TUGAS KELOMPOK
MODIFIKASI PERILAKU
SELF CONTROL
Disusun oleh : Kelompok 2
Miftahul Rizqillah : 221007005
Raodatul Islamiah : 221007007
Miranda Rismawati : 221007008
Al Qoriantri : 221007027
[Link] Badawi : 221007083
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS TEKNOLOGI SUMBAWA
2024/2025
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada tuhan yang masa esa atas semua anugrah-nya,yang
memungkinkan penulis untuk menylesaikan makala mengenai”self control’’ dengan
sebaik mungkin. Makala ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran warga Negara
Indonesia dalam memahami apa itu self control dan bagaimana kemampuan untuk
pengendalian diri pada kehidupan sehari-hari.
Penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada semua individu dan pihak yang
telah memberikan bantuan,masukan,dan dukungan dalam penulis makala ini, sehingga
penulis berhasil menyelesaikannya sesuai dengan waktunya, semoga Allah SWT
membalas kebaikan mereka dengan berlipat ganda \. Kendali penulis telah berusaha
semaksimal mungkin dalam menyusun makala ini, penulis sabar bahwa kemungkinan
masih terdapat kekurangn. Oleh karena itu, penulis sangat mengharap kan kritik dan
saran yang konstruktif dari semua pembaca
Akhir kata,kami berharap makala ini dapat menjadi sumber pengetahuan yang
bermanfaat bagi masyarakat.
Sumbawa, 19 Mei 2024
penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
b. Rumusan Masalah
c. Tujuan Penelitian
d. Manfaat Penelitian
BAB II PEMBAHASAN
a. Pengertian Self control
b. Jenia- Jenis Self control
c. Aspek-aspek self control...............................................................................................
d. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Self Control
e. Prinsip- Prinsip Teknik Self Control
f. Penerapan self control dalam kehidupan sehari-
haari...........................................................
BAB III PENUTUP
a. Kesimpulan
b. Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari, hampir setiap aktivitas yang dilakukan dipengaruhi
oleh pengendalian diri. Perilaku seseorang ditentukan oleh dua variabel, yaitu
variabel internal dan variabel [Link] dari seberapa kuat stimulus atau
penguat eksternal, perilaku individu dapat diubah melalui proses pengendalian diri
(Skinner dalam Alwisol, 2009). Artinya individu dapat menggunakan kemampuan
pengendalian dirinya untuk memilih bagaimana ia ingin berperilaku, bahkan ketika
kondisi eksternal mempunyai pengaruh yang [Link] kita sedang marah tetapi
lebih memilih untuk menahan diri dan berbicara dengan nada tenang, atau ketika
kita memutuskan untuk berhenti melakukan suatu kebiasaan karena dampaknya,
inilah contoh pengendalian diri yang dilakukan individu.
Pengendalian diri terjadi ketika seseorang atau individu berusaha mengubah cara
berpikir, merasakan, atau bertindak (Muraven & Baumeister, 2000). Pengendalian diri
merupakan kecenderungan individu untuk mempertimbangkan konsekuensi yang
berbeda atas suatu tindakan tertentu (Wolfe & Higgins, 2008). Telah berulang kali
dikemukakan bahwa pengendalian diri merupakan kemampuan individu untuk
menahan diri atau mengarahkan dirinya ke arah yang lebih baik ketika dihadapkan
pada godaan (Hofmann, Baumeister, Förster, & Vohs, 2012). Kesimpulannya
Pengendalian diri merupakan pengendalian yang dilakukan individu dalam rangka
mempertimbangkan berbagai akibat, membendung sesuatu, dan mengarahkannya
ke arah yang lebih baik. Banyak contoh berbagai permasalahan yang sering terjadi
dalam kehidupan, banyak diantaranya disebabkan oleh ketidakmampuan seseorang
dalam mengendalikan dirinya: Perkelahian antar pelajar, pencurian barang milik
orang lain (pencurian, perampokan, korupsi), kurang menguasai diri dan tidak tahu
harus berbuat apa. Pengendalian diri Pengendalian diri juga sangat penting agar
pelajar tidak saling berkelahi.
