Panduan Regresi Linear dan Klasifikasi
Panduan Regresi Linear dan Klasifikasi
Langkah-langkah:
• teknik dalam machine learning yang digunakan untuk memahami hubungan linier antara • Mengukur tekanan sebenarnya menggunakan alat kalibrasi yang akurat pada beberapa titik yang
variabel dependen (target) dan satu atau lebih variabel independen (fitur). telah ditentukan.
• Tujuan utama regresi linear adalah untuk menghasilkan model prediksi yang dapat digunakan • Merekam nilai output sensor yang sesuai dengan tekanan tersebut.
untuk memprediksi nilai variabel dependen berdasarkan nilai variabel independen. • Membangun model regresi linear untuk memodelkan hubungan antara output sensor dan
tekanan sebenarnya.
Implementasi dan Interpretasi hasil LR. Implementasi: 3. Implementasi:
• Menggunakan teknik regresi linear pada data untuk membangun model prediksi. • Variabel Input (X): Nilai output sensor (misalnya, tegangan atau nilai digital).
• Menyesuaikan model dengan data menggunakan teknik seperti metode kuadrat terkecil • Variabel Output (y): Nilai tekanan yang sebenarnya (dalam satuan yang sesuai).
(ordinary least squares). • Melakukan pengolahan data dan fitting model regresi linear:
Definisi Klasifikasi:
• Klasifikasi merupakan salah satu tugas utama dalam machine learning yang bertujuan untuk
memprediksi kelas atau label dari suatu data berdasarkan fitur-fiturnya.
• Dalam konteks klasifikasi, kita memiliki kumpulan data yang terdiri dari beberapa instance atau
contoh, di mana setiap instance memiliki satu atau lebih fitur yang menggambarkan
karakteristiknya.
• Fitur-fitur ini dapat berupa atribut numerik atau kategori yang digunakan untuk membedakan
satu instance dari yang lain.
Algoritma Klasifikasi:
• Ada berbagai algoritma yang dapat digunakan untuk tugas klasifikasi, termasuk:
• Decision Trees: Membagi ruang fitur menjadi beberapa bagian berdasarkan aturan keputusan.
• Support Vector Machines (SVM): Mencari hyperplane pemisah yang optimal antara kelas-kelas
data.
• K-Nearest Neighbors (KNN): Menyimpulkan kelas dari instance baru berdasarkan mayoritas
kelas-kelas tetangga terdekatnya.
Evaluasi Klasifikasi
• Untuk mengevaluasi kinerja model klasifikasi, kita menggunakan berbagai metrik seperti akurasi,
presisi, recall, dan F1-score.
• Akurasi mengukur seberapa sering model benar memprediksi kelas, sedangkan presisi dan recall
memberikan informasi tentang seberapa baik model dalam memprediksi kelas positif dan
menemukan semua instance positif dalam data, secara berturut-turut.
• Dengan pemahaman tentang konsep klasifikasi, kita dapat memilih dan menerapkan algoritma
yang tepat untuk masalah yang dihadapi dan mengevaluasi kinerja model dengan benar untuk
memastikan hasil yang akurat dan dapat diandalkan.
• Setiap jenis regresi linear memiliki karakteristik dan kegunaan yang berbeda tergantung pada Definisi Regresi Logistik
dataset dan masalah yang dihadapi. • Regresi logistik adalah metode statistik yang digunakan dalam machine learning untuk
• Pemilihan model regresi yang tepat sangat penting untuk mendapatkan hasil prediksi yang melakukan klasifikasi.
akurat dan generalisasi yang baik pada data baru • Tujuan utama dari regresi logistik adalah memprediksi probabilitas bahwa suatu instance
termasuk dalam suatu kelas tertentu berdasarkan fitur-fiturnya.
Contoh • Meskipun namanya mengandung kata "regresi", regresi logistik sebenarnya digunakan untuk
• Dalam bidang instrumentasi atau sensor, regresi linear dapat digunakan untuk memodelkan tugas klasifikasi, bukan regresi.
hubungan antara variabel input dari sensor dengan variabel output yang diamati atau diukur.
• Berikut adalah contoh penerapan regresi linear dalam bidang instrumentasi atau sensor: Output dari Regresi Logistik
Kalibrasi sensor tekanan. • Keluaran atau output dari regresi logistik adalah probabilitas bahwa suatu instance termasuk
1. Deskripsi Masalah: dalam kelas positif.
Sebuah sensor tekanan digunakan untuk mengukur tekanan dalam sebuah tangki. Namun, • Probabilitas ini dinyatakan sebagai angka antara 0 dan 1, di mana nilai yang lebih dekat ke 1
respons sensor tidak selalu linier terhadap tekanan sebenarnya. Diperlukan kalibrasi untuk menunjukkan probabilitas yang lebih tinggi bahwa instance termasuk dalam kelas positif,
mengonversi nilai output sensor menjadi nilai tekanan yang sebenarnya. sedangkan nilai yang lebih dekat ke 0 menunjukkan probabilitas yang lebih rendah.
