DIABETES MELITUS
/SOP/PSC 119/
: DinkesdalduKB/II/2
No. Dokumen
021
SOP No. Revisi : 00
Tanggal terbit : 1 Februari 2021
Halaman : 1/3
Dinkes
Yasril,[Link]
Dalduk KB NIP. 19621222198406 1001
1. Diabetes Melitus adalah gangguan metabolik yang
ditandai oleh hiperglikemia akibat defek pada kerja
insulin (resistensi insulin) dan sekresi insulin atau
kedua-duanya
Klasifikasi DM:
a. DM tipe 1
DM pada usia muda, < 40 tahun
Insulin dependent akibat destruksisel :
o Immune-mediated
o Idiopatik
b. DM tipe 2 (bervariasi mulai dari yang
PENGERTIAN predominan resistensi insulin dengan defisiensi
insulin relatif – dominan defek sekresi insulin
disertai resistensi insulin)
c. Tipe lain:
Defek genetik pada fungsi sel β
Defek genetik pada kerja insulin
Penyakit eksokrin pancreas
Endokrinopati
Akibat obat atau zat kimia tertentu misalnya
vacor, pentamidine, nicotinic acid,
glukokortikoid, hormone tiroid, diazoxide,
agonis adrenergik, thiazid, phenytoin,
interferon, protease inhibitors, clozapine
Infeksi
Bentuk tidak lazim dari immune mediated
DM
Sindrom genetik lain, yang kadang berkaitan
dengan DM
d. DM gestasional
Diabetes Melitus Gestasional (DMG) adalah suatu
gangguan toleransi karbohidrat (TGT, GDPT, DM)
yang terjadi atau diketahui pertama kali pada saat
kehamilan sedang berlangsung.
Faktor risiko DM tipe 2:
Riwayat penyakit DM di keluarga
Berat badan lebih dan obese (IMT ≥ 25
kg/m2)
Mengalami hipertensi (TD ≥ 140/90 mmHg
atau sedang dalam terapi hipertensi)
Pernah didiagnosis penyakit jantung atau
stroke (kardiovaskular)
Kolesterol HDL < 35 mg/dl dan / atau
Trigliserida > 250 mg /dL atau sedang dalam
pengobatan dislipidemia
Riwayat melahirkan bayi dengan BBL > 4000
gram atau pernah di diagnosis DM
Gestasional
Perempuan dengan riwayat PCOS (polycistic
ovary syndrome)
Riwayat GDPT (Glukosa Darah Puasa
tergangu) / TGT (Toleransi Glukosa
Terganggu)
Aktifitas jasmani yang kurang
Sebagai acuan penerapan langkah – langkah untuk
2. TUJUAN
penatalaksanaan Diabetes malitus
3. KEBIJAKAN SK Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk
dan KB Berencana Kota Sawahlunto Tahun 2021.
KMK 514 tahun 2015 tentang Panduan Praktek
4. REFERENSI Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Tingkat Pertama
Alat – alat tulis
Stetoskop
5. ALAT DAN BAHAN Tensimeter
Rekam medis
Register kunjungan
6. PROSEDUR 1. Dokter melakukan Anamnesa yang meliputi:
Keluhan
Polifagia
Poliuri
Polidipsi
Penurunan berat badan yang tidak jelas
sebabnya
Keluhan tidak khas DM :
Lemah
Kesemutan (rasa baal di ujung-ujung
ekstremitas)
Gatal
Mata kabur
Disfungsi ereksi pada pria
Pruritus vulvae pada wanita
Luka yang sulit sembuh
2. Dokter melakukan Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Fisik Patognomonis
Penurunan berat badan yang tidak jelas
penyebabnya
Faktor Predisposisi
Usia > 45 tahun
Diet tinggi kalori dan lemak
Aktifitas fisik yang kurang
Hipertensi ( TD ≥ 140/90 mmHg )
Riwayat toleransi glukosa terganggu (TGT)
atau glukosa darah puasa terganggu (GDPT)
Penderita penyakit jantung koroner,
tuberkulosis, hipertiroidisme
Dislipidemia
3. Dokter melakukan Diagnosis Klinis
Kriteria diagnostik DM dan gangguan
toleransi glukosa:
Gejala klasik DM (poliuria, polidipsia, polifagi)
+ glukosa plasma sewaktu ≥ 200 mg/dL (11.1
mmol/L) ATAU
Gejala Klasik DM + Kadar glukosa plasma
puasa ≥ 126 mg/dl ATAU
Kadar glukosa plasma 2 jam pada tes
toleransi glukosa terganggu (TTGO) > 200
mg/dL (11.1 mmol/L) TTGO dilakukan
dengan standard WHO, menggunakan beban
glukosa anhidrus 75 gram yang dilarutkan
dalam air.
Apabila hasil pemeriksaan tidak memenuhi
kriteria normal atau DM, maka dapat
digolongkan ke dalam kelompok TGT atau
GDPT tergantung dari hasil yang diperoleh.
Kriteria gangguan toleransi glukosa:
GDPT ditegakkan bila setelah pemeriksaan
glukosa plasma puasa didapatkan antara
100–125 mg/dl (5.6–6.9 mmol/l)
TGT ditegakkan bila setelah pemeriksaan
TTGO kadar glukosa plasma 140–199 mg/dl
pada 2 jam sesudah beban glukosa 75 gram
(7.8 -11.1 mmol/L)
4. Dokter melakukan Rencana Penatalaksanaan
Pemeriksaan Penunjang :
Gula Darah Puasa
Gula Darah 2 jam Post Prandial
Penatalaksanaan
Terapi untuk Diabetes Melitus dilakukan
dengan modifikasi gaya hidup dan
pengobatan (algoritma pengelolaan DM tipe 2)
Penatalaksanaan DMG sebaiknya
dilaksanakan secara terpadu oleh spesialis
penyakit dalam, spesialis obstetri ginekologis,
ahli diet, dan spesialis anak. Tujuan
penatalaksanaan adalah menurunkan angka
kesakitan dan kematian ibu, kesakitan dan
kematian perinatal. Ini hanya dapat dicapai
apabila keadaan normoglikemia dapat
dipertahankan selama kehamilan sampai
persalinan. Sasaran normoglikemia DMG
adalah kadar GDP ≤ 95 mg/dl dan 2 jam
sesudah makan ≤ 120 mg/dl
5. Bila perlu dilakukan rujukan dokter
melakukan rujukan , Kriteria Rujukan
DM dengan komplikasi
DM dengan kontrol gula buruk
DM dengan infeksi berat
DM dengan kehamilan
DM type 1
7. DIAGRAM ALIR
Dokter melakukan anamnesa
sesuai dengan keluhan
Dokter melakukan Pemeriksaan Fisik
Sesuai dengan patognomonis dan sesuai denan
faktor predisposis
HAL YANG PERLU
8.
DIPERHATIKAN
9. UNIT TERKAIT
No Yang dirubah Isi [Link]
Perubahan diberlakukan
REKAMAN HISTORI
10.
PERUBAHAN
Disusun Oleh: Diperiksa Oleh: