0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
45 tayangan24 halaman

Panduan Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi

Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK)

Diunggah oleh

eRynd Chairil
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
45 tayangan24 halaman

Panduan Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi

Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK)

Diunggah oleh

eRynd Chairil
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.

SISTEM

MANAJEMEN
KESELAMATAN
KONSTRUKSI
(SMKK)

Disusun Oleh :
Chairil Anam, ST.
Sistem
Manajemen
Keselamatan KATA PENGANTAR
Konstruksi
(SMKK)

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami selaku Peserta
Pelatihan Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK) dapat
menyelesaikan tugas pelatihan ini dengan baik. Pelatihan Sistem Manajemen
Keselamatan Konstruksi ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan,
keahlian, keterampilan, dan sikap di bidang Sistem Manajemen Keselamatan
Konstruksi, agar memiliki kompetensi dasar dalam proses yang terjadi dalam
pelaksanaan pekerjaan konstruksi.
Modul ini berisi tentang rangkuman dari 10 modul Sistem Manajemen
Keselamatan Konstruksi (SMKK). Modul ini dibuat sebagai syarat mengikuti uji
sertifikasi Tenaga Ahli K3 Konstruksi, kami menyadari bahwa modul ini masih
banyak kekurangan, baik pada isi, bahasa, maupun penyajiannya.
Semoga modul ini dapat memberikan manfaat bagi kelancaran proses
sertifikasi tenaga ahli k3 konstruksi. Sehingga keinginan untuk mewujudkan
tenaga ahli yang profesional dan memiliki kompetensi yang handal dapat
tercapai dengan baik.

Mamuju, Mei 2024

Chairil Anam, ST.

Oleh :
Chairil Anam, ST. ii
Sistem
Manajemen
Keselamatan DAFTAR ISI
Konstruksi
(SMKK)
Halaman Judul .............................................................................................. i
Kata Pengantar ............................................................................................. ii
Daftar Isi .......................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................... 1

BAB II URAIAN MATERI SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN


KOSNTRUKSI (SMKK)
2.1 Kebijakan Pemerintah Tentang Keselamatan
Konstruksi ............................................................................ 2
2.2 Penerapan Peraturan Dan Perundangan Dalam
Dokumen SMKK ................................................................. 4
2.3 Komunikasi Dan Koordinasi Di Tempat Kerja Dengan
Pihak Terkait ....................................................................... 7
2.4 Risiko Keselamatan Konstruksi Kecil ................................ 8
2.5 Kepemimpinan Jabatan Dan Partisipasi Pekerja
Konstruksi Pada Tingkat Keselamatan Konstruksi Kecil . 9
2.6 Peninjauan Ulang Dokumen SMKK ................................ 12
2.7 Dukungan Keselamatan Konstruksi Pada Tingkat Risiko
Keselamatan Konstruksi Kecil .......................................... 14
2.8 Operasi Keselamatan Konstruksi .................................... 15
2.9 Evaluasi Kinerja Keselamatan Konstruksi Pada Tingkat
Risiko Keselamatan Konstruksi Kecil ................................ 17
2.10 Laporan Pelaksanaan Keselamatan Konstruksi ........... 19

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan ......................................................................... 21

Oleh :
Chairil Anam, ST. iii
Sistem
Manajemen
Keselamatan BAB I
Konstruksi
PENDAHULUAN
(SMKK)

1.1 Latar Belakang


Kecelakaan kerja dapat terjadi kapan saja dan dapat merugikan
berbagai pihak. Penyebab kecelakaan dapat disebabkan oleh tindakan
karyawan, kondisi kerja tidak aman dan di luar kemampuan manusia.
Penyebab kecelakaan dapat dikarenakan oleh faktor pemberi pekerjaan
seperti instruksi tidak diberikan, dan alat proteksi diri tidak disediakan, faktor
pekerja yang tidak memiliki pengalaman, dan cara kerja yang tidak benar,
faktor benda yang tidak aman seperti peralatan yang sudah rusak, ataupun
faktor keadaan tidak aman seperti lantai atau tempat kerja yang licin.
Kerugian akibat kecelakaan kerja dapat berdampak pada karyawan,
keluarga karyawan dan kerugian pada perusahaan. Pemeriksaan
kecelakaan sangat penting dilakukan untuk memperkecil timbulnya risiko
kecelakaan kerja, misalnya dengan memberikan pengaman ataupun
memberikan tanda-tanda bahaya.
Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK)
merupakan bagian dari sistem manajemen pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi
dalam rangka menjamin terwujudnya Keselamatan Konstruksi. Keselamatan
Konstruksi diartikan segala kegiatan keteknikan untuk mendukung Pekerjaan
Konstruksi dalam mewujudkan pemenuhan standar keamanan, keselamatan,
kesehatan dan keberlanjutan yang menjamin keselamatan dan kesehatan
tenaga kerja keselamatan publik, harta benda, material, peralatan, konstruksi
dan lingkungan.

Oleh :
Chairil Anam, ST. 1
Sistem
Manajemen
Keselamatan BAB II
Konstruksi
URAIAN MATERI SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN KONSTRUKSI
(SMKK)
(SMKK)

2.1 Kebijakan Pemerintah Tentang Keselamatan Konstruksi


A. Standar Keamanan, Keselamatan, Kesehatan, dan Keberlanjutan
Pemerintah pusat bertanggung jawab atas terselenggaranya Jasa
konstruksi yang sesuai dengan standar keamanan, keselamatan, kesehatan,
dan keberlanjutan (UU No.11 tahun 2020 tentang cipta karya pasal 4 ayat (1)
huruf c). Untuk mencapai tujuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat
(1) huruf c, pemerintah pusat memiliki kewenangan mengembangkan
standar keamanan, keselamatan, kesehatan dan keberlanjutan dalam
penyelenggaraan jasa konstruksi, menyelenggarakan pengawasan
penerapan standar keamanan, keselamatan, kesehatan, dan keberlanjutan
dalam penyelenggaraan jasa konstruksi oleh badan usaha jasa konstruksi.
Dalam setiap penyelenggaraan jasa konstruksi, pengguna jasa dan penyedia
jasa wajib memenuhi standar keamanan, keselamatan, kesehatan, dan
keberlanjutan.

B. Substansi & Penerapan SMKK


Keselamatan konstruksi adalah segala kegiatan keteknikan untuk
mendukung pekerjaan konstruksi dalam mewujudkan pemenuhan standar
keamanan, keselamatan, kesehatan dan keberlanjutan (K4) yang menjamin
keselamatan keteknikan konstruksi, keselamatan dan kesehatan tenaga
kerja, keselamatan publik dan lingkungan. (sumber PP Nomor 14 tahun 2021,
pasal 1 angka 39). Sistem manajemen keselamatan konstruksi merupakan
pemenuhan terhadap standar keamanan, keselamatan, kesehatan, dan
keberlanjutan dengan menjamin keselamatan keteknikan konstruksi,
keselamatan dan kesehatan kerja, keselamatan publik, dan keselamatan
lingkungan. (PP Nomor 14 tahun 2021 pasal 841 ayat (4).

C. Strategi Pemenuhan Standar K4 dalam SMKK


Pemenuhan standar K4 dalam sistem manajemen keselamatan
konstruksi adalah kunci untuk memastikan lingkungan kerja yang aman dan
meminimalkan risiko cedera atau bahaya di lokasi konstruksi. Berikut adalah
beberapa strategi yang dapat diterapkan dalam sistem manajemen
keselamatan konstruksi untuk memenuhi standar K4 :
Oleh :
Chairil Anam, ST. 2
Sistem
Manajemen
Keselamatan 1. Pemenuhan SMKK pada tiap tahapan jasa konstruksi;
Konstruksi
Untuk memastikan keselamatan dan kesehatan seluruh personil
(SMKK)
yang terlibat dalam proyek konstruksi, diperlukan pemenuhan SMKK
pada tiap tahapan konstruksi yang terdiri dari rancangan
konseptual SMKK, DED dan spesifikasi teknis (engineer estimate),
kemudian disusun KAK pemilihan dan penawaran (termasuk RKK
penawaran dan biaya), Penyusunan dan penerapan RKK, RMPK,
RKPPL, RMLLP, Program Mutu, selanjutnya dilakukan pelaporan dan
dokumentasi pelaksanaan.
2. Struktur organisasi keselamatan konstruksi;
Memposisikan personil manajerial keselamatan konstruksi sebagai
pimpinan UKK yang berkoordinasi sejajar dengan kepala
proyek/pimpinan tertinggi di proyek, terutama untuk pekerjaan
dengan risiko keselamatan Konstruksi sedang dan besar. Anggota
UKK terdiri atas, ahli keselamatan konstruksi; ahli keselamatan dan
kesehatan kerja konstruksi; petugas keselamatan konstruksi atau
petugas K3 Konstruksi; petugas tanggap darurat; petugas
pemadam kebakaran; petugas pertolongan pertama pada
kecelakaan; petugas pengatur lalu lintas; tenaga kesehatan; dan
petugas pengelolaan lingkungan.
3. Biaya Penerapan SMKK;
Biaya penerapan SMKK harus dimasukkan pada daftar kuantitas
dan harga dengan besaran biaya sesuai dengan kebutuhan
berdasarkan pengendalian dalam RKK.
4. Operasional penerapan SMKK;
Penerapan panduan operasional pada paket-paket pekerjaan
konstruksi infrastruktur di PUPR. Tugas dan Tanggung Jawab PPK;
Penyedia Jasa Kons. Perancangan; Penyedia Jasa Pekerjaan
Konstruksi; Penyedia Jasa Kons. Pengawasan/MK; serta panduan
operasional Keselamatan Keteknikan Konstruksi; Keselamatan dan
Kesehatan Kerja; Keselamatan Publik; dan Keselamatan
Lingkungan.
5. Pembinaan dan pengawasan.
Memberikan pelatihan keselamatan konstruksi yang menyeluruh
kepada seluruh karyawan, termasuk manajer, supervisor, dan
pekerja lapangan. Memastikan untuk memahami kebijakan
Oleh :
Chairil Anam, ST. 3
Sistem
Manajemen
Keselamatan keselamatan, prosedur operasional standar (SOP), penggunaan
Konstruksi
alat pelindung diri (APD), serta penanganan darurat. Melakukan
(SMKK)
pengawasan rutin di lokasi konstruksi untuk memastikan bahwa
semua praktik keselamatan diikuti sesuai dengan SOP dan standar
keselamatan yang ditetapkan. Memperhatikan penggunaan APD,
pemeliharaan peralatan, dan kepatuhan terhadap prosedur
evakuasi darurat.

2.2 Penerapan Peraturan dan Perundangan Dalam Dokumen SMKK


2.2.1 Peraturan Perundang-undangan yang Telah Diidentifikasi dalam
Dokumen SMKK.
Salah satu upaya dalam menanggulangi kecelakaan dan penyakit
akibat kerja di tempat kerja adalah dengan penerapan peraturan
perundangan, antara lain melalui adanya ketentuan dan syarat-syarat K3
yang selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknik dan
teknologi, penerapan semua ketentuan dan persyaratan K3 sesuai dengan
peraturan perundangan yang berlaku sejak tahap rekayasa, pengawasan
dan pemantauan pelaksanaan K3 melalui pemeriksaan-pemeriksaan
langsung di tempat kerja.
Berikut adalah beberapa peraturan terkait SMKK :
1. Undang – Undang Nomor 1 Tahun 1970, tentang Keselamatan Kerja
2. Undang – Undang Nomor 2 Tahun 2017, tentang Jasa Konstruksi
3. Undang – Undang Nomor 11 Tahun 2020, tentang Cipta Kerja
4. Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012, tentang Penerapan SMK3
5. Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2021, tentang Perubahan atas
Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2020 tentang Peraturan
Pelaksanaan Undang – Undang Nomor 2 tahun 2017 tentang Jasa
Konstruksi.
6. Permen PUPR Nomor 10 Tahun 2021 tentang Pedoman SMKK
7. SE N0.10/SE/N/ Tahun 2022 tentang Panduan Operasional Tertib
Penyelenggaraan Keselamatan Konstruksi di Kementerian Pekerjaan
Umum dan Perumahan Rakyat
A. Peraturan dan Perundangan Kementerian Tenaga Kerja
- Undang-undang
1) Undang-undang Uap Tahun 1930 (Stoom Ordomantie)

Oleh :
Chairil Anam, ST. 4
Sistem
Manajemen
Keselamatan 2) Undang-undang No.03 Tahun 1951 tentang Pernyataan berlakunya
Konstruksi
undang-undang pengawasan perburuan tahun 1948 No.23 dari
(SMKK)
Republik Indonesia untuk seluruh Indonesia (lembar negara No.4
tahun 1951)
3) Undang-undang RI No.3 Tahun 1969 tentang persetujuan konvensi
Organisasi perburuan Internasional Nomor 120 mengenai Hygiene
dalam perniagaan dan kantor-kantor (lembaga negara No.14 tahun
1969)
4) Undang-undang RI No.13 2003 tentang ketenagakerjaan
5) Undang-undang No. 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja
6) Undang-undang RI No. 21 Tahun 2003 tentang pengesahan ILO
convention (konvensi ILO No.81 mengenai pengawasan
ketenagakerjaan dalam industri dan perdagangan)
- Peraturan Pemerintah
1) Peraturan uap tahun 1930 (stoom verordening)
2) Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1973 tentang pengawasan atas
peredaran, penyimpanan dan penggunaan pestisida
3) Peraturan Pemerintah No.19 tahun 1973 tentang pengaturan
danpengawasan keselmatan kerja di bidang pertambangan
4) Peraturan Pemerintah No.11 tahun 1979 tentang keselamatan kerja
pada pemurnian dan pengolahan minyak dan gas bumi
5) Peraturan Pemerintah RI No.50 tahun 2012 tentang penerapan sistem
manajemen keselamatan dan kesehatan kerja
Peraturan Presiden
1) Peraturan Presiden RI No. 21 tahun 2010 tentang pengawasan
ketenagakerjaan
2) Peraturan Presiden RI No. 34 tahun 2014 tentang pengesahan konvensi
mengenai kerangka kerja peningkatan keselamatan dan kesehatan
kerja/konvensi 187, 2006)
B. Penerapan SMKK dalam IKN
Regulasi terkait sistem mamajemen keselamatan konstruksi :
a. UU No. 28 tahun 2002 tentang bangunan gedung
b. UU No. 2 tahun 2017 tentang jasa konstruksi
c. UU No. 11 tahun 2020 tentang cipta karya
d. UU No. 2 tahun 2022 tentang jalan
e. UU No.3 tahun 2022 tentang ibu kota negara
Oleh :
Chairil Anam, ST. 5
Sistem
Manajemen
Keselamatan f. PP No. 22 tahun 2020 tentang peraturan pelaksnaan UU No.2 tahun
Konstruksi
2017 tentang jasa konstruksi
(SMKK)
g. PP No.14 tahun 2021 tentang perubahan atas PP No.22 tahun 2020
t tentang peraturan pelaksanaa UU No.2 tahun 2017 tentang jasa
konstruksi
h. Permen PUPR No.10 tahun 2021 tentang pedoman SMKK
i. Peraturan LKPP No.12 tahun 2021 tentang standar dan pedoman
pengadaan jasa konstruksi melalui penyedia
j. Permen PUPR No.1 tahun 2022 tentang pedoman penyusunan
perkiraan biaya pekerjaan konstruksi bidang PUPR
k. SE Menteri PUPR No.10 tahun 2022 tentang panduan operasional
tertib penyelenggaraan keselamatan konstruksi di kementerian
PUPR

2.2.2 Pelaksanaan Peraturan Perundangan terkait SMKK


Ada lima elemen Rencana Keselamatan Konstruksi (RKK)
1. Kepemimpinan dan partisipasi tenaga kerja dalam keselamatan
konstruksi
2. Perencanaan keselamatan konstruksi
3. Dukungan keselamatan konstruksi
4. Operasi keselamatan konstruksi
5. Evaluasi kinerja penerapan SMKK

RKK terdiri dari 3 macam :


1. RKK Pengawasan, disusun oleh penyedia jasa konsultasi
pengawasan
2. RKK Manajemen Penyelenggara Konstruksi, disusun oleh penyedia
jasa manajemen penyelenggara konstruksi
3. RKK Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi, disusun oleh penyedia jasa
pekerjaan konstruksi

2.2.3 Evaluasi Penerapan Tindak Lanjut hasil pelaksanaan peraturan


perundang-undangan Yang Ada di dalam Dokumen SMKK
Langkah penting untuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi dan
standar yang berlaku adalah dengan melakukan evaluasi hasil pelaksanaan
peraturan, apakah kebijakan dan prosedur yang ada sudah memenuhi

Oleh :
Chairil Anam, ST. 6
Sistem
Manajemen
Keselamatan persyaratan hukum yang ditetapkan, termasuk apakah sudah memenuhi
Konstruksi
standar minimum keselamatan konstruksi yang diwajibkan.
(SMKK)

2.3 Komunikasi dan Koordinasi di Tempat Kerja dengan Pihak Terkait


2.3.1 Komunikasi dan Koordinasi Dokumen SMKK Proyek Kepada Pihak-
pihak Terkait di Lapangan
Komunikasi keselamatan Konstruksi merupakan elemen penting dalam
memastikan bahwa informasi tentang praktik keselamatan dan kesehatan di
lokasi konstruksi disampaikan dengan efektif kepada semua pihak yang
terlibat. Unit ini berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap
kerja yang diperlukan untuk melaksanakan komunikasi dan koordinasi
dengan pihak terkait di tempat kerja. Dalam melakukan komunikasi perlu
dilakukan sosialisasi media komunikasi sesuai dengan peraturan terkait
dokumen SMKK, kepedulian pimpinan terhadao isu eksternal dan internal
dicatat ke dalam format sesuai ketentuan, kebijakan dan komitmen
keselamatan konstruksi serta partisipasi pekerja disosialisasikan sesuai dengan
ketentuan.
Berikut adalah beberapa strategi dalam komunikasi keselematan
konstruksi :
a. Induksi keselamatan konstruksi (safety induction)
b. pertemuan pagi haru (safety morning)
c. pertemuan kelompok kerja (toolbox meeting)
d. Rapat keselamatan konstruksi (contruction safety meeting)
e. Penerapan informasi bahaya-bahaya
f. Jadwal program komunikasi

2.3.2 Penerapan Komunikasi Dokumen SMKK di Proyek


Kegiatan komunikasi dilaksanakan pada pihak-pihak terkait di lapangan
sesuai ketentuan. Budaya keselamatan konstruksi dilakukan sesuai
dengan peraturan.

