Pengobatan Hipoglikemia dan Hipokalemia
Pengobatan Hipoglikemia dan Hipokalemia
BANGSAL INTERNE
PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER (PKPA)
DI RUMAH SAKIT OTAK DR. Drs. M. Hatta Bukittinggi
“HIPOGLIKEMIA + HIPOKALEMIA”
Preseptor :
dr. Fifi Riassukma, [Link]
apt. Khairil Armal, [Link], SpFRS
DISUSUN OLEH :
Allah SWT yang telah memberikan karunia dan limpahan rahmat-Nya, salawat
serta salam penulis sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW. Berkat karunia dan
izin Allah SWT, penulis dapat menyelesaikan Case Study di Rumah Sakit Otak DR.
Drs. M. Hatta Bukittinngi. Kegiatan PKPA ini dilaksanakan dari tanggal 5 Februari
– 29 Maret 2024. Case Study ini ditujukan sebagai salah satu syarat untuk
Perintis Indonesia, Padang. Case Study ini dapat selesai dengan baik tidak terlepas
dari do’a, dorongan dan semangat yang diberikan olehorang tua dan keluarga, serta
seluruh teman dan orang-orang terdekat. Oleh karena itu, pada kesempatan ini
1. Ibu Dr. apt. Eka Fitrianda, [Link]., selaku Dekan Fakultas Farmasi
2. Ibu apt. Okta Fera, [Link], M. Farm, selaku Ketua Program Studi Pendidikan
3. Bapak apt. Khairil Armal, Sp. FRS selaku pembimbing eksternal di Fakultas
4. Ibu Dr. apt. Suhatri, M.S., dan Ibu apt. Mimi Aria, [Link]., selaku
Rumah Sakit
ii
5. Bapak dan Ibu dosen Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker Fakultas
6. Seluruh staff Rumah Sakit Otak DR. Drs. M. Hatta Bukittinggi atas segala
9. Semua Pihak yang telah membantu sehingga laporan Praktek Kerja Profesi
Apoteker terselesaikan.
bantuan, doa dan motivasi yang diberikan dari semua pihak yang telah membantu
selama PKPA Rumah Sakit Otak DR. Drs. M. Hatta Bukittinngi. Semoga Allah
SWT selalu menyertai rahmat dan ridho-Nya setiap semua pihak yang telah
membantu. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan case report ini masih jauh
dari kata sempurna dan masih banyak terdapat kekurangan, oleh karena itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan dimasa yang
akan datang. Semoga Case Study ini dapat memberikan banyak manfaat untuk
Penulis
iii
DAFTAR ISI
iv
3.5 Tatalaksana/Terapi Pengobatan .................................................... 20
3.6 Lembar Penggunaan Obat………………………………………..21
3.7 Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi................................. 22
3.8 Monitoring Efek Terapi .................................................................. 38
3.9 Monitoring Efek Samping Obat..................................................... 39
BAB IV PEMBAHASAN .......................................................................... 41
BAB V PENUTUP ..................................................................................... 43
5.1 Kesimpulan....................................................................................... 43
5.2 Saran ................................................................................................. 43
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 44
v
BAB 1
PENDAHULUAN
1
1.2 Rumusan Masalah
Diharapkan laporan ini dapat dijadikan salah satu sumber informasi dalam
rangka menunjang pengobatan Hipoglikemia dan Hipokalemia
1.4 Tujuan
2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Hipoglikemi
2.1.1 Definisi Hipoglikemia
2. Defisisensi hormon
6. Interaksi obat
7. Penyakit infeksi
9. Stres
3
2.1.2 Klasifikasi Hipoglikemi
dengan kadar gula darah < 70 mg/dl yang disertai dengan tanda dan
gejala serta keluhan hipoglikemi yang dialami > 4 jam setelah makan.
yaitu:
a. Hipoglikemi berat apabila kadar gula darah atau GDS sangat rendah
mg/dl yang disertai dengan tanda dan gejala serta keluhan hipoglikemi,
4
tanpa disertai penurunan kesadaran dan penderita masih bisa menolong
dirinya sendiri.
