal pada tempat penyuntikan: nyeri, kemerahan, indurasi
dan bengkak bisa terjadi dalam waktu 48 jam setelah penyuntikan
dan bisa bertahan selama satu atau dua hari.
Penanganan efek samping:
• Orangtua dianjurkan untuk memberikan minum lebih banyak
(ASI atau sari buah).
• Jika demam pakaikan pakaian yang tipis.
• Bekas suntikan yang nyeri dapat dikompres air dingin.
• Jika demam berikan paracetamol 15 mg/kgBB setiap 3–4 jam
(maksimal 6 kali dalam 24 jam)
• Bayi boleh mandi atau cukup diseka dengan air hangat.
5. Vaksin Campak
Deskripsi:
Vaksin virus hidup yang dilemahkan.
Indikasi:
Pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit campak
Cara pemberian dan dosis:
0,5 ml disuntikkan secara subkutan pada lengan kiri atas atau anterolateral
paha, pada usia 9-11 bulan.
Kontra indikasi:
Individu yang mengidap penyakit immune deficiency atau individu yang
diduga menderita gangguan respon imun karena leukemia, limfoma.
Efek samping:
Hingga 15% pasien dapat mengalami demam ringan dan kemerahan selama
3 hari yang dapat terjadi 8–12 hari setelah vaksinasi.
Penanganan efek samping:
• Orangtua dianjurkan untuk memberikan minum lebih banyak (ASI atau
sari buah).
• Jika demam pakaikan pakaian yang tipis.
• Bekas suntikan yang nyeri dapat dikompres air dingin.
• Jika demam berikan paracetamol 15 mg/kgBB setiap 3–4 jam (maksimal 6
kali dalam 24 jam).
• Bayi boleh mandi atau cukup diseka dengan air hangat.
• Jika reaksi tersebut berat dan menetap bawa bayi ke dokter.
2. Imunisasi Lanjutan
Imunisasi lanjutan merupakan imunisasi ulangan untuk mempertahankan
tingkat kekebalan atau untuk memperpanjang masa perlindungan.
Imunisasi lanjutan diberikan kepada anak usia bawah tiga tahun (Batita),
anak usia sekolah dasar, dan wanita usia subur. Vaksin yang diberikan
adalah:
1. Vaksin DT (Difteri Tetanus)
Deskripsi:
Imunisasi anak yang bertujuan untuk mencegah terjadinya penyakit difteri
dan tetanus.
Indikasi:
pembentukan imunitas untuk pencegahan penyakit difteri.
Cara pemberian dan dosis:
Pada anak <7 tahun pemberian dosis 0,5 ml disuntikkan secara
intramuskuler. Pada anak hingga usia 2 tahun, injeksi intramuskuler
disarankan dilakukan pada bagian anterolateral dari tungkai atas.
Sementara itu, untuk anak berusia ≥3 tahun, injeksi disarankan diberikan
pada muskulus deltoid.
Kontra indikasi:
adanya riwayat hipersensitivitas terhadap vaksin ini atau komponen lain
dalam sediaan, serta ensefalopati yang tidak dapat ditemukan sebabnya
setelah 7 hari pemberian vaksin sejenis.
Efek samping:
Efek samping vaksin difteri umumnya bersifat lokal dan dalam derajat
ringan. Efek samping lokal yang banyak dialami adalah nyeri, bengkak,
atau kemerahan pada lokasi injeksi, demam, penurunan nafsu makan, dan
kelelahan.
Penanganan efek samping:
kompres dengan air dingin pada area bekas suntikan
mencukupi kebutuhan cairan tubuh anak (dengan asi atau air buah)
menggenakan pakaian yang nyaman untuk si kecil
memberikan obat penurun panas sesuai resep dokter
2. Vaksin TD (Tetanus Defteri)
Deskripsi:
Merupakan imunisasi lanjutan dari imunisasi DT agar anak semakin kebal
dengan ketiga penyakit difteri, tetanus, dan batuk rejan.
