Laporan Kasus Dispepsia dan Pendarahan Uterus
Laporan Kasus Dispepsia dan Pendarahan Uterus
BANGSAL INTERNE
PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER (PKPA)
DI RUMAH SAKIT OTAK DR. Drs. M. Hatta Bukittinggi
‘’Dispepsia + Gastroenteritis + Pendarahan Uterus Abnormal’’
Preseptor:
dr. Fifi Riasukma [Link]
apt. Khairil Armal, [Link], SpFRS
DISUSUN OLEH :
i
6. Ibu Dr. apt. Eka Fitrianda, [Link] selaku Dekan Fakultas Farmasi
Universitas Perintis Indonesia.
7. Ibu apt. Okta Fera, [Link] selaku Ketua Program Studi Profesi Apoteker
Fakultas Farmasi Universitas Perintis Indonesia.
8. Seluruh Tenaga Teknis Kefarmasian dan Karyawan/ti di Rumah Sakit Otak
DR. Drs. M. Hatta Bukittinggi atas segala bantuan, ilmu, dan bimbingannya
selama kegiatan PKPA Rumah Sakit.
9. Rekan-rekan mahasiswa/i Program Studi Profesi Apoteker Angkatan
XXXIII Tahun 2023 Fakultas Farmasi Universitas Perintis Indonesia dan
semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Dalam penulisan tugas khusus ini, penulis menyadari masih banyak terdapat
kekurangan dan kelemahan. Maka dengan segala kerendahan hati,penulis
mengharapkan kritik dan saran dari pembaca agar tugas khusus ini menjadi lebih
baik lagi. Semoga tugas khusus ini dapat bermanfaat.
Penulis
ii
DAFAR ISI
iii
3.2.2 Riwayat Penyakit Sekarang............................................................. 31
3.2.3 Riwayat Penyakit Terdahulu ........................................................... 31
3.2.4 Riwayat Pengobatan ........................................................................ 32
3.2.5 Riwayat Alergi ................................................................................ 32
3.2.6 Riwayat Penyakit Keluarga ............................................................. 32
3.3 Data Penunjang....................................................................................... 32
3.3.1 Data Pemeriksaan Fisik ................................................................... 32
3.3.2 Data Pemeriksaan Penunjang .......................................................... 32
3.4 Diagnosis ................................................................................................ 33
3.5 Penatalaksanaan ...................................................................................... 33
3.5.1 Terapi IGD ...................................................................................... 33
3.5.2 Terapi Rawat Inap ........................................................................... 33
3.5.3 Terapi Obat Pulang ......................................................................... 34
3.6 Daftar Pemberian Obat ........................................................................... 40
3.7 Follow Up Pasien ................................................................................... 35
3.8 Perhitungan Dosis................................................................................... 40
3.9 Drug Related Problem (DRPs) ............................................................... 43
BAB IV PEMBAHASAN.................................................................................... 56
BAB V PENUTUP ............................................................................................... 59
5.1 Kesimpulan ............................................................................................. 59
5.2 Saran ....................................................................................................... 59
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 60
LAMPIRAN ......................................................................................................... 61
iv
DAFTAR GAMBAR
v
DAFTAR TABEL
vi
BAB I
PENDAHULUAN
1
remaja menjadi masa remaja awal yaitu 12-16 tahun dan masa remaja akhir yaitu
17-25 tahun.
1.3 Tujuan
a. Untuk mengidentifikasi kemungkinan terjadinya Drug Related Problems
(DRP) obat-obatan yang diberikan kepada pasien.
b. Untuk mengetahui solusi jika terjadi Drug Related Problems (DRP) obat-
obatan yang diberikan kepada pasien.
2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dispepsia
2.1.1 Pengertian Dispepsia
Dispepsia adalah penyakit yang tidak menular saluran pencernaan namun
banyak terjadi di kalangan masyarakat di dunia. Sindrom Dispepsia berupa
kumpulan gejala atau sindrom rasa dari nyeri atau rasa tidak nyaman di lambung,
mual, muntah, kembung, mudah kenyang, rasa perut penuh, sendawa berulang atau
kronis. Keluhan yang timbul biasanya berbeda pada tiap individu penderita (Mukti
et al., 2021).
3
2.1.2 Etiologi
Dispepsia dapat disebabkan oleh berbagai penyakit baik yang bersifat organik
dan fungsional. Penyakit yang bersifat organik antara lain karena terjadinya
gangguan di saluran cerna atau di sekitar saluran cerna, seperti pankreas, kandung
empedu dan lain-lain. Sedangkan penyakit yang bersifat fungsional dapat dipicu
karena faktor psikologis dan faktor intoleran terhadap obat-obatan dan jenis
makanan tertentu. Adapun faktor-faktor yang menyebabkan dyspepsia, antara lain
(Mukti et al., 2021) :
a. Gangguan pergerakan (motilitas) piloroduodenal dari saluran pencernaan
bagian atas (esofagus, lambung dan usus halus bagian atas).
b. Menelan terlalu banyak udara atau mempunyai kebiasaan makan salah
(mengunyah dengan mulut terbuka atau berbicara).
c. Menelan makanan tanpa dikunyah terlebih dahulu dapat membuat
lambung terasa penuh atau bersendawa terus.
d. Mengkonsumsi makanan/minuman yang bisa memicu timbulnya
dispepsia, seperti minuman beralkohol, bersoda (soft drink), kopi.
Minuman jenis ini dapat mengiritasi dan mengikis permukaan lambung.
e. Obat penghilang nyeri seperti Nonsteroid Anti Inflamatory Drugs
(NSAID) misalnya aspirin, Ibuprofen dan Naproven.
f. Pola makan, pola makan yang tidak teratur ataupun makan yang terburu-
buru dapat menyebabkan terjadinya dyspepsia.
2.1.4 Klasifikasi
Dispepsia diklasifikasikan menjadi dua, yaitu organik (struktural) dan
fungsional (nonorganik) (Purnamasari, 2017) :
a. Dispepsia organik dapat disebabkan, seperti penyakit ulkus peptikum
(Peptic Ulcer Disease/PUD), GERD (Gastro Esophageal Reflux Disease),
kanker, penggunaan alkohol atau obat kronis (Purnamasari, 2017).
b. Non-organik (fungsional) ditandai dengan nyeri atau tidak nyaman perut
bagian atas yang kronis atau berulang, tanpa abnormalitas pada
pemeriksaan fisik dan endoskopi (Purnamasari, 2017).
4
2.1.5 Patofisiologi
Berbagai hipotesis mekanisme telah diajukan untuk menerangkan
patogenesis terjadinya dispepsia fungsional, antara lain: sekresi asam lambung,
dismotilitas gastrointestinal, hipersensitivitas viseral, disfungsi autonom, diet dan
faktor lingkungan, psikologis (Dwigint, 2015) :
a. Sekresi Asam Lambung.
Getah lambung ini mengandung berbagai macam zat. Asam hidroklorida
(HCl) dan pepsinogen merupakan kandungan dalam getah lambung
tersebut. Konsentrasi asam dalam getah lambung sangat pekat sehingga
dapat menyebabkan kerusakan jaringan, tetapi pada orang normal mukosa
lambung tidak mengalami iritasi karena sebagian cairan lambung
mengandung mukus, yang merupakan faktor pelindung lambung.
Kasus dengan dispepsia fungsional diduga adanya peningkatan sensitivitas
mukosa lambung terhadap asam yang menimbulkan rasa tidak enak di
perut. Peningkatan sensitivitas mukosa lambung dapat terjadi akibat pola
makan yang tidak teratur. Pola makan yang tidak teratur akan membuat
lambung sulit untuk beradaptasi dalam pengeluaran sekresi asam lambung.
Jika hal ini berlangsung dalam waktu yang lama, produksi asam lambung
akan berlebihan sehingga dapat mengiritasi dinding mukosa pada
lambung.
b. Dismotilitas Gastrointestinal.
Sebuah studi meta-analisis menyelidiki dispepsia fungsional dan ganguan
pengosongan lambung, ditemukan 40% pasien dengan dispepsia
fungsional memiliki pengosongan lebih lambat 1,5 kali dari pasien normal.
c. Hipersensitivitas Viseral.
Dinding usus mempunyai berbagai reseptor, termasuk reseptor kimiawi,
reseptor mekanik, dan nociceptor.
d. Gangguan Akomodasi Lambung
Dalam keadaan normal, waktu makanan masuk lambung terjadi relaksasi
fundus dan korpus gaster tanpa meningkatkan tekanan dalam lambung.
Akomodasi lambung ini dimediasi oleh serotonin dan nitric oxide melalui
saraf vagus dari sistem saraf enterik.
5
e. Helicobacter pylori
Peran infeksi Helicobacter pylori pada dispepsia fungsional belum
sepenuhnya dimengerti dan diterima. Kekerapan infeksi H. pylori terdapat
sekitar 50% pada dispepsia fungsional dan tidak berbeda pada kelompok
orang sehat.
2.1.6 Diagnosis
Sindrom dispepsia dapat di diagnosis dengan menggunakan kriteria diagnosis
Rome III. Berdasarkan kriteria diagnosis Rome III, sindroma dispepsia di diagnosis
dengan gejala rasa penuh yang mengganggu, cepat kenyang, rasa tidak enak atau
nyeri epigastrium, dan rasa terbakar pada epigastrium. Pada kriteria tersebut juga
dinyatakan bahwa dispepsia ditandai dengan adanya satu atau lebih dari gejala
dispepsia yang diperkirakan berasal dari daerah gastroduodenal (Dwigint, 2015).
Tidak semua pasien dispepsia dilakukan pemeriksaan endoskopi. Banyak
pasien dapat ditatalaksana dan di diagnosis secara klinis dengan baik kecuali bila
ada alarm sign. Jika terdapat alarm symptoms atau alarm sign seperti penurunan
berat badan, timbulnya anemia, muntah yang prominen, maka hal tersebut
merupakan petunjuk awal akan kemungkinan adanya penyebab organik yang
membutuhkan pemeriksaan penunjang diagnostik secara lebih intensif seperti
endoskopi dan sebagainya (Dwigint, 2015).
2.1.7 Penatalaksanaan
a. Terapi Farmakologi
1) Antihiperasiditas
a) Antasida
Golongan antasida ini termasuk yang mudah didapat dan murah.
Antasida akan menetralisir sekresi asam lambung. Antasida
biasanya mengandung zat yang tidak larut dalam air seperti
natrium bikarbonat, Al (OH)3, Mg (OH)2, dan magnesium
trisiklat (kompleks hidrotalsit). Pemberian antasida tidak dapat
dilakukan terus-menerus, karena hanya bersifat simtomatis untuk
mengurangi nyeri. Magnesium trisiklat merupakan adsorben
nontoksik, namun dalam dosis besar akan menyebabkan diare
karena terbentuk senyawa MgCl2. Zat magnesium bersifat
6
pencahar sehingga menyebabkan diare sedangkan aluminium
menyebabkan konstipasi oleh sebab itu kedua zat ini
dikombinasikan.
b) NaHCO3
Antasida jenis ini larut dalam air dan bekerja cepat, namun zat
utama NaHCO3 dapat menyebabkan darah bersifat basa
(alkalosis) jika dosisnya berlebih. Terlepasnya senyawa
karbondioksida dari kompleks obat ini dapat mennyebabkan
sendawa.
c) Kombinasi Bismut dan Kalsium
Kombinasi antara Bi dan Ca dapat membentuk lapisan pelindung
pada lesi di lambung. Namun obat ini dijadikan pilihan terakhir
karena bersifat neurotoksik yang menyebabkan kerusakan otak
dengan gejala kejang-kejang dan kebingungan aatau yang dikenal
dengan ensefalopati. Selain itu, dapat menyebabkan konstipasi,
dan kalsium dapat menyebabkan sekresi asam lambung yang
berlebih. Kelebihan kalsium dapat menyebabkan hiperkalsemia.
d) Sukralfate
Golongann sukralfat yang sering dikombinasikan dengan
aluminium hidroksida, dan bismuth koloidal dapat digunakan
untuk melindungi tukak lambung agar tidak teriritasi asam
lambung dengan membentuk lapisan dinding pelindung.
2) Antikolinergik
Obat yang termasuk golongan ini obat yang agak selektif yaitu
pirenzepin yang bekerja sebagai anti reseptor muskarinik yang dapat
menekan sekresi asam lambung sekitar 28% sampai 43%. Kerja obat
pirenzepin tidak spesifik dan juga memiliki efek sitoprotektif.
3) Antagonis Reseptor H2
Obat yang termasuk golongan obat ini adalah simetidin, nizatidin,
roksatidin, dan famotidin. Ranitidin merupakan yang paling banyak
digunakan dalam pemilihan obat golongan ini, namun telah ditarik
dari peredaran karena adanya N-Nitrosodimethylamine (NDMA)
7
pemicu kanker. Golongan obat ini banyak digunakan untuk
mengobati dispepsia organik atau esensial seperti tukak peptik
dengan mekanisme penghambatan reseptor H2 sehingga sekresi asam
lambung berkurang.
4) Proton Pump Inhibitor (PPI)
Obat-obat yang termasuk golongan PPI adalah omeprazol,
esomeprazol lansoprazol, dan pantoprazol. Golongan obat ini
mengatur sekresi asam lambung pada stadium akhir dari proses
sekresi asam lambung pada pompa proton yang merupakan tempat
keluarnnya proton (ion H+).
5) Sitoprotektif
Obat yang termasuk golongan ini prostaglandin sinetik seperti
misoprostol (PGE1) dan enprostil (PGE2). Selain bersifat
siroprotektif juga dapat menekan sekresi asam lambung oleh sel
parietal. Sukralfat berfungsi meningkatkan prostaglandin endogen,
yang selanjutnya memperbaiki mikrosirkulasi, meningkatkan
produksi mucus, dan meningkatkan sekresi bikarbonat mukosa, serta
membentuk lapisan protektif yang bersenyawa dengan protein sekitar
lesi mukosa saluran cerna bagian atas.
6) Golongan Prokinetik
Obat yang termasuk golongan ini yaitu cisapride, domperidon, dan
metoclopramide. Golongan ini cukup efektif untuk mengobati
dispepsia fungsional dan refluks esofagitis dengan mencegah refluks
dan memperbaiki asam lambung.
7) Golongan Anti Depresi
Obat yang termasuk golongan ini adalah golongan trisiclic
antidepressants (TCA) seperti amitriptilin. Obat ini biasanya
dibutuhkan psikoterapi dan psikofarmaka (obat anti depresi dan
cemas) pada pasien dengan dispepsia fungsional, karena tidak jarang
keluhan yang muncul berhubungan dengan faktor kejiwaan cemas
dan depresi. Pengobatan untuk dispepsia fungsional masih belum
jelas. Beberapa pengobatan yang telah didukung oleh bukti ilmiah
8
adalah pemberantasan helicobacter pylori, PPI, dan terapi psikologi.
Pengobatan yang belum didukung bukti: antasida, antispasmodik,
bismuth, terapi diet, terapi herbal, antagonis reseptor H2,
misoprostol, golongan prokinetik, selective serotonin-reuptake
inhibitor, sukralfat, dan antidepresan.
b. Terapi Non Farmakologi
Terapi non farmakologi yang dapat dilakukan untuk penanganan kasus
dyspepsia yaitu:
1) Mengurangi Stress
Stress berlebihan dapat menyebabkan produksi asam lambung
meningkat, sehingga dapat memicu dispepsia. Istirahat yang cukup
dan melakukan kegiatan yang disukai dapat meminimalisir stress.
2) Mengatur Pola Hidup Sehat
Pola hidup yang sehat dapat dilakukan dengan olahraga secara teratur,
menjaga berat badan agar tidak obsesitas, menghindari berbaring
setelah makan, makan banyak terutama pada malam hari, merokok,
menghindari makanan yang berlemak tinggi dan pedas serta
menghindari minuman yang asam, bersoda, mengandung alkohol dan
kafein.
3) Terapi Hangat/Dingin
Terapi kompres hangat Warm Water Zack (WWZ) dilakukan dengan
menggunakan botol karet yang berisi air hangat kemudian diletakan
pada bagian perut yang nyeri.
4) Terapi Komplementer
Terapi komplemeter berguna untuk mengurangi nyeri yang terjadi
pada lambung. Terapi ini dapat dilakukan dengan terapi aromaterapi,
mendengar music, menonton televisi, memberikan sentuhan
terapeutik, dan teknik relaksasi nafas dalam.
9
Gambar 2. Algoritma Terapi Dispepsia
(American college of gastroenterology guidelines for the management dyspepsia, 2005)
2.2 Gastroenteritis
2.2.1 Pengertian Gastroenteritis
Gastroenteritis adalah suatu keadaan dimana terdapat inflamasi pada bagian
mukosa dari saluran gastrointestinal ditandai dengan diare dan muntah (How C,
2010). Diare adalah buang air besar dengan frekuensi yang meningkat dari biasanya
atau lebih dari tiga kali sehari dengan konsistensi feses yang lebih lembek atau cair
(kandungan air pada feses lebih banyak dari biasanya yaitu lebih dari 200 gram atau
200ml/24jam) (Dennis L et al, 2016). Gastroenteritis akut adalah diare dengan onset
mendadak dengan frekuensi lebih dari 3 kali dalam sehari disertai dengan muntah
dan berlangsung kurang dari 14 hari (Sudoyo A.W et al., 2009).
10
Gambar 2. Gastroentestial
2.2.2 Klasifikasi
Jenis-jenis gastroenteritis Menurut Suratun & Lusianah (2010) jenis-jenis
diare, yaitu :
a. Gastroenteritis Akut
Gastroenteritis yang serangannya tiba-tiba dan berlangsung kurang dari
14 hari. Gastroenteritis akut diklasifikasikan :
1) Gastroenteritis Non Inflamasi
Gastroenteritis ini disebabkan oleh enterotoksin dan menyebabkan
gastroenteritis cair dengan volume yang besar tanpa lendir dan
darah. Keluhan abdomen jarang atau bahkan tidak sama sekali.
2) Gastroenteritis Inflamasi
Gastroenteritis ini disebabkan invasi bakteri dan pengeluaran
sitotoksin di kolon. Gejala klinis di tandai dengan mulas sampai
nyeri seperti kolik, mual, muntah, demam, tenesmus, gejala dan
tanda dehidrasi. Secara makroskopis terdapat lendir dan darah pada
pemeriksaan feses rutin, dan secara mikroskopis terdapat sel
leukosit polimorfonuklear.
b. Gastroenteritis Kronik
Gastroenteritis yang berlangsung selama lebih dari 14 hari. Mekanisme
terjadinya gastroenteritis yang akut maupun yang kronik dapat dibagi
menjadi gastroenteritis sekresi, gastroenteritis osmotrik, gastroenteritis
11
eksudatif, dan gangguan motilitas.
c. Gastroenteritis Sekresi
Gastroenteritis dengan volume fesesbanyak biasanya disebabkan oleh
gangguan transport elektrolit akibat peningkatan produksi dan sekresi
air dan elektrolit namun kemampuan absorbsi mukosa ke usus ke dalam
lumen usus menurun. Penyebabnya adalah toksin bakteri (seperti toksin
kolera), pengaruh garam empedu, asam lemak rantai pendek, dan
hormon intestinal.
d. Gastroenteritis Osmotik
Gastroenteritis yang terjadi bila terdapat partikel yang tidak dapat
diabsorbsi sehingga osmolaritas lumen meningkat dan air tertarik dari
plasma ke lumen usus sehingga terjadilah gastroenteritis.
e. Gastroenteritis Eksudatif
Inflamasi akan mengakibatkan kerusakan mukosa baik usus halus
maupun usus besar. Inflamasi dan eksudasi dapat terjadi akibat infeksi
bakteri atau non infeksi atau akibat radiasi.
f. Kelompok Lain
Akibat adanya gangguan motilitas yang mengakibatkan waktu transit
makanan/minuman di usus menjadi lebih cepat. Pada kondisi tirotoksin,
sindroma usus iritabel atau diabetes melitus bisa muncul gastroenteritis
ini.
2.2.3 Etiologi
Bakteri yang paling umum menyebabkan gastroenteritis adalah jenis
Salmonella, Campylobacter, Shigella dan Yersinia. Vibrio cholera tetap menjadi
penyebab utama diare, terutama pada daerah dengan kebersihan yang terganggu.