d. Hipoglikemi relatif, yaitu kadar gula darah sewaktu (GDS) >70 mg/dl
dapat dilihat dari tanda dan gejala klinis, kadar glukosa darah, dan kemampuan
2. Level 2 : Kondisi klinis lebih serius dari level 1, dengan kadar glukosa darah ≤
segala konsekuensinya.
hipoglikemi dapat terjadi dari ringan hingga berat. Gejala ringan dan tidak khas seperti
5
Gejala berat dapat terjadi kejang, penurunan kesadaran hingga kematian. Berat
dan ringannya gejala yang muncul dapat dilihat dari kondisi, penyakit yang
menyertai dan lamanya hipoglikemi terjadi (Andi Makbul Aman Mansyur., 2018).
karena pada saat terjadi hipoglikemi maka akan mengaktivasi sistem saram
otonom yang akan merangsang sistem saraf simpato-adrenal. Gejala ini akan
muncul apabila gula darah mencapai 60 mg/dL. Gejala neurogenik terdiri dari
cemas dan tremor. Gejala kolinergik: pucat, keringat berlebih, parastesi, tubuh
2. Gejala neuroglikopenik terjadi supali glukosa untuk otak berkurang, dan hal
ini terjadi apabila gula darah mencapai 50 mg/dL. Gejala yang muncul terdiri
dari: pusing, sakit kepala, lemas, bingung, penurunan fungsi kognitif, kejang
Tanda Gejala
pulse pressure).
6
Neuroglikopenik Lemah, lesu, rasa ingin Hipotermi, kejang hingga
kabur
bahan pembentuk glukosa, penyakit hati atau ketidak seimbangan hormonal. Pada
Kombinasi dari ketiadaan glukosa dan respon epinefrin yang lemah dapat
hipoglikemi adalah sebuah tanda dari lemahnya respon saraf otonom yang dapat
7
2.1.5 Penatalaksanaan Hipolikemia
a. Stadium permulaan (sadar)
muri (bukan pemanis pengganti gula atau gula diet/gula diabetes) dan
5) Cari penyebab
hipoglikemia) :
glukometer:
8
- Bila GDs > 100 mg/dL scanyak 3 kali berturut-turut,
dengan Dekstrosa 5 % atau NaCI 0,9 % Bila GDs > 100 mg/dL
9
2.1.6 Algoritma Hipoglikemia
10
2.2 Hipokalemia
2.2.1 Defenisi
Hipokalemia adalah keadaan konsentrasi kalium darah di bawah 3,5 mEq/L
yang disebabkan oleh berkurangnya jumlah kalium total tubuh atau adanya
gangguan perpindahan ion kalium ke dalam sel (Bartel, et al 2015).
2.2.2 Etiologi
Insulin, aktivitas β2-adrenergik, hormon tiroid, dan alkalosis memicu
pengambilan K+ seluler yang dimediasi oleh Na+/K+ -ATPase, dengan jalur
berbeda-beda. Stimulasi β2-Adrenergik memicu aktivitas pompa Na-KATPase
melalui jalur independen cAMP- dan protein kinase A (PKA), sedangkan insulin
yang berikatan dengan reseptornya memicu fosforilasi protein substrat reseptor
insulin (IRS-1) yang kemudian akan berikatan dengan phosphatidylinositide3-
kinase (PI3-K). Interaksi IRS-1-PI3-K memicu aktivasi 3-phosphoinositide-
dependent protein kinase-1 (PDK1). PDK-1 akan menstimulasi jalur dependen Akt
yang bertanggung jawab untuk penambahan membran pengangkut glukosa
GLUT4, sedangkan aktivasi protein atipikal kinase C (aPKC) menstimulasi
penyisipan pompa Na-K-ATPase (Palmer, 2015).
3. Hipokalemia berat: kadar serum < 2,5 mEq/L. Hipokalemia <2,5 mEq/L
biasanya sudah disertai kelainan jantung dan mengancam jiwa (Persons et al
2012).
11
b. Tanda dan Gejala berdasarkan Derajat hypokalemia (Kardalas etal, 2018)
Gambar 1. Tanda dan Gejala hipokalemia
2.2.3 Patofisiologi
Pada kondisi normal keseimbangan ion intra selular dan ekstraselular yang
mengatur voltase potensial istirahat sel (-90 mV) diatur oleh ion Na+ dan K+ tubuh.