2.3.3 Evaluasi Komunikasi Dokumen SMKK di Proyek


Efektifitas komunikasi kepada para pekerja dan pihak terkait dinilai
sesuai dengan peraturan. Laporan hasil penilaian pelaksanaan
komunikasi disusun sesuai dengan peraturan.

Oleh :
Chairil Anam, ST. 7
Sistem
Manajemen
Keselamatan 2.4 Risiko Keselamatan Konstruksi Kecil dalam Dokumen SMKK
Konstruksi
2.4.1 Format-format Dokumen SMKK Sesuai Dengan Peraturan
(SMKK)
- Pengetahuan dasar Keselamatan Konstruksi
- Identifikasi bahaya dan risiko dalam Standar Operasional Prosedur
(SOP)
- Identifikasi bahaya dan risiko dalam Detail Engineering Design (DED),
gambar kerja, rencana jadwal kerja dan spesifikasi teknis
- Manajemen risiko keselamatan konstruksi
- Dokumen SMKK
- Format-format baku terkait dengan dokumen SMKK sesuai peraturan

2.4.2 Identifikasi Pekerjaan dan Potensi Risiko Keselamatan Konstruksi Kecil


- Memeriksa potensi risiko keselamatan konstruksi sesuai dengan
prosedur
- Mengidentifikasi lokasi dan sarana prasarana proyek sesuai dengan
potensi bahaya dan risiko keselamatan konstruksi

2.4.3 Penyusunan Dokumen SMKK


- Format baku terkait dengan penyusunan dokumen SMKK digunakan
sesuai dengan peraturan
- Perencanaan kepemimpinan dan partisipasi pekerja dalam
keselamatan konstruksi dibuat format baku sesuai peraturan
- Perencanaan, dukungan, operasi, dan evaluasi kinerja keselamatan
konstruksi dibuat format baku sesuai peraturan
- Format dalam elemen SMKK dikompilasikan ke dalam dokumen SMKK
RKK sederhana paling sedikit memuat :
1. Kebijakan keselamatan konstruksi
2. Pengadaan alat pelindung diri dan alat pelindung kerja
3. IBPRP sederhana
4. Rambu keselamatan sesuai identifikasi bahaya
5. Jadwal inspeksi

Oleh :
Chairil Anam, ST. 8
Sistem
Manajemen
Keselamatan 2.5 Kepemimpinan Jabatan dan Partisipasi Pekerja Konstruksi Pada Tingkat
Konstruksi
Risiko Keselamatan Konstruksi Kecil
(SMKK)
2.5.1 Kepedulian Pimpinan Terhadap Isu Eksternal dan Isu Internal Sesuai
Dokumen SMKK
A. Isu Internal
Isu internal dikendalikan berdasarkan risiko keselamatan konstruksi.
Berikut adalah beberapa isu internal :
- Kurangnya pemahaman terhadap penerapan SMKK yang
berdampak menimbulkan kecelakaan konstruksi dan penyakit
akibat kerja/teguran dari PPK. untuk mengatasi isu tersebut
dilakukan sosialisasi dan kepedulian keselamatan konstruksi
serta pengendalian bahaya, risiko dan inspeksi keselamatan
konstruksi
- Suplai material terlambat yang berdampak progres pekerjaan
terlambat. Untuk mengatasi isu tersebut dilakukan
pengecekan informasi pengadaan peralatan material serta
menyusun jadwal pengadaan alat material
B. Isu Eksternal
Berikut adalah beberapa isu eksternal :
- Arus lalu lintas yang padat sehingga berdampak kemacetan
lalu lintas pada pelaksanaan pekerjaan, untuk mengatasi isu
tersebut dilakukan penempatan petugas pengatur lalu lintas
pada pekerjaan jalan dan pemasangan rambu dan
perlengkapan jalan
- Pengangkutan tanah dari lokasi proyek mengakibatkan
lingkungan kotor/tercemar ceceran tanah/debu/ kebisingan,
untuk mengatasi isu tersebut dilakukan pemasangan penutup
bak pada setiap truk pengangkutan tanah.

2.5.2 Organisasi Pengelola Unit Keselamatan Konstruksi (UKK)


Organisasi proyek harus sesuai dengan struktur organisasi yang telah
ditetapkan dan melaksanakan tugas serta tanggung jawabnya. Berikut
adalah contoh struktur organisasi pengelola SMKK untuk level pekerjaan risiko
keselamatan konstruksi kecil :

Oleh :
Chairil Anam, ST. 9
Sistem
Manajemen
Keselamatan
Konstruksi
(SMKK)

Gambar 1.1 struktur organisasi pengelola SMKK

Pemimpin teratas adalah direktur dengan tugas dan tanggung


jawabnya menetapkan kebijakan keselamatan konstruksi, sasaran program
keselamatan konstruksi, memastikan dipenuhinya persyaratan SMKK pada
pelaksanaan kegiatan serta terlaksananya pelaksanaan keselamatan
konstruksi pada proyek konstruksi, dan melaporkan kinerja penerapan SMKK
kepada pengguna jasa. Selanjutnya, pimpinan lapangan dan pimpinan UKK
berada langsung di bawah direktur dengan tugas dan tanggung jawab
pimpinan lapangan adalah menetapkan sasaran dan program keselamatan
konstruksi, memimpin pelaksanaan penerapan SMKK, mempromosikan
keselamatan konstruksi serta memonitor dan mengevaluasi penerapan
manajemen keselamatan konstruksi. Sedangkan pimpinan UKK bertugas
mengkoordinir penerapan SMKK di tempat kegiatan konstruksi, menyiapkan
dokumen-dokumen yang dipersyaratkan dalam penerapan SMKK,
memastikan kegiatan keselamatan konstruksi di tempat kerja serta melakukan
koordinasi dengan pihak-pihak terkait. Pimpinan lapangan dan pimpinan UKK
saling berkoordinasi terkait keselamatan konstruksi. Bila pimpinan lapangan
adalah juga seorang petugas keselamatan konstruksi, maka pimpinan
lapangan dapat merangkap pimpinan UKK.
Perbandingan jumlah personel keselamatan konstruksi dengan jumlah
tenaga kerja konstruksi berdasarkan risiko keselamatan konstruksi kecil adalah
1:60 yaitu minimal 1 (satu) petugas keselamatan konstruksi dalam setiap
pekerjaan konstruksi.