Indikasi:
Imunisasi ulang terhadap tetanus dan difteri pada individu mulaiusia 7
taun.
Cara pemberian dan dosis:
Dosis yang diberikan setiap penyuntikan 0,5 ml dan diberikan secara
injeksi intramuskuler pada regio deltoid lengan atas.
Kontra indikasi:
Dosis kedua dan selanjutnya jangan diberikan pada individu yang
menderita reaksi berat (anafilaksis) terhadap dosis sebelumnya.
Indifidu yang terinfeksi HIV baik simtomik harus divaksin dengan
Bio Td menurut jadwal yang telah ditetapkan.
Efek samping:
Nyeri dan bengkak pada lokasi penyuntikan serta demam
Penanganan efek samping:
kompres dengan air dingin pada area bekas suntikan
mencukupi kebutuhan cairan tubuh anak (dengan asi atau air buah)
menggenakan pakaian yang nyaman untuk si kecil memberikan
obat penurun panas sesuai resep dokter
3. Imunisasi Tambahan
Imunisasi tambahan diberikan kepada kelompok umur tertentu yang
palingberisiko terkena penyakit sesuai kajian epidemiologis pada periode
waktu [Link] termasuk dalam kegiatan imunisasi tambahan adalah
sebagai berikut:
1). Backlog Fighting
Backlog Fighting merupakan upaya aktif yang dilakukan untuk
melengkapi imunisasi dasar kepada anak yang berumur 1–3 tahun.
Kegiatan Backlog fighting ini diprioritaskan pada desa yang selama 2
(dua)tahun berturut-turut tidak mencapai UCI (Universal Child
Immunization).
2). Crash Program
Crash program merupakan kegiatan yang ditujukan untuk wilayah
yang memerlukan intervensi secara cepat untuk mencegah terjadinya KLB.
Kriteria pemilihan daerah yang akan dilakukan crash program adalah
angka kematian bayi akibat PD3I tinggi, infrastruktur (tenaga, sarana,
dana) kurang. Desa yang selama 3 tahun berturut-turut tidak mencapai
UCI. Crash program bisadilakukan untuk satu atau lebih jenis imunisasi,
misalnya campak, atau campakterpadu dengan polio.
3). PIN (Pekan Imunisasi Nasional)
PIN merupakan kegiatan imunisasi yang dilaksanakan secara
serentak di Suatu negara dalam waktu singkat. Kegiatan PIN ini bertujuan
untuk memutuskan mata rantai penyebaran suatu penyakit (misalnya
polio). Imunisasi yang diberikan pada PIN diberikan tanpa memandang
status imunisasi sebelumnya.
4). Sub-PIN
Sub PIN merupakan kegiatan serupa dengan PIN tetapi
dilaksanakan pada wilayah terbatas (beberapa provinsi atau kabupaten /
kota).
5). Catch up Campaign Campak
Catch up campaign campak merupakan suatu upaya untuk
memutuskan transmisi penularan virus campak pada anak usia sekolah
dasar. Kegiatan ini dilakukan dengan pemberian imunisasi campak secara
serentak kepada anak sekolah dasar dari kelas satu hingga kelas enam atau
yang sederajat, serta anak usia 6-12 tahun yang tidak sekolah, tanpa
mempertimbangkan status imunisasi sebelumnya. Pemberian imunisasi
campak pada waktu catch up campaign campak di samping untuk
memutus rantai penularan, juga berguna sebagai booster atau imunisasi
ulangan (dosis kedua).
6). Imunisasi dalam Penanganan KLB (Outbreak Response Immunization)
Pedoman pelaksanaan imunisasi dalam penanganan KLB
disesuaikan dengan situasi epidemiologis penyakit masing-masing.
2. Imunisasi Pilihan
Macam- macam vaksin imunisasi pilihan yaitu vaksin MMR,
Hib,Tifoid,Varisela, Hepatitis A, Influensa, Pneumokokus, Rotavirus,
Japanese Ensephalitis dan HPV.