Interpretasi Koefisien
• Koefisien 𝛽0 adalah intercept yang menunjukkan titik di mana fungsi logistik melintasi sumbu
𝑦.
• Koefisien 𝛽1 menunjukkan kekuatan dan arah hubungan antara variabel independen 𝑥 dengan
probabilitas kelas positif.
• Dengan pemahaman tentang konsep regresi logistik, kita dapat membangun dan
mengevaluasi model regresi logistik untuk melakukan klasifikasi dengan akurat.
• Hal ini memungkinkan kita untuk membuat prediksi probabilitas dari kelas tertentu
berdasarkan fitur-fitur yang diamati.
Overfitting:
• Definisi: Overfitting terjadi ketika model machine learning terlalu rumit dan "menghafal" data
latih dengan baik, tetapi tidak dapat menggeneralisasi dengan baik pada data baru. Dalam kasus
overfitting, model menangkap noise dan detail kecil dari data latih yang seharusnya diabaikan.
• Penyebab: Overfitting dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk jumlah fitur yang terlalu
besar, jumlah sampel data yang terlalu kecil, atau kompleksitas model yang berlebihan.
• Dampak Negatif: Overfitting dapat menyebabkan kinerja model menurun saat diterapkan pada
data baru yang tidak terlihat sebelumnya. Hal ini dapat menghasilkan prediksi yang tidak akurat
dan tidak dapat diandalkan.
Regularisasi
• Definisi: Regularisasi adalah teknik yang digunakan dalam machine learning untuk mencegah
overfitting dengan menambahkan penalitas pada parameter model. Tujuannya adalah untuk
mendorong model untuk menjadi lebih sederhana dan mengurangi kompleksitasnya.
• Metode Regularisasi: Beberapa metode regularisasi yang umum digunakan termasuk:
• Ridge Regression (L2 Regularization): Menambahkan penalti kuadrat dari norma L2 dari
koefisien model ke fungsi tujuan.
• Lasso Regression (L1 Regularization): Menambahkan penalti nilai absolut dari koefisien
model ke fungsi tujuan.
• Elastic Net: Kombinasi dari Ridge dan Lasso regularization.
• Tujuan: Tujuan utama dari regularisasi adalah untuk membatasi kelebihan kompleksitas model
dan mendorong model untuk lebih umum. Ini membantu mencegah model dari overfitting pada
data latih dan meningkatkan kinerjanya pada data baru.
• Penyesuaian Parameter Regularisasi: Parameter regularisasi (seperti alpha pada Ridge dan
Lasso regression) harus disesuaikan dengan baik untuk mencapai keseimbangan yang tepat
antara kompleksitas model dan kemampuan generalisasinya.
• UNSUPERVISED LEARNING adalah jenis machine learning di mana algoritma belajar dari data
yang tidak memiliki label atau output yang diketahui.
• Tujuan utamanya adalah untuk menemukan pola atau kelompok dalam data.
Aplikasi Clustering
• Segmentasi Pelanggan: Mengelompokkan pelanggan berdasarkan perilaku belanja mereka
untuk strategi pemasaran yang lebih efektif.
• Deteksi Anomali: Mengidentifikasi pola yang tidak biasa atau mencurigakan dalam data.
• Pengelompokkan Dokumen: Mengelompokkan artikel atau dokumen berdasarkan topik atau • Hierarchical clustering mengelompokkan titik-titik data ke dalam sebuah hierarki cluster.
konten. • Ada dua teknik untuk melakukan pengelompokan ini yaitu teknik pengelompokan hirarkis yang
• Analisis Gambar: Mengelompokkan gambar berdasarkan fitur visual seperti warna dan tekstur. bersifat membagi dan aglomeratif. Kedua teknik ini melibatkan penggabungan atau pembagian
cluster secara berulang.
Metode Clustering • Pengelompokan hirarki aglomeratif melibatkan mulai dengan setiap titik data sebagai cluster
• K-Means Clustering yang terpisah dan kemudian secara bertahap menggabungkan cluster sesuai dengan kesamaan
• Hierarchical Clustering untuk membentuk hirarki cluster
• DBSCAN (Density-Based Spatial Clustering of Applications with Noise)
K-Means Clustering
• K-Means clustering adalah algoritma unsupervised learning yang dipakai untuk
mengelompokkan dataset yang belum dilabel ke dalam kluster yang berbeda.
• Simbol K pada K-means clustering menandakan jumlah kluster yang digunakan
• Kluster mengacu pada kumpulan titik data yang dikumpulkan bersama karena kesamaan
tertentu. Jika K = 2, maka akan ada 2 kluster, dan jika K = 3 maka terdapat 3 kluster, begitu
seterusnya.
