0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan20 halaman

Praktikum Kimia Tembaga: Sintesis dan Identifikasi

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan20 halaman

Praktikum Kimia Tembaga: Sintesis dan Identifikasi

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PRAKTIKUM

PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK

KIMIA TEMBAGA

Dosen Pengampu : Dr. rer. nat I Wayan Karyasa, S. Pd., [Link].


Disusun Oleh : Ni Kadek Novita Indriyani (2213081005)

PROGRAM STUDI KIMIA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
2024
I. Judul : Kimia tembaga
II. Tujuan :
1. Membuat senyawa kompleks [Cu(NH3)4]SO4 dari bahan awal senyawa
tembaga (II) sulfat pentahidrat;
2. Membuat dan mengidentifikasi senyawa kompleks khelat K2[Cu(C2O4)2] dari
senyawa kompleks [Cu(NH3)4]SO4;
3. Membuat dan mengidentifikasi garam rangkap K2[Cu(C2O4)2] dari bahan
awal senyawa tembaga (II) sulfat pentahidrat;
4. Membuat dan mengidentifikasi logam tembaga, tembaga (I) klorida, tembaga
(II) klorida, tembaga (II) oksida dari produk (2) dan (3) di atas dan
selanjutnya menjadi tembaga (II) sulfat pentahidrat kembali dalam suatu
percobaan bersiklus tertutup yang selain hemat juga ramah lingkungan.
III. Dasar Teori :
Di alam tembaga (Cu) umumnya diperoleh dari bijihnya seperti pirit tembaga
(CuFeS2) dan copper glance (Cu2S). Tembaga memiliki konfigurasi elektron [Ar] 3d10
4s1. Sifat kimia tembaga sangat berkaitan dengan energi ionisasi yang besar, yaitu
energi ionisasi pertama 745 kJ/mol dan energi ionisasi kedua 1956 kJ/mol; kalor
atomisasi yang besar dan energi hidrasi yang relatif rendah i.e – 2240 kJ/mol untuk
Cu2+ dan – 481 kJ/mol untuk Cu +; harga potensial elektroda yang positif dan
umumnya mempunyai kereaktifan yang rendah .

Tembaga memiliki elektron s tunggal di luar kulit 3d yang terisi. Ini agak
kurang umum dengan golongan alkali kecuali stoikimetri formal dalam tingkat
oksidasi +1. Kulit d yang terisi jauh kurang efektif daripada kulit gas mulia dalam
melindungi elektron s dari muatan inti, sehingga potensial pengionan pertama Cu
lebih tinggi daripada golongan alkali. Karena elektron-elektron pada kulit d juga
dilibatkan dalam ikatan logam, maka panas penyubliman dan titik leleh tembaga jauh
lebih tinggi daripada alkali.

Tembaga larut dalam asam nitat dan dalam asam sulfat dengan kehadiran
oksigen. Tembaga larut dalam asam nitrat menghasilkan tembaga (II) dimana asam
nitat sebagai oksidator. Tembaga juga larut dalam KCN atau dalam larutan amionia
dalam kehadiran oksigen, yang diindikasikan oleh potensialnya.
-0,12V -0,01V
Cu + 2 NH3 [Cu(NH3)2]+ [Cu(NH3)4]2+
Senyawa-senyawa tembaga pada umumnya bersifat racun bagi kebanyakan
makhluk hidup sehingga banyak diantaranya digunakan sebagai insektisida,
fungisida dan algisida. Contohnya adalah senyawa tembaga (II) sulfat, CuSO4.
Tembaga (II) sulfat secara komersial dibuat dengan mengoksidasi logam tembaga
dengan H2SO4.

2 Cu + 2 H2SO4 → 2 CuSO4 + 2 H2O atau mengoksidasi tembaga (II)


sulfida di udara, berdasarkan reaksi berikut.

2 CuS + 2 O2 → CuSO4

Suatu ion (molekul) kompleks terdiri dari satu atom (ion pusat) dan sejumlah
ligan yang terikat erat dengan atom (ion) pusat tersebut. Atom pusat ini ditandai oleh
bilangan koordinasi, suatu angka bulat, yang menunjukkan jumlah ligan (monodentat)
yang dapat membentuk kompleks yang stabil dengan satu atom pusat. Bilangan
koordinasi menyatakan jumlah ruangan yang tersedia sekitar atom atau ion pusat,
yang masing-masingnya dapat ditempati satu ligan (monodentat). Ion-ion tembaga
seperti Cu2+ dan Cu+ memiliki bilangan koordinasi 4. Suatu kompleks dengan satu
atom pusat dengan bilangan koordinasi 4 biasanya menunjukkan suatu susunan
simetris yang berbentuk tetrahedron, meskipun susunan yang datar (hampir datar),
dimana ion pusat berada di pusat suatu bujur sangkar dan keempat ion menempati
keempat sudut bujur sangkar itu.