Tetapi pada HKPP, dimana kadar kalium ekstraselular yang lebih rendah
mengakibatkan keseimbangan potensial kalium berubah lebih negative sehingga
sehingga Na+ lebih banyak masuk ke intraselular dan kalium terlambat dan lebih
sedikit yang keluar ke ekstra selular. Hal ini mengakibatkan potensial istirahat sel
berada pada voltase -50 mv dan menyebabkan gangguan elektrik dan otot tidak
dapat dieksitasi (Papadakis MA et al, 2017).
12
al,2012).
Cara menghitung jumlah KCl yang akan diberikan secara IV. Defisit kalium
dalam mmol dihitung sebagai berikut:
Rumus koreksi KCl i.v pada anak dengan kalium < 2,5 mEq/L ada 2 cara
yaitu:
14
2. Pertimbangan Sediaan Kalium
a. KCl biasanya digunakan untuk menggantikan defisiensi K+ pada kondisi
metabolik alkalosis dan deplesi Cl-, terutama pada pasien muntah dan
pengobatan diuretik.
b. Pada kondisi metabolik asidosis (contohnya pada diare kronik) lebih
diutamakan kalium yang dikombinasikan dengan garam lain, yaitu
potasium bikarbonat atau ekuivalen bikarbonat lainnya (sitrat, asetat, atau
glukonat) untuk mengatasi kondisi asidosis.
c. Hipokalemia pada penyalahgunaan alkohol atau ketoasidosis diabetes
umumnya disertai defisiensi fosfat sehingga diutamakan menggunakan
potasium fosfat.
d. Diet Kalium
Diet orang dewasa mengandung kalium rata-rata 50-100 mEq/hari (contoh
makanan tinggi kalium termasuk kismis, pisang, aprikot, jeruk, advokat, kacang-
kacangan dan kentang
TINJAUAN KASUS
3.2 Anamnesa
17
3.2.5 Riwayat Alergi
Menurut hasil wawancara yang telah kami lakukan pasien tidak memiliki
riwayat alergi.
18
3.3.2 Pemeriksaan Penunjang
• Data Labor IGD Tanggal 03-03-2024
19
3.4 Diagnosa
Primer : Hipoglikemia
Sekunder : Hipokalemia
3.5 Tatalaksana/Terapi Pengobatan
• IGD
- IVFD NaCl 0,9% +KCL 2 Flc 1x pemberian dilanjutkan di 5% (IV)
- O2 3 lpm (NC)
- Inj. Ranitidin 2 x 1 50 mg (IV)
- D40 3 fkc (IV)
- Inj. Ceftriaxone 1 x 1 2 gram (IV)
- Beneuron 1 x 1 (PO)
- KSR 3 x 1 600 mg (PO)
• Rawat Inap
20
3.6 Lembar Penggunaan Obat
21
3.7 Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi
22
O Pemerikaan Fisik :
TD : 130/70 mmHg
Berat Badan : 50 kg
Tinggi Badan : 155 cm
Nadi : 94 x/menit
Saturasi Oksigen : 98 SPo2
Kesadaran : KOMPOSMENTIS
Frekuensi Nafas : 18 x/menit
Suhu : 37 °C
Skala Nyeri : -
GCS : E :4 M : 6 V :5
A Hypoglikemia + hipokalemia
P - D40 % 2 fls
- Infus D 10 % per 8 jam, cek GD per 4 jam
04 Maret S Pasien tampak mengantuk dan letih, menelan (+), sakit kepala (-), N/M baik. RPD: hipertensi (+), DM T2
2024 (+).
07:24:54 O Pemerikaan Fisik :
(Perawat) TD : 154/71 mmHg
Berat Badan : 50 kg
Tinggi Badan : 155 cm
Nadi : 94 x/menit
Saturasi Oksigen : 98 SPo2
Kesadaran : KOMPOSMENTIS
Frekuensi Nafas : 18 x/menit
Suhu : 37 °C
Skala Nyeri : -
GCS : E :4 M : 6 V :5
A Ketidak seimbangan kadar glukosa darah resiko ketidak seimbangan cairan dan elektrolit
23
P Kadar gula darah dalam batas normal dengan manajemen hipoglikemia. Keseimbangan cairan meningkat
dengan pemantauan elektrolit
04 Maret S Pasien tampak mengantuk dan letih, menelan (+), sakit kepala (-), N/M baik. RPD: hipertensi (+), DM T2
2024 (+).
