0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan72 halaman

Penanggulangan Kenakalan Remaja Keluarga

Diunggah oleh

weskerml1407
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan72 halaman

Penanggulangan Kenakalan Remaja Keluarga

Diunggah oleh

weskerml1407
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENANGGULANGAN KENAKALAN REMAJA

DAN FUNGSI SOSIAL KELUARGA


(Studi Desa Baru Kecamatan Samadua Kabupaten Aceh Selatan)

SKRIPSI

Diajukan Oleh:

RAHMA ERVIANA FITRI


NIM. 3613033396
Mahasiswa Prodi Sosiologi Agama
Fakultas Ushuluddin dan Filsafat

FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI AR-RANIRY
DARUSSALAM - BANDA ACEH
1439 H/2018 M
ii
PENANGGULANGAN KENAKALAN REMAJA DAN FUNGSI SOSIAL
KELUARGA
(studi Desa Baru Kecamatan Samadua Kabupaten Aceh Selatan)

ABSTRAK

Nama : Rahma Erviana Fitri


NIM : 361303396
Fakultas/Jurusan : Ushuluddin dan Filsafat/ Sosiologi Agama
Pembimbing I : Dr. T. Safir Iskandar Wujaya, MA
Pembimbing II : Zuherni, M. Ag
Kata Kunci : Kenakalan Remaja dan Fungsi Sosial Keluarga

Remaja merupakan suatu tahap perkembangan dan pertumbuhan dari kehidupan


manusia berbeda dari masa anak-anak dan masa dewasa, yang ditanai oleh
perubahan-perubahan fisik umum serta perkembangan kognitif dan sosial. Tanda-
tanda perubahan yang berhubungan dengan pertumbuhan fisik dan perubahan-
perubahan yang berhubungan dengan karakteristik seksual. Remaja adalah
generasi penerus perjuangan pembangunan bangsa dan negara. Permasalahan
dalam penelitian ini adalah: Apakah penyebab terjadinya kenakalan remaja Desa
BAru Samadua Kabupaten Aceh Selatan ? Bagaimana Upaya penanggulangan
kenakalan remaja dan fungsi keluarga Desa Baru kecamtan Samadua Kabupaten
Aceh Selatan ? Apakah hambatan yang dihadapi keluarga dalam mengatasi
kenakalan remaja Desa Baru kecamatan Samadua Kabupaten Aceh Selatan?
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Subjek penelitian ini adalah
masyarakat Desa Baru Samadua Kabupaten Aceh Selatan. Teknik pengumpulan
data dalampenelitian ini adalah dengan observasi dan wawancara. Hasil penelitian
menunjukkan Faktor-faktor penyebab kenakalan remaja di Desa Baru Keamatan
Samadua Kabuapaten Aceh Selatan disebabkan atau ditimbulkan oleh dua faktor
utama, yaitu faktor internal pada diri remaja itu sendiri, dan faktor eksternal dalam
hal ini faktor lingkungan keluarga serta lingkungan sosial (pergaulan antar siswa di
sekolah). Upaya yang dilakukan dalam menanggulangi kenakalan remaja meliputi:
aspek pembinaan dari kelauarga, masyarakat dan sekolah dan aspek pencegahan
dan pengawasan kenakalan remaja yang dilakukan secara bersama-sama. Kendala
yang dihadapi dalam menanggulangi kenakalan remaja dapat dikelompokkan
dalam dua faktor kendala, yaitu: keterbatasan waktu keluarga dalam megawasi,
kurangnya koordinasi lembaga pendidikan ddengan orang tua dan kurangnya
keikutsertaan masyarakat dalam mengawasi.
KATA PENGANTAR

Dengan nama Allah yang amat pemurah di dalam dunia ini lagi amat

menyayangi hambanya yang mukmin di yaumil akhirat. Segala puji milik Allah

dan rahmat sejahtera selalu tercurahkan kepada junjungan alam Rasul pilihan

Nabi Muhammad SAW, dengan kemuliaannya/kemegahannya.

Alhamdulillah, berkah rahmat dan hidayah-Nya penulis mampu

menyelesaikan skripsi ini dengan judul Penanggulangan Kenakalan Remaja dan

Fungsi Sosial Keluarga” (Studi : Desa Baru Kecamatan Samadua Kabupaten

Aceh Selatan).. Skripsi ini disusun untuk melengkapi dan memenuhi syarat untuk

memperoleh gelar sarjana pada Fakultas Ushuluddin dan Filasafat UIN Ar-Raniry

Banda Aceh.

Tak’zim yang setinggi-tingginya penulis tuturkan kepada kedua orang tua

yang penulis hormati, Ayahanda A M Syukri dan ibunda tercinta Siti Saleha yang

telah memeberi kasih sayang, pendidikan, dan motifasi yang kuat untuk menjadi

anak yang shaleh dan berhasil dalam menggapai cita-cita yang diharapkan serta

dengan tetesan keringat dan cucuran air matanyalah yang tidak mengenal rasa

lelah demi membiyaai perkulihan penulis, sehingga gelar sarjana telah penulis

raih. Penulis tidak bisa membalas apa yang telah diberikan kedua orang tua

melainkan ALLAH SWT yang membalasnya. Amin ya Rabbal a’lamin.

Dalam penulisan skripsi yang sederhana ini, penulis sangat berterima kasih

kepada semua pihak yang turut memberikan petunjuk, bimbingan dan motivasi

yang sangat berharga kepada penulis, sepantasnya mengucapkan terimakasih


dengan tulus kepada kedua orang tua yang selalu mendoakan penuis agar bisa

menyelesiakn studi ini dan kepada yang tersayang teman-teman penulis yang

tidak bisa penulis sebutkan satu persatu terimkasih.

Dengan rasa hormat penulis ucapkan terima kasih kepada Bapak Dr Farid

Wajdi Ibrahim, M. A selaku Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Bapak Dr.

Lukman Hakim, M. Ag selaku Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, saya

ucapkan terimakasih kepada Bapak Drs Miskahuddin, M. Si selaku penasehat

Akademik, dan ucapan terimakasih penulis sebesar-besarnya kepada Bapak Dr. T

Safir Iskandar Wijaya, MA selaku pembimbing pertama, dan Ibu Zuherni, M. Ag

selaku Pembimbing kedua yang telah banyak emmberikan bantuan, nasehat dan

bersungguh-dungguh memotivasi, menyisihkan waktu untuk membimbing dan

mengarahkan penulis dalam rangka penulisan karya ilmiah ini dari awal sampai

terselesaikannya skripsi ini.

Dan selanjutnya ucapan terimakasih kepada Bapak Sehat Ihsan Shadiqin

sebagai ketua Prodi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-

Raniry yang telah banyak memberikan motivasi dan pengalaman kepad penulis

selama masa perkulihan. Dan kepada seluruh dosen-dosen Fakultas Ushuluddin

dan Filsafat terima kasih telah mengarahkan membimbing selama ini.

Selanjutnya ucapan terima kasih kepada Wakil Camat Samadua, Geuchik

Desa Baru, Kepala Sekolah dan Guru di MTsN dan SMP Desa Baru, Tokoh

Masyarakat, Tokoh Adat dan seluruh masyarakat Desa Baru Keamatan Samadua

Kabupaten Aceh Selatan, yang telah membantu memberikan data yang diperlukan

dalam skripsi ini.


Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari

kesempurnaan karena keterbatasan ilmu dan literatur yang dimiliki. Oleh karena

itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca

demi kesempurnaan penulisan ini. Akhirnya, hanya kepada ALLAH SWT jualah

penulis berserah diri, semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi penulis

kiranya dan semua pihak umumnya, semoga kita selalu berada dalam

naunganNya. Amin-amin Ya Rabbal A’lamin....

Banda Aceh, 28 Februari 2018


Penulis,

Rahma Erviana Fitri


DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1.1 Jumlah Penduduk menurut Jenis Kelamin .................................... 28

Tabel 1.2 Jumlah Penduduk menurut Mata Pencarian .................................. 29

Tabel 1.3 Jumlah Penduduk Menurut Jenjang Pendidikan ........................... 29


DAFTAR ISI

COVER ..................................................................................................
LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING ...................................... i
LEMBAR PENGESAHAN SIDANG .................................................. ii
PERNYATAAN KEASLIAN ............................................................... iii
ABSTRAK ............................................................................................. iv
KATA PENGANTAR ........................................................................... v
DAFTAR TABEL ................................................................................. viii
LAMPIRAN-LAMPIRAN ................................................................... ix
DAFTAR ISI .......................................................................................... x
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ................................................... 1
B. Rumusan Masalahan ............................................................... 3
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ............................................... 4
D. Kajian Pustaka ........................................................................ 4
E. Landasan Teori ...................................................................... 5
F. Metode Penelitian ............................................................. ..... 6
G. Sistematika Penulisan ............................................................ 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Remaja .................................................................................... 12
1. Pengertian Remaja .......................................................... 12
2. Karakteristik Masa Ramaja ............................................ 13
3. Tahapan Perkembangan Remaja .................................... 14
B. Kenakalan Remaja ................................................. 15
1. Pengertian Kenakalan Remaja ........................................ 15
2. Faktor-Faktor Penyebab Kenakalamn Remaja ............... 18
3. Penanggulangan Kenakalan Remaja .............................. 21
C. Konsep Keluarga .................................................. 22
1. Pengertian Keluarga ........................................................ 22
2. Peran dan Fungsi Keluarga.............................................. 24
BAB III PENANGGULANGAN KENAKALAN REMAJA DAN FUNGSI
SOSIAL KELUARGA SI DESA BARU KECAMATAN
SAMADUA KABUPATEN ACEH SELATAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian .................................. 27
B. Penyebab Terjadinya Kenakalan Remaja............................. 31
C. Penanggulangan Kenakalan Remaja dan Fungsi Keluarga .. 35
D. Hambatan Keluarga Mengatasi Kenakalan pada Remaja .... 41
BAB IV PENETUP
A. Kesimpulan .......................................................................... 47
B. Saran .................................................................................... 48
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ 49
FOTO-FOTO PENELITIAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

iv
1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Remaja merupakan suatu tahap perkembangan dan pertumbuhandari

kehidupan manusia berbeda dari masa anak-anak dan masa dewasa, yang ditandai

oleh perubahan-perubahan fisik umum serta perkembangan kognitif dan

[Link]-tanda perubahan yang berhubungan dengan pertumbuhan fisik dan

perubahan-perubahan yang berhubungan dengan karakteristik seksual.1Remaja

adalah generasi penerus perjuangan pembangunan bangsa dan Negara. Salah satu

landasan dan tujuan pembangunan nasional adalah membangun manusia

seutuhnya sesuai dengan usia.2

Perubahan yang terjadi pada remaja merupakan salah satu tahap

pencapaian tingkat kematangan menuju dewasa dan seringkali di kenal dengan

masa mencari jati diri.3 Dalam pencarian jati dirinya mereka mengekspresikannya

dengan berbagai cara dan gaya yang selalu ingin mencari pengetahuan yang

belum ia ketahui dan mencari menarik perhatian orang lain. Dan harus di

imbangin dengan kokohnya benteng agama dan moral untuk arah jalan kehidupan

lebih baik.

Perubahan perilaku dan dampak dari perkembangan jaman dan gaya hidup

yang glamour, pergaulan bebas, dan lingkungan juga sangat berpengaruh bagi

1
Desmita, Psikologi perkembangan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya 2005) hlm 190
2
Miskahuddin, Hubungan gaya pengasuhan orang tua( Banda Aceh: Fakultas
Ushuluddin 2014) hlm 1
3
Mohammad Ali, Psikologi Remaja ( Jakarta: Bumi Aksara 2004) Hlm 16

1
2

perkembangan dan pertumbuhan remaja karena lingkungan adalah salah satunya

tempat pertama kalinya mereka beradabtasi dan menyesuaikan diri. Mereka juga

ditiup badai ikut-ikutan yang tak berdasarkan serta taklid buta yang mengundang

dan mengantarkan ia menuju tingkat yang paling rendah.

Ada banyak sekali faktor yang menyebabkan remaja saat ini terjerumus ke

hal-hal yang tidak diinginkan dan dapat mempengaruhi arah yang negative

tindakan yang di lakukan oleh remaja. Kaitannya dengan perubahan sosial yang

terjadi akan sangat berpengaruh terhadap prilaku dalam kehidupan sehari-hari

baik di lingkungan masyarakat maupun dalam pergaulannya.

Peran dan tanggung jawab orang tua sangatlah penting sekali untuk

memberikan bimbingan dan pengarahan moral dan pendidikan agama terhadap

anak-anaknya dalam menghadapi masa (perkembangan dan pertumbuhan) remaja

dan perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungannya.

Menurut pendapat J. Piaget mengatakan bahwa memandang “

adolescentia” sebagai suatu fase hidup, dengan perubahan-perubahan peting pada

fungsi intelegensi, tercakup dalam perkembangan aspek kognitif.4

Pada zaman globalisasi perkembangan teknologi sudah sangat pesat,

khususnya yang berhubungan dengan pemanfaatan internet sebagai pendukung

bagi masyarakat terutama bagi kaum remaja misalnya pemanfaatan smartphone

yang cenderung dimanfaatkan untuk hal yang [Link] kali didengar banyak

remaja-remaja yang terlibat dalam kenakalan remaja, seperti narkoba, tindakan

kriminal, perkelahian, sex bebas dan lain sebagainya yang sangat

4
Singgih D. Gunarsa “psikologi perkembangan anak dan remaja (Jakarta, PT BPK
Gunung Mulia 2008)hlm 202
3

mengkhawatirkan. Banyak faktor yang menjadi pencetus dari kenakalan remaja

yang akhir-akhir ini sangat mengkhawatirkan akibat pengaruh dari lingkungan

sosial yang memprihatinkan masyarakat karena remaja sekarang sudah banyak

terjerumus ke dalam hal yang negatif yang muncul merupakan akibat proses

perkembangan pribadi remaja yang sedang mencari jati dirinya. Salah satu yang di

bahas adalah kenakalan remaja yang berkaitan dengan [Link]

merupakan sosialitas manusia yang terjadi pertama kali sejak lahir hingga

perkembangannya menjadi dewasa.

Hasil observasi awal yang dilakukan di Desa Baru Kecamatan Samadua

menunjukkan bahwa terjadi kasus-kasus kenakalan remaja seperti perkelahian dan

pengeroyokan, penggunaan narkoba, pencurian yang dilakukan oleh remaja dan

kasus kehamilan yang terjadi di luar nikah. Kondisi ini sangat memprihatinkan

dan meresahkan masyarakat. Sehingga perlu dilakukan penanggulangan terhadap

kenakalan remaja yang melibatkan pihak keluarga dan masyarakat.

Dengan demikian saya merangkum penelitian ini dalam sebuah skripsi

dengan judul:“Penanggulangan Kenakalan Remaja dan Fungsi Sosial

Keluarga”(Studi :Desa Baru Kecamatan Samadua Kabupaten Aceh Selatan).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang, maka peneliti menentukan rumusan

masalah sebagai berikut:

1. Apakah penyebab terjadinya kenakalan remaja Desa Baru Kecamatan

Samadua Kabupaten Aceh Selatan?


4

2. Bagaimana upaya penanggulangan kenakalan remaja dan fungsi

keluarga Desa Baru Kecamatan Samadua Kabupaten Aceh Selatan?

3. Apakah hambatan yang dihadapi keluarga dalam mengatasi

kenakalan pada remajaDesa Baru Kecamatan Samadua Kabupaten

Aceh Selatan?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Adapun tujuan penelitian yang ingin diapai dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut:

1. Untuk mendeskripsian penyebab terjadinya kenakalan remaja Desa

Baru Kecamatan Samadua Kabupaten Aceh Selatan.

2. Untuk mengtahui upaya penanggulangan kenakalan remaja dan

fungsi keluarga Desa Baru Kecamatan Samadua Kabupaten Aceh

Selatan.

3. Untuk menggambarkan hambatan yang dihadapi keluarga dalam

mengatasi kenakalan pada remaja Desa Baru Kecamatan Samadua

Kabupaten Aceh Selatan.

D. Kajian Pustaka

Pertama,Buku yang ditulis oleh Siti Musda Mulia yang berjudul

“Muslimah Perempuan Pembaru Kegamaan Reformis” buku ini menjelaskan

dalam ajaran Islam menegaskan bahwa anak adalah amanah Allah [Link]

harus di persiapkan kehadirannya sedemikian [Link], di jaga dan di


5

pelihara kelangsungan hidupnya dengan sebaik-baik agar tumbuh menjadi

manusia yang bermoral dan berakhlak karimah. Oleh karena itu, setiap orang tua

akan di mintai pertanggung jawaban berkenaan dengan anak yang di anugerahkan

kepadanya.5

Kedua, Buku yang ditulis oleh Dr. Ali Qaimi yang berjudul “Menggapai

langit masa depan anak” buku ini membahas bahwa pendidikan merupakan hal

penting dan mementukan nasib [Link] bentuk perbaikan dan binaan

individu maupun masyarakat, pastilah melalui [Link] pendidikan juga

menciptakan berbagai perubahan pada berbagai dimensi keberadaan manusia dan

perilakunya, dengan tujuan mengarahkannya pada suatu bentuk perilaku yang

lebih baik.6

Ketiga, Buku yang ditulis oleh Prof. Dr. Zakiah Daradjat yang berjudul

“Psikologi Dakwah”buku ini membahas bahwa perilaku seorang dalam

kehidupan sehari-harinya yang terkadang susah di pahami, misalnya ada orang

yang jika sedang mempunyai kebutuhan ia bertingkah laku lembutdan sangat

memalas, misalnya ketika ia sedang meminta pinjam uang kepada temannya, yang

oleh karena itu, ia berhasil mengetuk hati temannya itu, tetapi ketika di tagih, tiba-

tiba ia menunjukan perilaku yang kebalikannya.7

Keempat, penelitian yang dilakukan oleh Kurniati yang berkaitan dengan

penanggulangan kenakalan remaja. Untuk menanggulangi kenakalan remaja

diperlukan beberapa tindakan preventif, diantaranya meningkatkan kesejahteraan

5
Siti Musda Mulia, Muslimah Perempuan Pembaru Kegamaan Reformis, (Bandung:
Mizan Pustaka, 2005), hlm 403-404.
6
Ali Qaimi, Menggapai langit masa depan anak,(Jakarta: Cahaya, 2002), hlm 142.
7
Prof. Dr. Zakiah Daradjat, Spikologi dakwah, (Jakarta: Pustaka firdaus, 2002) hlm 77.
6

keluarga, mendirikan klinik bimbingan psikologis dan edukatif untuk

memperbaiki tingkah laku dan membantu remaja dari kesulitan mereka, perbaikan

lingkungan, yaitu daerah rawan, kampong-kampung miskin, mendirikan sekolah

bagi anak gembel (miskin), mendirikan tempat rekreasi yang sehat bagi remaja.8

Dari pemaparan tentang para peneliti di atas, maka dapat dilihat bahwa

mereka memfokuskan penelitinya tentang kenakalan remaja dan fungsi sosial

keluarga sangat dituntut karnadi jaman sekarang ini remaja tidak lagi mematuhi

peraturan dan terus terpengaruhi oleh buruknya lingkungan yang ia tempati,

menurut sepengetahuan saya belum ada yang membahas dan meneliti. Oleh sebab

itu, saya mencoba membahasnya dalam bentuk penelitian.

E. Landasan Teori

Secara kontekstual, remaja seringkali di kenal dengan masa mencari jati

[Link] terjadi karena masa remaja merupakan peralihan antara masa kehidupan

anak-anak dan masa kehidupan orang dewasa.

Menurut pandangan Shaw dan Costanzo mengatakan bahwa remaja juga

sedang mengalami perkembangan pesat dalam aspek intelektual. Transformas

intelektual dari cara berpikir remaja ini memungkinkan mereka tidak hanya

mampu mengintegrasikan dirinya ke dalam masyarakat dewasa, tapi juga

8
Arifiyani, Penanggulangan Kenakalan Remaja Menurut Konsep Kartini Kartono
Ditinjau dari Perspektif Pendidikan Islam, Skripsi, (Semarang: Universitas Wali Songo, 2015),
hlm. 1.
7

merupakan karakteristik yang paling menonjol dari semua periode

perkembangan.9

F. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

Adapun dalam penulisan skripsi ini saya menggunakan penelitian

lapangan yaitu penelitian yang langsung terjun ke lokasi penelitian sehingga data

yang diperoleh lebih objektif dengan menggunakan metode deskriptif,

fenomenologis, dan sosiologis, yaitu dengan melihat gejala-gejala serta proses-

proses sosial yang diadakan diDesa Baru Kecamatan Samadua Kabupaten Aceh

SelatanDisamping itu saya juga menggunakan kajian kepustakaan untuk

melengkapi hasil dari penelitian tersebut.

2. Sumber Data

Adapun sumber data yang diperlukan dalam penelitian ini terbagi kepada

dua, yaitu data primer dan data sekunder.

a. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari informan

dengan cara melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi. Dengan

demikian, yang menjadi data primer dalam penelitian ini adalah data yang

9
Prof. Dr. Mohammad Asrori, Psikologi remaja perkembangan peserta didik, (Jakarta: Pt
bumi aksara, 2004) hlm 9
8

diperoleh dari observasi, wawancara kepada subjek penelitian yang berlokasi

diDesa Baru Kecamatan Samadua Kabupaten Aceh Selatan.

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang berasal dari buku-buku atau bahan yang

terdapat di perpustakaan. Dalam penelitian ini penulis mengambil beberapa data

dari perpustakaan, baik dalam bentuk buku, maupun jurnal dan lain sebagainya

untuk membangun landasan teoritis sebagai pijakan dalam melakukan penelitian.

3. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini penulis mengunakan pendekatan kualitataif yaitu

penelitian yang memiliki karakristik data dinyatakan dalam keadaan sewajarnya

(Natural Setting).Ciri penelitian kualitatif diantaranya berdasarkan keadaan

alamiah, disini penelitian mengumpulkan data berdasarkan pengamatan

dilapangan yang dilakukan sewajarnya (alamiah) sebagimana adanya tanpa

dipengaruhi atau manipulasi.10

Maka dalam penelitian ini mengumpulkan data yang berhubungan dengan

Penanggulangan Kenakalan Remaja dan Fungsi Sosial [Link] didalam

penelitian ini saya mengunakan dua teknik yang lazim digunakan dalam

penelitian kualitatif, yaitu:

a. Observasi

Pengumpulan data untuk suatu tulisan ilmiah dapat dilakukan salah

satunya melalui observasi. Penggunaan metode observasi adalah peneliti

10
Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan Cet. 2, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003),
hlm.155.
9

mengamati berbagai masalah yang ada diDesa Baru Kecamatan Samadua. Dalam

hal ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran yang tepat mengenai obyek

penelitian11.

b. Wawancara

Wawancara merupakan salah satu jenis pengumpul data dengan

melakukan sebuah timbal balik atau dalam kata lain merupakan sebuah

percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh dua pihak, yaitu

pewawancara yang mengajukan pertanyaan, dan yang diwawancarai yang

memberikan jawaban atas pertanyaan itu.12

Target yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mendapatkan

data yang akurat, jujur, dan dapat dipertanggung jawabkan sesuai dengan

penelitian penulis yaituPenanggulangan Kenakalan remaja dan fungsi keluarga.

c. Dokumentasi

Secara umum peneliti akan mencari buku-buku yang berkaitan dengan

Kenakalan remaja. Melalui studi dokumentasi ini bertujuan memperoleh data-data

yang tidak dapat dengan observasi, dan wawancara, melaikan hanya dapat

diperoleh dengan beberapa gambar yang berisikan tentang berbagai cara

menanggulanginya.

4. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah cara menguraikan atau memecahkan permasalahan

secara keseluruhan menjadi bagian-bagian atau komponen-komponen yang lebih

11
Margono, Metodologi Penelitian …hlm.159
12
Ibid, hlm. 165
10

kecil agar dapat menjawab permasalahan yang telah dirumuskan sebelumnya.

Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif

kualitatif, yaitu suatu teknik yang berusaha menuturkan dan menafsirkan data

sesuai dengan keadaan sebenarnya, sikap dan pandangan yang terjadi di

masyarakat, hubungan antara variabel, dan lain sebagainya yang diperoleh dari

lapangan.

Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam teknik analisis data adalah:

a. Mengumpulkan hasil observasi dan wawancara untuk diselidiki dan

dianalisis

b. Mengklarifikasi dan menafsirkan data yang relevan

c. Menyususun laporan

d. Menarik kesimpulan

G. Sistematika Penulisan

Penulisan karya ilmiah ini tentu tidak terlepas dari sistematika penulisan.

maka dari itu penulisan penelitian ini merangkap empat bab sebagaimana

penulisan karya ilmiah pada umunmnya. Adapun isi dari penulisan karya ilmiah

ini sebagai berikut :

1. Bab Satu, berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah,

tujuan dan memfaat penelitian, kajian pustaka, penjelasan istilah,

metode penelitian dan sistematis pembahasan.

2. Bab Dua, menguraikan tentang konsep kenakalan remaja.


11

3. Bab Tiga, berisi tentang hasil dari penelitian atau kunjungan lapangan

mengenai Penanggulangan Kenakalan Remaja dan Fungsi Sosial

Keluarga.

4. Bab Empat, berisi tentang penutup, penulis memuat kesimpulan dari

seluruh isi pembahasan. Selain itu, penulis akan mempaparkan sedikit

tentang Kabupaten Aceh Selatan sebagai tempat atau lokasi penelitian

dan adanya saran-saran.


BAB II

KONSEP KENAKALAN REMAJA

A. Remaja

1. Pengertian Remaja

Remaja dalam ilmu psikologis juga diperkenalkan dengan istilah lain,

seperti puberteit, adolescence, dan youth. Dalam bahasa Indonesia sering pula

dikaitkan pubertas atau remaja. Remaja merupakan suatu fase perkembangan

antara masa kanak-kanak dan masa dewasa, berlangsung antara usia 12 sampai 21

tahun. Masa remaja terdiri dari masa remaja awal usia 12-15 tahun, masa remaja

pertengahan usia 15-18 tahun, dan masa remaja akhir usia 18-21 tahun.1 Masa

remaja disebut juga sebagai periode perubahan, tingkat perubahan dalam sikap,

dan perilaku selama masa remaja sejajar dengan perubahan fisik.2

Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa remaja

pada usia SMA merupakan remaja pada masa pertengahan yang termasuk pada

usia 15 – 18 tahun. Pada usia ini, para remaja memiliki rasa ingin tahu yang besar

dan mudah dipengaruhi oleh orang lain. Pada tahap ini remaja sedang mencari

identitas diri, keinginan untuk memiliki pasangan (kekasih), mempunyai rasa cinta

yang mendalam dan mengembangkan kemampuan berpikir abstrak.

1
(Monks, Knoers & Haditomo, Psikologi Perkembangan: Pengantar DalamBerbagai
Bagiannya. (Yogyakarta: Gajah Mada University Press 2002) hlm 88
2
Hurlock, Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang. Rentang Kehidupan.
(Jakarta : Erlangga Khatimah,2004)hlm 78
2. Karakteristik Masa Remaja

Masa remaja mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakan dengan

periode sebelum dan sesudahnya. Gunarsa menyatakan ciri–ciri tertentu yaitu

masa remaja sebagai periode yang penting, masa remaja sebagai periode

peralihan, masa remaja sebagai periode perubahan, masa remaja sebagai periode

bermasalah, masa remaja sebagai masa mencari identitas, masa remaja sebagai

usia yang menimbulkan ketakutan dan masa remaja sebagai ambang masa

dewasa3.

Gunarsa menyebutkan bahwa masa remaja sebagai masa peralihan dari

masa anak ke masa dewasa, meliputi semua perkembangan yang dialami sebagai

persiapan memasuki masa dewasa4. Semua aspek perkembangan dalam masa

remaja secara global berlangsung antara umur 12–21 tahun, dengan pembagian

usia 12-15 tahun adalah masa remaja awal, 15-18 tahun adalah masa remaja

pertengahan, 18- 21 tahun adalah masa remaja akhir.5

Menurut Santrock masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau

pencarian identitas diri.6 Gagasan Erickson ini dikuatkan oleh James Marcia yang

menemukan bahwa ada empat status identitas diri pada remaja yaitu identity

diffusion/ confussion, moratorium, foreclosure, dan identity achieved.

Karakteristik remaja yang sedang berproses untuk mencari identitas diri ini juga

sering menimbulkan masalah pada diri [Link] merangkum beberapa

3
Gunarsa, S, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.(Jakarta: BPK Gunung Mulia
2001) hlm 11
4
Ibid…17
5
Monk, et al, Psikologi Perkembangan: Pengantar DalamBerbagai Bagiannya.
(Yogyakarta: Gajah Mada University Press 2002) hlm 72
6
Santrock, Perkembangan Remaja. Edisi Keenam. (Jakarta:Erlangga,2003) hlm 69
karakteristik remaja yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada diri

remaja, yaitu:

a. Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan.

b. Ketidakstabilan emosi.

c. Adanya perasaan kosong akibat perombakan pandangan dan petunjuk

hidup.

d. Adanya sikap menentang dan menantang orang tua.

e. Pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal penyebab

pertentangan-pertentang dengan orang tua.

f. Kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup

memenuhi semuanya.

g. Senang bereksperimentasi.

h. Senang bereksplorasi.

i. Mempunyai banyak fantasi, khayalan, dan bualan.

j. Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan

berkelompok.

Berdasarkan tinjauan teori di atas, maka dapat disimpulkan bahwa remaja

memiliki karakteristik yang masih belum stabil dan sangat kritis. Mereka lebih

dominan dalam mencari jati diri. Sehingga sering terlibat dalam beberapa

permasalahn. Sehingga beberapa remaja bisa mengalami penurunan pada kondisi

psikis, fisiologis, dan sosial.

3. Tahapan Perkembangan Remaja


Menurut Monks, Knoers & Haditomotahap perkembangan, masa remaja dibagi

menjadi tiga tahap yaitu.7

a. Masa remaja awal (12-15 tahun), dengan ciri khas antara lain:

1. Lebih dekat dengan teman sebaya.

2. Ingin bebas.

3. Lebih banyak memperhatikan keadaan tubuhnya dan mulai berpikir

abstrak.

b. Masa remaja tengah (15-18 tahun), dengan ciri khas antara lain:

1. Mencari identitas diri.

2. Timbulnya keinginan untuk kencan.

3. Mempunyai rasa cinta yang mendalam.

4. Mengembangkan kemampuan berpikir abstrak.

5. Berkhayal tentang aktifitas seks

c. Masa remaja akhir (18-21 tahun), dengan ciri khas antara lain:

1. Pengungkapan identitas diri.

2. Lebih selektif dalam mencari teman sebaya.

3. Mempunyai citra jasmani dirinya.

4. Dapat mewujudkan rasa cinta.

5. Mampu berpikir abstrak.

Berdasarkan teori di atas, maka dapat disimpulkan bahwa dalam

perkembangannya remaja mengalami beberapa tahapan perkembangan yang

dimulai dengan masa remaja awal, masa remaja tengah dan masa remaja akhir.

7
Monk, et al, Psikologi Perkembangan: Pengantar DalamBerbagai Bagiannya.
(Yogyakarta: Gajah Mada University Press 2002) hlm 55
Tahapan ini harus dilalui oleh para remaja hingga mereka dapat mencapai

kedewasaan.

B. Konsep Kenakalan Remaja

1. Pengertian Kenakalan Remaja

Berdasarkan Bakolak Inpres No.6/1971 pedoman 6, tentang pola

penanggulangan kenakalan remaja. Di dalam pedoman tersebut diungkapkan

mengenai pengertian kenakalan remaja sebagai “Kenakalan remaja adalah kalinan

tingkah laku, perbuatan atau tindakan remaja yang bersifat asocial bahkan

antisocial yang melanggar norma-norma sosial, agama serta ketentuan hukum

yang berlaku dalam masyarakat”.

Secara sosiologis menurut Hassan menjelaskan jika kenakalan remaja

merupakan perbuatan atau kelakuan anti sosial dan anti [Link]

Kusumanto mengatakan bahwa Juvenile delingquency atau kenakalan anak dan

remaja ialah tingkah laku individu yang bertentangan dengan syarat-syarat

pendapat umum yang dianggap sebagai acceptable dan baik oleh suatu lingkungan

atau hukum yang berlaku di suatu masyarakat yang berkebudayaan. Sementara

menurut Hurlock dalam Willis mengatakan bahwa kenakalan remaja dan anak

bersumber dari moral yang sudah berbahaya atau beresiko (Moral Hazard).8

Menurutnya, kerusakan moral bersumber dari keluarga yang sibuk, keluarga retak,

dan keluarga single parent dimana anak hanya diasuh oleh ibu. Kewibawaan

8
Hurlock dalam Willis, Kenakalan Remaja ( Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2005)
hlm 98
sekolah dalam mengawasi anak. Kemudian, peranan agama tidak mampu

menangani masalah moral.

Menurut Mussen dkk (dalam Gunawan) kenakalan remaja adalah perilaku

yang melanggar hukum atau kejahatan yang biasanyadilakukan oleh remaja

berusia 16-18 tahun, jika perbuatan inidilakukan oleh orang dewasa maka akan

mendapatkan sangsi hukum.9 Sedangkan menurut Fuhrmann (dalam Gunawan),

yang dimaksud dengan kenakalan remaja adalah suatu tindakan anak muda yang

dapat merusak dan mengganggu, baikterhadap diri sendiri maupun orang lain. 10

Perilaku kenakalan remaja yang melanggar norma hukum, norma sosial

dan norma agama disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya keadaan kejiwaan

yang tidak sehat. Pada umumnya remaja mempunyai perilaku tidak sehat atau

perilaku nakal untuk memperoleh suatu kepuasan bagi dirinya kepuasan yang

diperoleh tersebut biasanya tidak hanya berupa materi atau fisik tetapi dapat

menjadi suatu kepuasan bagi psikologisnya. Perilaku tidak sehat yang dilakukan

oleh remaja disebabkan oleh berbagai faktor, baik faktor dalam dirinya maupun

faktor dari luar dirinya.

Seperti yang diungkapkan oleh Kartono Kenakalan remaja adalah Perilaku

jahat atau dursila, atau kejahatan atau kenakalan anak-anakmuda merupakan

gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anakdan remaja yang disebabkan

9
Gunawan , Perilaku Remaja , (Jakarta: Bumi AKsara, 2011) hlm 29-30
10
Ibid … hlm 112
oleh satu bentuk pengabaian sosialsehingga mereka itu mengembangkan bentuk

tingkah laku yang menyimpang.11

Ditinjau dari usia remaja, usia tersebut merupakan usia sekolah bagi anak.

Di lingkungan sekolah posisi remaja adalah sebagai siswa, jadi kenakalan remaja

yang dilakukan oleh peserta didik dapat disebut sebagai kenakalan siswa. Dari

pengertian ini dapat disimpulkan kenakalan siswa adalah penyimpangan perilaku

siswa yang berakibat siswa melanggar aturan, tata tertib, dan norma kehidupan di

sekolah dan masyarakat. Menurut para ahli sosiologi, antropologi, psikologi

sependapat bahwa “pendidikan meningkatkan proses perkembangan intelek,

perasaan dansosial yang sudah dimulai dari rumah. Dengan kata lain, sekolah

ikutserta/berperan aktif dalam rangka pembentukan kepribadian denganjalan anak

mempelajari kebiasaan, sikap individu lain, pengalamanbaru dan kecakapan-

kecakapan yang dibutuhkan.”12 Kondisi sekolah yang tidak baik dapat menganggu

proses belajar mengajar anak didik, yang pada gilirannya dapat memberikan

“peluang” pada anak didik untuk berperilaku menyimpang.

Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat dinyatakan bahwa yang

dimaksud dengan kenakalan remaja adalah suatu perbuatan yang merupakan

gejala sakit atau patologis secara sosial yang dilakukan oleh remaja dan perbuatan

tersebut merupakan penyimpangan atau pelanggaran terhadap norma-norma

sosial, norma hukum maupun norma agama.

2. Konsep Kenakalan remaja

11
Kartono, Kenakalan Remaja dalam Masyarakat, ( Jakarta : Bumi Aksara, 2009) hlm 87
12
Santoso, Sikap Remaja, (Yogyakarta: Andi Offse,2010) hlm 95
Kenakalan remaja adalah perilaku remaja melanggar status,

membahayakan diri sendiri, menimbulkan korban materi pada orang lain, dan

perilaku menimbulkan korban fisik pada orang lain. Perilaku melanggar status

merupakan perilaku dimana remaja suka melawan orang tua, membolos sekolah,

pergi dari rumah tanpa pamit. Perilaku membahayakan diri sendiri, antara lain

mengendari kendaraan bermotor dengan kecepatan tinggi, menggunakan

narkotika, menggunakan senjata, keluyuran malam, dan pelacuran. Perilaku

menimbulkan korban materi, yaitu perilaku yang mengakibatkan kerugian pada

orang lain, misalnya: mencuri dan mencopet, merampas Perilaku menimbulkan

korban fisik pada orang lain adalah perkelahian, menempeleng, menampar,

melempar benda keras, mendorong sampai jatuh, menyepak, dan memukul

dengan benda.13

3. Kematangan emosi

Kematangan emosi adalah kemampuan remaja dalam mengekspresikan

emosi secara tepat dan wajar dengan pengendalian diri, memiliki kemandirian,

memiliki konsekuensi diri, serta memiliki penerimaan diri yang tinggi.

