Penanggulangan Kenakalan Remaja Keluarga
Penanggulangan Kenakalan Remaja Keluarga
SKRIPSI
Diajukan Oleh:
ABSTRAK
Dengan nama Allah yang amat pemurah di dalam dunia ini lagi amat
menyayangi hambanya yang mukmin di yaumil akhirat. Segala puji milik Allah
dan rahmat sejahtera selalu tercurahkan kepada junjungan alam Rasul pilihan
Aceh Selatan).. Skripsi ini disusun untuk melengkapi dan memenuhi syarat untuk
memperoleh gelar sarjana pada Fakultas Ushuluddin dan Filasafat UIN Ar-Raniry
Banda Aceh.
yang penulis hormati, Ayahanda A M Syukri dan ibunda tercinta Siti Saleha yang
telah memeberi kasih sayang, pendidikan, dan motifasi yang kuat untuk menjadi
anak yang shaleh dan berhasil dalam menggapai cita-cita yang diharapkan serta
dengan tetesan keringat dan cucuran air matanyalah yang tidak mengenal rasa
lelah demi membiyaai perkulihan penulis, sehingga gelar sarjana telah penulis
raih. Penulis tidak bisa membalas apa yang telah diberikan kedua orang tua
Dalam penulisan skripsi yang sederhana ini, penulis sangat berterima kasih
kepada semua pihak yang turut memberikan petunjuk, bimbingan dan motivasi
menyelesiakn studi ini dan kepada yang tersayang teman-teman penulis yang
Dengan rasa hormat penulis ucapkan terima kasih kepada Bapak Dr Farid
Wajdi Ibrahim, M. A selaku Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Bapak Dr.
selaku Pembimbing kedua yang telah banyak emmberikan bantuan, nasehat dan
mengarahkan penulis dalam rangka penulisan karya ilmiah ini dari awal sampai
sebagai ketua Prodi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-
Raniry yang telah banyak memberikan motivasi dan pengalaman kepad penulis
Desa Baru, Kepala Sekolah dan Guru di MTsN dan SMP Desa Baru, Tokoh
Masyarakat, Tokoh Adat dan seluruh masyarakat Desa Baru Keamatan Samadua
Kabupaten Aceh Selatan, yang telah membantu memberikan data yang diperlukan
kesempurnaan karena keterbatasan ilmu dan literatur yang dimiliki. Oleh karena
itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca
demi kesempurnaan penulisan ini. Akhirnya, hanya kepada ALLAH SWT jualah
penulis berserah diri, semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi penulis
kiranya dan semua pihak umumnya, semoga kita selalu berada dalam
Halaman
COVER ..................................................................................................
LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING ...................................... i
LEMBAR PENGESAHAN SIDANG .................................................. ii
PERNYATAAN KEASLIAN ............................................................... iii
ABSTRAK ............................................................................................. iv
KATA PENGANTAR ........................................................................... v
DAFTAR TABEL ................................................................................. viii
LAMPIRAN-LAMPIRAN ................................................................... ix
DAFTAR ISI .......................................................................................... x
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ................................................... 1
B. Rumusan Masalahan ............................................................... 3
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ............................................... 4
D. Kajian Pustaka ........................................................................ 4
E. Landasan Teori ...................................................................... 5
F. Metode Penelitian ............................................................. ..... 6
G. Sistematika Penulisan ............................................................ 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Remaja .................................................................................... 12
1. Pengertian Remaja .......................................................... 12
2. Karakteristik Masa Ramaja ............................................ 13
3. Tahapan Perkembangan Remaja .................................... 14
B. Kenakalan Remaja ................................................. 15
1. Pengertian Kenakalan Remaja ........................................ 15
2. Faktor-Faktor Penyebab Kenakalamn Remaja ............... 18
3. Penanggulangan Kenakalan Remaja .............................. 21
C. Konsep Keluarga .................................................. 22
1. Pengertian Keluarga ........................................................ 22
2. Peran dan Fungsi Keluarga.............................................. 24
BAB III PENANGGULANGAN KENAKALAN REMAJA DAN FUNGSI
SOSIAL KELUARGA SI DESA BARU KECAMATAN
SAMADUA KABUPATEN ACEH SELATAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian .................................. 27
B. Penyebab Terjadinya Kenakalan Remaja............................. 31
C. Penanggulangan Kenakalan Remaja dan Fungsi Keluarga .. 35
D. Hambatan Keluarga Mengatasi Kenakalan pada Remaja .... 41
BAB IV PENETUP
A. Kesimpulan .......................................................................... 47
B. Saran .................................................................................... 48
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ 49
FOTO-FOTO PENELITIAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
iv
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
kehidupan manusia berbeda dari masa anak-anak dan masa dewasa, yang ditandai
adalah generasi penerus perjuangan pembangunan bangsa dan Negara. Salah satu
masa mencari jati diri.3 Dalam pencarian jati dirinya mereka mengekspresikannya
dengan berbagai cara dan gaya yang selalu ingin mencari pengetahuan yang
belum ia ketahui dan mencari menarik perhatian orang lain. Dan harus di
imbangin dengan kokohnya benteng agama dan moral untuk arah jalan kehidupan
lebih baik.
Perubahan perilaku dan dampak dari perkembangan jaman dan gaya hidup
yang glamour, pergaulan bebas, dan lingkungan juga sangat berpengaruh bagi
1
Desmita, Psikologi perkembangan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya 2005) hlm 190
2
Miskahuddin, Hubungan gaya pengasuhan orang tua( Banda Aceh: Fakultas
Ushuluddin 2014) hlm 1
3
Mohammad Ali, Psikologi Remaja ( Jakarta: Bumi Aksara 2004) Hlm 16
1
2
tempat pertama kalinya mereka beradabtasi dan menyesuaikan diri. Mereka juga
ditiup badai ikut-ikutan yang tak berdasarkan serta taklid buta yang mengundang
Ada banyak sekali faktor yang menyebabkan remaja saat ini terjerumus ke
hal-hal yang tidak diinginkan dan dapat mempengaruhi arah yang negative
tindakan yang di lakukan oleh remaja. Kaitannya dengan perubahan sosial yang
Peran dan tanggung jawab orang tua sangatlah penting sekali untuk
yang cenderung dimanfaatkan untuk hal yang [Link] kali didengar banyak
4
Singgih D. Gunarsa “psikologi perkembangan anak dan remaja (Jakarta, PT BPK
Gunung Mulia 2008)hlm 202
3
terjerumus ke dalam hal yang negatif yang muncul merupakan akibat proses
perkembangan pribadi remaja yang sedang mencari jati dirinya. Salah satu yang di
merupakan sosialitas manusia yang terjadi pertama kali sejak lahir hingga
kasus kehamilan yang terjadi di luar nikah. Kondisi ini sangat memprihatinkan
B. Rumusan Masalah
Aceh Selatan?
