0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan31 halaman

Surah Al-Fatihah dalam Tradisi Momalaeka

Penggunaan Surah Al-Fatihah dalam Tradisi Momalaeka (Studi Living Qur'an di Desa Silanga Kecamatan Siniu Kabupaten Parigi Moutong)

Diunggah oleh

Khaerul Anbiya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan31 halaman

Surah Al-Fatihah dalam Tradisi Momalaeka

Penggunaan Surah Al-Fatihah dalam Tradisi Momalaeka (Studi Living Qur'an di Desa Silanga Kecamatan Siniu Kabupaten Parigi Moutong)

Diunggah oleh

Khaerul Anbiya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGGUNAAN SURAH AL-FATIHAH DALAM TRADISI

MOMALAEKA (STUDI LIVING QUR’AN DI DESA SILANGA

KECAMATAN SINIU KABUPATEN PARIGI MOUTONG)

PROPOSAL
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat mengikuti seminar proposal pada
Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Fakultas Ushuluddin Adab dan
Dakwah (FUAD) Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu

Oleh:
KHAERUL ANBIYA
NIM 19.2.11.0031

PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR


FAKULTAS USHULUDDIN ADAB DAN DAKWAH
UNIVESITAS ISLAM NEGERI
DATOKARAMA PALU
2023
PERSETUJUAN PEMBIMBING

Proposal skripsi yang berjudul “Penggunaan Surah AL-Fatihah dalam

Tradisi Momalaeka di Desa Silanga (Studi Living Qur’an)” oleh Khaerul

Anbiya NIM: 19.2.11.0031 Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas

Ushuluddin Adab dan Dakwah Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu,

setelah dengan seksama meneliti dan mengoreksi proposal skripsi yang

bersangkutan maka masing-masing pembimbing memandang bahwa proposal

skripsi tersebut telah memenuhi syarat ilmiah dan dapat diajukan untuk di

seminarkan.

Palu, 3 Agustus 2023 M

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Suraya Attamimi, [Link]., [Link].I Itsnan Hidayatullah, [Link].I., M.S.I


NIP: 19750222 200710 2 003 201702003

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL

………………………………………………………..i

PERSETUJUAN PEMBIMBING........................................................................ii

DAFTAR ISI.........................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN....................................................................................1

A. Latar Belakang......................................................................................1

B. Rumusan dan Batasan Masalah.............................................................4

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian..........................................................4

D. Penegasan Istilah...................................................................................5

E. Garis-Garis Besar Isi.............................................................................6

BAB II KAJIAN PUSTAKA............................................................................8

A. Penelitian terdahulu..............................................................................8

B. Kajian Teori........................................................................................10

C. Kerangka pemikiran............................................................................16

BAB III METODE PENELITIAN..................................................................19

A. Pendekatan dan Desain Penelitian......................................................19

B. Lokasi Penelitian.................................................................................19

C. Kehadiran Peneliti...............................................................................20

D. Data dan Sumber Data....................................................................... 20

E. Teknik Pengumpulan Data..................................................................21

iii
F. Teknik Analisis Data...........................................................................22

G. Teknik Pengesahan Data.....................................................................24

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................26

iv
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Fenomena interaksi umat muslim terhadap Al-Qur’an sangat beragam,

tidak hanya menafsirkan teks, tetapi juga Al- Qur’an diperlakukan sebagai entitas

yang berrnilai atau disebut kajian Living Qur’an (Al- Qur’an dalam kehidupan

sehari-hari).1 Pemetaan interaksi umat Islam terhadap Al-Qur’an pernah

disebutkan Fazlur Rahma dalam sebuah jurnal dengan judul “Some Recent Books

on the Qur’an by western Authors”.2 Singkatnya beliau menyebutkan bahwa ada

tiga kelompok besar pengkaji Al- Qur’an yaitu citizents (penduduk asli, umat

muslim), foreigners (kelompok asing atau non-muslim yang mengkaji Al-Qur’an)

dan invaders (penjajah , kelompok yang ingin menghancurkan umat islam).

Dari pemetaan interaksi tersebut, dapat dipahami bahwa minat

pengembangan kajian Al-Qur’an bukan hanya dari masyarakat muslim, akan tetapi

juga bisa menarik minat dari kalangan non-muslim. Dalam kehidupan interaksi

masyarakat terhadap Al-Qur’an, menunjukkan fakta bahwa Al-Qur’an bukan

hanya diperlakukan sebagai kitab suci, tapi sudah memiliki banyak fungsi sesuai

dengan pemahaman dan kebutuhan masyarakat. Misalnya dijadikan sebagai jimat,

penenang hati, dan pelancar rezeki.3

Pemahaman masyarakat terhadap Al-Qur’an sangat dipengaruhi oleh

faktor lingkungan kemasyarakatan dan juga cara berfikir mereka. Hal inilah yang

mendasari adanya interaksi yang variatif dan dinamis dalam ruang sosial.

1
Hamam Faizin, Mencium dan Nyunggi Al-Qur’an Upaya Pengembangan Kajian Al-
Qur’an Melalui Living Qur’an, Suhuf Vol.4, no.1, 2011, 23.
2
Fazlur Rahman, Some Recent Books on the Qur’an by Western Authors, The Journal of
Religion, Vol. 16, No. 1, Januari 1984.
3
Didi Junaedi, “Living Qur’an, Sebuah Pendekatan Baru dalam Kajian Alquran (Studi
Kasus di Pondok Pesantren as-Siroj Al-Hasan Desa Kalimukti Kec. Pabedilan Kab. Cirebon)”,
Journal of Quranic Studies, Vol. 4, No. 2, 2015,170.

1
Berbagai bentuk pemahaman dan pengamalan itulah yang kemudian disebut

sebagai living Qur’an (Al-Qur’an yang hidup) ditengah masyarakat muslim.4

Living Qur’an merupakan salah satu bentuk dan pengembangan kajian Al-

Qur’an yang merangkum berbagai bentuk pemaknaan dan pemahaman

masyarakat terhadap Al-Qur’an. Fenomena living Qur’an telah menjadi fenomena

yang hidiup ditengah-tengah masyarakat dan berbagai fenomena Al-Qur’an yang

seringkali menjadi bagian hidup dari masyarakat ditemukan.5

Dalam praktik umat muslim yang beragam, dapat ditemukan berbagai

model pembacaan Al-Qur’an. Baik itu berorientasi pada pemahaman makna

dalam rangka ibadah ritual atau untuk memperoleh ketenangan jiwa, maupun

berorientasi kepada terapi pengobatan atau dianggap dapat mendatangkan

kekuatan supranatural untuk mengusir jin dan sebagainya.6

Di antara contoh penggunaan surah Al-Fatihah dalam praktik pengobatan,

terdapat dalam sebuah hadits dari Imam Bukhari yang meriwayatkan sebuah

peristiwa yang diceritakan dan dialami oleh sahabat nabi, Abu Said Al-Khudri

Singkat cerita, sekelompok sahabat Nabi saw. berkunjung ke sebuah

perkampungan dan menemukan pemuka kampung itu sedang luka parah. Salah

seorang di antara sahabat Nabi membacakan surah Al-Fatihah. Yang bersangkutan

merasakan kesembuhan dan sekelompok sahabat Nabi itu pun diberi “upah berupa

tiga puluh ekor kambing dan disuguhi susu. Hal ini kemudian disampaikan kepada

Rasulullah saw. dan beliau bersabda “Dari mana dia mengetahui bahwa (surah Al-

4
Abdul Mustaqim, Metode Penelitian Al-Qur’an dan Tafsir (Yogyakarta: Idea Press
Yogyakarta, 2015), 104.
5
Idem, “Metode Penelitian living Quran Model Kualitatif” dalam Sahiron Samsuddin,
ed., Metodoligi Penelitian Living Quran, (Yogyakarta: TH. Press, 2007), 6.
6
Ahmad Farhan, “Living Al-Qur’an Sebagai Metode Alternatif dalam Studi Al-Qur’an”
El-Afkar 6, No. 11, (2017), 87.