Pengendalian diri adalah kemampuan remaja dalam mempertahankan dorongan

emosi, serta memahami emosi diri untuk diarahkan kepada tindakan-tindakan

positif. Kemandirian adalah keadaan dimana remaja tidak menggantungkan

dirinya kepada orang lain. Rasa konsekuen adalah rasa tanggung jawab remaja

dengan kesadaran untuk menjalankan keputusan, serta berani bertanggung jawab

13
Sarwono, S.W. (2001). Psikologi Remaja. Jakarta: Rajawali Pers.
terhadap semua akibat dan keputusan yang telah diambil. Penerimaan diri adalah

kemampuan remaja untuk dapat menerima keadaan diri sendiri, baik kelemahan

maupun kelebihan, menerima diri secara fisik maupun psikis dengan baik.14

4. Konsep diri

Konsep diri adalah penilaian remaja tentang diri sendiri yang bersifat fisik,

psikis, sosial, emosional, aspirasi, dan prestasi. Konsep diri fisik adalah gambaran

remaja tentang penampilannya, dengan seksnya, arti penting tubuhnya dalam

hubungannya dengan perilakunya, dan gengsi yang diberikan tubuhnya di mata

orang lain. Konsep diri psikis adalah gambaran remaja tentang kemampuan dan

ketidakmampuannya, harga dirinya dan hubungannya dengan orang lain. Konsep

diri sosial adalah gambaran remaja tentang hubungannya dengan orang lain,

dengan teman sebaya, dengan keluarga, dan lain-lain. Konsep diri emosional

adalah gambaran remaja tentang emosi diri, seperti kemampuan menahan emosi,

pemarah, sedih, atau riang-gembira, pendendam, pemaaf, dan lain-lain. Konsep

diri aspirasi adalah gambaran remaja tentang pendapat dan gagasan, kreativitas,

dan cita-cita. Konsep diri prestasi adalah gambaran remaja tentang kemajuan dan

keberhasilan yang akan diraih, baik dalam masalah belajar maupun kesuksesan

hidup.15

14
Albin, R. S. (1996). Emosi Bagaimana Mengenal, Menerima dan Mengarahkannya.
Yogyakarta: Kanisius.
15
Hurlock, E. B. (1996). Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang
Kehidupan Jakarta: Erlangga Kusumaredi, L.A. (2011). Fenomena kenakalan remaja di Indonesia.
[Link] Diakses pada tanggal 13 April 2018.
5. Kematangan emosi, konsep diri dan kenakalan remaja

Kematangan diri secara emosional (maturing emotional self) menunjuk

pada emosi yang menyangkut semua wilayah perilaku afektif dengan melibatkan

aspek biologis, kognitif, dan sosial. Kematangan emosi merupakan proses dimana

pribadi individu secara terus menerus berusaha mencapai suatu tingkatan emosi

yang sehat, baik secara intrafisik maupun interpersonal. Individu yang secara

emosional telah matang dapat menentukan dengan tepat kapan dan sejauhmana

dirinya perlu terlibat dalam suatu masalah sosial serta dapat turut memberikan

jalan keluar atau pemecahan yang diperlukan.

Keberadaan emosi di satu sisi dapat menjadikan orang pasif dan tidak

berdaya, tidak mampu mempertanggungjawabkan apa yang dilakukan. Emosi di

sisi lain dapat menjadi sumber energi yang membuat seseorang sanggup

melakukan apa saja secara tepat tanpa terpikirkan sebelumnya. Seseorang perlu

mengontrol emosinya. Kontrol emosi bukan berarti eliminasi atau penekanan

emosi moral, tetapi belajar mengekspresikan emosi dengan cara-cara yang lebih

dapat diterima atau disetujui oleh kelompok sosial dan pada saat yang sama tetap

dapat memberikan kepuasan yang maksimum dan mengurangi gangguan ketidak

seimbangan. Kenakalan remaja sebagian disebabkan oleh pencapaian emosi yang

kurang matang. Remaja menjadi nakal karena belum mampu melakukan kontrol
emosi secara lebih tepat dan mengekpresikan emosi dengan cara-cara yang

diterima oleh masyarakat.16

Konsep diri terbentuk dan berkembang berdasarkan pengalaman dan

inteprestasi dari lingkungan, penilaian orang lain, atribut, dan perilaku diri.

Pengembangan konsep diri berpengaruh terhadap perilaku yang ditampilkan,

sehingga bagimana orang lain memperlakukan dan apa yang dikatakan orang lain

tentang individu akan dijadikan acuan untuk menilai diri sendiri. Remaja dengan

konsep diri positif akan mampu mengatasi dirinya, memperhatikan dunia luar dan

mempunyai kemampuan untuk berinteraksi sosial. Remaja dengan konsep diri

negatif akan sulit mengganggap suatu keberhasilan diperoleh dari diri sendiri,

tetapi karena bantuan orang lain, kebetulan, dan nasib semata dan biasanya

mengalami kecemasan yang tinggi. Remaja dengan konsep diri positif berciri

spontan, kreatif dan orisinil, menghargai diri sendiri dan orang lain, bebas dan

dapat mengantisipasi hal negatif, serta memandang diri secara utuh, disukai,

diinginkan dan diterima oleh orang lain.

Para teoris kontrol sosial menyatakan bahwa yang menampakkan perilaku

antisosial adalah remaja yang memiliki konsep diri rendah. Perspektif kontrol

sosial menyatakan konsep diri mempengaruhi kontrol diri. Individu dengan

kontrol diri rendah memiliki kekuatan ego rendah, kurang mampu menunda

kepuasan (kurang sabar), kurang toleran pada frustrasi dan lebih impulsif.

Perilaku sosial yang tidak tepat akan nampak ketika derajad kontrol sosial tidak

cukup kuat menolak godaan yang ingin langsung dipuaskan. Perilaku nakal

16
Haryono. (1996). Kematangan Emosi, Pemikiran Moral, dan Kenakalan Remaja.
Semarang: FIP-IKIP Semarang.
remaja dapat diatasi dengan mempertinggi konsep diri. Perspektif teori

peningkatan diri (self-enhancement) menyatakan individu memiliki

kecenderungan untuk menambah positif konsep dirinya. Individu berusaha

mencapai kepuasan pribadi dan perasaan efektif dengan cara mencari aktivitas dan

umpan balik yang dapat mempertinggi konsep dirinya.17

6. Faktor-faktor Penyebab Kenakalan Remaja

Faktor yang menyebabkan terjadinya kenakalan remaja secara umum

dapat dikelompokan ke dalam dua faktor, yaitu sebagai berikut:

a. Faktor Kepribadian

Kepribadian merupkan suatu organisasi atau penentu yang dinamis pada

system psikosomatis dalam individu yang turut menentukan caranya yang unik

dalammenyesuaikan dirinya dengan lingkungannya (biasanya disebut karakter

psikisnya). Masa remaja dikatakan sebagai suatu masa yang berbahaya. Pada

periode ini, seseorang meninggalkan masa anak-anak untuk menuju masa dewasa.

Masa ini di rasakan sebagai suatu Krisis identitas karena belum adanya pegangan,

sementara kepribadian mental untuk menghindari timbulnya kenakalan remaja

atau perilaku menyimpang.18

b. Faktor Kondisi Fisik

Faktor ini dapat mencakup segi cacat atau tidaknya secara fisik dan segi

jenis kelamin. Ada suatu teori yang menjelaskan adanya kaitan antara cacat tubuh

dengan tindakan menyimpang (meskipun teori ini belum teruji secara baik dalam

17
Ibid
18
Hurlock dalam Willis, Kenakalan Remaja… hlm.120
kenyataan hidup). Menurut teori ini, seseorang yang sedang mengalami cacat

fisik cenderung mempunyai rasa kecewa terhadap kondisi hidupnya.19

Kekecewaan tersebut apabila tidak disertai dengan pemberian bimbingan akan

menyebabkan si penderita cenderung berbuat melanggar tatanan hidup bersama

sebagai perwujudan kekecewaan akan kondisi tubuhnya.

c. Faktor Status dan Peranannya di Masyarakat

Seseorang anak yang pernah berbuat menyimpang terhadap hukum yang

berlaku, setelah selesai menjalankan proses sanksi hukum (keluar dari penjara),

sering kali pada saat kembali ke masyarakat status atau sebutan “eks narapidana”

yang diberikan oleh masyarakat sulit terhapuskan sehingga anak tersebut kembali

melakukan tindakan penyimpangan hukum karena meresa tertolak dan

terasingkan.20

d. Faktor Ekstern

a. Kondisi Lingkungan Keluarga

Khususnya di kota-kota besar di Indonesia, generasi muda yang orang

tuanya disibukan dengan kegiatan bisnis sering mengalami kekosongan batin

karena bimbingan dan kasih sayang langsung dari orang tuanya sangat kurang.

Kondisi orang tua yang lebih mementingkan karier daripada perhatian kepada

anaknya akan menyebabkan munculnya perilaku menyimpang terhadap anaknya.

Kasus kenakalan remaja yang muncul pada keluarga kaya bukan karena

19
Kartono, Kenakalan Remaja …hlm. 92.
20
Hurlock dalam Willis, Kenakalan Remaja … hlm. 122
kurangnya kebutuhan materi melainkan karena kurangnya perhatian dan kasih

sayang orang tua kepada anaknya.21

b. Kontak Sosial dari Lembaga Masyarakat Kurang Baik atau Kurang Efektif

Apabila system pengawasan lembaga-lembaga sosial masyarakat terhadap

pola perilaku anak muda sekarang kurang berjalan dengan baik, akan

memunculkan tindakan penyimpangan terhadap nilai dan norma yang berlaku.

Misalnya, mudah menoleransi tindakan anak muda yang menyimpang dari

hukum atau norma yang berlaku, seperti mabuk-mabukan yang dianggap hal yang

wajar, tindakan perkelahian antara anak muda dianggap hal yang biasa saja. Sikap

kurang tegas dalam menangani tindakan penyimpangan perilaku ini akan

semankin meningkatkan kuantitas dan kualitas tindak penyimpangan di kalangan

anak muda.22

c. Kondisi Geografis atau Kondisi Fisik Alam

Kondisi alam yang gersang, kering, dan tandus, dapat juga menyebabkan

terjadinya tindakan yang menyimpang dari aturan norma yang berlaku, lebih-lebih

apabila individunya bermental negative. Misalnya, melakukan tindakan pencurian

dan mengganggu ketertiban umum, atau konflik yang bermotif memperebutkan

kepentingan ekonomi.

d. Faktor Kesenjangan Ekonomi dan Disintegrasi Politik

Kesenjangan ekonomi antara orang kaya dan orang miskin akan mudah

memunculkan kecemburuan sosial dan bentuk kecemburuan sosial ini bisa

mewujudkan tindakan perusakan, pencurian, dan perampokan. Disintegrasi politik

21
Kartono, Kenakalan Remaja… hlm. 94
22
Gunawan ,Perilaku Remaja… hlm. 32
(antara lain terjadinya konflik antar partai politik atau terjadinya peperangan antar

kelompok dan perang saudara) dapat mempengaruhi jiwa remaja yang kemudian

bisa menimbulkan tindakan-tindakan menyimpang.23

e. Faktor Perubahan Sosial Budaya yang Begitu Cepat (Revolusi)

Perkembangan teknologi di berbagai bidang khususnya dalam teknologi

komunikasi dan hiburan yang mempercepat arus budaya asing yang masuk akan

banyak mempengaruhi pola tingkah laku anak menjadi kurang baik, lebih-lebih

anak tersebut belum siap mental dan akhlaknya, atau wawasan agamanya masih

rendah sehingga mudah berbuat hal-hal yang menyimpang dari tatanan nilai-nilai

dan norma yang berlaku.24

C. Konsep Keluarga

1. Pengertian Keluarga

Pengertian keluarga berdasarkan asal-usul kata yang dikemukakan oleh

(Ki Hajar Dewantar dalam Abu&Nur) bahwa keluarga berasal dari bahasa Jawa

yang terbentuk dari dua kata yaitu kawula dan warga.25 Didalam bahasa Jawa

kuno kawula berarti hamba dan warga artinya anggota. Secara bebas dapat

diartikan bahwa keluarga adalah anggota hamba atau warga saya. Artinya setiap

anggota dari kawula merasakan sebagai satu kesatuan yang utuh sebagai bagian

dari dirinya dan dirinya juga merupakan bagian dari warga yang lainnya secara

keseluruhan.

23
Monk, et al, Psikologi Perkembangan … hlm. 48.
24
Gunawan ,Perilaku Remaja … hlm. 37
25
Abu & Nur, Pengertian Keluarga, (Yogyakarta: Andi Offse, 2001) hlm 176
Keluarga adalah lingkungan dimana beberapa orang yang masih memiliki

hubungan darah dan bersatu. Keluarga didefinisikan sebagai sekumpulan orang

yang tinggal dalam satu rumah yang masih mempunyai hubungan

kekerabatan/hubungan darah karena perkawinan, kelahiran, adopsi dan lain

sebagainya. Keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak yang belum

menikah disebut keluarga batih. Sebagai unit pergaulan terkecil yang hidup dalam

masyarakat, keluarga batih mempunyai peranan-peranan tertentu, yaitu:26

a. Keluarga batih berperan sebagi pelindung bagi pribadi-pribadi yang

menjadi anggota, dimana ketentraman dan ketertiban diperoleh dalam

wadah tersebut.

b. Keluarga batih merupakan unit sosial-ekonomis yang secara materil

memenuhi kebutuhan anggotanya.

c. Keluarga batih menumbuhkan dasar-dasar bagi kaidah-kaidah pergaulan

hidup.

d. Keluarga batih merupakan wadah dimana manusia mengalami proses

sosialisasi awal, yakni suatu proses dimana manusia mempelajari dan

mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.