Giardia lamblia adalah infeksi dari protozoa paling umum yang menyebabkan
gastroenteritis, meskipun cenderung dikaitkan dengan lebih banyak diare yang
menetap. Hal ini menunjukkan peningkatan bahwa sanitasi tidak akan menurunkan
prevelensi penyakit pada infeksi virus tetapi dpat membantu dalam pencegahan
parasite dan infeksi bakteri. Penyebab Gasreoenteritis yang paling sering adalah
bakteri atau virus. Organisme penyebab yang sering di temui termasuk diantaranya
12
Campylobacter, [Link], Rotavirus, Shigella, Salmonella dan Giardia Lamblia
(Shulman et al, 2001).
Tabel 1. Etiologi gastroenteritis
13
Tabel 3. Gejala khas diare akut oleh berbagai penyebab
Gejala Rotavirus Shigella Salmonella ETEC EIEC Kolera
klinik
Masa tunas 17-72 jam 24-48 6-72 jam 6-72 jam 6-72 jam 48-72
jam jam
Panas + ++ ++ - ++ -
Mual Sering Jarang Sering + - Sering
muntah
Nyeri perut Tenesmus Tenesmus Tenesmus - Tenesmus Kramp
kramp kolik kramp
Nyeri - + + - - -
kepala
14
Lamanya 5-7 hari > 7 hari 3-7 hari 2-3 hari Variasi 3 hari
sakit
Sifat tinja
Volume Sedang Sedikit Sedikit Banyak Sedikit Banyak
Frekuensi 5-10x/hari >10x/hari Sering Sering Sering Terus
menerus
Konsistensi Cair Lembek Lembek Cair Lembek Cair
Darah - Sering Kadang - + -
Bau Langu + Busuk + Tidak Amis
khas
Warna Kuning Merah- Kehijauan Tak Merah- Seperti
hijau hijau berwarna hijau air
cucian
beras
Leukosit - + + - - -
Lain-lain Anorexia Kejang ± Sepsis ± Meteorismus Infeksi ±
sistemik
2.2.4 Patofisiologi
Gastroenteritis adalah peradangan pada lambung, usus kecil, dan usus besar
dengan berbagai kondisi patologis dari saluran gastrointestinal dengan manifestasi
diare, dengan atau tanpa disertai muntah, serta ketidaknyamanan abdomen
(Muttaqin dan Sari, 2011). Perubahan pada usus kecil biasanya bukan disebabkan
karena peradangan, sedangkan diusus besar disebabkan karena peradangan (Irianto
2015).
Keseimbangan cairan dan elektrolit terganggu sehingga menyebabkan
diare, terjadi karena 4 mekanisme patofisiologi umum, yaitu perubahan transport
ion aktif dengan cara menurunkan penyerapan natrium atau meningkatkan sekresi
klorida, perubahan motilitas usus yang mengakibatkan hiperperistaltik dan
hipoperistaltik, peningkatan osmolaritas luminal dan peningkatan tekanan
hidrostatik jaringan.
Pada diare non inflamasi, diare disebabkan oleh enterotoksin yang
mengakibatkan diare cair dengan volume yang besar tanpa lendir dan darah.
15
Mekanisme terjadinya gastroenteritis pada diare akut maupun kronis dapat dibagi
menjadi kelompok osmotik, sekretorik, eksudatif dan gangguan motilitas.
Diare osmotik terjadi bila ada bahan yang tidak diserap meningkatkan
osmolaritas dalam lumen yang menarik air dari plasma sehingga terjadi diare,
contohnya adalah melabsorbsi karbohidrat akibat defisiensi lactase atau akibat
garam magnesium. Diare sekretorik bila terjadi gangguan transport elektrolit baik
absorbsi yang berkurang ataupun sekresi yang meningkat. Hal ini dapat terjadi
akibat toksin yang dikeluarkan bakteri misalnya toksin kolera atau pengaruh garam
empedu, asam lemak rantai pendek, atau laksatif non osmotik. Beberapa hormon
intestinal seperti gastrin Vasoactive Intestinal Polypeptide (VIP) juga dapat
menyebabkan diare sekretorik atau akibat garam magnesium.
Diare eksudatif, inflamasi akan mengakibatkan kerusakan mukosa baik usus
halus maupun usus besar, inflamasi dan eksudasi dapat terjadi akibat infeksi bakteri
atau bersifat non infeksi Gluten Sensitive Enteropathy, Inflammatory Bowel
Disease (IBD) atau akibat radiasi (Zein et al., 2004). Kelompok lain adalah akibat
gangguan motilitas yang mengakibatkan waktu transit usus menjadi lebih cepat,
sehingga menyebabkan diare (Zein et al., 2004).
Menurut suharyono (2008), sebagai akibat diare (baik akut maupun kronik)
akan terjadi :
a. Kehilangan air dan elektrolit serta gangguan asam basa yang menyebabkan
dehidrasi, asidosis metabolik dan hipokalemia.
b. Gangguan sirkulasi darah berupa renjatan (syok) hipovolemik. Akibatnya
perfusi jaringan berkurang dan terjadi hipoksia, asidosis bertambah berat
dapat mengakibatkan perdarahan dalam otak, kesadaran menurun dan bila
tidak segera ditolong dapat meninggal.
c. Gangguan gizi yang terjadi akibat keluarnya cairan berlebihan karena diare
dan muntah, sehingga terjadi penurunan berat badan dalam waktu yang
singkat.
16
Tabel 4. Klasifikasi episode diare
2.2.5 Diagnosis
Diagnosis gastroenteritis akut dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang (Sudoyo A.W et al., 2009).
a. Anamesis
Onset, durasi, tingkat keparahan, dan frekuensi diare harus dicatat,
dengan perhatian khusus pada karakteristik feses (misalnya, berair,
berdarah, berlendir, purulen). Pasien harus dievaluasi untuk tanda-tanda
mengetahui dehidrasi, termasuk kencing berkurang, rasa haus, pusing,
dan perubahan status mental. Muntah lebih sugestif penyakit virus atau
penyakit yang disebabkan oleh ingesti racun bakteri. Gejala lebih
menunjukkan invasif bakteri (inflamasi) diare adalah demam, tenesmus,
dan feses berdarah (Barr. w & smith. a, 2017).
Makanan dan riwayat perjalanan sangat membantu untuk
mengevaluasi potensi paparan agent. Anak-anak di tempat penitipan,
penghuni panti jompo, penyicip makanan, dan pasien yang baru dirawat
di rumah sakit berada pada risiko tinggi penyakit diare menular. Wanita
hamil memiliki 12 kali lipat peningkatan risiko listeriosis, terutama yang
mengkonsumsi olahan daging beku, keju lunak, dan susu mentah.
Riwayat sakit terdahulu dan penggunaan antibiotik dan obat lain harus
dicatat pada pasien dengan diare akut (Barr. w & smith. a, 2017).
b. Pemeriksaan Fisik
Tujuan utama dari pemeriksaan fisik adalah untuk menilai tingkat
dehidrasi pasien. Umumnya penampilan sakit, membran mukosa kering,
waktu pengisian kapiler yang tertunda, peningkatan denyut jantung dan
tanda-tanda vital lain yang abnormal seperti penurunan tekanan darah
17
dan peningkatan laju nafas dapat membantu dalam mengidentifikasi
dehidrasi. Demam lebih mengarah pada diare dengan adanya proses
inflamasi. Pemeriksaan perut penting untuk menilai nyeri dan proses
perut akut. Pemeriksaan rektal dapat membantu dalam menilai adanya
darah, nyeri dubur, dan konsistensi feses (Barr. w & smith. a, 2017).
Dehidrasi Ringan (hilang cairan 2-5% BB) gambaran klinisnya turgor
kurang, suara serak, pasien belum jatuh dalam presyok. Dehidrasi Sedang
(hilang cairan 5-8% BB) turgor buruk, suara serak, pasien jatuh dalam
presyok atau syok, nadi cepat, napas cepat dan dalam (Bresse. J et al,
2012). Dehidrasi Berat (hilang cairan 8-10 BB) tanda dehidrasi sedang
ditambah kesadaran menurun (apatis sampai koma), otot otot kaku,
sianosis.
c. Pemeriksaan Penunjang
1) Darah :
- Darah perifer lengkap
- Serum elektrolit: Na+ , K+ , Cl-
- Analisa gas darah apabila didapatkan tanda-tanda gangguan
keseimbangan asam basa (pernafasan Kusmaull)
- Immunoassay: toksin bakteri (C. difficile), antigen virus
(rotavirus), antigen protozoa (Giardia, E. histolytica).
2) Feses :
- Feses lengkap (mikroskopis: peningkatan jumiah lekosit di feses
pada inflamatory diarrhea; parasit: amoeba bentuk tropozoit,
hypha pada jamur)
- Biakan dan resistensi feses (colok dubur)
Pemeriksaan penunjang diperlukan dalam penatalaksanaan diare akut
karena infeksi, karena dengan tata cara pemeriksaan yang terarah akan
sampai pada terapi definitif (Sudoyo et al., 2009).
2.2.6 Penatalaksanaan
a. Rehidrasi
Bagian paling penting dalam pengobatan gastroenteritis adalah
mencegah, mengobati dehidrasi dan kehilangan garam. Untuk terapi
rehidrasi dilakukan dengan pemberian Cairan Rehidrasi Oral (CRO) atau
18
ORS (Oral rehydration solution) (Tan & Rahardja 2007).
b. Terapi Rehidrasi Oral
Terapi Rehidrasi Oral (TRO). TRO adalah pemberian solusi tepat
melalui mulut untuk mencegah atau mengatasi dehidrasi yang
disebabkan karena gastroentritis. TRO adalah standar untuk manajemen
efikasi dan keefektifan biaya pada gastroenteritis, juga pada negara
berkembang (WGO 2008).
Berbasis pada ORS lebih unggul oralit standar untuk orang dewasa
dan anak-anak dengan kolera, dan dapat digunakan untuk mengobati
pasien tersebut dimana pun persiapan nyaman. Hal ini tidak lebih unggul
oralit standar dalam pengobatan anak-anak dengan diare akut non
cholera, terutama ketika makanan yang diberikan tak lama setelah
rehidrasi, seperti yang dianjurkan untuk mencegah kekurangan gizi
(WGO 2012). Aspek paling penting adalah menjaga hidrasi yang adekuat
dan keseimbangan elektrolit selama episode akut. Dilakukan dengan
rehidrasi oral, yang harus dilakukan pada semua pasien, kecuali jika tidak
15 dapat minum atau diare hebat membahayakan jiwa yang memerlukan
hidrasi intavena.
Tabel 5. Komponen Cairan Rehidrasi Oral (CRO)
19
antibiotik. Hanya pada infeksi oleh bakteri tertentu perlu diberikan suatu
obat kemoterapi yang bersifat mempenetrasi baik kedalam jaringan yaitu
dengan antibiotik seperti Amoksisilin, Tetrasiklin, dan Fluorokinolon
(Tan & Raharja 2007).
Terapi diare akut yang tidak disebabkan oleh infeksi (tidak ada peran
simtom sistemik) adalah diberikan terapi simtomatik seperti terapi
rehidrasi, pemberian loperamid atau absorben dan diet. Sedangkan diare
yang disebabkan oleh bakteri (timbul panas dan simtom sistemik), maka
diberikan obat antibiotik yang sesuai. Antibiotik yang digunakan hanya
jika diare disebabkan infeksi. Karena kebanyakan diare bukan karena
infeksi atau non spesifikasi yang akan sembuh dengan sendirinya
(Priyanto, 2009).
d. Pengobatan Sistemik
Obat-obat yang bersifat antimotilitik tidak dianjurkan pada diare
karena infeksi atau gastroenteritis dengan sindroma disentri yang disertai
demam. Beberapa golongan obat yang bersifat simtomatik pada diare
akut diberikan pertimbangan klinis yang matang terhadap cost-effective.
Kontroversial seputar 16 obat simptomatik tetap ada, meskipun uji klinis
telah banyak dilakukan dengan hasil yang beragam pula, tergantung jenis
diare dan terapinya kombinasi yang diberikan. Pada prinsipnya, obat
simptomatik bekerja dengan mengurangi volume feses dan frekuensi
diare ataupun menyerap air (Wingate et al, 2001).
Pengobatan symptom dapat diklasifikasikan antara lain:
1) Obat antidiare, Antispasmodik atau opium (papaverin, ekstrak
beladona, loperamid, kodein) hanya berkhasiat untuk menghentikan
2) Adsorben, contohnya seperti kaolin, pectin, arang aktif (activate
charcoal), bismuth subbikarbonat.
3) Stimulan, misal contohnya seperti adrenalin, dan niketamid.
4) Antiematik, contoh seperti klorpromazin untuk mencegah muntah
juga mengurangi sekresi dan kehilangan cairan.
5) Antipiretika, contohnya seperti asetosal dan aspirin dalam dosis
rendah (25 mg/tahun/kali) ternyata berguna untuk menurunkan panas
20
sebagai akibat dehidrasi atau panas karena infeksi dan mengurangi
sekresi cairan yang keluar bersama tinja.
e. Pengendalian Dehidrasi (Kemenkes, 2011)
1) Diare Tanpa Dehidrasi
Tanda diare tanpa dehidrasi, bila terdapat 2 tanda dibawah ini atau
lebih, yaitu:
- Keadaan umum : baik
- Mata : normal
- Rasa haus : normal
- Minum : biasa
- Turgor kulit : kembali cepat
Dosis oralit bagi penderita diare tanpa dehidrasi, sebagai berikut :
- Umur kurang 1 tahun : 1/4 sampai 1/2 gelas setiap kali anak
mencret.
- Umur 1 sampai 4 tahun : 1/2 sampai 1 gelas setiap kali anak
mencret.
- Umur diatas 5 tahun : 1 sampai 1 1/2 gelas setiap kali anak
mencret.
2) Dehidrasi Ringan atau Sedang
Diare dengan dehidrasi ringan atau sedang, bila terdapat 2 tanda
dibawah ini atau lebih :
- Keadaan umum : gelisah, rewel
- Mata : cekung
- Rasa haus : haus
- Ingin minum banyak
- Turgor kulit : kembali lambat, dosis oralit yang diberikan dalam
tiga jam pertama 75 ml/kg BB dan selanjutnya diteruskan dengan
pemberian oralit seperti diare tanpa dehidrasi
3) Dehidrasi berat
Diare dehidrasi berat, bila terdapat 2 tanda dibawah ini atau lebih:
- Keadaan umum : lesu, lunglai, atau tidak sadar
- Mata : cekung
21
- Rasa haus : tidak bisa minum atau malas minum
- Turgor kulit : kembali sangat lambat dengan durasi lebih dari 2
detik
4) Zink
Zink dapat menghambat enzim INOS (Inducible Nitric Oxide Syntase)
dimana ekskresi enzim ini meningkat selama diare dan mengakibatkan
hipersekresi epitel usus. Zink juga berperan dalam epitelisasi dinding
usus yang mengalami kerusakan morfologi dan fungsi selama kejadian
diare.
Dosis pemberian Zink pada balita :
- Umur < 6 bulan : ½ tablet (10 mg) / hari selama 10 hari
- Umur > 6 bulan : 1 tablet (20 mg) / hari selama 10 hari
5) ASI dan Makanan
Pemberian makanan selama diare bertujuan untuk memberikan gizi
pada penderita terutama pada anak agar tetap kuat dan tumbuh serta
mencegah berkurangnya berat badan. Anak yang masih minum ASI
harus sering diberi ASI. Anak yang minum susu formula juga
diberikan lebih sering dari biasanya. Anak usia 6 bulan atau lebih
termasuk bayi yang telah mendapatkan makanan pada harus diberikan
makanan yang mudah dicerna dan diberikan sedikit lebih sedikit dan
lebih sering. Setelah diare berhenti, pemberian makanan ekstra
diteruskan selama 2 minggu untuk membantu pemulihan berat badan.
6) Probiotik
Kelompok probiotik terdiri dari Lactobacillus dan Bifidobacteria atau
Saccharomyces boulardii, bila meningkat jumlahnya di saluran cerna
akan memiliki efek positif karena berkompetisi untuk nutrisi dan
reseptor saluran cerna. Untuk mengurangi atau menghilangkan diare
harus diberikan dalam jumlah adekuat
7) Antibiotik
Antibiotik yang digunakan pada gastroenteritis akut menurut FRS
rumah sakit antara lain:
- Golongan kuinolon yaitu Siprofloksasin 2 x 500 mg/hari selama
22
5-7 hari
- Trimetropim/Sulfametoksazol 160/800 2 x 1 tablet/hari
- Metronidazole dapat digunakan dengan dosis 3 x 500 mg/hari
selama 7 hari
Bila diketahui etiologi dari diare akut, terapi disesuaikan dengan
etiologi.
Antibiotik hanya bermanfaat pada penderita diare dengan darah
(sebagian besar karena Shigellosis), dan kolera. Sedangkan obat anti
protozoa digunakan bila terbukti diare disebabkan oleh parasit
(Amoeba, Giardiasis).
Tabel 6. Antibiotik emperis pada diare akut infeksi
23
jiwa pada gastroenteritis akut dan pasien immunocompromised.
Pemberian antibiotik secara empiris dapat dilakukan terapi
antibiotik spesifik diberikan berdasarkan kultur dan resistensi
bakteri pada pasien (Ciesla, 2013).
Tabel 7. Antibiotik secara empiris paaa Gastroenteritis untuk dewasa
Demam (suhu oral > 38,5C), Quinolone 3-5 hari, cotrimoksazole 3-5 hari
feses disertai darah, leukosit,
laktoferin, hemoccult, sindrom
disentri
Traveler’s diarrhea Quinolone 1-5 hari
Diare persisten (kemungkinan Metronidazole 3 x 500 mg selama 7 hari
Giardiasis)
Shigellosis Cotrimoksazole selama 3 hari Quinolone
selama 3 hari
Intestinal Salmonellosis Chloramphenicol/cotrimoksazole/quinolone
selama 7 hari
Campylobacteriosis Erythromycin selama 5 hari
EPEC Terapi sebagai febrile disentry
ETEC Terapi sebagai traveler’sdiarrhea
EIEC Terapi sebagai shigellosis
EHEC Peranan antibiotik belum jelas
Vibrionon-kolera Terapi sebagai febrile disentry
Aeromonas diarrhea Terapi sebagai febrile disentry
Yersiniosis Umumnya dapat diterapi sebagai febrile
disentry. Pada kasus berat: Ceftriaxone IV 1
gram/6 jam selama 5 hari.
Intestinal Amebiasis Metronidazole 3 x 750 mg 5-10 hari +
pengobatan kista untuk mencegah relaps.
Diiodohydroxyquin 3 x 650 mg 10 hari atau
paromomycin 3 x 500 mg 10 hari atau
diloxanide furoate 3 x 500 mg 10 hari
Cryptosporidiosis Untuk kasus berat atau
immunocompromised: Paromomycin 3 x
500 mg selama 7 hari
Isosporisosis Cotrimoksazole 2 x 160/800 selama 7 hari
Sumber: Wingate et al (2001)
Sumber: Amin (2015)
24
gastroenteritis pada masyarakat apabila parasit patogen telah
diketahui (Tan dan Raharja, 2007).
Penyebab ketidakberhasilan terapi antibiotika antara lain
mikroorganisme penyebab infeksi resisten terhadap antibiotika yang
digunakan, diagnosa salah. Pilihan antibiotik benar, tetapi dosis dan
rute pemberiannya salah. Antibiotika tidak bisa mencapai tempat
infeksi. Pasien tidak mematuhi pengobatan (Prayitno dan Juwono,
2003).
Pemberian terapi antibiotik untuk penyakit diare akut atau
gastroenteritis akut yang disebebkan karena infeksi dapat dilihat pada
pedoman terapi atau guideline World Gastroenterology Organisation
practice guideline : Acute diarhea (2012).
Tabel 8. Antibiotik yang digunakan untuk Gastroenteritis Akut
25
Dewasa : 500 mg 2x sehari
selam 3 hari atau 2 g sekali
sehari
Campylobacter Ciprofloxacin Ciprofloxacin
Dewasa : 500 mg 2x sehari Dewasa : 500 mg
selam 3 hari atau 2 g sekali sekali sehari selam 3
sehari hari
Sumber: WGO (2012)
26
2.3.2 Siklus Haid Normal
Untuk mengetahui perdarahan itu adalah perdarahan bukan haid, maka harus
diketahui karakteristik haid normal. Perdarahan haid yang normal terjadi oleh
karena estrogenprogesteron withdrawal bleeeding. 15% siklus haid adalah 28 hari.