2.5.3 Penerapan Tinjauan Pakta Komitmen Keselamatan Konstruksi dan


Kebijakan Keselamatan Konstruksi di Lapangan
1. Lembar pakta komitmen
2. Lembar kebijakan keselamatan konstruksi
3. Tinjauan pelaksanaan komitmen
Oleh :
Chairil Anam, ST. 10
Sistem
Manajemen
Keselamatan 4. Konsultasi dan partisipasi pekerja
Konstruksi
5. Pelaksanaan komitmen, sosialisasi, edukasi, konsultasi dan
(SMKK)
partisipasi

2.5.4 Menerapkan Supervisi, Training, Akuntabilitas, Sumber Daya dan


Dukungan
Pimpinan penyedia jasa harus memastikan terlaksananya supervisi,
training, akuntabilitas, sumber daya dan dukungan yang kemudian
dituangkan dalam Elemen Dukungan Keselamatan Konstruksi dan Elemen
Evaluasi Kinerja Keselamatan Konstruksi, di antaranya adalah :
1. Merencanakan pemantauan dan evaluasi (PE);
Supervisi kondisi kerja beserta lingkungan aman dan sehat dalam
rangka pencegahan kecelakaan konstruksi, kecelakaan kerja,
cedera dan penyakit akibat kerja; dan memastikan ketersediaan
sumber daya yang memadai untuk menerapkan SMKK
2. Persyaratan kompetensi, kebutuhan pelatihan, pelaksanaan
pelatihan, dan evaluasi pelatihan;
Persyaratan kompetensi setiap jabatan kerja ditetapkan
manajemen, pekerja dipilih berdasarkan persyaratan kompetensi
tersebut, bila ada kekurangan akan persyaratan kompetensi, maka
diidentifikasi dan dimasukkan dalam kebutuhan pelatihan yang
harus diberikan. Pelaksanaan pelatihan sesuai jadwal yang sudah
ditetapkan dilaksanakan dan evaluasi pelatihan dilakukan untuk
setiap pelaksanaan pelatihan, agar bisa diketahui tingkat
efektifitasnya.
3. Mempromosikan peningkatan/perbaikan SMKK secara
berkesinambungan;
Dilakukan secara periodik dengan membuat banner, spanduk.
4. Melindungi pekerja yang melaporkan terjadinya kecelakaan,
bahaya dan risiko kecelakaan konstruksi dari pemecatan
dan/atau sanksi lain.

2.6 Peninjauan Ulang Dokumen SMKK


2.6.1 Peninjauan Kembali Dokumen SMKK Pada Kegiatan PCM
Berikut adalah Poin-poin tinjauan pada IBPRP :
1. Item uraian Pekerjaan dalam IBPRP disesuaikan dengan item
pekerjaan yang ada pada Daftar Kuantitas Harga;
Oleh :
Chairil Anam, ST. 11
Sistem
Manajemen
Keselamatan 2. IBPRP meninjau dampak pada Pekerja, Material, Alat & Lingkungan;
Konstruksi
3. Pengendalian Risiko Awal merupakan Sasaran Khusus;
(SMKK)
4. Level keparahan ada 5 Level & Level Kekerapan juga 5 level;
5. Tingkat Risiko Kecil 1-4, Risiko sedang 5-12, Risiko Besar 15-25
6. Urutan Pengendalian Risiko dimulai dengan Eliminasi, Substitusi,
Rekayasa Engineering, Pengendalian Administrasi, penggunaan
APD;
7. IBPRP ditanda tangani oleh Petugas Keselamatan Konstruksi atau
Pemimpin UKK dan Pemimpin Lapangan atau Kepala Proyek.

2.6.2 Peninjauan Kembali Rencana Tindakan Keteknikan, Manajemen dan


Tenaga Kerja Yang Ada Dalam Sasaran dan Program Umum dan
Khusus Pada Dokumen SMKK.
Berikut adalah poin-poin tinjauan sasaran & Program umum :
1. Program Umum adalah Program yang dibuat agar Sasaran Umum
bisa tercapai;
2. Sasaran Umum ada 4 yaitu Kinerja Keselamatan Kerja, Kinerja
Kesehatan, Kinerja Lingkungan & Kinerja Keamanan;
3. Sasaran Umum & Program Umum ditandatangani Petugas
Keselamatan Konstruksi & Kepala Proyek;
4. Agenda Program Umum adalah Komunikasi, Pelatihan / Sosialisasi,
Pemeriksaan Kesehatan, peningkatan Kesegaran Jasmani, Amdal,
Tata Graha, Pengelolaan Sampah, 5R, ketersediaan Petugas
Keamanan, Penggunaan ID Card
5. Induksi kepada Pekerja baru, tamu, subkon, penyedia dilaksanakan
rutin;
6. Pertemuan Pagi Hari dilaksanakan setiap hari untuk pembiasaan
datang tepat waktu, penggunaan APD & penjelasan informasi
potensi bahaya pada hari itu;
7. Pertemuan Kelompok Kerja juga untuk pembiasaan mengenal
penggunaan APD, tata cara kerja, potensi bahaya &
penanggulangannya pekerjaan tertentu;
8. Rapat Keselamatan Konstruksi membahas kinerja keselamatan
Konstruksi per minggu;
9. Sila direncanakan pelatihan yang memang diperlukan Proyek untuk
pekerja agar tercapai sasaran Nihil Kecelakaan;

Oleh :
Chairil Anam, ST. 12
Sistem
Manajemen
Keselamatan 10. Pemeriksaan Kesehatan pada saat awal bekerja dan secara
Konstruksi
periodik diperlukan bagi pekerja;
(SMKK)
11. Untuk menjaga Kesehatan Pekerja, dilakukan olahraga setiap
minggu sekali, seperti senam, futsal, volley dll;
12. Karena masih adanya pandemi Covid, program Pemberantasan
Penyakit Menular juga diperlukan
13. Proyek menjaga Lingkungan dengan membuat UKL & UPL,
pelaksanaan 5R, pengelolaan sampah & limbah;
14. Untuk keamanan diperlukan Petugas Keamanan, setiap Pekerja
diberi kartu Identitas;
15. Program yang sudah direncanakan dalam sasaran & Program Umum
dimonitor implementasinya & di evaluasi;
16. Hasil Evaluasi didokumentasikan;