Melanggar norma keluarga, sekolah, atau [Link] dengan
pengendalian diri yang rendah lebih besar kemungkinannya untuk melanggar norma,
seperti contoh di atas. Rendahnya pengendalian diri seseorang ini dipengaruhi oleh
berbagai faktor/variabel seperti gender, kepribadian, lingkungan, faktor eksternal
seperti politik, spiritualitas, dll. Pengendalian diri sebenarnya merupakan salah satu
metode yang digunakan psikolog untuk memperbaiki keadaan psikologis dan
perilaku orang yang mempunyai masalah dan kelainan. Penggunaan metode
pengendalian diri ini berlaku bagi mereka yang ingin menghilangkan kebiasaan buruk,
misalnya mereka yang ingin berhenti merokok. Namun ternyata cara ini melibatkan
beberapa langkah yang perlu dilakukan agar hasil yang diperoleh sesuai dengan
tujuan Anda.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu self control?
2. Apa saja jenis -jenis self control ?
3. Apa saja yang masuk ke dalam aspek-aspek self control ?
4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi self control ?
5. Bagaimana prinsip teknik dari self control?
6. Bagaimana penerapan self control dalam kehidupan sehari-hari?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui yang dimaksud self control
2. Menjelaskan jenis-jenis self control
3. Mengetahui apa saja aspek –aspek self control
4. Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi self control
5. Mengetahui bagaimana teknik dari self control
6. Mengetahui penerapan self control dalam kehidupan sehari-hari
D. Manfaat Penulisan
1. Manfaat penulisan makalah terkait self control yaitu dapat meningkatkan
pemahaman kita terkait pengendalian diri sehingga kita dapat mengendalikan
diri kita
2. Membantu kita lebih mendalami terkait pengendalian diri
3. Sebagai media belajar bagi orang lain agar dapat belajar lebih lagi terkait self
control
4. Dapat membangtu teman-teman dalam mengembangkan kemampuan
berfikir kriti, sistematis, dan evaluasi yang mendalam sehingga dapat
membantu kita dalam mengembangkan keterampilan berfikir kritis
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Self Control
Self control atau pengendalian diri merupakan suatu kemampuan yang
mencangkup perilaku yang baik dan konstruktif serta keselarasan dengan individu
lainnya dan wajib dimiliki oleh semua individu (Mulyani, 2016). Menurut santrock
(1998,Mulyani,2016), individu memerlukan kemampuan mengendalikan diri agar tidak
bertindak menyimpang dari norma. Pengendalian diri atau self control yang
berkembang dengan baik juga dapat membantu individu memutuskan tindakan apa
yang baik dan memungkinkan mereka menghindari tindakan yang menyimpang.
Self control merupakan tingkah laku mengendalikan diri atau memonitor
gagasan-gagasan atau ide dalam dirinya dengan berbagai cara, baik pada saat tidak ada
tekanan maupun saat terjadi pertentangan dengan tekanan-tekanan yang ada dalam
situasi yang dihadapinya. Definisi lain yang dikemukakan oleh Berk menyebutkan bahwa,
“Self control merupakan kemampuan individu untuk menghambat atau mencegah suatu
impuls agar tidak muncul dalam bentuk tingkah laku yang melanggar atau bertentangan
dengan standar moral”. Kontrol diri didefinisikan Roberts sebagai suatu jalinan yang
secara utuh atau terintegrasi antara individu dengan lingkungannya. Individu yang
memiliki kontrol diri tinggi berusaha menemukan dan menerapkan cara yang tepat
untuk berperilaku dalam situasi yang bervariasi. Kontrol diri mempengaruhi individu
untuk mengubah perilakunya sesuai dengan situasi sosial sehingga dapat mengatur
kesan lebih responsif terhadap petunjuk situasional, fleksibel, dan bersikap hangat serta
terbuka.
Kontrol diri berkaitan dengan bagaimana individu mengendalikan emosi serta
dorongan-dorongan dari dalam dirinya. Menurut konsep ilmiah, pengendalian emosi
berarti mengarahkan energy emosi ke saluran ekspresi yang bermanfaat dan dapat
diterima secara sosial. Konsep ilmiah menitik beratkan pada pengendalian.
