0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan15 halaman

Hukum Adat Pernikahan di Indonesia

Diunggah oleh

DEDI WAHYUDI
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan15 halaman

Hukum Adat Pernikahan di Indonesia

Diunggah oleh

DEDI WAHYUDI
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERNIKAHAN DALAM HUKUM ADAT

DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL DI INDONESIA

Fanny Adzkia

ABSTRAK

Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan budaya dan tradisi, termasuk
dalam ritual pernikahan atau perkawinan. Perkawinan adalah perilaku makluk ciptaan
Tuhan Yang Maha Esa agar kehidupan di alam semesta berkembang biak.
Pernikahan terjadi dikalangan seluruh makhuk hidup termasuk hewan dan tumbuhan.
Pada umumnya menurut hukum adat di Indonesia perkawinan itu bukan saja sebagai
perikatan perdata, melainkan juga perikatan adat, sekaligus perikatan kekerabatan dan
ketetanggaan. Pandangan masyarakat tentang keabsahan pernikahan adalah
melaksanakan prosesi akad sesuai agama masing-masing sedangkan upacara adat
sebagai penunjang acara resepsi pernikahan yang bertujuan untuk mewariskan dan
mengenalkan kepada generasi muda mendatang tentang kebudayaan warisan
pendahulu. Perkawinan secara adat saja jelas bertentangan dengan UU No 16 Tahun
2019. Keabsahan perkawinan yang diatur dalam UU No.16 tahun 2019 yaitu dalam
Pasal 2 ayat (1) menyatakan bahwa ‘‘perkawinan adalah sah apabila dilakukan
menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu’. Selanjutnya
dalam Pasal 2 ayat (2) dinyatakan bahwa ‘tiap-tiap perkawinan harus dicatatkan
menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku’. Perkawinan adat ini tidak
memiliki akta perkawinannya. Akibatnya perkawinan ini tidak memiliki bukti
sebagai perkawinan sah secara undang-undang.
Kata Kunci : Pernikahan, Hukum Adat, Pengaruh

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan budaya dan tradisi,
termasuk dalam ritual pernikahan atau perkawinan. Perkawinan merupakan momen
spesial yang sangat dinantikan oleh pasangan. Apalagi jika acara berlangsung dengan
lancar dan sejalan dengan konsep perkawinan yang diimpikan.

Perkawinan adalah perilaku makluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa agar
kehidupan di alam semesta berkembang biak1 Pernikahan terjadi dikalangan seluruh
makhuk hidup termasuk hewan dan tumbuhan. Oleh karena manusia sebagai salah satu
makhluk hidup yang berakal, maka perkawinan merupakan salah satu bentuk budaya

1
Hukum Perkawinan Indonesia menurut Perundangan, Hukum Adat dan Hukum Agama,
Bandung: Mandar Maju. 2007.

1
yang beraturan yang mengikuti perkembangan budaya manusia dalam kehidupan
masyarakat dengan tujuan memperoleh keturunan.

Pada umumnya menurut hukum adat di Indonesia perkawinan bukan saja


sebagai perikatan perdata, melainkan juga perikatan adat, sekaligus perikatan
kekerabatan dan ketetanggaan. Pada masyarakat sederhana budaya perkawinan bersifat
sederhana dan tertutup, sedangkan pada masyarakat maju (modern) budaya perkawinan
bersifat maju, luas dan terbuka. Peraturan tata tertib perkawinan sudah ada sejak kaum
terdahulu dan dilestarikan oleh para pemuka tokoh masyarakat adat, pemuka agama
hingga anggota masyarakat.

Bagi sebagian masyarakat Indonesia, perkawinan adalah sebuah pranata yang


tidak hanya mengikat seorang laki-laki dan seorang perempuan, namun juga mengikat
sebuah keluarga besar yakni pihak keluarga laki-laki dan seorang perempuan. Hal
inilah yang mengakibatkan bahwa suatu perkawinan merupakan suatu hal yang sangat
penting bagi kehidupan masyarakat. Perkembangan peradaban dan kemajuan ilmu
pengetahuan tekonologi serta modernitas tidak begitu saja menghilangkan adat budaya
dalam kehidupan masyarakat. Proses tersebut mempengaruhi adat kebiasaan, sehingga
adat budaya harus dapat menyesuaikan dengan tuntutan perkembangan zaman agar adat
budaya itu tetap eksis di tengah kemajuan zaman.

Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Muhammad Nur sebagai kepala


KUA desa Pekalongan pandangan masyarakat tentang keabsahan pernikahan adalah
melaksanakan prosesi akad sesuai agama masing-masing sedangkan upacara adat
sebagai penunjang acara resepsi pernikahan yang bertujuan untuk mewariskan dan
mengenalkan kepada generasi muda mendatang tentang kebudayaan warisan
pendahulu.2

Tujuan upacara adat tersebut agar perkawinan akan selamat sejahtera serta
mendatangkan kebahagiaan dikemudian hari. Selain itu, juga bertujuan untuk
menghormati sang pencipta Tuhan maha Esa dan para leluhurnya dan sebagai wujud
dalam melestarikan budaya dari generasi ke generasi lain. Hukum adat perkawinan itu
bukan hanya merupakan peristiwa penting bagi mereka yang masih hidup saja, tetapi

2
Wawancara dengan Bapak Muhammad Nur, Kepala Kantor Urusan Agama, di Pekalongan
(Kamis, 30 Mei 2024)

2
perkawinan juga merupakan peristiwa yang sangat berarti serta sepenuhnya mendapat
perhatian dan diikuti oleh arwah- arwah para leluhur kedua belah pihak.

Memahami tentang hukum adat merupakan suatu kewajiban yang harus


dilakukan jika ingin dilestarikan. Bagi sebagian masyarakat Indonesia hukum adat
merupakan budaya yang patut dilestarikan. Salah satu unsur kebudayaan tradisional
adalah perkawinan.

Sebagai bangsa yang pluralistis, Indonesia mempunyai beberapa budaya lokal


yang menjadi ciri khas masyarakat yang tinggal di Nusantara. Budaya dan aturan
perkawinan suku bangsa di Indonesia bukan saja dipengaruhi oleh adat budaya, namun
juga dipengaruhi oleh ajaran agama, seperti Hindu, Budha, Kristen, Islam dan bahkan
dipengaruhi oleh perkawinan Barat. Oleh karena itu banyak budaya dan aturan yang
mempengaruhi pernikahan sehingga banyak pula aturan pernikahan di masyarakat.

Defenisi perkawinan menurut pendapat para sarjana lebih luas dibandingkan


dengan definisi perkawinan dalam Undang-Undang No.1 Tahun 1974 yang telah
dirubah dengan Undang-Undang No.16 Tahun 2019 Tentang Perkawinan, dimana
dalam Pasal 2 ayat (1) dikatakan, perkawinan sah apabila dilakukan menurut hukum
masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu. Hal itu berarti bahwa suatu
perkawinan telah memenuhi syarat dan rukun nikah atau ijab kabul telah
dilaksanakan (bagi muslim) dan pendeta/pastor telah melaksanakan pemberkatan
nikah bagi no muslim.3

Perkawinan secara adat saja jelas bertentangan dengan UU No 16 Tahun


2019. Dalam Pasal 2 ayat (2) dinyatakan bahwa “tiap-tiap perkawinan harus dicatatkan
menurut peraturan per undang-undangan yang berlaku”. Perkawinan adat ini tidak
memiliki akta perkawinannya. Akibatnya perkawinan ini tidak memiliki bukti sebagai
perkawinan sah secara undang-undang. Untuk itu penulis hendak membahas sejauh
manakah hukum perkawinan adat mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat
Indonesia.

PEMBAHASAN
3
Syahuri T, Legislasi hukum perkawinan di Indonesia: Pro-kontra pembentukannya hingga
putusan Mahkamah Konstitusi, Kencana Prenada Media Group. 2013.