Berikut adalah poin-poin tinjauan sasaran & Program Khusus :


1. Pastikan bahwa semua Pengendalian Risiko Awal sudah menjadi
Sasaran Khusus;
2. Program Khusus adalah Program agar sasaran Khusus yg ditetapkan
bisa tercapai;
3. Sasaran & Program Khusus ditandatangani Petugas Keselamatan
Konstruksi & Kepala Proyek;
4. Sasaran & Program Khusus dimonitor implementasinya & di evaluasi;
5. Penanggung jawab Program memastikan bahwa sasaran Khusus
yang menjadi tanggung jawabnya dapat tercapai;
6. Hasil Evaluasi didokumentasikan;

2.6.3 Peninjauan Ulang Pemenuhan Standar dan Peraturan Perundang-


undangan Terkait Dengan Keselamatan Konstruksi
Berikut adalah poin-poin tinjauan pemenuhan peraturan perundangan:
1. Pastikan Peraturan perundangan yang terkait pada kolom 5 IBPRP
sudah ada pada format Pemenuhan Peraturan Perundangan;
2. Berbagai PERPU dari Kementerian PUPR, Kementerian
Ketenagakerjaan, Kementerian Kesehatan, Kementerian
Lingkungan Hidup, Pemda Tingkat I & II yang terkait dengan
Pekerjaan Konstruksi yang dimasukkan;

Oleh :
Chairil Anam, ST. 13
Sistem
Manajemen
Keselamatan 3. Kontraktor yang sudah mempunyai Daftar Pemenuhan PERPU dapat
Konstruksi
meninjau Kembali daftar yang ada untuk disesuaikan dengan Jenis
(SMKK)
Proyek, Lokasi Pekerjaan;
4. Yang belum pernah membuat, segera membuat Daftar Pemenuhan
Peraturan Perundangan ini;
5. Setiap ada Peraturan Baru, daftar ini perlu ditinjau kembali; dan
6. Hasil Evaluasi Peraturan Perundangan didokumentasikan.

2.7 Dukungan Keselamatan Konstruksi Pada Tingkat Risiko Keselamatan


Konstruksi Kecil
2.7.1 Evaluasi Potensi Bahaya Risiko Keselamatan Konstruksi Dalam Dokumen
SMKK pada saat Pre-Construction Meeting (PCM)
PCM atau Pre-Construction Meeting atau Rapat Pra-Konstruksi atau
Rapat Persiapan Pelaksanaan adalah pertemuan pertama kali antara
pengguna jasa dan penyedia jasa setelah diterbitkan SPMK guna membahas
berbagai hal menyangkut pelaksanaan pekerjaan. Jika ada potensi bahaya
dan risiko dalam proyek maka dilakukan pengendalian kecelakaan
konstruksi, harus ada dukungan keselamatan konstruksi. Elemen dukungan
keselamatan konstruksi merupakan komponen pendukung keselamatan
konstruksi yang terdiri atas subelemen :
- Sumber daya berupa teknologi, peralatan, material, dan biaya;
- Kompetensi tenaga kerja;
- Kepedulian organisasi;
- Manajemen komunikasi; dan
- Informasi terdokumentasi
Jika komponen pendukung keselamatan konstruksi terpenuhi maka
akan menghasilkan nol kecelakaan.

2.7.2 Evaluasi Dukungan Sumber Daya Keselamatan Konstruksi Yang Ada


Pada Dokumen SMKK
1. Peralatan
Memuat daftar peralatan utama yang akan digunakan pada
pelaksanaan pekerjaan konstruksi sekurang kurangnya terdiri dari
jenis peralatan, merek & tipe peralatan, kapasitas peralatan, jumlah
peralatan, kondisi peralatan, lokasi peralatan, dan status
kepemilikan peralatan yang dibuktikan dengan surat kepemilikan
maupun surat perjanjian.
Oleh :
Chairil Anam, ST. 14
Sistem
Manajemen
Keselamatan 2. Material
Konstruksi
Memuat Daftar Material Impor Yang Akan Digunakan Pada
(SMKK)
Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi Sekurang-kurangnya Terdiri Dari
Jenis Material, Jumlah Material, Negara Asal, Dan Jadwal Pengiriman
Barang.
3. Biaya Penerapan SMKK
Biaya Penerapan SMKK adalah biaya yang diperlukan untuk
menerapkan SMKK dalam setiap pekerjaan konstruksi.
4. Kompetensi Tenaga Kerja
Memuat daftar personil keselamatan konstruksi yang ikut dalam
Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi. berikut dengan kompetensinya
yang dibuktikan dengan SKA dan SKT dan lama pengalaman kerja
sejenis.

2.7.3 Dukungan Keselamatan Konstruksi Terkait Dengan Kepedulian


Organisasi Pada Dokumen SMKK
1. Identifikasi dukungan keselamatan konstruksi terkait dengan
kepedulian organisasi dalam SMKK sesuai peraturan
2. Identifikasi kepedulian organisasi pada dokumen SMKK
3. Rencana kebutuhan pelatihan keselamatan konstruksi

2.7.4 Evaluasi Jadwal Manajemen Komunikasi Yang Ada Dalam Dokumen


SMKK
Peninjauan menyeluruh jadwal program yang digunakan untuk
berkomunikasi tentang keselamatan konstruksi di seluruh organisasi.

2.8 Operasi Keselamatan Konstruksi


2.8.1 Struktur Organisasi Unit Keselamatan Konstruksi (UKK), Tugas Dan
Tanggung Jawab

Satgas Covid 19 PUPR


Pimpinan UKK

Petugas KK /
Anggota UKK Anggota UKK
Satgas Covid 19

Gambar 1.2 Struktur organisasi UKK

Oleh :
Chairil Anam, ST. 15
Sistem
Manajemen
Keselamatan Berikut Tugas dan Tanggung Jawab dalam penerapan SMKK :
Konstruksi
a. Pimpinan UKK
(SMKK)
- Mengkoordinir penerapan SMKK di tempat kegiatan konstruksi
- Menyiapkan dokumen-dokumen yang dipersyaratkan dalam
penerapan SMKK
- Memastikan kegiatan Keselamatan Konstruksi di tempat kerja
terlaksana dengan baik
- Melakukan inspeksi Keselamatan Konstruksi di tempat kerja
- Melakukan Koordinasi dengan pihak-pihak terkait
b. Anggota Petugas Keselamatan Konstruksi
- Melaksanakan induksi Keselamatan Konstruksi
- Melaksanakan konsultasi dan komunikasi Keselamatan Konstruksi di
tempat kerja
- Melakukan inspeksi Keselamatan Konstruksi di tempat kerja
- Melaporkan kejadian baik berupa insiden maupun aksiden
kepada Pimpinan Proyek
- Mengikuti Inmen PUPR No. 02/2020 tentang Protokol Pencegahan
Penyebaran Covid-19 dalam Penyelenggaraan Jasa Konstruksi
c. Petugas Tanggap Darurat
- Melaporkan kejadian tanggap darurat ke Kepala Proyek
- Mengumumkan kondisi darurat di tempat kerja, kepada seluruh
pekerja
- Mengevakuasi pekerja di titik kumpul