G. Jadwal Imunisasi
H. Sarana Penyimpanan Vaksin
Sarana penyimpanan vaksin yang Anda perlukan adalah sebagai berikut:
a. Kamar dingin dan kamar beku
Kamar dingin dan kamar beku terdapat di tingkat propinsi.
b. Lemari Es dan Freezer
Banyak model lemari es yang dapat digunakan.
c. Alat pembawa vaksin
Alat pembawa vaksin yang diperlukan adalah: Cold box (Kotak dingin) pada
umumnya memiliki volume kotor 40 liter dan 70 literdan Vaccine carrier (alat
untuk mengirim/membawa vaksin daripuskesmas ke posyandu atau tempat
pelayanan imunisasi lainnya yang dapat mempertahankan suhu+2⁰ s/d. +8⁰ C.
d. Alat untuk mempertahankan suhu
Untuk mempertahankan suhu, alat yang diperlukan adalah: Kotak dingin
beku (cold pack) yang berupa wadah plastik berbentuk segi empatyang diisi
dengan air yang dibekukan dalam freezer dengan suhu -150 s.d. -250C selama
minimal 24 jam dan kotak dingin cair (cool pack) adalah wadah plastik
berbentuk segi empat yangdiisi dengan air kemudian didinginkan dalam lemari
es dengan suhu +20s/d.+80C selama minimal 24 jam. Cold pack selain
mempertahankan suhu untuk pengiriman vaksin jugaberfungsi sebagai
stabilisator suhu apabila diletakkan dalam lemari es.
I. Tempat Pelayanan Imunisasi Wajib
Tempat pelayanan imunisasi wajib dibedakan menjadi 2 yaitu:
1. Pelayanan imunisasi di dalam gedung (komponen statis) : puskesmas,
puskesmas pembantu, rumah sakit, bidan praktik, dokter praktik)
2. Pelayanan imunisasi di luar gedung (komponen dinamis): posyandu, di
sekolah atau melalui kunjungan rumah
J. Pelaksanaan Pemberian Imunisasi
Keberhasilan program imunisasi sangat ditentukan oleh kualitas pelayanan
imunisasi oleh petugas imunisasi. Dalam bab ini memberikan penjelasan tentang
tugas-tugas yang harus dilaksanakan pada saat memberikan pelayanan imunisasi.
1. Penyuluhan Sebelum dan Sesudah Pelayanan Imunisasi
Penyuluhan yang perlu Anda berikan adalah tentang manfaat imunisasi,
konseling, keluhan yang mungkinterjadi setelah imunisasi dan cara
penanggulangannya serta jadual pelayanan imunisasi berikutnya.
2. Melakukan Skrining dan Pengisian Register
a. Skrining
Setiap petugas yang melaksanakan imunisasi, harus melakukan skrining
mengenai kondisi sasaran,riwayat penyakit, dan kontra indikasi sebelum
pemberian tiap dosis vaksin.
b. Pemeriksaan sasaran
Setiap sasaran yang datang ke tempat pelayanan imunisasi, sebaiknya
diperiksasebelum diberikan pelayanan imunisasi. Tentukan usia dan status
imunisasi terdahulu sebelum diputuskan vaksin mana yang akan diberikan
dengan langkah sebagai berikut:
1). Mengidentifikasi usia bayi
2). Mengidentifikasi vaksin-vaksin mana yang telah diterima oleh bayi
3). Menentukan jenis vaksin yang harus diberikan
4). Kontra indikasi terhadap imunisasi
5). Imunisasi untuk bayi sakit atau mempunyai riwayat kejang demam
sebaiknya dikonsultasikan kepada dokter spesialis anak.
c. Pengisian Buku Register
Pada setiap kegiatan sangatlah penting melakukan dokumentasi. Dalam
pelayanan imunisasi, instrumen yang digunakan untuk dokumentasi adalah
Buku Register yang dapat membantu dalam pelaksanaan imunisasi dan
memonitor pelayanan imunisasi yang diberikan kepada sasaran.