Ion-ion dan molekul-molekul anorganik sederhana seperti NH3, CN- , Cl- ,


H2O membentuk ligan monodentat, yaitu satu ion atau molekul menempati salah satu
ruang yang tersedia sekitar ion pusat dalam bulatan koordinasi. Ligan yang
mengandung dua atau lebih atom yang masing-masing secara serempak membentuk
ikatan dua donor elektron kepada ion logam yang sama disebut ligan polidentat. Ligan
ini juga disebut ligan khelat. Salah satu kompleks yang dihasilkan dalam percobaan
ini adalah ion tetraaminakuprat (II). Dalam rumus bangun ion tetraamina kuprat (II)
anak panah menunjukkan bahwa sepasang elektron disumbangkan oleh setiap ion
nitrogen kepada ion tembaga. Muatan suatu ion kompleks merupakan jumlah muatan
ion-ion yang membentuk kompleks itu, misalnya:
Cu2+ + 4 CN- → [ Cu (CN)4 ]2+
Jika molekul-molekul netral yang terlibat sebagai ligan dalam membentuk kompleks,
muatan pada ion kompleks tetap sama seperti muatan pada atom pusatnya, misalnya:
Cu2+ + 4 NH3 → [ Cu(NH3)4 ]2+
Pembentukan kompleks dapat diamati dari perubahan warna dalam larutan.
Cu2+ + 4 NH3 → [ Cu(NH3)4 ]2+
biru biru tua gelap
Dalam larutan air, hampir semua garam tembaga (II) berwarna biru, yang
karakteristik dari warna ion kompleks koordinasi 6, [Cu(H2O)6]2+. Kekecualian yang
terkenal yaitu tembaga (II) klorida yang berwarna kehijauan oleh karena ion kompleks
[CuCl4]2- yang mempunyai bangun geometri dasar tetrahedral tau bujursangkar
bergantung pada kation pasangannya. Dalam larutan encer ia menjadi berwarna biru
oleh karena pendesakan ligan Cl- oleh ligan H2O. oleh karena itu, juka warna hijau
ingin dipertahankan, ke dalam arutan pekat CuCl2 dalam air ditambahkan ion senama
Cl- dengan penambahan padatan NaCl atau HCl pekat atau gas.
[CuCl4]2- (aq) + 6 H2O (l) → [Cu(H2O)6]2+ (aq) + 4 Cl-(aq)

hijau biru
Jika larutan amoniak ditambahkan ke dalam larutan ion Cu 2+, larutan biru
berubah menjadi biru tua karena terjadi pendesakan ligan air oleh ligan amoniak
menurut reaksi berikut.
[Cu(H2O)6]2+ (aq) + 5 NH3 → [Cu(NH3)(4-5)(H2O)(2-1)]2+ + 5 H2O(l)
biru biru tua
Penambahan ion hidroksida ke dalam larutan tembaga (II) sulfat (0,1-0,5 M)
secara bertetes dengan kcepatan ~ 1 mL/ menit mengakibatkan terjadinya endapan
gelatin biru muda garam tembaga (II) hidroksi sulfat, [CuSO [Link](OH)]2, bukan
Cu(OH)2 menurut persamaan reaksi:
[Cu(H2O)6]2+ (aq) + SO42- (aq) + OH-(aq) → [[Link](OH)]2(s) + H2O(l)

Biru muda
Ion tembaga (I) jika direaksikan dengan ion klorida segera membentuk ion
kompleks tak berwarna diklorokuprat (I), [CuCl2] - . Tahap reaksi ini diduga
berlangsung sangat cepat sehingga memicu terjadinya tahap reaksi pertama seperti
berikut ini:
Cu(s) + H3O+ (aq) → Cu+ (aq) + H2(g) + 2H2O

Cu+ (aq) + 2Cl- (aq) [CuCl2] - (aq)


Jika larutan ini dituangkan ke dalam air suling bebas udara, diperoleh endapan putih
tembaga (I) klorida menurut persamaan reaksi:
[CuCl2] - (aq) → CuCl(s) + Cl- (aq)