2.8.2 Pengendalian Operasi Keselamatan Konstruksi


1. Analisis keselamatan konstruksi (AKK) / Construction Safety Analysis
2. Identifikasi Bahaya / AKK
3. Dokumen AKK
4. Izin Kerja
5. Standar operasional prosedur pembangunan jalan
6. Format-format penerapan SMKK

2.8.3 Kesiapan Dan Tanggapan Terhadap Kondisi Darurat Di Lokasi Proyek


Identifikasi kondisi darurat dengan membagi jenis-jenis keadaan darurat
seperti bencana alamiah yang terdiri dari banjir, kekeringan, angin topan,
gempa, petir, badai, gunung meletus, tsunami; kegagalan teknis seperti
pemadaman listrik, kebakaran/ledakan, kecelakaan konstruksi, kecelakaan
Oleh :
Chairil Anam, ST. 16
Sistem
Manajemen
Keselamatan lalu lintas; medis terdiri dari wabah, pandemi, serangan jantung, keracunan,
Konstruksi
dll; huru-hara seperti perang, kerusuhan dan terorisme.
(SMKK)
Kesiapan terhadap kondisi darurat adalah serangkaian tindakan dan
strategi yang dirancang untuk menghadapi situasi darurat, seperti bencana
alam. Kebakaran, kecelakaan atau situasi darurat lainnya. Langkah-langkah
yang dapat dikakukan untuk memastikan kesiapan terhadap kondisi darurat
yaitu memastikan kelengkapan peralatan P3K serta tabung APAR

2.8.4 Investigasi Kecelakaan Konstruksi Di Lokasi Proyek


Investigasi kecelakaan adalah suatu cara untuk mencari data dan fakta
yang berhubungan dengan kecelakaan kerja yang mengakibatkan korban
jiwa atau kerugian harta benda. Investigasi kecelakaan dilakukan guna
mencari akar penyebab dari kecelakaan agar kejadian serupa tidak terulang
kembali.
Investigasi kecelakaan bertujuan untuk mengumpulkan data/informasi
sebagai bahan analisis untuk menentukan penyebab kecelakaan kerja,
sehingga dapat dibuat tindakan koreksi yang sesuai agar kecelakaan serupa
dapat dicegah. Selain itu investigasi kecelakaan kerja juga dilakukan untuk
mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan mencari solusi terbaik guna
mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan kecelakaan tersebut

2.9 Evaluasi Kinerja Keselamatan Konstruksi Pada Tingkat Risiko


Keselamatan Konstruksi Kecil
2.9.1 Inspeksi
Inspeksi adalah pemeriksaan yang disertai pengukuran dan/atau
pengujian yang dilakukan berdasarkan karakteristik tertentu terhadap suatu
objek inspeksi.
Inspeksi dilakukan untuk mengukur tingkat kepatuhan terhadap
peraturan perundang-undangan sesuai dokumen SMKK untuk memastikan
bahwa objek yang diperiksa memenuhi standar, persyaratan, atau spesifikasi
tertentu. Pada saat inspeksi dilakukan, dipastikan tidak ada yang salah atau
melanggar hukum atau tidaksesuaian. Untuk Pekerjaan Konstruksi Risiko Kecil,
obyek inspeksi lebih fokus pada inspeksi APD, APK, Apar, Kotak P3K, Peralatan
dan perkakas konstruksi, Bahan B3, kebersihan dan kerapian pekerjaan

Oleh :
Chairil Anam, ST. 17
Sistem
Manajemen
Keselamatan 2.9.2 Audit Dokumen
Konstruksi
Mengidentifikasi kesesuaian kriteria audit dalam dokumen SMKK
(SMKK)
berdasarkan peraturan; Membuat Format tidak-sesuaian audit dokumen
SMKK sesuai dengan peraturan; Melakukan Audit SMKK di proyek sesuai
dengan kriteria peraturan; Mendokumentasikan Temuan ketidaksesuaian
hasil audit dokumen SMKK sesuai dengan peraturan; Melaporkan Temuan
ketidaksesuaian dalam hasil audit dokumen SMKK sesuai dengan peraturan.
Menyusun Laporan Lengkap Hasil Audit Internal Penerapan SMKK termasuk
temuan tidak-sesuaian; Menyimpulkan tingkat penerapan SMKK dan
rekomendasi tindak lanjutnya.

2.9.3 Evaluasi Kepatuhan


Mengevaluasi kepatuhan dan pengambilan tindakan sesuai dokumen
SMKK. Adapun tata cara melakukan evaluasi kepatuhan dimulai dari
Mengidentifikasi peraturan & standar acuan kepatuhan dan pengambilan
tindakan sesuai dokumen SMKK. Mengidentifikasi item-item ketidaksesuaian
hasil inspeksi dan hasil audit internal untuk dievaluasi penyebabnya, Membuat
format daftar simak evaluasi kepatuhan dan tindakan perbaikan mengacu
peraturan & standar rujukan, Melakukan pengisian item-item hasil inspeksi,
pengujian, kalibrasi & audit dalam format daftar simak evaluasi, pengujian,
kalibrasi dan audit sesuai dengan hasil pemantauan dan pengukuran,
Melakukan pengisian item-item hasil evaluasi ke dalam format daftar simak
evaluasi kepatuhan serta Mengevaluasi laporan harian/ mingguan/bulanan
sesuai daftar simak evaluasi kepatuhan kemudian Menetapkan tindakan
perbaikan pemenuhan kepatuhan sesuai SMKK.