Keluarga pada dasarnya merupakan suatu kelompok yang terbentuk dari

suatu hubungan seks yang tetap, untuk menyelenggarakan hal-hal yang berkenaan

dengan keorangtuaan dan pemeliharaan anak. Adapun ciri-ciri umum keluarga

yang dikemukakan oleh Mac Iver and Page yaitu: 27

1. Keluarga merupakan hubungan perkawinan.

26
Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar. (Jakarta : Rajawali,2004) hlm 23
27
Khairuddin, Sosiologi Keluarga. (Yogyakarta : Nurcahay, 2008) hlm 12
2. Susunan kelembagaan yang berkenaan dengan hubungan perkawinan yang

sengaja dibentuk dan dipelihara.

3. Suatu sistim tata nama, termasuk perhitungan garis keturunan.

4. Ketentuan-ketentuan ekonomi yang dibentuk oleh anggota-anggota

kelompok yang mempunyai ketentuan khusus terhadap kebutuhan-

kebutuhan ekonomi yang berkaitan dengan kemampuan untuk mempunyai

keturunan dan membesarkan anak.

5. Merupakan tempat tinggal bersama, rumah atau rumah tangga yang walau

bagaimanapun, tidak mungkin menjadi terpisah terhadap kelompok-

kelompok keluarga.

2. Peran dan Fungsi Keluarga

a. Peran Keluarga

Peranan keluargamenggambarkan pola perilaku interpersonal, sifat,dan

kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam situasi dan posisitertentu.

Adapun macam peranan dalam keluarga antara lain:28

1. Peran Ayah

Sebagai seorang suami dari istri dan ayah dari anak-anaknya,

ayahberperansebagai kepala keluarga, pendidik, pelindung, mencari nafkah,serta

pemberi rasa aman bagi anak dan istrinya dan juga sebagai anggotadari kelompok

sosialnya serta sebagai anggota masyarakat di lingkungandi mana dia tinggal.

28
Istiati, Peran Keluarga , (Yogyakarta : Graha Ilmu,2010), hlm 34
2. Peran Ibu

Sebagai seorang istri dari suami dan ibu dari anak-anaknya, dimana peran

ibu sangat penting dalam keluarga antara lain sebagai pengasuh dan pendidik

anak-anaknya, sebagai pelindung dari anak-anak saatayahnya sedang tidak ada

dirumah, mengurus rumah tangga, serta dapatjuga berperan sebagai pencari

nafkah. Selain itu ibu juga berperansebagai salah satu anggota kelompok dari

peranan sosial serta sebagaianggota masyarakat di lingkungan di mana dia

tinggal.29

b. Fungsi Keluarga

Keluarga merupakan perkumpulan dua orang atau lebih individu

yanghidup bersama dalam keterikatan, emosional dan setiap individu

memilikiperan masing-masing yang merupakan bagian dari keluarga.30 Menurut

Mubarak keluarga adalah perkumpulan dua atau lebihindividu yang terikat oleh

hubungan perkawinan, hubungan darah,ataupunadopsi, dan setiap anggota

keluarga saling berinteraksi satu dengan lainnya.31

Sedangkan menurut UU No. 52 Tahun 2009, mendifinisikan

keluargasebagai unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari suami istri

dananaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya.32 Keluarga merupakan

lingkungan yang pertama dan utama bagiperkembangan individu, karena sejak

kecil anak tumbuh dan berkembangdalam lingkungan keluarga. Karena itulah

29
Ibid….. 40
30
Fatimah,Fungsi Keluarga, ( Jakarta : PT Renika Cipta,2010). Hlm 78
31
Mubarak, pengertian Keluarga ( Bandung : Rosdakarya, 2009) hlm 56
32
Wirdhana, I., et al. Komunikasi Efektif Orangtua dengan Remaja. (Jakarta:
BKKBN,2012) hlm 67
peranan orang tua menjadi amatsentral dan sangat besar bagi pertumbuhan dan

perkembangan anak, baik itusecara langsung maupun tidak langsung.

Sementara menurut WHO fungsi keluarga terdiri dari :33

a. Fungsi Biologis meliputi : fungsi untuk meneruskan keturunan, memelihara

dan membesarkan anak, memelihara dan merawat anggotakeluarga, serta

memenuhi kebutuhan gizi keluarga.

b. Fungsi Psikologi meliputi : fungsi dalam memberikan kasih sayang danrasa

aman, memberikan perhatian diantara anggota keluarga,

membinapendewasaan kepribadian anggota keluarga,serta memberikan

identitaskeluarga.

c. Fungsi Sosialisasi meliputi : fungsi dalam membina sosialisasi padaanak,

meneruskan nilai-nilai keluarga, dan membina norma-normatingkah laku

sesuai dengan tingkat perkembangan anak.

d. Fungsi Ekonomi meliputi : fungsi dalam mencari sumber-sumberpenghasilan,

mengatur dalam pengunaan penghasilan keluarga dalam rangka memenuhi

kebutuhan keluarga, serta menabung untuk memenuhikebutuhan keluarga di

masa mendatang.

e. Fungsi Pendidikan meliputi : fungsi dalam mendidik anak sesuai

dengantingkatan perkembangannya, menyekolahkan anak agar

memperolehpengetahuan, keterampilan dan membentuk perilaku anak sesuai

denganbakat dan minat yang dimilikinya, serta mempersiapkan anak

33
Ratnasari,Fungsi Keluarga, ( Bandung : PT Rosdakarya,2011) hlm 112
dalammememuhi peranannya sebagai orang dewasa untuk kehidupan dewasa

dimasa yang akan datang.


BAB III

PENANGGULANGAN KENAKALAN REMAJA


DAN FUNGSI SOSIAL KELUARGA

A. Gambaran umum lokasi penelitian

1. Deskripsi Daerah Penelitian

Gambaran daerah penelitian dimaksudkan untuk memberikan gambaran

tentang daerah penelitian dilakukan. Gambaran daerah penelitian diperlukan

sebagai penunjang bagi pembahasan hasil penelitian, oleh karena itu deskripsi

daerah penelitian merupakan gambaran awal dari hasil penelitian secara

keseluruhan.

Penelitian ini dilakukan di Desa Baru Kecamatan Samadua Kabupaten

Aceh Selatan. Desa Baru merupakan salah satu Gampong di Kecamatan Sama

Dua Kabupaten Aceh Selatan. Desa Baru Kecamatan Samadua terdiri dari 5

dusun yaitu dusun Kayee, dusun Mesjid, dusun Blang dan dusun Baroe.1

Desa Baru Kecamatan Samadua mempunyai batas-batas wilayah sebagai

berikut:

a. Sebelah utara berbatasan dengan Gampong Balai

b. Sebelah timur berbatasan dengan Gampong Air Sialang Hilir

c. Sebelah selatan berbatasan dengan Gampong Jilatang

d. Sebelah barat berbatasan dengan Gampong Gadang

Jarak dari pemerintahan Kecamatan 17 kilometer

a. Jarak dari Kabupaten 6,5 kilometer

1
Profil Desa Baru Kecamatan Samadua Kabupaten Aceh Selatan
b. Jarak Ibu Kota ke Kecamatan0,5 kilometer

Desa Baru Kecamatan Samadua berada di pusat Kecamatan Samadua

yang merupakan wilayah yang kegiatan perekonomiannya aktif. Desa Baru


27
Kecamatan Samadua berada pada ketinggian 450-565 meter dari permukaan laut.

Luas wilayah Desa Baru Kecamatan Samadua adalah 170.876 Ha yang terdiri

dari tanah halaman dan bangunan, persawahan, tanah kosong, dan daerah lainnya.

Adapun untuk lebih rincinya dari luas tanahnya sebagai berikut:

a. Tanah halaman dan bangunan seluas 47.000 Ha

b. Tanah persawahan seluas 58.430 Ha

c. Tanah Kosong seluas 123.123 Ha

d. Tanah lainnya (jalan, makam, dan lainnya) seluas 12.600 Ha2

Desa Baru Kecamatan Samadua yang terdiri dari 5 dusun mempunyai

jumlah penduduk 817 jiwa yang terdiri dari laki-laki 392 jiwa, dan perempuan 425

jiwa. Dari jumlah penduduk tersebut dapat dirincikan sebagai berikut:

Tabel 1.1 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin


Jenis Kelamin Orang Persentase (%)

Laki-laki 392 47,98 %

Perempuan 425 52,025 %

Jumlah 817 100 %

Sumber : Profil Desa Baru Kecamatan Samadua diambil pada tanggal 2 Januari
2017

Berdasarkan data diatas menunjukkan bahwa jumlah penduduk laki-laki

atau kepala keluarga di Desa Baru Kecamatan Samadua cukup banyak, karena di

Desa Baru Kecamatan Samadua ini kebanyakan terdiri dari pasangan suami istri

2
Profil Desa Baru Kecamatan Samadua Kabupaten Aceh Selatan
yang tinggal menetap di Desa Baru Kecamatan Samadua. Hal tersebut

memungkinkan untuk membentuk keluarga yang sejahtera.

Tabel 1.2
Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian
No. Jenis Mata Pencaharian Jumlah (Orang)
1. Petani 95
2. Buruh Tani 112
3. Perdagangan 75
4. Pekerja Bangunan 83
5. Angkutan dan jasa 23
6. Pegawai negeri sipil (PNS) 89
7. TNI/Polri 28
8. Pensiunan PNS/TNI/Polri 25
9. Pengusaha 58
10 Tidak Bekerja 229
Jumlah 817

Tabel 1.3
Jumlah Penduduk Menurut Jenjang Pendidikan
No. Jenjang Pendidikan Jumlah

1. Tidak Tamat Sekolah 37

2. Belum Sekolah 203

3. SD/sederajat 76

4. SMP/Sederajat 173

5. SMA/Sederajat 257

6. Perguruan Tinggi 71

Jumlah 817

Desa Baru Kecamatan Samadua dipimpin oleh seorang Kepala Desa atau

Keuchik. Dalam menjalankan pemerintahannya, Keuchik dibantu oleh 7 orang

staf yang terdiri dari kaur pemerintahan, kaur pembangunan, kaur kesejahteraan
rakyat (kesra), kaur keuangan, kaur umum, sekretaris desa (sekdes), dan kepala

dusun.

Masyarakat Desa Baru Kecamatan Samadua pada umumnya

penduduknya beragama Islam. Kebudayaan yang ada dan berkembang di Desa

Baru Kecamatan Samadua mendapat pengaruh yang besar dari agama Islam.

Nuansa Islam tersebut terlihat pada kegiatan-kegiatan keagaman yang rutin

dilakukan di Desa Baru Kecamatan Samadua seperti pengajian mingguan tiap

malam jum`at, dalail khairat (zikir), tahlilan bersama dan lain sebagainya. Adat

istiadat budaya Aceh juga masih dilakukan secara turun temurun, misalnya

peuticap aneuk (peutron aneuk), dan upacara pernikahan.

Masyarakat Desa Baru Kecamatan Samadua masih menjunjung tinggi

budaya gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini terlihat pada

setiap ada warga yang sedang mengadakan acara seperti pernikahan, hajatan,

panen padi, masyarakat Desa Baru Kecamatan Samadua saling membantu satu

sama lain. Kerja bakti pada masyarakat Desa Baru Kecamatan Samadua sering

dilaksanakan dengan baik. Menurut penjelasan Pak Keuchik setiap seminggu

sekali masyarakat Desa Baru Kecamatan Samadua mengadakan kerja bakti

secara rutin, dan setiap sebulan sekali masyarakat Desa Baru Kecamatan Samadua

mengadakan rapat tingkat dusun.3 Hal tersebut bertujuan untuk menjalin

silaturrahmi dan membicarakan masalah-masalah yang ada di lingkungannya

masing-masing.