3
1. Pelaksanaan Pernikahan Dalam Hukum Adat
Pernikahan merupakan suatu hal yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan
manusia. Dimana seorang laki-laki dan perempuan hidup bersama sehingga tercipta
kesatuan rumah tangga sebagai suami istri. Kehidupan bersama yang disebut
perkawinan, mempunyai akibat hukum tertentu jika hubungan itu sah menurut hukum.
Setelah menyelesaikan prosedur wajib. Menurut hukum adat Indonesia, perkawinan
tidak hanya berdampak pada hubungan keperdataan seperti hak dan kewajiban suami
istri, harta bersama, status anak serta hak dan kewajiban orang tua, tetapi juga meliputi
adat istiadat, kekerabatan serta menyangkut berbagai upacara adat dan keagamaan yang
sejalan dengan pendapat Ter Haar. Dalam masyarakat pernikahan bukan hanya sekedar
akad perdata tetapi juga merupakan suatu kesatuan adat dan sekaligus merupakan
kekeluargaan dan ketetanggan.
Dalam masyarakat Indonesia, pernikahan sebenarnya adalah perikatan keluarga
dengan keluarga. Pernikahan yang ideal adalah bentuk pernikahan yang terjadi dan
diinginkan oleh masyarakat. Suatu pernikahan yang terjadi berdasarkan suatu
pertimbangan tertentu dan tidak menyimpang dari ketentuan peraturan atau norma yang
berlaku dalam masyarakat setempat. Dari pernikahan tersebut diharapkan dari akan
menghasilkan keturunan untuk meneruskan keturunan. Hal ini merujuk pada sisi
kebudayaan masyarakat, dimana pernikahan merupakan suatu perilaku yang berkaitan
dengan kehidupan seksual masyarakat.
Dikalangan masyarakat istilah hukum adat belum banyak dikenal, yang biasa
disebut oleh anggota masyarakat hanyalah “adat” yang artinya “kebiasaan” untuk
membedakannya dengan pengertian “hukum” yang artinya peraturan agama. Yang
dimaksud hukum adat perkawinan adalah hukum masyarakat (hukum rakyat)
yang tidak tertulis dalam perundang-undangan negara yang mengatur tata tertib
perkawinan, jika terjadi pelanggaran terhadap hukum perundang-undangan maka
yang mengadili adalah Pengadilan Agama atau Pengadilan Negeri, sedangkan
jika terjadi pelangaran hukum adat, maka yang mengadili dalam arti
menyelesaikan adalah Pengadilan Adat (peradilan masyarakat keluarga atau
kerabat) yang bersangkutan.
Penerapan hukum adat perkawinan tergantung pada pola struktur masyarakat
adat. Oleh karena itu, tidak mudah untuk mengetahui hukum perkawinan tanpa

4
mengetahui konsep adat masyarakat yang bersangkutan. Dalam masyarakat adat di
berbagai daerah diterapkan sistem kekerabatan yang berbeda-beda, oleh karena itu
konsep pelaksanaan perkawinan adat mempunyai hak dan kewajiban yang berbeda-
beda.
A. Van Gennep seorang ahli sosiologi prancis menyebut semua upacara
pernikahan sebagai "rites de passage" (upacara-upacara peralihan) 4. Upacara peralihan
melambangkan peralihan atau perubahan status pasangan yang semula tinggal terpisah,
setelah menikah bergabung untuk hidup bersama sebagai suami istri. Awalnya mereka
adalah anggota keluarga orang tuanya, setelah menikah mereka berdua menjadi
keluarga sendiri, sebuah keluarga baru yang mereka pimpin sendiri. Hubungan mereka
setelah menjadi suami istri bukanlah hubungan berdasarkan kontrak atau perjanjian,
melainkan paguyuban atau organisasi.
Menurut Van Geneep rites de passage mempunyai tiga tingkatan:
a. rites de separation (upacara perpisahan dari status semula)
b. rites de merge (upacara peralihan ke posisi baru)
c. rites d’aggregation (pengangkatan dan penerimaan status baru)
Selain sebagai sarana untuk mendapatkan keturunan perkawinan adat juga
membantu komunitas hidup kelompok dinasti untuk secara teratur menumbuhkan
generasi baru, yaitu anak-anak yang lahir dari dan di dalam nikah untuk melanjutkan
kehidupan kelompok kewangsaan. Selain itu, perkawinan ini juga melestarikan
perkumpulan lokal atau komunitas desa dan perkumpulan daerah sebagai struktur
nasional.
Beberapa faktor penyebab melaksanakan perkawinan secara adat adalah
sebagai berikut:
a) Penceraian Hidup
b) Hubungan Yang Tidak Direstui Kedua Orangtua
c) Pergaulan Bebas
d) Perkawinan Beda Agama Dan Kepercayaan
e) Faktor Ekonomi
2. Berbagai Bentuk Pernikahan Adat