2
Fatihah) itu merupakan doa penyembuhan? (Ia memang demikian). Bagilah

kambing-kambing itu dan beri aku sebagian.”

Salah satu amalan yang sudah menjadi tradisi di Indonesia adalah

penghadiahan pahala bacaan Al-Fatihah dari orang yang masih hidup kepada

mayit. Penghadiahan Al-Fatihah ini dianggap sebagai sebuah ibadah yang dapat

mendatangkan pahala untuk mayit meskipun amalan tersebut dilakukan oleh orang

lain.7

Masyarakat desa Silanga dominan bersuku Kaili Rai, seperti yang diketahui

bahwa suku kaili mempunyai beragam tradisi yang telah terakulturasi dengan

budaya keagamaan hingga menjadi topik yang menarik bagi para peneliti

khususnya untuk Living Qur’an. Salah satu jurnal yang meneliti tentang Living

Qur’an pada masyarakat kaili adalah Darlis Dawing dengan judul “ Living Qur'an

di Tanah Kaili (Analisis Interaksi Suku Kaili Terhadap Alquran dalam Tradisi

Balia di Kota Palu, Sulawesi Tengah)”, penelitian ini berfokus pada salah satu

tradisi di sulawesi tengah yang menjadi salah satu keunikan masyarakat kaili.
8
Penelitian ini menjelaskan bahwa tradisi ini merupakan salah satu bentuk usaha

masyarakat untuk mendapatkan kesembuhan setelah dari pengobatan medis.

Tradisi ini adalah salah satu bukti bahwa masyarakat kaili masih memegang teguh

warisan nenek moyang dan senantiasa melestarikannya.

Dalam kajian ini akan dibahas mengenai Penggunaan Surah Al-Fatihah

dalam Tradisi Momalaeka di Desa Silanga. Seperti yang diketahui bahwa masa

kini tradisi dengan menyertakan sesajian hampir dianggap tabu terutama bagi

generasi milenial. Tradisi ini hampir dilaksanakan oleh seluruh masyarakat desa

7
Ahmad Yani Nasution, “Hukum Hadiah Al-Fatihah Kepada Mayit dalam Perspektif
Fiqh Muqaran”, JURNAL MADANI: Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Humaniora Vol. 1, No. 2
(September 2018) 431.
8

3
Silanga, pasalnya tradisi ini sudah menjadi kebiasaan ketika masyarakat teringat

atau bermimpi bertemu dengan keluarga yang sudah meninggal. Hal ini dilakukan

juga sebagai upaya tolak bala dan mendapat perlindungan dari Allah Swt.

Salah satu yang menarik bagi peneliti adalah praktik tradisi momalaeka

merupakan bentuk pemahaman masyarakat terhadap surah Al-Qur’an yang mereka

yakini sebagai surah yang dapat menjauhkan bala, dan dapat menjadi hadiah bagi

mereka yang sudah meninggal. Dalam penelitian ini, penulis berupaya untuk

mengkaji lebih dalam terkait dengan pelaksanaan tradisi momalaeka, penggunaan

surah Al-Fatihah dalam proses tradisi tersebut serta bagaimana sejarah

terbentuknya tradisi ini.

B. Rumusan dan Batasan Masalah

Berdasarkan dari latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah-masalah

sebagai berikut:

1. Bagaimana penggunaan surah Al-Fatihah dalam tradisi momalaeka di

Desa Silanga?

2. Bagaimana resepsi masyarakat dalam penggunaan surah Al-Fatihah pada

tradisi momalaeka di Desa Silanga?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan Penelitian

a. Untuk mengetahui cara masyarakat menggunakan Surah Al-Fatihah

dalam tradisi momalaeka di Desa Silanga.

b. Untuk menegtahui resepsi masyarakat dalam penggunaan Surah Al-

Fatihah pada tradisi momalaeka di Desa Silanga.

4
2. Kegunaan Penelitian

a. Mengetahui dan melestarikan khazanah keislaman.

b. Memberikan kontribusi terhadap kajian Living Qur’an pada jurusan

Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.

D. Penegasan Istilah

Sebelum melangkah lebih jauh, penulis ingin mengemukakan penegasan

istilah agar tidak terjadi penyimpangan dalam pembahasan. Adapun judul skripsi

ini yaitu “Penggunaan Surah Al-Fatihah dalam Tradisi Momalaeka di Desa

Silanga (Studi Living Qur’an)”. Untuk menghindari kekeliruan dalam

memahami judul proposal ini, penulis akan menguraikan beberapa istilah yang

terkandung didalamnya yaitu:

1. Living Qur’an

Living qur’an adalah gabungan dua kata yang berbeda, yaitu living yang

berarti ‘hidup’ dan Qur’an, yaitu kitab suci umat Islam. Gabungan kedua kata

tersebut membentuk sebuah makna baru, yaitu “Alquran yang hidup di

masyarakat”.9

Istilah Living Al-Qur’an dalam istilah teknis lainnya juga disebut

interaksi atau resepsi. Kata resepsi bisa digunakan untuk mewakili perilaku

interaksi antara Al-Qur’an dan penganutnya tersebut.10

2. Tradisi

Tradisi adalah kesamaan benda material dan gagasan yang berasal dari

masa lalu namun masih ada hingga kini dan belum dihancurkan atau dirusak.

9
Muhammad Ali “Kajian Naskah dan Kajian Living Qur’an dan Living Hadits”, Journal
Of Qur’an and Hadist Studies 4, No. 2, (2015). 45
10
Ahmad Farhan “Living Al-Qur’an Sebagai Metode Alternatif dalam Studi Al-Qur’an”,
El-Afkar 6, No.11, (2017), 89.

5
Tradisi dapat di artikan sebagai warisan yang benar atau warisan masa lalu.

Namun demikian tradisi yang terjadi berulang-ulang bukanlah dilakukan secara

kebetulan atau disengaja.11

Kata “tradisi” berasal dari bahasa Latin traditio, sebuah nomina yang

dibentuk dari kata kerja traderere atau trader ‘mentransmisi, menyampaikan, dan

mengamankan’.Sebagai nomina, kata traditio berarti kebiasaan yang disampaikan

dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam waktu yang cukup lama sehingga

kebiasaan itu menjadi bagian dari kehidupan sosial komunitas.12

3. Momalaeka

Momalaeka dalam bahasa kaili yang berarti bermalaikat. Secara

konseptual, momalaeka dipahami sebagai sebuah kegiatan yang ditujukan untuk

roh orang yang sudah meninggal.