Sejak menarche, siklus haid relatif memanjang, berlangsung sampai 5-7 tahun
kemudian. Siklus ini akan memendek dan kemudian memanjang lagi pada usia 40-
an. Pada usia 25-35 tahun, 60% siklus haid berjarak 25-28 hari. Lamanya haid tiap
siklus normalnya 4-6 hari, dengan rentang variasi normal paling cepat 2 hari dan
paling lama 7 hari. Jumlah darah yang hilang rata-rata 30 ml, bila jumlah darah yang
keluar > 80 ml disebut menoragia.
2.3.3 Klasifikasi
POGI (2016) mengklasifikasikan PUA berdasarkan jenis perdarahannya
menjadi :
a. Perdarahan uterus abnormal akut didefinisikan sebagai perdarahan haid yang
banyak sehingga perlu dilakukan penanganan segera untuk mencegah
kehilangan darah.
b. PUA kronik atau tanpa riwayat sebelumnya. Perdarahan uterus abnormal
kronik merupakan terminologi untuk perdarahan uterus abnormal yang telah
terjadi lebih dari 3 bulan. Kondisi ini biasanya tidak memerlukan
penanganan yang segera seperti PUA akut.
c. Perdarahan tengah (intermenstrual bleeding) merupakan perdarahan haid
yang terjadi diantara 2 siklus haid yang teratur. Perdarahan dapat terjadi
kapan saja atau dapat juga terjadi di waktu yang sama setiap siklus. Istilah
ini ditujukan untuk menggantikan terminologi metroragia.
2.3.4 Etiologi
Berdasarkan International Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO)
(2011), telah mengklasifikasikan etiologi PUA menjadi 9 kategori utama yang
disingkat menjadi PALM-COEIN: polyp, adenomyosis, leimyoma, malignancy and
hyperplasia, coagulopathy, ovulatory dysfunction, endometrial, iatrogenic, dan not
yet classified (Wantania, 2016).
27
2.3.5 Patofisiologi
Disfungsi ovulatori dapat menyebabkan PUA dengan gejala gangguan pola
dan jumlah perdarahan yang pada beberapa kasus dapat menyebabkan HMB. Pada
beberapa negara kelainan ovulatori mencakup mayoritas kasus yang dahulu disebut
dengan perdarahan uterus disfungsional (dysfunctional uterine bleeding; DUB),
Kelainan ovulasi dapat muncul sebagai sebuah spektrum kelainan haid – mulai dari
amenore sampai spotting, sampai episode HMB ekstrim yang memerlukan
intervensi medis maupun operasi (Wantania, 2016).
Pada remaja, aksis hipotalamuspituitari-ovarium memerlukan waktu untuk
matang setelah menarke, yang dapat menyebabkan anovulasi. Pada 2 tahun pertama
setelah menarke 55-82% siklus bersifat anovulatorik, dan pada tahun ke-4 dan ke-
5 mengalami penurunan menjadi 20% siklus. Diperkirakan 95% perdarahan uterus
disfungsional pada remaja disebabkan oleh anovulasi (Wantania, 2016) :
a. Tanpa adanya ovulasi, estrogen merangsang endometrium tanpa produksi
progesterone dari corpus luteum. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya,
progesterone bertanggung jawab atas diferensiasi endometrium dan
mengontrol stimulasi endometrium.
b. Stimulasi estrogen yang tidak diimbangi progesteron ini menyebabkan
proliferasi endometrium berlebihan tanpa diferensiasi atau pertumbuhan
penunjang stroma. Hasilnya adalah endometrium yang heterogen, tidak
stabil, dan rapuh yang rentan terjadi peluruhan dan perdarahan.
c. Dengan berulangnya pola stimulasi estrogen ini, endometrium pada lokasi
tertentu luruh. Bagian yang tertinggal kembali terstimulasi oleh estrogen
dan berproliferasi, sementara pada saat yang sama terjadi peluruhan
endometrium di lokasi lain. Hal ini menyebabkan perdarahan berlebihan
dan berkepanjangan terjadi.
d. Durasi dan level stimulasi estrogen (yang tak diimbangi progesteron)
mempengaruhi secara langsung jumlah dan durasi perdarahan.
e. Estrogen breakthrough bleeding tidak dapat diprediksi. Selain itu, tanpa
adanya withdrawal estrogen-progesteron menyebabkan hilangnya
vasokonstriksi arteri spiralis, sehingga peluruhan endometrium tidak
terkontrol.
28
2.3.6 Diagnosis
a. Anamnesis
Perlu ditanyakan bagaimana mula terjadinya perdarahan, apakah
didahului oleh siklus yang pendek, atau oleh oligomenore/amenore.
Bagaimana jumlah perdarahannya (banyak/sedikit, sakit/tidak), lama
perdarahan dan sebagainya.
b. Pemeriksaan Umum
Perlu diperhatikan tanda-tanda yang menunjuk ke arah kemungkinan
penyakit metabolik, penyakit endokrin, penyakit menahun dan lain-lain.
c. Pemeriksaan Ginekologi
Perlu dilihat apakah ada kelainan-kelainan organik yang bisa
menyebabkan perdarahan seperti polip, ulkus, tumor, atau perdarahan
pada kehamilan (abortus, kehamilan terganggu).
d. Pemeriksaan Patologi
Dilakukan pada wanita pramenopause untuk memastikan ada tidaknya
tumor ganas.
2.3.7 Penatalaksanaan
a. Terapi Progestin
Biasanya berhasil mengendalikan perdarahan bila kelainan rahim sudah
disingkirkan. Progestin merupakan preparat antiestrogen yang kuat.
Preparat yang digunakan biasanya 5- 10 mg medroxyprogesterone acetate
selama minimal 10 hari per bulan. Bisa juga digunakan depo
medroxyprogesterone acetate (DMPA) 150 mg setiap 3 bulan.
b. Pil Kontrasepsi Oral
Digunakan jenis monofasik dengan dosis rendah. Dimulai dengan dosis 2
x sehari selama 5-7 hari. Waspada terjadi haid dalam jumlah banyak
setelah 7 hari berhenti obat.
c. Terapi Estrogen
Diberikan pada perdarahan hebat yang akut, yaitu dengan memberikan
25 mg conjugated equine estrogen (CEE) intravena setiap 4 jam sampai
perdarahan berhenti atau sampai 24 jam. Bisa juga digunakan estrogen
oral dengan dosis CEE 1,25 mg/hari, estradiol 2 mg per hari untuk
29
perdarahan ringan. Untuk perdarahan berat CEE 1,25 mg tiap 4 jam;
estradiol 2 mg tiap 4 jam selama 24 jam, setelah itu dilanjutkan 4 kali
sehari. Harus diberikan terapi progestin untuk perdarahan lucut setelah
terapi estrogen.
Resiko terapi estrogen dosis tinggi yang harus diperhatikan:
- Dapat memicu kejadian tromboemboli
- Harus dihindari pada penderita dengan riwayat keluarga atau pernah
menderita idiopatik tromboemboli.
d. Antiprostaglandin
Antiprostaglandin jelas memiliki peran penting dalam sistem vaskuler
endometrium. NSAIDs bisa merubah keseimbangan antara tromboxane
A2 dan prostaglandin I2. Preparat ini berguna sebagai first line therapy.
Kadang-kadang terjadi efek anomali berupa meningkatnya perdarahan.
e. IUD Dengan Progestin
Penelitian telah menunjukkan bahwa levonorgestrel IUD lebih baik
daripada NSAIDs. Dapat menurunkan jumlah perdarahan sampai 96%
setelah 12 bulan. Berguna pada penderita dengan penyakit kronis.
f. Gonadotropin Releasing Hormone Agonist
Menghambat ovulasi dan menghambat produksi hormon steroid dari
ovarium, sehingga mengakibatkan amenore.
g. Ablasi Endometrium
Pilihan alternatif selain histerektomi. 90% kasus menunjukkan perbaikan:
40-50% kasus menjadi amenorik. Tidak dianjurkan untuk penderita yang
beresiko tinggi mengalami kanker endometrium.
h. Histerektomi
Bila terapi medikamentosa tidak berhasil menghentikan perdarahan.
30
BAB III
TINJAUAN KASUS
31
3.2.4 Riwayat Pengobatan
OAT 2 (RHZE) / 4 (RH)
Hemoglobin
11.5-17.0 14.4
(g/dL)
WBC (%) 3.50 - 9.50 5.81
Eritrosit (106/uL) 3.80 - 5.80 4.99
Hematrokrit (%) 35 - 50 43.4
PLT (10'3/uL) 150 - 450 197
NEUTROFIL 50 - 70 63
(%)
LIMPOSIT (%) 20 - 40 22
MONOSIT (%) 2-8 14
EOSINOFIL 1-3 0
(%)
32
BASOFIL (%) 0-1 1
MCV (fL) 82 - 100 87.0
MCH (pg) 27 - 34 28.8
MCHC(g/dL) 31.6 - 35.4 33.1
B. Kimia klinik
Keterangan
Hasil diatas nilai normal
Hasil dibawah nilai normal
3.4 Diagnosis
Diagnosa utama : Dispepsia
Diagnosa sekunder : Dispepsia, gastroenteritis, perdarahan uterus abnormal.
3.5 Penatalaksanaan
33
- New diatab (attapulgite) 600 mg 3x2 tablet (PO)
- Metronidazole infus 3x500 mg (IV)
34
3.6 Follow Up Pasien
Nama : Nn. R.A Diagnosa Utama : Dispepsia + Gastroenteritis + PUA DPJP : dr. A, [Link]
Dokter Apoteker
Tanggal S O
A P A P
IGD PBM R. Limpapeh TD : 100/90 - Nyeri akut - Tingkat nyeri
6/10/23 Lt. 3, pukul 16;30 BB : 60 kg - Defisit berkurang dalam
WIB melalui IGD HR : 96x/mnt nutrisi waktu 2 jam
dengan keluhan : Saturasi : 98% dengan
- Perut sakit dan Kesadaran : manajemen
mual muntah komposmentis nyeri.
sejak 3 hari RR : 20 x/mnt - Status nutrisi
SMRS. Suhu :36,4°c klien membaik
- Nyeri terasa dalam waktu
dibagian 3x24 jam dengan
35
tengah dan manajemen
bawah perut. nutrisi.
