Hukum Adat Pernikahan di Indonesia
Hukum Adat Pernikahan di Indonesia
Fanny Adzkia
ABSTRAK
Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan budaya dan tradisi, termasuk
dalam ritual pernikahan atau perkawinan. Perkawinan adalah perilaku makluk ciptaan
Tuhan Yang Maha Esa agar kehidupan di alam semesta berkembang biak.
Pernikahan terjadi dikalangan seluruh makhuk hidup termasuk hewan dan tumbuhan.
Pada umumnya menurut hukum adat di Indonesia perkawinan itu bukan saja sebagai
perikatan perdata, melainkan juga perikatan adat, sekaligus perikatan kekerabatan dan
ketetanggaan. Pandangan masyarakat tentang keabsahan pernikahan adalah
melaksanakan prosesi akad sesuai agama masing-masing sedangkan upacara adat
sebagai penunjang acara resepsi pernikahan yang bertujuan untuk mewariskan dan
mengenalkan kepada generasi muda mendatang tentang kebudayaan warisan
pendahulu. Perkawinan secara adat saja jelas bertentangan dengan UU No 16 Tahun
2019. Keabsahan perkawinan yang diatur dalam UU No.16 tahun 2019 yaitu dalam
Pasal 2 ayat (1) menyatakan bahwa ‘‘perkawinan adalah sah apabila dilakukan
menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu’. Selanjutnya
dalam Pasal 2 ayat (2) dinyatakan bahwa ‘tiap-tiap perkawinan harus dicatatkan
menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku’. Perkawinan adat ini tidak
memiliki akta perkawinannya. Akibatnya perkawinan ini tidak memiliki bukti
sebagai perkawinan sah secara undang-undang.
Kata Kunci : Pernikahan, Hukum Adat, Pengaruh
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan budaya dan tradisi,
termasuk dalam ritual pernikahan atau perkawinan. Perkawinan merupakan momen
spesial yang sangat dinantikan oleh pasangan. Apalagi jika acara berlangsung dengan
lancar dan sejalan dengan konsep perkawinan yang diimpikan.
Perkawinan adalah perilaku makluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa agar
kehidupan di alam semesta berkembang biak1 Pernikahan terjadi dikalangan seluruh
makhuk hidup termasuk hewan dan tumbuhan. Oleh karena manusia sebagai salah satu
makhluk hidup yang berakal, maka perkawinan merupakan salah satu bentuk budaya
1
Hukum Perkawinan Indonesia menurut Perundangan, Hukum Adat dan Hukum Agama,
Bandung: Mandar Maju. 2007.
1
yang beraturan yang mengikuti perkembangan budaya manusia dalam kehidupan
masyarakat dengan tujuan memperoleh keturunan.
Tujuan upacara adat tersebut agar perkawinan akan selamat sejahtera serta
mendatangkan kebahagiaan dikemudian hari. Selain itu, juga bertujuan untuk
menghormati sang pencipta Tuhan maha Esa dan para leluhurnya dan sebagai wujud
dalam melestarikan budaya dari generasi ke generasi lain. Hukum adat perkawinan itu
bukan hanya merupakan peristiwa penting bagi mereka yang masih hidup saja, tetapi
2
Wawancara dengan Bapak Muhammad Nur, Kepala Kantor Urusan Agama, di Pekalongan
(Kamis, 30 Mei 2024)
2
perkawinan juga merupakan peristiwa yang sangat berarti serta sepenuhnya mendapat
perhatian dan diikuti oleh arwah- arwah para leluhur kedua belah pihak.
PEMBAHASAN
3
Syahuri T, Legislasi hukum perkawinan di Indonesia: Pro-kontra pembentukannya hingga
putusan Mahkamah Konstitusi, Kencana Prenada Media Group. 2013.
3
1. Pelaksanaan Pernikahan Dalam Hukum Adat
Pernikahan merupakan suatu hal yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan
manusia. Dimana seorang laki-laki dan perempuan hidup bersama sehingga tercipta
kesatuan rumah tangga sebagai suami istri. Kehidupan bersama yang disebut
perkawinan, mempunyai akibat hukum tertentu jika hubungan itu sah menurut hukum.
Setelah menyelesaikan prosedur wajib. Menurut hukum adat Indonesia, perkawinan
tidak hanya berdampak pada hubungan keperdataan seperti hak dan kewajiban suami
istri, harta bersama, status anak serta hak dan kewajiban orang tua, tetapi juga meliputi
adat istiadat, kekerabatan serta menyangkut berbagai upacara adat dan keagamaan yang
sejalan dengan pendapat Ter Haar. Dalam masyarakat pernikahan bukan hanya sekedar
akad perdata tetapi juga merupakan suatu kesatuan adat dan sekaligus merupakan
kekeluargaan dan ketetanggan.