Dalam kimia organik, diklorokuprat (I), [CuCl 2] - digunakan untuk mengubah


benzene diazonium klorida menjadi klorobenzena menurut reaksi Sandmeyer:
[C6H5N2] +Cl- (aq) → C6H5Cl(l) + N2(g)
Terdapat lima reaksi kimia tembaga yang melibatkan tembaga (II) sulfat (tembaga
vitriol), yaitu

Jika percobaan-percobaan tersebut dirancang dalam rantai tertutup, maka


tembaga vitriol akan jauh lebih sedikit diperlukan dan limbah juga dapat
diminimalkan. Lingkaran rantai tertutup kimia tembaga digambarkan sebagai berikut.
IV. Alat dan Bahan
Alat

N Nama Alat Ukura Jumlah Keterangan


o n
1 Batang pengaduk - 2 buah Mengaduk suatu campuran
2 Cawan porselen - 1 buah Tempat untuk menguapkan
suatu cairan
3 Corong - 1 buah Alas kertas saring dalam
proses penyaringan
4 Corong buchner - 1 buah
5 Desikator - 1 buah Untuk tempat
mengeringkan suatu
campuran agar pelarutnya
menjadi
berkurang
6 Gelas kimia 100 ; 1 buah Tempat suatu larutan atau
250 cairan
mL
7 Gelas ukur 25, 50, 1 buah Mengukur volume suatu
100 mL cairan
8 Labu erlenmeyer 25, 50, 1 buah wadah dari bahan kimia cair
100 mL

9 Kaca arloji - 3 buah Meletakkan zat padatan


1 Kertas indikator pH - Secukupny Mengecek pH
0 a
1 Kertas lakmus - Secukupny Mengecek pH
1 a
1 Kertas saring - Secukupny untuk memisahkan
2 a partikel suspensi dari
cairan, untuk
memisahkan antara zat
terlarut dari zat padat,
untuk mengeringkan
padatan di desikator, dll.
1 Magnetik stirret - 1 buah untuk mengaduk,
3 memanaskan dan
menghomogenkan
suatu
larutan secara
mekanik dan
magnetik
1 Neraca analitik - 1 buah Menimbang zat
4
1 Pencepit tabung - 1 buah Untukmenjepit tabung
5 reaksi disaat proses
pemanasan
1 Pipet tetes - 3 buah Untuk mengambil cairan
6 dan meneteskan caiaran
ke dalam suatu wadah
1 Penghisap pipet - 1 buah digunakan untuk
7 memindahkan
sejumlah volume
larutan
1 Spatula - 2 buah Mengambil zat padat
8
1 Termometer 0-100oC 1 buah Utuk mengukur suhu
9
2 Pipet gondok 5 mL 1 buah untuk mengambil larutan
0 dengan volume tertentu
sesuai dengan ukuran
pipet gondok.
2 Pembkar bunsen - 1 buah Untuk pemanasan
1
Bahan
N Nama Alat Konsentra Jumlah Keterangan
o si
1 Aquades - Secukupny Berupa cairan transparan
a digunakan sebagai
pelarut
2 CuSO4.5H2O - Secukupny Berupa padatan
a berwarna biru digunakan
sebagai bahan dasar awal
pembuatan
[Cu(NH3)4]SO4
3 Etanol - 30 mL Berwujud cairan
digunakan sebagai
media non polar
4 H2O2 - Secukupny Berwujud cairan sangat
a berbahaya karena
bersifat oksidator dan
digunakan dalam proses
daur ulang

tembaga vitriol
5 HCl Secukupny Wujud cairan beruap,
a berbau menyengat,
digunakan dalam
preparasi tembaga
6 HNO3 30% Secukupny Cairan korosif yang tak
a berwarna, dan
merupakan asam beracun
yang dapat menyebabkan
luka bakar.
7 H2SO4 50% Secukupny Cairan bersifat oksidator
dan a dan korosif terhadap
pekat logam
8 I2 - Secukupny Berwujud padat,
a berwarna dan dapat
menyublim menjadi uap
berwarna ungu
9 K2C2O4.H2O - 8 gram Wujud padatan,
berbentuk kristal,
berbau tajam,
digunakan dalam
preparasi senyawa
kompleks tembaga
oksalat
1 KI - Secukupny Berwujud serbuk putih
0 a
1 Na2CO3.H2O - Secukupny Mudah larut dalam air,
1 a bersifat basa dan
berwujud serbuk putih
1 NaOH 30% Secukupny Berwujud cairan bening,
2 a bersifat basa dan korosif
1 Na2SO3(aq) 0,1 M 8,3 mL Wujud padatan berfungsi
3 menghasilkan gas CO2
1 NH3 Pekat 20 mL Larutan amoniak beruap,
4 karena wujud
NH3berupa gas bersifat
iritatif
1 Serbuk besi - Secukupny Serbuk berwarna
5 a kecoklatan digunakan
dalam preparasi logam
tembaga
6.4 PROSEDUR KERJA