- Kepala terasa
sakit.
- Nafsu makan
makin
berkurang,
awal sakit ada
meriang, saat
ini tidak.
RPD : dispepsia
7/10/23 - Perut sakit dan TD : 100/90 - Diare akut - IVFD RL 8 Tidak ada interaksi - Monitoring efek sampig
mual muntah BB : 60 kg - Dehidrasi jam/kofl obat dan TTV
sejak 3 hari HR : 96x/mnt ringan - Metronidazole 500 - Terapi dilanjutkan.
SMRS. Saturasi : 98% sedang mg/8 jam (1/7)
- Nyeri terasa Kesadaran : - Nyeri perut - Omeprazole 2x1
dibagian komposmentis - Nyeri ulu vial
tengah dan RR : 20 x/mnt hati - Sucralfate 3x1 1 C
bawah perut. Suhu :36,4°c - Curcuma 3x1 1 tab
36
- Kepala terasa - Perdarahan - Domperidone 2x1
sakit. ovulasi 10 mg
- Nafsu makan - Diatab
makin (Attapulgite) 3x2
berkurang, tab
awal sakit ada
meriang, saat
ini tidak.
RPD : dispepsia
9/10/23 - Perut sakit dan TD : 100/70 - Diare akut - IVFD RL 8 Tidak ada interaksi - Monitoring efek sampig
mual mutah (-) BB : 60 kg - Dehidrasi jam/kofl obat dan TTV
- Mencret (-) HR : 81x/mnt ringan - Metronidazole 500 - Terapi dilanjutkan.
- Pat sudah Saturasi : 98% sedang mg/8 jam (3/7)
Nampak segar Kesadaran : - Nyeri perut - Omeprazole 2x1
RPD : dispepsia komposmentis - Nyeri ulu vial
RR : 20 x/mnt hati - Sucralfate 3x1 1 C
Suhu :36,5°c - Perdarahan - Curcuma 3x1 1 tab
ovulasi - Domperidone 2x1
10 mg
37
- Diatab
(Attapulgite) 3x2
tab
10/10/23 - Perut sakit dan TD : 110/70 - Diare akut - IVFD RL 8 Tidak ada interaksi - Monitoring efek sampig
mual mutah (-) BB : 60 kg - Dehidrasi jam/kofl obat dan TTV
- Mencret (-) HR : 83x/mnt ringan - Metronidazole 500 - Terapi dilanjutkan.
- Pat sudah Saturasi : 98% sedang mg/8 jam (4/7)
Nampak segar Kesadaran : - Nyeri perut - Omeprazole 2x1
RPD : dispepsia komposmentis - Nyeri ulu vial
RR : 20 x/mnt hati - Sucralfate 3x1 1 C
Suhu :36,3°c - Perdarahan - Curcuma 3x1 tab
ovulasi
11/10/23 - Perut sakit dan TD : 100/70 - Diare akut - IVFD RL 8 Tidak ada interaksi - Monitoring efek sampig
Pulang mual mutah (-) BB : 60 kg - Dehidrasi jam/kofl obat dan TTV
- Mencret (-) HR : 85x/mnt ringan - Metronidazole 500 - Terapi dilanjutkan.
- Pat sudah Saturasi : 98% - PUD mg/8 jam
Nampak segar Kesadaran : - Metronidazole
RPD : dispepsia komposmentis 3x500 mg (1/3)
RR : 20 x/mnt
38
Suhu :36,3°c - Omeprazole 2x1
vial
- Sucralfate 3x1 1 C
- Curcuma 3x1 tab
39
3.7 Daftar Pemberian Obat
Tanggal Pemberian Obat
Nama Obat Regimen Rute
6/10/23 7/10/23 8/10/23 9/10/23 10/10/23 11/10/23
(IGD)
P S S M P S S M P S S M P S S M P S S M P S S M
IVFD RL 8 IV P
jam/kolf
5mg/2 IV - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Ranitidine U
ml,
injeksi
1 amp
4 mg/2 IV - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Ondansetron L
ml,
injeksi
1 amp
Omeprazole
40 mg, IV - - - - - - - - - - - -
A
2x1 vial
injeksi
Metronidazole 3x500 IV - - - - - - - - - N
infus mg
40
Curcuma force 3x1 tab PO - - - - - - - - G
10 mg, PO - - - - - - - - - - - - -
Domperidone
2x1 tab
500 mg/5 PO - - - - - - - - - -
ml
Sucralfate sirup
3x1 C
41
Ranitidine merupakan
50 mg (2 mL)/hari Dosis yang diberikan
2 Ranitidine injeksi 1 x 50 mg/2ml salah satu obat dari
(MedScape, 2023) sesuai dengan literatur
golongan H2 antagonis
Omeprazole merupakan
1x20 mg/hari
40 mg, Dosis yang diberikan salah satu obat dari
3 Omeprazole injeksi (basic pharmacology&drugs note,
2 x 1 vial sesuai dengan literatur golongan PPI (Pump
2023)
Proton Inhibitor)
Sucralfate merupakan
1000 mg/10 mL 500 mg/5 ml Dosis yang diberikan kompleks aluminium
4 Sucralfate sirup
(MedScape, 2023) 3 x 1 C (15 ml) sesuai dengan literatur hidroksida dan sukrosa
sulfat.
500 mg Dosis yang diberikan Curcuma force ssebagai
5 Curcuma force 3 x 20 mg
(Medscape, 2023) sesuai dengan literatur penambah nafsu makan
Oral : 3x10mg/hari Dosis yang diberikan
Domperidone merupakan
6 Domperidone tablet (basic pharmacology&drugs note, 2 x 1 10 mg tidak sesuai dengan
obat anti emetic.
2023) literatur
250 – 500 mg/hari. 3x sehari
Dosis yang diberikan Metronidazole merupakan
7 Metronidazole infus (basic pharmacology&drugs note, 3 x 500 mg
sesuai dengan literatur golongan nitroimidazole.
2023)
42
3.9 Drug Related Problem (DRPs)
Nama : Nn. RA No. RM :153XXX DPJP : dr. A, [Link]
Diagnosa : Dispepsia + Gastroenteritis + PUA
Umur : 20 tahun 8 bulan BB : 60 kg Ruang : Limpapeh lt.3 Apoteker : Drs. apt. R.A, [Link]
Drug Related
No. Check List Penjelasan
Problem
1. Terapi obat yang tidak diperlukan
Obat yang diberikan kepada pasien sudah sesuai dengan indikasi :
● IVFD RL digunakan untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang.
● Ranitidine injeksi digunakan untuk memblok reseptor histamin pada sel
parietal agar tidak dapat dirangsang untuk mengeluarkan asam lambung.
Terdapat terapi tanpa
Tidak ada • Ondansetron injeksi digunakan untuk ppencegah mual dan muntah.
indikasi medis
• Omeprazole injeksi digunakan untuk regimen eradikasi H. pylori pada
tukak peptik.
• Curcuma force digunakan untuk penambah nafsu makan pada pasien.
• Domperidone dugunakan untuk menghilangkan mual dan muntah.
43
• Sucralfate sirup digunakan untuk membentuk pada dasar tukak,
sehingga melindungi tukak dari pengaruh agresif asam lambung dan
pepsin.
• New Diatabs (attapulgite) digunakan untuk terapi simptomatik pada
diare non spesifik.
• Metronidazole infus digunakan untuk infeksi bakteri anaerob.
Pasien mendapatkan
terapi tambahan yang Tidak ada Pasien tidak mendapatkan terapi tambahan yang tidak di perlukan
tidak diperlukan
Pasien masih
memungkinkan
Tidak ada Pasien harus segera mendapatkan terapi farmakologi
menjalani terapi non
farmakologi
Terdapat duplikasi
Tidak ada Tidak terdapat duplikasi terapi
terapi
Pasien tidak
mendapatkan Tidak ada Pasien tidak mengalami efek samping dari terapi yang didapatkan.
penanganan terhadap
44
efek samping yang
seharusnya dapat
dicegah.
2. Kesalahan Obat
Bentuk sediaan sudah disesuaikan dengan kondisi pasien :
● IVFD RL diberikan dalam bentuk intravena karena sediaan berupa infus.
• Ranitidine diberikan dalam bentuk injeksi karena sediaan berupa ampul.
• Ondansetron diberikan dalam bentuk injeksi karena sediaan berupa
ampul.
Bentuk sediaan tidak • Omeprazole diberikan dalam bentuk injeksi karena sediaan berupa vial.
Tidak ada
tepat • Curcuma force diberikan dalam bentuk tablet.
• Domperidone diberikan dalam bentuk tablet.
• Sucralfate diberikan dalam bentuk sirup.
• New Diatabs (attapulgite) diberikan dalam bentuk tablet.
• Metronidazole diberikan dalam bentuk intravena karena sediaan berupa
infus.
Tidak terdapat obat yang kontraindikasi untuk pasien :
Terdapat kontraindikasi Tidak ada
• IVFD RL : hipersensitivitas
45
• Ranitidine injeksi : hipersensitif, porfiria
• Ondansetron injeksi : hipersensitivitas
• Omeprazole injeksi : hipersensitivitas terhadap omeprazole dan PPI
lainnya.
• Curcuma force : hipersensitif terhadap curcuma xanthorrhiza
• Domperidone : hipersensitivitas
• Sucralfate sirup : hipersensitivitas terhadap sucralfate
• New Diatabs (attapulgite) : diare infeksius dan disentri
• Metronidazole infus : hipersensitivitas, kehamilan trimester 1, riwayat
penyakit darah dan gangguan SSP.
Kondisi pasien tidak
dapat disembuhkan Tidak ada Kondisi pasien dapat diatasi dengan obat untuk mengurangi keluhan pasien
oleh obat
Indikasi obat yang diberikan :
Obat tidak ● IVFD RL : untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang.
diindikasikan untuk Tidak ada ● Ranitidine injeksi : untuk memblok reseptor histamin pada sel parietal
kondisi pasien agar tidak dapat dirangsang untuk mengeluarkan asam lambung.
● Ondansetron injeksi : untuk ppencegah mual dan muntah.
46
• Omeprazole injeksi : untuk regimen eradikasi H. pylori pada tukak
peptik.