Dalam masyarakat Indonesia, pernikahan sebenarnya adalah perikatan keluarga
dengan keluarga. Pernikahan yang ideal adalah bentuk pernikahan yang terjadi dan
diinginkan oleh masyarakat. Suatu pernikahan yang terjadi berdasarkan suatu
pertimbangan tertentu dan tidak menyimpang dari ketentuan peraturan atau norma yang
berlaku dalam masyarakat setempat. Dari pernikahan tersebut diharapkan dari akan
menghasilkan keturunan untuk meneruskan keturunan. Hal ini merujuk pada sisi
kebudayaan masyarakat, dimana pernikahan merupakan suatu perilaku yang berkaitan
dengan kehidupan seksual masyarakat.
Dikalangan masyarakat istilah hukum adat belum banyak dikenal, yang biasa
disebut oleh anggota masyarakat hanyalah “adat” yang artinya “kebiasaan” untuk
membedakannya dengan pengertian “hukum” yang artinya peraturan agama. Yang
dimaksud hukum adat perkawinan adalah hukum masyarakat (hukum rakyat)
yang tidak tertulis dalam perundang-undangan negara yang mengatur tata tertib
perkawinan, jika terjadi pelanggaran terhadap hukum perundang-undangan maka
yang mengadili adalah Pengadilan Agama atau Pengadilan Negeri, sedangkan
jika terjadi pelangaran hukum adat, maka yang mengadili dalam arti
menyelesaikan adalah Pengadilan Adat (peradilan masyarakat keluarga atau
kerabat) yang bersangkutan.
Penerapan hukum adat perkawinan tergantung pada pola struktur masyarakat
adat. Oleh karena itu, tidak mudah untuk mengetahui hukum perkawinan tanpa
4
mengetahui konsep adat masyarakat yang bersangkutan. Dalam masyarakat adat di
berbagai daerah diterapkan sistem kekerabatan yang berbeda-beda, oleh karena itu
konsep pelaksanaan perkawinan adat mempunyai hak dan kewajiban yang berbeda-
beda.
A. Van Gennep seorang ahli sosiologi prancis menyebut semua upacara
pernikahan sebagai "rites de passage" (upacara-upacara peralihan) 4. Upacara peralihan
melambangkan peralihan atau perubahan status pasangan yang semula tinggal terpisah,
setelah menikah bergabung untuk hidup bersama sebagai suami istri. Awalnya mereka
adalah anggota keluarga orang tuanya, setelah menikah mereka berdua menjadi
keluarga sendiri, sebuah keluarga baru yang mereka pimpin sendiri. Hubungan mereka
setelah menjadi suami istri bukanlah hubungan berdasarkan kontrak atau perjanjian,
melainkan paguyuban atau organisasi.
Menurut Van Geneep rites de passage mempunyai tiga tingkatan:
a. rites de separation (upacara perpisahan dari status semula)
b. rites de merge (upacara peralihan ke posisi baru)
c. rites d’aggregation (pengangkatan dan penerimaan status baru)
Selain sebagai sarana untuk mendapatkan keturunan perkawinan adat juga
membantu komunitas hidup kelompok dinasti untuk secara teratur menumbuhkan
generasi baru, yaitu anak-anak yang lahir dari dan di dalam nikah untuk melanjutkan
kehidupan kelompok kewangsaan. Selain itu, perkawinan ini juga melestarikan
perkumpulan lokal atau komunitas desa dan perkumpulan daerah sebagai struktur
nasional.
Beberapa faktor penyebab melaksanakan perkawinan secara adat adalah
sebagai berikut:
a) Penceraian Hidup
b) Hubungan Yang Tidak Direstui Kedua Orangtua
c) Pergaulan Bebas
d) Perkawinan Beda Agama Dan Kepercayaan
e) Faktor Ekonomi
2. Berbagai Bentuk Pernikahan Adat
4
Soerojo Wignjodipoero, Pengantar dan Asas-asas Hukum Adat (Jakarta: PT Gunung
Agung, 1984), 123.