3. Konseling
Klien mempunyai hak untuk menerima atau menolak pelayanan imunisasi.
Petugas klinik berkewajiban melakukan konseling sehingga klien dapat
mengambil keputusan secara arif dan benar. Lima pesan penting yang perlu
disampaikan kepada orang tua, yaitu:
a. Manfaat dari vaksin yang diberikan
b. Tanggal imunisasi dan pentingnya buku KIA disimpan secara aman dan
dibawa saat kunjungan berikutnya.
c. Efek samping ringan yang dapat dialami dan cara mengatasinya serta tidak
perlu khawatir
d. Lima imunisasi dasar lengkap untuk melindungi anak sebelum usia 1 tahun.
4. Pemberian Imunisasi
Dalam pelaksanaan pemberian imunisasi dengan menggunakan vaksin yang
tepat dan aman, hal–hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
a. Vaccine Carrier
Letakan vaccin carrier di meja yang tidak terkena sinar matahari secara langsung.
b. Sebelum pelaksanaan imunisasi
1). Memeriksa label vaksin dan pelarut
2). Memeriksa tanggal kadaluwarsa
3). Memeriksa VVW
4). Jangan gunakan jika vaksin tanpa label, kadaluwarsa dan dengan status VVM
telah C atau D
c. Penyuntikan yang aman
Alat suntik yang bisa digunakan untuk menyuntikkan vaksin adalah sebagai
berikut:
1). Menggunakan alat suntik Auto – Dissable (AD)
Alat suntikAuto – Dissable (AD) adalah alat suntik yang setelah satu kali
digunakan secara otomatis menjadi rusak dan tidak dapat digunakan lagi.
2). Menggunakan alat suntik Prefilled injection Device (PID)
Alat suntik Prefilled injection Device (PID) adalah jenis alat suntik yang hanya
bisa digunakan sekali pakai dan telah berisi vaksin dosis tunggal dari
pabriknya. Alat suntik ini digunakan terutama untuk Hepatitis B pada bayi baru
lahir.
d. Melarutkan vaksin
Beberapa hal yang perlu diperhtaikan dalam melarutkan vaksin adalah:
1). Pelarut tidak boleh saling bertukar
2). Gunakan pelarut dari pabrik yang sama dengan vaksin
3). Pelarut harus sama suhunya sebelum dicampur dengan vaksin.
4). Jangan mencampur vaksin dengan pelarut sebelum sasaran datang
5). Anda harus membuang vaksin yang telah dicampur dengan pelarut setelah 3
jam untuk vaksin BCG dan setelah 6 jam untuk vaksin campak
6). Sewaktu pelayanan imunisasi, menyimpan vaksin yang telah dicampur
dengan pelarut ataupun vaksin yang sudah dibuka diletakkan diatas bantalan
busa yang ada di dalam Vaccine Carrier.
5. Uji Kocok (Shake Test)
Pembekuan merusak potensi vaksin dari DT, TT, Hepatitis B, dan DPT/HB.
Apabiladicurigai bahwa vaksin pernah beku, perlu dilakukan uji kocok (shake
test) untuk menentukan apakah vaksin tersebut layak dipakai atau tidak
6. Cara meningkatkan keamanan suntikan
Dalam melakukan suntikan supaya aman perlu diperhatikan hal berikut ini :
a. Melakukan Bundling yaitu tersedianya suatu kondisi dimana: vaksin yang
disediakan mutunya terjamin dan pelarutnya sesuai, alat suntik yang ADS
(Auto-Disable Syringe), tersedia kotak pengaman limbah alat suntik.
b. Menyiapkan lokasi suntikan dengan tepat dan bersih.
c. Jangan membiarkan jarum terpasang di bagian paling atas tutup botol
vaksin.
d. Ikuti petunjuk khusus tentang penggunaan, penyimpanan dan penanganan
vaksin.
e. Ikuti prosedur yang aman untuk mencampur vaksin
f. Gunakan alat suntik dan dan jarum baru untuk setiap anak
g. Posisi anak harus benar, sesuai umur, lokasi penyuntikan. Anatisipasi jika
terjadi gerakan mendadak selama dan setelah penyuntikan.