Pengendalian diri merupakan suatu kemampuan yang mencakup perilaku yang
baik dan konstruktif serta keselarasan dengan individu lain dan wajib dimiliki oleh
semua individu (Mulyani, 2016). Perilaku seorang individu ditentukan oleh dua variabel,
yaitu variabel eksternal dan variabel internal. Menurut Alwisol (2009, Mulyani, 2016),
perilaku individu dapat diubah melalui proses pengendalian diri, terlepas dari seberapa
kuat faktor eksternal yang mempengaruhinya. Artinya pengendalian diri individu
berperan dalam memilih perilaku mana yang akan ditunjukkan. Inti dari konsep
pengendalian diri adalah kemampuan untuk menekan diri dari tekanan yang
menyimpang, sehingga mengabaikan reaksi internal dan menekankan kecenderungan
perilaku yang tidak diinginkan.
2. Jenis-Jenis Self Control
Menurut Block and Block ada tiga jenis kontrol yaitu:
a. Over control, yaitu kontrol diri yang berlebihan yang dilakukan oleh individu
sehingga individu terlalu sering untuk menahan diri untuk melakukan reaksi
terhadap rangsangan yang [Link] yang melakukan over control
cenderung kesulitan dalam menunjukkan ekspresinya dalam menghadapi
kesulitan situasi yang dihadapi.
b. Under control, Yaitu kecenderungan individu dalam mengekspresikan apa yang
dirasakannya tanpa perhitungan yang matang. Individu yang under control
cenderung akan menjadi lepaskendali dalam hal apapun yang mengakibatkan
kesulitan untuk mengambil keputusan.
c. Approprite control, Yaitu kontrol individu dalam mengendalikan diri secara
tepat. Kontrol diri ini akanmembantu individu dalam mengendalikan
rangsangan sehingga dapat menghasilkan dampak negatif lebih kecil
serta membantu individu untuk mampu berhubungan denganlingkungan dan
beradaptasi secara tepat.
3. Aspek-Aspel Self Control
Berdasarkan konsep Averill terdapat tiga aspek dalam kemampuan mengontrol
diri, yaitu:
a. Behavior Control (Mengontrol perilaku). Merupakan suatu tindakan langsung
terhadap lingkungan. Aspek ini tertiary dari 2 komponen, yaitu: mengatur
pelaksanaan (regulated administration), dan memodifikasi stimulus (stimulus
modifiability). Kemampuan mengatur pelaksaan merupakan kemampuan individu
untuk menentukan siapa yang akan mengendalikan situasi atau keadaan dirinya
sendiri atau sesuatu diluar dirinya. Individu yang mempunyai kemampuan
mengontrol diri dengan baik akan mampu perilakunya sendiri, dan jika individu
tersebut tidak mampu, maka akan menggunakan sumber eksternal dari luar
dirinya. Kemampuan mengatur stimulus adalah kemampuan untuk mengetahui
bagaimana dan kapan suatu stimulus yang tidak dikehendaki dating.
b. Cognitive Control (Mengontrol Kognisi). Merupakan kemampuan individu untuk
mengolah informasi yang tidak diinginkan dengan cara menginterpretasikan,
menilai, atau menggabungkan suatu kejadian dalam suatu kerangka kognitif
sebagai adaptasi psikologi untuk mengurangi tekanan. Aspek ini terdiri dari 2
komponen, yaitu: memperoleh informasi ( information gain) dan melakukan
penilaian (apparsial). Informasi yang dimiliki individu atas suatu kejadian yang
tidak menyenangkan dapat diantisipasi dengan berbagai pertimbangan, serta
individu akan melakukan penilaian dan berusaha untuk menafsirkannya melalui
segi-segi positif secara subjektif.
c. Decisional Control (Mengontrol Keputusan). Kemampuan untuk memilih hasil
yang diyakini individu, dalam menentukan pilihan akan berfungsi baik dengan
adanya suatu kesempatan, kebebasan, atau kemungkinan pada diri individu
untuk memilih kemungkinan tindakan. Aspek ini terdiri dari 2 komponen juga,
yaitu: mengantisipasi peristiwa dan menafsirkan peristiwa, dimana individu dapat
menahan dirinya. Kemampuan mengontrol diri tergantung dari ketiga aspek di
atas, kontrol diri ditentukan oleh seberapa jauh aspek itu mendominasi atau
terdapat kombinasi dari beberapa aspek dalam mengontrol diri.