08:39:52 O Pemerikaan Fisik :
(Dokter TD : 130/80 mmHg
DPJP) Berat Badan : 50 kg
Tinggi Badan : 155 cm
Nadi : 78 x/menit
Saturasi Oksigen : 98 SPo2
Kesadaran : KOMPOSMENTIS
Frekuensi Nafas : 20 x/menit
Suhu : 36,6 °C
GCS : E :4 M : 6 V :5
A Hypoglikemia + hipokalemia
P Cek elektrolit post koreksi NaCl 0,9 500 ml/12 jam GDN
05 Maret S Pasien tampak mengantuk dan letih, menelan (+), sakit kepala (-), N/M baik. RPD: hipertensi (+), DM T2
2024 (+).
11:22:39 O Pemerikaan Fisik :
(Perawat) TD : 130/80
Berat Badan : 50 kg
Tinggi Badan : 155 cm
Nadi : 78 x/menit
Saturasi Oksigen : 98 SPo2
Kesadaran : KOMPOSMENTIS
Frekuensi Nafas : 18 x/menit
24
Suhu : 36,2 °C
GCS : E :4 M : 6 V :5
A Ketidak seimbangan kadar glukosa darah resiko ketidak seimbangan cairan dan elektrolit
P Kadar gula darah dalam batas normal dengan manajemen hipoglikemia. Keseimbangan cairan meningkat
dengan pemantauan elektrolit
06 Maret S Badan letih, menelan (+), sakit kepala (-), N/M baik. RPD: hipertensi (+), DM T2 (+).
2024
10:58:22
(Dokter
O Pemerikaan Fisik :
Ruangan)
TD : 130/80 mmHg
Berat Badan : 50 kg
Tinggi Badan : 155 cm
Nadi : 78 x/menit
Saturasi Oksigen : 98 SPo2
Kesadaran : KOMPOSMENTIS
Frekuensi Nafas : 18 x/menit
Suhu : 36,2 °C
GCS : E :4 M : 6 V :5
A Hipokalemia
25
P Terapi lanjut
07 Maret S Badan letih, menelan (+), sakit kepala (-), N/M baik. RPD: hipertensi (+), DM T2 (+).
2024
08:18:53
(Dokter
O Pemerikaan Fisik :
DPJP)
TD : 140/80 mmHg
Berat Badan : 50 kg
Tinggi Badan : 155 cm
Nadi : 78 x/menit
Saturasi Oksigen : 98 SPo2
Kesadaran : KOMPOSMENTIS
Frekuensi Nafas : 20 x/menit
Suhu : 36,6 °C
GCS : E :4 M : 6 V :5
A Hipokalemia + Hipoglikemia
07 Maret S Badan letih, menelan (+), sakit kepala (-), N/M baik. RPD: hipertensi (+), DM T2 (+).
2024
10:35:07
26
(Perawat) O Pemerikaan Fisik :
TD : 140/90 mmHg
Berat Badan : 50 kg
Tinggi Badan : 155 cm
Nadi : 71 x/menit
Saturasi Oksigen : 98 SPo2
Kesadaran : KOMPOSMENTIS
Frekuensi Nafas : 18 x/menit
Suhu : 36,6 °C
GCS : E :4 M : 6 V :5
A Ketidak seimbangan kadar glukosa darah resiko ketidak seimbangan cairan dan elektrolit
P Kadar gula darah dalam batas normal dengan manajemen hipoglikemia. Keseimbangan cairan meningkat
dengan pemantauan elektrolit.
08-03-2024 S Badan letih (+), menelan (+), sakit kepala (-) N/M [Link]: hipertensi (+), DM T2 (+).