4
Soerojo Wignjodipoero, Pengantar dan Asas-asas Hukum Adat (Jakarta: PT Gunung
Agung, 1984), 123.

5
Sistem dan pelaksanaan perkawinan adat menurut sistem perkawinan yang
berlaku dalam hukum adat Indonesia dibedakan atas 3 macam, yaitu:
a) Sistem endogami, yaitu perkawinan yang diperbolehkan hanya dari suku
sendiri seagama, desa, dan lapisan masyarakat. Sistem perkawinan ini terdapat di
masyarakat Toraja dan Flores Nusa Tenggara Timur. Pada waktu yang lampau,
masyarakat Ngadhu- bhaga Flores Nusa Tenggara Timur menggunakan sistem
endogami, dimana gadis yang berasal dari kalangan bangsawan (gae meze) dilarang
kawin dengan yang tidak berasal dari kalangan bangsawan.
b) Sistem eksogami, yaitu perkawinan dengan orang di luar suku keluarganya atau di
luar marganya (eksogami desa, klan/marga). Sistem perkawinan ini terdapat di
Alas, Tapanuli, Minangkabau, Sumatera Selatan, Buru, dan Seram.
c) Sistem perkawinan eleutrogami, yaitu sistem perkawinan yang tidak mengenal
larangan atau keharusan-keharusan seperti dalam sistem endogami dan eksogami.
Sistem ini umumnya digunakan oleh masyarakat jawa dan sunda.
Pernikahan mempunyai tujuan utama untuk melahirkan keturunan. Karena itu,
sistem hukum pernikahan atau sistem pernikahan ditentukan oleh cara menarik garis
keturunan: cara menarik garis keturunan ada dua macam yaitu: secara unilateral dan
bilateral. Bertolak dari hal tersebut, maka sistem perkawinan pun ada dua macam, yaitu:
Pertama, perkawinan pada masyarakat unilateral yang sistemnya eksogami;
Kedua, perkawinan pada masyarakat bilateral sistem perkawinannya tidak
terikat pada keharusan untuk eksogami. Yang dimaksudkan dengan kawin eksogami
adalah perkawinan di mana pihak-pihak yang kawin harus mempunyai keanggotan clan
yang tidak sama. Jadi, dalam pengertian eksogami terkandung prinsip larangan untuk
kawin dengan sesama anggota clan.
Dikarenakan sistem kekerabatan yang dianut oleh masyarakat adat di
Indoensia berbeda-beda, maka bentuk dan tata cara perkawinan pun beraneka pula. Pada
masyarakat unilateral pada dasarnya ada dua macam, yaitu: patrilineal dan matrilineal.
Karena itu kawin eksogami pun dapat dibedakan dalam dua macam:
Pertama, pada masyarakat adat yang susunannya patrilineal pada umumnya
dianut bentuk perkawinan jujur (Mangoli, Batak; Trmak, Pasemah; Beleket, Rejang;
Nuku, Palembang; Ngakuk, hibal, Lampung).

6
Kedua, di kalangan masyarakat adat yang Patrileneal Alternerend (kebapakan
beralih-alih) dan Matrilineal, pada umumnya dianut bentuk perkawinan Semenda.
Sedangkan di lingkungan masyarakat adat Parental dianut bentuk perkawinan Mentas.
Dari kedua macam bentuk perkawinan itu masih terdapat berbagai variasi yang
bermacam-macam menurut kepentingan kekerabatan yang bersangkutan.

1. Perkawinan Jujur (bruidscat) pada Masyarakat Patrilineal (bridge-gift


marriage).

Bentuk perkawinan jujur adalah perkawinan yang dilakukan dengan


pembayaran jujur dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Pada perkawinan ini
pihak laki-laki harus menyerahkan sesuatu yang disebut jujur kepada pihak keluarga
pengantin perempuan dengan tujuan untuk melepaskan calon pengantin perempuan
tersebut dari keanggotaan calon orang tuanya, untuk dimasukkan ke dalam calon
pengantin laki-laki.

Benda yang dapat dijadikan sebagai jujur biasanya benda-benda yang


memiliki kekuatan magis. Pemberian jujur diwajibkan, adalah untuk mengembalikan
keseimbangan magis yang semula menjadi goyah, oleh karena terjadinya kekosongan
pada keluarga perempuan yang telah pergi karena menikah tersebut. Perkawinan jujur
dapat dijumpai pada masyarakat patrilineal, baik yang murni maupun yang beralih- alih.
Ciri-ciri umum perkawinan jujur adalah patrilokal, artinya, isteri wajib bertempat
tinggal di kediaman suami atau keluarga suami. Bentuk perkawinan jujur ini dianut oleh
masyarakat patrilinela artinya bentuk perkawinan ini bertujuan untuk secara konsekuen
melanjutkan keturunan dari pihak laki-laki (ayah). Jujur yang diserahkan oleh pihak
laki-laki itu dapat berupa uang atau barang. Dalam kerangka bentuk perkawinan jujur
terdapat beberapa variasi bentuk perkawinan, sebagai berikut: (1) perkawinan ganti
suami; (2) perkawinan ganti istri; (3) perkawinan mengabdi; dan (4) perkawinan
ambil beri; dan (5) perkawinan ambil anak.