3
Hasil wawancara dengan Syamsuar, S, Keuchik Desa Baru Keamatan Samaduapada
tanggal 3 Januari 2018.
B. Penyebab Terjadinya Kenakalan Remaja di Desa Baru Kecamatan

Samadua Kabupaten Aceh Selatan

Peneliti melakukan wawancara dengan masyarakat di Desa Baru

Kecamatan Samadua Kabupaten Aceh Seltan untuk mengetahui faktor yang

menyebabkan terjadinya kenakalan [Link] penelitian menunjukkan bahwa

terdapat beberapa faktor yang menyebabkan kenakalan remaja. Peneliti

menguraikan hasil wawancara sebagai berikut:

1. Faktor Pribadi

Hasil wawancara menunjukkan bahwa faktor pertama yang mengakibatkan

kenakan remaja adalah faktor yang berasal dari diri pribadi [Link]

mental dan emosional akan pentingnya moralitas, sehingga tentu saja

mengakibatkan mereka lebih mudah terpengaruh dan jatuh tindakan-tindakan

asusila. Hal ini sebagaiamana yang disampaikan oleh salah satu responden

berikut:

Kenakalan remaja terjadi karena remaja tidak memiliki sikap mental yang
[Link] kurang mengenali dirinya dengan baik, sehingga sanagat
mudah mengikuti hal-hal yang tidak baik. Jika remaja memiliki sikap
mental yang baik, maka ia dapat dengan mudah memilih hal yang baik dan
buruk untuk dirinya.4

Responden lainnya juga menyatakan hal yang tidak jauh berbeda dengan

jawaban yang disampaikan leh respnden di atas, berikut ini jawaban yang

disampaikan:

Menurut saya, kenakalan remaja paling banyak disebabkan oleh pribadi


remaja [Link] yang memiliki kepribadian yang kurng baik,
sangat mudah tergelincir pada perbuatan-perbuatan yang merugikan
4
Hasil wawancara dengan Nasrullah, MasyarakatDesa Baru Keamatan Samadua pada
tanggal 3 Januari 2018.
dirinya [Link] ini ini seperti kurangnya rasa kasih saya, tanggung
jawab, pendendam, sombong, dan semua hal yang tidak mencerminkan
sikap moral baik pada diri.5

Selain itu remaja yang memiliki kepribadian yang kurang baik, akan

memiliki keyakinan yang lemah. Sehingga, saat ada pihak lain yang mengajak

untuk melakukan sesuatu, maka ia akan menngikutinya. Hal ini sebagaimana yang

disampaikan oleh responden berikut:

Kenakalan remaja diakibatkan kepribadian remaja yang tidak baik,


sehingga saat hal-hal buruk dilihatnya., maka ia ingin tahu dan coba-coba,
katakanlah ini seperti minuman keras, narkoba, dan sex, mungkin coba-
coba adalah alasan awal tetapi tidak sadar bahwa semua hal itu membuat
[Link] remja tidak memikirkan akibat ke depannya, remaja
memang suka foya-foya tanpa memikirkan masa depan dan akibat yang
akan ditanggung.

Berdasarkan jawaban yang disampaikan di atas, maka dapat diketahui

bahwa kenakalan remaja terjadi dikarenakan faktor dalam diri remaja tersebut.

Remaja yang memiliki kepribadian yang kurang baik akan sangat mudah terjebak

dalam erilaku-perilaku yang menyimpang. Remaja kana sangat mudah mengikuti

hal-hal buruk yang dilakukan orang-orang di lingkungannya.

2. Faktor Keluarga

Keluarga juga menjadi peran penting untuk membina kualitas moral pada

diri, khususnya remaja. Hasil wawancara menunjukkan bahwa keluarga

memberikan kontirbusi yang sangat besar terhadap kenakaalan remaja yang

terjadi. Hasil wawancara yang berkaitan dengan faktor keluarga dapat diuraikan

sebagai berikut:

5
Hasil wawancara dengan Mukhtar, MasyarakatDesa Baru Keamatan Samadua pada
tanggal 3 Januari 2018.
Perkembangan diri remaja sangat bergantung pada didikan yang diberikan
keluarga. Jika keluarga mampu mendidik dengan baik, maka anak akan
berkembang dengan baik, akan tetapi jika pendidikan dalam keluarga
kurang baik, maka remaja akan berkembang dengan tidak baik. Oleh
karena itu, keluarga memberikan kontribusi yang sangat besar bagi
remaja.6

Hasil wawancar di atas, juga didukung oleh jawaban yang disampaikan

oleh salah satu masyarakat lainnya. Hasil wawancara tersebut sebagai berikut:

Orang tua yang mendidik anak dengan baik, akan menciptakan anak yang
baik dan berakhlak mulia, akan tetapi jika orang tua melakukan kesalahan
dalam mendidik anak, maka anak akan menjadi kurang baik, seperti anak
yang teralu dimanjakan, orang tua yang sering bertengkar di depan
anaknya memberikan dampak biuruk bagi anak, dan juga komunikasi yang
kurang baik dengan anak, mengakibatkan anak merasa jauh dari orang
tua.7

Berdasarkan wawancara di atas, maka dapat diketahui bahwa keluarga

merupakan faktor yang penting dalam membentuk remaja yang [Link] karena

itu, keluarga membrikan pengaruh yang sangat besar terhadap kenakalan reamaja

yang terjadi. Semakin baik sebuah keluarga mendidik anaknya, maka akan

semakin baik pula perkembangan remaja tersebut dan tidak mudah terjebak dalam

kenakalan remaja.

3. Faktor Lingkungan dan Pergaualan

Hasil wawancaraa menunjukkan bahwa lingkungan dari pergaulan yang

dimiliki remaja memberikan kontribusi yang besar terhadap terjadinya kenakalan

[Link] dengan teman sebaya yang nakal menambah besar resiko menjadi

nakal. Memiliki teman-teman sebaya yang melakukan kenakalan meningkatkan

6
Hasil wawancara dengan Nuraini, MasyarakatDesa Baru Keamatan Samadua pada
tanggal 4 Januari 2018.
7
Hasil wawancara dengan Zakiah, MasyarakatDesa Baru Keamatan Samadua pada
tanggal 3 Januari 2018.
resiko remaja untuk menjadi nakal. Hasil wawancara menunjukkan faktor tersebut

dapat mengakibatkan kenakalan remaja sebagaimana yang disamapikan berikut

ini:

Lingkungan dan pergaulan remaja sangat mempengaruhi kehidupan pada


remaja. Remaja yang tumbuh dalam lingkungan dan pergaulan yang tidak
baik, akan sangat mudah dipengaruhi. Sehingga pada akhirnya remaja
tersebut ikut-ikutan dan terpengaruh.8

Hasil wawancara di atas menunjukkan bahwa remaja sangat terpengaruh

oleh lingkungan dan pergauan yang dimilikinya. Hal ini dikarenakan usia remaja,

merupakan usia yang masih labil dan belum memiliki prinsip diri yang kuat,

sehingga anak mudah sekali terpengaruh. Hal ini juag disampaikan oleh salah satu

responden berikut ini:

Saya merasa, remaja menjadi nakal dikarenakan lingkungan dan pergaulan


yang ada di [Link] sekarang lebih suka mengikuti kata-kata
temannya dibandingkan orang tua. Agar ia terlihat gaul dan bisa diterima
oleh lingkungannya. Sehingga, sebaik apapun didikan dalam keluarga
dapat dikalahkan oleh pergauln ang salah.9

Berdasarkan hasil wawancara di atas, maka dapat diketahui bahwa remaja

dipengaruhi oleh lingkungan dan pergaulannya. Remaja yang tumbuh dalam

lingkungan dan pergaulan yang kurang baik, akan sangat rentan terpengaruh dan

mengikuti pergaulan bebas. Hal ini dikarenakan remaja bergaul dan tumbuh di

lingkungan masyarakat baik dengan teman sebayanya maupun dengan orang lain

yang lebih muda atau lebih tua dari dirinya.

8
Hasil wawancara dengan Siti Habibah, MasyarakatDesa Baru Keamatan Samadua pada
tanggal 5 Januari 2018.
9
Hasil wawancara dengan Ratna Dewi, MasyarakatDesa Baru Keamatan Samadua pada
tanggal 5 Januari 2018.
C. Penanggulangan Kenakalan Remaja dan Fungsi Keluarga di Desa Baru

Kecamatan Samadua Kabupaten Aceh Selatan

1) Fungsi Keluarga

Orang tua atau ibu dan ayah memegang peranan yang sangat penting dan

amat berpengaruh atas pendidikan anak-anaknya. Sejak seorang anak lahir

ibunyalah yang selalu ada di sampingnya oleh karena itu ia meniru peranggai

ibunya dan ayahmya, seorang anak lebih cinta kepada ibunya, apabilah ibu itu

menjalankan tugasnya dengan baik. Ibu merupakan orang yang mula-mula dikenal

anak, yang mula-mula dipercayainya, apapun yang dilakukan ibu dapat

dimaafkan, kecuali apabila ia ditinggalkan dengan memahami segalah sesuatu

yang terkadang dalam hati anaknya, juga jika anak telah mulai besar, disertai

kasih sayang, dapat ibu megambil hati anak untuk selama-lamanya

Kenakalan remaja dapat dilakukan melalui keluarga. Keluarga merupakan

faktor yang sangat [Link] tumbuh dan berkembang dalam [Link]

kecil, anak dibesarkan dan dididik oleh keluarga, khususnya orang [Link]

karena itu, orang tua memegang peranan penting. Hal ini sebagaimana yang

disamapikan oleh salah satu responden berikut:

Orangtua harus menjadi teladan sikap dan ucapan pada anaknya.


Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa
dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan. Remaja harus bisa
mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang telah
melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka yang berhasil
memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini.10

Berdasarkan jawaban di atas, maka dapat diketahui bahwa keluarga

memberikan kontribusi yang besar terhadap pembentukan kepribadian [Link]

tua, dalam hal ini ayah dan ibu menjadi panutan bagi [Link], apapun yang

dilakukan oleh orang tua memberikan dampak bagi anak.

Peran orang tua diantaranya memberikan pendidikan mulai dari kecil

kepada [Link] sebaiknya diberi pengetahuan yang [Link] tua sebaiknya

mendidik anak dengan tanggung jawab dan [Link] jawab sangat

diperlukan dalam mengembangkan kepribadian anak. Orang tua harus lebih

mengajarkan tentang arti dari suatu tangung jawab. Kedisplinan juga berperan

penting dalam perkembangan anak agar anak tidak terbiasa bergantung pada orang

lain karena kemalasan. Peran orang tua sangatlah penting dalam memberikan

perhatian dan kasih sayang karena itu sangat diperlukan untuk menjaga suatu

hubungan dalam [Link] tua sebaiknya lebih mengutamakan

keinginan anaknya. Sebaiknya dalam mendidik anak kita terapkan keteladanan

yang baik, bimbingan yang baik, nasehat yang baik, dan juga mengingatkan

kesalahan-kesalahan anak, menanamkan pemahaman-pemahaman kepada anak.

Jika anak membuat kesalahan sebaiknya orang tua tidak memarahi ataupun

memberikan hukuman fisik namun memberikan peringatan ataupun arahan agar

tidak mengulanginya lagi.

10
Hasil wawancara dengan Nasrullah, MasyarakatDesa Baru Keamatan Samadua pada
tanggal 3 Januari 2018.
Keluarga mempunyai peranan di dalam pertumbuhan dan perkembangan

pribadi seorang anak. Sebab keluarga merupakan lingkungan pertama dari tempat

kehadirannya dan mempunyai fungsi untuk menerima, merawat dan mendidik

seorang anak. Jelaslah keluarga menjadi tempat pendidikan pertama yang

dibutuhkan seorang anak. Dan cara bagaimana pendidikan itu diberikan akan

menentukan. Sebab pendidikan itu pula pada prinsipnya adalah untuk meletakkan

dasar dan arah bagi seorang anak. Pendidikan yang baik akan mengembangkan

kedewasaan pribadi anak tersebut. Anak itu menjadi seorang yang mandiri, penuh

tangung jawab terhadap tugas dan kewajibannya, menghormati sesama manusia dan

hidup sesuai martabat dan citranya. Sebaliknya pendidikan yang salah dapat

membawa akibat yang tidak baik bagi perkembangan pribadi anak. Salah satu

pendidikan yang salah adalah memanjakan anak.

Orang tua tentunya menginginkan anaknya kelak menjadi orang yang

berguna bagi semua [Link] lingkungan sosial yang lebih besar orang tua juga

memiliki peran, orang tua adalah bagian dari sebuah kelompok masyarakat yang

lebih besar. peran yang dijalankan tentu saja berbeda dengan peran didalam

keluarga. Hasil wawancara menunjukkan bahwa orang tua harus mendidik anak

dengan baik

Para orang tua seharusnya sudah menyadari bahwa mereka adalah calon
tenaga pendidik bagi anak-anaknya kelak. Sehingga, ketika sudah
dikaruniai buah hati, mereka tidak lagi canggung dengan peran itu. Peran
sebagai tenaga pendidik yang harus diemban oleh para orang tua tentu saja
tidak sama dengan peran tenaga pendidik yang ada dilembaga-lembaga
pendidikan.11

11
Hasil wawancara dengan Ratna Dewi, MasyarakatDesa Baru Keamatan Samadua pada
tanggal 5 Januari 2018.
Hasil wawancara di atas menunjukkan bahwa orang tua harus dapat

mendidik anaknya denagn baik dan bisa menjadi panutan bagi [Link],

perilaku baik yang dilakukan oleh orang tua dapat diikuti oleh [Link],

anak yang tumbuh dalam keluarga yang memiliki pendidikan dan pengasuhan

yang baik dapat tumbuh menjadi remaja yang baik.