Menurut Tongney, Baumister, dan Boone (2004) mengusulkan bahwa self-
control terdiri atas lima aspek, sebagai berikut :
1. Self -Discipline
Yaitu mengacu pada kemampuan individu dalam melakukan disiplin diri.
Maksudnya adalah individu mampu memfokuskan diri saat melakukan tugas
atau individu dengan self–discipline mampu menahan dirinya dari hal-hal lain
yang dapat mengganggu konsentrasinya.
2. Deliberate atau Non-impulsive
Yaitu kecenderungan individu untuk melakukan sesuatu dengan pertimbangan
tertentu, bersifat hati-hati dan tidak tergesa-gesa. Ketika individu sedang
bekerja, ia cenderung tidak mudah teralihkan. Individu ini tergolong non-
impulsive mampu bersifat tenang dalam mengambil keputusan dan bertindak.
3. Healthy Habits
Yaitu kemampuan menganturpola perilaku menjadi kebiasaan yang
menyehatkan bagi individu. Oleh karena itu, individu dengan Healthy Habits
akan menolak sesuatu yang dampak menimbulkan dampak buruk bagi dirinya
meskipun hal tersebut menyenangkan. Individu dengan Healthy Habits akan
mengutamakan hal-hal yang memberikan dampak positif bagi dirinya meski
dampak tersebut tidak diterima secara langsung.
4. Work Ethic
Aspek ini berkaitan dengan penilaian individu terhadap regulasi diri mereka di
dalam layanan etika bekerja. Individu dengan Work Ethic mampu memberikan
perhatiannya pada pekerjaan yang sedang dilakukan.
5. Reliability
Yaitu dimensi yang terkait dengan penilaian individu terhadap kemampuan
dirinya dalam pelaksanaan rancangan jangka panjang untuk pencapaian
tertentu. Individu ini secara konsisten akan mengatur perilakunya untuk
mewujudkan setiap perencanaannya.
4. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Self control
1. Faktor internal, yang mempengaruhi kontrol diri seseorang adalah faktor usia dan
kematangan, semakin bertambah usia, semakin baik kemampuan mengontrol
diri seseorang itu.
2. Faktor eksternal, meliputi keluarga, dalam lingkungan keluarga terutama orang
tua akan menentukan bagaimana kemampuan mengontrol diri seseorang. Selain
itu Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi self control adalah faktor genetik
dan faktor lingkungan (Logue, 1995. dalam Mulyani, 2016).
3. Faktor genetik yang dapat mempengaruhi dalam pengendalian diri adalah usia.
Self control berkembang seiring bertambahnya usia individu. Pada anak-anak,
perilaku cenderung bersifat impulsif dan lebih dapat mengendalikan diri seiring
pertambahan usia. Tetapi hal ini tidak dapat dibandingkan secara langsung
dengan pengendalian diri pada orang dewasa.
4. Faktor lingkungan yang mempengaruhi perkembangan self control terutama
adalah orang tua. Model pengasuhan orang tua mulai daricara merespon
kegagalan anak, mengajarkan disiplin pada anak, cara orang tua
mengekspresikan amarah (dengan penuh emosi atau mampu menahan diri)
adalah tahap awal anak belajar untuk mengendalikan diri. Self control sangat
berperan dalam kehidupan individu agar individu tidak terlibatdalam pelanggaran
norma keluarga maupun norma masyarakat. Pelanggaran norma yang muncul
bisa dikarenakan oleh rendahnya self control dan sikap orang tua yang salah.
5. Prinsip- Prinsip Teknik Self Control
Menurut Nevid, Rathus, dan Greene (2005), teknik pengendalian diri bertujuan untuk
membantu seseorang yang mempunyai masalah mengembangkan keterampilan yang
dapat digunakan untuk mengubah perilaku. Menurut Martin & Pear (2015), teknik
pengendalian diri adalah teknik pengendalian perilaku yang menghasilkan perubahan
perilaku terkendali. Oleh karena itu, teknik pengendalian diri adalah teknik yang
ditujukan untuk membantu individu mengendalikan atau mengatur perilakunya.