Dalam hal ini penulis mengambil arti Momalaeka dari segi pemahaman

masyarakat suku kaili rai, khususnya di Desa Silanga, Kec. Siniu, Kab. Parigi

Moutong.

E. Garis-Garis Besar Isi

Agar penulisan proposal ini lebih mengarah pada tujuan, maka penulis

menyusun proposal ini menjadi beberapa bab, dan pada masing-masing bab di bagi

lagi menjadi beberapa sub bab yang terdiri dari :

Bab I : Pendahuluan : Pada bab ini akan diuraikan secara singkat mengenai

latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, penegasan

istilah, dan garis-garis besar isi.

11
Piotr Sztompka, Sosiologi Perubahan Sosial, (Jakarta: Prenada Media Grup, 2007), 69.
12
Robert Sibarani, “Pendekataan Antropolinguistik Terhadap Kajian Tradisi Lisan”,
Retorika : Jurnal Ilmu Bahasa 1, No. 1, (2015), 4.

6
Bab II : Kajian Pustaka membahas kajian-kajian teoritis yang akan

menjadi acuan dalam penelitian ini. Bab ini terdiri dari uraian tentang penelitian

terdahulu, kajian teori dan kerangka pemikiran.

Bab III : Metode penelitian akan membahas cara penulis mengumpulkan

seluruh data yang dibutuhkan dalam penelitian, adapun data tersebut meliputi,

pendekatan yang digunakan, tempat penelitian, subjek dan objek penelitian,

instrumen penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, dan teknik

pengabsahan data.

Bab IV : Hasil penelitian memuat analisis penulis sebagai gambaran hasil

telaah mendalam terhadap objek penelitian sekaligus memberikan jawaban

terhadap masalah diteliti.

Bab V : sebagai penutup terdiri dari kesimpulan dan saran-saran.

Kesimpulan di sini merupakan hasil telaah ringkas penulis terhadap pembahasan

dan analisis pada bab sebelumnya. Sedangkan saran-saran berupa gagasan penulis

dan kontribusi pemikiran agar pascapenelitian ini dapat membuahkan nilai positif

bagi semua pihak.

F.

7
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Penelitian Terdahulu

Setelah melakukan penelusuran terhadap penelitian-penelitian yang sudah

ada tentang pembahasan Kajian Living Qur’an , ditemukan beberapa skripsi yang

memiliki keterkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan penulis, adapun

diantara penelitian tersebut yaitu ;

Mardliyatun Nahdliyah Putri “Al-Qur’an Dalam Ruang Sosial Budaya:

Tradisi Pembacaan Surah Al-Fatihah Pada Aktivitas Sandingan di Dusun

Gampingan Desa Wonokerto” Skripsi ini menjelaskan tentang Aktivitas sandingan

yang merupakan suatu kegiatan atau ritual penyambutan arwah dengan

menyertakan sesaji atau akrab disebut sandingan. Peneliti menggunakan metode

deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data berupa hasil wawancara. Hasil dari

pembahasan ini menyimpulkan bahwa aktivitas sandingan merupakan tradisi yang

telah melekat dalam diri masyarakat, dan terbentuk karena adanya rasa dan

pendapat antar individu pada suatu hadis.13

Wilda ‘Alma Fadhila “Pembacaan Al-Fatihah dalam Tradisi Kepungan di

Panembahan Urang Jaya Desa Merden Kecamatan Purwanegara Kabupaten

Banjarnegara (Studi Living Qur’an)” Skripsi ini bertujuan mengetahui proses

kepungan yang di laksanakan di daerah tersebut, sekaligus mengungkap diskursus

yang membangun proses pembacaan surah Al-Fatihah dalam tradisi kepungan

tersebut dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan

budaya yang terfokus pada interprtatif. Hasil yang diperoleh dari penelitian

13
Mardliyatun Nahdliyah Putri “Al-Qur’an Dalam Ruang Sosial Budaya: Tradisi
Pembacaan Surah Al-Fatihah Pada Aktivitas Sandingan di Dusun Gampingan Desa Wonokerto”
(Skripsi, Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Syariah, UIN Maulana Malik
Ibrahim, Malang, 2021), 79.

8
tersebut ialah tradisi kepungan tersebut telah ada sekitar tahun 1400-1500 an

masehi. Tradisi ini awalnya terrcipta dari kebiasaan masyarakat yang suka

berkumpul dan makan bersama ketika Raden Urang Jaya/ Adipati Hurang/ Adipati

Wirasaba III masih hidup. Beliau juga diketahui adalah pencetus tradisi ini

pertama kali. Tradisi ini juga telah berubah dari mulanya bernuansa kejawen

sekarang sudah mengarah ke arah islam adanya fenomena Living Q ur’an dan

tentunya memengaruhi simbol dan makna ritual.14

Sindi Fristianti “Surah Al-Fatihah Sebagai Tolak Bala dalam Tradisi

Golong (Study Living Qur’an di Dusun Jati, Desa Sukarejo, Kecamatan

Tegowanu, Kabupaten Grobogan)” Skripsi ini bertujuan untuk menjelaskan

tentang kondisi sosial masyarakat, prosesi pelaksanaan tradisi golong dan makna

penafsiran masyarakat dusun jati terhadap surah Al-Fatihah dalam tradisi golong

sebagai tolak bala. Skripsi ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang

kemudian dianalisis dengan menggunakan teori reduksi dari Husserl. Dalam

penelitian tersebut dijelaskan bahwa tradisi Golong yang dilaksanakan oleh

masyarakat sebagai tolak bala didasari oleh kondisi sosial masyarakat yang masih

berpegang teguh kepada adat dan tradisi yang ada. Kondisi perekonomian

masyarakat yang rendah dan tidak menentu juga menjadi salah satu pendorong

dilaksanakannya tradisi tersebut untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt agar

terhindar dari bala dan hama-hama yang menghambat petani.15

Mohammad Najib Fatkhulloh “Living Qur’an; Studi Kasus Tradisi Semaan

Al-Qur’an di Desa Ngrukem Milarak Ponorogo”. Dalam skripsi ini menjelaskan


14
Wilda ‘Alma Fadhila “Pembacaan Al-Fatihah dalam Tradisi Kepungan di Panembahan
Urang Jaya Desa Merden Kecamatan Purwanegara Kabupaten Banjarnegara (Studi Living
Qur’an)” (Skripsi, Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, Adab dan
Humaniora, UIN Prof. K.H. Saifudin Zuhri, Purwokerto, 2022) 64.
15
Sindi Fristianti “Surah Al-Fatihah Sebagai Tolak Bala dalam Tradisi Golong (Study
Living Qur’an di Dusun Jati, Desa Sukarejo, Kecamatan Tegowanu, Kabupaten Grobogan)”
(Skripsi, Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora,
IAIN Salatiga, 2020) 109.