• Dengan demikian K-means clustering dapat didefinisikan sebagai algoritma iteratif yang
membagi kumpulan data (dataset) yang tidak berlabel menjadi k kluster yang berbeda
sedemikian rupa sehingga setiap kumpulan data hanya dimiliki oleh satu kelompok yang
memiliki properti serupa.
• Pengelompokan hirarkis terbagi melibatkan permulaan dengan satu klaster yang berisi semua
titik data dan kemudian secara metodis membaginya menjadi sub-klaster yang lebih kecil dan
lebih kecil lagi.
• Pembagian ini didasarkan pada ketidaksamaan antara titik-titik di dalam klaster. Ketidaksamaan
ini dapat dikuantifikasi dengan berbagai ukuran jarak seperti jarak Euclidean, Manhattan atau
Chebyshev
CARA KERJA
• Algoritma ini didesain untuk memungkinkan kita mengelompokkan data ke dalam grup yang
berbeda dengan cara yang lebih mudah berdasarkan variabel tertentu tanpa perlu melakukan
proses training.
• k-means clustering merupakan algoritma unspervised learning berbasis centroid, dimana
setiap cluster diasosiasikan dengan centroid.
• Tujuan utama dari algoritma ini adalah untuk meminimalkan jumlah jarak antara titik data dan
cluster yang sesuai.
• Algoritma K-means mengambil dataset yang tidak berlabel sebagai input, kemudian membagi Hierarchical Clustering:
dataset menjadi sejumlah k cluster, dan mengulangi proses tersebut sampai tidak • Proses:
menemukan cluster terbaik. Nilai k harus ditentukan sebelumnya dalam algoritma ini. ❖Agglomerative: Mulai dari setiap data sebagai klaster terpisah dan gabungkan klaster
• Algoritma k-means clustering melakukan dua tugas utama, yakni: yang paling mirip hingga semua data tergabung dalam satu klaster besar.
• Menentukan nilai terbaik untuk titik pusat K atau centroid dengan proses iteratif (perulangan). ❖Divisive: Mulai dari satu klaster besar yang berisi semua data dan bagi klaster menjadi
[Link] setiap titik data ke pusat k terdekat. Titik-titik data yang dekat dengan pusat-k lebih kecil secara rekursif.
tertentu, kemudian dibuatkan sebuah kluster • Kelebihan:
❖Tidak memerlukan penentuan jumlah klaster sebelumnya.
❖Memberikan dendrogram yang menunjukkan struktur hierarkis data.
• Kekurangan:
❖Tidak efisien untuk data berukuran besar.
❖Sensitif terhadap outlier.
K-Means Clustering:
• Proses:
❖Tentukan jumlah klaster 𝑘k.
❖Inisialisasi pusat klaster secara acak.
❖Atribusikan setiap data ke pusat klaster terdekat.
❖Perbarui pusat klaster dengan menghitung rata-rata posisi data dalam setiap klaster.
❖Ulangi langkah atribusi dan pembaruan hingga pusat klaster konvergen.
• Kelebihan:
❖Mudah diimplementasikan dan cepat.
❖Bekerja baik untuk data berukuran besar.
• Kekurangan:
❖Memerlukan penentuan jumlah klaster 𝑘k sebelumnya.
❖Sensitif terhadap inisialisasi awal pusat klaster.
❖Tidak cocok untuk klaster dengan bentuk yang tidak bulat atau ukuran yang berbeda.
ALGORITMA PCA
Proses Pca Melibatkan Beberapa Langkah:
1. Standarisasi data: Pastikan semua variabel memiliki skala yang sama.
2. Menghitung matriks kovarian: Matriks ini menunjukkan bagaimana variabel-variabel
berkorelasi satu sama lain.
3. Mencari nilai eigen dan vektor eigen: Nilai eigen menunjukkan variabilitas yang ditangkap oleh
komponen utama, sedangkan vektor eigen menunjukkan arah komponen utama.
4. Memilih komponen utama: Pilih komponen utama yang menjelaskan sebagian besar
variabilitas dalam data.
5. Transformasi data: Proyeksikan data asli ke ruang komponen utama menggunakan vektor
eigen yang dipilih.
PENERAPAN PCA
PCA memiliki banyak aplikasi dalam berbagai bidang, termasuk:
1. Visualisasi data: PCA dapat digunakan untuk mereduksi dimensi data sehingga dapat
divisualisasikan dengan mudah, seperti dengan scatter plot atau grafik batang.
2. Kompresi data: PCA dapat digunakan untuk mengurangi ukuran data tanpa kehilangan informasi
yang penting.
3. Pemilihan fitur: PCA dapat membantu dalam mengidentifikasi variabel yang paling penting
dalam menjelaskan variabilitas dalam data.
4. Deteksi anomali: PCA dapat digunakan untuk mendeteksi data yang tidak sesuai dengan pola
umum dalam data.
5. Pembelajaran mesin: PCA dapat digunakan sebagai langkah awal dalam berbagai algoritma
pembelajaran mesin, seperti regresi linier dan klasifikasi.