2. Perkawinan Semendo pada masyarakat Matrilineal (suitor service marriage).

Perkawinan semendo sebagai penyimpangan terhadap perkawinan jujur ini


terjadi di daerah Sumatera Selatan. Perkawinan semendo adalah bentuk perkawinan

7
tanpa pembayaran jujur dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Dalam
perkawinan ini laki-laki tinggal dalam keluarganya sendiri, akan tetapi dapat bergaulan
dengan keluarga istrinya sebagai urang semendo (Minangkabau) atau aangetrouwde.

Perkawinan semendo dalam arti sebenarnya adalah perakwian di mana suami


setelah perkawinan menetap dan berkedudukan di pihak istri dan melepaskan hak dan
kedudukannya dari pihak kerabatnya sendiri. Bentuk perkawinan semendo ini dianut
oleh masyarakat matrilineal yang bertujuan secara konsekuen melanjutkan keturunan
pihak ibu, seperti di Minangkabau. Dan berlaku juga di daerah rejang Lebong Bengkulu
yang susunan kekerabatannya alternerend atau beralih-alih menurut perkawiann orang
tua.

Perkawinan semendo dalam bentuknya dibagi menjadi dua, yaitu kawin


semenda sebagai suatu keharusan, dan kawin semenda sebagai penyimpangan.
Perkawinan semenda sebagai keharusan dijalankan pada masyarakat matrilineal
misalnya di Minangkabau. Sedangkan sebagai penyimpangan, perkawinan semendo
terdapat dalam masyarakat patrilineal yang seharusnya perkawinan itu dijalankan secara
kawin jujur, yaitu sebagai bentuk perkawinan untuk melanjutkan keturunan pihak laki-
laki (bapak). Hal ini terjadi apabila di dalam suatu rumah tangga tidak mempunyai
keturunan laki-laki. Sehingga dilakukan usaha-usaha antara lain:

(1) Laki-laki yang bersangkutan kawin lagi (polygami);

(2) Melakukan adopsi (menangkat anak);

(3) Salah seorang dari anak perempuan dikawinkan menurut cara kawin semendo.

3. Perkawinan pada masyarakat bilateral (exchange marriage).

Pada masyarakat bilateral perkawinan melanjutkan keturunan baik dari pihak


bapak maupun dari pihak ibu. Pada masyarakat bilateral ini tidak dikenal persoalan
tentang eksogami ataupun endogamy. Karena itu pada masyarakat bilateral, pada
dasarnya orang bebas untuk kawin dengan siapa saja, yang menjadi halangan hanyalah
ketentuan-ketentuan yang timbul oleh kaidah- kaidah kesusilaan dan agama.

Bentuk perkawinan masyarakat internasional atau kawin bebas tidak


menentukan secara tegas di mana suami atau isteri harus tinggal, hal ini tergantung pada

8
keinginan masing-masing pihak, yang pada akhirnya ditentukan oleh konsensus antara
pihak-pihak tersebut. Pada dasarnya perkawinan yang dilarang adalah perkawinan
antara orang yang mempunyai hubungan yang dekat. Jadi pada masyarakat ke ibu-
bapakan tidak ada keharusan untuk eksogami atau endogami.

a) Perkawinan mentas
Yang dimaksud dengan perkawinan mentas (mencar, Jawa) adalah
bentuk kedudukan suami istri dilepaskan dari tanggung jawab orang tua atau
keluarga kedua belah pihak, untuk dapat berdiri sendiri membangun rumah tangga
yang bahagia dan kekal. Dalam pelaksanaan perkawinan mentas ini yang penting
adalah adanya persetujuan kedua orang tua atau wali dari pihak laki-laki dan
perempuan yang bersangkutan, begitu pula adanya persetujuan dari pihak laki-laki
dan perempuan yang akan melakukan perkawinan tersebut.