• Curcuma force : untuk penambah nafsu makan pada pasien.
• Domperidone : untuk menghilangkan mual dan muntah.
• Sucralfate sirup : untuk membentuk pada dasar tukak, sehingga
melindungi tukak dari pengaruh agresif asam lambung dan pepsin.
• New Diatabs (attapulgite) : untuk mengikat toksin, bakteri dan menyerap
air, sehingga dapat memerbaiki konsistensi feses dan mengurangi
kehilangan cairan akibat diare.
• Metronidazole infus : untuk infeksi bakteri anaerob.
Terdapat obat lain yang
Tidak ada Terapi yang dipilih sudah efektif
lebih efektif
47
• Ondansetron injeksi mg/2 ml, 1 ampul, diberikan sekali pada saat di IGD.
• Omeprazole injeksi 40 mg, 2x1 vial, diberikan pagi dan malam.
• Curcuma force 3x1 tablet, diberikan pagi, siang dan malam.
• Domperidone 10 mg, 2x1 tablet, diberikan pagi dan sore.
• Sucralfate sirup 500 mg/5 ml, 3x1 C, diberikan pagi, siang dan malam.
• New Diatabs (attapulgite) 600 mg 3x2 tablet, diberikan pagi, siang dan
malam.
• Metronidazole infus 3x500 mg, diberikan pagi, siang dan malam.
Durasi penggunaan
Tidak ada Durasi Penggunaan sudah tepat
tidak tepat
Penyimpanan sudah tepat :
• IVFD RL : infus disimpan dalam suhu ruangan.
• Ranitidine injeksi : obat disimpan dalam dalam suhu ruangan.
Penyimpanan tidak
Tidak ada • Ondansetron injeksi : obat disimpan dalam dalam suhu ruangan.
tepat
• Omeprazole injeksi : obat disimpan dalam dalam suhu ruangan.
• Curcuma force : obat disimpan pada suhu ruangan 15-30˚C, jauhkan dari
cahaya matahari langsung dan tempat yang lembab.
48
• Domperidone : obat disimpan pada suhu ruangan 15-30˚C, jauhkan dari
cahaya matahari langsung dan tempat yang lembab.
• Sucralfate sirup : obat disimpan pada suhu ruangan 15-30˚C, jauhkan
dari cahaya matahari langsung dan tempat yang lembab.
• New Diatabs (attapulgite) : obat disimpan pada suhu ruangan 15-30˚C,
jauhkan dari cahaya matahari langsung dan tempat yang lembab.
• Metronidazole : infus disimpan dalam suhu ruangan.
Terjadi reaksi alergi Tidak ada Pasien tidak menujukkan reaksi alergi dari penggunaan obat
49
Muncul efek yang tidak
Tidak ada Tidak muncul efek yang tidak diinginkan
diinginkan
Tidak ada
Obat tidak sesuai Obat sudah sesuai
Tidak ada Semua obat yang dibutuhkan pasien telah tersedia di apotek rumah sakit dan
Obat tidak tersedia
dilakukan pengecekan obat setiap hari
Pasien tidak mampu Tidak ada
Keluarga pasien mampu menyediakan obat
menyediakan obat
Pasien tidak mengerti Tidak ada
intruksi penggunaan Keluarga pasien mengerti intruksi penggunaan obat
Obat
6 . Pasien Membutuhkan Terapi Tambahan
Terdapat kondisi yang
Ya Pasien tidak diberikan obat untuk mengobati PUA
tidak diterapi
Pasien membutuhkan Tidak ada
Pasien tidak membutuhkan obat lain yang sinergis
obat lain yang sinergis
50
Pasien membutuhkan Tidak ada
Pasien tidak membutuhkan terapi profilaksis
terapi profilaksis
51
• Membunuh bakteri • Membunuh bakteri • Membunuh bakteri
penyebab penyebab penyebab
gastroenteritis gastroenteritis gastroenteritis
Nafsu makan Menambah nafsu • Curcuma force 3 x 1 Nafsu makan Nafsu makan Tiap 8 jam
berkurang makan tablet meningkat meningkat
52
• Mengurangi • Domperidone • Mual • Mual
mual muntah 10 mg, 2 x 1 muntah muntah
tablet berkurang berkurang
• Mengurangi • New Diatab • Defekasi • Defekasi Tiap 8 jam Diare Diare Diare Diare Diare Diare
defekasi (attapulgite) berkurang berkurang (+) (+) (+) (+) (-) (-)
• Mengembalikan 600 mg, 3 x 2 • Kebutuhan • Kebutuhan Dehidrasi Dehidrasi Dehidrasi Dehidrasi
cairan tubuh tablet cairan tubuh cairan tubuh ringan ringan ringan ringan
• Membunuh • Ringer lactat 8 terpenuhi terpenuhi (+) (+) (+) (+)
bakteri jam/kolf Membunuh Membunuh
penyebab Metronidazole bakteri bakteri
gastroenteritis infus 3 x 500 penyebab penyebab
mg gastroenteritis gastroenteritis
Menambah nafsu • Curcuma Nafsu makan Nafsu makan Tiap 8 jam Nafsu Nafsu Nafsu Nafsu Nafsu Nafsu
makan force 3 x 1 meningkat meningkat makan makan makan makan makan makan
tablet (-) (-) (-) (-) (-) (-)
53
3.12 Monitoring Efek Samping Obat (MESO)
No Nama Obat Manifestasi ESO Frekuensi Rute Evaluasi
1. IVFD RL Hipersensitivitas (gatal-gatal, terbentuk ruam). 8 jam/kolf IV Tidak terjadi efek samping obat
2. Ranitidine Hipersensitivitas (gatal-gatal, terbentuk ruam). 5mg/2 ml, IV Tidak terjadi efek samping obat
injeksi 1 amp
3. Ondansetron Hipersensitivitas (gatal-gatal, terbentuk ruam). 4 mg/2 ml, IV Tidak terjadi efek samping obat
injeksi 1 amp
4. Omeprazole Hipersensitivitas (gatal-gatal, terbentuk ruam). 40 mg, IV Tidak terjadi efek samping obat
injeksi 2x1 vial
5. Curcuma Hipersensitif terhadap curcuma xanthorrhiza. 3x1 tab PO Tidak terjadi efek samping obat
force
6. Kram perut ringan 10 mg, PO Tidak terjadi efek samping obat
Domperidone
2x1 tab
7. Reaksi hipersensitivitas 500 mg/5 PO Tidak terjadi efek samping obat
Sucralfate ml
sirup 3x1 C
54
8. New diatab Sembelit, muncul ruam di kulit 600 mg, PO Tidak terjadi efek samping obat
(attapulgite) 3x2 tab
9. Metronidazole Hipersensitivitas (gatal-gatal, terbentuk ruam). 3x500 mg IV Tidak terjadi efek samping obat
infus
55
BAB IV
PEMBAHASAN
56
Pada hari rawatan kedua pada tanggal 7 Oktober 2023, pasien mengeluhkan
perut terasa sakit serta mual dan muntah, nyeri terasa di bagian tegah dan bawah
perut, kepala terasa sakit, serta nafsu makan berkurang. Hasil pemeriksaaan tanda-
tanda vital didapatkan hasil, yaitu tekanan darah 100/60 mmHg, nadi 96 x/menit,
frekuensi nafas 20 x/menit dan suhu tubuh 36,5 oC. Pasien diberikan terapi IVFD
RL 8 jam/kofl, metronidazol infus 500 mg/8 jam (1/7), omeprazole injeksi 40 mg
2x1 vial, sucralfate sirup 500 mg/5 ml, 3x1 1 C, curcuma force 3x1 tab, domperidon
10 mg, 2x1 tab dan new diatab (attapulgite) 600 mg, 3x2 tab.
Pada hari rawatan ketiga tanggal 8 Oktober 2023, pasien masih
mengeluhkan perut terasa sakit dan mual muntah, nyeri terasa di bagian tegah dan
bawah perut, kepala terasa sakit, nafsu makan berkurang, serta mencret sudah 2x
dii pagi hari. Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital didapatkan hasil, yaitu tekanan
darah 90/60 mmHg, nadi 86 x/menit, frekuensi nafas 20 x/menit dan suhu tubuh
36,3 oC. Pasien diberikan terapi IVFD RL 8 jam/kofl, Metronidazole infus 500 mg/8
jam (2/7) omeprazole injeksi 40 mg, 2x1 vial, sucralfate sirup 500 g/5 mg, 3x1 C,
curcuma force 3x1 tab, domperidon 10 mg, 2x1 tab dan new diatab (attaplgite) 600
mg, 3x2 tab.
Pada hari rawatan ketiga tanggal 9 Oktober 2023, rasa sakit dierut sudah
berkurang, sudah tidak mual dan muntah, sudah tidak mencret dan pasien sudah
taampak segar. Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital didapatkan hasil, yaitu tekanan
darah 90/60 mmHg, nadi 81 x/menit, frekuensi nafas 20 x/menit dan suhu tubuh
36,5 oC. Pasien diberikan terapi IVFD RL 8 jam/kofl, metronidazole infus 500 mg/8
jam (3/7), omeprazole injeksi 40 mg, 2x1 1 vial, sucralfate sirup 500 mg/5 ml, 3x1
1 C, curcuma force 3x1 tab, domperidon 10 mg, 2x1 tab dan new diatab (attapulgite)
600 mg, 3x2 tab.
Pada hari rawatan ketiga tanggal 10 Oktober 2023, rasa sakit dierut sudah
berkurang, sudah tidak mual dan muntah, sudah tidak mencret dan pasien sudah
taampak segar. Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital didapatkan hasil, yaitu tekanan
darah 90/60 mmHg, nadi 81 x/menit, frekuensi nafas 20 x/menit dan suhu tubuh
36,5oC. Pasien diberikan terapi IVFD RL 8 jam/kofl, metronidazole infus 500 mg/8
57
jam (4/7), omeprazole injeksi 40 mg, 2x1 1 vial, sucralfate sirup 500 mg/5 ml, 3x1
1 C dan curcuma force 3x1 tab.
Pada hari rawatan ketiga tanggal 11 Oktober 2023, pasien diperbolehkan
untuk pulang atas izin dari dokter penanggung jawab pasien (DPJP), karena rasa
sakit dierut yang dirasakan oleh pasien sudah berkurang, sudah tidak mual dan
muntah, sudah tidak mencret dan pasien sudah taampak segar. Hasil pemeriksaan
tanda-tanda vital didapatkan hasil, yaitu tekanan darah 100/70 mmHg, nadi 85
x/menit, frekuensi nafas 20 x/menit dan suhu tubuh 36,3oC. Pasien diberikan terapi
untuk obat pulang, yaitu sucralfate sirup 500 mg/5 ml, 3x1 C, curcuma force 3x1
tab dan metronidazole 500 mg, 3x1 tablet.