7. Prosedur pemberian Imunisasi
a. Teknik Pemberian Imunisasi Hb0
1). Alat yang perlu disiapkan:
• Uniject
• Bengkok
• Bak instrumen
• Sarung tangan
• Safety Box
• Kapas DTT
• Buku KIA/KMS
• Tempat sampah
• Larutan klorin dalam tempatnya
2). Langkah –langkah Pemberian Imunisasi Hb0
a). Menjelaskan kepada ibu bayimengenai prosedur yang akandilakukan.
b). Mencuci tangan menggunakansabun di bawah air mengalir.
c). Menggunakan sarung tangan.
d). Mengatur posisi bayi. Bayi dapat dibaringkan di atas kasur atau
didudukkan di pangkuan ibunya, kemudian lengan kanan bayi dilipat di
ketiak ibu, tangan kiri ibu menopang kepala bayi, tangan kanan ibu
memegang erat tangan kiri bayi bersamaan dengan kaki kanan bayi.
e). Membuka kotak wadah Uniject dan periksa:
- Label jenis vaksin untuk memastikan bahwa Uniject tersebut memang
benar berisi vaksin hepatitis B.
-Tanggal kedaluwarsa.
- Warna pada tanda pemantau paparan panas yang tertera atau menempel
pada pembungkus Uniject.
f). Membuka kantong aluminium / plastik uniject dari bagian ujung atau
sudut, kemudian keluarkan Uniject.
g). Pegang Uniject pada bagian leherdan bagian tutup jarum, bersamaan
dengan itu aktifkan uniject dengan cara mendorong tutup jarum kearah leher
dengan tekanan dan gerakan cepat.
h). Pastikan uniject telah aktif dan siap digunakan. Buka tutup jarum dan
buang ke dalam tempat yang telah disediakan (safety box).
i). Setelah jarum dibuka, usahakan tidak menyentuh benda lain, untuk
menjaga kesterilannya.
j). Ambil kapas DTT, lakukan pembersihan pada lokasi penyuntikan.
k) Tetap pegang Uniject pada bagian leher dan tusukkan jarum pada
pertengahan paha secara Intramuskuler. Tidak perlu diaspirasi.
l). Pijit reservoir dengan kuat untuk menyuntikkan vaksin Hepatitis B.
Saat menyuntikkan vaksin pastikan seluruh isi vaksin tidak ada yang tersisa
di dalam reservoir.
m). Buang Uniject yang telah dipakai tersebut ke dalam wadah alat suntik
bekas yang telah tersedia (safety box). Jangan memasang kembali tutup
jarum.
n). Bereskan semua peralatan yang sudah digunakan.
o). Bersihkan sarung tangan dalam larutan klorin dan lepaskan secara
terbalik, masukan dalam ember berisi larutan klorin.
p). Cuci tangan setelah melakukan tindakan.
q). Menjelaskan reaksi yang timbul setelah penyuntikan dan cara mengatasi
reaksi tersebut.
r). Dokumentasikan dan beritahukan hasil kepada ibu bayi dan kunjungan
ulang.
b. Teknik pemberian Imunisasi BCG
1). Persiapan alat:
• Spuit dispossible 5 cc
• Alat suntik ADS
• Vaksin BCG dan pelarutnya dalamtermos es
• Kapas DTT dalam tempatnya
• Bengkok
• Safety Box
• Buku KIA/KMS
• Larutan klorin dalam tempatnya
• Tempat sampah
2). Langkah-langkah pemberian Vaksin BCG
a). Memperkenalkan diri dan menjelaskan kepada ibu bayi mengenai
prosedur yang akan dilakukan.
b). Mencuci tangan menggunakan sabun dibawah air mengalir.