b) Perkawinan anak-anak
Di beberapa lingkungan masyarakat adat tidak saja pertunangan yang dapat
berlaku sejak masih bayi tetapi juga dapat berlaku perkawinan antara laki-laki dan
perempuan yang masih belum baligh atau antara laki-laki yang sudah dewasa dengan
perempuan yang masih anak-anak atau sebaliknya perempuannya sudah dewasa
sedangkan suaminya masih anak-anak. Jadi di beberapa daerah perkawinan anak-
anak merupakan perbuatan yang tidak dilarang seperti di kalangan masyarakat adat
di daerah Kerinci (Jambi), Toraja (Sulawesi Tengah), di pulau Rote (Nusa Tenggara
Timur), kecuali di Bali adalah merupakan perbuatan yang dilarang dan bagi yang
melakukannya dapat dihukum.

c) Perkawinan bermadu (polygami)


Hampir di semua masyarakat adat terdapat perkawinan bermadu, dimana
seorang suami dalam suatu waktu yang sama mempunyai beberapa orang istri.
Misalnya dikenal adanya istilah istri-ratu (padmi, Solo-Jawa) dan ada istri selir
(doomanga, Pulau Sawu).

d) Perkawinan campuran

9
Perkawinan campuran adalah perkawinan antara laki-laki dan perempuan
yang berbeda keanggotaan masyarakat hukum adatnya.

4. Perkawinan lari

Sesungguhnya perkawinan lari bukanlah bentuk perkawinan melainkan


merupakan sistem pelamaran, oleh karena dari kejadian perkawinan lari itu dapat
berlaku bentuk perkawinan jujur, semenda atau bebas/mandiri, tergantung pada keadaan
dan perundangan kedua pihak. Perkawinan jelas terlihat tidak mengambil asas dari
hukum adat.

Seperti dalam, “Perkawinan lari” menurut hukum adat bertentangan dengan


Pasal 31 Undang-Undang Perkawinan sebab adanya perbedaan kedudukan suami dan
isteri. Kedudukan suami dan isteri di dalam Undang- undang Perkawinan adalah
seimbang. Sementara menurut Perkawinan adat kedudukan suami isteri berbeda atau
tidak seimbang.

3. Pengaruh Pernikahan Dalam Hukum Adat Terhadap Kehidupan Sosial


Hukum adat perkawinan sendiri mempunyai arti Hukum adat perkawinan
adalah aturan-aturan hukum adat yang mengatur tentang bentuk-bentuk perkawinan,
cara-cara pelamaran, upacara perkawinan dan putusnya perkawinan di Indonesia5.
Ada beberapa suku atau kelompok masyarakat yang menutup diri dengan
perubahan zaman dengan tetap mempertahankan nilai-nilai adat yang hidup pada
kelompok mereka sendiri karena sebuah perubahan memiliki akibat terhadap hilangnya
nilai-nilai (adat) luhur yang telah mereka anut secara turun-temurun dari nenek
moyangnya, yang mana seharusnya tidak ada hukum yang lebih tinggi dari hukum
negara. Negara memiliki peran menciptakan hukum, jadi segala sesuatu harus tunduk
kepadanya. negara di sini dianggap sebagai suatu keutuhan yang menciptakan
peraturan-peraturan hukum.

Bagi Indonesia adalah mutlak adanya Undang-Undang Perkawinan


Nasional yang menampung prinsip-prinsip serta memberikan landasan hukum
perkawinan yang selama ini menjadi pegangan dan telah berlaku bagi berbagai
golongan dalam masyarakat kita yang mana sesuai dengan landasan falsafah
5
Hilman Hadikusuma, Pengantar Ilmu Hukum Adat Indonesia (Bandung: CV. Mandar Maju,
2003), 182.

10
Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, maka undang-undang ini disatu pihak
harus dapat mewujudkan prinsip-prinsip yang terkandung dalam Pancasila dan
Undang-Undang Dasar 1945, sedangkan di lain pihak harus dapat pula menampung
segala kenyataan yang hidup dalam masyarakat.

Seorang laki-laki dan seorang wanita yang dulunya merupakan pribadi yang
bebas tanpa ikatan hukum, setelah perkawinan menjadi terikat lahir dan batin sebagai
suami istri. Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-
masing agamanya dan kepercayaannya itu.

Hukum adat menunjukkan sikap yang dinamis sehingga dapat berkembang


menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman karena mempunyai nilai-nilai
universal maupun lembaga-lembaga hukum yang dalam bentuk pernyataan
modern. Hal ini berarti pula hukum baru (hukum asing, hukum barat) sepanjang
untuk memperkaya dan mengembangkan hukum nasional, asal tidak bertentangan
dengan Pancasila dan Undang- Undang Dasar 1945.