Pada drug related problem (DRP) terdapat pemberian domperidone 2 kali
sehari, yang mana tidak sesuai literature, yaitu diberikan 2 x 10 mg/hari. sedangkan
pada literature disebutkan bahwa dosis domperidon adalah 3 x 10 mg/hari, sehingga
disarankan untuk memberikan domperidone sebanyak 3 x 10 mg/hari. Dan terdapat
indikasi yang tidak diterapi, yaitu pendarahan uterus abnoral (PUA), sehingga
disarankan untuk memberikan obat untuk indikasi pendarahan uterus abnormal
(PUA) yaitu primolut.
58
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari terapi yang diterima pasien didapatkan DRP:
- Pemberian domperidone 2 kali sehari tidak sesuai literature, yaitu
diberikan 2 x 10 mg/hari. sedangkan di literature disebutkan bahwa dosis
domperidon adalah 3 x 10 mg/hari
- Terdapat indikasi yang tidak diterapi, yaitu pendarahan uterus abnoral
(PUA)
5.2 Saran
- Disarankan untuk memberikan domperidone sebanyak 3 x 10 mg/hari
- Disarankan untuk memberikan obat untuk indikasi pendarahan uterus
abnormal (PUA) yaitu primolut
59
DAFTAR PUSTAKA
60
LAMPIRAN
1. Ringer Lactat
Komposisi Setiap 500 ml larutan mengandung 3,0 g natrium
clorida, 0,15 g kalium klorida, 0,10 g kalsium klorida,
1,55 g natrium laktat.
Indikasi Esophagitis, GERD, dispepsia, tukak lambung, tukak
duodenum sistemik alkalizer dan secara spesifik
digunakan pada keadaan asidosis yang disertai
dehidrasi.
Mekanisme Mengganti cairan tubuh dengan komposisi yang
kerja sangat baik terutama pada kasus-kasus diare yang
umumnya disertai asidosis metabolic.
Dosis Sesuai dengan kebutuhan pasien
Efek samping Hipernatremia, pemberian berlebihan dapat
menyebabkan hypokalemia.
Kontraindikasi Lactic acidosis, tidak digunakan untuk menimbulkan
emesis.
2. Ondansetron Injeksi
Komposisi Ondansetron HCl dehidrate 2,5 mg setara dengan
ondansetron base 2 mg
Indikasi Penanggulangan mual dan muntah akibat kemoterapi
dan radioterapi serta operasi.
Mekanisme 50 mg setiap 6-8 jam diberikan secara intravena atau
kerja intramuscular
Dosis Sakit kepala, konstipasi, rasa panas pada kepala dan
epigastrium, diare
Efek samping Penderita yang hipersensitif terhadap ondansetron
Kontraindikasi Ondansetron HCl dehydrate 2,5 mg setara dengan
ondansetron base 2 mg
61
3. Ranitidine Injeksi
Komposisi Ranitidine HCl 25 mg/mL
Indikasi Masalah terkait asam lambung yang dapat diobati oleh
obat ranitidine adalah tukak pada lambung dan
duodenum (usus 12 jari) dan mencegah penyakit
gastroesophageal reflux (GERD), gastritis atau maag,
perut kembung, sering bersendawa.
Mekanisme Antagonis reseptor H2 bekerja dengan memblok
kerja reseptor histamin pada sel pariental, sehingga sel
pariental tidak dapat dirangsang untuk mengeluarkan
asam lambung.
Dosis Ulkus peptikum & Ulkus duodenum : 50 mg diberikan
selama tidak kurang dari 2 menit, dapat diulang setiap
6-8 jam.
Efek samping Kegelisahan, depresi, halusinasi, reaksi alergi seperti
ruam kulit, gatal, pembengkakan wajah, bibir atau
lidah, gangguan pernapasan
Kontraindikasi Hipersensitivitas, porfiria
4. Omeprazole injeksi
Komposisi Tiap ml mengandung omeprazole sodium 42,6 mg
setara dengan omeprazole 40 mg
Indikasi Merupakan terapi pilihan untuk kondisi-kondisi
berikut yang tidak dapat menerima pengobatan per
oral: ulkus duodenum, ulkus gaster, esophagitis
ulseratif dan sindrom zolinger-ellison
Mekanisme Omeprazole secara reversible mengurangi sekresi
kerja asam lambung dengan menghambat secara spesifik
enzim lambung pompa proton H+ atau K+ ATPase
dalam sel parietal. Omeprazole sodium di absorbsi
dengan cepat, 95% omeprazole sodium terikat pada
protein plasma. Omeprazole di metabolisme secara
sempurna terutama di hati, sekitar 80% metabolit di
ekskresi melalui urin dan sisanya melalui feses
Dosis 1. Omeprazole intravena hanya boleh digunakan jika
pemberian secara per oral tidak memungkinkan,
contohnya pada pasien yang sakit parah. Dosisnya
40 mg sehari sekali.
62
2. Dosis untuk terapi sindrom zollinger-ellison harus
disesuaikan dengan respon tiap individu.
3. Larutkan omeprazole injeksi dengan 10 ml pelarut,
tidak boleh digunakan cairan infus lainnya.
Berikan dalam waktu tidak kurang dari 2,5 menit.
Berikan dengan kecepatan tidak lebih dari
4ml/menit.
4. Tidak diperlukan penyesuaian dosis untuk
omeprazole injeksi pada kasus gangguan hati,
fungsi ginjal, dan pasien lansia. Tidak ada
pengalaman penggunaan omeprazole injeksi pada
anak-anak.
Efek samping Omeprazole pada umumnya ditoleransi dengan baik.
Efek samping berikut dilaporkan terjadi pada individu
yang mendapat terapi omeprazole pada situasi klinik
terkontrol: sakit kepala, diare, nyeri abdomen, mual,
muntah, infeksi saluran nafas atas, vertigo, ruam.
Kebanyakan efek samping bersifat ringan dan
sementara dan tidak ada hubungan yang konsisten
dalam pengobatan.
Kontraindikasi Omeprazole di kontraindikasikan untuk pasien yang
diketahui hipersensitif terhadap obat ini atau bahan
lain yang terdapat dalam formulasi.
5. Sucralfate Sirup
Komposisi Tiap 5 ml suspensi mengandung sukralfat 500 mg
Indikasi Gastritis, gastric ulcer, dan duodenum ulcer
Mekanisme Sukralfat hampir tidak terabsorbsi pada saluran
kerja gastrointestinal. Sukralfat membentuk kompleks
dengan protein ulcer sebagai lapisan penghalang
terhadap difusi asam, pepsin, dan garam empedu
Dosis 4 kali sehari 2 sendok takar sewaktu lambung kosong
atau 1 jam sebelum makan
Efek samping Kemungkinan menimbulkan konstipasi, efek lain yang
jarang terjadi adalah diare, mual, mulut terasa kering,
kemerahan pada kulit
Kontraindikasi Hipersensitif terhadap sukralfat
63
6. Curcuma
Komposisi Tiap tablet mengandung :
Estrak curcuma xanthorrhiza rhizoma 20 mg
Ekstrak piperin nigri fructus 2,5 mg
Indikasi Untuk memperbaiki fungsi hati dan menambah nafsu
makan
Mekanisme Curcuma xanthorrhiza rhizoma dapat membantu
kerja
memelihara kesehatan fungsi hati dan memperbaiki
nafsu makan. Sementara itu, piperis di dalamnya
membantu mempermudah proses penyerapan
curcumin dari saluran pencernaan ke dalam darah.
Dosis 3 kali sehari 1 tablet
Efek samping Iritasi lambung, mual
Kontraindikasi Hipersensitif terhadap curcuma xanthorrhiza rhizoma.
7. Domperidone
Komposisi Domporidone 10 mg
Indikasi Mual dan muntah akut
Mekanisme Domperidone bekerja pada chemoreseptor tigger zone
kerja
Dosis Mual dan muntah akut :
- Dewasa : 3 x 10 mg sehari
- Anak : 0,2 mg/kgBB/dosis dapat diberikan hingga
3 x sehari
Efek samping Kram perut ringan
Kontraindikasi Hipersensitivitas, pendarahan gastrointestinal,
obstruksi mekanis atau perforasi.
64
Dosis - Dewasa dan anak > 1 tahun : 2 tablet setiap setelah
buang air besar, maksimal 12 tablet/hari.
- Anak 6-12 tahun : 1 tablet setelah buang ar besar,
maksimal 6 tablet/hari.
Efek samping Sembelit, muncul ruam di kulit.
Kontraindikasi Diare infeksius dan disentri.
9. Metronidazole
Komposisi Metronidazole 500 mg/100 mL
Indikasi Digunakan untuk amubiasis, trikomoniasis dan infeksi
bakteri anaerob.
Mekanisme Bekerja dengan cara menghambat sintesis asam
kerja nukleat dengan merusak DNA.
Dosis - Trikomoniasis : 2 g dosis Tunggal atau 2 x 500
mg/hari, per oral selama 7 hari.
- Amubiasis hati / intestinal :
Dewasa : 3 x 500 – 750 mg selama 5-10 hari.
Anak : 30 mg/kgBB/hari dalam 3 dosis terbagi
selama 8-10 hari.
- Giardiasis :
Dewasa : 3 x 250 mg-500 mg/hari selama 57 hari.
Anak : 15 mg/kgBB/hari dalam 2 dosis terbagi
selama 5-10 hari.
- Infeksi anaerob :
Dewasa : 3 x 500 mg selama 7 hari.
Anak : 7,5 mg/kgBB setiap 8 jam.
Efek samping Sakit kepala, mual, muntah, mulut kering, rasa logam.
Kontraindikasi Hipersensitivitas, kehamilan trimester 1, Riwayat
penyakit darah dan gangguan SSP.
65