Bahaya
Reaktan
Reaksi kimia, perhitungan dan
N Prosedur Kerja dan Pengamatan
bahaya reaktanproduk
o. Produk

6.4.1 Preparasi [Cu(NH3)4]SO4 . H2O

1. Dilarutkan 5 gram CuSO4.5H2O CuSO4.5H2O + H2O → [Cu(H2O)6] 2+ + SO42- Saat dilarutkan, padatan
dalam 10 ml aquades yang telah tidak semua melarut dan
dipanaskan terlebih dahulu dan [Cu(H2O)6] 2+ + 2NH3 + SO4 2- Cu(OH)2.CuSO4↓ + saat dipanaskan semua
panaskan sampai semua tembaga 2NH4 + + 10H2O melarut dan larutan
(II) sulfat pentahidrat melarut. berwarna biru muda.
Cu(OH)2.CuSO4↓ + 8 NH3 + H2O → 2[Cu(NH3)4] 2+
+ SO4 2- + 2OH-

Adapun reaksi secara keseluruhan adalah :


2[Cu(H2O)6]
2+
+ 10NH3 2[Cu(NH3)4(H2O)]2+ + NH4 + + 2OH- +
2. Ditambahkan 20 ml larutan amonia NH3 : 9H2O Terbentuknya endapan saat
pekat (akan terbentuk endapan bersifat penambahan amoniak dan
antara dari Cu(OH)2 tapi akan iritatif Perhitungan massa [Cu(NH3)4]SO4 . H2O secara larutan berwarna biru tua
terlarut kembali) dan aduk sampai dan teoritis: Massa CuSO4.5H2O = 5,0027 g (Mr = 249,68
larutan menjadi jernih berwarna berbau g/mol) Mol CuSO4.5H2O = 5,0027 gram / 249,68 =
biru tua. menyen 0,02 mol
gat
Volume NH3 = 20 mL (Mr = 17 g/mol)
massa jenis NH3 = 0,91 g/mL
mol NH3 = (20 x 0,91) / 17 = 1,070 mol
Adapun massa [Cu(NH3)4]SO4. H2O secara teoritis =
4,91 gram yang diperoleh lewat perhitungan dibawah
ini.
3. Sambil diaduk perlahan, tuangkan Tidak membentuk kristal
larutan jernih biru tua tersebut ke CuSO4.5H2O + 4 NH3 → [Cu(NH3)4]SO4.H2O + saat penambahan 30 mL
dalam 30 ml etanol. Diamkan 4H2O etanol, namun setelah
selama 15 menit sampai kristal didiamkan dan
m: 0,02 mol 1,07 mol - -
terbentuk didinginkan, maka
b : 0,02 mol 0,08 mol 0,02 mol 0,08 terbentuk kristal biru dan
mol filtrat berwarna biru muda.
s : - 0,99 mol 0,02 mol 0,08
mol Sehingga massa [Cu(NH3)4]SO4. H2O = mol x Mr
= 0,02 x 245,5 = 4,91 gram

4. Endapan kristal biru tersebut Diperoleh kristal berwarna


disaring dengan corong buchner. biru sebanyak 4,7581 g dan
Cuci filtrat berwarna biru keruh
kristal tiga kali, masingmasing
dengan 5 ml etanol.
Hembuskan udara selama 10
menit agar kristal benar-benar
kering.

5. Sisa reaksi diuapkan dalam vakum Filtrat berubah menjadi


atau pemanas sampai volumenya tidak berwarna
tinggal beberapa ml saja, kemudian
diteteskan asam sulfat pekat sampai
warna biru tua hilang. Larutan ini
selanjutnya disimpan untuk
pengolahan pada sub 6.4.4.
6.4.2 Preparasi K2[Cu(C2O4)2]SO4 .2H2O

1. Sebanyak 16 gram K2C2O4.H2O ● Cu(NH3)4(H2O)]SO4 + 2K2CO4.H2O [Cu(NH3)4]SO4∙H2O


dilarutkan dalam aquades yang ↔ dilarutkan dalam aquades
dihangatkan suam-suam kuku, K2[Cu(C2O4)2].2H2O + K2SO4 + NH3 menyebabkan terbentuknya
kemudian dituangkan ke dalam ● [Cu(NH3)4(H2O)]2+ + 3H2O + 2H2SO4 → larutan berwarna biru tua
larutan yang terbuat dari 5 gram sedangkan larutan K2C2O4
[Cu(H2O)4] 2+ + 2(NH4)2SO4 merupakan larutan tak
[Cu(NH3)4]SO4 . H2O dalam 12 ml
aquades. Diteteskan larutan asam berwarna
sulfat pekat sampai warna larutan
yang biru tua beralih menjadi biru
turki. (pH berkisar antara 4-6)