Perkawinan yang dilakukan dengan dasar pijak norma-norma hukum adat tentu
tidak bisa dipandang sebagai sebuah pelanggaran aturan menurut hukum nasional
karena perkawinan adalah sah menurut hukum agama dan kepercayaannya akan tetapi
pada suatu cara pandang tertentu perkawinan hanya dipandang sah menurut agama dan
kepercayaannya saja. Pada sisi lain dalam hal ini pemerintah memiliki aturan-aturan lain
yang wajib diikuti baik mengenai syarat tentang pencatatan terhadap perkawinan
tersebut yaitu pada Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019
Tentang Perkawinan dan syarat tentang batas umur untuk dapat melaksanakan
perkawinan yakni pada Pasal 7 ayat (1) yaitu “Perkawinan hanya diizinkan jika pihak
pria dan wanita sudah mencapai umur 19 tahun’, karena maksud dari syarat ini adalah
telah mencapai usia dewasa dalam melakukan perbuatan hukum. Terdapat kesamaan
maksud dan tujuan dari peraturan perundang-undangan tersebut, bahwa keabsahan yang
hakiki mengenai syarat sah dari peristiwa hukum berkenaan perkawinan yang dilakukan
di Negara Republik Indonesia tidak cukup hanya menjalankan hukum adat saja
melainkan harus mentaati aturan hukum positif yang berlaku di Indonesia.

Terkait dengan masalah perkawinan, maka budaya dan aturan yang


berlaku pada suatu masyarakat tidak terlepas dari pengaruh budaya dan lingkungan

11
masyarakat itu berada. Begitu juga pergaulan masyarakat setempat terbentuk karena
dipengaruhi oleh kebiasaan, kepercayaan dan keagamaan yang dianut masyarakat
tersebut.

Perkawinan yang sah adalah perkawinan yang berdasarkan hukum agama


(Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang No.16 Tahun 2016) Oleh sebab itu, perkawinan
secara adat adalah perkawinan yang tidak sah. Perkawinan yang dilaksanakan secara
adat akan berdampak terhadap anak yang dilahirkan. Beberapa dampak perkawinan
secara adat terhadap anak adalah sebagai berikut:

a) Anak yang dilahirkan hanya memiliki hubungan perdata dengan ibunya


sedangkan kepada ayah biologisnya tidak (Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang
No.16 Tahun 2019)

b) Anak tidak berhak mendapatkan nafkah dan warisan

c) Anak akan mengalami hambatan dalam proses pengurusan akta perkawinan.

Proses legalitas dari perkawinan secara adat juga harus sesuai dengan
Peraturan Pemerintah No.9 Tahun 1975 tentang pelaksanaan Undang-Undang No.1
Tahun 1974 yang telah diubah dengan Undang-Undang No. 16 Tahun 2019 yang
menyatakan dalam setiap perkawinan harus dibutuhkan pencatatan dalam akta
perkawinan. Akta perkawinan ini sebagai bukti bahwa perkawinan ini telah sah
dilaksanakan secara agama dan kepercayaan. Dalam proses melegalkan perkawinan
secara adat ada syarat syarat yang harus dipenuhi, mulai dari biaya yang cukup besar
sampai dengan pemenuhan syarat yang cukup rumit, sehingga dalam pelaksanaanya
ada hambatan-hambatan yang harus dihadapi oleh para pihak.

Terkhusus mengenai ketentuan-ketentuan yang ada dalam hukum adat, terlihat


ada beberapa persamaan dengan Undang- Undang Perkawinan. Namun ada juga
ketentuan yang bertentangan dengan Undang-Undang Perkawinan sehingga ketentuan
tersebut tidak diakui oleh hukum nasional.

Dengan demikian asas-asas Perkawinan Adat tidaklah berlaku secara


keseluruhan dalam sistem hukum perkawinan Nasional. Adapun eksistensi hukum
perkawinan adat pada masa ini dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 1
Tahun 1974 Tentang Perkawinan, dapat didasari dengan berlakunya Pasal 18B ayat

12
(2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 yakni “Negara mengakui
dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak
tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat
dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang”.

Pembahasan keseluruhan di atas sejalan dengan hasil observasi saya dengan


kepala KUA desa Pekalongan yang mana tugas seorang KUA adalah melaksanakan
pernikahan secara hukum islam dan hukum nasional termasuk pencatatan akta
pernikahan dan data lainnya sedangnkan pelaksanaan upacara hukum adat sebagai
penunjang resepsi dan dilaksanakan secara terpisah dengan akad nikah oleh pihak
keluarga.