9
tentang proses tradisi Semaan yang merupakan tradisi yang sudah ada sejak zaman

Nabi SAW, dan masih terjaga sampai sekarang. Penelitian ini adalah penelitian

lapangan dengan pendekatan kualitatif, dengan pengumpulan data berupa

wawancara dan observasi parrtisipatif. Kesimpulan yang bisa ditarik dari skripsi

ini adalah, pelaksanaan tradisi semaan ini di dasari oleh dua hal, pertama,

mengikuti jejak nabi Muhammad SAW. Kedua, yaitu memperkuat tali silaturahmi,

mendekatkan diri kepada Allah dan mendapatkan keberkahan Al-Qur’an.

Pemaknaan tradisi ini bagi masyarkat, mencakup dua sisi yaitu secara subjektif

dan secara objektif. Makna subyektif adalah spiritual yang mencakup untuk

mendapatkan berkah, syafaat, dan menjalin silaturahmi. Makna objektif adalah

edukasi untuk belajar Al-Qur’an, dan ekonomi sebagai pemasaran produk milik

masyarakat agar lebih meluas. 16

Nur Fatku Rohman “Pembacaan Surat Yasin dalam Tradisi Tahlilan:

Kajian Living Qur‟an di Desa Pelem Kecamatan Campurdarat” Skripsi ini

menjelaskan tentang pembacaan surah Yasin dalam tradisi tahlilan yang

merupakan suatu kegiatan penting bagi masyarakat di Desa Palem Kecamatan

Campurdarat dan telah menjadi kewajiban sosial bagi masyarakat seperti halnya

tradisi tahlilan ketika seseorang meninggal dunia. Penelitian ini menggunakan

metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Hasil dari penelitian

ini menunjukan bahwa sejarah awal pelaksanaan tradisi tahlilan tidak diketahui

karena tidak ada catatan tentang hal itu. Pemaknaan tradisi ini bagi masyarakat

yaitu mendapat ketenangan hati, saling tolong menolong, dan mempererat

silaturahmi.17

16
Mohammad Najib Fatkhulloh “Living Qur’an; Studi Kasus Tradisi Semaan Al-Qur’an di
Desa Ngrukem Milarak Ponorogo” (Skripsi, Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas
Ushuluddin Adab dan Dakwah, IAIN Ponorogo, 2021) 65.
17
Nur Fatku Rohman “Pembacaan Surat Yasin dalam Tradisi Tahlilan: Kajian Living
Qur‟an di Desa Pelem Kecamatan Campurdarat” (Skripsi, Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir,
Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, IAIN Tulungagung, 2018) 84.s

10
Dari beberapa karya ilmiah di atas, penulis menemukan persamaan yaitu

Kajian Living Qur’an sebagai salah satu fokus utama dalam penelitian. Adapun

perbedaannya yang penulis temukan adalah, pertama, adalah perbedaan nama dan

bentuk tradisi. Kedua, perbedaan lokasi yang mempengaruhi kesimpulan dan hasil

dari penelitian. Ketiga, bentuk pelaksanaan, ketentuan, dan tujuan tradisi yang

mempunyai maksud berbeda.

B. Kajian Teori

1. Kajian Living Qur’an

a. Pengertian Living Qur’an

Living Qur’an secara bahasa merupakan gabungan dari kata Livimg yang

berarti “hidup”, dan Qur’an, yaitu kitab suci umat muslim yang diturunkan

kepada Nabi Muhammad SAW. Dalam pengertian singkatnya, bisa dipahami

sebagai Al-Qur’an yang hidup dalam keseharian masyarakat muslim.

M. Mansyur berpendapat bahwa Living Qur’an bermula dari fenomena

Quran in Everyday Life yang merupakan makna dan fungsi Quran yang dipahami

dan dialami secara nyata oleh masyarakat muslim. Secara lengkapnya, yaitu

kajian atau penelitian yang memuat berbagai peristiwa sosial tentang kehadiran

Al-Qur’an dalam sebuah komunitas muslim.18 Muhammad berpendapat bahwa

Living Qur’an sebagai Al-Qur’an yang hidup dalam masyarakat muslim. 19 Abdul

Mustaqim mengatakan Living Qur’an adalah respon masyarakat yang terinspirasi

dari Al-Qur’an.20

18
M. Mansyur, Metode Penelitian Living Quran dan Hadits, (Yogyakarta: Teras, 2007),8.
19
Muhammad Chirzin., “Mengungkap Pengalaman Muslim Berinteraksi Dengan Al-
Quran” dalam Sahiron Samsuddin, ed., Metodoligi Penelitian Living Quran, (Yogyakarta: TH.
Press, 2007), 12.
20
Abdul Mustaqim, “Metode Penelitian living Quran Model Kualitatif” dalam Sahiron
Samsuddin, ed., Metodoligi Penelitian Living Quran, (Yogyakarta: TH. Press, 2007), 68.

11
Hal yang menjadi latar belakang munculnya pemikiran ilmiah murni

dalam studi Al-Qur’an, berawal dari para pemerhati non-Muslim terhadap hal-hal

yang menarik dari Al-Qur’an yang tertuang dalam kehidupan sosial masyarakat

muslim. Misalnya fenomena sosial tentang pelajaran membaca Al-Qur’an,

fenomena penulisan bagian-bagian tertentu dari Al-Qur’an di tempat-tempat

tertentu, pemenggalan Al-Qur’an yang kemudian menjadi formula untuk

keperluan pengobatan, do’a dan sebagainya yang ada dalam masyarakat Muslim.

Model studi penelitian yang berfokus kepada fenomena dalam masyarakat muslim

yang berkaitan dengan Al-Qur’an sebagai objeknya. Pada dasarnya ini adalah

studi sosial dengan berbagai keragamannya. Karena fenomena sosial ini ada

kaitannya dengan Al-Qur’an, maka kemudian dimasukan dalam lingkup studi Al-

Qur’an. Sehingga berkembang menjadi istilah Living Qur’an .21

Objek studi berupa fenomena sosial seperti ini sangat memerlukan

perangkat metodologi ilmu-ilmu klasik. Penulisannya tentu akan berbentuk

mengeksplorasi dan mempublikasikan ragam fenomena sosial yang berkaitan

dengan Al-Qur’an di berbagai komunitas Muslim dalam batas kepentingan ilmiah

yang tidak berpihak.22

Definisi di atas telah memenuhi syarat yang berkaitan langsung dengan

Living Qur’an. Singkatnya, dapat dikatakan Living Qur’an adalah interaksi,

asumsi, justifikasi, dan perilaku masyarakat yang berasal dari ayat-ayat Al-

Qur’an.23

21
Syahiron Samsuddin, Metodologi Penelitian Living Quran dan Hadis, (Yogyakarta:
TERAS, 2007), 7.
22
Moh. Nasikhul Umam, “Tradisi Pembacaan Surah Yasin Fadhilah (Studi Living Qur’an
di Dukuh Modal Desa Pamotan Kecamatan Pamotan Kabupaten Rembang)”, (Tesis tidak
diterbitkan, Fakultas Ushuluddin, Iain Kudus, Kudus, 2019), 10.
23
Moh. Muhtador, “Pemaknaan Ayat al-Quran dalam Mujahadah: Studi Living Qur’an di
PP Al-Munawwir Krapyak Komplek Al- Kandiyas”, Jurnal Penelitian 8, no. 1 (Februari 2014),
97.