Adapun tujuan penelitian yang ingin diapai dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
Selatan.
D. Kajian Pustaka
dalam ajaran Islam menegaskan bahwa anak adalah amanah Allah [Link]
manusia yang bermoral dan berakhlak karimah. Oleh karena itu, setiap orang tua
kepadanya.5
Kedua, Buku yang ditulis oleh Dr. Ali Qaimi yang berjudul “Menggapai
langit masa depan anak” buku ini membahas bahwa pendidikan merupakan hal
lebih baik.6
Ketiga, Buku yang ditulis oleh Prof. Dr. Zakiah Daradjat yang berjudul
memalas, misalnya ketika ia sedang meminta pinjam uang kepada temannya, yang
oleh karena itu, ia berhasil mengetuk hati temannya itu, tetapi ketika di tagih, tiba-
5
Siti Musda Mulia, Muslimah Perempuan Pembaru Kegamaan Reformis, (Bandung:
Mizan Pustaka, 2005), hlm 403-404.
6
Ali Qaimi, Menggapai langit masa depan anak,(Jakarta: Cahaya, 2002), hlm 142.
7
Prof. Dr. Zakiah Daradjat, Spikologi dakwah, (Jakarta: Pustaka firdaus, 2002) hlm 77.
6
memperbaiki tingkah laku dan membantu remaja dari kesulitan mereka, perbaikan
bagi anak gembel (miskin), mendirikan tempat rekreasi yang sehat bagi remaja.8
Dari pemaparan tentang para peneliti di atas, maka dapat dilihat bahwa
keluarga sangat dituntut karnadi jaman sekarang ini remaja tidak lagi mematuhi
menurut sepengetahuan saya belum ada yang membahas dan meneliti. Oleh sebab
E. Landasan Teori
[Link] terjadi karena masa remaja merupakan peralihan antara masa kehidupan
intelektual dari cara berpikir remaja ini memungkinkan mereka tidak hanya
8
Arifiyani, Penanggulangan Kenakalan Remaja Menurut Konsep Kartini Kartono
Ditinjau dari Perspektif Pendidikan Islam, Skripsi, (Semarang: Universitas Wali Songo, 2015),
hlm. 1.
7
perkembangan.9
F. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
lapangan yaitu penelitian yang langsung terjun ke lokasi penelitian sehingga data
proses sosial yang diadakan diDesa Baru Kecamatan Samadua Kabupaten Aceh
2. Sumber Data
Adapun sumber data yang diperlukan dalam penelitian ini terbagi kepada
a. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari informan
demikian, yang menjadi data primer dalam penelitian ini adalah data yang
9
Prof. Dr. Mohammad Asrori, Psikologi remaja perkembangan peserta didik, (Jakarta: Pt
bumi aksara, 2004) hlm 9
8
b. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang berasal dari buku-buku atau bahan yang
dari perpustakaan, baik dalam bentuk buku, maupun jurnal dan lain sebagainya
penelitian ini saya mengunakan dua teknik yang lazim digunakan dalam
a. Observasi
10
Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan Cet. 2, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003),
hlm.155.
9
mengamati berbagai masalah yang ada diDesa Baru Kecamatan Samadua. Dalam
hal ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran yang tepat mengenai obyek
penelitian11.
b. Wawancara
melakukan sebuah timbal balik atau dalam kata lain merupakan sebuah
percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh dua pihak, yaitu
Target yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mendapatkan
data yang akurat, jujur, dan dapat dipertanggung jawabkan sesuai dengan
c. Dokumentasi
yang tidak dapat dengan observasi, dan wawancara, melaikan hanya dapat
menanggulanginya.
11
Margono, Metodologi Penelitian …hlm.159
12
Ibid, hlm. 165
10
kualitatif, yaitu suatu teknik yang berusaha menuturkan dan menafsirkan data
masyarakat, hubungan antara variabel, dan lain sebagainya yang diperoleh dari
lapangan.
dianalisis
c. Menyususun laporan
d. Menarik kesimpulan
G. Sistematika Penulisan
Penulisan karya ilmiah ini tentu tidak terlepas dari sistematika penulisan.
maka dari itu penulisan penelitian ini merangkap empat bab sebagaimana
penulisan karya ilmiah pada umunmnya. Adapun isi dari penulisan karya ilmiah
3. Bab Tiga, berisi tentang hasil dari penelitian atau kunjungan lapangan
Keluarga.
A. Remaja
1. Pengertian Remaja
seperti puberteit, adolescence, dan youth. Dalam bahasa Indonesia sering pula
antara masa kanak-kanak dan masa dewasa, berlangsung antara usia 12 sampai 21
tahun. Masa remaja terdiri dari masa remaja awal usia 12-15 tahun, masa remaja
pertengahan usia 15-18 tahun, dan masa remaja akhir usia 18-21 tahun.1 Masa
remaja disebut juga sebagai periode perubahan, tingkat perubahan dalam sikap,
pada usia SMA merupakan remaja pada masa pertengahan yang termasuk pada
usia 15 – 18 tahun. Pada usia ini, para remaja memiliki rasa ingin tahu yang besar
dan mudah dipengaruhi oleh orang lain. Pada tahap ini remaja sedang mencari
identitas diri, keinginan untuk memiliki pasangan (kekasih), mempunyai rasa cinta
1
(Monks, Knoers & Haditomo, Psikologi Perkembangan: Pengantar DalamBerbagai
Bagiannya. (Yogyakarta: Gajah Mada University Press 2002) hlm 88
2
Hurlock, Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang. Rentang Kehidupan.