Dalam menggunakan teknik pengendalian diri, ada beberapa syarat yang harus
diperhatikan, terutama yang berkaitan dengan subjek itu sendiri atau lingkungan subjek.
Menurut Walker (Purwanta, 2015), tindakan subjek yang memulai manajemen diri harus
memenuhi lima hal berikut:) perilaku subjek yang akan memprakarsai pengelolaan diri
harus memenuhi lima hal yaitu:
Sasaran perilaku harus dinyatakan dengan jelas.
Perilaku alternatif sebagai treatment perlu diidentifikasi kemungkinan
keterlaksanaannya dalam jangkauan subjek.
Perilaku pilihan harus ditawarkan kepada subjek, lebih diutamakan perilaku
yang diusulkan oleh subjek. Dalam bagian ini prinsip premac harus diterapkan
sebagai pengukuh.
Tujuan treatmen harus dapat diamati dengan jelas dan dapat diukur.
Subjek harus diberikan kemudahan dalam berkonsultasi manakala memerlukan
bantuan dalam mengavaluasi atau melaksanakan treatmen.
Individu dengan Karakteristik Self Control
Individu yang memiliki self control yang baik akan menunjukkan karakteristik khusus
dalam merespon segala hal yang menghampirinya. Logue (1995) menyebutkan
gambaran individu yang menggunakan self control yakni:
a. Tetap bertahan mengerjakan tugas walaupun terdapat hambatan atau
gangguan. Individu akan tekun terhadap tugas yang dikerjakannya walaupun ia
merasa kesulitan karena adanya hambatan baik dari dalam maupun dari luar
dirinya.
b. Dapat berperilaku sesuai dengan aturan dan norma yang berlaku dimana ia
berada. Kecenderungan individu dalam menaati aturan dan norma yang berlaku
mencerminkan kemampuannya dalam mengendalikan diri meskipun
sebenarnya individu ingin melanggar aturan dan norma tersebut.
c. Tidak menunjukkan perilaku yang dipengaruhi kemarahan (mampu
mengendalikan emosi negatif). Kemampuan merespon stimulus dengan emosi
positif membantu individu untuk terbiasa mengendalikan dirinya dalam
berperilaku sesuai harapan lingkungan.
d. Toleransi terhadap stimulus yang tidak diharapkan untuk memperoleh manfaat
atau keuntungan yang besar.
6. Penerapan self control pada kehidupan sehari-hari
1. Mengelola Waktu dengan Baik:
Contoh: Setiap pagi, Andi membuat daftar tugas harian dan menetapkan prioritas.
Dia menghindari kegiatan yang tidak produktif seperti menonton TV atau
berselancar di media sosial selama jam kerja. Dengan demikian, Andi dapat
menyelesaikan tugasnya tepat waktu dan memiliki waktu luang untuk bersantai
di sore hari.
2. Mengelola Emosi:
Contoh: Ketika menghadapi situasi yang membuatnya marah, Anton berlatih
untuk menarik napas dalam-dalam dan menghitung sampai sepuluh sebelum
merespon. Ini membantunya menghindari ledakan emosi dan memberikan
respon yang lebih tenang dan rasional
3. Menjaga Fokus dalam Belajar:
Contoh: Dina sedang mempersiapkan ujian akhir. Untuk itu, dia membuat jadwal
belajar dan mengatur waktu belajar di tempat yang tenang. Dia juga mematikan
notifikasi pada ponselnya agar tidak terganggu oleh pesan atau media sosial
4. Menghindari Kebiasaan Buruk:
Contoh: Ali ingin berhenti merokok. Setiap kali merasa ingin merokok, dia
mengalihkan perhatian dengan mengunyah permen karet atau melakukan
aktivitas lain seperti berjalan-jalan. Ali juga menghindari tempat-tempat atau
situasi yang bisa memicu keinginannya untuk merokok.