12
Berbeda dengan studi Al-Qur’an yang kajiannya berfokus pada tekstualitas

Al-Qur’an maka studi Living Qur’an memfokuskan objek kajiannya berupa

fenomena lapangan yang dijumpai pada komunitas muslim tertentu. 24 Living

Qur’an termasuk kedalam wilayah kajian keislaman yang tidak hanya aspek-

aspeknya yang normatif dan gogmatik, tetapi juga pengkajian yang menyangkut

aspek sosiologis dan antropologis. Ilmu-ilmu Islam tidak selalu berada pada aspek

kepercayaan normatif-dogmatik yang bersumber dari wahyu, terdapat aspek

perilaku manusia yang lahir dari dorongan kepercayaan, menjadi kenyataan

empirik.25

Living Qur’an adalah “Teks Al-Qur’an yang hidup dalam masyarakat”

berupa “respons masyarakat terhadap teks Al-Qur’an dan hasil penafsiran

seseorang”. Respons masyarakat adalah resepsi terhadap teks dan hasil penafsiran

tertentu. Resepsi sosial kepada Al-Qur’an dapat kita temui dalam kehidupan

sehari-hari, seperti tradisi bacaan surah atau ayat tertentu pada acara atau perayaan

keagamaan tertentu. Sementara itu, resepsi sosial terhadap hasil penafsiran

tertuang dalam dilembagakannya bentuk penafsiran tertentu dalam masyarakat,

baik dalam skala besar maupun kecil.26

Dari penjabaran di atas, dapat ditarik disimpulkan bahwa Living Qur’an

adalah suatu kajian ilmiah dalam ranah studi Al-Qur’an yang meneliti dialektika

antara Al-Qur’an terhadap realitas kondisi sosial di masyarakat. Living Qur’an

juga dapat diartikan praktik pelaksanaan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan

sehari-hari di lingkungan masyarakat. Seringkali ditemukan adanya perbedaan

24
Afriadi Putra dan Muhammad Yasir “’Kajian Living Qur’an di Indonesia (Dari Studi
Teks ke Living Qur’an)”, Majalah Ilmu Pengetauan dan Pemikiran Keagamaan TAJDID 21, no.2
(2018), 17.
25
Ibid, 18.
26
Heddy Shri Ahimsa-Putra, “THE LIVING AL-QUR’AN: Beberapa Perspektif
Antropologi”, Walisongo 20, no. 1 (Mei 2012), 237.
(Junaedi) (Hadi)

13
antara praktek dan muatan teksutual dari ayat-ayat Al-Qur’an yang dilakukan oleh

masyarakat.27

Dari berbagai pendapat definisi mengenai living Quran dapat di ambil

pemahaman bahwa Living Quran adalah Alquran yang hidup dalam kehidupan

realitas sosial, yang direspon oleh masyrakat dengan berbagai model.

b. Pendekatan dalam Kajian Living Qur’an

Dengan menempatkan pemaknaan al-Qur’an dan perwujudannya dalam

kehidupan sehari-hari manusia sebagai titik pusat kajian, maka paradigma-

paradigma yang diperlukan di sini tidak lagi sama dengan paradigma yang

digunakan untuk mengkaji al-Qur’an sebagai sebuah kitab. Memang kita masih

dapat menggunakan paradigma hermeneutik di sini, karena interpretasi masih

tetap dilakukan terhadap gejala-gejala sosial-budaya bilamana kita memandang

gejala-gejala tersebut sebagai “teks”. Akan tetapi karena “teks” di sini merupakan

sebuah model atau metafor, dan “teks” yang sebenarnya adalah “pemaknaan al-

Qur’an dan perwujudannya dalam kehidupan,” maka hermeneutik yang dilakukan

tidak lagi sama dengan hermeneutik dalam kajian teks yang sebenarnya.28

Banyak paradigma yang dapat digunakan untuk mempelajari Living

Qur’an, namun tidak semua paradigma ini dapat diterapkan dengan mudah di

Indonesia, karena terbatasnya kepustakaan yang tersedia. Dari sekian banyak

paradigma tersebut, paradigma yang dapat dipakai dan dapat memberikan hasil

yang memuaskan jika diterapkan dengan baik adalah beberapa paradigma

berikut.29

27
Didi Junaedi, “Living Qur’an: Sebuah Pendekatan Baru dalam Kajian Al-Qur’an (Studi
Kasus di Pondok Pesantren as-Siraj al-Hasan Desa Kalimukti Kec. Pabedilan Kab. Cirebon”,
Jurnal of Qur’an and Hadith Studies 4, no. 2 (2015), 173.
28
Heddy Shri Ahimsa-Putra, “THE LIVING AL-QUR’AN: Beberapa Perspektif
Antropologi”, Walisongo 20, no. 1 (Mei 2012), 253.
29
Ibid, 254.

14
1) Paradigma Akulturasi

Akulturasi adalah sebuah proses yang terjadi ketika suatu kebudayaan

bertemu dengan kebudayaan lain, dan kemudian mengambil sejumlah unsur-unsur

budaya baru tersebut serta mengubahnya sedemikian rupa sehingga unsur-unsur

budaya baru tersebut terlihat seperti unsur budayanya sendiri.30

Tradisi Momalaeka yang dilakukan oleh masyarakat desa Silanga yang

merupakan akulturasi antara kebudayaan dan keagaaman, dapat dikategorikan

masuk dalam lingkup studi Living Qur’an. Sehingga peneliti mencoba untuk

mengetahui proses dan hasil interaksi antara ajaran yang ada dalam Al-Qur’an

dengan sistem kepercayaan atau budaya lokal masyarakat.

Peneliti akan berupaya mengetahui unsur-unsur mana dari budaya lokal

yang mempengaruhi pola interpretasi atau pemahaman terhadap Al-Qur’an sebagai

firman-firman dari Allah SWT, yang artinya tidak dimengerti sepenuhnya oleh

masyarakat pendukung budaya tersebut, dan bagaimana ajaran-ajaran dalam Al-

Qur’an kemudian mengubah unsur-unsur tertentu dari budaya lokal.

2) Paradigma Fungsional

Paradigma ini digunakan peneliti dengan maksud mengetahui fungsi-fungsi

dari suatu gejala sosial budaya. Fungsi ini merupakan fungsi sosial atau fungsi

kultural gejala tersebut, misalnya pola perilaku yang muncul dari pemaknaan

tertentu terhadap ayat-ayat Al-Qur’an.31

Masyarakat desa Silanga meyakini bahwwa surah Al-Fatihah adalah salah

satu surah yang mempunyai banyak manfaat dan salah satunya adalah bentuk

hadiah kepada orang yang sudah meninggal. Sehingga tradisi momalaeka diyakini
30
Ibid, 254.
31
Moh. Nasikhul Umam, “Tradisi Pembacaan Surah Yasin Fadhilah (Studi Living Qur’an
di Dukuh Modal Desa Pamotan Kecamatan Pamotan Kabupaten Rembang)”, (Tesis tidak
diterbitkan, Fakultas Ushuluddin, Iain Kudus, Kudus, 2019), 15.