5
Sistem dan pelaksanaan perkawinan adat menurut sistem perkawinan yang
berlaku dalam hukum adat Indonesia dibedakan atas 3 macam, yaitu:
a) Sistem endogami, yaitu perkawinan yang diperbolehkan hanya dari suku
sendiri seagama, desa, dan lapisan masyarakat. Sistem perkawinan ini terdapat di
masyarakat Toraja dan Flores Nusa Tenggara Timur. Pada waktu yang lampau,
masyarakat Ngadhu- bhaga Flores Nusa Tenggara Timur menggunakan sistem
endogami, dimana gadis yang berasal dari kalangan bangsawan (gae meze) dilarang
kawin dengan yang tidak berasal dari kalangan bangsawan.
b) Sistem eksogami, yaitu perkawinan dengan orang di luar suku keluarganya atau di
luar marganya (eksogami desa, klan/marga). Sistem perkawinan ini terdapat di
Alas, Tapanuli, Minangkabau, Sumatera Selatan, Buru, dan Seram.
c) Sistem perkawinan eleutrogami, yaitu sistem perkawinan yang tidak mengenal
larangan atau keharusan-keharusan seperti dalam sistem endogami dan eksogami.
Sistem ini umumnya digunakan oleh masyarakat jawa dan sunda.
Pernikahan mempunyai tujuan utama untuk melahirkan keturunan. Karena itu,
sistem hukum pernikahan atau sistem pernikahan ditentukan oleh cara menarik garis
keturunan: cara menarik garis keturunan ada dua macam yaitu: secara unilateral dan
bilateral. Bertolak dari hal tersebut, maka sistem perkawinan pun ada dua macam, yaitu:
Pertama, perkawinan pada masyarakat unilateral yang sistemnya eksogami;
Kedua, perkawinan pada masyarakat bilateral sistem perkawinannya tidak
terikat pada keharusan untuk eksogami. Yang dimaksudkan dengan kawin eksogami
adalah perkawinan di mana pihak-pihak yang kawin harus mempunyai keanggotan clan
yang tidak sama. Jadi, dalam pengertian eksogami terkandung prinsip larangan untuk
kawin dengan sesama anggota clan.
Dikarenakan sistem kekerabatan yang dianut oleh masyarakat adat di
Indoensia berbeda-beda, maka bentuk dan tata cara perkawinan pun beraneka pula. Pada
masyarakat unilateral pada dasarnya ada dua macam, yaitu: patrilineal dan matrilineal.
Karena itu kawin eksogami pun dapat dibedakan dalam dua macam:
Pertama, pada masyarakat adat yang susunannya patrilineal pada umumnya
dianut bentuk perkawinan jujur (Mangoli, Batak; Trmak, Pasemah; Beleket, Rejang;
Nuku, Palembang; Ngakuk, hibal, Lampung).
6
Kedua, di kalangan masyarakat adat yang Patrileneal Alternerend (kebapakan
beralih-alih) dan Matrilineal, pada umumnya dianut bentuk perkawinan Semenda.
Sedangkan di lingkungan masyarakat adat Parental dianut bentuk perkawinan Mentas.
Dari kedua macam bentuk perkawinan itu masih terdapat berbagai variasi yang
bermacam-macam menurut kepentingan kekerabatan yang bersangkutan.
7
tanpa pembayaran jujur dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Dalam
perkawinan ini laki-laki tinggal dalam keluarganya sendiri, akan tetapi dapat bergaulan
dengan keluarga istrinya sebagai urang semendo (Minangkabau) atau aangetrouwde.
(3) Salah seorang dari anak perempuan dikawinkan menurut cara kawin semendo.
8
keinginan masing-masing pihak, yang pada akhirnya ditentukan oleh konsensus antara
pihak-pihak tersebut. Pada dasarnya perkawinan yang dilarang adalah perkawinan
antara orang yang mempunyai hubungan yang dekat. Jadi pada masyarakat ke ibu-
bapakan tidak ada keharusan untuk eksogami atau endogami.
a) Perkawinan mentas
Yang dimaksud dengan perkawinan mentas (mencar, Jawa) adalah
bentuk kedudukan suami istri dilepaskan dari tanggung jawab orang tua atau
keluarga kedua belah pihak, untuk dapat berdiri sendiri membangun rumah tangga
yang bahagia dan kekal. Dalam pelaksanaan perkawinan mentas ini yang penting
adalah adanya persetujuan kedua orang tua atau wali dari pihak laki-laki dan
perempuan yang bersangkutan, begitu pula adanya persetujuan dari pihak laki-laki
dan perempuan yang akan melakukan perkawinan tersebut.
b) Perkawinan anak-anak
Di beberapa lingkungan masyarakat adat tidak saja pertunangan yang dapat
berlaku sejak masih bayi tetapi juga dapat berlaku perkawinan antara laki-laki dan
perempuan yang masih belum baligh atau antara laki-laki yang sudah dewasa dengan
perempuan yang masih anak-anak atau sebaliknya perempuannya sudah dewasa
sedangkan suaminya masih anak-anak. Jadi di beberapa daerah perkawinan anak-
anak merupakan perbuatan yang tidak dilarang seperti di kalangan masyarakat adat
di daerah Kerinci (Jambi), Toraja (Sulawesi Tengah), di pulau Rote (Nusa Tenggara
Timur), kecuali di Bali adalah merupakan perbuatan yang dilarang dan bagi yang
melakukannya dapat dihukum.
d) Perkawinan campuran
9
Perkawinan campuran adalah perkawinan antara laki-laki dan perempuan
yang berbeda keanggotaan masyarakat hukum adatnya.