BAB III
PENUTUP
a. Kesimpulan
Self-control atau pengendalian diri merupakan kemampuan individu untuk
mengendalikan perilaku, emosi, dan pikiran agar selaras dengan norma dan standar
yang berlaku. Self-control penting dimiliki agar individu dapat menghindari perilaku
menyimpang dan bertindak sesuai dengan yang diharapkan. Terdapat tiga jenis self-
control, yaitu over-control (kontrol berlebih), under-control (kontrol kurang), dan
appropriate control (kontrol yang tepat). Individu yang memiliki appropriate control akan
mampu mengendalikan diri dengan baik sesuai situasi. Aspek-aspek self-control
meliputi behavioral control (mengontrol perilaku), cognitive control (mengontrol kognisi),
dan decisional control (mengontrol pengambilan keputusan). Ketiga aspek ini saling
terkait dalam membentuk kemampuan pengendalian diri.
Faktor-faktor yang mempengaruhi self-control adalah faktor internal (usia,
kematangan) dan faktor eksternal (keluarga, lingkungan). Pengasuhan orang tua dan
lingkungan sosial berperan penting dalam perkembangan self-control individu.
Terdapat prinsip-prinsip dan teknik self-control yang dapat membantu individu
mengembangkan kemampuan mengendalikan diri, seperti menetapkan tujuan perilaku
yang jelas, menyediakan alternatif perilaku, dan memberikan kemudahan konsultasi.
b. Saran
1. Bagi Individu
Meningkatkan kesadaran akan pentingnya self-control dalam kehidupan sehari-
hari.
Mengenali jenis self-control yang dimiliki (over-control, under-control, atau
appropriate control) dan berusaha mengembangkan appropriate control.
Secara rutin berlatih mengasah kemampuan self-control pada aspek perilaku,
kognitif, dan pengambilan keputusan.
Meminta dukungan dan bimbingan dari orang terdekat, seperti keluarga atau
konselor, untuk mengembangkan self-control.
2. Bagi Keluarga dan Lingkungan Sosial
Orang tua dan lingkungan sosial perlu memberikan keteladanan dan
pengasuhan yang mendukung perkembangan self-control anak/individu.
Menciptakan lingkungan yang kondusif bagi individu untuk berlatih dan
mengembangkan self-control.
Memberikan reinforcement positif ketika individu menunjukkan perilaku self-
control yang baik.
Menyediakan sarana konsultasi dan bimbingan bagi individu yang membutuhkan
bantuan dalam meningkatkan self-control.
3. Bagi Penelitian Selanjutnya
Melakukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor-faktor yang secara spesifik
memengaruhi self-control pada kelompok usia atau latar belakang tertentu.
Mengembangkan dan menguji efektivitas program atau intervensi untuk
meningkatkan self-control individu.
Mengeksplorasi lebih dalam mengenai dinamika self-control dalam konteks
budaya dan lingkungan sosial yang berbeda.
DAFTAR PUSTAKA
De Ridder, DT, Lensvelt-Mulders, G., Finkenauer, C., Stok, FM, & Baumeister, RF (2012).
Mempertimbangkan pengendalian diri: Sebuah meta-analisis tentang bagaimana
sifat pengendalian diri berhubungan dengan berbagai perilaku. Review Psikologi
Kepribadian dan Sosial , 16 (1), 76-99.
Masjkur, M. (2018). Peran Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Membangun Self
Control Remaja Di Sekolah. At-Tuhfah: Jurnal Keislaman, 7(1), 25-26.
Rachdianti, Y. (2011). Hubungan antara pengendalian diri dengan intensitas
penggunaan internet remaja akhir.
Zahri, H., & Savira, I. (2016). Pengaruh self-control terhadap agresivitas remaja pada
pelajar SMP dan SMU di sekolah perguruan nasional. Jurnal Psikologi Pendidikan
dan Pengembangan SDM, 4(1).
Duckworth, AL, Gendler, TS, & Kotor, JJ (2016). Strategi situasional untuk pengendalian
diri. Perspektif Ilmu Psikologi , 11 (1), 35-55.
Yulianti, TS, & Ariasti, D. (2020). Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesehatan
Mental Emosional Masyarakat Di Dukuh Gumuk Sari Dan Gerjen, Pucangan,
Kartasura. KOSALA: Jurnal Ilmu Kesehatan , 8 (2), 53-62.
Rahayu, S. M., & Heriansyah, M. (2018, October). Teknik self-control untuk mengatasi
masalah obesitas. In Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling Jambore
Konseling 3. Ikatan Konselor Indonesia (IKI).