15
masyarakat adalah bentuk rasa syukur kepada Allah SWT dan juga bentuk

kecintaan kepada keluarga yang telah meninggal.

3) Paradigma Fenomenologi

Paradigma fenomenologi untuk mempelajari suatu gejala sosial-budaya

pada tradisi momalaeka di desa Silanga yang akan berusaha mengungkap

kesadaran atau pengetahuan masyarakat sebagai pelaku mengenai dunia tempat

mereka berada, kesadaran mereka mengenai perilaku-perilaku mereka sendiri. Hal

ini sangat penting karena pemahaman atau pengetahuan mengenai dunia inilah

yang dianggap sebagai dasar bagi perwujudan pola-pola perilaku masyarakat desa

Silanga dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memahami pandangan dunia atau

pandangan hidup, maka akan dapat dimengerti mengapa pola-pola perilaku

tertentu diwujudkan.32

Fenomenologi mempelajari struktur pengalaman masyarakat desa silanga

dari sudut pandang subjektif atau orang pertama, bersama dengan “intensionalitas”

(cara pengalaman diarahkan ke objek tertentu di dunia). Ini kemudian mengarah

pada analisis kondisi kemungkinan kesengajaan, kondisi yang melibatkan

keterampilan dan kebiasaan motorik , praktik sosial latar belakang dan, seringkali,

bahasa.33

C. Kerangka pemikiran

Kerangka pemikiran merupakan alur pikir penulis yang dijadikan sebagai

skema pemikiran atau dasar-dasar pemikiran untuk memperkuat indikator yang

melatar belakangi penelitian ini. Dalam kerangka pemikiran ini peneliti akan

32
Ibid, 258.
33
Feelsafat, “Fenomenologi : Pengertian, Paradigma, dan Filsafat”, Situs Resmi Feelsafat.
[Link] (29 Agustus
2023).

16
mencoba menjelaskan masalah pokok penelitian. Penjelasan yang disusun akan

menggabungkan antara teori dengan masalah yang di angkat dalam penelitian ini.

Dalam kerangka pemikiran ini, peneliti akan berusaha membahas

permasalahan yang diangkat. Pembahasan tersebut akan dijelaskan dengan konsep

dan teori yang ada hubungannya untuk membantu menjawab masalah penelitian.

Adapun permasalahan dalam penelitian ini adalah pertama, Bagaimana cara

masyarakat menggunakan Surah Al-Fatihah dalam Tradisi Momalaeka di Desa

Silanga. Kedua, Bagaimana perspektif Al-Qur’an dan Sunnah terhadap

Penggunaan Surah Al-Fatihah dalam Tradisi Momalaeka di Desa Silanga.

Untuk menyesuaikan beberapa masalah di atas penulis menggunakan teori-

teori sosial yang menyangkut sistem religi, melakukan proses pemahaman dan

“menerjemahkan” ke dalam kehidupan sehari-hari menurut kepastiannya masing-

masing, sebagai representasi dari keyakinan mendalamnya terhadap Alquran.34

Untuk merincikan kerangka berpikir yang penulis gunakan dalam

penelitian ini, penulis akan menjelaskan keterkaitan antar poin pemikiran yang

kemudian akan di gambarkan dalam sebuah tabel.

Penelitian ini adalah kajian Living Qur’an dengan pendekatan Sosiologi

yang memuat tentang dua poin utama yaitu Penggunaan surah Al-Fatihah dalam

Tradisi Momalaeka di Desa Silanga dan Resepsi Masyarakat dalam penggunaan

surah Al-Fatihah dalam Tradisi Momalaeka di Desa Silanga. Metode pengumpulan

data yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui observasi, wawancara dan

dokumentasi yang diharapkan mampu menghasilkan kesimpulan dari poin utama

yang telah penulis sebutkan sebelumnya.

34
M. Mansy (Bakker dan Zubair) (Arikunto dan Suharni) (Suwartono) (S. Hadi)
(Narbuko dan Achmadi) (Sugiyono) (Moleong) (Herdiansyah) (Afifuddin dan Saebeni)ur, Metode
Penelitian Living Quran dan Hadist, (Yogyakarta:TH-Press, 2007), 37.

17
Kajian Penggunaan Surah
Tradisi Momalaeka
Living Qur’an Al-Fatihah

Pandangan

Al-Qur’an dan Sunnah

Sosiologi

Observasi Wawancara Dokumentasi

1. Penggunaan Surah Al-Fatihah dalam Tradisi


Momalaeka di Desa Silanga
2. Resepsi masyarakat terhadap penggunaan surah

Al-Fatihah dalam Tradisi Momalaeka di Desa

Silanga

18
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif. Ciri dari hasil

penelitian kualitatif berbentuk bukti emic yakni mendiskripsikan dalam wujud

penjelasan berdasarkan bahasa dan sistem pemahaman pelaku penelitian. 35 Data

dideskripsikan dalam bentuk aslinya, berdasarkan pemahaman dari pelaku

penelitian dan tidak ada tambahan penafsiran dari peneliti.

Penulis menggunakan teori sosiologi dari Karl Mannheim dalam penelitian

ini. Penulis berpendapat bahwa teori tersebut dapat digunakan dan diterapkan

dalam praktik manaqib Tradisi Momalaeka di Desa Silanga. Teori ini mencari

tahu bagaimana ilmu pengetahuan dan masyarakat berinteraksi.

Penulis menggunakan teori ini untuk memahami tindakan sosial.

Karl Mannheim menunjukkan bahwa ada dua dimensi yang membentuk tindakan

manusia, yaitu perilaku (behaviour) dan makna (meaning). 36Oleh karena itu, untuk

memahami tindakan sosial, kita harus mempelajari perilaku dan makna individu

masing-masing. Dalam hal ini, Karl Mannheim membagi tindakan sosial menjadi

tiga makna: 1) Makna obyektif, yang merupakan makna yang berlaku secara

umum dan diketahui secara umum di mana kegiatan tersebut terjadi. 2)

Makna ekspresif adalah makna yang ditunjukkan oleh perilaku pelaku secara

pribadi. 3) Makna dokumenter adalah makna yang tersembunyi atau tersirat,

misalnya, pelaku tidak menyadari bahwa tindakannya tersebut merupakan kegiatan

biasa dalam manaqib.

35
Sahiron Syamsuddin, Metode Penelitian Living Quran dan Hadis (Yogyakarta: TH
Press dan Penerbit Teras), 71-72.
36
Muhyar Fanani, Metodologi Studi Islam : Aplikasi Sosiologi Pengetahuan Sebagai
Cara Pandang (Jakarta: Pustaka Pelajar, 2010), 37.

19
B. Lokasi Penelitian

Adapun lokasi penelitian untuk membatasi lingkup tempat yang akan

diteliti yaitu, sebatas wilayah Desa Silanga Kecamatan Siniu Kabupaten Parigi

Moutong yang merupakan wilayah yang akan penulis teliti. Pada penelitian ini

penulis akan meneliti langsung di lokasi terkait dengan Penggunaan Surah Al-

Fatihah dalam Tradisi Momalaeka di Desa Silanga.