(Jakarta : Erlangga Khatimah,2004)hlm 78
2. Karakteristik Masa Remaja
masa remaja sebagai periode yang penting, masa remaja sebagai periode
peralihan, masa remaja sebagai periode perubahan, masa remaja sebagai periode
bermasalah, masa remaja sebagai masa mencari identitas, masa remaja sebagai
usia yang menimbulkan ketakutan dan masa remaja sebagai ambang masa
dewasa3.
masa anak ke masa dewasa, meliputi semua perkembangan yang dialami sebagai
remaja secara global berlangsung antara umur 12–21 tahun, dengan pembagian
usia 12-15 tahun adalah masa remaja awal, 15-18 tahun adalah masa remaja
Menurut Santrock masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau
pencarian identitas diri.6 Gagasan Erickson ini dikuatkan oleh James Marcia yang
menemukan bahwa ada empat status identitas diri pada remaja yaitu identity
Karakteristik remaja yang sedang berproses untuk mencari identitas diri ini juga
3
Gunarsa, S, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.(Jakarta: BPK Gunung Mulia
2001) hlm 11
4
Ibid…17
5
Monk, et al, Psikologi Perkembangan: Pengantar DalamBerbagai Bagiannya.
(Yogyakarta: Gajah Mada University Press 2002) hlm 72
6
Santrock, Perkembangan Remaja. Edisi Keenam. (Jakarta:Erlangga,2003) hlm 69
karakteristik remaja yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada diri
remaja, yaitu:
b. Ketidakstabilan emosi.
hidup.
memenuhi semuanya.
g. Senang bereksperimentasi.
h. Senang bereksplorasi.
berkelompok.
memiliki karakteristik yang masih belum stabil dan sangat kritis. Mereka lebih
dominan dalam mencari jati diri. Sehingga sering terlibat dalam beberapa
a. Masa remaja awal (12-15 tahun), dengan ciri khas antara lain:
2. Ingin bebas.
abstrak.
b. Masa remaja tengah (15-18 tahun), dengan ciri khas antara lain:
c. Masa remaja akhir (18-21 tahun), dengan ciri khas antara lain:
dimulai dengan masa remaja awal, masa remaja tengah dan masa remaja akhir.
7
Monk, et al, Psikologi Perkembangan: Pengantar DalamBerbagai Bagiannya.
(Yogyakarta: Gajah Mada University Press 2002) hlm 55
Tahapan ini harus dilalui oleh para remaja hingga mereka dapat mencapai
kedewasaan.
tingkah laku, perbuatan atau tindakan remaja yang bersifat asocial bahkan
pendapat umum yang dianggap sebagai acceptable dan baik oleh suatu lingkungan
menurut Hurlock dalam Willis mengatakan bahwa kenakalan remaja dan anak
bersumber dari moral yang sudah berbahaya atau beresiko (Moral Hazard).8
Menurutnya, kerusakan moral bersumber dari keluarga yang sibuk, keluarga retak,
dan keluarga single parent dimana anak hanya diasuh oleh ibu. Kewibawaan
8
Hurlock dalam Willis, Kenakalan Remaja ( Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2005)
hlm 98
sekolah dalam mengawasi anak. Kemudian, peranan agama tidak mampu
berusia 16-18 tahun, jika perbuatan inidilakukan oleh orang dewasa maka akan
yang dimaksud dengan kenakalan remaja adalah suatu tindakan anak muda yang
dapat merusak dan mengganggu, baikterhadap diri sendiri maupun orang lain. 10
dan norma agama disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya keadaan kejiwaan
yang tidak sehat. Pada umumnya remaja mempunyai perilaku tidak sehat atau
perilaku nakal untuk memperoleh suatu kepuasan bagi dirinya kepuasan yang
diperoleh tersebut biasanya tidak hanya berupa materi atau fisik tetapi dapat
menjadi suatu kepuasan bagi psikologisnya. Perilaku tidak sehat yang dilakukan
oleh remaja disebabkan oleh berbagai faktor, baik faktor dalam dirinya maupun
gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anakdan remaja yang disebabkan
9
Gunawan , Perilaku Remaja , (Jakarta: Bumi AKsara, 2011) hlm 29-30
10
Ibid … hlm 112
oleh satu bentuk pengabaian sosialsehingga mereka itu mengembangkan bentuk
Ditinjau dari usia remaja, usia tersebut merupakan usia sekolah bagi anak.
Di lingkungan sekolah posisi remaja adalah sebagai siswa, jadi kenakalan remaja
yang dilakukan oleh peserta didik dapat disebut sebagai kenakalan siswa. Dari
siswa yang berakibat siswa melanggar aturan, tata tertib, dan norma kehidupan di
perasaan dansosial yang sudah dimulai dari rumah. Dengan kata lain, sekolah
kecakapan yang dibutuhkan.”12 Kondisi sekolah yang tidak baik dapat menganggu
proses belajar mengajar anak didik, yang pada gilirannya dapat memberikan
gejala sakit atau patologis secara sosial yang dilakukan oleh remaja dan perbuatan
11
Kartono, Kenakalan Remaja dalam Masyarakat, ( Jakarta : Bumi Aksara, 2009) hlm 87
12
Santoso, Sikap Remaja, (Yogyakarta: Andi Offse,2010) hlm 95
Kenakalan remaja adalah perilaku remaja melanggar status,
membahayakan diri sendiri, menimbulkan korban materi pada orang lain, dan
perilaku menimbulkan korban fisik pada orang lain. Perilaku melanggar status
merupakan perilaku dimana remaja suka melawan orang tua, membolos sekolah,
pergi dari rumah tanpa pamit. Perilaku membahayakan diri sendiri, antara lain
dengan benda.13
3. Kematangan emosi
emosi secara tepat dan wajar dengan pengendalian diri, memiliki kemandirian,
dirinya kepada orang lain. Rasa konsekuen adalah rasa tanggung jawab remaja
13
Sarwono, S.W. (2001). Psikologi Remaja. Jakarta: Rajawali Pers.
terhadap semua akibat dan keputusan yang telah diambil. Penerimaan diri adalah
kemampuan remaja untuk dapat menerima keadaan diri sendiri, baik kelemahan
maupun kelebihan, menerima diri secara fisik maupun psikis dengan baik.14
4. Konsep diri
Konsep diri adalah penilaian remaja tentang diri sendiri yang bersifat fisik,
psikis, sosial, emosional, aspirasi, dan prestasi. Konsep diri fisik adalah gambaran
orang lain. Konsep diri psikis adalah gambaran remaja tentang kemampuan dan
diri sosial adalah gambaran remaja tentang hubungannya dengan orang lain,
dengan teman sebaya, dengan keluarga, dan lain-lain. Konsep diri emosional
adalah gambaran remaja tentang emosi diri, seperti kemampuan menahan emosi,
diri aspirasi adalah gambaran remaja tentang pendapat dan gagasan, kreativitas,
dan cita-cita. Konsep diri prestasi adalah gambaran remaja tentang kemajuan dan
keberhasilan yang akan diraih, baik dalam masalah belajar maupun kesuksesan
hidup.15
14
Albin, R. S. (1996). Emosi Bagaimana Mengenal, Menerima dan Mengarahkannya.