2. Campuran tersebut diletakkan Terbentuknya kristal biru


dalam penangas es paling sedikit turki.
selama 1
jam atau di kulkas selama semalam.
3. Kristal biru turki yang terbentuk di Diperoleh kristal biru turki
dekantasi, kemudian dicuci sebanyak 6,0137 g
beberapa kali dengan air es.

4. Kristal dikeringkan dalam


desikator yang berisi gel biru.
Morfologi kristal yang terbentuk
diamati. Sisa reaksi disimpan
untuk digunakan pada sub 6.4.4.

6.4.3 Pirolisis K2[Cu(C2O4)2]SO4.H2O


1 Seluruh produk isolasi hasil Preparat yang berwarna
preparasi sebelumnya diletakkan K2[Cu(C2O4)2].H2O 🡪 2H2O(g) + K2CO3 + CuO coklat kehitaman sebanyak
dalam cawan porselin dan + CO2(g) + 2CO(g) 2,1358 g Hasil pirolisis
panaskan di atas pembakar berwarna coklat kehitaman
bunsen. Pelelehan akan berawal
dari tepi cawan menuju ke
tengah.
2 Jika semua preparat meleleh,
jauhkan pembakar bunsen.
Kemudian dibiarkan dingin pada
suhu kamar.

3 Perubahan yang terjadi diamati


dan hasil pirolisis ditimbang.
6.4.4 Perolehan Logam Tembaga Lewat Sementasi
1 Seluruh hasil pirolisis Pada tahap pirolisis yang
K2CO3(s) +CO2(g)+ 4HCl(aq) 🡪 CuCl2(aq) +
dicampurkan dengan 20 mL asam berwarna coklat kehitaman
klorida setengah pekat ke dalam 2KCl(aq) Cu2+ + Fe 🡪 Cu+ Fe2+ berubah menjadi larutan
gelas beaker dengan hati-hati. (aq) (s) (s) (aq)
hijau dan muncul gelembung
gas ketika penambahan
larutan
HCl setengah pekat
2 Campuran tersebut dipanaskan Warna larutan yang
sebentar sehingga menghasilkan dihasilkan semakin hijau
larutan berwarna hijau tua. tua
Larutan hijau tua ini dibagi dua
dengan volume yang sama.
3 Larutan ini disatukan dengan sisa Perubahan warna campuran
reaksi pada sub 1 dan 2 menjadi larutan biru muda
(menghasilkan pH campuran dengan pH = 2
berkisar antara 1 -3)

4 Dalam waktu 30 menit, Terbentuknya endapan


dimasukkan 2,25 g serbuk besi merah kecoklatan
halus sedikit demi sedikit sambil
diaduk (digunakan spatula kaca).

5 Ditambahkan tetes demi tetes Menghasilkan endapan


asam klorida pekat untuk tembaga yang terbentuk
mempertahankan pH 1-3 menjadi sedikit bertambah
(gunakan pH meter untuk
mengukur pH larutan), kemudian
dipanaskan sebentar
6 Campuran didekantasi untuk Terbentuk endapan,dan
memisahkan endapan tembaga penambahan HCl pekat
yang berwarna merah coklat tetap berwarna merah
yang terbentuk. Endapan tersebut kecoklatan dan larutan
dipanaskan sekali lagi dengan berwarna hijau muda
sedikit asam klorida pekat (besi
harus semuanya ada dalam
larutan). Dekantasi sekali lagi
dan satukan
filtrat yang ada.
7 Ditambahkan lagi 0,25 g serbuk Terbentuk endapan tembaga.
besi ke dalam filtrat yang telah
disatukan tersebut. Jika masih
ada tembaga tersementasi,
lakukan dekantasi dan ulangi
cara kerja 6 sampai semua
tembaga tersementasi (tak ada
endapan lagi).
8 Endapan tembaga hasil sementasi Untuk Massa endapan
dikumpulkan dan dikeringkan tembaga yang diperoleh
dalam lemari pengering pada dari percobaan ini
suhu 100oC. Setelah kering, sebanyak 8,5431 g
ditimbang.
9 Filtrat sisa yang mengandung ion
besi disimpan untuk digunakan
pada percobaan preparasi
Fe(acac)3 pada topik kimia besi.
VI. ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Preparasi [Cu(NH3)4]SO4. H2O
Pada percobaan ini, dilakukan percobaan kimia tembaga dengan teknik bersiklus. Pada
tahap pertama, akan dilakukan preparasi yakni senyawa kompleks [Cu(NH 3)4]SO4 . H2O.
Prinsip dasar pembuatan senyawa kompleks ini adalah pendesakan atau penggantian ligan
H2O oleh ligan NH3. Oleh karena itu, terlebih dahulu dibuatkan larutan senyawa kompleks
[Cu(H2O)6]SO4 dengan prosespemanasan. Persamaan reaksi terbentuknya senyawa kompleks
[Cu(H2O)6]SO4 adalah sebagai berikut.
CuSO4.5H2O + H2O → [Cu(H2O)6]2+ + SO42-