C. Kehadiran Peneliti

Karena penelitian ini bersifat kualitatif, maka kehadiran peneliti di lokasi

penelitian desa Silanga mutlak ada sebagai instrumen. Peran penelitian di lapangan

sebagai partisipan penuh dan aktif karena penelitian yang langsung mengamati dan

mewancarai serta mencari informasi melalui narasumber.

D. Data dan Sumber Data

Yang dimaksud sumber dengan sumber data dalam penelitian adalah

subyek dari mana data dapat diperoleh.37 Berdasarkan sumbernya, data dibedakan

menjadi dua, yaitu data primer dan data sekunder.

1. Sumber Data Primer

Data primer adalah data yang dibuat oleh peneliti dengan maksud khusus

untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang ditanganinya. Data yang

diperoleh langsung di lapangan berupa hasil wawancara melalui narasumber atau

informan yang dipilih. Adapun yang menjadi sumber data primer dalam penelitian

ini adalah tokoh agama, tokoh adat, dan para masyarakat di Desa Silanga.

2. Sumber Data Sekunder

37
Arikunto dan Suharni, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Prkatik (Jakarta:PT.
Rineka Cipta,2014), 172.

20
Data sekunder adalah data yang didapat dari sumber bacaan dan berbagai

macam sumber lainnya yang terdiri dari buku – buku terkait, artikel, jurnal,

skripsi, tesis, atau disertasi yang berhubungan dengan fokus pembahasan dalam

penelitian ini.

E. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data adalah berbagai cara yang digunakan untuk

mengumpulkan data, menghimpun, mengambil atau menjaring data penelitian. 38

Untuk mengetahui data-data lapangan, maka digunakanlah beberapa teknik

pengumpulan data, yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi.

1. Observasi

Metode observasi bisa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan

dengan sistematik terhadp fenomena yang diselidiki. 39 Observasi dapat di lakukan

terhadap partisipan ataupun nonpartisipan. Dalam observasi partisipan

(participatory observation) pengamat akan ikut serta dalam kegiatan yang

berlangsung. Dalam hal ini target observasi peneliti adalah proses pelaksanaan

tradisi Momalaeka. Dalam observasi nonpartisipan (nonparticipatory observation)

pengamat tidak ikut serta dalam kegiatan, pengamat hanya berperan mengamati

kegiatan, tidak ikut dalam kegiatan.40

2. Wawancara

Wawancara merupakan proses tanya jawab dalam penelitian yang

berlangsung secara lisan dan bertatap muka.41 Metode wawancara adalah suatu

38
Suwartono, Dasar-dasar Metodologi Penelitian, (Yogyakarta:Andi, 2014), 41.
39
Sutrisno Hadi, Metodologi Reseach, (Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas
Psikologi UGM Yogyakarta,2002), 136.
40
Sudaryono, Metodologi penelitian (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada) 216.
41
Cholid Narbuko dan Abu Achmadi, Metodologi Penelitian (Jakarta: PT. Bumi Aksara,
2007) 83.

21
teknik untuk memperoleh keterangan dan data dengan cara mengajukan

pertanyaan secara lisan dan bertatap muka antara peneliti dengan informan yang

berhubungan dengan rumusan masalah penelitian.

Dalam proses ini, peneliti akan mewawancarai proses pelaksanaan Tradisi

Momaleka secara menyeluruh, mulai dari persiapan yang di butuhkan, syarat

pelaksanaan, hingga pada implikasinya terhadap masyarakat sebagai pelaku utama.

wawancara dilakukan dengan obrolan santai dan tidak terstruktur (terbuka dan

bicara apa saja) dalam garis besar yang terstruktur (mengarah kepada hal untuk

menjawab permasalahan penelitian).42 Wawancara dilakukan kepada subjek yang

terkait dengan penelitian yaitu, tokoh agama, tokoh adat, dan masyarakat yang

terlibat dalam pelaksanaan Tradisi Momalaeka di Desa Silanga.

3. Dokumentasi

Dokumen merupakan cerita kejadian yang telah berlalu. Dokumen dapat

berwujud tulisan, gambar, atau karya-karya bersejarah dari seseorang.

Dokumentasi dijadikan penyempurna dari pemakaiaan teknik observasi dan

wawancara dalam penelitian kualitatif.43 Pada penelitian ini, peneliti akan

menggunakan dokumentasi berupa foto-foto sebagai bukti bahwa lokasi penelitian

benar dilakukan di Desa Silanga.

F. Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini, untuk menganalisis data peneliti menggunakan

beberapa tahapan teknik analisis data dimulai dari pengumpulan data yang di gali

melalui wawancara dengan tokoh agama, tokoh adat dan masyarakat yang terlibat

42
Afriadi Putra dan Muhammad Yasir “’Kajian Living Qur’an di Indonesia (Dari Studi
Teks ke Living Qur’an)”, Majalah Ilmu Pengetauan dan Pemikiran Keagamaan TAJDID 21, no.2
(2018), 18.
43
Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: CV. Alfabeta, 2015), 114.

22
langsung dalam Tradisi Momalaeka di Desa Silanga. Dalam hal ini penulis

menggunakan tahapan sebagai berikut :

1. Reduksi Data

Reduksi data berarti merangkum, memilih hal–hal yang pokok,

memfokuskan pada hal – hal yang penting, mencari tema dan polanya serta

membuang yang tidak perlu.44 Gagasan reduksi data yang diterapkan pada hasil

observasi, wawancara dan dokumentasi dengan mereduksi kata-kata yang

dianggap penulis tidak signifikasi bagi penelitian tentang penggunaan surah Al-

Fatihah dalam Tradisi Momalaeka di Desa Silanga.

2. Penyajian Data

Tahap ini dilakukan setelah reduksi data. Peneliti mengklasifikasikan data

yang sudah diseleksi tadi, lalu data disajikan secara sederhana supaya lebih mudah

dipahami. Data yang disajikan tersebut berupa rangkuman yang penting terkait

data penelitian.

3. Verifikasi Data

Hal ini berdasarkan data yang telah diklasifikasikan. Lalu peneliti

mengambil kesimpulan dan verifikasi. Tentunya dari masalah penelitian yaitu

mengungkap fenomena penggunaan surah Al-Fatihah dalam tradisi momaleka di

Desa Silanga. Teknik verifikasi dalam penelitian ini dilakukan dengan tiga cara

yaitu:

a. Deduktif, yaitu suatu cara yang ditempuh dalam menganalisi data dengan

berkat dari pengetahuan yang bersifat umum pada tradisi momalaeka di desa

Silanga, kemudian digenerasikan menjadi yang bersifat khusus

44
Haris Herdiansyah, Metodologi Penelitian Kualitatif (Jakarta: Salemba Humanika,
2010), 9.

23
b. Induktif, yaitu suatu cara yang ditempuh dalam menganalisa data dengan

berangkat dari pengetahuan yang bersifat khusus, kemudian digenerasikan

menjadi yang bersifat umum yang terjadi pada tradisi momaleka di desa

Silanga.

c. Komperasi, yaitu membandingkan beberapa data yang didapat dari tradisi

momaleka di desa Silanga untuk mendapatkan kesimpulan tentang persamaan

dan perbedaannya.