2.9.4 Tinjauan Manajemen


Mengidentifikasi kebutuhan tinjauan manajemen sesuai prosedur dan
jadwal Tinjauan Manajemen, Menyusun daftar simak/agenda pembahasan
dalam rapat tinjauan manajemen, Menyusun daftar simak/agenda
pembahasan dalam rapat tinjauan manajemen, Membuat risalah rapat
tinjauan manajemen, Mendokumentasikan hasil / risalah rapat tinjauan
manajemen, Melaporkan & mendistribusikan hasil / risalah rapat tinjauan
manajemen kepada pihak terkait.

Oleh :
Chairil Anam, ST. 18
Sistem
Manajemen
Keselamatan 2.9.4 Kinerja Keselamatan Konstruksi
Konstruksi
Mengidentifikasi aspek peningkatan kinerja keselamatan konstruksi,
(SMKK)
Mengidentifikasi item item ketidak-sesuaian hasil evaluasi dan risalah tinjauan
manajemen, Menyusun format / daftar simak tindakan perbaikan untuk setiap
item ketidak-sesuaian, Menetapkan program tindakan perbaikan untuk
setiap item ketidak-sesuaian, Menerapkan program tindakan perbaikan
untuk setiap item ketidak-sesuaian. Melaksanakan upaya peningkatan kinerja
keselamatan konstruksi sesuai dengan program perbaikan, Memonitor dan
melakukan evaluasi efektifitas peningkatan kinerja tiap item atau aspek
keselamatan konstruksi, serta Mendokumentasikan hasil peningkatan kinerja
keselamatan konstruksi sesuai sasaran SMKK.

2.10 Laporan Pelaksanaan Keselamatan Konstruksi


2.10.1 Inventarisasi Data Hasil Pelaksanaan Keselamatan Konstruksi
Data dan informasi diperiksa kelengkapannya dan dikumpulkan
sebagai bahan penyusunan sesuai dengan ketentuan untuk laporan harian,
mingguan dan bulanan.
1. Pengumpulan data dan Informasi Untuk Laporan Harian:
• Disusun berdasarkan catatan buku harian berisi mengenai rencana
dan realisasi pekerjaan harian
• Buku harian disusun untuk kepentingan pengendalian dan
pengawasan pelaksanaan pekerjaan, yang paling sedikit memuat
hal-hal sebagai berikut : Kuantitas dan jenis bahan yang ada di
lapangan; Penempatan tenaga kerja untuk setiap macam tugas dan
keterampilan yang diperlukan; Jumlah, jenis dan kondisi peralatan
yang tersedia; Jumlah volume cadangan bahan bakar yang tersedia
untuk peralatan; Taksiran kuantitas pekerjaan yang dilaksanakan;
Jenis dan uraian pekerjaan yang dilaksanakan; Kondisi cuaca antara
lain hujan, banjir dan peristiwa-peristiwa alam lainnya yang
berpengaruh terhadap kelancaran pekerjaan; Catatan-catatan
yang berkaitan dengan: pelaksanaan, perubahan desain, gambar
kerja (shop drawing), spesifikasi teknis, keterlambatan pekerjaan dan
penyebabnya dan lain sebagainya.
2. Pengumpulan data dan Informasi Untuk Laporan Mingguan:
• Laporan Mingguan disusun dengan mengumpulkan rekapitulasi data
dan informasi dari laporan harian

Oleh :
Chairil Anam, ST. 19
Sistem
Manajemen
Keselamatan • Laporan mingguan disusun dan disampaikan di setiap minggu pada
Konstruksi
hari Senin di minggu berikutnya kepada Unit kerja Pelaksana
(SMKK)
Kegiatan/ Penanggung Jawab Kegiatan setelah mendapat verifikasi
Direksi Teknis/Konsultan Pengawas.
• Laporan mingguan paling sedikit memuat capaian pelaksanaan
pekerjaan selama 1 (satu) minggu dan rencana capaian minggu
berikutnya yang disampaikan setiap minggu
3. Pengumpulan data dan Informasi Untuk Laporan Bulanan :
• Laporan Bulanan disusun dengan mengumpulkan rekapitulasi data
dan informasi dari laporan Mingguan
• Laporan bulanan disusun dan disampaikan di setiap bulan, pada
tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya kepada pimpinan Unit kerja
Pelaksana Kegiatan/Penanggung Jawab Kegiatan setelah
mendapat verifikasi Direksi Teknis/Konsultan Pengawas;
• Periode pelaporan adalah tanggal 26 sampai dengan tanggal 25
bulan berikutnya;

2.10.2 Pengelompokan Data Laporan Penerapan SMKK


Format laporan pelaksanaan dokumen SMKK dibuat sesuai dengan
peraturan, data laporan pelaksanaan dokumen SMKK diklasifikasi
berdasarkan teknis dan non-teknis serta dibuat sesuai dengan format laporan
harian, mingguan dan bulanan.

2.10.3 Laporan Pelaksanaan Dokumen SMKK


Laporan pelaksanaan dokumen SMKK disusun dengan ketentuan
kemudian didokumentasikan sesuai dengan peraturan serta didistribusikan
kepada pihak terkait. Dokumen asli laporan harian, mingguan dan bulanan
dipelihara oleh Penanggung Jawab Kegiatan sesuai prosedur pengendalian
dokumen.

Oleh :
Chairil Anam, ST. 20
Sistem
Manajemen
Keselamatan BAB III
Konstruksi
PENUTUP
(SMKK)

3.1 Kesimpulan
Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi yang selanjutnya disingkat
SMKK adalah bagian dari sistem manajemen pelaksanaan Pekerjaan
Konstruksi dalam rangka menjamin terwujudnya Keselamatan Konstruksi.
Segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi keselamatan dan
kesehatan tenaga kerja melalui upaya pencegahan kecelakaan kerja dan
penyakit akibat kerja pada pekerjaan konstruksi.
Ada lima elemen Rencana Keselamatan Konstruksi (RKK) :
1. Kepemimpinan dan partisipasi tenaga kerja dalam keselamatan
konstruksi;
2. Perencanaan keselamatan konstruksi;
3. Dukungan keselamatan konstruksi;
4. Operasi keselamatan konstruksi; dan
5. Evaluasi kinerja penerapan SMKK.

Oleh :
Chairil Anam, ST. 21

Anda mungkin juga menyukai