12:07:16
(Perawat)
O Pemerikaan Fisik :
TD : 150/90 mmHg
Berat Badan : 50 kg
Tinggi Badan : 155 cm
Nadi : 78 x/menit
Saturasi Oksigen : 98 SPo2
Kesadaran : KOMPOSMENTIS
Frekuensi Nafas : 20 x/menit
Suhu : 36,4 °C
GCS : E :4 M : 6 V :5
27
A Ketidakstabilan kadar glukosa darah
28
3.8 TINJAUAN OBAT
Gambar
Gambar
32
Apakah ada 1. Tidak ada Semua pengobatan yang diberikan diketahui dan
pengobatan yang tidak sesuai dengan kondisi klinis pasien
dikenali?
Adakah ada kondisi 2. Tidak ada Semua kondisi pasien diterapi
klinis yang tidak
diterapi?
2. Pemilihan obat apakah 1. Tidak Terdapat Semua obat efektif untuk penyakit yang didiagnosa
sudah efektif? masalah
33
4. Duplikasi Apakah ada duplikasi Tidak ada Tidak terdapat duplikasi terapi
Terapi terapi? • IVFD NaCl 0,9 % 500mg 24 jam/kolf
(IV) untuk terapi keseimbangan elektrolit
padadehidrasi
• Inj. Ceftriaxone 1 gram 2 x 1 1 vial (IV) membunuh dan
menghambat pertumbuhan bakteri penyebab infeksi
didalam tubuh
• Inj. Ranitidin 50 mg 2 x 1 vial (IV) digunakan untuk
Stres Ulcer
• IVFD Dextrosa 10% dan 40% digunakan dalam
penatalaksanaan kasus hipoglikemia berat.
• KSR 600 mg 3 x 1 1 tab (PO) suplemen kalium yang
bermanfaat untuk mengobati dan mencegah
kekurangan kalium.
• Beneuron 1 tab 1 x 1 (PO) digunakan untuk menutrisi
sel saraf yang disebut sebagai neurotropic, sehingga
vitamin ini dapat melindungi dan menjaga sel saraf
5. Alergi Obat Apakah pasien alergi Tidak ada Pasien tidak ada alergi terhadap obat yang
atau Intoleransi atau intoleran terhadap permasalahan digunakan.
salah satu obat (atau
bahan kimia yang
berhubungan dengan
pengobatannya?
34
6. Efek Samping Apakah pasien Tidak ada masalah Tidak ada terjadinya efek samping obat
Obat mengalami gejala atau
masalah medis yang
diinduksi obat atau
yang berhubungan
dengan obat yang
diberikan ?
7. Interaksi obat Apakah ada interaksi Tidak terdapat Tidak terdapat interaksi obat
obat? interaksi obat
Apakah signifikan
secara klinis ?
Apakah ditemukan Tidak ada interaksi Tidak ada interaksi obat dengan makanan
interaksi obat- obat dengan makanan
makanan?
Apakah signifikan
secaraklinis?
Apakah ada interaksi Tidak ada interaksi Tidak ada interaksi obat dengan hasil laboratorium
obat dengan hasil obat dengan hasil
laboratorium? laboratorium
Apakah signifikan
secaraklinis?