G. Teknik Pengesahan Data

Penulis dalam pengamatan ini memakai metode triangulasi. Metode

triangulasi yaitu cara pengujian keabsahan data yang menggunakan materi lain di

luar data dari tradisi momaleka di desa Silanga sebagai keperluan verifikasi serta

sebagai pembeda dari data tersebut.

Pendapat Patton, terdapat empat jenis triangulasi:

1. Triangulasi Data

Penggunaan beragam sumber data, seperti dokumen, arsip, hasil

wawancara, hasil observasi pada tradisi momaleka atau dengan melakukan tanya

jawab sejumlah subjek yang dipandang mempunyai sudut pandang yang berlainan

di desa Silanga.

2. Triangulasi Pengamat

Terdapat pemantau di luar peneliti yang turut memverifikasi hasil

penghimpunan data tentang tradisi momalaeka. Dari pengamatan tersebut, seperti

pembimbing berlaku sebagai pemantau yang memberikan bimbingan tentang hasil

penghimpunan data.

3. Triangulasi Teori

24
Pemakaian beragam teori yang berberda untuk menetapkan jika data dari

tradisi momalaeka di desa Silanga yang dihimpun telah memenuhi syarat. Pada

pengamatan tersebut, beragam metode sudah dipaparkan di bab II supaya dipakai

untuk menguji terhimpunnya data tersebut.

4. Triangulasi Metode

Pemakaian beragam metode berguna mengamati sesuatu, misalnya teknik

wawancara dan teknik observasi.45 Pada pengamatan tradisi momaleka di desa

Silanga, pengamat melaksanakan teknik wawancara yang didukung melalui teknik

observasi disaat wawancara berlangsung.

Penelitian ini menggunakan triangluasi data karena peneliti

membandingkan berbagai data hasil wawancara dengan pengamatan penelitian

secara langsung.

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Idrus. Tafsir Surat Al-Fatihah. Abdul Manaf dan Dhia [Link].,
Jakarta: Amzah, 2015.

Afifuddin dan Ahmad Saebeni. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: CV.


Pustaka Setia, 2012.

Ahimsa-Putra, Heddy Shri. “The Living Qur'an: Beberapa Perspektif


Antropologi.” Walisongo 20.1 (2012).

Ali, Muhammad. “Kajian Naskah dan Kajian Living Qur'an dan Living Hadits.”
Journal Of Qur'an and Hadist Studies 4.2 (2015):

Andy, Safria. “Hakekat Tafsir Surat Al-Fatihah (Pemahaman Hakikat ibadah


Kepada Allah SWT dalam Persoalan Kehidupan.” At-Tibyan 4.1 (2019):
80. Jurnal. 30 Oktober 2023.
<[Link]

45
Afifuddin dan Beni Ahmad Saebeni, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: CV.
Pustaka Setia, 2012), 143.

25
Arikunto dan Suharni. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
PT. Rineka Cipta, 2014.

Bakker, Anton dan Ahmad Charis Zubair. Metodologi Penelitian Filsafat.


Yogyakarta: Kanisius, 1999.

Chirzin, Muhammad. "Mengungkap Pengalaman Muslim Berinteraksi dengan Al-


QUr'an" dalam Syahiron Samsuddin, ed., Metode Penelitian Living
Qur'an. Yogyakarta: TH. Press, 2007.

Dawing, Darlis. “Living Qur'an di Tanah Kaili (Analisis Interaksi Suku Kaili
Terhadap Al-Qur'an dalam Tradisi Balia di Kota Palu, Sulawesi Tengah).”
Nun: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Tafsir Nusantara 3, no.1 (2017)

Feelsafat. Fenomenologi : Pengertian, Paradigma, dan Filsafat. [Link]. 2023


Agustus 29. <[Link]
[Link].>.

Hadi, Sutrisno. Metodologi Research. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas


Psikologi UGM Yogyakarta, 2002.

Hadi, Warsito. “Menimbang Paradigma Hermeneutika dalam Menafsirkan Al-


Qur'an.” EL-BANAT 6. no. 1 (2016).

Herdiansyah, Haris. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Salemba


Humanika, 2010.

Junaedi, Didi. “Living Qur'an: Sebuah Pendekatan Baru dalam Kajian Al-Qur'an
(Studi Kasus di Pondok Pesantren as-Siraj al-Hasan Desa Kalimukti Kec.
Pabedilan Kab. Cirebon.” Jurnal Of Qur'an and Hadith Studies 4. no.2
(2015).

Mansyur, M. Living Quran dalam Lintasan Sejarah Studi Quran. Yogyakarta:


Teras, 2007.

Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja


Rosdakarya, 2005.

Muhsin. “Penggunaan Surah Al-Fatihah Terhadap Pengobatan Alternatif (Kajian


Living Qur'an: Studi Kasus Pengobatan Para Ustadz di Kota Palu.” Al-
Munir 2, no. 1 (2020):

Muhtador, Moh. “Pemaknaan Ayat Al-Qur'an dalam Mujahadah: Studi Living


Qur'an di PP Al-Munawir Krapyak Komplek Al-Kandiyas.” Jurnal
Penelitian [Link].1 (2014).

Mustaqim, Abdul. Metode Penelitian Al-Qur'an dan Tafsir. Yogyakarta: Idea


Press Yogyakarta, 2015.

—. Metode Penelitian Living Qur'an Model Kualitatif dalam Syahiron


Samsuddinn, ed., Metodologi Penelitian Living Qur'an. Yogyakarta: TH.
Press, 2007.

26
Narbuko, Cholid dan Abu Achmadi. Metodologi Penelitian. Jakarta: PT. Bumi
Aksara, 2007.

Nasution, Ahmad Yani. “Hukum Hadiah Al-Fatihah Kepada Mayit Perspektif


Fiqh Muqaran.” Jurnal Madani: Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan
Humaniora 1, no.2 (2018):

Putra, Afriandi dan Muhammad Yasir. “Kajian Living Qur'an di Indonesia (Dari
Studi Teks ke Living Qur'an).” Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran
Keagamaan TAJDID 21.2 (2018).

Samsuddin, Syahiron. Metodologi Penelitian Living Qur'an dan Hadits.


Yogyakarta: TERAS, 2007.

Sari, Febri Nur Intan. Pemaknaan Surah Al-Fatihah Sebagai Tanda Syukur dalam
Tradisi Ngalungi di Dusun Sendang Kabupaten Rembang (Study Living
Qur'an). Fakultas Ushuluddin, Iain Kudus, [Link].

Sugiyono. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: CV. Alfabeta, 2015.

Suwartono. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Andi, 2014.

Sztompka, Piotr. Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta: Prenada Media Grup, 2007.

Tantawi, Muhamad Sayyid. At-Tafsir Al-Wasil Lilquranilkarim. Kairo: Dar Al-


Sa'dah, 2007.

Umam, Moh. Nasikhul. “Tradisi Pembacaan Surah Yasin Fadhilah (Studi Liivng
Qur'an di Dukuh Modal Desa Pamotan Kecamatan Pamotan Kabupaten
Rembang) Tesis tidak diterbitkan.” (2019).

27

Anda mungkin juga menyukai