4. Kondisi pernikahan adat saat ini


Bagi masyarakat adat yang telah memeluk suatu agama tertentu misalnya,
Islam. Perkawinan dilangsungkan dengan penerimaan ketentuan-ketentuan hukum Islam
dalam pelaksanaan perkawinan adatnya telah menjadi gabungan ritus (sifat khas adat
tradisional) dan kontrak (sifat khas Islam). Ritus adalah upacara sebelum dan sesudah
nikah, sedangkan nikahnya sendiri merupakan kontrak. Di dalam kenyataannya
sekarang ini jumlah upacara-upacara adat yang dilakukan pada penyelenggaraan
perkawinan adat pada umumnya sudah terbatas pada yang diperlukan secara mutlak
saja. Hanya pada perkawinan tertentu saja, misalnya yang terjadi di lingkungan
bangsawan atau hartawan, upacara-upacara itu meliputi segala jenis tradisional yang
memang seyogyanya dilakukan. Jadi pelaksanaan akad nikah yang dilaksanakan selama
ini lebih cenderung sudah mengikuti alur dari adat istiadat namun tidak sepenuhnya.

PENUTUP

Kesimpulan

Keberadaan hukum adat sangat kuat pengaruhnya terhadap kehidupan


masyarakat jika dibandingkan dengan hukum positif yang berlaku di Indonesia,
khususnya tentang hukum perkawinan. Namun sebagai bagian dari Warga Negara
Indonesia tetap harus mengikuti peraturan perundang-undangan yang berlaku. Aturan-
aturan berkenaan dengan syarat-syarat sahnya perkawinan menurut negara mengenai

13
perkawinan, aturan-aturan mengenai syarat sahnya suatu perkawinan wajib ditegakkan
dan dijalankan oleh seluruh Warga Negara Indonesia tanpa terkecuali.

Legalitas perkawinan yang hanya dilaksanakan secara adat dmenurut Undang-


Undang No 16 Tahun 2019 adalah tidak sah, hal ini sesuai dengan Pasal 2
ayat (1), dimana perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum
masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu. Selanjutnya dalam ayat (2)
dinyatakan bahwawa, “Tiap-tiap perkawinan harus dicatatkan menurut peraturan
perundang-undangan yang berlaku”. Perkawinan adat tidak memiliki akta
perkawinan, akibatnya perkawinan itu tidak memiliki bukti sebagai perkawinan yang
sah secara undang-undang.

Saran

Eksistensi hukum perkawinan adat yang seyogyanya diakui namun dibatasi


dengan berlakunya Undang-Undang Nomo 1 Tahun 1945 Tentang Perkawinan,
haruslah diperjelas keberadaannya. Sebaiknya Negara Indonesia mengambil suatu
langkah yang tegas mengenai pengakuan terhadap hukum adat terkhusus hukum
perkawinan adat. Apakah pengakuan tersebut hanya sebagai bentuk formalitas saja
dalam sebuah Peraturan Perundang-Undangan ataukah sebagai bentuk ketegasan dalam
penerapannya guna melindungi keberadaan hukum adat dan masyarakat hukum adat.

DAFTAR PUSTAKA

Hadikusuma, Hilman. Hukum Perkawinan Indonesia menurut Perundangan, Hukum


Adat dan Hukum Agama. Bandung: Mandar Maju, 2007.
———. Hukum Perkawinan Indonesia menurut Perundangan, Hukum Adat, Hukum
Agama. Bandung: CV. Mandar Maju, 2007.
———. Pengantar Ilmu Hukum Adat Indonesia. Bandung: CV. Mandar Maju, 2003.
Purwadi. Upacara Tradisional Jawa, Menggali Untaian Kearifan Lokal, t.t.

14
Septiani Helga. Makna dan Fungsi Tradisi Sinamot dalam Adat Perkawinan
Sukubangsa Batak Toba di Perantauan. Surabaya. Surabaya: Surabaya, 2011.
Syahuri T. Legislasi hukum perkawinan di Indonesia: Pro-kontra pembentukannya
hingga putusan Mahkamah Konstitusi. Kencana Prenada Media Group, 2013.
Wignjodipoero, Soerojo. Kedudukan serta Perkembangan Hukum Adat setelah
Kemerdekaan. Jakarta: PT Gunung Agung, 1983.
———. Pengantar dan Asas-asas Hukum Adat. Jakarta: PT Gunung Agung, 1984.

15

Anda mungkin juga menyukai