2) Peran Lembaga Pendidikan

Kenakalan remaja juga dirasakan oleh pihak sekolah khususnya oleh para

pendidik. Hal ini nseabagaimana yang disampaikan oleh salah satu guru di Desa

Baru berikut:

Dari apa yang kami ketahui selama ini bahwa faktor penyebab kasus atau
kenakalan siswa, diantaranya adalah faktor kurang disiplinnya siswa itu
sendiri, pengaruh pergaulan dengan temannya (sesama siswa), rendahnya
minat belajar atau kurangnya dorongan atau motivasi belajar pada dirinya,
dan disamping itu juga disebabkan karena faktor kondisi sosial ekonomi
orang tua, dimana siswa bersangkutan kerap bolos sekolah atau pulang
lebih awal dari sekolah hanya sekedar membantu pekerjaan orang tua di
rumah.12

Lembaga pendidikan dalam hal ini seklah, dapat memberikan solusi dalam

mengatasi kenakalan [Link] memperbaiki tingkah laku siswa yang telah

menyimpang dari peraturan atau tata tertib sekolah maka harus ada usaha yang

sistematis dan terencana, dalam hal ini ada beberapa prosedur yang harus

dilakukan, yaitu sebagai berikut :

“(a)Memperkuat tingkah laku [Link] usaha mengubah tingkah


laku yang tak diinginkan, diadakan penguatan tingkah laku yang
diinginkan misalnya dengan kegiatan-kegiatan kerjasama, membaca dan

12
Hasil wawancara dengan Murniati, Guru diDesa Baru Keamatan Samadua pada tanggal
5 Januari 2018.
bekerja disatu meja untuk mengatasi kelakuan-kelakuan menentang,
melamun dan hilir mudik. (b) Ekstingsi. Ekstingsi dilakukan dengan
meniadakan peristiwa-peristiwa penguat tingkah laku. (c) Satiasi. Satiasi
adalah suatu prosedur menyuruh seseorang melakukan perbuatan
berulang-ulang sehingga siswa menjadi lelah atau jera.(d) Perubahan
Lingkungan [Link] tingkah laku dapat dikendalikan oleh
perubahan kondisi stimuli yang mempengaruhi tingkah laku. (e)
Hukuman. Untuk memperbaiki tingkah laku, hukuman hendaknya di
terapkan di kelas dengan bijaksana”.13

Dari prosedur-prosedur diatas tidak akan lengkap atau sempurna tanpa

adanya penanaman nilai-nilai agama pada diri siswa, dan guru harus dapat

menjadi contoh atau suri tauladan bagi siswa-siswi sehingga siswa merasa ada

figur yang pantas untuk [Link] ini dikarenaan guru dapat memberikan

bimbingan kepada remaja sehingga remaja dapat memiliki panutan yang tepat.

Hasil wawancara lainnya menunjukkan bahwa lembaga pendidikan dapat

mengarahkan remaja untuk memiliki kepribadian yang [Link] ini sebagaimana

yang disampaikan oleh responden berikut:

Sekolah sebagai lembaga pendidikan dapat menjadi salah satu altrnatif


dalam mengatasi kenakalan [Link] di sekolah dapat mendidik remaja
dan meberikan pengarahan agar remaja dapat melakukan tindakan yang
bai dalam kegiatan sehari-hari. Guru diharapkan dapat mendidika remaja
dan melakukan koordinasi dengan orang tuas, sehingga kedua pbelah
pihak dapat mengawasi perkembangan remaja secara bersama-sama.14

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diketahui bahwa lembaga

pendidikan dapat membantu mengatasi kenakalan remaja dengan cara mendidik

remaja dengan baik dan mengarahkan mereka terhadap hal-hal positif. Selain itu,

13
Hasil wawancara dengan Nurbaiti, Guru diDesa Baru Keamatan Samadua pada tanggal
5 Januari 2018.

14
Hasil wawancara dengan Amirullahh, MasyarakatDesa Baru Keamatan Samadua pada
tanggal 5 Januari 2018.
lembaga pendidikan juga dapat menjalin kerjasama dengan orang tua dan

masyarakat agar dapat mengatasi kenakalan remaja dan bersama-sama mengawasi

perkembangan mereka.

3) Pengaruh Masyarakat

Hasil wawancara dengan Kepala DesaBaru Kecamatan Samadua

Kabupaten Aceh Selatan, mengenai perilaku mabuk-mabukan di kalangan remaja

mengatakan:

Kebanyakan remaja di Desa Baru Kecamatan Samadua Kabupaten Aceh


Selatan memiliki kebiasan minum-minuman keras pada saat acara-acara
didesa dan pada saat mereka berkumpul. Hal lain yang sering
dilakukanremaja adalah perilaku seks bebas di kalangan mereka.15

Hasil wawancara dengan Ustad mengenai perilaku mabuk-mabukan di

kalangan remaja mengatakan:

Saya memperhatikan para remaja disini memiliki kebiasaan mabuk-


mabukan tiap malam pada saat mereka berkumpul di malam hari. Selain
itu, remaja sering meakukan pergaulan bebas dengan lawan jnis, bahkan
mengakibatkan kehamilan.16

Hasil wawancara dengan masyarakat lainnya mengenai perilaku

mabukmabukan di kalangan remaja mengatakan:

Pada Desa Baru Kecamatan Samadua Kabupaten Aceh Selatan ditemukan


angka kenakalan remaja tinggi, salah satu kenakalan remaja yang banyak
terjadi adalah mabuk-mabukan tiap malam.

Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa orang penting dalam

masyarakat disimpulkan bahwa semua kebanyakan remaja memiliki kebiasaan

15
Hasil wawancara dengan KepalaDesa Baru Keamatan Samadua pada tanggal 3 Januari
2018.
16
Hasil wawancara dengan Tgk. Amri, Tokoh Agama di Desa Baru Keamatan Samadua
pada tanggal 3 Januari 2018.
mabuk-mabukan baik di acara tertentu maupun pada saat mereka beristirahat pada

malam hari, hal ini dilakukan karena sudah merupakan kebiasaan mereka

danmerekapun mengganggap ini hal biasa.

D. Hambatan Keluarga dalam Mengatasi Kenakalan pada Remaja Desa

Baru Kecamatan Samadua Kabupaten Aceh Selatan

1) Keluarga

Hasil wawancara menunjukkan bahwa keluarga mengalami hambatan

dalam mengatasi kenakalan remaja. Berikut hasil wawanara yang dilakukan

dengan masyarakat mengenai kendala tersebut:

Kendala yang dihadapi keluarga dalam mengatasi kenakalan remaja


diakrenakan orang tua biasanya memiliki kesibukan dan keterabatasan
waktu, sehingga tidak dapat membimbing dan memperhatikan [Link]
itu, orang tua biasanya memilik beberapa orang anak, sehingga
perhatianya terbagi-bagi untuk tiap anak.

Hambatan lainnya yang dihadapi keluarga dalam mengatasi kenakalan

remaja dikarenakan anak banyak menghabiskaqn waktu di luar bersama teman-

temannya, sehingga orang tua tidak selalu dapt memperhtikan dan mengawasi

anaknya. Hal ini sebagaiamana yang disampaikan oleh responden berikut ini:

Saya merasa anak lebih sering mengahbabiskan waktunya di luar rumah


dibandingkan di [Link] pulang seklah, anak biasanya bermain
dengan teman-teman sebayanya dan telat kembali ke [Link],
jarang bertemu dan [Link] jika anak tidak dapat dihubungi,
maka pengawasan yang dilakukan sangat terbatas.17

Berdasarkan hasil wawancara di atas, maka daapt diketahui bahwa orang

tua tidak selalu dapt mendampingi anak, terlbih lagi remja yang mulai memiliki

kebiasaan menghabiskan waktu di luar [Link] merasa lebih nyaman di

luar rumah dibandingkan berkumpul bersama [Link] ini menjadi hambatn

bagi orang tua dalam menngatasi kenakalan remaja.

2) Lembaga Pendidikan

Berkaitan dengan kendala sekolah dalam menanggulangi kenakalan siswa,

berdasarkan hasil wawancara maka dapat dikatahui bahwa

Mengenai hal ini, memang ada sejumlah kendala yang dialami dalam
melakukan pembinaan dan pencegahan kenakalan siswa tersebut,
diantaranya, yaitu: lemahnya data-data atau informasi tentang riwayat
hidup siswa/klien yang bermasalah, ketidakterbukaan siswa/klien
mengenai kasus atau permasalahannya, kurangnya keperdulian orang
tua/wali siswa terhadap kasus atau permasalahan yang dialami
putra/putrinya, dan juga kendala keterbatasan guru mata pelajaran dalam
memberikan materi pendidikan karakter di kelas.18

Senada dengan penjelasan di atas, dimana dalam wawancara dengan guru

di Desa Baru menangani masalah pembinaan dan pencegahan kenakalan siswa,

menjelaskan berikut ini.

Memang ada sejumlah kendala dalam melaksanakan pembinaan dan


pencegahan kenakalan siswa, yaitu tidak lengkapnya data-data/informasi
mengenai riwayat hidup siswa/klien, ketidakterbukaan siswa/klien dalam
mengemukakan kasus/permasalahannya, kurang keperdulian orang
tua/wali siswa bersangkutan terhadap kasus/permasalahan putra/putrinya,

17
Hasil wawancara dengan Nasrullah, MasyarakatDesa Baru Keamatan Samadua pada
tanggal 3 Januari 2018.
18
Hasil wawancara dengan Azhari, Guru MTsN diDesa Baru Keamatan Samadua pada
tanggal 5 Januari 2018.
dan disamping itu juga kendala dalam pemberian pendidikan karakter
melalui kegiatan PBM di kelas karena keterbatasan waktu jam mengajar
guru mata pelajaran.19

Adapun responden lainnya mengemukakan mengenai kendala sekolah

dalam menanggulangi kenakalan siswa adalah:

Kesulitan bagi para guru mata pelajaran dalam mensinergikan materi


pendidikan karakter dengan materi pelajaran. Disamping itu juga kendala
dalam hal keterbatasan alokasi waktu untuk memberikan bimbingan dan
pembinaan karakter siswa. Dalam kaitannya dengan pelaksanaan
pembelajaran, kendala yang saya alami adalah menentukan alokasi waktu
untuk kegiatan siswa di luar kelas, karena pelajaran pada dasarnya bersifat
kontekstual yaitu berkaitan dengan kehidupan nyatasehari-hari di
masyarakat.20

Dari paparan data diatas dapat disimpulkan bahwa kendala sekolah dalam

upaya menanggulangi kenakalan siswa dapat dikelompokkan dalam dua faktor

kendala, yaitu: kendala internal sekolah, dan kendala eksternal. Kendala internal

meliputi keterbatasan dalam memberikan bimbingan karakter pada siswa saat

pembelajaran di sekolah, ketidakterbukaan siswa yang bermasalah dalam

pemberian informasi mengenai permasalahan yang dialaminya dan kendala lain

yang selalu dialami guru dalam menanggulangi kenakalan siswa melalui kegiatan

ekstrakurikuler adalah keterbatasan peluang bagi siswa dalam mengembangkan

bakat dan minatnya di sekolah, karena keterbatasan alokasi waktu untuk kegiatan

tersebut.21

Sedangkan kendala dari faktor eksternal, yaitu kondisi lingkungan

sekitar sekolah, seperti: lokasi sekolah dekat dengan jalan raya dan tingkat sosial

19
Hasil wawancara dengan Murniatai,Guru SMPN diDesa Baru Keamatan Samadua pada
tanggal 5 Januari 2018
20
Hasil wawancara dengan Cut Linda, Guru MTsN diDesa Baru Keamatan Samadua pada
tanggal 3 Januari 2018
21
Hurlock, Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang. Rentang Kehidupan.
(Jakarta : Erlangga Khatimah,2004), hlm.84.
ekonomi rendah di kalangan orang tua/wali siswa, cenderung memberi beban atau

menekan proses perkembangan individu siswa. Siswa bersangkutan dihadapkan

dengan dua kondisi, yaitu membantu pekerjaan orang tua mencari nafkah, dan

menuntut ilmu di sekolah, sehingga upaya sekolah dalam menanggulangi

kenakalan siswa tidak dapat dilaksanakan secara maksimal.22

Dalam kaitannya dengan kendala internal sekolah berdasarkan paparan

data menunjukkan bahwa kendala yang tergolong selalu dialami sekolah maupun

guru dalam menanggulangi kenakalan siswa, antara lain: keterbatasan dalam

memberikan bimbingan karakter pada siswa saat pembelajaran maupun dalam

pembelajaran lainnya di sekolah, kurang proaktifnya orang tua/wali siswa tentang

riwayat kehidupan anak (siswa) sehingga guru sulit untuk membantu pemecahan

kesulitannya. Selain itu ketidakterbukaan siswa yang bermasalah dalam

pemberian informasi mengenai permasalahan yang dialaminya kepada guru yang

menanganinya. Begitu juga kendala lain yang selalu dialami guru dalam hal ini

guru PKn dalam upaya menanggulangi kenakalan siswa melalui proses, kegiatan

belajar mengajar atau pembelajaran di kelas maupun melalui kegiatan

ekstrakurikuler, yaitu kesulitan guru dalam mengintegrasikan (memadukan)

pendidikan karakter dengan materi pelajaran di sekolah, serta belum adanya acuan

atau pedoman tentang standar pembinaan dan pengembangan nilai-nilai moral,

sikap, perilaku yang diinginkan atau berkaitan dengan standar pendidikan karakter

siswa untuk SMP. Sedangkan kendala faktor eksternal yaitu kondisi lingkungan

sekitar sekolah, seperti lokasi sekolah dekat dengan jalan raya.