c). Menggunakan sarung tangan
d). Membuka tutup metal pada vaksin dengan menggunakan pengait jika
vaksin berbentuk vial
e). Menghisap pelarut dengan menggunakan spuit 5 cc. Pastikan seluruhnya
terisap
f). Memasukkan pelarut kedalam val vaksin BCG lalu dikocok sehingga
campuran menjadi homogen
g). Memasukkan spuit yang digunakan untuk melarutkan vaksin ke dalam
safety box
h). Mengambil spuit yang baru kemudian menghisap vaksin dari vial
sebanyak 0,05 cc
i). Mengatur posisi bayi miring di atas pangkuan ibu dan lepas baju bayi dari
lengan dan bahu. Ibu memegang bayi dekat dengan tubuhnya, menyangga
kepala bayi dan memegang lengan dekat dengan tubuhnya.
j). Membersihan area penyuntikan dengan kapas DTT
k). Memegang lengan bayi dengan tangan kiri dan tangan kanan memegang
syringe dengan lubang jarum menghadap ke depan.
l). Memegang lengan sehingga permukaan kulit mendatar dengan
menggunakan ibu jari kiri dan jari telunjuk, letakkan syringe dan jarum
dengan posisi hampir datar dengan kulit bayi.
m). Memasukkan ujung jarum di bawah permukaan kulit, cukup
masukkan bevel (lubang di ujung jarum). Untuk memegang jarum dengan
posisi yang tepat, letakkan ibu jari kiri anda pada ujung bawah alat suntik
dekat jarum, tetapi jangan menyentuh jarum.
n). Memegang ujung penyedot antara jari telunjuk dan jari tengah tangan
kanan. Tekan penyedot dengan ibu jari tangan. Menyuntikan 0,05 ml
vaksin dan memastikan semua vaksin sudah masuk ke dalam kulit. Lihat
apakah muncul gelembung.
o). Mencabut jarum suntik apabila vaksin sudah habis.
p). Bereskan semua peralatan yang sudah digunakan.
q). Bersihkan sarung tangan dalam larutan klorin dan lepaskan secara
terbalik, masukan dalam ember berisi larutan klorin.
r). Mencuci tangan setelah melakukan tindakan.
s). Menjelaskan reaksi yang timbul setelah penyuntikan dan cara mengatasi
reaksi tersebut.
t). Dokumentasikan dan beritahukan hasil pada ibu bayi dan kunjungan
ulang
c. Teknik pemberian imunisasi Polio
1). Alat yang perlu disiapkan
• Vaksin Polio dalam termos es
• Pipet (dropper)
• Bengkok
• Buku KIA/KMS
• Tempat sampah
2). Langkah-langkah pemberian Imunisasi Polio
a). Memperkenalkan diri dan menjelaskan kepada ibu bayi mengenai
prosedur yang akan dilakukan.
b). Mencuci tangan menggunakan sabun di bawah air mengalir.
c). Membuka tutup metal pada vaksin dengan menggunakan pengait
dan memasang dropper.
d). Mengatur posisi ibu dalam menggendong bayi dengan meminta ibu
untuk memegang bayi dengan kepala disangga dan ditengadahkan ke
belakang.
e). Membuka mulut bayi secara berhati-hati dengan ibu jari pada dagu
(untuk bayi kecil) atau menekan pipi bayi dengan jari-jariAnda.
f). Meneteskan 2 tetes vaksin dari alat tetes ke dalam lidah jangan sampai
alat tetes (dropper) menyentuh bayi.
g). Bereskan semua peralatan yang sudah digunakan.
h). Mencuci tangan setelah melakukan tindakan.
i). Menjelaskan reaksi yang timbul setelah penyuntikan dan cara
mengatasi reaksi tersebut.
j). Dokumentasikan dan beritahukan hasil kepada ibu bayi dan kunjungan
ulang.