Setelah terbentuk senyawa kompleks ini yang ditandai dengan larutnya tembaga vitriol
dan larutan berwarna biru, maka penambahan amonia pekat akan menyebabkan terbentuknya
endapan namun akan larut kembali. Endapan tersebut merupakan Cu(OH) 2. Dengan
menggunakan media non polar yakni etanol, maka campuran amonia dengan larutan tembaga
vitriol akan menghasilkan senyawa kompleks [Cu(NH3)4]SO4 .H2O. persamaan reaksi yang terjadi
adalah sebagai berikut.
[Cu(H2O)6]2+ + 2NH3 + SO42- Cu(OH)2.CuSO4↓ + 2NH4+ + 10H2O
Cu(OH)2.CuSO4↓ + 8 NH3 + H2O → 2[Cu(NH3)4]2+ + SO42- + 2OH-
Penambahan ammonia seterusnya akan menggeser kesetimbangan sehingga terbentuk
kompleks [Cu(NH3)4]SO4 dengan reaksi berikut :
CuSO4 (aq) + 4NH3 (aq) → [Cu(NH3)4]SO4 (aq)
Setelah pengadukan dihentikan terbentuk larutan berwarna biru tua jernih. Pada saat
menambahkan ammonia pekat tetap dilakukan dalam keadaan panas, agar terjadi pelarutan
yang sempurna (tidak ada endapan). Larutan kompleks yang telah diperoleh kemudian
dituangkan ke dalam labu Erlenmeyer yang berisi 30 mL etanol. Salah satu sifat dari
[Cu(NH3)4]SO4 adalah tidak dapat larut dalam pelarut nonpolar seperti etanol. Sehingga, pada
saat kompleks [Cu(NH3)4]SO4 dituangkan ke dalam etanol akan terbentuk endapan yang
berwarna biru pekat dan terdapat larutan yang juga berwarna biru. Endapan yang terbentuk
merupakan endapan kompleks tetraamin tembaga (II) sulfat, [Cu(NH 3)4]SO4(s). Campuran
antara endapan [Cu(NH3)4]SO4 dengan larutannya kemudian didiamkan selama 15 menit. Hal
ini, bertujuan agar kristalisasi berjalan sempurna (endapan yang terbentuk maksimal).
Endapan yang diperoleh kemudian dipisahkan dengan cara penyaringan dan hasil
penyaringan (filtrat) dicampur dengan etanol hasil cucian. Kemudian diuapkan hingga
volumenya tinggal beberapa mL. Hal ini bertujuan agar etanol yang terkandung didalamnya
menguap semua. Filtrat yang awalnya berwarna biru muda jernih setelah dipanaskan berubah
menjadi biru muda keruh (menandakan etanol telah teruapkan). Selanjutnya, larutan biru
muda keruh tersebut ditambahkan asam sulfat pekat sebanyak 5 tetes, sehingga larutan
berubah menjadi larutan tak berwarna, karena sisa basa yang masih terdapat dalam filtrat
kompleks Cu tersebut telah dinetralkan oleh asam sulfat.
Endapan kristal yang diperoleh berwarna biru tua dan selanjutnya dikeringkan dalam
oven. Berat kristal yang diperoleh adalah 2,3019 gram. Kemudian dari percobaan ini
diperoleh randemen kristal [Cu(NH3)4]SO4 dengan perhitungan sebagai berikut :
Massa CuSO4.5H2O = 5,0027 gram (Mr = 249,68
g/mol) Mol CuSO4.5H2O 5,0027 gram / 249,68 = 0,02
mol

Volume NH3 = 20 mL (Mr = 17 g/mol)

massa jenis NH3 = 0,91 g/mL


mol NH3 = (20 x 0,91) / 17 = 1,070 mol
Adapun massa [Cu(NH3)4]SO4. H2O secara teoritis = 4,91 gram yang diperoleh lewat
perhitungan dibawah ini.