4. Perkawinan lari
10
Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, maka undang-undang ini disatu pihak
harus dapat mewujudkan prinsip-prinsip yang terkandung dalam Pancasila dan
Undang-Undang Dasar 1945, sedangkan di lain pihak harus dapat pula menampung
segala kenyataan yang hidup dalam masyarakat.
Seorang laki-laki dan seorang wanita yang dulunya merupakan pribadi yang
bebas tanpa ikatan hukum, setelah perkawinan menjadi terikat lahir dan batin sebagai
suami istri. Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-
masing agamanya dan kepercayaannya itu.
Perkawinan yang dilakukan dengan dasar pijak norma-norma hukum adat tentu
tidak bisa dipandang sebagai sebuah pelanggaran aturan menurut hukum nasional
karena perkawinan adalah sah menurut hukum agama dan kepercayaannya akan tetapi
pada suatu cara pandang tertentu perkawinan hanya dipandang sah menurut agama dan
kepercayaannya saja. Pada sisi lain dalam hal ini pemerintah memiliki aturan-aturan lain
yang wajib diikuti baik mengenai syarat tentang pencatatan terhadap perkawinan
tersebut yaitu pada Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019
Tentang Perkawinan dan syarat tentang batas umur untuk dapat melaksanakan
perkawinan yakni pada Pasal 7 ayat (1) yaitu “Perkawinan hanya diizinkan jika pihak
pria dan wanita sudah mencapai umur 19 tahun’, karena maksud dari syarat ini adalah
telah mencapai usia dewasa dalam melakukan perbuatan hukum. Terdapat kesamaan
maksud dan tujuan dari peraturan perundang-undangan tersebut, bahwa keabsahan yang
hakiki mengenai syarat sah dari peristiwa hukum berkenaan perkawinan yang dilakukan
di Negara Republik Indonesia tidak cukup hanya menjalankan hukum adat saja
melainkan harus mentaati aturan hukum positif yang berlaku di Indonesia.
11
masyarakat itu berada. Begitu juga pergaulan masyarakat setempat terbentuk karena
dipengaruhi oleh kebiasaan, kepercayaan dan keagamaan yang dianut masyarakat
tersebut.
Proses legalitas dari perkawinan secara adat juga harus sesuai dengan
Peraturan Pemerintah No.9 Tahun 1975 tentang pelaksanaan Undang-Undang No.1
Tahun 1974 yang telah diubah dengan Undang-Undang No. 16 Tahun 2019 yang
menyatakan dalam setiap perkawinan harus dibutuhkan pencatatan dalam akta
perkawinan. Akta perkawinan ini sebagai bukti bahwa perkawinan ini telah sah
dilaksanakan secara agama dan kepercayaan. Dalam proses melegalkan perkawinan
secara adat ada syarat syarat yang harus dipenuhi, mulai dari biaya yang cukup besar
sampai dengan pemenuhan syarat yang cukup rumit, sehingga dalam pelaksanaanya
ada hambatan-hambatan yang harus dihadapi oleh para pihak.
12
(2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 yakni “Negara mengakui
dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak
tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat
dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang”.
PENUTUP
Kesimpulan
13
perkawinan, aturan-aturan mengenai syarat sahnya suatu perkawinan wajib ditegakkan
dan dijalankan oleh seluruh Warga Negara Indonesia tanpa terkecuali.
Saran
DAFTAR PUSTAKA
14
Septiani Helga. Makna dan Fungsi Tradisi Sinamot dalam Adat Perkawinan
Sukubangsa Batak Toba di Perantauan. Surabaya. Surabaya: Surabaya, 2011.
Syahuri T. Legislasi hukum perkawinan di Indonesia: Pro-kontra pembentukannya
hingga putusan Mahkamah Konstitusi. Kencana Prenada Media Group, 2013.
Wignjodipoero, Soerojo. Kedudukan serta Perkembangan Hukum Adat setelah
Kemerdekaan. Jakarta: PT Gunung Agung, 1983.
———. Pengantar dan Asas-asas Hukum Adat. Jakarta: PT Gunung Agung, 1984.
15