d. Teknik pemberian Imunisasi DTp-Hb-Hib
1). Alat yang perlu disiapkan
• Sarung tangan bersih 1 pasang (untuk melindungi petugas)
• Vaksin DTP-HB-Hib
• Kapas DTT
• Bak Instrumen
• Gergaji ampul
• Auto Disable Syringe (ADS)
• Bengkok
• Safety Box
• Tempat sampah
• Larutan klorin dalam tempatnya
2). Langkah-langkah pemberian Imunisasi DTp-Hb-Hib
a). Memperkenalkan diri dan menjelaskan kepada ibu bayi mengenai
prosedur yang akan dilakukan.
b). Mencuci tangan menggunakan sabun di bawah air mengalir.
c). Menggunakan sarung tangan.
d). Membuka tutup metal pada vaksin dengan menggunakan pengait.
e). Menghisap vaksin dari vial dengan menggunakan spuit sebanyak 0,5
ml.
f). Meminta ibu untuk menggendong bayi di atas pangkuan ibu dengan
posisi menghadap ke depan, seluruh kaki telanjang. Ibu sebaiknya
memegang kaki bayi.
g). Bersihkan kulit dengan kapas DTT, tunggu hingga kering.
h). Menentukan lokasi penyuntikan,yaitu di paha anterolateral
i). Pegang paha bayi dengan ibu jari danjari telunjuk, suntikkan jarum
dengan sudut 90° (intra-muskulair). Suntikkan pelan-pelan untuk
mengurangi rasa sakit.
j). Cabut jarum dengan cepat dantekan bekas suntikan dengan kapas
kering, jangan melakukan pemijatan pada daerah bekas suntikan.
k). Masukkan alat suntik ke dalam safety box tanpa ditutup kembali (no
recapping).
l). Bereskan semua peralatan yang sudah digunakan.
m). Bersihkan sarung tangan dalam larutan klorin dan lepaskan secara
terbalik, masukkan ke dalam ember berisi larutan klorin.
n). Mencuci tangan setelah melakukan tindakan.
o). Menjelaskan reaksi yang timbul setelah penyuntikan dan cara
mengatasi reaksi tersebut.
p). Dokumentasikan dan beritahukan hasil kepada ibu bayi dan
kunjungan ulang.
e. Teknik pemberian Imunisasi Campak
1). Alat yang perlu disiapkan
• Sarung tangan bersih 1 pasang (untuk melindungi petugas)
• Vaksin campak dan pelarutnya
• Kapas DTT
• Bak Instrumen
• Gergaji ampul
• Spuit 5 cc
• Auto Disable Syringe (ADS)
• Bengkok
• Safety Box
• Tempat sampah
2. Langkah-langkah pemberian Imunisasi Campak
a). Memperkenalkan diri dan menjelaskan kepada ibu bayi mengenai
prosedur yang akan dilakukan.
b). Mencuci tangan menggunakan sabun di bawah air mengalir.
c). Menggunakan sarung tangan.
d). Membuka tutup metal pada vaksin dengan menggunakan pengait.
e). Mengisap pelarut dengan menggunakan spuit 5 cc. Pastikan
seluruhnya terisap.
f). Memasukkan pelarut ke dalam vial vaksin campak, kocok hingga
campuran menjadi homogen.
g). Masukan semprit dan jarum pencampur ke dalam safety box setelah
digunakan.
h). Menghisap vaksin dari vial dengan menggunakan spuit sebanyak 0,5 ml.
i). Mengatur posisi bayi:
-Bayi dipangku ibunya di sisi sebelah kiri.
-Tangan kanan bayi melingkar kebadan ibu.
-Tangan kiri ibu merangkul bayi, menyangga kepala, bahu, dan
memegang sisi luar tangan kiribayi.