CuSO4.5H2O + 4 NH3 → [Cu(NH3)4]SO4. H2O + 4 H2O

m: 0,02 mol 1,07 mol - -


b : 0,02 mol 0,08 mol 0,02 mol 0,08
mol
s: - 0,99 mol 0,02 mol 0,08
mol
Sehingga massa [Cu(NH3)4]SO4. H2O = mol x Mr
= 0,02 mol x 245,5 g/mol
= 4,91 gram
Kemudian, dalam percobaan diperoleh 4,7581 gram [Cu(NH3)4]SO4. H2O. Sehingga persentase
yield adalah
% yield = massa hasil pecobaan
Massa teoritis
= 4,7581gram x100%
4,91 gram
= 96,9 %
x100%
Preparasi K2[Cu(C2O4)2]SO4 . 2 H2O
Pada percobaan preparasi K2[Cu(C2O4)2]SO4 . 2H2O digunakan seluruh massa
[Cu(NH3)4]SO4. H2O digunakan yakni 4,7581 g. 16 gram serbuk K 2C2O4 yang berwarna putih
dilarutkan dalam 100 mL aquades hangat terbentuk larutan berwarna putih keruh. Padatan
[Cu(NH3)4]SO4. H2O sebanyak 7,581 g juga dilarutkan dalam 12 mL aquades dan terbentuk
larutan yang berwarna biru tua. Larutan K2C2O4 kemudian dicampurkan ke dalam larutan
[Cu(NH3)4]SO4 sehingga menghasilkan campuran berwarna biru. Penambahan asam sulfat
pada campuran ini menyebabkan warna larutan biru menjadi warna biru turki dan pH
campuran menjadi 5. Persamaan reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut.
[Cu(NH3)4]SO4. H2O + 2 K2C2O4.H2O → K2[Cu(C2O4)2].2 H2O + K2SO4 + NH3
Campuran didiamkan dalam penangas agar membentuk kristal K 2[Cu(C2O4)2].2 H2O
yang berwarna biru turki. Filtrat hasil dekantasi kristal juga berwarna biru yang merupakan
sisa yang masih mengandung kompleks K2[Cu(C2O4)2]SO4 . 2H2O . Berdasarkan hasil
percobaan yang dilakukan, dengan menggunakan 4,7581 g padatan [Cu(NH 3)4]SO4. H2O
menghasilkan kristal K2[Cu(C2O4)2] . 2H2O sebanyak 6,0137 g.

Pirolisis K2[Cu(C2O4)2]SO4 . 2 H2O


Kristal K2[Cu(C2O4)2]SO4.H2O yang diperoleh pada tahapan sebelumnya dilakukan
pirolisis dengan melakukan pemanasan dengan terjadinya perubahan warna biru menjadi coklat
kehitaman. Ha ini terjadi karena kristal K2[Cu(C2O4)2]SO4 .2H2O mengalami pemecahan
struktur kimia menjadi fase gas. Warna hitam yang terbentuk merupakan warna dari CuO.
Hasil pirolisis yang diperoleh adalah berupa padatan berwarna coklat kehitaman dimana
diperoleh sebanyak 2,1358 g.

Perolehan Tembaga Lewat Sementasi


Kristal hasil pirolisis yang diperoleh dengan massa sebanyak 2,1358 gram ditambahkan
HCl setengah pekat (6M) untuk mereaksikan hasil pirolisis menjadi CuCl 2 dan KCl dan
menghasilkan larutan yang berwarna hijau muda. Selain itu, pada saat penambahan HCl
setengah pekat juga timbul gelembung – gelembung gas yaitu gas CO 2. Adapun reaksinya,
adalah sebagai berikut :
CuO(s) + K2CO3 (s) + 4 HCl (aq) → CuCl2(s) + 2 KCl + CO2(g) + 2H2O (g)
Selanjutnya dilakukan proses pemanasan untuk mempercepat terjadinya reaksi dan
menghilangkan kadar air yang ada di dalam larutan dan menghasilkan warna hijau .
Proses selanjutnya adalah mencampurkan larutan ini dengan filtrat I dan filtrat II.
Filtrat I merupakan filtrat sisa preparasai [Cu(NH 3)4]SO4. H2O yang tak berwarna dan
filtrat II merupakan filtrat sisa dekantasi pada preparasi K 2[Cu(C2O4)2] . 2H2O yang
berwarna biru. Kemudian ditambahkan serbuk besi sebanyak 2,2534 gram sedikit demi
sedikit sambil diaduk menggunakan spatula kaca dengan tujuan agar serbuk besi dapat
terlarut sempurna dalam larutan dan terbentuk larutan yang berwarna hijau kekuningan dan
pada dasar gelas kimia terbentuk endapan merah bata. Reaksi yang terjadi saat
penambahan Fe pada tembaga adalah sebagai berikut :
CuCl2(aq) + Fe (s) → Cu(s) + Fe2+(aq)