35
3.10 Rencana Asuhan Kefarmasian
Menjaga cairan IVFD NaCl 0,9 Kebutuhan elektrolit terpenuhi, fisik pasien
Kekurangan cairan elektrolit pada tubuh. % 24 Elektrolit dan fisik tidak lemas 1x24 jam
elektrolit tubuh jam/kolf 500 ml
Hipoglikemia Kadar gula darah • IVFD Kadar gula darah Gula darah Kembali normal, yaitu < 200 mg/dL Tiap 6 jam
kembali normal (random)
dextrose
10%
• IVFD
dextrose 40%
Terapi penunjang Sebagai vitamin Beneuron 1 x 1 Kelemahan otot Pasien tidak mengalami kelemahan otot Setiap hari
kekakuan otot neurotropik tab (PO)
36
Untuk menangani Inj. Ceftriaxone 1 x 2
Infeksi Bakteri infeksi bakteri gram 1 amp (IV) Leukosit Nilai leukosit normal 3,50- 9,50 Setiap hari
rbu/ul
Nyeri lambung Prevensi stress ulcer Inj. ranitidin Mual muntah dan Mual, muntah dan nyeri lambung Setiap hari
nyeri lambung berkurang
Hipokalemia Kadar kalium KSR 3 x 600 mg Kadar kalium Kadar kalium Kembali normal, Tiap 24 jam
kembali normal yaitu 3,5-5,1 mmol/L
37
3.8 Monitoring Efek Terapi
Untuk Inj. Leukosit Nilai Setiap 24 Nilai Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
menangani Ceftriaxone 1 leukosit jam leukosit pemeriksa pemeriksa pemeriksa pemeriksa pemeriksa
infeksi bakteri x 2 gram (IV) normal 3,50- 4.35 rbu/ul an an an an an
9,50 rbu/ul
Prevensi stress Inj. Ranitidine Nyeri Mual, Setiap 12 Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
ulcer 2 x 50 mg (IV) lambung muntah dan jam pemeriksa pemeriksa pemeriksa pemeriksa pemeriksa pemeriksa
nyeri an an an an an an
lambung
berkurang
Untuk KSR 3 x 600 Kadar Kadar Setiap 8 Kadar Tidak ada Tidak ada Kadar Tidak ada Tidak ada
meningkatkan mg (PO) kalium kalium jam kalium pemeriksa pemeriksa kalium pemeriksa pemeriksa
kadar kalium meningkat rendah (+) an lab an lab normal (+) an lab an lab
2.7 4.2
mmol/L mmol/L
38
sebagai Beneuron Gerakan Memperbaiki Setiap 24 Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
neurotropic tubuh fungsi otot jam pemeriksa pemeriksa pemeriksa pemeriksa pemeriksa pemeriksa
1 x 1 tab pasien dan saraf an an an an an an
39
6. Beneuron 3 Maret 2024 Hipersensitivitas (gatal-gatal, terbentuk 1 x 1 tab Setiap 24 jam Pasien tidak
(vitamin B1, ruam). PO
B6 dan B12) mengalami efek
samping obat
40
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Pembahasan
41
Terapi yang didapatkan di IGD adalah infus IVFD NaCl 0,9 % 12 jam/kolf
500 ml + KCl 2 flc dilanjutkan D5%, O2 3 lpm sebagai untuk memperbaiki atau
tindakan mencegah terjadinya infeksi bakteri. Inj. Ranitidin adalah obat yang
digunakan untuk mengobati gejala atau penyakit yang berkaitan dengan produksi
asam lambung berlebih. Pemberian ranitidine diberikan 2 x 50mg secara IV. D10%
digunakan untuk meningkatkan kadar glukosa darah yang diberikan secara IV, lalu
pasien diberikan KSR 3 x 600 mg 1 tab secara oral untuk meningkatkan kadar
kalium, dan diberikan beneuron 1 x 1 tab secara oral dipagi hari berfungsi untuk
mengatasi kondisi tubuh kekurangan vitamin B1, B6 dan B12 guna untuk
bila kadar kalium dalam darah 3,5 mmol/L yang dimana pasien tersebut kadar
42
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan kasus diatas diatas dapat disimpulkan bahwa dari data anamnesa,
hipoglikemia dan hipokalemia dimana terapi dan tindakan yang diberikan kepada
5.2 Saran
Disarankan dianjurkan pada pasien untuk lebih patuh minum obat secara
teratur dan mengkonsumsi makanan yang tinggi kalium seperti pisang, kentang,
43
DAFTAR PUSTAKA
Bartel B., Fluid, G.E. (2015). In: Johnson TJ. Critical carepharmacotherapeutics.
Dipiro, J. T., Dipiro, C.V., Wells, B.G., & Scwinghammer, T.L. [Link]
Youn J.H. (2017). Potassium homeostasis : The knowns, the unknowns, and the
Nephrol,10(6): 1050-60.
Persons, P.E., Wiener-Kronish, J.P. (2012). Critical care secrets. 5th ed.
Jakarta: EGC.
Smeltzer and Bare. (2008). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta :EGC.
Suparto. 2018. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Perhipunan Dokter Spesialis
Widodo D. (2014). Buku ajar ilmu penyakit dalam edisi keenam. Jakarta: Interna
Publishing
44
Sengupta,dkk. Penatalaksanaan Pasien Dengan Perdarahan Gastrointestinal Akut
45