Wawancara dengan Bapak Hermanto selaku Juru Kunci Makam Nyi Ageng Karang
Mahasiswa: Bagaimana sejarah Nyi Ageng Karang?
Juru Kunci: Nyi Ageng Karang merupakan salah satu istri dari Pangeran Diponegoro
sekaligus pendiri dari Kabupaten Karanganyar dengan nama kecil Raden Ayu
Sulbiyah. Pada waktu itu Karanganyar menjadi sebuah dukuh kecil yang
termasuk dalam wilayah Kasunanan Surakarta, pada saat itu pimpinan
Swapraja Kasunanan Surakarta adalah Sri Pakubuwono II. Nyi Ageng pernah
bertemu dengan Raden Mas Said atau Pangeran Samber Nyawa. R.M. Said
mendatangi gubug R.A. Sulbiyah yang waktu itu menyamar dan mengganti
nama menjadi Nyai Dipa untuk meminta burung derkuku yang dimiliki R.A.
Sulbiyah, burung derkuku tersebut dicari oleh R.M. Said dikarenakan siapa
yang memakan burung derkuku tersebut suatu saat akan menjadi orang besar.
RM. Said ketika sampai di gubug yang didiami oleh R.A. Sulbiyah, beliau
diterima dengan baik dan bahkan R.A. Sulbiyah sudah menunggu kedatangan
R.M. Said seperti petunjuk yang didapatkannya, bahwa suatu saat akan
kedatangan seseorang bernama R.M. Said yang bertamu untuk meminta
burung derkuku yang dimilikinya. R.M. Said di kediaman R.A. Sulbiyah di
jamu dengan minuman legen, jenang lemu dan burung derkuku yang dicari
R.M. Said yang saat itu juga dimasakkan oleh R.A. Sulbiyah, yang dimana di
ketiga suguhan tersebut memiliki filosofi tersendiri untuk R.M. Said. Filosofi
dari makanan tersebut antara lain adalah bagaimana cara mengalahkan para
kolonial Belanda. Selesai memakan jamuan yang diberikan R.A. Sulbiyah,
R.M. Said memberikan nama kepada Nyai Dipa dengan nama Nyai Ageng
Karang dan R.M. Said juga menuturkan bahwa tempat pertemuan anatara R.A.
Sulbiyah dan R.M. Said akan dinamakan sebagai Karanganyar yang akan
dikenal sampai zaman ke zaman. R.M. Said memberikan nama daerah tersebut
dengan nama Karanganyar dikarenakan merasa mendapat pencerahan baru.
Nyai Ageng Karang meninggal dan kemudian dimakamkan di Masjid yang
sekarang disebut Masjid Al Mukaromah Karanganyar, namun karna perluasan
wilayah masjid makam Nyai Ageng karang dipindahkan 200 meter dari
pemakaman yang sebelumnya, yaitu di Ngloji Rt 30/01 Karanganyar,
Karanganyar. Pemakaman Nyai Ageng karang tersebut sudah diadakan suatu
rutinan bacaan doa yang dilakukan setiap jumat pahing pembacaan yasin dan
tahlil dan di Jumat kliwon pembacaan ratib yang dilakukan setelah sholat isya
dan dikuti semua masayarakat
Mahasiswa: Berarti Nyi Ageng Karang memiliki peranan besar untuk memotivasi dan
mengajarkan taktik perang kepada R.M. Said?
Juru Kunci: Iya benar mas, melalui makna simbolik dari apa yang diajarkan Nyi Ageng
Karang dengan menghidangkan bubur bekatul yang masih panas, kemudian
memerintahkan R.M. Said untuk langsung memakannya, pada awalnya. R.M.
Said merasa kepanasan setelah memakan sesuap sendok, dikarenakan beliau
belum tahu bagaimana cara makan bubur sehingga ditunjukan oleh Nyi Ageng
Karang cara memakan yang dimulai dari bagian pinggir menuju ke bagian
tengah hingga habis. Maksudnya ketika menghadapi musuh terutama Belanda
perlawanan dimulai dari pinggir secara geriliya kemudian dilanjutkan ke
bagian pusat kekuatan.
Mahasiswa: Kenapa Nyi Ageng Karang bisa sampai di daerah yang kemudian diberi
nama Karanganyar?
Juru Kunci: Nyai Ageng Karang bisa sampai ke daerah selatan Solo yang sekarang bisa
disebut sebagai daerah Karanganyar dikarenakan, pada waktu itu di madiun
sedang terjadi peperangan antara Pangeran Diponegoro dengan para penjajah
Belanda yang sudah sewenang-wenang terhadap masyaratkat sekitar.
Peperangan ini merupakan awal mula R.A. Sulbiyah pergi dari Madiun untuk
mengamankan diri dari Belanda dan saat itu R.A. Sulbiyah menjadi buronan
yang dicari-cari oleh belanda. Setibanya di daerah utara Solo, R.A. Sulbiyah
membangun suatu gubug di tegalan untuk padepokan dan mengganti nama
menjadi Nyai Dipa agar tidak diketauhi oleh Belanda.