Selanjutnya memanaskan campuran dengan tujuan untuk menyempurnakan


pembentukan endapan dan terbentuk kristal seperti jarum. Penambahan beberapa tetes HCl
dilakukan untuk mempertahankan pH larutan yakni 1-3. Endapan yang terbentuk kemudian
didekantasi dan diperoleh endapan yang berwarna merah bata dan larutan yang berwarna
hijau muda. Endapan merah bata ditetesi sedikit HCl dan dipanaskan yang bertujuan untuk
melarutkan besi dengan menghasilkan garam-garam besi (II) dan gas hidrogen sehingga
nantinya diperoleh tembaga yang lebih murni dan ternyata terbentuk FeCl 2 yang berwarna
hijaukekuningan. Semua filtrat yang diperoleh disatukan dan kembali ditambahkan 0,25
gram serbuk besi dan kembali ditambahkan sedikit HCl sampai tidak terbentuk tembaga
lagi kemudian didekantasi. Dan hasil sementasi disaring untuk memisahkan tembaga
dengan filtratnya kemudian dikeringkan dan ditimbang. Tembaga hasil penyaringan
diperoleh berupa padatan berwarna merah kecoklatan, dan filtrat berwarna hijau muda.

Berdasarkan percobaan yang dilakukan, tembaga yang diperoleh secara sementasi


adalah 8,5431 g. Secara teoritis endapan tembaga yang diperoleh dapat dihitung sebagai
berikut. Perhitungan yield dilakukan dengan menggunakan massa dari [Cu(NH 3)SO4.H2O.
Karena, dalam percobaan yang dilakukan pada pirolisis tidak dilakukan penimbangan
terhadap produk yang diperoleh. Selain itu pada pirolisis di peroleh endapan yang
mengandung dua produk yaitu CuO(s) dan K2CO3(s).
Massa [Cu(NH3)SO4.H2O = 4,7581 gram ;
Mr = 245,5 g/mol
Mol [Cu(NH3)SO4.H2O = 4,7581/245,5 = 0,0194 mol
Karena sesuai dengan reaksi berikut :
[Cu(NH3)4]SO4. H2O + 2 K2C2O4.H2O → K2[Cu(C2O4)2].2 H2O + K2SO4 + NH3
Mol [Cu(NH3)SO4.H2O = mol Cu

Sehingga massa Cu secara teoritis = mol Cu x Mr Cu


= 0,0194 mol x 63,5 g/mol
= 1,2319 gram

VII. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dan uraian pembahasan yang telah
dijabarkan, dapat diberikan beberapa simpulan sebagai berikut.
1. Senyawa kompleks [Cu(NH3)4].SO4 dibuat dengan cara mereaksikan CuSO4.5H2O
dengan NH3 pekat sesuai dengan reaksi berikut:
CuSO4.5H2O + NH3 [Cu(NH3)4].SO4 + 5 H2O
2. Kompleks K2[Cu(C2O4)2].2 H2O dapat dibuat dari [Cu(NH3)4].SO4 dengan K2C2O4
sesuai reaksi:
[Cu(NH3)4].SO4 .H2O(aq) + K2C2O4(aq) K2[Cu(C2O4)2].2 H2O
Biru tidak berwarna biru tua
3. Pirolisis K2[Cu(C2O4)2].2 H2O menghasilkan CuO dan K2CO3 serta H2O. Tembaga
dapat diperoleh dari proses sementasi dengan mereaksikan hasil pirolisis dengan
HCl6 M sesuai reaksi:
CuO (s) + K2CO3 (s) + 4 HCl (aq) CuCl2(s) + 2 KCl(aq) + CO2(g) + 2 H2O (g)

VIII. DAFTAR PUSTAKA


Karyasa, I Wayan. 2011. Buku Ajar Praktikum Kimia Anorganik Berwawasan Lingkungan.
Singaraja: Undiksha Press

Anda mungkin juga menyukai