22
Ibid, … hlm. 87.
Di samping itu temuan penelitian menunjukkan bahwa tingkat sosial

ekonomi rendah di kalangan orang tua/wali siswa, cenderung memberi beban atau

menekan proses perkembangan individu siswa. Siswa bersangkutan dihadapkan

dengan dua kondisi, yaitu membantu pekerjaan orang tua mencari nafkah, dan

menuntut ilmu di sekolah. Kondisi ini tentu tidak mendukung upaya guru atau

sekolah dalam menanggulangi kenakalan siswa, bahkan kemungkinan sebaliknya

akan menjadi daya tarik tersendiri atau sebagai penyebab munculnya kenakalan di

kalangan siswa, misalnya bolos sekolah tidak mengikuti pelajaran, melakukan

tindakan atau perbuatan yang tidak diinginkan dan lain sebagainya.

3) Masyarakat

Hasil wawancara dengan Pemuka Adat terdapat kendala yang ditemukan

dalam menanggulangi kenakalan remaja mengatakan:

Menanamkan kepercayaan dalam diri sendiri artinya kalau pemimpin yang

baik maka pengikut juga baik dan sebaliknya, akan tetapi ini dilakukan tidak

mudah karena tidak semua remaja mau menerimanya. Hasil wawancara mengenai

kendala pemerintah dalam mengatasi seks bebas mengatakan:

(1) Kurangnya peran masyarakat dalam membantu pemerintah mengatasi


mabukmabukan dan seks bebas,
(2) mudahnya mendapatkan minuman keras dilingkungan remaja,
(3) terlalu bebasnya pergaulan remaja di lingkungan masyarakat sehingga
pemuda23

Hasil wawancara dengan Ustad mengenai kendala pemerintah dalam

mengatasi seks bebas mengatakan:

1. Sistem pelaksanaan adat yang belum efektif dilaksanakan sepenuhnya.

23
Hasil wawancara dengan Mukhatruddin, Pemuka Adat diDesa Baru Keamatan Samadua
pada tanggal 3 Januari 2018
2. Ketidakpedulian orang tua terhadap anak

3. Kurangnya pendidikan moral dalam keluarga

4. Sifat acuh tak acuh tentang kegiatan keagamaan.24

Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan, usaha pemerintah

dan masyarakat dalam mengatasi kenakalan remaja tidak mudah, mereka juga

mendapatkan kendala-kendala seperti mudahnya para remaja memperoleh miras,

kurangnya koordinasi antara pemerintah dan masyarakat dalam menanggulangi

seks bebas.

Berdasarkan wawancara dengan pemuka adat dan ustad ditemukan kendala

dalam menanggulangi seksbebas dan mabuk-mabukan menurut pemuka adat

antara lain

(1) Kurangnyaperan masyarakat dalam membantu pemerintah mengatasi


mabukmabukan dan seks bebas,
(2) mudahnya mendapatkan minuman keras dilingkungan remaja,
(3) terlalu bebasnya pergaulan remaja di lingkungan masyarakat sehingga
pemuda pemudi mudah sekali melakukan seks bebas.

Lain halnya dengan ustad kendalanya yaitu sistem pelaksanaan adat yang

belum efektif dilaksanakan sepenuhnya, Ketidakpedulian orang tua terhadap anak

dan kurangnya pendidikan moral dalam keluarga serta Sifat acuh tak acuh tentang

kegiatan keagamaan.

24
Hasil wawancara dengan Tgk. Zulkifli, Ustadz diDesa Baru Keamatan Samadua pada
tanggal 3 Januari 2018
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Desa Baru Kecamatan Samadua Kabupaten Aceh Selatan ditemukan

angka kenakalan remaja tinggi, salah satu kenakalan remaja yang banyak terjadi

adalah mabuk-mabukan tiap malam. Berdasarkan hasil penelitian di lapangan

maka penulis menyimpulkan bahwa semua kebanyakan remaja memiliki

kebiasaan mabuk-mabukan baik di acara tertentu maupun pada saat mereka

beristirahat pada malam hari, hal ini dilakukan karena sudah merupakan kebiasaan

mereka dan merekapun mengganggap ini hal biasa.

Berdasarkan paparan data dan temuan penelitian, serta pembahasan

sebagaimana telah diuraikan pada bagian sebelumnya, maka hasil penelitian ini

dapat disimpulkan sebagai berikut: Faktor-faktor penyebab kenakalan remaja di

Desa Baru Keamatan Samadua Kabuapaten Aceh Selatan disebabkan atau

ditimbulkan oleh dua faktor utama, yaitu faktor internal pada diri remaja itu

sendiri, dan faktor eksternal dalam hal ini faktor lingkungan keluarga serta

lingkungan sosial (pergaulan antar siswa di sekolah).

Upaya yang dialakukan dalam menanggulangi kenakalan remaja meliputi:

aspek pembinaan dari kelauarga, masyarakat dan sekolah dan aspek pencegahan

dan pengawasan kenakalan remaja yang dilakukan secara bersama-sama. Kendala

yang dihadapi dalam menanggulangi kenakalan remaja dapat dikelompokkan

dalam dua faktor kendala, yaitu: keterbatasan waktu keluarga dalam megawasi,
kurangnya koordinasi lembaga pendidikan ddengan orang tua dan kurangnya

keikutsertaan masyarakat dalam mengawasi.

B. Saran

Dari kesimpulan hasil penelitian diatas, dapat diajukan beberapa saran,

antara lain:

1. Bagi sekolah, perlu peningkatan dan berkelanjutan tentang program sekolah

berbasis karakter baik yang bersifat intrakurikuler maupun ekstrakurikuler

sehingga dapat mengembangkan potensi diri yang dimiliki siswa dalam

rangka membantu proses tugas perkembangan nilai-nilai, sikap, moral dan

perilaku yang diharapkan.

2. Bagi Orang Tua, hendaknya perlu proaktif dan menjalin kerjasama yang baik

melalui komunikasi yang intensif kepada pihak sekolah dan guru serta

masyarakat, sehingga setiap permasalahan yang muncul pada diri remaja

dalam hal ini putra-putrinya dapat ditanggulangi secara dini. Dengan demikian

remaja bersangkutan tidak mengalami kesulitan proses pendidikannya di

sekolah.

3. Bagi Peneliti lain, perlu adanya penelitian lebih lanjut dan secara mendalam

berkaitan dengan temuan penelitian ini, sehingga dapat membantu pihak

sekolah dalam upaya menanggulangi kenakalan atau perilaku menyimpang di

kalangan remaja.
1

DAFTAR PUSTAKA

Abu & Nur, Pengertian [Link]: Andi Offse, 2001.

Ali [Link] langit masa depan anak. Jakarta: Cahaya, 2002.

[Link] Perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2005.

[Link] [Link] : PT Renika Cipta,2010.

Gunarsa, S. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta: BPK Gunung


Mulia
2001.

[Link] Remaja. Jakarta: Bumi Aksara, 2011.

[Link] Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang. Rentang


Kehidupan. Jakarta : Erlangga Khatimah, 2004.

[Link] Keluarga. Yogyakarta : Graha Ilmu, 2010.

Kartono. Kenakalan Remaja dalam Masyarakat. Jakarta : Bumi Aksara, 2009.

[Link] Keluarga. Yogyakarta : Nurcahay, 2008.

[Link] Penelitian Pendidikan Cet. 2, Jakarta: Rineka Cipta, 2003.

[Link] gaya pengasuhan orang tua( Banda Aceh: Fakultas


Ushuluddin. 2014.

Mohammad [Link] Remaja. Jakarta: Bumi Aksara, 2004.

Mohammad Asrori. Psikologi Remaja& Perkembangan Peserta Didik, Jakarta:


[Link] Aksara, 2004.

Monks, Knoers & [Link] Perkembangan: Pengantar


DalamBerbagai Bagiannya. Yogyakarta: Gajah Mada University
Press,2002.

[Link] Keluarga. Bandung : Rosdakarya, 2009.

Pembangunan Jangka Menengah Gampong (RPMG) tahun 2009-2013


2

Ratnasari. Fungsi Keluarga. Bandung : PT Rosdakarya,2011.

Santoso, Sikap Remaja. Yogyakarta: Andi Offset, 2010.

[Link] Remaja. Edisi Keenam. Jakarta:Erlangga, 2003.

[Link] Suatu Pengantar. Jakarta : Rajawali,2004.

Singgih D. [Link] Perkembangan Anak dan [Link], PT BPK


Gunung Mulia, 2008.

Siti Musda [Link] Perempuan Pembaru Kegamaan Reformis. Bandung:


Mizan Pustaka, 2005.

Willis. Kenakalan Remaja. Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2005.

Wirdhana, I, Gunianto & Rahman, [Link] Efektif Orangtua dengan


Remaja. Jakarta: BKKBN. 2012.

Zakiah Daradjat, Psikologi Dakwah. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2002


PEDOMAN WAWANCARA

1. Bagaimanakah penerapan Manajemen Berbasis Sekolah di SMA Negeri 1

Darul Imarah Kabaupaten Aceh Besar?

2. Bagaimana sekolah melakukan evaluasi ?

3. Bagaimana sekolah merumuskan visi, misi, dan tujuan sekolah ?

4. Bagaimana sekolah mengindentifikasi fungsi-fungsi yang diperlukan untuk

mencapai sasaran ?

5. Bagaimana sekolah melakukan analisi SWOT ?

6. Bagaimana sekolah melakukan langkah alternative pemecahan masalah ?

7. Bagaimana sekolah melakukan evaluasi dan monitoring pelaksanaan ?

8. Bagaimana sekolah melakukan rencana peningkatan mutu ?

9. Bagaimana sekolah merumuskan sasaran mutu baru ?

10. Bagaimana pelaksanaan fungsi pengelolaan Proses Belajar Mengajar ( PBM )

yang didesentralisasikan ke sekolah?

11. Bagaimana pelaksanaan fungsi perencanaan dan evaluasi yang

didesentralisasikan ke sekolah?

12. Bagaimana pelaksanaan fungsi pengelolaan kurikulum yang

didesentralisasikan ke sekolah?

13. Bagaimana pelaksanaan fungsi ketenagaan yang didesentralisasikan ke

sekolah?

14. Bagaimana pelaksanaan fungsi pengelolaan fasilitas yang didesentralisasikan

ke sekolah?
15. Bagaimana pelaksanaan fungsi keuangan yang didesentralisasikan ke

sekolah?

16. Bagaimana pelaksanaan fungsi hubungan sekolah dan masyarakat yang

didesentralisasikan ke sekolah?

17. Bagaimana pelaksanaan fungsi pelayanan siswa yang didesentralisasikan ke

sekolah?

18. Bagaimana pelaksanaan fungsi pengelolaan iklim sekolah yang

didesentralisasikan ke sekolah?

19. Bagaimana bapak/ibu guru berperan sebagai fasilitator ?

20. Bagaimana bapak/ibu guru berperan sebagai mediator dan administrator ?

21. Bagaimana bapak/ibu guru berperan sebagai evaluator ?

22. Bagaimana bapak/ibu guru berperan sebagai pengelola kelas ?


DOKUMENTASI

Wawancara dengan Geuchik Desa Baru Kecamatan Samadua

Wawancara dengan Tokoh Masyarakat Desa Baru Kecamatan Samadua


Wawancara dengan Masyarakat Desa Baru Kecamatan Samadua

Wawancara dengan Masyarakat Desa Baru Kecamatan Samadua


Wawancara dengan Guru MTsN di Desa Baru Kecamatan Samadua

Wawancara dengan Guru MTsN di Desa Baru Kecamatan Samadua


DAFTAR RIWAYAT HIDUP

1. Identitas Diri
Nama : Rahma Erviana Fitri
Tempat/Tanggal Lahir : Desa Baru, 2 Februari 1995
Jenis kelamin : Perempuan
Pekerjaan/Nim : Mahasiswa/361303396
Agama : Islam
Kebangsaan/Suku : Indonesia/Aceh
Status : Belum Kawin
Alamat : Desa Baru , Kec. Samadua

2. Orang Tua/wali
Nama Ayah : A M Syukri
Pekerjaan : PNS
Nama Ibu : Siti Saleha
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga (IRT)

3. Riwayat Pendidikan
a. SD Kasik Putih : Tahun Lulus 2007
b. SMP Negeri 1 Samadua : Tahun Lulus 2010
c. SMA Negeri 1 Tapaktuan : Tahun Lulus 2013

Banda Aceh , 8 Desember 2018


Penulis,

Rahma Erviana Fitri

Anda mungkin juga menyukai