Yogyakarta: Kanisius.
15
Hurlock, E. B. (1996). Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang
Kehidupan Jakarta: Erlangga Kusumaredi, L.A. (2011). Fenomena kenakalan remaja di Indonesia.
[Link] Diakses pada tanggal 13 April 2018.
5. Kematangan emosi, konsep diri dan kenakalan remaja
pada emosi yang menyangkut semua wilayah perilaku afektif dengan melibatkan
aspek biologis, kognitif, dan sosial. Kematangan emosi merupakan proses dimana
pribadi individu secara terus menerus berusaha mencapai suatu tingkatan emosi
yang sehat, baik secara intrafisik maupun interpersonal. Individu yang secara
emosional telah matang dapat menentukan dengan tepat kapan dan sejauhmana
dirinya perlu terlibat dalam suatu masalah sosial serta dapat turut memberikan
Keberadaan emosi di satu sisi dapat menjadikan orang pasif dan tidak
sisi lain dapat menjadi sumber energi yang membuat seseorang sanggup
melakukan apa saja secara tepat tanpa terpikirkan sebelumnya. Seseorang perlu
emosi moral, tetapi belajar mengekspresikan emosi dengan cara-cara yang lebih
dapat diterima atau disetujui oleh kelompok sosial dan pada saat yang sama tetap
kurang matang. Remaja menjadi nakal karena belum mampu melakukan kontrol
emosi secara lebih tepat dan mengekpresikan emosi dengan cara-cara yang
inteprestasi dari lingkungan, penilaian orang lain, atribut, dan perilaku diri.
sehingga bagimana orang lain memperlakukan dan apa yang dikatakan orang lain
tentang individu akan dijadikan acuan untuk menilai diri sendiri. Remaja dengan
konsep diri positif akan mampu mengatasi dirinya, memperhatikan dunia luar dan
negatif akan sulit mengganggap suatu keberhasilan diperoleh dari diri sendiri,
tetapi karena bantuan orang lain, kebetulan, dan nasib semata dan biasanya
mengalami kecemasan yang tinggi. Remaja dengan konsep diri positif berciri
spontan, kreatif dan orisinil, menghargai diri sendiri dan orang lain, bebas dan
dapat mengantisipasi hal negatif, serta memandang diri secara utuh, disukai,
antisosial adalah remaja yang memiliki konsep diri rendah. Perspektif kontrol
kontrol diri rendah memiliki kekuatan ego rendah, kurang mampu menunda
kepuasan (kurang sabar), kurang toleran pada frustrasi dan lebih impulsif.
Perilaku sosial yang tidak tepat akan nampak ketika derajad kontrol sosial tidak
cukup kuat menolak godaan yang ingin langsung dipuaskan. Perilaku nakal
16
Haryono. (1996). Kematangan Emosi, Pemikiran Moral, dan Kenakalan Remaja.
Semarang: FIP-IKIP Semarang.
remaja dapat diatasi dengan mempertinggi konsep diri. Perspektif teori
mencapai kepuasan pribadi dan perasaan efektif dengan cara mencari aktivitas dan
a. Faktor Kepribadian
system psikosomatis dalam individu yang turut menentukan caranya yang unik
psikisnya). Masa remaja dikatakan sebagai suatu masa yang berbahaya. Pada
periode ini, seseorang meninggalkan masa anak-anak untuk menuju masa dewasa.
Masa ini di rasakan sebagai suatu Krisis identitas karena belum adanya pegangan,
Faktor ini dapat mencakup segi cacat atau tidaknya secara fisik dan segi
jenis kelamin. Ada suatu teori yang menjelaskan adanya kaitan antara cacat tubuh
dengan tindakan menyimpang (meskipun teori ini belum teruji secara baik dalam
17
Ibid
18
Hurlock dalam Willis, Kenakalan Remaja… hlm.120
kenyataan hidup). Menurut teori ini, seseorang yang sedang mengalami cacat
berlaku, setelah selesai menjalankan proses sanksi hukum (keluar dari penjara),
sering kali pada saat kembali ke masyarakat status atau sebutan “eks narapidana”
yang diberikan oleh masyarakat sulit terhapuskan sehingga anak tersebut kembali
terasingkan.20
d. Faktor Ekstern
karena bimbingan dan kasih sayang langsung dari orang tuanya sangat kurang.
Kondisi orang tua yang lebih mementingkan karier daripada perhatian kepada
Kasus kenakalan remaja yang muncul pada keluarga kaya bukan karena
19
Kartono, Kenakalan Remaja …hlm. 92.
20
Hurlock dalam Willis, Kenakalan Remaja … hlm. 122
kurangnya kebutuhan materi melainkan karena kurangnya perhatian dan kasih
b. Kontak Sosial dari Lembaga Masyarakat Kurang Baik atau Kurang Efektif
pola perilaku anak muda sekarang kurang berjalan dengan baik, akan
hukum atau norma yang berlaku, seperti mabuk-mabukan yang dianggap hal yang
wajar, tindakan perkelahian antara anak muda dianggap hal yang biasa saja. Sikap
anak muda.22
Kondisi alam yang gersang, kering, dan tandus, dapat juga menyebabkan
terjadinya tindakan yang menyimpang dari aturan norma yang berlaku, lebih-lebih
kepentingan ekonomi.
Kesenjangan ekonomi antara orang kaya dan orang miskin akan mudah
21
Kartono, Kenakalan Remaja… hlm. 94
22
Gunawan ,Perilaku Remaja… hlm. 32
(antara lain terjadinya konflik antar partai politik atau terjadinya peperangan antar
kelompok dan perang saudara) dapat mempengaruhi jiwa remaja yang kemudian
komunikasi dan hiburan yang mempercepat arus budaya asing yang masuk akan
banyak mempengaruhi pola tingkah laku anak menjadi kurang baik, lebih-lebih
anak tersebut belum siap mental dan akhlaknya, atau wawasan agamanya masih
rendah sehingga mudah berbuat hal-hal yang menyimpang dari tatanan nilai-nilai
C. Konsep Keluarga
1. Pengertian Keluarga
(Ki Hajar Dewantar dalam Abu&Nur) bahwa keluarga berasal dari bahasa Jawa
yang terbentuk dari dua kata yaitu kawula dan warga.25 Didalam bahasa Jawa
kuno kawula berarti hamba dan warga artinya anggota. Secara bebas dapat
diartikan bahwa keluarga adalah anggota hamba atau warga saya. Artinya setiap
anggota dari kawula merasakan sebagai satu kesatuan yang utuh sebagai bagian
dari dirinya dan dirinya juga merupakan bagian dari warga yang lainnya secara
keseluruhan.
23
Monk, et al, Psikologi Perkembangan … hlm. 48.
24
Gunawan ,Perilaku Remaja … hlm. 37
25
Abu & Nur, Pengertian Keluarga, (Yogyakarta: Andi Offse, 2001) hlm 176
Keluarga adalah lingkungan dimana beberapa orang yang masih memiliki
sebagainya. Keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak yang belum
menikah disebut keluarga batih. Sebagai unit pergaulan terkecil yang hidup dalam
wadah tersebut.
hidup.
suatu hubungan seks yang tetap, untuk menyelenggarakan hal-hal yang berkenaan
26
Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar. (Jakarta : Rajawali,2004) hlm 23
27
Khairuddin, Sosiologi Keluarga. (Yogyakarta : Nurcahay, 2008) hlm 12
2. Susunan kelembagaan yang berkenaan dengan hubungan perkawinan yang
5. Merupakan tempat tinggal bersama, rumah atau rumah tangga yang walau
kelompok keluarga.
a. Peran Keluarga
1. Peran Ayah
pemberi rasa aman bagi anak dan istrinya dan juga sebagai anggotadari kelompok
28
Istiati, Peran Keluarga , (Yogyakarta : Graha Ilmu,2010), hlm 34
2. Peran Ibu
Sebagai seorang istri dari suami dan ibu dari anak-anaknya, dimana peran
ibu sangat penting dalam keluarga antara lain sebagai pengasuh dan pendidik
nafkah. Selain itu ibu juga berperansebagai salah satu anggota kelompok dari
tinggal.29
b. Fungsi Keluarga
Mubarak keluarga adalah perkumpulan dua atau lebihindividu yang terikat oleh
keluargasebagai unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari suami istri
dananaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya.32 Keluarga merupakan
29
Ibid….. 40
30
Fatimah,Fungsi Keluarga, ( Jakarta : PT Renika Cipta,2010). Hlm 78
31
Mubarak, pengertian Keluarga ( Bandung : Rosdakarya, 2009) hlm 56
32
Wirdhana, I., et al. Komunikasi Efektif Orangtua dengan Remaja. (Jakarta:
BKKBN,2012) hlm 67
peranan orang tua menjadi amatsentral dan sangat besar bagi pertumbuhan dan
identitaskeluarga.
masa mendatang.
33
Ratnasari,Fungsi Keluarga, ( Bandung : PT Rosdakarya,2011) hlm 112
dalammememuhi peranannya sebagai orang dewasa untuk kehidupan dewasa
sebagai penunjang bagi pembahasan hasil penelitian, oleh karena itu deskripsi
keseluruhan.
Aceh Selatan. Desa Baru merupakan salah satu Gampong di Kecamatan Sama
Dua Kabupaten Aceh Selatan. Desa Baru Kecamatan Samadua terdiri dari 5
dusun yaitu dusun Kayee, dusun Mesjid, dusun Blang dan dusun Baroe.1
berikut:
1
Profil Desa Baru Kecamatan Samadua Kabupaten Aceh Selatan
b. Jarak Ibu Kota ke Kecamatan0,5 kilometer
Luas wilayah Desa Baru Kecamatan Samadua adalah 170.876 Ha yang terdiri
dari tanah halaman dan bangunan, persawahan, tanah kosong, dan daerah lainnya.
jumlah penduduk 817 jiwa yang terdiri dari laki-laki 392 jiwa, dan perempuan 425
Sumber : Profil Desa Baru Kecamatan Samadua diambil pada tanggal 2 Januari
2017
atau kepala keluarga di Desa Baru Kecamatan Samadua cukup banyak, karena di
Desa Baru Kecamatan Samadua ini kebanyakan terdiri dari pasangan suami istri
2
Profil Desa Baru Kecamatan Samadua Kabupaten Aceh Selatan
yang tinggal menetap di Desa Baru Kecamatan Samadua. Hal tersebut
Tabel 1.2
Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian
No. Jenis Mata Pencaharian Jumlah (Orang)
1. Petani 95
2. Buruh Tani 112
3. Perdagangan 75
4. Pekerja Bangunan 83
5. Angkutan dan jasa 23
6. Pegawai negeri sipil (PNS) 89
7. TNI/Polri 28
8. Pensiunan PNS/TNI/Polri 25
9. Pengusaha 58
10 Tidak Bekerja 229
Jumlah 817
Tabel 1.3
Jumlah Penduduk Menurut Jenjang Pendidikan
No. Jenjang Pendidikan Jumlah
3. SD/sederajat 76
4. SMP/Sederajat 173
5. SMA/Sederajat 257
6. Perguruan Tinggi 71
Jumlah 817
Desa Baru Kecamatan Samadua dipimpin oleh seorang Kepala Desa atau
staf yang terdiri dari kaur pemerintahan, kaur pembangunan, kaur kesejahteraan
rakyat (kesra), kaur keuangan, kaur umum, sekretaris desa (sekdes), dan kepala
dusun.
Baru Kecamatan Samadua mendapat pengaruh yang besar dari agama Islam.
malam jum`at, dalail khairat (zikir), tahlilan bersama dan lain sebagainya. Adat
istiadat budaya Aceh juga masih dilakukan secara turun temurun, misalnya
budaya gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini terlihat pada
setiap ada warga yang sedang mengadakan acara seperti pernikahan, hajatan,
panen padi, masyarakat Desa Baru Kecamatan Samadua saling membantu satu
sama lain. Kerja bakti pada masyarakat Desa Baru Kecamatan Samadua sering
secara rutin, dan setiap sebulan sekali masyarakat Desa Baru Kecamatan Samadua
masing-masing.
3
Hasil wawancara dengan Syamsuar, S, Keuchik Desa Baru Keamatan Samaduapada
tanggal 3 Januari 2018.
B. Penyebab Terjadinya Kenakalan Remaja di Desa Baru Kecamatan
1. Faktor Pribadi
kenakan remaja adalah faktor yang berasal dari diri pribadi [Link]
asusila. Hal ini sebagaiamana yang disampaikan oleh salah satu responden
berikut:
Kenakalan remaja terjadi karena remaja tidak memiliki sikap mental yang
[Link] kurang mengenali dirinya dengan baik, sehingga sanagat
mudah mengikuti hal-hal yang tidak baik. Jika remaja memiliki sikap
mental yang baik, maka ia dapat dengan mudah memilih hal yang baik dan
buruk untuk dirinya.4
Responden lainnya juga menyatakan hal yang tidak jauh berbeda dengan
jawaban yang disampaikan leh respnden di atas, berikut ini jawaban yang
disampaikan:
Selain itu remaja yang memiliki kepribadian yang kurang baik, akan
memiliki keyakinan yang lemah. Sehingga, saat ada pihak lain yang mengajak
untuk melakukan sesuatu, maka ia akan menngikutinya. Hal ini sebagaimana yang
bahwa kenakalan remaja terjadi dikarenakan faktor dalam diri remaja tersebut.
Remaja yang memiliki kepribadian yang kurang baik akan sangat mudah terjebak
2. Faktor Keluarga
Keluarga juga menjadi peran penting untuk membina kualitas moral pada
terjadi. Hasil wawancara yang berkaitan dengan faktor keluarga dapat diuraikan
sebagai berikut:
5
Hasil wawancara dengan Mukhtar, MasyarakatDesa Baru Keamatan Samadua pada
tanggal 3 Januari 2018.
Perkembangan diri remaja sangat bergantung pada didikan yang diberikan
keluarga. Jika keluarga mampu mendidik dengan baik, maka anak akan
berkembang dengan baik, akan tetapi jika pendidikan dalam keluarga
kurang baik, maka remaja akan berkembang dengan tidak baik. Oleh
karena itu, keluarga memberikan kontribusi yang sangat besar bagi
remaja.6
oleh salah satu masyarakat lainnya. Hasil wawancara tersebut sebagai berikut:
Orang tua yang mendidik anak dengan baik, akan menciptakan anak yang
baik dan berakhlak mulia, akan tetapi jika orang tua melakukan kesalahan
dalam mendidik anak, maka anak akan menjadi kurang baik, seperti anak
yang teralu dimanjakan, orang tua yang sering bertengkar di depan
anaknya memberikan dampak biuruk bagi anak, dan juga komunikasi yang
kurang baik dengan anak, mengakibatkan anak merasa jauh dari orang
tua.7
merupakan faktor yang penting dalam membentuk remaja yang [Link] karena
itu, keluarga membrikan pengaruh yang sangat besar terhadap kenakalan reamaja
yang terjadi. Semakin baik sebuah keluarga mendidik anaknya, maka akan
semakin baik pula perkembangan remaja tersebut dan tidak mudah terjebak dalam
kenakalan remaja.
[Link] dengan teman sebaya yang nakal menambah besar resiko menjadi
6
Hasil wawancara dengan Nuraini, MasyarakatDesa Baru Keamatan Samadua pada
tanggal 4 Januari 2018.
7
Hasil wawancara dengan Zakiah, MasyarakatDesa Baru Keamatan Samadua pada
tanggal 3 Januari 2018.
resiko remaja untuk menjadi nakal. Hasil wawancara menunjukkan faktor tersebut
ini:
oleh lingkungan dan pergauan yang dimilikinya. Hal ini dikarenakan usia remaja,
merupakan usia yang masih labil dan belum memiliki prinsip diri yang kuat,
sehingga anak mudah sekali terpengaruh. Hal ini juag disampaikan oleh salah satu
lingkungan dan pergaulan yang kurang baik, akan sangat rentan terpengaruh dan
mengikuti pergaulan bebas. Hal ini dikarenakan remaja bergaul dan tumbuh di
lingkungan masyarakat baik dengan teman sebayanya maupun dengan orang lain
8
Hasil wawancara dengan Siti Habibah, MasyarakatDesa Baru Keamatan Samadua pada
tanggal 5 Januari 2018.
9
Hasil wawancara dengan Ratna Dewi, MasyarakatDesa Baru Keamatan Samadua pada
tanggal 5 Januari 2018.
C. Penanggulangan Kenakalan Remaja dan Fungsi Keluarga di Desa Baru
1) Fungsi Keluarga
Orang tua atau ibu dan ayah memegang peranan yang sangat penting dan
ibunyalah yang selalu ada di sampingnya oleh karena itu ia meniru peranggai
ibunya dan ayahmya, seorang anak lebih cinta kepada ibunya, apabilah ibu itu
menjalankan tugasnya dengan baik. Ibu merupakan orang yang mula-mula dikenal
yang terkadang dalam hati anaknya, juga jika anak telah mulai besar, disertai
kecil, anak dibesarkan dan dididik oleh keluarga, khususnya orang [Link]
karena itu, orang tua memegang peranan penting. Hal ini sebagaimana yang
tua, dalam hal ini ayah dan ibu menjadi panutan bagi [Link], apapun yang
mengajarkan tentang arti dari suatu tangung jawab. Kedisplinan juga berperan
penting dalam perkembangan anak agar anak tidak terbiasa bergantung pada orang
lain karena kemalasan. Peran orang tua sangatlah penting dalam memberikan
perhatian dan kasih sayang karena itu sangat diperlukan untuk menjaga suatu
yang baik, bimbingan yang baik, nasehat yang baik, dan juga mengingatkan
Jika anak membuat kesalahan sebaiknya orang tua tidak memarahi ataupun
10
Hasil wawancara dengan Nasrullah, MasyarakatDesa Baru Keamatan Samadua pada
tanggal 3 Januari 2018.
Keluarga mempunyai peranan di dalam pertumbuhan dan perkembangan
pribadi seorang anak. Sebab keluarga merupakan lingkungan pertama dari tempat
dibutuhkan seorang anak. Dan cara bagaimana pendidikan itu diberikan akan
menentukan. Sebab pendidikan itu pula pada prinsipnya adalah untuk meletakkan
dasar dan arah bagi seorang anak. Pendidikan yang baik akan mengembangkan
kedewasaan pribadi anak tersebut. Anak itu menjadi seorang yang mandiri, penuh
tangung jawab terhadap tugas dan kewajibannya, menghormati sesama manusia dan
hidup sesuai martabat dan citranya. Sebaliknya pendidikan yang salah dapat
membawa akibat yang tidak baik bagi perkembangan pribadi anak. Salah satu
berguna bagi semua [Link] lingkungan sosial yang lebih besar orang tua juga
memiliki peran, orang tua adalah bagian dari sebuah kelompok masyarakat yang
lebih besar. peran yang dijalankan tentu saja berbeda dengan peran didalam
keluarga. Hasil wawancara menunjukkan bahwa orang tua harus mendidik anak
dengan baik
Para orang tua seharusnya sudah menyadari bahwa mereka adalah calon
tenaga pendidik bagi anak-anaknya kelak. Sehingga, ketika sudah
dikaruniai buah hati, mereka tidak lagi canggung dengan peran itu. Peran
sebagai tenaga pendidik yang harus diemban oleh para orang tua tentu saja
tidak sama dengan peran tenaga pendidik yang ada dilembaga-lembaga
pendidikan.11
11
Hasil wawancara dengan Ratna Dewi, MasyarakatDesa Baru Keamatan Samadua pada
tanggal 5 Januari 2018.
Hasil wawancara di atas menunjukkan bahwa orang tua harus dapat
mendidik anaknya denagn baik dan bisa menjadi panutan bagi [Link],
perilaku baik yang dilakukan oleh orang tua dapat diikuti oleh [Link],
anak yang tumbuh dalam keluarga yang memiliki pendidikan dan pengasuhan
Kenakalan remaja juga dirasakan oleh pihak sekolah khususnya oleh para
pendidik. Hal ini nseabagaimana yang disampaikan oleh salah satu guru di Desa
Baru berikut:
Dari apa yang kami ketahui selama ini bahwa faktor penyebab kasus atau
kenakalan siswa, diantaranya adalah faktor kurang disiplinnya siswa itu
sendiri, pengaruh pergaulan dengan temannya (sesama siswa), rendahnya
minat belajar atau kurangnya dorongan atau motivasi belajar pada dirinya,
dan disamping itu juga disebabkan karena faktor kondisi sosial ekonomi
orang tua, dimana siswa bersangkutan kerap bolos sekolah atau pulang
lebih awal dari sekolah hanya sekedar membantu pekerjaan orang tua di
rumah.12
Lembaga pendidikan dalam hal ini seklah, dapat memberikan solusi dalam
menyimpang dari peraturan atau tata tertib sekolah maka harus ada usaha yang
sistematis dan terencana, dalam hal ini ada beberapa prosedur yang harus
12
Hasil wawancara dengan Murniati, Guru diDesa Baru Keamatan Samadua pada tanggal
5 Januari 2018.
bekerja disatu meja untuk mengatasi kelakuan-kelakuan menentang,
melamun dan hilir mudik. (b) Ekstingsi. Ekstingsi dilakukan dengan
meniadakan peristiwa-peristiwa penguat tingkah laku. (c) Satiasi. Satiasi
adalah suatu prosedur menyuruh seseorang melakukan perbuatan
berulang-ulang sehingga siswa menjadi lelah atau jera.(d) Perubahan
Lingkungan [Link] tingkah laku dapat dikendalikan oleh
perubahan kondisi stimuli yang mempengaruhi tingkah laku. (e)
Hukuman. Untuk memperbaiki tingkah laku, hukuman hendaknya di
terapkan di kelas dengan bijaksana”.13
adanya penanaman nilai-nilai agama pada diri siswa, dan guru harus dapat
menjadi contoh atau suri tauladan bagi siswa-siswi sehingga siswa merasa ada
figur yang pantas untuk [Link] ini dikarenaan guru dapat memberikan
bimbingan kepada remaja sehingga remaja dapat memiliki panutan yang tepat.
remaja dengan baik dan mengarahkan mereka terhadap hal-hal positif. Selain itu,
13
Hasil wawancara dengan Nurbaiti, Guru diDesa Baru Keamatan Samadua pada tanggal
5 Januari 2018.
14
Hasil wawancara dengan Amirullahh, MasyarakatDesa Baru Keamatan Samadua pada
tanggal 5 Januari 2018.
lembaga pendidikan juga dapat menjalin kerjasama dengan orang tua dan
perkembangan mereka.
3) Pengaruh Masyarakat
mengatakan:
15
Hasil wawancara dengan KepalaDesa Baru Keamatan Samadua pada tanggal 3 Januari
2018.
16
Hasil wawancara dengan Tgk. Amri, Tokoh Agama di Desa Baru Keamatan Samadua
pada tanggal 3 Januari 2018.
mabuk-mabukan baik di acara tertentu maupun pada saat mereka beristirahat pada
malam hari, hal ini dilakukan karena sudah merupakan kebiasaan mereka
1) Keluarga
temannya, sehingga orang tua tidak selalu dapt memperhtikan dan mengawasi
anaknya. Hal ini sebagaiamana yang disampaikan oleh responden berikut ini:
tua tidak selalu dapt mendampingi anak, terlbih lagi remja yang mulai memiliki
2) Lembaga Pendidikan
Mengenai hal ini, memang ada sejumlah kendala yang dialami dalam
melakukan pembinaan dan pencegahan kenakalan siswa tersebut,
diantaranya, yaitu: lemahnya data-data atau informasi tentang riwayat
hidup siswa/klien yang bermasalah, ketidakterbukaan siswa/klien
mengenai kasus atau permasalahannya, kurangnya keperdulian orang
tua/wali siswa terhadap kasus atau permasalahan yang dialami
putra/putrinya, dan juga kendala keterbatasan guru mata pelajaran dalam
memberikan materi pendidikan karakter di kelas.18
17
Hasil wawancara dengan Nasrullah, MasyarakatDesa Baru Keamatan Samadua pada
tanggal 3 Januari 2018.
18
Hasil wawancara dengan Azhari, Guru MTsN diDesa Baru Keamatan Samadua pada
tanggal 5 Januari 2018.
dan disamping itu juga kendala dalam pemberian pendidikan karakter
melalui kegiatan PBM di kelas karena keterbatasan waktu jam mengajar
guru mata pelajaran.19
Dari paparan data diatas dapat disimpulkan bahwa kendala sekolah dalam
kendala, yaitu: kendala internal sekolah, dan kendala eksternal. Kendala internal
yang selalu dialami guru dalam menanggulangi kenakalan siswa melalui kegiatan
bakat dan minatnya di sekolah, karena keterbatasan alokasi waktu untuk kegiatan
tersebut.21
sekitar sekolah, seperti: lokasi sekolah dekat dengan jalan raya dan tingkat sosial
19
Hasil wawancara dengan Murniatai,Guru SMPN diDesa Baru Keamatan Samadua pada
tanggal 5 Januari 2018
20
Hasil wawancara dengan Cut Linda, Guru MTsN diDesa Baru Keamatan Samadua pada
tanggal 3 Januari 2018
21
Hurlock, Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang. Rentang Kehidupan.
(Jakarta : Erlangga Khatimah,2004), hlm.84.
ekonomi rendah di kalangan orang tua/wali siswa, cenderung memberi beban atau
dengan dua kondisi, yaitu membantu pekerjaan orang tua mencari nafkah, dan
data menunjukkan bahwa kendala yang tergolong selalu dialami sekolah maupun
riwayat kehidupan anak (siswa) sehingga guru sulit untuk membantu pemecahan
menanganinya. Begitu juga kendala lain yang selalu dialami guru dalam hal ini
guru PKn dalam upaya menanggulangi kenakalan siswa melalui proses, kegiatan
pendidikan karakter dengan materi pelajaran di sekolah, serta belum adanya acuan
sikap, perilaku yang diinginkan atau berkaitan dengan standar pendidikan karakter
siswa untuk SMP. Sedangkan kendala faktor eksternal yaitu kondisi lingkungan
22
Ibid, … hlm. 87.
Di samping itu temuan penelitian menunjukkan bahwa tingkat sosial
ekonomi rendah di kalangan orang tua/wali siswa, cenderung memberi beban atau
dengan dua kondisi, yaitu membantu pekerjaan orang tua mencari nafkah, dan
menuntut ilmu di sekolah. Kondisi ini tentu tidak mendukung upaya guru atau
akan menjadi daya tarik tersendiri atau sebagai penyebab munculnya kenakalan di
3) Masyarakat
baik maka pengikut juga baik dan sebaliknya, akan tetapi ini dilakukan tidak
mudah karena tidak semua remaja mau menerimanya. Hasil wawancara mengenai
23
Hasil wawancara dengan Mukhatruddin, Pemuka Adat diDesa Baru Keamatan Samadua
pada tanggal 3 Januari 2018
2. Ketidakpedulian orang tua terhadap anak
dan masyarakat dalam mengatasi kenakalan remaja tidak mudah, mereka juga
seks bebas.
antara lain
Lain halnya dengan ustad kendalanya yaitu sistem pelaksanaan adat yang
dan kurangnya pendidikan moral dalam keluarga serta Sifat acuh tak acuh tentang
kegiatan keagamaan.
24
Hasil wawancara dengan Tgk. Zulkifli, Ustadz diDesa Baru Keamatan Samadua pada
tanggal 3 Januari 2018
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
angka kenakalan remaja tinggi, salah satu kenakalan remaja yang banyak terjadi
beristirahat pada malam hari, hal ini dilakukan karena sudah merupakan kebiasaan
sebagaimana telah diuraikan pada bagian sebelumnya, maka hasil penelitian ini
ditimbulkan oleh dua faktor utama, yaitu faktor internal pada diri remaja itu
sendiri, dan faktor eksternal dalam hal ini faktor lingkungan keluarga serta
aspek pembinaan dari kelauarga, masyarakat dan sekolah dan aspek pencegahan
dalam dua faktor kendala, yaitu: keterbatasan waktu keluarga dalam megawasi,
kurangnya koordinasi lembaga pendidikan ddengan orang tua dan kurangnya
B. Saran
antara lain:
2. Bagi Orang Tua, hendaknya perlu proaktif dan menjalin kerjasama yang baik
melalui komunikasi yang intensif kepada pihak sekolah dan guru serta
dalam hal ini putra-putrinya dapat ditanggulangi secara dini. Dengan demikian
sekolah.
3. Bagi Peneliti lain, perlu adanya penelitian lebih lanjut dan secara mendalam
kalangan remaja.
1
DAFTAR PUSTAKA
mencapai sasaran ?
didesentralisasikan ke sekolah?
didesentralisasikan ke sekolah?
sekolah?
ke sekolah?
15. Bagaimana pelaksanaan fungsi keuangan yang didesentralisasikan ke
sekolah?
didesentralisasikan ke sekolah?
sekolah?
didesentralisasikan ke sekolah?
1. Identitas Diri
Nama : Rahma Erviana Fitri
Tempat/Tanggal Lahir : Desa Baru, 2 Februari 1995
Jenis kelamin : Perempuan
Pekerjaan/Nim : Mahasiswa/361303396
Agama : Islam
Kebangsaan/Suku : Indonesia/Aceh
Status : Belum Kawin
Alamat : Desa Baru , Kec. Samadua
2. Orang Tua/wali
Nama Ayah : A M Syukri
Pekerjaan : PNS
Nama Ibu : Siti Saleha
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga (IRT)
3. Riwayat Pendidikan
a. SD Kasik Putih : Tahun Lulus 2007
b. SMP Negeri 1 Samadua : Tahun Lulus 2010
c. SMA Negeri 1 Tapaktuan : Tahun Lulus 2013