-Tangan kanan ibu memegang kakibayi dengan kuat.
j). Menyiapkan bagian yang akan diinjeksi musculus deltoideus (1/3 bagian
lateral lengan kiri atas).
k). Membersihkan daerah yang akan diinjeksi dengan kapas DTT dari
tengah keluar, secara melingkar sekitar 5 cm. Tunggu hingga kering.
l). Mengangkat kulit daerah suntikan dengan ibu jari dan telunjuk.
m). Menusukkan jarum ke dalam kulit dengan sudut 45° (injeksi subkutan
dalam).
n). Melakukan aspirasi kemudian mendorong pangkal piston dengan ibu jari
tangan kanan dan memasukkan vaksin secara perlahan.
o). Menarik jarum suntik dengan cepat setelah semua vaksin masuk.
p). Menekan daerah suntikan dengan kapas DTT.
q). Merapikan alat-alat dan membuang spuit ke dalam safety box.
r). Mengevaluasi keadaan tubuh bayi .
s). Merapikan bayi.
t). Membuka sarung tangan dan membuang sarung tangan ke dalam kotak
sampah medis.
u). Memberikan penjelasan kepada orang tua sehubungan dengan hasil
imunisasi, efek samping, dan obat penurun panas untuk mengantisipasi efek
samping berupa panas.
v). Memberikan penjelasan kepada orang tua tentang jadwal imunisasi
selanjutnya
w). Mendokumentasikan (waktu, nama,vaksin, dosis, rute pemberian, dan
reaksi pasien)
B. Imunisasi Ulang / Lanjutan
Imunisasi lanjutan merupakan ulangan Imunisasi dasar untuk mempertahankan
tingkat kekebalan dan untuk memperpanjang masa perlindungan anak yang
sudah mendapatkan Imunisasi dasar. Imunisasi lanjutan diberikan pada:
1. Anak usia bawah dua tahun (Baduta)
Imunisasi lanjutan yang diberikan pada baduta terdiri atas imunisasi
terhadap penyakit difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, pneumonia dan
meningitis yang disebabkan oleh Hemophilus Influenza tipe b (Hib), serta
campak.
2. Anak usia sekolah dasar
Imunisasi lanjutan yang diberikan pada anak usia sekolah dasar terdiri atas
Imunisasi terhadap penyakit campak, tetanus, dan difteri yang diberikan pada
bulan imunisasi anak sekolah (BIAS) yang diintegrasikan dengan usaha
kesehatan sekolah.
3. Wanita usia subur (WUS).
Imunisasi lanjutan yang diberikan pada wanita usiasubur terdiri atas
Imunisasi terhadap penyakit tetanus dan difteri.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam program imunisasi di Indonesia, pemberian Imunisasi Dasar Lengkap
(IDL) pada bayi, merupakan suatu keharusan. Imunisasi dasar merupakan salah
satu upaya untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian pada bayi. Imunisasi
Dasar Lengkap tercapai jika bayi telah mendapat imunisasi Hepatitis B, BCG,
DTP, Polio, dan campak sebelum berusia satu tahun.
B. Saran
Makalah ini masih sangat sederhana untuk itu kami berharap sumbang saran
dari para pembaca yang budiman demi perbaikan makalah ini. Penyusun
menyarankan agar makalah ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
DAFTAR PUSTAKA
“Buku Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi, Balita, dan Anak Pra Sekolah” di tulis
oleh Astuti Setiyani, Sukesi dan Esyuananik.
..............2007. Pelatihan Pelayanan Obstetri Neonatus Emergensi Dasar. Jakarta:
Depkes RI.
..............2012. Pelayanan Kesehatan Neonatal Esensial, Direktorak Jendral Bina
Gizi Dan Anak. Jakarta: Kemenkes. RI.
..............2013. Pelayanan Kesehatan Ibu Di Fasilitas Kesehatan Dasar Dan
Rujukan. Jakarta: Kemenkes RI.
Marmi, Rahardjo K. 2012, Asuhan neonatus, bayi balita dan anak prasekolah.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Muslihatun, WN, dkk. 2011. Dokumentasi Kebidanan. Yogyakarta: Fitramaya
Wildan, M. Hidayat, A. 2011. Dokumentasi Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika